Anda di halaman 1dari 14

Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi

Volume 1, Nomor 1, Januari -Juni 2017


http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/cjik
Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati
Bandung

AGAMA DAN BUDAYA MEDIA

M. Hatta
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk.hatta@gmail.com

ABSTRACT
The religious life is experiencing rapid development in conjunction with the revolutionary changes in the
media. At the stage of modernization, entered the twentieth century, the development of the media is an
industry with a wide range of cultures that make it up. But when the religious interests collide with culture
media system, there was friction that easily trigger sensitivity. Harmonization of religion and culture
media, which never happened in the centuries to write the media triumph, now it is often disturbed and
provoked by the dynamics posed by culture media. In the context of the relationship between religion and
culture of this media, one major question that deserves to be answered in this paper is; how to bridge the
interests of religion (as something divine, sacred and ceremonial) with the media culture as an industrial
capitalist. What implications arise and which will result from this relationship.
Will a positive effect on the religious or otherwise.
Keywords: Media, Culture, Religion, Social Change, Community, Islam

ABSTRAK
Kehidupan beragama mengalami perkembangan pesat bersamaan dengan terjadinya perubahan
revolusioner pada media. Pada tahapan modernisasi, memasuki abad dua puluh, perkembangan media
sudah merupakan sebuah industri dengan berbagai budaya yang melengkapinya. Namun ketika
kepentingan agama berbenturan dengan sistem budaya media, muncullah gesekan-gesekan yang gampang
memicu sensitifitas. Harmonisasi agama dan budaya media, yang pernah terjadi pada abadabad
kejayaan media tulis, kini justru sering terganggu dan terprovokasi oleh dinamika yang ditimbulkan
oleh budaya media. Pada konteks relasi antara agama dan budaya media ini, satu pertanyaan mayor
yang layak untuk dijawab pada tulisan ini ialah; bagaimana menjembatani kepentingan agama (sebagai
sesuatu yang ilahi, sakral, dan seremonial) dengan kepentingan budaya media sebagai sebuah industri
yang kapitalistik. Implikasi apa timbul dan yang ditimbulkan akibat dari relasi ini. Akankah
berdampak positif bagi perkembangan agama atau sebaliknya. Kata Kunci : Media, Budaya,
Agama, Perubahan Sosial, Masyarakat, Islam.

Pendahuluan
Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta, “a” berarti tidak dan “gama”
berarti “kacau”. Jadi agama secara bahasa memberi pengertian “tidak
kacau”. Atau dengan kata lain bermakna “keharmonisan”. Namun secara

Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1, Nomor 1 | Januari - Juli 2017 151
M. Hatta

fungsional, agama memberi pengertian tentang adanya integritas dari


seorang atau sekelompok orang dalam hubungannya dengan sesuatu yang
sakral, abadi (immortal) dan power full (sangat berkuasa) yang lazim
disebut tuhan. Pada agama diatur tentang moralitas, ada nilai-nilai dalam
bentuk seremonial ibadah, serta pantangan-pantangan yang harus dijauhi
sebagai bentuk pengakuan tunduk pada tuhan.
Pengertian yang sama pada agama juga terdapat pada kata religion
(bahasa Inggris), religio (bahasa Latin) yang berarti mengikat. Pengertian
religio termuat peraturan tentang kebaktian; bagaimana manusia
menbutuhkan hubungannya dengan realitas tertinggi (vertikal) dalam
penyembahan dan hubungannya secara horizontal (Sumardi, 1985:71)
Islam juga mengadopsi kata agama, sebagai terjemahan dari kata Al-
Din seperti yang dimaksudkan dalam Al-Qur’an surat 3 : 19. Sebagai
lembaga Ilahi yang membimbing manusia untuk mendapatkan keselamatan
dunia dan akhirat. Secara fenomenologis, agama Islam dapat dipandang
sebagai Corpus syari’at yang diwajibkan Tuhan. Cara pandang ini membuat
agama berkonotasi kata benda sebab agama dipandang sebagai himpunan
doktrin. ( Zainul Arifin Abbas, 1984 : 4). Agama Islam disebut Din dan Al-
Din,
Berbeda dengan Komaruddin Hidayat seperti yang dikutip oleh
muhammad Wahyuni Nifis (Andito ed, 1998:47). Ia memandang agama
sebagai kata kerja, yaitu sebagai sikap keberagamaan atau kesolehan hidup
berdasarkan nilai-nilai ke Tuhanan. Perbedaan sudut pandang anatara
“agama sebagai kata benda” dan ”agama sebagai kata kerja” sebetulnya
tidak terlalu banyak dipersoalkan. Karena antar keduanya, mempunyai
persamaan; sama-sama memandang agama sebagai suatu sistem keyakinan
untuk mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat.
Bagaimana dengan budaya?. Sebagai sistem nilai yang didapat
manusia secara turun temurun dalam menjaga dan melestarikan
keharmonisan hidup, baik antar sesama manusia, maupun dengan alam.
Budaya menurut pandangan Soelaiman Soemardi & Selo Soemardjan;
merupakan hasil karya cipta dan rasa suatu masyarakat. Pengertian budaya
secara harfiah, merupakan sebuah sistem gagasan dan rasa dari sebuah
tindakan, serta karya yang dihasilkan oleh manusia didalam kehidupannya
bermasyarakat, yang kemudian diwariskan secara turun temurun dari satu
generasi ke generasi berikutnya.
Pada keduanya, agama dan budaya, terdapar perbedaan prinsipil
dimana budaya diperoleh melalui belajar. Seperti cara makan, minum,
bertani, berinteraksi, dan lain sebagainya. Sementara agama, diterima

