Anda di halaman 1dari 19

Visus Turun dalam Hubungannya dengan

Kelainan Refraksi Mata


Afifah Nur Utami
102013448 / C1
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: utami.afifah@gmail.com

Pendahuluan
Setiap orang mempunyai pengindera yang sangat penting perannya dalam menjalani
kegiatan sehari-hari. Salah satu alat pengindera yang penting adalah penglihatan yakni mata.
Mata merupakan organ fotosensoris yaitu organ yang menerima rangsangan cahaya. Cahaya
masuk melintasi kornea, lensa, dan beberapa struktur refraksi di dalam orbita. Cahaya
kemudian difokuskan oleh lensa ke bagian saraf mata yang sensitif terhadap cahaya yaitu
retina. Retina mengandung sel-sel batang dan kerucut yang akan mengubah impuls cahaya
menjadi impuls saraf. Setelah melintasi suatu rangkaian lapisan sel saraf dan sel-sel
penyokong informasi penglihatan diteruskan oleh saraf optik ke otak untuk diproses.1

Anatomi Mata2,3
Bola mata memiliki 3 lapisan. Bola mata memiliki 3 lapisan. Dari permukaan luar,
terdapat lapisan fibrosa, yang terdiri dari sklera di belakang dan kornea di bagian depan.
Lapisan kedua yaitu lapisan berpigmen dan vaskular, yang terdiri dari koroid, korpus siliaris,
dan iris. Lapisan ketiga yaitu lapisan neural yang dikenal sebagai retina. Bola mata orang
dewasa normal hampir mendekati bulat, dengan diameter anteroposterior sekitar 24,5 mm.

Gambar 1. Anatomi dan Bagian-bagian Mata3

1
a. Konjungtiva
Merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus
permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebris/tarsal) dan permukaan
anterior sklera (konjungtiva bulbi). Perdarahan konjungtiva berasal dari arteri siliaris
anterior dan arteri palpebralis.
b. Sklera
Merupakan pembungkus fibrosa pelindung mata di bagian luar. Jaringan bersifat padat
dan berwarna putih, serta bersambungan dengan kornea di sebelah anterior, dan
durameter nervus optikus di posterior. Permukaan luar sklera anterior dibungkus oleh
sebuah lapisan tipis dari jaringan elastik halus yang mengandung banyak pembuluh
darah yang memasuk sklera, yang disebut sebagai episklera.
c. Kornea
Merupakan jaringan transparan yang memiliki tebal 0,54 mm ditengah, dan 0,65 mm
di tepi, serta berdiameter sekitar 11,5 mm. Sumber nutrisi kornea berasal dari
pembuluh darah limbus, humor aqueous, dan air mata. Dalam axis penglihatan,
kornea berperan sebagai jendela paling depan dari mata dimana sinar masuk dan
difokuskan ke dalam pupil. Bentuk kornea cembung dengan sifat yang transparan
dimana kekuatan pembiasan sinar yang masuk 80% atau 40 dioptri, dengan indeks
bias 1,38.
d. Uvea
Uvea terdiri atas iris, korpus siliaris, dan koroid. Bagian ini adalah lapisan vaskular
tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan sklera.
e. Iris
Merupakan perpanjangan korpus siliaris ke anterior. Iris terletak bersambungan
dengan anterior lensa, yang memisahkan bilik anterior dan blik posterior mata. Di
dalam stroma iris terdapat otot sfingter dan dilator pupil. Iris juga merupakan bagian
yang memberi warna pada mata. Dalam axis penglihatan, iris berfungsi mengatur
jumlah sinar yang masuk kedalam bola mata dengan mengatur besar pupil
menggunakan otot sfingter dan dilator pupil.
f. Pupil
Pupil berwarna hitam pekat yang mengatur jumlah sinar masuk kedalam bola mata.
Pada pupil terdapat m.sfinger pupil yang bila berkontraksi akan mengakibatkan
mengecilnya pupil (miosis) dan m.dilatator pupil yang bila berkontriksi akan
mengakibatkan membesarnya pupil (midriasis)
2
g. Corpus siliaris
Membentang ke depan dari ujung anterior koroid ke pangkal iris. Corpus silliaris
berperan untuk akomodasi dan menghasilkan humor aquaeus
h. Lensa
Merupakan struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna, dan transparan. Memiliki
tebal sekitar 4mm dan diameter 9mm. Terletak di belakang iris. Lensa digantung oleh
zonula yang menghubungkannya dengan korpus siliaris. Dalam axis penglihatan,
lensa berperan untuk berakomodasi dan memfokuskan cahaya ke retina.
i. Retina
Merupakan selembar tipis jaringan saraf yang semi transparan yang melapisi dua per
tiga bagian dalam posterior dinding bola mata. Dalam aksis penglihatan, retina
berfungsi untuk menangkap rangsangan jatuhnya cahaya dan akan diteruskan berupa
bayangan benda sebagai impuls elektrik ke otak untuk membentuk gambaran yang
dilihat. Pada retina terdapat sel batang sebagai sel pengenal sinar dan sel kerucut yang
mengenal frekuensi sinar.
j. Nervus Optikus
Saraf penglihatan yang meneruskan rangsangan listrik dari mata ke korteks visual
untuk dikenali bayangannya

