Anda di halaman 1dari 13

PEMODELAN DAN SIMULASI

FORMULASI MASALAH

Disusun Oleh :
Susan Mayang Sari (0701162003)
Muhammad Ikhsan (0701162005)
Juendi Baehaqi (0701162016)
Dwi Meirita (0701162017)
Syarifuddin Sianipar (0701162033)

Dosen Pengampu :
Ahmad Taufik Al Afkari Siahaan, M.Kom

Ilmu Komputer - 1
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara
Medan
2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Swt Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kahadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah tentang sejarah tradisi studi Islam pada era klasik dan era kejayaan Islam.

Makalah ini telah disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu kami menerima
segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
maupun inspirasi terhadap pembaca.

Medan, 15 Oktober 2018

Tim Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................i

DAFTAR ISI ...............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ...................................................................................1


B. Rumusan Masalah ............................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Formulasi Masalah Dalam Pemodelan ..........................................2


B. Penulisan Formulasi Masalah ..........................................................................4
C. Cara Penulisan Formulasi Masalah ..................................................................4
D. Fungsi Penulisan Formulasi Masalah ..............................................................8

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ....................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaan


manusia bukan hanya dari segi fisik, akan tetapi manusia juga dianugerahi
kesempurnaan akal. Akal manusia merupakan sesuatu yang khas yang membedakan
manusia dengan makhluk lainnya. Kesempurnaan akal manusia ini menyebabkan
pengetahuan manusia terus berkembang dari waktu ke waktu. Rasa keingintahuan
manusia menuntutnya untuk mencari tahu hal-hal yang ingin diketahuinya. Sehingga
manusia dapat memperoleh hal yang ingin diketahuinya tersebut. Untuk hal-hal yang
ingin diketahuinya tersebut, manusia dapat melakukan dua jenis usaha. Usaha yang
paling sering dilakukan adalah melalui penalaran akal sehat (common sense). Akan
tetapi tidak semua keingintahuan manusia bisa terjawab melalui penalaran akal sehat.

Tidak mudah bagi peneliti untuk merumuskan masalah penelitian, terutama


bagi penelitian pemula. Masalah penelitian yang sering dirumuskan terlalu umum
sehingga dengan pokok permasalahan yang tidak jelas akan menyulitkan tahap
pemecahan masalah, yang meliputi penentuan konsep-konsep teoritis yang ditelaah
dan pemilihan metode pengujian data. Semakin spesifik performulasian masalah,
penelitian semakin mudah dilakukan pengujian secara empiris, perlu pendekatan
sistematis untuk merumuskan masalah penelitian yang baik memudahkan tahap
pemecahan masalah sehingga memudahkan pula untuk menetapkan suatu tujuan
penelitian.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tahap-tahap yang perlu diperhatikan dalam proses identifikasi
formulasi masalah?
2. Apa macam-macam tujuan dalam penelitian?

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Formulasi Masalah Dalam Pemodelan

Setiap proses pemodelan tentunya memiliki permasalahan yang harus atau


ingin diselesaikan. Pemformulasian masalah ini merupakan langkah kerja yang tidak
mudah, bahkan para pemodel yang sudah berpengalaman sekalipun. Padahal, apabila
dicermati, masalah itu selalu ada di lingkungan sekeliling kita. Pemecahan yang
dirumuskan dalam pemodelan ini sangat berguna untuk membersihkan kebingungan
kita terhadap berbagai hal atau kesulitan yang kita temukan, untuk mengatasi rintangan
ataupun untuk menutupi celah antar kegiatan atau kesulitan tersebut. Oleh karena itu,
kita harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitian kita, dan merumuskannya untuk
memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. Pemformulasian masalah merupakan
hal yang paling penting dari penelitian, dan merupakan langkah awal yang penting
sekaligus sebagai pekerjaan yang sulit dalam pemodelan.

Masalah dalam pemodelan bisa mengambil masalah dari mana saja. Bisa itu
masalah yang ada di lingkungan sekitar kita ataupun masalah matematis yang
membutuhkan pemikiran keras untuk merumuskannya. Namun, dalam penetapan suatu
masalah biasanya memperhatikan hal-hal seperti berikut ini:

1. Masalah tersebut harus menunjukkan adanya kesenjangan antara teori dan


praktik yang dihadapi guru dalam menjalankan tugas kesehariannya.
2. Masalah tersebut memungkinkan untuk dicarikan Alternative solusi melalui
tindakan yang konkrit

Formulasi masalah merupakan suatu langkah yang sangat penting dalam


perancangan model simulasi. Formulasi masalah yang tidak tepat akan menghasilkan

2
model yang tidak akurat pula. Formulasi masalah merupakan suatu kegiatan untuk
memilih satu permasalahan yang dianggap paling penting untuk diselesaikan saat itu
dari sekian banyak permasalahan.

Formulasi masalah berupaya mengungkap berbagai hal berkaitan dengan


masalah yang akan dijawab atau dipecahkan setelah tindakan dilakukan. Formulasi
masalah merupakan titik tolak hipotesis yang akan dikemas menjadi judul dari model
tersebut, sehingga harus jelas, padat dan tidak bertele-tele serta berisi implikasi
menunjukkan adanya data untuk memecahkan masalah. Dalam formulasi masalah ini
hendaknya kita sebagai pemodel menghindari formulasi masalah yang terlalu umum
atau terlalu sempit, bersifat lokal atau hanya di suatu tempat saja, ataupun terlalu
berlebihan dalam berpendapat.

Masalah yang telah dipilih perlu diformulasikan secara komprehensif, jelas,


spesifik dan operasional, sehingga memungkinkan pemodel untuk memilih tindakan
yang tepat dari formulasi masalah tersebut. Formulasi masalah dapat dilakukan dalam
kalimat pertanyaan, pernyataan atau menggabungkan keduanya.

Jika kita melihat dari segi isi dari formulasi masalah, apabila diklasifikasikan,
setidaknya ada tiga ciri masalah yang baik untuk dipilih, yaitu sebagai berikut:

1. Masalah harus memiliki nilai penelitian, artinya masalah tersebut


mempunyai nilai keaslian, menyatakan suatu hubungan, merupakan hal
yang penting, dapat diuji, dan dapat dinyatakan dalam bentuk pertanyaan
2. Masalah harus memiliki kelayakan, artinya data serta metode untuk
memecahkan masalah tersebut harus tersedia, biaya dan waktu yang cukup
sampai selesainya masalah ini, biaya dan hasil harus seimbang, serta tidak
bertentangan dengan hukum dan adat.
3. Masalah harus sesuai dengan kualifikasi pemodel, artinya masalah
tersebut menarik bagi si pemodel dan juga sesuai dengan bidang yang
ditekuni oleh si pemodel.

3
B. Penulisan Formulasi Masalah

Dalam memformulasikan suatu masalah, pemodel juga perlu memperhatikan


beberapa aspek yang biasanya berlaku, yaitu aspek substansi, aspek formulasi dan
aspek teknis. Aspek substansi yaitu isi yang terkandung dari suatu masalah tersebut.
Aspek substansi dilihat dari bobot atau nilai kegunaan pemecahan masalah melalui
tindakan aplikatifnya untuk memecahkan masalah yang mirip, kegunaan metodologi
dengan ditemukannya model tindakan dan prosedurnya, serta kegunaan teoritik dalam
memperkaya atau mengoreksi teori yang pernah berlaku.

Pada aspek formulasi, sewajarnya masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat


pertanyaan. Meskipun tidak dilarang dirumuskan dalam bentuk deklaratif. Hendaknya
dalam pemformulasian masalah tidak terkandung masalah dalam masalah, tetapi lugas
menyatakan secara eksplisit dan spesifik tentang apa yang dipermasalahkan.

Dan aspek teknis, menyangkut kemampuan dan kelayakan pemodel untuk


melakukan penelitian terhadap masalah yang dipilih. Pertimbangan yang dapat
diajukan seperti kemampuan teoritik dan metodologi pembelajaran, kemampuan
metodologi penelitian tindakan, kemampuan fasilitas untuk melakukan penelitian
seperti dana, waktu, tenaga, dan perhatian terhadap masalah yang akan dipecahkan.
Oleh karena itu, disarankan untuk berangkat dari permasalahan sederhana tetapi
bermakna.

C. Cara Penulisan Formulasi Masalah

Pemilihan dan penetapan masalah penelitian merupakan langkah awal yang


paling krusial dan penting dalam suatu penelitian karena masalah penelitian
mempengaruhi strategi yang akan diterapkan dalam pemecahan masalah. Hal pertama
kali ketika akan membuat formulasi masalah adalah menentukan topik. Dari topik yang
sudah ditentukan ini kemudian fokuskan ke bagian yang lebih spesifik lagi atau lebih

4
melebar lagi pembahasannya. Ketika cakupan sudah ditentukan, baru dari sini bisa
menentukan permasalahannya.

