Anda di halaman 1dari 12

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..........................................................................................................i


DAFTAR ISI......................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .....................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................................................

BAB II TINJAUAN TEORI


2.1 Pengertin intergasi komplementer dan konvertional dalam keperawatan............
2.2 Kebijakan integrasi komplementer dan konvertional dalam keperawatan ..........
2.3 Proses Evaluasi integrasi komplementer dan konvertional dalam keperawatan ……
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .........................................................................................................
3.2 Saran .....................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas segala
karunia dan limpahan rahmatNya, sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya
dengan judul “Integrasi Komplementer dan Konventional dalam Pelayanan Keperawatan”.
Penulis sangat menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini, penulis telah berupaya
semaksimal mungkin untuk menyempurnakan makalah ini namun mungkin masih terdapat
kekeliruan, kesalahan maupun kekurangan. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dalam rangka penyempurnaan makalah ini.
Makalah ini merupakan salah satu tugas kelompok dari mata kuliah “Integrasi
Komplementer dan Konventional dalam Pelayanan dalam Keperawatan” yang merupakan salah
satu syarat kelulusan dalam mata kuliah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih
kepada dosen mata kuliah ini.
Demikian yang kami dapat sampaikan, semoga makalah ini bermanfaat untuk semua pihak.
“Om Shanti, Shanti, Shanti, om”
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Terapi komplementer adalah terapi tradisional yang digabungan dalam pengobatan
tradisional. Terapi komplementer juga ada yang menyebutkan dengan pengobatan holistic
pendapat ini didasari oleh bentuk terapi yang mempengaruhi individu secara menyeluruh
dengan sebuah keharmonisan.
Terapi komplementer yang ada menjadi salah satu pilihan pengobatan masyarakat. Di berbagai
tempat pelayanan kesehatan. Terapi komplementer ini bisa juga dilakukan dengan terapi
konvensional.
Terapi konvensional suatu sistem pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh dokter atau
tenaga kesehatan lainnya berupa mengobati gejala dan penyakit dengan menggunakan obat,
pembedahan, atau radiasi. Terapi tradisional sekarang sudah banyak dilakukan oleh pasien
pasien yang berada di rumah.
kebijakan pemerithan dalam UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pemerintah untuk
menghindari hal – hal yang kurang baik atau menyalah gunakan terapi komplementer. P Di
dalam pasal lain disebutkan bahwa pengobatan tradisional akupunktur dapat dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang memiliki keahlian/keterampilan di bidang akupunktur atau oleh tenaga
lain yang telah memperoleh pendidikan dan pelatihan akupunktur. Sementara pendidikan dan
pelatihan akupunktur dilakukan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.
1.2 Rumusan Masalah

Dari permasalahan yang dibahas dirumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apakah Pegertian integrasi komplementer dan konvensional dalam pelayanan


kesehatan ?
2. Bagaimana Kebijakan integrasi komplementer dan konvensional dalam
pelayanan kesehatan?
3. Bagaimankah proses evaluasi hasil dari integrasi komplementer dan konvensional
dalam pelayanan kesehatan ?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui tentang pengertian dari integrasi komplementer dan konvensional


dalam pelayanan
2. Mengetahui kebijakan dari integrasi komplementer dan konvesional dalam
keperawatan
3. Mengetahui evalusi hasil integrasi Komplementer dan Konvesional dalam
keperawatan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pegertian integrasi komplementer dan konvensional dalam pelayanan kesehatan


