Anda di halaman 1dari 30

PRESENTASI KASUS

HIDROSEFALUS

Disusun untuk Memenuhi Syarat Kelulusan Kepaniteraan Klinik


Bagian Ilmu Saraf RSUD Kota Salatiga

Disusun oleh :

Disusun Oleh :

Rijal Dwika Saputro


20174011065

Pembimbing: dr. Dony Ardianto, Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU SARAF


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2018
HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui dan disahkan, presentasi kasus dengan judul

HIDROSEFALUS

Disusun Oleh :
Rijal Dwika Saputro
20174011065

Telah dipresentasikan
Hari/tanggal: Minggu, 25 Feruari 2018

Disahkan oleh:
Dokter pembimbing,

dr. Dony Ardianto, Sp.S


BAB I
PENDAHULUAN

Hidrosefalus berasal dari kata “hidro” yang berarti air dan “chepalus” yang
berarti kepala. Meskipun hidrosefalus dikenal sebagai “air di otak”, “air" ini
sebenarnya cairan serebrospinal (CSS) yaitu cairan bening yang mengelilingi otak
dan sumsum tulang belakang. Dari istilah medis, hidrosefalus dapat diartikan
sebagai penumpukan cairan serebrospinal (CSS) secara aktif yang menyebabkan
dilatasi sistem ventrikel otak dimana terjadi akumulasi CSS yang berlebihan pada
satu atau lebih ventrikel atau ruang subarachnoid. Keadaan ini disebabkan oleh
karena terdapat ketidak seimbangan antara produksi dan absorpsi dari CSS. Bila
akumulasi CSS yang berlebihan terjadi diatas hemisfer serebral, keadaan ini
disebut higroma subdural atau koleksi cairan subdural. Hidrosefalus juga bisa
disebut sebagai gangguan hidrodinamik CSS. Kondisi seperti cerebral atrofi juga
mengakibatkan peningkatan abnormal CSS dalam susunan saraf pusat (SSP). 1

Fungsi utama dari CSS adalah untuk menyediakan keseimbangan dalam


sistem saraf. CSS merupakan cairan yang mengelilingi otak. Berfungsi untuk
mengurangi berat otak dalam tengkorak dan menyediakan bantalan mekanik dan
melindungi otak dari trauma yang mengenai tulang tengkorak. CSS merupakan
medium transportasi untuk menyingkirkan bahan-bahan yang tidak diperlukan
dari otak seperti CO2, laktat, dan ion Hidrogen. CSS juga bertindak sebagai
saluran untuk transport intraserebral. Hormon-hormon dari lobus posterior
hipofise, hipothalamus, melatonin dari fineal dapat dikeluarkan ke CSS dan
transportasi ke sisi lain melalui intraserebral.CSS juga mempertahankan tekanan
intracranial dengan cara pengurangan CSS dengan mengalirkannya ke luar rongga
tengkorak, baik dengan mempercepat pengalirannya melalui berbagai foramina,
hingga mencapai sinus venosus, atau masuk ke dalam rongga subarachnoid
lumbal yang mempunyai kemampuan mengembang sekitar 30%.2
BAB II
LAPORAN KASUS

I. IDENTIFIKASI
Nama : Tn. S
Umur : 39 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Godongan, Tingkir
Agama : Islam
MRS Tanggal : 3 Januari 2018

II. ANAMNESA (Autoanamnesa dan Alloanamnesa)


a. Keluhan Utama

Berjalan sempoyongan.

b. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang pada tanggal 3 Januari 2018 dari Poli Saraf dan
dirawat di ruang Cempaka RSUD Salatiga dengan keluhan berjalan
sempoyongan dan sulit dalam berjalan. Hal ini dirasakan sejak ± 4 bulan
sebelum masuk RSUD Kota Salatiga, pasien mengalami pusing berputar
dan pasien pernah di rawat di RS Puri Asih dengan keluhan pusing
berputar dan direncanakan untuk CT-scan. Pasien takut dengan CT-Scan
dan mulai memiliki gejala sulit berjalan dan sempoyongan saat berjalan,
apabila pasien sedang dilanda takut maka pasien akan menjadi kaku dan
sulit untuk berjalan dan berhenti sejenak saat berjalan. Setiap hari apabila
pasien mengalami ketakutan maka pasien akan mengalami hal tersebut
kembali. Pasien sebelumnya merupakan seorang yang obesitas berat
dengan berat badan sekitar 150 kg. selain itu pasien juga agak celat dalam
berbicara. Badan juga terasa lemas, mual tetapi tidak muntah.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
- 4 bulan sebelumnya pernah mengalami pusing berputar dan belum
sembuh sampai sekarang
- Tidak ada riwayat kencin manis

