Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

Glaukoma adalah suatu neuropati optik kronik didapat yang ditandai oleh
pencekungan (cupping) diskus optikus dan pengecilan lapangan pandang, biasanya
disertai peningkatan tekanan intraokuler.1
Gangguan penglihatan dan kebutaan masih menjadi masalah kesehatan di
Indonesia. Survey Kesehatan Indera tahun 1993 – 1996 menunjukkan 1,5%
penduduk Indonesia mengalami kebutaan disebabkan oleh katarak (52%),
glaukoma (13,4%), kelainan refraksi (9,5%), gangguan retina (8,5%), kelainan
kornea (8,4%) dan penyakit mata lain.4 Pada tahun 2020, 79,6 juta orang
diperkirakan memiliki glaukoma, di mana 11,2 juta dari mereka akan menjadi buta
secara bilateral.5
Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan angka kebutaan sebesar 0,9%.
Dengan angka tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan (2,6%) dan terendah di
Provinsi Kalimantan Timur (0,3%). Sementara hasil Survei Kebutaan dan
Kesehatan Mata di Propinsi Jawa Barat tahun 2005, menunjukkan, pada kelompok
usia di atas 40 tahun prevalensi glaukoma sebesar 1,2 % dan prevalensi kebutaan
karena glaukoma sebesar 0,1% dari total kebutaan sebesar 4,0 %.4
Di seluruh dunia, glaukoma dianggap sebagai penyebab kebutaan yang
tinggi, 2% penduduk berusia lebih 40 tahun menderita. Glaukoma dapat juga
didapatkan pada usia 20 tahun, meskipun jarang, pria lebih banyak diserang dari
pada wanita.2
Pada sebagian besar kasus, glaukoma tidak disertai dengan penyakit mata
lainnya (glaukoma primer). Glaukoma primer sudut terbuka merupakan tipe
glaukoma yang memiliki insiden tertinggi dan bersifat kronik progresif. Glaukoma
tipe ini biasanya asimtomatik sehingga sering tidak terdeteksi sampai terjadi
pengecilan lapang pandang yang ekstensif.2,3 Glaukoma sudut tertutup didapatkan
pada 10-15% kasus ras kulit putih. Presentase ini jauh lebih tinggi pada orang Asia
dan suku Inuit. Glaukoma sudut tertutup primer berperan pada lebih dari 90%
kebutaan bilateral akibat glaukoma di China.1
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI


Bagian mata yang penting pada glaukoma adalah sudut filtrasi. Sudut filtrasi ini
terdapat di dalam limbus kornea. Limbus adalah bagian yang dibatasi oleh garis
yang menghubungkan akhir dari membrane Descemen dan membran Bowman, lalu
ke posterior 0,75 mm, kemudian ke dalam mengelilingi Kanal Schlemm dan
trabekula sampai ke coa.
Akhir dari membran Descement disebut Schwalbe. Limbus terdiri dari 2 lapisan
epitel dan stroma. Epitelnya 2 kali setebal epitel kornea. Di dalam stromanya
terdapat serat-serat saraf dan cabang akhir dari arteri siliaris anterior. Bagian
terpenting dari sudut filtrasi adalah trabekula yang terdiri dari :
1. Trabekula korneoskleral, serabutnya berasal dari lapisan dalam stroma
kornea dan menuju ke belakang, mengelilingi kanal Schlemm unuk
berinsersi pada sklera.
2. Trabekula uveal, serabut berasal dari lapisan dalam stroma kornea menuju
ke skleralspur (insersi dari m. siliaris) dan sebagian ke m. siliaris
meridional.
3. Serabut berasal dari akhir membrane Descement (garis Schwalbe), menuju
ke jaringan pengikat m. siliaris radalis dan sirkularis.
4. Ligamentum pektinatum rudimenter, berasal dari dataran depan iris menuju
ke depan trabekula.
Trabekula terdiri jaringan kolagen, jaringan homogen, elastik dan seluruhnya
diliputi endotel. Keseluruhannya merupakan spons yang tembus pandang sehingga
bila ada darah di dalam kanal Schlemm dapat terlihat dari luar.
Kanal Schlemm merupakan kapiler yang dimodifikasi yang mengelilingi
kornea. Dindingnya terdiri dari satu lapis sel, diameternya 0,5 mm. Pada dindingnya
2
sebelah dalam terdapat lubang-lubang sebesar 2 U, sehingga terdapat hubungan
langsung antara trabekula dan kanal Schlemm. Dari kanal Schlemm, keluar saluran
kolektor, 20-30 buah yang menuju ke pleksus vena di dalam jaringan sclera dan
episklera dan v. siliaris anterior di badan siliar.2
Tekanan intraokuler ditentukan oleh kecepatan pembentukan akuos humor
dan tahanan terhadap aliran keluarnya dari mata. Akuos humor humor yang
dihasilkan oleh badan siliar masuk ke bilik mata belakang, kemudian melalui pupil
menuju ke bilik mata depan ke sudut coa, melalui trabekulum mencapai kanal
Schlemm dan melalui saluran ini keluar dari bola mata.1,3

