Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MAKALAH

LEGAL DAN ETHICAL ISSUES IN NURSING

HUKUM KESEHATAN DAN ISSUE LEGAL

OLEH

KELOMPOK 1V

1. NASRULLAH NIM: 10507020911027


2. NI PUTU NORMA NIM: 10507020911038
3. MUBIN BARID NIM: 10507020911001
4. NUNUK .S NIM: 10507020911014
5. AINI MOEFFIDAH NIM: 10507020911033
6. KRISTIANITA .KNIM: 10507020911008
7. ABDURRAHMAN NIM: 10507020911022
8. ARVI TARIUS NIM: 10507020911010

JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2010 / 2011
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmaanirrohiim.,

Puji syukur tim penulis panjatkan ke hadirat Allah swt karena atas berkat dan

rahmat-Nya lah tim penulis dapat menyelesaikan makalah ini untuk memenuhi

tugas terstruktur dari mata kuliah Legal dan Ethical issues in Nursing.

Tujuan penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat memahami

tentang hukum kesehatan dan issue legal dan hubungannya dengan sistem nilai,

etik, dan moral yang berlaku sehingga dapat menjadikan kerangka dalam

memberikan pelayan kesehatan nantinya.

Tim penulis menyampaikan maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam

penulisan makalah ini ada suatu kekurangan. Kami sadar bahwa makalah ini jauh

dari sempurna oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami

harapkan . Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan kontribusi

dalam pelayanan keperawatan yang berkualitas.

Malang, Oktober 2010

Tim Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................... i

KATA PENGATAR ................................................................................. ii

DAFTAR ISI .............................................................................................. iii

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang judul ............................................................. 1

B. Kaitan Issue Legal dengan Nilai, Etika, dan Moral .............. 1

C. Identifikasi Masalah ............................................................... 3

BAB 11 ANALISA MASALAH

A. Pengkajian secara Komprehensif kasus Misran ................... 4

B. Analisa mengapa Masalah Terjadi ............................................ 4

BAB 111 PEMECAHAN MASALAH

A. Usulan Pemecahan Masalah secara Umum ............. 7

B. Peran tenaga Kesehatan ......................................... 9

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 10

HALAMAN LAMPIRAN ......................................................................... 11

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara berkembang dimana segala aspek kehidupan


mengikuti perkembangan zaman, termasuk ilmu pengetahuan dan
teknologi.rkembangnya suatu bangsa menyebabkan pergeseran pada nilai-nilai
yang dianut, termasuk juga bergesernya nilai terhadap kebutuhan akan kesehatan.
Nilai terbentuk dalam lingkungan sosial dimana latar belakang pendidikan,
sosioekonomi, spiritual dan budaya orang dapat bervariasi (Potter & Perry, 2005)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga berpengaruh terhadap


kesadaran hukum masyarakat. Kesadaran hukum masyarakat terhadap hak-hak
mereka dalam pelayanan kesehatan mengakibatkan tuntutan terhadap pelayanan
yang aman, efektif dan efisien meningkat. Jika harapan ini tidak terpenuhi maka,
masyarakat akan menempuh jalur hukum untuk membela hak-hak mereka.

Dengan makin meningkatnya kesadaran hukum masyarakat maka tenaga


kesehatan termasuk perawat di dalamnya dituntut untuk mengetahui hukum-
hukum yang berlaku dalam bidang keahliannya. Perawat harus memahami hukum
untuk melindungi dirinya dari pertanggungjawaban dan untuk melindungi hak-hak
klien (Potter & Perry, 2005)

Hukum kesehatan merupakan hukum legal yang harus diikuti oleh tenaga
kesehatan. Adanya hukum kesehatan ditujukan sebagai pedoman bagi tenaga
kesehatan agar dapat memberikan pelayanan yang berkualitas dengan
memperhatikan kewajiban dan hak pelayanan kesehatan maupun pengguna
pelayanan kesehatan, sehingga meminimalkan penyimpangan agar tercipta
pelayanan kesehatan yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.

B. Hubungan masalah Hukum kesehatan dan Issue legal dengan Nilai, Etika, dan

1
Moral

1. Nilai

Kepercayaan individu tentang kegunaan dari ide, sikap, adat-istiadat, atau


objek yang menentukan standar yang mempengaruhi prilaku (maslow, 1977;
rokeach, 1973).Nilai-nilai yang dipegang seseorang mencerminkan pngaruh
budaya dan sosial, berbeda antar individu, serta terus berkembang dan berubah
dari waktu kewaktu.

