Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) mempunyai 3 tugas utama, yaitu:
melaksanakan kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat Pembina
Kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,
memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas, serta
mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Tidak terkecuali bagi seorang PNS yang berkerja di sebuah instansi
rumah sakit (RS) milik pemerintah, tetap harus menjalankan tiga tugas sebagai
seorang PNS tersebut serta menjalankan tugas pelayanan kesehatan publik di
rumah sakit.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tongas, merupakan sebuah institusi
milik Pemerintah Kabupaten Probolinggo yang memberikan pelayanan
kesehatan upaya penyembuhan dan pemulihan penyakit. Sebagai sebuah
organisasi milik pemerintahan, RSUD Tongas tentu tidak lepas dari masalah
baik masalah medis maupun non-medis yang dapat menghambat fungsi rumah
sakit itu sendiri.
Berdasarkan data rekam medis, penderita penyakit infeksi di RSUD
Tongas meningkat pada tahun 2017 dan 2018. Pada tahun 2017, jumlah
penderita penyakit infeksi di intalasi rawat inap sebanyak 581 pasien dan di
instalasi rawat jalan sebanyak 1.460 pasien. Jumlah ini meningkat pada tahun
2018, yakni sebanyak 606 pasien di instalasi rawat inap dan 2.126 pasien di
instalasi rawat jalan. Semakin bertambahnya kasus penyakit infeksi di RSUD
Tongas, menyebabkan peningkatan penggunaan antibiotik. Pada tahun 2017
tercatat penggunaan antibiotik injeksi sebnayak 29.597 buah dan antibiotik oral
43.095 buah. Penggunaan antibiotik ini meningkat pada tahun 2018 sejalan
dengan jumlah kasus penyakit infeksi, yakni sebanyak 34.423 buah antibiotik
injeksi dan 54.620 buah antibiotik oral.
Tingginya prevalensi penyakit infeksi akan semakin meningkatkan
penggunaan antibiotik. Kuantitas penggunaan antibiotik yang semakin lama
1
semakin meningkat ini, menjadi perhatian khusus di RSUD Tongas. Selain
kuantitas, kualitas penggunaan antibiotik atau rasionalitas penggunaan antibiotik
juga merupakan permasalahan yang serius di RSUD Tongas.
Menurut Kemenkes RI (2015) ditemukan 30-80% pengunaan antibiotik
tidak didasarkan pada indikasi yang tepat. Penggunaan antibiotik yang tidak
tepat dapat memicu terjadinya resistensi (WHO, 2014). Resistensi antibiotik ini
merupakan permasalahan global. Dampak adanya resistensi antibiotik adalah
dapat meningkatkan morbiditas, mortalitas, serta biaya rumah sakit yang
meningkat. Sehingga diperlukan kebijakan penggunaan antibiotik berdasarkan
diagnosis oleh tenaga medis profesional, monitoring dan regulasi penggunaan
antibiotik untuk meningkatkan penggunaan antibiotik secara rasional.
Diperlukan pemahaman dan keyakinan tentang adanya masalah
resistensi antimikroba, yang kemudian dilanjutkan dengan gerakan nasional
melalui program terpadu antara rumah sakit, profesi kesehatan, masyarakat,
perusahaan farmasi, dan pemerintah daerah di bawah koordinasi pemerintah
pusat melalui kementerian kesehatan. Gerakan penanggulangan dan
pengendalian resistensi antimikroba secara paripurna ini disebut dengan
Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA).
Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) nomor 8 tahun 2015 RSUD
Tongas diharuskan untuk melaksanakan Program Pengendalian Resistensi
Antimikroba (PPRA) secara optimal. PMK nomor 8 tahun 2018 ini juga
digunakan sebagai salah satu instrumen penilaian oleh Standar Nasional
Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Edisi I Tahun 2017, yakni dalam Standar 4:
Rumah Sakit menyelenggarakan pengendalian resistensi antimikroba sesuai
perundang-undangan.
Sesuai SNARS edisi I, rumah sakit harus menyusun program
pengendalian resistensi antimikroba (PPRA) yang terdiri dari: peningkatan
pemahaman dan kesadaran seluruh staf, pasien dan keluarga tentang masalah
resistensi antimikroba, pengendalian penggunaan antibiotik di rumah sakit,
surveilans pola penggunaan antibiotik di rumah sakit, surveilans pola resistensi
antimikroba, dan pelaksanaan forum kajian penyakit infeksi terintegrasi.

2
Sehubungan dengan hal tersebut diatas solusi yang ditawarkan adalah
implementasi Program Pengendalian Resistensi Antibiotik (PPRA) di
RSUD Tongas.
1.2. Tujuan Aktualisasi
Setelah mengikuti kegiatan pelatihan dasar ini peserta diklat diharapkan
mampu mengaktualisasikan rancangan yang telah dibuat berdasarkan nilai-nilai
dasar profesi ASN sehingga dapat tercapai tujuan sebagai beikut:
1.2.1 Tujuan Jangka Pendek
a) Membentuk Tim PPRA di RSUD Tongas
b) Menyusun pedoman PPRA di RSUD Tongas
c) Menyusun program kerja PPRA di RSUD Tongas
d) Menyusun SOP audit kuantitatif penggunaan antibiotik di RSUD Tongas
e) Menyusun SOP audit kualitatif penggunaan antibiotik di RSUD Tongas
f) Menyusun rekam medis lembar pengumpul data PPRA di RSUD Tongas
g) Sosialisasi PPRA dan penggunaan antibiotik yang bijak di RSUD Tongas
1.2.2 Tujuan Jangka Menengah
a) Pengendalian penggunaan antibiotik di RSUD Tongas.
b) Survailans pola penggunaan antibiotik (kuantitatif dan kualitatif).
c) Survailans pola resistensi antimikroba (peta kuman).
d) Terlaksananya forum kajian penyakit infeksi terintegrasi.
1.2.3 Tujuan Jangka Panjang
a) Perbaikan kuantitas dan kualitas penggunaan antibiotik
b) Perbaikan pola sensitivitas antibiotik dan resistensi antibiotik.
c) Penurunan insiden infeksi di RSUD Tongas yang disebabkan oleh
mikroba multiresisten.
d) Peningkatan mutu penanganan infeksi secara terintegrasi atau
multidisiplin.

1.3. Manfaat Aktualisasi


Adapun manfaat pelaksanaan aktualisasi ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Internal :
1) Mengoptimalkan program kerja PPRA di RSUD Tongas
2) Mengetahui pola penggunaan antibiotik di RSUD Tongas
3) Sebagai acuan untuk menyusun panduan penggunaan antibiotik
terapi dan profilaksis di RSUD Tongas.
2. Manfaat Eksternal:
1) Mendukung gerakan nasional penanggulangan dan pengendalian
resistensi antimikroba secara paripurna.

3
2) Memberikan pelayanan tatalaksana antibiotik yang rasional bagi
pasien.
1.4. Ruang Lingkup
Rancangan aktualisasi ini merupakan suatu gagasan atau usulan untuk
mengoptimalkan program kerja PPRA di RSUD Tongas. Rancangan aktualisasi
ini adalah implementasi dari nilai-nilai dasar ASN yaitu Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi (ANEKA), serta
kedudukan dan peran ASN dalam Pelayanan Publik, Whole of Government, dan
Manajemen ASN.
Adapun rancangan ini merupakan bentuk analisis pola penggunaan antibiotik di
instalasi rawat inap kelas III RSUD Tongas. Untuk mempejelas suatu masalah
yang akan di bahas dan agar tidak terjadi pembahasan yang meluas atau
menyimpang, maka perlu kiranya di buat suatu batasan masalah. Adapun ruang
lingkup permasalahan yang akan di bahas dalam penulisan laporan ini berada
pada instalasi rawat inap kelas III RSUD Tongas.