Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

KENDALI MUTU LABORATORIUM KESEHATAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kendali Mutu Laboratorium

Kesehatan

Oleh :

ROFIQ KURNIATI
P27827018023

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
PROGRAM STUDI DIPLOMA 3
2019
1

PENDAHULUAN

Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor

411/MENKES/PER/III/2010 Tentang Laboratorium klinik yang dimaksud

dengan Laboratorium klinik adalah laboratorium kesehatan yang

melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik untuk mendapatkan

informasi tentang kesehatan perorangan terutama untuk menunjang upaya

diagnosis penyakit, penyembuhan penyakit, dan pemulihan kesehatan.

Dari peraturan tersebut dapat diketahui bahwa tujuan adanya

pemeriksaan di laboratorium adalah :

1. Memastikan atau menunjang diagnosa penyakit

2. Memantau perjalanan penyakit

3. Memantau efektivitas pengobatan

4. Melakukan uji saring dan pencegahan

Karena tujuan-tujuan tersebut, maka sebuah laboratorium klinik yang

didirikan harus memiliki beberapa persyaratan sebagai standar mutu dan

kualitas laboratorium tersebut. Cara pengelolaan mutu laboratorium adalah

dengan menerapkan 5Q Framework For Managing Quality. 5Q tersebut

adalah :

1. QLP (Quality Laboratorium Process)

a. Faktor pra analitik :

- Persiapan Pasien

- Pengambilan dan penampungan specimen

- Penanganan Spesimen
2

- pengiriman specimen

- Pengolahan dan penyimpanan spesimen.

b. Faktor analitik :

- Pemeriksaan specimen

- Pemeliharaa Dan kalibrasi alat

- Uji kualitas reagen

- Uji ketelitian,

- Uji ketepatan

c. Faktor post analitik :

- Laporan

- Penulisan hasil

- Interprestasi hasil

2. QC (Quality Control)

QC adalah salah satu komponen dalam proses kontrol dan merupakan

elemen utama dari sistem manajemen mutu, memonitor proses yang

berhubungan dengan hasil tes serta dapat mendeteksi adanya kesalahan.

3. QA (Quality Assesment)

Merupakan pemantauan sistematik terhadap produk QC sepanjang lifecycle

produk dan pelayanan yang diberikan, QA dapat juga disebut juga sebagai

pemantauan kinerja laboratorium/

4. QI (Quality Improvement)

Merupakan teknik pemecahan masalah terstruktur dengan tujuan mencegah

timbulnya lagi masalah yang sama. Dengan melakukan quality improment


3

penyimpangan akan dapat dicegah dan diperbaiki selama proses

pemeriksaan berlangsung

5. QP (Quality Planning)

Menstandarisasi pemecahan, menetapkan ukuran ukuran untuk menilai

kinerja suatu laboratorium serta mendokumentasikan langkah langkah

pemecahan masalah dan untuk diimplementasikan pada QLP (Quality

Laboratorium Process)
4

PERMASALAHAN YANG TERJADI DI PUSKESMAS

SUTOJAYAN

Pada Tanggal 16 Januari 2019 terjadi kasus pada pemeriksaan

trombosit sebagai berikut : Pasien perempuan dengan usia 5 tahun

melakukan pemeriksaan Darah Lengkap di Laboratorium menggunakan

hematology analyzer, diperoleh hasil jumlah trombosit kurang dari normal

yaitu 55 x 10 / uL padahal pasien tidak menunjukkan gejala

Trombositopenia. Dari kasus tersebut akan dilakukan pemecahan masalah

melalui program 5-Q Framework dengan beberapa putaran hingga diperoleh

permasalahan yang menyebabkan terjadinya kasus tersebut dan juga

diperolehnya pemecahan masalah terhadap kasus tersebut agar kejadian

yang sama tidak terulang kembali yang dapat merusak citra laboratorium

bersangkutan

Berikut langkah-langkah penyelesaian kasus tersebut dengan

penerapan 5Q framework for managing Quality :

1. QLP (Quality Laboratorium Practice)

Penerapan SOP telah dilakukan dalam setiap proses pemeriksaan baik pra

analitik, analitik dan pasca analitik.