Gambar 1 Aliran Akuos Humor

2.2 DEFINISI
Glaukoma merupakan sekelompok penyakit neuropati optik yang biasanya
disebabkan oleh efek peningkatan tekanan okular pada papil saraf optik dan iskemia
papil saraf optik.1,3 Kehilangan akson menyebabkan defek lapangan pandang dan
hilang ketajaman penglihatan jika lapangan pandang sentral terkena.
Glaukoma primer sudut terbuka adalah glaukoma yang penyebabnya tidak
ditemukan dan ditandai dengan sudut bilik mata depan yang terbuka.4,5 Dimana
glaukoma tipe ini adalah bentuk glaukoma yang memiliki insiden tinggi, bersifat
kronik, dan bersifat progresif. Glaukoma primer sudut terbuka sering ditandai
dengan kerusakan adanya optic nerve dan retinal nerve fiber layer serta kehilangan

3
subsequent visual field.6 Selain itu, ditandai dengan adanya peningkatan tekanan
intraokular.2
Glaukoma primer sudut tertutup terjadi bila terdapat kenaikan mendadak
dari tekanan intraokuler yang disebabkan penutupan sudut coa yang mendadak oleh
akar iris sehingga menghalangi sama sekali keluarnya humor akueus melalui
trabekula, menyebabkan meningginya tekanan intraokuler, sakit yang sangat di
mata secara mendadak dan menurunnya ketajaman penglihatan secara tiba-tiba
disertai tanda-tanda kongesti di mata, seperti mata merah, kelopak bengkak. 5,2

2.3 ETIOLOGI
Karena glaukoma ini timbulnya mendadak disertai tanda kongestif, maka
disebut glaukoma akut kongestif atau glaukoma akut. Glaukoma akut, hanya timbul
pada orang-orang dengan predisposisi anatomis.
Faktor anatomis yang menyebabkan sudut sempit adalah :
1. Bulbus okuli yang pendek, biasanya pada mata yang hipermetrop. Makin
berat hipermetropnya makin dangkal coanya.
2. Tumbuhnya lensa, menyababkan coa menjadi lebih dangkal. Pada umur 25
tahun, dalamnya coa rata-rata 3,6 mm, sedang pada umur 70 tahun 3,15 mm.
3. Kornea yang kecil dengan sendirinya coanya dangkal.
4. Tebalnya iris. Makin tebal iris, makin dangkal coa.

Faktor fisiologis yang menyebabkan coa sempit :


1. Akomodasi. Dengan akomodasi pars siliaris dari iris maju ke depan.
2. Dilatasi pupil, menyebabkan iris menjadi lebih tebal dan sudut coa menjadi
lebih sempit.2

2.4 PATOFISIOLOGI
 Glaukoma primer sudut terbuka
Glaukoma primer sudut terbuka adalah glaukoma yang penyebabnya tidak
ditemukan dan ditandai dengan sudut bilik mata depan yang terbuka.4,5 Dimana
glaukoma tipe ini adalah bentuk glaukoma yang memiliki insiden tinggi, bersifat
4
kronik, dan bersifat progresif. Glaukoma primer sudut terbuka sering ditandai
dengan kerusakan adanya optic nerve dan retinal nerve fiber layer serta kehilangan
subsequent visual field.6 Selain itu, ditandai dengan adanya peningkatan tekanan
intraokular.2

Tekanan intraokular ditentukan oleh kecepatan terbentuknya cairan mata


(humor aqueous) oleh badan siliar dan hambatan yang terjadi pada trabecular
meshwork. Pada umumnya, glaukoma primer sudut terbuka terjadi hambatan pada
jaringan trabekulum yang menyebabkan penimbunan cairan. Ada dua teori utama
mengenai mekanisme kerusakan serabut saraf oleh peningkatan tekanan intraokular
yaitu :

a. Teori mekanik
Tekanan intraokular yang meningkat menyebabkan kerusakan mekanik pada
akson saraf optik dan penipisan lapisan serat saraf serta inti bagian dalam retina,
iris, dan korpus siliar juga menjadi atropi. Selain itu, prosesus siliaris mengalami
degenerasi hialin sehingga terjadi penurunan pengelihatan.
b. Teori vaskular
Teori ini menjelaskan dampak tekanan intraokular yang meningkat yaitu terjadi
iskemia akson saraf. Hal ini disebabkan berkurangnya aliran darah pada papil saraf
optik. Sehingga diskus optikus menjadi atropi disertai dengan pembesaran
cekungan optikus.7-9

Gambaran patologik utama glaukoma primer sudut terbuka adalah proses


degenerasi di jaringan trabekular berupa penebalan lamela trabekula yang
mengurangi ukuran pori dan berkurangnya jumlah sel trabekula pembatas.10 Terjadi
pengendapan bahan ekstrasel di dalam jalinan dan di bawah lapisan endotel kanalis
Schlemm. Hal ini berbeda dengan proses penuaan normal. Hal ini menyebabkan
penurunan drainase humor aqueous yang menyebabkan tekanan intraokular.9

