Anda di halaman 1dari 13

Bab 1

Pendahuluan

1.1 Latar belakang

Terjadinya peristiwa bencana alam/massal dalam beberapa tahun terakhir


menyebabkan kematian pada banyak orang. Selain itu kasus-kasus kejahatan juga memakan
banyak korban jiwa yang cenderung bertambah dari waktu ke waktu. Pada kasus ini sering
dijumpai korban jiwa yang tidak dapat dikenal sehingga perlu melakukan identifikasi.

Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu


penyidik untuk mengidentifikasi seseorang. Identifikasi personal sering dilakukan pada suatu
masalah dalam kasus pidana maupun perdata. Menentukan identitas personal dengan tepat
amat penting dalam penyidikan karena adanya kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses
peradilan. Dalam proses identifikasi inilah, ada istilah yang disebut dengan ante mortem dan
post mortem.

Identifikasi dalam kematian penting dilakukan, karena menyangkut masalah


kemanusiaan. Selain itu juga dikuatkan berdasarkan Keputusan bersama Menkes dan Kapolri
nomor 1087 / Menkes / SKB / IX / 2004 NO.POL.Kep / 40 / IX / 2004 tanggal 29 september
2004 disebutkan bahwa setiap korban mati pada bencana massal harus dilakukan identifikasi
yang sesuai dengan kesepakatan bersama antara Depkes dengan Kepolisian.

Secara harafiah istilah ante mortem memilki arti data jenazah sebelum kematian.
Sedangkan istilah post mortem adalah data jenazah sesudah kematian. Tim forensik biasa
melakukan identifikasi dengan cara mencocokkan data ante mortem dan post mortem untuk
mengenali jenazah. Pengumpulan data ante mortem biasanya meliputi dua metode. Metode
sederhana menyangkut visual, perhiasan, pakaian dan dokumentasi serta Metoda ilmiah
menyangkut sidik jari, medik, serologi, odontologi, antropologi dan biologi. Meskipun
terkadang secara fisik jenazah agak sulit dikenali, misalnya hangus terbakar. Namun dari
lengkapnya ante mortem, jenazah seperti ini biasanya masih bisa dikenali dari struktur
giginya. Ini karena gigi adalah bagian terkeras dari tubuh manusia yang komposisi bahan
airnya sedikit dan sebagian besar terdiri atas bahan anorganik sehingga tidak mudah rusak.

1
Sementara susunan dan struktur gigi bisa didapatkan record dari dokter gigi yang
merawat gigi korban yang bersangkutan. Biasanya tim DVI (Disaster Victim Identification)
memeriksa gigi saat korban yang ditemui jasadnya sudah hancur. Identifikasi melalui gigi,
merupakan salah satu metode indentifikasi dasar (primary indentifiers). Namun hanya akan
berhasil bila ada data lengkapnya. Data yang dimaksud, yaitu berupa data gigi ante mortem
serta dimilikinya standar pemeriksaan kedokteran gigi forensik yang baku.

Dokter gigi berperan penting dalam melakukan identifikasi korban bencana karena
korban yang hangus terbakar dan mengalami pembusukan tingkat lanjut sulit untuk dikenali
dan sudah tidak dapat dilakukan identifikasi melalui pemeriksaan visual.

Sayangnya sebagian besar penduduk Indonesia belum berkesadaran memiliki catatan


data gigi. Karena umumnya orang Indonesia jarang pergi ke dokter gigi. Kurang memahami
pentingnya kontrol rutin ke dokter gigi. Entah karena praktek dokter gigi dikenakan biaya
mahal, hingga kerap tak terjangkau oleh sebagian masyarakat, atau memang karena mitos
berobat ke dokter gigi selama ini terkesan sakit dan menakutkanSidik jari bisa ditemukan
pada surat pribadi semacam SIM, Ijasah, KTP. Sementara untuk DNA bisa dicocokkan dari
keluarga sekandung korban semisal orangtua dan anak-anak. Dan tanda-tanda lainnya, seperti
tanda lahir, biasanya dikenali secara detail oleh keluarga terdekat.

