Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Era globalisasi ini dunia usaha semakin berkembang pesat, dengan
banyaknya perusahaan-perusahaan baru yang saling bermunculan,
sehingga mendorong perusahaan untuk lebih efisien dan lebih selektif
dalam beroperasi untuk mencapai dan meningkatkan kemampuan
menghasilkan keuntungan. Untuk mencapai hal tersebut manajemen
financial dituntut mampu memahami kinerja keuangan perusahaan,
melakukan analisis yang dapat digunakan untuk membuat kebijakan-
kebijakan strategi yang berguna bagi pengembangan kegiatan usaha
perusahaan dan pencapaian tujuan perusahaan.
Sebelum melakukan analisis untuk mampu memahami kinerja
keuangan perusahaan, suatu perusahaan tentu memerlukan modal untuk
dapat menjalankan kegiatan operasionalnya. Modal tersebut dapat
merupakan modal sendiri (pemilik) maupun modal asing yang berasal dari
investor. Seorang investor, sebelum memutuskan untuk menanamkan
modalnya atau menarik modal yang telah mereka tanam pada suatu
perusahaan, pasti akan menilai terlebih dahulu bagaimana kinerja
perusahaan tersebut, baik dari aspek keuangan, manajemen, maupun
sumber daya manusia di dalamnya. Kinerja keuangan perusahaan sebagai
salah satu penilaian yang dibutuhkan investor sebelum melakukan
investasi, dapat dilihat dari data-data akuntansi milik perusahaan tersebut
yang telah dilaporkan dalam bentuk laporan keuangan. Semakin baik
kinerja keuangan suatu perusahaan, maka akan semakin membuka peluang
investor untuk mengivestasikan dananya.
Penilaian kinerja keuangan selain diperlukan oleh investor sebagai
pihak ekstern, juga bermanfaat bagi manajemen perusahaan sebagi pihak
intern. Pihak intern perlu melakukan penilaian untuk dapat mengetahui

1
bagaimana kinerja perusahaan mereka yang nantinya berpengaruh pada
pengambilan keputusan.
Melalui penilaian kinerja keuangan, akan dapat dilakukan estimasi
atas risiko yang dihadapi dan potensi yang dapat diperoleh perusahaan di
masa mendatang. Selain itu, penilaian tersebut juga dapat menjadi tolak
ukur prestasi perusahaan untuk diperbandingkan dengan perusahaan lain
dalam industri yang sama. Terdapat beberapa alat ukur atau analisis yang
dapat digunakan dalam penilaian kinerja keuangan perusahaan,
diantaranya : (1) Analisis Rasio Keuangan; (2) Economic Value Added
(EVA); (3) Balanced Scorecard; (4) Market Value Added (MVA); dan (5)
Analisis Sistem Du Pont (Warsono, 2003).
Analisis keuangan dengan sistem Du Pont sebagai pengukur
profitabilitas pada perusahaan. Melalui analisis ini perusahaan dapat
menilai kinerja keuangan melihat efektivitas penggunaan aktiva dalam
memperoleh laba bersih, sehingga pada akhirnya perusahaan pusat dapat
mengambil kebijaksanaan yang tepat. Untuk melihat dan menilai tingkat
efektivitas operasional suatu perusahaan, tidak hanya menggunakan
kepekaan dan ketajaman para manajer secara kualitatif saja, tetapi harus
menggunakan metode secara kuantitatif. Du Pont System merupakan suatu
metode yang digunakan untuk menilai efektivitas operasional perusahaan
tersebut, karena dalam analisis ini mencakup unsur penjualan, aktiva yang
digunalan serta laba yang dihasilkan perusahaan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1. Bagaimana analisis du pont dalam menilai tingkat profitabilitas
perusahaan ?
2. Bagaimana peran analisis du pont dalam pengambilan keputusan
investasi ?

2
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan makalah
sebagai berikut.
1. Mengetahui bagaimana analisis du pont dalam menilai tingkat
profitabilitas perusahaan.
2. Mengetahui peran analisis du pont dalam pengambilan keputusan
investasi.

1.4 Manfaat Penulisan


Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut:
1. Kegunaan Teoritis
Makalah ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi rekan lainnya
yang membutuhkan materi sejenis untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan bagi perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan
khususnya dibidang manajemen.

