Anda di halaman 1dari 14

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Menurut Departemen Kesehatan RI, 2007, kehamilan adalah masa dimulai
saat konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya hamil normal 280 hari (40 minggu / 9
bulan 7 hari) di hitung dari triwulan/ trimester pertama dimulai dari konsepsi
sampai 3 bulan, trimester/ trimester ke-2 dari bulan ke- 4 sampai 6 bulan, triwulan/
trimester ke-3 dari bulan ke-7 sampai ke-9 (Agustin, 2012).

B. Proses terjadinya kehamilan


Fertilisasi adalah proses penyatuan gamet pria dan wanita, yang terjadi di
daerah ampulla tuba fallopii.Spermatozoa bergerak dengan cepat dari vagina ke
rahim dan selanjutnya masuk kedalam saluran telur.Pergerakan naik ini disebabkan
oleh kontraksi otot-otot uterus dan tuba. Sebelum spermatozoa dapat membuahi
oosit, mereka harus mengalami proses kapasitasi dan reaksi akrosom (Langman,
2000).
Fase fertilisasi mencakup fase 3 fase:
1. Penembusan korona radiata. Spermatozoa-spermatozoa yang mengalami
kapasitasi tidak akan sulit untuk menembusnya (Langman, 2000).
2. Penembusan zona pelusida. Zona pelusida adalah sebuah perisai glikoprotein
yang mempertahankan pengikatan sperma dan menginduksi reaksi kromosom.
Hanya 1 spermatozoa diantara 200-300 juta spermatozoa yang ada di saluran
kelamin yang berhasil menembus zona pelusida. Saat spermatozoa masuk ke
dalam membrane oosit, spermatozoa lain tidak akan bisa masuk lagi karena
aktifasi dari enzim oosit sendiri (Langman, 2000)
3. Fusi oosit dan membran plasma. Spermatozoa bergerak masuk ke membrane
oosit dan mencapai inti oosit. Perlu diketahui bahwa spermatozoa dan oosit
masing-masing memiliki 23 kromosom (haploid), selama masa penyatuan
masingmasing pronukleus melakukan sintesis DNA. Segera setelah sintesis
DNA, kromosom tersusun dalam gelendong untuk melakukan pembelahan
secara mitosis yang normal. Dua puluh tiga kromosom dari ibu dan dua puluh
tiga kromosom dari ayah membelah sepanjang sentromer, dan kromatid-
kromatid yang berpasangan tersebut saling bergerak ke kutub yang berlawanan,
sehingga menyiapkan sel zigot yang masing-masing mempunyai jumlah
kromosom yang normal (Langman,2000).
Gambar 2. 1 Proses terjadinya kehamilan