2. Etika

Pernyataan sistematik tentang prinsip benar atau salah, perbuatan baik atau
buruk, kebaikan dan kejahatan dimana semua itu berkaitan dengan moral,
biasanya mengacu pada standar seseorang tentang benar dan salah berkaitan
dengan karakter dan sikap.

Etik juga dipandang sebagai standar rujukan bagi profesi pelayanan kesehatan
untuk menentukan tindakan yang benar

3. Moral

Moral berasal dari bahasa latin yakni mores kata jamak dari mos yang berarti
adat kebiasaan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia moral diartikan dengan susila.
Sedangkan moral adalah sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang
tindakan manusia, mana yang baik dan mana yang wajar.
Antara etika dan moral memang memiliki kesamaan. Namun, ada pula
berbedaannya, yakni etika lebih banyak bersifat teori, sedangkan moral lebih
banyak bersifat praktis. Menurut pandangan ahli filsafat, etika memandang
tingkah laku perbuatan manusia secara universal (umum), sedangkan moral secara
lokal. Moral menyatakan ukuran, etika menjelaskan ukuran itu.
Namun demikian, dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki
perbedaan. Pertama, kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai

2
perbutan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau
rasio, sedangkan dalam pembicaran moral tolak ukur yang digunakan adalah
norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung di masyarakat
Istilah moral senantiasa mengaku kepada baik buruknya perbuatan manusia
sebagai manusia. Inti pembicaraan tentang moral adalah menyangkut bidang
kehidupan manusia dinilai dari baik buruknya perbutaannya selaku manusia.
Norma moral dijadikan sebagai tolak ukur untuk menetapkan betul salahnya sikap
dan tindakan manusia, baik buruknya sebagai manusia.

Hubungan antara hukum kesehatan dan issue legal dengan nilai,etika dan
moral sangatlah erat.sistem nilai, etika dan moral yang berlaku di masyarakat akan
mempengaruhi cara pandang dalam segala aspek kehidupan,termasuklah dalam
pelayanan kesehatan.

Bagi tenaga kesehatan,dalam melaksanakan tugasnya selain hukum kesehatan


yang menjadi pedoman,hendaknya juga mengetahui sistem nilai, etika, dan moral
yang berlaku dimasyarakat,sehingga dalam proses pengambilan keputusan dapat
mengakomodasi semuanya,sehingga menghasilkan keputusan yang terbaik bagi
semua.

C. Identifikasi Masalah

Dengan semakin berkembangnya pelayanan kesehatan ,maka implikasi hukum


untuk pelayanan kesehatan juga meningkat, Hal ini dapat dilihat dari semakin
maraknya tuntutan hukum yang ditujukan kepada tenaga kesehatan akibat dari
tidak puasnya masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Kejadian di atas menjadi
trend issue legal yang sering muncul saat ini.

Melihat besarnya tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang aman


dan Praktik keperawatan yang profesional maka sangatlah penting bagi seorang
perawat untuk memahami masalah hukum agar dapat melindungi hak klien dan
bagi perawat itu sendiri

3
BAB II

ANALISA MASALAH

A. Pengkajian kasus

Misran Mantri Desa Yang Malang ….

Misran sudah mengabdikan hidup membantu melayani masyarakat disana


selama lebih dari 18 tahun. Usia pengabdian selama 18 tahun bukanlah usia yang
singkat. Selain sudah sangat mengenal masyarakat disana, Misran sebagai
seorang Mantri sudah pasti sangat banyak menangani kesehatan masyarakat
disekitarnya.

Kasus ini bermula dari sebuah niat baik dan tanggung jawab Misran sebagai
seorang mantri di puskesmas pembantu daerah Tenggarong Kabupaten Kutai
Kertanegara telah memberikan obat dalam daftar G (obat antibiotik dan obat
tersebut hanya bisa diberikan atas resep dokter),kepada pasien yang datang untuk
meminta pertolongan kepadanya,setelah itu pasien tersebut kembali sembuh dan
tidak terjadi komplikasi.

Tetapi kemudian kasus pemberian obat oleh perawat misran ini ternyata
dilaporkan ke pengadilan sebagai tindakan yang bertentangan dengan
hukum,karena tidak sesuai dengan wewenang seorang perawat untuk melakukan
pengobatan.

