Anda di halaman 1dari 12

Topik : Menganalisis Berbagai Masalah dan Memecahkan Konflik Ekonomi di

Masyarakat dengan Pendekatan Ekonomi Kelembagaan dalam Persfektif


Lokal

1.1 Kelembagaan Pembangunan dan Pemecahan Konflik Ekonomi dalam Perspektif


Lokal
· Pengertian Kelembagaan Lokal
Kelembagaan adalah suatu himpunan atau tatanan norma – norma dan tingkah laku
yang bisa berlaku dalam suatu periode tertentu dalam melayani tujuan kolektif yang menjadi
nilai bersama dengan menekakan norma perilaku, nilai budaya dan adat istiadat (Uphoff,
1986). Kelembagaan lokal dalam kaitannya dengan pengembangan kelembagaan tidak
terlepas dari kegiatan pembinaan kelembagaan (institutional development) yang merupakan
proses perbaikan kemampuan lembaga guna mengefektifkan penggunaan sumberdaya
manusia dengan keuangan yang tersedia (Israel, 1990).
Dalam konteks kelembagaan, pemahaman sebuah kata “lokal” diinterpretasikan
sebagai sesuatu yang memiliki karakteristik tersendiri yang berkaitan dengan kondisi
setempat. Dimana kata lokal ini merujuk pada kesatuan warga atau komunitas yang
memiliki budaya, aturan, dan sanksi yang harus ditaati. Dengan demikian definisi
kelembagaan lokal merupakan suatu kelembagaan yang berisi nilai – nilai lokal baik berupa
norma, regulasi, dan cultural-kognitif yang menyediakan pedoman, sumber daya, dan
hambatan. Fungsi kelembagaan lokal yaitu memberikan sebuah pedoman yang dapat
dijalankan oleh masyarakat dalam kegiatan sehari – hari. Kelembagaan lokal dapat berbentuk
sebuah relasi sosial yang melembaga(non formal institution), atau dapat juga lembaga dengan
struktur dan badan hukum(formal institution). Menurut Uphoff (1986) kelembagaan lokal
dapat dirinci dalam enam kategori, yaitu administrasi lokal, pemerintah lokal, organisasi –
organisasi yang beranggotakan komunitas setempat, organisasi kerjasama usaha, organisasi –
organisasi pelayanan, dan bisnis swasta.

Secara umum dalam kehidupan masyarakat pedesaan seperti di Bali yang terdapat tiga
lembaga yang menjadi penopang yaitu kelembagaan komunitas lokal (communal institutions)
atau tradisional (sering disejajarkan dengnan istilah voluntary sector), kelembagaan pasar

1
(private sector) karena keterbukaan dengan ekonomi luar, dan kelembagaan sistem politik
atau sistem pengambilan keputusan di tingkat publik (public sector). Ketiga lembaga tersebut
diperkirakan dapat memberikan kerangka kerja yang kuat guna melakukan transformasi
kelembagaan tradisional untuk penguatan perekonomiam di pedesaan. Transformasi
kelembagaan ekonomi pedesaan yang dimaksud yaitu untuk mendorong berkembanngnya
suatu sistem jaringan ekonomi kerakyatan di pedesaan guna memiliki kemampuan untuk
menyesuaikan diri dengan cepat terhadap secara perubahan – perubahan yang terjadi baik di
tingkat nasional maupun internasional.

· Pengembangan Kelembagaan Lokal


Ide dasar dari perspektif pengembangan kelembagaan lokal adalah menciptakan atau
menghidupkan suatu lembaga yang berfungsi dalam mendorong dan mempelancarkan suatu
proses pelaksanaan inovasi.(Wibowo, 2011:125). Hal ini dilakukan karena kelembagaan
mampu untuk meningkatkan atau mempercepat proses pembangunan di pedesaan, mampu
menekankan perbaikan tingkat produktivitas dari masyarakat sehingga menciptakan
kesejahteraan masyarakat. Menurut Taylor dan Mckenzie (1992), ada tujuh alasan kenapa
inisiatif lokal diperlukan. Dari sisi pemerintah, inisiatif lokal dibutuhkan karena pemerintah
belum mampu memberikan pelayanan yang memadai, sementara kemampuan perencanaan
pusat juga dalam kondisi lemah. Dari sisi masyarakat lokal, di antaranya adalah karena masih