Bab 2

2
Tinjauan Pustaka

2.1 Pengertian Forensik Odontologi

Odontologi forensik adalah suatu cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari cara
mengidentifikasi korban melalui gigi geligi yang berkaitan dengan hukum. Menurut
Djohansyah Lukman mendifinisikan merupakan terapan dari semua disiplin ilmu kedokteran
gigi yang berkaitan erat dalam penyelidikan sebagai terapanhukum dan proses peradilan.
Mengidentifikasi korban dengan menggunakan metode identifikasi pemeriksaan gigi
memiliki keunggulan, yaitu :

1. Gigi merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan dan pengaruh
lingkungan yang ekstrim. Identifikasi dengan sarana gigi sangat mungkin dilakukan
karena sifat gigi yang sangat kuat, yang tahan terhadap berbagai pengaruh kerusakan,
seperti trauma mekanis, termis, kimiawi, dll. Hal ini karena gigi memiliki banyaknya
kandungan struktur bahan anorganik sehingga kuat dalam memberikan perlindungan
terhadap kerusakan.

2. Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan restorasi gigi
menyebabkan identifikasi dengan kecepatan yang tinggi.

3. Kemungkinan tersedianya data ante mortem gigi dalam bentuk catatan medis gigi
(dental record) dan data radiologis.

4. Gigi geligi memiliki lengkungan anatomis, antropologis dan morfologis yang


memiliki letak yang terlindungi dari otot-otot bibir dan pipi, sehingga apabila terjadi
trauma akan mengenai otot-otot tersebut terlebih dahulu. Bentuk gigi geligi tiap
indivudu tidak sama, karena kemungkinan sama pada gigi manusia di dunia satu
berbanding dua miliar.

2.2 Ruang Lingkup Odontologi Forensik


Ruang lingkup odontologi forensik sangat luas meliputi semua bidang keahlian
kedokteran gigi. Secara garis besar odontologi forensik membahas beberapa topik, yaitu
sebagai berikut :
a. Identifikasi Forensik Odontologi

3
Ketika tidak ada yang dapat diidentifikasi, gigi dapat membantu untuk membedakan
usia seseorang, jenis kelamin,dan ras. Hal ini dapat membantu untuk membatasi korban yang
sedang dicari atau untuk membenarkan/memperkuat identitas korban.
b. Penentuan Usia
Perkembangan gigi secara regular terjadi sampai usia 15 tahun. Identifikasi melalui
pertumbuhan gigi ini memberikan hasil yang yang lebih baik daripada pemeriksaan
antropologi lainnya pada masa pertumbuhan. Pertumbuhan gigi desidua diawali pada minggu
ke 6 intra uteri. Mineralisasi gigi dimulai saat 12 – 16 minggu dan berlanjut setelah bayi lahir.
Trauma pada bayi dapat merangsang stress metabolik yang mempengaruhi pembentukan sel
gigi. Kelainan sel ini akan mengakibatkan garis tipis yang memisahkan enamel dan dentin di
sebut sebagai neonatal line. Neonatal line ini akan tetap ada walaupun seluruh enamel dan
dentin telah dibentuk. Ketika ditemukan mayat bayi, dan ditemukan garis ini menunjukkan
bahwa mayat sudah pernah dilahirkan sebelumnya. Pembentukan enamel dan dentin ini
umumnya secara kasar berdasarkan teori dapat digunakan dengan melihat ketebalan dari
struktur di atas neonatal line. Pertumbuhan gigi permanen diikuti dengan penyerapan
kalsium, dimulai dari gigi molar pertama dan dilanjutkan sampai akar dan gigi molar kedua
yang menjadi lengkap pada usia 14 – 16 tahun. Ini bukan referensi standar yang dapat
digunakan untuk menentukan umur, penentuan secara klinis dan radiografi juga dapat
digunakan untuk penentuan perkembangan gigi.
c. Penentuan Jenis Kelamin
Ukuran dan bentuk gigi juga digunakan untuk penentuan jenis kelamin. Gigi geligi
menunjukkan jenis kelamin berdasarkan kaninus mandibulanya. Anderson mencatat bahwa
pada 75% kasus, mesio distal pada wanita berdiameter kurang dari 6,7 mm, sedangkan pada
pria lebih dari 7 mm. Saat ini sering dilakukan pemeriksaan DNA dari gigi untuk
membedakan jenis kelamin.
d. Penentuan Ras
Gambaran gigi untuk ras mongoloid adalah sebagai berikut
a) Insisivus berbentuk sekop. Insisivus pada maksila menunjukkan nyata berbentuk
sekop pada 85-99% ras mongoloid. 2 sampai 9 % ras kaukasoid dan 12 % ras negroid
memperlihatkan adanya bentuk seperti sekop walaupun tidak terlalu jelas.
b) Dens evaginatus. Aksesoris berbentuk tuberkel pada permukaan oklusal premolar
bawah pada 1-4% ras mongoloid.
c) Akar distal tambahan pada molar 1 mandibula ditemukan pada 20% mongoloid.