PN Tenggarong yang diketuai oleh Bahuri dengan hakim anggota Nugraheni


dan Agus Nardiansyah memutus hukuman 3 bulan penjara dan denda Rp.2 juta
rupiah susbsider 1 bulan penjara pada tanggal 19 November 2009 yang lalu.
Keputusan ini dibuat atas pertimbangan hakim bahwa Misran sebagai seorang
Mantri melanggar UU no 36/2009 tentang Kesehatan.
Pasal 82 ayat 1 huruf D jo Pasal 63 ayat 1 UU No 32/1992 tentang kesehatan
yaitu Misran tidak memiliki kewenangan memberikan pertolongan layaknya
dokter. Putusan ini kemudian diperkuat oleh PT Samarinda.

4
B. Mengapa masalah ini terjadi
Kasus Misran merupakan sebagian kecil masalah yang terjadi dan dialami oleh
perawat dimanapun perawat berada, rasa tanggung jawab sebagai perawat yang
ingin memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat demi kesehatan bangsa,
namun rasa tanggung jawab ini tidak didukung oleh peraturan yang dapat
mendukung perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Kasus ini memang dilema karena tindakan yang dilakukan oleh perawat
misran tidak dibenarkan menurut hukum yang berlaku, tetapi jika tidak
memberikan pertolongan kepada pasien yang membutuhkan ,hal ini akan
bertentangan dengan nilai dan moral sebai seorang perawat yang telah di tugaskan
untuk membantu masyarakat didaerah tersebut.

Dilema itu dapat di gambarkan sebagai berikut :

1. Ada pasien yang sakit di daerah yang terpencil,sedang membutuhkan suatu


pertolongan,dimana tidak terdapat tenaga kesehatan yang berwenang untuk
memberikan pertolongan, sebagai perawat yang sudah 18 tahun bertugas
didaerah tersebut, tidak melakukan tindakan apapun, sementara jarak untuk
merujuk pasien tersebut ke daerah yang tersedia tenaga kesehatan yang
berwenang memakan waktu yang lama, sehingga dapat membahayakan
kesehatan pasien tersebut. disisi moral pasti perawat misran akan merasa
bersalah telah membiarkan seorang pasien memburuk keadaannya tanpa
melakukan tindakan pengobatan,apalagi didaerah tersebut beliaulah satu-
satunya petugas kesehatan yang ada.

2. Disisi lain menurut peraturan perundangan yang berlaku seorang perawat


tidak berwenang memberikan pengobatan layaknya Dokter,maka terjadilah
kasus tuntutan ini dimana perawat misran telah memberikan pengobatan
kepada pasien yg memerlukan pertolongannya,dianggap bahwa Misran
sebagai seorang Mantri melanggar UU no 36/2009 tentang Kesehatan.
Pasal 82 ayat 1 huruf D jo Pasal 63 ayat 1 UU No 32/1992 tentang kesehatan
yaitu Perawat tidak memiliki kewenangan memberikan pertolongan layaknya

5
dokter. melampaui wewenangnya sebagai seorang perawat.

Kasus diatas terjadi karena penerapan hukum atas dasar undang – undang
kesehatan secara kaku tidak fleksible.sebenarnya kasus tersebut tidak perlu
diperpanjang ke pengadilan, apabila penerapan hukum itu disesuaikan lagi dengan
kondisi geografis dan daerah terpencil,dimana kasus itu terjadi,mengingat
memang tidak ada lagi tenaga kesehatan yang berwenang melakukan tindakan
pengobatan selain perawat misran.

Dari sisi lain sebagai seorang perawat yang bertugas didaerah misran juga
harus,mengerti dan memahami tentang hukum kesehatan yang berlaku, sehingga
dapat mempersiapkan diri dengan payung hukum yang melegitimasi atas tindakan
yang dilakukan dengan sistem pendelegasian dari puskesmas induk dimana
tersedia tenaga kesehatan yang telah diberikan wewenang untuk melakukan
tindakan pengobatan tersebut.