2. Kegunaan Praktik
Bagi bidang Manajemen, hasil penulisan dapat dijadikan pedoman
dan bahan evaluasi dan dapat digunakan sebagai pedoman dalam
pengambilan keputusan jangka pendek dan sebagai bahan tambahan
pengetahuan dan acuan atau referensi untuk penulisan selanjutnya.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Laporan Keuangan


Menurut PSAK (Revisi : 2012), tujuan laporan keuangan adalah
menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, yang
serta perubahan posisi keuangan suatu entitas bermanfaat bagi sejumlah
besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Pada umumnya
laporan keuangan terdiri dari:
1. Laporan posisi keuangan (neraca) akhir periode
Merupakan laporan yang sistematis tentang aset, kewajiban, dan
ekuitas dari suatu perusahaan pada saat tertentu.
2. Laporan laba rugi komprehensif selama periode
Menyajiakan seluruh pos pendapatan dan beban yang menggambarkan
informasi mengenai potensi perusahaan ( kinerja perusahaan)
3. Laporan perubahan ekuitas selama periode
a. total laba rugi komprehensif selama suatu periode, yang
menunjukkan secara terpisah total jumlah yangdapat diatribusikan
kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan non-
pengendali;
b. Untuk tiap komponen ekuitas, pengaruh penerapan retrospektif
atau penyajian kembali secara retrospektif yang diakui sesuai
dengan PSAK 25; kebijakan akuntansi, perubahan estimasi
akuntansi, dan kesalahan.
c. Untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat
pada awal dan akhir periode, secara terpisah mengungkapkan
masing-masing perubahan yang timbul dari:
 laba rugi;
 masing-masing pos pendapatan komprehensif lain; dan
 transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik,
yang menunjukkan secara terpisah kontribusi dari pemilik dan

4
distribusi kepada pemilik dan perubahan hak kepemilikan pada
entitas anak yang tidak menyebabkan hilang pengendalian.
4. Laporan arus kas selama periode
Laporan arus kas merupakan laporan keuangan sebagai dasar untuk
menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas
serta menilai kebutuhan entitas untuk menggunakan arus kas tersebut.
Dalam proses pengambilan keputusan yang ekonomi, pengguna perlu
melakukan evaluasi terhadap kemampuan entitas dalam menghasilkan
kas dan setara kas serta kepastian perolehan. Laporan arus kas terdiri
dari tiga bagian :
a. Arus kas dari aktivitas operasi
b. Arus kas dari aktivitas investasi
c. Arus kas dari aktivitas pendanaan
5. Catatan atas laporan keuangan
Catatan atas laporan keuangan berisi informasi tambahan atas apa yang
disajikan dalam laporan posisi keuangan, laporan laba rugi
komprehensif, laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), laporan
perubahan ekuitas dan laporan arus kas. Catatan atas laporan keuangan
memberikan naratif dari pos-pos yang disajikan dalam laporan
keuangan tersebut dan informasi mengenai pos-pos yang tidak
memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.
6. Laporan posisi keuangan pada awal periode
komparatif yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan
akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos
laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam
laporan keuangannya
2.2 Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan merupakan proses yang penuh
pertimbangan dalam rangka membantu mengevalusi posisi keuangan dan
hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu, dengan tujuan
untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai

5
kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang. Menurut
Syamsudin (2009:37) “analisa laporan keuangan perusahaan pada
dasarnya merupakan penghitungan ratio-ratio untuk menilai keadaan
keuangan perusahaan di masa lalu, saat ini, dan kemungkinannya di masa
depan”. Sedangkan menurut Munawir (2010:35) “Analisis laporan
keuangan terdiri dari penelaahan atau mempelajari daripada hubungan-
hubungan dan tendensi atau kecenderungan (trend) untuk menentukan
posisi keuangan dan hasil operasi serta perkembangan perusahaan yang
bersangkutan. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa
analisis laporan keuangan adalah suatu analisa yang dilakukan untuk
melihat kondisi keuangan perusahaan, prestasi kerja dan kinerja
perusahaan di masa lalu sampai saat ini serta prospeknya dimasa datang.
Analisis laporan keuangan digunakan sebagai dasar pengambilan
keputusan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

