Anda di halaman 1dari 11

KASUS ASET TETAP

KASUS PENYIMPANGAN PELEPASAN ASET ANAK


PERUSAHAAN PT HOTEL INDONESIA TAHUN 2016

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Pengauditan II

Disusun Oleh :

Nanik Umiati (31401900241)


Nisriinaa Yumnaa A’Atika (31401900242)
Pravita Wahyu Sayekti (31401900243)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI KELAS TRANSFER


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2019
BAB I
KASUS

KASUS PENYIMPANGAN PELEPASAN ASET ANAK PERUSAHAAN PT


HOTEL INDONESIA

JAKARTA - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan menduga ada


penyimpangan dalam penjualan atau pelepasan aset tetap tanah dan bangunan di Unit
Inna Dharma Deli, Medan, Sumatera Utara (Sumut).
Pelepasan aset milik anak perusahaan BUMN PT Hotel Indonesia Natour
(Persero) itu dilakukan pada saat perusahaan BUMN itu dipimpin oleh Direktur Utama
(Dirut), Intan Abdams Katoppo. Nilainya sebesar Rp172,3 miliar. "Direksi Inna
Dharma Deli harus transparan dalam penjualan aset tanah dan bangunan Hotel Inna
Dharma Deli Medan karena patut diduga telah terjadi Pelepasan dan Penjualan aset PT
Hotel Natour Indonesia," kata Direktur LBH Medan Surya Adinata dalam pernyataan
yang dikutip oleh wartawan di Jakarta, Jumat (8/4/2016). "Dalam hal ini aset tetap Inna
Dharma Deli Medan yang dijalankan tidak sesuai dengan prosedur dan tidak
transparan, hal mana pertanggungjawaban pelepasan dan penjualan aset tersebut
menjadi tanggung jawab direksi PT Hotel Natour Indonesia," imbuhnya.
LBH Medan menurut Surya, menduga aksi korporasi tersebut melanggar dan
menabrak aturan hukum antara lain Undang-undang (UU) Nomor 19 Tahun 2003
tentang BUMN, UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU Nomor 1
Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Surya menegaskan, dengan demikian
patut diduga pula terjadi indikasi korupsi seperti diatur dalam UU Nomor 31 Tahun
1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Seperti tercantum dalam Laporan Keuangan PT Hotel Indonesia Natour
(Persero), perusahaan melakukan pelepasan aset tetap di Inna Dharma Deli, Medan,
berupa tanah seluas 7.856 m2 dan bangunan seluas 6.672 m2 kepada PT Waskita Karya
(Persero). Dalam rangka penyelesaian pembayaran kontrak pembangunan Innaya Putri

1
Bali. Harga pelepasan atas aset tersebut adalah sebesar Rp176,7 miliar sebagaimana
tertuang dalam Akta Jual Beli Nomor 190/2014 dan 191/2014 tanggal 22 Desember
2014 yang dibuat oleh Ekoevidolo, SH, notaris di Jakarta," demikian tercantum dalam
dokumen laporan keuangan tersebut.
Atas pelepasan aset tanah itu, tercantum laba atas pelepasan aset tetap sebesar
Rp166,09 miliar. LBH Medan kata Surya, akan menindaklanjuti informasi dan data
tersebut dengan langkah pelaporan kepada penegak hukum. Selain itu LBH Medan
mendesakkan tiga hal dalam kasus ini.
Pertama, mendesak pihak terkait, dalam hal ini Menteri Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) dan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk
membentuk tim investigasi guna menyelidiki dugaan pelanggaran hukum.
Kedua, meminta kepada pihak terkait, dalam hal ini Menteri BUMN dan
Komisi VI DPR untuk membatalkan penjualan dan pelepasan aset oleh Direksi PT
Hotel Natour Indonesia atau Hotel Dharma Deli Medan kepada pihak pengembang,
yaitu PT Waskita Karya.
Ketiga, meminta kepada Pemerintah Kota Medan untuk proaktif dalam
memperjuangkan dan mempertahankan aset bangunan Hotel Dharma Deli Medan
karena Bangunan dan lingkungan tersebut bernilai sejarah arsitektur kepurbakalaan dan
budaya di Kota Medan.

2
BAB II
TEORI

2.1 PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS AKTIVA TETAP

Aktiva tetap memiliki karakteristik yang berbeda dengan karakteristik aktiva


lancar, yang berdampak terhadap pengujian substantif atas aktiva tetap. Frekuensi
transaksi yang menyangkut aktiva tetap relatif sedikit maka jumlah waktu yang
dikonsumsi untuk pengujian substantif atas aktiva tetap relatif lebih sedikit bila
dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk pengujian substantif atas aktiva
lancar. Karena ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan aktiva tetap
sedikit pengaruhnya terhadap perhitungan rugi-laba maka auditor tidak mengarahkan
perhatiannya terhadap masalah ketelitian pisah batas transaksi yang bersangkutan
dengan aktiva tetap pada akhir tahun. Pengujian substantif atas aktiva tetap
dititikberatkan pada verifikasi mutasi aktiva tetap yang terjadi dalam tahun yang
diaudit. Verifikasi saldo aktiva tetap pada tanggal neraca tidak mendapat perhatian
auditor karena aktiva tetap disajikan pada costnya, bukan nilainya pada tanggal neraca
seperti halnya dengan aktiva lancar.
Jika laporan keuangan klien belum pernah diaudit oleh auditor independen lain,
dan audit yang sekarang ini merupakan audit yang pertama kalinya maka auditor
mempunyai kewajiban untuk memverifikasi saldo awal aktiva tetap, untuk
memperoleh keyakinan mengenai kewajaran saldo tersebut. Verifikasi tersebut
dilakukan oleh auditor meliputi periode sejak saat aktiva tetap tersebut diperoleh
sampai dengan awal tahun yang diaudit. Jika laporan keuangan klien tahun sebelumnya
telah diaudit oleh auditor independen lain, dan jika laporan keuangan klien diberi
pendapat wajar tanpa pengecualian dari auditor independen sebelumnya, auditor yang
baru dapat langsung menggunakan saldo awal aktiva tetap sebagai saldo awal yang
wajar. Bagi auditor yang baru tersebut, titik berat pengujian substantifnya atas aktiva

3
tetap, kemudian hanya dipusatkan pada transaksi mutasi aktiva tetap yang terjadi dalam
tahun yang diaudit saja.

2.2 Pengujuan Subtantif Aset Tetap


2.2.1 Prosedur Audit Pengujian Substantif
1. Prosedur audit awal
Lakukan perosedur audit awal atas saldo akun aktiva tetap yang akan di uji lebih
lanjut :
a. Usut saldo aktiva tetap yang tecantum di dalam neraca ke saldo akun aktiva
tetap bersangkutan di buku besar.
b. Terhitung kembali saldo aktiva tetap di buku besar
c. Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber
posting dalam aktiva tetap serta hitung akumulasi penyusutan aktiva tetap
tersebut.
d. Usut saldo akun aktiva tetap ke kertas kerja tahun lalu
e. Usut posting pendebetan dan pengkreditan ke dalam jurnal yang
bersangkutan
f. Lakukan rekonsiliasi akun kontrol terhadap aktiva tetap dalam buku besar
ke buku pembantu aktiva tetap
2. Prosedur analitik
a. Hitung rasio:
1) Tingkat perputaran aktiva tetap
2) Laba bersih dengan aktiva tetap
3) Aktiva tetap ke modal saham
4) Biaya reparasi dan pemeliharaan dengan aktiva tetap
b. Lakukan analisis hasil prosedur analitik dengan harapan dari dasarkan pada
data masa lalu baik data anggaran maupun data realisasi

4
3. Prosedur pengujian terhadap transaksi rinci
a. Periksa tambahan aktiva tetap ke dokumen yang mendukung timbulnya
transaksi tersebut
b. Periksa berkurangnya aktiva tetap ke dokumen yang mendukung timbulnya
transaksi tersebut
c. Lakukan pemeriksaan pisah batas (cut off) transaksi aktiva tetap
d. Lakukan review terhadap akun biasa maintanance maupun biaya reparasi
4. Prosedur pengujian terhadap saldo akun rinci
a. Lakukan inspeksi atau peninjauan terjadap aktiva tetap
1. Lakukan inspeksi terhadap tambahan aktiva tetap
2. Lakukan penyelidikan dan sesuaikan jika terjadinya perbedaan
3. Periksan dokumen yang mendukung pembayaran dan pembelian aktiva
tetap setelah tanggal neraca
b. Periksa bukti hak kepemilikan aktiva tetap dan kontrak yang mendukung
penggunaan aktiva tetap tersebut
c. Lakukan review terhadap penyusutan aktiva tetap
5. Prosedur verifikasi penyajian dan pengungkapan
Bandingkan penyajian aktiva tetap dengna prinsip aktiva yang diterima umum

a. Periksa klasifikasi aktiva tetap di neraca


b. Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan aktiva tetap
2.2.2 Program Pengujian Substantif
1. Prosedur audit awal terhadap Aset Tetap
2. Prosedur analitik atas Aset Tetap
3. Pengujian terhadap transaksi rinci atas Aset Tetap
4. Pemeriksaan atas penyajian dan pengungkapan Aset Tetap
5. Mengusut saldo Aset Tetap dan akumulasi depresiasi yang tercantum di
neraca,ke saldo akun Aset Tetap dan akumulasi depresiasi di buku besar
6. Menghitung kembali saldo akun Aset Tetap di Buku Besar

5
 Saldo awal
 Ditambah jumlah pendebitan
 Dikueangi jumlah pengkreditan
Pengujian substantif atas aktiva tetap ditujukan untuk:

1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan


dengan aktiva tetap,

2. Membuktikan keberadaan aktiva tetap dan keterjadian transaksi yang berkaitan


dengan aktiva tetap yang dicantumkan di neraca,

3. Membuktikan hak kepemilikan klien atas aktiva tetap yang dicantumkan di


neraca,

4. Membuktikan kewajaran penilaian aktiva tetap yang dicantumkan di neraca,

5. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tetap di neraca.

2.2 PENGUJIAN PENGENDALIAN AKTIVA TETAP


2.2.1 Definisi Pengendalian internal
Menurut Messier (2006, h.250) pengendalian internal dapat diartikan
sebagai suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan
personel entitas lainnya yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai
tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini: keandalan pelaporan
keuangan, efektivitas dan efisiensi operasi, dan kepatuhan terhadap hukum dan
peraturan yang berlaku.

Pengendalian internal memiliki lima unsur pokok yang disebutkan oleh


Messier (2006, h.251) sebagai berikut:

1. Lingkungan pengendalian.
2. Proses penentuan resiko entitas.

6
3. Sistem informasi dan proses bisnis terkait yang relevan terhadap pelaporan
keuangan dan komunikasi.
4. Prosedur pengendalian.
5. Pemantauan pengendalian.

2.2.2 Tujuan Pengendalian Internal

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2001, 319.2) pengendalian internal


memiliki tujuan sebagai berikut:

1. Menyajikan data yang dapat dipercaya.


2. Mengamankan aktiva dan catatan.
3. Meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasional perusahaan.
4. Mendorong ditaatinya kebijakan yang digunakan.

2.3 DEFINISI PENGUJIAN PENGENDALIAN INTERNAL

Dalam pelaksanaan standar auditing yang kedua yang berbunyi “Pemahaman


memadai atas pengendalian internal harus diperoleh untuk merencanakan audit dan
menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan”, auditor harus
melakukan pengujian terhadap efektivitas pengendalian internal dalam mencapai
tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Pengujian ini menurut Mulyadi (2002, h.198)
disebut dengan istilah pengujian kepatuhan (compliance tests) atau sering disebut
dengan pengujian pengendalian (test of control).

