Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH AIK V

MENGSIKAPI SAKIT DAN PENYAKIT DALAM ISLAM

Disusun Oleh : Kel. 1

Feni Wulandari 21117053


Heny Anggraini 21117062
Monica Ayu Stevani 21117085
Nasri Morsalin 21117087
Nurul Maesya 21117092

Dosen Pembimbing : Muhammad Sulaiman, S.Pd I., M.Pd I

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI KESEHATAN MUHAMMADIYAH PALEMBANG

TAHUN AKADEMIK
2019/2020
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan
karunia yang telah diberikan kepada kita sehingga bisa menyelesaikan makalah AIK
V, tentang “MENGSIKAPI SAKIT DAN PENYAKIT”.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun
penulis menyadari bahwa dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan,
dorongan dan bimbingan dari beberapa orang, sehingga kendala-kendala yang kami
hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. ALLAH SWT yang telah memberikan kami rezeki, rahmat, dan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik
2. Rekan sekelas yang telah turut membantu dan mengatasi berbagai kesulitan
sehingga tugas ini selesai.

Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada
teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini dan bila untuk makalah selanjutnya.

Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi
pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan
dapat tercapai, Aamiiin

Palembang, 10 September 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………...
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………...
A. Latar Belakang……………………………………………………………………………….
B. RumusanMasalah…………………………………………………………………………….
C. Tujuan Penulisan……………………………………………………………….....................
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………………
A. Pengertian Sakit dan Penyakit……………………………………..................................
B. Macam dan Jenis Penyakit……………………………………………………………...
C. Ayat dan Hadits Tentang Penyakit…………………………………………...................
D. Konsep Taqdir dalam Menghadapi Sakit……….............................................................
E. Do’a Bagi Orang yang Sakit……………………………………....................................
F. Do’a Bagi Orang yang Ingin Mati Saja, Karena Tidak Sanggup Menanggung Sakit…..
G. Etika Menjenguk Orang yang Sakit……………………….............................................
BAB III PENUTUP……………………………………………………………………………
A. Kesimpulan……………………………………………………………………………...
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………….....................
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Sejatinya klasifikasi penyakit dalam Islam tidak lain dan tidak bukan
merupakan cerminan dari bagaimana perilaku masing-masing manusia. Pada
umumnya klasifikasi penyakit tersebut terdiri dari (1) penyakit jasmani yaitu
penyakit yang berhubungan dengan kondisi tubuh kita, (2) penyakit hati atau
rohani yaitu penyakit yang tidak terlihat secara fisik, yang hanya dapat dirasakan
jiwa kita, seperti rasa khawatir, bimbang dll. Dan (3) penyakit alami (fitrah)
ialah penyakit yang telah diilhamkan oleh Allah S.W.T kepada manusia dan
binatang, seperti penyakit kelaparan, kedinginan, kelelahan, dll. Dari ketiga
penyakit ini, menarik untuk dipelajari dan diketahui bagaimana terjadi dan
pengobatan dari penyakit-penyakit tersebut.
Teknologi medis boleh berkembang merambati modernisasi dan hal-hal
duniawi yang sulit diukur. Namun perkembangan jenis penyakit juga tidak kalah
cepat bergenerasi. Untuk mengatasi berbagai penyakit tersebut, Al-Qur’an
menawarkan metode yang tepat.
Allah berfirman, yang artinya: “…Katakanlah Al-Qur’an itu adalah petunjuk
dan penawar bagi orang-orang yang beriman (QS. Fusilat/41: 33). Di ayat lain, Allah
menegaskan, yang artinya : Dan kami turunkan sebagian dari Al-Qur’an suatu yang
menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman; dan Al-Qur’an itu
tidaklah menambah manfaat kepada orang-orang zalim selain kerugian (QS Al-
Isra’/17:82).
Para ulama menafsirkan arti penyakit dari ayat tersebut dengan berbagai
pendapat. Pada asasnya penyakit tersebut ada 2 macam, hissy (yang dapat dirasakan
lewat indera) dan nafsi (yang bekaitan dengan kejiwaan). Penyakit yang dapat
diketahui oleh panca indera mudah dikenal. Namun penyakit yang berkaitan dengan
kejiwaan banyak seperti kebodohan, ketakutan, kekikiran, kehadasan (iri hati), dan
penyakit hati lainnya.
Islam telah menetapkan tujuan akan kehadirannya, diantaranya adalah untuk
memelihara agama itu sendiri, akal, rohani, jasmani, harta, dan keturunan bagi seluruh
umat manusia. Anggota badan manusia sejatinya adalah milik Allah S.W.T yang
dianugerahkan-Nya untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Disatu sisi Allah memerintahkan untuk menjaga kesehatan dan kebersihan
fisik, di sisi yang lain Allah juga memerintahkan untuk menjaga kesehatan mental dan
jiwa (rohani). Kesehatan manusia dapat diwujudkan dalam beberapa dimensi, yaitu
jasmaniah material melalui keseimbangan nutrisi, kesehatan fungsional organ dengan
energi aktivitas jasmaniah, kesehatan pola sikap yang dikendalikan oleh pikiran, dan
kesehatan emosi-ruhaniah yang disembuhkan oleh aspek spiritual keagamaan.
Secara tidak langsung dalam ajaran agama Islam telah menganjurkan kepada
umatnya untuk terus manjaga kesehatan jasmaniah maupun rohaniah. Salah satunya
adalah penyakit hati seperti iri hati dan dengki. Sehubung dengan uraian pendahuluan
diatas, maka dalam tulisan ini dibahas tentang klasifikasi berbagai penyakit dalam
pandangan Islam, diantaranya penyakit jasmani, penyakit rohani, dan penyakit alami
(fitrah). Dimana akan dijelaskan munculnya penyakit tersebut dan metode
pengobatannya menurut Al-Qur’an dan Hadits.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa defenisi sakit ?
2. Apa defenisi penyakit ?
3. Macam dan Jenis Penyakit ?
4. Ayat dan Hadits tentang penyakit ?
5. Konsep taqdir dalam mengahadapi sakit ?
6. Do’a bagi orang yang sakit ?
7. Do’a bagi orang yang ingin mati saja, karena tidak sanggup menanggung sakit ?
8. Etika menjenguk orang yang sakit ?