2
banyaknya sumber daya yang belum termanfaatkan, yang dipandang akan lebih efektif
apabila menggunakan strategi lokal.
Pemberdayaan berarti mempersiapkan masyarakat desa untuk memperkuat diri dan
kelompok mereka dalam berbagai hal, mulai dari soal kelembagaan, kepemimpinan, sosial
ekonomi, dan politik dengan menggunakan basis kebudayaan mereka sendiri. Jadi
pengembangan kelembagaan lokal diharapkan akan mampu membantu desa menjadi mandiri
dan mampu mengembangkan kelebihan yang ada pada desa tersebut. Dengan terciptanya
desa dengan kelembagaan lokalnya sendiri, desa tersebut akan mampu meningkatkan
pertumbuhan ekonomi dari masyarakatnya. Tidak hanya itu dengan adanya kelembagaan
lokal yang dikembangkan akan menjadi keunikan dari desa tersebut. Keunikan itu pasti akan
menambah daya tarik wisatawan jika berkunjung di desa tersebut.

1.2 Studi Kasus


Transformasi Kelembagaan Guna Memperkuat Ekonomi Rakyat
di Pedesaan
Suatu Kajian Atas Kasus di Kabupaten Tabanan, Bali

Pendahuluan
Sektor pertanian telah mampu memulihkan sekaligus sebagai pondasi kekuatan untuk
mendukung stabilitas kegiatan pada sektor riil yaitu saat terjadinya krisis moneter serta
memiliki peran penting dalam proses pembangunan ekonomi nasional. Peran ini tidak
terbatas dari faktor kelembagaan di masyarakat, misalnya kelembagaan tradisional seperti
subak, banjar adat, ritual religi dan adat budaya di Bali relative masih eksis karena faktor
homogenitas penduduknya. Masyarakat Tabanan, Bali dalam rangka mengembangkan dan
mempertahankan sistem perekonomiannya senantiasa terkait dengan aspek sosial dan budaya.
Sistem usaha pertanian di pedesaan yang melibatkan begitu bannyak orang menunjukkan
kondisi yang serba lemah, baik dari aspek penguasaan sumberdaya, penguasaan teknlogi,
ketrampilan usaha, prasarana ekonomi, serta lemahnya social network.
Metodologi
Dari analisis jurnal menyatakan bahwa penelitian ini dilaksanakan di Provinsi Bali dan
secara purposive memilih Kecamatan Baturiti di Kabupaten Tabanan, yang merupakan daerah
dataran tinggi dengan dominasi usaha tani sayuran sebagai unit analisis yang otonom.
Penelitian ini menggunakan strategi studi kasus multi-lokasi dan multi-metode dalam
pengumpulan data(Yin, 1997). Penelitian ini menggunakan metode survey dan pengamatan

3
langsung di lapangan, serta studi literatur. Lokasi contohnya adalah kecamatan Kediri dan
Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan yang kedua lokasi ini dipilih secara purposive.
Kecamatan Kediri mewakili dataran rendah daratan tinggi, dengan dominaasi usaha tani
hortikultura sayuran. Penelitian ini dilakukan pada Mei- Juli 2003.
Unit penelitian terkecil adalah kelembagaan tradisional atau yang terkait dengan
ekonomi pedesaan. Ada 3 jenis kelembagaan yang diamati secara khusus yaitu: kelembagaan
pemerintah dan politik, kelembagaan pasar (ekonomi), dan kelembagaan komunitas(sosial).
Penelitian ini mengutamakan pendektan kualitatif dan pengamatan semi partisipatif. Dalam
penelitian kualitatif peran teori tidak sejelas dalam penelitian kuantitatif, karena modelnya
bersifat induktif(Alwasilah, 2002), yakni urutan; (1) menggumpulkan informasi; (2)
mengajuan pertanyaan – pertanyaan; (3) membangun kategori – kategori; (4) mencari pola –
pola(teori), dan (5) membangun sebuah teori atau membandingkan pola dengan teori – teori
lain.