Untuk menguji kepatuhan terhadap pengendalian internal, Mulyadi (2002,


h.199) mengatakan auditor dapat melakukan dua macam pengujian:

1. Pengujian adanya kepatuhan terhadap pengendalian internal.


a. Pengujian transaksi dengan cara mengikuti pelaksanaan transaksi tertentu.
b. Pengujian transaksi tertentu yang telah terjadi dan telah dicatat.

7
2. Pengujian tingkat kepatuhan terhadap pengendalian internal.
a. Mengambil sampel bukti transaksi dan kelengkapan dokumen pendukungnya
serta tanda tangan pejabat yang berwenang baik dalam bukti transaksi maupun
dokumen pendukungnya. Pengujian ini bertujuan untuk mendapatkan
kepastian transaksi telah diotorisasi oleh pejabat yang berwenang.
b. Melaksanakan pengujian bertujuan ganda (dual-purpose test), yang
merupakan kombinasi antara pengujian yang bertujuan untuk menilai
efektivitas pengendalian internal (pengujian pengendalian) dan pengujian
yang tujuannya menilai kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan
keuangan (pengujian substantif)
2.3.1 Pengendalian Internal Atas Aktiva Tetap
Mulyadi menjelaskan didalam bukunya yang berjudul Sistem Akuntansi
(2001, h.612) bahwa terdapat beberapa unsur pengendalian internal dalam sistem
akuntansi aktiva tetap. Unsur-unsur tersebut sebagai berikut:
1. Organisasi
2. Sistem Otorisasi
3. Prosedur pencatatan
4. Praktik yang sehat

8
BAB III
SOLUSI DARI AUDIT
1. Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian belum efektif, sehingga perlunya kebijakan dan
usaha kuat untuk selalu menjaga dan mempertahankan karyawan maka
diharapkan akan mampu menghindari faktor-faktor yang mengakibatkan tidak
tercapainya tujuan organisasi.
2. Penilaian Risiko
Penerapan penilaian risiko untuk asset tetap belum efektif serta efisien sehingga
masih terjadi, munculnya kejadian yang tidak diinginkan atau tidak sesuai
dalam perusahaan sehingga perlu dilakukan penilaian risiko yang lebih efektif
dan efisien.
3. Aktivitas Pengendalian
Sistem otorisasi terhadap transaksi aset tetap belum baik. Setiap transaksi
dilakukan masih belum melalui alur yang benar sehingga terjadi penjualan aset
tetap yang aset tersebut tidak seharusnya dijual. Sehingga perlu melakukan
pengawasan terhadap aset tetap.
4. Pemantauan Pengendalian
Pimpinan perusahaan harus bertanggungjawab penuh dalam usaha pengawasan
internal terhadap aset tetap. Manajemen perlu memperhatikan dan menentukan
cara yang baik dalam menciptakan sistem pengawasan yang efektif dan efisien
agar pelakanaan prosedurprosedur pengawasan dapat dilaksanakan sebaik
mungkin.

5. PT HI perlu membuat kebijakan mengenai penjualan, penghapusan dan


pemindahan aktiva tetap dari suatu lokasi ke lokasi lain.
6. Merancang dan Melakukan Prosedur Audit untuk Menghadapi Resiko

9
DAFTAR PUSTAKA

https://nasional.sindonews.com/read/1099428/13/pelepasan-aset-anak-perusahaan-pt-
hi-diduga-ada-penyimpangan-1460109776
https://media.neliti.com/media/publications/71504-ID-none.pdf

https://www.academia.edu/18585150/PENGUJIAN_SUBSTANTIF_TERHADAP_S
ALDO_AKTIVA_TETAP_2

https://ocw.upj.ac.id/files/Slide-AKT309-SIA-Pertemuan-1.ppt

10