Anda di halaman 1dari 26

Mata Kuliah : Pendidikan kewarganegaraan

Nama kelompok Hassanudin:


 Antonia
 Eka Natalia
 Hendrik
 Maria Sulastriana
Suku Bagian Barat :
A. Unsur-unsur kebudayaan suku sunda adalah :

Suku Sunda (Urang Sunda, aksara Sunda: adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian
barat pulau Jawa, Indonesia, dengan istilah Tatar Pasundan yang mencakup wilayah
administrasi provinsi Jawa Barat, Banten, Jakarta, dan wilayah barat Jawa Tengah
(Banyumasan). Orang Sunda tersebar diberbagai wilayah Indonesia, dengan provinsi Banten dan
Jawa Barat sebagai wilayah utamanya.

Jati diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasanya dan budayanya. Orang Sunda
dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, riang dan bersahaja.[2] Orang Portugis mencatat
dalam Suma Oriental bahwa orang sunda bersifat jujur dan pemberani. Orang Sunda juga adalah
yang pertama kali melakukan hubungan diplomatik secara sejajar dengan bangsa lain. Sang
Hyang Surawisesa atau Raja Samian adalah raja pertama di Nusantara yang melakukan
hubungan diplomatik dengan bangsa lain pada abad ke-15 dengan orang Portugis di Malaka.
Hasil dari diplomasinya dituangkan dalam Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal. Beberapa tokoh
Sunda juga menjabat Menteri dan pernah menjadi Wakil Presiden pada kabinet RI.

Di samping prestasi dalam bidang politik (khususnya pada awal masa kemerdekaan
Indonesia) dan ekonomi, prestasi yang cukup membanggakan adalah pada bidang budaya yaitu
banyaknya penyanyi, musisi, aktor dan aktris dari etnis Sunda, yang memiliki prestasi di tingkat
nasional, maupun internasional.[3]

1. Sistem Peralatan dan Teknologi


Sistem peralatan masyarakat sunda terdapat pada senjata tradisionalnya yaitu
kujang. Senjata seperti kujang ini disimpan sebagai pusaka yang digunakan untuk melindungi
rumah dari bahaya dengan meletakkan di atas tempat tidur. Menurut sebagian orang kujang
mempunyai kekuatan tertentu yanng berasal dari dewa (Hyang), kujang juga dipakai sebagai salah
satu estetika dalam beberapa organisasi serta pemerintahan. Dengan perkembangan kemajuan,
teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat sunda, kujang pun mengalami perkembangan
dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang
menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang
bernilai simbolik dan sakral.
Berdasarkan fungsi kujang terbagi menjadi empat antara lain, Kujang Pusaka
( lambang keagungan dan perlindungan keselamatan), Kujang Pakarang (untuk berperang),
Kujang Pangarak (sebagai alat upacara), Kujang Pamangkas ( sebagai alat berladang).
Teknologi di masyarakat sunda pula saat ini sudah berkembang pesat, masyarakat saat ini sudah
banyak mengenal dan bahkan memiliki benda-benda elektronik, tetapi adapula masyarakat sunda
yang masih kental dengan adat dan menghindari tentang adanya teknologi dan unsur modern.
Contohnya adalah masyarakat baduy. Mereka memang tidak begitu suka dengan perubahan
teknologi, karena bagi mereka adat leluhur dari nenek moyang haruslah tetap dijalankan

2. Bahasa
Bahasa sunda juga mengenal tingkatan dalam bahasa, yaitu bahasa untuk membedakan
golongan usia dan status sosial antara lain, yaitu :
Bahasa sunda lemes (halus) yaitu dipergunakan untuk berbicara dengan orang tua, orang yang
dituakan atau disegani.
Bahasa sunda sedang yaitu digunakan antara orang yang setaraf, baik usia maupun status sosialnya
Bahasa sunda kasar yaitu digunakan oleh atasan kepada bawahan, atau kepada orang yang status
sosialnya lebih rendah.
Namun demikian di Serang dan di Cilegon, lebih lazim menggunakan bahasa Banyumasan (bahasa
Jawa tingkatan kasar) digunakan oleh teknik pendatang dari suku jawa.

3. Mata Pencaharian
Mata pencaharian pokok masyarakat sunda adalah :
Bidang perkebunan, seperti tumbuhan teh, kelapa sawit, karet dan kina
Bidang pertanian, seperti padi, palawija, dan sayur-sayuran
Bidang perikanan, seperti tambak udang, dan perikanan ikan payau
Selain bertani, berkebun dan mengelola perikanan, ada juga bermata pencaharian sebagai
pedagang, pengrajin, peternak.
4. Organisasi Sosial / Sistem Kemasyarakatan
Sistem kekerabatan yang digunakan adalah sistem kekerabatan parental atau bilateral, yaitu
mengikuti garis keturunan kedua belah pihak orang tua yaitu bapak dan ibu. Dalam keluarga sunda,
bapak yang bertindak sebagai kepala keluarga. Ikatan kekeluargaan yang kuat dan peranan agama
Islam yang sangat mempengaruhi adat istiadat mewarnai seluruh sendi kehidupan suku sunda.

Dalam bahasa sunda dikenal pula kosa kata sejarah dan sarsilah (silsilah, silsilah) yang
maknanya kurang lebih sama dengan kosa kata sejarah dan silsilah dalam bahasa Indonesia. Makna
sejarah adalah susun galur atau garis keturunan. Pada saat menikah, orang sunda tidak ada
keharusan menikah dengan keturunan tertentu asal tidak melanggar ketentuan agama. Setelah
menikah, penggantin baru bisa tinggal di tempat kediaman istri atau suami tetapi pada umumnya
mereka memilih tinggal di tempat baru atau neolokal. Dilihat dari sudut ego, orang sunda
mengenal istilah tujuh generasi keatas dan tujuh generasi ke bawah, antara lain yaitu :
Tujuh generasi keatas :
Kolot, Embah, Buyut, Bao, Janggawareng, Udeg-udeg, Gantung Siwur

Tujuh Generasi Kebawah :


Anak, Incu, Buyut, Bao, Janggawareng, Udeg-Udeg, Gantung Siwur

5. Sistem Pengetahuan
Pendidikan di suku sunda sudah dibilang sangat berkembang baik. Terlihat dari
peran pemerintah Jawa Barat. Pemerintah Jawa Barat memiliki tugas dalam memberikan
pelayanan pembangunan pendidikan bagi warganya, sebagai hak warga yang harus dipenuhi dalam
pelayanan pemerintah. Pembangunan pendidikan merupakan salah satu bagian yang sangat vital
dan fundemental untuk mendukung upaya-upaya pembangunan Jawa Barat di bidang lainnya.
Pembangunan pendidikan merupakan dasar bagi pembangunan lainnya, menginggat secara hakiki
upaya pembangunan pendidikan adalah membangun potensi manusia yang kelak akan menjadi
pelaku pembangunan.