Pembahasan
Pertanian di Provinsi Bali untuk masa mendatang diarahkan untuk menjadi usaha
dengan wawasan agribisnis, yaitu dengan muwujudkan pertanian yang lebih modern, efisien
dan tangguh. Sektor pertanian dapat diandallkan sebagai sumber pangan, sumber kesempatan
kerja – pendapatan, pertumbuhan ekonomi dan penghasilan devisa, sehingga ekonomi di Bali
bertumpu pada sektor yang lebih beragam. Pembangunan Provinsi Bali dititik beratkan pada
sektor pertanian, pariwisata dan industry kecil. Namun ekonomi Bali masih sangat bertumpu
pada sektor eksternal (ekonomi global) khususnya sektor pariwisata. Masalahnya adalah
bahwa sektor pariwisata belum dapat dijadikan basis pengembangan ekonomi rakyat dan
ternyata rentan terhadap gejolak eksternal maupun internal. Kepemilikan lahan relative
sempit(kurang dari 0,50 ha) dengan tingkat penguasaan informasi, manajemen dan teknologi
yang masih relative rendah sehingga mengakibatkan usaha sektor pertanian menjadi kurang
menguntungkan dari segi ekonomi. Hal ini merupakan sebuah tantangan ke depan untuk lebih
meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan sumberdqaya pertanian agar usaha tersebut
menguntungkan.

Kinerja Kelembagaan Tradisional


1) Kelembagaan Pemerintah

4
Hasil kajian di pedesaan Bali ditemukan bahwa dahulu kelembagaan tradisional di
bidang pemerinntahan dan politik tingkat desa mempunyai peranan yang sangat
penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat di pedesaan. Hanya saja,
sejalan dengan perkembangan zaman, saat ini tidak di setiap tempat kelembagaan
tersebut masih dijumpai yang berfungsi dengan baik. Kasus di Bali menunjukkan
bahwa lembaga adat, khuusnya banjar, masih sangat kuat dalam mengatur kehidupan
pemerintahaan desa. Masih kuatnya kelembagaan banjar ini disebabkan karena
lembaga ini mengakar pada budaya dan kepercayaan, serta adat – istiadat masyarakat
di pedesaan. Kelembagaan banjar ini hampir dijumpai di setiap desa di Bali. Walaupun
keberadaan kelembagaan pemerintah (Desa Dinas dan Banjar Dinas) tidak ditolak
masyarakat, namun fungsi pemerintahan desa yang dikendalikan oleh Desa Adat (Desa
Pekraman) atau Banjar Adat lebih dominan dan sekaligus menjadi instrument
legistimasi kelembagaan pemerintah. Kelembagan adat di Bali mennjamin setiap
anggota masyarakat memperoleh perlakuan adil selama anggota masyarakat tersebut
mau patuh dan menghormati setiap keputusan yang diambil dalam sistem
musyawarah. Awig – awig(aturan umum) atau perarem( aturan detail)dijadikan
landasan hukum dan pengaturan kehidupan sehari – hari masyarakat pedesaan di Bali.
Kasus di Bali, Desa Dinas atau Kelurahan dalam menjalankan tuggas dan fungsinya di
bidang pemerintahan (administrasi, kependudukan, kepariwisataan, dan aspek – aspek
pembangunan lainnya) bisa menjalin hubungan kerjasama berupa koordinasi dan
konsultasi dengan Badan Perwakilan Desa (BPD) dan Lembaga Ketahanan Masyarakat
Desa(LKMD) serta dengan Desa Adat dan Banjar perlu dipertahankan agar
otonomisasi pelaksanaan pennyelenggaraan pemerintahan dapat terwujud hingga
tingkat desa.
2) Kelembagaan Ekonomi
Kelembagaan ekonomi di pedesaan Bali berkembang lebih dinamis dibanding
kelembagaan pemerintahannya. Dalam kasus penelitian menunjukkan bahwa kegiatan
pemasaran hasil – hasil pertanian (padi, palawijaya, sayuran, buah – buahan,
perkebunan, perternakan) kelembagaan adat, seperti Desa Adat dan Banjar Adat,
hampir tidak memiliki kewenangan dalam mengatur distribusi dan transaksi hasil
pertanian. Kelembagaan tradisional di Bali yang memiliki kaitan langsung dengan
ekonomi masyarakat pedesaan adalah LPD(Lembaga Perkreditan Desa) dan
kelembagaan subak. Adapun kelembagaan ekonomi yang dikenal masyarakat
pedesaan yang relative menonjol adalah koperasi, yang dahulu dikenal dengan

