Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH ASJAWA

“AMALIYAH DAN BUDAYA NU”

Disusun Oleh:
1. Sartika Sari (1130119008)
2. Siti Rochimah (1130119017)

Prodi S1 Keperawatan Alih Jenjang


Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kebidanan
Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya
2019-2020

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta

karunia-nya sehingga dapat menyelesaikan Makalah Asjawa dengan judul

“Amaliyah dan Budaya NU”dan Mahasiswa mampu menjelaskan makalah

tersebut.

Makalah ini tidak akan selesai tepat waktu tanpa bantuan dari berbagai

pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada Dosen mata

kuliah Aswaja dan Semua pihak yang turut membantu pembuatan makalah ini

yang tidak bisa penyusun sebutkan satu persatu.

Makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis

mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk kemajuan makalah ini di masa

mendatang.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk pembaca.

Surabaya, Oktober 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

COVER ............................................................................................................i
KATA PENGANTAR......................................................................................ii
DAFTAR ISI...................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................01
1.1 Latar Belakang ........................................................................................01
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................02
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Amaliyah NU..........................................................................03
2.2 Jenis-jenis Amaliyah NU...........................................................................03
2.3 Pijakan Metodologi Amaliyah NU............................................................04
2.4 Amaliyah NU dan dalil-dalilnya...............................................................05
2.5 Amaliyah yang sering dijadikan perselisihan...........................................08
2.6 Pengertian dari Budaya.............................................................................12
2.7 pengertian NU...........................................................................................14
2.8 Latar Belakang Budaya dalam NU...........................................................14
2.9 Budaya NU di Indonesia ..........................................................................16

BAB III KESIMPULAN ..............................................................................19

3.1 Kesimpulan ..............................................................................................19


DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................iv

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejarah diterimannya kehadiran Islam di Nusantara dengan kondisi
keagamaan masyarakat yang menganut paham animisme (Hindu-Budha), tidak
bisa dilepaskan dari cara dan model pendekatan dakwah para mubaligh Islam kala
itu yang ramah dan bersedia menghargai kearifan budaya dan tradisi lokal. Sebuah
pendekatan dakwah yang terbuka dan tidak antisipati terdapat nilai-nilai normatif
di luar Islam, melainkan mengakulturasikannya dengan membenahi
penyimpangan-penyimpangan di dalamnya memasukkan ruh-ruh keislaman ke
dalam subtstansinya. Maka lumrah jika kemudian corak amaliah ritualitas muslim
Nusantara (khususnya Jawa) hari ini, kita saksikan begitu kental diwarnai dengan
tradisi dan budaya khas lokal, seperti ritual selametan, kenduri, dan lain-lain.
Amaliah keagamaan seperti itu tetap dipertahankan karena kaum Nahdliyyin
meyakini bahwa ritual-ritual dan amaliyah yang bercorak lokal tersebut. Hanyalah
sebatas teknis atau bentuk luaran saja, sedangkan yang menjadi substansi
didalamnya murni ajaran-ajaran Islam. Dengan kata lain, ritual-ritual yang
bercorak tradisi lokal hanyalah bungkus luar, sedangkan isinya adalah nilai-nilai
ibadah yang dianjurkan oleh Islam.
Dalam pandangan kaum Nahdliyyin, kehadiran Islam yang dibawa oleh
Rasulullah saw. Bukanlah untuk menolak segala tradisi yang mengakar menjadi
kultur budaya masyarakat, melainkan sekedar untuk melakukan pembenahan-
pembenahan dan pelurusan-pelurusan terhadap tradisi dan budaya yang tidak
sesuai dengan risalah Rasulullah saw. Budaya yang telah mapan menjadi nilai
normatif masyarakat dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam akan
mengakulturasikannya bahkan mengakuinnya sebagai bagian dari budaya dan
tradisi Islam itu sendiri. Dalam hal ini, Rasululullah saw. Bersabda:
“ apa yang dilihat orang Muslim baik, maka hal itu baik disisi Allah.” (HR.
Malik). Kendati demikian, amaliah dan ritual keagamaan kaum Nahdliyin seperti
itu, sering mengobsesi sebagian pihak untuk menganggapnya sebagai praktik-
praktik sengkritisme, mitisme, khurafat, bid’ah bahkan syirik. Anggapan demikian
sebenarnya lebih merupakan subyektifitas akibat terjebak dalam pemahaman

1
Islam yang sempit dan dangkal serta tidak benar-benar memahami hakikat
amaliah dan ritual-ritual hukum Nahdliyyin tersebut. Pihak-pihak yang seperti ini,
wajar apabila kemudian dengan mudah melontarkan ‘tuduhan’ bid’ah atau syirik
terhadap amaliah dan ritualitas kaum Nahdliyyin, seperti ritual tahlilan, peringatan
Maulid Nabi, Istighfar, Pembacan berzanji, Manaqib, Ziarah kubur, dan amaliah-
amaliah lainnya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian Amaliyah NU ?
2. Apa saja jenis-jenis Amaliyah NU?
3. Apa saja pijakan Metodologi Amaliyah NU?
4. Apa sajakah Amaliyah NU dan dalil-dalilnya?
5. Apa sajakah amaliyah yang sering dijadikan perselisihan ?
6. Apa Pengertian dari Budaya?
7. Apa pengertian NU?
8. Bagaimana Latar Belakang Budaya dalam NU ?
9. Apa Saja Budaya NU di Indonesia ?

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Amaliyah NU
Amaliyah Nahdliyah adalah amal perbuatan lahir, baik yang berhubungan
dengan Ibadah, Mu’amalah maupun Akhlaq; yang biasa dilakukan oleh kaum
Nahdliyyin, bisa jadi secara formal warga Jam’iyyah Nahdlatul Ulama atau
bukan.
Nahdlatul Ulama memperjuangkan berlakunya Ajaran Islam ala
Ahlussunnah wal Jama’ah, oleh karena itu menurut NU, cara berfikir dan
bentindak, cara bertheologi maupun beramal, yang benar didasarkan pada
Ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Menurut NU, Islam adalah
ahlussunnah wal jama’ah, maka kaum nahdliyyin tidak mendasarkan
perbuatannya kecuali pada ahlusunnah wal jama’ah.
Secara praktis, amaliyah ahlussunnah wal jama’ah NU di dasarkan pada
cara bertheologi menurut madzhab theologi Al-Asy’ary dan Al-Maturidy,
dalam bidang fiqh mengikuti salah satu madzhab empat, yaitu : Hanafy,
Maliky, Syafi;y dan Hambaly; serta mengamalkan tasawuf sesuai dengan cara
tasawuf Imam al-Junaid al-Baghdady dan Imam Al-Ghazaly.

2.2 Jenis-jenis Amaliyah NU


Secara garis besar, amaliyah nahdliyah dibedakan menjadi dua jenis, yaitu
1. Ushul
- Beraqidah Islamiyah yang meyakini, bahwa :
a) Rukun Iman ada 6
b) Allah adalah Maha Esa
c) Allah mempunyai sifat wajib sebanyak 20, sifat mukhal 20 dan sifat jaiz 1.
d) Allah mempunyai asma’ berjumlah 99 yang dikenal dengan sebutan asma’ul
husna.
- Beribadah dengan baik yang dibangun atas Rukun Islam yang 5, yaitu :
Mengucapkan dua kalimah syahadat, menunaikan shalat, mengeluarkan zakat,
berpuasa di bulan ramadlan, serta naik haji ke Baitullah bagi yang mampu.
- Membangun senedi-sendi aqidah dan melakukan ibadah dengan benar serta
sebaik-baiknya, seolah-olah setiap saat melihat Allah atau sekurang-kurangnya
selalu merasa diawasi oleh Allah SWT.

