Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. W DENGAN


CHRONIC KIDNEY DESEASE (CKD) DENGAN PENURUNAN
KESADARAN DI RUANG HCU RSUD TUGUREJO SEMARANG

Disusun oleh :

Kelompok 11

1. Suci Rahayu (G0A017058)


2. Vina Ayu Fitriani (G0A017059)
3. Putri Amalia L.S (G0A017060)
4. Jehan Latifah (G0A017061)
5. Siska Risdayanti (G0A017062)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2019
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur pada Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-
Nya, makalah dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada Ny. W Dengan Chronic
Kidney Desease (CKD) Di Ruang HCU RSUD Tugurejo Semarang” ini dapat
terselesaikan tepat waktu tanpa hambatan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa begitu banyak pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian makalah ini. Melalui kesempatan ini, dengan segala
kerendahan hati, penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Ns. Nury Sukraeny. MNS Dosen Pembimbing akademik kami yang telah
mengarahkan dan mendidik kami sehingga kami dapat belajar dan
mengetahui ilmu keperawatan kegawatdaruratan dan kritis serta membantu
kami menyelesaikan makalah ini dengan sebaik - baiknya.
2. Clinical Instruktur ruang HCU RSUD Tugurejo Semarang yang telah
membimbing dan mengarahkan kami selama praktik di Ruang HCU
3. Teman-teman dan semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pembuatan
makalah yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Walaupun kami sudah berusaha sungguh-sungguh dan semaksimal
mungkin, tapi kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami
harapkan.

Semarang, 3 Desember 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

COVER ....................................................................................................................i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................................................... iii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ( 5W dan 1 H) .....................................................................1
B. Tujuan (TIU dan TIK) .................................................................................2
C. Metode penulisan ......................................................................................... 2
D. Sistematika penulisan...................................................................................3
BAB II : KONSEP DASAR
A. Konsep penyakit
1. Pengertian .............................................................................................. 4
2. Etiologi ...................................................................................................4
3. Tanda Gejala .......................................................................................... 4
4. Patofisiologi ........................................................................................... 5
5. Pemeriksaan penunjang dan hasilnya ....................................................9
6. Pathways .............................................................................................. 11
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS
1. Pengkajian Primer (Primery aurvey (A,B,C,D,E) ................................ 11
2. Pengkajian Sekunder (Pemeriksaan fisik, laboratorium,
penunjang lain) ..................................................................................... 12
3. Diagnose keperawatan utama .............................................................. 16
4. Intervensi dan rasional .........................................................................16
BAB III : ASUHAN KEPERAWATAN
1. Hasil pengkajian ......................................................................................... 19
2. Rumusan diagnose keperawatan ................................................................ 23
3. Rumusan intervemnsi dan rasional ............................................................ 23
4. Implementasi .............................................................................................. 26
5. Evaluasi ......................................................................................................27
BAB IV : PEMBAHASAN
1. Pengkajian (Kendala selama pengkajian, dan solusinya) .......................... 29
2. Diagnosa
a. Definisi diagnose keperawatan ............................................................ 29
b. Alasan mengangkat diagnose keperawatan .........................................29
c. Alasan memprioritaskan diagnose dan di dukung dengan landasan teori
atau konsep ........................................................................................... 30
d. Implementasi atau evaluasi ..................................................................31
BAB V : PENUTUP
1. Kesimpulan ................................................................................................ 32
2. Saran ..........................................................................................................32
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 33

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Chronic Kidney Disease (CKD) atau gagal ginjal kronik adalah
suatu penyakit dimana ginjal mengalami penurunan fungsi yang progresif
dan ireversibel. The Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (K/DOQI)
of The National Kidney Foundation menyebutkan bahwa CKD adalah
penyakit ginjal yang telah berlangsung selama lebih dari 3 bulan dan
penurunan LFG (Laju Filtrasi Glomerulus) sebanyak 60 ml/min/1.73m2
(Lewis, 2011).
Data dari United States Renal Data System (USRDS) pada tahun
2014 menunjukan bahwa prevalensi kejadian CKD di Amerika Serikat
meningkat setiap tahunnya, tercatat sebanyak 2,7 juta jiwa pada tahun 2011
dan tercatat menjadi 2,8 juta jiwa ditahun 2012. Prevalensi penyakit CKD
di Indonesia pada tahun 2013 sebanyak 0,2% sedangkan di Jawa Tengah
prevalensinya sebanyak 0,3% (Riskesdas, 2013).
Penyakit CKD sering tidak teridentifikasi sampai pada tahap 3
karena bersifat asymptomatic atau tanpa gejala hingga tahap uremik akhir
tercapai. Uremia adalah sindrom atau gejala yang terkait dengan CKD.
Adanya uremia tersebut akan mempengaruhi keseimbangan cairan dan
elektrolit, pengaturan dan fungsi endokrin ginjal rusak, dan akumulasi 2
produk sisa secara esensial memengaruhi setiap sistem organ lain(Lemone,
2012; Black & Hawks, 2009).
Hemodialisa (HD) adalah sebuah proses yang bertujuan untuk
mengeluarkan produk limbah dan cairan yang berada didalam tubuh, serta
menggantikan fungsi ginjal dalam tubuh yang tidak dapat berfungsidengan
baik (Smeltzer & Bare, 2013). Didunia saat ini tercatat ada lebih dari 2 juta
pasien yang menjalani terapi HD. Pasien HDdi Amerika Serikat mencapai
350 ribu orang, Jepang 300 ribu orang, sedangkan di Indonesia hampir
mencapai 15 ribu orang (Setiati, dkk, 2014).

1
Berdasarkan hal di atas, penulis tertarik untuk membahas tentang
“Asuhan Keperawatan Pada Ny. W Dengan Chronic Kidney Desease
(CKD) Di Ruang HCU RSUD Tugurejo Semarang”

B. Tujuan penulisan
a) Tujuan umum
Mengetahui gambaran pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien
yang mengalami (Chronic Kidney Disease) CKD melalui proses
keperawatan di Ruang HCU RSUD Tugurejo Semarang
b) Tujuan khusus
1. Mengetahui konsep dasar penyakit pada klien CKD di Ruang
HCU RSUD Tugurejo Semarang
2. Melakukan pengkajian keperawatan pada klien yang mengalami
CKD di Ruang HCU RSUD Tugurejo Semarang
3. Menetapkan diagnosis keperawatan pada klien yang mengalami
CKD di Ruang HCU RSUD Tugurejo Semarang
4. Menyusun rencana asuhan keperawatan pada klien yang
mengalami CKD di Ruang HCU RSUD Tugurejo Semarang
5. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien yang
mengalami CKD di Ruang HCU RSUD Tugurejo Semarang
6. Melakukan evaluasi pada klien yang mengalami CKD di
Ruang HCU RSUD Tugurejo Semarang

C. Metode penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif dan
metode kepustakaan.
a) Metode deskriptif yaitu tipe studi kasus dengan pendekatan
proseskeperawatan. Tehnik yang digunakan dalam pengumpulan data
yaitu dengan observasi dan pemeriksaan fisik. Sumber data yang
diperoleh atau yang digunakan adalahdata primer yang didapat dari
keluarga, tenaga kesehatan dan dokumentasi hasil pemeriksaan
penunjang lainnya.

