Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MANDIRI

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

“ KECERDASAN EMOSIONAL PADA REMAJA ”

Disusun oleh

Nama : Desti Febriani

NIM : 17 507 043

Kelas : 3-A

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

BIOLOGI

2018
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan
karunia- Nya, sehingga tugas yang berjudul tentang “ Kecerdasan Emosional
pada Remaja ” dapat diselesaikan dengan baik.
Semoga dengan adanya tugas mandiri ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Saya menyadari dalam penulisan ada banyak kesalahan, untuk itu saya sangat
mengharapkan kritik dan saran untuk memperbaiki kesalahan yang ada. Sekian
dan terima kasih.

Tondano, 30 November 2018

Penyusun

I
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................... i

Daftar Isi .............................................................................................................. ii

Bab I. Pendahuluan............................................................................................. 1

A. Latar Belakang .............................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
C. Tujuan ........................................................................................... 2

Bab II. Pembahasan ............................................................................................ 3

A. Pengertian Emosi ............................................................................... 3


B. Kondisi Emosional .............................................................................. 4
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi ................ 6
D. Pentingya Meningkatkan Kecerdasan Emosional ............................... 8
E. Upaya Guru untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosional ................. 9

Bab III. Penutup .................................................................................................. 11

A. Kesimpulan ................................................................................... 11
B. Saran .............................................................................................. 11

Daftar Pustaka ..................................................................................................... 12

II
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Banyak contoh di sekitar kita membuktikan bahwa orang yang memiliki
kecerdasan otak saja, memiliki gelar tinggi, belum tentu sukses berkiprah di dunia
pekerjaan. Seringkali justru yang berpendidikan formal lebih rendah, banyak ternyata
yang berhasil. Kebanyakan program pendidikan hanya berpusat pada kecerdasan akal
(IQ), padahal diperlukan pula bagaimana mengembangkan kecerdasan emosi seperti:
ketangguhan, inisiatif, optimism, kemampuan beradaptasi.
Kecerdasan memungkinkan manusia maju dalam bersikap, berbuat, dan
berkarya secara dinamis dan konstruktif. Beberapa kecerdasan tersebut antara lain:
kecerdasan intelegensi, emosi, spiritual, linguistik, bodi kinestik, dan interpersonal,
kecerdasan EQ. Seorang siswa sebagai generasi penerus bangsa, sepatutnya mampu
mengelola aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang dimilikinya secara baik.
Usia siswa yang tergolong remaja berkisar antara 15-18 tahun. Masa remaja dikenal
dengan masa storm dan stress, masa-masa terjadi pergolakan emosi yang diiringi
dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan bervariasi. Pergolakan emosi yang terjadi
pada remaja tidak terlepas dari bermacam-macam pengaruh, seperti lingkungan
tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman-teman sebaya serta aktivitas-aktivitas
yang dilakukannya dalam kehidupannya sehari-hari (Prayitno, 2009: 1). Masa remaja
sebagai periode perubahan, yang salah satunya adalah meningginya emosi. Semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

1
B. Rumusan Masalah
Adapun batasan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa yang dimaksud dengan emosi?
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi?
3. Mengapa penting untuk meningkatkan kecerdasan emosional?
4. Bagaimana kondisi emosional seseorang?
5. Bagaimana upaya pengembangan kecerdasan emosional untuk guru?

C. Tujuan
Adapun tujuan penulis dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Menambah pengetahuan tentang kecerdasan emosional.
2. Mengetahui pengertian kecerdasan emosional.
3. Mengetahui pentingnya meningkatkan kecerdasan emosional.
4. Mengetahui bagaimana upaya pengembangan kecerdasan emosional untuk
guru.
5. Mengetahui bagaimana kondisi emosional pada remaja.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Emosi

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak
menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan
hal mutlak dalam emosi. Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam
emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire
(hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy
(kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu :
fear (ketakutan), Rage (kemarahan), Love (cinta).

Istilah “Kecerdasan Emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990


oleh dua orang psikolog yakni Peter Salovey dan John Mayer . Emosi adalah
suatu perasaan dan fikiran yang khas, keadaan psikologis dan
biologis yang merupakan dorongan untuk bereaksi atau bertindak karena ada nya
rangsangan baik dari dalam maupun dari luar individu, dimana hal tersebut bisa
berupa; marah, sedih, bahagia, takut, jengkel, malu, terkejut, cinta, benci, puas
yang secara keseluruhan merupakan respon atas stimulus yang di
terima. Emosi merupakan komponen paling penting dalam bahasan psikologi.
Emosi masuk dalam komponen afektif manusia. Emosi merupakan pusat
penggerak di samping motivasi, yang mendasari manusia bertingkah laku.

Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman
(Ari Agustian, 2008) pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi
berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau
bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam the Nicomachea Ethics
pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang
benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan
kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan;
nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu
dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi.

3
Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan
mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan.

Jadi, kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami,


dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi
dan pengaruh yang manusiawi, kecerdasan emosi menuntut pemilikan perasaan,
untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta
menanggapinya dengan terpat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam
kehidupan sehari-hari.

B. Kondisi Emosional

Berdasarkan aktivitasnya, tingkah laku emosional dapat dibagi menjadi


empat macam,yaitu:

1. Marah, orang bergerak menentang sumber frustasi


2. Takut,orang bergerak meninggalkan sumber frustasi
3. Cinta, orang bergerak menuju sumber kesenangan
4. Depresi,orang menghentikan resfons-resfons terbukanya dan
mengalihkan emosi kedalam dirinya sendiri.

Dari hasil penelitiannya, John B. Watson menemukan bahwa tiga dari


keempat respons emosional tersebut terdapat pada anak-anak, yaitu:

a. Takut

Pada dasarnya, rasa takut itu bermacam-macam.Ada yang timbul


karena anak kecil sering ditakut-takuti atau karena berlakunya berbagai
pantangan di rumah. Akan tetapi, ada juga rasa takut “naluriah” yang
terpendam dalam hati sanubari setiap insan .seperti, rasa takut akan kegelapan
, takut berada di tempat sepi tanpa teman atau yang lainnya.

4
b. Marah

Pada umumnya, luapan kemarahan lebih sering terlihat ketimbang rasa


takut.kemarahan selalu kita lihat berhubungan dengan keadaan
tertentu.kemarahan bisa juga timbul sehubungan dengan keadaan yang
sebetulnya tidak lazim untuk menimbulkan kemarahan.

Kemarahan merupakan emosi yang amat sukar untuk menerima dan


mengungkapkannya. Rasa marah merupakan menunjukkan bahwa perasaan
kita tersinggung oleh seseorang, bahwa seseorang sudah tidak baik. Pada
waktu kita tidak mau mengakui perasaan marah atau tidak mau
mengungkapkannya, perasaan marah itu mengumpal atau berkumpul.jika kita
memendamnya, perasaan marah itu lama kelamaan akan menghilangkan
tenaga dan semangat kita, dan perasaan itupun akan meledak dan membuat
kita sendiri dan orang lain terkejut. Perasaan marah merupakan bagian dari
kemanusiaan kita,dan bagian dari lelasi kita dengan orang lain.

c. Cinta

Cinta merupakan emosi yang membawa kebahagiaan yang terbesar


dan perasaan puas yang sangat dalam. Perasaan cinta dapat dialami secara
mendalam dan mempengaruhi hidup kita. apa yang disebut dengan “jatuh
cinta” menggambarkan apa yang dialami seseorang ketika sedang dikuasai
emosi cinta yang hebat.

Ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu 12-15 tahun
dan usia 15-18 tahun.

Ciri- ciri emosional remaja berusia 12-15 tahun:

 Pada usia ini seorang siswa /anak cenderung banyak murung dan tidak
dapat diterka.
 Siswa mungkin bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam
hal rasa percaya diri.
 Ledakan-ledakan kemarahan mungkin bisa terjadi.

5
 Seorang remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan
membenarkan pendapatnya sendiri.
 Siswa-siswa di SMP mulai mengamati guru-guru dan orang tua mereka.

Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun

 Pemberontakan remaja merupakan pernyataan-pernyataan dari perubahan


yang universal dari masa kanak-kanak ke dewasa.
 Karena bertambahnya kebebasan mereka, banyak remaja mengalami
konflik dengan orang tuanya.
 Sering melamun memikirkan masa depan.

C. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kecerdasan Emosi

Goleman menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi


kecerdasan emosi individu yaitu: (a) Lingkungan keluarga. Kehidupan keluarga
merupakan sekolah pertama dalam mempelajari emosi. Kecerdasan emosi dapat
diajarkan pada saat masih bayi melalui ekspresi. Peristiwa emosional yang terjadi
pada masa anak-anak akan melekat dan menetap secara permanen hingga dewasa.
Kehidupan emosional yang dipupuk dalam keluarga sangat berguna bagi anak
kelak dikemudian hari. (b) Lingkungan non keluarga. Hal ini yang terkait adalah
lingkungan masyarakat dan pendidikan. Kecerdasan emosi ini berkembang sejalan
dengan perkembangan fisik dan mental anak. Pembelajaran ini biasanya ditujukan
dalam suatu aktivitas bermain peran sebagai seseorang diluar dirinya dengan
emosi yang menyertai keadaan orang lain.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi antara lain: (a) Fisik.


Secara fisik bagian yang paling menentukan atau paling berpengaruh terhadap
kecerdasan emosi seseorang adalah anatomi saraf emosinya. Bagian otak yang
digunakan untuk berfikir yaitu konteks (kadang kadang disebut juga neo konteks).
Sebagai bagian yang berada dibagian otak yang mengurusi emosi yaitu system
limbic, tetapi sesungguhnya antara kedua bagian inilah yang menentukan
kecerdasan emosi seseorang. (1) Konteks. Bagian ini berupa bagian berlipat-lipat

6
kira-kira 3 milimeter yang membungkus hemisfer serebral dalam otak. Konteks
berperan penting dalam memahami sesuatu secara mendalam, menganalisis
mengapa mengalami perasaan tertentu dan selanjutnya berbuat sesuatu untuk
mengatasinya. Konteks khusus lobus prefrontal, dapat bertindak sebagai saklar
peredam yang memberi arti terhadap situasi emosi sebelum berbuat sesuatu. (2)
System limbic. Bagian ini sering disebut sebagai emosi otak yang letaknya jauh
didalam hemisfer otak besar dan terutama bertanggung jawab atas pengaturan
emosi dan implus. Sistem limbic meliputi hippocampus, tempat berlangsungnya
proses pembelajaran emosi dan tempat disimpannya emosi. Selain itu ada
amygdala yang dipandang sebagai pusat pengendalian emosi pada otak. (b) Psikis.
Kecerdasan emosi selain dipengaruhi oleh kepribadian individu, juga dapat
dipupuk dan diperkuat dalam diri individu.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat dua faktor


yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosi seseorang yaitu secara fisik dan
psikis. Secara fisik terletak di bagian otak yaitu konteks dan sistem limbic, secara
psikis meliputi lingkungan keluarga dan lingkungan non keluarga.

Menurut Dinkmeyer (Septi, 2012) faktor-faktor yang mempengaruhi


kecerdasan emosi anak adalah faktor kondisi fisik dan kesehatan, tingkat
intelegensi, lingkungan sosial, dan keluarga. Anak yang memiliki kesehatan yang
kurang baik dan sering lelah cenderung menunjukkan reaksi emosional yang
berlebihan. Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menerapkan disiplin yang
berlebihan cenderung lebih emosional. Pola asuh orang tua berpengaruh terhadap
kecerdasan emosi anak dimana anak yang dimanja, diabaikan atau dikontrol
dengan ketat (overprotective) dalam keluarga cenderung menunjukkan reaksi
emosional yang negatif

Dari factor gen dan lingkungan tersebut kesempatan belajar merupakan


faktor yang lebih penting. Karena belajar merupakan sesuatu yang positif dan
sekaligus merupakan tindakan preventif. Maksudnya adalah bahwa apabila reaksi
emosional yang tidak diinginkan dipelajari, kemudian membaur kedalam pola
emosi anak, akan semakin sulit mengubahnya dengan bertambah usia anak,

7
bahkan reaksi emosional tersebut akan tertanam kukuh pada masa dewasa dan
untuk mengubahnya diperlukan bantuan ahli.

D. Pentingnya Meningkatkan Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional (EQ) lebih berfokus pada membangun hubungan


harmonis dan selaras antar manusia secara horizontal sehingga kecerdasan
intelegensi pasti bermanfaat. Kecerdasan emosional dapat ditunjukkan melalui
kemampuan seseoarang untuk menyadari apa yang dia dan orang lain rasakan.
Sehingga itu, peserta didik memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih baik
cenderung dapat lebih terampil dalam menenangkan dirinya dengan cepat, jarang
tertular penyakit, lebih terampil dalam memusatkan perhatian, lebih cakap dalam
memahami orang lain dan untuk kerja akademis di sekolah menjadi lebih baik.

Keterampilan dasar kecerdasan emosional tidak dapat dimiliki secara tiba-


tiba, tetapi membutuhkan proses dalam mempelajarinya, dan lingkungan yang
membentuk kecerdasan emosional tersebut besar pengaruhnya. Dan ada beberapa
cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan emosional dalam
pembelajaran, yakni: 1). Menyediakan lingkungan yang kondusif; 2).
Menciptakan iklim pembelajaran yang demokratis; 3). Mengembangkan sikap
empati, dan merasakan apa yang sedang dirasakan peserta didik; 4). Membantu
peserta didik menemukan solusi dalam setiap masalah yang dihadapinya; 5).
Melibatkan peserta didik secara optimal dalam pembelajaran, baik secara fisik,
sosial, maupun emosional; 6). Merespon setiap perilaku peserta didik secara
positif, dan menghindari respon negatif; 7). Menjadi teladan dalam menegakkan
aturan dan disiplin dalam pembelajaran; dan 8). Memberi kebebasan berfikir
kreatif serta partisipasi secara aktif.

Semua hal tersebut memungkinkan peserta didik mengembangkan seluruh


potensi kecerdasannya secara optimal. Dari proses belajar mengajar di sekolah
sering ditemukan peserta didik yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang
setara dengan kemampuan intelegensinya. Ada peserta didik yang mempunyai

8
kemampuan intelegensi tinggi, tetapi memperoleh prestasi belajar yang relatif
rendah. Dan ada pula peserta didik yang meski kemampuan intelegensinya relatif
rendah, namun dapat meraih prestasi belajar yang relatif tinggi. Itu sebabnya taraf
intelegensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan.

Kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan


sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan lain, di antaranya
adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ), yakni kemampuan
memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur
suasana hati (mood), berempati, serta kemampuan bekerja sama.

Kecerdasan emosional dapat menjadikan peserta didik memiliki sikap: 1).


Jujur, disiplin, dan tulus pada diri sendiri, membangun kekuatan dan kesadaran
diri, mendengarkan suara hati, hormat dan tanggung jawab; 2). Memantapkan diri,
maju terus, ulet, dan membangun inspirasi secara berkesinambungan;
3). Membangun watak dan kewibawaan, meningkatkan potensi, dan
mengintegrasi tujuan belajar ke dalam tujuan hidupnya; 4). Memanfaatkan
peluang dan menciptakan masa depan yang lebih cerah. Sehingga dari sini,
kecerdasan emosional (EQ) bukan merupakan lawan kecerdasan intelegensi (IQ),
namun keduanya berinteraksi secara dinamis. Sebab, pada kenyataannya perlu
diakui, bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting untuk
mencapai kesuksesan di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

E. Upaya Guru untuk Mengembangkan Kecerdasan


Emosional

Menyadari akan arti pentingnya guru untuk mengembangka kecerdasan


dan kreativitas siswanya, maka sebagai calon guru kita dianjurkan untuk
meluangkan waktu secara teratur bagi siswa-siswi kita untuk mengembangkan
kemampuan bahasa misalnya, biasakan agar guru rajin menjalin percakapan atau
komunikasi kepada peserta didik, siapa pun dia tanpa memandang suku, jenis

9
kelamin ,dan lain-lain. Sementara untuk memuaskan kebutuhan ilmiahnya,
mereka bisa diajak menjelajahi dunianya dengan cara melakukan eksperimen.
Kaitkan semua kegiatan diatas sebagai suatu aktivitas yang menyenangkan dan
selalu ditunggu oleh siswa. Ini adalah hal-hal yang merangsang pengembangan
kecerdasan siswa

Sehubungan dengan emosi remaja yang cenderung benyak melamun dan


sulit diterka maka, satu-satunya hal yang dapat guru lakukan adalah
memperlakukan siswa seperti orang dewasa yang penuh dengan rasa tenggung
jawab. Guru dapat membantu mereka yang bertingkah laku kasar dengan jalan
mencapai keberhasilan dalam perkerjaan atau tugas-tugas sekolah, sehingga
mereka menjadi lebih mudah ditangani, salah satu cara yang mendasar adalah
dengan mendorong mereka untuk bersaing dengan diri sendiri. Untuk menunjukan
kematangannya, remaja terutama laki-laki sering terdorong untuk menentang
otoritas orang dewasa, seseorang guru SMP atau SMA akan dianggap dalam
posisi otoritas. Sehingga merupakan target dari pemberontakan mereka. Cara yang
paling cepat untuk menghadapi pemberontakan para remaja adalah:

 Mencoba untuk mengerti mereka


 Melakukan segala sesuatu untuk membantu mereka agar
berprestasi dalam bidang ilmu yang diajarkan.

Jika para guru menyadari untuk mengembangkan keterampilan-


keterampilan tersebut pada diri siswa walaupun dalam cara-cara yang amat
terbatas, pemberontakan dan sikap permusuhan siswa di kelas akan dapat
dikurangi. Seorang siswa yang merasa bingung terhadap kondisi tersebut mungkin
merasa perlu menceritakan penderitaannya, termasuk rahasia-rahasia pribadinya
kepada orang lain. Oleh karena itu, seseorang guru pembimbing hendaknya tampil
berfungsi dan bersikap seperti pendengar yang simpatik.Apabila terjadi ledakan-
ledakan kemarahan sebaiknya kita memperkecil ledakan emosi tersebut, misalnya
dengan jalan tindakan lemah lembut dan bijaksana, mengubah pokok
pembicaraan, dan memulai aktivitas baru. Jika kemarahan siswa tidak juga reda ,
guru dapat meminta bantuan kepada petugas bimbingan penyuluhan.

10
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang


untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang
lain di sekitarnya. Macam-macam emosi terbagi menjkadi empat yaitu marah,
takut, cinta, dan depresi. Faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi yaitu
faktor genetik, faktor lingkungan, faktor belajar, latihan, dan peran orang tua, guru
sebagai pihak lain yang ikut terlibat dalam memupuk kecerdasan emosi.

Upaya guru untuk mengembangkan kecerdasan dan kreativitas siswanya


yaitu guru meluangkan waktu secara teratur bagi siswa-siswi untuk
mengembangkan kemampuan bahasa tanpa memandang suku,jenis kelamin ,dll,
menjelajahi dunianya ilmiah dengan cara melakukan eksperimen sehingga peserta
didik senang dan antusias untuk belajar sehingga dapat merangsang kecerdasan
peserta didik,memperlakukan siswa seperti orang dewasa yang penuh dengan rasa
tenggung jawab dan mendorong mereka untuk bersaing dengan diri sendiri.

B. Saran

Mengingat masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak


ke masa dewasa sehingga emosinya belum stabil maka perlu melakukan upaya-
upaya dalam mengembangkan emosinya agar lebih terarah kearah yang positif.

11
Daftar Pustaka

- Ginanjar, Ary Agustian.2008. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan


Emosi dan Spritual. Jakarta: Arga.
- Prayitno. 2009. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Jakarta : PT
Grasindo.
- Sunarto, H dan B.Agung Hartono. 2008. Perkembangan Peserta Didik.
Jakarta : Rineka Cipta.
- Winarti, Septi.2012. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan
Emosi (diakses dari http://www.blogger.com pada tanggal 30 November
2018).
- Moh. Ali dan Moh. Asrori. 2010. Psikologi Perkembangan Peserta Didik.
Jakarta. PT. Bumi Aksara.
- Syamsu, Yusuf. 2010. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.
Bandung. PT Remaja Rosdakarya Offset.

12