3
‫’‪2. Furu‬‬
‫‪Hal yang menyangkut tentang furu’ ini bagi NU sangatlah banyak, yang‬‬
‫‪meliputi amalan-amalan wajib, sunnah, mustahab serta hal-hal yang berhubungan‬‬
‫‪dengan “Fadlail”, semisal :‬‬
‫‪a) Membaca do’a qunut dalam shalat shubuh, dan dalam shalat witir pada paruh‬‬
‫‪akhir bulan ramadlan.‬‬
‫‪b) Berbakti kepada orang tua serta menghormati orang sholih, tidak terbatas‬‬
‫‪ketika mereka masih hidup di dunia‬‬
‫‪c) Mendo’akan orang yang sudah meninggal dunia‬‬
‫‪d) Berjama’ah dalam dzikir dan berdo’a.‬‬
‫‪e) Melakukan Tawasshul dan Tabarruk.‬‬

‫‪2.3 Pijakan Metodologi Amaliyah NU‬‬


‫‪Secara metodologis, amaliyah nahdliyah didasarkan pada‬‬
‫‪sumber-sumber hukum Islam, yaitu :‬‬
‫‪1. Al-Qur’an‬‬
‫‪2. Al-Hadits‬‬
‫‪3. Al-Ijma’ dan‬‬
‫‪4. Al-Ijtihad.‬‬
‫‪Penggunaan dalil-dalil tersebut dipahami dengan baik dan‬‬
‫‪benar melalui cara pemahaman bermadzhab, persis‬‬
‫‪sebagaimana disampaikan oleh Syekh Mohammad Nawawi Al-‬‬
‫‪Jawi, sebagai berikut :‬‬
‫والمجتهد المطلق هللو مللن يقللدر علللى اسللتنباط الحأكللام مللن الدألللة‪،‬‬ ‫‪.1‬‬
‫ومجتهد المذهب هو اللذي يقلدر عل ى السللتنباط ملن قواعلد إملامه‪:‬‬
‫كالمزني والبويطي‪ ،‬ومجتهد الفتوى من يقدر علللى الترجيللح لبعللض‬
‫أقوال إمامه على بعض‪ :‬كالنووي والرافعللي ل كللالرملي وابللن حأجللر‬
‫لنهملا مقللدان فقلط‪ ،‬ويجلب عللى مللن للم يكلن فيله أهليللة الجتهلادأ‬
‫المطلق أن يقلد في الفروع واحأللداا مللن الئأمللة الربعللة المشللهورين‪،‬‬
‫وهم‪ :‬المام الشافعي والمام أبو حأنيفة‪ ،‬والمام مالك‪ ،‬والمام أحأمللد‬
‫بن حأنبل رضي ا عنهم‪ ،‬والدليل على ذلللك قللوله تعللالى‪" :‬فاسللألوا‬
‫أهللل الللذكر إن كنتللم ل تعلمللون" )النبلللياء‪ :‬اليللة ‪ (7‬فللأوجب الل‬
‫السؤال على من لم يعلم‪ ،‬ويلزم عليه الخأذ بقللول العللالم وذلللك تقليللد‬
‫له‪ ،‬ول يجللوز تقليللد غيللر هللؤلء الربعللة مللن بللاقي المجتهللدين فللي‬
‫الفللروع‪ ،‬مثللل المللام سللفيان الثللوري‪ ،‬وسللفيان بللن عيلللينة‪ ،‬وعبللد‬
‫الرحأمن بن عمر الوزاعي‪ ،‬ول يجللوز أيضللاا تقليللد واحأللد مللن أكللابر‬
‫الصللحابة لن مللذاهبهم لللم تضللبط ولللم تللدوون‪ ،‬وأمللا مللن فيلله أهليللة‬
‫الجتهادأ المطلق فإنه يحرم عليه التقليد‪ ،‬ويجب على من لم يكن فيلله‬

‫‪4‬‬
‫ أي العقائأد للمام أبلي الحسن الشأللعري‬:‫الهلية أن يقلد في الصأول‬
‫ لكلن إيمللان المقللد مختللف فيله‬،‫أو الملام أبللي منصللور الماتريللدي‬
‫ أما بالنظر إلى أحأكام الدنيا فيكفيه القللرار‬،‫بالنسبة إلى أحأكام الخأرة‬
‫ وغيللر‬،‫ والصأللح أن المقلللد مللؤمن عللاص إن قللدر علللى النظللر‬،‫فقط‬
‫ ثم إن جزم بقول الغير جزما ا قويا ا بحيللث لللو رجللع‬،‫عاص إن لم يقدر‬
‫ لكنه عللاص بللترك النظللر‬،‫المقلد بالفتح لم يرجع هو كفاه في اليمان‬
‫ وإن لم يجزم بقول الغير جزما ا قويا ا بأن كان‬.‫إن كان فيه أهلية النظر‬
،‫ لكن لو رجع المقلد بالفتللح لرجللع هللو لللم يكفلله فللي اليمللان‬،‫جازم اا‬
‫ويجللب علللى مللن ذكللر أن يقلللد فللي علللم التصللووفّ إمامللا ا مللن أئأمللة‬
‫ وهو المام سعيد بن محمد أبو القاسم الجنيد سلليد‬،‫التصووفّ كالجنيد‬
‫ والحاصأللل أن المللام الشللافعي‬.‫ل رضي ا عنلله‬ ‫الصوفية علما ا وعم ا‬
‫ ونحوه هللداة الومللة‬،‫ والمام الشأعري‬،‫ونحوه هداة الومة في الفروع‬
‫ فجزاهللم الل‬،ّ‫ والجنيد ونحوه هداة الومللة فللي التصللووف‬،‫في الصأول‬
.‫ ونفعنا بهم آمين‬،‫خأيراا‬
Perlu diketahui, bahwa para ulama mujtahid sebagaimamja
dijelaskan di atas, dalam masalah akidah tidak ada yang
mendasarkan kepada dalil yang tidak qad’iy, baik wurud maupun
dalalahnya, terhadap masalah furu’ sepanjang berkaitan dengan
ibadah pastilah berpedoman kepada dalil yang shahih,
sedangkan dalam masalah fadlailil a’mal, barulah mengambil
dari hadits dlaif, dengan syarat-syarat yang ketat.

2.4 Amaliyah NU dan dalil-dalilnya


1. Tawassul
Tawassul adalah perantara, Syaikh Jamil Affandi menjelaskan
bahwa yang dimaksud tawassul dengan para Nabi dan orang-
orang Shaleh ialah menjadikan mereka menjadikan sebab dan
perantara dalam memohon kepada Allah untuk mencapai tujuan.
Pada hakikaynya Allahhlah pelaku yang sebenarnya (yang
mengabulkan do`a). Sebagai contoh pisau tidak mempunyai
kemampuan memotog dari dirinya sendiri karena pemotong yang
sebenarnya adalah Allah dan pisau hanya sebagai penyebab
yang alamiah (berpotensi untuk memotong)
Dalil Tawassul:
‫يا ايها الففذين أمنففوا اتقففواا وابتغففوااليه الوسففيلة و جاهففدوا فففى‬
(35 : ‫سبيله لعلكم تفلحون )المائدة‬
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan
carilah sebuah perantara untuk sampai kepada Allah berjihadlah
kamu dijalanya mudah-mudahan kamu mendapat keuntungan”.
(Al Maidah 35)

5
Sahabat Umar ketika melakukan sholat Istisqo` juga melakukan
tawassul
‫ كان إذا قحطوا استسففقى بالعبففاس بففن‬.‫ض‬.‫أن عمر بن الخطاب ر‬
‫عبد المطالب فقففال اللهففم انففا كنففا نتوسففل اليففك بنبينففا فتسففقين وإنففا‬
(‫نتوسل إليك بعم نبينا فاسقنا فيسقون )رواه البخارى‬
“ Dari anas bi Malik beliau berkata, Apabila trjadi kemarau
sahabat Umar bertawassul dengan Abbas bin Abdul Mutholib,
kemudian berdo`a “ YA Allah kami pernah berdo`a dan
bertawassul kepadaMu dengan Nabi kami maka Engkau
turunkan hujan. dan sekarang kami bertawassul dengan paman
Nabi kami, maka turunkanlah hujan” Anas berkata “Maka
turunlah hujan kepada kami” (HR. Al Bukhori)
2. Dzikir berjama`ah
Membaca dzikir dengan berjama`ah sehabis menunaikan sholat
maupun dalam momen tertentu, seperti istighotsah, Tahlilan
adalah perbuatan yang tidak bertentangan dengan ajaran Agama
bahkan termasuk perbuatan yang dituntun oleh Agama.
Dalilnya:
(152 : ‫فاذكروني اذكركم )البقرة‬
“Ingatlah (berdzikirlah) kamu semua kepadaKu niscaya Aku ingat
kepadamu” (Al Baqoroh 152)
‫ل يقعد قوم يففذكرون افف عففز وجففل إل حفتهففم الملئكففة وغشففيتهم‬
(‫الرحمة ونزلت عليهم السكينة وذكرهم ا فيمن عنده )رواه مسلم‬
“Tidaklah sekelompok orang yang duduk berdzikir kepada Allah
kecuali mereka dikerumuni malaikat, diliputi rahmat dan
ketentraman turun kepada mereka, serta Allah akan menyebu-
nyebut mereka kepada para Malaikat disisinya” (HR. Muslim)
3. Ziarah kubur
Pada masa awal Islam Nabi melarang umat Islam melakukan
ziarah kubur karena khawatir umat Islam akan menjadi
penyembah kuburan. Setelah akidah umat Islam kuat dan tidak
ada kekhawatiran untuk berbuat syirik Nabi membolehkan para
sahabatnya untuk melakukan ziarah kubur.
Rosulullah bersabda:
‫قال رسول ا صلى ا عليه وسلم إنى كنت نهيتكم عن زيارة القبور أل‬
(‫فزوروها فإنها تزهد فى الدنيا وتذكر الخأرة )رواه إبن ماجه‬
Rosulullah SAW bersabda, “ sesungguhnya aku pernah melarang
kalian berziarah kubur. Ingatlah, maka berziarahlah kekubur
karena sesungguhnya hal itu dapat menjadikan sikap zuhud di
dunia dan dapat mengingatkan kepada akhirat”. (HR. Ibnu
Majjah)
4. Merayakan maulid Nabi