Tekanan intraokular yang tinggi secara mekanik menekan papil saraf optik
yang merupakan tempat dengan daya tahan paling lemah pada bola mata. Bagian

5
tepi papil saraf optik relatif lebih kuat daripada bagian tengah sehingga terjadi
cekungan pada papil saraf optik.2, 4

 Glaukoma primer sudut tertutup


Pada sudut bilik mata yang sempit, letak lensa menjadi lebih dekat ke iris,
sehingga aliran cairan bilik mata dari bilik mata belakang ke bilik mata depan
terhambat. Inilah yang disebut dengan hambatan pupil. Hal ini dapat menyebabkan
meningkatnya tekanan di dalam bilik mata belakang dan mendorong iris ke depan.
Pada sudut bilik mata depan yang memang sudah sempit adanya dorongan ini
menyebabkan iris menutupi jaringan trabekula, sehingga cairan bilik mata tidak
dapat atau sukar untuk keluar dan terjadilah glaukoma sudut tertutup.2

2.5 MANIFESTASI KLINIS


Prodroma
Sebelum penderita mendapat serangan akut, ia mengalami tanda dini
(prodroma) walau ini tidak selalu terjadi. Pada stadium ini terdapat penglihatan
kabur, melihat halo (gambaran pelangi) sekitar lampu atau lilin, disertai sakit
kepala, sakit pada matanya dan kelemahan akomodasi.1,2,3,6,7
Keadaan ini berlangsung ½ - 2 jam kemudian hilang. Jarang mereka datang
ke dokter dengan keuhan demikian karena cepat berlalu. Biasanya dengan tidur
sebentar keadaan pulih kembali, sebab pada waktu tidur terjadi miosis yang
menyebabkan sudut coa terbuka.2

6
Pemeriksaan pada stadium ini, didapatkan injeksi perikornea yang ringan,
kornea agak suram karena edema, bilik mata depan dangkal, pupil sedikit melebar
reaksi cahaya lambat dan tekanan intraokuler meninggi. Bila serangannya reda,
mata menjadi normal kembali, kecuali penurunan daya akomodasi tetap ada,
sehingga penderita memerlukan penggantian kacamata dekat yang lebih sering dan
lebih kuat dibanding usianya. Mula-mula antara serangan dapat bermingu-minggu
atau beberapa bulan, akan tetapi makin lama makin sering dan serangannya
berlangsung lebih lama. Stadium ini dapat berlangsung beberapa minggu atau
beberapa bulan bahkan beberpa tahun, baru kemudian sampai pada stadium
glaukoma akut.1,2,3,6,7

Stadium Kongestif
Pada stadium ini penderita tampak sangat payah, memegangi kepalanya
karena sakit hebat. Jalannya dipapah, karena ketajaman penglihatannya sangat
turun, muntah-muntah. Karenanya sering disangka bukan menderita sakit mata,
melainkan suatu penyakit sistemik.2,3,8
Dalam anamnesis, keluarganya akan menceritakan bahwa sudah sekian hari
penderita tidak bisa bangun, sakit kepala dan terus muntah-muntah, nyeri dirasakan
di dalam dan sekitar mata. Penglihatannya kabur sekali dan dilihatnya warna
pelangi di sekitar lampu.3
Apabila mata diperiksa, ditemukan kelopak mata bengkak, konjungtiva
yang sangat hiperemik (kongestif), injeksi siliar dan kornea yang suram. Bilik mata
depan dangkal dapat dibuktikan dengan memperhatikan bilik mata depan dari
samping. Pupil tampak melebar, lonjong miring agak vertikal atau midriasis yang
hampir total.2,3
Refleks pupil lambat atau tidak ada. Tajam penglihatan menurun sampai
hitung jari. Dengan tanda-tanda luar ini ditambah anamnesis yang teliti sudah cukup
untuk membuat suatu diagnosis tapi diagnosis baru dapat ditegakkan kalau tekanan
bola mata didapatkan tinggi sekali.3

7
2.6 KLASIFIKASI
1. Glaukoma Sudut Tertutup Akut
Glaukoma sudut tertutup akut terjadi bila terbentuk iris bombe yang
menyebabkan oklusi sudut bilik mata depan oleh iris perifer. Hal ini menghambat
aliran keluar akuos dan tekanan intraokuler meningkat dengan cepat, menimbulkan
nyeri hebat, kemerahan dan penglihatan kabur.
Glaukoma sudut tertutup akut ditandai oleh munculnya kekaburan
penglihatan mendadak yang disertai nyeri hebat, halo, serta mual dan muntah.
Pasien terkadang dikira menderita penyakit gastrointestinal akut. Temuan-temuan
lainnya adalah peningkatan intraokuler yang mencolok, bilik mata depan dangkal,
kornea berkabut, pupil berdilatasi sedang yang terfiksasi, dan injeksi siliar. Mata
sebelahnya harus dilakukan pemeriksaan gonioskopi untuk memastikan adanya
predisposisi anatomi terhadap glaukoma sudut tertutup primer.1,4,7
2. Glaukoma Sudut Tertutup Subakut
Faktor-faktor etiologi yang berperan pada glaukoma sudut tertutup subakut
sama dengan yang berperan pada tipe akut, kecuali bahwa episode peningkatan
tekanan intraokulernya berlangsung singkat dan rekuren. Episode penutupan sudut
membaik secara spontan, tetapi terjadi akumulasi kerusakan pada sudut bilik mata
depan disertai pembetukan sinekia anterior perifer. Glaukoma sudut tertutup
subakut kadang-kadang berkembang menjadi glaukoma sudut tertutup akut.
Didapatkan riwayat serangan berulang berupa nyeri, kemerahan, dan
kekaburan penglihatan disertai halo di sekitar cahaya pada satu mata. Serangan
sering terjadi pada malam hari dan sembuh dalam semalam. Pemeriksaan diantara
waktu serangan mungkin hanya memperlihatkan sudut bilik mata depan yang
sempit disertai dengan sinekia anterior perifer. Diagnosis dapat dipastikan dengan
gonioskopi. Terapinya adalah iridotomi perifer dengan laser.1
3. Glaukoma Sudut Tertutup Kronik
Pasien dengan predisposisi anatomi penutupan sudut bilik mata depan
mungkin tidak pernah mengalami episode peningkatan tekanan intraokuler akut,
tetapi mengalami sinekia anterior perifer yang semakin meluas disertai dengan
peningkatan tekanan intraokuler secara bertahap. Pada pasien ini bermanifestasi
8
seperti yang diperlihatkan oleh pasien glaukoma sudut terbuka primer, sering
dengan penyempitan lapangan pandang yang ekstensif di kedua mata. Sesekali
pasien-pasien tersebut mengalami serangan penutupan sudut subakut.
Pada pemeriksaan dijumpai peningkatan intraokuler, sudut bilik mata depan
yang sempit disertai sinekia anterior perifer dalam berbagai tingkat, serta kelainan
diskus optikus dan lapangan pandang.1
4. Iris Plateau
Iris plateau adalah suatu kelainan yang jarang dijumpai. Pada iris plateau,
kedalaman bilik mata depan sentral normal, tetapi sudut bilik mata depannya sangat
sempit karena posisi prosesus siliaris terlalu anterior. Mata dengan kelainan ini
jarang mengalami blockade pupil, tetapi dilatasi akan menyebabkan merapatnya iris
perifer, sehingga menutup sudut (pendesakan sudut), sekalipun telah dilakukan
iridektomi atau iridoktomi perifer. Pengidap kelainan ini mengalami glaukoma
sudut tertutup akut pada usia muda, dan sering mengalami kekambuhan setelah
tindakan iridotomi laser perifer atau iridektomi bedah.diperlukan terapi miotik
jangka panjang atau iridoplasti dengan laser.

Klasifikasi menurut Becker and Shaefer


Besar sudut Derajat Numerik Interpertasi Klinik

Terbuka lebar 30-45 3-4 Tidak mungkin tertutup

Sudut sempit ringan 20 2 Mungkin tertutup

Sudut sempit berat 10 1 Kadang-kadang tertutup

Sudut tertutup total- 0 Serangan atau mengancam


sebagian

2.7 DIAGNOSIS
2.7.1 Anamnesis
 Glaukoma primer sudut terbuka
Diagnosis glaukoma primer sudut terbuka/ simpleks/ kronik ditegakkan
apabila ditemukan kelainan glaukomatosa pada diskus optikus dan lapangan
pandang yang disertai dengan peningkatan tekanan intraokular, sudut bilik mata
9
depan terbuka dan tampak normal, dan tidak terdapat sebab lain yang menyebabkan
peningkatan tekanan intraokular. Dalam menegakkan diagnosis diperlukan
pemeriksaan tonometri berulang.3
Masalah utama mendeteksi glaukoma primer sudut terbuka yaitu gejala
awalnya asimtomatik dan timbul setelah terjadi kerusakan penglihatan yang berat
saat stadium lanjut ataupun akhir, sehingga dikatakan sebagai pencuri penglihatan.2,
6
Mendiagnosa glaukoma primer sudut terbuka dengan sacred seven dan basic four.
Namun hal yang perlu didalami yaitu faktor risiko dari penyebab glaukoma
tersebut. 8

TABEL 1. Gejala-Gejala pada Pasien dengan Glaukoma Primer Sudut Terbuka7


Presenting Symptoms of Patients with POAG
Asimtomatik
Pengelihatan kabur atau berkurang
Nyeri mata
Kesulitan menyetir, khususnya saat malam hari
Frequent change of glasses

 Glaukoma primer sudut tertutup


Untuk mendeteksi seseorang dengan calon galukoma akut, dibutuhkan anamnesis
yang teliti, diperlukan juga penilaian secara klinis. Pada anamnei biasa didapatkan
mata sakit sekali hingga sakit kepala dan muntah. Pengihatan turun dengan
gambaran pelangi sekitar sumbu sinar, mata merah.