152
Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1, Nomor 1 | Januari - Juli 2017
Agama dan Budaya Media

sebagai sesuatu yang sudah jadi (wahyu). Tidak boleh diubah dan dibantah,
tapi wajib diamalkan.
Lebih tegas dikatakan Geertz (1992:13), bahwa wahyu membentuk
suatu struktur psikologis dalam benak manusia yang membentuk
pandangan hidupnya. Atau dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa
budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan
kitab (wakyu) yang diyakininya.
Sementara, interaksi budaya dan agama mengalami lonjakan
revolusioner setelah ditemukannya tinta dan mesin cetak. Inilah tahapan
awal dimana media, menjadi sarana efektif dalam menginformasikan,
menyalurkan, dan memperbanyak ide serta gagasan. Lewat media (cetak)
firman tuhan bisa disebar ke segala penjuru dunia.
Everett M. Rogers (1978) membagi perkembangan komunikasi
manusia dalam empat era, dimulai dari tahun 34000 SM, periode
CroMagnon, hingga memasuki era komunikasi interaktif. Rogers membagi
perkembangan komunikasi manusia dalam empat yakni: Era Komunikasi
Tulisan, Era Komunikasi Cetak, Era Telekomunikasi, dan Era
Komunikasi Interaktif.
Riwayat perkembangan komunikasi di atas menunjukkan, bahwa
ternyata semakin belakangan, ternyata semakin cepat jarak dari inovasi
teknologi komunikasi. Kemajuan yang dianggap penting adalah era
komunikasi cetak yang ditandai dengan penemuan huruf cetak oleh
Johanes Guttenberg (1450). Temuan ini, tentang huruf cetak yang dapat
dipindah-pindahkan, memulai era industri media khususnya media cetak.
Pada awal perkembangannya, temuan huruf cetak ini justru menjadi
babak baru dalam konteks hubungan saling menguntungkan antara
perkembangan budaya media (mesin cetak) dengan agama. Karena sejak
itu, distribusi kitab Injil (Bibel) mengalami penggandaan dalam jumlah
besar dan pendistribusian secara massif dan cepat setelah adanya .mesin
cetak. Lewat mesin cetak, komunikasi dapat dilakukan secara tertulis dan
visual (written and visual communicarion).
Padahal sebelum ada temuan huruf cetak oleh Johanes Guttenberg
(1450), penggandaan Injil dengan tulisan tangan terbilang lambat. Namun
tahap revolusioner budaya media ini justru sempat membuat pihak gereja
kehilangan sebagian otoritasnya. Masyarakat umum yang semula dilarang
untuk membaca Injil/Bible atau hanya pendeta yang boleh membacanya,
kini setelah ditemukan mesin cetak gereja tidak dapat melarang masyarakat
yang ingin membaca Bible.
Kejayaan era media cetak hanya mampu bertahan kurang dari tujuh
abad. Dengan perkembangan teknologi, era media cetak memasuki abad
21 terus mengalami penurunan. Bisnis media cetak tengah dirudung
kehancuran. Kolaps media cetak (baik koran maupun majalah), yang
ditandai dengan penurunan jumlah tiras koran terjadi mendunia tidak

Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1, Nomor 1 | Januari - Juli 2017 153
M. Hatta

hanya Indonesia. Kini era pemberitaan media, didominasi oleh media


elektronik baik televisi maupun internet.
Dalam konstelasi baru media, koran atau media cetak disebut ”media
konvensional”. (3) Era wartawan memegang notes, pulpen, dan
mencatatan omongan nara sumber seperti pada era tahun 50-an hingga
akhir 90-an sudah jarang terlihat lagi. Pergantian perangkat alat wartawan
dari pulpen ke gadget atau handphone ini sekaligus telah mengubur era
stenografi. (4)
Inilah realitas yang menandai telah terjadinya pergeseran dominasi
media cetak kepada media audio visual, gadget, dan internet. Di Indonesia,
peralihan dominasi media ini diperparah dan cenderung berbahaya sejak
dimulainya iklim kebebasan pers. Kebebasan pers di era reformasi ini,
ternyata tidak menjadikan arus informasi menjadi lebih kondusif.
Kebebasan pers tanpa batas ini justru makin diperparah dengan hadirnya
media dunia maya dalam jejaring sosial internet. Dengan atas nama
kebebasan, semua orang bisa menulis apa saja di ruang publik. Cilakanya,
forum media semacam ini mudah dijadikan media provokasi dengan
agenda setting dan tujuan tertentu.
Dalam kondisi semacam ini, masyarakat – publik – audience, dipaksa
untuk mencerna sendiri validitas atau kebenaran dari sebuah informasi
yang ada. Termasuk pada media televisi, yang pada kembangannya saat ini
telah menjelma sebagai sebuah industri dengan sistem kapitalismenya.
Seperti pada media informasi pada umumnya, siaran atau informasi yang
disampaikan mempunyai agenda setting dengan tetap mengutamakan pada
kepentingan pribadi para pemilik modal atau kepentingan keuntungan
bisnis semata.
Mengutip pemikir mazhab Frankfurt tentang media telivisi, mereka
umumnya berkesimpulan bahwa televisi merupakan media informasi yang
melemahkan nilai-nilai kemanusiaaan secara cultural. Theodor Adorno dan
Horkheimer sendiri berpendapat, bahwa dalam industri budaya, khususnya
tentang keberadaan media massa, telah membuat masyarakat menjadi
semakin rendah. (5)
Masyarakat diarahkan untuk mempunyai tingkat persepsi yang sama
terhadap suatu realitas, entah tentang nilai selera, kebutuhan sampai
dengan harkat hidup. Masyarakat dianggap sebagai makhluk yang pasif,
bisa diarahkan dan dibentuk oleh teks teks yang monolog, seolah olah
budaya mereka lebih rendah.
Bukannya berdialog, media bahkan tidak melakukan apa-apa selain
monolog yang membuat individu tetap berada dalam keadaan audien yang
terasing dalam pengertian moral dan sosial. (Keith Teister : 2009 : 87). Pada
tahapan inilah, cengkaraman budaya media menjadi demikian kuat, dan
bahkan cenderung membentuk ancaman terhadap kebudayaan,
kepercayaan atau bahkan keyakinan (agama) masyarakat.
154
Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1, Nomor 1 | Januari - Juli 2017
Agama dan Budaya Media

Budaya Media
Budaya media, dalam pengertian yang sederhana ialah suatu proses
dialektika dari berbagai unsur budaya untuk membentuk suatu kebudayaan,
yang dalam prosesnya melibatkan banyak interaksi media. (Umar
Kayam,1997). Dengan kata lain, intensitas keterlibatan media, akan
memberi karaktek atau corak pada pembentukan kebudayaan itu sendiri.
Sekalipun mendapat interaksi kuat dari media, sebuah kebudayaan tetap
bukan merupakan produk akhir dari pergulatan pikir dan rasa manusia.
Kebudayaan senantiasa dibentuk dalam kondisi tesis-antitesis antara
berbagai unsur budaya.
Dalam perkembangannya, media dalam masyarakat tradisional yang
identik dengan “media lisan”, “media telinga dan media mata” serta “media
pertunjukan” mengalami transformasi budaya pada masyarakat modern
(dengan ciri : bercorak industri, iptek maju, ekonomi pasar bebas, sistem
politik terbuka, sistem pendidikan masyarakat luas).
Kondisi ini oleh Marshall Mc Luhan diistilahkan dengan “the global
village”. Ia menyebut perkembangan sebagai bentuk pergeseran dari;
“masyarakat media budaya tradisional - yang menyaksikan informasi
bersama dalam suatu komunitas lewat ritual,” menuju ke, “komunitaas
masyarakat yang mengasingkan diri - dalam ruang-ruang tertutup
menikmati informasi dalam kumpulan keluarga.)
Pada tahapan ini, istilah dan pengertian ‘budaya media’ memiliki
makna yang sebenarnya. Yakni suatu masyarakat yang memanfaatkan
informasi media dari televisi, internet, radio maupun cetak dengan
semaksimal mungkin. Sehingga hidup sehari-hari nyaris lumpuh bila pada
suatu ketika ‘sang budaya modern’ dari produk budaya media ini hilang
tercabut dari masyarakat.
Garin Nugroho dalam bukunya, memberi penegasan bahwa televisi
adalah urbanisasi kesadaran yang terus menerus terbuka, tidak terbatas, dan
mampu mewujudkan dunia ke dalam rumah. Karena itu ia dapat
memperkembangkan sekaligus memperlemah pikiran manusia.
Televisi sejatinya belum tergantikan kedudukannya oleh internet.
Televisi masih menjadi raja dalam ruang keluarga Indonesia. Internet
mungkin mulai jadi primadona bagi generasi muda, tetapi bagi generasi
orang tua mereka, televisilah yang menyerbu benak mereka dengan
gelombang wacana. Fakta bahwa siaran televisi di Indonesia masih cuma-
cuma, (kecuali untuk tv kabel), merupakan berkah sekaligus bencana bagi
keluarga di Indonesia.
Dalam pembentukan suatu budaya, media massa khususnya televisi,
memiliki andil yang cukup besar. Sebagai salah satu sarana pembentukan
wacana. Media menjadi kekuatan dalam menyebarkan gagasan, bahkan
media dapat menentukan apa yang baik dan buruk. Dengan pengaruhnya,
Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1, Nomor 1 | Januari - Juli 2017 155
M. Hatta

budaya media mampu mendefinisikan nilai-nilai tertentu sehingga diterima


dan diyakini kebenarannya dalam masyarakat. Ia bahkan dapat memberi
legitimasi untuk gagasan tertentu dan mendeligitimasi gagasan yang
dianggapnya menyimpang.
Dengan pengaruhnya yang luar biasa ini, maka hampir sangat
mustahil untuk berharap pada media sebagai pihak yang netral. Budaya
media, memiliki ideologinya sendiri. Informasi yang disampaikan dan
dibentuk oleh media massa bukan berasal dari ruang yang hampa, tapi
diproduksi oleh ideologi tertentu. Begitu besarnya pengaruh ideologi dalam
media massa sehingga ideologi berperan menampilkan pesan dan realitas
hasil konstruksi tampak seperti nyata, alami dan benar. Melalui bahasa dan
kata-kata, ideologi menjelma menjadi “realitas” yang harus dipahami oleh
khalayak. Dan realitas informasi yang disampaikan media, selama ini
adalah realitas yang telah dikonstruksikan sesuai dengan kepentingannya.
Media tentu saja memilih, realitas apa yang diambil dan mana yang
dicampakkan. Lewat bahasa dan gambar, media bisa menggiring opini
publik dalam menentukan seseorang pahlawan atau pecundang.

Kritik Atas Dominasi Budaya Media


Terkait dengan kekuasaan media, Theodor W. Adorno berpendapat bahwa
cengkraman media terhadap audiens itu sungguh-sungguh nyata dan sangat
merusak. Bersama rekannya Max Horkheimer, dua sosiolog dann filosof
Jerman ini menulis sebuah buku “Dialectic of Enlightenment“ yang
pertama kali diterbikan tahun 1947, di mana didalamnya terdapat esai
berjudul “ The Culture Industry : Enlightenment as Mass Deception.” Kedua
filosof ini mencoba menyodorkan idenya mengenai media massa dan
dampaknya terhadap masyarakat. Esai itu merupakan penuangan gagasan
di seputar sifat-sifat masyarakat massa. Adorno kemudian membuat edisi
revisi menjadi sebuah esai yang lebih pendek berjudul Cultural Industry
Reconsidered yang dipublikasi di Inggris setelah dia tutup usia.
Media massa dipahami dalam kerangka “industri budaya” oleh
Adorno dan Hockheimer yang dianalogikan dengan sifat sebagai berikut :
sebuah mesin yang menghasilkan produk-produk hiburan untuk meraup
keuntungan finansial. Mereka menolak adanya bisnis “mass culture”
karena menurut mereka itu bukanlah budaya yang dihasilkan oleh
manusia/masyarakat. Sebaliknya, budaya konsumer yang dipaksakan dari
oleh industri budaya. Dikarenakan konteks komersialisasi ini, produk
media ( apakah itu film, musik, drama Televisi, atau apapun ) tidak akan
menjadi sebuah “art” karena tidak lebih dari sebuah komoditas ( Adorno.
1991:86).
Itulah sisi buruk dari budaya media yang ditangkap Adorno dan Max
Horkheimer. Dalam menjalankan bisnis media, menurut keduanya,
156
Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1, Nomor 1 | Januari - Juli 2017
Agama dan Budaya Media

kepentingan ideologi politik atau bisnis dari pemilik modal akan selalu
tampak lebih dominan saat harus bergesekan dengan realitas atau budaya
yang terkait dengan selesa dan keinginan masyarakat. Seperti pada kasus
peristiwa Gempa di Sumatera; sejumlah media televisi lebih mengutamakan
program favoritnya daripada harus menunda sejenak untuk melaporkan
dampak gempa terhadap korban dan bangunan milik warga.
Meskipun tentu saja pemikiran dua ilmuawan Jerman ini, tidak
sepenuhnya benar. Artinya, tetap saja masih ada sisi baik budaya media
yang bisa mendorong terciptanya keharmonisan dalam mengawal dan
menciptakan budaya masyarakat.
Teori Kritis ini juga memiliki kemampuan dalam mendeksripsikan
secara lanjut hubungan antara budaya dengan media itu sendiri. Teori kritis
pertama kali ditemukan Max Horkheimer pada tahun 1930-an. Pada
mulanya teori kritis berarti pemaknaan kembali ideal-ideal modernitas
tentang nalar dan kebebasan. Teori ini percaya, dapat melihat dampak yang
dihasilkan oleh media, bukanlah efek yang terjadi secara monoton, namun
sebagai sebuah proses timbal balik.
Pada proses timbal balik ini memberi porsi yang seimbang dalam
interaksi komunikasi antara media dengan penonton, audience maupun
pembacanya.
Interaksi komunikasi yang semula berjalan wajar atas dasar saling
membutuhkan ini pada perkembangannya berubah menjadi interaksi
ketergantungan. Pada teori ketergantungan atau (Dependency Theory) ini,
publik atau audience menjadi “tersandera” oleh sajian informasi dari media.
Teori ketergantungan terhadap media ini awal mulanya digagas oleh Sandra
Ball-Rokeach dan Melvin Defleur.
Teori ini berangkat dari sifat masyarakat modern, dimana media
massa diangap sebagai sistem informasi yang memiliki peran penting dalam
proses memelihara, perubahan, dan konflik pada tataran masyarakat,
kelompok, dan individu dalam aktivitas sosial. Secara ringkas kajian
terhadap efek tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: pertama, Kognitif:
Efek kognitif adalah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya
informative bagi dirinya. Melalui media, seseorang memperoleh informasi
tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita kunjungi secara
langsung. Menurut Mc Luhan, “the medium is the message”, media adalah
pesan itu sendiri. Media massa juga berart adalah perpanjangan alat indera
kita (sense extention theory; teori perpanjangan alat indera) (Rachmat, 2007:
220). Dengan media massa seseorang memperoleh informasi tentang
benda, orang atau tempat yang belum pernah dilihat atau dikunjunginya
secara langsung. Maka ketika media massa khususnya televisi sering
menyajikan adegan kekerasan, memberi pengaruh dan pemahaman pada
penonton bahwa dunia ini lebih keras, lebih tidak aman dan lebih
mengerikan.

Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1, Nomor 1 | Januari - Juli 2017 157
M. Hatta

Kedua, Afeksi: Efek Afektif ini kadarnya lebih tinggi daripada efek
kognitif. Tujuan dari komunikasi massa bukan sekedar memberitahu
khalayak tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, khalayak diharapkan dapat
turut merasakan atau terlibat secara emosional. Dari setelah mendengar
atau membaca berita, muncul perasaan sebal, jengkel, marah atau senang
pada diri khalayak.
Ketiga, Behavioral: Efek ini merupakan akibat yang timbul pada diri
khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan. Adegan kekerasan
dalam televise atau film akan menyebabkan orang menjadi beringas.
Pola pendekatan Dependency Theory ini mirip dengan teori Penggunaan
dan Pemenuhan Kebutuhan (uses and gratifications Theory). Perbedaannya,
pada sudut pandang audience yang aktif tidak pasif. Teori menggarisbawahi
pemahaman bahwa khalayak (audience) tidak memiliki ketergantungan yang
sama terhadap semua media. Model ini menunjukkan sistem media dan
institusi sosial itu saling berhubungan dengan khalayak dalam menciptakan
kebutuhan dan minat.
Sehingga bukan sumber media massa yang menciptakan
ketergantungan melainkan kondisi sosial. Pemirsa dilihat sebagai individu
aktif dan memiliki tujuan. Mereka bertanggung jawab dalam pemilihan
media yang akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka dan
individu ini tahu kebutuhan mereka dan bagaimana memenuhinya. Media
dianggap hanya menjadi salah satu cara pemenuhan kebutuhan dan
individu bisa jadi menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan
mereka, atau tidak menggunakan media dan memilih cara lain.

Kehidupan Beragama dalam Budaya Media


Ketika perkembangan media massa mengalami lonjakan revolusioner,
hampir semua tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan dan budaya
mengalami perubahan, termasuk dalam kehidupan beragama. Diawal tahun
70-an, ketika media audio-visual televisi tabung hitam putih menjadi barang
mewah di ruang tamu keluarga kelas menengah keatas, suara panggilan
azan juga masuk televisi.
Tidak jelas, apakah gema azan dikumandangkan pada hari pertama
siaran TVRI atau beberapa tahun kemudian. Namun hal pasti, ketika
kehidupan beragama lewat suara azan mulai terdengar dari dalam tabung
kaca, memberi petanda terjadinya tahapan perubahan dalam beragama.
Dan tanpa disadari, gema azan maghrib (karena baru cuma azan maghrib
yang ditayangkan TVRI) merupakan dahwah Islam yang pertama di tabung
kaca, selain sebagai petanda waktu dengan tergelincirnya matahari ke ufuk
barat bagi umat agama lain.
Karena pada tahapan selanjutnya, bukan hanya gema azan maghrib
dan subuh yang berkumandang di televisi, tapi juga khotbah subur,
158
Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1, Nomor 1 | Januari - Juli 2017
Agama dan Budaya Media

taushiyah, atau siraman rohani mulai menjadi bagian dari acara program
siaran televisi. Kalau pada awalnya hanya televisi plat merah (TVRI), kini –
dan hingga hari ini – berkumandang serentak pada jam dan waktu yang
bersamaan di semua televisi swasta, baik yang ijin siarannya berdomisili di
Jakarta maupun yang siaran di daerah.
Inilah tahapan revolusi budaya media pada kehidupan beragama.
Bahkan mulai tahun 2005, sepanjang bulan Ramadhan tayangan siaran di
tabung kaca di ruang tamu keluarga sudah didominasi oleh
programprogram keagamaan. Namun ueforia keberagamaan Ramadan di
layar tv ini hanya bertahan tujuh tahun atau tujuh kali bulan Ramadan.
Sebab memasuki tahun 2013, nuansa keagamaan atau
programprogram Ilahiah telah bergeser atau lebih tepatnya didistorsi
(digusur) oleh program hiburan. Dengan kata lain, dimensi keagamaan di
bulan Ramadhan berganti menjadi banyolan dan sinetron.
Pada Ramadan 2016 yang baru lalu saja misalnya, Majelis Ulama
Indonesia (MUI) melayangkan protes pada Komisi Penyiaran Indonesia
(KPI) dan pada stasiun televisi yang dituju atas sejumlah program
Ramadan. Pelanggaran yang dimaksud mencakup busana, pembawa acara
atau bintang tamu, dialog, akting, tema dan dialektika pengisi acara.
Program televisi yang dinilai bermasalah adalah Pesbuker Ramadhan
(ANTV), OVJ Sahur Lagi (Trans7), Ramadhan di Rumah Uya (Trans7),
On the Spot (trans7) dan Mari Kita Sahur (Trans TV).
Ketua Umum MUI KH Dr. Ma’ruf Amin menyayangkan adanya
siara televisi yang tidak sejalan dengan semangat menjaga kekhusyu’an dan
peribadatan Ramadhan. Padahal, menurutnya, umat Islam sangat rindu
dengan tayangan televisi yang ramah dengan bulan Ramadhan.
Dampak dari revolusi media dalam kehidupan keagamaan juga
merambah di dunia maya. Media internet, yang mulai populer di awal tahun
2000-an ini, seperti hutan liar yang bisa diakses atau dieksploitasi oleh siapa
saja, dan untuk kepentingan apa saja. Tak terkecuali kepentingan dalam
menyebarluaskan faham keagamaan di satu pihak, dan kepentingan untuk
mengunduh informasi keagamaan dipihak lain.
Di Indonesia, pengguna internet tahun 2012 tercatat ada 63 juta
orang atau hampir 24% jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini terus
bertambah. Pada tahun 2015, diperkirakan ada 139 juta pengguna internet
dengan rata-rata usia 12-34 tahun.
Untuk pengguna Facebook mencapai 48 juta orang dan 29 juta orang
lainnya menggunakan Twitter.(12) Dominannya kaum muda yang
menggunakan internet menandakan masa depan penduduk Indonesia akan
beralih ke media massa digital. Internet saat ini juga telah mengubah
kebiasaan kita sehari-hari dalam berbagi dan menyerap informasi.
Mengubah laku kita dalam menerima informasi dan berkomunikasi.(13)
Bahkan internet kini juga berfungsi dan digunakan sebagai tempat
menimba ilmu agama. Dari berbagai generasi lintas agama, memanfaatkan
Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1, Nomor 1 | Januari - Juli 2017 159
M. Hatta

media sosial sebagai tempat untuk interaksi antar umat beragama maupun
antar mereka yang seiman dan seagama.
Fakta ini merupakan fenomena cyberreligion dimana terdapat
hubungan yang signifikan antara agama dan internet, baik sebagai medium
maupun sebagai ruang kebudayaan. (Fakhruroji, 2011) Maraknya situs-situs
keagamaan di internet memperkuat anggapan adanya aktivitas di dunia
maya.
Hasil sebuah penelitian yang diselenggarakan Pew Internet and
American Life Project kerjasama dengan Stewart M. Hoover and Lynn
Schofield Clark dari Center For Research on Media, Releigion and Culture,
Universitas Colorado menemukan fakta bahwa 25 persen pengguna internet
di Amerika memperoleh informasi agama dan spiritual secara online. Lebih
dari 3 juta orang setiap hari memperoleh materi-materi agama dan spiritual.
Lebih mengejutkan lagi, informasi tentang agama Islam banyak
diakses lewat internet pasca tragedi peledakan World Trade Center 11
September. Elena Larsen dalam makalahnya “Cyberfaith: How Americans
Pursue Religion Online” mengemukakan dari hasil survey terungkap bahwa
23 persen pengguna internet di Amerika mencari informasi tentang Islam
secara online. (15)
Efektivitas penyebaran informasi dalam dunia digital (internet)
memang jauh lebih dahsyat ketimbang media massa cetak. Dunia seakan
menjadi rata. Penyebaran arus informasi menghancurkan batas-batas
geografis. Menghantam sekat-sekat budaya dan kebiasaan. (Friedman:
2006)
Bahkan dalam perkembangan yang ekstrim, budaya media bisa
sangat radikal dalam memberi pengaruh buruk dalam pemahaman
keagamaan sekelompok masyarakat. Contoh paling anyar (baru) ialah kasus
kerusuhan massal bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan aliran
kepercayaan) di Tanjung Balai, Medan, Sumatera Utara pada Sabtu 30 Juli
2016 lalu. Peristiwa yang berawal dari proses seorang warga Tionghoa
bernama Merliana yang merasa keberatan dengan suara azan ini berujung
pembakaran mobil dan perusakan rumah ibadah (kelenteng).
Sekalipun tidak menimbulkan korban jiwa, dalam peristiwa ini
akhirnya terungkap bahwa amuk massa dipicu oleh pesan singkat yang
sebar lewat jejaring sosial facebook. Massa yang terhasut ujaran kebencian
ini terlanjut berkumpul dan akhirnya tidak terkendali melakukan tindak
anarkis dengan merusak dan pembakaran mobil.
Jajaran Subdit IV Cyber Crime Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya
akhirnya berhasil menangkap AT (41 tahun), pelaku penyebaran ujaran
kebencian di media sosial, Facebook, terkait insiden di Tanjung Balai,
Sumatera Utara. Berdasarkan pengakuan pelaku, penyebaran ujaran