Anatomi Lensa2,3
Lensa merupakan struktur yang transparan, bikonveks, dan kristalin terletak di antara
iris dan badan kaca. Lensa memiliki ukuran diameter 9-10 mm dengan ketebalan 3,5 mm – 5
mm. Di belakang iris, lensa terfiksasi pada serat zonula yang berasal dari badan siliar. Serat
zonula tersebut menempel dan menyatu dengan lensa pada bagian anterior dan posterior dari
kapsul lensa. Kapsul merupakan membran dasar yang melindungi nukleus, korteks, dan
epitel lensa. Permukaan anterior dan posterior lensa memiliki beda kelengkungan, dimana
permukaan anterior lensa lebih melengkung dibandingkan bagian posterior. Kedua
permukaan ini bertemu di bagian ekuator. Sebagai media refraksi, lensa memiliki indeks
refraksi sebesar 1,39, dan memilki kekuatan hingga 15-16 dioptri. Dengan bertambahnya
usia, kemampuan akomodasi lensa akan berkurang, sehingga kekuatan lensa pun akan
menurun.

3
Struktur lensa dapat diurai menjadi:
a. Kapsul lensa
Kapsul lensa merupakan membran dasar yang transparan. Kapsul lensa tersusun dari
kolagen tipe-IV yang berasal dari sel-sel epitel lensa. Kapsul berfungsi untuk
mempertahankan bentuk lensa saat akomodasi. Kapsul lensa paling tebal pada bagian
anterior dan posterior zona preekuator (14 um,) dan paling tipis pada bagian tengah
kutub posterior (3um).
b. Epitel anterior
Epitel anterior lensa dapat ditemukan tepat dibelakang kapsul anterior. Merupakan
selapis sel kuboid yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan lensa dan regenerasi serat
lensa. Pada bagian ekuator, sel ini berproliferasi dengan aktif untuk membentuk serat
lensa baru.
c. Serat lensa
Serat lensa merupakan hasil dari proliferasi epitel anterior. Serat lensa yang matur
adalah serat lensa yang telah keihlangan nucleus, dan membentuk korteks dari lensa.
Serat-serat yang sudah tua akan terdesak oleh serat lensa yang baru dibentuk ke tengah
lensa.
d. Ligamentum suspensorium (Zonulla zinnii)
Secara kasar, ligamentun suspensorium merupakan tempat tergantungnya lensa,
sehingga lensa terfiksasi di dalam mata. Ligamentum suspensorium menempel pada
lensa di bagian anterior dan posterior kapsul lensa. Ligamentum suspensorium
merupakan panjangan dari corpus silliaris.

Gambar 2. Anatomi dan Bagian-bagian Mata3

4
Fisiologi Refraksi
Berkas-berkas cahaya mencapai mata harus dibelokkan ke arah dalam untuk
difokuskan kembali ke sebuah titik peka-cahaya di retina agar dihasilkan suatu bayangan
yang akurat mengenai sumber cahaya. Pembelokan suatu berkas cahaya (refraksi) terjadi
ketika berkas berpindah dari satu medium dengan kepadatan (densitas) tertentu ke medium
dengan kepadatan yang berbeda.4
Cahaya bergerak lebih cepat melalui udara daripada melalui media transparan lainnya
misalnya: kaca, air. Ketika suatu berkas cahaya masuk ke medium dengan densitas yang lebih
tinggi, cahaya tersebut melambat (sebaliknya juga berlaku). Berkas cahaya mengubah arah
perjalanannya jika mengenai medium baru pada tiap sudut selain tegak lurus.4
Dua faktor penting dalam refraksi : densitas komparatif antara 2 media (semakin besar
perbedaan densitas, semakin besar derajat pembelokan) dan sudut jatuhnya berkas cahaya di
medium kedua (semakin besar sudut, semakin besar pembiasan). Dua struktur yang paling
penting dalam kemampuan refraktif mata adalah kornea dan lensa. Permukaan kornea,
struktur pertama yang dilalui cahaya sewaktu masuk mata, yang melengkung berperan besar
dalam reftraktif total karena perbedaan densitas pertemuan udara/kornea jauh lebih besar dari
pada perbedaan densitas antara lensa dan cairan yang mengelilinginya. Kemampuan refraksi
kornea seseorang tetap konstan karena kelengkungan kornea tidak pernah berubah.
Sebaliknya kemampuan refraksi lensa dapat disesuaikan dengan mengubah kelengkungannya
sesuai keperluan untuk melihat dekat/jauh.5
Struktur-struktur refraksi pada mata harus membawa bayangan cahaya terfokus
diretina agara penglihatan jelas. Apabila bayangan sudah terfokus sebelum bayangan
mencapai retina atau belum terfokus sebelum mencapai retina ,bayangan tersebut tampak
kabur. Berkas-berkas cahaya yang berasal dari benda dekat lebih divergen sewaktu mencapai
mata daripada berkas-berkas dari sumber jauh. Berkas dari sumber cahaya yang terletak lebih
dari 6 meter (20 kaki) dianggap sejajar saat mencapai mata.4,6
Untuk kekuatan refraktif mata tertentu, sumber cahaya dekat memerlukan jarak yang
lebih besar di belakang lensa agar dapat memfokuskan daripada sumber cahaya jauh, karena
berkas dari sumber cahaya dekat masih berdivergensi sewaktu mencapai mata. Untuk mata
tertentu, jarak antara lensa dan retina selalu sama. Untuk membawa sumber cahaya jauhdan
dekat terfokus di retina (dalam jarak yang sama), harus dipergunakan lensa yang lebih kuat
untuks umber dekat. Kekuatan lensa dapat disesuaikan melalui proses akomodasi.5

