Anda di halaman 1dari 22

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Penangulangan dan Penanganan Gempa Bumi

A. Pengantar
Pokok bahasan : Penangulangan dan Penanganan Gempa Bumi
Sasaran : Siswa SMP Spektrum Manado
Hari, tanggal : Kamis, 28 November 2019
Waktu : 30 Menit
Tempat : Ruang kelas/Aula Sekolah
Penyuluh : Mahasiswa Kelas A1 Semester VII FAKEP UNPI MANADO

B. Tujuan Penyuluhan
1. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah diberikan pendidikan kesehatan penanggulangan dan penanganan gempa
bumi siswa diharapkan dapat siap siaga bila terjadi gempa bumi

2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


Setelah dilakukan penyuluhan tentang penanggulangan dan penanganan bencana
pada siswa, diharapkan siswa untuk:
a. Mengetahui pengertian gempa bumi
b. Mengetahui klasifikasi gempa bumi
c. Mengetahui penyebab gempa bumi
d. Mengetahui daerah rawan gempa bumi
e. Mengetahui penanganan gempa bumi
f. Mengetahui komponen yang terancam
g. Mengetahui upaya mitigasi dan pengurangan bencana
h. Mendomenstrasikan tindakan evakuasi

C. Sasaran
Siswa SMP Spektrum Manado

1
D. Materi Pengajaran
Materi penyuluhan meliputi:
a. Pengertian gempa bumi
b. Klasifikasi gempa bumi
c. Penyebab gempa bumi
d. Daerah rawan gempa bumi
e. Penanganan gempa bumi
f. Komponen yang Terancam
g. Upaya mitigasi dan pengurangan bencana
h. Tindakan evakuasi saat gempa bumi

E. Metode Pembelajaran
Metode yang digunakan dalam penyuluhan ini menggunakan metode ceramah dan
tanya jawab dan diskusi ini dan metode ini maksudkan untuk memotifasi dan
mengingatkan keterlibatan peserta penyuluhan

F. Media
1. Leaflet

G. Materi
Terlampir

H. Proses Kegiatan/Rencana Pembelajaran


No Kegiatan penyuluhan Kegiatan Peserta Metode & Waktu
Media
1 Kegiatan Pra Penyuluhan 1) Menjawab salam Ceramah 5 menit
1) Persiapan materi pembuka dan
2) Persiapan media penutup
pembelajaran 2) Menyimak
3) Kontrak Waktu informasi yang
4) Persiapan media disampaiakan oleh
pembelajaran penyuluh
5) Kontrak waktu

2
6) Persiapan 3) Menjawab
tempat/lingkungan pertanyaan
dan sarana prasana 4) Mengajukan
lainnya. pertanyaan
Pembukaan
a. Menyampaikan
salam
b. Memperkenalkan
diri
c. Menjelaskan tujuan
d. Menyampaikan
kontrak waktu
e. Apersepsi
2 Pelaksanaan: a. Mendengarkan, Ceramah 15
1) Menjelaskan memperhatika menit
tentang b. Menanyakan hal-
pengertian gempa hal yang belum
bumi jelas
2) Menjelaskan
tentang klasifikasi
gempa bumi
3) Menjelaskan
tentang penyebab
gempa bumi
4) Menjelaskan
tentang daerah
rawan gempa
bumi
5) Menjelaskan
tentang
penanganan
gempa bumi

3
6) Menjelaskan
tentang
komponen yang
Terancam
7) Menjelaskan
tentang upaya
mitigasi dan
pengurangan
bencana
8) Menjelaskan
tentang tindakan
evakuasi saat
gempa bumi
3 Evaluasi Menjawab pertanyaan Tanya 10
1) Mengevaluasi Jawab menit
penerimaan
informasi
2) Memberikan
pertanyaan lisan
4 Penutup
a. Menyimpulkan a. Aktif bersama  Menden 5 menit
hasil penyuluhan dalam garkan
b. Mengucapkan menyimpulkan  Menjaw
terimakasih b. Membalas salam ab
Atas perhatian sasaran Salam
Memberikan salam
30
Total waktu
menit

I. Pengorganisasian
1. Pengorganisasian
Moderator : Anastasya Mangaehe
Penyuluh : Ronaldo Tempone

4
Fasilitator : Mahasiswa Kelas A1 Semester VII UNPI
Observer : Mahasiswa Kelas A1 Semester VII UNPI
Documenter : Mahasiswa Kelas A1 Semester VII UNPI
2. Rincian tugas
a. Moderator
1) Membuka kegiatan dengan mengucapkan salam
2) Memperkenalkan diri
3) Menjelaskan tujuan dari penyuluhan
4) Menyebutkan materi yang akan diberikan
5) Memimpin jalannya penyuluhan dan menjelaskan waktu penyuluhan
(kontrak waktu)
6) Menjadi penengah komunikasi antara peserta dan pemberi matri
7) Mengatur waktu penyuluhan
b. Penyuluh
1) Mengenali pengetahuan siswa tentang penanggulangan gempa bumi
2) Menjelaskan materi tentang penanggulangan gempa bumi.
3) Menjawab pertanyaan peserta penyuluhan
c. Fasilitator
1) Menyiapkan tempat dan media sebelum mulai
2) Menyiapkan tempat dan media sebelum memulai penyuluhan
3) Memotivasi para mahasiswa agar berpartisipasi dalam penyuluhan
4) Memotivasi para mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan saat
moderator memberikan kesempatan bertanya
5) Membantu pembicara menjawab pertanyaan dari peserta
d. Observer
1) Mengobservasi jalannya proses kegiatan
2) Mencatat perilaku verbal dan non verbal peserta selama kegiatan
penyuluhan berlangsung.
3) Memberikan penjelasan kepada pembimbing tentang evaluasi hasil
penyuluhan

5
E. Setting tempat

FASILITATO
O
D
E
R
A
T
O

OBSERVE
R

PESERTA

F. Evaluasi Pembelajaran
1. Evaluasi Struktur
a. Persiapan Media
Media yang digunakan dalam penyuluhan yaitu :
 Leaflet
b. Persiapan Materi
Materi disiapkan dalam bentuk makalah, dan mudah dimengerti oleh
sasaran penyuluhan.
c. Kontrak
Dalam penyuluhan mengenai Penangulangan dan Penanganan Gempa Bumi
telah dilakukan kontrak mengenai waktu, tempat serta materi yang akan
disampaikan pada sasaran 2 hari sebelumnya yaitu pada tanggal 26
November 2019.

2. Evaluasi Proses
Sasaran penyuluhan mampu mengikuti jalannya penyuluhan dengan baik
dan penuh antusias. Selama proses penyuluhan berlangsung, sasaran aktif
menjawab apabila ada yang belum dimengerti, sasaran memberi jawaban atas
pertanyaan pemberi materi dan mahasiswa pun melakukan komunikasi dua
arah untuk saling mengenal dan menjelaskan tujuan mahasiswa ke sasaran,

6
sehingga sasaran tidak meninggalkan tempat diadakannya penyuluhan saat
acara akan berlangsung dan tanya jawab berjalan dengan baik.
3. Evaluasi Hasil
Peserta penyuluhan mengerti 80% dari apa yang telah disampaikan dengan
kriteria para peserta mampu menjawab pertanyaan dalam bentuk lisan yang
diberikan oleh penyuluh. Evalusi dilakukan secara langsung (lisan) dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka sebagai berikut:
a. Bagaiman pengertian gempa bumi?
b. Apa saja klasifikasi gempa bumi?
c. Apa saja penyebab gempa bumi?
d. Dimana saja daerah rawan gempa bumi?
e. Bagaman penanganan gempa bumi?
f. Apa saja komponen yang Terancam?
g. Bagaimana upaya mitigasi dan pengurangan bencana?
h. Apa tindakan evakuasi saat gempa bumi?

7
MATERI PENYULUHAN
A. Pengertian
Gempa bumi merupakan peristiwa pergerakan kulit/lempeng bumi yang menyebabkan
dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba.
Gempa bumi terjadi karena pergeseran antar lempeng tektonik yang berada di bawah
permukaan bumi. Dampak dari pergeseran itu menimbulkan energy luar biasa dan
menimbulkan goncangan di permukaan dan seringkali menimbulkan kerusakan hebat
pada sarana seperti rumah/bangunan, jalan, jembatan, tiang listrik.
Gempa bumi merupakan bencana alam yang sering melanda wilaya Indonesia, kira-
kira 400 kali dalam setahun. Hal ini terjadi karena Indonesia dilalui oleh dua lempeng
(sabuk) gempa bumi, yaitu lempeng Mediterania (Alpen-Himalaya) dan lempeng
pasifik.
EM-DAT (2011), mencatat bahwa dalam tenggang waktu 1980-2010 di Indonesia
terdapat 76 kejadian bencana gempa bumi dengan dampak yang cukup besar dari
semua kejadian bencana yaitu sekitar 39 persen.
Tercatat dalam beberapa tahun terakhir ini banyak terjadi gempa yang cukup besar di
Indonesia dan dalam interval waktu yang pendek, seperti gempa di Aceh tahun 2004
dengan kekuatan 9.2 Mw disertai dengan Tsunami, gempa Nias tahun 2005
dengankekuatan 8.7 Mw, Gempa Yogyakarta tahun 2006 dengan kekuatan 6.3 Mw,
dan Gempa Padang yang terjadi tahun 2009 dengan kekuatan 7.6 Mw. Gempa-gempa
tersebut menelan banyak korban jiwa, keruntuhan dan kerusakan bangunan serta
berbagai infrastruktur lainnya, menghabiskan dana trilyunan rupiah untuk rehabilitasi
dan rekontruksi.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa gempa bumi
menjadi pemicu bencana besar paling mematikan dalam satu decade terakhir dan
masih menjadi ancaman utama bagi juta orang di seluruh dunia, terutama yang tinggal
di kota besar. Sebuah penelitihan yang di dukung PBB mengatakan sejak tahun 2000
hingga 2009 hampir 60 persen dari sekitar 780 ribu orang yang tewas akibat bencana
alam, dan bencana alam itu adalah gempa bumi (Christanto, 2011).
Kondisi ini mengisyaratkan bahwa Indonesia tidak akan pernah luput dari kejadian
bencana terutama gempa bumi, oleh karena itu kesiapsiagaan dan mitigasi yang
menjadi kesatuan dalam manajemen bencana sebagaimana diisyaratkan oleh Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 tentang “Penanggulangan
Bencana” haruslah menjadi perhatian kita.

8
B. Klasifikasi gempa bumi
Secara umum gempa bumi dapat di klasifikasikan antara lain yaitu: menurut faktor
penyebab, menurut kedalaman atau fokus gempa bumi, menurut lokasi, menurut
getaran atau gelombang, menurut tipe rangkaian kejadian gempa bumi, dan menurut
intensitas gempa bumi.
1. Gempa bumi menurut faktor penyebab
Berdasarkan faktor penyebab terjadinya gempa bumi dapat dibedakan menjadi
beberapa mancam, yaitu:
a. Gempa bumi tektonik (tectonic earthquake)
Gempa bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran
lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang
sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini banyak menimbulkan
kerusakan atau bencana alam di bumi, getaran gempa bumi yang kuat mampu
menjalar keseluruh bagian bumi. Gempa bumi tektonik adalah gempa bumi
yang disebabkan oleh adanya tarikan dan tekanan. Gempa jenis ini merupakan
gempa yang paling berbahaya dan yang paling umum dan sering terjadi.
Gempa bumi tektonik merupakan gempa bumi yang kejadiannya dipengaruhi
oleh pergerakan lempeng tektonik secara tiba-tiba, pergerakan lempeng
tektonik tersebut memiliki kekuatan perlepasan energy yang bervariasi dengan
skala kecil sampai dengan besar sebagai akibatnya erjadilah gempa bumi.
Pergeseran lapisan bumi ada 2 macam: vertical dan horizontal. Gerakan-
gerakan tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk yang
menghasilkan pola baru yang disebut struktur diastropik. Bentuk baru yang
termasuk dalam struktur diastropik adalah pelengkungan, perlipatan, patahan,
dan retakan. Dalam Geomorfologi termasuk bentuk lahan structural.
b. Gempa bumi volkanik (volcanic earthquake)
Gempa bumi volkanik (volcanic earthquake) Gempa bumi volkanik adalah
gempa bumi yang terjadi akibat adanya aktivitas volkanisme. Aktivitas
volkanisme dan gempa bumi sering terjadi secara bersama-sama sepanjang
batas lempeng diseluruh dunia, seperti gunung api Hawai. Gempa bumi
volkanik merupakan gempa bumi yang terjadi sebagai akibat adanya aktivitas
gunung api. Gunung api yang akan meletus biasanya mengakibatkan gempa
bumi. Gempa bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma, yang bisa terjadi

9
sebelum gunung api meletus. Apabilah keaktifannya semakin tinggi maka
akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan
terjadinya gempa bumi. Efek gempa bumi ini biasanya hanya dirasakan pada
daerah disekitar gunung api tersebut.
c. Gempa bumi runtuhan (sudden ground shaking)
Berbedah dengan jenis gempa bumi tektonik dan vulkanik gempa bumi
runtuhan atau longsoran terjadi karena adanya runtuhan atau longsor tanah
atau batuan. Lereng gunung yang memiliki energy potensial yang besar ketika
runtuhan atau longsor akan menyebabkan bergetarnya permukaan bumi. Jenis
gempa ini dapat terjadi di daerah manapun yang wilayahnya berbukit dan
memiliki struktur tanah yang labil. Peristiwa runtuhannya atau longsornya
tanah atau batuan yang menyebabkan bergetarnya permukaan bumi inilah
yang disebut gempa bumi runtuhan atau longsor.
Gempa bumi runtuhan atau longsoran sangat jarang terjadi, dan jenis
kegempaannya hanya bersifat local. Jenis gempa bumi ini biasanya terjadi
pada daerah kapur ataupun di daerah pertambangan. Gempa bumi runtuhan
atau longsoran ini juga bisa terjadi ketika suatu gua di daerah topografi karst
atau di daerah pertambangan mengalami runtuhan atau longsor.
d. Gempa bumi tumbukan
Sebagai salah satu planet yang ada dalam susunan tata surya, bumi setiap hari
menerima hantaman meteor, asteroid, atau benda langit lain. Namun, pada
umumnya meteor, asteroid, atau benda langit lain sudah terbakar sebelum
mencapai bumi. Ketika menerima hantaman meteor, asteroid atau dengan
benda langit lain dengan ukuran yang besar, bumi akan bergetar. Jadi, gempa
bumi ini diakibatkan oleh tumbukan meteor atau asteroid yang jatuh ke bumi.
Bergetarnya permukaan bumi yang disebabkan oleh jatuhnya benda langit
inilah yang disebut gempa bumi tumbukan atau gempa bumi jatuhan. Diantara
semua jenis gempa bumi, gempa bumi tumbukan atau jatuhan termasuk jenis
gempa bumi yang jarang terjadi. Namun demikian, apabila terjadi efek
kerusakan yang ditimbulkannya sangat besar. Kekuatan gempa yang
ditimbulkan oleh gempa bumi ini tergantung dari besar atau kecilnya batu
meteor, asteroid atau benda langit lain yang jatuh.