6
Sebagai seorang mukmin pengungkapan rasa syukur dan
kegembiraan atas nikmat yang diterima adalah suatu keharusan
begitu pula dengan kelahiran seseorang kealam dunia
merupakan nikmat tidak terhingga yang harus disyukuri.
Sebagaimana mensyukuri hari kelahiran Nabi dengan berpuasa.
Dalam sebuah hadis diriwayatkan
‫ أن رسففول افف صففلى افف عليففه‬.‫ض‬.‫عن ابي قتففادة التصففارى ر‬
‫وسلم سئل عن صوم الثإنين فقال فيه ولدت وفيه أنزل علففي )رواه‬
(‫مسلم‬
Diriwayatkan oleh Abu Qotadah Al Anshori, bahwa Rosulullah
pernah ditanya tentang puasa senin maka beliau menjawa,
“pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan
kepadaku”. (HR. Muslim)
5. Berzanzen, Dziba`an, Burdahan, Manaqiban
Dalilnya
‫وقد ورد في الثإر عن سيد البشر صلى ا عليه وسلم أنه قال مففن‬
‫ورح مؤمنا فكأنما احياه ومن قرأ تففاريخه فكأنمففا زاره ومففن زاره‬
‫فقد استوجب رضوان ا فى حففرور الجنففة وحففق علففى المففرء أن‬
.‫يكرم زائره‬
Terdapat dalam sebuah atsar dari gustinya manusia saw.
Sesungguhnya beliau bersabda, “Barang siapa membuat
(menulis biografi seorang mukmin maka ia seperti
menghidupkanya kembali dan barang siapa membaca
sejarahnya maka seolah-olah ia mengunjunginya dan barang
siapa mengunjunginya maka ia berhak mendapatkan ridho Allah
dalam surga dan sudah seharusnya bagi seseorang memuliakan
orang yang menziarahinya”.
6. Tahlilan
Berkumpul untuk melakukan tahlilan merupakan tradisi yang
telah diamalkan secara turun temurun oleh mayoritas umat Islam
Indonesia. Meskipun format acaranya tidak diajarkan secara
langsung oleh Rosulullah namun kegiatan tersebut dibolehkan
karena tidak satupun unsur-unsur yang terdapat didalamnya
bertentangan dengan ajaran Islam, karena itu pelaksanakan
tahlilan secara esensial merupakan perwujudan dari tuntunan
Rosulullah.
 Dalil tahlil di maqbaroh
‫ قفال رسفول اف صفلى ا عليفه‬: ‫ قفال‬.‫ض‬.‫عن أبي هريفرة ر‬
‫وسلم من دخأل المقابر ثإم قرأ فاتحة الكتاب و قل هففو افف احففد و‬
‫ألهاكم التكاثإر ثإم قال إنى جعلت ثإواب ما قرأت من كلمك لهل‬
‫المقابر من المؤمنين والمؤمنات كانوا شفعاء له الى ا تعالى‬

7
Dari Abi Huroiroh Rosulullah saw. Bersabda, Barang siapa masuk
ke pemakaman kemudian ia membaca surat Al fatikhah, Al
ikhlash, Atakatsur lalu ia berdo`a “sungguh kujadikan pahala
membaca kalamu untuk ahli kubur dari kaum mukminin dan
mukminat, maka meraka akan menjadi penolongnya dihadapan
Allah”
 Dalil mengirim pahala kepada mayit
‫إذا مات أحدكم فل تحبسوه واسرعوا بففه الففى قففبره فففاليقرأ عنففد‬
‫رأسه بفاتحة الكتاب وعند رجليه بخاتمففة البقففرة فففى قففبره )روا‬
(‫الطبرانى والبيهقى‬
Ketika salah satu kalian mati janganlah kalian menahanya dan
segeralah menguburnya dan bacakan dikepalanya permulaan Al
qur`an d dikakinya penutup surat Al baqoroh dikuburnya. (HR.
Atabrani dan baihaki)
 Dalil pahala sedekah untuk mayit
‫أن رجل قال للنبي صلى ا عليه وسلم إن ابي مات وترك مال‬
(‫ولم يوص فهل يكفر عنه ان اتصدق عنه قال نعم )رواه مسلم‬
Sesungguhnya seorang berkata kepada Nabi saw. Sesungguhnya
ayahku mati meninggalkan harta dan tidak berwasiat apakah
dapat menghapus dosanya manakala aku bersedekah untuknya?
Nabi bersabda, Ya. (HR. Muslim)
 Dalil selamatan 7 dan 40 hari kematian
‫قال طاوس إن الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يسففتحبون‬
‫ وعففن عبيففد بففن عميففر قففال يفتففن‬.‫أن يطعموا عنهففم تلففك اليففام‬
‫رجلن مؤمن و منفافق فأمفا المفؤمن فيفتفن سفبعا وأمفا المنفافق‬
.‫فيفتن اربعين صباحا‬
Thowus berkata, sesungguhnya orang mati mendapatkan fitnah
didalam kubur mereka selama 7 hari. Dan dari Ubaid bin Umair
berkata, Dua orang akan mendapatkan fitnah, yakni oranh
mukmin dan orang munafiq. Adapun orang mukmin
mendapatkan fitnah selama 7 hari, sedangkan orang munafik
mendapatkan fitnah selama 40 hari.

2.5 Amaliyah yang sering dijadikan perselisihan


a. Do’a qunut
- Hukum
Do’a qunut dalam shalat shubuh dan dalam shalat witir pada paruh akhir bulan
ramadlan, hukumnya sunnah ab’ad, apabila tertinggal disunnahkan melakukan
sujud sahwi.
- Dasar

8
‫س قلللالل‬ ‫شامم لحأددثللنا قلتلللالدأةة لعللنن ألنللل س‬ ‫سلهمم لحأددثللنا هه ل‬ ‫‪ - ۳۷۸٠‬لحأددثللنا ةم ن‬ ‫‪(1‬‬
‫ع يلللندةعو‬ ‫شأللنهارا بلنعلللد الررةكللو ه‬ ‫سلدلم ل‬ ‫اة لعللنيهه لو ل‬ ‫صأدلى د‬ ‫اه ل‬ ‫سوةل د‬ ‫ت لر ة‬ ‫قلنل ل‬
‫ب )صأحيح البخاري ‪ :‬ج ‪ / ١٢‬ص ‪(٤۹٢‬‬ ‫لعللى ألنحألياسء همنن انللعلر ه‬
‫صأللدلى‬‫سلللمةل ألدن أللبا ةهلرنيلرةل لحأللددثلةهنم ألدن الندبهللدي ل‬ ‫‪ - ١٠۸۳‬لعنن ألهبي ل‬ ‫‪(2‬‬
‫سللهملع‬ ‫شأللنهارا إهلذا قلللالل ل‬ ‫صأللللسة ل‬ ‫ت بلنعلد الدرنكلعهة فهللي ل‬ ‫سلدلم قلنل ل‬ ‫اة لعللنيهه لو ل‬ ‫د‬
‫ج انللوهليلد نبلللن انللولهيللهد اللدةهللدم‬ ‫اة لهلمنن لحأهملدهة يلةقوةل هفي قةةنوتههه اللدةهدم ألنن ه‬ ‫د‬
‫ش نبلللن ألبهللي لرهبيلعللةل اللدةهللدم نلللجج‬ ‫شاسم اللدةهدم نلللجج لعيدللا ل‬ ‫سلللمةل نبلن هه ل‬ ‫نلجج ل‬
‫ضلر اللدةهللدم‬ ‫شأةدندأ لونطأ لتللك لعللى ةم ل‬ ‫ضلعهفيلن همنن انلةمنؤهمهنيلن اللدةهدم ا ن‬ ‫ست ل ن‬‫انلةم ن‬
‫ف )صأللحيح مسلللم ‪ :‬ج ‪/ ۳‬‬ ‫سلل ل‬ ‫سللهني ةيو ة‬ ‫سهنيلن لك ه‬ ‫انجلعنللها لعللنيههنم ه‬
‫ص ‪(٤۳٤‬‬
‫صأللدلى‬ ‫اهلل ل‬ ‫سللوةل د‬ ‫ت لر ة‬ ‫س لهنل قلنل ل‬ ‫ت هللنل س‬ ‫‪ - ١٠۸٦‬لعنن ةملحدمسد لقالل قةنل ة‬ ‫‪(3‬‬
‫سلليارا‬ ‫ع يل ه‬‫ح لقلالل نللعلنم بلنعلللد الررةكلو ه‬ ‫صلنب ه‬ ‫صألللهة ال ر‬ ‫سلدلم هفي ل‬ ‫اة لعللنيهه لو ل‬ ‫د‬
‫)صأحيح مسلم ‪) -‬ج ‪ / ۳‬ص ‪(٤۳۷‬‬
‫ق لعللنن بةلرنيللهد نبللهن ألبهللي لمنريللللم لعللنن ألبهللي‬ ‫سلللح ل‬ ‫‪ ١٢١٤‬لعللنن ألبهللي إه ن‬ ‫‪(4‬‬
‫اةلل لعننةهلملا لعلدلمهنلي‬ ‫ضللي د‬ ‫سلةن نبلةن لعهلليي لر ه‬ ‫انللحنولراهء لقلالل قل الل انللح ل‬
‫ت ألقةللولةةهدن فهللي انلللهونتهر قلللالل‬ ‫سلدلم لكلهلمللا س‬ ‫اة لعللنيهه لو ل‬ ‫صأدلى د‬ ‫اه ل‬ ‫سوةل د‬ ‫لر ة‬
‫ت لولعللافههني‬ ‫ت انلهونتهر اللدةهدم انهللهدهني هفيلمللنن لهلللدني ل‬ ‫ة‬
‫س هفي قةنو ه‬ ‫انبةن لجدوا س‬
‫ت لوقهنهللي‬ ‫ت لولباهرنك هلي هفيلما ألنعطلني ل‬ ‫ت لوتللولدهني هفيلمنن تللولدني ل‬ ‫هفيلمنن لعافلني ل‬
‫ضللى لعللنيلللك لوإهندللهة لل يلللهذرل لمللنن‬ ‫ضللي لولل يةنق ل‬ ‫ت إهندلللك تلنق ه‬ ‫ضللني ل‬ ‫شأدر لما قل ل‬ ‫ل‬
‫ت )سللنن أبللي‬ ‫ت لربدنلللا لوتللعللاللني ل‬ ‫ت تلبلللالرنك ل‬ ‫ت لولل يلهعرز لمللنن لعلالدأني ل‬ ‫لواللني ل‬
‫دأاودأ ‪ :‬ج ‪ / ٤‬ص ‪(٢١٠‬‬
‫‪b. Tahlil untuk orang yang telah meninggal‬‬
‫‪Inti dari pada amaliyyah tahlil adalah :‬‬
‫‪- Berdo’a untuk orang yang sudah meninggal dunia, baik oleh anaknya sendiri‬‬
‫‪maupun oleh orang lain; hal ini terdapat tuntunan yang jelas dari Nabi SAW.‬‬
‫صأدلى د‬
‫اةلل‬ ‫اه ل‬ ‫سولل د‬ ‫ت لر ة‬ ‫فّ نبهن لمالهسك لقالل ل‬
‫سهمنع ة‬ ‫‪ - ١۹۵۷ (1‬لعنن لعنو ه‬
‫صأدلى لعللللى لجنلللالزسة يلقةللوةل اللدةهللدم انغفهللنر للللهة لوانرلحأنمللهة‬ ‫سلدلم ل‬ ‫لعللنيهه لو ل‬
‫سللنلهة بهلمللاسء‬‫سللنع ةمللندلخأللهة لوانغ ه‬ ‫ف لعننهة لولعافههه لوألنكهرنم نةةزللللهة لولو ج‬ ‫لوانع ة‬
‫ض همللنن‬ ‫ل‬
‫ب انلنبيللل ة‬ ‫د‬
‫طايلللا لكلمللا يةنلقدللى الثللنو ة‬ ‫ج لوبللرسدأ لونلقجللهه همللنن انللخ ل‬ ‫لوثلنل س‬
‫س لوألنبهدنلهة لدأاارا لخأنيارا همنن لدأاهرهه لوألنهال لخأنيارا همنن ألنهلههه لولزنواجللا‬ ‫الددنل ه‬
‫ب الدنللاهر‪) .‬سللنن‬ ‫ب انلقلنبللهر لولعلللذا ل‬ ‫لخأنيللارا همللنن لزنوهجللهه لوهقللهه لعلللذا ل‬
‫النسائأي ‪ :‬ج ‪ / ۷‬ص ‪(۸٤‬‬
‫اةلل لعللنيللهه‬ ‫صأدلى د‬‫‪ - ٢۸٠٤ (2‬لعنن ةعنثلمالن نبهن لعدفالن لقالل لكالن الندبهري ل‬
‫سللتلنغفهةروا‬ ‫ف لعللنيللهه فلقلللالل ا ن‬ ‫ت لوقللل ل‬‫سلللدلم إهلذا فللللرلغ همللنن لدأنفللهن انللميجلل ه‬
‫لو ل‬

‫‪9‬‬
‫سللأ لةل‪) .‬سللنن أبللي دأاودأ ‪:‬‬ ‫هللهخأيةكنم لو ل‬
‫سةلوا للهة هبالتدنثهبي ه‬
‫ت فلإ هندهة انللن ية ن‬
‫ج ‪ / ۹‬ص ‪(٢٤‬‬
‫‪- Menghadiahkan pahala amal kebendaan; hal ini ada dalil yang jelas dari‬‬
‫‪Rasulullah SAW.‬‬
‫سللولل د‬
‫اهلل إهدن‬ ‫س ألدن لرةجال قلللالل يلللا لر ة‬ ‫‪ - ٦٠۵‬لعنن هعنكهرلمةل لعنن انبهن لعدبا س‬
‫أةجمي تةةوفجيلنت ألفليلننفلةعلها إهنن تل ل‬
‫صددنق ة‬
‫ت لعننلها لقالل نللعللنم قلللالل فلللإ هدن لهللي لمنخلرفاللا‬
‫ت بهللهه لعننلهللا‪) .‬سللنن الترمللذي ‪) .‬ج ‪ /۳‬ص‬ ‫صللددنق ة‬ ‫فلأ ة ن‬
‫شأههةدلك ألنجللي قلللند تل ل‬
‫‪(۸۳‬‬
‫‪- Menghadiahkan pahala amal badaniyyah, seperti bacaan al-Qur’an, shalat dan‬‬
‫;‪sebagainya‬‬
‫الشرح الكبير لبن قدامة )ج ‪ / 2‬ص ‪(425‬‬
‫وقد روي عن النبي صألى ا عليلله وسلللم انلله قللال " مللن زار قللبر‬
‫والديه أو أحأدهما فقرأ عنده أو عندهما )يس( غفللر للله " مسللئلة ‪:‬‬
‫)وأي قربة فعلها وجعل ثوابها للميت المسلم نفعه ذلك(‪.‬‬
‫حأاشأية ردأ المحتار )لبن عابدين الحنفى( ‪) -‬ج ‪ / 2‬ص ‪(263‬‬
‫لما وردأ‪ :‬من دأخأل المقابر فقرأ سورة يس خأفف الل عنهللم يومئللذ‪،‬‬
‫وكان له بعددأ من فيها حأسنات‪.‬وفي شأرح اللباب‪ :‬ويقرأ من القللرآن‬
‫ما تيسر له من الفاتحة وأول البقرة إلى "المفلحون" وآية الكرسي‬
‫)البقللرة‪" (522 :‬وآمللن الرسللول" )البقللرة‪ (582 :‬وسللورة يللس‬
‫وتبارك الملك وسورة التكاثر والخألص اثني عشر مللرة أو عشللرا‬
‫أو سبعا أو ثلثا ثم يقول‪ :‬اللهم أوصأل ثواب ما قرأنللاه إلللى فلن أو‬
‫إليهم اهل‪.‬‬
‫‪-‬‬ ‫‪Berdo’a secara berjama’ah, hal ini terdapat tuntunan dari Sabda Nabi‬‬
‫‪SAW.‬‬
‫صأللدلى د‬
‫اةلل‬ ‫اهلل ل‬‫سللولل د‬ ‫ت لر ة‬ ‫ي ‪ ,‬قلللالل ل‬
‫سللهمنع ة‬ ‫سلللمةل انلفهنههر ج‬
‫ب بن لم ن‬ ‫لعنن لحأهبي ه‬
‫ل‬ ‫م‬
‫سلللدلم ‪ ،‬يلةقللوةل ‪ " :‬ل يلنجتلهمللةع لمل فليللندةعو بلنع ة‬
‫ضللةهنم لوةيلللؤجمةن‬ ‫لعللنيللهه لو ل‬
‫اةلل "‪) .‬المعجلم الكللبير للطلبراني ‪ :‬ج ‪ / ٤‬ص‬ ‫سللائأهةرةهنم هإل أللجلابلةهةم د‬
‫ل‬
‫‪(١٢‬‬
‫‪c. Talqin Mayit‬‬
‫‪Sering terjadi perbedan pendapat tentang talqin mayit, apakah dilakukan‬‬
‫‪sebelum seseorang meninggal dunia, atau dilakukan setelah seseorang meninggal‬‬
‫‪atau pada keduanya. Talqin mayit sebelum meninggal tidak terjadi perbedaan‬‬
‫‪pendapat, karena didasarkan hadits Riwayat Muslim, sedangkan talqin mayit‬‬
‫‪setelah meninggal, terdapat perbedaan pendapat.‬‬
‫‪-‬‬ ‫‪Talqin sebelum meninggal, didasarkan pada hadits :‬‬
‫صأحيح مسلم ‪) -‬ج ‪ / 4‬ص ‪(473‬‬