Dalam setiap upaya pembangunan, maka penting untuk senantiasa


mempertimbangkan karekteristik dan potensi setempat. Dalam konteks ini masyarakat Jawa Barat
yang mayoritas suku sunda memiliki potensi budaya dan karekteristik tersendiri, baik secara
sosiologis-antropologis, falsafah kehidupan masyarakat Jawa Barat yang telah diakui memiliki
makna yag sangat mendalam.

6. Kesenian
Masyarakat sunda begitu gemar akan kesenian, sehingga banyak terdapat jenis
kesenian diantaranya seperti :
Seni Bangunan
Rumah adat tradisional msayarakat sunda adalah berbentuk keraton kesepuhan cirebonan yang
memiliki 4 ruang, yaitu sebagai berikut :
1. Pendopo yaitu tempat untuk keselamatan sultan
2. Pringgondani yaitu tempat untuk sultan memberikan perintah kepada adipati
3. Prabayasa yaitu tempat sultan menerima tamu (ruang Tamu)
4. Panembahan yaitu ruang kerja dan tempat istirahat sultan

Seni Tari
Tari yang terkenal di masyarakat sunda adalah tari topeng, tari merak, tari sisingaan dan tari
jaipong.

Seni Suara dan musik


Alaat musik tradisional masyarakat sunda adalah angklug, calung, kecapi, dan degung. Alat musik
ini digunakan untuk mengiringi tembang. Tembang adalah puisi yang di iringi oleh kecapi dan
suling. Salah satu lagu tradisional masyarakat sunda yaitu : Bubuy Bulan, Manuk dadali dan
Tokecang.

Seni Sastra
Sunda sangat kaya akan seni sastra, contohnya Prabu Siliwangi yang diungkapkan dalam bentuk
pantun dan Si Kabayan yang diungkapkan dalam bentuk prosa.
Seni Pertunjukan
Pertubjukab yang paling terkenal di suku sunda adalah Wayang Golek. Wayang golek adalah
boneka kayu dengan penampilan yang sangat menarik dan kreatif.

7. Religi/Agama
Sebagian besar masyarakat suku sunda menganut Agama Islam, namun ada pula yang
beragama kristen, hindhu atau budha, dll. Mereka itu tergolong pemeluk agama yang taat karena
bagi mereka kewajiban beribadah adalah prioritas utama. Contohnya dalam menjalankan ibadah
puasa, sholat lima waktu, serta berhaji bagi yang mampu. Mereka juga masih mempercayai adanya
kekuatan ghaib. Terdapat juga adanya upacara-upacara yang berhubungan dengan salah satu fase
dalam lingkaran hidup, mendirikan rumah, menanam padi, dan lain-lain.
B. 7 UNSUR KEBUDAYAAN DARI SUKU NIAS

Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di Pulau Nias. Dalam bahasa aslinya,
orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan
Pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah).

Suku Nias merupakan masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang
masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi
kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya
megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih
ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. Kasta: Suku Nias mengenal sistem
bosi (12 tingkatan kasta). Tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai
tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang
dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.

1. Alat Perlengkapan Hidup


Orang Nias yang berkebudayaan megalitik sudah mengenai pertukangan logam sejak
zaman prasejarah. Misalnya, pandai membuat jenis-jenis pedang dan golok perang yang disebut
seno gari dan telogu. Dari segi ketajaman, keampuahan, dan keindahan bentuk, senjata-senjata
tajam buatan Nias tidak kalah dengan mandau yang dibuat oleh Dayak. Rumah adat Omo Hada
Pkaian adat tradisoional Pakaian adat pernikahan

2. Mata Pencaharian
Mata pencahariannya adalah berburu di hutan, menangkap ikan di sungai, beternak dan
bertukang. Hasil peternakan utama di Nias adalah babi. Selain itu diternakkan pula kambing dan
kerbau yang biasanya diusahakan oleh orang Nias yang beragama Islam.

3. Organisasi Sosial
Sistem kekeluargaan dalam orang Nias adalah nuclear family, keluarga batih (bato),
kelompok kekerabatan yang disebut sangambato oleh orang Nias yakni keluarga luas virilokal
yang terdiri atas satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang tinggal di dalam
satu rumah yang membentuk suatu rumah tangga. Sedangkan Pemelihara dan penjaga diwakili
oleh golongan masyarakat yang disebut Sato.

4. Agama/Religi
Para leluhur Nias kuno menganut kepercayaan animisme murni. Mereka mendewakan
roh-roh yang tidak kelihatan dengan berbagai sebutan. Selain roh-roh atau dewa tersebut, mereka
juga memberhalakan roh-roh yang berdiam di dalam berbagai benda berwujud.

5. Bahasa
Bahasa Nias termasuk dalam rumpun bahasa Melayu – Polinesia tetapi
agak berbeda dengan bahasa Nusantara lainnya, karena sifatnya yang vocal yaitu tidak mengenal
konsonan di tengah maupun di akhir kata. Bahasa Nias mempunyai huruf bunyi tunggal (vokal)
yang khas yaitu yang bunyinya hampir sama dengan e pepet atau eu dalam bahasa sunda.
Berdasarkan analisis, di identifikasi bahwa bahasa Nias hanya berjumlah 20, yakni: b, d, f, g, h,
k, l, m, mb, n, ndr, r, rn, s, t, w, bw, x, y, z.

6. Kesenian
Kesenian orang Nias meliputi seni musik, seni lukis, tari, seni kerajinan, seni pahat
seperti memahat patung. Tarian adat umumnya dilakukan secara berkelompok dan dilakukan di
halaman muka (ewali) pada peristiwa khusus. Tarian di Nias lebih banyak bertemakan kesatriaan
atau keprajuritan.