4
d) Lengkungan palatum berbentuk elips.
e) Batas bagian bawah mandibula berbentuk lurus.

2.3 Data ante mortem dan post mortem

Identifikasi forensik odontologi merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan


membantu penyidik untuk menentukan identifikasi seseorang. Pada sebuah kasus kecelakaan
massal misalnya, kecelakaan pesawat, korban bom, bencana alam, dan sebagainya yang dapat
menyebabkan terjadinya banyak korban meninggal sehingga jenazah tidak dapat
dikenali,jenazah rusak, membusuk, hangus terbakar atau bagian tubuh tercerai-berai.

Salah satu proses identifikasi yang bisa dilakukan pada jenazah yang tidak utuh atau
angus terbakar adalah dengan membandingkan antara data gigi yang diperoleh dari
pemeriksaan gigi orang atau jenazah tidak dikenal (data post mortem) dengan data gigi yang
pernah dibuat sebelunya dari orang yang diperkirakan (data ante mortem). Data ante mortem
didapatkan dari keluarga, ataupun dari instansi di mana korban pernah berhubungan dengan
instansi tersebut semasa hidup. Misalnya pihak keluarga memberikan data fisik berupa
salinan kartu kepala keluarga, menyebutkan umur, warna kulit, ciri fisik, dan sebagainya.
Sedangkan data postmortem bisa didapat dari personal identification. Yaitu pemeriksaan
dokumen dan atribut korban. Misalnya kartu identitas (KTP, SIM, paspor, ijazah) dan
sejenisnya yang kebetulan ditemukan dalam saku pakaian yang dikenakan.

Terkadang perbedaan dapat dijelaskan, seperti perubahan restorasi terkait dengan


berlalunya waktu, avulsi gigi atau gigi sekunder untuk trauma di saat kematian, atau
perawatan tambahan oleh pihak kedua yang tidak terdaftar dalam catatan ante mortem.
Disemua kasus ini, perbedaan dapat dijelaskan dan identifikasi masih dapat dibuat.
Data ante mortem merupakan syarat utama yang harus ada untuk melakukan
menerapkan identifikasi dengan cara membandingkan. Data-data ante mortem tersebut adalah
berupa :
1. Dental record, yaitu keterangan tertulis berupa odontogram atau catatan keadaan
gigi pada pemeriksaan, pengobatan atau perawatan gigi.
2. Foto Rontgen gigi.
3. Cetakan gigi.
4. Foto profil daerah mulut dan gigi.
5. Keterangan atau pernyataan dari orang-orang terdekat dibawah sumpah,dsb.
5
Data tersebut dapat dicari dari sumber-sumber antara lain praktek dokter gigi, rumah
sakit, instansi pelayanan kesehatan gigi atau lembaga/pusat pendidikan kedokteran gigi.
Selain syarat utama bahwa data ante mortem harus ada, keterangan data-data teresebut juga
harus memenuhi keakuratan untuk dapat dibandingkan dengan data hasil pemeriksaan orang
yang tak dikenal yang akan diidentifikasi, misalnya dalam hal kelengkapan atau
kesempurnaan catatan data, kejelasan data untuk diinterpretasikan dan kriteria yang sama
untuk dibandingkan.
Untuk data gigi post mortem yang perlu di catat pada pemeriksaan antara lain adalah :
1. Gigi yang ada dan yang tidak ada.
2. Gigi yang dilakukan tumpatan, jenis bahan dan klasifikasi tumpatannya.
3. Anomali bentuk dan posisi gigi.
4. Karies atau kerusakan gigi yang ada.
5. Jenis dan bahan restorasi, perawatan dan rehabilitasi yang mungkin dilakukan
perawatan seperti jacket crown, gigi jembatan, plat ortodonsia, prostetis gigi, dsb.
6. Atrisi atau keausan dataran kunyah gigi yang merupakan proses fisiologis untuk
fungsi kunyah.
7. Gigi molar ketiga sudah tumbuh atau belum.
8. Lain-lain, misalnya ciri-ciri incisival shovel shape pada gigi incisivus dan
tubercullum carabelli pada gigi molar kesatu atas banyak dijumpai pada ras
mongoloid.
Terlepas dari metode yang digunakan untuk mengidentifikasi seseorang, Hasil
perbandingan data ante mortem dan post mortem menyebabkan 1 dari 4 situasi,yaitu:

1. Positif Identifikasi: item Sebanding yang cukup berbeda dalam database antemortem
dan postmortem; tidak ada perbedaan utama yang diamati.
2. Identifikasi Kemungkinan: Persamaan ada di antara sebanding item dalam
antemortem dan postmortem database, namun informasi yang cukup yang hilang dari
sumber baik untuk mencegah pembentukan positif identifikasi.
3. Identifikasi cukup bukti: tidak cukup bukti pendukung yang tersedia untuk
perbandingan dan identifikasi definitif, tetapi identitas tersangka/orang yg meninggal
tidak dapat dikesampingkan. Identifikasi adalah kemudian dianggap tidak
meyakinkan.
6
4. Pengecualian: perbedaan dijelaskan ada di antara sebanding item dalam antemortem
dan postmortem database.

Gambar 1. Contoh pembandingan pola, bentuk dan ukuran dari perawatan gigi
individu dalam catatan pada gambar (a) foto ronsen gigi post mortem, tahun 1990 dan
gambar (b) yaitu foto ronsen ante mortem pada tahun 1985. Dalam hai ini diketahui
dari data ini berasal dari orang yang sama. Ini membentuk identifikasi positif.

Apabila data antemortem tidak ada, identifikasi dengan sarana gigi dilakukan dengan
cara merekonstruksi data gigi postmortem, yaitu menilai data-data gigi yang diperoleh dari
hasil pemeriksaan jenazah atau kerangka tak dikenal untuk memperkirakan umur (melalui
pola waktu erupsi dan derajat atrisi gigi), ras dan ciri-ciri khas gigi. Meskipun tidak dapat
mencapai hasil sampai pada tingkat individual, keterangan-keterangan tahapan identitas
demikian dapat memberikan petunjuk arah penyidikan.
Namun, proses identifikasi gigi terbatas karena beberapa alasan seperti kurangnya
standarisasi dokumentasi gigi yang diperlukan untuk identifikasi manusia, misalnya kesulitan
dalam mengumpulkan informasi gigi lengkap untuk setiap individu, ketidak lengkapan atau
ketidak tepatan informasi gigi, yang kompromi kualitas identifikasi, dan keterbatasan personil
yang berkualitas. Beberapa negara telah memberikan perawatan gigi sebelumnya dengan
sistem pendataan dental record yang baik, sehingga apabila warga negaranya menjadi korban
bencana alam, dapat dilakukan identifikasi dengan baik. Dalam penelitian terbaru, relevansi
catatan gigi di bencana massal tsunami di negara Thailand dievaluasi. Penelitian ini menarik
karena jumlah besar wisatawan yang terlibat dalam peristiwa itu, terutama dari Eropa,
memungkinkan perbandingan catatan gigi dari berbagai negara. Sembilan puluh persen dari
para korban dari Eropa, Amerika Utara, Oceania dan Afrika diidentifikasi terutama oleh cara
catatan gigi, menunjukkan tidak hanya keberadaan, tetapi kualitas dari catatan ini.
Sebaliknya, 90% dari catatan gigi dari Thailand yang berguna untuk identifikasi korban.

