Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Prinsip dalam Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) adalah ketentuan umum dan
khusus yang bersifat memandu dan mengarahkan pikiran dan perilaku guru dalam
mengelola pembelajaran. Menguasai kemampuan pembelajaran dalam PKR penting
bagi setiap guru kelas, baik yang selalu mengajar kelas rangkap di SD kecil maupun
bila sewaktu-waktu harus mengajar kelas rangkap karena ada guru lain yang
terpaksa tidak hadir mengajar. Apabila seorang guru tampil dengan siap dan mantap,
maka semua murid akan merasa senang dan tertarik dalam mengikuti pembelajaran
di kelas.

Agar kita dapat tampil sebagai guru PKR yang mantap, siap, dan berkompetensi,
maka dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal yang berkaitan dengan model
pengelolaan dan pembelajaran kelas rangkap terutama prinsip dan model
pengelolaan PKR dengan fokus model PKR 221, model PKR 222, dan model 333.

1
B. Rumusan Masalah

1. Apa Prinsip Pembelajaran Kelas Rangkap ?


2. Bagaimana Model Pembelajaran Kelas Rangkap 221 ?
3. Bagaimana Model Pembelajaran Kelas Rangkap 222 ?
4. Bagaimana Model Pembelajaran Kelas Rangkap 333 ?
5. Apa Saja Kelebihan dan Kekurangan Pada Setiap Model Pembelajaran Kelas
Rangkap?

C. Tujuan

1. Untuk Mengetahui Prinsip Pembelajaran Kelas Rangkap.


2. Untuk Mengetahui Model Pembelajaran Kelas Rangkap 221.
3. Untuk Mengetahui Model Pembelajaran Kelas Rangkap 222.
4. Untuk Mengetahui Model Pembelajaran Kelas Rangkap 333.
5. Untuk Mengetahui Kelebihan dan Kekurangan Pada Setiap Model Pembelajaran
Kelas Rangkap.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Prinsip-prinsip Pembelajaran Kelas Rangkap

Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) seperti pada umumnya memiliki prinsip-


prinsip umum baik yang bersifat psikologis-pedagogis maupun didaktik-metodik.
Psikologis-pedagogis berkenaan dengan perubahan perilaku siswa, sedangkan
didaktik-metodik berkenaan dengan strategi atau prosedur pembelajaran. Prinsip
umum psikologis-pedagogis antara lain:

1. Perbedaan individual anak dalam perkembangan kognitif, sikap, dan perilakunya


menuntut perlakuan pembelajaran yang cocok dengan tingkatannya. Misalnya
perilaku terhadap siswa kelas I tentu berbeda dengan perlakuan terhadap siswa
kelas V dikarenakan pada tingkat usia kelas I proses berpikir konkret lebih
dominan, sedangkan siswa kelas V sudah mulai dapat berpikir abstrak. (Piaget
dalam Bell-Gredler:1986).
2. Motivasi sangat diperlukan dalam belajar baik yang datang dari dalam diri siswa
maupun yang datang dari luar diri siswa. Oleh karena itu pembelajaran harus
diawali dengan menumbuhkan motivasi siswa agar merasa butuh dan mau
belajar. Bila sudah tumbuh, motivasi tersebut perlu dipelihara dan malah
ditingkatkan melalui berbagai bentuk penguatan. (Skinner dalam Turney: 1977).
3. Belajar sebagai proses akademis dalam diri individu untuk membangun
pengetahuan, sikap, dan keterampilan melalui transformasi pengalaman. Proses
tersebut dapat dipandang sebagai suatu siklus proses pengalaman konkret
(concrete experience), pengamatan mendalam (reflective observation),
pemikiran abstrak (abstract conseptualization), dan percobaan atau penerapan
secara aktif (active experimentation). (Kolb: 1986).
4. Belajar dari teman seusia (peer group) terutama mengenai sikap dan
keterampilan sosial dapat berhasil dengan baik melalui interaksi sosial yang
sengaja dirancang.