2.7.2 Pemeriksaan Mata

1. Mengukur tekanan bola mata (Tonometri)


Tujuan pemerikasaan dengan tonometer atau tonometri untuk menentukan
tekanan bola mata seseorang berdasrkan fungsinya dimana tekanan bola mata
merupakan keadaan mempertahankan mata bulat sehingga tekanan bola mata yang
normal tidak akan memberikan kerusakan saraf optik atau yang terlihat sebagai
kerusakan dalam bentuk glaukoma pada papil saraf optik.7

10
Tonometri adalah pengukuran tekanan intraokuler. Dikenal 4 bentuk
tonometri atau pengukur tekanan bola mata :
 Digital (palpasi) tonometri
Merupakan cara yang paling mudah, tetapi juga yang paling tidak cermat,
karena pengukuran tekanan bola mata dengan perasaan jari telunjuk pemeriksa.
Caranya adalah dengan kedua jari telunjuk diletakkan di atas bola mata sambil
penderita disuruh melihat ke bawah. Mata tidak boleh ditutup, karena menutup mata
mengakibatkan tarsus kelopak mata yang keras pindah ke depan bola mata, hingga
apa yang kita palpasi adalah tarsus dan ini selalu memberi kesan perasaan keras.
Dilakukan dengan palpasi, diaman satu jari menahan, jari lainnya menekan secara
bergantian.3,9
Penilaian dilakukan dengan pengalaman sebelumnya yang dapat dicatat
sebagai berikut : N = normal, N+1 = agak tinggi, N+2 = untuk tekanan yang lebih
tinggi, N-1 = lebih rendah dari normal, N-2 = lebih rendah lagi, dan seterusnya.3,9
 Schiotz tonometri
Merupakan tonometer indentasi atau menekan permukaan kornea dengan
beban beban yang dapat bergerak bebas pada sumbunya.
Beban yang ditaruh pada bola mata (kornea) akan menekan bola mata ke
dalam dan mendapat perlawanan tekanan dari dalam melalui kornea.
Keseimbangan tekanan tergantung pada beban tonometer.
Pembacaan skala dikonversi pada table untuk mengetahui bola mata dalam
millimeter air raksa. Pada tekanan lebih tinggi 20 mmHg dicurigai adanya
glaukoma dan bila tekanan lebih dari 25 mmHg pasien menderita glaukoma.3,9
 Aplanasi tonometri
Pemeriksaan ini untuk mendapatkan tekanan intraokuler dengan
menghilangkan pengaruh kekauan sklera (sclera rigidity) dengan mendatarkan
permukaan kornea.
Dengan tonometer aplanasi bila tekanan bola mata lebih daripada 20 mmHg
dianggap sudah menderita glaukoma.5,9
 Tonometri udara (air puff tonometry), yang paling kurang tepat, kurang teliti
karena dipergunakan di ruang terbuka.5,9
11
2. Uji Besar Sudut
Tes ini dilakukan bila gonioskopi tidak mungkin karena media keruh.
Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan sederhana yang berguna untuk melihat
kemungkinan sudut bilik mata yang sempit dan mengancam akan terjadinya
glaukoma akut. Pemeriksaan dilakukan di kamar gelap dengan lampu celah
(slitlamp) dengan sinar yang diarahkan pada kornea tegak lurus di daerah limbus.
Penilaian yang dapat dilakukan adalah dengan melihat sudut biik mata :
 Bila dalam sudut bilik mata perifer ½ atau setebal kornea maka tidak
mungkin mata tersebut mendapat serangan glaukoma.
 Bila dalam sudut bilik mata perifer ¼ tebal kornea maka mata ini terancam
sudut sempit.
 Bila dalam bilik mata perifer antara ¼ dan ½ tebal kornea maka mata ini
harus mendapat pemeriksaan lebih lanjut (gonioskopi)
Becker and Shaefer
Tingkat Sudut Sudut Bilik Mata
4 BMD = tebal kornea
3 BMD = ¼ - ½ tebal kornea
2 BMD = ¼ tebal kornea
1 BMD <
Sudut slit BMD sangat sempit
Sudut tertutup BMD perifer tidak ada

Dari 2500 pasien didapatkan (unselected cases)


Grade 1 0,64%
Grade 2 2,1%
Grade 3 3,60%
Grade 4 4,38%

3. Gonioskopi
Pemeriksaan gonioskopi adalah tindakan untuk melihat sudut bilik mata
dengan goniolens. Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat sudut bilik mata yang
merupakan tempat keluarnya cairan mata dari bola mata.3
12
Kelainan patologik sudut akan terlihat seperti sempit, terbuka, tertutup
pigmen dan tumbuhan jaringan patologik.
Dapat dinilai besar atau terbukanya sudut :
 Derajat 0, bila tidak terlihat struktur sudut dan terdapat kontak kornea
dengan iris, disebut sudut tertutup.
 Derajat 1, bila tidak terlihat ½ bagian jalinan trabekulum sebelah belakang,
dan garis Schwalbe terlihat, disebut sudut sangat sempit. Sudut sangat
sempit sangat mungkin menjadi sudut tetutup.
 Derajat 2, bila sebagian kanal Schlemm terlihat, disebut sudut sempit
sedang kelainan ini mempunyai kemampuan untuk tertutup.
 Derajat 3, bila bagian belakang kanal Schlemm masih terlihat termasuk
sclera spur, disebut sudut terbuka sedang. Pada keadaan ini tidak akan
terjadi sudut tertutup.
 Derajat 4, bila badan siliar terlihat, disebut sudut terbuka.5,9

