Anda di halaman 1dari 6

1.

Tantra
Tantra adalah konsep pemujaan Ida Sanghyang Widhi Wasa di mana manusia
kagum pada sifat-sifat kemahakuasaan-Nya, sehingga ada keinginan untuk
mendapatkan sedikit kesaktian. Tantra adalah suatu kombinasi yang unik antara mantra,
upacara dan pemujaan secara total. Ia adalah agama dan juga philosopy, yang
berkembang baik dalam Hinduisme maupun Budhisme. Tantra adalah cabang dari
Agama Hindu. Kebanyakan kitab-kitab Tantra masih dirahasiakan dari arti sebenarnya
dan yang sudah diketahui masih merupakan teka-teki. Ada baiknya diantara kita mulai
belajar mendiskusikan ajaran tantra berlandaskan makna ajaran tersebut yang
sesungguhnya, dengan demikian kita akan dapat mengetahui dan melaksanakan dengan
bentuknya yang baik dan benar.
Secara umum dapat dinyatakan bahwa yantra dan mantra adalah bentuk-bentuk
ajaran tantra yang sudah dilaksanakan oleh masyarakat pengikutnya guna memuja
kebesaran Tuhan sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur semua yang ada ini. Namun
demikian pelaksanaannya masih perlu disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan
pelaksananya, sehingga mereka dapat terhindar dari sesuatu yang tidak kita inginkan
bersama.

2. Yantra
Di dalam pemujaan yantra adalah sarana tempat memusatkan pikiran. Yantra
adalah sebuah bentuk geometrik. Bentuk yantra yang paling sederhana adalah sebuah
titik (Bindu) atau segi tiga terbalik. Disamping ada bentuk yantra yang sederhana, ada
juga bentuknya yang sangat rumit (simetris dan non-simetris) yang semuanya itu dapat
disebut Yantra. Semua bentuk-bentuk ini didasarkan atas bentuk-bentuk matematika
dan metode-metode tertentu. Yantra tersebut dipergunakan untuk melambangkan para
Deva seperti Siwa, Wishnu, Ganesha, dan yang lainnya termasuk Sakti. Keadaan
mantra dan yantra adalah saling terkait. Pikiran dinyatakan dalam bentuk halus sebagai
satu mantra dan pikiran yang sama dinyatakan dalam bentuk gambar sebagai sebuah
Yantra. Dinyatakan terdapat lebih dari sembilan ratus Yantra.
Salah satu dari Yantra yang terpenting adalah Sri Yantra, atau Navayoni Chakra,
melambangkan Siwa dan Sakti. Yantra itu dapat dicermati dari berbagai praktik aliran
atau pengikut Sakti. Adapun bentuk-bentuk yantra yang dapat dikemukakan adalah;

a. Banten
Banten adalah salah satu bentuk Yantra, sebagaimana dinyatakan dalam Lontar
Yadnya Parakerti. Banten itu memiliki arti yang demikian dalam dan universal. Banten
dalam upacara agama Hindu adalah wujudnya sangat lokal, namun di dalamnya
terkandung nilai-nilai yang universal. Banten itu adalah bahasa untuk menjelaskan
ajaran Agama Hindu dalam bentuk simbol. Banten menurut Lontar Yadnya Prakerti
menyatakan sebagai simbol ekspresi diri manusia. Misalnya; banten caru sebagai
lambang penetralisir kekuaan negatif, banten peras sebagai lambang permohonan untuk
hidup sukses dengan menguatkan Tri Guna ‘Peras Ngarania Prasidha Tri Guna Sakti’
artinya hidup sukses itu dengan memproporsikan dan memposisikan dengan tepat
dinamika Tri Guna (Sattwam Rajas Tamas) sampai mencapai Sakti.
b. Susastra
Dalam tradisi Hindu, yantra umumnya digunakan untuk melakukan upakara
puja dengan mengikut-sertakan bija mantra sesuai yantra tersebut. Banyaknya jenis
puja dan setiap puja menggunakan yantra maka penggunaan mantra juga menjadi
berbeda. Adapun bentuk-bentuk yantra dalam kesusteraan Hindu antara lain:

 Bhu Pristha yantra; adalah yantra yang biasanya dibuat secara timbul atau
dipahat pada suatu bahan tertentu. Bhu Pristha yantra biasanya hanya ditulis pada
selembar kertas atau kain.
 Meru Pristha yantra; adalah yantra yang berbentuk seperti gunung atau piramid
dimana di bagian dasar penampangnya dibuat lebar atau besar semakin keatas
semakin mengecil misalnya bentuk meru pada bangunan pelinggih yang ada di
Bali.
 Meru parastar yantra; adalah bentuk yantra yang dipotong sesuai garis yantra
tersebut atau dipotong bagian tertentu.
 Ruram Pristha yantra; adalah yantra dimana bagian dasarnya membentuk
mandala segi empat dan diatasnya dibentuk sebuah bentuk tertelungkup atau
seperti pundak kura-kura.
 Patala yantra: adalah yantra yang di bagian atas bentuknya lebih besaran dari
pada bentuk bagian bawahnya yang ‘kecil’. Bentuk ini kebalikan dari meru
Pristha yantra

Setiap Yantra baik dari segi bentuk maupun goresan yang tertera pada Yantra
tersebut akan mempunyai arti yang berbeda serta tujuan yang berbeda pula. Karena
yantra mempunyai tujuan dan manfaat yang berbeda. Bentuk-bentuk yantra
dikembangkan dan diberi sentuhan artistik modern sehingga yantra tidak lagi kelihatan
seperti barang seni atau sebuah perhiasan belaka, tetapi disesuaikan dengan makna dan
ciri yantra serta kebutuhan si pemakainya. Sesuai perkembangan jaman sekarang
banyak sekali yantra dibentuk kecil, misalanya dalam bentuk kalung, gelang dan cincin.
memang sebaiknya yantra tersebut diusahakan selalu dekat dengan si pemakainya,
dengan kedekatan itu maka energi yang ada dalam yantra dan energi pemakai menjadi
saling menyesuaikan. Yantra dapat diibaratkan sebagai polaritas energi positif yang
secara terus menerus mempengaruhi si pemakainya sehingga dalam waktu singkat
fungsi yantra yang dikenakan dapat dirasakan manfaatnya atau hasilnya.

Mandala dalam konsep Agama Hindu adalah gambaran dari alam semesta.
Secara harafiah mandala berarti “lingkaran.” Mandala ini terkait dengan kosmologi
India kuno yang berpusatkan Gunung Mahameru, sebuah gunung yang diyakini sebagai
pusat alam semesta. Di dalam Tantrayana mandala juga menggambarkan alam
kediaman para makhluk suci, yang sangat penting bagi ritual atau sadhana Tantra. Saat
berlangsungnya sadhana, sadhaka akan menyusun ulang mandala ini baik secara nyata
ataupun visualisasi. Sesungguhnya semua orang diantara kita setiap hari telah
menyusun mandalanya masing-masing. Mandala adalah melambangkan cakupan karya
dan medan pemikiran seseorang. Menurut ajaran Vajrayana, mandala hendaknya
disusun secara cermat. Ini menandakan bahwa dalam berkarya seseorang hendaknya
cermat dan melakukan yang sebaik-baiknya.
3. Mantra
Maharsi Manu yang disebut sebagai peletak dasar hukum yang digambarkan
sebagai orang yang pertama memperoleh mantra. Beliau mengajarkan mantra itu
kepada umat manusia dengan menjelaskan hubungan antara mantra dengan objeknya.
Demikianlah mantra merupakan bahasa ciptaan yang pertama. Mantra-mantra
digambarkan dalam bentuk yang sangat halus dari sesuatu, bersifat abadi, berbentuk
formula yang tidak dapat dihancurkan yang merupakan asal dari semua bentuk yang
tidak abadi. Bahasa yang pertama diajarkan oleh Manu adalah bahasa awal dari
segalanya, bersifat abadi, penuh makna. Bahasa Sansekerta diyakini sebagai bahasa
yang langsung barasal dari bahasa yang pertama, sedang bahasa-bahasa lainnya
dianggap perkembangan dari bahasa Sansekerta (Majumdar, 1916, p.603). Sebagai asal
dari bahasa yang benar, merupakan ucapan suci yang digunakan dalam pemujaan
disebut mantra. Kata mantra berarti “bentuk pikiran”. Seseorang yang mampu
memahami makna yang terkandung di dalam mantra dapat merealisasikan apa yang
digambarkan di dalam mantra itu (Danielou, 1964, 334).