3
5. Pencapaian dampak instruksional (instuructional effects) dan dampak pengiring
(nurturant effect) menuntut lingkungan dan suasana belajar yang memungkinkan
siswa dapat melakukan kegiatan belajar yang dirancang dengan baik oleh guru
dan terciptanya suasana belajar secara kontekstual.

Pembelajaran Kelas Rangkap memiliki beberapa prinsip khusus seperti berikut


(Djalil dan Wardani: 1997, Rake Joni: 1998)

1. Keserempakan kegiatan belajar-mengajar


Dalam PKR seorang guru dalam waktu yang bersamaan misalnya dari pukul
08.00-09.20 (2 jam pelajaran) menangani pembelajaran IPA untuk kelas V dan
IPS kelas VI. Pada saat itu siswa kelas V dan kelas VI dalam satu atau dua
ruangan secara serempak belajar di bawah bimbingan seorang guru. Dengan
prinsip ini pemanfaatan sumber daya dalam hal ini guru dan waktu yang tersedia
dapat lebih optimal.
2. Kadar tinggi waktu keaktifan akademik
Yang dimaksud dengan waktu keaktifan akademik (WKA) adalah waktu
yang benar-benar digunakan oleh siswa untuk belajar (membaca, menyimak,
menulis, berlatih keterampilan, berdiskusi). Misalnya dalam dua jam pelajaran
tersedia 2 x 40’ = 80’. Selama 15’ digunakan oleh guru untuk mengabsen,
mengatur kelompok, 65’ sisanya digunakan oleh siswa untuk berbagai kegiatan
belajar. Dalam 65’ itulah siswa benar-benar melakukan kegaitan belajar atau
sering disebut juga “on-task” (Flander:1972). Bila selama 65’ itu ternyata ada
sebagian waktu yang digunakan untuk ‘ngobrol’ selain materi pelajaran atau
mungkin melamun misalnya selama 10’ maka yang benar-benar dipakai belajar
hanya 55’ on-task. Selama 10’ tersebut para siswa tidak belajar atau sering sering
disebut ‘off-task’ (Flander: 1972). Dengan menerapkan PKR seorang guru dapat
mengurangi lama waktu kosong karena dua kelas ditangani secara serempak
sehingga waktu keaktifan akademik menjadi semakin tinggi.

4
3. Kontak psikologis guru-murid yang berkelanjutan
Dengan menerapkan PKR interaksi guru-murid baik yang berupa
perhatian, pengarahan, bimbingan pembelajaran, dan monitoring menjadi suatu
proses akan berlangsung secara bervariasi dan terus menerus terutama PKR
dengan satu ruangan. Bila PKR diterapkan dalam dua atau tiga ruangan memang
ada sebagian perhatian misalnya kontak pandang guru-murid yang terputus.
Kontak psikologis guru-murid yang bervariasi ini sangat penting untuk dibangun
dan dipelihara, bila tidak maka pembinaan disiplin siswa akan berkurang.
4. Pemanfaatan sumber belajar yang efisien
Kita menyadari bahwa di sekolah dasar terutama di pedesaan sumber
belajar tertulis dirasakan sangat kurang. Banyak sekali SD yang tidak memiliki
perpustakaan sekolah. Malah dalam beberapa kasus hanya terdapat satu
eksemplar buku pelajaran untuk satu kelas. Dengan menerapkan PKR sumber
belajar tertulis yang jumlahnya terbatas dapat digunakan secara bersama-sama.
B. Model-model Pengelolaan Pembelajaran Kelas Rangkap
1. Model Pembelajaran Kelas Rangkap 221

Kegiatan/waktu Kelas V (IPS) Kelas VI (IPA)


Pendahuluan (10*) Pengantar dua pengarahan dalam satu ruangan:
penjelaskaan scenario dan hasil belajar

Kegiatan inti 1 (20*) Tugas individual Kerja kelompok


Kegiatan inti 2 (20*) Kerja kelompok Ceramah Tanya jawab

Kegiatan inti 3 (20*) Ceramah, kerja Diskusi, Tanya jawab


keompok

Penutup (10*) Review, penatan, komentar dan tindak lanjut.