C. Tanda-tanda kehamilan
1. Tanda tidak pasti kehamilan
a. Amenorea (tidak dapat haid)
Gejala ini sangat penting karena umumnya wanita hamil tidak dapat haid
lagi. Dengan diketahuinya tanggal hari pertama haid terakhir supaya dapat
ditaksir umur kehamilan dan taksiran tanggal persalinan akan terjadi,
dengan memakai rumus Neagie: HT – 3 (bulan + 7).
b. Mual dan muntah
Biasa terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan hingga akhir triwulan
pertama. Sering terjadi pada pagi hari disebut “morning sickness”.
c. Mengidam (ingin makanan khusus)
Sering terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan, akan tetapi menghilang
dengan makin tuanya kehamilan.
d. Pingsan
Bila berada pada tempat-tempat ramai yang sesak dan padat. Biasanya
hilang sesudah kehamilan 16 minggu.
e. Anoreksia (tidak ada selera makan)
Hanya berlangsung pada triwulan pertama kehamilan, tetapi setelah itu
nafsu makan timbul lagi.
f. Miksi sering
Sering buang air kecil disebabkan karena kandung kemih tertekan oleh
uterus yang mulai membesar. Gejala ini akan hilang pada triwulan kedua
kehamilan. Pada akhir kehamilan, gejala ini kembali karena kandung kemih
ditekan oleh kepala janin.
g. Konstipasi atau obstipasi
Ini terjadi karena tonus otot usus menurun yang disebabkan oleh pengaruh
hormon steroid yang dapat menyebabkan kesulitan untuk buang air besar.
h. Pigmentasi (perubahan warna kulit)
Pada areola mamae, genital, cloasma, linea alba yang berwarna lebih tegas,
melebar dan bertambah gelap terdapat pada perut bagian bawah.
i. Epulis
Suatu hipertrofi papilla ginggivae (gusi berdarah). Sering terjadi pada
triwulan pertama
j. Varises (pemekaran vena-vena)
Karena pengaruh dari hormon estrogen dan progesteron terjadi penampakan
pembuluh darah vena. Penampakan pembuluh darah itu terjadi disekitar
genetalia eksterna, kaki dan betis, dan payudara
2. Tanda kemungkinan kehamilan
a. Perut membesar
Setelah kehamilan 14 minggu, rahim dapat diraba dari luar dan mulai
pembesaran perut.
b. Uterus membesar
Terjadi perubahan dalam bentuk, besar, dan konsistensi dari rahim. Pada
pemeriksaan dalam dapat diraba bahwa uterus membesar dan bentuknya
makin lama makin bundar.
c. Tanda Hegar
Konsistensi rahim dalam kehamilan berubah menjadi lunak, terutama daerah
ismus. Pada minggu-minggu pertama ismus uteri mengalami hipertrofi
seperti korpus uteri. Hipertrofi ismus pada triwulan pertama mengakibatkan
ismus menjadi panjang dan lebih lunak.
d. Tanda Chadwick
Perubahan warna menjadi kebiruan atau keunguan pada vulva, vagina, dan
serviks. Perubahan warna ini disebabkan oleh pengaruh hormon estrogen.
e. Tanda Piscaseck
Uterus mengalami pembesaran, kadang–kadang pembesaran tidak rata tetapi
di daerah telur bernidasi lebih cepat tumbuhnya. Hal ini menyebabkan uterus
membesar ke salah satu jurusan hingga menonjol jelas ke jurusan
pembesaran.
f. Tanda Braxton-Hicks
Bila uterus dirangsang mudah berkontraksi. Tanda khas untuk uterus dalam
masa hamil. Pada keadaan uterus yang membesar tetapi tidak ada kehamilan
misalnya pada mioma uteri, tanda Braxton-Hicks tidak ditemukan.
g. Teraba ballotemen
Merupakan fenomena bandul atau pantulan balik. Ini adalah tanda adanya
janin di dalam uterus.
h. Reaksi kehamilan positif
Cara khas yang dipakai dengan menentukan adanya human chorionic
gonadotropin pada kehamilan muda adalah air kencing pertama pada pagi
hari. Dengan tes ini dapat membantu menentukan diagnosa kehamilan sedini
mungkin
3. Tanda pasti kehamilan
a. Gerakan janin yang dapat dilihat, dirasa atau diraba, juga bagian-bagian
janin.
b. Denyut jantung janin
Didengar dengan stetoskop-monoral Laennec, dicatat dan didengar dengan
alat Doppler, dicatat dengan feto-elektro kardiogram dan dilihat pada
ultrasonograf.

D. Perubahan dalam kehamilan


1. Uterus
Uterus pada wanita yang tidak hamil mempunyai berat sekitar 70 gram
dan rongga yang dapat menampung isi 10 ml atau kurang.Selama kehamilan
uterus berubah menjdi struktur yang relative berdinding otot tipis yang dapat
mengakomodasi janin, plasenta, dan cairan amnion.
Isi yang data ditampung menjadi antara 5-20 L. Pengurangan tinggi
fundus terjadi pada beberapa bulan terakhir kehamilan, pada saat fetus turun ke
bawah ke bagian bawah uterus.Hal ini bertujuan untuk membuat jaringan pelvic
menjadi lebih lunak dengan tonus uterus yang baik, dengan formasi yang baru
dari segmen bawah rahim.
Pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus menjadi 1000 gram (berat
uterus normal 30 gram) dengan panjang 20 cm dan dinding 2,5 cm. Pada bulan-
bulan pertama kehamilan, bentuk uterus seperti buah alpukat agak gepeng
(Sarwono, 2010).