“Sebuah mantra; dinamakan demikian karena membimbing pikiran (manana)


dan hal itu merupakan pengetahuan tentang alam semesta dan perlindungan (trana) dari
perpindahan jiwa, dapat dicapai” (Pingala Tantra) “Disebut sebagai sebuah mantra
karena pikiran terlindungi” (Mantra Maharnava, dikutip oleh Devaraja Vidya
Vacaspati) Sumber: http: // ngarayana. web. ugm. ac. id /2010/10/ tantra/.

Persepsi yang pertama tentang sebuah mantra selalu ditandai sebagai hubungan
langsung antara umat manusia dengan deva. Mantra, diperoleh pertama kali oleh
seorang rsi. “karenanya seorang rsi adalah yang pertama merapalkan mantra”
(Sarvanukramani). Selanjutnya, mantra ditegaskan dengan karakter matrik (irama)
dihubungkan dengan karakter garis-garis lurus berkaitan dengan yantra; kenyataannya
ini merujuk kepada sesuatu yang dimiliki oleh mantra. Mantra menggambarkan devata
tertentu yang dipuja dan dipuji; “mantra itu membicarakan devata” (Sarvanukramani).
Selanjutnya pula, seseorang melakukan tindakan dan untuk mencapai tujuan tertentu
dengan menggunakan mantra itu.

Unsur-unsur bunyi digunakan dalam semua bahasa untuk membentuk “ucapan


suku kata” atau varna-varna yang dibatasi oleh kemampuan alat-alat wicara manusia
kecerdasan membedakannya melalui pendengaran. Unsur-unsur ini adalah umum
dalam setiap bahasa, walaupun umumnya bahasa-bahasa itu adalah sebuah bagian dari
padanya. Unsur-unsur bunyi dari bahasa sifatnya sungguh-sungguh permanen, bebas
dari evolusi atau perkembangan bahasa, dan dapat diucapkan sebagai sesuatu yang tidak
terbatas dan abadi. Kitab-kitab Tantra melengkapi hal itu sebagai eksistensi yang bebas
dan digambarkan sebagai yang hidup, kekuatan kesadaran bunyi, disamakan dengan
deva-deva. Kekuatan dasar dari bunyi (mantra) berhubugan dengan semua lingkungan
dari manifestasinya. Setiap bentuk dijangkau oleh pikiran dan indria yang seimbang
dengan pola-pola bunyi, sebagai sebuah nama yang alami. Dasar mantra satu suku kata
disebuat sebagai bijamantra atau vijamantra (benih atau bentuk dasar dari pikiran)
Danielou, 1964: 335.
Mantra disusun dengan menggunakan aksara-aksara tertentu, diatur sedemikian
rupa sehingga menghasilkan suatu bentuk bunyi, sedang huruf-huruf itu sebagai
perlambang-perlambang dari bunyi tersebut. Untuk menghasilkan pengaruh yang
dikehendaki, mantra harus disuarakan dengan cara yang tepat, sesuai dengan “svara”
atau ritme, dan varna atau bunyi. Mantra mempunyai getaran atau suara tersendiri,
karena itu apabila diterjemahkan ke alam bahasa lain, mantra itu tidak memiliki warna
yang sama, sehingga terjemahannya itu hanya sekedar kalimat (Avalon, 1997: 85).

