Anda di halaman 1dari 9

NAMA : Mohammad Ramdhan Vidi Zafrizal Firdaus

NIM : 19770019
KELAS : MPAI A
MATA
Sejarah Peradaban Islam
KULIAH :
DOSEN : Dr. H. Muhammad Hadi Masruri, M. Ag

A. Biografi singkat K.H. Ahmad Dahlan

Kiai Haji Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1868 dengan nama
kecil Muhammad Darwis. Dia adalah putra keempat dari K.H. Abu Bakar bin Kiai Sulaiman,
seorang khatib di Masjid Agung dengan Siti Aminah binti K.H. Ibrahim, penghulu besar di
Yogyakarta. Kiai Abu bakar sendiri dikaruniai tujuh orang anak, lima perempuan dan dua
laki-laki.

Dalam silsilah, Darwis termasuk keturunan ke-12 dari Maulana Malik Ibrahim yang
termasuk dalam jajaran wali songo yang sangat terkenal di tanah Jawa. Adapun silsilahnya
ialah Muhammad Darwis (Ahmad Dahlan) bin K.H. Abu Bakar bin K.H. Muhammad
Sulaiman bin Kiai Murtadla bin Kiai Ilyas bin Dameng Djurung Djuru Kapindo bin Dameng
Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman KI Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana
Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana
Malik Ibrahim.1

Darwis mengawali pendidikan di pangkuan ayahandanya dirumah sendiri. Saat


menginjak usia delapan tahun, darwis kecil sudah bisa membaca Al-Qur’an dan
mengkhatamkannya. Menjelang dewasa, darwis mengaji fiqih kepada K.H. Muhammad Saleh,
mengaji Nahwu kepada K.H Muhsin, dan juga mengaji kepada Ulama’ lainnya di Kauman.

Antra tahun 1883 hingga 1888, Darwis menunaikan ibadah haji dan menetap disana
selama lima tahun. Tujuan Darwis berangkat ke tanah suci tidak hanya ibadah haji akan tetapi
ada tujuan lain yaitu memperdalam ilmu-ilmu keislaman. Darwis mendatangi ulama’-ulama’
Indonesia yang berada disana. Salah satu gurunya yang terkenal adalah Syaik Ahmad Khatib

1
Adi Nugraha. KH. Ahmad Dahlan: Biografi Singkat. Hlm: 17 (2009)
al-Minangkabawi yang jyga guru dari K.H. Hasyim Asy’ari. 2Darwis juga berinteraksi dengan
pemikiran pembaharu dalam islam seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani,
Muhammad rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Sebelum pulang ke Indonesia, Darwis menemui
salah satu ulama’ yang bernama Syafi’I Sayid Bakri Syatha dan mendapatkan nama Haji
Ahmad Dahlan.

Sesampainya di Indonesia, Dahlan memulai dakwanya dengan mengajar anak-anak


yang menjadi murid ayahnya. Terkadang Dahlan menggantikan ayahnya untuk mengajar
orang dewasa jika ayahnya berhalangan mengajar. Dari situlah Dahlan mendapatkan gelar
K.H. Ahmad Dahlan.

Pada tahun 1903, Dahlan kembali ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji yang
kedua kalinya. Kunjungan yang kedua ini, Dahlan memperdalam keilmuannya tetapi lebih
mendalami pemikiran tokoh-tokoh pembaharu islam seperti Jamaluddin Al-afghani, ibn
Taimiyah, Muhammad Abduh, dan juga Muhammad Rasyid Ridha (pengarang tafsir Al-
Manar). Dari tafsir Al-Manar pula gagasan-gagasan pembaharuan itu memunculkan inisiatif
untuk dikembangkan di Indonesia.3

Dahlan kembali ke tanah airnya pada tahun 1906 dan menikah dengan Siti Walidah
putri dari Kiai Penghulu Haji Fadhil yang kelak dipanggil dengan nama Nyai Ahmad Dahlan.
Dari pernikahannya dengan Siti Walidah, Dahlan dikaruniai enam orang anak yaitu Djohanah,
Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Zahara. Selain dengan Siti
Walidah, Dahlan juga permah menikahi Nyai Abdullah setelah Kiai Abdullah meninggal. Ia
juga pernah menikah dengan Nyai Rum, adik dari Kiai Munawwir, krapyak. Dahlan juga
mempunyai seorang anak yang bernama Dandanah dari pernikahannya dengan Nyai Aisyah,
adik Ajengan Penghuku Cianjur. Dan yang terakhir Ia juga pernah menikah dengan Nyai
Yasin dari Pakualam, Yogyakarta.4

Pada tahun 1912, Dahlan mendirikan organisasi muhammadiyah, tepatnya 18


November 1912 dengan bantuan organisasi Budi Utomo yang tetapi dengan syarat semua
anggotanya masuk dalam jajaran pengurus Budi Utomo. Pada tanggal 20 Desember 1912,