7. Ilmu Pengetahuan
Waktu dalam suku bangsa Nias di kenal sebagai suatu pengertian yang ada hubunganya
dengan bintang tertentu yang disebut madala. Madala selain menunjukkan nama bintang, juga
memberikan pengertian tentang pembagian waktu. Madala fajar menunjukkan waktu fajar
menyingsing, madala laluwo menunjukkan waktu tengah hari, dan madala tanobi menunjukkan
waktu matahari tenggelam.
Suku Bagian Tengah :

A. Unsur unsur kebudayaan Suku Gorontalo :

Gorontalo adalah salah satu Provinsi di Indonesia yang lahir pada tanggal 5 Desember,
[6]
2000 dan memiliki Ibu kota provinsi bernama sama yaitu, Kota Gorontalo. Sama halnya
dengan ibu kotanya, Provinsi Gorontalo terkenal dengan julukan "Serambi Madinah". Dalam
catatan sejarah Indonesia, satu-satunya Presiden RI yang berasal dari Suku Gorontalo adalah
Presiden Republik Indonesia ke-3, Prof. DR. Ing. B.J. Habibie, dari garis keturunan ayahnya
yang memiliki marga Habibie, yaitu Alwi Abdul Jalil Habibie.

Seiring dengan munculnya pemekaran wilayah yang berkenaan dengan Otonomi Daerah
di Era Reformasi, Provinsi ini kemudian dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 38
Tahun 2000, tertanggal 22 Desember dan menjadi Provinsi ke-32 di Indonesia.

Provinsi Gorontalo terletak pada Semenanjung Gorontalo (Gorontalo Peninsula) di Pulau


Sulawesi, tepatnya di bagian barat dari Provinsi Sulawesi Utara. Luas wilayah provinsi ini
12.435,00 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 1.166.142 jiwa (2018), dengan laju
pertumbuhan penduduk sebesar 0.91%.

Disisi lain, masyarakat Gorontalo juga memiliki budaya "Moleleyangi" atau dalam
bahasa Indonesia disebut "Merantau", dimana penyebaran etnis Gorontalo paling banyak tersebar
di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Timur. Ditengarai, penyebaran Diaspora
Orang Gorontalo telah mencapai 5 kali lipat dari total penduduknya sekarang yang tersebar di
seluruh dunia.

Identifikasi 7 unsur budaya daerah Gorontalo dilihat dari 4 masa (Pra aksara, Hindu-
Budha Islam, Kolonial dan Modern)
Berdasarkan data yang kami peroleh, bahwa daerah Gorontalo tidak melalui masa Pra
Aksara, tetapi hanya ada masa Hindu-Budha, Islam, Kolonial, dan msa modern yang akan
dipaparkan di bawah ini :
1. Bahasa
Bahasa yang digunakan masyarakat Gorontalo pada masa Islam dipengaruhi oleh Bahasa
Melayu Ternate. Sebanyak 46% kosakata bahasa Melayu di Manado dan Gorontalo diambil dari
bahasa Ternate. Dua naskah Melayu tertua di dunia adalah naskah surat sultan Ternate Abu Hayat
II kepada Raja Portugal tanggal 27 April dan 8 November 1521 yang saat ini masih tersimpan di
museum Lisabon – Portugal.
2. Ilmu Pengetahuan
Pada sekitar abad15 pertengahan, beberapa perubahan dilakukan, menjadi lebih Islami. Sistem
pemerintahannya kini didasarkan pada ilmu akidah atau pokok-pokok keyakinan dalam ajaran
Islam.
Dalam ilmu akidah tersebut diajarkan dua puluh sifat Allah SWT, untuk itu Eyato mewajibkan
sifat-sifat itu menjadi sifat dan sikap semua aparat kerajaan mulai dari pejabat tertinggi sampai
dengan jabatan terendah. Sumpah-sumpah dan adat istiadat yang dipakai, bersumber pada Islam.
3. Religi/agama
Sistem religi Gorontalo pada masa Islam antara agama dengan adat di Gorontalo menyatu
dengan istilah "Adat bersendikan Syara' dan Syara' bersendikan Kitabullah".

4. Teknologi
Sistem teknologi pada masa Islam di Gorontalo salah satunya bisa dilihat dari bangunan adat pintu
gerbang atau alikusu yang salah satu bahan bangunannya adalah enam batang pohon pinang yang
melambangkan kebenaran, kejujuran para ta’uwa li lupu (pembesar negeri/pejabat). Pada alikusu
tersebut terdapat terdapat tiga susun pagar sebagai lambang :
Pagar atas sebagai simbol agama, ditempatkan bagian atas sebagai pengayom
Pagar tengah melambangkan tauwa lo lipu, olongia (raja/pejabat)
Pagar bawah sebagai simbol talenga daqa (keamanan)
Selain itu di pintu masuk menuju yiladia (istana kerajaan), dibuatkan tangga, tolituhu yang
bahannya dianyam dari bambu. Bahan-bahannya : (1) dua pohon pinang masih muda, (2) buluh
berwarna kuning, (3) daun kelapa yang masih muda. Tangga tolituhu bermakna rakyat selalu patuh
kepada raja dan pejabat. Raja dan pejabat berjanji akan bertindak secara jujur dan mengayomi
rakyat. Apabila melanggar janji, akan diterkam oleh buaya seperti terlihat yang memagari tangga
berbetuk moncong buaya yang terbuka yang dalam istilah adat disebut ngango lo huayo (mulut
buaya).
5. Sistem Organisasi
Kalau dilihat dari istilah istilah adat yang ada di Gorontalo, maka ada kemiripan dengan istilah
adat yang berlaku di kerajaan di Ternate. Misalnya jabatan Jogugu , Fala Raha yaitu tempat klan
bangsawan yang menjadi tulang punggung kesultanan sebagai representasi para momole di masa
lalu, masing – masing dikepalai seorang Kimalaha. Mereka antara lain ; Marasaole, Tomagola,
Tomaito dan Tamadi. Selanjutnya ada jabatan jabatan lain seperti Bubato, Sabua Raha, Kapita
Lau, Salahakani, Sangaji dll.
Selain itu ada ada istilah “Bate”. Dalam pengertian orang Gorontalo “Bate” adalah
Penyelenggara adat/pemerintahan.
6. Mata Pencaharian
Mata pencaharian dalam masa ini yaitu bertani dan berdagang.
7. Kesenian
Tarian “Dayango” adalah tarian yang dilakukan dengan cara melompat lompat, pelakunya
menggunakan pakaian warna hitam dengan atribut tertentu di tangan. Tarian ini menceritakan
tentang kebiasaan/adat sekelompok orang Gorontalo yang sedang berinteraksi dengan mahluk
halus/roh.
B. Unsur unsur kebudayaan Suku Toraja :

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan,
Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 1 juta jiwa, dengan sekitar 500.000 di antaranya
masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa.
Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan
kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui
kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.

Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri
atas". Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja
terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman
Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan
berlangsung selama beberapa hari.