2.2.1 Tujuan Analisis Laporan Keuangan


Analisa laporan keuangan yang dilakukan untuk beberapa periode
adalah menganalisis antara akun-akun yang ada dalam satu laporan
keuangan. Dalam menganalisis dapat dilakukan antara satu laporan dengan
laporan lainnya, hal ini dilakukan dalam ketepatan menilai kinerja
manajemen dari periode ke periode selanjutnya. Secara umum tujuan dan
manfaat analisis laporan keuangan menurut Kasmir (2012:68) adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam satu periode
tertent, baik harta, kewajiban, modal, maupun hasil ussaha yang telah
dicapai untuk beberapa periode.
2. Untuk mengetahui kelamahan-kelemahan apa saja yang menjadi
kekurangan perusahaan.
3. Untuk mengetahui kekuatan-keuatan yang dimiliki
4. Untuk mengetahui langkah-langkah perbaikan apa saja yang perlu
dilakukan ke depan yang berkaitan dengan posisi keuangan
perusahaan saat ini
5. Untuk melakukan penilaian kinerja manajemen ke depan apakah perlu
penyegaran atau tidak karena sudah dianggap berhasil atau gagal

6
6. Dapat juga digunakan sebagai pembanding dengan perusahaan sejenis
tentang hasil yang mereka capai.

Data keuangan akan lebih berarti bagi pihak-pihak yang


berkepentingan apabila data tersebut diperbandingkan untuk dua periode
atau lebih, dan dianalisa lebih lanjut sehingga dapat diperoleh data yang
akan dapat mendukung keputusan yang akan diambil. Faktor utama yang
mendapatkan perhatian oleh penganalisis adalah:

1. Likuiditas, menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk


memenuhi kewajiban keuangannya harus segera dipenuhi, atau
kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada
saat ditagih.
2. Solvabilitas, menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi
keuangan apabila perusahaan tersebut di likuidasi, baik kewajiban
keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.
3. Rentabilitas atau profitabilitas, menunjukkan kemampuan perusahaan
untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.
4. Stabilitas usaha, menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
melakukan usahanya dengan stabil, yang diukur dengan
mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-
hutang serta beban bunganya.

Dengan menganalisis laporan keuangan, maka informasi yang


terdapat dalam laporan keuangan akan menjadi lebih luas dan lebih dalam
sehingga memudahkan manajemen dapat pengambilan keputusan.
Hubungan satu akun dengan akun lain akan dapat menjadi indikator posisi
dan kinerja keuangan perusahaan.

2.2.2 Alat Analisis Laporan Keuangan


Dermawan dan Djahotman (2013) mengungkapkan alat analisis
laporan keuangan terdiri dari :
1. Alat Analisis Khusus
a. Analisis Laba Kotor

7
Analisis yang digunakan untuk mengetahui perubahan-perubahan
atau penyimpangan-penyimpangan antara anggaran laba kotor
dengan realisasinya.
b. Analisis Titik Impas
Suatu kondisi dimana perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak
menderita kerugian, artinya semua biaya yang dikeluarkan untuk
operasi produksi bisa ditutupi oleh pendapatan dari penjualan
produk.
c. Analisis Du Pont
Analisis yang mengembangkan analisis rasio dengan memisahkan
faktor-faktor yang mempengaruhi ROA ke dalam profit margin dan
perputaran aktiva.
d. Analisis Anggaran Modal
Analisis investasi dari beberapa dari beberapa alternatif investasi
yang tersedia.
e. Analisis Modal Kerja
Analisis modal kerja merupakan analisis yang menilai kelebihan
aktiva lancar terhadap utang lancar.
f. Analisis Sewa Guna Usaha
Analisis sewa guna usaha merupakan suatu kegiatan utama
perusahaan yang bergerak dibidang pembiayaan untuk keperluan
barang-barang modal yang diinginkan nasabah. Pembiayaan ini
dimaksud jika seseorang nasabah membutuhkan barang-barang
modal. seperti peralatan kantor atau mobil dengan cara disewa atau
dibeli secara kredit yang dapat diperoleh diperusahaan
leasing.Perusahaan leasing dapat membiayai keinginan nasabah
sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati kedua belah pihak.
g. Analisis Pendanaan Jangka Panjang
Analisis pendanaan perusahaan dalam jangka waktu yang relatif
lebih lama dalam memenuhi kebutuhaan pembelanjaan perusahaan.

8
2. Alat Analisis Khusus
a. Analisis Laporan Keuangan Komparatif
Analisis laporan keuangan komparatif dilakukan dengan cara
menelaah neraca, laporan laba rugi, atau laporan arus kas yang
berurutan dari satu periode ke periode berikutnya. Terdapat dua
teknik analisis komparatif yang populer, yaitu :
 Analisis Perubahan Tahun ke Tahun Teknik ini merupakan
perbandingan laporan keuangan selama periode yang relatif
pendek yaitu dua atau tiga tahun, biasanya dilakukan dengan
analisis perubahan tahun ke tahun dalam tiap-tiap pos.
 Analisis Tren angka Pendek Analisis ini memerlukan pemilihan
tahun-tahun dasar untuk seluruh pos, yang biasanya diberi angka
indeks 100.
b. Analisis Laporan Keuangan Berukuran Sama
Analisis ini merupakan suatu analisis yang digunakan untuk
melihat struktur daftar neraca dan daftar laba rugi untuk pos
tertentu terhadap sub total yang dinyatakan dalam presentase.
c. Analisis Rasio
Analisis ini merupakan suatu alat analisis yang paling populer dan
banyak digunakan karena sangat sederhana dalam mengoperasikan
aritmatika dengan interpretasi yang sangat kompleks.
d. Analisis Arus Kas
Analisis arus kas digunakan sebagai alat untuk mengevaluasi
sumber dan penggunaan dana.

2.3 Analisis Du Pont System


2.3.1 Pengertian Analisis Du Pont System
Brigham (2010:153) menyatakan bahwa Du Pont System adalah
rumus yang menunjukkan tingkat pengembalian aktiva yang dapat
diperoleh dari perkalian marjin laba bersih (net profit margin dengan
perputaran total aset).

9
2.3.2 Manfaat Analisis Du Pont System
Munawir (2010:91) menyatakan bahwa manfaat dari analisis Du
Pont System ialah sebagai efisiensi produksi dan penjualan, pengukuran
profitabilitas dari produk yang diperoleh, pengukuran efisiensi modal
kerja. Du Pont System membandingkan efisiensi modal perusahaan satu
dengan perusahaan sejenis, serta perencanaan ROI terhadap proyeksi
penjualan.

Bagan Sistem Du Pont

Sistem Du Pont sering digunakan untuk pengendalian divisi,


prosesnya disebut dengan pengendalian terhadap tingkat pengembalian
investasi (ROI). Jika ROI untuk divisi tertentu berada di bawah angka
yang ditargetkan, melalui sistem Du Pont dapat ditelusuri sebab–sebab
terjadinya penurunan ROI.
Tahap-tahap dalam melakukan analisis Du Pont adalah sebagai berikut:
1. Menghitung rasio aktifitas yaitu Total Assets Turn Over (TATO)

10
Total Assets Turn Over (TATO) atau perputaran aktiva digunakan
untuk mengukur efisiensi penggunan aktiva untuk menghasilkan
penjualan. Rumus yang digunakan dalam menghitung perputaran aktiva
adalah sebagai berikut:
Total Assets Turnover = Penjualan Bersih / Rata-Rata Total Asset
2. Menghitung profit margin
Profit margin digunakan untuk untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Operating profit margin
mengukur persentase dari profit yang diperoleh perusahaan dari tiap
penjualan sebelum dikurangi dengan biaya bunga dan pajak. Pada
umumnya semakin tinggi rasio ini maka semakin baik. Rumus yang
digunakan dalam menghitung net profit margin adalah sebagai berikut:
Net Profit Margin = Laba Bersih Setelah Pajak / Penjualan Bersih
3. Menghitung Return On Investment (ROI)
Rumus yang digunakan dalam menghitung perputaran aktiva adalah
sebagai berikut:
Return on Investment = Net profit margin x Assets turnover

2.3.3 Kelebihan dan Kelemahan Du Pont System


Kelebihan Du Pont System menurut Munawir, 2001 adalah:
a. Menyeluruh atau komprehensif Dapat mengukur efisiensi penggunaan
modal, efisiensi produksi dan efisiensi penjualan.
b. Efisiensi Dengan sistem ini dapat membandingkan efisiensi perusahaan
dengan efisiensi standar industri, sehingga dapat diketahui ranking
perusahaan, selanjutnya dapat diketahui kinerja perusahaan.
c. Dapat mengukur efisiensi tindakan Analisis ini juga dapat digunakan
untuk mengukur efisiensi tindakan–tindakan yang dilakukan oleh divisi
atau bagian dalam suatu perusahaan, yaitu dengan mengalikan semua
biaya dan modal ke dalam bagian yang bersangkutan.
d. Dapat mengukur profitabilitas Analisis ini dapat digunakan untuk
mengukur profitabilitas dari masing–masing produk yang dihasilkan

11
oleh perusahaan. Dengan menggunakan “product cost system” yang
baik, modal dan biaya dapat dialokasikan ke berbagai produk yang
dihasilkan oleh perusahaan yang bersangkutan, sehingga akan dapat
dihitung profitabilitas masing - masing produk.
e. Dapat membuat perencanaan Analisis ini dapat juga untuk perencanaan
sebagai dasar untuk mengambil keputusan jika perusahaan akan
ekspansi
Kelemahan Du Pont System menurut Munawir, 2001 adalah :
a. Sistem Akuntansi Adanya kesulitan dalam membandingkan rate of
return suatu perusahaan dengan perusahaan lain yang sejenis, karena
praktek akuntansi yang dilakukan berbeda
b. Fluktuasi Adanya fluktuasi nilai dari uang (daya beli) dengan demikian
sulit untuk menganalisisnya.
c. Sulit mengadakan perbandingan Tidak dapat digunakan untuk
mengadakan perbandingan antara dua perusahaan atau lebih dengan
mendapatkan kesimpulan yang sempurna.

2.4 Analisis Du Pont System pada perusahaan HM Sampoerna. Sampoena


Tbk dan PT. Gudang Garam Tbk
Hasil rekapitulasi perkembangan Return Of Investment (ROI),
Profit Margin (PM) dan Total Assets Turn Over (TATO) pada perusahaan
HM Sampoerna. Sampoena Tbk dan PT. Gudang Garam Tbk dapat dilihat
pada Tabel berikut :
Tabel 1 Rekapitulasi ROI, PM dan TATO PT HM Sampoerna Tbk
PT HM Sampoerna Tbk
TATO Profit Margin ROI
2016 2.37 13.37% 31.70%
2017 2.31 12.79% 29.59%
2018 2.38 12.68% 30.17%
Average 2.35 12.95% 30.49%

12
Tabel 2 Rekapitulasi ROI, PM dan TATO PT. Gudang Garam Tbk
PT. Gudang Garam Tbk
TATO Profit Margin ROI
2016 1.21 8.75% 10.55%
2017 1.28 9.31% 11.96%
2018 1.41 8.14% 11.47%
Average 1.30 8.73% 11.33%

Tabel 1 dan Tabel 2 menunjukkan perbandingan ROI, PM, dan


TATO dari perusahaan rokok selama tahun 2016-2018. Jika dilihat dari
tingkat rata-rata Return On Invesment (ROI) selama tahun 2016-2018
maka PT. Hanjaya Mandala Sampoerna dengan presentase sebesar 30.49%
lebih unggul dibandingkan PT. Gudang Garam dengan presentase sebesar
11.33% dalam menghasilkan keuntungan dari investasi. Nilai ROI kedua
perusahaan selama tahun 2016-2018 mengalami fluktuasi, yang berarti
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari Investasi
mengalami fluktuasi juga. PT Gudang Garam cenderung meningkat
dibandingkan PT Hanjaya Mandala Sampoerna yang sempat turun di tahun
2017 namun kembali mengalami peningkatan di tahun 2018.
Jika dilihat dari rata - rata Profit Margin (PM) maka PT. Hanjaya
Mandala Sampoerna sebesar 12.95% lebih mampu menghasilkan
keuntungan dari penjualan bersih dibandingkan PT. Gudang Garam
dengan presentase sebesar 8.73%. Nilai profit margin PT Hanjaya
Mandala mengalami penurunan selama tahun 2016-2018 sedangkan PT
Gudang Garam sempat mengalami kenaikan tahun 2017 namun kembali
mengalami penurunan di tahun 2018. Hal ini menunjukkan bahwa
kurangnya kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari
penjualan bersih sehingga mengalami penurunan.
Begitu juga dari rata - rata Total Assets Turn Over (TATO), PT.
Hanjaya Mandala Sampoerna sebesar 2,35 kali lebih efektif dalam

