Anda di halaman 1dari 34

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia merupakan alah satu negara agraris terbesar dunia dengan potensi
pengembangan bidang pertanian dan peternakan demi mencukupi kebutuhan
masyarakat. Kabupaten Bogor merupakan salah satu kabupaten yang memiliki
populasi ternak terbanyak di Jawa Barat seperti sapi, kerbau, kuda, kambing,
domba, dan babi. Dalam rangka mengemban tugas pemerintahan terkait ternak dan
peternakan serta perikanan, Bupati bogor dibantu oleh Dinas Perikanan dan
Peternakan Kabupaten Bogor yang meliputi: Perumusan kebijakan bidang
perikanan dan peternakan; pelaksanaan kebijakan di bidang perikanan dan
peternakan; pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang perikanan dan
peternakan; pelaksanaan administrasi dinas dan; pelaksanaan fungsi lain yang
diberikan Bupati sesuai bidang tugasnya. Tugas dan fungsi tersebut didasarkan pada
Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pembentukan
dan Susunan Perangkat Daerah yang dijabarkan dalam Peraturan Bupati Kabupaten
Bogor Nomor 63 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan, Organisasi, Tugas dan
Fungsi serta Tata Kerja Dinas Perikanan dan Peternakan. Dinas Peternakan dan
Perikanan Kabupaten Bogor memiliki tujuan, yaitu meningkatkan ketahanan
pangan dan menjamin kecukupan bahan pangan asal hewan (ternak dan ikan) di
masyarakat; Melindungi produsen, konsumen dan ternak/ikan dari ancaman
penyakit hewan/ikan menular dan zoonosis serta berperan dalam menjaga
keamanan bahan pangan/hasil pangan hewani yang beredar di masyarakat.;
Meningkatkan kapasitas produksi pelaku usaha produk olahan hasil ikan dan ternak
serta menciptakan kawasan agribisnis yang berbasis komoditas ikan dan ternak
yang berdaya saing. dan; Meningkatkan kompetensi aparatur dan pelaku usaha
perikanan dan peternakan dalam penerapan inovasi teknologi dan pengembangan
kelembagaan perikanan dan peternakan. Untuk mencapai tujuan tersebut maka
Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor terbagi menjadi tiga bagian
yaitu Pelayanan Kesehatan Hewan dan Pengawasan Obat Hewan , Pencegahan dan
Pemberantasan Penyakit Hewan (P3H), dan Kesehatan Masyarakat Veteriner
(KESMAVET).

Tujuan Kegiatan

Tujuan kegiatan magang kedinasan di Dinas Perikanan dan Peternakan


Kabupaten Bogor antara lain melatih mahasiswa PPDH untuk memahami tugas,
pokok, dan fungsi dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor dalam
bidang kesehatan hewan dan masyarakat veteriner, menambah wawasan dalam
menghadapi masalah terkait kesehatan hewan dan masyarakat veteriner, serta
Mempelajari manajemen pengendalian dan penolakkan penyakit strategis dan
zoonosis.
2

Manfaat

Mahasiswa PPDH mampu mengenal tupoksi dan program kerja pada masing-
masing seksi di bidang kesehatan hewan da kesehatan masyarakat veteriner.

Waktu dan Tempat Kegiatan

Rangkaian kegiatan PPDH dilaksanakan pada tanggal 26 November sampai


6 Desember 2018. Kegiatan magang bertempat di wilayah kerja Dinas Perikanan
dan Peternakan Kabupaten Bogor dan wilayah sekitar Kabupaten Bogor, Provinsi
Jawa Barat.

Jurnal Kegiatan Harian

Tabel 1 Jurnal Harian Kegiatan Kedinasan di Dinas Perikanan dan Peternakan


Kabupaten Bogor
Hari/ Tanggal Kegiatan
26-27 November 2018 Kedinasan
28-30 November 2018 RPH-R Cibinong
3-4 Desember 2018 RPH-R PT. Elders Indonesia
5-6 Desember 2018 RPH-U PT Ciomas Adi Satwa
7 Desember 2018 Evaluasi dan Persentasi

Profil Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor

Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor dibentuk berdasarkan


Peraturan Daerah Kabupaten Bogor Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pembentukan
dan Susunan Perangkat Daerah yang dijabarkan dalam Peraturan Bupati Kabupaten
Bogor Nomor 63 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan, Organisasi, Tugas dan
Fungsi serta Tata Kerja Dinas Perikanan dan Peternakan. Dinas Perikanan dan
Peternakan Kabupaten Bogor mempunyai tugas pokok Membantu Bupati dalam
melaksanakan urusan pemerintahan bidang perikanan dan urusan pemerintahan
bidang pertanian aspek peternakan dan tugas pembantuan yang diiringi dengan
fungsi dinas yang meliputi : 1. Perumusan kebijakan bidang perikanan dan
peternakan; 2. Pelaksanaan kebijakan di bidang perikanan dan peternakan; 3.
Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan di bidang perikanan dan peternakan; 4.
Pelaksanaan administrasi dinas dan; 5. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan
Bupati sesuai bidang tugasnya.

Visi
Terwujudnya Pembangunan Peternakan dan Perikanan Yang Berdaya Saing
dan Berwawasan Lingkungan.
3

Misi
1. Menjaga Ketersedian Bahan Pangan Hewani Secara Berkesinambungan
2. Menciptakan Lingkungan yang Kondusif bagi Masyarakat Perikanan dan
Peternakan serta Masyarakat Veteriner
3. Meningkatkan Daya Saing Produk Hasil Ikan dan Ternak di Masyarakat
4. Meningkatkan Kualitas Sumberdaya Manusia Perikanan dan Peternakan dalam
Pembangunan
Tujuan
1. Meningkatkan ketersediaan bahan pangan asal ternak darn ikan secara
berkesinambungan.
2. Menjaga lingkungan yang kondusif bagi masyarakat peternakan dan perikanan
serta masyarakat veteriner.
Sasaran

1. Meningkatnya produksi bahan pangan dan konsumsi pangan hewani


2. Meningkatnya produksi ternak dan ikan yang Aman, Sehat, Utuh, Halal
3. Berkembangnya kegiatan agribisnis/minabisnis di masyarakat yang dapat
menjadi unggulan daerah
4. Meningkatnya kompetensi pelaku usaha perikanan dan peternakan

Fokus dan arah kebijakan dinas dalam pengembangan perikanan dan


peternakan di Kabupaten Bogor sebagai berikut :
1. Ketahanan Pangan
2. Pengembangan Komoditas Unggulan
3. Pengembangan Zonasi Perikanan dan Peternakan
4. Pengembangan Agribisnis dan Agroindustri
4

Struktur Organisasi
Dinas Perikanan Dan Peternakan Kabupaten Bogor

Kepala Dinas
(Ir. Siti Farikah, MM)

Kelompok Jabatan
Fungsional Sekretaris
(Barkah Rizaluddin, SH)

Kepala SubBagian Kepala SubBagian Umum Kepala SubBagian


Program dan Pelaporan dan kepegawaian Keuangan
(Dodih P, SPt, MM) (Setyawati, SH, MM) (Dra. Rida Tresnadewi)

Kepala Bidang Kepala Bidang PDSP Kepala Bidang Kepala Bidang


Produksi Perikanan Perikanan Keswan Kesmavet Peternakan
(Ir. Deden S, MM) (Ir.Hj.Ikeu Y.Sambas,MM) (drh. Prihatini M, MM) (drh.Ramilah E.N.,MM)

Perbenihan dan Pelayanan dan Kesmavet Pembibitan dan


Budidaya Ikan Permodalan Usaha (drh.Hardi Hendriwan) Budidaya Peternakan
(Hj. Elis Risyani, A.Pi) Perikanan (drh.Hj.Sulistyowati, MSi)
(Yeni Andriani, S.Pi)
Pencegahan dan
Pengembangan Pengelolaan dan
Pengembangan Pemberantasan
Kawasan Ikan Pemasaran Hasil
Usaha dan SDM Penyakit Hewan
(H.Rohman, S.Pi,MM)
(drh. Sidho Ediyanto)
Peternakan
Perikanan (Purnamasari, S.Pt)
(Ir.Dafasman G, MM)
Kesehatan Ikan dan Pelayanan
Lingkungan Kesehatan Hewan Prasarana dan
Bina Mutu
(Yayan Buduayana, S.Pi) dan Obat Pelayanan Usaha
Pemasaran Hasil
(Zakaria, S.P, MM) Peternakan
Perikanana (Ir. Dedi Kurniadi, MM)
(Lili N.Chalimah,SPt)

UPT Puskeswankan UPT Sarana Usaha UPT Balai UPT Pembibitan UPT Rumah
I - VIII Perikanan dan Benih Ikan Ternak Potong Hewan
Peternakan

Gambar 1 Profil struktur keorganisasian Dinas Perikanan dan Peternakan


Kabupaten Bogor.
5

SEKSI KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER

Program Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner

Secara umum, tugas pokok seksi Kesmavet adalah membantu Kepala Bidang
Keswanvet dalam mengelola kesehatan masyarakat veteriner sedangkan fungsi dari
seksi ini adalah seperti (i) pengumpulan, pengelolaan, dan analisis data hasil
pengawasan kesehatan masyarakat veteriner, (ii) penyusunan petunjuk teknis
kesehatan masyarakat veteriner.
Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) di bawah naungan bidang
Keswan dan Kesmavet (Keswanvet) berwenang untuk melaksanakan kegiatan yang
berhubungan dengan bidang kesehatan masyarakat veteriner. Sesuai Undang-
Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang perubahan Undang-Undang Nomor 18
Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan bahwa kesehatan
masyarakat veteriner adalah segala urusan yang berhubungan dengan hewan dan
produk hewan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kesehatan
manusia. Seksi Kesmavet mempunyai peranan penting dalam menjamin higiene
dan sanitasi, menjamin keamanan, kesehatan, keutuhan, dan kehalalan produk
hewan, serta penanggulangan penyakit zoonotik untuk kepentingan kesehatan
masyarakat.
Kegiatan yang dilaksanakan di seksi Kesmavet meliputi pengawasan dan
pemeriksaan pangan asal hewan (PAH) dan hasil pangan asal hewan (HPAH) serta
sosialisasi keamanan pangan. Realisasi dari program kerja seksi Kesmavet, Bidang
Keswanvet, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor tahun 2018 dapat
dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Kegiatan Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner, Bidang Keswanvet,


Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor tahun 2018.
No Kegiatan Jenis kegiatan
1 Pengawasan dan a) Pengawasan pemotongan hewan di
pemeriksaan pangan RPH-R/TPH/RPH-U dan TPU.
asal hewan (PAH) dan b) Pengawasan peredaran produk hewan
hasil pangan asal hewan dan produk hewan non pangan.
(HPAH) c) Pengambilan dan pemeriksaan sampel
produk hewan.
d) Pengamanan hewan kurban.
e) Pembinaan peternak sapi perah.
f) Pembinaan dan pengawasan nomor
kontrol veteriner (NKV).