2
HM Nasruddin Ansory Ch. Matahari Pembaruan. Hlm: 51 (2010)
3
Adi Nugraha. KH. Ahmad Dahlan: Biografi Singkat. Hlm: 24 (2009)
4
HM Nasruddin Ansory Ch. Matahari Pembaruan. Hlm: 55 (2010)
dahlan mengajukan permohonan legitimasi kepada Pemerintahan Hindia Belanda.
Permohonan ini baru dikabulkan pada tanggal 22 Agustus 1914.5

K.H. Ahmad Dahlan meninggal pada tahun 1923 tepatnya pada tanggal 23 Februari
setelah hampir setahun mengidap penyakit yang berat. Beliau dimakamkan pemakaman umum
desa Karangkajen yang berdekatan dengan desa Kauman. Ummat Muhammadiyah dan
Aisyiyah sangat terpukul dengan kepergian K.H. Ahmad Dahlan ke Rahmatulloh, tidak
terkecuali juga ummat muslim di Indonesia.6

B. Sumber Pemikiran Pembaruan K.H. Ahmad Dahlan

Sepulangnya dari haji , Dahlan memulai penyebaran ilmu yang ia dapatkan disana dan
juga melakukan pembaruan. Pembaruan dalam islam oleh Dahlan tidak lepas dari pengaruh
pemikiran Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh yang ia pelajari pada saat di
Mekah. Dalam kiprahnya, Dahlan lebih cenderung kepada pemikiran Muhammad Abduh dan
muridnya yaitu Muhammad Rosyid Ridho, yang melakukan pembaruan melewati dakwah dan
pendidikan. Dahlan juga mempunyai satu prinsip yang sampai saat ini bagi ummat
muhammadiyah sudah dianggap doktrin. Prinsip tersebut yaitu “Semua ibadah diharamkan
kecuali ada perintah dan semua muamalah (masalah dunia) boleh dilakukan kecuali ada
larangan”. Maknanya : semua ibadah harus berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis Nabi.7

Prinsip yang disampaikan Dahlan diatas, hampir sama dengan yang di perjuangkan
oleh pembahuru islam di Mekah yaitu Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Muhammad bin
Abdul Wahab berhasil menyebarkan pemahamannya yang intinya membersihkan paham dan
pengamalan Islam dari penyakit TBC (takhayul, bid’ah, churofat) seperti pengultusan Nabi
Muhammad, pengeramatan kuburan. Namun, Dahlan tidak menjiplak begitu saja pemikiran
Abdul Wahab. Ia menyesuaikan dengan keadaan sosial dan budaya yang ada di Indonesia.

C. Perbaikan Kiblat Shalat

5
HM Nasruddin Ansory Ch. Matahari Pembaruan. Hlm: 56-57 (2010)
6
Adi Nugraha. KH. Ahmad Dahlan: Biografi Singkat. Hlm: 41 (2009)
7
Tim Pembina Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Malang
Muhammadiyah Sejarah, Pemikiran dan Amal Usaha.Hlm: 5 (1990)
Pembaruan pertama yang dilakukan Dahlan adalah perbaikan kiblat sholat di masjid-
masjid. Ia merasa resah dengan ummat muslim pada saat itu, yang mana mereka melakukan
shalat lima waktu tidak menghadap kiblat. Hal ini juga membuktikan bahwasannya ummt
islam pada saat itu mengalami ke merosotan dalam hal agama. Mereka melakukan ibadah
hanya karena mengikuti nenek moyang mereka dan adat istiadat disekitar mereka, tanpa mau
tau kebenaran ibadahnya. Kiblat masjid pada saat itu kebanyakan mengikuti rentetan jalan
yang sudah ada. Oleh karena itu, Dahlan mengundang 17 ulama’ yang ada di Kauman dan
sekitarnya untuk bermusyawarah tentang arah kiblat masjid yang ada disana.

Musyawarah tersebut berlangsung hingga menjelang subuh tanpa menghasilkan suatu


kesepakatan. Namun Dahlan justru senang karena silang pendapat berjalan dengan tenang.
Setelah shalat subuh, para ulama’ pulang ke rumah masing-masing. Peristiwa menarik tersebut
terjadi pada tahun 1898.

Setelah peristiwa itu, diam-diam dua orang yang mendengarkan diskusi itu membuat
garis putih setebal 5cm di depan pengimaman masjid besar Kauman untuk mengubah arah
kiblat. Kiai Penghulu HM Kholil Kamaludiningrat pun marah dan memerintahkan
pengikutnya membongkar masjid yang di bangun K.H. Ahmad Dahlan. Namun, pada akhirnya
pendapat Kiai Ahmad Dahlan diterima dan kemudian diikuti oleh umat Islam.