7
2.4 Prosedur Identifikasi Korban Tidak Dikenal dalam Bidang Kedokteran Gigi.
Tim kedokteran gigi forensik terdiri dari tiga bagian dan seorang komandan. Ketiga
bagian tersebut adalah bagian postmortem, bagian antemortem, dan bagian perbandingan. Bagian
postmortem bertugas untuk mengumpulkan data-data gigi postmortem ditempat kejadian.
Bagian antemortem bertugas untuk mengkondisikan rekam medik gigi agar dapat
diinterpretasikan. Bagian perbandingan bertugas untuk membandingkan dan menyesuaikan
data, serta menyelesaikan proses identifikasi. Komandan harus selalu siap dan dapat
mengatur pergerakan tim dengan cepat. Tindakan pertama yang dilakukan oleh dokter gigi
forensik saat tiba di Tempat Kejadian Peristiwa (TKP) adalah menyelamatkan bahan
bukti penting yang dibutuhkan untuk analisa kedokteran gigi forensik (misalnya gigi-geligi
yang berserakan). Tindakan yang perlu dilakukan langsung di TKP misalnya adalah
pengambilan sampel liur pada bite mark, pemotretan keadaan korban, dan sebagainya.
Tindakan pertama yang bersifat umum di TKP, yaitu pada awalnya menutup TKP sebatas
areal yang aman agar bukti-bukti tidak hilang atau rusak. Selanjutnya jika ada korban periksa
tanda-tanda kehidupannya. Apabila korban masih hidup, segera selamatkan dengan mengirim
ke rumah sakit terdekat. Jika sempat buat foto posisi atau kondisi korban saat ditemukan,
kemudian buat foto dan sketsa TKP seteliti mungkin. Koordinasikan dengan unsur lain
(Dokter umum, Labkrim, dsb) agar tidak saling menghambat pekerjaan masing-masing.
Terakhir lakukan tindakan yang spesifik sesuai dengan kasusnya. Tindakan selanjutnya
setelah tindakan pertama yang bersifat umum adalah identifikasi jenazah. Tujuan identifikasi
jenazah adalah untuk mengumpulkan bukti atau petunjuk mengenai identifikasi korban atau
jenazah. Tindakan ini dilakukan dengan mencatat secara teliti keadaan korban khususnya
keadaan kepala, mulut, dan gigi-geligi. Perhatian khusus diberikan terhadap hal-hal yang
mungkin berubah pada saat transportasi korban ke ruang otopsi. Apabila kerangka yang
ditemukan telah rusak atau dalam keadaan membusuk karena terendam air, cari gigi dengan
teliti karena gigi cenderung lepas dari tempatnya. Apabila gigi-geligi yang lepas
telah ditemukan, masukkan dalam kantong plastik khusus terpisah, jangan dibersihkan atau
direkonstruksi di TKP, rekonstruksi dilakukan di ruang otopsi. Pada kasus terbakar parah,
jenazah atau gigi menjadi sangat rapuh, transportasi harus dilakukan dengan hati-hati. Bagian
gigi yang rapuh dan mudah rusak akibat transportasi dapat direkatkan dulu dengan lem cair
misalnya power glue, alteco, dan super glue agar tetap utuh saat transportasi. Jika terpaksa,
pemeriksaan dapat langsung dilakukan di TKP.

8
Pada kasus mutilasi buat foto dari sisa jenazah, catat dengan teliti, dan buat sketsa
yang rinci tentang posisi tiap bagian tubuh yang terpisah. Setelah jenazah berada di ruang
otopsi pemeriksaan intraoral mulai dilakukan, berikan kesempatan pada dokter forensik untuk
mengambil sampel cairan atau bahan dalam mulut jika diperlukan untuk pemeriksaan lab.
Setelah bersih, periksa adanya kemungkinan luka atautanda-tanda yang tidak wajar dalam
rongga mulut. Jika ada gigi-geligi yang lepas, masukkan kembali gigi-geligi ke dalam
soketnya. Buat pemeriksaan postmortem kedokteran gigi forensik sesuai juknis atau formulir
standar. Setelah itu, buat foto-foto detail wajah dan keadaan mulut dalam keadaan selengkap
mungkin. Jika dirasakan perlu dapat dibuat cetakangigi dan panoramic x-ray. Setelah
pembuatan x-ray, dapat dilakukan penentuan golongan darah dengan sampel sepertiga apikal
salah satu gigi. Jika diperlukan dapat dilakukan isolasi DNA, untuk ini harus dikorbankan
satu gigi yang utuh agar dapat memperoleh jaringan pulpa yang cukup. Pada waktu proses
perbandingan, kasus-kasus yang banyak masalah sebaiknya dikerjakan terakhir. Semua data-data
yang diperoleh dalam identifikasi dituangkan dalam formulir baku mutu nasional, yaitu ke
dalam formulir korban tindak pidana yang berwarna merah atau disebutdengan data
postmortem, pada korban hidup tetap pula ditulis ke dalam formulir yang sama, sedangkan
data-data semasa hidup ditulis ke dalam formulir ante mortem yang berwarna kuning. Hal ini
berlaku pula pada pelaku, ia mempunyai kedua penulisan data pula, ante mortem dan
postmortem pada kertas yang berwarna kuning dan merah. Setelah jenazah teridentifikasi
sedapat mungkin dilakukan perawatan jenazah, antara lain perbaikan tubuh jenazah,
pengawetan jenazah, perawatan sesuai agama korban, dan memasukkan korban dalam peti
jenazah. Kemudian jenazah diserahkan pada keluarga oleh petugas khusus dari tim
identifikasi berikut surat-surat yang diperlukan. Perawatan jenazah setelah teridentifikasi
dilaksanakan oleh unsur Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas terkait dibantu oleh keluarga
korban.