2 Sosialisasi Keamanan a) Pengadaan barang atau jasa kegiatan


Pangan sosialisasi
b) Pelaksanaan sosialisasi keamanan
pangan kader posyandu/PKK
c) Pelaksanaan sosialisasi higiene sanitasi
pedagang pasar tradisional
6

d) Pelaksanaan festival produk hewan


ASUH
e) Pelaksanaan sosialisasi NKV

Pembahasan

Seksi kesmavet melakukan pengawasan pemotongan hewan di Rumah


Pemotongan Hewan Ruminansia (RPH-R), Tempat Pemotongan Hewan (TPH),
Rumah Pemotongan Hewan Unggas (RPH-U), dan Tempat Pemotongan Unggas
(TPU) milik pemerintah maupun swasta yang tersebar di 40 kecamatan. Kegiatan
ini diharapkan dapat mencegah dan meminimalisir pengaruh dari penyebaran
penyakit ternak zoonotik serta menjamin kualitas produk hewan yang beredar di
wilayah Kabupaten Bogor termasuk dalam kriteria aman, sehat, utuh dan halal
(ASUH). Pengawasan pemotongan hewan oleh seksi Kesmavet dengan kerjasama
UPT RPH dan UPT Puskeswan wilayah melalui petugas surveilans PAH atau
HPAH mencakup:
a) Penerapan higiene sanitasi tempat pemotongan, kandang penampungan,
lingkungan sekitar, dan peralatan serta pengawasan higiene personil dan higiene
produk
b) Pelaksanaan pemeriksaan ante mortem dan post mortem
c) Penerapan kesejahteraan hewan (animal welfare) di setiap titik kritis
pemotongan di RPH-R/RPH-U
d) Pengawasan kehalalan pemotongan pada saat penyembelihan yang bekerjasama
dengan LP POM MUI
e) Pemotongan betina produktif
f) Inventarisir data pemotongan
Kebanyakan sistem di RPH dan RPH-U masih berjalan secara tradisional
dengan fasilitas sangat sederhana untuk memenuhi kebutuhan pasar tradisional
maupun pelanggan. Fasilitas yang sedia ada seperti mesin sawing dan pagar
kandang penampungan yang pecah juga banyak yang rusak dan tidak di-
maintenance dengan baik. Hal ini adalah karena kekangan bajet dari pemerintah.
Adalah disarankan untuk masing-masing RPH memulai mengenakan bayaran
daripada pedagang yang menggunakan jasa penampungan dan pemotongan hewan
ternak yang menelan kos yang tinggi bagi tujuan pembaikan peralatan dan fasilitas
di RPH.
Tujuan dan manfaat dari Kegiatan Pengawasan dan Pemeriksaan Pangan Asal
Hewan (PAH) dan Hasil Pangan Asal Hewan (HPAH) antara lain:
1) Memberikan jaminan dan perlindungan kepada masyarakat bahwa produk
hewan yang beredar di wilayah Kabupaten Bogor adalah yang berkriteria
ASUH
2) Mencegah dan meminimalisir terjadinya penyimpangan dan pemalsuan
terhadap produk hewan yang beredar di masyarakat
3) Memberikan pembinaan dan bimbingan usaha penyediaan produk hewan di
RPH-R, RPH-U, UPS, PPH, PPT, importir, distributor, dan retail
4) Mencegah terjadinya penyalahgunaan dalam penyediaan, proses produksi,
penyimpanan, dan pengangkutan produk hewan
7

5) Memberikan bimbingan kepada pelaku tata niaga ternak tentang


kesejahteraan hewan di RPH-R dan RPH-U
6) Mengupayakan pengaruh minimal penyakit zoonosis strategis (Antraks,
Rabies, Avian Influenza, Brucellosis, dan Salmonellosis) terhadap kesehatan
manusia
7) Memberikan bimbingan kepada panitia idul kurban atau DKM dalam
pelaksanaan kegiatan kurban yang sesuai syariat Islam dan menghasilkan
PAH yang ASUH serta ihsan

Pembinaan dan pengawasan nomor kontrol veteriner (NKV) merupakan salah


satu dari kegiatan pengawasan dan pemeriksaan pangan asal hewan (PAH) dan hasil
pangan asal hewan (HPAH). Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun
2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan
disebutkan bahwa pengertian dari Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner yang
selanjutnya disebut Nomor Kontrol Veteriner adalah sertifikat sebagai bukti tertulis
yang sah telah dipenuhinya persyaratan higiene dan sanitasi sebagai kelayakan
dasar jaminan keamanan produk hewan pada unit usaha produk hewan yang
diberikan oleh otoritas veteriner di bidang Kesmavet Provinsi atas nama Gurbenur.
Ketentuan teknis mengenai Nomor Kontrol Veteriner ini diatur dalam Peraturan
Menteri Pertanian Nomor 381/Kpts/OT.140/2005 tentang pedoman Sertifikasi
Nomor Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan.
Tujuan penerbitan NKV adalah untuk memastikan bahwa unit usaha telah
memenuhi persyaratan higiene sanitasi dan menerapkan cara produksi yang baik
serta mempermudah penelusuran kembali jika terjadi kasus yang menyimpang.
Unit usaha yang wajib memiliki NKV adalah pelaku usaha pangan asal hewan yang
dilakukan perorangan warga Negara Indonesia atau badan hukum yang berusaha di
bidang Rumah Pemotongan Hewan (RPH), Rumah Pemotongan Unggas (RPU),
Rumah Pemotongan Babi (RPB), usaha budidaya unggas petelur, usaha importir
dan eksportir, usaha distribusi dan ritel, dan usaha pengolahan pangan asal hewan
(DISNAKAN 2017). Sertifikasi NKV berlaku untuk jangka waktu selama unit
usaha melakukan kegiatan proses produksi, penanganan, dan atau pengolahan
sepanjang masih memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
Setiap unit usaha yang wajib memiliki NKV perlu mengajukan permohonan
kepada Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat, dengan tembusan kepada
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang dilampirkan
persyaratan administrasi dan teknis. Setelah permohonan diterima oleh Dinas
Peternakan Provinsi Jawa Barat secara lengkap, selambat-lambatnya dalam waktu
30 (tiga puluh) hari kerja akan dilakukan pemeriksaan persyaratan. Setelah
permohonan memenuhi persyaratan, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat akan
memberitahukan ke pemohon akan dilakukan penilaian terhitung 7 (tujuh) hari
kerja setelah dipenuhinya persyaratan dimaksud.
Auditor NKV melakukan penilaian pemenuhan persyaratan unit usaha yang
ditunjuk oleh Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan
rekomendasi Tim Auditor, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat dapat
menyetujui atau menunda penerbitan NKV sampai dipenuhinya tindakan koreksi
dimaksud oleh pemohon atau menolak penerbitan NKV. Setelah disetujui, sertifikat
NKV diterbitkan paling lambat 14 (empat) belas hari kerja dan Dinas Peternakan
Provinsi kemudian akan menyampaikan fotokopi sertifikat dan keterangan hasil
8

penilaian kepada Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Apabila


penerbitan sertifikat NKV ditolak, paling lambat 14 (empat belas) hari kerja
diterbitkan penolakan sertifikat dengan disertai surat penolakan.
Proses pemeriksaan persyaratan bagi unit usaha yang telah mengajukan
permohonan relatif lama melihat dari alur permohonan NKV. Dilansir dari
beberapa sumber informasi cetak dan elektronik, kendala yang dialami para pelaku
ekonomi yang keberlangsungannya terkait pada sertifikat NKV, adalah kurangnya
surveyer atau auditor dari pihak terkait Dinas Kabupaten dan Provinsi yang
melakukan survey pada unit-unit usaha menengah dan retail di daerah. Perhatian
terhadap pemenuhan kebutuhan pelaku ekonomi tersebut dirasa penting karena
adanya keterkaitan antara kredibilitas pelaku ekonomi PAH dan HPAH,
pemenuhan kebutuhan masyarakat, dan stabilitas ekonomi daerah. Disarankan
untuk memperbanyak surveyer atau auditor dari pihak Dinas Kabupaten dan
Provinsi untuk memperlancarkan urusan survey dan audit pada unit usaha di daerah.
Selain itu, seksi Kesmavet juga melakukan pengawasan peredaran produk
hewan dan produk hewan non pangan sampai di tingkat konsumen untuk menjamin
agar PAH yang beredar di masyarakat telah memenuhi kriteria ASUH, mencegah
terjadi penyimpangan atau pemalsuan yang menyangkut keamanan dan mutu PAH,
dan membina serta menertibkan semua unit usaha yang melakukan produksi,
pengolahan, peredaran/pengangkutan, penyimpanan, dan penjajaan PAH.
Pengawasan produk hewan di wilayah Kabupaten Bogor dilakukan di 5 (lima)
target sasaran, yaitu pengecer/ritel di pasar tradisional dan pasar swalayan, importir
produk hewan di gudang kering dan cold storage, unit usaha produk hewan yang
mengeluarkan produk ke wilayah lain, unit usaha produk hewan non pangan, serta
tempat terjadinya peredaran produk hewan illegal.
Seiring dengan kebijakan importasi daging dan pendistribusiannya yang
tanpa batas, pengawasan daging impor menjadi lebih luas. Oleh karena itu,
disarankan untuk memperketat lagi pengawasan di karantina. Serta meningkatkan
upaya kerjasama antara pihak Dinas dan Karantina bagi mengawasi lokus daging
import dan distribusi tanpa batas. Selain itu, pihak Dinas juga bisa mengajukan
kebijakan untuk membina sebuah aplikasi software dengan senarai PAH dan HPAH
bertujuan untuk memasukkan aduan tentang penyimpangan produk tersebut yang
beredar di pasaran dan info peredaran produk hewan illegal. Aplikasi tersebut bisa
diunduh oleh konsumer via playstore atau apps store dan diakses pada handphone.
Hal ini akan memudahkan pihak Dinas, Karantina dan Kementerian terkait untuk
memonitor peredaran produk PAH dan HPAH di pasaran.
Seksi Kesmavet juga melakukan pengambilan dan pemeriksaan sampel
produk hewan dengan tujuan mengetahui keadaan fisik, kimiawi, cemaran mikroba,
residu antibiotik, dan penggunaan bahan tambahan berbahaya pada produk hewan
dan ikan yang beredar di masyarakat, mengetahui adanya bentuk pemalsuan melalui
pencampuran daging babi pada daging sapi, serta adanya pemalsuan pada daging
unggas. Pelaksanaan pemeriksaan dan pengujian produk hewan berupa susu dan
daging segar dilakukan melalui pemeriksaan di laboratorium Kesmavet DKI untuk
pengujian cemaran mikroba dan residu antibiotik. Kemudian, dilakukan juga
pemeriksaan menggunakan toolkits uji cepat (rapid test) untuk pengujian formalin,
boraks, methylene yellow, Rhodamin B, spesies dan uji kesegaran daging ayam
(ayam tiren) yang dilaksanakan oleh petugas pengambil dan penguji sampel produk
hewan UPT Puskeswankan wilayah. Hasil pemeriksaan cemaran mikroba terhadap
9