‫‪10‬‬
‫سلللدلم للقجنةللوا‬ ‫صأدلى د‬
‫اة لعللنيللهه لو ل‬ ‫‪ - 1524‬لعنن ألهبي ةهلرنيلرةل لقالل لقالل لر ة‬
‫سوةل د‬
‫اه ل‬
‫لمنولتاةكنم لل إهللهل إهلد د ة‬
‫ا‪-‬‬
‫‪Talqin setelah dikubur, didasarkan pada sebuah hadits riwayat At-‬‬ ‫‪-‬‬
‫‪: Tobrony dalam kitab Al-Mu’jam al-Kabir‬‬
‫ت ألبلللا أةلمالمللةل لوةهلللو هفلي‬ ‫شأللههند ة‬‫ي‪ ،‬قلللالل‪ :‬ل‬ ‫اهلل اللنوهدأ ج‬
‫سللهعيهد بللن لعنبللهد د‬ ‫لعنن ل‬
‫اة‬ ‫صأدلى د‬ ‫اه ل‬ ‫سوةل د‬ ‫ل‬
‫صأنلةعوا هبي لكلما ألملرلنا لر ة‬ ‫ل‬ ‫ل‬
‫ع‪ ،‬فللقالل‪ :‬إهذا ألنا ةمرت‪ ،‬لفا ن‬ ‫الندنز ه‬
‫اةلل لعللنيللهه‬‫صأللدلى د‬ ‫اهلل ل‬ ‫سللوةل د‬ ‫صللنللع بهلمنولتانلللا‪ ،‬أللملرنلللا لر ة‬‫سلللدلم ألنن ن ن‬
‫لعللنيهه لو ل‬
‫ب لعللى قلنبللهرهه‪،‬‬ ‫سدونيتةهم الرتلرا ل‬ ‫ت أللحأمد همنن إهنخألوانهةكنم‪ ،‬فل ل‬ ‫سلدلم‪ ،‬فللقالل‪":‬إهلذا لما ل‬ ‫لو ل‬
‫س قلنبللهرهه‪ ،‬ثةللدم لهيلقةللنل‪ :‬يلللا ةفللن بللن ةفلنللللة‪ ،‬فلللإ هندهة‬ ‫فلنليلقةللنم أللحأللةدةكنم لعللللى لرنأ ه‬
‫سللتلهوي لقاهعللادا‪،‬‬ ‫ب‪ ،‬ثةدم يلةقوةل‪ :‬ليا ةفللن بن ةفلنللة‪ ،‬فلإ هندهة يل ن‬ ‫سلمةعهة لول يةهجي ة‬ ‫يل ن‬
‫اةلل‪ ،‬لوللهكللنن ل‬ ‫شأندلنا لرهحألملك د‬ ‫ل‬
‫ثةدم يلةقوةل‪ :‬ليا ةفللن بن ةفلنللة‪ ،‬فلإ هندهة يلةقوةل‪ :‬أنر ه‬
‫شألهالدأةل ألنن ل إهللهل هإل‬ ‫ت لعللنيهه هملن الردننليا ل‬ ‫شةعةرولن‪ ،‬فلنليلقةنل‪ :‬انذةكنر لما لخألرنج ل‬ ‫تل ن‬
‫سلللهم‬ ‫ت بهللادله لربواللا‪ ،‬لوهباهل ن‬ ‫ضللي ل‬ ‫سولةةه‪ ،‬لوألندلك لر ه‬ ‫ا‪ ،‬لوألدن ةملحدمادا لعنبةدهة لولر ة‬ ‫دة‬
‫هدأيانا‪ ،‬لوبهةملحدمسد نلبه وايا‪ ،‬لوهبانلقةنرآهن إهلمااما‪ ،‬فلللإ هدن ةمننلكللارا لونلهكيللارا يلأنةخأللةذ لواهحأللمد‬
‫ق بنللا لمللا نلنقةعللةد هعننلللد لمللنن قلللند لةقجلللن‬ ‫صأللاهحأبههه‪ ،‬لويلقةللوةل‪ :‬اننطللهلل ن‬ ‫همننةهنما بهيلهد ل‬
‫اهلل‪ ،‬فلللإ هنن‬‫سولل د‬ ‫اة لحأهجيلجهة ةدأونلةهلما"‪ ،‬فللقالل لرةجمل‪ :‬ليا لر ة‬ ‫ةحأدجتلةه‪ ،‬فليلةكوةن د‬
‫سللبةهة إهللللى لحأللدوالء‪ ،‬يلللا ةفللن بللن لحأللدوالء"‪.‬‬ ‫فّ أةدمللةه؟ُ قلللالل‪":‬فليلنن ة‬
‫للللنم يلنعللهر ن‬
‫) المعجم الكبير للطبراني ‪ :‬ج ‪ / 7‬ص ‪(286‬‬
‫‪d. Shalat Hajat dan Shakat Tasbih‬‬
‫‪Shakat hajat adalah shalat yang dilakukan ketika seseorang menginginkan‬‬
‫‪mendapatkan sesuatu keberhasilah. Pada umumnya warga nahdliyyin‬‬
‫‪mengamalkan shalat ini, baik dilakukan pada siang hari maupun malam hari.‬‬
‫‪Siapapun tidak perlu ragu untuk menjalankan shalat hajat, karena dalilnya jelas.‬‬
‫‪Adapun tentang kaifiyyah, tidak selengkapnya dijelaskan oleh beliau Rasulullah‬‬
‫‪SAW. tidak sebagaimana penjelasan beliau tentang shalat tasbih.‬‬
‫‪-‬‬ ‫‪Hadits tentang shalat hajat :‬‬
‫ي لحأللددثللنا لعنبللةد د‬
‫اهلل‬ ‫سى نبهن يلهزيلد انلبلنغلداهدأ ر‬ ‫‪ - ٤٤١‬لحأددثللنا لعلهري نبةن هعي ل‬
‫اهلل نبللهن بلنكللسر‬‫اه نبةن ةمهنيسر لعنن لعنبهد د‬ ‫سنههمري و لحأددثللنا لعنبةد د‬ ‫نبةن بلنكسر ال د‬
‫اهلل نبللهن ألبهللي ألنوفلللى قلللالل قلللالل‬ ‫لعنن لفائأههد نبهن لعنبهد الدرنحألمهن لعنن لعنبهد د‬
‫اهلل لحأالجللةم ألنو‬ ‫سلدلم لمنن لكانلنت للللهة إهللللى د‬ ‫اة لعللنيهه لو ل‬ ‫صأدلى د‬ ‫اه ل‬ ‫سوةل د‬ ‫لر ة‬
‫صللجل‬‫ضللولء ثةللدم لهية ل‬‫سللنن انلةو ة‬ ‫ن‬
‫ضللأ فلنليةنح ه‬ ‫إهللللى أللحأللسد همللنن بلنهللي آلدألم فلنليلتللو د‬
‫اةلل لعللنيللهه‬‫صأللدلى د‬‫صللجل لعللللى الندبهللجي ل‬ ‫اهلل لونلية ل‬‫لرنكلعتلنيهن ثةدم لهيةنثهن لعللللى د‬
‫ش‬‫اه لرجب انللعنر ه‬ ‫سنبلحالن د‬ ‫اة انللحهليةم انللكهريةم ة‬ ‫سلدلم ثةدم لهيلقةنل لل إهللهل إهدل د‬‫لو ل‬
‫ت لرنحألمتهلللك لولعلزائأهلللم‬‫سأ للةلك ةموهجبلللا ه‬ ‫ب انللعاللهميلن أل ن‬ ‫انللعهظيهم انللحنمةد هدله لر ج‬
‫سلللمةل همنن ةكجل إهنثسم لل تللدنع هلي لذننابا‬ ‫لمنغفهلرتهلك لوانللغهنيلمةل همنن ةكجل بهير لوال د‬
‫ضللنيتللها‬ ‫ضا إهدل قل ل‬‫إهدل لغفلنرتلهة لولل له واما إهدل فلدرنجتلهة لولل لحأالجةا ههلي لللك هر ا‬
‫ليا ألنرلحألم الدراهحأهميلن‪) .‬سنن الترمذي ‪ :‬ج ‪ / 2‬ص ‪(296‬‬

