Anda di halaman 1dari 9

adalah penyakit kulit kronis dan muncul secara berulang ini seringkali dikenal sebagai

asma kulit. DA memiliki gejala utama yang mirip dengan alergi yakni gatal kronis dengan
variasi yang ringan sampai berat.

Satu hal yang perlu diketahui, bahwa bukan cuma anak-anak yang bisa kena DA, orang
dewasa dan lansia juga. Pada lansia sendiri memiliki kondisi khusus yang dikenal
dengan Pruritus Senulis. Hal tersebut menyebabkan rasa gatal yang dominan namun
dengan gejala kulit yang minim.

“Pasien lansia lebih rentan terkena DA daripada dewasa. Karena kondisi kulit yang lebih
tipis dan turunnya daya tahan kulit, serta sistem imun yang rendah,” ucap Ronny
Handoko, dokter spesialis kulit dan kelamin dari Klinik Pramudia dalam Seminar
Waspadai Dermatitis Atopik Serang Semua Umur dan Jenis Kelamin, Sabtu
(17/8/2019).

Kondisi kulit penderita GA juga cenderung lebih kering, khususnya bagi lansia. Kulit
mereka begitu sensitif terhadap benda asing seperti cuaca, keringat, atau debu. Ruam
yang ditimbulkan juga berada dilebih banyak titik daripada balita.

Jika pada bayi, ruam mungkin hanya akan timbul pada bagian wajah, siku, lutut, dan
kulit kepala. Namun pada lansia, ruam timbul pada banyak bagian seperti pada dada,
siku, lutut, leher, sekitar mata, dahi, punggung, sekitar mulut, tangan, kaki, dan puting
susu.

Hal tersebut dapat mengganggu bagi kehidupan sosial bagi penderita. Kondisi itu
membuat timbul rasa gatal dan tidak nyaman, bahkan dapat menumbuhkan rasa minder
akibat luka yang ditimbulkan. Berikut 3 risiko yang ditimbulkan akibat DA pada dewasa
dan lansia.

1. Bisa mengganggu kualitas hidup

DA dapat mengganggu kualitas hidup bagi penderitanya. Karena rasa gatal yang
ditimbulkan dapat menyebabkan gangguan tidur, gangguan pekerjaan, pemilihan
makanan, dan lingkungan tempat tinggal.

Mengingat DA merupakan penyakit yang bersifat kronis dan berulang, biasanya


penderita DA memiliki penampilan kulit yang kurang indah, seperti munculnya
penembalan pada kulit, warna kulit yang gelap/terang, atau bekas garukan hingga luka.

2. Risiko pengobatan yang lama dan berulang


Penyakit ini bersifat kronis, maka pengobatan DA biasanya bersifat lama dan berulang,
baik terapi topikal maupun oral. Pengobatan ini sendiri sering menimbulkan efek
samping seperti penipisan pada kulit.

Sedangkan efek samping sistemik yang mungkin timbul adalah katarak prematur,
diabetes melllitus, osteoporosis, glaukama, dan ganggguan ginjal. Efek samping ini
dapat terjadi apabila pasien menggunakan obat tidak dibawah pengawasan dokter
spesialis kulit. Karena pemilihan jenis obat dan jumlah dosis yang kurang tepat.
3. Risiko terhadap penyakit penyerta

Jika penderita DA secara bersamaan memiliki penyakit lain berupa penyakit kulit seperti
vitiligo, psoriasis, atau penyakit autoimun lain, maka dapat memperberat kondisi
penyakit DA itu sendiri atau penyakit penyerta yang ada.

Apa itu dermatitis?


Dermatitis adalah penyakit kulit yang biasa ditandai dengan peradangan dan ruam bengkak
kemerahan. Kondisi ini umumnya membuat kulit menjadi sangat kering.
Masalah kulit yang satu ini kerap membuat pengidapnya tidak nyaman. Pasalnya rasa gatal
yang menyertainya bisa sangat ringan bahkan sangat parah.

Dermatitis terdiri dari beberapa jenis. Tiap jenisnya ini memiliki gejala yang berbeda. Ada
yang menetap dalam waktu lama, ada lagi yang hanya muncul jika terpapar zat tertentu.

Namun tak perlu khawatir, dermatitis biasanya tidak menular. Dengan kombinasi perawatan
dan pengobatan yang tepat, gejala penyakitnya bisa terkendali dan teratasi dengan baik.

Seberapa umumkah kondisi ini?