Gambar 2. 2 Uterus saat hamil


Pada kehamilan 16 minggu, uterus berbentuk bulat. Selanjutnya pada
akhir kehamilan kembali seperti bentuk semula, lonjong seperti telur. Hubungan
antara besarnya uterus dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui antara
lain untuk membentuk diagnosis, apakah wanita tersebut hamil fisiologik, hamil
ganda atau menderita penyakit seperti mola hidatidosa dan sebagainya.Pada
kehamilan 28 minggu, fundus uteri terletak kira-kira 3 jari diatas pusat atau 1/3
jarak antara pusat ke prosssus xipoideus. Pada kehamilan 32 minggu, fundus
uteri terletak antara ½ jarak pusat dan prossesus xipoideus.Pada kehamilan 36
minggu, fundus uteri terletak kira-kira 1 jari dibawah prossesus xipoideus
(Sarwono, 2010).
Saat awal hamil, kontraktilitas uterus ireguler dan tidak menimbulkan
rasa sakit.Selama trimester kedua, ada kontraksi yang dapat di deteksi dengan
pemeriksaan bimanual. Zat-zat yang dibutuhkan untuk perkembangan dan
metabolism janin dan plasenta dan juga pembuangan dari zat sisa metabolic
bergantung pada aliran darah total dari uterus, yang terutama berasal dari arteri
uterine dan ovarica. Aliran darah uretroplasental meningkat secara progresif
selama kehamilan (Sarwono, 2010).
2. Serviks uteri
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormon
estrogen. Akibat kadar estrogen yang meningkat dan dengan adanya
hipervaskularisasi, maka konsistensi serviks menjadi lunak. Serviks uteri lebih
banyak mengandung jaringan ikat yang terdiri atas kolagen. Karena servik
terdiri atas jaringan ikat dan hanya sedikit mengandung jaringan otot, maka
serviks tidak mempunyai fungsi sebagai spinkter, sehingga pada saat partus
serviks akan membuka saja mengikuti tarikan-tarikan corpus uteri keatas dan
tekanan bagian bawah janin kebawah. Sesudah partus, serviks akan tampak
berlipat-lipat dan tidak menutup seperti spinkter (Sarwono, 2010).
3. Ovarium
Ovulasi berhenti disaat kehamilan, dan maturasi folikel-folikel baru tidak
berjalan. Pada umumnya hanya sebuah corpus luteum yang dapat ditemukan
pada wanita hamil yang berfungsi secaa maksimal selama kehamilan 6 sampai 7
minggu- 4 sampai 5 mingu postovulasi- dan setelahnya hanya memberikan
kontribusi sedikit dalam menghasilkan progesterone (Sarwono, 2010).
4. Vagina
Vagina akibat hormon estrogen juga mengalami perubahan.Adanya
hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vula tampak lebih merah dan agak
kebiru-biruan (livide).Warna porsio tampak livide. Pembuluh-pembuluh darah
alat genetalia interna akan membesar. Hal ini dapat dimengerti karena oksigenasi
dan nutrisi pada alat-alat genetalia tersebut menigkat. Apabila terjadi kecelakaan
pada kehamilan/persalinan maka perdarahan akan banyak sekali, sampai dapat
mengakibatkan kematian. Pada bulan terakhir kehamilan, cairan vagina mulai
meningkat dan lebih kental. Sel epitel juga meningkatkan kadar glikogen. Sel ini
berinteraksi dengan hasil dedoelein yang merupakan bakteri komensal dan
menghasilkan lingkungan yang lebih asam.Lingkungan ini menyedikan
perlindungan ekstra terhadap organisme tapi merupakan keadaan
menguntungkan bagi Candida albican (Sarwono, 2010).
5. Kulit
Pada saat pertengahan kehamilan timbul kemerahan, garis-garis yang
sedikit tertekan pada kulit perut dan kadang-kadang juga ada pada payudara dan
paha. Ini disebut striae gravidarum atau stretch marks. faktor resiko yang
berkaitan dengan hal ini antara lain berat badan yang bertambah selama
kehamilan, usia muda pada saat hamil, dan riwayat dalam keluarga.
Hiperpigmentasi juga timbul pada 90% wanita. Garis tegah dari kulit
abdomen (linea alba) menjadi lebih gelap, berwarna coklat kehitaman menjai
linea nigra. Pigmentasi juga terkadang terjadi pada daerah wajah dan leher,
areola mammae, dan disekitar genitalia (Sarwono, 2010).
6. Jantung dan aliran darah
Meningkatnya beban kerja menyebabkan otot jantung mengalami
hipertrofi, terutama ventrikel kiri sebagai pengatur pembesaran jantung,
pembesaran uterus menekan jantung ke atas dan ke kiri. Suara sistolik jantung
dan murmur yang berubag adalah normal. Selama hamil kecepatan darah
meningkat yakni jumlah darah yang dialirkan oleh jantung dalam setiap
denyutnya sebagai hasil dari peningkatan curah jantung.Hal ini meningkatkan
volume darah dan oksigen ke seluruh organ dan jaringan ibu untuk pertumbuhan
janin. Denyut janyung meningkat dengan cepat setelah usia kehamilan 4
minggu, dari 15 denyut per menit menjadi 70 -85 denyut per menit, aliran darah
meningkat dari 64 ml menjadi 71 ml.
Pada trimester 3, aliran pada curah jantung mengalami pengurangan
karena ada penekanan pada vena kava inferior oleh uterus.Walaupun curah
jantung meningkat pada wanita hamil namun tekanan darah belum tentu ikut
meningkat, karna reduksi perifer yang resisten sekitar 50 dari wanita tidak
hamil.Jumlah vena dan venula meningkat, hormone progesterone meningkat
menyebabkan otot polos berelaksasi dan berdilatasi.Hal ini menyebabkan
peningkatan produksi vasodilator prostaglandin
Pada kehamilan uterus menekan vena kava sehingga mengurangi darah
vena yang akan kembali ke jantung. Curah jantung mengalami pengurangan
sampai 30% dan tekanan darah turun hingga 15% yang dapat membangkitkan
pusing, mual dan muntah. Vena kava menjadi miskin oksigen pada akhir
kehamilan sejalan dengan meningkatnya distensi dan tekanan pada vena kaki,
vulva, rectum dan pelvis akan menyebabkan edema di bagian kaki, vena dan
hemoroid (Sarwono, 2010).
Tidak ada peningkatan aliran darah ke otak dan hati.Aliran darah uterus
secara fisiologis meningkat karena efek dari angiotensin II di jaringan
plasenta.Aliran darah ginjal meningkat sebanyak 70 – 80 % pada akhir trimester
I, hal ini akan menambah ekskresi. Peningkatan aliran darah pada kulit dan
membran mukosa dan disebagian kaki dan tangan, mencapai maksimum 500 ml
per menit pada kehamilan 36 minggu dan untuk membentuk ekstra panas untuk
metabolisme fetus. Hal ini menyebabkan ibu hamil sering merasa kepanasan dan
berkeringat. Peningkatan volume darah dimulai dari usia kehamilan 10 minggu
sampai kehamilan 34 minggu secara progresif (Sarwono, 2010).
7. Perubahan sistem respirasi
Mukosa sistem respirasi menjadi hiperemik dan edema dengan mucus
yang hipersekresi mengarah pada sesak dan epiktaksis.Itulah sebabnya banyak
wanita hamil yang mengeluh pilek.Kapasitas paru total berkurang 5 % karena
elevasi diafragma.Frekuensi respirasi normal berkisar 14 – 15 napas / menir
dengan pernapasan diafragma dan napas yang lebih dalam (Sarwono, 2010).
8. Perubahan sistem urinary
Pada trimester kedua aliran darah ginjal meningkat hingga kehamilan 30
minggu, kemudian menurun secara perlahan.Akibatnya ginjal mengalami
pembesaran dan filtrasi glomerular.Perubahan dalam filtrasi glomerulus adalah
penyebab peningkatan klirens kreatinin, urea dan asam urat yang sangat
diabsopsi pada awal kehamilan.Protein dan asam amino sangat sedikit
direabsorpsi, sementara asam amino dan vitamin ditemukan dalam jumlah yang
banyak di dalam urine wanita hamil.Hanya protein yang tidak dapat ditemukan
pada urine wanita hamil.Ekskresi glukosa meningkat sebagai hasil peningkatan
filtrasi glomerulus terhadap glukosa disbanding dengan pengurangan reabsopsi
(Sarwono, 2010).
9. Perubahan pada sistem musculoskeletal
. Lemahnya dan membesarnya jaringan menyebabkan terjadinya hidrasi
pada trisemester akhir.Simfisis pubis melebar sampai 4 mm pada usia gestasi 32
minggu dan sakrokoksigeus tidak teraba, diikuti terabanya koksigis sebagai
pengganti bagian belakang. Meningkatnya pergerakan pelvic menyebabkan
pergerakan pada vagina dan hal ini menyebabkan sakit punggung dan ligamen
pada saat hamil tua. Bentuk tubuh selalu berubah menyesuaikan dengan
pembesaran uterus kedepan karena tidak adanya otot abdomen (Sarwono, 2010).
10. Perubahan pada sistem gastrointestinal
Gusi menjadi bengkak, lunak dan berlubang pada saat kehamilan,
merupakan efek dari peningkatan kadar estrogen yang mengarah pada
perdarahan karna trauma. Peningkatan saliva dan ptyalin adalah masalah umum
pada kehamilan. Relaksasi otot polos abdomen dan hipomotilitas karna
peningkatan kadar estrogen dan HCG dapat menyebabkan mual dan muntah.
Peningkatan nafsu makan pada masa kehamilan bisa dikarenakan hormone
progesterone yang memerintah otak untuk mengatur penyimpanan lenak untuk
keseimbangan energy. Hal ini bertujuan menggantikan kadar plasma glukosa dan
asam amino yang turun pada awal kehamilan. Turunnya osmolaritas plasma dan