Sebelum abad ke-20, suku Toraja tinggal di desa-desa otonom. Mereka masih menganut
animisme dan belum tersentuh oleh dunia luar. Pada awal tahun 1900-an, misionaris Belanda
datang dan menyebarkan agama Kristen. Setelah semakin terbuka kepada dunia luar pada tahun
1970-an, kabupaten Tana Toraja menjadi lambang pariwisata Indonesia. Tana Toraja
dimanfaatkan oleh pengembang pariwisata dan dipelajari oleh antropolog. Masyarakat Toraja
sejak tahun 1990-an mengalami transformasi budaya, dari masyarakat berkepercayaan tradisional
dan agraris, menjadi masyarakat yang mayoritas beragama Kristen dan mengandalkan sektor
pariwisata yang terus meningkat.[5]

1) Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah


tangga, senjata, alat-alat produksi transportasi dan sebagainya)
Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan hidupnya sehingga mereka akan
selalu membuat peralatan atau benda-benda tersebut. Perhatian awal para antropolog dalam
memahami kebudayaan manusia berdasarkan unsur teknologi yang dipakai suatu
masyarakat berupa benda-benda yang dijadikan sebagai peralatan hidup dengan bentuk dan
teknologi yang masih sederhana. Dengan demikian, bahasan tentang unsur kebudayaan
yang termasuk dalam peralatan hidup dan teknologi merupakan bahasan kebudayaan fisik.

2) Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem


produksi, sistem distribusi dan sebagainya)

Mata pencaharian atau aktivitas ekonomi suatu masyarakat menjadi fokus kajian
penting etnografi. Penelitian etnografi mengenai sistem mata pencaharian mengkaji
bagaimana cara mata pencaharian suatu kelompok masyarakat atau sistem perekonomian
mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Sistem ekonomi pada masyarakat
tradisional, antara lain: berburu dan meramu, beternak, bercocok tanam di ladang,
menangkap ikan dan bercocok tanam menetap dengan sistem irigasi.

Pada saat ini hanya sedikit sistem mata pencaharian atau ekonomi suatu masyarakat
yang berbasiskan pada sektor pertanian. Artinya, pengelolaan sumber daya alam secara
langsung untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam sektor pertanian hanya bisa
ditemukan di daerah pedesaan yang relatif belum terpengaruh oleh arus modernisasi.
Pada saat ini pekerjaan sebagai karyawan kantor menjadi sumber penghasilan utama dalam
mencari nafkah. Setelah berkembangnya sistem industri mengubah pola hidup manusia
untuk tidak mengandalkan mata pencaharian hidupnya dari subsistensi hasil produksi
pertaniannya. Di dalam masyarakat industri, seseorang mengandalkan pendidikan dan
keterampilannya dalam mencari pekerjaan.

3) Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem


perkawinan)

Unsur budaya berupa sistem kekerabatan dan organisasi social merupakan usaha
antropologi untuk memahami bagaimana manusia membentuk masyarakat melalui
berbagai kelompok sosial. Menurut Koentjaraningrat tiap kelompok masyarakat
kehidupannya diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam
kesatuan di dalam lingkungan di mana dia hidup dan bergaul dari hari ke hari. Kesatuan
sosial yang paling dekat dan dasar adalah kerabatnya, yaitu keluarga inti yang dekat dan
kerabat yang lain. Selanjutnya, manusia akan digolongkan ke dalam tingkatantingkatan
lokalitas geografis untuk membentuk organisasi social dalam kehidupannya.

Kekerabatan berkaitan dengan pengertian tentang perkawinan dalam suatu


masyarakat karena perkawinan merupakan inti atau dasar pembentukan suatu komunitas
atau organisasi sosial.
4) Bahasa (lisan maupun tertulis)

Bahasa merupakan sarana bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan sosialnya


untuk berinteraksi atau berhubungan dengan sesamanya. Dalam ilmu antropologi, studi
mengenai bahasa disebut dengan istilah antropologi linguistik. Menurut Keesing,
kemampuan manusia dalam membangun tradisi budaya, menciptakan pemahaman
tentang fenomena sosial yang diungkapkan secara simbolik, dan mewariskannya kepada
generasi penerusnya sangat bergantung pada bahasa. Dengan demikian, bahasa
menduduki porsi yang penting dalam analisa kebudayaan manusia.
Menurut Koentjaraningrat, unsur bahasa atau sistem perlambangan manusia secara
lisan maupun tertulis untuk berkomunikasi adalah deskripsi tentang ciri-ciri terpenting
dari bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang bersangkutan beserta variasivariasi
dari bahasa itu. Ciri-ciri menonjol dari bahasa suku bangsa tersebut dapat diuraikan
dengan cara membandingkannya dalam klasifikasi bahasa-bahasa sedunia pada rumpun,
subrumpun, keluarga dan subkeluarga. Menurut Koentjaraningrat menentukan batas
daerah penyebaran suatu bahasa tidak mudah karena daerah perbatasan tempat tinggal
individu merupakan tempat yang sangat intensif dalam berinteraksi sehingga proses
saling memengaruhi perkembangan bahasa sering terjadi.

5) Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak, dan sebagainya)

Perhatian ahli antropologi mengenai seni bermula dari penelitian etnografi


mengenai aktivitas kesenian suatu masyarakat tradisional. Deskripsi yang dikumpulkan
dalam penelitian tersebut berisi mengenai benda-benda atau artefak yang memuat unsur
seni, seperti patung, ukiran, dan hiasan. Penulisan etnografi awal tentang unsur seni pada
kebudayaan manusia lebih mengarah pada teknikteknik dan proses pembuatan benda
seni tersebut. Selain itu, deskripsi etnografi awal tersebut juga meneliti perkembangan
seni musik, seni tari, dan seni drama dalam suatu masyarakat.
Berdasarkan jenisnya, seni rupa terdiri atas seni patung, seni relief, seni ukir, seni
lukis, dan seni rias. Seni musik terdiri atas seni vokal dan instrumental, sedangkan seni
sastra terdiri atas prosa dan puisi. Selain itu, terdapat seni gerak dan seni tari, yakni seni
yang dapat ditangkap melalui indera pendengaran maupun penglihatan. Jenis seni
tradisional adalah wayang, ketoprak, tari, ludruk, dan lenong. Sedangkan seni modern
adalah film, lagu, dan koreografi.

6) Sistem pengetahuan

Sistem pengetahuan dalam kultural universal berkaitan dengan sistem peralatan


hidup dan teknologi karena sistem pengetahuan bersifat abstrak dan berwujud di dalam
ide manusia. Sistem pengetahuan sangat luas batasannya karena mencakup pengetahuan
manusia tentang berbagai unsur yang digunakan dalam kehidupannya.