- Tidak ada riwayat tekanan darah tinggi

- Tidak ada riwayat sakit jantung

- Tidak ada keluarga yang memiliki riwayat kanker

- Tidak ada riwayat infeksi selaput otak

- Tidak ada riwayat Stroke

- Tidak ada riwayat kepala terbentur


d. Riwayat Penyakit Keluarga
 Tidak Ada keluarga yang memiliki riwayat kencing manis.
 Tidak ada keluarga yang memiliki keluhan yang serupa
 Tidak ada keluarga yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi
 Tidak ada keluarga yang memiliki riwayat sakit jantung
 Tidak ada keluarga yang memiliki riwayat stroke
 Tidak ada keluarga yang memiliki riwayat kanker

III. PEMERIKSAAN FISIK

Status Internus
Tanda Vital

Keadaan umum : baik, rawat diri baik


Kesadaran: Compos mentis GCS = 15 (E:4, M:6, V:5)
Tekanan Darah: 120/ 70 mmHg
Nadi: 88 x/m
Pernapasan: 20 x/m
Suhu Badan: 36,4 ºC
Berat Badan: 70 kg
Tinggi Badan: 165 cm
Pemeriksaan Sistem
 Kepala
- Bentuk normal, normochepal

- Konjungtiva anemis (-)

- Pupil isokor, refleks cahaya (+/+)

- Bibir sianosis (-)

 Leher
o Pembesaran KGB (+)
o Trakea teraba di tengah
o JVP 5+2

 Thoraks
○ Paru

- Inspeksi : Bentuk normal, pergerakan simetris.

- Palpasi : Ekspansi dada simetris. Vocal


fremitus kanan dan kiri sama, Nyeri tekan (-)
- Perkusi : Sonor di seluruh lapangan paru

- Auskultasi : Vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)

○ Jantung

- Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak

- Palpasi : Iktus cordis teraba di SIC 5 linea


midclavicula sinistra
- Perkusi : Pekak jantung normal. Batas jantung
kanan di sic 4 linea parasternalis kiri. Batas kiri sic 4 linea
axilaris anterior. Batas jantung atas SIC 3 linea
midclavicularis sinistra. Batas jantung bawah SIC 3 linea
midclavicularis
- Auskultasi : S1 S2 tunggal, reguler. Murmur (-),
gallop (-)

 Abdomen
- Inspeksi : Bentuk simetris dengan dada, tidak
terdapat deformitas
- Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien
tidak teraba
- Perkusi : Timpani di seluruh abdomen

- Auskultasi : Bising usus normal

 Ekstremitas atas dan bawah


- Akral hangat, Oedem (-/-).

Status Psikis
 Cara berpikir dan tingkah laku : baik
 Kecerdasan, perasaan hati dan ingatan : sulit dalam berfikir, sulit untuk
mengingat dan lambat dalam membaca

Status Neurologi
 Kesadaran
Kompos mentis, GCS 15 (E4V5M6)
 Kepala
Bentuk normal, simetris. Nyeri tekan (-)
 Leher
Sikap tegak, pergerakan sulit dan sempoyongan. Tidak ada
rangsangan meningeal.
 Pemeriksaan Saraf Kranialis
Pemeriksaan Saraf Kranialis Kanan Kiri
Olfaktorius (I)
 Subjektif Normal Normal
 Objektif (Teh dan minyak kayu Normal Normal
putih)
Optikus (II)
 Daya Penglihatan (Subjektif) Normal Normal
 Lapangan pandang (Subjektif) Normal Normal
 Melihat warna (+) (+)
Okulomotorius (III)
 Pergerakan mata kearah
superior, medial, inferior, torsi (+) (+)
inferior
 Strabismus (-) (-)
 Nystagmus (-) (-)
 Exoptalmus (-) (-)
 Refleks pupil terhadap sinar (+) (+)
 Melihat kembar (-) (-)
 Pupil besarnya 3 mm 3 mm
Troklearis (IV)
 Pergerakan mata (ke bawah- (+) (+)
keluar)