5
Anamnesis
Hal yang perlu kita lakukan terlebih dahulu sebagai dokter sebelum mendiagnosis
suatu penyakit terhadap adanya temuan klinis pada pasien yaitu dengan anamnesis.
Anamnesis ini dapat dilakukan dalam 2 bentuk: alloanamnesis dan autoanamnesis. Perbedaan
antar kedua bentuk anamnesis tersebut, yaitu:
1. Alloanamnesis: melakukan anamnesis dengan kerabat pasien (seperti orang tua).
Hal ini dilakukan bila pasien dalam kondisi tidak sadar atau terjadi penurunan
kesadaran serta pasien dengan usia anak-anak.
2. Autoanamnesis: melakukan anamnesis langsung dengan pasien dengan keadaan
pasien yang masih baik kesadarannya.
Pertanyaan yang dapat diajukan dalam anamenesis kepada pasien :
 Pendekatan umum: perkenalan diri, ciptakan hubungan yang baik, menanyakan
identitas pasien.
 Keluhan utama
 Riwayat penyakit sekarang
- Sejak kapan keluhan timbul?
- Apakah memburuk?
- Apakah sudah pernah dibawa berobat sebelumnya?
 Tanyakan riwayat penyakit dahulu
- Dulu seperti ini juga?
 Riwayat penyakit keluarga
 Riwayat sosial
 Riwayat alergi

Hasil: Pasien seorang anak laki-laki usia 22 tahun, datang ke poli umum dengan keluhan
tulisan di proyektor LCD dan tulisan di TV kurang jelas. Keluhan sudah dirasakan
sejak pasien usia 15 tahun dan perlahan-lahan bertambah buruk. Pasien sering
memicingkan mata dan mengucek kedua matanya. Tidak ada riwayat mata merah,
berair, alergi.

6
Pemeriksaan Fisik7
Pada saat pasien masuk ruang pemeriksaan dilihat apakah:
a. Dibimbing keluarga
b. Masuk dengan memegang satu sisi kepala
c. Mata berdarah
Pengamatan pada pasien ini dapat menolong dokter untuk mengarahkan diagnosis
penyakit.
a. Dibimbing keluarga
Pasien diantar dengan dibimbing masuk ke dalam kamar periksa dokter, mungkin
sekali akibat penglihatannya terganggu, lapang pandang sempit atau sudah tua.
Penglihatan terganggu merupakan suatu akibat kelaianan bola mata sehingga
fungsinya menjadi tidak normal. Lapang pandang yang sempit dapat disebabkan
oleh penyakit tertentu seperti glaukoma, retinitis pigmentosa, dan penyakit
kelainan saraf sentral.
b. Masuk dengan memegang satu sisi kepala
Berbagai penyakit dapat memberikan keadaan penderita merasa sakit pada kepala,
akan tetapi bila keadaan ini disertai dengan memegang kepala yang sakit, maka
harus dipikirkan mungkin sedang menderita glaukoma kongestif akut.
c. Mata berdarah
Bila pada mata keluar darah maka mungkin sekali mata mengalami cedera
sehingga terjadi luka. Pada konjungtivitas hiperakut seperti pada konjungtivitis
gonore dapat terjadi perdarahan dari konjungtiva disertai sekret.
1. Pemeriksaan tanda-tanda vital:
- Suhu
- Tekanan darah
- Denyut nadi
- Frekuensi pernapasan
2. Inspeksi
3. Palpasi

