Anda di halaman 1dari 13

SEKSI PELAYANAN KESEHATAN HEWAN DAN OBAT HEWAN

BIDANG KESWAN DAN KESMAVET

Pelayanan kesehatan hewan di Indonesia berpedoman pada Undang-Undang


Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Undang-undang
ini mengamanatkan bahwa pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan
merupakan penyelenggaraan kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan dalam
bentuk pengamatan dan pengidentifikasian, pencegahan, pengamanan,
pemberantasan dan/ atau pengobatan. Berdasarkan Undang-Undang tersebut, seksi
Pelayanan Kesehatan Hewan dan Obat Hewan mempunyai tugas pokok salah
satunya adalah Melaksanakan pemantauan, pembinaan dan pengawasan pelayanan
kesehatan hewan, serta dengan memperhatikan visi dan misi Dinas Perikanan dan
Peternakan Kabupaten Bogor yaitu “Mendukung terciptanya lingkungan yang
kondusif bagi masyarakat veteriner”. Agar tugas pokok ini dapat berjalan dengan
baik, perlu adanya suatu program yang dapat menjalankan tujuan dari pelayanan
kesehatan hewan dan obat hewan. Tujuan yang dimaksud antara lain :
1. Menyediakan sarana dan prasaran pelayanan kesehatan hewan dan obat
hewan
2. Mempercepat diagnose penyakit hewan secara akurat
3. Meningkatkan sisetem kewaspadaan dini terhadap penularan penyakit
pada ternak
4. Mengintensifkan penangnan kejadian kasus penyakit hewan
5. Memberikan rasa nyuaman kepada masyarkat dalam penyediaan ternak
dan produk hewan yang sehat an berkualitas
6. Memantau, mengawasi, pembuatan peredaran dan penggunaan obat
hewan famasetik, premiks dan vaksin di tingkat depo, toko, kios dan
pengecer obat hewan, farmasetik, pemiks, dan vaksin terlaksanan
dengan baik.
7. Melakukan pemantauan dan pengawasan pada praktek dokter hewan,
rumah sakit hewan, laboratorium keehatn hewan, paabrik obat hewan,
distributor obat hewan, depo/penecer obat hewan dan pemantauan alat
mesin kesehatan hewean terlaksana dengan baik.
8. Membina pelayanan kesahatan hewan di UPT Pusat kesehatan Hewan.
Keberhasilan suatu program kerja dapat dilihat dari hasil yang didapat apakah
memenuhi harapan yang diinginkan dan sesuai dengan tujuan dari pelayanan
kesehatan hewan dan obat hewan.

Pembahasan

Program kerja seksi Pelayanan Kesehatan Hewan dan Obat Hewan tahun
2018 memilki dua program kerja utama yaitu, Kegiatan pelayanan kesehatan hewan
serta kegiatan pelayanan dan pembinaan obat hewan. Pelayanan kesehatan hewan
ini mencakup pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (Promotif),
pencegahan penyakit (Preventif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitative) yang
dilaksanakan secara menyelururh, terpadu dan berkesinambungan. Dengan
pelayanan kesehatan hewan, pengendalian penyakit dan pengobatan terhadap
kasus-kasus penyakit yang timbul pada ternak-ternak milik masyarakat serta
kelompok-kelompok ternak yang ada di Kabupaten Bogor dapat tercapai. Target
sasaran dari program ini adalah ternak yang ada diwilayah kabupaten Bogor yang
terdiri dari 40 kecamatan, baik itu sapi maupun ayam serta masyarakat yang
langsung bersinggungan dengan ternak dalam hal ini adalah peternak. Alokasi dana
yang dianggarkan untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan sebesar Rp.
472.016.000,- (Empat ratus tujuh puluh dua juta enam belas ribu rupiah). Kegiatan
pelayanan kesehatan hewan meliputi :