Persiapan kegiatan belajar berikutnya

5
Dalam model PKR 221, guru menghadapi dua kelas, dalam hal ini kelas 5 dan
kelas 6, untuk mengajar mata pelajaran IPA dengan topik Sumber Daya Alam di kelas
5, dan mata pelajaran IPS dengan topik Sumber Kekayaan Alam di kelas 6, kedua topik
saling memiliki keterkaitan, proses pembelajaran berlangsung dalam satu ruangan.
Model PKR 221 merupakan Model PKR Murni karena proses keserempakan terpenuhi
tanpa batasan fisik. Perhatian tatap muka sebagai wahana pedagogis kontrol guru
terhadap kelas dapat berlangsung terus menerus.model ini sangat dianjurkan untuk
digunakan karena paling efektif diantara model PKR lainnya. Namun, model ini hanya
mungkin diterapkan jika jumlah siswa tidak terlampau banyak (15-20 orang).

Petunjuk dalam menerapkan model PKR 221 yaitu:

a. Pada kegiatan pendahuluan 10 menit pertama berikan pengantar dan pengarahan


dalam satu ruangan. Gunakan dua papan tulis atau satu papan tulis dibagi 2.
Tuliskan topik dan hasil belajar yang diharapkan dari kelas 5 dan 6. Ikuti dengan
langkah-langkah untuk masing-masing kelas yang akan yang akan ditenpuh
selama pertemuan itu 30 menit.
b. Pada kegiatan inti 60 menit berikutnya terapkan aneka metode yang sesuai untuk
masing-masing kelas. Selama kegiatan berlangsung adakan pemantapan,
bimbingan, balikan sesuai keperluan. Terapkan prinsip wittiness,
alertness, dan overlappingness. Gunakan keterampilan mengajar yang sesuai
c. Pada kegiatan penutup 10 menit terakhir, berdirilah di depan kelas menghadapi
dua kelas untuk mengadakan review atas materi dan kegiatan yang baru berlaku.
Berikan komentar dan penguatan sesuai keperluan. Setelah itu berikan tindak
lanjut berupa tugas atau apa saja sebagai bahan untuk pertemuan selanjutnya
atau mungkin juga untuk hari berikutnya.

6
2. Model Pembelajaran Kelas Rangkap 222

Kegiatan/waktu Kelas V (matematika) Kelas VI (IPA)

Pendahuluan (10’) Pengantar dan pengarahan umum diberikan secara


bersama dalam dua ruangan yang berhubungan,
penjelasan scenario dan hasil belajar.

Kegiatan inti 1(15’) Penjelasan guru Kegiatan individual

Kegiatan inti 2(15’) Tanya jawab Kegiatan individual

Kegiatan inti 3(15’) Kerja individual Tanya jawab

Kegiatan inti 4(15’) Kerja individual Tanya jawab

Penutup (10’) Review umum, pergantian, penguatan, tindak


lanjut, tugas. Pengantar jam pelajaran berikutnya.

Dalam model PKR 222, guru menghadapi dua kelas,dalam hal ini kelas 5 dan
6, untuk mengajar mata pelajaran Matematika topik Bangun Ruang di kelas 5, dan mata
pelajaran IPA topik Tumbuhan Hijau di kelas 6. Kedua topik tidak memiliki saling
keterkaitan. Proses pembelajaran berlangsung dalam 2 ruangan berdekatan yang
terhubungkan dengan pintu. Model PKR 222 merupakan model PKR Modifikasi, untuk
kondisi jumlah siswa lebih dari 20 orang, yang tidak mungkin ditampung dalam satu
ruangan. Penerapan model ini mempunyai dampak, antara lain perhatian tatap muka
sebagai wahana pedagogis kontrol guru terhadap kelas tidak dapat berlangsung terus
menerus karena masing-masing kelas harus menunggu hadirnya guru secar fisik secara
bergiliran. Waktu tunggu tentunya lebih lama karena guru harus berpindah-pindah di
antara 2 ruangan.Oleh karena itu, harus dirancang dengan cermat agar tanpa kehadiran
guru untuk sementara, siswa tetap dapat belajar dengan penuih perhatian. Dalam
praktik model ini tidak seefektif model PKR 221.