Dermatitis adalah penyakit peradangan kulit yang sangat sering muncul. Kondisi ini
biasanya menyerang 15-20% anak-anak dan 1-3% dari orang dewasa di seluruh dunia.

Meski sangat umum, penyakit kulit ini dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor yang
meningkatkan risikonya. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda dan gejala


Apa saja ciri dan gejalanya?
Tanda-tanda dan gejala dermatitis bergantung pada jenis yang Anda miliki, berikut ulasan
lengkapnya:

Dermatitis atopik (eksim)

Kondisi ini biasanya muncul pertama saat bayi dan bisa terus kambuh hingga dewasa.
Berbagai tanda dan gejala umum dari dermatitis atopik, yaitu:

 Rasa gatal yang parah terutama di kulit yang tertekuk seperti dalam siku, depan leher, dan
belakang lutut
 Ruam yang berkerak dan berair jika tergores
 Bercak merah, kasar, pecah, atau bersisik di kulit

Berbagai gejalanya bisa timbul tenggelam. Biasanya gejala muncul saat Anda terpapar oleh
zat tertentu yang meningkatkan risikonya.

Dermatitis kontak

Dermatitis kontak biasanya muncul ketika kulit terpapar dan terkena zat tertentu yang
menyebabkan reaksi alergi atau iritasi. Biasanya kondisi ini ditandai dengan berbagai gejala
seperti:

 Ruam merah atau benjolan


 Lepuhan berisi air
 Sensasi terbakar dan panas pada ruam
 Kulit terasa gatal
 Kulit membengkak

Biasanya gejala ini hanya muncul pada area kulit yang terkena saja zat alergen saja.
Dermatitis seboroik

Jika dilihat sekilas, dermatitis seboroik mirip dengan ketombe. Kondisi ini biasanya
menyerang area yang berminyak pada tubuh seperti wajah, kulit kepala, dada bagian atas, dan
punggung.

Adapun berbagai gejala yang ditimbulkan yaitu:

 Sisik putih seperti ketombe


 Sisik kekuningan atau kerak pada kulit kepala, telinga, wajah, dan bagian tubuh lainnya
 Kulit merah

Masalah kulit yang satu ini biasanya muncul dalam periode waktu yang cukup lama dan
kerap timbul tenggelam. Pada bayi, penyakit kulit yang satu ini disebut dengan cradle cap.

Kapan saya harus periksa ke dokter?


Apabila Anda atau anak terkena penyakit kulit yang satu ini, segera konsultasikan ke dokter
saat:

 Merasa sangat tidak nyaman sehingga sulit tidur dan aktivitas lain menjadi terhambat
 Kulit terasa sangat sakit
 Curiga kulit mengalami infeksi misalnya keluarnya nanah dari luka di kulit
 Telah mencoba melakukan berbagai perawatan rumahan tetapi tak kunjung membaik

Diagnosis dan perawatan dini dapat menghentikan kondisi memburuk dan mencegah kondisi
medis darurat lainnya. Untuk itu, Anda bisa segera memeriksakan diri ke dokter saat berbagai
gejalanya telah muncul.

Jika memiliki pertanyaan lainnya, jangan sungkan untuk bertanya ke dokter. Diskusikan
dengan dokter kira-kira perawatan dan pengobatan apa yang paling tepat untuk Anda.

Penyebab
Apa penyebab dermatitis?
Beda jenis dermatitis beda pula penyebabnya. Berikut berbagai penyebab dermatitis sesuai
dengan jenisnya:

Dermatitis atopik (eksim)

Jenis penyakit kulit ini kemungkinan disebabkan oleh berbagai faktor, seperti:

 Kulit kering
 Variasi gen
 Kesalahan pada sistem imun
 Bakteri pada kulit
 Faktor lingkungan
 Memiliki riwayat keluarga dengan eksim
 Memiliki alergi atau asma

Dermatitis kontak

Kondisi ini muncul ketika Anda terpapar salah satu iritan atau alergen, seperti:

 Poison ivy (tanaman beracun)


 Perhiasan dengan nikel
 Produk pembersih
 Parfum
 Kosmetik
 Zat pengawet pada krim dan losion

Dermatitis seboroik

Kondisi ini dapat disebabkan oleh jamur (fungus) yang berada pada sekresi minyak pada
kulit. Biasanya kondisi ini bisa datang dan pergi tergantung musim.

Faktor-faktor risiko
Apa yang membuat saya berisiko terkena dermatitis?
Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko Anda terkena kondisi kulit yang satu ini, yaitu:

Usia

Kondisi ini dapat muncul pada usia berapa pun, tetapi dermatitis atopik (eksim) biasanya
muncul pada bayi. Oleh sebab itu, bayi dan anak-anak lebih berisiko terkena eksim.