1. Pelayanan kesehatan hewan


Kegiatan pelayanan terhadap kesehatan hewan ini bertujuan untuk
mengendalikan kejadian penyakit serta mengobati kasus-kasus penyakit yang
timbul pada hewan/ternak milik masyarakt serta kelompok-kelompok ternak
yang da di Kabupaten Bogor. Jenis pelayanan kesehatan hewan yang
dilaksanakan mempunyai tiga jensi pelayanan kesehatan yang meliputi,
Pelayanan aktif, semi aktif dan pasif. Pelayanan akitf adalah pelayanan yang
dilakukan melalui kunjugan dan soslialisasi tentang penyakit dan kesehatan
hewan ke kelompok peternak, pelayanan semi aktif adalah pelayanan ke lapang
berdasarkan laporan kejadian atau kasus penyakit dari peternak, sedangkan
pelayanan pasif adalah pelayanan terhadap pasien yang datang ke UPT
Puskeswan DAN kantor Diskanak. Kegiatan Pelayanan Kesehatan Hewan yang
dilaksanakan berapa pemeriksaan dan diagnose dalam rangka pengobatan
penyakit, pemeriksaan kesehatan hewan dalam rangka penerbitan Surat
Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), serta konsultasi masalah kesehatan
hewan dan kegiatan lain yang dapat mewujudkan status kesehatan hewan yang
baik.
Berdasarkan hasil pelaksanaan pelayanan pengobatan ternak yang sudah
dilakukan, terlihat kasus kejadian Chronic Respiratory Disease (CRD) pada
ayam mengalami kejadian paling tinggi, scabies dan helminthiasis berada
diurutan kedua dan ketiga kejadian penyakit di Kabupaten Bogor. Kondisi ini
dapat terjadi dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang Higiene
Sanitasi yang masih buruk serta upaya pencegahan melalui obat-obatan yang
tidak rutin diberikan. Untuk mengurangi hal tersebut, petugas medis dan
paramedis telah melaksanakan pembinaan kepada kelompok maupun
masyarakat pembudidaya tenak. Pembinaan tersebut dilakukan saat kegiatan
pelayanan kesehatan hewan.
Kegiatan pembinaan kepada masyarakat tadi dapat lebih dioptimalkan
dengan cara mengajak masyarakat juga berperan aktif dalam mencegah berbagai
kejadian penyakit. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak masyarakt beramai-
ramai untuk melapor ke pihak Dinas apabila ditemukan penyakit yang
menyerang ternak mereka. Punyuluhan tentang seberapa bahayanya jika tidak
segera melapor dapat dijadikan salah satu cara menarik minat masyarakat untuk
melapor. Hal yang dapat dilakukan selanjutnya untuk menarik minat masyarakt
melapor adalah adanya insentif kepada peternak yang melapor, insentif ini dapat
berupa uang atau pemberian obat cacing gratis.

2. Pembinaan dan pengawasan lalu lintas hewan/ternak


Kegiatan pengawasan lalu lintas hewan bertujuan untuk mencegah keluar
masuknya penyebab atau agen penyakit hewan dari luar daerah yang masuk ke
wilayah Kabupaten Bogor serta dapat meminimalisir penyebaran penyakit
hewan. Kegiatan pengawasan lalu lintas hewan ini meliputi pemeriksaan
kesehatan terhadap unggas, sapi, kucing, anjing, kelinci, kuda, kura-kura,
kambing dan domba yang diperjualbelikan dan juga pemeriksaan penerbitan
surat-surat hasil pemeriksaan kesehatan hewan antar kabupaten/kota. Agar
program ini dapat berjalan lebih optimal lagi, penambahan sumber daya manusia
(SDM) dalam melakukan audit terhadap kelengkapan dokumen seperti SKKH
(Surat Keterangan Kesehatan Hewan) dapat lebih terlayani, mengingat tingkat
arus lalu lintas perpindahan ternak di wilayah Kabupaten Bogor sangat tinggi.
Penambahan SDM ini juga dapat meningkatkan pengawasan terhadap oknum-
oknum yang berbuat curang seperti pemalsuan SKKH atau adanya oknum yang
lolos dari pemeriksaan petugas baik dalam pemeriksaan dokumen maupun
pemeriksaan kesehatan ternak yang ditransportasikan.