susu sapi yang diambil dari penternak di wilayah Kabupaten Bogor tahun 2017
menunjukkan 100% sampel susu mengandung Coliform di atas standar batas
maksimum cemaran mikroba SNI-7388-2009 dan 53.33% mengandung bakteri
E.coli. adalah penting pihak Dinas merespon dengan pembinaan dan sosialisasi
terutamanya menjaga higiene sanitasi proses produksi dan penanganan produk
kepada para penternak sapi perah.
Temuan sampel bakso daging terindikasi mengandung spesies babi telah
menyebabkan wujudnya tindak lanjut langkah penertiban, pembinaan dan
pengawasan intensif melibatkan Satgas Pangan Polres Bogor, PPNS, Pegawai
Kesmavet. Petugas UPT Puskeswankan wilayah serta Unit Pasar Setempat.
Penyitaan turut dilakukan kepada pemilik dan pekerja di unit penggilingan bakso
yang menacmpurkan bakso dengan daging celeng. Oleh karena itu, disarankan
sangat penting untuk pihak Dinas melakukan sosialisi secara rutin kepada
masyarakat pasar dan konsumen dalam rangka menambah kewaspadaan peredaran
produk ini.
Inventarisasi prakiraan jumlah calon hewan kurban dan tempat penjualan
hewan kurban yang disertai dengan pemeriksaan kesehatan calon hewan kurban
dilaksanakan mulai H-15 sampai dengan H-1 menjelang Hari Raya Idul Adha. Pada
setiap tahun, seksi Kesmavet akan melakukan; a) persiapan pelaksanaan yang
meliputi pembuatan jadwal kegiatan, pembuatan SKKH, dan juknis kurban,
pembuatan SK petugas, dan penjajakan kerjasama dengan IPB; b) sosialisasi
pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan menular dan zoonosis; c)
pengembangan kader penanganan hewan kurban. Pada Hari Raya Idul Adha
dilaksanakan acara pelepasan petugas pemeriksa hewan kurban yang dilanjutkan
dengan pemeriksaan ante mortem dan post mortem hewan kurban kemudian ditutup
dengan rapat evaluasi dan pelaporan. Saran yang dapat dilakukan adalah ekspansi
lokasi sosialisasi ke wilayah dengan populasi berisiko penyakit zoonotik sehingga
tujuan promotif dan preventif pun semakin dekat untuk tercapai.
Pembinaan peternak sapi perah dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan
sampel susu di laboratorium melalui surat formal disertai dengan analisis dan saran
tindak lanjutnya. Di samping itu, dilakukan kunjungan dan pertemuan langsung (on
the spot) ke kelompok peternak sapi perah untuk dilakukan pembinaan mengenai
good manufacturing practices (GMP) yang di dalamnya mencakup: 1) good
farming practices; 2) good handling practices; 3) good hygiene and sanitation
practices; serta 4) good distribution practices. Adapun target pembinaan peternak
sapi perah mencakup enam kelompok peternak sapi perah KUNAK KPS Bogor,
lima kelompok KUD Giri Tani, dan KANIA yang mencakup wilayah empat
kecamatan. Rancangan kegiatan pembinaan peternak sapi perah oleh seksi
Kesmavet ini sudah dirasa cukup untuk keperluan peternak.
Kegiatan Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner, Bidang Keswanvet, Dinas
Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor tahun 2017 juga memiliki kegiatan
sosialisasi keamanan pangan. Kegiatan sosialisasi keamanan pangan memiliki
beberapa tujuan, diantaranya, meningkatkan pengetahuan dan kesadaran bagi
konsumen, khususnya kader posyandu-PKK Kabupaten Bogor serta pedagang
produk hewan di pasar tradisional tentang kriteria produk hewan yang aman dan
layak untuk dikonsumsi serta diperjualbelikan sehingga menciptakan sistem
keamanan pangan di masyarakat. Selain itu, membentuk opini publik tentang arti
pentingnya sistem keamanan pangan produk hewan bagi kesehatan manusia.
10

Rancangan kegiatan sosialisasi keamanan pangan oleh seksi Kesmavet ini sudah
dirasa cukup untuk keperluan masyarakat secara umum.

Kegiatan yang dilaksanakan:


Pengamanan Hewan dan Daging Kurban Hari Raya Idul Adha 1438 H / 2017

Program ini dilaksanakan sepanjang persiapan Hari Raya Idul Adha pada
Agustus 2017 bertempat di sekitar 40 kecamatan di Wilayah Kabupaten Bogor.
Program ini melibatkan sebanyak 300 orang koordinator dan pengurus DKM yang
terdiri daripada petugas dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor dan
mahasiswa FKH-IPB. Panitia telah dibekalkan penyuluhan berbentuk kuliah,
pamflet, buku pengantar, dan DVD tentang materi terkait Kurban oleh Dinas
Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor. Adapun terdapat beberapa masalah
dan tantangan yang menjadi pertimbangan dalam pelaksaan kegiatan ini antara lain
seperti;
1. Pemotongan ternak pada Hari Raya Idul Adha tidak semua dilaksanakan di
RPH-R.
2. Tingginya lalu lintas ternak antar daerah sebagai calon hewan kurban
menjadi faktor resiko penularan penyakit zoonosis.
3. Wilayah Kabupaten Bogor memilik 7 (tujuh) kecamatan endemis antraks dan
3 (tiga) kecamatan pemekaran out break yang bisa muncul jika tidak
dilakukan pencegahan.
4. Rendahnya pengetahuan dan kurang kepedulian masyarakat danlam
menyelenggarakan penyembelihan, penanganan hewan Kurban serta
distribusi daging kurban dari aspek higiene sanitasi.

Tujuan program ini dijalankan adalah untuk memberikan sosialisasi kepada


masyarakat tentang tatacara menyeleksian, penerapan kesejahteraan hewan calon
hewan Kurban, penyembelihan hewan kurban yang baik dan benar serta
penanganan dan pendistribusian daging serta hasil ikutannya. Disamping itu
manfaat dari kegiatan ini adalah hewan kurban yang disembelih adalah mengikut
syariat Islam, sehat dan daging atau jeroannya dihasilkan layak dikonsumsi
masyarakat. Disamping itu, terwujudnya ketenteraman bathin masyarakat terhadap
produk pangan asal hewan yang halalan thoyyiban, layak dan aman untuk
dikonsumsi. Realisasi kegiatan ini terdiri kepada beberapa kegiatan seperti berikut;

Pemeriksaan kesehatan calon hewan kurban.


Pemeriksaan dimulai dari “H-10” sampai hari “H” melibatkan petugas Dinas
serta paramedis veteriner Kementerian Pertanian yang dilakukan di kandang
penampungan maupun di tempat penjualan hewan kurban yang berada di sepanjang
jalan di wilayah Kabupatan Bogor. Pemeriksaan mencakup aspek fisik, klinis dan
aspek umur yang merupakan salah satu syarat syar’i hewan kurban. Penerapan
kesejahteraan hewan selama di tempat penampungan juga disosialisasikan kepada
para pedagang ternak kurban.
Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dikeluarkan setelah hasil
pemeriksaan oleh petugas menunjukkan bahwa ternak memenuhi syarat. Selain itu,
11

kalung sehat juga diberikan kepada ternak yang sehat yang layak untuk disembelih.
Sebagai evaluasi mempertimbangkan faktor risiko terhadap kejadian penyakit serta
memudahkan penelurusan balik terhadap sesuatu out break, para petugas mendata
karakteristik jumlah pedagang, jenis dan jumlah ternak, asal daerah, kondisi tubuh
ternak, fasilitas tempat penampungan ternak di lapak jualan dan mensosialisasikan
higiene sanitasi lapak tetap terjaga.
Berdasarkan rekapitulasi data karakteristik di pedagang ternak menjelang hari
raya Idul Adha 1438 H/ 2017 di wilayah Kabupaten Bogor, jumlah ternak adalah
sebanyak 40,613 ekor dengan jenis hewan domba (50,4%), sapi 28,9%, kambing
(19,6%) dan kerbau (1.1%). Hal ini adalah tersasar dari jumlah calon hewan kurban
yang diantisipasi yaitu sebanyak 35,000 ekor. Dari pemeriksaan petugas, 68%
ternak yang disertai SKKH daerah asal dan 94,2% semua ternak adalah sehat.
Pemeriksaan SKKH dari petugas penting sebagai penyataan hewan tersebut
pada saat pemeriksaan tidak menunjukkan tanda penyakit menular dan dapat
dipindahkan dan untuk mengeluarkan SKKH, hewan harus diperiksa oleh anggotan
Dinas atau petugas yang familier dengan status kesehatan terbaru hewan tersebut
(iSIKHNAS 2014). Selain itu, hewan yang sakit diobati sehingga dinyatakan
sembuh dan layak disembelih. Saran yang dapat diberikan, selain memaksimakan
pemeriksaan SKKH pada semua ternak calon hewan kurban di semua lapak di
sekitar wilayah Kabupaten Bogor, recording yang lebih intensif harus dilakukan
kepada semua penjual ternak kurban di lapak sebagai antisipasi out break serta
memberikan sosialisasi kepada penjual kepentingan ternak mendapatkan SKKH
sebelum dapat dijual kepada masyarakat.

Sosialisasi pencegahan dan pengendalian penyakit hewan menular.


Kegiatan ini melibatkan UPT Puskeswan wilayah dengan sasaran kepada
Kepala Desa/Lurah, pengurus BPD dan instansi terkait serta dilaksanakan pada
sepuluh kecamatan yaitu, kecamatan Jonggol, Babakan Madang, Cietereup,
Cibinong, Tajur Halang, Sukaraja, Klapanunggal, Bojong Gede, Sukamakmur dan
Cileungsi. Tujuh daripadanya kecamatan endemis antraks. Selain itu, kegiatan ini
dilakukan melalui media siaran radio di beberapa stasiun radio tempatan. Saran
yang dapat diberikan adalah diperluaskan lagi daerah kegiatan sosialisasi ke
kecamatan lain supaya kesedaran pemimpin masyarakat dapat dipertingkatkan dan
antisipasi out break pada daerah kecamatan yang berpotensi. Selain itu,
pemanfaatan media sosial seperti medium Twitter, Youtube dan Facebook untuk
tujuan memaksimalkan penyebaran info-info terkait pencegahan dan pengendalian
penyakit hewan menular ke semua lapisan masyarakat terutama golongan belia.
Penyebaran info boleh diadakan dalam bentuk gambar poster dan video pendek.

Pengembangan kader penanganan hewan kurban.


Kegiatan ini dilaksanakan secara rutin dari bulan Juli hingga Agustus 2017
menjelang Hari raya Idul Adha. Tujuan diadakam untuk menambah dan
membekalkan pengetahuan kepada perwakilan DKM sebanyak 240 orang dan
Panitia Idul Kurban dalam pemeriksaan hewan dan daging kurban di 13 kecamatan
yang berstatus endemis dan padat pemotongan hewan kurban. Kerjasama Dinas
turut melibatkan MUI Kabupaten Bogor, National Zoonosis Centre FKH-IPB dan
LSM CIVAS. Kegiatan ini mencakup pemberian materi dan diskusi serta praktik
12

langsung penyembelihan dan pemeriksaan ante mortem dan post mortem,


kesehatan hewan dan daging kurban serta aspek halal penyembelihan.
Saran yang dapat diberikan adalah menggalakkan DKM di seluruh Kabupaten
Bogor mendaftar untuk kegiatan ini karena memberikan manfaat postif pada
masyarakat. Hal ini terbukti apabila beberapa DKM juga secara mandiri dengan
melibatkan Dinas melakukan kegiatan ini. Selain itu, perlunya upaya menarik minat
peserta dari golongan muda untuk memaksimalkan tenaga muda untuk operasional
kegiatan kurban.

Penyembelihan dan karakteristik tempat pemotongan hewan kurban.


Kegiatan ini melibatkan petugas dan mahasiswa FKH-IPB sebagai
pemeriksa. Terjadi peningkatan total pemotongan hewan kurban (terutama hewan
besar) dan titik pemotongan dibandingkan dengan Idul Adha tahun sebelumnya.
Hal ini menjadikan jumlah petugas dan mahasiswa pemeriksa harus ditingkatkan
pada tahun seterusnya. Berdasarkan karakteristik tempat dan fasilitas pemotongan
hewan kurban, masih banyak kekurangan dalam memerhatikan kepentingan
kesejahteraan hewan kurban dan praktik higenis sanitasi saat penanganan karkas
dan daging.
Antaranya adalah lokasi penampungan dan penyembelihan tidak diberikan
pembatas dan tertutup bagi yang tidak berkepentingan serta hewan ditambatkan di
tempat terbuka sehingga menimbulkan stress pada ternak, kekurangan tempat
penampungan khusus hewan kurban dan tidak cukup ketersediaan air selama
penampungan dan penyembelihan. Karakteristik proses penyembelihan dan
pemotongan juga menunjukkan tempat pembuangan darah, isi perut dan usus masih
dilakukan di selokan, langsung di tanah dan tempat pembuangan sampah. Begitu
juga perlaksanaan pemotongan daging masih banyak hanya beralaskan plastik dan
tidak di meja khusus. Saran yang dapat diberikan adalah pihak Dinas melakukan
pengawasan dan sosialisasi ke titik-titik penyembelihan lebih awal untuk
memberikan saran sebagai persediaan pemotongan yang memenuhi kesejahteraan
hewan dan mempraktikkan higienis serta mengurangi penyebaran bakteri dan
penyakit asal darah dan isi jeroan.