160
Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1, Nomor 1 | Januari - Juli 2017
Agama dan Budaya Media

kebencian ia lakukan karena kecewa kepada pemerintahan Presiden Joko


Widodo.

Implikasi Kehidupan Beragama dalam Budaya Media


Salah satu ciri dari budaya media adalah globalisasi. Globalisasi budaya
media yang ditopang dengan teknologi, menjadikan suatu informasi bisa
tersampaikan dengan cepat, singkat, meski belum terntu akurat. Efek
Globalisasi dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan
istilah Globalisasi pada tahun 1985. Kata “globalisasi” diambil dari kata
global, yang artinya universal. Globalisasi juga bisa dimaknai sebagai suatu
proses sosial, proses sejarah, atau proses alamiah untuk mewujudkan satu
tatanan kehidupan baru atau kesatuan koeksistensi dengan menyingkirkan
batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.(18)
Di sudut pandang lain, globalisasi juga bisa difahami sebagai
kapitalisme. Dalam bentuknya yang paling mutakhir, dimana negaranegara
kuat dan kaya mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil
makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing.
Sampai saat ini, Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan,
kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga pemaknaannya
sangat tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Jan Aat Scholte melihat
bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
yakni universalisasi dan westernisasi. (19)
Universalisasi: dengan pengertian semakin tersebarnya hal material
maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat
menjadi pengalaman seluruh dunia. Sedangkan Westernisasi: adalah salah
satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan
budaya dari barat sehingga mengglobal. (20)
Meleburnya norma dan nilai di masyarakat akibat Globalisasi
berpotensi untuk terjadinya perubahan pada tingkah laku masyarakat.
Perubahan yang timbul akibat dari globalisasi budaya media ini bisa
berdampak dampak positf dan negatif.
Segi positifnya, informasi yang didapat menjadi lebih cepat.
Globalisasi, sudah menyerupai trend masyarakat modern. Karenanya,
menjadi bagian dari globalisasi semacam privilage atau hak istimewa. Orang
merasa senang bila bisa menjadi bagian dari perkembangan zaman. Mereka
tidak mau dikatakan ketinggalan zaman. Dengan globalisasai, seseorang
bisa memenuhi kepuasannya tentang semua informasi yang
dibutuhkannya. Bahkan termasuk kebutuhan tentang informasi agama dan
keagamaan.

Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1, Nomor 1 | Januari - Juli 2017 161
M. Hatta

Namun globalisasi, juga mempunyai sisi negatif yang sepadan


dengan sisi positifnya. Segala jenis informasi “kemaksiatan” yang
bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan, bisa tumpah ruah dalam
budaya media yang sudah mengglobal. Budaya media, dalam konteks
globalisasi kerap kali mempunyai kecenderungan “memaksa”.
Problematika ini biasanya muncul ketika terjadi benturan dengan budaya
lokal. Bahkan benturan bisa terjadi pada informasi terkait dengan informasi
keagamaan, akibat perbedaan faham, salah tafsir, dan sebagainya.
Misalnya, informasi keagamaan dari stasiun televisi Iran yang
menganut faham Syiah, belum tentu cocok dengan selera atau faham Sunni
yang dianut mayoritas muslim di Indonesia. Tapi apakah karena perbedaan
madzhab ini, pemerintah atau institusi keagamaan di Indonesia punya
otoritas melarang siaran televisi Iran?
Demikian halnya, informasi budaya media yang tersebar di dunia
maya. Contoh, lewat internet, orang bisa gampang dan mudah mengakses
situs-situs porno. Dan hanphone bisa digunakan untuk menyimpan data-
data yang bertentangan degan nilai-nilai agama.
Dengan kata lain, globalisas budaya media, langsung maupun tidak
langsung dapat mempengaruhi perkembangan moral dan keberagamaan
seseorang. Sebelum ada TV masuk desa atau jejaring internet yang mudah
diakses, suatu wilayah yang semula kental dengan nuansa keagamaannya
bisa berubah menjadi sekuler. Ketika program-program unggulan (apapun
jenis, sinetron maupun kartun) dan diminati audience ditayangkan pada
jam 18.00 maka dapat dipastikan jamaah maghrib di mushola atau masjid
akan sepi atau berkurang. Sekalipun penayangan program unggulan
tersebut, didahuli dengan gema azan.
Tidak sedikit program televisi yang menuai resistensi atau penolakan
dari masyarakat, karena kontainnya programnya dinilai kurang pantas
maupun penempatan jam tayang yang dianggap mengganggu ibadah dan
rutinitas belajar keagamaan anak-anak.
Tayangan program “Kapten Tsubasa” oleh TV7 milik Group
Gramedia sempat mengalami penolakan dengan alasan mengganggu jadual
solat maghrib dan agenda belajar serta tadarusan anak-anak. Film animasi
Kapten Tsubasa, tayang pada jam lima sore.
Program televisi yang juga dinilai mengganggu jadual anak-anak dan
remaja belajar ialah sinetron “si doel anak sekolahan”. Ini belum termasuk
program sinetron lain, seperti “Ganteng ganteng Srigala”, “Tukang Bubur
Naik Haji,” “Tujuh manusia Harimau” dan sebagainya.
Umumnya, program televisi yang diprotes masyarakat tersebut langsung
pindah jam tayang.
Inilah sisi lain, dari efek yang bisa ditimbulkan dari budaya media.
Akibat globalisasi, tayangan televisi bisa membuat audience “tega”
mengkhianati tuhannya dan mengabaikan perintahnya.
162
Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1, Nomor 1 | Januari - Juli 2017
Agama dan Budaya Media