3. Bakti Sosial Pengobatan Hewan Gratis


Kegiatan ini meliputi pengobatan hewan, vaksinasi rabies, demo uji cepat
membedakan daging segar dan tidak segar juga penyebaran brosur KIE tentang
Keswan dan Kesmavet. Petugas medis mendapatkan berbagai macam diagnosa
penyakit dari kegiatan bakti sosial ini meliputi helminthiasis, defisiensi vitamin
dan belum divaksinasi. Upaya yang perlu ditambahkan untuk mengurangi
tingkat kejadian penyakit diatas dapat menurun adalah lebih gencar
mengedukasi peternak dalam memperhatikan higiene dan sanitasi ternak
maupun kandang. Kegiatan edukasi ini dapat dilakukan melalui penyuluhan
langsung ke peternak atau kelompok ternak, selain itu dapat juga dilakukan
melalui sosialisasi iklan layanan masyarakat baik itu di media cetak, radio
maupun televisi.

4. Pelayanan dan Pembinaan Dokter Hewan dan Obat Hewan


Tujuan dari kegiatan ini adalah pemantauan dan pengawasan pada praktek
dokter hewan, rumah sakit hewan, laboratorium kesehatan hewan, pabrik obat
hewan, distributor obat hewan, depo/pengecer obat hewan dan pemantauan alat
mesin kesehatan hewan terlaksanan dengan baik.

5. Workshop Penyakit Zoonosis (Avian Influenza, Rabies dan Antrhrax)


Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah dapat memberikan
penyegaran/refreshing ilmu pengetahuan kepada petugas Dinas Perikanan dan
Peternakan Kabupaten Bogor, sehingga diharapkan apabila petugas menemukan
kasus penyakit dilapang dapat sesegera mungkin tertangani dengan baik.
Penambahan materi workshop selain penyakit zoonosis juga dapat ditambahkan
dalam kegiatan workshop. Berdasarkan data kejadian kasus penyakit hewan
semester 1 tahun 2018 di Kabupaten Bogor, kejadian CRD (Chronic Respiratory
Disease) berada dalam tingkat kejadian penyakit yang cukup tinggi. Workshop
mengenai kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh CRD sangat pengting
mengingat tingkat morbiditas penyakit ini tinggi. Workshop mengenai penyakit
CRD selain disampaikan kepada petugas dinas terutama petugas medik
veteriner, juga dapat disosialisasikan kepada peternaknya langsung.

Demi menjaga kejadian penyakit tidak terus menyebar dan bertambah


banyak angka kejadian penyakit, penggunaan obat-obatan juga perlu diperhatikan
selain adanya pelayanan kesehatan. Kegiatan pelayanan dan pembinaan obat
hewan yang dilaksanakan meliputi :

1. Pengawasan dan pembinaan pelaku usaha obat hewan


Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah agar obat hewan yang
beredar dalam masyarakat layak pakai dan tepat pemakaiannya, dapat
menertibkan usaha yang bergerak di bidang obat hewan khususnya depo dan
toko obat di Kabupaten Bogor dan mencegah terjadinya penyalahgunaan hak
baik dalam hal pengadaan, penyimpanan, peredaran maupun dalam pemakaian
obat hewan. Berdasarkan data yang dikumpulakan di lapangan, terdapat sekitar
100 pelaku usaha depo/toko obat hewan di Kabupaten Bogor yang belum
memiliki izin usaha. Hal ini dapat terjadi karena masih kurangnya kesadaran
pedagang/pemilik usaaha obat hewan untuk mengurus perizinan usaha obat
hewan. Kondisi ini diperparah dengan minimnya pengetahuan masyarakat dalam
membeli obat hewan di lokasi yang sudah memiliki izin usaha obat hewan.
Perizinan ini sangat penting karena dapat menjamin obat hewan yang dijual
layak pakai serta legal untuk diedarkan. Agar kegiatan ini dapat berjalan lebih
optimal dan dapat meningkatakan hasil yang diinginkan, perlu adanya
peningkatan edukasi kepada penjual obat hewan beserta masyarakat tentang
pentingnya mengurus izin penjualan obat hewan serta efek positif dari
penggunaan obat hewan yang telah mempunyai izin dari dinas. Diberlakukan
sistem pendaftaran izin pengedaran obat hewan yang lebih praktis seperti dapat
diurus melalui website tertentu sehingga pelaku usaha tidak perlu repot datang
ke dinas untuk melakukan proses perizinan.

2. Pembinaan dan pengawasan jasa medik veteriner


Kegiatan ini mempunyai tujuan untuk menjaga kemampuan petugas medik
veteriner dalam menjalankan pelayanan keswan. Penjaminan akan hal tersebut
maka dokter hewan yang ingin melakukan praktek harus mempunyai Surat Izin
Praktek (SIP) sebagai syarat utama sebelum melakukan pelayanan kesehatan.
Dengan adanya aturan ini, maka tenaga medis yang melaksanakan kegiatan
pelayanan keswan benar-benar terjadim skill maupun keterampilannya dalam
memberikan tindakan medis. Kegiatan pembinaan dan pengawasan jasa medik
veteriner dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No.
02/Permentan/OT.140/1/2010 tentang Pedoman Pelayanan Jasa Medik
Veteriner yang dimaksudkan sebagai acuan bagi dokter hewan, organisasi
profesi kedokteran hewan, pemerintah dan pemerintah daerah serta semua pihak
yang berkaitan dengan pelayanan jasa medik veteriner.

3. Pengobatan cacing massal dan bakti sosial pelayanan kesehatan hewan dan
kesmavet
Aktifitas dari kegiatan ini adalah pembuatan paket obat yang akan dibawa
ke UPT Puskeswan, pembentuk tim pelaksana, menyebar brosur ke masyarakat
dan memasang banner di UPT Puskeswan, mendata pemilik yang akan diobati
dan pelaksanaan pengobatan cacing. Kegiatan ini dilakukan secara door to door
oleh petugas medis dan paramedik ke pemilik ternak dengan membawa saranan
dan prasaran pengobatan cacing. Perlu ditambahkan adanya sosialisasi mengenai
AMR (Anti Microbial Resisten) kepada peternak, mengingat kejadian
penggunaan antibiotik yang kurang bijak mengakibatkan terjadinya resistensi
antibiotik dan berujung pada penyebaran kejadian penyakit yang semakin tinggi.

4. Workshop praktek dokter hewan dan peningkatan kapasitas medis


Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah dapat menambah
pengetahuan dan keterampilan teknis yang dapat diterapkan di lapangan,
sehingga dapat meningkatkan peran medis veteriner dalam rangka menjamin
status kesehatan hewan dan mengendalikan penyakit hewan di Kabupaten
Bogor. Aktifitas dari kegiatan ini meliputi diadakannya workshop praktek dokter
hewan yang dihadiri oleh 20 peserta dokter hewan praktek perwakilan dari
masing-masing wilayah UPT Puskeswan Kabupaten Bogor, diselenggarakannya
kegiatan pelatihan di Rumah Sakit Hewan Bandung dan Perusahaan Obat Hewan
di Bandung dengan mendatangkan pengajar/narasumber dari esselon III tingkat
Provinsi Jawa Barat.
KEGIATAN YANG DISARANKAN
Peningkatan KIE mengenai CRD dan pengurusan perizinan pengedaran obat
hewan berbasis layanan online di Kabupaten Bogor

Kabupaten Bogor merupakan kabupaten dengan luas wilayah 2663,81 km 2


yang terdiri dari 40 kecamatan (BPS 2017). Secara geografis, Kabupaten Bogor
memiliki letak yang strategis karena berdekatan dengan ibukota Negara Republik
Indonesia dan berbatasan dengan beberapa kabupaten seperti Kabupaten Sukabumi,
Kabupaten Lebak, Kabupaten Tanggerang, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Cianjur
dan Kota Depok.
Populasi hewan di Kabupaten Bogor terutama hewan ternak tentu sangat
banyak, jenisnya pun beragam mulai dari domba, kambing, sapi, ayam, kerbau dan
lain-lain. Lalu lintas transportasi baik ternak yang masuk maupun yang keluar
daerah Kabupaten Bogor juga berada pada angka yang tinggi. Hal ini dampak
menimbulkan resiko penyebaran penyakit yang semakin luas dan cepat apabila
tidak adanya pemeriksaan kesehatan terhadap ternak tersebut terlebih dahulu.
Terdapat penurunan produksi akibat serangan dari suatu penyakit yang berdampak
langsung pada kerugian ekonomi yang cukup besar. Berdasarkan data kasus
penyakit hewan pada semester I tahun 2018 kejadian CRD merupakan kejadian
penyakit yang cukup tinggi, Bersama dengan kejadian penyakit helminthiasis dan
skabies, penyakit CRD merupakan penyakit yang dapat berpengaruh terhadap
kerugian ekonomi peternak. Mengingat CRD mempunyai angka morbiditas yang
tinggi. Oleh karena itu sangat perlu penyakit CRD ini dapat dikendalikan agar tidak
terjadi penurunan ekonomi yang semakin memburuk.
Chronic Respiratory Disease (CRD) adalah penyakit menular menahun pada
ayam yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum yang ditandai dengan
sekresi hidung katar, kebengkakan muka, batuk dan terdengarnya suara sewaktu
bernafas. Ayam semua umur dapat terserang CRD. Pada kondisi tertentu dapat
menyebabkan gangguan pernapasan akut terutama pada ayam muda, sedangkan
bentuk kronis dapat menyebabkan penurunan produksi telur. CRD memiliki derajat
morbiditas tinggi dan derajat mortalitas rendah. Infeksi dapat menyebar secara
vertikal melalui telur yang terinfeksi. Kejadian CRD di Indonesia pertama kali
dilaporkan oleh Richey dan Dirdjosoebroto pada tahun 1965 mengemukakan
bahwa ayam ras yang memperlihatkan gejala respirasi di Jawa Barat 90%
menunjukkan gejala serologis positif. Hasil pemeriksaan serum ayam di beberapa
daerah di Indonesia, diketahui bahwa CRD telah menyebar luas di Jakarta, Bogor,
Bandung, Semarang, Tegal, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Bali, Ujung pandang,
Palembang, dan Medan. Reaktor tidak hanya terjadi pada ayam ras tetapi juga pada
ayam kampung. Ayam yang dibeli di Bogor dan berasal dari Jawa tengah,
Sukabumi dan Priangan menunjukkan angka 80% ayam jantan dan 92% ayam
betina positif, sedangkan ayam kampung di Bali 80% reaktor. Kasus CRD di
Indonesia tersebar di mana-mana, namun tidak dilaporkan (Diskeswan 2014).
Menurut OIE (2008), CRD masuk dalam kategori notifiable diseases yang berarti
jika terjadi kasus CRD di lapangan harus segera dilaporkan ke pemerintah untuk
segera ditanggulangi. Belum banyak peternak yang menyadari bahwa CRD
mengakibatkan dampak kerugian ekonomi dari hulu hingga hilir (Buim et al. 2009).
Pemantauan yang terus menerus dan cakupan wilayah yang luas merupakan
permasalahan utama dalam mendeteksi kejadian penyakit. Tidak jarang terjadi
keterlambatan tindakan pelayanan kesehatan yang mengakibatkan terjadinya
wabah. Respon yang cepat merupakan faktor penting dalam mencegah terjadinya
wabah disuatu daerah. Tingkat pengetahuan peternak terhadap gejala awal kejadian
dari suatu penyakit merupakan hal yang sangat penting karena peternak dapat
langsung mengambil tinakan awal serta dapat melakukan pencegahan dini terhadap
serangan penyakit CRD. Disisi lain vaksinasi merupakan suatu program
pengendalian yang dapat dilakukan untuk menurunkan kejadian penyakit CRD,
tetapi vaksinasi membutuhkan anggaran dana yang tidak sedikit sehingga dicarilah
program pengendalian yang murah dan dapat diimplentasikan langsung ke
masyarakat. Program pengendalian yang dinilai tidak banyak membutuhkan
anggaran besar adalah penyuluhan berbasis online yang dinilai lebih efisien dan
dapat mencakup lingkup masyarakat yang lebih luas dalam pengedukasian
masyarakat tentang penyebaran penyakit CRD. Menurut Hadi 2004, program
pengendalian lain yang dapat dilakukan adalah program biosecurity. Program ini
dipandang sebagai cara termurah dan efektif, bahkan tidak satupun program
pengendalian penyakit dapat berjalan baik tanpa disertai program biosecurity. Oleh
karena itu peningkatan KIE perlu dilakukan baik secara langsung melalui
penyuluhan langsung ke lapangan maupun disosialisasikan melalaui media online.
Upaya yang juga perlu diperhatikan dalam menurunkan tingkat kejadian penyakit
di Kabupaten Bogor terutama CRD, Helminthiasis dan skabies adalah melakukan
pengawasan terhadap izin usaha penjualan/pengedaran obat hewan. Tingkat
kepedulian masyarakat dalam melakukan izin usaha serta pengetahuan masyarakat
tentang dampak positif dari obat yang mempunyai izin masih cukup rendah. Oleh
sebab itu sistem pengurusan perizinan obat hewan dapat dipermudah dengan cara
pengoperasian berbasis media online dapat menjadi solusi yang tepat untuk
mengurangi masyarakat/pelaku usaha yang tidak mengurus perizinan usaha
mereka.

Tabel 1 Program KIE tentang CRD dan pengurusan perizinan obat hewan sebagai
upaya pengendalian penyakit di Kabupaten Bogor
No. Program Tujuan Aktivitas
1. KIE Menurunkan tingkat 1. Membuat halaman website
kejadian CRD di yang berisi tentang penyakit
Kabupaten Bogor CRD, gelaklinis, cara
melalui edukasi penularannya serta cara
masyarakat pencegahannya.
menggunakan media 2. Pembuatan akun sosial
online media untuk
mengsosialisasikan edukasi
penyakit CRD.
3. Pembuatan iklan layanan
masyarakat tentang
penyakit CRD yang
dipublikasikan di situs
berbagi video seperti
youtube, media cetak, serta
media elektronik lainnya
deperti stasiun radio lokal.
2. Perizinan Menigkatkan pelaku 1. Pembuatan website
Obat Hewan usaha pejualan obat pengurusan perizinan
hewan untuk mengurus peredaran obat hewan
perizinan usaha mereka 2. Sosialisasi masyarakat
tentang sistem perizinan
yang baru ini melalui
pelayanan aktif maupun
melalui media masa seperti
koran, radio serta melalui
media online dan sosial
media.

Aspek Keorganisasian

Pelaksanaan sosialiasi kegiatan KIE dan sistem perizinan barbasis online


serta pemasangan sistem jaringan interenet berlangsung selama 1 bulan. Kegiatan
ini memerlukan beberapa sumber daya manusia diantaranya adalah 1 orang petugas
IT (information technology) yang bertugas membuat jaringan website, 2 orang
petugas dinas seksi Pelayanan Keswan dan Obat hewan, 16 orang petugas UPT
(masing-masing UPT mengirimkan 2 orang) sebagai admin dari pengoperasian
website KIE dan perizinan obat hewan. Jadwal pelaksanaan kegiatn secara rinci
disajikan pada Tabel 2. Sarana yang dibutuhkan adalah beberapa komputer,
layanan internet, jasa pembuatan iklan serta konsumsi bagi petugas.
Tabel 2 Jadwal pelasanaan kegiatan KIE dan program perizinan obat hewan
Kegiatan Minggu ke-1 Minggu ke-2 Minggu ke-3 Minggu ke-4
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
Persiapan
survei dan
sosialisasi
Sosialiasi
website
CRD dan
sistem
perizianan
berbasis
online
untuk
petugas
UPT
Sosialisasi
kepada
peternak
Pemasanga
n sistem
jaringan
internet
dan
pembuatan
website

Penyusunan Biaya dan Manfaat Program KIE dan perizinan obat hewan berbasis
online

Pada program pengendalian penyakit dilakukan penyusunan biaya


pengendalian dan manfaat pengendalian. Untuk mengetahui manfaat pengendalian
atau Cost Benefit digunakan beberapa asumsi. Asumsi-asumsi yang digunakan
dalam penyusunan program pengedalian penyakit di Kabupaten Bogor yaitu :
1. Program pengendalian dilakukan selama 1 tahun
2. Keuntungan diperoleh dengan mengambil asumsi penyakit yang dapat
mengakibatkan kerugian ekonomi meningkat apabila pelayanan tidak
segera dilakukan, yaitu penyakit CRD pada ayam dan helminthiasis serta
skabies pada ternak lainnya. Penurunan jumlah kerugain ekonomi dari
serangan suatu penyakit karena respon cepat penanangan dihitung sebagai
keuntungan dari adanya program KIE dan sistem perizinan.
3. Asumsi biaya pengendalian meliputi kegiatan sosialisasi dan pelatihan
petugas UPT sebesar Rp 4.000.000, pengadaan komputer di setiap UPT
sebesar Rp 32.000.000, pemasangan jasa internet Rp 400.000/bulan
menjadi Rp 4.800.000 dalam satu tahun. Sosialisasi kepada peternak dan
beserta biaya transportasi Rp 10.500.000, biaya pembuatan iklan layanan
masyarakat beserta publikasinya sebesar Rp 20.000.000. Asumsi lengkap
anggaran biaya pengendalian di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada
lampiran 1.
4. Perhitungan keuntungan mengambil asumsi populasi kejadian penyakit
CRD, Helminthisis dan skabies di daerah endemis sebanyak 50.000 ekor.
Jumlah ternak yang berhasil diselamatkan akan dikalikan dengan harga
satu ekor ternak hidup yaitu Rp 20.000.
5. Discount factor (DR) yang digunakan adalah sebesar 12%. Analisis
program pengendalian menggunakan metode cost benefit analyze dapat
diketahui dari nilai NPV dan B/C.

Analisis kelayakan program KIE dan perizinan obat hewan menggunakan


metode partial analysis. Terdapat tiga kriteria pengambilan keputusan dalam
metode ini yaitu, Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR) dan
Internal Rate of Return (IRR). Analisis ini memerlukan perhitungan cost benefit.
Cost benefit dan analisis biaya ekonomi yang didapatkan dari program ini terlamir
pada lampiran 2.

NPV = Present value Benefit – Present Value Cost


= 69.020.000 - 47.194.250
= 21.825.750

Program dapat diterima apabila PVB>PVC atau NPV bernilai positif. NPV
memberikan gambaran tentang jumlah keuntungan yang diperoleh dari proyek
dalam ukuran nilai sekarang. NPV telah memenuhi syarat kelayakan program
pengendalian.