Trigeminus (V)
 Membuka mulut (+) (+)
 Mengunyah (+) (+)
 Menggigit (+) (+)
 Sensibilitas muka (+) (+)
Abdusens (VI)
 Pergerakan mata ke lateral (+) (+)
Fasialis (VII)
 Mengerutkan dahi (+) (+)
 Menutup mata (+) (+)
 Memperlihatkan gigi (+) (+)
 Sudut bibir (+) (+)
Vestibulokoklearis (VIII)
 Fungsi pendengaran (objektif : (+) (+)
arloji dan suara tangan)
Glossofaringeus (IX)
 Perasaan lidah (bagian (+) (+)
belakang)
 Refleks muntah (+) (+)
Vagus (X)
 Bicara (+) (+)
 Menelan (+) (+)

Assesorius (XI)
 Mengangkat bahu (+) (+)
 Memalingkan kepala (+) (+)
Hipoglossus (XII)
 Pergerakan lidah (+) (+)
 Artikulasi (+) (+)

Badan dan Anggota Gerak


 Anggota Gerak Atas
Kanan Kiri
Motorik
 Pergerakan Normal Normal
 Kekuatan 5 5
 Tonus Normal Normal
Sensibilitas
 Taktil (+) (+)
 Nyeri (+) (+)
Refleks fisiologis
 Biseps (+) (+)
 Triseps (+) (+)
Refleks patologis
 Tromner (-) (-)
 Hoffman (-) (-)

 Anggota Gerak Bawah


Kanan Kiri
Motorik
 Pergerakan (+) (+)
 Kekuatan 5 5
 Tonus (-) (-)
Sensibilitas
 Taktil (raba) (+) (+)
 Nyeri (+) (+)
Refleks fisiologis
 Patella (+) (+)
 Achilles (+) (+)
Refleks patologis
 Babinski (-) (-)
 Chaddock (-) (-)
 Schaefer (-) (-)
 Oppenheim (-) (-)
 Rossolimo (-) (-)
 Mendel-Bechterew (-) (-)
 Clonus paha (-) (-)
 Clonus kaki (-) (-)

 Gerakan Involunter
 Tremor  (-)  (-)

 Chorea  (-)  (-)

 Atetosis  (-)  (-)

 Mioklonik  (-)  (-)


 Tics  (-)  (-)

 Meningeal sign

Kernig Sign Negatif


Lasegue Sign Negatif
Kaku Kuduk Negatif
Brudzinski 1 Negatif
Brudzinski 2 Negatif
Brudzinski 3 Negatif
Brudzinski 4 Negatif

 Pemeriksaan Koordinasi gait keseimbangan :


▪ Cara berjalan : berjalan sempoyongan
▪ Romberg-Test : positif, pusing saat membuka mata, hampir jatuh
saat tutup mata
▪ Tes tunjuk hidung : dalam batas normal

▪ Rebound test : negative

▪ heel to knee to toe : positif

▪ Tandem Walking : positif, hampir jatuh saat berjalan

 Alat vegetatif :
Mictio : dalam batas normal
Defekasi : dalam batas normal

A. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium : Hasil pemeriksaan laboratorium 03 Januari 2018

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan


Hematologi
Lekosit 9.63 4.5-11 Ribu/ul
Eritrosit 5.37 4.50-6.5 Juta/ul
Hemoglobin 16.4 13-18 g/dl
Hematokrit 48.4 40-54 Vol%
Trombosit 302 150-450 Ribu/ul
MCV 90.1 85-100 Fl
MCH 30.5 28-31 Pg
MCHC 33.9 30-35 g/dl
Hitung Jenis
Eosinofil% 0.5 1-6 %
Basofil% 0.4 0.0-1.0 %
Limfosit% 21.3 20-45 %
Monosit% 5.2 2-8 %
Neutrofil% 72.6 40-75 %
Kimia
Gula Darah Sewaktu 117 <140 Mg/dl
Ureum 17 10-50 Mg/dl
Kreatinin 1.1 0.6-1.1 Mg/dl
SGOT 18 <37 Mg/dl
SGPT 25 <42 g/dl
Elektrolit
Natrium 145 135-155 mml/e
Kalium 4.0 3.6-5.5 mml/e
Chlorida 106 95-108 Mmol/l
Kalsium 9.2 8.4-10.5 Mg/%
Magnesium 2.0 1.9-2.5 /mg/dl
Pemeriksaan Radiologi
Dilakukan Pemeriksaan CT Scan Kepala dengan Kontras
- Tak tampak lesi hypodens dan hyperdens pada
parenkim otak
- Tak tampak massa pada parenkim otak yang ada
post pemberian kontras tak tampak penyengatan/enhance
- Tak tampak midline schiffting
- Ventrikel lateralis dx/sn cornu anterior, posterior
melebar, 3 dan 4 dbn
- Fissure Sylvii dx/sn sempit dan falk cerebri dbn