10
e. Gempa bumi buatan
Gempa bumi tektonik, gempa bumi vulkanik, gempa bumi runtuhan, dan
gempa bumi tumbukan merupakan jenis gempa bumi yang terjadi karena
faktor alam. Sedangkan gempa bumi buatan adalah gempa bumi yang
disebabkan oleh aktivitas manusia sendiri. Gempa bumi jenis ini dapat terjadi
misalnya karena aktivitas peledakan menggunakan dinamit, nuklir, atau palu
godam yang dipukulkan ke permukaan bumi. Berbagai aktivitas manusia
tersebut dapat menimbulkan gempa bumi.
2. Gempa berdasarkan kedalaman atau fokus gempa bumi
Gempa bumi dapat dibedakan berdasarkan letak atau kedalaman pusat
gempanya. Semakin dangkal letak hiposentrum terhadap permukaan bumi,
maka dampak gempa bumi yang ditimbulkannya akan semakin besar. Oleh
karena itu, semakin dangkal letak hiposentrum maka akan semakin besar
kompetensi kerusakan dan kerugian yang ditimbulkannya.
Berdasarkan letak atau kedalaman pusat gempanya, kita mengenal gempa
bumi dalam, gempa bumi menengah, dan gempa bumi dangkal.
a. Gempa bumi dalam
Gempa bumi dalam adalah gempa bumi yang posisi hiposentrumnya
berada lebih dari 300 km dibawah permukaan bumi. Gempa bumi dalam
pada umumnya tidak terlalu berbahaya. Jenis gempa bumi ini jarang sering
terjadi. Dari keseluruhan gempa bumi yang terjadi, gempa bumi dalam
hanya 3 persen.
b. Gempa bumi menengah
Gempa bumi menengah atau sedang adalah gempa bumi yang posisi
hiposentrunya berada antara 70 sampai 300 km di bawah permukaan bumi.
Gempa bumi menengah atau sedang pada umumnya menimbulkan
kerusakan ringan. Jenis gempa bumi ini getarannya lebih terasa jika di
bandingkan dengan gempa bumi dalam. Dari keseluruhan gempa bumi
yang terjadi, gempa bumi menengah atau sedang sekitar 12 persen.
c. Gempa bumi dangkal
Gempa bumi dangkal adalah gempa bumi yang posisi hiposentrumnya
berada kurang dari 70 km dari permukaan bumi. Gempa bumi dangkal
biasanya menimbulkan kerusakan fisik yang besar. Jenis gempa bumi

11
inilah yang paling berbahaya dan sangat berpotensi menimbulkan
kerusakan fisik dan korban jiewa yang besar.
3. Gempa berdasarkan lokasinya
Gempa bumi dapat dibedakan berdasarkan lokasi terjadinya gempa.
Berdasarkan lokasi terjadinya gempa, kita mengenal jenis gempa bumi daratan
dan gempa bumi lautan.
a. Gempa bumi daratan
Gempa bumi daratan adalah gempa bumi yang posisi episentrumnya
berada di daratan.
b. Gempa bumi lautan
Gempa bumi lautan adalah gempa bumi yang posisi episentrunya berada
di laut. Pada gempa bumi di lautan inilah yang berpotensi menimbulkan
tsunami.
4. Gempa bumi berdasarkan getaran atau gelombang
Gempa bumi juga dapat dibedakan berdasarkan sifat gelombang atau getaran
gempa yang di timbulkannya. Berdasarkan sifat gelombang atau getaran
gempa yang ditimbulkannya, kita mengenal jenis gempa bumi gelombang
primer, gempa bumi gelombang sekunder, dan gempa bumi gelombang
panjang.
a. Gempa bumi gelombang primer
Gempa bumi gelombang primer adalah gempa bumi yang menimbulkan
gelombang atau getaran yang merambat kepermukaan bumi dengan
kecepatan antara 7 hingga 14 kilometer per detik. Jenis gempa bumi ini
juga sering di sebut gempa bumi gelombang longitudinal. Getaran ini
berasal dari hiposentrum.
b. Gempa bumi gelombang sekunder
Gempa bumi gelombang sekunder adalah gempa bumi yang menimbulkan
gelombang atau getaran yang merambat kepermukaan bumi dengan
kecepatan antara 4 hingga 7 kilometer per detik. Jenis gempa bumi ini juga
sering disebut gempa bumi gelombang transversal. Gelombang sekunder
tidak dapat merambat melalui lapisan yang berwujud cair.
c. Gempa bumi gelombang panjang
Gempa bumi gelombang panjang atau gelombang permukaan adalah
gempa bumi yang getarannya merambat kepermukaan bumi dengan

12
kecepatan lebih rendah dari gelombang primer dan gelombang sekunder.
Jenis gempa bumi gelombang panjang ini lebih dikenal dengan istilah
gelombang permukaan, karena sifat rambat getarannya lebih terasa
dipermukaan bumi.
5. Gempa bumi menurut tipe rangkaian kejadian gempa bumi
Berdasarkan tipe rangakian gempa, maka gempa bumi dapat diklasifikasi atas:
a. Tipe I, yaitu gempa bumi utama yang diikuti gempa bumi susulan tanpa
didahului gempa pendahuluan (fore shock).
b. Tipe II, yaitu sebelum terjadi gempa bumi utama, diawali dengan adanya
gempa pendahuluan dan selanjutnya diikuti oleh gempa susulan yang
cukup banyak.
c. Tipe III, yaitu kejadian gempa bumi pada yang dalam peristiwanya tidak
terjadi gempa bumi utama. Magnitude dan jumlah gempa bumi yang
terjadi besar pada periode awal dan berkurang pada peride akhir dan
biasanya dapat berlangsung cukup lama dan bisa mencapai 3 bulan.
Tipe gempa ini disebut tipe swarm dan biasanya terjadi pada daerah vulkanik
seperti gempa gunung lawu tahun 1979.
6. Gempa bumi menurut intensitas
Disamping klasifikasi gempa bumi yang telah disebutkan diatas, gempa bumi
dapat dibedakan pula berdasarkan intensitas yaitu:
a. Gempa bumi makro yaitu gempa bumi yang intensitas (kehebatannya)
besar.
b. Gempa bumi mikro yaitu gempa bumi yang intensitasnya kecil dan hanya
terasa pada pesawat saja.

C. Penyebab gempa bumi


Ada beberapa factor yang menyebabkan terjadinya gempa bumi. Penyebab-penyebab
terjadinya gempa bumi antara lain karena pelepasan energy lempeng-lempeng
tektonik, proses subduksi, pergerakan magma, penumpukan massa air, injeksi atau
akstraksi cairan, atau karena penggunaan bahan peledak.

a. Pelepasan Energi Lempeng Tektonik


Sebagaian besar gempa bumi terjadi akibat pelepasan energy secara tiba-tiba
pada lempeng bumi. Pelepasan energy ini terjadi karena tekanan yang

13
dilakuakn oleh pergerakan lempeng-lempengtektonik secara terus-menerus.
Semakin lama tekanan itu akan semakin besar, yang akhirnya tekanan
tersebut tidak mampuditahan lagi oleh pinggiran lempeng-lempeng bumi.
Pada saat itulah pelepasan energy secara tiba-tiba sehingga mengakibatkan
gempa bumi. Gempa bumi terjadi di perbatasan lempeng-lempeng tektonik
bumi. Gempa bumi yang paling parah biasanya terjadi di daerah-daerah
perbatasan lempeng-lempeng tektonik bumi.
b. Proses Subdukasi
Beberapa gempa bumi terbesar di dunia terjadi karena proses subdukasi.
Dalam proses ini, terjadi tumbukan antara dua lempeng bumi, di mana salah
satu lempeng bumi terdorong ke bawah lempeng bumi yang lain. Biasanya
proses subdukasi ini terjadi karena lempeng samudera di laut menumbuk
lempeng benua yang lebih tipis di darat. Lempeng samudera yang jauh dan
bergeser dengan lempeng benua di atasnya dapat melelehkan kedua bagian
lempeng tersebut. Akibat tumbukan ini dapat menghasilkan gunung api dan
menyebabkan gempa bumi dengan kekuatan yang besar.
c. Pergerakan Magma
Jenis gempa bumi yang lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di
dalam gunung berapi. Gempa bumi seperti itu dapat menjadi pertanda awal
akan terjadinya letusan gunung berapi.
d. Penumpukan Massa Air
Jenis gempa bumi yang lain terjadi karena menumpuknya massa air yang
sangat besar di balik dam. Contoh gempa bumi akibat penumpukan massa
air ini adalah gempa bumi yang terjadi pada Dam Karibia di Zambia, afrika.
Jenis gempa bumi seperti ini jarang sekali terjadi.
e. Injeksi atau Akstraksi Cairan
Sebagian lagi gempa bumi juga dapat terjadi karena injeksi atau akstraksi
cairan dari atau ke dalam bumi. Contoh gempa bumi akibat injeksi atau
akstraksi cairan ini terjadi pada beberapa pembangkit listrik tenaga panas
bumi di Roky Mountain Arsenal, Inggris. Jenis gempa bumi seperti ini juga
jarang sekali terjadi.
f. Penggunaan Bahan Peledak
Jenis gempa bumi yang lain dapat terjadi karena aktivitas peledakan
menggunakan bahan peledak dengan kekuatan yang besar. Gempa bumi

14
yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti ini dinamakan seismisitas
terinduksi. Penggunaan bahan peledak pada aktivitas industry pertambangan
dapat menyebabkan terkadinya gempa bumi.
Dan ada juga penyebab lain terjadinya gempa bumi yaitu:
a. Proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng/bumi
b. Aktivitas sesar di permukaan bumi
c. Pergerakan geomorfologi secara local, contohnya terjadi runtuhan tanah
d. Aktivitas gunung api
e. Ledakan nuklir
Mekanisme perusakan terjadi karena energy getaran gempa dirambatkan ke seluruh
bagian bumi. Di permukaan bumi, getaran tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan
runtuhnya bangunan sehingga dapat menimbulkan korban jiwa. Getaran gempa juga
dapat memicu terjadinya tanah longsor, runtuhan bantuan, dan kerusakan tanah
lainnya yang merusak permukiman penduduk. Gempa bumi juga menyebabkan
bencana ikutan berupa kebakaran, kecelakaan, industri dan transportasi serta banjir
akibat runtuhnya bendungan maupun tanggul penanganan lainnya.