Dalam permasalahan bisa dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang


selanjutnya dianalisis atau argumentasi dari penjabaran bukti-bukti berdasarkan hasil
dari analisis. Berikut ini merupakan langkah yang perlu diakukan untuk membuat
formulasi masalah:

1. Menulis Formulasi Masalah Sendiri. Jelaskan keadaan “ideal”. Ada banyak


cara yang berbeda untuk menulis formulasi masalah — beberapa sumber
referensi merekomendasikan untuk langsung membahas masalah itu
sendiri, sementara sumber lainnya merekomendasikan memberikan konteks
latar belakang terlebih dahulu agar masalah (dan solusinya) lebih mudah
untuk dipahami oleh pembaca. Jika Anda begitu tidak yakin bagaimana
harus memulai, pilihlah opsi kedua. Walaupun keringkasan adalah sesuatu
yang harus ditujukan oleh setiap tulisan yang praktis, pemahaman yang baik
lebih penting lagi. Mulailah dengan menjelaskan bagaimana seharusnya
hal-hal bekerja. Sebelum Anda menyebutkan masalah Anda, jelaskan dalam
beberapa kalimat bagaimana berlangsungnya hal-hal jika tidak ada masalah.
2. Pertanggungjawabkan pernyataan Anda. Tidak peduli berapa banyak uang
yang Anda klaim dikuras masalah Anda terhadap perusahaan Anda, jika
Anda tidak dapat mempertanggungjawabkan klaim Anda dengan bukti
yang masuk akal, Anda mungkin tidak dianggap serius. Segera setelah
Anda mulai membuat klaim spesifik tentang seberapa serius masalah Anda,
Anda harus mulai mendukung pernyataan Anda dengan bukti. Dalam
beberapa kasus, ini mungkin dari penelitian Anda sendiri, dari data dari
penelitian atau proyek terkait, atau bahkan dari sumber pihak ketiga
terkemuka.
3. Usulkan solusi. Ketika Anda sudah menjelaskan apa masalahnya dan
mengapa begitu penting, lanjutkan menjelaskan bagaimana Anda
mengusulkan untuk mengurusnya. Seperti dengan pernyataan awal dari

5
masalah Anda, penjelasan solusi Anda harus ditulis agar sejelas dan
seringkas mungkin. Tetaplah pada konsep-konsep besar, penting, konkret
dan tinggalkan rincian kecil untuk nanti — Anda akan memiliki banyak
kesempatan untuk masuk ke setiap aspek kecil dari solusi yang Anda
usulkan dalam badan proposal Anda.
4. Jelaskan manfaat dari solusi. Sekali lagi, sekarang Anda sudah
memberitahu pembaca Anda apa yang harus dilakukan soal masalah ini, ide
yang sangat baik adalah menjelaskan mengapa solusi ini adalah ide yang
baik. Karena bisnis selalu berusaha untuk meningkatkan efisiensi dan
mendapatkan lebih banyak uang, Anda akan ingin fokus terutama pada
dampak keuangan dari solusi Anda — biaya yang mana yang akan
terkurangi, bentuk-bentuk baru dari pendapatan yang bagaimana yang akan
dihasilkan, dan sebagainya. Anda juga bisa menjelaskan manfaat non-nyata,
seperti kepuasan pelanggan yang meningkat, tetapi penjelasan total tidak
boleh lebih panjang dari beberapa kalimat untuk satu paragraf.
5. Simpulkan dengan meringkas masalah dan solusi. Setelah Anda telah
mempresentasikan visi ideal untuk perusahaan Anda, mengidentifikasi
masalah yang menhalangi Anda dari mencapai idealisme ini, dan
menyarankan solusi, Anda hampir selesai. Yang tersisa untuk dilakukan
adalah menyimpulkan dengan ringkasan argumen utama Anda yang
memungkinkan Anda dengan mudah transisi ke dalam tubuh utama dari
proposal Anda. Tidak perlu untuk membuat kesimpulan ini lagi daripada
yang seperlunya — cobalah untuk menyatakan, hanya dalam beberapa
kalimat, inti dasar dari apa yang telah dijelaskan dalam pernyataan masalah
Anda dan pendekatan yang Anda niatkan untuk diambil dalam badan
artikel.
6. Ingat “lima W”. Formulasi masalah harus seinformatif mungkin dengan
kata-kata sesedikit mungkin, tetapi tidak harus menyelidiki rincian kecil.
Jika Anda pernah ragu-ragu tentang apa yang harus disertakan dalam
formulasi masalah Anda, ide yang cerdas adalah mencoba untuk menjawab

6
lima W (siapa/who, apa/what, di mana/where, kapan/when, dan
mengapa/why), plus bagaimana/how. Mengatasi lima W memberikan
pembaca Anda pengetahuan tingkat dasar yang baik untuk memahami
masalah dan solusi tanpa merantau ke tingkat detail yang tidak perlu.
7. Selalu mengoreksi kesalahan. Ini merupakan keharusan untuk semua
bentuk tulisan yang serius — tidak ada draft pertama sepanjang sejarah
yang tidak bisa memperoleh keuntungan dari mata yang hati-hati dan dari
pengkoreksi yang baik. Setelah Anda menyelesaikan formulasi masalah
Anda, bacalah dengan cepat. Apakah “alurnya” tampak benar? Apakah
menyajikan ide-idenya dengan koheren? Apakah tampaknya teratur dengan
logis? Jika tidak, buat perubahan ini sekarang. Saat Anda akhirnya puas
dengan struktur formulasi masalah Anda, periksa ejaan, tata bahasa, dan
kesalahan format.