5
KUD(Koperasi Unit Desa). Kelembagaan ekonomi koperasi ini masih dijumpa di
lokasi yang dijadikan penelitian.
3) Kelembagaan Komunitas
Masyarakat di pedesaan Kabupaten Tabanan, Bali awalnya memiliki adat-istiadat
yang khas. Dalam perkembangnnya, budaya keidupan Banjar ini bisa direplikasi
menjadi tatanan kehidupan satu komunitas desa, sehingga pada setiap desa di Bali
dijumpai satu masyarakat Banjar, seperti halnya dengan adanya pura di Bali yang
tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan dan adat – istiadat masyarakat Bali. Fungsi
pura pada dasarnya sebagai bangunan tempat suci yang memberikan berkah secara
terus menerus dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bagi masyarakat Hindu di Bali, pura
tidak saja mampu memberikan kekuatan spiritual tetapi juga diyakini mampu
memberikan kendali dalam berbagai aspek kehidupan, menyelesaikan konflik sosial
maupun antar individu dan mempersatukan masyarakat. Sebagai ilustrasi dalam Desa
Adat diikat oleh keberadaan Pura Tri Khayanngan, kesatuan kelembagaan subak
dalam satu hamparan ekosistem lahan sawah oleh keberadaan Pura Bedugul.
Kelembagaan komunitas di pedesaan Bali lebih banyak digunakan untuk mennjaga
keteraturan sosial, terutama untuk terwujudnya keamanan dan suasana dengan tingkat
ketegangan sosial yang rekatif rendah. Perhtian pemerintah terhadap upaya penguatan
kelembagaan komunitas ini masih rendah. Kelembagaan komunitas lebih banyak
dimanfaatkan aparat pemerintah untuk melancarkan jalannya pelaksanaan program
atau proyek fisik di lapangan.
Simpul Kritis Transformasi Kelembagaan
Dari studi kasus yang diambil yang mengatakan dalam pengamatan di lapangan dapat
dirumuskan beberapa faktor atau simpul kritis yang menunjukkan masih lemahnya
kelembagaan tradisional, baik kelembagaan pemerintah, kelembagaan komunitas, maupun
kelembagaan ekonomi dalam mendukung perekonomian pedesaan. Faktor kritis yang
dimaksud tersebut adalah :
a) Sistem produksi
b) Sistem ekonomi
c) Tatanan politik dan pemerintahan
d) Sistem manajemen dan keorganisasian usaha
e) Sistem penyelenggaraan pembangunan
Pertahapan Transformasi Keelembagaan Ekonomi Pedesaan

6
Transformasi kelembagaan tradisional untuk memperkuat ekonomi kerakyatan di
pedesaan Bali dapat dibagi dalam 3 tahap, yaitu :
1) Tahap Masyarakat Komunal
Tipe masyarakat komunal merupakan cirri yang universal ketika ketergantungan antar
penduduk tinggi dan campur tangan pihak luar rendah sekali. Salah satu cirinya
adalah kepemilikan sumer daya secara bersama dan distribusi manfaatnya juga
bersama – sama. Pada tatanan masyarakat komunal yang sehat, setiap pengambilan
keputusan yang penting dilakukan melalui musyawarah dengan menjunjung tinggi
prinsip kebersamaan(solidaritas). Pada masa sebelum campur tangan pemerintah
secara intensif, yaitu lebih tegasnya legi kira – kira masa sebelum “era
pembangunan”, maka kelembagaan yang hidup di masyarakat di pedesaan Bali
umumnya merupakan kelembagaan yang dibangun sendiri oleh masyarakat Banjar.
Mereka sendiri yang memutuskan untuk membentuk kelembagaan yang dibutuhkan,
mencakup di dalamnya bantuk atau strukturnya, mekanisme pemilihan anggotanya,
pola kepemimpinannya, aturan main ( rule of the game) serta sanksi-sanksinya.
Contoh kelembagaan yang berpola demikian yaitu kelembagaan subak dan banjar.
2) Tahap Penghancuran Masyarakat Komunal
Invansi kekuatan atas desa terhadap masyarakat desa mulai terasa semenjak era
pembangunan, khususnya semennjak berkuasanya pemerintahan Orde Baru. Pada
masa ini, terjadi perombakan yang besar yang tidak hanya terhadap cara berpikir dan
orientasi hidup tetapi juga pada kelembagaan – kelembagaan yang ada. Masyarakat
tidak sempat memahami kenapa perlu sebuah organisasi baru, namun dipaksa untuk
mengikutinya dalam hal ini mereka membutuhkan kehadiran sebuah koperasi.
Masuknya kelembagaan baru, sejalan dengan intensifnya pengembangan program
pembangunan secara fisik, sayangnya bukan memperkuat jaringan kelembagaan lokal
yang telah ada, namun seringkali menggantikan dan menghancurkan kelembagaan
yang sebelumnya telah ada dan mengakar pada kehidupan masyarakat sehari – hari,
yang artinya, masuknya kelembagaan baru secara bersamaan diikuti dengan
pengghancuran kelembagaan tradisional yang dibangun di atas budaya dan semangat
komunitas. Adanya kelembagaan baru di Bali tidak diikuti dengan perusakan
kelembagaan lama. Kelembagaan baru tetap diterima dan sejauh mungkin dijadikan “
vitamin” untuk penguatan lembaga lama atau menjadi pemanis lembaga yang sudah
ada. Oleh karena itu di Bali hingga sekarang ditemukan secara berdampingan lembaga