Pemeriksaan ante mortem dan post mortem di tempat pemotongan hewan.


Pemeriksaan ante mortem bertujuan untuk mendeteksi secara dini penyakit
hewan yang akan dipotong dan kelayakan hewan kurban. Pemeriksaan post mortem
dilaksanakan segera setelah hewan disembelih bertujuan mengenali kelainan
bentuk daging, saluran pernapasan dan saluran pencernaan, meneguhkan hasil ante
mortem serta menjamin kualitas dan kamanan daging serta hasilnya. Pada Idul
Adha tahun 2017, pemeriksaan secara umum tidak menunjukkan gejala yang
mengarah kepada penyakit hewan menular. Namun terdapat kelainan pada organ
hati, paru-paru dan limpa. Kelainan tersebut berupa fasciolosis, pneumonia,
hepatisasi, empisema dan lain-lain. Di lapangan, petugas umumnya
memperlakukan dan menyarankan kasus seperti fasciolosis, gangguan paru dan hati
dengan cara mengafkir sebahagian atau seluruh hati hewan yang dipotong. Usaha
untuk pemeriksaan ante mortem dan post mortem yang telah dilakukan adalah
berkesan sehingga dapat membekalkan hasil daging kurban yang baik dan tanpa
kelaianan pada masyakat hingga saran yang dapat diberikan adalah memaksimalkan
usaha pemeriksaan ini di banyak titik pemotongan sehingga dapat mencegah lebih
13

banyak kebarangkalian hewan sakit dipotong dan daging serta organ yang tidak
sehat diterima oleh masyarakat.

Supervisi kegiatan dan posko pelayanan.


Supervisi dilaksanakan oleh Dinas untuk mengetahui permasalahan yang
ditemukan di lapangan dan mengetahui pemeriksaan kesehatan hewan dan daging
sesuai dengan prosedur. Saran yang dapat diberikan adalah supervisi turut
dilakukan dengan cara pendekatan sosialisasi dengan tujuan edukasi pada
masyarakat. Hal ini dibutuhkan karena saat monitoring, supervise akan
menyinggung kesehatan daging ditempat pemotongan meliputi higiene personal
petugas dan pengemas daging, pemisahan heroan merah dan hijau saat pengemasan,
pendistribusian daging tidak lebih dari 4 jam dan lubang bekas tempat
penyembelihan dan tempat penampungan darah serta isi rumen segera ditutup dan
ditaburi kapur.
Untuk memberikan pelayanan yang optimal pada masyarakat mengenai
pengamanan hewan kurban khususnya penyakit zoonosis, pihak Dinas menyediaan
Posko Pengamanan Hewan di kantor Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten
Bogor. Sebagai usaha optimum dan mengikut peredaran zaman, pihak Dinas bisa
menggunakan “kuasa viral” media sosial sebagai medium komunikasi dua hala
antara masyarakat setempat dengan pihak Dinas. Masyarakat moden mengunakan
media sosial untuk memasukkan pertanyaan ke pihak Dinas dan pihak Dinas juga
lebih mudah dan cepat menanggapi pertanyaan oleh masyarakat.

SEKSI PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT HEWAN


(P3H)

Pengendalian penyakit hewan merupakan salah satu faktor yang sangat penting
dalam mengoptimalkan potensi peternakan di Kabupaten Bogor. Selain itu,
Kabupaten Bogor juga memiliki faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap
pengoptimalan potensi yang ada, yaitu:
1. Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah penyangga ibukots (Jakarta)
dalam hal penyediaan bahan pangan asal hewan, dimana akan dituntut
jaminan kualitas dan kuantitas.
2. Kondisi wilayah Kabupaten Bogor yang memiliki beberapa daerah tertular
dan terancam Penyakit Hewan Menular Startegis/PHMS (Anthrax, AI,
Brucellosis, SE, dan Rabies).
3. Tingginya lalu lintas ternak, baik dari dalam maupun keluar Kabupaten
Bogor.
Dengan melihat kondisi tersebut di atas, maka perlu adanya program
pengendalian
penyakit hewan secara berkesinambungan melalui kegiatan pemeliharaan
kesehatan dan pencegahan penyakit menular ternak yang dibiayai melalui dana
APBD Kabupaten Bogor tahun 2017. Kegiatan pemeliharaan kesehatan dan
pencegahan penyakit menular ternak yang dilaksanakan meliputi:
1. Vaksinasi rabies dan eliminasi anjing liar
14

2. Vaksinasi anthrax
3. Vaksinasi SE
4. Vaksinasi Brucellosis
5. Vaksinasi AI
6. Pengawasan instalasi Karantina Hewan
7. Sosialisasi penyakit hewan menular dan zoonosis
8. Surveillance penyakit hewan
9. Pemeriksaan sampel darah ternak
10. Pengawasan penanganan satwa pada lembaga konservasi satwa liar
11. Pengawasan lalu lintas hewan dan kesejahteraan hewan di pasar hewan.

Kegiatan Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan (P3H)

Sosialisasi Penyakit Hewan Menular dan Zoonosis


Sosialisasi penyakit hewan menular dan zoonosis merupakan salah satu
faktor penunjang keberhasilan kegiatan pengendalian penyakit hewan menular dan
zoonosis (Rabies, Anthrax, brucellosis, SE dan AI). Sosialisasi ini dilaksanakan
melalui rapat mingguan baik di desa maupun kecamatan, melalui majlis taklim,
posyandu ataupun pertemuan kelompok peternak, dan dilakukan dengan cara
menyebarkan brosur dan poster.

Vaksinasi Rabies dan Eliminasi Anjing Liar


Pencegahan dan pengendalian penyakit rabies yang dilaksanakan melalui
kegiatan vaksinasi adalah untuk mempertahankan status Bebas Rabies Jawa Barat
yang dicanangkan pada Tahun 2018 dan Indonesia Bebas Rabies pada Tahun 2020.
Kegiatan vaksinasi rabies juga bertujuan untuk mengantisipasi kejadian kasus
positif rabies di beberapa kabupaten di Jawa Barat yang berbatasan langsung
dengan Kabupaten Bogor (Kabupaten Sukabumi dan Cianjur). Pelaksanaan
vaksinasi meliputi seluruh wilayah Kabupaten Bogor (40 kecamatan) dengan
melibatkan petugas teknis (medis/paramedis) yang ada pada setiap UPT
Puskeswankan di wilayahnya masing-masing dan dibantu oleh aparat desa
setempat.

Vaksinasi Anthrax
Salah satu tindakan pencegahan penyakit Anthrax adalah dengan
pelaksanaan vaksinasi atau pemberian kekebalan terhadap ternak rentan Anthrax
(sapi, kerbau, domba, kambing, kuda dan babi) yang ada di wilayah endemis
anthrax serta daerah padat sapi perah atau sapi potong. Lokasi kegiatan vaksinasi
Anthrax dilaksanakan di 14 Kecamatan dari 40 Kecamatan yang ada di Kabupaten
Bogor yang merupakan daerah endemis Anthrax. .

Vaksinasi Septicaemia Epizootica (SE)


Pengendalian SE dilaksanakan melalui vaksinasi secara berkala untuk
mencegah munculnya kasus penyakit SE. Penyakit SE merupakan salah satu
penyakit hewan menular yang berdampak cukup besar terhadap kerugian ekonomi.
15

Vaksinasi SE dilakukan pada ternak-ternak besar (sapi dan kerbau) milik


masyarakat. Vaksinasi ini hanya merupakan stimulan dan selanjutnya masyarakat
(khususnya skala usaha) diharapkan dapat berswadana untuk melaksanakan
vaksinasi SE sehingga seluruh hewan besar wajib vaksinasi dapat tervaksin secara
keseluruhan. Pelaksanaan kegiatan vaksinasi SE ditunjang dengan pengadaan kartu
vaksinasi dan brosur SE.

Vaksinasi Brucellosis
Pengendalian penyakit brucellosis di Kabupaten Bogor telah dilaksanakan
sejak tahun 1998. Berdasarkan prevalensi dan perkembangan penyakit yang cukup
tinggi serta kebijakan pemberantasan brucellosis di Pulau Jawa, maka sejak tahun
2004 telah dilaksanakan vaksinasi brucellosis pada ternak betina muda (umur 4-12
bulan) dan ternak betina induk (laktasi).

Vaksinasi Avian Influenza (AI)


Sejak tahun 2004 Kabupaten Bogor telah dinyatakan sebagai daerah tertular
penyakit AI. Mulai akhir tahun 2005 penyakit AI telah meluas dan menulari ayam
buras yang dipelihara secara back yard farming (dipelihara secara ekstensif di
perumahan–perumahan) sehingga upaya pengendalian perlu diintensifkan.
Pengendalian penyakit AI dilaksanakan dengan vaksinasi yang meliputi seluruh
wilayah Kabupaten Bogor dan diutamakan untuk peternakan sektor 4 (perumahan-
perumahan) yang dikandangkan. Peternakan dengan skala usaha sektor 1, 2 dan 3
wajib melaksanakan vaksinasi AI secara swadana.

Surveillance Penyakit Hewan


Kegiatan surveillance penyakit hewan dimaksudkan untuk mengamati
situasi dan kondisi penyakit hewan menular terutama di wilayah endemis dan
terancam penyakit hewan menular (Anthrax, Rabies, Brucellosis, AI, dan SE).
Pelaksanaan surveillance secara intensif, diharapkan dapat meningkatkan sistem
kewaspadaan dini sehingga situasi penyakit dapat terpantau dan pada penyebaran
penyakit dapat dikendalikan.

Pemeriksaan Sampel Darah Ternak


Pemeriksaan sampel darah hewan/ ternak bertujuan untuk mengetahui
tingkat kekebalan hewan/ ternak tersebut terhadap penyakit hewan menular yang
masih endemis maupun mengancam wilayah Kabupaten Bogor yaitu Avian
Influenza (AI). Tingkat kekebalan ini akan muncul dua minggu post vaksinasi.
Pengambilan sampel darah dilakukan oleh petugas medik/paramedik yang ada di
masing-masing UPT Puskeswankan yang melaksanakan vaksinasi tersebut.
Pengawasan Instalasi Karantina Hewan (IKH)
Kebijakan penetapan Instalasi Karantina Hewan (IKH) di masing-masing
perusahaan importir maupun eksportir ternak/hewan/bahan baku pakan ternak
disebabkan karena pemerintah (Badan Karantina–Departemen Pertanian) belum
dapat menampung ternak/hewan/bahan baku pakan ternak tersebut yang akan
dieksport maupun diimport dalam kurun waktu masa karantina. Oleh karena itu,
16

diperlukan kegiatan pengawasan oleh dinas terkait di daerah lokasi IKH perusahaan
berada yang dalam hal ini untuk Kabupaten Bogor dilakukan oleh Dinas Perikanan
dan Peternakan. Pengawasan IKH dilakukan pada perusahaan pembibitan ayam ras,
penangkaran satwa liar dan perusahaan penggemukan sapi potong/feedlotter.

Pengawasan Penanganan Satwa pada Lembaga Konservasi Satwa Liar


Pengawasan penanganan satwa pada lembaga konservasi satwa liar
bertujuan untuk mengawasi satwa-satwa liar yang dilindungi oleh Negara.
Pengawasan bertujuan untuk melindungi satwa liar dari perlakuan-perlakuan yang
bertentangan dengan azas kesejahteraan hewan, pemanfaatan satwa liar untuk
kepentingan-kepentingan lain yang bertentangan dengan hukum yang berlaku.