2
b) Metode pustaka Yaitu metode yang dilakukan dengan mempelajari dan
mengumpulkan data dari pustaka yang berhubungan dengan alat, baik berupa
buku maupun informasi di internet

D. Sistematika penulisan
Makalah ini disusun dengan sistematika sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan yang terdiri dari : Latar Belakang Masalah, Tujuan
Penulisan, Metode Penulisan, dan Sistematika Penulisan
BAB II Konsep dasar yang terdiri dari : Konsep dasar penyakit : etiologi,
tanda dangejala, patofisiologi, pemeriksaan penunjang, pathways,
Konsep keperawata asuhan kritis :pengkajian primer,pengkajian
sekunder.diagnosa keperawatan utama ,intervensi
BAB IIIAsuhan Keperawatan
BAB IV: Pembahasan meliputi pengkajian dan diagnose
BAB V : Penutup meliputi Simpulan dan Saran
Daftar Pustaka

3
BAB II
KONSEP DASAR

A. KONSEP PENYAKIT
1. Pengertian
Chronic kidney disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis
didefinisikan sebagaikerusakan ginjal untuk sedikitnya 3 bulan dengan
atau tanpa penurunan glomerulusfiltration rate (GFR) (Nahas &
Levin,2010). CKD atau gagal ginjal kronis (GGK)didefinisikan sebagai
kondisi dimana ginjal mengalami penurunan fungsi secara lambat,
progresif, irreversibel, dan samar (insidius) dimana kemampuan tubuh
gagal dalammempertahankan metabolisme, cairan, dan keseimbangan
elektrolit, sehingga terjadiuremia atau azotemia (Smeltzer, 2009)

2. Etiologi
Diabetes dan hipertensi baru-baru ini telah menjadi etiologi tersering
terhadap proporsiGGK di US yakni sebesar 34% dan 21% . Sedangkan
glomerulonefritis menjadi yangketiga dengan 17%. Infeksi nefritis
tubulointerstitial (pielonefritis kronik atau nefropatirefluks) dan
penyakit ginjal polikistik masing-masing 3,4%. Penyebab yang tidak
seringterjadi yakni uropati obstruktif , lupus eritomatosus dan lainnya
sebesar 21 %. (US RenalSystem, 2000 dalam Price & Wilson, 2006).
Penyebab gagal ginjal kronis yangmenjalani hemodialisis di Indonesia
tahun 2000 menunjukkan glomerulonefritis menjadietiologi dengan
prosentase tertinggi dengan 46,39%, disusul dengan diabetes mellitus
dengan 18,65%, obstruksi dan infeksi dengan 12,85%, hipertensi
dengan 8,46%, dansebab lain dengan 13,65% (Sudoyo, 2006)

3. Tanda dan gejala


Menurut Brunner & Suddart (2002) setiap sistem tubuh pada gagal
ginjal kronisdipengaruhi oleh kondisi uremia, maka pasien akan
menunjukkan sejumlah tanda dangejala. Keparahan tanda dan gejala

4
bergantung pada bagian dan tingkat kerusakan ginjal,usia pasien dan
kondisi yang mendasari. Tanda dan gejala pasien gagal ginjal kronis
adalah sebagai berikut :
a. Manifestasi kardiovaskuler mencakup hipertensi (akibat retensi
cairan dan natrium dari aktivasi sistem renin-angiotensin-
aldosteron), pitting edema (kaki,tangan,sakrum), edema
periorbital, Friction rub perikardial, pembesaran vena leher.
b. Manifestasi dermatologi warna kulit abu-abu mengkilat, kulit
kering, bersisik, pruritus, ekimosis, kuku tipisdan rapuh, rambut
tipis dan kasar.
c. Manifestasi pulmoner krekels,sputum kental dan liat, napas
dangkal, pernapasan Kussmauld.
d. Manifestasi gastrointestinal napas berbau amonia, ulserasi dan
pendarahan pada mulut, anoreksia, mual, muntah, konstipasi dan
diare, pendarahan saluran gastrointestinale.

4. Patofisiologi
Berdasarkan derajatnya gagal ginjal kronis dibagi menjadi :
 Grade I : kerusakan ginjal dengan LFG normal atau meningkat,
nilai LFG ≥ 90 ml/menit/1.73 m2
 Grade II : kerusakan ginjal dengan penurunan LFG yang ringan,
nilai LFG 60-89 ml/menit/1.73 m2
 Grade IIIa : kerusakan ginjal dengan penurunan LFG sedang ,
nilai LFG 45-59 ml/menit/1.73 m2
 Grade IIIb : kerusakan ginjal dengan penurunan LFG sedang-
berat, nilai LFG 30-44 ml/menit/1.73 m2
 Grade IV : kerusakan ginjal dengan penurunan LFG berat, Nilai
LFG 15-29 ml/menit/1.73 m2
 Grade V : Gagal ginjal kronik (end stage renal disease), Nilai
LFG < 15% ml/menit/1.73 m2

5
Rumus Perhitungan CCT (ginjal)
TKK = (KIO – umur) x BB
________________________
Creatinin x 72 =
(140 – 45 ) x BB Creatinin x 72

(perempuan dikoreksi 0,85)

Interpretasi CCT:
 Kurang dari 90: kerusakan ginjal dengan LFG
normal/meningkat
 60-89: kerusakan ginjal dengan LFG turun ringan
 30-59: kerusakan ginjal dengan LFG turun sedang
 15-29: kerusakan ginjal dengan LFG turun berat
 Lebih dari 15/dialysis: gagal ginjal

Penyebab yang mendasari CKD bermacam-macam seperti penyakit


glomerulus baik primer maupun sekunder, penyakit vaskular, infeksi,
nefritis interstisial, obstruksi saluran kemih. Patofisiologi penyakit
ginjal kronik melibatkan 2 mekanisme kerusakan :
a.mekanisme pencetus spesifik yang mendasari kerusakanselanjutnya
seperti kompleks imun dan mediator inflamasi pada glomerulo nefritis,
atau pajanan zat toksin pada penyakit tubulus ginjal dan interstitium;
b.mekanisme kerusakan progresif yang ditandai dengan adanya
hiperfiltrasi dan hipertrofi nefron yang tersisa.Ginjal kita memiliki 1 juta
nefron, dan masing- masing memiliki kontribusi terhadap total GFR.
Padasaat terjadi renal injury karena etiologi seperti yang telah dijelaskan
di atas, pada awalnya ginjal masih memiliki kemampuan untuk
mempertahankan GFR. Namun pada akhirnya nefron sehat yang tersisa
ini akan mengalami kegagalan dalam mengatur autoregulasi tekanan
glomerular, dan akan menyebabkan hipertensi sistemik dalam
glomerulus. Peningkatan tekanan glomerulus ini akan menyebabkan
hipertrofi nefron yang sehat sebagai mekanisme kompensasi. Pada tahap