naiknya kadar prolaktin juga meningkat perasaan haus pada wanita hamil.
Adanya tekanan intragrastik yang tidak disertai dengan tonus dari sfingter kardia
lambung menyebabkan refluks asam di mulut dan sakit epigastrik atau
retrostenal (Sarwono, 2010).
11. Perubahan hormon
a. GnRH (Gonadotrophin ReleasingHormone)
Diproduksi di hipotalamus, kemudian dilepaskan, berfungsi menstimulasi
hipofisis anterior untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon
gonadotropin (FSH / LH ).
b. FSH (Follicle Stimulating Hormone)
FSH berfungsi memicu perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel
granulosa) Diproduksi di sel-sel basal hipofisis anterior, sebagai respons
terhadap GnRH. Berfungsi memicu pertumbuhan dan pematangan folikel
dan sel-sel granulosa di ovarium wanita (pada pria memicu pematangan
sperma di testis). Pelepasannya periodik / pulsatif, waktu paruh eliminasinya
pendek (sekitar 3 jam), sering tidak ditemukan dalam darah. Sekresinya
dihambat oleh enzim inhibin dari sel-sel granulosa ovarium, melalui
mekanisme feedbacknegatif.
c. LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone)
Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH, LH dan
juga mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus (LH- surge).
Selama fase luteal siklus, LH meningkatkan dan mempertahankan fungsi
korpus luteum pascaovulasi dalam menghasilkan progesterone.
Pelepasannya juga periodik / pulsatif, kadarnya dalam darah bervariasi
setiap fase siklus, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 1 jam). Kerja
sangat cepat dan singkat.
d. Estrogen
Estrogen (alami) diproduksi terutama oleh sel-sel teka interna folikel di
ovarium secara primer, dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di
kelenjar adrenal melalui konversi hormon androgen. Pada pria, diproduksi
juga sebagian di testis. Selama kehamilan, diproduksi juga oleh plasenta.
Berfungsi stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada
berbagai organ reproduksi wanita. Pada uterus: menyebabkan
proliferasi endometrium. Pada serviks: menyebabkan pelunakan serviks dan
pengentalan lendir serviks. Pada vagina: menyebabkan proliferasi epitel
vagina. Pada payudara: menstimulasi pertumbuhan payudara. Juga mengatur
distribusi lemak tubuh.Pada tulang, estrogen juga menstimulasi osteoblas
sehingga memicu pertumbuhan/regenerasi tulang. Pada wanita
pascamenopause, untuk pencegahan tulang keropos/osteoporosis, dapat
diberikan terapi hormon estrogen (sintetik) pengganti.
e. Progesteron
Progesteron (alami) diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium,
sebagian diproduksi di kelenjar adrenal, dan pada kehamilan juga
diproduksi di plasenta. Progesteron menyebabkan terjadinya proses
perubahan sekretorik (fase sekresi) pada endometrium uterus, yang
mempersiapkan endometrium uterus berada pada keadaan yang optimal jika
terjadiimplantasi.
f. HCG (Human ChorionicGonadotrophin)
Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas
(plasenta). Kadarnya makin meningkat sampai dengan kehamilan 10-12
minggu (sampai sekitar 100.000 mU/ml), kemudian turun pada trimester
kedua (sekitar 1000 mU/ml), kemudian naik kembali sampai akhir trimester
ketiga (sekitar 10.000 mU/ml). Berfungsi meningkatkan dan
mempertahankan fungsi korpus luteum dan produksi hormon-hormon
steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal. Mungkin juga memiliki
fungsi imunologik. Deteksi HCG pada darah atau urine dapat dijadikan
sebagai tanda kemungkinan adanya kehamilan (tes Galli Mainini, tes
Pack,dsb).
g. LTH (Lactotrophic Hormone) /Prolactin
Diproduksi di hipofisis anterior, memiliki aktifitas memicu/ meningkatkan
produksi dan sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin
ikut mempengaruhi pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus
luteum. Pada kehamilan, prolaktin juga diproduksi oleh plasenta (HPL /
Human Placental Lactogen). Fungsi laktogenik / laktotropik prolaktin
tampak terutama pada masa. laktasi / pascapersalinan. Prolaktin juga
memiliki efek inhibisi terhadap GnRH hipotalamus, sehingga jika kadarnya
berlebihan (hiperprolaktinemia) dapat terjadi gangguan pematangan follikel,
gangguan ovulasi dan gangguan haid berupa amenorrhea.