7
Petunjuk dalam melakukan model ni sebagai berikut:

a. Pada kegiatan pendahuluan 10 menit pertama satukan siswa kelas 5 dan kelas 6
dalam satu ruangan yang tempat duduknya mencukupi. Berikan pengantar dan
pengarahan umum, seperti yang dilakukan dalam Model PKR 221. Bila ternyata
tidak mungkin menyatukan siswa kelas 5 dan kelas 6 dalam ruangan, gunakan
halaman atau emperan sekolah sambil berdiri/berbaris . apabila cara kedua masih
tidak mungkin biarkan siswa kelas 5 dan 6 duduk dalam ruangan masing-masing.
Guru berdiri di pintu penghubung ruang kelas 5 dan 6. Berikan pengantar dan
pengarahan umum secara berselang-selang untuk kelas 5, kemudian kelas 6, atau
sebaliknya.
b. Pada kegiatan inti 60 menit berikutnya terapkan aneka metode yang sesuai
dengan masing-masing kelas. Yang perlu diperhatikan jangan sampai pada saat
guru sedang menghadapi kelas yang satu, kelas yang satunya lagi tidak ada
kegiatan sehingga ribut. Agar kepindahan guru dari ruang ke ruang seimbang,
artinya jangan banyak menggunakan waktu di satu ruang. Ada saat dimana guru
berdiri di pintu penghubung. Selama berlangsungnya pembelajaran jangan lupa
menerapkan prinsip wittiness, alertness, danoverlappingness.
c. Pada kegiatan penutup 10 menit terakhir guru berdiri di pintu penghubung
menghadapi kedua kelas untuk mengadakan review umum mengenai materi dan
kegiatan yang baru berlaku. Berikan komentar dan penguatan sesuai keperluan.
Setelah itu berikan tindak lanjut berupa tugas untuk masing-maasing kelas.
Kemukakan hal-hal yang paling perlu dipersiapkan untuk jam pelajaran
berikutnya.
d. Sebagai catatan, untuk model PKR 222 ini, sedapat mungkin denah ruangan
diatur agar pandangan siswa mengarah ke depan dan ke arah pintu penghubung.
Sebagai contoh dapat menggunakan denah berikut

Pengelolaan PKR 222 memang sedikit lebih rumit daripada PKR 221. Dapat
dipahami dengan berkumpul pada satu ruangan, seperti dalam PKR 221 perhatian
guru tanpa penghalang. Model PKR 221 sangat cocok untuk dua materi yang saling

8
berkaitan, sedangkan model PKR 222 sangat cocok untuk materi yang tidak saling
berkaitan dan memerlukan perhatian khusus dari masing-masing kelas.

3. Model Pembelajaran Kelas Rangkap 333

Kegiatan/waktu Kelas IV Kelas V Kelas VI


(IPS) (IPA) (MATEMATIKA)

Pendahuluan (10’) Pengantar dan pengarahan umum diberikan secara


bersama-sama di salah satu ruangan. Penjelasan
scenario dan hasil belajar yang ingin dicapai.
Kegiatan inti 1. 20’ Tugas individual Kerja Ceramah dan
kelompok Tanya jawab
Kegiatan inti 2. 20’ Ceramah dan Tugas Kerja kelompok
Tanya jawab individual
Kegiatan inti 3. 20’ Kerja kelompok Ceramah Tugas individual
dan Tanya
jawab
Penutup 20’ Review penguatan atau komentar dan tindak lanjut.
Persiapan kegiatan belajar berikutnya.

Dalam PKR 333, guru menghadapi 3 kelas, dalam hal in kelas 4, 5, dan 6, untuk
mengajar 3 mata pelajaran yang berbeda. Di kelas 4 mata pelajaran IPS dengan topik
Penduduk, di kelas 5 IPA dengan topik Makhluk Hidup dan Lingkungan, dan di kelas
6 Matematika dengan topik Pecahan. Ketiga topik satu sama lain tidak ada kaitannya
secara langsung. Proses pembelajaran berlangsung dalam tiga ruangan berjejer yang
satu sama lain terhubungkan dengan pintu penghubung. Model PKR 333 sama dengan
model PKR 222, merupakan model PKR modifikasi karena prinsip keserempakan tidak
terkendalikan dengann utuh secara tatap muka sebagai wahana pedagogis kontrol guru
terhadap kelas tidak dapat berlangsung secara terus menerus, karena masing-masing
kelas harus menunggu hadirnya guru secara fisik. Waktu tunggu tentunya lebih lama
lagi karena guru harus berpindah-pindah di antara 3 ruangan.Model ini tidak dianjurkan
untuk sering digunakan karena kurang efektif. Model ini hanya digunakan apabila
memang secara fisik tidak dimungkinkan penerapan model PKR 222.

9
Petunjuk dalam melaksanakan model PKR 333, sebagai berikut:

a. Pada kegiatan pendahuluan 10 menit pertama kumpulkan siswa kelas 4, 5, dan 6


di salah satu ruangan yang tempat duduknya mencukupi. Berikan pengantar da
pengarahan seperti dalam model model PKR 222. Apabila tidak mungkin
menyatukan siswa dalam satu ruangan kumpulkan siswa kelas 4, 5, dan 6
di halaman berbaris per kelas, seperti dalam upacara bendera. Berikan pengantar
dan pengarahan serta prosedur kegiatan pembelajaran yang akan dijalani pada
pertemuan itu.
b. Pada kegiatan inti 60 menit terapkan aneka model belajar dengan memanfaatkan
aneka sumber belajar yang tersedia. Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS)
dan atau Lembar Tugas Siswa (LTS) sangat dianjurkan agar kegiatan belajar
siswa lebih bersifat mandiri. Artinya, kegiatan belajar siswa tidak banyak
tergantung pada hadirnya guru di muka kelas. Perlu dicatat bahwa dalam
melaksanakan model PKR 333 ini guru harus berpindaah-pindah secara teratur
antar 2 ruangan. Tidak dapat dihindari akan terdapat waktu tunggu pada setiap
kelas. Hal itu dapat diperkecil dengan meningkatkan kadar kemandirian belajar
siswa. Proses saling bimbing antar siswa atau tutor sebaya perlu digalakkan. Ada
saat dimana guru berdiri di pintu penghubung untuk membantu kegiatan belajar
dalam 3 ruangan yang berhubungan. Dalam model ini pun prinsip-
prinsip wittiness, alertness, danoverlappingness sejauh mungkin diterapkan.
c. Pada kegiatan penutup 10 menit terakhir ialah review untuk dua kelas dengan
guru menempatkan diri di pintu penghubung ruang satu dan dua atau ruang 2 dan
3. Berikan penguatan dan tindak lanjut untuk dua kelas itu. Setelah itu, guru
berpindah ke ruangan yang tersisa. Lakukan kegiatan penutupan seperti di dua
ruang sebelumnya.
d. Sebagai catatan, memang model PKR 333 ini termasuk yang lebih rumit dalam
pengelolaannya. Guru dituntut untuk memiliki mobilitas (daya gerak) pedagogis
yang tinggi. Keunggulan model ini terletak pada intensitas kemandirian belajar

10
setiap kelas dan terbebas dari situasi belajar kelas lainnya. Adanya aneka sumber
belajar akan sangat membantu berjalannya model ini.
C. Kelebihan dan Kelemahan Model-Model PKR

Dari pemaparan diatas dapat dipahami keunggulan dan kelemahan masing-masing


pengelolaan kelas PKR :

Model Kelebihan Kelemahan


PKR 221 1. Guru atau tim mengelola para 1. Siswa tidak dapat fokus
siswa dari 2 tingkatan kelas dengan apa yang sedang
yang berbeda, dengan fokus dipelajari atau dikerjakan
dua mata pelajaran baik yang karena terganggu oleh
sama atau berbeda dalam 1 aktivitas kelas lain.
ruangan. 2. Tidak semua guru memiliki
2. Kegiatan pendahuluan dan kemampuan mengelola siswa
penutup masing-masing dapat heterogen dalam ruangan yang
dilakukan secara bersama- sama.
sama dalam ruangan yang akan 3. Bertambahnya pekerjaan
digunakan untuk administrasi, pekerjaan
pembelajaran. akademik, pelayanan dan
3. Tidak membuang waktu terlalu tanggungjawab guru terhadap
banyak dalam pembelajaran, siswa karena guru mengajar
sebab 2 kelas melakukan kelas rangkap.
pembelajaran dalam satu 4. Jika siswa dalam 1 kelas
ruangan secara bersama-sama. jumlahnya lebih dari 25 siswa
4. Guru mudah dalam melakukan maka kelas PKR harus dibagi
pemantauan terhadap siswa menjadi 2 kelas.
selam pembelajaran
berlangsung.

11
5. Menghemat tenaga guru
karena tidak perlu berpindah-
pindah ruangan.
6. Membina persahabatan antar
kelas.
7. Guru lebih kreatif dalam
merancang pembelajaran agar
tetap tercipta iklim kelas yang
menyenangkan.
8. Model ini bisa efektif bila
jumlah siswa yang terdiri dari 2
tingkatan kelas tersebut tidak
terlalu banyak (maksimum 25
siswa untuk masing-masing
tingkatan kelas) dengan suatu
ruangan yang cukup luas.

PKR 222 1. Masing-masing kelas lebih 1. Guru harus mengelola dua


fokus dengan pelajaran yang kelas sekaligus dalam waktu
sedang dihadapinya atau yang bersamaan.
aktivitas yang sedang 2. Jika tidak ada ruangan yang
dilakukan karena terbebas cukup untuk memberikan
dari aktivitas kelas lain. pengantar dan pengarahan
2. Terciptanya kemandirian umum (kegiatan pendahuluan)
belajar siswa. untuk dua kelas secara
3. Guru lebih kreatif dalam bersamaan, maka harus
merancang pembelajaran mencari ruangan atau tempat
agar siswa tetap mempunyai lain.
aktivitas saat guru harus

12
berpindah ke ruangan yang 3. Perhatian tatap muka sebagai
lain. wahana pedagogis kontrol
4. Guru mudah dalam guru terhadap kelas tidak dapat
melakukan kegiatan penutup berlangsung terus menerus.
karena dapat dilakukan 4. Terlalu banyak memakan
secara bersama-sama untuk waktu karena guru harus
kedua kelas apabila antar berpindah-pindah ruangan.
kedua ruangan terdapat pintu 5. Siswa menjadi anak tiri jika
penghubung. guru tidak dapat membagi
waktu dengan baik antar kelas
yang satu dengan yang
lainnya.
6. Jika tidak terdapat pintu
penghubung antar kedua kelas,
guru haru melakukan kegiatan
penutup secara terpisah.
7. Pekerjaan guru dalam
administratif, akademik,
pelayanan dan tanggungjawab
terhdaap siswa karena guru
mengjar kelas rangkap.
PKR 333 1. Masing-masing kelas lebih 1. Untuk mengelola PKR model
fokus dengan pelajaran yang ini diperlukan tim guru
sedang dihadapinya atau paling tidak 2 orang guru.
aktivitas yang sedang 2. Jika tidak ada ruangan yang
dilakukan karena terbebas dari cuku untuk memberikan
aktivitas kelas lain. pengantar dan pengarahan
2. Siswa lebih mandiri dalam umum (kegiatan
pembelajaran. pendahuluan) untuk 3 kelas