7
Banjar Dinas dan Banjar Adat, Desa Dinas dan Desa Adat serta lembaga pengairan
dan subak.
3) Tahap Komunitas Baru
Kelembagaan komunitas yang hingga kini masih bertahan di pedesaan Bali adalah
Desa Adat dan Banjar Adat. Dua hal pokok yang menjadi concern kelembagaan desa
adat dan banjar adat sejatnya adalah masalah peribadatan keagamaan dan
permasalahan sosial budaya.
Berbagai Bentuk Transformasi Kelembagaan
Dari berbagai sampel kelembagaan yang dilakuikan oleh penelitian dimana ditemukan
beberapa bentuk transformasi kelembagaan tradisional. Transpormasi tersebut berupa
penggantian struktur atau hanya penambahan struktur, namun ada juga trasformasi pada
aspek tujuan (perubahan atau perluasan tujuan), maupun norma – norma yang dijadikan
pegangannya. Beberapa bentuk transformasi tersebut adalah :
1) Penambahan struktur baru
2) Perluasan tujuan
3) Penambahan aktifitas pada bidang ekonomi
4) Pergeseran tingkat otonomi kelembagaan
Model Transformasi Kelembagaan
Dari beberapa kasus transformasi yang terjadi terlihat beberapa kecenderungan
kekuatan yang bisa dikelompokkan menjadi beberapa pola yaitu :
a) Tarikan kelembagaan pasar lebih kuat dibandingkan kelembagaan pemerintahan. Para
pelaku pemasaran selama ini menjunjung tinggi ideology pasar dan sudah terbiasa
menjalani usahanya dengan berlandaskan norma – norma yang berlaku di pasar.
b) Tarikan kelembagaan pasar yang berlandaskan komunittas lebih mampu menggantikan
dukungan kelembagaan pemerintah. Koperasi – koperasi yang semenjak beberapa
tahun terakhir ini tidak lagi mendapat dukungan penuh dari pemerintah justru malah
lebih mampu mengembangkan usahanya.
c) Tarikan kelembagaan komunitas lebih mampu menjamin keberhasilan dibandingkan
kelembagaan pemerintah. Fenomena ini ditemukan kepada kunci suksesnya
keberhasilan LPD.