- Sulcus sempit dan gyrus lebar

- Tak tampak kalsifikasi ganglion basalis dx/sn

- Pons dan cerebellum dbn


Kesan
- Gambaran Hydrocephalus ventrikel lateralis dx/sn
cornu anterior dan posterior
- Gambaran TIK yang meninggi

- Tak tampak massa pada parenkim otak

B. DIAGNOSA
 Diagnosa klinis : Vertigo Sentral
 Diagnosa topis : Ventrikel
 Diagnosa etiologik : Hidrosefalus
C. PENATALAKSANAAN
 IVFD Asering 20 tetes per menit + NB
 Inj. Dexamethasone 2x10 mg
 Inj. Ranitidin 3 x 50 mg
 Inj. Citicoline 2 x 500 mg
 Inj. Ketorolac 2x30 mg
 Ventriculoperitoneal shunting (Rujuk)

D. PROGNOSIS
Vitam : Dubia
Fungsionam : Dubia
Sanationam : Dubia
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. HIDROSEFALUS

I. Definisi

Hidrosefalus adalah pembesaran ventrikulus otak sebagai akibat


peningkatan jumlah cairan serebrospinal (CSS) yang disebabkan oleh
ketidakseimbangan antara produksi, sirkulasi dan absorbsinya. Kondisi ini juga
bisa disebut sebagai gangguan hidrodinamik CSS.Kondisi seperti cerebral atrofi
juga mengakibatkan peningkatan abnormal CSS dalam susunan saraf pusat (SSP).
Dalam situasi ini, hilangnya jaringan otak meninggalkan ruang kosong yang
dipenuhi secara pasif dengan CSS. Kondisi seperti itu bukan hasil dari gangguan
hidrodinamik dan dengan demikian tidak diklasifikasikan sebagai hidrochefalus.3,4

II. Klasifikasi

Hidrosefalus dapat dikelompokkan berdasarkan dua kriteria besar yaitu


secara patologi dan secara etiologi.5 Hidrosefalus Patologi dapat dikelompokkan
sebagai

1. Obstruktif (non-communicating) - terjadi akibat penyumbatan sirkulasi


CSS yang disebabkan oleh kista, tumor, pendarahan, infeksi, cacat bawaan
dan paling umum, stenosis aqueductal atau penyumbatan saluran otak.
2. Non – obstruktif (communicating) - dapat disebabkan oleh gangguan
keseimbangan CSS, dan juga oleh komplikasi setelah infeksi atau
komplikasi hemoragik.
Hidrosefalus Etiologi dapat dikelompokkan sebagai
1. Bawaan (congenital) - sering terjadi pada neonatus atau berkembang
selama intra-uterin.
2. Diperoleh (acquired) – disebabkan oleh pendarahan subarachnoid,
pendarahan intraventrikular, trauma, infeksi (meningitis), tumor,
komplikasi operasi atau trauma hebat di kepala. Tekanan normal
hidrosefalus (NPH), yang terutama mempengaruhi populasi lansia.
Ditandai dengan gejala yang spesifik: gangguan gaya berjalan, penurunan
kognitif dan inkontinensia urin (Trias Adam & Hakim).

III. Anatomi dan Fisiologi Aliran LCS

C. ANATOMI DAN FISIOLOGI ALIRAN CSS


Ruangan cairan serebrospinal (CSS) terdiri dari sistem ventrikel, sisterna
magna pada dasar otak dan ruangan subaraknoid. Ruangan ini mulai terbentuk
pada minggu kelima masa embrio. Sistem ventrikel dan ruang subarachnoid
dihubungkan melalui foramen Magendi di median dan foramen Luschka di
6
sebelah lateral ventrikel IV.