C. TUJUAN
a. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui mengenai megnsikapi sakit dan penyakit dalam
islam
b. Tujuan Khusus
Menyelesaikan tugas mata kuliah mengenai mengsikapi sakit dan penyakit dalam
islam
BAB II

PEMBAHASAN

A. Defenisi
Istilah penyakit (disease) dan kedaan sakit (illness) sering tertukar dalam
penggunaannya sehari-hari padahal keduanya memiliki arti yang berbeda. Penyakit
ialah istilah medis yang digambarkan sebagai gangguan dalam fungsi tubuh yang
menghasilkan kekurangan kapasitas. Penyakit terjadi ketika keseimbangan dalam
tubuh tidak dapat dipertahankan. Keadaan sakit terjadi pada saat sesorang tidak lagi
berada dalam kondisi sehat yang normal. Contohnya pada penyakit asma, ketika
tubuhnya mampu beradabtasi dengan penyakitnya maka orang tersebut tidak berada
dalam keadaan sakit. Unsur penting dalam konsep penyakit adalah pengukuran bahwa
penyakit tidak melibatakan bentuk perkembangan bentukkehidupan baru secara
lengkap melainkan perluasan dari proses-proses kehidupan normal pada individu.
Dapat dikatakan penyakit merupakan sejumlah proses fisiologi yang sudah diubah.
Sakit dalam pandangan Islam bukanlah suatu kondisi yang hina atau
memalukan melainkan kedudukan mulia bagi seorang hamba karena dengan
mengalami sakit seorang hamba akan diingatkan untuk selalu bersyukur. Hal ini
karena keselamatan dan kesehatan merupakan nikmat Allah SWT yang terbesar dan
harus diterima dengan rasa syukur.
Sakit dan penyakit merupakan suatu peristiwa yang selalu menyertai manusia sejak
jaman Nabi Adam. Kita memahami apapun yang menimpa adalah takdir, sakit pun
merupakan takdir yang dialami manusia. Meskipun sehat dan sakit merupakan takdir
tetapi menjaga kesehatan dan mencegah agar supaya kita tidak sakit ataupun mencari
pengobatan ketika jatuh sakit harus dilakukan dan Al-Quran memberikan petunjuk
mengenai hal ini.
Pengertian sehat yang dikemukakan oleh WHO ini merupakan suatu keadaan
ideal, dari sisi biologis, psuologis, dan sosial sehin gga eseorang dapat melakukan
aktifita secara optimal.
Definisi sehat dikemukakan oleh WHO mengandung karakteristik yaitu :

1. Mereflekasikan perhatian pada individu sebagai manusia.


2. Memandang sehat dalam konteks lingkungan internal dan eksternal.
3. Sehat diartikan sebagai hidup yang kreatif dan produktif. Sehat bukan
merupakan suatu kondisi tetapi merupakan penyesuaian, dan bukan
merupakan suatu keadaan tetapi merupakan proses dan yang dimaksud dengan
proses disini adalah adaptasi individu yang tidak hanya terhadap fisik mereka
tetapi terhadap lingkungan sosialnya.

Jadi dapat dikatakan bahwa batasan sehat menurut WHO meliputi fisik,
mental, maupun sosial. Sedangkan batasan sehat menurut Undang-undang Kesehatan
meliputi fisik (badan), mental (jiwa), sosial dan ekonomi. Sehat fisik yang dimaksud
disini adalah tidak merasa sakit dan memang secara klinis tidak sakit, semua organ
tubuh normal dan berfungsi normal dan tidak ada gangguan fungsi tubuh. Sehat
mental (jiwa), mencakup :

1. Sehat pikiran tercermin dari cara berpikir seseorang yakni mampu berpikir
logis (masuk akal) atau berpikir runtut
2. Sehat spiritual tercermin darai cara seseorang dalam mengekspresikan rasa
syukur, pujian, atau penyembahan terhadap pancipta alam dan seisinya yang
dapat dilihat daro praktek keagamaan dan kepercayaannya serta perbuatan
baik sesuai dengan norma-norma masyarakat.
3. Sehat emusional tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan
atau pengendalian diri baik.

Sehat sosial adalah kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang


lain secara baik atau mampu berinteraksi dengan orang atau kelompok lain tanpa
membeda-bedakan ras, sukuj, agama, maupun kepercayaan, status sosial, ekonomi,
dan politik. Dilihat dari aspek ekonomi yeitu mempunyai pekerjaan atau
menghasilkan secara ekonomi. Untuk anak dan remaja ataupun bagi yang sudah tidak
bekerja maka sehat dari aspek ekonomi adalah bagaimana kemampuan seseorang
untuk berlaku produktif secara sosial.
B. Macam dan Jenis Penyakit
Secara garis besar klasifikasi penyakit menurut pandangan Islam, terdiri dari
penyakit hati (rohani) dan penyakit jasmani. Diantara kedua penyakit itu ada pula
yang disebut dengan penyakit alami, yaitu salah satu jenis penyakit jasmani yang
tidak memerlukan tenaga medis dalam pengobatannya, seperti mengobati rasa lapar,
rasa haus, kedinginan, dan keletihan.
1. Penyakit Hati
Penyakit hati atau rohani ialah sifat dan sikap buruk dan merusak rohani, yang
akan mengganggu kebahagiaan manusia, merintanginya untuk memperoleh ke-
ridhaan Allah dan mendorongnya untuk berbuat buruk dan merusak. Karena itulah
penyakit ini sangat berbahaya bagi manusia.
Penyakit hati yaitu penyakit yang bersemayam dalam hati, terdiri dari dua macam,
yaitu penyakit syubhat yang disertai keraguan dan penyakit syahwat yang disertai
kesesatan. Seperti dalam Al-Qur’an menyebutkan kedua penyakit tersebut di dalam
firman Allah S.W.T sebagai berikut:
ً ‫َّللاُ َم َرضا‬ ٌ ‫فِى قُلُوبِ ِهم َّم َر‬
َّ ‫ض فَزَ ادَ ُه ُم‬
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambahkan penyakit mereka.”
(QS. Al-Baqarah: 10)

Kemudian, Allah menjelaskan pula dalam firmannya yang berkaitan dengan


orang yang tidak mau menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar mereka dalam
mengambil keputusan. Ayat berikut ini akan menerangkan penyakit syubhat yang
membawa pada keraguan.
‫ أَفِ ْي قُلُ ْو ِب ِه ْم‬٤٩ َ‫ َو ِإ ْن يَّ ُك ْن لَّ ُه ُم ْال َح ُّق َيأْت ُ ْوا ِإلَ ْي ِه ُمذْ ِعنِيْن‬٤٨ َ‫س ْو ِله ِل َيحْ ُك َم َب ْي َن ُه ْم ِإذَا فَ ِري ٌْق ِ ِّم ْن ُه ْم ُّم ْع ِرض ُْون‬ ‫َو ِإذَا دُع ُْوا ِإلَى ه‬
ُ ‫َّللاِ َو َر‬
٥٠ َ‫ظ ِل ُم ْون‬ ٰ ُ ‫س ْولُ ۗٗه َب ْل أ‬
‫ولئِكَ ُه ُم ال ه‬ ُ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه ْم َو َر‬
‫ْف ه‬ َ ‫ارت َاب ُْوا أ َ ْم َيخَافُ ْونَ أ َ ْن ي َِّحي‬
ْ ‫ض أ َ ِم‬ٌ ‫َّم َر‬
“Dan ketika diseru kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu agar (Rasul) menegakkan
hukum di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.
Namun, apabila keputusan ini menguntungkan, mereka akan datang kepada Rasul
dengan patuh. Apakah di dalam hati mereka terdapat penyakit, ataukah mereka ragu,
ataukah mereka khawatir bahwa Allah dan Rasul-Nya akan berlaku zhalim terhadap
mereka? Sebaliknya, merekalah orang- orang yang dzalim.” (QS. An-Nur: 48-50)
Adapun tentang penyakit syahwat, dalam hal ini perzinahan, Allah S.W.T. berfirman :
ٌ ‫ط َم َع الَّذِي في ِ قَ ْل ِب ِه َم َر‬
‫ض‬ ْ ‫ض ْعنَ ِب ْالقَ ْو ِل فَ َي‬
َ ‫آءج ِإ ِن اتَّقَ ْيت ُ َّن فَالَ ت َْخ‬
ِ ‫س‬َ ِّ‫ي لَ ْست ُ َّن َكأ َ َح ٍد ِ ِّمنَ ال ِن‬
َّ ‫يآ ِنسآ َء النَّ ِب‬
“Wahai istri para Nabi, kalian tidak sama dengan wanita muslimah manapun jika
kalian bertakwa. Karenanya, janganlah kalian berbicara (terlalu) lembut sehingga
menimbulkan keinginan kuat kaum lelaki yang dalam hatinya terdapat penyakit.”
(QS. Al-Ahzab: 32)

A. Macam-Macam Penyakit Hati


Penyakit rohani ini sangat banyak ditemukan, yaitu segala macam sifat dan
sikap mental yang menggangu ke-bahagiaan, merintangi untuk memperoleh ridha
Allah dan yang mendorong untuk berbuat buruk. Beberapa macam penyakit ini antara
lain :
a. NIFAK
Orang yang punya penyakit ini disebut munafiq mereka mengatakan apa-apa
yang tidak ada di dalam hati mereka. Allah memfirmankan:
“Dan sebagian dari pada manusia berkata: kami telah beriman kepada Allah dan
hari akhir, padahal mereka bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak
menipu Allah dan orang-orang beriman padahal mereka tidak lain, melainkan
menipu diri mereka sendiri, tetapi mereka tidak menyadarinya. Dalam hati mereka
ada penyakit, maka Allah menambah penyakit mereka, dan bagi mereka azab yang
pedih, tersebab mereka telah berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 8,9,10)
b. HASAD (IRI HATI)
Yaitu orang yang benci kepada orang yang diberi nikmat oleh Allah dan ingin
agar nikmat tersebut terlepas dari padanya. Penyakit ini menghabiskan semua pahala
amal yang telah dikerjakan, seperti yang tertulis dalam sabda Rasulullah :
“Jauhilah iri hati, karena ia akan memakan semua kebaikan (pahala) sebagaimana
api memakan kayu bakar yang kering.” (HR. Abu Daud)
c. TABZIR (MUBAZIR)
Yaitu penyakit sifat yang menyia-nyiakan harta, sebagaimana di jelaskan
dalam firman Allah :
“Sesungguhnya orang-orang yang mubazir itu adalah kawan-kawannya syetan.”
(QS. Al-Isra’: 27)
d. ANANIYAH
Yaitu egoistis/ mementingkan diri sendiri. Allah berfirman :
“ Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 14)
Dari ayat tersebut menjelaskan bahwa jika umat Islam mementingkan dirinya sendiri
saja, berarti dia durhaka kepada Allah. Dan sifat ini termasuk dalam penyakit rohani/
hati.
e. AL-BUKHTAN
Yaitu penyakit yang menjiwai seseorang pendusta/ berdusta atau mengada-
adakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Berdusta ini salah satu tanda munafik. Dan
munafik ini adalah orang yang berpenyakit rohani.
f. TAKABBUR
Yaitu sikap seseorang yang membesarkan diri atau merasa dirinya lebih dari
orang lain. Rasulullah berfirman:
“Takabbur itu adalah selendangKu.” (Hadits Qutsi)
g. RIYA’
Adalah penyakit yang diderita seseorang yang selalu ingin dipuji, ingin dilihat
orang dalam beramal. Tidak ada keikhlasan dalam beribadah dan beramal. Apa yang
telah disedekahkan harus diumumkan dan harus diketahui masyarakat. Sifat seperti ini
merupakan penyakit hati yang harus diobati.

B. Metode Pengobatan Penyakit Hati


Hati akan menjadi baik jika mengenal Tuhan dan penciptanya, Asma’ dan
sifat-Nya, dan perbuatan serta hukum yang ditetapkan-Nya. Tidak akan tercapai
kesehatan atau kebahagiaan hati kecuali melalui metode yang hanya diberikan Rasul.
Keliru jika orang mengira ia dapat mencapai kebahagiaan hati melalui jalan lain selain
petunjuk dari para Rasul. Sebab kehidupan yang dijalani tanpa petunjuk hanyalah
kehidupan, kesehatan, dan hasrat kebinatangan yang penuh nafsu syahwat. Akibatnya,
hati semakin jauh dari kebahagiaan dan kesehatan hakiki.
Selain itu, pengobatan penyakit hati dapat disembuhkan dengan Al-Qur’an,
sebagaimana firman Allah dalam surat Yunus: 57 yang berbunyi:
‫ُور َو ه ُ د ًى َو َر ْح َم ة ٌ لِ ل ْ مُ ْؤ ِم ن ِ ي َن‬ ِ ‫اس ق َ د ْ َج ا ءَ ت ْ ك ُ ْم َم ْو ِع ظ َ ة ٌ ِم ْن َر ب ِّ ِ ك ُ ْم َو‬
ِ ‫ش ف َ ا ءٌ ل ِ َم ا ف ِ ي ال صُّ د‬ ُ َّ ‫ي َ ا أ َي ُّ هَ ا ال ن‬

“Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)
Makna “Syifâ’ lima fi shudur” pada surat Yunus [10] : 57, menunjukkan bahwa
Alquran merupakan obat penyembuh bagi penyakit hati, yaitu penyembuh dari
penyakit kebodohan, keragu-raguan dan juga kebimbangan. Allah Swt. tidak
menurunkan obat penyembuh dari langit yang sifatnya lebih umum, lebih bermanfaat,
lebih besar dan lebih mujarab untuk menyingkirkan penyakit selain dari Alquran.

2. Penyakit Jasmani
Penyakit jasmani ialah penyakit badan, penyakit yang tampak dan dapat kita
rasakan. Penyakit jasmani ini dapat disembuhkan oleh dokter dan mudah dideteksi
dengan bantuan medis. Berkenaan dengan penyakit jasmani, Allah S.W.T berfirman:
‫ج‬ ِ ‫ج َو ََل عَ ل َ ى ال ْ َم ِر‬
ٌ ‫يض َح َر‬ ٌ ‫اْل َعْ َر ج ِ َح َر‬ ٌ ‫اْل َعْ َم ٰى َح َر‬
ْ ‫ج َو ََل ع َ ل َ ى‬ ْ ‫ْس ع َ ل َ ى‬
َ ‫لَي‬

“ tak ada halangan bagi orang buta, tak ada halangan bagi orang pincang, dan tak
ada halangan bagi orang sakit.” (QS. An-Nur: 61)
Ayat diatas menunjukkan adanya berbagai penyakit yang dapat menyerang orang saat
melaksanakan ibadah haji, puasa, atau bersuci. Ayat ini mengandung rahasia dan
hikmah besar yang menunjukkan keagungan Al-Qur’an, hingga orang yang mampu
memahami dan mendalaminya akan merasa cukup untuk menjadikannya sebagai
petunjuk tanpa membutuhkan petunjuk lain.

A. Metode Pegobatan Penyakit Jasmani


Al-Qur’an di samping dapat mengobati penyakit rohani, dapat pula menjadi obat
untuk penyakit jasmani. Menurut Mustamir1, ada 4 (empat) hal yang menjadi mekanisme
Al-Qur’an dalam mengobati penyakit fisik. Antara lain adalah pertama, Al-Qur’an
mengajarkan cara bernapas yang baik. Kedua, huruf-huruf Al-Qur’an ketika dibaca dapat
melatih organ-organ di hidung, mulut, dan tenggorokan, bahkan organ-organ dada dan
perut. Ketiga, bacaan Al-Qur’an yang merdu dapat berperan sebagai terapi musik. Dan
yang keempat, dengan konsep religi- opsikoneoruimunologi (seni penyembuhan dengan
menggabungkan antara dimensi ruhani, psikologis, dan fisik.
Selain mekanisme Al-Qur’an tersebut, metode pengobatan penyakit jasmani
meliputi tiga aturan dasar, yakni menjaga kesehatan, mencegah masuknya zat-zat
berbahaya ke dalam tubuh, dan pembebasan tubuh dari zat-zat yang merugikan.
Allah menyebut tiga prinsip dasar ini dalam tiga ayat berbeda, yaitu pada ayat tentang
puasa, haji, dan bersuci.

Dalam persoalan puasa, Allah S.W.T berfirman:


‫سفَر فَ ِع َّدةٌ ِ ِّم ْن أَيَّام أ ُ َخ َر‬ َ ‫فَ َمن كَانَ ِمنكُم َّم ِريضًا أ َ ْو‬
َ ‫ع َل ٰى‬

“Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu
ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu
pada hari-hari yang lain.“ (Qs. al-Baqarah: 184)

Allah membolehkan orang sakit untuk tidak berpuasa karena alasan sakit dan
untuk orang yang sedang bepergian demi menjaga kesehatan dan stamina tubuhnya.
Yakni kesehatannya tidak terganggu saat berpuasa karena orang tersebut harus
melakukan aktivitas berat (perjalanan) dan juga kesulitan berpuasa seperti saat tubuh
membutuhkan suntikan energi sementara tidak ada makanan yang masuk ke dalam
tubuh sehingga mengganggu proses tersebut. Tubuh pun menjadi lemas dan loyo.
Dengan alasan itu, Allah membolehkan orang yang sedang melakukan
perjalanan (safar), untuk tidak berpuasa, demi menjaga kesehatannya dan stamina
agar tidak menjadi lemah.
Kemudian yang berkenaan dengan ibadah haji, Allah S.W.T berfirman :

َ ‫س ِه فَ ِف ْديَةٌ ِِّمن ِصيَام أ َ ْو‬


ُ ُ‫ص َدقَة أ َ ْو ن‬
‫سك‬ ِ ْ‫فَ َمن كَانَ ِمنكُم َّم ِريضًا أ َ ْو بِ ِه أَذًى ِِّمن َّرأ‬
“Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur),
maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau
berkorban.“ (Qs. al-Baqarah: 196)
Allah membolehkan orang yang sakit, atau kepalanya bermasalah seperti
banyak kutu, berpenyakit kulit, atau karena hal lain, untuk mencukur rambut
kepalanya saat melakukan ihram. yakni untuk mengusir uap-uap jahat yang
diakibatkan masalah di kepalanya karena mengendap di balik rambut. Kalau rambut
kepala dicukur, pori-pori akan terbuka dan semua uap jahat itu akan keluar dengan
sendirinya. Proses pengeluaran zat berbahaya ini bisa dianalogikan dengan segala
bentuk proses pengeluaran zat-zat berbahaya yang mendekam dalam tubuh.
Zat yang berbahaya bila mendekam dan tidak segera diatasi ada sepuluh: darah
apabila sudah bergejolak, mani bila keluar secara terus-menerus, air seni, kotoran,
kentut, muntah, bersin, kantuk, rasa lapar, dan rasa dahaga. Masing-masing dari
sepuluh zat ini, bila ditahan, dapat menimbulkan penyakit. Allah S.W.T telah
memperingatkan, agar kita mengeluarkan zat berbahaya yang paling ringan sekalipun,
seperti uap jahat yang mengendap di balik rambut, tentunya agar kita pun
mengeluarkan zat berbahaya yang lebih sulit lagi dikeluarkan. Itulah metodologi al-
Qur’an, menjadikan hal yang lebih rendah untuk mengindikasikan hal yang sama pada
yang lebih tinggi.
Adapun yang berkaitan dengan pemeliharaan tubuh dari unsur-unsur berbahaya, Allah
S.W.T berfirman dalam masalah wudhu :

ِ ِ ‫َو إ ِ ْن ك ُ ن ْ ت ُمْ َم ْر ضَ ٰى أ َ ْو ع َ ل َ ٰى سَ ف َ ٍر أ َ ْو َج ا ءَ أ َ َح د ٌ ِم ن ْ ك ُ مْ ِم َن ال ْ غ َا ئ‬
ً‫ط أ َ ْو ََل َم سْ ت ُمُ ال ن ِّ ِ سَ ا ءَ ف َ ل َ ْم ت َِج د ُوا َم ا ء‬
ْ‫ج و هِ ك ُ مْ َو أ َ ي ْ ِد ي ك ُ م‬ ُ َ ‫ف َ ت َي َ َّم ُم وا صَ ِع ي د ًا ط َ ي ِّ ِ ب ًا ف َ ا ْم س‬
ُ ‫ح وا ب ِ ُو‬

“jika kalian sedang sakit, sedang dalam perjalanan, kembali dari tempat buang hajat
atau telah melakukan hubungan suami istri, namun tidak menemukan air, maka
hendaklah bertayamum dengan tanah (debu) yang bersih, lalu usaplah wajah dan
kedua tanganmu.” (QS. An-Nisa: 43)

Orang yang sakit dibolehkan mengganti air dengan debu untuk bersuci, demi
menjaga tubuhnya dari unsur yang berbahaya. Itu merupakan indikasi terhadap sikap
pemeliharaan tubuh dari unsur dalam maupun luar yang berbahaya.

