Anda di halaman 1dari 19

Legenda Prabu Angling Dharma: Teori Struktur Naratif ala Maranda

Yustia Imroatin Habibah


S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri
Surabaya
e-mail: (yustia.17020074007@mhs.unesa.ac.id)

Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan unsur terem dan fungsi yang terdapat di dalam
Legenda Prabu Angling Dharma. Konsep utama dalam Struktur Naratif ala Maranda adalah
Terem dan Fungsi. Pertama, Terem (Term) adalah simbol yang dilengkapi dengan konteks
kemasyarakatan dan kesejarahan. Selain itu, terem dapat berupa dramatis personae, pelaku
magis, gejala alam. Data diperoleh dengan teknik membaca, mencatat, dan mengkritik. Data
dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitiannya sebagai berikut,
diantaranya unsur terem Angling Dharma adalah terem pertama (TP) dengan tanda a
merupakan unsur nama kesejarahan, Tuhan Yang Maha Esa adalah terem kedua (TK) dengan
tanda b merupakan mediator. Kemudian unsur fungsi ada dua yaitu fungsi keburukan dan fungsi
kebaikan. Fungsi keburukan diantaranya kata sombong adalah fungsi keburukan yang di tandai
dengan tanda x1. Fungsi kebaikan diantaranya kata sakti yang di tandai dengan tanda y1.
Kata Kunci: terem, fungsi, simbol

PENDAHULUAN

Dalam struktur naratif ala Maranda, jika direfleksikan ke dalam cerita legenda yang lain di
Indonesia, maka dapat dicontohkan adanya fenomena Legenda Upacara Kasada suku Tengger yang
bermula ketika seorang pertapa sedang bertapa di Gunung Penanjakan, isterinya melahirkan seorang
bayi laki-laki yang sangat sehat dan kuat kemudian diberi nama Joko Seger. Ditempat lain ada seorang
bayi perempuan yang sangat tenang sejak lahir yang kemudian diberi nama Rara Anteng. Joko Seger
tumbuh menjadi laki-laki yang kuat dan perkasa, sedangkan Rara Anteng tumbuh menjadi wanita yang
sangat cantik, kedua menjalin asmara. Ketenaran akan kecantikan Rara Anteng tersiar ke penjuru
pelosok, sehingga banyak yang ingin melamarnya, termasuk seorang bajak yang sangat sakti. Rara
Anteng tidak berani menolak lamaran pelamar sakti itu, namun Rara Anteng memberikan syarat yaitu
minta dibuatkan lautan ditengah-tengah Gunung dalam waktu satu malam. Rara Anteng gelisah dan
berusaha menggagalkan usaha bajak tersebut, dengan menumbuk padi agar ayam-ayam segera bangun
dan berkokok sebagai tanda hari akan segera pagi. Bajak tersebut menghentikan pekerjaannya karena
mendengar suara kokok ayam dan merasa kecewa karena usahanya gagal. Rara Anteng kembali merajut

1
asmara dengan Joko Seger dan tak lama kemudian mereka menikah dan memimpin sebuah desa yang
dinamakan Tengger. Kehidupan desa Tengger dengan kepemimpinan Joko Seger dan Rara Anteng
damai dan sejahtera, namun karena mereka tidak segera mendapatkan anak, warga desa menjadi sedih
dan kasian kepada mereka. Warga desa menyarankan mereka untuk bersemedi di puncak Gunung
Bromo memohon kepada Sang Pencipta untuk diberikan anak. Ada suara gaib yang muncul ketika
mereka bersemedi, suara gaib itu mengatakan bahwa permohonan mereka dikabulkan dengan syarat
anak bungsu mereka harus dikorbankan. Setelah itu mereka memiliki 25 orang anak, dan ingkar janji
untuk mengorbankan anak bungsu mereka. Dewa murka dan mengancam akan menimpakan
malapetaka, kemudian Kesuma anak bungsu mereka tiba-tiba menghilang terjilat api dan masuk ke
kawah Gunung Bromo. Kemudian terdengar suara Kesuma yang mengatakan bahwa ia telah
dikorbankan untuk menyelamatkan warga, Kesuma meminta warga untuk menyembah Hyang Widi dan
memberikan sesaji setiap hari ke-14 pada bulan Kasada setiap tahun.
Dalam artikel ini yang akan menjadi pokok pembahasan adalah analisis struktur naratif ala
Maranda. Konsep utama dalam Struktur Naratif ala Maranda adalah Terem dan Fungsi. Pertama,
Terem (Term) adalah simbol yang dilengkapi dengan konteks kemasyarakatan dan kesejarahan.
Selain itu, terem dapat berupa dramatis personae, pelaku magis, gejala alam. Semua itu merupakan
segala subjek yang dapat berbuat atau melakukan peran tertentu dalam cerita. Terem-terem ini satu
sama lain saling bertentangan. Semua terem ini dapat dikategorikan sebagai peran tunggal dan
peran ganda. Terem pertama (TP) terdapat dalam unsur peran tunggal dalam awal cerita (rakyat)
sebelum pemecahan suatu krisis. Terem kedua (TK) yang juga disebut sebagai “mediator” dapat
dijumpai pada unsur peran ganda dalam situasi sebelum suatu krisis terselesaikan seperti dalam
skema berikut:

Skema:

(alur cerita rakyat)


Fungsi (function) ialah peranan yang dipegang oleh terem. Dengan begitu ia mempengaruhi
terem (bersifat dinamis). Tetapi meskipun begitu fungsi itu wujudnya dibatasi oleh terem,
maksudnya wujud itu hanya sepert i apa yang diekspresikan dalam terem yang memberinya wujud
yang nyata. Simpulannya terem itu berubah-ubah, sedangkan fungsi itu tetap.

Skema:

2
Fungsi: Kebaikan Keburukan

Terem: A A
B B

Catatan : Kedudukan A dapat digantikan oleh B


Dalam analisis ini dipergunakan istilah terem dan fungsi. Terem adalah simbol yang dilengkapi
oleh konteks kemasyarakatan dan kesejahteraan, dan juga berupa dramatis personae, pelaku magis,
gejala alam dan lain-lain, yaitu segala subjek yang dapat berbuat atau melakukan peranan. Sedangkan
fungsi adalah peranan yang dipegang oleh terem. Terem berubah-ubah, sedangkan fungsi tetap. Dengan
demikian, terem yang muncul di dalam suatu varian dapat digantikan oleh terem yang muncul dalam
varian lain asalkan terem-terem tadi melakukan fungsi yang sama.
Pemakaian tanda : dan :: dalam analisis untuk menunjukkan hubungan sebab akibat. Untuk
terem dipergunakan a,b,c,d,e,f, dan seterusnya. Sedangkan untuk fungsi dipergunakan tanda x,y,z.
Sedangkan rumus yang dipergunakan ialah: (a)x : (b)y :: (b)x : (y)a-1
Terem (a) adalah terem pertama yang menyatakan unsur dinamik. Tanda (b) adalah terem
kedua. Tanda x adalah fungsi yang member kekhasan kepada terem (a). Tanda y adalah fungsi yang
bertentangan dengan tanda x yang member kekhasan kepada terem (b) dalam pemunculannya yang
pertama. Tanda a-1 merupakan tanda perubahan terem menjadi tanda fungsi. Hal ini terjadi karena
rumus tersebut tidak linier.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah
Legenda Prabu Angling Dharma. Penelitian difokuskan pada terem dan fungsi dengan
menggunakan struktur naratif ala Maranda. Data diperoleh dengan teknik membaca, mencatat, dan
mengkritik. Data dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkip
Legenda Prabu Angling Dharma
Angling Dharma niku nalikane isih nom deweke seneng nulung marang podo-podo, seneng
nulung marang kancane, marang wong sing diroso perlu butuh pitulungan. Lan Angling Dharma iku
sering memberantas kejahatan, dadi Angling Dharma jek nom wes biasa mberantas kejahatan. Lan
akeh perampok-perampok sing wes iso dikalahno dening Angling Dharma, sehingga deweke

3
disegani wong akeh. Lan Angling Dharma niku nalikane remaja, dewe niku wis mengasah
kemampuan yaitu masalah bela diri utawa persilatan. Kelawan bekal keterampilan sing dinduweni
Angling Dharma niku, akhire Angling Dharma gampang dewe arep sinau masalah bela diri. Terus
akhirnya Angling Dharma niku sinau utawa belajar marang Begawan Maniksutra diulang yo
utamane masalah karo kanuragan lan ugo diulang berburu. Lan keterampilan Angling Dharma niku
luar biasa, ing ndalem telung puluh menit, Angling Dharma niku iso nangkep utawa nglumpuhne
singo. Angling Darma niku sawise berburu deweke iku luar biasa. Angling Dharma biso nangkep
singo sing akehe telu. Sawijining dina mau gurune gak seneng mergo weruh Angling Dharma
nangkep singo mau banjur Angling Dharma ditimbali Begawan Maniksutra “Hee Dharma, leren!”
terus jawabane Angling Dharma “enek opo? minggiro Sira!”. Banjur Begawan Maniksutra jawabi
“dasar bocah kurang ajar! Ayo singo mau uculne”. Banjur Angling Dharma mau ngomong “aku ora
wedi, senajan biyen jenengan tau dadi guruku”. “Ancene mundak gedhe mundak kurang ajar, he
Dharma rasakno iki... Akhire mendadak taline singo mau ucul, biso lepas saka jurus Begawan
Maniksutra. Angling Dharma kaget tali sing wes ditaleni biso ilang. Sangking kaget lan mlayu
supaya ora digodak karo singo mau. Begawan Maniksutra idep-idep nang ngarepe Angling Dharma.
Angling Dharma mau langsung jaluk sepuro marang Begawan Maniksutra nampa maneh ben dadi
muride. Terus Angling Dharmo mau banjur diparingi ilmu-ilmu sing luwih bagus lan mantap.
Supaya bisa neruske pengetahuan lan ilmu-ilmu kangge njogo negoro utawa kerajaan. Akhire
Angling Dharma sukses biso nguasai pengetahuan lan jurus-jurus sing diulangno Begawan
Maniksutra.
Banjur sak teruse mau Angling Dharma kepengen mbangun negeri, sebab deweke ngerti
ceritane mbah-mbahe mbiyen Angling Dharma niku sering berselisih lan sering gegeran karo
kerajaan liyo. Angling Dharma mau kepengen mbangun negara sing damai, makmur, lan rakyate
tentrem ayem. Sak wise Angling Dharma dewasa, deweke duwe niat boyong Ibune nang negeri sing
wis dibangun yaiku jenenge Malowopati. Ana ing kana Angling Dharma mimpin lan ngatur negeri
kelawan gelar Prabu Angling Dharma utowo Prabu Aji Dharma. Sakwise Kerajaan Yawastina,
ngerteni kemakmuran ono ing Malowopati Jaya Amijaya uga dadi Raja, Yawastina iku menehi
seperempat kekuasaan marang Angling Dharma supoyo makmurne rakyat biso terwujud.
Senajan deweke wis dadi Raja, dekne terus ora pengen ninggalno kesenengane sing disebut
berburu mau, Angling Dharma seneng banget berburu. Ana ing wektu nalikane berburu, deweke
nemu bocah wadon seng ndelik saka harimau. Banjur Angling Dharma gawa bocah mau supoyo
selamet karaoke jarane Harimau. Nalikane podo mlaku bebarengan, podo-podo kekancan, podo-
podo cerita kesenangan awake dewe, bocah wadon mau nyatane jenenge Setyowati sing bapak e
ahli pertapa sing asmane Resi Maniksutra. Angling Dharma banjur ngeterke bali nang omah bocah

4
mau. Lantaran Angling Dharma seneng marang Setyawati, Angling Dharma nduweni niat supoyo
Setyawati iso jadi pendamping hidup.
Sak teruse Angling Dharma ngelamar Setyawati jadi bojone utawa garwane, tapi niat mau
iseh kudu nemoni sawijine hambatan yaiku Kangmas e Setyawati sing nate sumpah sopo wae sing
arep nikahi adhine kudu iso ngalahke deweke, iku sumpah mas e Setyawati sing jenenge Batik
Madrim. Tapi Angling Dharma wes nduwe tekad utawa kekarepan sing kuat akhire Angling
Dharma siap-siap kanggo kepriye Setyawati iso dadi garwane. Sak teruse Setyawati dadi permaisuri
Angling Dharma. Lan Batik Madrim akhire diangkat jadi Patih Kerajaan Malawapati.
Sabanjure ono sawijining dino, Angling Dharma mangerteni utowo ngaweruhi bojone
Nagaraja sing asmane Nagagini sing selingkuh karo ulo tampar (Nagaraja iku sawijining guru sing
tinggalan Kerajaan Yawastina). Lha kedadean iku mau diweruhi Angling Dharma pas berburu,
sampe-sampe ulo tampar mau dipateni karo Angling Dharma amargi nduweni sifat kemuliaan
mbelani kebenaran. Deweke Nagagini mau banjur mulih madul marang bojone gawe laporan palsu
yaiku nek Angling Dharma niku mateni koncone. Banjur Nagaraja langsung nyusup nang Kerajaan
Malawapati, tapi nalikane nyusup Nagaraja ngerti yen Angling Dharma mbahas perselingkuhan
Nagagini marang Setyowati. Nagaraja uga sadar bojone mau sing kleru utawa sing salah, Nagaraja
banjur jaluk pangapuro marang Angling Dharma lantaran deweke apene mateni Angling Dharmo
gawe bales dendam garwane mau.
Lan sabanjure Nagaraja ngaku yen deweke ora suwe bakal mati utowo Moksa yaiku wektu
arwah-arwah menungso bakal pisah saka ragane. Banjur Nagaraja ngewarisno pengetahuan
kesaktiane marang Angling Dharma yaiku jenenge Aji Gineng. Aji Gineng iki kudu dijogo sing
temen-temen ora biso disebarluasne. Lan sabanjure sakmarine ngwarisno Aji Gineng, Nagaraja
kimau wafat. Jenazah mau digowo Angling Dharma diaturke nang omahe bojone lan diceritakno
kejadian sing nyatane nalikane sakdurunge bojone mati.
Lan Angling Dharma ngewarisi ilmu saka Nagaraja, Angling Dharma iku mangerteni
bahasane binatang. Sawijining dino, Angling Dharma iku mangerteni pembicaraan cecek. Kedadean
sing koyo ngunu mau Setyowati tersinggung lantaran deweke ora diperhatikno karo Angling
Dharma. Nalikane Angling Dharma nduweni rumatan akeh kewan hasil perburuan mau, Angling
Dharma koyo-koyo nglewarno bojone. Ilmu Aji Gineng mau dirahasiano, sehinggo Setyowati
bunuh diri lantaran kroso wes ora diajeni karo Angling Dharma. Angling Dharma janji luweh becik
ngancani Setyowati mati tinimbang ngungkap rahasia ilmune. Nalikane upacara pembakaran diri
dianakno, Angling Dharma nate krungu omonge sepasang wedhus utowo mendho. Saka
pembicaraan iku mau Angling Dharma sadar keputusane ngancani Setyawati yaiku ketentuan sing
ora pas, dadi pembicaraan Angling Dharma mau ngrugino rakyat akeh.

5
Mulane sakmarine Setyawati mati, Angling Dharma akhire ngelakoni hukuman buang,
hukuman buang sing ono itungane wektu-wektu tertentu. Sebab Angling Dharma wes ingkar, ora
sesuai janjine bakal setia sampe mati karo Setyawati. Senajan Angling Dharma mau dihukum,
deweke ora terus lengser saka kursi Kerajaan, Angling Dharma nitipno kerajaane marang Batik
Madrim sak suwene ngelakoni hukuman buang.
Tapi nalikane Angling Dharma mau metu, ketemu bocah putri sing akehe ono telu, jenenge
Widata, Widati, lan Widaningsih. Seneng marang Angling Dharma, tapi Angling Dharma curiga
sehinggo akhire muncul kecurigaan kenopo saben dalu ketiga Putri iku kok podo metu, akhire
Angling Dharma mau pengen ngerteni apa kedadeyan sing bener. Banjur Angling Dharma mau
membo dadi burung gagak pengen ngerteni koyo opo kedadeyane. Jawabane ternyata kedadeane
Putri sing telu mau pada pesta pora mangan daging manungso, akhire putri mau Penyihir sing
seneng mangan daging menungso.
Wektu Angling Dharma konangan anggone ngintip mau, Angling Dharma sempat cekcok
karo penyihir mau. Tapi Angling Dharma isih kalah ilmune karo wong telu penyihir iku. Akhire
akan dikutuk dadi manuk Belibis Putih lan manuk iku mau mabur sampe Kerajaan Bojonegoro. Ana
ing kono Belibis putih mau sing asline Angling Dharma mau diingu karo Pemuda sing jenenge Jaka
Geduk, Jaka Geduk kaget amargi Belibis Putih mau bisa ngomong.
Nalika iku Darmawangsa iku Raja Bojonegoro bingung masalah besar, bingung ngadili
masalah yaiku ono kasus wong wadon sing jenenge Bermani duweni bojo loro sing jenenge
Bermana. Banjur Pemuda mau teka nggowo Belibis Putih mau supoyo iso nulung ngadili Bermani
kiro-kiro sopo sejatine utowo sopo sing paling bener sing asli bojone Bermani iku. Tibak e sing
palsu mau jenenge Jin Wiratsangka. Kanthi kesuksesan mau diangkat jadi Hakim negara, sak
banjure Belibis Putih diingu utawa dipelihara Putri Raja Bojonegoro sing asmane Ambarawati.
Masio Angling Dharma wujude Belibis Putih, tapi deweke biso malih dadi menungso yen
wayah bengi. Lan Angling Dharma ngrahasiakne keunggulane kimau kajaba marang Ambarawati.
Saben wengi, Angling Dharma nemoni Ambarawati dalam bentuk menungso, karo-karone wes
podo saling mencintai. Deweke mau akhire nikah karo Ambarawati tapi ora sepengetahuan
Darmawangsa. Saka perkawinan iku Ambarawati ngandhut, banjur Dharmawangsa heran amargi
putrine ngandhut tapi urung duwe bojo. Kebingungan iku mau ana jalan keluar sing iso ngatasi
yaiku muncule pawongan Pertapa Sakti sing asmane Resi Yogiswara. Yogiswara mau sanggup
nemokne bapak saka bayi sing dikandung Ambarwati. Akhire Yogiswara iku goleki pelakune.
Yogiswara curiga karo Belibis Putih sebab manuk iku nduweni kalung sing podo karo Angling
Dharma. Banjur Yogiswara nyerang Belibis Putih, pertarungan sengit antara Belibis Putih karo
Yogiswara, banjur Belibis Putih mau berubah wujud dadi Angling Dharma lan Yogiswara berubah

6
dadi Batik Madrim. Akhire Angling Dharma iki ketemu karo Batik Madrim, tekane Batik Madrim
sing sak temene iku arep mapak Angling Dharma sing hukuman buange wis entek.
Lan Dharmawangsa iku malah nompo perlakuan Angling Dharma lan akhire merestui
hubungan antara Angling Dharma lan Ambarwati. Sehingga dianakno acara pernikahan sing gede.
Angling Dharma boyong Ambarwati nang Malawapati, perkawinan iku nghasilke jabang bayi
lanang sing asmane Anglingkusumo. Anglingkusumo iki sing kira-kira bisa ganteni Dharmawangsa
ana ing Kerajaan Bojonegoro mau. Tapi Anglingkusumo mau nduweni musuh sing jenenge
Durgandini lan Sudawirat lan musuhe Anglingkusumo iku arep ngerusak Kerajaan Bojonegoro.
Sawise kondur Angling Dharma ing Malawapati, kerajaan Angling Dharma niku bisa jaya,
makmur, tentrem lan akhire iso mbantu putrane memerangi musuh-musuhe. Lan akhire sukses
menaklukan utawa ngalahke musuh-musuhe kimau. Lan akhire Sudawirat ngomong utawa terus
terang bakalan ngabdi marang kerajaan sing dipimpin Prabu Angling Dharma lan Durgandini siap
ngabdi marang Kerajaan Bojonegoro.

Terjemahan

Legenda Prabu Angling Dharma

Pada saat remaja Angling Dharma kerap sekali menolong sesama rekannya. Dia senantiasa
memberantas kejahatan walau umur Angling Dharma masih tetap sangatlah muda. Sangat banyak
perampok-perampok yang sukses dia kalahkan. Hingga dia sangatlah disegani oleh banyak orang-
orang yang sudah dibantunya. Ketika masuk umur remaja, Angling Dharma mulai melatih serta
mengasah kemampuannya dalam dunia persilatan serta kemampuan dalam. Dengan dibekali
ketrampilan mulai sejak kecil, Angling Dharma sangatlah gampang pelajari beragam jenis jurus
yang di ajarkan oleh gurunya, yakni Begawan Maniksutra. Dia juga di ajarkan gurunya untuk
berburu yang baik serta tak mengakibatkan kerusakan alam. Cuma berburu kurun waktu 30 menit,
Angling Dharma sukses melumpuhkan seekor singa yang besar.
Angling Dharma kerap sekali membunuh hewan sesudah dia dapat berburu. Dalam satu hari,
Angling Dharma senantiasa membantai 2 ekor singa. Tahu hal itu, guru memarahi Angling Dharma
hingga Angling Dharma tidak ingin berlatih dengan gurunya sendiri. Sepanjang kian lebih 2 th.,
Begawan Maniksutra sukses kuasai beragam jenis pengetahuan tenaga dalam serta jurus-jurus yang
sangatlah hebat. Satu hari Begawan memergoki Angling Dharma tengah berburu serta membawa 2
ekor singa yang diikat tali oleh Angling Dharma. Begawan Maniksutra segera menghambat langkah
kaki Angling Dharma yang penuh dengan keringat.
"Dharma! berhenti di situ!" teriak Begawan Maniksutra.

7
"Tengah apa anda disini? Menyingkirlah anda dari jalanku, "kata Angling Dharma.
"Dasar anak kurang ajar! bebaskan ke-2 singa itu. Atau anda... "
"Saya apa? Saya tak takut denganmu walaupun saya pernah berguru kepadamu," Angling
Dharma memotong perbincangan Begawan.
"Memanglah makin besar anda makin kurang ajar. Rasakan i... " mendadak dipotong
Angling Dharma.
"Rasakan apa? Saya tak takut meskipun engkau hebat." Angling Dharma tertawa sembari
lihat jurus yang dikerjakan oleh Begawan Maniksutra.
"Mana ilmumu wahai guru?" Angling Dharma ajukan pertanyaan.
"Saksikan seputarmu, " kata Begawan.
Angling Dharma terperanjat lihat tali yang diikatkan ke leher singa mendadak menghilang.
Sontak Angling Dharma segera lari menghindar dari kejaran dua ekor singa yang sudah diburunya.
Sesudah jauh lari, pada akhirnya Angling Dharma sukses lolos dari kejaran singa. Mendadak
Begawan Maniksutra ada di depan Angling Dharma. Angling Dharma segera meminta pada
Begawan Maniksutra untuk terima dianya kembali juga sebagai muridnya. Sepanjang Angling
Dharma jadi murid Begawan Maniksutra, dia di ajarkan ilmu-ilmu yang dipunyai Begawan
Maniksutra supaya dapat melanjutkan pengetahuan untuk beberapa pemuda-pemuda yang berjuang
menjaga negeri.
Pada akhirnya Angling Dharma sukses kuasai semua pengetahuan serta jurus-jurus yang di
ajarkan oleh Begawan Maniksutra. Lalu dengan tekat serta keberanian Angling Dharma, dia mau
bangun suatu negeri baru lantaran tahu histori negeri kakeknya yang dahulu kerap berselisih dengan
kerajaan lain. Angling Dharma mau menciptrakan suatu negeri yang damai serta makmur untuk
rakyatnya.
Sesudah Angling Dharma masuk saat dewasa, Angling Dharma punya niat membawa
ibunya geser ke negeri yang sudah dibangunnya sendiri. Negeri itu dinamakan Malawapati. Disana,
Angling Dharma memimpin negerinya sendiri serta mengatur negerinya sendiri dengan berikan
gelar Prabu Angling Dharma atau Prabu Ajidharma oleh dianya. Sesudah kerajaan Yawastina tahu
kemakmuran yang berlangsung pada kerajaan Malawapati, Jaya Amijaya juga sebagai raja
Yawastina memberi seperempat kekuasaannya pada Angling Dharma untuk punya maksud
memakmurkan rakyat barunya.
Meskipun dia juga sebagai raja, dia terus tidak ingin meninggalkan kesukaannya untuk
berburu. Angling Dharma suka sekali berburu saat malam hari lantaran saat malam hari hewan-
hewan sangatlah gampang untuk diburu. Ketika dia berburu, ia temukan seseorang gadis yang
bersembunyi dari kejaran harimau. Lantas lalu dia membawa gadis itu menuju ke tempat yang aman

8
dari jangkauan harimau. Sepanjang perjalanan mereka sama-sama berteman serta sama-sama
bercerita kegemaran mereka. Gadis itu nyatanya bernama Setyawati yang ayahnya adalah seseorang
pertapa sakti bernama Resi Maniksutra. Angling Dharma lalu mengantarkannya pulang ke rumah.
lantaran Angling Dharma terasa jatuh cinta pada Setyawati dalam pandangan pertama, Angling
Dharma punya niat untuk jadikan Setyawati juga sebagai pendamping hidupnya.
Serta pada akhirnya Angling Dharma juga melamar Setyawati juga sebagai istrinya. Tetapi
ada sedikit masalah waktu bakal memperoleh Setyawati. Kakak Setyawati yang bernama
Batikmadrim sudah bersumpah bahwa barangsiapa yang mau menikah dengan adiknya mesti bisa
menaklukkannya. Tahu sumpah itu, Angling Dharma membulatkan tekad untuk melawan
Batikmadrim untuk memperoleh Setyawati. Jadi terjadi kompetisi pada kakak Setyawati dengan
Angling Dharma yang dimenangkan oleh Angling Dharma. Kemudian, Setyawati jadi permaisuri
Angling Dharma serta sedang Batikmadrim diangkat juga sebagai patih di Kerajaan Malawapati.
Di lain hari, Angling Dharma memergoki istri Nagaraja yang bernama Nagagini tengah
berselingkuh dengan seekor ular tampar (Nagaraja adalah seseorang guru yang tinggal di kerajaan
Yawastina). Hal semacam itu di ketahui Angling Dharma waktu Angling Dharma tengah berburu
saat malam hari. Angling Dharma juga membunuh ular jantan itu untuk kebaikan. Sedang Nagagini
pulang dalam situasi terluka. Nagagini lalu membuat suatu laporan palsu pada suaminya agar
membalas dendam pada Angling Dharma yang sudah membunuh rekannya. Nagaraja juga
menyusup ke istana Malawapati. Tetapi waktu menyusup ke istana, Nagaraja melihat Angling
Dharma tengah mengulas perselingkuhan Nagagini pada Setyawati. Nagaraja juga sadar bahwa
istrinya yang salah. Nagaraja juga nampak serta mohon maaf pada Angling Dharma lantaran dia
nyaris saja membunuh Angling Dharma.
Ketika itu juga Nagaraja mengaku bahwa dianya bakal wafat lantaran dia sudah masuk saat
moksa (Moksa yaitu saat di mana arwah seorang bakal pergi dari raganya serta bereinkarnasi
menuju ke manusia yang bakal dilahirkan). Lalu Nagaraja mewariskan pengetahuan kesaktiannya
berbentuk Aji Gineng pada Angling Dharma. Pengetahuan itu mesti dijaga dengan baik serta penuh
rahasia. Sesudah mewariskan pengetahuan itu, Nagaraja juga wafat. Jenazah Nagaraja lalu dibawa
ke rumah istrinya oleh Angling Dharma serta Angling Dharma menuturkan pada Nagagini apa yang
sesungguhnya berlangsung saat sebelum suaminya wafat.
Sejak Angling Dharma mewarisi pengetahuan baru dari Nagaraja, dia bisa tahu bahasa
binatang. Pernah ia tertawa melihat pembicaraan sepasang cicak. Hal semacam itu bikin Setyawati
tersinggung lantaran dianya tak pernah di perhatikan oleh suaminya sejak dia memelihara banyak
hewan dari hasil perburuannya. Angling Dharma menampik berterus jelas lantaran terlanjur berjanji
bakal merahasiakan Aji Gineng. Hal semacam itu bikin Setyawati jadi tambah geram. Setyawati

9
juga pilih bunuh diri dalam api lantaran terasa dianya tak dihargai lagi oleh Angling Dharma.
Angling Dharma berjanji tambah baik temani Setyawati mati, dari pada mesti mengungkapkan
rahasia ilmunya. Saat upacara pembakaran diri di gelar, Angling Dharma pernah mendengar
pembicaraan sepasang kambing. Dari pembicaraan itu Angling Dharma sadar bila keputusannya
temani Setyawati mati yaitu ketentuan yg tidak pas serta dapat merugikan rakyat banyak.
Sesudah kematian istrinya yang tragis, Angling Dharma melakukan hukuman buang untuk
sekian waktu juga sebagai penebus dosa. Hukuman itu merupakan keinginan dari rakyatnya sendiri.
Lantaran Angling Dharma sudah memungkiri janji setia sehidup semati dengan istrinya sendiri.
Meskipun Angling Dharma dihukum, dia terus tak lengser dari kursi rajanya. Lalu Angling Dharma
menitipkan istananya pada Batikmadrim sepanjang dia melakukan hukuman.
Dalam perjalanan, Angling Dharma bertemu tiga orang putri yang bernama Widata, Widati,
serta Widaningsih. Ketiganya jatuh cinta pada Angling Dharma serta menahannya tidak untuk pergi
meninggalkan mereka. Sepanjang mereka sama-sama mengetahui, Angling Dharma meminta tolong
pada tiga putri itu untuk memberi suatu rumah untuk dia. Pada akhirnya ketiga orang putri itu
memberi rumah untuk Angling Dharma. Tetapi sejak tinggal berbarengan dengan tiga orang putri,
Angling Dharma terasa ada yang ganjil waktu putri-putri kerap keluar saat malam hari. Lalu
Angling Dharma menyamar juga sebagai sosok burung gagak untuk menyelidiki aktivitas rahasia
ketiga putri itu. Nyatanya tiap-tiap malam mereka senantiasa berpesta makan daging manusia. Pada
akhirnya keraguan Angling Dharma telah dapat dibuktikan. Tiga orang putri tadi adalah penyihir
yang sukai memangsa manusia juga sebagai makanannya.
Waktu Angling Dharma ketahuan tengah mengintip aktivitas mereka yang tengah makan
daging manusia, Angling Dharma juga berselisih dengan mereka. Tetapi kemampuan Angling
Dharma masih tetap bisa ditaklukkan oleh 3 orang penyihir. Pada akhirnya ketiga putri tadi
mengutuk Angling Dharma jadi seekor belibis putih. Belibis putih itu terbang hingga ke lokasi
Kerajaan Bojanagara. Disana, ia dipelihara seseorang pemuda desa bernama Jaka Geduk. Jaka
Geduk terperanjat waktu dia tahu belibis putih dapat berbicara kepadanya.
Ketika itu, Darmawangsa yang juga sebagai raja Bojanagara tengah bingung hadapi
pengadilan yang dimana kasusnya adalah seseorang wanita bernama Bermani memiliki dua orang
suami yang berwujud sama serta bernama sama, yakni Bermana. Lalu pemuda desa tadi datang
sembari membawa belibis putih untuk menolong raja dalam mengadili Bermani. Atas panduan
belibis putih, Jaka Geduk sukses membongkar Bermana palsu kembali pada bentuk aslinya, yakni
Jin Wiratsangka. Atas kesuksesannya itu, Jaka Geduk diangkat juga sebagai hakim negara, sedang
belibis putih disuruh juga sebagai peliharaan putri raja Bojanagara yang bernama Ambarwati.

10
Meskipun Angling Dharma sudah berwujud belibis putih, dia sesungguhnya dapat beralih ke
bentuk manusia saat malam hari saja. Tetapi Angling Dharma merahasiakan keunggulannya itu
pada siapa saja terkecuali Ambarawati. Tiap-tiap malam ia menjumpai Ambarawati dalam bentuk
manusia hingga mereka berdua sama-sama jatuh cinta. Mereka pada akhirnya menikah tanpa ada
sepengetahuan orangtua Ambarawati. Dari perkawinan itu Ambarawati juga memiliki kandungan.
Darmawangsa heran serta bingung merasakan putrinya memiliki kandungan tanpa ada
suami. Kebetulan waktu dalam tiap-tiap kebingungan raja senantiasa ada jalan keluar karenanya ada
orang ketiga. munculah seseorang pertapa sakti yang bernama Resi Yogiswara mengakui siap
temukan bapak dari janin yang dikandung Ambarawati. Yogiswara lalu mencari pelakunya. Resi
mencurigai karenanya ada seekor belibis putih yang mempunyai suatu kalung yang sama dengan
kalung Angling Dharma. Lalu Resi Yogiswara menyerang belibis putih peliharaan Ambarawati.
Sesudah lewat pertarungan yang sengit, belibis putih kembali pada bentuk awal mulanya yakni
Angling Dharma, sedang Yogiswara beralih jadi Batikmadrim. Kehadiran Batikmadrim yang
sesungguhnya yaitu untuk menjemput Angling Dharma yang telah habis saat hukumannya.
Raja Darmawangsa malah terima perlakuan Angling Dharma pada putrinya serta merestui
jalinan mereka. Hingga raja Darmawangsa lakukan acara pernikahan besar untuk menyongsong
Angling Dharma. Angling Dharma lalu membawa Ambarawati geser ke Malawapati. Dari
perkawinan mereka, pada akhirnya lahir seseorang putra yang bernama Anglingkusuma. Angling
Kusuma bakal jadi penerus raja di kerajaan Bojanagara serta menukar kakeknya itu. Tetapi,
sepanjang Angling Kusuma jadi raja, dia memiliki musuh bernama Durgandini serta Sudawirat
yang mau menjatuhkan kerajaan Bojanagara.
Sesudah kembalinya Angling Dharma ke Malawapati, kerajaan Angling Dharma berjaya
serta dapat membantu putranya dalam memerangi musuh-musuhnya serta pada akhirnya mereka
sukses menaklukan musuh-musuhnya. Serta waktu tersebut sudawirat terbuka hatinya untuk
mengabdi pada Kerajaan yang di pimpin oleh Prabu Angling Dharma. Serta sedang Durgandini
bersedia mengabdi pada kerajaan Bojanagara.

Struktur Cerita “Prabu Angling Dharma”


Alur Cerita:
1. Angling Dharma, suka menolong sesama rekannya dan meberantas kejahatan. Masuk umur
remaja, Angling Dharma melatih serta mengasah kemampuannya dalam dunia persilatan
serta kemampuan dalam. Karena kekuatannya, dia menjadi sombong dan tidak mau berguru
lagi dengan Begawan Maniksutra

11
2. Karena ingin melawan kesombongan Angling Dharma, Begawan Maniksutra membuktikan
kekuatannya dengan melepaskan tali yang mengikat leher singa hasil tangkapan Angling
Dharma tanpa menyentuhnya
3. Setelah dikejar singa, akhirnya Angling Dharma menjadi sadar dan kembali berguru kepada
Begawan Maniksutra. Ia mengajak ibunya tinggal di Malawapati dan membangun kerajaan
sendiri
4. Ketika berburu, ia temukan seseorang gadis yang bersembunyi dari kejaran harimau. Dia
membawa gadis itu menuju ke tempat yang aman. Gadis itu nyatanya bernama Setyawati
yang ayahnya adalah seseorang pertapa sakti bernama Resi Maniksutra.
5. Angling Dharma melamar Setyawati sekaligus menikahinya.
6. Kakak Setyawati yang bernama Batikmadrim sudah bersumpah bahwa barangsiapa yang
mau menikah dengan adiknya mesti bisa menaklukkannya dan akhirnya Angling Dharma
memenangkan pertarungan.
7. Angling Dharma memergoki istri Nagaraja yang bernama Nagagini tengah berselingkuh
dengan seekor ular tampar (Nagaraja adalah seseorang guru yang tinggal di kerajaan
Yawastina). Angling Dharma juga membunuh ular jantan itu untuk kebaikan. Sedang
Nagagini pulang dalam situasi terluka.
8. Nagagini membuat suatu laporan palsu pada suaminya agar membalas dendam pada
Angling Dharma yang sudah membunuh rekannya. Tetapi waktu menyusup ke istana,
Nagaraja melihat Angling Dharma tengah mengulas perselingkuhan Nagagini pada
Setyawati. Nagaraja juga sadar bahwa istrinya yang salah. Nagaraja juga nampak serta
mohon maaf pada Angling Dharma lantaran dia nyaris saja membunuh Angling Dharma.
9. Nagaraja sudah waktunya moksa, lalu mewariskan pengetahuan kesaktiannya berbentuk Aji
Gineng pada Angling Dharma. Pengetahuan itu mesti dijaga dengan baik serta penuh
rahasia.
10. Angling Dharma mewarisi pengetahuan baru dari Nagaraja, dia tahu bahasa binatang.
Pernah ia tertawa melihat pembicaraan sepasang cicak. Setyawati tersinggung lantaran
dianya tak pernah diperhatikan oleh suaminya sejak dia memelihara banyak hewan dari hasil
perburuannya.
11. Setyawati bunuh diri dalam api lantaran merasa tak dihargai lagi oleh Angling Dharma.
Angling Dharma berjanji tambah baik temani Setyawati mati, dari pada mengungkapkan
rahasia ilmunya.
12. Angling Dharma melakukan hukuman buang untuk sekian waktu juga sebagai penebus dosa
dan menitipkan istananya pada Batikmadrim sepanjang dia melakukan hukuman.

12
13. Angling Dharma bertemu tiga orang putri yang bernama Widata, Widati, serta Widaningsih.
Tetapi sejak tinggal berbarengan dengan tiga orang putri, Angling Dharma terasa ada yang
ganjil waktu putri-putri kerap keluar saat malam hari. Lalu Angling Dharma menyamar
sebagai sosok burung gagak untuk menyelidiki aktivitas rahasia ketiga putri itu. Nyatanya
tiap-tiap malam mereka senantiasa berpesta makan daging manusia.
14. Ketiga putri mengutuk Angling Dharma jadi seekor belibis putih. Belibis putih itu terbang
hingga ke lokasi Kerajaan Bojanagara. Disana, ia dipelihara seseorang pemuda desa
bernama Jaka Geduk. Jaka Geduk terperanjat waktu dia tahu belibis putih dapat berbicara
kepadanya.
15. Darmawangsa sebagai raja Bojanagara bingung hadapi pengadilan di mana kasusnya adalah
seseorang wanita bernama Bermani memiliki dua orang suami yang berwujud sama serta
bernama sama, yakni Bermana. Pemuda desa tadi datang membawa belibis putih untuk
menolong raja. Atas panduan belibis putih, Jaka Geduk sukses membongkar Bermana palsu
kembali pada bentuk aslinya, yakni Jin Wiratsangka. Atas kesuksesannya itu, Jaka Geduk
diangkat juga sebagai hakim negara, sedang belibis putih disuruh juga sebagai peliharaan
putri raja Bojanagara yang bernama Ambarwati.
16. Sesungguhnya Angling Dharma dapat beralih ke bentuk manusia saat malam hari. Tetapi
merahasiakan keunggulannya pada siapa saja terkecuali Ambarawati. Tiap-tiap malam ia
menjumpai Ambarawati dalam bentuk manusia hingga mereka berdua sama-sama jatuh
cinta. Mereka pada akhirnya menikah tanpa ada sepengetahuan orangtua Ambarawati. Dari
perkawinan itu Ambarawati juga memiliki kandungan.
17. Darmawangsa bingung merasakan putrinya memiliki kandungan tanpa ada suami. Muncul
seseorang pertapa sakti yang bernama Resi Yogiswara mengakui siap temukan bapak dari
janin yang dikandung Ambarawati. Yogiswara mencari pelakunya dan mencurigai seekor
belibis putih yang mempunyai kalung yang sama dengan Angling Dharma. Lalu Yogiswara
menyerang belibis putih peliharaan Ambarawati. Sesudah lewat pertarungan yang sengit,
belibis putih kembali pada bentuk awal mulanya yakni Angling Dharma, sedang Yogiswara
beralih jadi Batikmadrim. Kehadiran Batikmadrim yang sesungguhnya yaitu untuk
menjemput Angling Dharma yang telah habis saat hukumannya.
18. Raja Darmawangsa merestui Angling Dharma dan Ambarawati. Angling Dharma lalu
membawa Ambarawati geser ke Malawapati. Mereka mempunyai seseorang putra yang
bernama Anglingkusuma yang bakal jadi penerus di kerajaan Bojanagara. Tetapi, sepanjang
Angling Kusuma jadi raja, dia memiliki musuh bernama Durgandini serta Sudawirat yang
mau menjatuhkan kerajaan Bojanagara.

13
19. Sesudah kembalinya Angling Dharma ke Malawapati, kerajaan Angling Dharma berjaya
serta dapat membantu putranya dalam memerangi musuh-musuhnya serta pada akhirnya
mereka sukses menaklukan musuh-musuhnya. Serta waktu tersebut sudawirat terbuka
hatinya untuk mengabdi pada Kerajaan yang di pimpin oleh Prabu Angling Dharma. Serta
sedang Durgandini bersedia mengabdi pada kerajaan Bojanagara.
Terem:
a = Kerajaan di daerah Jawa Timur
a1 = Angling Dharma
a2 = Begawan Maniksutra
a3 = Setyawati
a4 = Batik Madrim
a5 = Nagaraja
a6 = Nagagini
b = Tuhan Yang Maha Esa
c = Kerajaan Bojanagara
c1 = Widata, Widati, dan Widaningsih
c2 = Jaka Geduk
c3 = Darmawangsa
c4 = Resi Yogiswara
c5 = Ambarawati
c6 = Durgandini & Sudawirat

Fungsi:
x = keburukan
x1 = sombong
x2 = membunuh
x3 = bertarung
x4 = geram
x5 = selingkuh
x6 = menuduh
x7 = menipu
x8 = mengutuk
x9 = menyerang
y = kebaikan
y1 = sakti
y2 = menyadarkan
y3 = meminta maaf
y4 = menolong
y5 = menikahi
y6 = baik hati
y7 = mengabdi
y8 = mencari kebenaran
z = keadilan
z1 = menghukum
z2 = membuktikan
z3 = menyesal
z4 = menghakimi

14
N = Legenda Prabu Angling Dharma
N = (a1),x1,2, y1 : (a2)y2 :: (a2)z2 : (b)z1 :: (b)z1 : (a1)y3,z3 // (a1)y4 : (a3)y6 :: (a4)x3 : (a1)y1 :: (a1)y5 ::
(a3)y7 // (a6)x5,6 : (a5)x9 :: (a1)y2 : (b)z2 :: (a5)z3 // (a3)x4 : (b)z1 :: (c1)x7 : (a1)y8 :: (c1)x8 : (c2)y6 ::
(c3)z4 : (c4)y8 :: (a1)y5 : (c5)y6 // (c6)x9 : (a1)x3 :: (c6)y7,z3 //

Angling Dharma dari kecil sudah mempunyai kekuatan yang sakti sehingga membuatnya
sombong, dengan kekuatannya dia bisa membunuh hewan. Dia tidak mau berguru dengan Begawan
Maniksutra lagi karena merasa ia sudah tidak membutuhkannya lagi. Suatu hari Begawan
Maniksutra melihat Angling Dharma membawa 2 ekor singa yang ia ikat lehernya yang membuat
Begawan Maniksutra ingin menyadarkannya bahwa perbuatannya salah. Atas izin Tuhan Yang
Maha Esa, Angling Dharma kalah dan meminta maaf serta ingin berguru kembali kepada Begawam
Maniksutra.
Pada suatu hari ketika Angling sedang berburu, ia bertemu dengan Setyawati yang sedang
bersembunyi dikejar harimau. Angling Dharma jatuh cinta pada pandangan pertama, mengetahui
hal itu Batik Madrim (kakak Setyawati) bersumpah bahwa siapa pun yang ingin menikahi adiknya
harus bertarung melawannya. Karena Angling Dharma seorang yang sakti, akhirnya ia
memenangkan pertarungan itu. Angling Dharma menikahi Setyawati dan Batik Madrim diangkat
sebagai patih di Kerajaan Malawapati.
Di lain hari, Angling Dharma memergoki Nagagini ketahuan selingkuh dengan seekor ular
tampar, kemudian ular tersebut dibunuhnya untuk kebaikan bersama. Ketika sampai di rumahnya,
Nagagini bercerita kepada suaminya yang bernama Nagaraja dan menuduh Angling Dharma telah
membunuh rekannya. Mendengar hal tersebut, Nagagini meminta Nagaraja untuk membalas
dendam atas kepergian rekannya itu. Kemudian Nagaraja menyusup ke istana Malawapati, ketika
sampai di sana ia mendengar perbincangan Angling Dharma dan Setyawati tentang perselingkuhan
Nagagini, akhirnya Nagaraja meminta maaf karena sudah salah paham. Pada saat itu juga ia
mengaku akan moksa dan akan mewariskan kesaktiannya Aji Gineng kepada Angling Dharma.
Semenjak itu, ia sering berbicara dengan binatang dan mulai mengabaikan Setyawati sampai
membuatnya geram. Karena tidak tahan dan Angling Dharma merahasiakan tentang kesaktiannya
itu, akhirnya Setyawati bunuh diri.
Sejak kematian istrinya, ia melakukan hukuman buang untuk menghilangkan dosanya.
Kemudian ia bertemu dengan tiga orang putri yang bernama Widata, Widati, dan Widaningsih yang
memberikan ia rumah. Akan tetapi ada hal yang ganjal sehingga Angling Dharma diam-diam
mengikuti tiga putri tersebut, ternyata tiga putri itu penyihir yang suka memakan daging manusia.
Karena tiga penyihir itu tahu kalau dimata-matai, akhirnya Angling Dharma dikutuk menjadi

15
burung belibis putih. Burung itu terbang tinggi dan sampai ke Kerajaan Bojanagara yang kemudian
ditemukan oleh Jaka Geduk. Pada saat itu, Raja Bojanagara yang bernama Darmawangsa sedang
menangani kasus pengadilan rakyatnya, berkat bantuan belibis putih tersebut akhirnya kasus itu
dapat terselesaikan. Atas kesuksesannya, Jaka Geguk diangkat sebagai hakim negara dan belibis
putih tersebut menjadi hewan piaraan Ambarawati putri dari Darmawangsa. Meskipun Angling
Dharma berwujud burung, akan tetapi di malam hari ia berwujud manusia yang membuat
Ambarawati jatuh cinta kepadanya. Karena perbuatan mereka, Setyawati menjadi hamil di luar
nikah. Kemudian datang seorang pertapa sakti bernama Resi Yogiswara yang akan menemukan
siapa bapak dari anak yang sedang dikandung Setyawati. Melihat belibis putih itu mempunyai
kalung yang sama persis dengan Angling Dharma, akhirnya Yogiswara mengajak bertarung belibis
putih itu dan akhirnya dimenangkan oleh Yogiswara. Belibis itu berubah menjadi Angling Dharma
yang selama ini dicari oleh Yogiswara yang sebenarnya merupakan Batik Madrim.
Setelah mengetahui hal tersebut, Raja Darmawangsa menyetujui pernikahan mereka.
Ambarawati dibawa ke Malawapati. Dari pernikahan tersebut lahorlah putra yang bernama Angling
Kusuma yang menggantikan kakeknya menjadi Raja Bojanagara. Selama menjadi raja, ia memiliki
musuh yang bernama Durgandini dan Sudawirat. Berkat bantuan ayahnya, Angling Kusuma dapat
memenangkan pertarungan dan akhirnya Sudawirat mengabdi pada Kerajaan yang di pimpin oleh
Prabu Angling Dharma serta Durgandini bersedia mengabdi pada kerajaan Bojanagara.
Alur cerita dari segi tokohnya saja:
N = (a1): (a2) :: (a2) : (b) :: (b) : (a1) // (a1) : (a3) :: (a4): (a1) :: (a1) :: (a3) // (a6): (a5) :: (a1) : (b) :: (a5)
// (a3) : (b) :: (c1) : (a1) :: (c1) : (c2) :: (c3) : (c4) :: (a1) : (c5) // (c6) : (a1) :: (c6) //
Angling Dharma mempunyai kekuatan sakti dari kecil, akan tetapi disalahgunakan. Ia tidak
mau mendengarkan dan melawan gurunya yang bernama Begawan Maniksutra. Akhirnya dengan
izin Tuhan Yang Maha Esa, Angling Dharma diberi pelajaran dan menyesal. Suatu hari, Angling
Dharma menolong Setyowati yang dikejar harimau dan akhirnya menikahinya. Akan tetapi, Batik
Madrim kakak dari Setyowati sudah bersumpah bahwa siapapun yang ingin menikahi adiknya harus
bertarung dengannya dan akhirnya dimenangkan oleh Angling Dharma. Setelah itu Batik Madrim
diangkat menjadi Patih di Kerajaan Malawapati. Kemudian Nagagini ketahuan berselingkuh yang
diketahui oleh Angling Dharma, lalu Nagagini berbohong kepada suaminya yaitu Nagaraja bahwa
Angling Dharma telah membunuh rekannya. Nagaraja mengetahui yang sebenarnya setelah
mendengar pembicaraan Angling Dharma dengan Setyawati, kemudian Nagaraja moksa dan
mewarisi kekuatan saktinya kepada Angling Dharma. Semenjak itu, Setyawati merasa diacuhkan
oleh Angling Dharma dan akhirnya bunuh diri. Karena merasa bersalah, Angling Dharma
menjalankan hukuman buang yang mempertemukan dengan tiga Putri bernama Widata, Widati, dan

16
Widaningsih yang ternyata seorang penyihir. Karena ketahuan mengintip, Angling Dharma dikutuk
menjadi Belibis Putih yang akhirnya ditemukan oleh Jaka Geduk. Kemudian Jaka Geduk membantu
Raja Dharmawangsa dalam mengadili masalah Bermani. Berkat hal itu, Jaka Geduk diangkat
menjadi hakim negara dan Belibis Putih dipelihara oleh Ambarawati. Belibis Putih ternyata Angling
Dharma yang membuat Ambarawati jatuh cinta dengannya hingga mereka menikah diam-diam dan
Ambarawati hamil. Dharmawangsa heran dan bingung, akhirnya datanglah Resi Yogiswara yang
siap membantu menemukan siapa pelakunya. Kemudian Yogiswara mencurigai Belibis Putih
karena mempunyai kalung yang sama dengan Angling Dharma, setelah pertarungan selesai barulah
Belibis Putih berubah wujud. Mengetahui hal tersebut, Dharmawangsa merestui hubungan mereka.
Dari kehamilan Ambarawati, lahirlah anak yang bernama Anglingkusuma yang menjadi penerus
Raja di Kerajaan Bojonegoro menggantikan Dharmawangsa. Akan tetapi dia memiliki musuh
selama menjadi raja yang bernama Durgandini dan Sudawirat. Berkat bantuan Angling Dharma,
musuh-musuh tersebut terkalahkan dan siap sedia mengabdi di kerajaan tersebut.

Alur cerita dari segi fungsinya saja:


N = x1,2, y1 : y2 :: z2 : z1 :: z1 : y3,z3 // y4 : y6 :: x3 : y1 :: y5 :: y7 // x5,6 : x9 :: y2 : z2 :: z3 // x4 : z1 :: x7 :
y8 :: x8 : y6 :: z4 : y8 :: y5 : y6 // x9 : x3 :: y7,z3 //

Fungsi kebaikan dan keadilan lebih besar dari pada fungsi keburukan.
N = (a1)y1,y4,y5 + (b)z1 + (a2)y2,z2 + (a4)y7 + (c2)y4,y6,y8 > (a1)x1,x2 + (a6)x5,x6 + (c1)x7,x8,x9 + (c6)x9
Fungsi kebaikan dan keadilan lebih menonjol, karena di awal cerita mempunyai yang
semula Angling Dharma sombong dengan kesaktiannya, dengan izin Tuhan Yang Maha Esa
akhirnya oleh Begawan Maniksutra diberi pelajaran dan menyesal. Kemudian suatu hari Angling
Dharma menolong Setyawati dari kejaran harimau dan mengangkat Batik Madrim menjadi patih
Kerajaan Malawapati. Lalu Angling Dharma membunuh ular tampar yang menjadi selingkuhan
Nagagini demi kebaikan bersama. Kemudian Angling Dharma membantu mengadili Bermani dalam
kasusnya yang suaminya ada dua yang membuat Jaka Geduk diangkat menjadi hakim negara. Lalu
memerangi musuh Anglingkusuma yang bernama Durgandini dan Sudawirat.
Hal ini tampak jelas pada:
1. Tindakan Angling Dharma yang sombong karena kekuatannya akhirnya mendapat hukuman
dari Tuhan Yang Maha Esa
2. Karena kebaikan Angling Dharma, Batik Madrim diangkat menjadi Patih Kerajaan
Malawapati

17
3. Perselingkuhan antara Nagagini dengan ular tampar akhirnya berujung tragis, Angling
Dharma membunuh ular tersebut demi kebaikan bersama
4. Berkat bantuan Jaka Geduk dan Belibis Putih akhirnya kasus Bermani terselesaikan, Jaka
Geduk diangkat menjadi hakim negara
5. Karena kesaktian Angling Dharma, dia dapat memerangi musuh Anglingkusuma yang
berujung musuh-musuhnya tersebut menjadi abdi negara mereka.

Hal itu sesuai dengan maksud cerita yang menurut penutur bertujuan agar segala sesuatu
pasti ada balasannya, baik itu perbuatan baik maupun buruk. Karena Tuhan Yang Maha Esa
senantiasa berlaku adil tanpa pandang bulu.
Memetik suri tauladan:
1. Angling Dharma : Laki-laki, berstatus tinggi, sakti, suka menolong,
menegakkan kebenaran
2. Begawan Maniksutra : Laki-Laki, berstatus tinggi, sakti, menegakkan
kebenaran
3. Setyawati : Perempuan, berstatus tinggi, cantik
4. Batik Madrim / Resi Yogiswara : Laki-Laki, berstatus tinggi, patuh, menegakkan
kebenaran
5. Nagaraja : Laki-Laki, berstatus tinggi, gampang ditipu
6. Nagagini : Perempuan, berstatus tinggi, berwatak jelek karena
menuduh Angling Dharma
7. Tuhan Yang Maha Esa : Berstatus Maha Tinggi, bersifat adil
8. Widata, Widati, dan Widaningsih : Perempuan, berstatus rendah, berwatak jelek,
penyihir pemakan daging manusia
9. Jaka Geduk : Laki-Laki, baik hati, suka menolong
10. Darmawangsa : Laki-Laki, berstatus tinggi, gagah, baik hati
11. Ambarawati : Perempuan, berstatus tinggi, patuh
12. Durgandini & Sudawirat : Laki-Laki, berstatus rendah, berwatak jelek

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan proses penganalisisan dapat ditemukan atau dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Terem yang ada pada cerita Legenda Prabu Angling Dharma ini, ditemukan terem sebanyak
15, yaitu tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Sedangkan Fungsi yang dapat ditarik dari
cerita ini terdapat sebanyak 9 Fungsi Keburukan, 8 Fungsi Kebaikan dan 4 Fungsi Keadilan.
2. Struktur Naratif ala Maranda yang berupa angka dan huruf merupakan simpulan dari
struktur cerita secara keseluruhan, karena ada beberapa aspek pembangunnya, struktur
naratif ala Maranda ini dibagi menjadi 4 kelompok hal, yaitu :

18
a. Struktur cerita secara keseluruhan dapat dilihat dari struktur naratif berikut ini :

N = (a1),x1,2, y1 : (a2)y2 :: (a2)z2 : (b)z1 :: (b)z1 : (a1)y3,z3 // (a1)y4 : (a3)y6 :: (a4)x3 : (a1)y1 :: (a1)y5 ::
(a3)y7 // (a6)x5,6 : (a5)x9 :: (a1)y2 : (b)z2 :: (a5)z3 // (a3)x4 : (b)z1 :: (c1)x7 : (a1)y8 :: (c1)x8 : (c2)y6 ::
(c3)z4 : (c4)y8 :: (a1)y5 : (c5)y6 // (c6)x9 : (a1)x3 :: (c6)y7,z3 //
b. Struktur cerita dilihat dari segi tokoh

Dilihat dari segi tokoh menghasilkan struktur naratif berikut ini :


N = (a1): (a2) :: (a2) : (b) :: (b) : (a1) // (a1) : (a3) :: (a4): (a1) :: (a1) :: (a3) // (a6): (a5) :: (a1) : (b) :: (a5)
// (a3) : (b) :: (c1) : (a1) :: (c1) : (c2) :: (c3) : (c4) :: (a1) : (c5) // (c6) : (a1) :: (c6) //
c. Struktur cerita dilihat dari segi fungsi

Dan dilihat dari segi fungsi, dihasilkan struktur naratif sebagai berikut :
N = x1,2, y1 : y2 :: z2 : z1 :: z1 : y3,z3 // y4 : y6 :: x3 : y1 :: y5 :: y7 // x5,6 : x9 :: y2 : z2 :: z3 // x4 : z1 :: x7 :
y8 :: x8 : y6 :: z4 : y8 :: y5 : y6 // x9 : x3 :: y7,z3 //
d. Komposisi perbandingan fungsi kebaikan dan keadilan melawan keburukan

Sedangkan komposisi perbandingan antara fungsi kebaikan dan keadilan dengan keburukan
dapat dihasilkan bahwa fungsi kebaikan dan keadilan tampak lebih besar dibandingkan fungsi
keburukan. Hal tersebut dapat dilihat dari struktur naratif berikut ini :
N = (a1)y1,y4,y5 + (b)z1 + (a2)y2,z2 + (a4)y7 + (c2)y4,y6,y8 > (a1)x1,x2 + (a6)x5,x6 + (c1)x7,x8,x9 + (c6)x9

Daftar Pustaka

Sudikan, Setya Yuwana. 2017. Metode Penelitian Sastra Lisan. Lamongan: CV.Pustaka Ilalang
Group

Andari. 2016. Struktur Naratif Ala Maranda Dalam Legenda Upacara Kasada Suku Tengger –
Probolinggo. https://www.journal.unipdu.ac.id. Diakses pada hari Senin, 02 Desember 2019

19