4. Oftalmoskopi
Dengan oftalmoskop dapat dilihat saraf optik di dalam mata dan akan dapat
ditentukan apakah tekanan bola mata telah mengganggu saraf optik. Saraf optik
dapat dilihat secara langsung. Warna serta bentuk dari mangkok saraf optic pun
dapat menggambarkan ada atau tidak ada kerusakan akibat glaukoma yang sedang
diderita.7,9
Rasio cup/disk adalah perbandingan antara besarnya penggaungan papil
saraf optik dengan besar atau lebarnya papil. Rasio cawan-diskus berguna untuk
mencatat ukuran diskus optikus pada pasien glaukoma. Apabila terdapat kehilangan
lapangan pandang atau peningkatan tekanan intraokuler, rasio cawan-diskus lebih
dari 0,5 atau terdapat asimetri yang bermakna antara kedua mata sangat
diindikasikan adanya atrofi glaukomatosa.1,2,7,9

5. Pemeriksaan Lapangan Pandang


Pemeriksaan lapangan pandang secara teratur berperan penting dalam
diagnosis dan tindak lanjut glaukoma. Pemeriksan lapangan pandang adalah
13
pemeriksaan yang paling memastikan pada kerusakan saraf mata akibat glaukoma.
Berbagai cara untuk memeriksa lapangan pandang pada glaukoma seperti layar
Bjerrum untuk pemeriksaan lapang pandang sentral atau perimeter Goldmann dan
Octopus untuk pemeriksaan lapangan pandang sampai perifer.1,9

6. Penilaian Serabut Saraf


Menilai serabut saraf retina merupakan hal penting pada glaukoma karena
kelainan serabut saraf lebih cepat terlihat disbanding gangguan pada lapang
pandang.
Pemeriksaan OCT, GDX, HRT akan memperlihatkan kelainan struktur
serabut saraf retina dan papil saraf optik. OCT (Optical Coherence tomography),
dengan tekhnik interferometer digambarkan potongan melintang retina dan papil
saraf optik, diukur tebal lapis serabut saraf retina. Pencitraan OCT untuk melihat
macular hole, membran preretina, edema makula dan kerusakan saraf optik.
GDX, dengan sinar polarisasi diukur tebal serabut saraf retina. HRT, dengan
memakai scanning laser melihat gambaran 3 dimensi keadaan papil saraf optik.

7. Tes Provokasi
Tes yang dilakukan pada keadaan yang meragukan. Tes yang dilakukan :
 Tes kamar gelap
Pemeriksaan ini untuk melihat kemampuan sudut bilik mata untuk tertutup
dan merupakan pemeriksaan provokasi untuk glaukoma sudut sempit. Sudut bilik
mata menyempit bila pasien berada di kamar gelap akibat terjadinya midriasis.
Midriasis akan mengakibatkan sudut bilik mata tertutup yang akan menghalangi
pengaliran akuos humor sehingga tekanan bola mata meninggi.
 Uji Midriasis
Pemeriksaan untuk menemukan glaukoma sudut sempit dengan
memprovokasinya dengan midriatik. Midriasis akan mengakibatkan sudut
bertambah tertutup dan bertambah kemungkinan terbendungnya akuos humor dan
dapat menimbulkan glaukoma.

14
 Uji Tiarap (Prone Test)
Pemeriksaan ini dilakukan untuk glaukoma sudut sempit. Pada waktu tiarap
terjadi pergeseran lensa dengan pupil ke depan yang akan mengakibatkan sudut
bilik mata menutup, yang dapat mengganggu pengaliran akuos humor melalui sudut
bilik mata.2,9

2.8 DIAGNOSIS BANDING

a) Glaukoma primer sudut terbuka


 Hipertensi okular
Pasien dengan hipertensi okular memperlihatkan peningkatan tekanan
intraokular secara signifikan dalam beberapa tahun tanpa memperlihatkan tanda-
tanda adanya kerusakan nervus optik ataupun gangguan lapangan pandang.
Diagnosis ini secara umum ditegakkan jika didapatkan kenaikan tekanan
intraokular di atas 21 mmHg. Beberapa dari pasien ini akan menunjukan
peningkatan tekanan intraokular tanpa lesi glaukoma.10
 Glaukoma tekanan normal (tekanan rendah)
Penderita dengan glaukoma tekanan rendah memperlihatkan peningkatan
perubahan glaukomatosa pada diskus optik dan defek lapangan pandang tanpa
peningkatan tekanan intraokular. Kamal dan Hitchings menetapkan beberapa
kriteria yaitu tekanan intraokular rata-rata adalah 21 mmHg dan tidak pernah
melebihi 24 mmHg, pemeriksaan gonioskopi didapatkan sudut bilik mata depan
terbuka, gambaran kerusakan diskus optikus dengan cupping glaumatosa yang
disertai defek lapangan pandang, dan kerusakan glaumatosa yang progresif. Pada
glaukoma tekanan rendah ini susah diterapi karena penanganan terapinya tidak
berfokus pada kontrol tekanan intraokular. 10