Masyarakat pedesaan yang hidup dari bertani akan memiliki sistem kalender
pertanian tradisional yang disebut system pranatamangsa yang sejak dahulu telah
digunakan oleh nenek moyang untuk menjalankan aktivitas pertaniannya. Menurut
Marsono, pranatamangsa dalam masyarakat Jawa sudah digunakan sejak lebih dari 2000
tahun yang lalu. Sistem pranatamangsa digunakan untuk menentukan kaitan antara
tingkat curah hujan dengan kemarau.

Melalui sistem ini para petani akan mengetahui kapan saat mulai mengolah tanah,
saat menanam, dan saat memanen hasil pertaniannya karena semua aktivitas
pertaniannya didasarkan pada siklus peristiwa alam. Sedangkan Masyarakat daerah
pesisir pantai yang bekerja sebagai nelayan menggantungkan hidupnya dari laut
sehingga mereka harus mengetahui kondisi laut untuk menentukan saat yang baik untuk
menangkap ikan di laut. Pengetahuan tentang kondisi laut tersebut diperoleh melalui
tanda-tanda atau letak gugusan bintang di langit.

Banyak suku bangsa yang tidak dapat bertahan hidup apabila mereka tidak
mengetahui dengan teliti pada musim-musim apa berbagai jenis ikan pindah ke hulu
sungai. Selain itu, manusia tidak dapat membuat alat-alat apabila tidak mengetahui
dengan teliti ciriciri bahan mentah yang mereka pakai untuk membuat alat-alat tersebut.
Tiap kebudayaan selalu mempunyai suatu himpunan pengetahuan tentang alam, tumbuh-
tumbuhan, binatang, benda, dan manusia yang ada di sekitarnya. Menurut
Koentjaraningrat, setiap suku bangsa di dunia memiliki pengetahuan mengenai, antara
lain: alam sekitarnya, tumbuhan yang tumbuh di sekitar daerah tempat tinggalnya,
binatang yang hidup di daerah tempat tinggalnya, zat-zat, bahan mentah, dan benda-
benda dalam lingkungannya, tubuh manusia, sifat-sifat dan tingkah laku manusia, ruang
dan waktu.

7) Religi (sistem kepercayaan)

Koentjaraningrat menyatakan bahwa asal mula permasalahan fungsi religi dalam


masyarakat adalah adanya pertanyaan mengapa manusia percaya kepada adanya suatu
kekuatan gaib atau supranatural yang dianggap lebih tinggi daripada manusia dan
mengapa manusia itu melakukan berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari
hubungan-hubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut.

Dalam usaha untuk memecahkan pertanyaan mendasar yang menjadi penyebab


lahirnya asal mula religi tersebut, para ilmuwan sosial berasumsi bahwa religi suku-suku
bangsa di luar Eropa adalah sisa dari bentuk-bentuk religi kuno yang dianut oleh seluruh
umat manusia pada zaman dahulu ketika kebudayaan mereka masih primitif.

(Koentjaraningrat, 1994:9; Soekanto, 2003:176)


Bagian Timur :
A. Unsur unsur kebudayaan Maluku

Maluku adalah sebuah provinsi yang meliputi bagian selatan Kepulauan Maluku,
Indonesia. Lintasan sejarah Maluku telah dimulai sejak zaman kerajaan-kerajaan besar di Timur
Tengah seperti kerajaan Mesir yang dipimpin Firaun. Bukti bahwa sejarah Maluku adalah yang
tertua di Indonesia adalah catatan tablet tanah liat yang ditemukan di Persia, Mesopotamia, dan
Mesir menyebutkan adanya negeri dari timur yang sangat kaya, merupakan tanah surga,
dengan hasil alam berupa cengkih, emas dan mutiara, daerah itu tak lain dan tak bukan adalah
tanah Maluku yang memang merupakan sentra penghasil Pala, Fuli, Cengkih dan Mutiara. Pala
dan Fuli dengan mudah didapat dari Banda Kepulauan, Cengkih dengan mudah ditemui di
negeri-negeri di Ambon, Pulau-Pulau Lease (Saparua, Haruku & Nusa laut) dan Nusa Ina serta
Mutiara dihasilkan dalam jumlah yang cukup besar di Kota Dobo, Kepulauan Aru.

Ibu kota Maluku adalah Ambon yang bergelar atau memiliki julukan sebagai Ambon
Manise, kota Ambon berdiri di bagian selatan dari Pulau Ambon yaitu di jazirah Leitimur. Ada
wacana bahwa Kota Ambon Manise sudah semakin padat, sumpek, dan tidak lagi layak untuk
menampung jumlah penduduk yang dari tahun ke tahun meningkat tajam. Ambon yang saat ini
merupakan ibu kota Provinsi nantinya akan menjadi kota biasa karena ibu kota direncanakan
pindah ke negeri Makariki di Kabupaten Maluku Tengah.

1. Sitem Religi
Mayoritas penduduk Maluku memeluk agama
Kristen Protestan (40%),
Islam (35%),
Katholik (15%), dan
lainnya (10%), namun masih nampak sisa kepercayaan lama.

Orang Ambon umumnya mengenal Upacara Cuci Negeri yang mungkin dapat disamakan dengan
Upacara Bersih Desa di Jawa. Di Ambon yang penduduknya beragama Islam terlihat ada dua
golongan yang dapat disamakan dengan penganut Islam di Jawa yaitu Abangan dan Santri,
misalnya di Negeri Kailolo, di Pulau Haruku.

2. . Sistem Ekonomi
Mata pencaharian utama mereka adalah sebagai nelayan tradisional dan petani lahan kering (54%).
Perahu mereka dibuat dari satu batang kayu, yang dilengkapi dengan cadik; perahu ini dinamakan
perahu Semah. Perahu-perahu besar untuk berdagang disebut Jungku atau Orambi. Ada juga
perahu yang dibuat dari papan oleh orang Ternate, dinamakan Pakatora. Cara menangkap ikan
dapat dengan kail, dengan harpun untuk ikan-ikan yang besar, dan dengan jarring.

Sebagai petani lahan kering mereka membuka sebidang tanah di hutan dengan menebang pohon
dan membakarnya. Ladang yang telah dibuka ditanami dengan memakai tongkat, tanpa irigasi.
Umumnya yang ditanam adalah kentang, kopi, cengkeh, tembakau yang umumnya dikonsumsi
sendiri (mereka menanam di cucuran atap sehingga air hujan dapat menyiram tanaman tembakau
tersebut), dan buah-buahan. Ada juga yang menanam tebu, singkong, jagung, dan kacang. Selain
itu mereka juga sudah menanam padi dengan teknik persawahan Jawa.
Di samping berladang, mereka juga berburu rusa, babi hutan, dan burung kasuari. Mereka
melontarkan lembing dan juga menggunakan jerat.