Mantra itu mungkin jelas dan mungkin pula tidak jelas artinya. Vijra (vijaksara)
mantra seperti misalnya Aim, Klim, Hrim, tidak mempunyai arti dalam bahasa sehari-
hari. Tetapi mereka yang sudah menerima inisiasi mantra mengetahui bahwa artinya itu
terkandung dalam perwujudnnya itu sendiri (svarupa) yang adalah perwujudan devata
yang sedemikian itulah mantra-Nya, dan bahwa vija mantra itu adalah dhvani yang
menjadikan semua aksara memiliki bunyi dan selalu hadir di dalam apa yang diucapkan
dan yang didengar, karena itu setiap mantra merupakan perwujudan (rupa) dari
Brahman. Dari manana atau berpikir didapatkan pengertian terhadap kesejatian yang
bersifat Esa, bahwa substansi Brahman dan Brahmanda itu satu dari man yang sama,
dan mantra datang dari suku pertama manana, sedangkan tra berawal dari trana, atau
pembebasan dari ikatan samsara atau dunia fenomena ini. Dari kombinasi man dan tra
itulah disebut mantra yang dapat memanggil datang (matrana) catur varga atau empat
tujuan dari mahluk-mahluk luhur. Mantra adalah daya kekuatan yang mendorong,
ucapan berkekuatan (yang buah dari padanya disebut mantra-siddhi) dan karena itu
sangat efektif untuk menghasilkan catur varga, persepsi kesejatian tunggal, dan mukti.
Karena itu dikatakan bahwa siddhi merupakan hasil yang pasti dari Japa. Dengan
mantra devata itu dicapai (Sadhya). Dengan siddhi yang terkandung di dalam mantra
itu terbukalah visi tri bhuvana. Tujuan dari suatu puja (pemujaan), patha (pembacaan),
stava (himne), homa (pengorbanan), dhyana (kontemplasi) dan dharana (konsentrasi)
serta Samadhi adalah sama. Namun yang terakhir yaitu diksa mantra, sadhana sakti
bekerja bersama-sama dengan mantra. Sakti yang memiliki daya revelasi dan api
dengan demikian lalu memiliki kekuatan yang luar biasa. Mantra khusus yang diterima
ketika diinisiasi (diksa) adalah vija mantra, yang ditabur di dalam tanah nurani seorang
sadhaka. Terkait dengan ajaran tantra seperti sandhya, nyasa, puja dan sebagainya
merupakan pohon dari cabang-cabang, daun-daunnya ialah stuti, vandana bunganya,
sedangkan kavaca terdiri atas mantra adalah buahnya (Avalon, 1997: 86).

