Anda di halaman 1dari 6

Asap rokok merupakan asap yang bercampur antara asap dan partikel.

Asap
ini terdiri dari 4000 senyawa kimia yang bercampur, termasuk didalamnya bahan
beracun dan 69 diantaranya merupakan bahan penyebab kanker. Paparan asap
rokok merupakan paparan asap yang dihirup oleh seseorang yang bukan perokok
(perokok pasif). Asap rokok lebih berbahaya terhadap perokok pasif daripada
perokok aktif. Paparan asap rokok yang ibu hamil hirup selama di rumah berasal
dari keluarga terdekat ibu hamil yang berstatus sebagai perokok aktif. Asap rokok
yang dihembuskan oleh perokok aktif dan terhirup oleh perokok pasif, lima kali
lebih banyak mengandung karbon monoksida, empat kali lebih banyak
mengandung tar dan nikotin ( Astuti,. S, 2016)

Kandungan daalm rokok perokok terdiri dari bagian gas (85%) dan bagian
partikel (15%). Rokok mengandung kurang lebih 4.000 jenis bahan kimia, dengan
40 jenis di antaranya bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker), dan
setidaknya 200 diantaranya berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok
adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida (Crofton, 2002).

a. Nikotin
Komponen ini paling banyak dijumpai di dalam rokok. Nikotin merupakan
alkaloid yang bersifat stimulan dan pada dosis tinggi bersifat racun. Zat ini
hanya ada dalam tembakau, sangat aktif dan mempengaruhi otak atau
susunan saraf pusat, menyempitkan pembuluh perifer, dan juga memiliki
karakteristik efek adiktif dan psikoaktif (Sitepoe, 2000).
b. Karbon Monoksida (CO)
Gas karbon monoksida (CO) adalah sejenis gas yang tidak memiliki bau.
Unsur ini dihasilkan oleh pembakaran yang tidak sempurna dari unsur zat
arang atau karbon. Gas karbon monoksida bersifat toksik. Gas CO yang
dihasilkan sebatang rokok dapat mencapai 3-6%, sedangkan CO yang
dihisap oleh perokok paling rendah sejumlah 400 ppm (parts per million)
sudah dapat meningkatkan kadar karboksihemoglobin dalam darah
sejumlah 2-16% (Sitepoe, 2000).
c. Tar
Tar adalah senyawa polinuklin hidrokarbon aromatika yang bersifat
karsinogenik. Tar dapat merusak sel paru karena dapat lengket dan
menempel pada jalan nafas dan paru-paru sehingga mengakibatkan
terjadinya kanker. Pada saat rokok dihisap, tar masuk kedalam rongga mulut
sebagai uap padat asap rokok, setelah dingin akan menjadi padat dan
membentuk endapan berwarna coklat pada permukaan gigi, saluran
pernafasan dan paru-paru. Pengendapan ini bervariasi antara 3-40 mg per
batang rokok, sementara kadar tar dalam rokok berkisar 24-45mg. Pada
rokok yang menggunakan filter dapat mengalami penurunan 5-15 mg. Efek
karsinogenik tetap bisa masuk dalam paru-paru walaupun rokok diberi
filter, yaitu hirupan pada saat merokok dalam, menghisap berkali-kali dan
jumlah rokok yang dihisap banyak (Sitepoe, 2000).

d. Timah Hitam (Pb)


Timah Hitam (Pb) yang dihasilkan oleh sebatang rokok sebanyak 0,5 ug.
Satu bungkus rokok berisi 20 batang yang habis dihisap dalam satu hari
akan menghasilkan 10 ug, sementara ambang batas bahaya timah hitam
yang masuk ke dalam tubuh adalah 20 ug per hari (Sitepoe, 2000).
e. Amoniak
Amoniak merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen
danhidrogen. Zat ini baunya tajam dan sangat merangsang. Racun yang
terdapat pada ammonia sangat keras sehingga jika masuk sedikit saja ke
dalam peredaran darah maka akan mengakibatkan seseorang dapat pingsan
atau koma (Sitepoe, 2000).
f. Hidrogen Sianida (HCN)
Hidrogen sianida merupakan sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau
dantidak memiliki rasa. Zat ini merupakan zat yang paling ringan, mudah
terbakar, dan sangat efisien untuk mengganggu pernapasan dan merusak
saluran pernapasan. Sianida adalah salah satu zat yang mengandung racun
yang sangat berbahaya. Sianida dalam jumlah kecil yang dimasukkan
langsung ke dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian (Sitepoe, 2000).
g. Nitrous Oxide
Nitrous oxide merupakan sejenis gas yang tidak berwarna. Nitrous oxide
yang terhisap dapat menyebabkan hilangnya keseimbangan dan
menyebabkan rasa sakit (Sitepoe, 2000).
h. Fenol
Fenol adalah campuran dari kristal yang dihasilkan dari distilasi beberapa
zat organic seperti kayu dan arang, serta diperoleh dari tar arang. Zat ini
beracun dan membahayakan karena terikat ke protein dan menghalangi
aktivitas enzim (Sitepoe, 2000).