Pengawasan Lalu Lintas Hewan dan Kesejahteraan Hewan di Pasar Hewan


Pengawasan lalu lintas hewan dan kesejahteraan hewan di pasar hewan
bertujuan untuk mencegah penularan penyakit dari dan ke Kabupaten Bogor, untuk
melihat penerapan kesejahteraan hewan (five freedom) terutama yang menyangkut
sarana dan prasarana pasar hewan yang akan memberikan kenyamanan pada hewan
yang akan diperjualbelikan. Selain itu, untuk pengawasan pada azas transportasi,
penurunan dan penaikan hewan saat di pasar hewan. Hewan yang dijual di pasar
hewan akan terbebas dari penyakit traumatis terutama penyakit yang menular dan
zoonosis. Pengawasan ini dilakukan terutama di sentra-sentra perdagangan ternak
yaitu pasar hewan.

Workshop Penyakit Eksotik


Pelaksanaan workshop penyakit hewan eksotik merupakan salah satu media
untuk meningkatkan pengetahuan bagi petugas medis dan paramedis Dinas
Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor. Narasumber workshop berasal dari
perguruan tinggi dan LPPM Negeri.

Pembahasan Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan (P3H)

Rabies merupakan zoonosis di Bogor karena banyaknya anjing liar yang


berkeliaran di sekitar pemukiman warga dan berisiko menularkan penyakit tersebut
kepada anjing-anjing peliharaan warga yang dilepasliarkan. Strategi pengendalian
yang dilakukan dinas peternakan khususnya seksi P3H meliputi vaksinasi dan
eliminasi. Vaksinasi yang dilakukan pada populasi anjing di kecamatan-kecamatan
di Kabupaten Bogor diberikan secara stimulan. Hal ini diharapkan agar warga dapat
menyadari pentingnya vaksinasi dan dapat melakukan vaksinasi untuk anjing
peliharaannya untuk mencegah terjadinya penularan rabies dari anjing liar ke anjing
peliharaan. Penyadaran dan pengetahuan ini perlu diketahui oleh masyarakat
khususnya pemilik anjing sehingga pelaksanaan vaksinasi tidak terhambat karena
kurangnya kesadaran masyarakat. Maka perlu disertai dengan adanya sosialisasi
mengenai penyakit rabies, pemeriksaan antibodi pada sampel darah hewan/ternak
setelah vaksinasi, dan surveillance untuk mengontrol status penyakit tersebut di
17

Bogor. Eliminasi yang dilakukan pada anjing liar bertujuan untuk menghindari agen
dari inang menular ke inang yang lain.
Anthrax, SE, dan brucellosis merupakan penyakit yang menyerang hewan
ternak dan mengakibatkan kerugian ekonomi cukup tinggi pada peternak. Strategi
pengendalian yang dilakukan dinas peternakan khususnya seksi P3H untuk
penyakit Anthrax adalah vaksinasi di 14 Kecamatan di Kabupaten Bogor. Vaksinasi
diberikan dalam dua tahap dengan jarak waktu 4 bulan dari vaksinasi tahap satu ke
vaksinasi tahap dua. Kegiatan vaksinasi yang disertai dengan sosialisasi pada
masyarakat dan surveillance sudah sesuai dan diharapkan dapat mencegah
terjadinya penyakit Anthrax serta mengurangi kerugian ekonomi yang
diakibatkannya.
Tindakan pencegahan untuk penyakit SE dan brucellosis adalah vaksinasi.
Vaksinasi dilakukan satu tahap. Vaksinasi yang dilakukan disertai dengan
sosialisasi pada masyarakat dan surveillance. Sosialisasi pada masyarakat
merupakan tahap penting, mengingat ada masyarakat yang menolak vaksinasi
untuk ternaknya. Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut adalah
dengan melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat setempat agar warganya
mengetahui akan pentingnya vaksinasi.
Avian Influenza (AI) merupakan penyakit penting yang menyerang unggas
dan dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi untuk peternak. Tindakan
pencegahan yang dilakukan adalah vaksinasi. Vaksinasi dilakukan dalam 3 tahap.
Vaksinasi yang dilakukan disertai dengan sosialisasi pada masyarakat, pemeriksaan
sampel darah dan surveillance. Sosialisasi pada masyarakat merupakan tahap
penting mengingat kerugian ekonomi yang ditimbulkannya. Tindakan pencegahan
dan pengendalian yang dilakukan sudah sesuai dan diharapkan dapat mengurangi
kejadian penyakit AI di lingkungan terutama di daerah endemis dan daerah
sekitarnya.
Tindakan karantina terhadap ternak/hewan/bahan baku pakan ternak
bertujuan untuk mencegah penularan penyakit akibat adanya importasi maupun
eksportasi. Kegiatan pengawasan IKH bertujuan agar fasilitas yang dipergunakan
sebagai instalasi karantina sesuai dengan standar yang ditetapkan, yang meliputi
pemantauan penanganan dan fasilitas yang khusus dipergunakan untuk tindak
karantina.

Kegiatan yang Disarankan: Pengendalian Penyakit Bruselosis

Bruselosis adalah penyakit utama pada ternak ruminasia yang menyebabkan


kegagalan reproduksi. Bruselosis juga merupakan penyakit zoonosis yang
menyebabkan dampak ekonomi yang cukup besar walau mortalitasnya tidak terlalu
tinggi. Pengendalian bruselosis mengacu pada Program dan Pedoman Teknis
Pemberantasan Bruselosis pada sapi perah di Pulau Jawa (Ditjennak 2017). Metode
yang digunakan adalah metode pemberantasan test and slaughter karena
prevalensinya dianggap kurang dari 2%, sehingga program vaksinasi belum perlu
dilakukan. Sistem tersebut kurang efektif untuk pengendalian bruselosis.
Berdasarkan pertimbangan tersebut maka mulai tahun 2005, pemerintah telah
18

mencanangkan program pengendalian bruselosis pada sapi perah di Pulau Jawa


melalui kombinasi program vaksinasi di daerah tertular/ prevalensi >2% memakai
vaksin B. abortus RB.51 dan sistem test and slaughter pada daerah bebas
bruselosis/ prevalensi <2%.
Sulitnya melakukan pemberantasan dan penanggulangan pengendalian
bruselosis pada sapi perah disebabkan tingginya populasi serta sanitasi dan higiene
kandang yang kurang memadai memudahkan penularan penyakit melalui kontak
langsung. Tidak terlihatnya gejala klinis pada ternak reaktor bruselosis, sukarnya
monitoring lalu-lintas ternak, belum optimalnya pelaksanaan test and slaughter,
tidak sesuainya biaya kompensasi dengan jumlah kasus, pemakaian vaksin B.
abortus S19 di beberapa daerah, dan belum optimalnya keikutsertaan petani.
Kerugian ekonomi yang disebabkan oleh bruselosis mencapai 138.5 milyar
rupiah per tahun. Oleh sebab itu, sangat diperlukan suatu program yang bersifat
menyeluruh untuk melakukan pemberantasan dan pengendalian penyakit pada sapi,
terutama pada sapi perah. Potensi pengembangan sapi perah di Kabupaten Bogor
cukup baik. Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah pemasok kebutuhan
susu untuk daerah jabodetabek. Oleh karena itu, pengendalian bruselosis di
Kabupaten Bogor harus tetap berjalan sebab populasi hewan rentan bruselosis di
Kabupaten Bogor terutama daerah pengembangan sapi, yaitu Kecamatan Cisarua,
Pamijahan, Cibungbulang, Cijeruk, dan Caringin.

Program Pengendalian PHMS Bruselosis


Program pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan dilakukan secara
bertahap berdasarkan prioritas yang dikenal sebagai penyakit strategis yaitu yang
memiliki nilai ekonomi tinggi, memiliki eksternalitas tinggi dan berpotensi
mengancam kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, dalam program pengendalian
dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis seperti penyakit bruselosis
yang mendapatkan prioritas dan perhatian khusus di tingkat nasional karena
kerugian ekonomi dan dampak kesehatan masyarakat yang ditimbulkan.

Penyuluhan
Penyuluhan dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan tentang
kerugian dan bahaya serta penanganan penyakit bruselosis. Penyuluhan dapat
dilakukan dengan cara sosialisasi kepada para peternak, dan melalui iklan layanan
masyarakat di radio-radio lokal. Adapan materi penyuluhan berisi tentang cara-cara
mengurangi kontak hewan tertular, desinfeksi kandang, dan menghindari
perkawinan antar pejantan dan betina yang mengalami bruselosis, serta pelaporan
pada petugas bila terdapat atau menemukan kasus.

Vaksinasi
Vaksinasi adalah bentuk pengendalian dan upaya dalam pembebasan
wilayah kabupaten Bogor dari bruselosis tahun 2030. Bentuk program kegiatan
yang dilakukan adalah vaksinasi menggunakan vaksin B. abortus RB51 dilakukan
19

pada daerah dengan prevalensi >2%, dimana vaksin diberikan pada semua sapi baik
yang tidak terinfeksi maupun sapi reaktor. Yang diasumsikan untuk 5000 ekor sapi

Test and Slaughter


Tujuan dari kegiatan ini adalah pencegahan penyebaran penyakit bruselosis
ke ternak maupun manusia. Hal ini dilakukan Sesuai dengan Surat Keputusan
Menteri Pertanian Nomor 828/Kpts/OT.210/10/98 tentang Pedoman
Pemberantasan Penyakit Hewan Keluron Menular (bruselosis) pada ternak, metode
pemberantasan dilaksanakan dengan cara test dan slaughter. test and slaughter
pada daerah tertular dengan prevalensi <2%. Ternak reaktor diberi tanda khusus
tidak boleh dipasarkan dan harus dipotong di RPH. Selain itu, dilakukan Pengujian
bruselosis secara teratur pertahun melalui pemeriksaan susu (Milk Ring Test) dan
darah (Rose Bengal Test/RBT dan Complement Fixation Test/CFT) terhadap
seluruh populasi sapi perah,umur 1 tahun ke atas.

Biosecurity (Isolasi, sanitasi, dan Pengawasan lalu lintas)


Biosecurity bertujuan untuk Mengawasi lalu lintas ternak antara kota/
kabupaten baik dari wilayah yang memiliki riwayat bruselosis maupun dari wilayah
yang tidak dilaporkan adanya kasus bruselosis. Pengawasan lalu lintas ternak.
Ternak yang masuk ke dalam wilayah Bogor harus dilengkapi dengan Surat
keterangan negatif Bruselosis yang berlaku selama satu tahun. Ternak yang baru
datang sebaiknya dipisahkan dengan ternak lain yang sudah lebih dahulu di dalam
peternakan. Selain itu, dilakukan desinfeksi pada kandang secara teratur, peralatan
kandang, produk dan produk sampingan unggas. Dilakukan culling yaitu
pemusnahan dari hewan penderita penyakit dalam suatu tempat tertentu. Serta
memisahkan antara ternak yang sakit, bunting, produksi tinggi, dan pedet.
Pengawasan lalu lintas hewan yang masuk dan keluar Kabupaten Bogor dilakukan
dengan mendirikan pos-pos pengawasan di perbatasan yang merupakan wilayah
lalu lintas ternak yang masuk atau keluar Kabupaten Bogor. Hal ini dilakukan untuk
meminimalisasi masuk atau keluarnya sapi yang positif bruselosis sehingga angka
prevalensi bruselosis dikabupaten Bogor dapat ditekan. Setiap hewan sebaiknya
mempunyai identitas baik dengan memakai eartag, tatoo ataupun microchip.
Pemberian identitas ini agar hewan mudah ditelusuri sehingga sistem traceability
bisa berjalan dengan baik.

