Anda di halaman 1dari 7

ANALISA PROSES INTERAKSI

Inisial klien : Tn W
Status interaksi perawat-klien : BHSP, RPK SP 1
Lingkungan : Klien dan perawat duduk berdampingan di ruang diskusi poli jiwa, pencahayaan dan ventilasi cukup
Deskripsi klien : Penampilan pasien agak rapi dan bersih, klien tenang
Tujuan (berorientasi pada klien) : Mengajak pasien mengontrol kemarahannya
Nama Mahasiswa : Ulfi Nurwidiyanti
Tanggal : 28 Oktober 2019
Jam : 10.00 WIB
Tempat : Ruang diskusi poli jiwa

KOMUNIKASI VERBAL KOMUNIKASI NON VERBAL ANALISA BERPUSAT ANALISA BERPUSAT RASIONAL
PADA PERAWAT PADA KLIEN
P: “Selamat pagi pak” P: Menyapa klien dengan Perawat memulai Klien tampak bersedia Klien bersedia menanggapi
ramah, mengulurkan percakapan dengan sikap berinteraksi dengan sapaan klien. Hal tersebt
tangan terbuka perawat mengindikasikan klien dapat
K: Klien tersenyum kepada menerima kehadiran perawat
perawat
K: “Selamat pagi, Mbak” K: Membalas sapaan perawat, Mempertahankan sikap Klien merespon hangat Klien besedia menanggapi
membalas uluran tangan terbuka pada klien kedatangan perawat sapaan perawat. Hal tersebut
perawat mengindikasikan klien dapat
P: Tersenyum pada klien menerima kehadiran perawat
P: “Bapak namanya siapa? Suka P: Bertanya dengan lembut Mempertahankan sikap Klien memperhatikan Dengan mengetahui nama
dipanggil apa?” K: Klien memperhatikan terbuka pada klien perawat dengan antusias perawat dapat digunakan
perawat sebagaitanda telah tercipta
hubungan saling percaya
antara perawat dan klien.
K: “Saya W. Biasanya ya dipanggil K: Menjelaskan dengan santai Mempertahankan sikap Klien berbicara dengan Dengan mengetahui nama
W.” P: Mempertahankan kontak terbuka pada klien sikap terbuka perawat dapat digunakan
mata dan tersenyum pada sebagaitanda telah tercipta
klien hubungan saling percaya
antara perawat dan klien.
P: “Kalau saya Ulfi Nurwidiyanti. P: Menjelaskan dengan ramah Meyakinkan klien untuk Memperhatikan perawat Perawat mempertahankan
Biasa dipanggil Ulfi. Hari ini saya dan mempertahankan mau berbagi cerita kepada dengan antusias sikap terbuka, memandang dan
mau ngobrol-ngobrol dengan bapak kontak mata dengan klien perawat dengan kontrak mendengarkan dengan penuh
selama kurang lebih 15 menit. K: Memperhatikan perawat waktu yang telah di perhatian ketika berinteraksi
Bersedia Pak?” jadwalkan dengan keluarga klien serta
melakukan kontrak waktu agar
interaksi lebih efektif
K: “Boleh Mbak.” K: Klien mengangguk dan Memperhatikan klien Klien berbicara dengan Adanya trust dari klien terhadap
tersenyum dengan penuh perhatian sikap terbuka perawat akan memudahkan
P: Mempertahankan kontak dan berharap klien dalam melakukan interaksi dan
mata dengan klien dan kooperatif saat berdiskusi terapi
tersenyum
P: “Bagaimana perasaan bapak P: Mempertahankan kontak Menanyakan kondisi yang Klien memperhatikan Dengan menanyakan kabar
hari ini? Tadi malam bisa tidur?” mata dengan klien, dirasakan klien, perawat dengan antusias diharapkan dapat menciptakan
bertanya dengan ramah mempertahankan sikap hubungan yang hangat dan
K: Memperhatikan perawat terbuka terjalin hubungan saling
percaya antara perawat dan
klien.