6
Gambar 1: anatomi aliran cairan serebrospinal
Cairan serebrospinalis dihasilkan oleh pleksus koroidalis di ventrikel otak.
Cairan ini mengalir ke foramen Monro ke ventrikel III, kemudian melalui
akuaduktus Sylvius ke ventrikel IV. Cairan tersebut kemudian mengalir melalui
foramen Magendi dan Luschka ke sisterna magna dan rongga subarachnoid di
6
bagian cranial maupun spinal.
Sekitar 70% cairan serebrospinal dihasilkan oleh pleksus koroidideus, dan
sisanya di hasilkan oleh pergerakan dari cairan transepidermal dari otak menuju
sistem ventrikel. Bagi anak-anak usia 4-13 tahun rata-rata volume cairan liqour
adalah 90 ml dan 150 ml pada orang dewasa. Tingkat pembentukan adalah sekitar
0,35 ml /menit atau 500 ml / hari. Sekitar 14% dari total volume tersebut
6
mengalami absorbsi setiap satu jam.
IV. Etiologi

Pembentukan CSS yang terlalu banyak dengan kecepatan absorpsi


yang normal akan menyebabkan terjadinya hidrosefalus, namun dalam klinik
sangat jarang terjadi, misalnya terlihat pelebaran ventrikel tanpa penyumbatan
pada adenomata pleksus koroidalis. Penyebab penyumbatan aliran CSS yang
sering terdapat pada bayi dan anak yaitu kelainan bawaan, infeksi, neoplasma dan
7
perdarahan.

1) Kelainan bawaan
a) Stenosis Akuaduktus Sylvius- merupakan penyebab terbanyak. 60%-
90% kasus hidrosefalus terjadi pada bayi dan anak-anak. Umumnya
terlihat sejak lahir atau progresif dengan cepat pada bulan-bulan
pertama setelah lahir.
b) Spina bifida dan cranium bifida – berhubungan dengan sindroma
Arnord-Chiari akibat tertariknya medulla spinalis, dengan medulla
oblongata dan serebelum letaknya lebih rendah dan menutupi foramen
magnum sehingga terjadi penyumbatan sebagian atau total.
c) Sindrom Dandy-Walker - atresiakongenital foramen Luschka dan
Magendi dengan akibat hidrosefalus obstruktif dengan pelebaran
system ventrikel, terutama ventrikel IV yang dapat sedemikian besarnya
hingga merupakan suatu kista yang besar di daerah fossa posterior.
d) Kista arachnoid - dapat terjadi congenital maupun didapat akibat trauma
sekunder suatu hematoma.
e) Anomali pembuluh darah – akibat aneurisma arterio-vena
yang mengenai arteria serebralis posterior dengan vena Galeni atau
sinus tranversus dengan akibat obstruksi akuaduktus.

2) Neoplasma - hidrosefalus oleh obstruksi mekanis yang dapat terjadi di


setiap tempat aliran CSS. Pada anak, kasus terbanyak yang menyebabkan
penyumbatan ventrikel IV dan akuaduktus Sylvius bagian terakhir biasanya
suatu glioma yang berasal dari serebelum, sedangkan penyumbatan bagian
7
depan ventrikel III biasanya disebabkan suatu kraniofaringioma.

3) Infeksi - Timbul perlekatan menings sehingga terjadi obliterasi ruang


subarachnoid. Pelebaran ventrikel pada fase akut meningitis purulenta
terjadi bila aliran CSS terganggu oleh obstruksi mekanik eksudat purulen di
akuaduktus Sylvius atau sisterna basalis. Pembesaran kepala dapat terjadi
beberapa minggu sampai beberapa bulan sesudah sembuh dari
meningitisnya. Secara patologis terlihat penebalan jaringan piamater dan
arakhnoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain. Pada meningitis serosa
tuberkulosa, perlekatan meningen terutama terdapat di daerah basal sekitar
sisterna kiasmatika dan interpendunkularis, sedangkan pada meningitis
7
purulenta lokasinya lebih tersebar.

4) Perdarahan - perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak dapat


menyebabkan fibrosis leptomeningen pada daerah basal otak, selain
7
penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darah itu sendiri.

V. Epidemiologi
Insiden hidrosefalus kongenital di AS adalah 3 per 1.000 kelahiran hidup
sedangkan insiden untuk hidrosefalus akuisita (aquired hydrocephalus) tidak
diketahui secara pasti karena penyebab penyakit yang berbeda-beda. Pada
umumnya, insiden hidrosefalus adalah sama untuk kedua jenis kelamin, kecuali
pada sindrom Bickers-Adams, X-linked hydrocephalus ditularkan oleh perempuan
dan diderita oleh laki-laki. Hidrosefalus dewasa mewakili sekitar 40% dari total
8
kasus hidrosefalus.
VI. Patofisiologi
Menurut teori hidrosefalus terjadi akibat dari tiga mekanisme yaitu;
produksi cairan yang berlebihan, peningkatan resistensi aliran cairan,
peningkatan tekanan sinus venosa. Konsekuensi dari tiga mekanisme diatas
adalah peningkatan tekanan intrakranial sebagai upaya mempertahankan
keseimbangan sekresi dan absorbsi. Mekanisme terjadinya dilatasi ventrikel
masih belum dipahami dengan jelas, namun hal ini bukanlah hal yang
sederhana sebagaimana akumulasi akibat dari ketidakseimbangan antara
produksi dan absorbsi. Mekanisme terjadinya dilatasi ventrikel cukup rumit
dan berlangsung berbeda-beda tiap saat tiap saat selama perkembangan
hidrosefalus. Dilatasi ini terjadi sebagai akibat dari:

1. Kompensasi sistem serebrovaskular


2. Redistribusi dari liquor serebropinal atau cairan ekstraseluler atau
keduanya dalam susunan sistem saraf pusat.
3. Perubahan mekanis dari otak (peningkatan elastisitas otak, gangguan
viskoelastisitas otak,kelainan turgor otak)
4. Efek tekanan denyut liquor serebrospinal (masih diperdebatkan)
5. Hilangnya jaringan otak
6. Pembesaran volume tengkorak (pada penderita muda) akibat adanya
regangan abnormal pada sutura cranial.

Produksi cairan yang berlebihan hampir semua disebabkan oleh tumor


pleksus khoroid (papiloma dan karsinoma). Adanya produksi yang berlebihan
akan menyebabkan tekanan intracranial meningkat dalam mempertahankan
keseimbangan antara sekresi dan absorbs liquor, sehingga akhirnya ventrikel akan
membesar. Adapula beberapa laporan mengenai produksi liquor yang berlebihan
tanpa adanya tumor pada pleksus khoroid, di samping juga akibat
hipervitaminosis. Gangguan aliran liquor merupakan awal dari kebanyakan dari
kasus hidrosefalus. Peningkatan resistensi yang disebabkan oleh gangguan aliran
akan meningkatkan tekanan cairan secara proporsional dalam upaya
mempertahankan resorbsi yang seimbang. Derajat peningkatan resistensi aliran
cairan dan kecepatan perkembangan gangguan hidrodinamik berpengaruh pada
penampilan klinis.

VII. Diagnosis

1) Pemeriksaan funduskopi - Evaluasi funduskopi dapat mengungkapkan


papilledema bilateral ketika tekanan intrakranial meningkat.
Pemeriksaan mungkin normal, namun, dengan hidrosefalus akut dapat
9
memberikan penilaian palsu.

2) Foto polos kepala lateral – tampak kepala membesar dengan


6
disproporsi kraniofasial, tulang menipis dan sutura melebar.

3) Pemeriksaan cairan serebrospinal – dilakukan pungsi ventrikel melalui


foramen frontanel mayor. Dapat menunjukkan tanda peradangan dan
6
perdarahan baru atau lama. Juga dapat menentukan tekanan ventrikel.
4) CT scan kepala - Meskipun tidak selalu mudah untuk mendeteksi
penyebab dengan modalitas ini, ukuran ventrikel ditentukan dengan
mudah. CT scan kepala dapat memberi gambaran hidrosefalus, edema
serebral, atau lesi massa seperti kista koloid dari ventrikel ketiga atau
thalamic atau pontine tumor.CT scan wajib bila ada kecurigaan proses
9
neurologis akut.
6
Gambar 2: Gambaran CT-scan pada penderita hidrosefalus

5) MRI - dapat memberi gambaran dilatasi ventrikel atau adanya lesi


9
massa.