7
Pemeriksaan Visus
Pemeriksaan visus atau tajam penglihatan diukur mengunakan optotip Snellen.
Seseorang yang masih memiliki visus yang normal bisa melihat pada jarak 6 meter tanpa alat
bantuan. Berarti kondisi visus pasien tersebut adalah 6/6 (orang normal bisa melihat optotip
snellen pada jarak 6 meter, pasien juga bisa melihat optotip snellen pada jarak 6 meter).
Satuan lain yang digunakan adalah dalam kaki pada kasus ini 20/20 kaki berati
normal Seseorang dikatakan mengalami penurunan tajam penglihatan jika pada pemeriksaan
visus tidak didapatkan visus 6/6 atau 20/20. Untuk menilai besar miopia, dimulai dari lensa
negatif (-) 0,25D, ditambahkan berturut-turut sampai lensa negatif terlemah Anda dapat
membaca deretan huruf 6/6.8

Gambar 1. Optotip Snellen9


Saat pemeriksaan visus dengan snellen chart, sampai baris keberapakah dapat melihat
jelas. Jika dapat melihat huruf pada baris ke 8 dengan jelas maka visus 6/6 atau 20/20. Jika
sama sekali tidak bisa melihat baris ke 8 dan dapat melihat dengan jelas huruf dibaris ke 6
saat pemeriksaan visus berarti visus 6/9. Visus 6/9 berarti pada orang normal dapat membaca
huruf dalam jarak 6 meter dan membacanya dalam jarak 6 meter. Begitu pula untuk
seterusnya.8

8
Pemeriksaan Tonometer
Tonometri adalah suatu tindakan untuk melakukan pemeriksaan tekanan intraokular
dengan alat yang disebut tonometer. Tindakan ini dapat dilakukan oleh dokter umum atau
dokter spesialis lainnya. Pengukuran tekanan bola mata sebaiknya dilakukan pada setiap
orang berusia di atas 40 tahun pada saat pemeriksaan fisik medic secara rutin maupun umum.
Cara mengukur tekanan bola mata dikenal 5 macam: tonometer digital, tonometer Schiotz,
tonometer aplanasi Goldman, noncontact air-puff tonometer, dan hand held applanasi.7

Uji Pin Hole


Uji lubang kecil (pin hole) ini dilakukan untuk mengetahui apakah berkurangnya
tajam penglihatan diakibatkan oleh kelainan refraksi atau kelainan pada media penglihatan,
atau kelainan retina lainnya. Bila ketajaman penglihatan bertambah setelah dilakukan pin
hole berarti pada pasien tersebut terdapat kelainan refraksi yang belum dikoreksi baik. Bila
ketajaman penglihatan berkurang berarti pada pasien terdapat kekeruhan media penglihatan
atau pun retina yang menggangu penglihatan.7

Hasil PF  Visus:
Okuli Dextra (OD) 6/60 – ph 6/40 – koreksi S -2.00 cyl – 0.75 180o : 6/6
Okuli Sinistra (OS) 6/60 – ph 6/50 – koreksi – S +0.75 : 6/40
Segmen anterior ODS dalam batas normal
Tonometri ODS: 15 mmHg
Segmen posterior ODS optic nerve bulat, batas tegas, CDR 0.3; A:V 2:3,
reflex macula positif; perifer tidak ada perdarahan maupun eksudat

Diagnosis
Kelainan Refraksi
1. Astigmat Miopia
Astigmatisme adalah suatu kelainan refraksi dimana sinar sejajar dengan garis
pandang oleh mata tanpa akomodasi dibiaskan tidak pada satu titik tetapi lebih dari satu titik.5
Prevalensi global kelainan refraksi diperkirakan sekitar 800 juta sampai 2,3 milyar. Di
Indonesia prevalensi kelainan refraksi menempati urutan pertama pada penyakit mata. Kasus
kelainan refraksi dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Ditemukan jumlah
penderita kelainan refraksi di Indonesia hampir 25% populasi penduduk atau sekitar 55 juta
9
jiwa. Insidensi miopia dalam suatu populasi sangat bervariasi dalam hal umur, negara, jenis
kelamin, ras, etnis, pekerjaan, lingkungan, dan faktor lainnya. Prevalensi miopia bervariasi
berdasar negara dan kelompok etnis, hingga mencapai 70-90% di beberapa negara.5,6
Etiologi kelainan astigmatisma adalah sebagai berikut:10

1. Adanya kelainan kornea dimana permukaan luar kornea tidak teratur. 
 Media

refrakta yang memiliki kesalahan pembiasan yang paling besar adalah kornea,
yaitu mencapai 80% s/d 90% dari astigmatismus, sedangkan media lainnya adalah
lensa kristalin. Kesalahan pembiasan pada kornea ini terjadi karena perubahan
lengkung kornea dengan tanpa pemendekan atau pemanjangan diameter anterior
posterior bolamata. Perubahan lengkung permukaan kornea ini terjadi karena
kelainan kongenital, kecelakaan, luka atau parut di kornea, peradangan kornea
serta akibat pembedahan kornea.
2. Adanya kelainan pada lensa dimana terjadi kekeruhan pada lensa. Semakin
bertambah umur seseorang, maka kekuatan akomodasi lensa kristalin juga
semakin berkurang dan lama kelamaan lensa kristalin akan mengalami kekeruhan
yang dapat menyebabkan astigmatismus.
3. Intoleransi lensa atau lensa kontak pada postkeratoplasty
4. Trauma pada kornea
5. Tumor

Berdasarkan posisi garis fokus dalam retina Astigmatisme dibagi sebagai berikut:

1. Astigmatisme Reguler.
 Dimana didapatkan dua titik bias pada sumbu mata karena

adanya dua bidang yang saling tegak lurus pada bidang yang lain sehingga pada salah
satu bidang memiliki daya bias yang lebih kuat dari pada bidang yang lain. Astigmatisme
jenis ini, jika mendapat koreksi lensa silinder yang tepat, akan bisa menghasilkan tajam

penglihatan normal. Tentunya jika tidak disertai dengan adanya kelainan
 penglihatan

yang lain.
Bila ditinjau dari letak daya bias terkuatnya, bentuk astigmatisme regular ini dibagi
menjadi 2 golongan, yaitu:

1) Astigmatisme With the Rule
 : Bila pada bidang vertical mempunyai daya bias

yang lebih kuat dari pada bidang horizontal.

10
2) Astigmatisme Against the Rule : Bila pada bidang horizontal mempunyai daya
bias yang lebih kuat dari pada bidang vertikal.

2. Astigmatisme Irreguler.
 Dimana titik bias didapatkan tidak teratur.

Berdasarkan letak titik vertikal dan horizontal pada retina, astigmatisme dibagi sebagai
berikut:
1) Astigmatisme Miopia Simpleks
Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada
tepat pada retina (dimana titik A adalah titik fokus dari daya bias terkuat
sedangkan titik B adalah titik fokus dari daya bias terlemah). Pola ukuran
lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph 0,00 Cyl -Y atau Sph -X Cyl
+Y di mana X dan Y memiliki angka yang sama.
2) Astigmatisme Hiperopia Simpleks
Astigmatisme jenis ini, titik A berada tepat pada retina, sedangkan titik B
berada di belakang retina.
3) Astigmatisme Miopia Kompositus
Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada
di antara titik A dan retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini
adalah Sph -X Cyl –Y
4) Astigmatisme Hiperopia Kompositus
Astigmatisme jenis ini, titik B berada di belakang retina, sedangkan titik A
berada di antara titik B dan retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme
jenis ini adalah Sph +X Cyl +Y.
5) Astigmatisme Mixtus
Astigmatisme jenis ini, titik A berada di depan retina, sedangkan titik B berada
di belakang retina. Pola ukuran lensa koreksi astigmatisme jenis ini adalah Sph
+X Cyl -Y, atau Sph -X Cyl +Y, di mana ukuran tersebut tidak dapat
ditransposisi hingga nilai X menjadi nol, atau notasi X dan Y menjadi sama –
sama + atau -.

Berdasarkan tingkat kekuatan Dioptri :


1. Astigmatisme Rendah

11
Astigmatisme yang ukuran powernya < 0,50 Dioptri. Biasanya astigmatisme
rendah tidak perlu menggunakan koreksi kacamata. Akan tetapi jika timbul
keluhan pada penderita maka koreksi kacamata sangat perlu diberikan.

2. Astigmatisme Sedang
Astigmatisme yang ukuran powernya berada pada 0,75 Dioptri s/d 2,75
Dioptri. Pada astigmatisme ini pasien sangat mutlak diberikan kacamata
koreksi.
3. Astigmatisme Tinggi
Astigmatisme yang ukuran powernya > 3,00 Dioptri. Astigmatisme ini sangat
mutlak diberikan kacamata koreksi.

Pada penderita astigmatismus rendah, biasa ditandai dengan gejala-gejala sebagai


berikut:5
1) Sakit kepala pada bagian frontal.
2) Ada pengaburan sementara / sesaat pada penglihatan dekat, biasanya penderita
akan mengurangi pengaburan itu dengan menutup atau mengucek-ucek mata.
Setelah pasien dikoreksi untuk myopia yang ada, maka tajam penglihatannya
dikaburkan dengan lensa positif, sehingga tajam penglihatan berkurang 2 baris pada kartu
Snellen, misalnya dengan menambah lensa spheris positif 3. Pasien diminta melihat kisi-kisi
juring astigmat, dan ditanyakan garis mana yang paling jelas terlihat. Bila garis juring pada
90° yang jelas, maka tegak lurus padanya ditentukan sumbu lensa silinder, atau lensa silinder
ditempatkan dengan sumbu 180°. Perlahan-lahan kekuatan lensa silinder negatif ini dinaikkan
sampai garis juring kisi-kisi astigmatisme vertikal sama tegasnya atau kaburnya dengan
juring horizontal atau semua juring sama jelasnya bila dilihat dengan lensa silinder ditentukan
yang ditambahkan. Kemudian pasien diminta melihat kartu Snellen dan perlahan-lahan
ditaruh lensa negatif sampai pasien melihat jelas.11

2. Hipermetropia7
Hipermetropia atau rabun dekat merupakan keadaan gangguan kekuatan pembiasan
mata dimana sinar sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik fokusnya terletak di
belakang retina. Pada hipermetropia sinar sejajar difokuskan di belakang macula lutea.
Terdapat 3 bentuk hipermetropia:

12
1. Hipermetropia kongenital, diakibatkan bola mata pendek atau kecil.
2. Hipermetropia simple, biasanya merupakan lanjutan hipermetropia anak yang tidak
berkurang pada perkembangannya jarang melebihi >5 dioptri.
3. Hipermetropia didapat, umum didapat setelah bedah pengeluaran lensa pada katarak
(afakia).

Hipermetropia dapat disebabkan:


1. Hipermetropia sumbu atau hipermetropia aksial merupakan kelainan refraksi akibat bola
mata pendek, atau sumbu anteroposterior yang pendek.
2. Hipermetropia kurvatur, dimana kelengkungan kornea atau lensa lemah sehingga
bayangan difokuskan di belakang retina.
3. Hipermetropia refraktif, dimana terdapat indeks bias yang lemah kurang pada system
optic mata.

Ada beberapa tingkatan pada hipermetropia berdasar besarnya dioptri:


1. Hipermetropia ringan, yaitu antara Spheris + 0.25 Dioptri s/d Spheris + 3.00 Dioptri.
2. Hipermetropia sedang, yaitu antara Spheris + 3.25 Dioptri s/d Spheris + 6.00 Dioptri.
3. Hipermetropia tinggi, yaitu jika ukuran Dioptri lebih dari Spheris + 6.25 Dioptri.

Hipermetropia dikenal dalam bentuk:


1. Hipermetropia manifes. Hipermetropia manifest didapatkan tanpa sikloplegik, yang dapat
dikoreksi dengan kaca mata positif maksimal yang memberikan tajam penglihatan
normal. Hipermetropia ini terdiri atas hipermetropia absolut ditambah dengan
hipermetropia fakultatif.
2. Hipermetropia manifes absolut, kelainan refraksi tidak diimbangi dengan akomodasi dan
memerlukan kacamata positif untuk melihat jauh.
3. Hipermetropia manifes fakultatif, kelainan hipermetropia dapat diimbangi dengan
akomodasi ataupun dengan kaca mata positif. Pasien yang hanya mempunyai
hipermetropia fakultatif akan melihat normal tanpa kaca mata, bila diberikan kaca mata
positif memberikan penglihatan normal maka otot akomodasinya akan istirahat.
4. Hipermetropia laten, dimana kelainan hipermetropia tanpa sikloplegia (atau dengan obat
yang melemahkan akomodasi) diimbangi seluruhnya dengan akomodasi. Hipermetropia
laten sehari-hari diatasi pasien dengan akomodasi terus-menerus. Hipermetropia laten
hanya dapat diukur bila diberikan sikloplegia. Makin muda makin besar komponen
hipermetropia laten seseorang. Makin tua seseorang akan terjadi kelemahan akomodasi

13
sehingga hipermetropia laten menjadi hipermetropia fakultatif dan kemudian akan
menjadi hiper metropia absolut.
5. Hipermetropia total, hipermetropia laten dan manifes yang ukurannya didapatkan sesudah
diberikan siklopegia.

Contoh pasien hipermetropia:


Pasien usia 25 tahun, dengan tajam penglihatan 6/20
- Dikoreksi dengan sferis + 2.00  6/6
- Dikoreksi dengan sferis + 2.50  6/6
- Dikoreksi dengan siklopegia, sferis + 5.00  6/6

Maka pasien ini mempunyai:


- Hipermetropia absolut sferis + 2.00
- Hipermetropia manifes sferis + 2.50
- Hipermetropia fakultatif sferis (+ 2.50) – (+ 2.00) = + 0.50
- Hipermetropia laten sferis + 5.00 – (+ 2.50)= + 2.50

Gejala, keluhan yang ditemukan pada hipermetropia adalah penglihatan dekat dan
jauh kabur, sakit kepala, silau, dan kadang rasa juling atau lihat ganda.
Pasien hipermetropia sering disebut sebagai pasien rabun dekat. Pasien dengan
hipermetropia apapun penyebabnya akan mengeluh matanya lelah dan sakit karena harus
terus menerus berakomodasi untuk melihat atau memfokuskan bayangan yang terletak di
belakang macula agar terletak di daerah macula lutea. Keadaan ini disebut astenopia
akomodatif. Akibat terus menerus berakomodasi, maka bola mata bersama-sama melakukan
konvergensi dan mata akan sering terlihat mempunyai kedudukan esotropia atau juling ke
dalam.
Mata dengan hipermetropia sering akan memperlihatkan amblyopia akibat mata tanpa
akomodasi tidak pernah melihat obyek dengan baik dan jelas. Bila terdapat perbedaan
kekuatan hipermetropia antara kedua mata, maka akan terjadi amblyopia pada salah satu
mata. Mata amblyopia sering bergulir kea rah temporal.
Pengobatan hipermetropia adalah diberikan koreksi hipermetropia manifest dimana
tanpa siklopegia didapatkan ukuran lensa positif maksimal yang memberikan tajaman
penglihatan normal (6/6).
Pada pasien dengan hipermetropia sebaiknya diberikan kacamata sferis positif terkuat

14
atau lensa positif terbesar yang masih memberikan tajam penglihatan maksimal. Bila pasien
dengan + 3.0 ataupun dengan + 3.25 memberikan ketajaman penglihatan 6/6, maka diberikan
kacamata + 3.25. Hal ini untuk memberikan istirahat pada mata.
Pasien muda dengan hipermetropia tidak akan memberikan keluhan karena matanya
masih mampu melakukan akomodasi kuat untuk melihat benda dengan jelas.

Penyulit yang dapat terjadi pada pasien dengan hipermetropia adalah esotropia dan
glaucoma. Esotropia atau juling ke dalam terjadi akibat pasien selamanya melakukan
akomodasi. Glaucoma sekunder terjadi akibat hipertrofi otot siliar pada badan siliar yang
akan mempersempit sudut bilik mata.

3. Anisometropia12
Anisometropia adalah suatu keadaan dimana pada kedua mata terdapat perbedaan
kekuatan refraksi. Anisometropia dengan perbedaan antara kedua mata lebih dari 2,5 dioptri
akan menyebabkan perbedaan bayangan sebesar 5%, dengan perbedaan sebesar 5% atau lebih
pada umumnya akan menimbulkan aniseikonia.
Anisometropia dapat terjadi apabila:
1. Mata yang satu hipermetropia sedangkan yang lain miopia (antimetropia)
2. Mata yang satu hipermetropia, miopia atau astigmatisma sedangkan yang lain
emmetropia
3. Mata yang satu hipermetropia, miopia, astigmatisma sedangkan yang lain hipermetropia,
miopia, astigmatisma dengan derajat yang tidak sama.
Gejala anisometropia sangat bervariasi. Menurut Friedenwald gejala anisometropia
muncul apabila terdapat perbedaan bayangan yang diterima pada kedua retina. Gejala
anisometropia pada umumnya sebagai berikut: sakit kepala, pada kedua mata merasa tidak
enak, panas, tegang.
Gejala yang spesifik pada anisometropia: pusing, mual-mual, kadang-kang melihat
ganda, kesulitan memperkirakan jarak suatu benda, melihat lantai yang bergelombang.
Kelainan klinik akibat anisometropia:
- Akibat perbedaan visus
Adanya perbedaan visus kedua mata berakibat gangguan fusi, sehingga
penderita akan menggunakan mata yang lebih baik, sedangkan mata yang
kurang visusnya akan di supresi. Apabila keadaan ini dibiarkan maka akan

15
dapat terjadi strabismus, dan apabila terjadi pada anak-anak yang masih
mengalami perkembangan visus binocular, dapat mengakibatkan
ambliomiopia.

- Akibat perbedaan bayangan


Perbedaan bayangan meliputi perbedaan ukuran dan bentuk. Adanya
perbedaan bayangan disebut Aniseikonia. Pada aniseikonia selalu terjadi
gangguan penglihatan binocular. Gangguan penglihatan binocular ini
diakibatkan oleh ketidaksamaan rangsangan untuk penglihatan stereoskopik.
Secara klinik praktis aniseikonia yang terjadi akibat anisometropia dapat
diketahui dari kelainan distorsi dan kelainan stereoskopik yang muncul.

4. Ambliopia7
Ambliopia adalalah suatu keadaan mata dimana tajam penglihatan tidak mencapai
optimal sesuai dengan usia dan intelegensinya walaupun sudah dikoreksi kelainan
refraksinya. Pada ambliopia terjadi penurunan tajam penglihatan unilateral atau bilateral
disebabkan karena kehilangan pengenalan bentuk, interakhsi binocular abnormal, atau
keduanya, dimana tidak ditemukan kausa organik pada pemeriksaan fisik mata dan pada
kasus yang keadaan baik, dapat dikembalikan fungsinya dengan pengobatan.
Ambliopia ini dapat tanpa kelainan organic dan dapat pula dengan kelainan organic
yang tidak sebanding dengan visus yang ada.
Biasanya ambliopia disebabkan oleh kurangnya rangsangan untuk meningkatkan
perkembangan penglihatan. Suatu kausa ekstraneural yang menyebabkan menurunnya tajam
penglihatan (seperti katarak, astigmat, strabismus, atau suatu kelainan refraksi unilateral atau
bilateral yang tidak dikoreksi) merupakan mekanisme pemicu yang mengakibatkan suatu
penurunan fungsi visual pada orang yang sensitif. Beratnya amblyopia berhubungan dengan
lamanya mengalami kurangnya rangsangan untuk perkembangan penglihatan macula.
Diduga terdapat 2 faktor yang dapat merupakan penyebab terjadinya ambliopia yaitu
supresi dan nirpakai (non use). Ambliopia nirpakai terjadi akibat tidak dipergunakannya
elemen visual retino kortikal pada saat kritis perkembangannya terutama pada usia sebelum 9
tahun. Supresi yang terjadi pada ambliopia dapat merupakan proses kortikal yang akan

16
mengakibatkan terdapatnya skotoma absolut pada penglihatan binokular (untuk mencegah
terjadinya diplopia pada mata yang juling), atau sebagai hambatan binokular (monokular
kortikal inhibisi) pada bayangan retina yang kabur.
Pencegahan terhadap ambliopia adalah pada anak berusia kurang dari 5 tahun perlu
pemeriksaan tajam penglihatan terutama bila memperlihatkan tanda-tanda juling.

Pemeriksaan ambliopia bisa dengan uji Crowding Phenomena, uji Densiti Filter
netral, uji Worth’s Four Dot.
Ambliopia merupakan kelainan yang reversibel dan akibatnya tergantung pada saat
mulai dan lamanya. Bila diketahui dini dapat dicegah sehingga tidak menjadi permanen.
Perbaikan dapat dilakukan bila penglihatan masih dalam perkembangannya.

Kesimpulan
Pasien menderita beberapa kelainan refraksi mata yaitu astigmat miopia pada OD,
hipermetropia pada OS, anisometropia, dan ambliopia OS.
Sebagai penatalaksanaan dapat diberikan resep untuk penggantian kacamata guna
memperbaiki kelainan refraksinya. Penting untuk konsul ke bagian spesialis mata untuk
terapi ambliopia OS dan anisometropia karena membutuhkan penanganan lebih lanjut tingkat
spesialistik.

17
Daftar Pustaka
1. Sloane E, Widyastuti P, editor. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC,
2003.
2. Pascolini D, Mariotti SP. Global estimates of visual impairment. BR J Ophthalmol.
2011.
3. Eva PR, Whitcher JP. Vaughan & asbury’s general ophthalmology. 17th ed. USA: Mc
Graw-Hill. 2007.
4. Despopoulos A. and Silbernagi S, Color Atlas of Physiology 6th London: Thieme.
2008.
5. James B, Chew C and Bron A, Lecture Notes on Ophtalmology 11st New York:
Blackwell Publishing. 2011.
6. Whitcher J P and Eva P R, Low Vision. In Whitcher J P and Eva P R, Vaughan &
Asbury’s General Ophtalmology. New York: Mc Graw Hill, 2007.
7. H.Sidarta Ilyas dan Sri Rahayu Yulianti. Ilmu penyakit mata. Edisi ke 5. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI. 2015.
8. Kowalak JP, Welsh W, Mayer Brenna. Buku ajar patofisiologi. Jakarta: EGC, 2011.
Cetakan 2014.
9. Anita Amalia Sari. Pemeriksaan visus (Ketajaman Mata).
http://www.klikdokter.com/tanyadokter/mata/pemeriksaan-visus-ketajaman-mata, 21
Maret 2017.
10. Field G. Snellen eye chart. http://www.rehabmart.com/product/snellen-eye-chart-
1846.html, 21 Maret 2017.

11. Gerhard K. Lang, Ophthalmology A Short Textbook: Optics and Refractive 
 Errors.

London: Thieme. 2000.


12. Minggaringrum. Laporan penelitian program studi ilmu penyakit mata: pengaruh
kelainan penglihatan binokular akibat anisometropia terhadap hasil uji konsentrasi

18
pada seleksi calon pengemudi kendaraan umum. Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas
Kedokteran Universitas Diponegoro RSUP Dr. Kariadi. Semarang: 2002.

19