D. Pendirian Organisasi Muhammadiyah

Pada tahun 1906 setelah kepulangan Dahlan dari Haji yang kedua kalinya, ia menjadi
guru di Kauman. Selain itu ia mengajar di Kweekschool di Yogyakarta dan Opleidingschool
voor Inlandsche Ambtenaren sebuah sekolah untuk pegawai pribumi di Magelang. Dahlan
menemukan suatu hal baru dalam dunia pendidikan, yang ia dapati di saat ia mengajar di
Kweekschool seperti kursi, meja, dan papan tulis yang mana semua ini tidak ia dapati di
Pesantren-Pesantren saat itu. Ia juga bertemu dengan beberapa anggota organisasi Boedi
Oetomo yang mengajar di Kweekschool.8

Dari pengalamannya mengajar di Kweekschool, Dahlan mengetahui lebih dalam


tentang organisasi. Dahlan melihat para penjajah memiliki kekuatan dan kekuasaan yang kuat
hingga mereka bisa mengalahkan umat Islam karena mereka terorganisasi dengan baik, maka
8
Adi Nugraha. KH. Ahmad Dahlan: Biografi Singkat. Hlm: 24 (2009)
dari itu dia bertemu dengan Tokoh yaitu Boedi Oetomo untuk mengenal organisasi itu, bahkan
ia masuk dalam jajaran pengurus Boedi Oetomo. Hal itu dilakukan agar ia memahami arah
dan tujuan organisasi tersebut.9

Setelah lama menjadi pengurus Boedi Oetomo, Dahlan berkeinginan organisasi sesuai
dengan dakwah Islam. Ternyata para aktivis Boedi Oetomo menghargai dan memberi apresiasi
terhadap langkah-langkah dakwahnya. Bahkan atas dorongan pengurus Boedi Oetomo, Dahlan
mendirikan sekolah di Yogyakarta pada tahun 1911. Sekolah yang didirikannya itu
menggunakan sistem modern dengan memajukan pelajaran agama dan umum dalam satu
paket. Dahlan juga mendapat dukungan dari berbagai pihak termasuk Boedi Oetomo untuk
mendirikan organisasi. Dan pada akhirnya Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 18
November 1912.10

Tujuan Dahlan mendirian organisasi yaitu melakukan pembaruan dalam cara berpikir
dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia bermaksud mengajak umat Islam Indonesia
untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur’an dan Hadits. Sejak awal Dahlan telah
menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan
bergerak di bidang pendidikan.

Pada awalnya pembentukan Muhammadiyah memang mendapatkan resistensi, baik


dari keluarga K.H Ahmad Dahlan sendiri maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai
fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. Dia dituduhkan hendak
mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu
karena meniru bangsa Belanda yang Kristen, juga macam-macam tuduhan lainnya. Bahkan,
ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun, rintangan-rintangan tersebut dihadapi
dengan sabar oleh Dahlan. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan
pembaruan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.

Pada 20 Desember 1912, K.H Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada


pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum bagi Muhammadiyah.
Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914 dengan terbitnya surat Ketetapan

9
Adi Nugraha. KH. Ahmad Dahlan: Biografi Singkat. Hlm: 33 (2009)
10
Ibid, 34
Pemerintah Np. 18 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta
dan Muhammadiyah hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta.11

Gagasan pembaruan ala Muhammadiyah lalu disebarluaskan oleh K.H Ahmad Dahlan
dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, juga melalui relasi-relasi dagang yang
dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di
berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya
untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. K.H Ahmad Dahlan telah
mengadakan 12 kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun) yang disebut Algemeene
Vergadering (persidangan umum). Dahlan menjadi ketua Muhammadiyah hingga dia
meninggal dunia pada tahun 1923. Bersama Muhammadiyah, K.HAhmad Dahlan telah
melakukan banyak pekerjaan besar bagi kemajuan bangsa dan masa depan untuk Islam.

E. Organisasi untuk kaum perempuan (Aisyiyah)

Muhammadiyah juga mendirikan organisasi untuk kaum perempuan dengan nama


‘Aisyiyah’. Dalam Aisyiyah, istri K.H Ahmad Dahlan yaitu Nyai Ahmad Dahlan berperan
aktif dan sempat menjadi pemimpinnya. Sejak mendirika muhammadiyah, KH Ahmad
Dahlan sangat memerhatikan pembinaan terhadap perempuan. Untuk pertama anak-anak
perempuan yang benar-benar mendapat penggemblengan dan dipersiapkan supaya nanti dapat
dijadikan pengurus dalam perempuannya Muhammadiyah, ada enam orang, yaitu :