2.5 Peranan Dokter Gigi Forensik


Sebagaimana telah diterangkan diatas, benda bukti gigi sudah sejak lama disadari
mempunyai peran yang besar dalam identifikasi personal dan pengungkapan kasus kejahatan.
Bagi para aparat penegak hukum dan pengadilan, pembuktian melalui gigi merupakan
metode yang valid dan terpercaya (reliable), sebanding dengan nilai pembuktian sidik jari dan
penentuan golongan darah. Seorang dokter gigi forensik harus memiliki beberapa kualifikasi
sbb :

9
a. Kualifikasi sebagai dokter gigi umum. Kualifikasi terpenting yang harus dimiliki oleh
seorang dokter gigi forensik adalah latar belakang kedokteran gigi umum yang luas,
meliputi semua spesialisasi kedokteran gigi. Sebagai seorang dokter gigi umum,
kadang-kadang ia perlu memanggil dokter gigi spesialis untuk membantunya
memecahkan kasus.
b. Pengetahuan tentang bidang forensik terkait. Seorang dokter gigi forensik harus
mengerti sedikit banyak tentang kualifikasi dan bidang keahlian forensik lainnya yang
berkaitan dengan tugasnya, seperti penguasaan akan konsep peran dokter spesialis
forensik, cara otopsi, dsb.
c. Pengetahuan tentang hukum.Seorang dokter gigi forensik harus memiliki pengetahuan
tentang aspek legal dari odontologi forensik, karena ia akan banyak berhubungan
dengan para petugas penegak hukum, dokter forensik dan juga pengadilan. Dalam hal
kasus kriminal ia juga harus paham mengenai tata cara penanganan benda bukti yang
merupakan hal yang amat menentukan untuk dapat diterima atau tidaknya suatu bukti
di pengadilan.

BAB 3
KESIMPULAN

10
3.1 Kesimpulan
1. Odontologi forensik adalah ilmu yang menerapkan ilmu mengenai gigi baik dari segi
yang berhubungan dengan ilmu-ilmu dasar maupun ilmu koedokteran gigi untuk
mempelajari cara mengidentifikasi korban melalui gigi geligi yang berkaitan dengan
hukum.
2. Gigi dijadikan sarana identifikasi karena mempunyai faktor derajat individualitas dan
kekuatan serta ketahanan yang sangat tinggi.
3. Identifikasi dengan cara membandingkan data gigi ante mortem dan data post mortem
dengan tujuan memberikan hasil identifikasi sampai dapat menentukan seseorang
identitas seorang individu korban.

3.2 Saran
1. Oleh karena pentingnya data antemortem membantu dalam proses penyidikan
sebagai pembanding pada korban dengan data postmortem, maka perlunya data
gigi antemortem yang lengkap sebagai identifikasi dengan sarana gigi.
2. Sebagai seorang dokter gigi forensik mempunyai peran yang besar dalam
identifikasi personal dan pengungkapan kasus kejahatan, maka perlu mengetahui
dasar-dasar sebagai praktisi dokter gigi dan mengetahui keahlian dalam ilmu
kedokteran forensik serta hukum legal dalam aspek odontologi forensik.

Daftar Pustaka

11
Djohansyah Lukman. Ilmu kedokteran gigi forensik jilid 2. Sagung seto. 2006.
Jakarta.

Fernanda Nedel, Ana Paula Nedel, Ricardo Henrique Alves Da Silva. Evaluation Of
Identification Cases Involving Forensic Dentistry In The City Of Pelotas, Rs, Brazil, 2004-
2006. Brazilian Journal Of Oral Sciences, 2009, Vol. 8(1):Pp. 55-58.

A. Pretty,1 And D. Sweet, A Look At Forensic Dentistry —Part 1: The Role Of Teeth
In The Determination Of Human Identity. British Dental Journal, 2001. Vol 190(7): Pp 359-
366.

Sylvie Louise Avon, Forensic Odontology: The Roles And Responsibilities Of The
Dentist. Journal Of The Canadian Dental Association. 2004; Vol. 70(7): Pp.453-458.

Sarah Afari Gadro. Peran Odontologi Forensik Sebagai Salah Satu Sarana
Pemeriksaan Identifikasi Jenazah Tak Dikenal. Berkala ilmu kedokteran. 1999. Vol.31

Tugas odontologi forensik

12
Identifikasi Antemortem dan Postmortem
pada Odontologi Forensik

Oleh :

Riandika Putri A

020413455

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2012

13