Dalam perkara atas, kita bisa melihat bagaimana positivisme hukum menjadi
sarana untuk melakukan kekerasan, karena dengan substansi undang-undang
seperti itu, seolah-olah mau melakukan apapun perawat itu tetap dipersalahkan.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, adalah untuk
melindungi pasien supaya para petugas tidak memberikan obat secara bebas.
Intinya untuk membatasi pemberian obat supaya tidak merugikan pasien. Akan
tetapi dengan kondisi masyarakat dan wilayah Indonesia yang pluralis (ada
banyak desa atau kota yang terpencil yang tidak ada dokter), maka kata tersebut
menjadi bumerang .Kasus misran, yang sebenarnya dalam perkara itu tidak ada
sengketa dan tidak ada yang dirugikan. Permasalahan dalam perkara itu hakim
terlalu dangkal menafsirkan, Alangkah lebih bijaksana kalau hakim melihat
kondisi dari kasus tersebut jangan memaksakan kepastian hukum yang di
utamakan, akan tetapi harus memperhatikan keadilan dan kemanfaatan

6
BAB III

PEMECAHAN MASALAH

A. USULAN PEMECAHAN MASALAH SECARA UMUM

1.Mengembangkan Data Dasar

Dalam kasus diatas adapun orang yang terlibat antara lain : pasien, pengadilan
dan perawat

2. Mengidentifikasi Konflik

Konflik yang terjadi dalam kasus ini adalah : Berawal dari pengobatan yang
dilakukan oleh seorang perawat misran kepada seorang pasiennya di suatu daerah
terpencil.dimana dia dihadapkan pada suatu kondisi dilema antara menolong
dengan konsekuensi hukum, demikian pula jika tidak menolong akan dihadapkan
dg masalah hukum dan moral pula. Pengadilan dalam hal ini adalah pihak yang
berusaha menegakkan hukum sesuai dengan undang – undang yang berlaku.

UU ke dalam peraturan pelaksanaannya bahwa ada 3 jenis kewenangan:


1. kewenangan yang didapat karena keahlian (authority by expertise),
2. kewenangan yang didapat karena posisi (authority by position),
3. kewenangan yang didapat karena situasi (authority by situation)
Pada kasus ini, pastilah jenis kewenangan yang pertama tidak berlaku bagi
dirinya karena Misran bukan dokter – dan untuk itu dia dipidanakan, tetapi ada
dua jenis kewenangan yang lain yang dapat diberlakukan dalam kasus ini yaitu
kewenangan yang didapat karena posisi yang disandang, dalam konteks ini belaiu
adalah sebagai kepala puskesmas pembantu yang memang harus mengambil alih
tanggung jawab apabila dokter tidak ada di area/ditempat; dan jenis kewenangan
ketiga yaitu kewenangan yang didapat karena situasi (authority by situation),
dalam kasus ini yang bersangkutan bekerja dipedalaman kalimantan yang menurut
sekretaris dinas kesehatan setempat memang ditempatkan disana sebagai ujung

7
tombak pelayanan kesehatan karena ketiadaan dokter. Nah ini betul-betul
situasional sehingga jenis kewenangan ketiga harus diberlakukan,apalagi pemda
dan dinas kesehatan setempat menyatakan bahwa ini adalah kondisi yang dihadapi
di daerah pedalaman.

3. Membuat Tindakan Alternatif

Beberapa tindakan alternatif yang dapat dilakukan untuk pertimbangan yaitu :

a. perawat tetap memberikan pengobatan , sebatas tidak bertentangan


dengan hukum yang berlaku dalam hal ini untuk pemberian obat bebas dan
babas terbatas,hal ini setidaknya dapat mengurangi dilema moral dalam
diri perawat karena telah berusaha membantu sebatas kemampuan,
walaupun hasil ygang kemungkinan didapatkan tidak sebaik yang
diharapkan oleh pasien

b. Langsung merujuk ke fasilitas kesehatan yang telah tersedia tenaga yang


berwenang melakukan tindakan pengobatan legal,tp hal ini memang
dianggap kurang sesuai dengan nilai moral yang dianut oleh perawat
tersebut, karena sebenarnya pengobatan untuk pasien tersebut dapat
dilakukan olehnya,tapi karena terbentur batasan dalam hukum, maka
perawat tersebut mengambil jalan yang paling aman dari tuntutan hukum
bagi dirinya , walaupun konsekuensi keputusannya pasien tersebut bisa
tidak tertolong akibat belum sempat mendapatka pertolongan yang tepat

4. Menentukan Siapa yang Terlibat dan Siapa pengambil Keputusan

Dalam kasus tersebut, pasien dan perawat dan pihak yang berwajib adalah
pihak yang ikut terlibat. Pengambil keputusan yang yang tepat dalam hal ini
adalah perawat dengan mengutamakan kebaikan bersama, disatu sisi pasien
tersebut dapat tertolong, dan sisi lain perawat tersebut terlindungi dari masalah
hukum atas tindakannya memberikan pengobatan kepada pasien tersebut,dimana
pihak yang berwajib juga tidak memandang sempit kasus ini hanya dari sisi
hukum,tapi juga dari persepektif yang lain sehingga memungkinkan tindakan

8
yang dilakukan ini tidak dianggap bertentangan dengan masalah hukum.