b) Glaukoma primer sudut tertutup


Beberapa penyakit yang mirip dengan glaukoma sudut tertutup yaitu :4

15
Glaukoma sudut Iritis akut Konjungtivitas
tertutup akut
Sakit Injeksi Tipe siliar yaitu Sedang sampai Membakar, gatal.
lebih hebat dekat hebat Tipe konjungtival
limbus kornea yaitu lebih pada
skleral dan formiks dan
berkurang ke arah berkurang ke arah
formiks, tidak limbus. Mata
konstriksi dengan menjadi putih
epinefrin 1:1000, dengan epinefrin 1:
pembuluh tidak 1000, pembuluh
bergerak dengan superficial,
konjungtiva, warna bergerak dengan
violet, dan masing- konjungtiva, warna
masing pembuluh merah bata, dan
tak dapat diusut masing-masing
pembuluh jelas
terlihat.
Pupil Semi dilatasi, tak Miotik, reaksi Normal
bereaksi terhadap lambat.
sinar.
Kornea Suram, dan rincian Biasanya jernih Jernih dan normal
iris tak tampak. kadang-kadang
terlihat dengan
deposit pada
permukaan
posterior kornea.
Sekresi Air Air Pus bergetah
Serangan Mendadak Perlahan Perlahan
Visus Sangat turun Turun sedikit Normal

16
TIO Meninggi Normal atau Normal
rendah

2.9 PENYULIT GLAUKOMA


1. Sinekia anterior perifer : apabila galukoma akut tidak cepat diobati,
terjadilah perlekatan antara iris bagian tepi dan jaringan trabekulum.
Akibatnya adalah bahwa penyaluran keluar akuos humor lebih
terhambat.
2. Katarak : di atas permukaan kapsul depan lensa acapkali terlihat bercak
putih sesudah suatu serangan akut. Tampaknya seperti susu yang
tertumpah di atas meja. Gambaran ini dinamakan Glaukomflecke.
3. Atrofi papil saraf optik karena serangan yang mendadak dan hebat,papil
saraf optik mengalami pukulan yang berat hingga menjadi atrofi.
4. Glaukoma absolute adalah istilah untuk suatu glaukoma yang sudah
terbengkalai sampai buta total.3

2.10 PENATALAKSANAAN
Terapi pada awalnya ditujukan untuk menurunkan tekanan intraokuler.
Pengobatan dengan obat-obatan :
 Miotik, yang paling mudah didapatkan adalah pilokarpin 2-4% tetes mata
yang ditetskan tiap menit 1 tetes selama 5 menit, kemudian disusul 1 tetes
tiap jam sampai 6 jam. Pilokarpin adalah miosis dan karenanya melepaskan
iris dari jaringan trabekulum. Sudut bilik mata depan akan terbuka.
 Penghambat karbonik anhidrase (carbonic anhydrase inhibitor) yang
menyebabkan mengurangnya produksi akuos humor. Yang biasa dipakai
adalah tablet asetazolamid ( 250 mg) diberikan 2 tablet sekaligus, kemudian
disusul tiap 4 jam 1 tablet sampai 24 jam.
 Obat hiperosmotik, yang paling mudah adalah larutan gliserin, 50% yang
diberikan oral. Dosis 1-1,5 gram/kg berat badan (0,75-1,5 cc kg berat
badan). Gliserin ini harus diminum sekaligus. Gliserin dan manitol
mempertinggi daya osmosis.
17
 Beta blocker yaitu timolol maleate 0,25 – 0,50%, 1 – 2 kali tetes sehari
(menghambat produksi humor aqueous)20,21
 Morfin : suntikan 10-15 mg mengurangi rasa sakit dan mengecilkan pupil.
Obat-obatan ini dapat diberikan bersama-sama, tetapi hana merupakan
pengobatan darurat dan jangka pendek. Pembedahan tetap harus direncanakan.1,2,3