C. Ayat Dan Hadist Tentang Penyakit

‫ُور و ُهدًى ورحْ مة ِل ْل ُمؤْ ِمنِين‬


ِ ‫صد‬ُّ ‫اس قدْ جاءتْ ُك ْم م ْو ِعظة ِم ْن ر ِب ُك ْم و ِشفاء ا ِلما فِي ال‬
ُ َّ‫أيُّها يا الن‬

“Yā ayyuhan-nāsu qad jā`atkum mau'iẓatum mir rabbikum wa syifā`ul limā fiṣ-ṣudụri
wa hudaw wa raḥmatul lil-mu`minīn”
Artinya:” Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu
dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS. Yunus: 57)

Disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari, bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
‫َما أَ ْنزَ َل هللاُ دَا ًء ِإ ََّل أ َ ْنزَ َل لَهُ ِشفَا ًء‬

Artinya :“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan


penawarnya.” (HR Bukhari).

Dari riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdillah dia berkata bahwa Nabi bersabda,

‫ برأ ِبإِذْ ِن هللاِ ع َّز وج َّل‬،‫ فإِذا أصاب الدَّوا ُء الدَّاء‬،‫ِل ُك ِل داءٍ دواء‬

Artinya :“Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan
penyakitnya maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR.
Muslim)

D. Konsep Taqdir Dalam Mmenghadapi Sakit

Sakit dan musibah yang menimpa seorang mukmin mengandung hikmah yang
merupakan rahmat dari Allah Ta’ala. Imam Ibnu Qayyim berkata : “andaikata kita bias
menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak
kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangat terbatas, pengatahuan kita terlalu
sedikit dan ilmu semua mahluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah,
sebagaimana sinar lampu yang sia-sia dibawah sinar matahari. Dan inipun hanya kira-
kira, yang sebenarnya tentu lebih dari sekedar gambaran ini”.

(Syifa-ul Alil fi Masail Qadha wal Qadar wa Hikmah wa Ta’lil hal 452).
Dalam menyikapi sakit dan musibah tersebut, berikut ini ada beberapa prinsip yang
harus menjadi pegangang seorang muslim :

a. Sakit Dan Musibah Adalah Taqdir Allah Wa Jalla


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimusendiri
melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS. Al-Hadid : 22)
“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang melainkan dengan izin
Allah”. (QS. At-Taghaabun : 11)
b. Sakit Dan Musibah Adalah Penghapus Dosa
Ini adalah hikmah terpenting sebab diturunkannya sakit dan musibah. Dan hikmah ini
sayangnya tidak banyak diketahui oleh saudara-saudara kita yang tertimpa musibah.
Apabila mereka mengtahui hikmah dibalik semua itu, maka insyaAllah sakit dan
musibah terasa ringan disebabkan banyajnya rahmat dan kasih saying dari Allah
Ta’ala.
Hikamah dibalik sakit dan musibah diterangkan Rasulullah shallallahu alaihi
wasalam, dimana beliau bersabda :
“tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan,
gangguan, kegundahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan
menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannyanya”. (HR. Bukhari no.5641)
c. Wajib Sabar Dan Ridho Apabila Ditimpa Sakit Dan Musibah
Apabila sakit dan musibah telah menimpa, maka seorang mukmin haruslah sabar dan
ridho terhadap taqdir Allah Azza wa Jjalla, dan harapkanlah pahala serta dosanya
sebagai ganjaran dari musibah yang menimpanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman :
“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang
yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘inna lillaahi wa inna ilahi
roji’uun’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari
tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.
(QS. Al-Baqaroh : 155-157)

 Sikap salam menghadapi sakit


 Berdoa kepada Allah agar memberikan kesembuhan, kesembuhan yang tidak
menyisakan sedikit pun penyakit, serta menyempurnakan kesehatan kita selamanya
 Hendaklah berprasangka baik kepada Allah. Luruskan akidah dengan menyadari
bahwa ujian yang menimpa ini datang dari Allah yang Maha Pengasih, yang
mengasihi melebihi kasih sayang ibu, bahkan melebihi kasih sayang manusia kepada
diri sendiri. Allah Maha Suci, Dialah yang menguji manusia, dan ujian itu merupakan
kasih sayang-Nya kepada hambanya.

Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda:

“Allah tidak menguji hamba-Nya yang beriman, menyangkut dirinya, hartanya, atau
anaknya, kecuali untuk salah satu dari dua tujuan, yakni mungkin mempunyai dosa
yang tidak bisa diampunkan kecuali dengan ujian ini atau ia akan memperoleh derajat
di sisi Allah yang tidak bisa dicapainya kecuali dengan ujian ini”. Prasangka baik
kepada Allah berarti menyadari bahwa musibah yang menimpa itu merupakan
kebaikan bagi manusia itu sendiri, dan itu pasti, akan tetapi banyak orang yang tidak
mengetahuinya. Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia
amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat
buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah
[2]: 216).