Nitya Tantra menyebutkan berbagai nama terhadap mantra menurut jumlah


suku katanya. Mantra yang terdiri dari satu suku kata disebut Pinda, tiga suku kata
disebut Kartari. Mantra yang terdiri dari empat sampai sembilan suku kata disebut Vija
mantra. Sepuluh sampai dua puluh disebut mantra, dan mantra yang terdiri lebih dari
20 suku kata disebut Mala. Tetapi biasanya istilah Vija diberikan kepada mantra yang
bersuku kata tunggal. Mantra-mantra Tantrika disebut Vija mantra, disebut demikian
karena mantra-mantra itu merupakan inti dari sidhhi, dan mantra-mantra Tantrika itu
adalah saripatinya mantra. Mantra-mantra Tantrika pada umumnya pendek, tidak dapat
dikupas lagi secara etimologi, seperti misalnya Hrim, Srm, Krim, Hum, Am, Phat dan
sebagainya.
Setiap devata memiliki vija. Mantra primer satu devata disebut mula mantra.
Kata mula berarti jasad sangat halus dari devata yang disebut Kamakala. Mengucapkan
mantra dengan tidak mengetahui artinya atau mengucapkan tanpa metode tidak lebih
dari sekedar gerakan-gerakan bibir. Matra itu tidur. Beberapa proses harus dilakukan
sebelum mantra itu diucapkan secara benar, dan proses-proses itu kembali
menggunakan mantra-mantra, seperti usaha penyucian mulut ‘mukhasodhana’,
penyucian lidah ‘jihvasodhana’, dan penyucian terhadap mantra-mantra itu sendiri
‘asaucabhanga’, kulluka, nirvana, setu, nidrabhanga ‘menbangunkan mantra’, mantra
chaitanya atau memberi daya hidup kepada mantra dan mantrarthabhavana, yaitu
membentuk bayangan mental terhadap devata yang menyatu di dalam mantra itu.
Terdapat 10 samskara terhadap mantra itu. Mantra tentang devata adalah devata itu
sendiri. Getaran-getaran ritmis dari bunyi yang dikandung oleh mantra itu bukan
sekedar bertujuan mengatur getaran yang tidak teratur dari kosa-kosa seorang pemuja,
tetapi lebih jauh lagi dari irama mantra itu muncul perwujudan devata, demikianlah
kesejatiannya. Mantra sisshi ialah kemampuan untuk mebuat mantra itu menjadi efektif
dan mengasilkan buah, dalam hal itu mantra itu disebut siddha (Avalon. 1997: 87).
Berikut ini adalah beberapa mantra yang dikutip dari buku Doa sehari-hari menurut
Hindu, dapat dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh umat sedharma, sebagai
berikut:

Doa, bangun pagi:


Om jagrasca prabhata kalasca ya namah swaha.
Terjemahan:
Oh Hyang Widhi, hamba memuja-Mu, bahwa hamba telah bangun pagi dalam
keadaan selamat.

Doa, membersihkan diri (mandi) :


Om gangga amrtha sarira sudhamam swaha, Om sarira parisudhamam swaha.
Terjemahan:
Ya Tuhan, Engkau adalah sumber kehidupan abadi nan suci, semoga badan
hamba menjadi bersih dan suci.

Doa, di waktu akan menikmati makanan:


Om Ang Kang kasolkaya ica na ya namah swaha, swasti swasti sarwa Deva
bhuta pradhana purusa sang yoga ya namah.
Terjemahan:
Oh Hyang Widhi yang bergelar Icana (bergerak cepat) para Deva bhutam, dan
unsur Pradhana Purusa, para Yogi, semoga senang berkumpul menikmati
makanan ini.

Doa, memohon bimbingan:


Om asato ma sadyamaya tamaso ma jyoti gamaya mrtyor ma amrtam gamaya,
Om agne brahma grbhniswa dharrunama syanta riksam drdvamha,
brahmawanitwa ksatrawani sajata, wahyu dadhami bhratrwyasya wadhyaya.

Terjemahan:
Tuhan yang maha suci, bimbinglah hamba dari yang tidak benar menuju yang
benar, bimbinglah hamba dari kegelapan menuju cahaya pengetahuan yang
terang, lepaskanlah hamba dari kematian menuju kehidupan yang abadi, Tuhan
yang Maha Suci, terimalah pujian yang hamba persembahkan melalui Veda
mantra dan kembangkanlah dan kembangkanlah pengetahuan rohani hamba
agar hamba dapat menghancurkan musuh yang ada pada diri hamba (nafsu).
Hamba menyadari bahwa engkaulah yang berada dalam setiap insani
(Jiwatman), menolong orang terpelajar, pemimpin negara dan para pejabat.
Hamba menuju Engkau semoga melimpahkan anugerah kekuatan kepada
hamba (Ngurah, IGM. dan Wardhana, IB. Rai. 2003 : 7 – 17).

Nama : I Gede Deva Diasmoutaina


No : 13
Kelas : XII Mipa 5