6
Gambar 3: Gambaran MRI pada penderita hidrosefalus

VIII. Diagnosis Banding


Berdasarkan gambaran radiologi, hidrosefalus memiliki gambaran
yang hampir sama dengan holoprosencephaly, hydraencephaly dan atrofi
cerebri.
1. Holoprosencephaly - Holoprosencephaly muncul karena kegagalan
proliferasi dari jaringan otak untuk membentuk dua hemisfer. Salah satu
tipe terberat dari holoprosencephaly adalah bentuk alobaris karena biasa
diikuti oleh kelainan wajah, ventrikel lateralis, septum pelusida dan
atrofi nervus optikus. Bentuk lain dari holoprosencephaly adalah
semilobaris holoprosencephaly dimana otak cenderung untuk
berproliferasi menjadi dua hemisfer. Karena terdapat hubungan antara
pembentukan wajah dan proliferasi saraf, maka kelainan pada wajah
biasanya ditemukan pada pasien holoprosencephaly.
2. Hydranencephaly - Hydranencephaly muncul karena adanya iskemik
pada distribusi arteri karotis interna setelah struktur utama sudah
terbentuk. Oleh karena itu, sebagian besar dari hemisfer otak digantikan
oleh CSS. Adanya falx cerebri membedakan antara hydranencephaly
dengan holoprosencephaly. Jika kejadian ini muncul lebih dini pada
masa kehamilan maka hilangnya jaringan otak juga semakin besar.
Biasanya korteks serebri tidak terbentuk, dan diharapkan ukuran kepala
kecil tetapi karena CSS terus di produksi dan tidak diabsorbsi sempurna
maka terjadi peningkatan TIK yang menyebabkan ukuran kepala
bertambah dan terjadi ruptur dari falx serebri.
3. Atrofi Serebri - Secara progresif volume otak akan semakin menurun
diikuti dengan dilatasi ventrikel karena penuaan. Tetapi Atrofi
didefinisikan sebagai hilangnya sel atau jaringan, jadi atrofi serebri
dapat didefinisikan sebagai hilangnya jaringan otak (neuron dan
sambungan antarneuron). Biasanya disebabkan oleh penyakit-penyakit
degeneratif seperti multiple sklerosis, korea huntington dan Alzheimer.
Gejala yang muncul tergantung pada bagian otak yang mengalami
atrofi. Dalam situasi ini, hilangnya jaringan otak meninggalkan ruang
kosong yang dipenuhi secara pasif dengan CSS.
IX. Penatalaksanaan

1. Terapi konservatif medikamentosa - untuk membatasi evolusi

hidrosefalus melalui upaya mengurangi sekresi cairan dan pleksus


choroid (asetazolamit 100 mg/kgBB/hari; furosemid 1,2 mg/kgBB/hari)
atau upaya meningkatkan resorpsinya (isorbid). Terapi diatas hanya
bersifat sementara sebelum dilakukan terapi defenitif diterapkan atau
bila ada harapan kemungkinan pulihnya gangguan hemodinamik
tersebut; sebaliknya terapi ini tidak efektif untuk pengobatan jangka
6
panjang mengingat adanya resiko terjadinya gangguan metabolik.

2. Ventriculoperitoneal shunting - Cara yang paling umum untuk


mengobati hidrosefalus. Dalam ventriculoperitoneal (VP) shunting,
tube dimasukkan melalui lubang kecil di tengkorak ke dalam ruang
(ventrikel) dari otak yang berisi cairan serebrospinal (CSF). Tube ini
terhubung ke tube lain yang berjalan di bawah kulit sampai ke perut, di
mana ia memasuki rongga perut (rongga peritoneal). Shunt
memungkinkan CSS mengalir keluar dari ventrikel dan ke rongga perut
di mana ia diserap. Biasanya, katup dalam sistem membantu mengatur
10
aliran cairan.
6
Gambar 4: VP shunt

3. Terapi etiologi - Merupakan strategi penanganan terbaik; seperti antara


lain; pengontrolan kasus yang mengalami intoksikasi vitamin A, reseksi
radikal lesi massa yang mengganggu aliran liquor, pembersihan sisa
darah dalam liquor atau perbaikan suatu malformasi. Pada beberapa
kasus diharuskan untuk melakukan terapi sementara terlebih dahulu
sebelum diketahui secara pasti lesi penyebab; atau masih memerlukan
tindakan operasi shunting karena kasus yang mempunyai etiologi
6
multifaktor atau mengalami gangguan aliran liquor skunder.

X. Prognosis
Prognosis untuk individu didiagnosis dengan hidrosefalus sulit untuk
diprediksi, meskipun ada beberapa korelasi antara penyebab spesifik dari
hydrosefalus dan hasil. Prognosis bergantung kepada jika adanya gangguan
terkait, ketepatan waktu diagnosis, dan keberhasilan pengobatan. Individu
yang terkena dan keluarga mereka harus menyadari bahwa hidrosefalus
dapat menimbulkan risiko baik dari segi kognitif maupun pembangunan
fisik. Pengobatan oleh tim interdisipliner medis profesional, spesialis
rehabilitasi, dan ahli pendidikan sangat penting untuk memberikan hasil
1
yang positif. Jika tidak diobati, progresif hidrosefalus dapat berakibat fatal.
Gejala-gejala hidrosefalus dengan tekanan normal biasanya
memburuk dari waktu ke waktu jika tidak diobati. Sementara keberhasilan
pengobatan dengan shunt bervariasi dari orang ke orang, beberapa orang
sembuh hamper sepenuhnya setelah perawatan dan memiliki kualitas hidup
yang baik. Diagnosis dini dan pengobatan meningkatkan kesempatan
1
pemulihan yang baik.
BAB IV
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