5. Mengidentifikasi kewajiban perawat

Seorang perawat yang bertugas disuatu daerah tertentu adalah berkewajiban


memberikan pertolongan kepada pasien yang memerlukan pertolongan. Adapun
untuk mendapatkan ketenangan dalam bertugas perawat haruslah mempunyai
perlindungan hukum,dalam hal ini standar pelayanan yang diberikan telah sesuai
dengan legalitas dan jaminan dari pimpinan yang memberikan delegasi kepada
perawat tersebut,dalam menjalankan kewenangan situasional

6. Membuat keputusan

Dilema etik yang sering ditemukan dalam praktek keperawatan dapat bersifat
personal ataupun profesional. Dilema menjadi sulit dipecahkan bila memerlukan
pemilihan keputusan tepat diantara dua prinsip . Sebagai tenaga profesional
perawat kadang sulit karena keputusan yang akan diambil keduanya sama-sama
memiliki kebaikan dan keburukan. Pada saat berhadapan dengan dilema etis juga
terdapat dampak emosional seperti rasa marah, frustrasi, dan takut saat proses
pengambilan keputusan rasional yang harus dihadapi, ini membutuhkan
kemampuan interaksi dan komunikasi yang baik dari seorang perawat.
Dalam kasus ini sudah selayaknya juga pihak yang berwajib dalam hal ini,
seharusnya bijak membuat keputusan, sehingga tidak merugikan salah satu antara
perawat sebagai pemberi pelayanan dan pasien sebagai penerima dan
memerlukan bantuan kesehatan tentunya.

B. PERAN TENAGA KESEHATAN

Tenaga keperawatan sebagai salah satu komponen utama pemberi pelayanan


kesehatan kepada masyarakat memiliki peranan penting karena terkait langsung
dengan mutu pelayanan kesehatan sesuai dengan kompetensi dan pendidikan yang
dimilikinya. Besarnya pengaruh tenaga keperawatan. Besarnya pengaruh tenaga
keperawatan ditopang dengan kenyataan bahwa 40%-75% pelayanan di Rumah
Sakit merupakan pelayanan keperawatan (Gillies, 1994)

Menghadapi masalah hukum yang berhubungan dengan moral,seorang

9
perawat harus berpikiran jernih dan berwawasan luas,. Adapun hal pokok yang
harus dilakukan tenaga kesehatan dalam hal ini perawat antara lain :

1. Memahami hak dan kewajiban sebagai tenaga kesehatan yang yang tentunya
di payungi dalam kode etik profesi, sehingga nantinya apa yang dilakukan
perawat dalam menjalankan tugasnya dapat terlindungi secara hukum.

2. Melaksanakan tugas dengan baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan
tetap membekali diri dengan kompetensi yang cukup guna menghadapi
tantangan kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi,seiring dengan
kemajuan zaman.

3. Dari sisi lembaga yaitu dinas kesehatan yang berwenang,untuk menjamin


kepastian hukum dalam hal ini bagi tenaga kesehatan yang diberi tugas
diluar konteks bidang keahliannya mereka harus diberikan perlindungan
Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk dapat menjalankan peran dan
fungsi mereka tanpa ada pertentangan.

10
DAFTAR PUSTAKA

Hanafiah, M, J, Amir, A., 1999, Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, EGC:
Jakarta

Potter, Patricia A, 2005. Fundamental Keperawatan:Konsep, Proses dan Praktik.


EGC : Jakarta

Soehino, 2000. Ilmu Negara.Liberti Yogyakarta: Yogyakarta

Perry, Potter, 2009, Fundamentals of Nursing, Salemba medika, Jakarta

http;//www.detiknews.com

http://abahnameera.blogspot.com

http://francisasri.wordpress.com

www.forum bebas.com

http://gresnews.com.

11
Halaman Lampiran

12