Tabel 3 Rincian Biaya Pengendalian Bruselosis


Tahun 1
Waktu
Jumlah Harga Total
Jenis Biaya (bulan)
Fixed Cost
Gaji Supervisor 5 12 700 000 42 000 000
Gaji Dokter Hewan 5 12 750 000 45 000 000
Gaji Paramedis 5 12 500 000 30 000 000
Gaji Enumerator 5 12 500 000 30 000 000
20

Gaji Pegawai Administrasi 1 12 300 000 3 600 000


Gaji Bendahara 1 12 500 000 6 000 000
Gaji Pegawai Logistik 1 12 500 000 6 000 000
Survei 1 45 000 000 45 000 000
Beli ATK 1 - 300 000 300 000
Operasional kantor 1 12 500 000 6 000 000
Lain-lain 1 000 000
Subtotal 214 900 000
Variabel Cost
Vaksinasi 1000 1 15 000 15 000 000
Penyuluhan 5 1 3000 000 15 000 000
Ganti rugi sapi 800 12 3 000 000
2400000000
Subtotal 2430000000
Total biaya 214 900 000 + 2 430 000 000= 2 644 900 000

Tahun 2
Waktu
Jumlah Harga Total
Jenis Biaya (bulan)
Fixed Cost
Gaji tambahan Supervisor 5 12 700 000 42 000 000
Gaji tambahan Dokter Hewan 5 12 750 000 45 000 000
Gaji tambahan Paramedis 5 12 500 000 30 000 000
Gaji tambahan Enumerator 5 12 500 000 30 000 000
Gaji Pegawai Administrasi 1 12 300 000 3 600 000
Gaji Bendahara 1 12 500 000 6 000 000
Gaji Pegawai Logistik 1 12 500 000 6 000 000
45 000
Survei 1 45 000 000
000
Beli ATK 1 - 300 000 300 000
Operasional kantor 1 12 500 000 6 000 000
Lain-lain 1 000 000
Subtotal
214 900 000
Variabel Cost
Intervensi
Vaksinasi 2500 1 15 000 37 500 000
Ganti rugi hewan 500 3 000 000 1 500 000000
Subtotal 1537500000
Total biaya 214 900 000+ 1 537 500 000= 1 752 400 000
21

Tahun 3
Waktu
Jumlah Harga Total
Jenis Biaya (bulan)
Fixed Cost
Gaji tambahan Supervisor 5 12 700 000 42.000.000
Gaji tambahan Dokter Hewan 5 12 750 000 45.000.000
Gaji tambahan Paramedis 5 12 500 000 30.000.000
Gaji tambahan Enumerator 5 12 500 000 30.000.000
Gaji Pegawai Administrasi 1 12 300 000 3 600.000
Gaji Bendahara 1 12 500 000 6.000.000
Gaji Pegawai Logistik 1 12 500 000 6.000.000
Survei 1 45000000 45 000 000
Beli ATK 1 - 300 000 300000
Operasional kantor 1 12 500 000 6 000 000
Lain-lain 1 000 000
Subtotal
214900000
Variabel Cost
Intervensi
Vaksinasi 5000 1 15 000 75 000 000
Ganti rugi hewan 200 3 000 000 600000000
Subtotal 675000000
Total biaya 214 900 000 + 675 000 000= 889 900 000

Net Present Value (NPV)


NPV = PVB – PVC = 4 761 937 978 – 4 391 933 651= 370 004 327
Suatu proyek dapat diterima apabila PVB > PVC atau dengan kata lain nilai Net
Present Value (NPV) harus positif. Dalam proyek yang disusun nilai NPV telah
memenuhi syarat sehingga proyek dapat diterima.
Benefit – Cost Ratio (B/C)
B/C = PVB = 4 761 937 978 = 1.08
PVC 4 391 933 651
Suatu proyek dapat diterima apabila nilai B/C ratio lebih besar dari 1. Dalam proyek
yang disusun nilai B/C telah memenuhi syarat sehingga proyek dapat diterima.
Internal Rate of Return (IRR)
Nilai IRR dapat diperoleh dengan menggunakan program excel, terlampir pada
lampiran 2.
IRR = DR rendah + (DR tinggi – DR rendah) x NPV saat DR rendah
|NPV saat DR rendah| + |NPV saat DR tinggi|
= 21+ (22-21) x 17 297 829 = 21.5%
]17 297 829] + [ -14 513 693]

Discount rate yang digunakan saat PVB=PVC atau pada saat NPV=0 (21.5%) lebih
besar dari nilai discount rate minimal yang diterima (12%) sehingga proyek ini
memenuhi syarat dan dapat diterima.
22

SEKSI PELAYANAN KESEHATAN HEWAN DAN OBAT HEWAN


BIDANG KESWAN DAN KESMAVET
Pelayanan kesehatan hewan di Indonesia berpedoman pada Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Undang-undang
ini mengamanatkan bahwa pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan
merupakan penyelenggaraan kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan dalam
bentuk pengamatan dan pengidentifikasian, pencegahan, pengamanan,
pemberantasan dan/ atau pengobatan. Berdasarkan Undang-Undang tersebut, seksi
Pelayanan Kesehatan Hewan dan Obat Hewan mempunyai tugas pokok salah
satunya adalah Melaksanakan pemantauan, pembinaan dan pengawasan pelayanan
kesehatan hewan, serta dengan memperhatikan visi dan misi Dinas Perikanan dan
Peternakan Kabupaten Bogor yaitu “Mendukung terciptanya lingkungan yang
kondusif bagi masyarakat veteriner”. Agar tugas pokok ini dapat berjalan dengan
baik, perlu adanya suatu program yang dapat menjalankan tujuan dari pelayanan
kesehatan hewan dan obat hewan. Tujuan yang dimaksud antara lain :
1. Menyediakan sarana dan prasaran pelayanan kesehatan hewan dan obat
hewan
2. Mempercepat diagnose penyakit hewan secara akurat
3. Meningkatkan sisetem kewaspadaan dini terhadap penularan penyakit
pada ternak
4. Mengintensifkan penangnan kejadian kasus penyakit hewan
5. Memberikan rasa nyuaman kepada masyarkat dalam penyediaan ternak
dan produk hewan yang sehat an berkualitas
6. Memantau, mengawasi, pembuatan peredaran dan penggunaan obat
hewan famasetik, premiks dan vaksin di tingkat depo, toko, kios dan
pengecer obat hewan, farmasetik, pemiks, dan vaksin terlaksanan
dengan baik.
7. Melakukan pemantauan dan pengawasan pada praktek dokter hewan,
rumah sakit hewan, laboratorium keehatn hewan, paabrik obat hewan,
distributor obat hewan, depo/penecer obat hewan dan pemantauan alat
mesin kesehatan hewean terlaksana dengan baik.
8. Membina pelayanan kesahatan hewan di UPT Pusat kesehatan Hewan.
23

Keberhasilan suatu program kerja dapat dilihat dari hasil yang didapat apakah
memenuhi harapan yang diinginkan dan sesuai dengan tujuan dari pelayanan
kesehatan hewan dan obat hewan.

Pembahasan

Program kerja seksi Pelayanan Kesehatan Hewan dan Obat Hewan tahun
2018 memilki dua program kerja utama yaitu, Kegiatan pelayanan kesehatan hewan
serta kegiatan pelayanan dan pembinaan obat hewan. Pelayanan kesehatan hewan
ini mencakup pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (Promotif),
pencegahan penyakit (Preventif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitative) yang
dilaksanakan secara menyelururh, terpadu dan berkesinambungan. Dengan
pelayanan kesehatan hewan, pengendalian penyakit dan pengobatan terhadap
kasus-kasus penyakit yang timbul pada ternak-ternak milik masyarakat serta
kelompok-kelompok ternak yang ada di Kabupaten Bogor dapat tercapai. Target
sasaran dari program ini adalah ternak yang ada diwilayah kabupaten Bogor yang
terdiri dari 40 kecamatan, baik itu sapi maupun ayam serta masyarakat yang
langsung bersinggungan dengan ternak dalam hal ini adalah peternak. Alokasi dana
yang dianggarkan untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan sebesar Rp.
472.016.000,- (Empat ratus tujuh puluh dua juta enam belas ribu rupiah). Kegiatan
pelayanan kesehatan hewan meliputi :

1. Pelayanan kesehatan hewan


Kegiatan pelayanan terhadap kesehatan hewan ini bertujuan untuk
mengendalikan kejadian penyakit serta mengobati kasus-kasus penyakit yang
timbul pada hewan/ternak milik masyarakt serta kelompok-kelompok ternak
yang da di Kabupaten Bogor. Jenis pelayanan kesehatan hewan yang
dilaksanakan mempunyai tiga jensi pelayanan kesehatan yang meliputi,
Pelayanan aktif, semi aktif dan pasif. Pelayanan akitf adalah pelayanan yang
dilakukan melalui kunjugan dan soslialisasi tentang penyakit dan kesehatan
hewan ke kelompok peternak, pelayanan semi aktif adalah pelayanan ke lapang
berdasarkan laporan kejadian atau kasus penyakit dari peternak, sedangkan
pelayanan pasif adalah pelayanan terhadap pasien yang datang ke UPT
Puskeswan DAN kantor Diskanak. Kegiatan Pelayanan Kesehatan Hewan yang
dilaksanakan berapa pemeriksaan dan diagnose dalam rangka pengobatan
penyakit, pemeriksaan kesehatan hewan dalam rangka penerbitan Surat
Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), serta konsultasi masalah kesehatan
hewan dan kegiatan lain yang dapat mewujudkan status kesehatan hewan yang
baik.
Berdasarkan hasil pelaksanaan pelayanan pengobatan ternak yang sudah
dilakukan, terlihat kasus kejadian Chronic Respiratory Disease (CRD) pada
ayam mengalami kejadian paling tinggi, scabies dan helminthiasis berada
24

diurutan kedua dan ketiga kejadian penyakit di Kabupaten Bogor. Kondisi ini
dapat terjadi dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang Higiene
Sanitasi yang masih buruk serta upaya pencegahan melalui obat-obatan yang
tidak rutin diberikan. Untuk mengurangi hal tersebut, petugas medis dan
paramedis telah melaksanakan pembinaan kepada kelompok maupun
masyarakat pembudidaya tenak. Pembinaan tersebut dilakukan saat kegiatan
pelayanan kesehatan hewan.
Kegiatan pembinaan kepada masyarakat tadi dapat lebih dioptimalkan
dengan cara mengajak masyarakat juga berperan aktif dalam mencegah berbagai
kejadian penyakit. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak masyarakt beramai-
ramai untuk melapor ke pihak Dinas apabila ditemukan penyakit yang
menyerang ternak mereka. Punyuluhan tentang seberapa bahayanya jika tidak
segera melapor dapat dijadikan salah satu cara menarik minat masyarakat untuk
melapor. Hal yang dapat dilakukan selanjutnya untuk menarik minat masyarakt
melapor adalah adanya insentif kepada peternak yang melapor, insentif ini dapat
berupa uang atau pemberian obat cacing gratis.

2. Pembinaan dan pengawasan lalu lintas hewan/ternak


Kegiatan pengawasan lalu lintas hewan bertujuan untuk mencegah keluar
masuknya penyebab atau agen penyakit hewan dari luar daerah yang masuk ke
wilayah Kabupaten Bogor serta dapat meminimalisir penyebaran penyakit
hewan. Kegiatan pengawasan lalu lintas hewan ini meliputi pemeriksaan
kesehatan terhadap unggas, sapi, kucing, anjing, kelinci, kuda, kura-kura,
kambing dan domba yang diperjualbelikan dan juga pemeriksaan penerbitan
surat-surat hasil pemeriksaan kesehatan hewan antar kabupaten/kota. Agar
program ini dapat berjalan lebih optimal lagi, penambahan sumber daya manusia
(SDM) dalam melakukan audit terhadap kelengkapan dokumen seperti SKKH
(Surat Keterangan Kesehatan Hewan) dapat lebih terlayani, mengingat tingkat
arus lalu lintas perpindahan ternak di wilayah Kabupaten Bogor sangat tinggi.
Penambahan SDM ini juga dapat meningkatkan pengawasan terhadap oknum-
oknum yang berbuat curang seperti pemalsuan SKKH atau adanya oknum yang
lolos dari pemeriksaan petugas baik dalam pemeriksaan dokumen maupun
pemeriksaan kesehatan ternak yang ditransportasikan.