D. Daerah rawan gempa bumi


Di indonesia negara paling beresiko terkena gempa dan memiliki titik gempa
terbanyak di dunia mencapai 129 titik. Titik gempa tersebut meliputi daerah selatan
indonesia, mulai dari pula saba sampai nusa tenggara timur, terus naik kepulau papua.
Kejadian gempa bumi selama 10 tahun terakhir memang sangat rutin di indonesia,
hampir setiap tahun terjadi peristiwa ini. Pemetaan daerah rawan gempa di indonesia
yaitu NAD, sumatra utara, sumatra barat, bengkulu, lampung, banten, jawa tengah dan
DIY bagian selatan, jawa timur bagian selatan, bali, NTB dan NTT. Kemudian
sulawesi utara, sulawesi tengah, sulawesi selatan, maluku utara, maluku selatan, biak,
yapen dan fak-fak di papua serta balik papan serta kalimantan timur. Indonesia rawan
terhadap gempa bumi karena dikepung tiga lempeng tektonik dunia, indonesia juga
merupakan jalur the pasicif ring of fire (cincin pasifik ) yang merupakan jalur
rangkaian gunung api aktif di dunia. cincin api pasifik membentang diantara subduksi
maupun pemisahan lempeng pasifik dengan lempeng indonesia australia, lempeng
aurasia, lempeng amerika utara dan lempeng nasca yang bertabrakan dengan lempeng
amerika selatan.

15
E. Penanganan jika terjadi gempa bumi
Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat
dijadikan pegangan dimanapun anda berada
a. Di dalam rumah
Getaran akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu itu, anda harus
mengupayakan keselamatan diri anda dan keluarga anda. Masuklah kebawah meja
untuk melindungi tubuh anda dari jatuhan benda-benda. Jika anda tidak memiliki
meja, lindungilah kepala anda dengan bantal. Jika anda sedang menyalakan
kompor, maka matikan segera untuk mencegah kebakaran.
b. Di sekolah
Berlindunglah di bawah kolong meja, lindungilah kepala dengan tas dan buku,
jangan panic, jika gempa mereda keluarlah berurutan mulai dari jarak yang terjauh
dipintu, carilah tempat lapang, jangan berdiri dekat gedung, tiang, dan pohon.
c. Di luar rumah
Lindungi kepala anda dan hindari benda-benda berbahaya. Didaerah perkantoran
atau kawasan industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnya kaca-kaca.
d. Di dalam lift
Jangan menggunakan lift saat terjadi benca bumi atau papan-papan reklame.
Lindungi kepala anda dengan menggunakan tangan, tas atau apapun yang anda
bawah.
e. Di gedung, mall, bioskop, dan lantai dasar
Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua
petunujuk dari petugas atau peran kebakaran. Jika anda merasakan getaran gempa
bumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti,
keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika anda terjebak dalam lift,
hubungilah manajer gedung dengan menggunakan interpon jika tersedia.

f. Di kereta api
Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga anda tidak akan terjatuh
seandainya kereta di hentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti
penje;lasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta
atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan berat.

16
g. Di dalam mobil
Saat terjadi gempa bumi besar anda akan merasa seakan-akan roda mobil anda
gundul. Anda akan kehilangan control terhadap mobil dan susah
mengendalikannya. Jauhi persimpangan, pinggirkan mobil anda di kiri jalan dan
berhentilah ikuti instrusi dari radio mobil. Jika harus mengungsi maka keluarlah
dari mobil, biarkan mobil tak terkunci.
h. Di gunung/pantai
Ada kemungkinan longsor terjadi dari atas gunung. Menjauhlah langsung
ketempat aman. Di pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika anda
merasakan getaran dan tanda-tanda tsunami, cepatlah mengungsi kedataran yang
tinggi.
i. Beri pertolongan
Sudah dapat di ramalkan bahwa banyak orang segera saat terjadi gempa bumi
besar. Karena petugas kesehatan dari rumah sakit akan mengalami kesulitan
datang ketempat kejadian, maka bersiaplah memberikan pertolongan pertama
kepada orang-orang yang berada disekitar anda.
j. Dengarkan informasi
Saat gempa bumi besar terjadi, masyarakat terpukul kejiwaannya. Cegah
kepanikan, penting sekali setiap orang bersikap tenang dan bertindaklah sesuai
dengan informasi yang benar. Anda dapat memperoleh informasi yang benar dari
pihak yang berwenang atau polisi. Jangan bertindak dari informasi orang yang
tidak jelas.

F. Komponen yang terancam


1. Perkampungan padat dengan konstruksi yang lemah dan padat penghuni
2. Bangunan dengan desain teknis yang buruk, bangunan tanah, bangunan tembok
tanpa perkuatan.
3. Bangunan dengan atap yang berat.
4. Bangunan tua dengan kekuatan lateral dan kualitas yang rendah.
5. Bangunan tinggi yang dibangun diatas tanah lepas/ tidak kompak.
6. Bangunan diatas lereng yang lemah/ tidak stabil.
7. Infrastruktur diatas tanah atau timbunan.
8. Bangunan industri kimia dapat menimbulkan bencana ikutan.