𝑃𝑉𝐵 69.020.000
BCR = 𝑃𝑉𝐶 = =1,462
47.194.250

Suatu proyek dapat diterima apabila nilai benefit cost ratio (BCR) lebih besar
dari 1. BCR merupakan kriteria yang sangat berguna dalam menentukan urutan
prioritas proyek. Pada proyek ini, setiap Rp 1 yang dikeluarkan akan memberikan
manfaat sebesar Rp 1.462. Hal ini menandakan bahwa proyek ini dapat memberi
keuntungan bila dilakukan.
Nilai IRR ditentukan berdasarkan discount rate (DR) yang membuat NPV
bernilai 0.

IRR = 47,84 %

IRR merupakan kriteria yang lebih disukai dibandingkan kriteria lain,


karena menggambarkan persentase tingkat pengembalian yang diperoleh (rate of
return). Nilai IRR dari proyek ini yaitu 47,84 %. Nilai IRR lebih tinggi dari
nilai discount rate yang digunakan, yaitu 12%, sehingga proyek ini layak secara
ekonomi dan dapat diterima. Interpretasi nilai IRR yang lebih besar dari discount
rate menunjukan bahwa program pengendalian dapat mengembalikan nilai
ekonomi dana yang diinvestasikan untuk program pengendalian.

DAFTAR PUSTAKA

[Dikeswan] Direktur Kesehatan Hewan. 2014. Manual Penyakit Hewan Unggas.


Jakarta (ID): Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Bina Produksi
Peternakan, Departemen Pertanian RI.
[OIE] Office International des Epizooties (FR). 2008. Avian Mycoplasmosis
(Mycoplasma gallisepticum, Mycoplasma sinoviae). OIE terrestrial
manual 2008. Chapter 2.3.4. 482-496.
Buim MR. 2007. Avian mycoplasmosis. Arq Inst Biol. 73:23-26
Hadi UK. 2004. Pelaksanaan biosekuritas pada peternakan ayam [makalah].
Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
LAMPIRAN

Lampiran 1 Biaya anggaran pengendalian CRD pada unggas per 3 bulan


Jenis Biaya Jumlah Waktu Jumlah Harga Total (Rp)
Fixed Cost
Gaji petugas UPT 8 2 16 125.000 2.000.000
Gaji petugas IT 1 1 1 500.000 500.000
Biaya jasa layanan 1 1 1 1.200.000 1.200.000
internet
Operasional 4 6 48 12.500 600.000
kendaraan
Pengadaan komputer 8 625.000 5.000.000
Pembuatan iklan dan 1 1 2.500.000 2.500.000
publikasi
Biaya Makan dan 25 12 300 7.500 2.250.000
Minum
Total Fixed Cost 14.050.000
Variable Cost
Penyuluhan ke 1 1.000.000 1.000.000
petugas UPT dan
masyarakat
Penyuluhan ke 1 500.000 500.000
peternak
Total Variable Cost 1.500.000
Total Biaya 15.550.000

Lampiran 2 Asumsi cost benefit analysis

Per 3 Persentase Selamat dari Selisih Harga Benefit (Rp)


bulan penurunan morbiditas persentase per
kejadian per ekor penuruanan ekor
CRD
1 0% 0 0 20 000
2 2% 1000 10 20 000 20.000.000
3 3% 1500 2 20 000 30.000.000
4 5% 2500 3 50.000.000
Total benefit 100.000.000
Lampiran 3 Analisis ekonomi dengan IRR
Discount rate : 12%
Per 3 Total pendapatan
Total biaya (Rp) df PVC (Rp) df PVB (Rp) NPV (Rp)
bulan (Rp)
1 15.550.000 0,892 13.870.600 0 0,892 0 -13.870.600
2 15.550.000 0,797 12.393.350 20.000.000 0,797 15940000 3.546.650
3 15.550.000 0,711 11.056.050 30.000.000 0,711 21330000 10.273.950
4 15.550.000 0,635 9.874.250 50.000.000 0,635 31750000 21.875.750
Total 62.200.000 47.194.250 100000000 69020000 21.825.750