3. Bakti Sosial Pengobatan Hewan Gratis


Kegiatan ini meliputi pengobatan hewan, vaksinasi rabies, demo uji cepat
membedakan daging segar dan tidak segar juga penyebaran brosur KIE tentang
Keswan dan Kesmavet. Petugas medis mendapatkan berbagai macam diagnosa
penyakit dari kegiatan bakti sosial ini meliputi helminthiasis, defisiensi vitamin
dan belum divaksinasi. Upaya yang perlu ditambahkan untuk mengurangi
tingkat kejadian penyakit diatas dapat menurun adalah lebih gencar
mengedukasi peternak dalam memperhatikan higiene dan sanitasi ternak
25

maupun kandang. Kegiatan edukasi ini dapat dilakukan melalui penyuluhan


langsung ke peternak atau kelompok ternak, selain itu dapat juga dilakukan
melalui sosialisasi iklan layanan masyarakat baik itu di media cetak, radio
maupun televisi.

4. Pelayanan dan Pembinaan Dokter Hewan dan Obat Hewan


Tujuan dari kegiatan ini adalah pemantauan dan pengawasan pada praktek
dokter hewan, rumah sakit hewan, laboratorium kesehatan hewan, pabrik obat
hewan, distributor obat hewan, depo/pengecer obat hewan dan pemantauan alat
mesin kesehatan hewan terlaksanan dengan baik.

5. Workshop Penyakit Zoonosis (Avian Influenza, Rabies dan Antrhrax)


Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah dapat memberikan
penyegaran/refreshing ilmu pengetahuan kepada petugas Dinas Perikanan dan
Peternakan Kabupaten Bogor, sehingga diharapkan apabila petugas menemukan
kasus penyakit dilapang dapat sesegera mungkin tertangani dengan baik.
Penambahan materi workshop selain penyakit zoonosis juga dapat ditambahkan
dalam kegiatan workshop. Berdasarkan data kejadian kasus penyakit hewan
semester 1 tahun 2018 di Kabupaten Bogor, kejadian CRD (Chronic Respiratory
Disease) berada dalam tingkat kejadian penyakit yang cukup tinggi. Workshop
mengenai kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh CRD sangat pengting
mengingat tingkat morbiditas penyakit ini tinggi. Workshop mengenai penyakit
CRD selain disampaikan kepada petugas dinas terutama petugas medik
veteriner, juga dapat disosialisasikan kepada peternaknya langsung.

Demi menjaga kejadian penyakit tidak terus menyebar dan bertambah


banyak angka kejadian penyakit, penggunaan obat-obatan juga perlu diperhatikan
selain adanya pelayanan kesehatan. Kegiatan pelayanan dan pembinaan obat
hewan yang dilaksanakan meliputi :

1. Pengawasan dan pembinaan pelaku usaha obat hewan


Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah agar obat hewan yang
beredar dalam masyarakat layak pakai dan tepat pemakaiannya, dapat
menertibkan usaha yang bergerak di bidang obat hewan khususnya depo dan
toko obat di Kabupaten Bogor dan mencegah terjadinya penyalahgunaan hak
baik dalam hal pengadaan, penyimpanan, peredaran maupun dalam pemakaian
obat hewan. Berdasarkan data yang dikumpulakan di lapangan, terdapat sekitar
100 pelaku usaha depo/toko obat hewan di Kabupaten Bogor yang belum
memiliki izin usaha. Hal ini dapat terjadi karena masih kurangnya kesadaran
pedagang/pemilik usaaha obat hewan untuk mengurus perizinan usaha obat
hewan. Kondisi ini diperparah dengan minimnya pengetahuan masyarakat dalam
membeli obat hewan di lokasi yang sudah memiliki izin usaha obat hewan.
26

Perizinan ini sangat penting karena dapat menjamin obat hewan yang dijual
layak pakai serta legal untuk diedarkan. Agar kegiatan ini dapat berjalan lebih
optimal dan dapat meningkatakan hasil yang diinginkan, perlu adanya
peningkatan edukasi kepada penjual obat hewan beserta masyarakat tentang
pentingnya mengurus izin penjualan obat hewan serta efek positif dari
penggunaan obat hewan yang telah mempunyai izin dari dinas. Diberlakukan
sistem pendaftaran izin pengedaran obat hewan yang lebih praktis seperti dapat
diurus melalui website tertentu sehingga pelaku usaha tidak perlu repot datang
ke dinas untuk melakukan proses perizinan.

2. Pembinaan dan pengawasan jasa medik veteriner


Kegiatan ini mempunyai tujuan untuk menjaga kemampuan petugas medik
veteriner dalam menjalankan pelayanan keswan. Penjaminan akan hal tersebut
maka dokter hewan yang ingin melakukan praktek harus mempunyai Surat Izin
Praktek (SIP) sebagai syarat utama sebelum melakukan pelayanan kesehatan.
Dengan adanya aturan ini, maka tenaga medis yang melaksanakan kegiatan
pelayanan keswan benar-benar terjadim skill maupun keterampilannya dalam
memberikan tindakan medis. Kegiatan pembinaan dan pengawasan jasa medik
veteriner dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No.
02/Permentan/OT.140/1/2010 tentang Pedoman Pelayanan Jasa Medik
Veteriner yang dimaksudkan sebagai acuan bagi dokter hewan, organisasi
profesi kedokteran hewan, pemerintah dan pemerintah daerah serta semua pihak
yang berkaitan dengan pelayanan jasa medik veteriner.

3. Pengobatan cacing massal dan bakti sosial pelayanan kesehatan hewan dan
kesmavet
Aktifitas dari kegiatan ini adalah pembuatan paket obat yang akan dibawa
ke UPT Puskeswan, pembentuk tim pelaksana, menyebar brosur ke masyarakat
dan memasang banner di UPT Puskeswan, mendata pemilik yang akan diobati
dan pelaksanaan pengobatan cacing. Kegiatan ini dilakukan secara door to door
oleh petugas medis dan paramedik ke pemilik ternak dengan membawa saranan
dan prasaran pengobatan cacing. Perlu ditambahkan adanya sosialisasi mengenai
AMR (Anti Microbial Resisten) kepada peternak, mengingat kejadian
penggunaan antibiotik yang kurang bijak mengakibatkan terjadinya resistensi
antibiotik dan berujung pada penyebaran kejadian penyakit yang semakin tinggi.

4. Workshop praktek dokter hewan dan peningkatan kapasitas medis


Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah dapat menambah
pengetahuan dan keterampilan teknis yang dapat diterapkan di lapangan,
sehingga dapat meningkatkan peran medis veteriner dalam rangka menjamin
status kesehatan hewan dan mengendalikan penyakit hewan di Kabupaten
Bogor. Aktifitas dari kegiatan ini meliputi diadakannya workshop praktek dokter
27

hewan yang dihadiri oleh 20 peserta dokter hewan praktek perwakilan dari
masing-masing wilayah UPT Puskeswan Kabupaten Bogor, diselenggarakannya
kegiatan pelatihan di Rumah Sakit Hewan Bandung dan Perusahaan Obat Hewan
di Bandung dengan mendatangkan pengajar/narasumber dari esselon III tingkat
Provinsi Jawa Barat.

Kegiatan Yang Disarankan


Peningkatan KIE mengenai CRD dan pengurusan perizinan
pengedaran obat hewan berbasis layanan online di Kabupaten Bogor

Kabupaten Bogor merupakan kabupaten dengan luas wilayah 2663,81 km2


yang terdiri dari 40 kecamatan (BPS 2017). Secara geografis, Kabupaten Bogor
memiliki letak yang strategis karena berdekatan dengan ibukota Negara Republik
Indonesia dan berbatasan dengan beberapa kabupaten seperti Kabupaten Sukabumi,
Kabupaten Lebak, Kabupaten Tanggerang, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Cianjur
dan Kota Depok.
Populasi hewan di Kabupaten Bogor terutama hewan ternak tentu sangat
banyak, jenisnya pun beragam mulai dari domba, kambing, sapi, ayam, kerbau dan
lain-lain. Lalu lintas transportasi baik ternak yang masuk maupun yang keluar
daerah Kabupaten Bogor juga berada pada angka yang tinggi. Hal ini dampak
menimbulkan resiko penyebaran penyakit yang semakin luas dan cepat apabila
tidak adanya pemeriksaan kesehatan terhadap ternak tersebut terlebih dahulu.
Terdapat penurunan produksi akibat serangan dari suatu penyakit yang berdampak
langsung pada kerugian ekonomi yang cukup besar. Berdasarkan data kasus
penyakit hewan pada semester I tahun 2018 kejadian CRD merupakan kejadian
penyakit yang cukup tinggi, Bersama dengan kejadian penyakit helminthiasis dan
skabies, penyakit CRD merupakan penyakit yang dapat berpengaruh terhadap
kerugian ekonomi peternak. Mengingat CRD mempunyai angka morbiditas yang
tinggi. Oleh karena itu sangat perlu penyakit CRD ini dapat dikendalikan agar tidak
terjadi penurunan ekonomi yang semakin memburuk.
Chronic Respiratory Disease (CRD) adalah penyakit menular menahun pada
ayam yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum yang ditandai dengan
sekresi hidung katar, kebengkakan muka, batuk dan terdengarnya suara sewaktu
bernafas. Ayam semua umur dapat terserang CRD. Pada kondisi tertentu dapat
menyebabkan gangguan pernapasan akut terutama pada ayam muda, sedangkan
bentuk kronis dapat menyebabkan penurunan produksi telur. CRD memiliki derajat
morbiditas tinggi dan derajat mortalitas rendah. Infeksi dapat menyebar secara
vertikal melalui telur yang terinfeksi. Kejadian CRD di Indonesia pertama kali
dilaporkan oleh Richey dan Dirdjosoebroto pada tahun 1965 mengemukakan
bahwa ayam ras yang memperlihatkan gejala respirasi di Jawa Barat 90%
menunjukkan gejala serologis positif. Hasil pemeriksaan serum ayam di beberapa
28

daerah di Indonesia, diketahui bahwa CRD telah menyebar luas di Jakarta, Bogor,
Bandung, Semarang, Tegal, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Bali, Ujung pandang,
Palembang, dan Medan. Reaktor tidak hanya terjadi pada ayam ras tetapi juga pada
ayam kampung. Ayam yang dibeli di Bogor dan berasal dari Jawa tengah,
Sukabumi dan Priangan menunjukkan angka 80% ayam jantan dan 92% ayam
betina positif, sedangkan ayam kampung di Bali 80% reaktor. Kasus CRD di
Indonesia tersebar di mana-mana, namun tidak dilaporkan (Diskeswan 2014).
Menurut OIE (2008), CRD masuk dalam kategori notifiable diseases yang berarti
jika terjadi kasus CRD di lapangan harus segera dilaporkan ke pemerintah untuk
segera ditanggulangi. Belum banyak peternak yang menyadari bahwa CRD
mengakibatkan dampak kerugian ekonomi dari hulu hingga hilir (Buim et al. 2009).
Pemantauan yang terus menerus dan cakupan wilayah yang luas merupakan
permasalahan utama dalam mendeteksi kejadian penyakit. Tidak jarang terjadi
keterlambatan tindakan pelayanan kesehatan yang mengakibatkan terjadinya
wabah. Respon yang cepat merupakan faktor penting dalam mencegah terjadinya
wabah disuatu daerah. Tingkat pengetahuan peternak terhadap gejala awal kejadian
dari suatu penyakit merupakan hal yang sangat penting karena peternak dapat
langsung mengambil tinakan awal serta dapat melakukan pencegahan dini terhadap
serangan penyakit CRD. Disisi lain vaksinasi merupakan suatu program
pengendalian yang dapat dilakukan untuk menurunkan kejadian penyakit CRD,
tetapi vaksinasi membutuhkan anggaran dana yang tidak sedikit sehingga dicarilah
program pengendalian yang murah dan dapat diimplentasikan langsung ke
masyarakat. Program pengendalian yang dinilai tidak banyak membutuhkan
anggaran besar adalah penyuluhan berbasis online yang dinilai lebih efisien dan
dapat mencakup lingkup masyarakat yang lebih luas dalam pengedukasian
masyarakat tentang penyebaran penyakit CRD. Menurut Hadi 2004, program
pengendalian lain yang dapat dilakukan adalah program biosecurity. Program ini
dipandang sebagai cara termurah dan efektif, bahkan tidak satupun program
pengendalian penyakit dapat berjalan baik tanpa disertai program biosecurity. Oleh
karena itu peningkatan KIE perlu dilakukan baik secara langsung melalui
penyuluhan langsung ke lapangan maupun disosialisasikan melalaui media online.
Upaya yang juga perlu diperhatikan dalam menurunkan tingkat kejadian penyakit
di Kabupaten Bogor terutama CRD, Helminthiasis dan skabies adalah melakukan
pengawasan terhadap izin usaha penjualan/pengedaran obat hewan. Tingkat
kepedulian masyarakat dalam melakukan izin usaha serta pengetahuan masyarakat
tentang dampak positif dari obat yang mempunyai izin masih cukup rendah. Oleh
sebab itu sistem pengurusan perizinan obat hewan dapat dipermudah dengan cara
pengoperasian berbasis media online dapat menjadi solusi yang tepat untuk
mengurangi masyarakat/pelaku usaha yang tidak mengurus perizinan usaha
mereka.
29