Sagu adalah makanan pokok orang Maluku pada umumnya. Pohon sagu tumbuh amat banyak,
oleh karenanya tak perlu ditanam. Pohon yang telah cukup umur (antara 6-15 tahun) ditebang,
batangnya dibelah, lalu terasnya yang berisi tepung dipukul-pukul sehingga menjadi lepas. Serat-
serat tadi dicuci dan diperas-peras di atas saringan dari kain sehingga tepungnya dapat ditadah.
Kemudian tepung itu dicetak menjadi kotak-kotak, dan dinamakan tuman, atau dimasak menjadi
bubur kental (papeda).

3. Sistem Teknologi
Karena masyarakat Maluku adalah nelayan dan pelaut, mereka juga menguasai pertukangan
terutama untuk perkapalan, di samping pembuatan rumah. Perahu khas Banda adalah kora-kora.
Selain untuk menangkap ikan, pada acara-acara peringatan kora-kora juga dipertandingkan. Pada
Sail Banda bulan Agustus 2010, pada saat itu dilakukan juga perlombaan perahu kora-kora, baik
dari masyarakat desa adat setempat atau umum.

4. Sistem Sosial

Sistem sosialnya terkandung dalam:

Organisasi dalam masyarakat, yaitu:


a. Jojaro:
organisasi kemasyarakatan yang terdiri dari pemuda-pemudi dewasa yang belum kawin. Bila ada
seorang anggota jojaro kawin dengan pemuda di luar desa, maka jojaro dapat menghalangi jalan
ke luar mereka dari desa dan menuntut dari pengantin laki-laki pembayaran berupa sehelai kain
putih. Kalau tuntutan mereka belum dibayar, pengantin perempuan tidak diijinkan meninggalkan
desa

b. Ngurare:
organisasi pemuda-pemuda yang belum kawin Ngungare membantu jojaro dan mengawasi
pembayaran tuntutan mereka. Terutama di Seram Barat pemuda-pemudi di bawah kepala jojaro
mendapat kebebasan yang cukup berarti dalam kehidupan desa, misalnya saja mereka boleh
menerima tamu dalam perayaan-perayaan memakai pakaian yang indah-indah. Mereka juga dapat
bertamasya bersama-sama dengan ngungare mereka yang mereka namakan makan petita.

c. Muhabet:
organisasi yang mengurusi kegiatan yang berkaitan dengan Kematian. Anggotanya ialah kerabat
dan warga satu desa.

5. Sistem Pengetahuan
Kondisi geografis wilayah Maluku yang merupakan kepulauan memberi dampak yang cukup
signifikan dalam menentukan sistem pengetahuan dan teknologi. Wilayah yang berbentuk
kepulauan ini mengharuskan suku Ambon yang tinggal di Maluku untuk menguasai sistem
pelayaran, dan juga sistem pembacaan arah melalui letak gugus bintang tertentu. Sehingga
masyarakat Suku Ambon harus menguasai pengetahuan astronomi.

6. Kesenian

a. Rumah Adat
Bangunan tersebut biasanya sekaligus merupakan marka utama (landmark) kampung atau desa
yang bersangkutan, selain masjid dan gereja. Berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda suci,
tempat upacara adat, tempat warga berkumpul membahas masalah. Rumah adat ini disebut baileo,
berarti balai.

b. Makanan

1) Makanan Adat
a) Jaha atau Pali-pali
adalah sejenis nasi yang dimasak di dalam seruas bambu atau dibungkus dengan daun rumbia
(daun pohon sagu) yang dibentuk memanjang kurang lebih 40 cm dengan garis tengah 3 cm,
sebanyak 10 potong diletakkan di atas sebuah piring / tempat menyerupai perahu pelambang laut
(Heku / laki-laki).

b) Dada (Kukusan)
adalah nasi tumpeng yang diletakkan di atas sebuah piring dan dibentuk menyerupai sebuah
gunung, pelambang daratan (Cim/perempuan)

2) Makanan Khas
Sagu adalah salah satu makanan pokok di Ambon. Juga sebagai bahan dasar untuk membuat kue
khas Ambon seperti kue arobe dan kue baksona. Papeda adalah bubur yang dibuat dari sagu,
dimakan bersama ikan kuah kuning. Colo-colo adalah sambal khas Ambon yang terdiri dari
racikan irisan bawang merah, cabe rawit, tomat dan air perasan jeruk lemon atau jeruk nipis,
ditambah kecap manis. Biasa untuk makan ikan bakar, tahu goreng, atau telur dadar.

c. Seni Suara
Dalam bidang kesenian, seni suara di daerah Maluku sangat menonjol, baik vokal maupun
instrumental. Hampir di setiap desa terdapat grup paduan suara. Di bidang musik Maluku terkenal
dengan suling bambu yang terdapat di setiap desa. Orkes suling ini dipergunakan dalam kebaktian
di gereja, maupun untuk meramaikan upacara-upacara lainnya. Selain itu terdapat pula orkes kulit
bia atau kulit siput yang sangat unik.

Terdapat juga alat musik petik yaitu Ukulele dan Hawaiian, seperti yang terdapat dalam
kebudayaan Hawaii di Amerika Serikat. Musik-musik Maluku masih memiliki ciri khas di mana
terdapat penggunaan alat musik Hawaiian, baik pada lagu-lagu pop maupun dalam mengiringi
tarian tradisional seperti Katreji.
7. Bahasa
Pada umumnya masyarakat menggunakan Bahasa Melayu, yang berasal dari Indonesia bagian
Barat, dan telah berabad-abad menjadi bahasa antarsuku di seluruh Kepulauan Nusantara. Sebelum
bangsa Portugis menginjakkan kakinya di Ternate (tahun 1512), bahasa Melayu telah ada di
Maluku dan dipakai sebagai bahasa perdagangan.