Rumusan masalah yang baik memiliki ciri sebagai berikut:

1. Bersifat orisinil, belum ada atau belum banyak orang lain yang meneliti
masalah tersebut.
2. Dapat berguna bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan terhadap
masyarakat.
3. Dapat diperoleh dengan cara-cara ilmiah.
4. Jelas dan padat, jangan ada penafsiran yang lain terhadap masalah tersebut.
5. Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
6. Bersifat etis, artinya tidak bertentangan atau menyinggung adat istiadat,
ideologi, dan kepercayaan agama.
7. Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
8. Formulasi masalah harus jelas, padat, dan dapat dipahami oleh orang lain.
9. Formulasi masalah harus mengandung unsur data yang mendukung
pemecahan masalah penelitian.
10. Formulasi masalah harus merupakan dasar dalam membuat kesimpulan
sementara (hipotesis).

7
11. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian.

D. Fungsi Penulisan Formulasi Masalah

Formulasi masalah ditulis untuk menspesifikasian masalah yang akan dibahas


dalam karangan. Masalah yang diformulasikan harus merupakan hasil penspesifikasian
atau pengkhususan masalah utama yang harus dijawab pada bab kesimpulan.
Jawabannya diperoleh dari hasil analisis data.

1. Sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan


kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada
dan dapat dilakukan.
2. Sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian
Pemformulasian masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat
berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan.
3. Sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan
oleh peneliti, serta jenis data apa tidak perlu dan harus disisihkan oleh
peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang
tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui pemformulasian
masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan
dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya.
4. Dengan adanya pemformulasian masalah penelitian, maka para peneliti
menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi
populasi dan sampel pemodelan.

8
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pemformulasian masalah adalah suatu formulasi yang mempertanyakan suatu


fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam
kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu
dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat. Pemformulasian
masalah memiliki beberapa fungsi diantaranya sebagai berikut; sebagai pendorong
suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan, sebagai pedoman/penentu arah atau
fokus dari suatu penelitian, sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan
harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus
disisihkan oleh peneliti, dengan adanya pemformulasian masalah penelitian, maka
para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan
menjadi populasi dan sampel penelitian.

Kriteria-kriteria dalam pemformulasian masalah adalah; kriteria pertama


berwujud kalimat tanya atau yang bersifat kalimat interogatif, baik pertanyaan yang
memerlukan jawaban deskriptif, maupun pertanyaan yang memerlukan jawaban
eksplanatoris. Kriteria Kedua bermanfaat atau berhubungan dengan upaya
pembentukan dan perkembangan teori. Kriteria ketiga, suatu pemformulasian
masalah hendaknya dirumuskan di dalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang
aktual.

Ciri-ciri masalah yang baik: Mempunyai Nilai Penelitian; Masalah harus


mempunyai keaslian; Masalah harus menyatakan suatu hubungan; Masalah harus
merupakan hal yang penting; Masalah harus dapat diuji; Masalah harus dapat
dinyatakan dalam bentuk pertanyaan; Mempunyai fisibilitas; serta Sesuai Dengan
Kualifikasi Peneliti.

Pembatasan masalah studi melalui fokus pada dasarnya masalah penelitian


harus dirumuskan dan dibatasi secara spesifik agar tidak menimbulkan kebingungan

9
dalam mengetahui dengan jelas keterangan dan data apa sebenarnya yang harus
dikumpulkan serta kesimpulan apa yang pada akhirnya dapat diambil pada hasil
penelitian. Masalah dalam penelitian dapat dibatasi dengan bertumpu pada sesuatu
fokus. Ada dua maksud tertentu yang ingin dicapai dalam merumuskan masalah
penelitian dengan jalan memaanfaatkan fokus. Pertama, penetapan fokus dapat
membatasi masalah. Kedua, penetapan fokus itu berfungsi untuk memenuhi kriteria
iklusi-eksklusi atau kriteria masuk-keluar (inclusion-exlusion criteria) suatu informasi
yang baru diperoleh dilapangan.

10