‫‪11‬‬
‫‪-‬‬ ‫‪Hadits tentang shalat hajat :‬‬
‫اةلل لعللنيللهه‬ ‫صأللدلى د‬ ‫اهلل ل‬ ‫سللولل د‬ ‫س ألدن لر ة‬ ‫‪ - ١١۵‬لعنن هعنكهرلمةل لعنن انبهن لعدبا س‬
‫س يلللا لعدمللاهة أللل أةنعهطيلللك أللل‬ ‫ب ليا لعدبا ة‬ ‫س نبهن لعنبهد انلةمطدله ه‬ ‫سلدلم لقالل لهنللعدبا ه‬ ‫لو ل‬
‫ت لذلهلللك لغفللللر‬ ‫ت فللعنللل ل‬‫صاسل إهلذا ألننلل ل‬ ‫شلر هخأ ل‬ ‫ألنمنلةحلك أللل ألنحأةبولك أللل ألنفلعةل بهلك لع ن‬
‫صأللهغيلرهة‬ ‫طللأ لهة لولعنملللدهة ل‬ ‫اةلل لللللك لذننبللللك ألدوللللهة لوآهخألللرهة قلللهديلمهة لولحأللهديثلهة لخأ ل‬ ‫د‬
‫ت تلنقلرأة هفللي‬ ‫صلجلي ألنربللع لرلكلعا س‬ ‫صاسل ألنن تة ل‬ ‫شلر هخأ ل‬ ‫سدرهة لولعللنهيلتلهة لع ن‬ ‫لولكهبيلرهة ه‬
‫ت همللنن انلقهلللرالءهة فهللي ألدوهل‬ ‫سللولرةا فلللإ هلذا فللرنغلل ل‬‫ب لو ة‬ ‫ةكجل لرنكلعسة لفاتهلحللةل انلهكتلللا ه‬
‫اة ألنكبلةر‬ ‫اة لو د‬ ‫اه لوانللحنمةد هدله لولل إهللهل إهلد د‬ ‫سنبلحالن د‬ ‫ت ة‬ ‫ت لقائأهمم قةنل ل‬ ‫لرنكلعسة لوألنن ل‬
‫شللارا ثةللدم تلنرفلللةع‬ ‫ت لراهكللمع لع ن‬ ‫شلرةل لمللدرةا ثةللدم تلنرلكللةع فلتلةقولةلهللا لوألننلل ل‬ ‫س لع ن‬ ‫لخأنم ل‬
‫ت‬ ‫سللاهجادا فلتلةقولةلهللا لوألننلل ل‬ ‫شللارا ثةللدم تلنهللهوي ل‬ ‫ع فلتلةقولةلها لع ن‬ ‫سلك همنن الررةكو ه‬ ‫لرنأ ل‬
‫سللةجةد‬ ‫شللارا ثةللدم تل ن‬ ‫سللةجوهدأ فلتلةقولةلهللا لع ن‬ ‫سلك همنن ال ر‬ ‫شارا ثةدم تلنرفلةع لرنأ ل‬ ‫ساهجمد لع ن‬ ‫ل‬
‫سللنبةعولن‬ ‫س لو ل‬ ‫شارا فللذلهلك لخأنملل م‬ ‫سلك فلتلةقولةلها لع ن‬ ‫شارا ثةدم تلنرفلةع لرنأ ل‬ ‫فلتلةقولةلها لع ن‬
‫صلللجيللها فهللي‬ ‫ت ألنن تة ل‬ ‫ستلطلنع ل‬ ‫ت إهنن ا ن‬ ‫هفي ةكجل لرنكلعسة تلنفلعةل لذلهلك هفي ألنربلهع لرلكلعا س‬
‫ةكجل يلنوسم لمدرةا لفانفلعنل فلإ هنن للنم تلنفلعنل فلهفي ةكجل ةجةملعسة لمدرةا فلإ هنن للنم تلنفلعنل فلفهللي‬
‫سنلسة لمدرةا فلإ هنن للنم تلنفلعنل فلهفي ةعةمهرلك‬ ‫شأنهسر لمدرةا فلإ هنن للنم تلنفلعنل فلهفي ةكجل ل‬ ‫ةكجل ل‬
‫لمدراة‪) .‬سنن أبي دأاودأ ‪ :‬ج ‪ / 4‬ص ‪(59‬‬
‫‪e. Ziarah Qubur, Tawassul dan Tabarruk‬‬
‫‪Tawassul adalah memohon kepada Allah SWT, dengan menyebutkan seseorang‬‬
‫‪yang dipandang mempunyai kedekatan dengan-Nya atau menyebutkan sesuatu‬‬
‫‪amal kebajikan, yang diyakini, bahwa amal tersebut diridlai oleh-Nya. Sedangkan‬‬
‫‪tabarruk adalah memohon kepada Allah dengan berharap, bahwa Allah‬‬
‫‪melimpahkan barokah-Nya kepada pemohon, sebagaimana Allah telah memberian‬‬
‫‪barokah terhadap benda-benda tertentu atau kalimat-kalimat tertentu.‬‬
‫‪-‬‬ ‫‪Tawassul dan Ziarah Qubur‬‬
‫‪Amaliyah tawassul didasarkan kepada hadits Riwayat sayyidina Umar bin‬‬
‫‪Khotthob RA :‬‬

‫س نبللهن لمالهللسك ألدن ةعلملللر‬ ‫س لعنن ألنل ه‬ ‫اه نبهن ألنل س‬ ‫‪ - 954‬لعنن ثةلمالمةل نبهن لعنبهد د‬
‫س نبللهن‬ ‫سلللقى هبانللعبدللا ه‬ ‫ستل ن‬ ‫اة لعننهة لكللالن إهلذا قللحطةللوا ا ن‬ ‫ضلي د‬ ‫ب لر ه‬ ‫طا ه‬ ‫نبلن انللخ د‬
‫سللهقيلنا لوإهندللا‬‫سللةل إهللنيلللك بهنلبهيجنلللا فلتل ن‬
‫ب فلقلللالل اللدةهللدم إهندللا ةكندللا نلتللو د‬‫لعنبهد انلةمطدلهلل ه‬
‫سللقلنولن‪ ).‬صأللحيح البخللاري ‪ :‬ج‬ ‫سللقهلنا قلللالل فلية ن‬‫سةل إهللنيلك بهلعجم نلبهيجلنا لفا ن‬
‫نلتللو د‬
‫‪ / 4‬ص ‪(99‬‬
‫سلللدلم‬ ‫اة لعللنيللهه لو ل‬ ‫صأدلى د‬ ‫سندةل هفي هزليالرهة انلقةةبوهر ؛ لوقلند لكالن الندبهري ل‬ ‫يةبليجلن ال ر‬
‫صلللةة‬ ‫نللهى لعللنن هزيلللالرهة انلقةبةللوهر ‪ ،‬ثةللدم أللبالحألهللا بلنعلللد لذلهلللك فلقلللالل لعللنيللهه ال د‬
‫سلةم ‪ " :‬ةكننت نللهنيتةةكنم لعللنن هزيلللالرهة انلقةبةللوهر لأل فلةزوةرولهللا " لوفهللي‬ ‫لوال د‬
‫سللللةم‬ ‫صلللةة لوال د‬ ‫ت " فللجلعلل لعللنيللهه ال د‬ ‫ة‬
‫هرلوايلسة أنخألرى " فلإ هندلها تةلذجكةر انللمنو ل‬
‫سللللةم لعللنيةكللنم‬ ‫ت ‪ .‬لو ألنن يلقةللولل ‪ " :‬ال د‬ ‫لفائأهلدةل هزليالرهة انلقةبةللوهر تلللنذهكلرةل انللمللنو ه‬

‫‪12‬‬
‫ت‬
‫سلللهلما ه‬ ‫سلللههميلن ‪ ،‬لوانلةم ن‬ ‫ت ‪ ،‬لوانلةم ن‬ ‫ألنهلل الجدلياهر همنن انلةمنؤهمهنيلن ‪ ،‬لوانلةمنؤهمنلللا ه‬
‫اةلل بهةكللنم‬‫شأللالء د‬‫سللتلأنهخأهريلن لوإهندللا إنن ل‬‫سللتلنقهدهميلن همندللا ‪ ،‬لوانلةم ن‬
‫اةلل انلةم ن‬
‫لرهحألللم د‬
‫ال لللنا لوللةكنم انللعافهيلةل " ثةللدم يلقةللوةل ‪ " :‬اللدةهللدم انغفهللنر للنلللا‬ ‫سأ لةل د‬ ‫للهحأةقولن أل ن‬
‫صوةدأ النجتهلهاةدأ للةهنم فهللي‬ ‫سمع ‪ ،‬لوانللمنق ة‬ ‫ت فللوا ه‬ ‫ص ل‬‫ت ‪ ،‬ألنو نلقل ن‬‫لوللةهنم " لولما هزندأ ل‬
‫س فهللي‬ ‫ع ألنعلمالهههنم ‪ ،‬ثةدم يلنجلهلل ة‬ ‫س لهلذلهلك هلننقه ل‬
‫طا ه‬ ‫الردلعاهء ‪ ،‬فلإ هندةهنم ألنحألوةج الدنا ه‬
‫ستلنقبهلةهة بهلونجهههه‪ .‬المدخأل ‪) -‬ج ‪ / 1‬ص ‪(386‬‬ ‫ت لويل ن‬ ‫قهنبللهة انللميج ه‬
‫‪- Tabarruk‬‬