2. Bahaya Asap Rokok Bagi Kesehatan

Merokok dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan


ini dapat disebabkan oleh nikotin yang berasal dari asap perokok aktif dan asap
perokok pasif. Gangguan kesehatan yang ditimbulkan dapat berupa bronchitis
kronis, emfisema, kanker paru- paru, laring, mulut, faring, esofagus, kandung
kemih, penyempitan pembuluh nadi dan lain- lain (Susanna et al, 2003).
Rusaknya paru sebagai target utama dan langsung terkena asap rokok dapat
dijelaskan dengan adanya paparan agen kimia di dalam asap rokok, namun efek
yang menyebabkan penyakit kronik pada sistem organ lain kemungkinan adalah
hasil pajanan secara tidak langsung (Yanbaeva et al, 2007). Merokok juga
merupakan salah satu faktor risiko utama terhadap penyakit kardiovaskuler.
Mekanisme potensial yang disebabkan merokok terhadap penyakit
kardiovaskuler meliputi gangguan homeostasis, abnormalitas lipid, dan
disfungsi endotel (Wannamethee et al,. 2005). Mekanisme inflamasi memegang
peranan penting pada perkembangan atherosclerosis. Efek lokal maupun
sistemik dari paparan asap rokok dapat dijelaskan melalui mekanisme stres
oksidatif dan inflamasi (Pearson et al,. 2003).

Nikotin dan asap rokok akan keluar dari tembakau dalam proses merokok
(menghirup) ataupun mengunyah. Pada daun yang masih asli, nikotin terikat
pada asam organik dan tetap terikat pada asam bila daun dikeringkan perlahan-
lahan. Kandungan senyawa penyusun rokok yang dapat mempengaruhi pemakai
adalah golongan alkaloid yang bersifat perangsang (stimulant). Alkaloid yang
terdapat dalam daun tembakau antara lain: nikotin, nikotirin, anabasin,
myosmin, dan lain-lain. Nikotin adalah senyawa yang paling banyak ditemukan
dalam rokok sehingga semua alkaloid dianggap sebagai bagian dari nikotin.
Nikotin adalah senyawa alkaloid toksis yang dipisahkan dari tembakau dan
merupakan senyawa amin tersier dengan rumus empiris C10H14N2 dan dalam
kimia organik sebagai 1metil-2-pirolidin (3-piridin). Nikotin dalam keadaan
murni tidak berwarna, berupa minyak cair mudah menguap, larut dalam alcohol,
eter dan petroleum eter. Mendidih pada suhu 246-247oC dan membeku pada
suhu dibawah 80oC. pada suhu rendah, sedikit berbau tetapi jika dipanaskan
akan dihasilkan uap yang berbau merangsang dan akanbereaksi dengan udara
yang ditandai dengan perubahan warna menjadi cokelat. Sifat racun keras yang
dimiliki nikotin dapat menyebabkan kelumpuhan saraf dan mudah diserap
melalui kulit. Nikotin menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah, termasuk
pembuluh darah uteroplasenta, berakibat pada penurunan sirkulasi darah
fetomaternal (Economides & Braithwaite 1994 dalam Duhita, Indah dan
Rahmawati, 2019).

3. Bahaya asap rokok bagi bayi

Dapat menurunkan kualitas sperma sehingga dapat menyebabkan


infertilitas juga dapat menjadi penyebab terjadi abortus spontan. Abortus
merupakan keluarnya hasil konsepsi sebelum usia kehamilan 20 minggu, hal ini
dikarenakan konsepsi tidak dapat berkembang degan baik, selain itu dapat
merusak DNA yang dibawa oleh sel sperma (Cui, et., 2016). Kerusakan
kromosom dapat terjadinya abortus (Cunningham, et.al., 2010). Ibu hamil yang
terpapar asap rokok dapat meningkatkan risiko sebesar 11% untuk mengalami
abortus (Pineles, et al., 2014). Hal ini dikarenakan unsur nikotin, CO dan
mutagen lain (Blanco-Munoz, et al., 2009). Dampak dari seseorang yang
terpapar asap rokok adalah bayi lahir dengan berat badan rendah dikarenakan
kandungan karbon monoksida dalam rokok dapat mengganggu kerja
hemoglobin dam mengikat oksigen yang diedarkan ke suluh tubuh sehingga bayi
dalam kandungan mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi, kelahiran
prematur, alergi pada bayi bahkan sindrom kematian bayi mendadak.
Pada bayi dampak paparan asap rokok pada periode bayi ini bisa
merupakan komplikasi sejak periode kongenital akibat dari ibu yang terpapar
asap rokok pada periode kehamilannya, ataupun bayi yang setelah lahir terpapar
langsung oleh asap rokok.