6
ini akan terjadi poliuria, yang bisa menyebabkan dehidrasi dan
hiponatremia akibat ekskresi Na melalui urin meningkat.
Peningkatan tekanan glomerulus ini akanmenyebabkan proteinuria.
Derajat proteinuria sebanding dengan tingkat progresi dari gagal ginjal.
Reabsorpsi protein pada sel tubuloepitelial dapat menyebabkan
kerusakan langsung terhadap jalur lisosomal intraselular,meningkatkan
stres oksidatif, meningkatkan ekspresi lokal growth faktor, dan
melepaskan faktor kemotaktikyang pada akhirnya akan menyebabkan
inflamasi dan fibrosis tubulointerstitiel melalui pengambilan
danaktivasi makrofag. Inflamasi kronik pada glomerulus dan tubuli
akan meningkatkan sintesis matriks ektraseluler danmengurangi
degradasinya, dengan akumulasi kolagen tubulointerstitiel yang
berlebihan.
Glomerular sklerosis,fibrosis tubulointerstitiel, dan atropi tubuler
akan menyebabkan massa ginjal yang sehat menjadi berkurang danakan
menghentikan siklus progresi penyakit oleh hiperfiltrasi dan hipertrofi
nefron.
Kerusakan struktur ginjal tersebut akan menyebabkan kerusakan fungsi
ekskretorik maupun non-ekskretorik ginjal. Kerusakan fungsi
ekskretorik ginjal antara lain penurunan ekskresi sisa nitrogen,
penurunan reabsorbsi Na pada tubuli, penurunan ekskresi kalium,
penurunan ekskresi fosfat, penurunan ekskresi hidrogen.Kerusakan
fungsi non-ekskretorik ginjal antara lain kegagalan mengubah bentuk
inaktif Ca, menyebabkan penurunan produksi eritropoetin (EPO),
menurunkan fungsi insulin, meningkatkan produksi lipid, gangguan
sistem imun, dan sistem reproduksi.Angiotensin II memiliki peran
penting dalam pengaturan tekanan intraglomerular. Angiotensin II
diproduksi secara sistemik dan secara lokal di ginjal dan merupakan
vasokonstriktor kuat yang akan mengatur tekanan intraglomerular
dengan cara meningkatkan irama arteriole efferent. Angiotensin II akan
memicu stress oksidatif yang pada akhirnya akan meningkatkan

7
ekspresi sitokin, molekul adesi, dan kemoaktraktan, sehingga
angiotensin II memiliki peran penting dalam patofisiologi CKD.
Gangguan tulang pada CKD terutama stadium akhir disebabkan
karena banyak sebab, salah satunya adalah penurunan sintesis 1,25-
dihydroxyvitamin D atau kalsitriol, yang akan menyebabkan kegagalan
mengubah bentuk inaktif Ca sehingga terjadi penurunan absorbsi Ca.
Penurunan absorbsi Ca ini akan menyebabkan hipokalsemia dan
osteodistrofi. Pada CKD akan terjadi hiperparatiroidisme sekunder yang
terjadi karena hipokalsemia, hiperfosfatemia, resistensi skeletal
terhadap PTH. Kalsium dan kalsitriol merupakan feedback negatif
inhibitor, sedangkan hiperfosfatemia akan menstimulasi sintesis dan
sekresi PTH.Karena penurunan laju filtrasi glomerulus, maka ginjal
tidak mampu untuk mengekskresikan zat– zat tertentu seperti fosfat
sehingga timbul hiperfosfatemia. Hiperfosfatemia akan menstimulasi
FGF-23, growthfaktor ini akan menyebabkan inhibisi 1-α hydroxylase.
Enzim ini digunakan dalam sintesis kalsitriol. Karena inhibisi oleh FGF-
23 maka sintesis kalsitriol pun akan menurun. Akan terjadi resistensi
terhadap vitamin D.Sehingga feedback negatif terhadap PTH tidak
berjalan. Terjadi peningkatan hormon parathormon.
Akhirnyaakan timbul hiperparatiroidisme sekunder.
Hiperparatiroidisme sekunder akan menyebabkan depresi pada sumsum
tulang sehingga akan menurunkan pembentukan eritropoetin yang pada
akhirnya akan menyebabkan anemia.Selain itu hiperparatiroidisme
sekunder juga akan menyebkan osteodistrofi yang diklasifikasikan
menjadi osteitis fibrosa cystic, osteomalasia, adinamik bone disorder,
dan mixed osteodistrofi.Penurunan ekskresi Na akan menyebabkan
retensi air sehingga pada akhirnya dapat menyebabkanoedem,
hipertensi. Penurunan ekskresi kalium juga terjadi terutama bila GFR <
25 ml/mnt, terlebih pada CKD stadium 5. Penuruan ekskresi ini akan
menyebabkan hiperkalemia sehingga meningkatkan resiko terjadinya
kardiak arrest pada pasien.Asidosis metabolik pada pasien CKD
biasanya merupakan kombinasi adanya anion gap yang norma lmaupun

8
peningkatan anion gap. Pada CKD, ginjal tidak mampu membuat
ammonia yang cukup pada tubulus proksimal untuk mengekskresikan
asam endogen ke dalam urin dalam bentuk ammonium. Peningkatan
aniongap biasanya terjadi pada CKD stadium 5. Anion gap terjadi
karena akumulasi dari fosfat, sulfat, dan anio –anion lain yang tidak
terekskresi dengan baik. Asidosis metabolik pada CKD dapat
menyebabkan gangguan metabolisme protein. Selain itu asidosis
metabolic juga merupakan salah satu faktor dalam perkembangan
osteodistrofi ginjal.Pada CKD terutama stadium 5, juga dijumpai
penurunan ekskresi sisa nitrogen dalam tubuh.
Sehinggaakan terjadi uremia. Pada uremia, basal urea nitrogen akan
meningkat, begitu juga dengan ureum, kreatinin,serta asam urat. Uremia
yang bersifat toksik dapat menyebar ke seluruh tubuh dan dapat
mengenai sistem saraf perifer dan sistem saraf pusat. Tanda dan gejala
Sindrome Uremik : Nyeri perut, Muntah, Demam, Kejang, Diare dengan
tinja disertai, Kelelahan dan gelisah, Tekanan darah tinggi, Urine
disertai darah, Penurunan jumlah urine yang keluar, Tangan, kaki, dan
wajah membengkak, Kulit pucat.Selain itu sindrom uremia ini akan
menyebabkan trombositopati dan memperpendek usia sel darah merah.
Trombositopati akan meningkatkan resiko perdarahan spontan terutama
pada GIT, dan dapat berkembang menjadi anemia bila penanganannya
tidak adekuat. Uremia bila sampai dikulit akan menyebabkan pasien
merasa gatal–gatal.Pada CKD akan terjadi penurunan fungsi insulin,
peningkatan produksi lipid, gangguan sistem imun, dangangguan
reproduksi. Karena fungsi insulin menurun, maka gula darah akan
meningkat. Peningkatan produksilipid akan memicu timbulnya
aterosklerosis, yang pada akhirnya dapat menyebabkan gagal
jantung.Anemia pada CKD terjadi karena depresi sumsum tulang pada
hiperparatiroidisme sekunder yang akan menurunkan sintesis EPO.
Selain itu anemia dapat terjadi juga karena masa hidup eritrosit yang
memendek akibat pengaruh dari sindrom uremia. Anemia dapat juga
terjadi karena malnutrisi.