‫قال مالك‪ :‬ل بأس بتعليق الكتب التى فيها أسماء ا عز وجل على‬
‫أعناق المرضى على وجه التللبرك بهللا إذا لللم يللردأ معلقهللا بتعليقهللا‬
‫مدافعة العين‪) .‬تفسير القرطبي ‪) -‬ج ‪ / 10‬ص ‪(319‬‬
‫”‪- Membaca shalawat dengan “sayyidina‬‬
‫‪Membaca shalawat dengan menggunakan “sayyidina” bukanlah sesuatu yang‬‬
‫‪salah, karena Rasulullah sendiri mengatakan “Ana Sayyidu Waladi Adama”,‬‬
‫‪sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Muslim :‬‬
‫سلللدلم ألنلللا‬ ‫صأللدلى د‬
‫اةلل لعللنيللهه لو ل‬ ‫سللوةل د‬
‫اهلل ل‬ ‫‪ -٤٢٢۳‬عن لأبى ةهلرنيلرةل لقالل لقالل لر ة‬
‫شألافهسع لوألدوةل‬ ‫ق لعننلهة انلقلنبلةر لوألدوةل ل‬ ‫شل ر‬ ‫سيجةد لوللهد آلدألم يلنولم انلقهليالمهة لوألدوةل لملنن يلنن ل‬
‫ل‬
‫شفدسع‪) .‬صأحيح مسلم ‪ :‬ج ‪ / 11‬ص ‪(383‬‬ ‫ةم ل‬
‫ق قلنومه هفي انللخنير ‪ ،‬لولقالل لغنيللره ‪ :‬ةهلللو‬ ‫سجيد ةهلو الدهذي يلةفو ة‬ ‫ي ‪ :‬ال د‬ ‫لقالل انللهلرهو ر‬
‫شلداهئأد ‪ ،‬فليلقةللوةم بهللأ لنمهرههنم ‪ ،‬لويلتللحدمللةل لعننةهللنم‬‫ع إهللنيهه هفي الندلواهئأب لوال د‬ ‫الدهذي يةنفلز ة‬
‫سلللدلم ‪ ) :‬يلللنوم‬ ‫الل لعللنيللهه لو ل‬‫صأللدلى د‬‫لملكاهرههنم ‪ ،‬لويلندفلةعلها لعننةهنم ‪ .‬لوألدمللا قلللنوله ل‬
‫ب التدنقيهيللد ألدن فهللي يلللنوم‬ ‫سجيدهنم هفي الردننليا لوانلهخألرة ‪ ،‬فل ل‬
‫سللبل ة‬ ‫انلقهليالمة ( لملع ألندهة ل‬
‫سنؤةدأدأه لهةكجل أللحأسد ‪ ،‬لولل يلنبلقى ةملناهزع ‪ ،‬لولل ةملعانهللد ‪ ،‬لونلنحللوه ‪،‬‬ ‫انلقهليالمة يلنظلهةر ة‬
‫شللهرهكيلن‪.‬‬ ‫فّ الردننليا فلقلللند نلللالزلعهة لذهلللك هفيلهللا ةملةللوةك انلةكفدللار لوةزلعلمللاء انلةم ن‬ ‫بههخلل ه‬
‫)شأرح النووي على مسلم ‪ :‬ج ‪ / 7‬ص ‪(473‬‬

‫‪-‬‬ ‫‪Membaca “Kabiraw” dalam do’a iftitah‬‬


‫اة لعللنيهه ‪۹ ٤۳ -‬‬ ‫صأدلى د‬ ‫اه ل‬ ‫سوهل د‬ ‫صجلي لملع لر ة‬ ‫لعنن انبهن ةعلملر لقالل بلنينللما نلنحةن نة ل‬
‫سنبلحالن د‬
‫اه بةنكلرةا‬ ‫سلدلم إهنذ لقالل لرةجمل همنن انلقلنوهم د‬
‫اة ألنكبلةر لكهبيارا لوانللحنمةد هدله لكهثيارا لو ة‬ ‫لو ل‬
‫سلدلم لمنن انللقائأهةل لكلهلمةل لكلذا لولكلذا لقالل‬ ‫صأدلى د‬
‫اة لعللنيهه لو ل‬ ‫سوةل د‬
‫اه ل‬ ‫صأيال فللقالل لر ة‬ ‫لوأل ه‬
‫سلماهء‪ .‬لقالل‬ ‫ب ال د‬ ‫ت لللها فةتهلحنت لللها ألنبلوا ة‬ ‫اه لقالل لعهجنب ة‬
‫سولل د‬‫لرةجمل همنن انلقلنوهم أللنا ليا لر ة‬

‫‪13‬‬
).‫سلدلم يلةقوةل لذلهلك‬ ‫صأدلى د‬
‫اة لعللنيهه لو ل‬ ‫سولل د‬
‫اه ل‬ ‫ت لر ة‬ ‫انبةن ةعلملر فللما تللرنكتةةهدن ةمننةذ ل‬
‫سهمنع ة‬
(267 ‫ ص‬/ 3 ‫ ج‬: ‫صأحيح مسلم‬

2.6 Pengertian dari Budaya


Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanksekerta yaitu buddayah,
yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-
hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris,
kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata latin Colere, yaitu mengolah
atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata
culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh
sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi kegenerasi. Budaya
terbentuk dari banyak unsur yang rumit, sistem agama, dan politik adat istiadat,
bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga
budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga cenderung
menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seorang berusaha
berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan
perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks,
abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.
Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial
manusia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Budaya adalah sesuatu yang
sudah menjadi kebiasaan dan sukar untuk dirubah.

2.7 Pengertian NU
Nahdlatul Ulama’ secara etimologis mempunyai arti “Kebangkitan
Ulama’” atau “Bangkitnya para Ulama’”, sebuah organisasi yang didirikan
sebagai tempat terhimpun seluruh Ulama’ dan umat Islam. Sedangkan menurut
istilah, Nahdlatul Ulama’ adalah Jam’iyyah Diniyah yang berhaluan Ahlussunnah
Wal Jama’ah yanh didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 H atau bertepatan pada
tanggal 31 Januari 1926 M di Surabaya yang bergerak dibidang ekonomi,
pendidikan, dan sosial.

14
NU didirikan atas dasar kesadaran dan keinsyafan bahwa setiap manusia
hanya dapat memenuhi kebutuhannya bila bersedia hidup bermasyarakat.
Sikap kemasyarakatan yang ditumbuhkan oleh NU adalah :
a) At-Tawasuth dan I’tidal, yaitu sikap tengah dengan inti keadilan dalam
kehidupan.
b) At-Tasamuh, yaitu toleran dalam perbedaan, toleran dalam urusan
kemasyarakatan dan kebudayaan.
c) At-Tawazun, yaitu keseimbangan beribadah kepada Allah swt dan
berkhidmah kepada sesama manusia serta keselarasan masa lalu, masa
kini, dan masa depan.
d) Amar Ma’ruf Nahi Munkar, yaitu mendorong perbuatan baik dan
mencegah hal-hal yang merendahkan nilai-nilai kehidupan (mencegah
kemungkaran)

2.8 Latar Belakang Budaya dalam NU


Mayoritas umat Islam Indonesia, bahkan di dunia adalah penganut Aliran
Ahlussunnah Wal Jamaah. Ajaran-ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah begitu berakar
dan membumi dalam tradisi, budaya, dan kehidupan keseharian masyarakat
muslim Indonesia. Memang ajaran-ajaran Aswaja bisa terwujud dalam manifestasi
yang beragam diberbagai belahan dunia Islam karena cara hidup, kebiasaan, dan
adat istiadat masing-masing kawasan dunia Islam yang berbeda. Namun, ada
benang merah yang menyatukan semua adat-adat yang berbeda itu. Ajaran Aswaja
selalu menjiwai berbagai tradisi-tradisi tersebut. Pasti ada ajaran-ajaran Aswaja
yang menjadi substansi dan penggeraknya. Bagi para Ulama’ dan kalangan
terpelajar akan dengan mudah menangkap ajaran-ajaran dibalik tradisi-tradisi
keagamaan yang berbeda-beda tersebut. Namun, bagi sebagian kalangan awam
mungkin agak sulit, mereka lebih memahami praktek dari pada aspek
bathiniyyahnya. Dari sinilah timbul kesalah pahaman terhadap sebagian tradisi-
tradisi keagammaan yang ada.
Selama ini kita maklum, bahwa sebelum hadirnya dakwah Islam yang
diusung para wali (walisongo), masyarakta Jawa adalah pemeluk taat agama

15
Hindu dan juga pelaku budaya Jawa yang kental dengan nuansa Hinduisme
sampai sekarang masih di-ugemi (pedomani) sebagian masayarakat Indonesia.
Mengikis budaya yang tidak sejalan dengan ajaran agama dan sudah mengakar
kuat, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan yang ekstra
keras tentunya. Sebagian dari mereka memilih jalan dakwah dengan langsung
mengajarkan dan menerapkan syari’at Islam kepada masyarakat. Budaya dan
praktek syirik yang tak sejalan dengan syari’at Islam langsung dibabat habis. Dan
ada pula yang menggunakan pendekatan sosial budaya dengan cara yang lebih
halus: dengan cara mengalir mengikuti tradisi masuarakat tanpa harus terhanyut.
Perbedaan jalan dakwah seperti itu tidak perlu diperdebatkan karena semuanya
muncul dari cita-cita luhur mengislamkan masyarakat yang masih memeluk
agama nenek moyang yang sarat dengan syirik, kufur, dan penuh nuansa takhayul
dan khurafat.
Menurut cerita sejarah, budaya mengadakan kenduri atau selametan
kematian yang juga merupakan budaya mereka tidak serta merta beliau hapus.
Budaya selametan yang semula dipenuhi dengan ajaran kufur, wadahnya
dibiarkan, tetapi isinnya yang sarat dengan kekufuran dan cid’ah diganti dengan
ajaran yang bernuansa Islami, atau minimal jauh dari kemusyrikan.
Mengenai tuduhan tasyabbuh (menyerupai) dengan orang kafir dalam
budaya lokal dilestarikan walisongo tersebut, tentu dengan mudah kami dapat
mendebat. Upacara ala Hindu dalam selametan hari kematian, misalnya, seperti
hari ke-7, ke-40, ke-100 dan lain-lain sama sekali telah diganti dengan sedekah
karena Allah, membava Al-Qur.an, shalawat, dzikir, dan do’a.