a. Dampak bagi bayi akibat paparan sejak periode kehamilan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pada kelompok dengan ibu yang terpapar asam
rokok, saat kehamilan berusia 6 bulan, diketahui adanya peningkatan
risiko keterlambatan perkembangan mental (mental developmental delay)
(Lee, et al., 2011). Keterlambatan perkembangan mental ini adalah
dampak yang tidak kasat mata, yang seringkali terabaikan oleh masyarakat
awam. Padahal risiko yang ditimbulkan dari keadaan ini berlanjut hingga
anak berusia dewasa. Selain itu, ayah perokok meningkatkan risiko sebesar
1,68 kali terjadinya non-allergic erly-onset asthma pada bayi. Risiko
tersebut meningkat menjadi 3,24 kali jika kebiasaan merokok ayah telah
dimulai sejak berusia sebelum 15 tahun . Mekanisme (Svanes, et al., 2017)
terjadinya gangguan ini merupakan dampak lanjutan dari kelainan
gangguan pertumbuhan dan perkembangan sistem pernafasan pada
periode janin, yaitu fetotoxicity akibat unsur kimia pada rokok

b. Dampak bagi bayi akibat paparan langsung Sebuah studi systematic review
dan meta-analysis terhadap 60 artikel didapatkan bahwa bayi dengan orang
tua perokok atau di dalam rumah terdapat perokok, maka secara signifikan
berisiko infeksi pernafasan bawah (OR 1,22) pada bayi hingga usia 2
tahun. Pada studi yang sama, bayi sebagai perokok pasif juga berhubungan
dengan terjadinya infeksi pernafasan lain. Kelainan yang terjadi akibat ibu
terpapar asap rokok sejak periode hamil antara lain atresia anorectal,
neural tube defects (NTD), bibir sumbing (orofacial cleft), omfalokel,
hipospadia, atresia esofagus, hernia diafragmatika, serta congenital heart
defect (Wang, et al., 2014).
DAFTAR PUTAKA

Astuti, Susanti dan Elista. 2016. Gambaran Paparan Asap Rokok Pada Ibu Hamil
Berdasarkan Usia Kehamilan di Desa Cintamulya Kecamatan Jatinangor
Kabupaten Sumedang. JSK, Volume 2 Nomor 1 September Tahun 201

Blanco-Munoz, J., Torres-Sanchez, L. & LopezCarrilo, L (2009) Exposure to


Maternal and Paternal Tobacco Conumption and Risk of Spontaneous
Abortion. Public Health Report; Volume 124, pp. 317-322.

Cui, X. et al (2016) Potential effect of smoking on semen quality through DNA


damage and the downregulation of Chk1 in sperm. Molecular Medicine
Reports, pp. 753-761.

Cunningham, F. G. et al (2010) Williams Obstetrics 23rd Edition. Dalam:


Abortion. USA: McGraw-Hill.
Duhita, Indah dan Rahmawat. 2019. Dampak Kesehatan Anak Pada Periode
Embrio, Janin, Bayi dan Usia Sekolah dengan Ayah Perokok. Jurnal
Kesehatan Vokasional, Vol. 4 No. 1 ISSN 2541-0644 (print), ISSN 2599-
3275. DOI hps://doi.org/10.22146/jkesvo.41777
Pineles, B. L., Park, E. & Samet, J. M (2014) Systematic Review and Meta-
Analysis of Miscarriage and Maternal Exposure to Tobacco Smoke During
Pregnancy. Am J Epidemiol; 179 (7), pp. 807-823.
Sitepoe, 2000. Kekhususan rokok Indonesia. Jakarta: Pt Gramedia Widiasarana
Susanna et al, 2003. Penentuan kadar nikotin dalam asap rokok. Makara
Kesehatan
Wang, M., Wang, Z., Zhang, M. & Zhao, Z (2014) Maternal passive smoking
during pregnancy and neural tube defects in offspring: a meta-analysis.
Arch Gynecol Obstet, pp. 289:513-
Yanbaeva et al, 2007. Morphology of testicukar sperma obtained by testicular
sperm extraction in obstructive and nonobstuctive azoopermic Man and Its
relation to fertilization succes inthe in vitro fertilization Sperm Injection
System. Journal Of Andrology. (3). 2-3