13
3. Guru lebih kreatif dalam secara bersamaan, maka
merancang pembelajaran agar harus mencari ruangan atau
siswa tetap mempunyai tempat lain.
aktivitas saat guru harus 3. Perhatian tatap muka sebagai
berpindah ke ruangan yang wahana pedagogis kontrol
lain. guru terhadap kelas tidak
dapat berlangsung terus
menerus.
4. Terlalu banyak memakan
waktu dibandingkan model
PKR 222 karena guru harus
berpindah-pindah tiga
ruangan.
5. Siswa merasa menjadi anak
tiri jika guru tidak dapat
membagi waktu dengan baik
antar kelas yang satu dengan
lainnya.
6. Kegiatan penutup harus
dilakukan dua kali (dua kelas
dan satu kelas) apabila
terdpaat pintu penghubung
antar ruangan, namun harus
dilakukan tiga kali secara
terpisah apabila tidak ada
pintu penghubung antar
ruangan.
7. Keterbatasan berbagai
sumber belajar untuk

14
menunjang pelaksanaan
pembelajaran terutama yang
berupa buku-buku teks, ahan
belajar yang lainnya dan alat
bantu mengajar.
8. Bertambahnya pekerjaan
administratif, pekerjaan
akademik, pelayanan dan
tanggung jawab guru
terhadap siswa karena guru
mengajar 3 kelas.

15
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Prinsip dari PKR sebagian besar dari waktu yang tersedia benar-benar digunakan
untuk belajar siswa., Kualitas pembelajaran guru sangat memadai, sebagian terbesar
atau seluruh siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar.

Model PKR 221 merupakan Model PKR Murni karena proses keserempakan
terpenuhi tanpa batasan fisik. Model PKR 222 merupakan model PKR Modifikasi,
untuk kondisi jumlah siswa lebih dari 20 orang, yang tidak mungkin ditampung dalam
satu ruangan. Model PKR 333 sama dengan model PKR 222, merupakan model PKR
modifikasi karena prinsip keserempakan tidak terkendalikan dengan utuh secara tatap
muka sebagai wahana pedagogis kontrol guru terhadap kelas tidak dapat berlangsung
secara terus menerus, karena masing-masing kelas harus menunggu hadirnya guru
secara fisik.

Masing-masing model-model PKR tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan.


Maka guru harus bisa dan mantap dalam menerapkan model PKR mana yang cocok
untuk diterapkan saat pembelajaran.

B. Saran

Kami merasa bahwa pada makalah ini banyak sekali kekurangan, oleh karena
kurangnya pengetahuan pada saat pembuatan makalah, kami sebagai penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun kepada pembaca agar kami dapat
membuat makalah yang lebih baik lagi.

16
DAFTAR PUSTAKA

Djalil, Aria, dkk. 2017. Pembelajaran Kelas Rangkap. Tanggerang Selatan:


Universitas Terbuka

Barabai. 2014. Makalah prinsip-prinsip dan model pengelolaan pkr.


http://www.blogbarabai.com/2014/11/makalah-prinsip-dan-model-
pengelolaan.html barabai 2014. Diakses pada tanggal 10 oktober 2019

Fathurrokhman, Faizal. 2018. Prinsip dan model pengelolaan pkr.


http://faizalfathurrokhman.blogspot.com/2018/04/prinsip-dan-model-
pengelolaan-pkr-di-sd.html. Diakses pada tanggal 10 oktober 2019

Funia, Media. 2016. Model-model pengelolaan pembelajaran.


http://mediafunia.blogspot.com/2016/07/model-model-pengelolaan-
pembelajaran.html. Diakses pada tanggal 10 oktober 2019

Sugiarti, Iva. 2017. Prinsip dan model pengelolaan pkr.


http://ivasgiarti.blogspot.com/2017/10/prinsip-dan-model-pengelolaan-
pkr.html iva sugiarti. Diakses pada tanggal 10 oktober 2019

17

Anda mungkin juga menyukai