2.9 Budaya NU di Indonesia


Berikut ini Tradisi yang ada di Indonesia
a) Tahlilan
Tahlil itu berasal dari kata hallala, yuhallilu, tahlilan, artinya membaca
kalimat La Ilaha Illallah.Tahlil berarti rangkaian acara yang terdiri dari
membaca beberapa ayat dan surat dari al-Qur’an seperti al-khlas, al-Falaq, an-
Naas, ayat kursi, awal dan ahir surat al-Baqarah, membaca dzikir-dzikir seperti

16
tahlil, tasbih, tahmid, shalawat dan semacamnya, kemudian diakhiri dengan
do’a dan hidangan makan. Semua rangkain acara ini dilakukan secara
berjama’ah dengan suara yang keras. Hukum tahlil adalah boleh dalam syari’at
Islam, karena semua acara yang ada dalam rangkaian tahlil boleh dilakukan
dan tidak satupun yang terlaranng. Adapun dalam HR. Ahmad: Nabi
Muhammad saw. menyuruh sahabat untuk memperbaiki iman dengan
memperbanyaklah mengucapkan La Ilaha Illallah.
b) Membaca Istighfar
Dari HR. Al-Hakim dan Baihaqi bahwa pahala bagi orang yang
memperbanyak istighfar adalah Allah menjadikan untuknya kebahagiaan dari
setiap kesusahan, menjadikan jalan keluar dari setiap kesempitan dan
memberikan rizki dari Allah yang tak terduga.
c) Berzanzi, Diba’an, Burdahan dan manaqiban
Kalau kita melihat lirik sya’ir maupun prosa yang terdapat dalam kitab al-
Barzanji seratus persen isinya memuat biografi, sejarah hidup, dan kehidupan
Rasulullah. Demikian pula yang ada didalam kitab Diba’ dan Burdah. Kitab ini
yang berlaku bagi orang-orang NU dalam melakukan ritual Mauludiyyah atau
menyambut kelahiran Rasulullah. Yang satunya khusus puji-pujian untuk
Sulthanul Auliya, Syaikh Abdul Qodir al-Jilany. Akan tetai, dalam praktiknya,
al-Barzanji, ad-Diba’i, kasidah Burdah dan Manaqib (Syaikh Abdul Qadir
Jilany) sering dibaca ketika ada hajat anak lahir, hajat menantu, khitanan,
tingkeban, masalah yang sulit terpecahkan, musibah yang berlarut-larut, dan
lain-lain. Yang tak ada maksud lain mohon berkah Rasulullah akan terkabul
semua yang dihajatkan.
Umumnya, acara berzanji/Diba’an/Burdahan/Manaqiban dilakukan pada
malam hari sehabis shalat isay’. Akan tetapi, banyak juga warga NU yang
mempunyai tradisi kalau acara anak lahir disore hari, habis shalat ashar, dan
bahkan ada berzanjen di siang bolong
d) Suwuk atau Mantra
e) Tawassul
Tawassul itu artinya perantaraan. Kalau kita tak sanggup menghadap
langsung, kita perlu seorang perantara.

17
f) Tabarruk, yaitu mengharap berkah
Dari HR. Bukhari, contoh bahwa seorang sahabat ingin mengaharap berkah
dengan meminta burdah yaitu selimut yang dibordir bagian tepinnya.
g) Membaca shalawat
Dari HR. At-Tirmidzi dan dishahihkan Ibn Hibban bahwa keutamaan atau
pahala bagi orang yang bershalawat adalah akan bersama nabi Muhammad di
hari kiamat.
h) Membaca ayat ahir al-BaqarahPerintah untuk mengajar dan belajar 2 ayat ahir
surat al-Baqarah kepada istri-istri dan anak-anakmu, bahwa sesungguhnya ayat
itu adalah shalat (rahmat) Qur’an dan doa.
i) Mencium Tangan Orang Shalih
Mencium tangan orang shaleh, penguasa yang bertakwa dan orang kaya
yang saleh adalah perkara yang mustahabb (sunah) yang disukai Allah,
berdasarkan hadist-hadist nabi atsar para sahabat. Teknik mencium tangan
tidak boleh melebihi posisi orang yang sedang rukuk.
j) Dzikir berjama’ah
Dari HR. Muslim bahwa orang yang apabila berdzikir berjama’ah akan
dikerumuni oleh malaikat, diliputi rahmat dan ketentraman, dan Allah akan
menyebut-menyebut mereka kepada para malaikat disisinya.
k) Membaca surat al-Ikhlas itu setara dengan membaca sepertiga al-Qur’an.
l) Membaca tasbih dan tahmid
Bahwa 2 kalimat yang ringan dilisan, yang (namun) berat di mizan, yang
membuat senang ar-Rahman adalah lafadz atau membaca “subhanallahi
wabihamdihi subhanallahil ‘adzim”(HR. Bukhari dan Muslim). Dan apabila
membaca sebanyak 100 kali maka akan dihapuskan kesalahan-kesalahannya
meskipun sebanyak buih lautan.
m) Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Seorang nabi yang diutus oleh
Allah dengan membaca sebagian ayat al-Qur’an dan menyebutkan sebagian
sifat-sifat nabi yang mulia, ini adalah perkara yang penuh berkah dan
kebaikan yang agung, jika memang perayaan tersebut terhindar dari bid’ah
sayyiah yang dicela oleh syara’.

18
n) Istighasat dan Mujahadah
Istighasah artinya meminta pertolongan. Mujahadah artinya mencurahkan
segala kemampuan untuk mencapai sesuatu. Istighasah dan mujahadah bagi
umat Islam sudah ada sejak nabi ketika dia menghadapi perang Badar, juga
musibah dan bencana lainnya.
o) Mengeraskan suara ketika berdzikir
p) Ziarah kubur,
q) Dan lain-lain.
Berikut ini Budaya yang ada di Indonesia.
- Budaya melumuri bayi dengan minyak Za’faran saat aqiqah pada hari ketujuh
dan mencukur rambut bayi
- Mengadakan Haflah (resepsi) pernikahan, memainkan musik, dan menghias
pengantin
- Penyerahan Pengantin, baik pria atau wanita, dengan nasehat-nasehat yang
baik
- Melamar wanita untuk dinikahi
- Menyerahkan mahar nikah
- Puasa Asyura penghitungan kalender Masehi, dan lain-lain.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Latar belakang yang membuat tradisi dan budaya di Indonesia adalah berasal
dari Hindu-Budha yang ada sejak dahulu dari budaya Jawa. Tradisi dan budaya
yang ada di Indonesia yaitu: tahlilan, membaca shalawat, suwuk atau mantra,
acara tujuh bulanan, dan lain-lain. Menurut pandangan NU bahwa tradisi dan
budaya yang ada adalah bid’ah Hasanah yaitu sesuatu yang baik. Mudah-mudahan

19
makalah yang saya buat bermanfaat bagi pembaca dan apabila ada salah kata
maupun tulisan yang kurang berkenan saya haturkan mohon maaf.

20
DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, Abu. 2011. Argumen Ahlussunnah Wal Jama’ah. Tangerang Selatan:


Pustaka Ta’awun.

Anwar, Ali. 2004. “ADVONTURISME” NU. Bandung: Humaniora Utama Press


(HUP).

Departement Pendidikan Indonesia. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia.


Jakarta: Balai Pustaka.

Fattah, Munawir Abdul. 2006. Tradisi orang-orang NU. Yogyakarta: PT. LkiS
Pelangi Aksara.

Hanafi, Hasan. 2004. Islamologi 2 dari Rasionalisme ke Empirisme. Yogyakarta:


LkiS Yogyakarta.

Marzuqi, A. Idris. 2011. Dalil-Dalil Aqidah dan Amaliyah Nahdliyyah. Lirboyo:


Tim Kodifikasi LBM PPL.

Muhammad, Nurhidayat. 2012. Lebih Dalam Tentang NU. Surabaya: Bina


Aswaja.

Anda mungkin juga menyukai