Penutup
Budaya media, dengan segala konsekwensi pengaruh baik dan buruk yang
ditimbulkan, merupakan keniscayaan. Sebuah keharusan atau dalam
kondisi keterpaksaan untuk menerima.Sebab dalam dunia modern, yang
sarat dengan teknologi, arus informasi yang bertebaran disekitar kita hanya
mwemberu dua pilihan; ambil atau tinggalkan. Bahkan pada tahapan paling
ekstrim, rutinitas keagamaan bisa terganggu oleh derasnya arus informasi
yang dihasilkan oleh budaya media. Ada ketergantungan yang nyata, antara
kebutuhan terhadap informasi dengan resistensi yang timbul oleh akibat
kecemasan terhadap media. Kehidupan beragama, mau tidak mau atau
suka tidak suka harus menyesuaikan diri dalam mensikapi terjadinya
perubahan cepat dalam perkembangan arus informasi yang terjadi pada
budaya media. Sebab, bersikap menghindar hanya akan membuat kualitas
manusia beragama tertinggal dalam segala hal.

Daftar Pustaka
Bignell, Jonathan. 2001. Media Semiotics, An Introduction. Manchaster
University Press: London.
Curran, James and Richard Collins, 1986. Media, Culture and Society: A
Critical Reader. Sage Publication: London.
Fairclough, Norman. 1998. Critical Discourse Analysis: The Critical Study of
Language. Longman: London.
Fairclough, Norman. 1995. Media Discourse. Edward Arnold: New York.
Fiske, John. 1982. Introduction of Communication Studies. Routledge: London.
Hall, Stuart. 1992. Culture, Media dan Language. Routledge: London.
Littlejohn, Stephen. 2002. Theories of Human Communication. Wadsworth
Publishing Company: California.
Mills, Sara. 1991. Discourse. Routledge: London.
Mosco, Vincent. 1996. The Political Economy of Communication. Sage
Publication: New York.
Reese, Stephen D,. 2001. Framing Public Life. Lawrence Earlbaum Publisher:
New Jersey.
Riggins, Stephen H,. 1997. The Language and Politics of Exclusion: Others in
Discourse. Sage Publication: London.
Saverin, Werner. 1997. Communication Theories: Origins, Methods and Uses in
the Mass Media. Longman: New York.
Shoemaker, Pamela cs (eds). 1991. Mediating The Message: Theories of
Influences on Mass Media Content. Longman Group: London.
Sumardi, 1985
Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1, Nomor 1 | Januari - Juli 2017 163
M. Hatta

Zainul Arifin Abbas, 1984 Geertz


(1992
Arief Agung Suwasono, http:// dgi indonesia.com, “televisi beserta realitas
nilai medianya
Keith Teister : 2009
Umar Kayam,1997
Garin Nughroho, “Kekuasaan dan Hiburan”. Yayasan Bentang Budaya.
1998.
Eriyanto, “Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media.”
Yogyakarta. LKiS. 2012
Eriyanto, “ Analisis Wacana; Pengantar Analisis Teks Media.” Yogyakarta.
LKiS. 2012
Adorno. 1991
Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (Edisi Revisi), (Bandung:
Remaja Eosdakarya, 2007)
Luthfie, Nukman. Sarapan Baru: Aktivitas Social Media.8 April 2010.
http://www.virtual.co.id/blog/online-behavior/sarapan-
baruaktivitas-social-media/ diunduh pada 16 Mei 2013
Moch. Fakhruroji, Islam Digital: Ekspresi Islam di Internet, Sajjad
Publishing, Bandung, Maret 2011
Friedman, Thomas L. The world is flat. Jakarta. Dian Rakyat. 2006.
Journal_edu.424.wordpress.com. “pengaruh globalisasi
terhadap perkembangan moral, 10 Februari 2013

164
Communicatus: Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1, Nomor 1 | Januari - Juli 2017

Anda mungkin juga menyukai