17
G. Upaya mitigasi dan pengurangan bencana
Dalam Undang-Undang Indonesia No. 24 tahun2007 tentang Penanggulangan
Bencana, Bab I Pasal 1 tentang ketentuan umum, dinyatakan bahwa yang dimaksud
dengan Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik
melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan
menghadapi ancaman bencana.
Permendagri 33 tahun 2006 tentang Pedoman Umum Mitigasi Bencana, ada tiga hal
yang perlu diperhatikan yaitu: kebijakan, strategi, dan manajemen mitigasi bencana.
1. Kebijakan
Berbagai kebijakan yang perlu ditempuh dalam mitigasi bencana antara lain:
a. Dalam setiap upaya mitigasi bencana perlu membangun persepsi yang sama
bagi semua pihak baik jajaran aparat pemerintah maupun segenap unsure
masyarakat yang ketentuan langkahnya diatur dalam pedoman umum,
petunjuk pelaksanaan dan prosedur tetap yang dikeluarkan oleh instansi yang
bersangkutan sesuai dengan bidang unit masing-masing.
b. Pelaksanaan mitigasi bencana dilaksanakan secara terpadu terkoordinir yang
melibatkan seluruh potensi pemerintah dan masyarakat.
c. Upaya preventif harus diutamakan agar kerusakan dan korban jiwa dapat
diminimalkan.
d. Penggalangan kekuatan melalui kerjasama dengan semuia pihak, melalui
pemberdayaan masyarakat serta kampanye.
2. Strategi
Untuk melaksanakan kebijakan dikembangkan beberapa strategi sebagai berikut:
a. Pemetaan
Langkah pertama dalam strategi mitigasi ialah melakukan pemetaan daerah
rawan bencana. Pada saat ini berbagai sektor telah mengembangkan peta
rawan bencana. Peta rawan bencana tersebut sangat berguna bagi pengambil
keputusan terutama dalam antisipasi kejadian bencana alam. Meskipun
demikian sampai saat ini penggunaan peta ini belum dioptimalkan. Hal ini
disebabkan karena beberapa hal, diantaranya adalah:
1) Belum seluruh wilayah di Indonesia telah dipetakan
2) Peta yang dihasilkan belum tersosialisasi dengan baik.
3) Peta bencana belum terintegrasi

18
4) Peta bencana yang dibuat memakai peta dasar yang berbeda sehingga
menyulitkan dalam proses integrasinya.
b. Pemantauan
Dengan mengetahui tingkat kerawanan secara dini, maka dapat dilakukan
antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana, sehingga akan dengan mudah
melakukan penyelamatan. Pemantauan di daerah vital dan strategi secara jasa
dan ekonomi dilakukan dibeberapa kawasan rawan bencana.
c. Penyebaran informasi
Penyebaran informasi dilakukan anatar lain dengan cara memberikan poster
dan leaflet kepada pemerintah kabupaten/kota dan propinsi seluruh Indonesia
yang rawan benca, tentang tata cara mengenali, mencega dan penanganan
bencana memberikan informasi kemedia cetak dan elektronik tentang
kebencanaan adalah salah satu cara penyebaran informasi dengan tujuan
meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana geologi disuatu kawasan
tertentu. Koordiansi pemerinta daerah dalam hal penyebaran informasi di
perlukan mengingat Indonesia sangat luas.
d. Sosialisasi dan penyuluhan
Sosialisasi dan penyuluhan tentang segala aspek kebencaaan kepada
SATKOR-LAK PB, SATLAK-PB, dan masyarakat bertujuan meningkatkan
kewaspadaan dan kesiapan menghadapi bencana jika sewaktu-waktu terjadi.
Hal penting yang perlu diketahui masyarakat dan pemerintah daerah ialah
mengenai hidup harmonis dengan alam di daerah bencana, apa yang perlu
dilakukan dan dihindarkan di daerah rawan bencana, dan mengetahui cara
menyelamatkan dari jika terjadi bencana.
e. Pelatihan atau pendidikan
Pelatihan difokuskan kepada tata cara pengungsian dan penyelamatan jika
terjadi bencana. Tujuan latihan lebih ditekankan pada alur informasi clan
petugas lapangan, pejabat teknis, SATKORLAK PB, SATLAK PB dan
masyarakat sampai ke tingkat pengungsian dan penyelamatan korban bencana.
Dengan pelatihan ini terbentuk kesiagaan tinggi menghadapi bencana akan
terbentuk.
f. Peringatan dini
Peringatan dini dimaksudkan untuk memberitahuakan tingkat kegiatan hasil
pengamatan secara kontinyu di suatu daerah rawan dengan tujuan agar

19
persiapan secara dini dapat dilakukan guna mengantisipasi jika sewaktu-waktu
terjadi bencana. Peringatan dini tersebut disosialisasikan kepada masyarakat
melalui pemerintah daerah denagn tujuan memberikan kesadaran masyarakat
dalam menghindarkan diri dari bencana. Peringatan dini dan hasil pemantauan
daerah rawan bencana berupa saran teknis dapat berupa antara lain pengalihan
jalur.
3. Manajemen mitigasi
Berdasarkan mitigasi bencana yang diakibatkan oleh gempa bumi, BAKORNAS
PB (2007) memberikan beberapa upaya mitigasi dan pengurangan bencana yang
dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Harus dibangun dengan konstruksi tahan getaran/gempa khususnya di
daerah rawan gempa.
b. Perkuatan bangunan dengan mengikuti standar kualitas bangunan.
c. Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi.
d. Perkuatan bangunan-bangunan vital yang telah ada.
e. Rencanakn penempatan untuk mengurangi tingkatan kepadatan hunian di
daerah rawat gempa bumi.
f. Zonasi daerah rawan gempa dan pengaturan penggunaan lahan.
g. Pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya gempa
bumi dan cara-cara penyelamatan diri jika terjadi gempa bumi.
h. Ikut serta dalam pelatihan program upaya penyelamatan, kewaspadaan
masyarakat terhadap gempa bumi, pelatihan pemadam klebakaran dan
pertolongan pertama.
i. Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan
perlindungan masyarakat lainnya.
j. Rencana kontingensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam
menghadapi gempa bumi.
k. Pembentukan kelompokaksi penyelamatan bencana dengan pelatihan
pemadaman kebakaran dan pertolongan pertama.

H. Tindakan evakuasi saat gempa bumi


1. Saat terjadi gempa
a. Jika anda berada dalam bangunan
1) Lindungi kepala dan badan dari reruntuhan

20
2) Mencari tempat yang paling aman dari reruntuhan
3) Berlari keluar apabila masih dapat dilakukan
b. Jika berada diluar bangunan/ area terbuka
1) Menghindari dari bangunan sekitar
2) Perhatikan tempat anda berpijak dari retakan tanah
c. Jika sedang mengendarai mobil
1) Keluar, turun menjauhi dari mobil hindari tempat terjadinya pergeseran
dan kebakaran
2) Perhatikan tempat berpijak
d. Jika anda di pantai, jauhi pantai untuk menghindari terjadinya tsunami
e. Jika anda di pegunungan hindari daerah rawan longsor.
2. Sesaat setelah gempa bumi pertama berhenti
a. Jika anda berada dalam bangunan:
1) Jangan panic
2) Keluar dari bangunan dengan tertib
3) Jangan gunakan tangga berjalan atau lift, gunakan tangga biasa
4) Periksa apa ada yang terluka, lakukan P3K.
5) Minta pertolongan pada petugas aparat keamanan atau petugas kesehatan.
b. Periksa lingkungan sekitar anda
c. Jangan masuk ke dalam bangunan yang sudah terjadi gempa, karena
kemungkinan masih terdapat reruntuhan.
d. Jangan berjalan disekitar gempa, kemungkinan terjadi bahaya susulan masih
ada.
e. Mendengarkan informasi gempa dari petugas atau radio.
3. Sesudah terjadi gempa bumi
Beberapa tindakan yang sebaiknya di lakukam sesudah terjadi bencana gempa
bumi antara lain sebagai berikut
a. Bantuan darurat
Tindakan utama yang harus segerah dilakukan setelah terjai bencana gempa
bumi adalh pemberian bantuan darurat. Setelah program tanggap darurat
dilalui, perlu memberikan bantuan darurat untuk pemenuhan kebutuhan dasar
berupa pangan, sandang, tempat tinggal sementara, obat-obatan, sanitasi, dan
air bersih bagi korban bencana gempa bumi.
b. Rehabilitasi

21
Rehabilitasi meripakan program jangka pendek yang harus segera dilakukan
pascagempa bumi. Rehabilitasi ini meliputi kegiatan membersihkan dan
memperbaiki rumah, fasilitas umum, dan menghidupkan kembali roda
perekonomian masyarakat. Dalam rehabilitas ini juga mencakup pemulihan
kesehatan fisik, kondisi psikolog, dan keamanan masyarakat. Setelah tindakan
rehabilitasi ini dilakuakn diharapkan ronda pemerintahan dan pelayanan
masyarakat seperti rumah sakit, sekolah, dan peribadatan dapat berjalan
kembali.
c. Rekonstruksi
Rekonstruksi merupakan program jangka menengah atau jangka panjang.
Rekontruksi ini meliputi program perbaikan sarana fisik, kondisi sosial, dan
perekonomian masyarakat agar berjalan seperti semula atau lebih baik lagi.
Pembanguann kembali ini dilakuakn pada semua aspek baik sarana dan
prasarana, mampu kelembagaan. Program rekonstruksi ini dilakukan baik pada
tingkat pemerintah maupun masayarakat. Sasaran utama prigram dilakuakn
rekonstruksi ini adalah berjalan dan berkembangnya kegiatan perekonomian,
sosial, dan budaya dalam masyarakat.
d. Pemulihan
Pemulihan merupakan proses pengempabilan kondisi daan fungsi-fungsi
dalam masayarakat yang terkena bencana. Program pemulihan ini dilakuakn
dengan cara memfungsikan kembali sarana dan prasarana pada keadaan
semula. Program pemulihan ini misalnya perbaikan prasarana dan pelayanan
dasar seperti jalan, listrik, telekomunikasi, air bersi, pasar, puskesmas, dan
lain-lain.
Di samping pemberian bantuan darurat dan perbaikan sarana dan prasarana
fisik, program yang tidak kalah pentingnya adalah pemulihan kondisi
psikologis masayarakat terutama anak-anak yang terkena musibah. Langka
utama yang harus dilakuakn adalah mengusahakan agar keluarga tetap
berkumpul. Tenangkan anak-anak, biarkan anak-anak bercerita tentang
pengalaman dan perasaan mereka selama gempa, serta libatkan mereka dalam
kegiatan pascagempa.

22