Terapi komplementer dikenal dengan terapi tradisional yang digabungkan dalam
pengobatan modern. Komplementer adalah penggunaan terapi tradisional ke dalam pengobatan
modern. Terminologi ini dikenal sebagai terapi modalitas atau aktivitas yang menambahkan
pendekatan ortodoks dalam pelayanan kesehatan. Terapi komplementer juga ada yang
menyebutnya dengan pengobatan holistik. Pendapat ini didasari oleh bentuk terapi yang
mempengaruhi individu secara menyeluruh yaitu sebuah keharmonisan individu untuk
mengintegrasikan pikiran, badan, dan jiwa dalam kesatuan fungsi.
Teori keperawatan yang ada dapat dijadikan dasar bagi perawat dalam mengembangkan
terapi komplementer misalnya teori transkultural yang dalam praktiknya mengaitkan ilmu
fisiologi, anatomi, patofisiologi, dan lain-lain. Hal ini didukung dalam catatan keperawatan
Florence Nightingale yang telah menekankan pentingnya mengembangkan lingkungan untuk
penyembuhan dan pentingnya terapi seperti musik dalam proses penyembuhan. Selain itu, terapi
komplementer meningkatkan kesempatan perawat dalam menunjukkan caring pada klien (Snyder
& Lindquis, 2007)
Definisi tersebut menunjukkan terapi komplemeter sebagai pengembangan terapi
tradisional dan ada yang diintegrasikan dengan terapi modern yang mempengaruhi keharmonisan
individu dari aspek biologis, psikologis, dan spiritual. Kondisi ini sesuai dengan prinsip
keperawatan yang memandang manusia sebagai makhluk yang holistik (bio, psiko, sosial, dan
spiritual).
Terapi konvensional adalah suatu sistem pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh dokter
atau tenaga kesehatan lainnya berupa mengobati gejala dan penyakit dengan menggunakan obat,
pembedahan, atau radiasi.
Jadi Intergrasi komplementer dan konvensional adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan
yang mengombinasikan pelayanan kesehatan konvensional dengan pelayanan kesehatan
tradisional komplementer, baik bersifat sebagai pelengkap maupun pengganti dalam keadaan
tertentu.
2.2 kebijakan
- UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

- Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan

- Pemerintah telah menerbitkan kebijakan Nasional tentang keperawatan dan terapi


komplementer / alternative di Indonesia dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1109
Tahun 2007 tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif di fasilitas
pelayanan kesehatan. Menurut aturan itu, pelayanan komplementer-alternatif dapat
dilaksanakan secara sinergi, terintegrasi, dan mandiri di fasilitas pelayanan kesehatan.
Pengobatan itu harus aman, bermanfaat, bermutu, dan dikaji institusi berwenang sesuai dengan
ketentuan berlaku.

- Pelayanan Kesehatan Tradisional Komplementer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat


(1) huruf b merupakan pelayanan kesehatan tradisional dengan menggunakan ilmu biokultural
dan ilmu biomedis yang manfaat dan keamanannya terbukti secara ilmiah.

- KMK No. 1076/Menkes/Sk/Vii/2003 Tentang Penyelenggaran Pengobatan Tradisional.

-Permenkes RI No 1186/Menkes/Per/XI/1996 diatur tentang pemanfaatan akupunktur


pelayanan kesehatan pada umumnya. Di dalam pasal lain disebutkan bahwa pengobatan
tradisional akupunktur dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki
keahlian/keterampilan di bidang akupunktur atau oleh tenaga lain yang telah memperoleh
pendidikan dan pelatihan akupunktur. Sementara pendidikan dan pelatihan akupunktur
dilakukan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.

- Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit

- Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perijinan
Rumah Sakit

- Keputusan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik, No.


HK.03.05/I/199/2010 tentang pedoman kriteria penetepan metode
pengobatan komplementer – alternatif yang dapat diintegrasikan di fasilitas pelayanan
kesehatan atau konvensional.
2.3 Proses evaluasi

Pemerintahan daerah (pemda) adalah salah satu pemegang kewajiban dalam pemenuhan
kesejahteraan rakyat melalui pelayanan kesehatan
(UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan). Untuk melaksanakan kewajibannya tersebut,
pelayanan kesehatan sebenarnya dapat diselenggarakan dengan mengintegrasikan pengobatan
tradisional dan konvensional (KMK No. 1076/Menkes/Sk/Vii/2003Tentang Penyelenggaran
Pengobatan Tradisional). Pelayanan kesehatan melalui pengobatan tradisional merupakan suatu
bentuk pelayanan kesehatan yang berbasis kearifan lokal.