Pembedahan
Sebelum pembedahan, tiap glaukoma harus diobati terlebih dahulu, tekanan
bola mata yang tadinya sangat tinggi diturunkan dahulu sampai di bawah 25 mmHg.
Apabila mata masih terlalu merah, dapat ditunggu sampai mata lebih putih dan
kemudian penderita dibedah.
1. Iridektomi Perifer
Indikasi : pembedahan ini digunakan untuk glaukoma dalam fase
prodromal, glaukoma akut yang baru terjadi atau untuk tindakan pencegahan pada
mata sebelahnya yang masih sehat.
Teknik : pada prinsipnya dibuat lubang di bagian perifer iris. Maksudnya
adalah untuk menghindari hambatan pupil. Iridektomi ini biasanya dibuat di sisi
temporal atas.
Iridektomi perifer preventif dilakukan dengan alas an serangan glaukoma
akut biasanya terjadi unilateral. Nasib mata sebelahnya yang masih sehat menurut
beberapa laporan terdapat risiko 60% terjadinya glaukoma akut dalam 5 tahun
mendatang.3,7
2. Laser iridotomy
Pada glaukoma sudut tertutup terdapat hambatan relatif pengeluaran keluar
cairan bilik mata belakang melalui pupil ke bilik mata depan. Iridotomi laser
merupakan tindakan bedah yang palig sering jadi pilihan bagi sudut tertutup
glaukoma. Sinar laser menciptakan sebuah lubang di iris, sehingga cairan dari bilik
mata belakang dapat mencapai ke bilik mata depan melalui lubang di iris.10
3. Pembedahan Filtrasi (trepanasi, sklerotomi, trabekulektomi)
Indikasi : pembedahan filtrasi dilakukan kalau glaukoma akut sudah
berlangsung lama atau penderita sudah masuk stadium glaukoma kongestif kronik.
18
Trepanasi Elliot : sebuah lubang kecil berukuran 1,5 mm dibuat di daerah
kornea-skleral, kemudian ditutup oleh konjungtiva dengan tujuan agar akuos
mengalir langsung dari bilik mata depan ke ruang subkonjungtiva.
Sklerotomi : kornea skleral dikauterisasi agar luka tidak menutup kembali
dengan sempurna, dengan tujuan agar akuos mengalir langsung dari bilik mata
depan ke ruang subkonjungtiva.
Trabekulektomi : mengangkat trabekulum sehingga terbentuk celah untuk
mengalirkan cairan mata masuk ke dalam kanal Schlemm.2,3

2.11 PROGNOSIS
Deteksi dini dan pengobatan yang tepat dan sesegera mungkin, maka
prognosisnya baik.10

2.12 PENCEGAHAN
Pemeriksaan mata secara teratur dengan dokter mata dapat mengidentifikasi
orang yang berisiko untuk glaukoma. Pada beberapa orang yang berisiko tinggi,
iridotomy laser dapat dilakukan untuk mencegah serangan glaukoma akut sudut
tertutup.7,10

19
BAB III
KESIMPULAN

Glaukoma adalah suatu neuropati optik kronik didapat yang ditandai oleh
pencekungan (cupping) diskus optikus, pengecilan lapangan pandang; biasanya
disertai peningkatan tekanan intraokuler.
Glaukoma primer sudut terbuka merupakan bentuk yang tersering, bersifat
kronik dan bersifat progressive. Glaukoma primer sudut terbuka yang ditandai
dengan sudut bilik mata depan yang terbuka dengan penyebab yang tidak
ditemukan.
Glaukoma primer sudut tertutup terjadi bila terdapat kenaikan mendadak
dari tekanan intraokuler yang disebabkan penutupan sudut coa yang mendadak oleh
akar iris sehingga menghalangi sama sekali keluarnya humor akueus melalui
trabekula, menyebabkan meningginya tekanan intraokuler, sakit yang sangat di
mata secara mendadak dan menurunnya ketajaman penglihatan secara tiba-tiba
disertai tanda-tanda kongesti di mata, seperti mata merah, kelopak bengkak.
Untuk menegakkan diagnosis glaukoma primer tertutup yaitu dari
anamnesis yang teliti dan diperlukan juga penilaian secara klinis. Manajemen bisa
dilakukan dengan medikamentosa dan non medikamentosa (bedah atau laser).

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Vaughan & Asbury. Oftalmologi Umum. Edisi 17. Jakarta: EGC. 2009.
2. Wijaya, N. Ilmu Penyakit Mata, cetakan ke-6. 1993.
3. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata. Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter
Umum dan Mahasiswa Kedokteran. Jakarta : CV. Sagung Seto; 2002.
4. Depkes RI. Gangguan penglihatan Masih Menjadi Masalah Kesehatan.
Diunduh dari http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/845-
gangguan-penglihatan-masih-menjadi-masalah-kesehatan.html
5. Sbeity, Z. Ritch, R. Annual World Glaukoma Day. J Med Liban 2010 ; 58
(2) : 120-121. Diunduh dari http://lebanesemedicaljournal.org/articles/58-
2/health1.pdf.
6. Ilyas, S. Ilmu Penyakit Mata Edisi ke-3. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2004.
7. Ilyas, S. Glaukoma. Edisi ke-2. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia;2001.
8. Ilyas, S. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009.
9. Ilyas, S. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-3.
Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009.
10. Noecker, R. J. Acute Angle Closure Glaukoma. 2012
http://www.emedicinehealth.com/acute_angle
closure_glaucoma/article_em.htm

21