Tabel 4 Program KIE tentang CRD dan pengurusan perizinan obat hewan sebagai
upaya pengendalian penyakit di Kabupaten Bogor
No. Program Tujuan Aktivitas
1. KIE Menurunkan tingkat 1. Membuat halaman website
kejadian CRD di yang berisi tentang penyakit
Kabupaten Bogor CRD, gelaklinis, cara
melalui edukasi penularannya serta cara
masyarakat pencegahannya.
menggunakan media 2. Pembuatan akun sosial
online media untuk
mengsosialisasikan edukasi
penyakit CRD.
3. Pembuatan iklan layanan
masyarakat tentang
penyakit CRD yang
dipublikasikan di situs
berbagi video seperti
youtube, media cetak, serta
media elektronik lainnya
deperti stasiun radio lokal.
2. Perizinan Menigkatkan pelaku 1. Pembuatan website
Obat Hewan usaha pejualan obat pengurusan perizinan
hewan untuk mengurus peredaran obat hewan
perizinan usaha mereka 2. Sosialisasi masyarakat
tentang sistem perizinan
yang baru ini melalui
pelayanan aktif maupun
melalui media masa seperti
koran, radio serta melalui
media online dan sosial
media.

Aspek Keorganisasian

Pelaksanaan sosialiasi kegiatan KIE dan sistem perizinan barbasis online


serta pemasangan sistem jaringan interenet berlangsung selama 1 bulan. Kegiatan
ini memerlukan beberapa sumber daya manusia diantaranya adalah 1 orang petugas
IT (information technology) yang bertugas membuat jaringan website, 2 orang
petugas dinas seksi Pelayanan Keswan dan Obat hewan, 16 orang petugas UPT
(masing-masing UPT mengirimkan 2 orang) sebagai admin dari pengoperasian
30

website KIE dan perizinan obat hewan. Jadwal pelaksanaan kegiatn secara rinci
disajikan pada Tabel 5. Sarana yang dibutuhkan adalah beberapa komputer,
layanan internet, jasa pembuatan iklan serta konsumsi bagi petugas.

Tabel 5 Jadwal pelasanaan kegiatan KIE dan program perizinan obat hewan
Kegiatan Minggu ke-1 Minggu ke-2 Minggu ke-3 Minggu ke-4
12345123451234512345
Persiapan
survei dan
sosialisasi
Sosialiasi
website
CRD dan
sistem
perizianan
berbasis
online
untuk
petugas
UPT
Sosialisasi
kepada
peternak
Pemasanga
n sistem
jaringan
internet
dan
pembuatan
website

Penyusunan Biaya dan Manfaat Program KIE dan perizinan obat hewan berbasis
online

Pada program pengendalian penyakit dilakukan penyusunan biaya


pengendalian dan manfaat pengendalian. Untuk mengetahui manfaat pengendalian
atau Cost Benefit digunakan beberapa asumsi. Asumsi-asumsi yang digunakan
dalam penyusunan program pengedalian penyakit di Kabupaten Bogor yaitu :
1. Program pengendalian dilakukan selama 1 tahun
2. Keuntungan diperoleh dengan mengambil asumsi penyakit yang dapat
mengakibatkan kerugian ekonomi meningkat apabila pelayanan tidak
segera dilakukan, yaitu penyakit CRD pada ayam dan helminthiasis serta
skabies pada ternak lainnya. Penurunan jumlah kerugain ekonomi dari
serangan suatu penyakit karena respon cepat penanangan dihitung sebagai
keuntungan dari adanya program KIE dan sistem perizinan.
31

3. Asumsi biaya pengendalian meliputi kegiatan sosialisasi dan pelatihan


petugas UPT sebesar Rp 4.000.000, pengadaan komputer di setiap UPT
sebesar Rp 32.000.000, pemasangan jasa internet Rp 400.000/bulan
menjadi Rp 4.800.000 dalam satu tahun. Sosialisasi kepada peternak dan
beserta biaya transportasi Rp 10.500.000, biaya pembuatan iklan layanan
masyarakat beserta publikasinya sebesar Rp 20.000.000. Asumsi lengkap
anggaran biaya pengendalian di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada
lampiran 1.
4. Perhitungan keuntungan mengambil asumsi populasi kejadian penyakit
CRD, Helminthisis dan skabies di daerah endemis sebanyak 50.000 ekor.
Jumlah ternak yang berhasil diselamatkan akan dikalikan dengan harga
satu ekor ternak hidup yaitu Rp 20.000.
5. Discount factor (DR) yang digunakan adalah sebesar 12%. Analisis
program pengendalian menggunakan metode cost benefit analyze dapat
diketahui dari nilai NPV dan B/C.

Analisis kelayakan program KIE dan perizinan obat hewan menggunakan


metode partial analysis. Terdapat tiga kriteria pengambilan keputusan dalam
metode ini yaitu, Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR) dan
Internal Rate of Return (IRR). Analisis ini memerlukan perhitungan cost benefit.
Cost benefit dan analisis biaya ekonomi yang didapatkan dari program ini terlamir
pada lampiran 2.

NPV = Present value Benefit – Present Value Cost


= 69.020.000 - 47.194.250
= 21.825.750

Program dapat diterima apabila PVB>PVC atau NPV bernilai positif. NPV
memberikan gambaran tentang jumlah keuntungan yang diperoleh dari proyek
dalam ukuran nilai sekarang. NPV telah memenuhi syarat kelayakan program
pengendalian.

𝑃𝑉𝐵 69.020.000
BCR = = =1,462
𝑃𝑉𝐶 47.194.250

Suatu proyek dapat diterima apabila nilai benefit cost ratio (BCR) lebih besar
dari 1. BCR merupakan kriteria yang sangat berguna dalam menentukan urutan
prioritas proyek. Pada proyek ini, setiap Rp 1 yang dikeluarkan akan memberikan
manfaat sebesar Rp 1.462. Hal ini menandakan bahwa proyek ini dapat memberi
keuntungan bila dilakukan.
Nilai IRR ditentukan berdasarkan discount rate (DR) yang membuat NPV
bernilai 0.
32

IRR = 47,84 %

IRR merupakan kriteria yang lebih disukai dibandingkan kriteria lain,


karena menggambarkan persentase tingkat pengembalian yang diperoleh (rate of
return). Nilai IRR dari proyek ini yaitu 47,84 %. Nilai IRR lebih tinggi dari
nilai discount rate yang digunakan, yaitu 12%, sehingga proyek ini layak secara
ekonomi dan dapat diterima. Interpretasi nilai IRR yang lebih besar dari discount
rate menunjukan bahwa program pengendalian dapat mengembalikan nilai
ekonomi dana yang diinvestasikan untuk program pengendalian.

KESIMPULAN

Magang kedinasan mahasiswa PPDH di Dinas Perikanan dan Peternakan


Kabupaten Bogor memberi manfaat bagi calon dokter hewan dalam memahami
tugas, pokok, dan fungsi dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor
dalam bidang kesehatan hewan dan masyarakat veteriner, serta wawasan
mahasiswa bertambah dalam pemahaman tentang strategi dalam menghadapi
masalah terkait kesehatan hewan dan masyarakat veteriner, serta manajemen
pengendalian dan penolakkan penyakit strategis dan zoonosis.

SARAN

Magang kedinasan di Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor


hanya berlangsung singkat (2 hari), disarankan agar magang di bagian Kedinasan
diperpanjang, sehingga mahasiswa PPDH memiliki waktu yang cukup untuk
mempelajari tugas dan wewenang dokter hewan di bidang kedinasan

DAFTAR PUSTAKA

Buim MR. 2007. Avian mycoplasmosis. Arq Inst Biol. 73:23-26


[Dikeswan] Direktur Kesehatan Hewan. 2014. Manual Penyakit Hewan Unggas.
Jakarta (ID): Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Bina Produksi
Peternakan, Departemen Pertanian RI.
Hadi UK. 2004. Pelaksanaan biosekuritas pada peternakan ayam [makalah]. Bogor:
Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
[iSIKHNAS] iSIKHNAS. 2014. Surat Keterangan Kesehatan Hewan. [Internet]
diakses pada [5 Disember 2018]. Tersedia pada:
isikhnas.com/w/manuals:movement/id.
[OIE] Office International des Epizooties (FR). 2008. Avian Mycoplasmosis
(Mycoplasma gallisepticum, Mycoplasma sinoviae). OIE terrestrial manual
2008. Chapter 2.3.4. 482-496.
33

LAMPIRAN

Lampiran 1 Biaya anggaran pengendalian CRD pada unggas per 3 bulan


Jenis Biaya Jumlah Waktu Jumlah Harga Total (Rp)
Fixed Cost
Gaji petugas UPT 8 2 16 125.000 2.000.000
Gaji petugas IT 1 1 1 500.000 500.000
Biaya jasa layanan 1 1 1 1.200.000 1.200.000
internet
Operasional 4 6 48 12.500 600.000
kendaraan
Pengadaan komputer 8 625.000 5.000.000
Pembuatan iklan dan 1 1 2.500.000 2.500.000
publikasi
Biaya Makan dan 25 12 300 7.500 2.250.000
Minum
Total Fixed Cost 14.050.000
Variable Cost
Penyuluhan ke 1 1.000.000 1.000.000
petugas UPT dan
masyarakat
Penyuluhan ke 1 500.000 500.000
peternak
Total Variable Cost 1.500.000
Total Biaya 15.550.000

Lampiran 2 Asumsi cost benefit analysis

Per 3 Persentase Selamat dari Selisih Harga Benefit (Rp)


bulan penurunan morbiditas persentase per
kejadian per ekor penuruanan ekor
CRD
1 0% 0 0 20 000
2 2% 1000 10 20 000 20.000.000
3 3% 1500 2 20 000 30.000.000
4 5% 2500 3 50.000.000
Total benefit 100.000.000
34

Lampiran 3 Analisis ekonomi dengan IRR


Discount rate : 12%
Per 3 Total pendapatan
Total biaya (Rp) df PVC (Rp) df PVB (Rp) NPV (Rp)
bulan (Rp)
1 15.550.000 0,892 13.870.600 0 0,892 0 -13.870.600
2 15.550.000 0,797 12.393.350 20.000.000 0,797 15940000 3.546.650
3 15.550.000 0,711 11.056.050 30.000.000 0,711 21330000 10.273.950
4 15.550.000 0,635 9.874.250 50.000.000 0,635 31750000 21.875.750
Total 62.200.000 47.194.250 100000000 69020000 21.825.750