Bahasa Melayu Ambon berbeda dengan bahasa Melayu Ternate karena pada jaman dahulu suku-
suku di Ambon dan yang tentunya mempengaruhi perkembangan bahasa Melayu Ambon sangat
berbeda dengan bahasa suku-suku di Ternate. Bahasa Melayu Ambon mendapat banyak pengaruh
dari bahasa Melayu Makasar. Ketika Portugis menjajah Maluku, cukup banyak kosa kata bahasa
Portugis masuk ke dalam bahasa Melayu Ambon. Terakhir bangsa Belanda masuk ke Maluku,
sehingga cukup banyak kata serapan dari bahasa Belanda yang diterima menjadi kosakata bahasa
dalam bahasa Melayu Ambon. Pada zaman Belanda inilah bahasa Melayu Ambon dipakai sebagai
bahasa pengantar di sekolah-sekolah, di gereja-gereja, dan juga terjemahan beberapa kitab dari
Alkitab.
B. Unsur – unsur kebudayaan suku ternate :

Suku Ternate dengan populasi 50.000 jiwa bertempat tinggal di Pulau Ternate. Pulau ini
termasuk di dalam wilayah provinsi Maluku Utara dengan ibu kotanya Kota Ternate. Selain
berdiam di pulau asalnya, orang Ternate juga berdiam di daerah lain, misalnya di pulau Bacan
dan pulau Obi yang termasuk wilayah kabupaten Halmahera Tengah, serta wilayah lain di dalam
dan di luar Provinsi Maluku Utara.
A. Sistem Kepercayaan

Pada awalnya, Islam belum menyebar ke Pulau Ternate. Ini terjadi saat macam-macam
kelompok masyarakat menjadi bagian dari Suku Ternate. Tiap-tiap kelompok yang terbentuk
dari kekerabatan pada masyarakat di suku ini mempunyai mamole sebagai pemimpin. Namun
setelah agama Islam mampu masuk ke Ternate dan menyebar di pulau ini, mamole ini
bergabung dan membentuk sebuah konfederasi yang dipimpin oleh kolano.

Setelah masyarakat Ternate mampu beradaptasi dengan baik terhadap agama Islam, struktur
pemimpin kulano berganti menjadi struktur kesultanan. Ada perbedaan yang sangat jelas pada
struktur kulano dan struktur kesultanan.

Faktor pemersatu struktur kulano yaitu ikatan territorial serta ikatan genealogis sedangkan di
struktur kesultanan yang menjadi faktor paling penting dalam pemersatu yaitu agama Islam.
Struktur kesultanan bukan hanya menggunakan lembaga tradisional, melainkan juga
membentuk lembaga yaitu lembaga keagamaan.

Sampai dengan saat ini Kesultanan Ternate masih diakui walaupun hanya sebagai arti
simbolik. Akan tetapai akhir-akhir ini Kesultanan Ternate sudah mulai bangkit kembali.

Sebagian besar atau mayoritas masyarakat Ternate memeluk agama Islam sebagai
kepercayaannya. Agama Islam mulai menyebar dengan adanya kesultanan di wilayah
Indonesia bagian timur yaitu Pulau Ternate. Sekarang ini para penduduk yang bermukim di
Ternate membutuhkan pertolongan dari segi material untuk menanamkan modal. Modal ini
diinvestasikan untuk menggali berbagi kekayaan alam yang sangat melimpah di daerah ini.
B. Sistem Bahasa

Beragam suku pasti mempunyai ciri khas masing-masing yang membedakan satu sama lain,
misalnya dari segi bahasa. Bahasa yang digunakan masyarakat Ternate adalah bahasa Ternate.
Namun ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa bahasa Ternate ini merupakan hasil dari
rumpun bahasa yang ada di Halmahera bagian utara. Rumpun bahasa ini adalah bagian dari
kelompok bahasa non-Austronesia.1

C. Ilmu Pengetahuan

Secara adat, perkawinan ialah suatu bentuk kebiasaan yang telah dilazimkan dalam suatu
masyarakat tertentu yang mengatur masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan
suatu perkawinan baik secara seremonial maupun ritual menurut Hukum Adat setempat.

Perkawinan Adat di Ternate mengenal beberapa bentuk yang sejak dahulu sudah dilazimkan
dalam masyarakat dan telah berlangsung selama berabad-abad hingga saat ini. Bentuk-bentuk
perkawinan tersebut adalah :

Lahi se tafo atau wosa lahi (Meminang/Kawin Minta)

Wosa suba (Kawin Sembah)

Sicoho (Kawin Tangkap)

Kofu’u (Dijodohkan)

Masibiri (Kawin Lari)

Ngali ngasu (Ganti Tiang)2

Selain perkawinan, upacara adat lainnya adalah kematian. Dalam kehidupan masyarakat
Ternate, bila ada salah satu warga masyarakat yang meninggal dunia, biasanya dikabarkan
dari mulut ke mulut kepada keluarga, saudara dan kerabat. Walau berita duka ini
disebarluaskan dengan cara demikian, namun kabar tersebut sangat cepat tersiar ke seluruh
kalangan, di tempat kerja, kantor, pasar, bahkan terhadap sanak family yang berada di tempat
lain dan di pulau-pulau. Demikian pula setelah teknologi merambah dalam keseharian
masyarakat Ternate, menjadikan semua informasi menjadi serba instan termasuk berita duka.

Setelah mendengar berita duka ini diketahui, warga masyarakat mulai berdatangan ke rumah
duka, terutama wagra di kampong tersebut berbondong-bondong berkumpul. Kegiatan
pertama yang biasanya dilakukan adalah menyiapkan tenda yang dalam bahasa Ternate
disebut “Sabua” di depan dan di belakang rumah duka. Sementara warga yang lainnya
menyiapkan liang kubur. Sedangkan kesibukan dalam rumah duka sendiri adalah menyiapkan
kebutuhan untuk pemakaman seperti ; kain kafan, peralatan memandikan mayat, serta
kebutuhan lain yang berhubungan dengan pemakaman.

Sementara itu, kaum ibu-ibu datang membawa sembako seadanya untuk disumbangkan ke
rumah duka yang akan dijadikan bahan baku konsumsi, berupa; beras, terigu, gula pasir, teh,
dsb. Kaum ibu-ibu biasanya saat datang mulai menyiapkan dan membentuk semacam dapur
umum di belakang rumah duka, bahkan di rumah tetangga kiri dan kanan

untuk menyiapkan makan semua pelayat yang datang pada saat itu untuk makan setelah selesai
upacara pemakaman. Kegiatan ibu-ibu ini dikenal dengan tradisi “Lian” atau sering disebut
“Lilian”. Tradisi Lian ini merupakan salah satu dari bentuk gotong-royong dalam masyarakat
Ternate.

Sedangkan kaum bapak mempersiapkan semua kebutuhan pemakaman yang sudah menjadi
“Fardu Kifayyah” bagi umat muslim yakni untuk memandikan mayat, mengkafani, men-
sholat-kan lalu kemudian segera menguburkan jenazah secara layak menurut syariat Islam.

Sebelum jenazah dikeluarkan dari rumah duka, biasanya dilakukan semacam seremonial yang
dipimpin oleh salah satu yang mewakili tuan rumah. Setelah memberikan sedikit kata
pengantar, diharapkan kepada seluruh warga yang hadir pada saat itu untuk memberikan maaf
kepada almarhum sekaligus mengikhlaskan utang-piutangnya semasa hidupnya.

Pemakaman dilaksanakan sebagaimana biasanya orang muslim Indonesia melakukannya.


Hanya saja ada kebiasaan tertentu yang mungkin berbeda dengan daerah lain di Indonesia ini.
Contoh misalnya; setelah mayat diturunkan ke liang lahat, kain putih yang dijadikan seprei
pada saat mayat ditandu dihamparkan menutupi ke permukaan liang lahat yang ditarik
keempat ujung kain tersebut menutupi liang lahat, sehingga hampir tidak ada yang melihat
aktifitas yang dilakukan oleh petugas dalam liang lahat. Ada satu kebiasaan lagi yaitu; setelah
mayat diletakkan di dalam liang lahat, dan setelah tali pocong dilepaskan kemudian mayat
yang terbaring dihadapkan menghadap kiblat, maka saat itu juga salah satu dari petugas yang
berada di dalam liang lahat mengumandangkan azan dari awal hingga akhir.

Satu lagi tradisi lama masyarakat Ternate, adalah tali pocong tersebut dibawa pulang ke rumah
duka, kemudian dipotong dan diikat seperti gelang di setiap tangan kerabat dekat almarhum,
sebagai tanda duka. Tali pocong ini tidak bias dilepas kecuali nanti setelah “Hoi Gunyihi”
yaitu setelah 11 hari meninggal. Tradisi dan kebiasaan tersebut saat ini sudah jarang dilakukan
oleh masyarakat di kota Ternate, namun di daerah tertentu masih melakukannya.

Setalah upacara pemakaman selesai, seluruh pelayat kembali ke rumah duka untuk
melaksanakan santap bersama dengan keluarga yang berduka yang sejak dari tadi disiapkan
oleh kaum ibu-bu. Makna dari makan bersama ini adalah bertujuan menghibur keluarga yang
berduka kare ditinggal almarhum.

Setelah itu, sebagian pelayat kembali ke rumahnya masing-masing, namun masih ada sebagian
yang masih berkumpul di rumah duka untuk mempersiapkan kue-kue untuk konsumsi pada
acara Tahlilan hari pertama pada menjelang malam hari nanti. Tahlilan terhadap kematian
seseorang di dalam masyarakat Ternate dikenal dengan sebutan “Tahlil Sone ma-Dina”.
Tahlilan malam pertama ini dikenal dengan “Sone ma-Dina – Futu Rimoi” (Tahlilan Malam
ke-1).3

D. Sistem Mata Pencaharian

Pada zaman dulu Ternate terkenal sampai ke Eropa sebagai daerah penghasil rempah-rempah,
seperti cengkeh, pala, kopra, kulit manis (Casia vera) dan sebagainya. Pada waktu itu mereka
masih senang bercocok tanam berpindah-pindah, dengan tanaman pokok padi ladang, ubi dan
sayur-sayuran. Pada masa sekarang mereka sudah menetap dengan menanam padi, jagung,
kacang-kacangan, ketela, ubi dan menangkap ikan di sungai dan lautan luas di sekitar mereka.
Tanaman komoditi seperti pala, kopra, cengkeh, kulit manis, coklat, dan kopi tetap
mempunyai peranan penting bagi ekonomi rakyat Ternate.

Orang Ternate juga sudah sejak lama mengembangkan kerajinan membuat wadah dari
tembikar, membuat hiasan dan anyaman dari bambu dan pandan. Daerah ini sekarang juga
telah menjadi penghasil ikan tongkol terbesar setelah Ambon.4

E. Teknologi

Dari sistem teknologi, suku Ternate menangkap diperairan menggunakan alat-alat seperti
jaring, jala, sero, rorehe, bubu, kail untuk menangkap ikan. Untuk dapat menyebrangi lautan,
mereka menggunakan arumbai, motor tempel, jarring giop, rumpon, tidak lagi kapal nelayan
yang tradional seperti biasa.

F. Kesenian

Kesenian suku Ternate hampir sama dengan suku-suku di daerah maluku pada umumnya,
yaitu berupa tarian dan musik. Tari-tarian mereka yakni, tarian Cakalele, tarian Saureka –
reka, tarian Katreji, dan tarian Polonaise

Kemudian alat musik yang terkenal adalah Tifa (sejenis gendang) dan Totobuang. Masing-
masing alat musik dari Tifa Totobuang memiliki fungsi yang bereda-beda dan saling
mendukung satu sama lain hingga melahirkan warna musik yang sangat khas. Namun musik
ini didominasi oleh alat musik Tifa. Terdiri dari Tifa yaitu, Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong,
Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas, ditambah sebuah Gong berukuran besar dan Toto Buang yang
merupakan serangkaian gong-gong kecil yang di taruh pada sebuah meja dengan beberapa
lubang sebagai penyanggah. Adapula alat musik tiup yaitu Kulit Bia (Kulit Kerang).

Dalam kebudayaan Maluku, terdapat pula alat musik petik yaitu Ukulele dan Hawaiian seperti
halnya terdapat dalam kebudayaan Hawaii di Amerika Serikat. Hal ini dapat dilihat ketika
musik-musik Maluku dari dulu hingga sekarang masih memiliki ciri khas dimana terdapat
penggunaan alat musik Hawaiian baik pada lagu-lagu pop maupun dalam mengiringi tarian
tradisional seperti Katreji.

Musik lainnya ialah Sawat. Sawat adalah perpaduan dari budaya Maluku dan budaya Timur
Tengah. Pada beberapa abad silam, bangsa Arab datang untuk menyebarkan agama Islam di
Maluku, kemudian terjadilah campuran budaya termasuk dalam hal musik. Terbukti pada
beberapa alat musik Sawat, seperti rebana dan seruling yang mencirikan alat musik gurun
pasir.

G. Sistem Kekerabatan

Tempat tinggal para penduduk dari masyarakat Ternate ini sebagian besar berada di sepajang
garis pantai. Bangunan rumah-rumah yang merupakan tempat tinggal mereka dibangun sejajar
dengan garis pantai serta berjajar di sepanjang jalan di daerah perkotaan. Dalam segi struktur
bangunan, rumahnya sendiri mempunyai gaya yang sesuai dengan para pendatang dari
pedesaan di luar Halmahera. Suasana pedesaan yang sangat kental dengan aksen rumput-
rumput ilalang pada bangunan rumah masyarakat Ternate tersebut benar-benar terasa.5