1. Siti Bariyah
2. Siti Dawimah
3. Siti Dalalah
4. Siti Busyro (puteri beliau sendiri)
5. Siti Wadingah
6. Siti Badiah Zuber12

Kendati mereka masih anak-anak yang paling tinggi usianya baru 15 tahun, mereka
sudah diajak memikirkan soal-soal kemasyarakatan. Sebelum Aisyiyah secara konkret
terbentuk, sifat gerakan pembinaan perempuan itu baru merupakan kelompok anak-anak yang

11
Adi Nugraha. KH. Ahmad Dahlan: Biografi Singkat. Hlm: 37 (2009)
12
Ibid, 69
senang berkumpul kemudia diberi bimbingan oleh KH Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad
Dahlan dengan pelajaran agama. Kelompok anak-anak ini belum merupakan suatu oranisasi,
tetapi kelompok anak-anak yang diberi pengajian.

Waktu memberikan nama perkumpulan itu diusulkan nama FATIMAH, tetapi nama itu
tidak diterima rapat. Kemudian oleh KH Dachruddin dicetuskan nama ‘AISYIYAH’. Rupa-
rupanya nama inilah yang paling tepat sebagai organisasi perempuan baru itu. Mengapa nama
Aisyiyah itu dipandang tepat, karena diharapkan perjuangan perkumpulan itu meniru
perjuangan ‘Aisyah istri Nabi Muhammad Saw, yang selalu membantu berdakwah. Setelah
acara aklamasi perkumpulan itu diberi nama ‘Aisyiyah, kemudian diadakan upacara
peresmian.

Upacara peresmian itu waktunya bersama-sama dengan peringatan isra’ mi’raj Nabi
Muhammad Saw, pada 17 Rajab 1335 H yang bertepatan dengan 19 mei 1917 M yang
diadakan oleh Muhammadiyah untuk pertama kalinya. Tempat duduk murid-murid yang
perempuan dan kaum ibu dipisahlan dengan kelambu berwarna merah jamu. adapun yang
bertindak sebagai pembuka kelambu pada upacara itu ialah K.H. Mokhar.13

F. Awal Mula Terbentuknya Penolong Kesengsaraan Umum.

Awalnya K.H. Ahmad Dahlan dan murid-muridnya mengadakan pengajian di langgar


dekat rumahnya. Mereka bersiap-siap memulai pengajian dan membuka Al-Qur’an masing-
masing. Sebelumnya, para murid sudah bersiap dan membaca surat Al-Qur’an yang akan
dibaca hari itu. Tetapi, K.H. Ahmad Dahlan menyuruh muridnya mengulang surah Al-Ma’un.
Semua murid pun Teheran-heran dengan pengulangan surah Al-Ma’un ini. Kemudian, seorang
dari mereka memberanikan diri untuk bertanya tentang pengulangan surah tersebut. K.H.
Ahmad Dahlan pun menjawabnya, “Membaca Al-Qur’an itu harus mengerti artinya,
memahami maknanya, lalu melaksanakannya. Bila cuma menghafal tanpa melaksanakannya,
lebih baik tidak menambah bacaan surat”.14

Setelah menjelaskan maksud dari pengulangan tersebut, Dahlan mengajak murid-


muridnya ke Pasar Beringharjo, Pasar Malioboro, dan Alun-Alun utara Yogyakarta. Di

13
Adi Nugraha. KH. Ahmad Dahlan: Biografi Singkat. Hlm: 70 (2009)
14
Hery Supcipto, Nadjamuddin Ramly. Tajudid Muhammadiyah. Hlm: 30 (2005)
tempat-tempat itu, banyak berkeliaran pengemis dan fakir miskin. Ia memerintahkan setiap
muridnya untuk membawa mereka ke Masjid Besar. Disana, Dahlan membagikan sabun dan
sandang pangan kepada mereka. Ia meminta mereka untuk tampil bersih.

Sejak saat itu, Muhammadiyah aktif menyantuni fakir miskin dan yatim piatu, dengan
membentuk bagian penolong kesengsaraan umum. Bagian itu selanjutnya berkembang,
mendirikan rumah sakit dan badan sosial lainnya.15

15
Hery Supcipto, Nadjamuddin Ramly. Tajudid Muhammadiyah. Hlm: 31 (2005)
DAFTAR PUSTAKA

Adi Nugraha (2009). KH. Ahmad Dahlan: Biografi Singkat. Yogyakarta: Garasi

Hery Supcipto, Nadjamuddin Ramly (2005). Tajudid Muhammadiyah. Jakarta Selatan:


Grafindo Khazanah Ilmu

HM Nasruddin Ansory Ch. Matahari Pembaruan (2010). Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher

Tim Pembina Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Malang (1990).


Muhammadiyah Sejarah, Pemikiran dan Amal Usaha. Malang: Pusat Dokumentasi dan
Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang