Anda di halaman 1dari 12

BIONOMIKA TERNAK

“MODEL PENYELENGGARAN PETERNAKAN YANG RAMAH


LINGKUNGAN DAN BERNILAI TAMBAH”

Dosen Pengampu :

Ir. Wiwaha Anas Sumadja, M.sc.Ph.D

Disusun Oleh

LINDA ERMASARI P2E119003

LUSI AMIDIA P2E119004

FAISAL RIZA P2E119010

MAGISTER ILMU PETERNAKAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2019

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, penulis panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah Bionomika Ternak dengan judul Model Penyelenggaran
Peternakan Yang Ramah Lingkungan Dan Bernilai Tambah.
Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
terdapat kekurangan baik dari susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karena itu dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari
pembaca agar dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ilmiah tentang Model
Penyelenggaran Peternakan Yang Ramah Lingkungan Dan Bernilai Tambah ini
dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
Jambi, November 2019

Penulis

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pembangunan peternakan berkelanjutan yang memperhatikan aspek
konservasi sumber daya alam, air dan sumber daya genetik tanaman dan hewan
harus berwawasan lingkungan, artinya pembangunan peternakan yang dilakukan
tidak merusak lingkungan atau menimbulkan pencemaran serta degradasi mutu
lingkungan hidup. Pembangunan yang dimaksud berarti secara teknis tepat guna
sesuai dengan kebutuhan, secara ekonomis layak diusahakan karena
menguntungkan, secara sosial dapat diterima oleh hampir semua komponen
masyarakat, secara ekologis ramah lingkungan dan tetap menjamin keseimbangan
ekosistem lainnya.
Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat maka
meningkat pula kebutuhan akan pangan. Selain karbohidrat yang didapat dari
hasil – hasil pertanian, untuk pertumbuhan manusia juga membutuhkan protein
hewani yang didapat dari sektor peternakan. Hasil peternakan mulai berkembang
dan tumbuh dari waktu ke waktu. Semakin berkembangnya usaha peternakan,
limbah yang dihasilkan semakin meningkat. Menurut Soehadji (1992) limbah
peternakan meliputi semua kotoran yang dihasilkan dari suatu kegiatan usaha
peternakan baik berupa limbah padat dan cairan, gas, maupun sisa pakan. Limbah
padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau dalam fase padat
(kotoran ternak, ternak yang mati, atau isi perut dari pemotongan ternak).
Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau dalam fase
cairan (air seni atau urine, air dari pencucian alat-alat). Sedangkan limbah gas
adalah semua limbah berbentuk gas atau dalam fase gas. Kegiatan peternakan ini
setidaknya menyumbangkan 24,1% dari dari total emisi yang berasal dari sektor
pertanian. Emisi yang berasal dari peternakan bersumber dari aktivitas pencernaan
ternak dan pengelolaan kotoran ternak (Harianto dan Thalib, 2009). Gas rumah
kaca yang dihasilkan oleh kegiatan peternakan sebagian besar adalah gas metana
yang dampaknya 21 kali lebih berbahaya dibandingkan dengan CO2. Beberapa

3
gas yang dihasilkan dari limbah ternak antara lain ammonium, hydrogen
sulfida, CO2 dan CH4.
Limbah ternak sebagai faktor negatif dari usaha peternakan adalah
fenomena yang tidak dapat dihilangkan dengan mudah. Selain memperoleh
keuntungan dalam hal bisnis, usaha peternakan juga menimbulkan dampak negatif
bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Limbah yang langsung dibuang ke
lingkungan tanpa diolah akan mengkontaminasi udara, air dan tanah sehingga
menyebabkan polusi. Hal ini menimbulkan bau tak sedap dan mengganggu
kesehatan manusia. Pada tanah, limbah ternak dapat melemahkan daya dukung
tanah sehingga menyebabkan polusi tanah. Sedangkan pada air, mikroorganisme
patogenik (penyebab penyakit) yang berasal dari limbah ternak akan mencemari
lingkungan perairan. Firman (2010) menyatakan bahwa terdapat beberapa
masalah yang diakibatkan oleh limbah yang tidak ditangani dengan baik yaitu
polusi bau dan jika kotoran dialirkan ke sungai maka akan mencemari air sungai.
Berdasarkan beberapa peraturan hukum yang jelas bahwa pemerintah
sangat memberikan perhatian terhadap kesehatan lingkungan. Sesuai dengan
Undang – Undang nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, maka setiap usaha disamping mendapatkan keuntungan atau
profit hendaknya juga menjaga kelestarian lingkungan dengan meminimalkan
timbulnya limbah bahkan mengolah limbah hingga menjadi produk yang bernilai.
Limbah akan dapat diatasi dan bisa menjadi bukan lagi sebuah masalah, bahkan
dari limbah dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat jika dikelola dengan baik dan
benar.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, permasalahan
yang sering terjadi didalam pengembangan usaha peternakan yang ramah
lingkungan dikarenakan sebagian besar peternak kurang memperhatikan dampak
lingkungan yang ditimbulkan. Dampak negatif usaha peternakan dari limbah yang
dapat menjadi sumber pencemaran bagi lingkungan sekitar. Selain itu, peternak
kurang memahami dalam pemanfaatan dan pengolahan limbah peternakan.
Pelaksanaan manajemen peternakan yang kurang baik semakin berdampak buruk

4
terhadap kondisi lingkungan. Hal itu disebabkan oleh tingkat pengetahuan dan
serapan teknologi yang rendah menyebabkan peternakan belum dikelola secara
ramah lingkungan.

1.3. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini ialah untuk mengetahui bagaimana
model penyelenggaraan peternakan yang ramah lingkungan dan bernilai tambah.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengelolaan Limbah Usaha Ternak
Limbah ternak ruminansia dan unggas jika dibiarkan menumpuk tentu saja
akan menimbulkan banyak masalah, di antaranya dapat mengganggu kesehatan
ternak dan lingkungan sekelilingnya. Agar limbah ternak dapat lebih berdaya guna
dan bernilai ekonomis, perlu dilakukan pengolahan limbah ternak menjadi pupuk
organik yang lebih berkualitas. Limbah ternak antara lain berupa kotoran (feses),
urine, dan sisa-sisa pakan ternak yang tidak habis.
Sebagian besar peternak menyadari, bahwa pengembalian limbah ternak
ke kebun rumput merupakan tindakan yang tepat, sebagai upaya pemupukan.

5
sehingga mampu mengurangi penggunaan pupuk anorganik. Didalam usaha
peternakan sapi perah disamping memberikan keuntungan yang baik juga
berpeluang mencemari lingkungan karena adanya limbah sebagai hasil ikutan.
Keadaan tersebut sering menimbulkan masalah dikalangan masyarakat, terlebih
lagi jika penanganan limbahnya kurang baik. Pengolahan limbah untuk menekan
pencemaran dapat dilakukan mulai sistem yang paling sederhana sampai sistem
berteknologi tinggi. Pemantauan terhadap pengelolaan limbah peternakan harus
dilakukan, sehingga dapat diketahui sejauh mana pencemaran lingkungan,
selanjutnya dapat diambil langkah-langkah untuk mengantisipasi dampak negatif
yang terjadi.
Kerangka pemikiran tersebut dapat digambarkan dalam diagram alur
seperti pada Gambar 1. Dari diagram tersebut nampak bahwa tujuan utama
peternakan sapi perah adalah produksi susu dan daging untuk memenuhi
kebutuhan manusia, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Namun demikian, juga dihasilkan limbah yang kemungkinan langsung dibuang ke
alam bebas termasuk ke sungai dan mengakibatkan pencemaran, tetapi ada juga
limbah yang dikelola dengan baik seperti untuk dijadikan kompos. Dengan
kondisi tersebut, maka masyarakat akan memberikan responnya terhadap
keberadaan usaha peternakan disekitar tempat tinggalnya.

Kawasan Usaha Tenak

Susu dan Daging Limbah (Padat, Cair dan Gas)

Tingkat Kesejahteraan Ditangani Dibuang ke


Masyarakat Meningkat dengan Baik Saluran Sungai
atau Tanah

Kemungkinan Terjadi
Pencemaran Air Sungai 6
(Fisik, Kimia, Biologi)
Respon
Masyarakat

Gambar 1. Diagram Alur Kerangka Pemikiran Pengendalian Mutu Lingkungan


di Kawasan Usaha Peternakan Sapi Perah

2.1.1. Proses pengolahan Kompos Kotoran (Feses)


Kotoran ternak (Feses sapi) dapat diolah menjadi pupuk kompos organik.
Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut : Kotoran sapi yang telah
dikumpulkan dan dikeringkan ditumpuk dalam bak dengan ketebalan 20 cm lalu
ditaburi secara berurutan dengan abu sekam (20 kg), kapur/dolomit (2 kg), urea
(0,5 kg), dan tricodherma (0,5 kg). Lakukan sampai ketebalan tumpukan menjadi
100 – 120 cm. Setelah proses penumpukan selesai, bagian atas ditutup terpal dan
didiamkan selama 21 hari. Lakukan pembalikan setiap minggu. Kompos yang
dihasilkan dapat dipasarkan pada konsumen yang membutuhkan, sehingga
limbah ternak bernilai jual.
Penggunaan limbah ternak sebagai pupuk langsung, tanpa melalui proses
pengkomposan terlebih dahulu akan mengakibatkan lambatnya daur ulang
(recycling) unsur hara dan mengakibatkan banyak bahan organik yang sulit
dirombak akan tertinggal dikebun rumput atau akan terbawa hanyut ke sungai.

2.1.2. Proses Pengolahan Urine Ternak


Untuk mengolah kotoran sapi menjadi pupuk kompos organik, langkah-
langkahnya sebagai berikut : urine sapi di dalam drum dihubungkan dengan
selang ke drum yang lain, kemudiaan urine disirkulasikan melalui aerator selama
tiga hari, tujuannya untuk mengurangi kadar nitrogen yang berlebihan dalam
urine. Setelah tiga hari urine dapat dikemas, untuk selanjutnya dipasarkan ke
petani-petani.

2.1.3. Biogas
Biogas adalah suatu jenis gas yang bisa dibakar, yang diproduksi melalui
proses fermentasi anaerobic bahan organik seperti kotoran ternak, biomassa
limbah pertanian atau campuran keduanya, di dalam suatu ruang pencerna

7
(digester). Komposisi biogas yang dihasilkan dari fermentasi tersebut terbesar
adalah gas methan (CH4) sekitar 54-70% serta gas karbondioksida (CO2) sekitar
27-45%. Sistem produksi biogas juga mempunyai beberapa keuntungan seperti (a)
mengurangi pengaruh gas rumah kaca, (b) mengurangi polusi bau yang tidak
sedap. Selama proses pengomposan akan dihasilkan bau yang tidak sedap seperti :
asam-asam organik (asam asetat, asam butirat, asam valerat, puttrecine), amonia,
dan H2S (Crawford, 2003). Pembuatan biogas cukup panjang dan rumit, sehingga
membutuhkan waktu yang lama dalam pemprosesan nya. Masih rendahnya
pengetahuan dan teknologi peternak tentang hal tersebut, sehingga dibutuhkan
sosialisasi dari ahli teknologi biogas.

2.2. Pengelolaan Pakan Ternak

Upaya mendukung terciptanya sistem peternakan yang menguntungkan


dan berwawasan lingkungan, maka perlu dilakukan penerapan teknologi
pengolahan pakan dalam suatu kesatuan sistem pertanian yang terpadu.
Pengolahan pakan sebaiknya lebih diarahkan pada pemanfaatan potensi lokal yang
tersedia, sehingga ketersediaan pakan akan lebih terjamin dalam memenuhi
kebutuhan ternak. Pemanfaatan limbah sebagai pakan ternak akan memberikan
keuntungan ganda, karena lebih murah dan sekaligus membantu dalam
mengurangi terjadinya pencemaran lingkungan. Dengan adanya teknologi
pengolahan pakan, limbah yang memiliki kualitas yang relatif rendah dapat
dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak yang berpotensi tinggi. Untuk lebih
sempurnanya pemanfaatan limbah sebagi pakan ternak khususnya limbah
pertanian, maka perlu diterapkan sistem integrasi antara ternak dengan tanaman
pertanian/perkebunan.
Dalam usaha peternakan sapi potong yang diintegrasikan dengan tanaman
perkebunan, cukup memberikan kontribusi nyata dalam mendukung kelestarian
lingkungan. Tanaman perkebunan yang biasanya menghasilkan limbah berupa
hasil ikutan perkebunan yang biasanya terbuang dan menjadi pengganggu
lingkungan, apabila diolah dengan baik bisa menjadi pakan sapi yang berkualitas.

8
Spesifik lokasi berupa fermentasi kulit kakao, jerami fermentasi, pelepah
daun sawit, dan lumpur sawit (solid) yang bernilai ekonomis dan efisien. Peternak
lebih hemat dari segi waktu karena pakan lebih tahan lama dan biayanya lebih
murah dibandingkan membeli pakan konsentrat lain. Untuk menutupi biaya
produksi terutama dalam hal biaya pengadaan pakan, pengolahan limbah ternak
dapat meningkatkan nilai tambah usaha ternak sapi potong ini. Jadi, konsep zero
waste dapat diterapkan dalam kegiatan usaha ini.

2.3. Prinsip Green Marketing


Kehadiran kawasan usaha peternakan tidak hanya merubah hutan menjadi
daerah peternakan dan daerah pemukiman baru, tetapi dampaknya lebih luas lagi.
Hadirnya usaha peternakan selain menumbuhkan kesempatan kerja baru juga
mampu menumbuhkan kesempatan ekonomi baru dibidang perdagangan dan jasa.
Green marketing adalah aktivitas pemasaran yang berorientasi pada pelestarian
lingkungan. artinya, sejauh mana dapat mencari pasar untuk membuat dan
memasarkan barang serta jasa yang ramah lingkungan.
Dalam usaha penerapan green marketing dilakukan langkah 3R (reduce,
recycle, reuse). Reduce merupakan langkah untuk mengurangi dampak
lingkungan atau mengeliminasi limbah yang dihasilkan. Recycle adalah langkah
untuk mendaur ulang limbah usaha tani/ternak yang dihasilkan untuk
diberdayagunakan kembali. Sedangkan reuse adalah pemanfaatan kembali hasil
daur ulang limbah yang telah diolah. Manajemen pengelolaan kandang bisa
mengurangi dampak lingkungan dengan membersihkan semua limbah ternak.
Setelah satu periode pemeliharaan selesai, kandang dibersihkan dan bisa
digunakan kembali untuk periode selanjutnya. Apabila pada usaha ternak tidak
menimbulkan masalah kerusakan lingkungan dan limbah yang selama ini
terbuang bisa diberdayagunakan dengan nilai yang lebih baik maka konsep green
marketing telah dilaksanakan dengan baik.

2.4. Persepsi Masyarakat Terhadap Manfaat Dan Dampak Negatif Limbah


Peternakan
Sebagian peternak tidak melakukan pemanfaatan limbah peternakan
karena menganggap bahwa dengan memanfaatkan limbah tersebut tidak dapat

9
meningkatkan pendapatan karena peternak tidak pernah mencoba
memanfaatkannya sehingga tidak mengetahui keuntungannya. Apabila peternak
memahami akan dampak tersebut maka akan ada upaya dalam menangani
masalah tersebut dengan cara melakukan penanganan melalui pengolahan yang
baik misalnya diolah menjadi biogas, menjadi pupuk organik, dengan kata lain
limbah yang menimbulkan masalah tersebut masih memiliki nilai ekonomi yang
sangat membantu untuk peternak menambah penghasilan.
Kenyamanan masyarakat yang berada di wilayah sekitar peternakan
menjadi terganggu dikarenakan polusi yang timbul akibat limbah peternakan yang
dihasilkan. Bau menyengat yang berasal dari peternakan tidak mudah hilang,
terlebih limbah yang dibuang melewati selokan yang berada dipermukiman
warga. Limbah berupa pakan yang disimpan di sepanjang gangway seperti onggok
dan hijauan yang disimpan begitu saja tanpa ada tempat khusus seperti gudang
pakan.
Limbah pakan seperti hijauan dan konsentrat yang tidak termakan bisa
menjadi busuk apabaila tidak segera diolah. Oleh karena itu limbah-limbah
tersebut menyebabkan polusi udara di sekitar pemukiman menjadi terganggu.
Sampai saat ini peternakan tersebut belum ada penanganan terhadap limbah yang
dihasilkan dikarenakan kurangnya pengetahuan dan pelatihan untuk membantu
peternak dalam mengatasi masalah tersebut.

10
BAB III
KESIMPULAN
3.1. Kesimpulan
Peternak belum memahami tata cara pengolahan limbah ternak menjadi
nilai guna sehingga pemanfaatan limbah belum sepenuhnya dilakukan.
Pengolahan limbah ternak dapat meningkatkan nilai tambah usaha ternak. Konsep
green marketing dengan mengurangi dampak kerusakan lingkungan (reduce),
mendaur ulang limbah perkebunan menjadi pakan dan mendaur ulang limbah
ternak menjadi pupuk organik (recycle), dan hasil ikutannya dipakai kembali
untuk usaha ternak dan perkebunan sebagai asupan makanan (reuse). dengan
demikian limbah yang terbuang bisa dieliminasi dan tidak mengotori lingkungan
(zero waste).
Adanya transfer teknologi diharapkan memiliki andil untuk mendidik
peternak supaya berperan dalam mengupayakan peternakan ramah lingkungan.
Peraturan-peraturan pemerintah harus lebih dipertegas kembali mengenai
keberadaan suatu usaha peternakan yang berskala cukup besar dalam melakukan
pengolahan limbah dengan baik serta memberikan layanan penyuluhan untuk
peternak.

3.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

11
Crawford, J. 2003. Composting of Agricultural Waste. In Biotechnology and
Research. P. 68-77.

F. Gustiar, R. A. Suwignyo, Suheryanto, Munandar. 2014. Reduksi Gas Metan


(CH4) dengan Meningkatan Komposisi Konsentrat dalam Pakan Ternak
Sapi. Jurnal Peternakan Sriwijaya. 3 (1) : 14-24.

Firman, A. 2010. Agribisnis Sapi Perah Dari Hulu Sampai Hilir. Wisya Padjajaran.
Bandung. 115.

Harianto, B. dan A. Thalib, 2009. Emisi Metan dari Fermentasi entrik:


kontribusinya secara Nasional dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya
pada ternak. Balai Penelitian Ternak.

Hikmah, M. Ali., M. Yusuf dan Jasmal A Syamsu. 2010. Prospek Pengembangan


Peternakan Berkelanjutan Melalui Sistem Integrasi Tanaman-
Ternakmodel Zero Waste Di Sulawesi Selatan. Fakultas Peternakan.
Universitas Hasanuddin. Makassar.

Indri, A., Marina, S dan M. Ali, M. 2015. Persepsi Masyarakat Terhadap Manfaat
Dan Dampak Negatif Limbah Peternakan Sapi Perah (Kasus di Desa
Rancamulya Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang).
Fakultas Peternakan. Universitas Padjadjaran. Bandung.

Jefrey M. Muis. 2012. Kinerja Dan Prospek Pengembangan Usaha Ternak Sapi
Potong Ramah Lingkungan Di Sumatera Barat. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian (BPTP). Sumatera Barat.

Nugraha, A. 2006. Pengendalian MutuLingkungan di Kawasan Usaha Peternakan


Sapi Perah Cibungbulang Bogor. Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Bogor.

Soehadji. 1992. Kebijaksanaan Pemerintah Dalam Pengembangan Industri


Peternakan Dan Penanganan Limbah Peternakan. Makalah Seminar.
Direktorat Jenderal Peternakan. Depatemen Pertanian. Jakarta.

12