K: “Ini Mbak tadi malam kesulitan K: Menjelaskan dengan sedikit Memperhatikan klien Klien berbicara dengan Adanya trust dari klien terhadap
tidur, kepikiran dagangan saya serius dengan penuh perhatian sikap terbuka perawat akan memudahkan
yang akhir-akhir ini kurang laku. P: Mempertahankan kontak dan berharap klien dalam melakukan interaksi dan
Rasanya ingin marah kalau mikirin mata dengan klien kooperatif saat berdiskusi terapi
itu.”
P: “Biasanya kalau bapak marah P: Bertanya dengan ramah, Memperhatikan klien Klien memperhatikan Dengan bertanya tanpa adanya
apa yang bapak lakukan?” tanpa menghakimi dengan penuh perhatian perawat dengan antusias nada menghakimi dapat
K: Memperhatikan perawat dan berharap klien membuat klien makin terbuka
kooperatif saat berdiskusi mengenai dirinya dan
mempercayai perawat
K: “Biasanya saya kalau marah K: Menjelaskan dengan sedikit Mendengarkan apa yang Klien menjelaskan dengan Dengan memperhatikan klien
sampai bentak-bentak orang tua, serius disampaikan klien dengan sikap terbuka dan tidak ragu saat berbicara dapat
Mbak.” P: Mempertahankan kontak penuh perhatian meningkatkan kepercayaan diri
mata dengan klien klien dalam berinteraksi dengan
perawat
P: “Setiap bapak marah apa yang P: Bertanya dengan ramah, Memperhatikan klien Klien memperhatikan Dengan bertanya tanpa adanya
bapak rasakan? Apa bapak merasa tanpa menghakimi dengan penuh perhatian perawat dengan antusias nada menghakimi dapat
dadanya berdebar-debar, mata K: Memperhatikan perawat dan berharap klien membuat klien makin terbuka
melotot terus tangan mengepal?” kooperatif saat berdiskusi mengenai dirinya dan
mempercayai perawat
K: “Iya begitu lah Mbak.” K: Menjawab dengan santai Perawat senang karena Klien mulai nyaman Sikap klien dapat
klien nyaman dengan mengobrol dengan perawat mempermudah perawat dalam
diskusi yang dilakukan memberikan terapi
P: Mempertahankan kontak
mata dengan klien dan
tersenyum
P: “Terus menurut bapak apa P: Bertanya dengan ramah, Berusaha untuk tidak Klien memperhatikan Dengan bertanya tanpa adanya
kerugian yang didapat saat bapak tanpa menghakimi menyalahkan perilaku yang perawat dengan antusias nada menghakimi dapat
marah-marah seperti itu?” K: Memperhatikan perawat dilakukan klien saat marah membuat klien makin terbuka
mengenai dirinya dan
mempercayai perawat
K: “Ya pasti merasa bersalah K: Menjawab dengan santai Memperhatikan klien Klien berbicara dengan
dengan orang tua. Orang tua kan P: Mempertahankan kontak dengan penuh perhatian sikap terbuka
tidak tahu apa-apa tapi ikut mata dengan klien dan dan berharap klien
dibentak-bentak.” tersenyum kooperatif saat berdiskusi
P: “Nah, kalau bapak merasa P: Bertanya dengan ramah,
seperti itu kira-kira menurut bapak tanpa menghakimi
ada nggak cara yang lebih baik K: Memperhatikan perawat
dalam mengatasi marah itu?”
K: “Ya pastinya ada Mbak.” K: Menjawab dengan santai
P: Mempertahankan kontak
mata dengan klien dan
tersenyum
P: “Kalau begitu bapak mau nggak P: Menawari tanpa ada nada
kalau saya ajari cara mengontrol paksaan
kemarahan dengan baik tanpa K: Memperhatikan perawat
menimbulkan kerugian ke orang
lain?”