9
5. Pemeriksaan penunjang
a. Radiologi
Ditujukan untuk menilai keadaan ginjal dan derajat komplikasi
ginjal.
1) Ultrasonografi ginjal digunakan untuk menentukan ukuran
ginjal dan adanyamassa kista, obtruksi pada saluran perkemihan
bagianatas.
2) Biopsi Ginjal dilakukan secara endoskopik untuk menentukan
sel jaringan untukdiagnosis histologis.
3) Endoskopi ginjal dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal.
4) EKG mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan
elektrolit dan asam basa.
b. Foto Polos Abdomen
Menilai besar dan bentuk ginjal serta adakah batu atau obstruksi
lain.
c. Pielografi Intravena
Menilai sistem pelviokalises dan ureter, beresiko terjadi penurunan
faal ginjal padausia lanjut, diabetes melitus dan nefropati asam urat.
d. USG
Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkin ginjal , anatomi
sistem pelviokalises,dan ureter proksimal, kepadatan parenkim
ginjal, anatomi sistem pelviokalises danureter proksimal, kandung
kemih dan prostat.
e. Renogram
Menilai fungsi ginjal kanan dan kiri , lokasi gangguan (vaskuler,
parenkhim) serta sisafungsi ginjal
f. Pemeriksaan Radiologi Jantung
Mencari adanya kardiomegali, efusi pericarditis
g. Pemeriksaan radiologi Tulang
Mencari osteodistrofi (terutama pada falangks /jari) kalsifikasi
metatastik.

10
h. Pemeriksaan radiologi Paru
Mencari uremik lung yang disebabkan karena bendungan.
i. Pemeriksaan Pielografi Retrograde
Dilakukan bila dicurigai adanya obstruksi yang reversible
j. EKG
Untuk melihat kemungkinan adanya hipertrofi ventrikel kiri, tanda-
tanda perikarditis,aritmia karena gangguan elektrolit (hiperkalemia).
k. Biopsi Ginjal
Dilakukan bila terdapat keraguan dalam diagnostik gagal ginjal
kronis atau perlu untuk mengetahui etiologinya.
l. Pemeriksaan laboratorium menunjang untuk diagnosis gagal ginjal
1) Laju endap darah
2) UrinVolume : Biasanya kurang dari 400 ml/jam (oliguria atau
urine tidak ada (anuria).Warna : Secara normal perubahan urine
mungkin disebabkan oleh pus / nanah, bakteri, lemak, partikel
koloid,fosfat, sedimen kotor, warna kecoklatanmenunjukkan
adanya darah, miglobin, dan porfirin.Berat Jenis : Kurang dari
1,015 (menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakanginjal
berat).Osmolalitas : Kurang dari 350 mOsm/kg menunjukkan
kerusakan tubular, amrasiourine / ureum sering 1:1.3)Ureum dan
KreatininUreum:Kreatinin: Biasanya meningkat dalam proporsi.
Kadar kreatinin 10 mg/dL didugatahap akhir (mungkin rendah
yaitu 5).
3) Hiponatremia
4) Hiperkalemia
5) Hipokalsemia dan hiperfosfatemia
6) Hipoalbuminemia dan hipokolesterolemia
7) Gula darah tinggi
8) Hipertrigliserida

11
6. Pathways

12
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS
1. Pengkajian Primer
Pengkajian cepat untuk mengidentifikasi dengan segera masalah
aktual/potensial dari kondisi life threatning (berdampak terhadap
kemampuan pasien untuk mempertahankan hidup). Pengkajian tetap
berpedoman pada inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi jika hal
tersebut memungkinkan.
Prioritas penilaian dilakukan berdasarkan :
a. A, Airway dengan kontrol servikal
Kaji :
1) Bersihan jalan nafas
2) Adanya/tidaknya sumbatan jalan nafas
3) Distress pernafasan
4) Tanda-tanda perdarahan di jalan nafas, muntahan, edema laring
b. B, Breathing dan ventilasi
Kaji :
1) Frekuensi nafas, usaha dan pergerakan dinding dada
2) Suara pernafasan melalui hidung atau mulut
3) Udara yang dikeluarkan dari jalan nafas
c. C, Circulation
Kaji :
1) Denyut nadi karotis
2) Tekanan darah
3) Warna kulit, kelembaban kulit
4) Tanda-tanda perdarahan eksternal dan internal
d. D, Disability
Kaji :
1) Tingkat kesadaran
2) Gerakan ekstremitas
3) GCS atau pada anak tentukan respon
A = alert, V = verbal, P = pain/respon nyeri,
U =unresponsive.

13
4) Ukuran pupil dan respon pupil terhadap cahaya.
e. E, Eksposure
Kaji :
Tanda-tanda trauma yang ada.

2. Pengkajian Sekunder
Pengkajian sekunder dilakukan setelah masalah ABC yang
ditemukan pada pengkajian primer diatasi. Pengkajian sekunder
meliputi pengkajian obyektif dan subyektif dari riwayat keperawatan
(riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit terdahulu, riwayat
pengobatan, riwayat keluarga) dan pengkajian dari kepala sampai kaki.
a. Pengkajian Riwayat Penyakit
Komponen yang perlu dikaji :
1) Keluhan utama dan alasan pasien datang ke rumah sakit
2) Lamanya waktu kejadian samapai dengan dibawa ke rumah sakit
3) Riwayat pengobatan yang dilakukan untuk mengatasi sakit
sekarang
Metode pengkajian :
a) Metode yang sering dipakai untuk mengkaji riwayat klien :
S (signs : tanda dan gejala yang diobservasi dan
andsymptoms) dirasakan klien
: alergi yang dipunyai klien
A (Allergis) : tanyakan obat yang telah diminum klien
untuk mengatasi nyeri
M (medications) :
riwayat penyakit yang diderita klien
:
P (pertinent past
medical hystori) makan/minum terakhir; jenis makanan,
: ada penurunan atau peningkatan kualitas
L (last oral intake makan
solid

14
or liquid) pencetus/kejadian penyebab keluhan

E (event leading to
injury or illnes)
b) Metode yang sering dipakai untuk mengkaji nyeri :
P (provoked) : pencetus nyeri, tanyakan hal
yang menimbulkan dan
Q (quality) : mengurangi nyeri
R (radian) : kualitas nyeri
S (severity) : arah penjalaran nyeri
T (time) : skala nyeri ( 1 – 10 )
lamanya nyeri sudah dialami
klien
b. Tanda-tanda vital dengan mengukur :
1) Tekanan darah
2) Irama dan kekuatan nadi
3) Irama, kedalaman dan penggunaan otot bantu pernafasan
4) Suhu tubuh
c. Pengkajian Head to Toe yang terfokus, meliputi :
1) Pengkajian kepala, leher dan wajah
 Periksa rambut, kulit kepala dan wajah
Adakah luka, perubahan tulang kepala, wajah dan jaringan
lunak, adakah perdarahan serta benda asing.
 Periksa mata, telinga, hidung, mulut dan bibir
Adakah perdarahan, benda asing, kelainan bentuk, perlukaan
atau keluaran lain seperti cairan otak.
 Periksa leher
Nyeri tulang servikal dan tulang belakang, trakhea miring
atau tidak, distensi vena leher, perdarahan, edema dan
kesulitan menelan.

15
2) Pengkajian dada
Hal-hal yang perlu dikaji dari rongga thoraks :
 Kelainan bentuk dada
 Pergerakan dinding dada
 Amati penggunaan otot bantu nafas
 Perhatikan tanda-tanda injuri atau cedera, petekiae,
perdarahan, sianosis, abrasi dan laserasi
3) Pengkajian Abdomen dan Pelvis
Hal-hal yang perlu dikaji :
 Struktur tulang dan keadaan dinding abdomen
 Tanda-tanda cedera eksternal, adanya luka tusuk, alserasi,
abrasi, distensi abdomen dan jejas
 Masa : besarnya, lokasi dan mobilitas
 Nadi femoralis
 Nyeri abdomen, tipe dan lokasi nyeri (gunakan PQRST)
 Distensi abdomen
4) Pengkajian Ekstremitas
Hal-hal yang perlu dikaji :
 Tanda-tanda injuri eksternal
 Nyeri
 Pergerakan
 Sensasi keempat anggota gerak
 Warna kulit
 Denyut nadi perifer
5) Pengkajian Tulang Belakang
Bila tidak terdapat fraktur, klien dapat dimiringkan untuk
mengkaji :
 Deformitas
 Tanda-tanda jejas perdarahan
 Jejas
 Laserasi

16
 Luka
6) Pengkajian Psikosossial
Meliputi :
 Kaji reaksi emosional : cemas, kehilangan
 Kaji riwayat serangan panik akibat adanya faktor pencetus
seperti sakit tiba-tiba, kecelakaan, kehilangan anggota tubuh
ataupun anggota keluarga
 Kaji adanya tanda-tanda gangguan psikososial yang
dimanifestasikan dengan takikardi, tekanan darah meningkat
dan hiperventilasi.
d. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan meliputi :
1. Radiologi
2. Pemeriksaan laboratorium
3. USG dan EKG

3. Diagnosa Keperawatan Utama


Diagnosa atau masalah keperawatan dapat teridentifikasi sesuai
dengan prioritas ditentukan berdasarkan besarnya ancaman kehidupan :
Airway, Breathing dan Circulation.
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada kasus Gagal Ginjal
Kronis antara lain :
a. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi
b. Gangguan perfusi jaringanberhubungandengan
suplaiO2kejaringan menurun.
c. Kelebihanvolume cairan berhubungan dengan input cairan
lebihbesar dari pada output
d. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungandengan intake tidak adekuat.

17
4. Intervensi dan Rasional

No. NOC NIC RASIONAL


Dx
1. Tujuan: 1. Auskultasi bunyi 1. Menyatakan
Pola nafas nafas,catat adanya adanya
kembalinorma crakles pengumpulan
l / stabil 2. Atur posisi sekret
Kriteria Hasil senyamanmungkin 2. Mencegah
:pasien tidak 3. Batasi untuk terjadinya sesak
mengalami beraktivitas nafas
dispnea 4. Anjurkan diit hipertonis 3. Mencegah sesak
5. Colaborasi atauhipoksia
pemberianO2 4. Mengurangi
edema paru
5. Perfusi jaringan
adekuat
2. Tujuan: 1. Selidiki adanya 1. Mengetahui
Perfusi tandaanemis penyebab
jaringan 2. Observasi adanya 2. Edema
adekuat edema ekstremitas merupakan
Kriteria 3. Dorong latihan aktif penyebab
hasil:CRT dengan rentang 3. Meningkatkan
kurang dari 2 geraksesuai toleransi sirkulasiperifer
detik 4. Kolaborasi pemberian 4. Meningkatkan
O2 suplaiO2

3. Tujuan:Volu 1. Kaji status cairan 1. Mengetahui


me cairan dengan menimbang BB status
dalam perhari, keseimbangan cairan,meliputi
keadaan masukan dan input dan output
seimbang

18
Kriteria hasil: pengeluaran ,turgor 2. Pembatasan
tidak ada kulit, tanda-tanda vital cairan akan
edema, 2. Batasi masukan cairan menentukan BB
keseimbangan 3. Jelaskanpada pasiendan ideal,
antara input keluarga pengeluaran urin,
dan tentangpembatasan dan
outputcairan cairan responterhadap
terapi.
3. Pemahaman
meningkatkanker
jasama pasien
dankeluarga
dalam
pembatasancaira
n

19
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. HASIL PENGKAJIAN
Tgl. Pengkajian : 2 Desember 2019
Jam Pengkajian : 10.00 WIB
Ruang : HCU RSUD TUGUREJO SEMARANG

1. IDENTITAS
a. Identitas Pasien
Nama :Ny. W
Umur :61 Tahun
Jenis Kelamin :Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan :SD
Pekerjaan :-
Alamat :Semarang
Gol. Darah :-
b. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Ny. I
Umur : 40 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat :Semarang
Hubungan Klien : Anak

2. KELUHAN UTAMA
a. Keluhan Utama Saat MRS :Sesak nafas
b. Keluhan Utama Saat Pengkajian :Sesak nafas, dan pasien
mengalami penurunan kesadaran
c. Diagnosa Medis : Chronic Kidney Disease