Alergi dan asma

Orang yang memiliki alergi dan asma lebih berisiko terkena dermatitis terutama jenis atopik.
Namun, tidak diketahui hubungan pasti antara alergi dan asma dengan dermatitis atopik.

Pekerjaan

Pekerjaan yang terpapar langsung dengan logam, pelarut, atau produk pembersih tertentu
meningkatkan risiko terkena dermatitis kontak.

Orang yang bekerja di bidang kesehatan juga sering terkena eksim, terutama di tangan.

Kondisi kesehatan

Anda mungkin akan berisiko tinggi terhadap dermatitis seboroik apabila memiliki salah satu
dari kondisi seperti gagal jantung kongestif, penyakit Parkinson, dan HIV.
Riwayat keluarga

Orang dengan riwayat keluarga yang memiliki dermatitis biasanya lebih rentan terkena
penyakit yang sama. Pasalnya, eksim termasuk salah satu penyakit yang sering kali
diturunkan dari orang tua ke anak-anaknya.

Selain itu, berbagai hal lainnya juga bisa meningkatkan seseorang terkena dermatitis jenis
tertentu. Misalnya, sering mencuci dan mengeringkan tangan bisa membuat seseirang
terserang eksim tangan.

Pasalnya, kebiasaan ini bisa menghilangkan minyak pelindung kulit dan mengubah
keseimbangan pH-nya.

Diagnosis
Bagaimana dermatitis didiagnosis?
Apabila dokter menduga Anda memiliki penyakit kulit ini, pemeriksaan fisik dan beberapa
tes akan direkomendasikan seperti:

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik adalah hal pertama yang biasanya dilakukan dokter untuk melihat
kemungkinan penyakit. Dokter akan melihatnya dari tanda dan gejala yang muncul pada
kulit.

Selain itu, dokter juga akan menanyakan riwayat medis Anda dan keluarga. Dari situ, dokter
mulai bisa menarik simpulan awal mengenai kondisi kulit Anda.

Uji tempel (patch testing)

Jika dokter menduga bahwa Anda terkena dermatitis kontak, ia akan melakukan uji tempel
pada kulit. Dalam tes ini, sejumlah kecil zat dioleskan pada kulit di bawah penutup perekat.

Saat kunjungan lanjutan dalam beberapa hari kemudian, dokter akan memeriksa kulit untuk
melihat apakah Anda mengalami reaksi terhadap zat-zat ini.

Jenis tes ini paling baik dilakukan setidaknya 2 minggu setelah penyakit kulit yang satu ini
menghilang. Biasanya prosedur ini sangat berguna untuk melihat apakah Anda memiliki
alergi kontak tertentu.

Biopsi kulit

Biopsi kulit merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk mencari tahu penyebab
dermatitis. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil sampel kecil kulit untuk dilihat di
bawah mikroskop.

Pengobatan
Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan
pada dokter Anda.

Bagaimana cara mengobati dermatitis?


Bergantung pada penyebab dan kondisi yang dialami pasien, pengobatan untuk kondisi ini
bisa bervariasi.

Selain rekomendasi gaya hidup dan pengobatan rumahan berikut, pengobatan dermatitis di
dokter biasanya meliputi:

 Mengoleskan krim kortikosteroid untuk menghilangkan gatal dan peradagan


 Mengoleskan krim atau losion tertentu yang memengaruhi sistem imun (calcineurin
inhibitors)
 Minum antihistamin (diphenhydramine) untuk mengurangi reaksi alergi dan gatal
 Minum antibiotik atau antijamur jika eksim sudah terinfeksi
 Melakukan fototerapi atau terapi cahaya

Apa saja perubahan gaya hidup dan pengobatan rumahan untuk


mengatasi dermatitis?
Mengompres kulit

Biasanya dokter juga akan meminta Anda untuk mengompres kulit dengan kain dingin atau
basah. Tujuannya yaitu untuk meredakan gatal tanpa menggaruknya.

Mandi air hangat

Mandi air hangat juga biasanya disarankan untuk meredakan gatal-gatal yang mengganggu.
Namun jangan terlalu lama karena justru bisa membuat kulit makin kering sehingga
memperparah gejala. Selain itu, Anda juga bisa menambahkan oatmeal dalam bak
mandi untuk membantu meredakan gatal.