K: “Kalau saya ya malah tambah K: Menjawab dengan nada
senang Mbak kalau dibantu. Boleh senang
Mbak.” P: Mempertahankan kontak
mata dengan klien,
tersenyum
P: “Nah, jadi ada beberapa cara P: Menjelaskan dengan ritme
dalam mengontrol marah Pak. Ada pelan
secara fisik, obat, verbal, spiritual. K: Memperhatikan penjelasan
Tapi hari ini kita akan belajar cara perawat
mengontrol marah dengan fisik
Pak.”
K: “Iya iya Mbak.” K: Menjawab dengan nada
paham
P: Mempertahankan kontak
mata dengan klien,
tersenyum
P: “Nah, jadi cara fisik itu sendiri P: Menjelaskan dengan ritme
dibagi menjadi 2 Pak. Pertama ada pelan
teknik nafas dalam, yang kedua K: Memperhatikan penjelasan
dengan cara pukul bantal/guling.” perawat
K: “Nafas dalam sama pukul K: Mengulang apa yang
bantal/guling ya Mbak.” dijelaskan perawat
P: Mempertahankan kontak
mata dengan klien
P: “Iya Pak. Nah, yang nafas dalam P: Menjelaskan dengan ritme
ini caranya bapak tarik nafas pelan
melalui hidung lalu ditahan K: Memperhatikan penjelasan
sebentar kemudian dikeluarkan perawat
lewat mulut. Dilakukan sebanyak 5-
10x ya Pak. Ayo coba bapak
praktikkan.”
K: “Begini ya Mbak….” K: Mempraktikkan nafas
dalam
P: Mempertahankan kontak
mata dengan klien,
tersenyum
P: “Wah, bagus Pak. Bapak sudah P: Memuji dengan nada
bisa mempraktikkan cara nafas senang
dalam dengan sangat baik.” K: Klien tersenyum
K: “Terima kasih, Mbak.” K: Klien tersenyum
P: Perawat mengangguk dan
tersenyum
P: “Nah, selanjutnya kita coba P: Menjelaskan dengan ritme
latihan cara mengontrol marah pelan
dengan pukul bantal/guling ya Pak. K: Memperhatikan penjelasan
Ini bapak umpamakan jika jaket ini perawat
adalah bantal. Ketika bapak
merasakan tanda-tanda ingin marah
bapak langsung masuk kamar lalu
pukul bantal/guling kuat-kuat.”
K: “Dipukul-pukul begini ya Mbak?” K: Mempraktikkan apa yang
diajarkan
P: Mempertahankan kontak
mata dengan klien,
tersenyum
P: “Iya Pak, benar sekali. Wah, P: Memuji dengan nada
bagus Pak, bapak sudah sangat senang
menguasai apa yang kita pelajari K: Klien tersenyum
saat ini.”
K: “Alhamdulillah Mbak.” K: Klien tersenyum
P: Perawat mengangguk dan
tersenyum
P: “Nah, sekarang kita buat jadwal P: Menawari klien tanpa ada
latihan nafas dalam sama pukul nada memaksa
bantal/guling ya Pak, untuk bapak K: Memperhatikan perawat
latihan secara mandiri di rumah.”
K: “Ini Mbak saya takut lupa. K: Berbicara agak ragu
Soalnya kan saya kerja dari pagi P: Mempertahankan kontak
sampai sore.” mata dengan klien
P: “Kalau misalkan bapak lupa, P: bertanya dengan nada
bisa minta tolong keluarga di rumah lembut
untuk mengingatkan bapak. Bapak K: memperhatikan perawat
biasanya kerja dari jam berapa
sampai jam berapa?”