20
3. RIWAYAT KESEHATAN
a. Riwayat Penyakit Keluarga : Keluarga mengatakan anggota
keluarga yang lain tidak ada yang menderita penyakit seperti
yang diderita klien saat ini
b. Riwayat Penyakit Dahulu : Sebelum pasien terkena penyakit
ini, pasien mempunyai riwayat penyakit yaitu DM dan
Hipertensi
c. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke IGD RSUD
TUGUREJO dengan keluhan sesak nafas kurang lebih selama 1
hari sebelum masuk rumah sakit, muntah ( - ), sesak ( + ), batuk
( - ), nyeri dada ( - ), lemas ( + ) dan masuk ke ruang HCU
dikarenakan pasien mengalami penurunan kesadaran.
4. TINGKAT KESADARAN DIRI PASIEN DI RUANG HCU
Hari, Tanggal GCS PASIEN
1. Senin, 2 Desember E : 4, V : 3, M : 5. Total nilai GCS : 12
2019
2. Selasa, 3 Desember E : 3, V : 3, M : 5. Total nilai GCS : 11
2019
3. Rabu, 4 Desember 2019 E : 1, V : 1, M : 1. Total nilai GCS : 3

5. PENGKAJIAN PRIMER
1. Airways (Jalan Nafas)
Tidak terdapat sumbatan jalan nafas.
2. Breathing (Pernafasan)
Klien mengalami sesak nafas. Frekuensi nafas 40 x/menit,
pengembangan dada klien simetris kanan dan kiri, irama nafas
regular cepat, kedalaman nafas klien dangkal, Klien berbaring
dengan posisi semi fowler dan terpasang non rebreating mask 9
L/menit SPO2 97%

21
3. Circulation (Sirkulasi)
Nadi 108x/menit, irama teratur, denyut kuat, tekanan darah 140/85
mmHg, akral dingin, warna kulit pucat, pengisian kapiler >3 detik,
turgor kembali lambat, mukosa kering, terdapat edema pada tangan
bagian kanan, perut klien terlihat membesar.
4. Dissability (Kesadaran)
Tingkat kesadaran klien apatis, reaksi mata kanan dan kiri (+)
terhadap rangsang cahaya, GCS klien 12. Ditemukan tanda-tanda
stroke dan kekuatan otot melemah

6. PENGKAJIAN SEKUNDER
a. Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien jika sedang tidak enak
badan atau sakit pergi ke puskesmas terlebih dahulu sebelum dibawa
ke rumah sakit
b. Pola aktivitas sehari-hari
ADL Ketika di rumah sakit
a. Pola pemenuhan kebutuhan Pasien terpasang NGT
nutrisi dan cairan dengan diit cair, berupa
susu.
b. Pola Eliminasi BAK : Pasien terpasang
1) BAK kateter
2) BAB BAB : Pasien dipasang
popok.

c. Pola Istirahat Tidur Pasien tidak bisa tidur


dan sering meracau
d. Pola Kebersihan Diri Pasien dalam pola
kebersihan diri dibantu
oleh perawat dengan
diseka tubuhnya untuk

22
menjaga kebrsihan diri
pasien

7. ALAT YANG DIGUNAKAN PASIEN


a. Pasien terpasang infus pumb
b. Pasien terpasang syringe pumb
c. Pasien terpasang bedside monitor
d. Pasien terpasang non rebreathing mask
e. Pasien terpasang ngt
f. pasien terpasang DC

8. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum dan tingkat kesadaran :Sedang, apatis
b. Tanda – tanda vital :
Tekanan darah : 150/60 mmHg
Nadi : 109 x/menit
Suhu : 36,6
Respiratory Rate ( RR ) : 20 x/menit
c. Pemeriksaan wajah
1) Mata
Peradangan( - )
Luka (- )
Benjolan (- )
Konjungtiva ( anemis )
Bulu mata tidak rontok
Warna iris ( hitam)
2) Hidung
Inspeksi dan palpasi : (tidak ada pembengkakan di hidung ),
pasien menggunakan alat bantu pernafasan non rebreathing
mask

23
3) Mulut
warna bibir terlihat pucat, lesi ( - ), bibir pecah ( - ), amati gigi,
gusi dan lidah : Caries (- )
4) Ekstremitas :
Pasien terdapat edema pada bagian tangan sebelah kanan.
d. Pemeriksaan kepala dan leher
1) Kepala
Inspeksi : bentuk kepala (bulat ), kesimetrisan (+), hidrochepalus
(- ), luka (- ), darah (- )
2) Leher
Inspeksi : bentuk leher ( simetris), peradangan (- )
Palpasi : pembesaran kelenjar tiroid (- ), posisi trakea ( simetris),

9. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hematologi rutin Hasil Satuan Nilai rujukan
HB L 9.4 G/dl 13.2-17.3
Leukosit 8.33 Ribu/µl 3.80-10.60
Hematokrit L 29 % 40-52
Trombosit 177 Ribu/µl 150-440
Eritrosit L 3.26 10^6/ µl 4.40-5.90
MCV/VER 69 Fl 80-100
MCH/HER 29 Pg 26-34
MCHC/AHER 32 G/dl 32-36
Kimia Klinik
Glukosa Sewattu 127 Mg/dl 70-200
Ureum Darah H. 98 Mg/dl 10-50
Kreatinin Darah H 6.10 Mg/dl 0.9-1.3

10. TERAPI OBAT


a. Oral : Paracetamol
Injeksi :
 Metronidapole 2 x 1 jam 08.00 dan 16.00
 Phytomedion 1 x 1 jam 08.00
 Asam traneksamat 3 x 1 ampul jam 08.00, 16.00, 24.00
 Ondancentron 3 x 1 jam 08.00, 16.00, dan 24.00
 Ceftriaxon 2 x 1 gr jam 08.00, 16.00

24
 Furosemid 3 x1 ampul jam 08.00, 16.00, 24.00
 Prosogan 2 x 1 jam 08.00, 16.00
 Methylprednisolon 2 x 62,5 jam 08.00, 16.00

B. ANALISA DATA
Data Fokus Problem / diagnosa keperawatan
Data Subjektif : Kelebihan volume cairan
 - berhubungan dengan gangguan
Data Objektif : mekanisme regulator sekunder
 Pasien tampak edema pada akibat gagal ginjal
tangan kanan
 Pengeluaran urine hanya 200
cc/ 24 jam
 Turgor kulit kembali lambat
 Perut klien terlihat membesar
 Ureum Darah H. 98 Mg/dl
10-50
 Kreatinin Darah H 6.10 Mg/dl
0.9-1.3
Data Subjektif : Ketidakefektifan pola nafas
 - berhubungan dengan menurunya
Data Objektif : suplai O2
 Klien mengalami sesak nafas.
 Frekuensi nafas 40 x/menit,
 pengembangan dada klien
simetris kanan dan kiri,
 irama nafas regular cepat,
 kedalaman nafas klien
dangkal,