13
menggunakan asetnya untuk menghasilkan penjualan dibandingkan PT.
Gudang Garam yaitu sebesar 1,30 kali. Nilai assets turn over PT Gudang
Garam mengalami peningkatan, hal ini menunjukkan seberapa efektif dan
efisien perusahaan menggunakan asetnya dalam menghasilkan penjualan
bersih. Berbeda dengan PT Hanjaya Mandala Sampoerna yang sempat
turun di tahun 2017, namun dilihat dari besarnya nilai asset turn over
dibanding PT Gudang Garam, maka PT Hanjaya tetap lebih efektif dan
efisien.
Berdasarkan perbandingan kedua perusahaan maka dapat
dikatakan bahwa PT. Hanjaya Mandala Sampoerna merupakan perusahaan
yang memiliki kinerja keuangan yang paling bagus dilihat dari ROI, PM,
dan TATO dibandingkan PT. Gudang Garam Tbk.

2.5 Peran Analisis Du Pont System dalam pengambilan investasi


Analisis kinerja perusahaan berdasarkan data keuangan yang
dipublikasikan pada laporan keuangan yang dibuat sesuai dengan prinsip
akuntansi. Rasio keuangan yang dapat dipergunakan untuk melakukan
penilaian kinerja sebuah perusahaan, menilai kinerja perusahaan dapat
dilakukan melalui analisis du pont. Analisis Du Pont System menggunakan
tolak ukur yaitu rasio, yang menghubungkan dua data keuangan yang satu
dengan yang lainya. Menganalisis ini dapat memberikan pandangan yang
lebih baik tentang kondisi keuangan dan prestasi perusahaan sehingga
dapat menjadikan dasar dari pengambilan keputusan akan berinvestasi
pada perusahaan mana.

14
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Setelah menganalisis laporan keuangan dua perusahaan rokok
tersebut selama tiga tahun, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan Return
On Invesment (ROI), rata-rata Profit Margin (PM), dan rata-rata Total
Assets Turn Over (TATO), selama tahun 2016-2018 menunjukkan bahwa
PT Handala Sampoerna masih menjadi pilihan terbaik untuk investasi,
walau Profit Margin (PM) mengalami penurunan tapi pengelolaan aset
dalam menghasilkan penjualan masih lebih baik dibandingkan dengan PT
Gudang Garam. Tapi jika dilihat hasil Profit Margin yang turun berarti
kurang efisiennya PT Handala Sampoerna dalam mengelola pengeluaran
beban-beban yang mempengaruhi laba ruginya sehingga hasilnya
cenderung turun.

3.2 Saran
Saran dari kelompok kami adalah perusahaan PT Handala
Sampoerna perlu melakukan analisis terhadap biaya-biaya yang
dikeluarkan sehingga dapat diketahui biaya apa yang sangat berpengaruh
sehingga Profit Margin (PM) yang cenderung mengalami penurunan dapat
lebih efisien dan efektif, jika dibandingkan dengan Asset Turn Over
(TATO) yang mengalami peningkatan. Yang berarti pengelolaan aset
sudah efektif dan efisien tapi tidak dengan pengelolaan biaya-biayanya.

15
DAFTAR PUSTAKA

Brigham dan Houston. 2010. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Buku 1 (Edisi


11). Jakarta : Salemba Empat.
Kasmir. 2012. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Munawir. 2001. Analisa Laporan Keuangan, Edisi Keempat, Liberty. Yogyakarta.
Munawir, S. 2010. Analisis laporan Keuangan Edisi keempat. Cetakan Kelima
Belas. Yogyakarta:Liberty
Sjahrial, Dermawan dan Djahotman Purba. 2013. Analisis Laporan Keuangan.
Jakarta: Mitra Wacana Media.
Syamsuddin. 2009. Manajemen Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.
Ikatan Akuntansi Indonesia. PSAK No. 1 Tentang Laporan Keuangan– edisi revisi
2012. Penerbit Dewan Standar Akuntansi Keuangan: PT. Raja Grafindo