K: “Tergantung laku enggaknya K: Menjawab dengan santai
Mbak. Biasanya ya dari jam 7 pagi P: Mempertahankan kontak
sampai mau maghrib gitu baru mata dengan klien dan
selesai.” tersenyum
P: “Nah, kalau begitu keluarga P: Perawat mencoba
bapak bisa mengingatkan setelah membujuk klien untuk mau
bapak pulang. Bapak mau latihan diajak kegiatan
nafas dalam sama pukul K: Memperhatikan perawat
bantal/guling berapa kali Pak? Jam
berapa saja?”
K: “Saya mikirnya kok enak pulang K: Menjawab dengan antusias
kerja gitu ya Mbak yang nafas P: Mempertahankan kontak
dalam. Yang pukul guling/bantal mata dengan klien dan
pas mau tidur gitu biar sekalian.” tersenyum
P: “Boleh, Pak. Berarti latihan dua P: Mempertahankan kontak
kali ya Pak. Setelah pulang kerja mata dengan klien
latihan nafas dalam. Sebelum tidur K: Memperhatikan perawat
malam yang pukul bantal/guling
K: “Iya Mbak.” K: Mengangguk
P: mempertahankan kontak
mata dengan klien dan
tersenyum
P: “Nah sekarang bagaimana P: Mempertahankan kontak
perasaan bapak setelah kita belajar mata dengan klien,
cara mengontrol marah?” bertanya dengan ramah
K: Memperhatikan perawat
K: “Alhamdulillah senang Mbak K: Berbicara dengan puas
saya kalau dibantu begini. P: Mempertahankan kontak
Istilahnya kan jadi mudah gitu.” mata dengan klien dan
tersenyum
P: “Nah, coba bapak jelaskan lagi P: Meminta dengan lembut
tadi cara mengontrol marah ada K: Memperhatikan perawat
dua.”
K: “Iya Mbak. Jadi kan ada 2 ya K: Menjelaskan dengan lancar
tadi. Yang pertama ada nafas P: Mempertahankan kontak
dalam, tarik nafas lewat hidung mata dengan klien dan
terus ditahan lalu keluarkan lewat tersenyum
mulut. Yang kedua kalau merasa
marah langsung ke kamar terus
pukul bantal/guling.”
P: “Bagus sekali, Pak. Bapak masih P: berkata dengan senang
ingat dengan baik apa yang kita K: Klien tersenyum
pelajari hari ini. Saya harap bapak
selalu rutin melakukannya sesuai
dengan jadwal yang kita buat tadi
ya.”
K: “Siap Mbak.” K: Klien tersenyum
P: mempertahankan kontak
mata dengan klien,
tersenyum dan
mengangguk
P: “Pak, untuk kunjungan bapak P: menjelaskan dan
selanjutnya ke poli kan tidak menyarankan tanpa ada
bertemu saya. Saya sarankan nada memaksa
apabila bapak ingin belajar K: memperhatikan perawat
mengontrol marah dengan cara
yang lain selain nafas dalam bapak
bisa berkunjung ke puskesmas
terdekat atau menunggu kunjungan
ke poli bulan depan lalu minta ke
perawat untuk mengajari bapak.”
K: “Kalau misalkan nunggu K: bertanya dengan nada ragu
kunjungan ke poli bulan depan aja P: Mempertahankan kontak
gimana Mbak? Soalnya saya kalau mata dengan klien dan
mau ke puskesmas itu agak ragu.” tersenyum
P: “Iya Pak, tidak apa-apa. Kalau P: menjawab dengan lembut
begitu terima kasih ya Pak sudah K: memperhatikan perawat,
meluangkan waktu. Semoga apa tersenyum
yang kita pelajari hari ini
bermanfaat untuk bapak.”
K: “Saya juga terima kasih Mbak K: mengulurkan tangan
sudah dibantu. Kalau begitu saya P: membalas uluran tangan
permisi dulu Mbak.” klien
P: “Iya Pak.” P: tersenyum dan
mengangguk
K: tersenyum