25
 Klien berbaring dengan posisi
semi fowler dan terpasang non
rebreating mask 9 L/menit
 SPO2 97%

Data Subjektif : Risiko Penurunan Curah Jantung


 - berhubungan dengan beban jantung
Data Objektif : yang meningkat
 Nadi 108x/menit, irama teratur,
denyut kuat, tekanan darah
140/85 mmHg, akral dingin,
warna kulit pucat,
 pengisian kapiler >3 detik,
 turgor kembali lambat, mukosa
kering,
 terdapat edema pada tangan
bagian kanan,
 Tingkat kesadaran klien apatis
 Reaksi mata kanan dan kiri (+)
terhadap rangsang cahaya,
 GCS klien 12 dan tampak
mengalami penurunan
kesadaran
 Ditemukan tanda-tanda stroke
dan kekuatan otot melemah
 Frekuensi nafas 40 x/menit,

26
C. RUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme
regulator sekunder akibatgagal ginjal
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan menurunya suplai O2
3. Risiko Penurunan Curah Jantung berhubungan dengan beban jantung
yang meningkat

D. RUMUSAN INTERVENSI
Tgl/jam No Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Dx (NOC) (NIC)
2/12/19 Dx 1 Setelah dilakukan tindakan Respiratory
10.00 keperawatan selama 2x24 jam Monitoring 3350
diharapkan terjadi keseimbangan  Monitor rata –
cairan dan tidak ada edema pada rata, kedalaman,
tubuh serta pengeluaran urin irama dan usaha
kembali normal respirasi
 Menunjukan jalan nafas yang  Catat pergerakan
paten dada,amati
 Tanda vital dalam rentang normal kesimetrisan,
Indikator awal Akhir penggunaan otot
 RR 2 4 tambahan,
 Respiratory 2 4 retraksi otot
Rhytm supraclavicular

 Chest 2 4 dan intercostal

Retraction  Monitor suara

 keterangan : nafas, seperti

1. sangat berat dengkur

2. berat  Monitor pola

3. sedang nafas : bradipena,

4. ringan takipenia,

5. normal kussmaul,
hiperventilasi,

27
cheyne stokes,
biot
 Catat lokasi
trakea
 Monitor
kelelahan otot
diagfragma
(gerakan
paradoksis)
 Auskultasi suara
nafas, catat area
penurunan / tidak
adanya ventilasi
dan suara
tambahan
 Tentukan
kebutuhan suction
dengan
mengauskultasi
crakles dan ronkhi
pada jalan napas
utama
 auskultasi suara
paru setelah
tindakan untuk
mengetahui
hasilnya

2/12/19 Dx 2 Setelah dilakukan tindakan  Kaji tanda-tanda


10.00 keperawatan, klien akan vital
menunjukkan pola nafas yang efektif
dengan suplai oksigen yang adequat

28
 Atur posisi klien
Kriteria Hasil : senyaman
- Klien akan mengatakan sesak mungkin
berkurang  Ajarkan klien
- Klien tampak tenang tehnik bernafas
- Tidak terlihat penggunaan otot- dan relaksasi
otot pernafasan tambahan  Kolaborasikan
- RR dalam batas normal dengan medis
dalam pemberian
therapy
 Kolaborasi dengan
tenaga
laboratorium
dalam
pemeriksaan darah
lengkap

2/12/19 Dx 3 Vital Sign Status 0802 Cardiac Care 4040


10.00 Setelah dilakukan tindakan  Evaluasi adanya
keperawatan selama 2 x 24 jam nyeri dada (
diharapkan TTV pasien dalam intensitas,lokasi,
rentang normal dengan kriteria hasil durasi)
:  Catat adanya
 Tekanan darah, nadi, suhu tubuh disritmia jantung
dan RR dalam rentang normal  Catat adanya tanda
Indikator awal Akhir dan gejala
 Suhu 4 5 penurunan cardiac
 Nadi 4 5 output

 RR 3 5  Monitor status

 Tekanan 4 5 kardiovaskuler

Darah  Monitor status

 keterangan : pernafasan yang

29
1. sangat berat menandakan gagal
2. berat jantung
3. sedang  Monitor abdomen
4. ringan sebagai indicator
5. normal penurunan perfusi
 Monitor balance
cairan
 Monitor adanya
perubahan tekanan
darah
 Monitor respon
pasien terhadap
efek pengobatan
antiaritmia
 Atur periode
latihan dan
istirahat untuk
menghindari
kelelahan
 Monitor toleransi
aktivitas pasien
 Monitor adanya
dyspneu, fatigue,
tekipneu dan
ortopneu
 Anjurkan untuk
menurunkan stress

E. IMPLEMENTASI
Hari pertama : Tanggal 2 Desember 2019
Tgl/jam Implementasi Respon Paraf

30
2/12/19  Mengkaji status cairan: S : -
10.00 timbang berat badan, O : terdapat edema pada
keseimbangan masukan tangan kanan,
dan haluaran, turgor pengeluaran urine sehari
kulit dan adanya edema hanya 200 cc
 Membatasi masukan Kadar ureum dan
cairan creatinine tinggi
11.40  Menjelaskan pada klien S : -
dan keluarga rasional O : Pasien tampak
pembatasan cairan gelisah
12.15 .
 Melakukan observasi S : -
tindakan HD dan O : Pasien tampak
tranfusi darah tenang
 Memberikan makan
pasien melalui NGT
3/12/19  Memberikan pasien S:-
08.00 posisi semi fowler O : pasien tampak lebih
 Memasang alat non nyaman dari
rebreating mask pada sebelumnya
pasien 9 L/menit
12.15  Memberikan nutrisi / S:-
makanan pada pasien O: nutrisi sudah masuk
melalui NGT
4/12/19  Suction S:-
09.00  Memasang OPA O:
12.15  Memberikan nutrisi / Pasien tampak
makanan pada pasien mengalami penurunan
melalui NGT kesadaran
Lendir di mulut
sudah bersih

31
F. EVALUASI
Hari pertama : Tanggal 2 Desember 2019
No Tgl/jam Catatan Perkembangan Paraf
Dx
Dx 4/12/19 S:-
1 14.15 O : Pasien terlihat sesak nafas, RR : 22 x/menit
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
 Monitor rata – rata, kedalaman, irama dan
usaha respirasi
 Catat pergerakan dada,amati
kesimetrisan, penggunaan otot tambahan,
retraksi otot supraclavicular dan
intercostal
 Monitor pola nafas : bradipena, takipenia,
kussmaul, hiperventilasi, cheyne stokes,
biot
 Auskultasi suara nafas pasien
 Berikan terapi oksigen 3 LPM nasal kanul
Dx 4/12/19 S:-
2 14.30 O : Pasien masih terpasang NRM dan juga masih
terpasang OPA
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
Dx 4/12/19 S:
3 14.30 O : Pasien terlihat gelisah dan cemas
TTV pasien stabil
Akral Hangat
A : Masalah belum teratasi