Hidrosefalus adalah keadaan patologi otak yang mengakibatkan


bertambahnya cairan serebrospinalis (CSS) dengan tekanan intrakarnial yang
meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya CSS.
Hidrosefalus dapat diklasifikasikan berdasarkan anatomi/tempat obstruksi CSS,
etiologinya, dan usia penderitanya. Diagnosa hidrosefalus selain berdasarkan
gejala klinis juga diperlukan pemeriksaan khusus yaitu pemeriksaan pencitraan
atau radiologi. Pada kasus ini pasien mengalami pusing berputar dan kesulitan
dalam berjalan. Pada tes keseimbangan pasien juga mengalami kelainan sentral
pada system saraf pusat. Pada ct scan dengan kontras tampak ventrikel yang
melebar dengan isinya adalah cairan cerebrospinal.
Penatalaksanaan pada kasus hidrosefalus dapat dilakukan dengan terapi
medikamentosa (pada beberapa kasus dengan tingkatkan yang masih ringan) dan
juga dengan menggunakan operasi (pada kasus yang berat). Prognosis atau
keberlangsungan penyakit sangat ditentukan oleh adanya kelainan neural dan
ekstraneural yang menetap.Pada sebagian besar kasus, 50 kasus meninggal saat
masih dalam uterus atau 50% sisanya berkembang menjadi ventricolomegaly yang
progresif. Pada bayi seperti ini, segera dilakukan Shunt dan memberikan hasil
yang baik. Pada anak-anak dengan hidrosefalus terjadi peningkatan
ketidakmampuan mental dan kognitif. Kemampuan atau pengetahuan umum
sangat berkurang bila dibandingkan dengan populasi anak-anak pada umumnya,
kebanyakan anak mengalami keterbelakangan mental, verbal, ingatan dan juga
menyebabkan kelainan pada mata. Pada kasus ini, pasien dirujuk ke fasilitas
kesehatan yang lebih memadai untuk dilakukan penanganan oleh ahli bedah saraf
guna bisa di lakukan operasi pembuatan saluran dari ventrikel otak ke rongga
perut.

KESIMPULAN
Pada kasus ini, seorang laki-laki berusia 39 tahun dengan keluhan utama pusing
berputar dan dengan gejala lain adanya penurunan fungsi kognitif serta kesulitan
dalam berjalan serta dengan hasil ct scan menggunakan kontras terdapat
pembesaran ventrikel otak yang diakibatkan oleh hidrosefalus. Penatalaksanaan
utama ialah mengalirkan cairan keluar dari ventrikel melalui operasi oleh ahli
bedah saraf.

DAFTAR PUSTAKA
1. U.S. Department Of Health And Human Services. Public Health Service
National Institutes Of Health.
2. Dr. Iskandar Japardi (2002). Cairan Serebrospinal. USU Digital Library,
Fakultas Kedokteran Bagian Bedah Universitas Sumatera Utara.
3. Jason G. Mandell et. All. 2010. Journal of Neurosurgery: Pediatrics. July
2010 Volume 6, Number 1.
4. Jurnal Kedokteran Brawijaya, Vol. 27, No. 3, Februari 2013;
Korespondensi: Farhad Bal'afif. Laboratorium Bedah Saraf Fakultas
Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, Jl. Jaksa Agung Suprapto No.2
Malang,
5. Milani Sivagnanam and Neilank K. Jha (2012). Hydrocephalus: An
Overview, Hydrocephalus.
nd
6. Harold L. Rekate, M.D. January 2003. Hydrocephalusassociation 2
Edition. San Francisco, California.
7. Said Alfin Khalilullah (2011). Review Article Hidrosefalus. RSUD
dr.Zainoel Abidin Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda
Aceh.
8. Stephen L Nelson Jr, MD, PhD. Hydrochephalus.
9. Rukaiya K.A. Hamid, Mbbs, Ffarcs, Md, and Philippa Newfield, Md.
(2001). Pediatric Neuroanesthesia Hydrocephalus.
10. Dr. BC Warf (2008). Strategy for treatment of Hydrocephalus in
developing countries.