Jangan menggosok atau menggaruk kulit

Agar kondisinya tak semakin parah, jangan menggaruk atau menggosok terlalu keras bagian
kulit yang terkena dermatitis. Pasalnya, kebiasan ini bisa menginfeksi kulit dan membuat
kondsinya semakin parah.

Gunakan pakaian berbahan katun

Pakaian berbahan katun membantu mencegah iritasi kulit. Selain menyerap keringat, bahan
ini juga aman dan lembut di kulit sehinga tidak akan melukai area yang terkena dermatitis.

Lakukan kegiatan menyenangkan

Stres menjadi salah satu hal yang membuat gejala dermatitis semakin parah. Oleh karena itu,
Anda wajib melakukan berbagai kegiatan menyenangkan agar stres tak sempat mampir di
pikiran Anda.
Melakukan yoga, mendengarkan musik, atau sekadar menarik napas dalam-dalam bisa
membantu tubuh tetap rileks. Intinya, lakukan berbagai kegiatan yang membuat Anda
bahagia sepanjang harinya.

Minum suplemen vitamin D

Dilansir dari Vitamin D Council, kecukupan vitamin D di dalam tubuh bisa membantu
mengendalikan gejala eksim. Selain itu, orang yang minum vitamin D juga memiliki gejala
eksim yang lebih ringan dan risiko infeksi yang lebih rendah.

Mengoleskan tea tree oil

Tea tree oil mengandung antibakteri, antijamur, dan antiradang. Oleh karena itu, bahan alami
satu ini bisa menjadi pilihan untuk meredakan dermatitis seboroik.

Namun perlu diingat bahwa tea tree oil perlu diencerkan terlebih dahulu sebelum digunakan.
Campurkan minyak yang satu ini dengan minyak kelapa atau zaitun.

Perawatan ini mampu mengurangi rasa gatal dan mengurangi kemunculan bercak bersisik
pada kulit kepala.

Menggunakan aloe vera

Lidah buaya termasuk tanaman dengan kandungan antiradang yang cukup tinggi. Penelitian
yang diterbitkan dalam Indian Journal of Dermatology menyebutkan bahwa ekstrak tanaman
ini bisa meringankan dermatitis seboroik.

Penelitian menemukan bukti bahwa suplemen yang mengandung lidah buaya bisa membantu
mengendalikan gejala dan keparahan penyakit.

Minum suplemen minyak ikan

Suplemen minyak ikan membantu menekan gejala dermatitis yang dipicu oleh alergi. Selain
itu, suplemen yang satu ini juga membantu menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan
karena mengandung asam lemak omega 3. Asam lemak omega 3 termasuk nutrisi yang bagus
untuk menjaga kesehatan jantung.

Pencegahan
Apa yang harus dilakukan untuk mencegah dermatitis?
Salah satu cara mencegah dermatitis yaitu dengan menjaga kulit dari kekeringan. Untuk itu,
ada berbagai kebiasaan yang perlu diterapkan yaitu:

Membatasi waktu mandi

Batasi waktu mandi Anda hanya sekitar 5-10 menit saja. Jika terlalu lama, kulit bisa semakin
kering. Akibatnya, kondisi penyakit justru akan semakin parah.
Menggunakan pembersih tanpa sabun atau pakai sabun yang lembut

Pilihlah pembersih tanpa pewangi dan deterjen (sabun) yang tidak menghasilkan banyak
busa. Jika harus menggunakan sabun, gunakanlah yang ringan. Pasalnya, sebagian sabun
dapat mengeringkan kulit.

Mengeringkan tubuh dengan hati-hati

Setelah mandi, tepuk-tepuk kulit dengan handuk yang halus. Jangan menggosoknya terlalu
keras karena bisa melukai kulit yang sudah sangat kering.

Melembapkan kulit

Saat kulit masih basah, kunci kelembapan kulit dengan minyak atau krim. Pilihlah pelembap
yang cocok untuk kulit Anda. Tanyakan ke dokter jika Anda bingung produk apa yang kira-
kira tepat dan tidak mengiritasi.

Menghindari iritan

Menghindari berbagai zat yang bisa mengiritasi tubuh membantu mencegah Anda dari
dermatitis kontak. Untuk itu, usahakan untuk menghindari atau membatasi paparannya.

Gunakan sarung tangan jika Anda hendak membersihkan kamar mandi menggunakan
pembersih yang kuat. Hal ini dilakukan agar bahan aktif pembersih kamar mandi tak
langsung mengenai tangan yang bisa menyebabkan ruam.

Bila ada pertanyaan, konsultasikan dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.