32
P : Lanjutkan intervensi (karena merupakan
diagnosa risiko jadi harus selalu dipantau dan
intervensi dilanjutkan sampai pasien
dipulangkan)
 Monitor adanya perubahan TD pasien
 Evaluasi adanya nyeri dada pasien
 Anjurkan pasien untuk menurunkan stress
 Monitor balance cairan

33
BAB IV
PEMBAHASAN

1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 2 Desember 2019 jam 10.00
WIB oleh mahasiswa D3 Keperawatan Unimus di ruang HCU RSUD
Tugurejo Semarang. Kendala selama pengkajian yaitu pasien sulit untuk
diwawancarai dikarenakan keadaan pasien yang mengalami penurunan
kesadaran. Dengan nilai GCS pasien yaitu E = 4, M = 5, V = 3 total nilai
GCS = 12 dan tergolong tingakat kesadaran apatis.
Solusi dari pengkajian pasien,yg dapat dilakukan adalah obeservasi,
palpasi, maupun auskultasi seperti bertanya mengenai riwayat kesehatan
pasien dan juga pola kehidupan sehari - hari pasien sebelum dibawa ke
rumah sakit, kami melakukan wawancara kepada keluarga terdekat pasien
yg ikut menunggu pasien. Selain mewawancai keluarga terdekat pasien,
kami juga melihat catatan medis pasien untuk mengetahui secara mendalam
mengenai kesehatan pasien.

2. Diagnosa
 Definisi Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon
individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual
atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya,
perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan
memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan,
membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien.
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menggambarkan
respon aktual atau potensial klien terhadap masalah kesehatan yang
mempunyai lisensi dan kompeten untuk mengatasinya. Diagnose
keperawatan memberikan dasar pemilihan intervensi untuk
mencapai hasil yang menjadi tanggung gugat perawat (Potter &
Perry, 2005).

34
 Alasan mengangkat Diagnosa Keperawatan
Menurut Nanda NIC-NOC (2014) diagnosa keperawatan yang
muncul untuk pasien CKD adalah :
a. Kelebihan volume cairan, pada pasie Ny. W terdapat edema pada
ekstremitas tangan kanan, pengeluaran urine selama 24 jam yang
sangat sedikit dan hasil laboratorium yang menunjukkan bahwa
ureum dan creatinine pada pasien tinggi.
b. ketidakefektifan pola nafas, pada pasien Ny.W terpasang alat
bantu pernafasan berupa Non Rebreating Mask 9 L/menit, frekuensi
nafas pada pasien adalah 40 x/menit, serta pernafasan pada pasien
dangkal.
c. resiko penurunan curah jantung pada pasien Ny. W terdapat
edema pada tangan kanan, nadi 108 x/menit serta pengisian kapiler
lebih dari 3 detik dan mengalami penuruanan kesadaran
 Alasan memprioritaskan Diagnosa
Sesuai dengan teori yang sudah di sampaikan di atas prioritas
diagnosa di dasarkan pada tingkat kegawatdaruratan pada pasien
yaitu mengacu pada pengkajien primer ABCD yaitu Airway,
Breating, Circulation. Dan Disability
 Implementasi
Implementasi keperawatan dilaksanakan selama tiga hari dimulai
dari tanggal 2-4 Desember 2019 dimana semua tindakan yang
dilaksanakan selalu berorientasi pada rencana yang telah dibuat
dahulu dengan mengantisipasi seluruh tanda-tanda yang timbul
sehingga tindakan keperawatan dapat tercapai pada asuhan
keperawatan yang dilaksanakan dengan menerapkan komunikasi
therapeutik dengan prinsip etis. Pada kasus ini tidak jauh beda
dengan teori-teori yang ada di dalam rencana keperawatan.
 Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan.
Namun, evaluasi dapat dilakukan pada setiap tahap dari proses

35
perawatan. Evaluasi mengacu padapenilaian, tahapan dan
perbaikan. Pada tahap ini, perawat menemukan penyebabmengapa
suatu proses keperawatan dapat berhasil atau gagal (Alfaro-Lefevre,
1994 dalam Deswani, 2009).
Evaluasi dari kasus ini adalah pasien masih mengalami
penurunan kesadaran, sering meracau, sesak, dan pola makan masih
menggunakan selang NGT.

36
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Chronic kidney disease (CKD) atau penyakit ginjal kronis
didefinisikan sebagaikerusakan ginjal untuk sedikitnya 3 bulan dengan atau
tanpa penurunan glomerulusfiltration rate (GFR). Pasien yang mengalami
CKD diruang HCU RSUD Tugurejo Semarang salah satunya adalah Ny.W
yang mengalami penurunan kesdaran dan menjalani HD 1 minggu 2 kali.
Pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani terapi
hemodialisis(HD) 2 kali seminggu di RSUD Tugurejo sebagian besar
memiliki kualitas tidur yang buruk.

B. SARAN
1. Bagi klien, sebagai bahan masukan dan membantu klien
untuk meningkatkan perawatan atas diri sendiri
berhubungan dengan peningkatan kualitas hidupnya.
2. Bagi perawat HCU, Perawat diharapkan dapat membantu
memberikan pemenuhan kebutuhan dasar yaitu aspek fisik pasien
HD.
3. Bagi rumah sakit, makalah ini diharapkan dapat dipergunakan
sebagai informasi dalam menentukan kebijakan mengenai
pemenuhan pelayanan yang bermutu dan upaya meningkatkan
kualitas rumah sakit terutama mengenai pelayanan pada pasien
yang mengalami CKD.

37
DAFTAR PUSTAKA

NANDA internasional. (2015). Diagnosa keperawatan : definisi dan klasifikasi


2015-2017. Jakarta: EGC
PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
Nursing Outcomes Clasification (NOC), 5th Edition
Nursing Intervention Clasification (NIC), 6th Edition

Bakta, I Made & I Ketut Suastika,. 1999. Gawat Darurat di Bidang Penyakit
Dalam. Jakarta : EGC.

Black, Joyce M. & Jane Hokanson Hawks. 2005. Medical Surgical Nursing
Clinical Management for Positive Outcome Seventh Edition. China : Elsevier
inc.

Bulechek, Gloria M., Butcher, Howard K., Dotcherman, Joanne M. 2008. Nursing
Intervention Classification (NIC). USA: Mosby Elsevier.

Herdinan, Heather T. 2012. Diagnosis Keperawatan NANDA: Definisi dan


Klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC.

Johnson, M. Etal. 2008. Nursing Outcome Classification (NOC). USA: Mosby


Elsevier.

Nahas, Meguid El & Adeera Levin. 2010. Chronic Kidney Disease: A Practical
Guide to Understanding and Management. USA : Oxford University Press.

Price, Sylvia A. & Lorraine M. Wilson. 2002. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit Edisi 6 Volume 2. Jakarta : EGC.

Smeltzer, S. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth.
Volume 3 Edisi 8. Jakarta : EGC.

Sudoyo. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

38