8
1.3 Ulasan Kasus
Berdasarkan kasus diatas dapat kita lihat bahwa pertanian di pedesaan mampu
membantu dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di Bali. Sektor pertanian merupakan
salah satu sektor yang saat ini ingin dikembangkan pemerintah agar dapat mendorong
tumbuhnya ekonomi. Dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonommi khususya di
pedesaan diperlukannya suatu kelembagaan yang memadai yang mampu mendorong
produktivitas masyarakat pedesaan yang terjadi di semua sektor. Dalam kasus tersebut tujuan
pembentukan kelembagaan masih terbatas pada peningkatan produksi sehingga perlunya
penekanan terhadap kelembagaan yang dibentuk atau yang sudah ada agar mampu
menciptakan dan mendorong kreativitas dari masyarakat di daerah tersebut. Sektor pertanian
merupakan salah satu sektor yang saat ini ingin dikembangkan pemerintah agar dapat
mendorong tumbuhnya ekonomi.
Pertanian saat ini dikembangkan menuju pertanian yang modern, seperti yang kita tahu
Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya
adalah petani selain itu juga didukung oleh lahan yang luas.. Dengan adanya pertanian
modern ini diharapkan mampu meningkatkan kesempatan kerja masyarakat dan tentunya
membantu perekonomian negara. Namun pengembangan pertanian modern di daerah tidaklah
gampang seperti contohnya di Bali karena peran kelembagaan lokal yang masih mengikat
masyarakatnya. Perkembangan pertanian di bali masih kental akan adat istiadat nya yaitu
para petani di Bali masih menggunakan dan melestarikan subak. Dengan begitu tidak
gampang dalam mewujudkan pertanian yang modern harus juga mengutamakan
pengembangan kelembagaan lokal di Bali atau daerah-daerah lainnya. Selain itu salah satu
peran kesuksesan kelembagaan lokal komunitas yaitu suksenya LPD di Bali yang fungsinya
mampu membantu masyarakat Bali dalam segi keuangan dan tentunya sesuai dengan adat
lokalnya sendiri.
Jadi dapat disimpukan bahwa peran kelembagaan lokal di Bali itu penting karena jika
kelembagaan dijalankan selaras dengan kebudayaan lokal yang ada hingaa saat ini maka akan
membantu dalam pengembangan pertumbuhan ekonomi di Bali. Jika pertumbuhan ekonomi
di bali meningkat tentunya diikuti oleh meningkatnya pendapatan masyarakat dan
kesejahteraan masyarakat juga meningkat. Peran keberadaan kelembagaan di bali
memberikan efek yang positif bagi sektor pertanian seperti subak yang saat ini masih
bertahan dan sebagai salah satu kelembagaan tradisional di Bali. Selain itu sosial budaya pada
kelembagaan lokal seperti banjar adat akan selalu dipergunakan dan dipertahankan dalam
menjaga keasrian budaya bali. Dengan begitu aspek sosial budaya dengan kelembagaan

9
ekonomi modern akan memenuhi tuntutan ekonomi global saat ini. Diharapkan peran
pemerintah juga membantu dalam pengembangan kelembagaan lokal ini dengan cara
mendukung setiap desa atau daerah untuk selalu mengedepankan budaya lokalnya untuk
sektor apapun terutama di sektor pertanian.

1.4 Inventarisasi Variabel


1) Kelembagaan Pemerintah
Kelembagaan pemerintah adalah lembaga yang melayani masyarakat lembaga
pemerintahan memiliki program-program untuk menunjang kesejahteraan dan
memfasilitasi masyarakat. Program tersebut akan membentuk sebuah program
kebijakan. Salah satunya kebijakan pembangunan. Pada umumnya pembangunan
merupakan kehendak dari masyarakat yang terwujud dengan keputusan-keputusan
yang diambil oleh para pemimpinnya. Kebijakan pembangunan yang lembaga
pemerintahan laksanakan merupakan representasi dari kepentingan publik atau
warganya, atau pihak lain diluar tubuh organisasi itu sendiri (Harun, Rochajat dan
Elviano Ardianto, 2011: 249).
2) Kelembagaan Ekonomi
Kelembagaan ekonomi adalah suatu lembaga yang memiliki kegiatan di bidang
ekonomi demi terpenuhinya kebutuhan masyarakat. Atau definisi dari lembaga
ekonomi yang lainnya yaitu suatu lembaga yang mengatasi berbagai masalah
mengenai cara produksi, pendistribusian atau pelayanan suatu jasa yang di perlukan
oleh masyarakat supaya kebutuhan masyarakat tersebut dapat terpenuhi. (Sora N,
2015)
3) Kelembagaan Komunitas
Keberlanjutan kelembagaan komunitas lokal dipengaruhi oleh faktor-faktor, yaitu : (1)
jejaring kerjasama; (2) intervensi positif pemerintah; (3) kecukupan anggaran; dan (4)
aturan-aturan tertulis. Dengan demikian, melalui program-program pengembangan
jejaring kerjasama, intervensi pemerintah, kecukupan pangan, dan aturan-aturan
tertulis dapat meningkatkan keberlanjutan kelembagaan (Radyowiyono, Arina, 2011)
4) Ekonomi Kelembagaan Lokal
Ekonomi kelembagaan lokal merupakan kerangka pemikiran dalam perkembagan
kelembagaan apapun di tengah masyarakat tidak terlepas dari tiga bentuk kekuatan
yang saling tarik menarik, yaitu kelembagaan pemerintahan, pasar, dan komunitas.

