Anda di halaman 1dari 2

Pilar Penegak Civil Society

Pilar penegak Civil Siciety merupakan institusi-institusi yang berfungsi untuk mengkritisi kebijakan-
kebijakan penguasa diskriminatif dan menampung aspirasi masyarakat yang tertindas.
Adapun Pilar Penegak Civil Society antar lain:
1. Lembaga Swadaya Masyarakat
Merupakan institusi sosial yang bertugas membantu dan memperjuangkan aspirasi
masyakat yang tertindas.
2. Pers
Merupakan institusi yang menjadi bagian dari social control yang berfungsi dalam
penegakan civil society, dan menganalisa dan mempublikasikan kebijakan pemerintah
3. Supremasi Hukum
Institusi sosial yang memberikan jaminan dan perlindungan terhadap penindasan individu d
kelompok yang melanggar norma hukum, dan pelanggaran HAM
4. Perguruan Tinggi
Merupakan institusi yang bergerak pada jalur moral force dalam penyampaian aspirasi
masyarakat dan mengkritisi kebijakan pemerintah melalui mahasiswa. Selain itu Perguruan
Tinggi juga mempunyai 3 peran penting, yaitu:
a. Pemihakan yang tegas pada prinsip egalitarianisme yang menjadi dasar kehidupan
politik yang demokratis
b. Membangun Political safety net yang mampu memberikn pencerahan kepada
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan mereka terhadap informasi
c. Melakukan tekanan terhadap ketidakadilan dengan cara-cara yang santun, saling
menghormati, dan demokratis
5. Partai Politik
Merupakan wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi politiknya

Civil Society dan Demokratisasi


Dalam civil society, warga negara bekerja sama dalam membangun ikatan sosial, jaringan
produktif, dan solidaritas untuk mencapai kebaikan bersama.
Civil Society juga dipahamai sebagai sebuah tatanan kehidupan masyarakat atas prinsip dasar
yaitu saling menghormati.
Hubungan antara civil society dengan demokrasi menurut Dawam, demokrasi dapat ditegakkan
dengan baik civil society akan berkembang, karena demokrasi tidak hanya soal pemilu, namun
demokrasi juga soal civil society.
Secara sistematis ada 6 kontribusi civil society menurut Larry Diamond, yaitu:
a. Menyediakan wahana sumber daya politik, ekonomi, kebudayaan dan moral untuk
mengawasi dan menjaga keseimbangan pejabat negara
b. Menjadi dasar yang penting dalam persaingan demokratis
c. Memperkaya partisipasi politik dan meningkatkan kesadaran kewarganegaraan
d. Ikut menjaga stabilitas negara
e. Tempat menggembleng partai politik
f. Menghalangi dominasi rezim yang bersifat otoriter dan mempercepat runtuhnya rezim
Untuk menciptakan civil society yang kuat perlu adanya strategi penguatan yang bertujuan untuk
pembentukan negara yang demokratis, partisipatoris, reflektif, dan dewasa agar mampu menjadi
penyeimbang dan kontrol atas kecendrungan agresif negara. Sehingga warga negara menyadari
bahwa warga negara mempunyai kedaulatan dan hak untuk mengontrol pelaksanaan kekuasaan
yang mengatas namakan rakyat..
Namun, pada dasarnya, proses penegakkan demokrasi, tidak hanya bertolak pada penguatan civil
society. Karena civil society bersifat komplementer dari berbagai strategi demokrasi yang sudah
berkembang. Sehinggan civil society dapat dikatakan sebagai strategi yang berporos pada lapisan
“bawah” dengan bentuk penguatan dan pemberdayaan masyarakat. Jadi, dengan demikian,
demokratisasi dalam civil society, tidak hanya dimaknai sebagai posisi diametral, melainkan
bergantung pada situasi dan kondisinya
Civil society juga dipahami sebagai format kehidupan yang mengedepankan semangat demokrasi
dan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia.

Mungkinkah Civil Society berkembang di Indonesia?

Civil society berkembang di Indonesia dawali dengan kasus-kasus pelanggaran HAM yang sejak
zaman Orde Lama sudah terjadi manipulasi peran serta masyarakat dalam politik yang
mengakibatkan yang dilakukan masyarakat dicurigai sebagai kontra-revolusi. Sampai masa Orde
Baru pun juga pelanggaran HAM masih terjadi seperti kasus pembredelan lembaga pers, selain itu
banyak terjadi pengambilalihan hak tanah rakyat dengan alasan pembangunan.
Melihat hal-hal tersebut, maka secara esensial Indonesia memang membutuhkan pemberdayaan
agar masyarakat menyadari bahwa mereka juga mampu menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
Untuk itulah diperlukan civil society agar prosesnya dapat tercapai secara optimal.
Menurut Dawan ada tiga strategi dalam pemberdayaan civil society di Indonesia
1. Strategi yang lebih mementingkan integrasi nasional dan politik
Strategi ini berpandangan bahwa sistem demokrasi tidak berlangsung pada masyarakat yang
belum memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara yang kuat.
2. Strategi yang lebih mengutamakan reformasi sistem politik demokrasi
Strategi ini berpandangan bahwa untuk membangun demokrasi tidak usah menunggu
rapuhnya tahap pembangunan ekonomi.
3. Strategi memilih membangun civil society sebagai basis yang kuat kearah demokratisasi
Strategi ini muncul akibat kekecewaan terhadap realisasi strategi pertama dan kedua
Untuk pemberdayaan dari ketiga strategi tersebut maka diperluka keterlibatan kaum cendekiawan
agar pemberdayaan tersebut dapat dipahami, sehingga target prioritas-prioritas tersebut dapat
tercapai melalui pendekatan-pendekatan yang tepat dalam proses tersebut.