E. ANC
Kunjungan Antenatal Care (ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke bidan atau
dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan
pelayanan/asuhan antenatal. Pada setiap kunjungan Antenatal Care (ANC), petugas
mengumpulkan dan menganalisis data mengenai kondisi ibu melalui anamnesis dan
pemeriksaan fisik untuk mendapatkan diagnosis kehamilan intra uterine serta ada
tidaknya masalah atau komplikasi (Saifudin, 2005).
Kunjungan pemeriksaan kehamilan atau Kunjungan antenatal untuk pemantauan
dan pengawasan kesejahteraan ibu dan anak minimal empat kali selama kehamilan
dalam waktu sebagai berikut : sampaidengan kehamilan trimester pertama (<14
minggu) satu kali kunjungan, dankehamilan trimester kedua (14-28 minggu) satu
kali kunjungan dan kehamilantrimester ketiga (28-36 minggu dan sesudah minggu
ke-36) dua kali kunjungan (Saifuddin, 2005).
1. Trismester I : satu kali kunjungan (sebelum usia kehamilan 14 minggu)
2. Trismester II : satu kali kunjungan (usia kehamilan antara 14-28 minggu)
3. Trismester III : dua kali kunjungan (usia kehamilan antara 28-36 minggu
dansesudah usia kehamilan 36 minggu)
Dalam penerapan praktis pelayanan antenatal menurut Badan Litbang
Depkes RI, standar minimal palayanan antenatal adalah “14 T” yaitu :
1. Tanyakan dan sapa ibu dengan ramah.
2. Tinggi badan diukur dan berat badan ditimbang.
3. Temukan kelainan/periksa daerah muka dan leher (gondok, vena jugularis
externa), jari dan tungkai (edema), lingkaran lengan atas, panggul (perkusi
ginjal) dan reflek lutut.
4. Tekanan darah diukur
5. Tekan/palpasi payudara (benjolan), perawatan payudara, senam payudara, tekan
titik (accu pressure) peningkatan ASI.
6. Tinggi fundus uteri diukur
7. Tentukan posisi janin (Leopold I-IV) dan detak jantung janin.
8. Tentukan keadaan (palpasi) liver dan limpa.
9. Tentukan kadar Hb dan periksa laboratorium (protein dan glukosa urine),
sediaan vagina dan VDRL (PMS) sesuai indikasi.
10. Terapi dan pencegahan anemia (tablet Fe) dan penyakit lainnya sesuai indikasi
(gondok, malaria dan lain-lain).
11. Tetanus toxoid imunisasi
12. Tindakan kesegaran jasmani dan senam hamil
13. Tingkatkan pengetahuan ibu hamil (penyuluhan) : makanan bergizi ibu hamil,
tanda bahaya kehamilan, petunjuk agar tidak terjadi bahaya pada waktu
kehamilan dan persalinan.
14. Temu wicara (konseling)
BAB IV
PENUTUP

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang


didpatkan bahwa terdapat tanda tidak pasti kehamilan berupa amenore, mual
muntah, tanda kemungkinan hamil berupa perut membesar, teraba ballottement dan
tes urin positif. Pasien didiagnosis hamil 14 minggu dihitung dari Hari pertama haid
terakhir. Tatalaksana yang diberikan yitu nonmedikamentosa berupa edukasi dan
medikamentosa seperti sulft ferrous, klsium dan vitmin B kompleks.
DAFTAR PUSTAKA

Bandiyah, S. (2009). Kehamilan Persalainan Gangguan Kehamilan, Yogjakarta: Nuha


Medika.
Depkes RI. (2007). Jakarta:Profil Kesehatan Indonesia 2007.
Manuaba, I.B.G. (1998) Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta: EGC.
Marmi, Retno. A.M.S., Fatmawati. E. (2011) Asuhan Kebidanan Patologi. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Prawirohardjo, Sarwono. (2010) Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Sadler TW.(2000) Embriologi kedokteran Langman. 7th ed. Jakarta: EGC.
Saifudin. 2005. Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yogyakarta:
Yayasan bina pustaka sarwono prawihardjo.