Sehingga untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat disuatu daerah melalui pelayanan


kesehatan, kebijakan berupa integrasi pengobatan tradisional pada pelayanan kesehatan
konvensional merupakan suatu solusi yang tepat untuk diterapkan, sebagai suatu kebijakan
yang telah mempunyai dasar hukum yang tegas di seluruh Indonesia.

Dan pada beberapa rumah sakit di indonesia sudah menerapkan terapi komplementer ini
sebagai terapi pejunjang atau sebagai terapi pengganti bagi pasien yang menolak pengobatan
konvensional.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Terapi komplementer dikenal dengan terapi tradisional yang digabungkan dalam
pengobatan modern Komplementer adalah penggunaan terapi tradisional ke dalam
pengobatan modern. Terminologi ini dikenal sebagai terapi modalitas atau aktivitas yang
menambahkan pendekatan ortodoks dalam pelayanan kesehatan. Terapi konvensional adalah
suatu sistem pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya
berupa mengobati gejala dan penyakit dengan menggunakan obat, pembedahan, atau radiasi

Intergrasi komplementer dan konvensional adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan


yang mengombinasikan pelayanan kesehatan konvensional dengan pelayanan kesehatan
tradisional komplementer, baik bersifat sebagai pelengkap maupun pengganti dalam keadaan
tertentu.

Pemerintah telah menerbitkan kebijakan Nasional tentang keperawatan dan terapi


komplementer / alternative di Indonesia dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1109
Tahun 2007 tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif di fasilitas
pelayanan kesehatan. Menurut aturan itu, pelayanan komplementer-alternatif dapat
dilaksanakan secara sinergi, terintegrasi, dan mandiri di fasilitas pelayanan kesehatan.
Pengobatan itu harus aman, bermanfaat, bermutu, dan dikaji institusi berwenang sesuai
dengan ketentuan berlaku.

Pemerintahan daerah (pemda) adalah salah satu pemegang kewajiban dalam pemenuhan
kesejahteraan rakyat melalui pelayanan kesehatan (UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
rumah sakit di indonesia sudah menerapkan terapi komplementer ini sebagai terapi pejunjang
atau sebagai terapi pengganti bagi pasien yang menolak pengobatan konvensional.
3.2 Saran.
Dalam pembuatan makalah ini penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan
dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca sangatlah
kami perlukan agar dalam pembuatan makalah selanjutnya akan lebih baik lagi dari
sekarang.
Daftar pustaka

ArgadhiaAditama,2014
https://www.academia.edu/7229673/mewujudkan_kebijakan_pelayanan_kesehatan_berbasis_kea
rifan_lokal_melalui_integrasi_pengobatan_tradisional_pada_rumah_sakit_umum_daerah_rsud_?
auto=download diakses pada 11 desember 2019
Buckle, S. (2010). Aromatherapy. http// .www.naturalhealthweb.com/articles, diperoleh
11 desember 2019.
Direktorat Jendral Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RepublikIndonesia,
2014,PengobatanKomplementerTradisional
Alternatif,http://buk.depkes.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=66:pengoba
tan- komplementer-tradisional-alternatif, diakses pada 11 desember 2019
Snyder & Lindquis, 2007. Community & public health nursing. 6th ed. St. Louis: Mosby Inc.
INTEGRASI KOMPLEMENTER DAN KONVERTIONAL DALAM
PELAYANAN KEPERAWATAN

OLEH:
KELOMPOK 7

I Ketut Rajendra Patma Aget Winata 17.321.2670


Ni Kadek Kristiani 17.321.2684
Ni Luh Gede Devi Yulistia Dewi 17.321.2690
Ni Luh Putu Kusuma Sari Dewi 17.321.2693

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIKES WIRA MEDIKA BALI


TAHUN AJARAN
2019-2020