10
Ketiganya memiliki ideologi yang berbeda, serta juga menghendaki penggunaan
norma dan juga struktur yang berbeda-beda. (Saptana, Tri Pranadji, Syahyuti dan
Roosganda Elizabeth, 2004: 22)

1.5 Kerangka Konsep

Kelembagaan
X1
Pemerintah

Kelembagaan Ekonomi Ekonomi


X2 Y
Kelembagaan Lokal

Kelembagaan X3
Komunitas

· Variabel bebas (X1) yaitu kelembagaan pemerintah berpengaruh terhadap variable


terikat (Y) yaitu ekonomi kelembagaan lokal
· Variabel bebas (X2) yaitu kelembagaan ekonomi berpengaruh terhadap variable terikat
(Y) yaitu ekonomi kelembagaan lokal
· Variabel bebas (X3) yaitu kelembagaan komunitas berpengaruh terhadap variable
terikat (Y) yaitu ekonomi kelembagaan lokal
· Variabel terikat (Y) yaitu ekonomi kelembagaan lokal mempengaruhi ketiga variable
bebas X1,X2, dan X3 yaitu kelembagaan pemerintah, ekonomi dan komunitas.

11
DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar. 2002. Pokoknya Kualitatif: Dasar-Dasar Merancang dan


Melakukan Penelitian Kualitatif. Pustaka Jaya bekerjasama dengan Pusat Studi
Sunda. Jakarta.
Dany, Ely Triwulan. 2015. Perencanaan Partisipatif Berbasis Kelembagaan Lokal dan Kapital
Sosial.“https://www.academia.edu/32015406/Perencanaan_Partisipatif_Berbasis_Kelemba
gaan_Lokal_dan_Kapital_Sosial”. Diakses pada 12 Oktober 2013.
Harun, Rochajat dan Elviano Ardianto. 2011. Komunikasi Pembangunan dan Perubahan
Sosial: Perspektif Dominan, Kaji Ulang dan Teori Kritis. Jakarta: PT.Raja Grafindo
Persada.
Israel, Arturo. 1990. Pengembangan Kelembagaan ; Pengalaman Proyek-Proyek Bank Dunia.
Jakarta. LP3ES.
Radyowono, Arina. 2011. Kelembagaan Komunitas Lokal dan Proses-Proses Kebijakan
dalam Pengelolaan DAS. “http://anvinaayunita.blogspot.com/2011/08/kelembagaan-
komunitas-lokal-dan-proses.html?m=1”. Diakses pada 12 Oktober 2019.
Saptana, Tri Pranadji, Syahyuti dan Roosganda Elizabeth. 2004. Tranformasi Kelembagaan
Guna Memperkuat Ekonomi Rakyat Di Pedesaan: Suatu Kajian Atas Kasus Di
Kabupaten Tabanan, Bali. Bogor: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian. 4(2): 1-30.
Sora N. 2015. Pengertian Lembaga Ekonomi dan Contohnya Serta
Fungsinya. “http://www.pengertianku.net/2015/05/pengertian-lembaga-ekonomi-dan-
contohnya.html”. Diakses pada 12 Oktober 2019.
Taylor, D.R.F; dan McKenzie. 1992. Development from Wihins. Routledge. Chapter 1 dan
10. London.
Uphoff, Norman. 1986. Local Institutional Development: An Analytical Sourcebook
with Cases. Rural Development for the Comttee Cornell University. Kumarian
Press. United State of Amarica.
Wibowo. 2011. Manajemen Kinerja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Yin, Robert, K. 1997. Studi Kasus : Desain dan Metode Jakarta : PT. Praja Grafindo
Persada. Ed.1 Cet.2.

12