 Tidak disibukkan dengan ujian dan cobaan itu, sehingga melupakan “yang memberi
ujian dan cobaan”, yaitu Allah Swt. Banyak orang sakit yang sibuk dengan ujian yang
dihadapinya, semua pemikiran mereka terfokus pada mencari dokter, pergi ke
laboratorium, melakukan terapi radiologi, dan berbagai terapi modern lainnya, dan
seterusnya, tetapi lupa kepada Tuhannya. Padahal sepatutnya, manusia justru lebih
dekat kepada Rabbnya pada saat sakit. Akan lebih bermanfaat dan lebih memberikan
harapan jika pada saat sakit ia mengadu sepenuh hati kepada Rabbnya sambil
berusaha mencari obat. Dalam sebuah hadist Qudsi disebutkan bahwa Allah Swt
berfirman kepada seorang hamba pada hari kiamat: “Hamba-Ku, Aku sakit tetapi
engkau tidak menjenguk-Ku!” Si hamba berkata, ‘Ya Rabb, bagaimana aku
menjenguk-Mu, sedangkan Engkau Rabb semesta alam?’ Allah berfirman, ‘Tidak
tahukah engkau, bahwa hamba-Ku si fulan sakit, tetapi engkau tidak menjenguknya.
Tidakkah engkau tahu, jika engkau menjenguknya, niscaya engkau mendapati-Ku di
sisinya?”
 Para ulama mengatakan bahwa dalam hadist ini terdapat petunjuk mengenai
kedekatan Allah kepada orang-orang yang hatinya sudah patah harapan kepada selain
Allah. Kedekatan yang tentu saja selaras dengan keagungan dan kemahasempurnaan-
Nya, “Tiada sesuatu yang seperti-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
 Sebaiknya berpikir tentang hikmah Ilahi dari musibah yang menimpa itu. Allah Maha
Bijaksana, ketetapan dan takdir-Nya tidak lepas dari hikmah itu. Allah Swt berfirman,
“Apapun musibah yang menimpamu, maka disebabkan oleh perbuatanmu sendiri dan
Dia memaafkan banyak (kesalahanmu).” (QS Al-Syuura: 30).

Diriwayatkan dari Abdurrahman ibn Sa’id, dari ayahnya, ia berkata: Suatu ketika saya
bersama Salman menjenguk seorang yang sakit di Kindah. Ketika datang kepadanya,
ia berkata, “Bergembiralah, karena sesungguhnya sakit orang mukmin itu oleh Allah
dijadikan sebagai kafarat (penebus) dan penghapus dosa. Sedangkan sakit orang
pendosa itu seperti unta yang diikat oleh pemiliknya, kemudian dilepaskan oleh
mereka, ia tidak tahu mengapa diikat dan mengapa kemudian dilepaskan? Ketika Ibnu
Sirin dilanda kesedihan, ia berkata, “ Aku tahu penyebab kesedihan ini, yakni sebuah
dosa yang kulakukan empat puluh tahun yang lalu.” Ahmad bin Abi Hawari berkata,
“Dosa-dosa orang-orang di masa itu sedikit, sehingga mereka tahu dosa manakah
yang menjadi penyebab, akan tetapi dosa-dosa kita banyak sekali, sehingga kita tidak
tahu, dosa manakah yang menyebabkan musibah kita.”
Kita harus mencari tahu, dosa manakah yang menyebabkan musibah datang kepada
kita. Semoga dengan taubat dan kesungguhan kita kembali kepada Allah, Allah
menghapuskan bencana itu.

 Meyakini bahwa berobat merupakan satu sebab. Pengobatan adalah satu sebab,
operasi adalah satu sebab, obat adalah satu sebab, semua itu semata-mata sebab.
Sedangkan suatu sebab tidak bisa memberikan efek apapun kecuali dengan izin Allah.
Rasulullah Saw bersabda: “Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat mengenai penyakit,
maka ia akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (HR Muslim). “Allah tidak
menurunkan penyakit kecuali ada penangkalnya, penangkal itu ada yang diketahui
dan ada pula yang tidak mengetahuinya.” (HR Al-Hakim). Nabi menyebutkan sebab-
sebab datangnya kesembuhan, yakni pertama, mempunyai pengetahuan tentang sebab
penyakit dan pengobatannya; dan kedua, yang benar mengenai permasalahan ini
adalah hendaklah ia mengetahui benar penyakitnya (dengan benar dan dengan
diagnosa yang akurat), dan resep yang diberikan hendaklah tepat. Dan syarat terakhir
dan terpenting adalah adanya izin dari Allah untuk diperolehnya kesembuhan. Karena
itu, salah satu doa Nabi Saw adalah: “Ya Allah, Engkau adalah Asy-Syafi (Maha
Menyembuhkan), tidak ada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu.”
 Kita harus yakin bahwa yang memberikan kesembuhan adalah Allah, bukan dokter
atau obat. Penyembuh itu Allah, karena itu hendaklah hati kita tergantung kepada
Allah saja, bukan kepada sebab-sebab kesembuhan. Ketergantungan hati kepada
sebab-sebab merupakan kesyirikan.

E. Do’a Bagi Orang Yang Sakit

‫شافِي َل شا ِفي َّإَل أ ْنت َل ِشفا ًء اس ْق ًمايُغاد ُِر‬ َّ ‫ب ْالبأْس ال‬


َّ ‫شافِي أ ْنت ال‬ ِ َّ‫اللَّ ُه َّم ربَّ الن‬
ِ ‫اس أذْ ِه‬

Allāhumma rabban nāsi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syāfi. Lā syāfiya illā anta
syifā’an lā yughādirusaqaman.

Artinya:”Ya Allah Tuhanku Tuhan seluruh manusia, hilangkanlah segala penyakit


yang hinggap. Berilah kesembuhan karena Kau adalah satu-satunya Penyembuh.
Tidak ada yang mampu menyembuhkan segala penyakit selain Engkau. Dengan
kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa nyeri.

F. Do’a Bagi Orang Yang Ingin Mati Saja Karna Tidak Sanggup Menanggung Sakit

‫ت ْالوفاة ُ خي ًْرا ِلي‬


ْ ‫ت ْالحياة ُ خي ًْرا ِلي و توفَّ ِني ِإذا كان‬
ْ ‫اللَّ ُه َّم ماأحْ ِي ِني كان‬

Artinya :“Ya Allah, berilah aku kehidupan apabila kehidupan tersebut memang lebih
baik bagiku dan matikanlah aku apabila kematian tersebut memang lebih baik
untukku.”
G. Etika Menjengguk Orang Yang Sakit
1. Menanyakan keadaannya, diantara adab yang baik ketika menjenguk orang
sakit. Selain itu, kita tidak dianjurkan mengucapkan apa pun kecuali kata-kata
yang baik, karena para malaikat mengamini ucapannya.
2. Orang yang menjenguk dianjurkan duduk di dekat kepala orang yang sedang
sakit. Ini adalah sunnah yang dilaksanakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam dan orang-orang yang shalih setelah beliau. Karena duduknya orang
yang menjenguk di dekat kepala orang yang sedang sakit memiliki beberapa
faedah. Diantaranya: untuk mengakrabkan orang yang sedang sakit,
memudahkan orang yang menjenguk untuk meletakkan tangannya pada orang
yang sedang sakit, dan mendoakannya serta meruqyahnya.
3. Mengelus tangan orang yang sakit, rasulullah mencontohkan ketika sedang
menjenguk Sa’ad, beliau mengusapkan tangannya pada tangan dan kepala
Sa’ad seraya mendoakan kesembuhan pada Sa’ad. Mengelus tangan orang
yang sedang sakit merupakan salah satu cara untuk memberikan dukungan dan
semangat agar tetap kuat menghadapi penyakit yang sedang diderita. Sebagai
umat Muslim saling menguatkan adalah wajib hukumnya. Untuk menghindari
fitnah, sebaiknya mengelus tangan orang yang sakit dilakukan ketika
menjenguk saudara yang sejenis dan masih termasuk mahram.
4. Ketika menjenguk saudara/ teman yang sakit hendaknya sebagai seorang
muslim kita membacakan doa kepadanya agar diberi kesembuhan. Rasulullah
mengajarkan doa saat menjenguk orang sakit yaitu membacakan surat Al
ikhlas, An Nas, dan Al Falaq kemudian dilanjutkan dengan berdoa
“As’alullahaladzim, Rabbalarsyiladzim ayyashfika” sebanyak 7 kali. Arti dari
doa ini adalah memintakan kesembuhan pada Allah atas segala penyakit yang
diderita. Jika Anda mengunjungi orang sakit yang berbeda agama cukup
dengan mendoakannya agar cepat sembuh.
5. Memberi kata-kata semangat dan mengingatkan untuk senantiasa bersabar
dalam menghadapi penyakitnya merupakan hal wajib bagi kita pada saat
menjenguk seseorang yang sedang sakit. Selain itu juga, ingatkan juga untuk
tidak mengeluh dengan sakit yang dideritanya. Karena mengeluh sendiri
merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
6. Jangan menjenguk terlalu lama karena orang yang sakit membutuhkan waktu
istirahat yang cukup, selain itu juga jangan mengajaknya bicara terlalu
banyak.
BAB III
ANALISIS JURNAL

Sakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang
menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran pada diri seseorang yang
dipengaruhinya. Makna sakit dalam perspektif Islam menunjukkan bahwa sakit ada
yang dimaknai ujian. Sakit untuk menebus dosa dan kesalahan. Sakit untuk mencapai
kedudukan yang lebih tinggi dan sakit merupakan bukti bahwa Allah SWT
menghendaki kebaikan terhadap hamba-Nya.
Tulisan ini berpendapat bahwa makna sakit dalam tinjauan komunikasi
kesehatan merupakan bentuk komunikasi intrapersonal yang terkait dengan kesehatan.
Kedudukan komunikasi kesehatan intrapersonal menjadi sangat penting, utamanya
dalam hal memaknai sakit yang ternyata berdampak pada kondisi fisik seseorang.
Sedangkan makna sakit dalam perspektif Islam menunjukkan bahwa sakit dimaknai
sebagai ujian dan bukti bahwa Allah SWT menghendaki kebaikan terhadap ciptaan-
Nya.
BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Berdasarkan uraian singkat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, Islam
selain sebagai petunjuk, juga di dalamnya mengandung pengobatan (syifâ’) dengan
tujuan untuk mencegah dan mengobati penyakit, dari berbagai macam jenis penyakit,
dengan berbagai metode, teknik, dan pendekatan tertentu diantarnya dengan bnacaan
Alquran dan mendengarkannya (neurofisiologi Alquran), dzikir, istighfar, doa, dan
ruqyah untuk menimbulkan ketenangan hati dalam usaha penyembuhan berbagai
penyakit, terutama dari penyakit hati yang dapat berpengaruh kepada penyakit
jasmani.
Berbagai pengobatan untuk penyembuhan atau pencegahan penyakit psikis
dan fisis pada hakekatnya terdapat di dalam ayat-ayat Alquran dan al-Sunnah yang
qauliyah dan fi’liyah. Bahkan, Alquran dan al-Sunnah mengandung isyarat dan makna
yang dapat digunakan untuk menjadi petunjuk dan praktek menyembuhkan atau
mengobati berbagai kriteria penyakit yang secara garis besar meliputi penyakit psikis
(jiwa) dan penyakit fisik (jasmani).
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Syamsuri., 2015, Pengobatan Alternatif Dalam Perspektif Hukum Islam, Jurnal

AL-‘ADALAH Vol. XII, No. 4, IAIN Raden Intan Lampung, Bandar Lampung.

Nizar D, Muhammad. 2002. Hidup Sehat & Bersih Ala Nabi. Jakarta: Hikmah.

Pandi W, Emma. 2010. Sehat Cara Al-Qur’an & Hadis. Jakarta: Hikmah.