Pra analitik meliputi :

a. Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan trombosit harus

dilakukan dengan lancar, tidak boleh tersendat sendat karena akan

mempengaruhi hasil.

b. Setelah darah diambil kemudian diletakkan pada tabung vakum yang

berisi K2EDTA dan dicampur dengan membolak-balikan tabung.


5

c. Volume sampel yang dibutuhkan harus sesuai. Biasanya pada tabung

vakum telah tertulis volume sampel yang dibutuhkan disertai dengan adanya

tanda batas sampel.

Analitik :

Pemeriksaan menggunakan alat yang telah dikalibrasi dan dikontrol.

Pasca analitik :

Dalam menulis hasil pemeriksaan harus dikoreksi terlebih dahulu sebelum

dicetak.

2. QC (Quality Control)

a. Presisi dan Akurasi Pengambilan sampel darah

b. Kalibrasi dan quality control alat

c. Kesalahan penulisan hasil pemeriksaan

3. QA (Quality Assesment)

Pengiriman sampel pasien pada beberapa laboratorium pusat untuk

dilakukan pemeriksaan sehingga dapat digunakan sebagai pedoman hasil

pemeriksaan dan untuk membandingkan dengan hasil pemeriksaan di

Laboratorium rujuakan. Hasil pemeriksaan di laboratorium lain adalah :

Hasil pemeriksaan Laboratorium Puskesmas Laboratorium Rujukan


Trombosit 55 x 103 / uL 45 x 103 / uL

Disertai flag : Platelet

Clumping.

Nilai Normal 150 – 450 x 103 / uL 150 – 450 x 103 / uL


6

Dari hasil pemeriksan di Laboratorium Rujukan didapatkan hasil

trombositopenia namun disertai dengan adanya keterangan bahwa terdapat

platelet clumping.

4. QI (Quality Improvement)

Dari seluruh pengamatan yang dilakukan baik dari segi QLP, QC, QA maka

peerlu dilakukan pengkajian terhadap tahapan pra analitik yaitu :

a. Pengambilan darah yang tersendat atau tidak lancar

b. Tidak segera melakukan pengocokan dengan membolak-balikkan

tabung agar tercampur dengan antikoagulan

5. QP (Quality Planning)

 Perencanaan yang dibuat dengan tujuan mencegah timbulnya masalah dan

berfokus pada keinginan pelanggan.

Pra Analitik

a. Pengambilan sampel darah harus lancar dan tidak tersendat- sendat

b. Harus diperhatikan volume darah yang dibutuhkan

c. Sampel darah dikocok perlahan dengan membolak-balikkan tabung

agar tercampur dengan antikoagulan

 Perlu adanya Pelatihan plebotomi bagi petugas secara berkala serta

pembuatan SPO (Standar Operasional Prosedur) mengenai pengambilan

sampel untuk pemeriksaan darah lengkap (plebotomi) khususnya untuk

pasien anak dan harus diterapkan sehingga darah yang masuk ke dalam spuit

lancar, volume darah yang dimasukkan tabung tepat dan pengocokan tabung

dengan benar.
7

Analitik

a. Kalibrasi dan Quality control terhadap alat secara berkala

Pasca Analitik

a. Karena tidak ada pegawai administrasi khusus di Laboratorium maka

setiap analis harus bertanggung jawab pada hasil yang ditulis dengan cara

meneliti terlebih dahulu hasil yang akan dikeluarkan.

b. SPO (Standar Prosedur Operasional) pengeluaran hasil pemeriksaan

laboratorium dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Setelah itu dilakukan pemecahan masalah dengan melakukan

pengambilan darah ulang pada pasien yang sama oleh petugas yang telah

menempuh pelatihan plebotomi dan didapatkan hasil sebagai berikut :

Sebelum Pemecahan Setelah Pemecahan


Hasil pemeriksaan
Masalah Masalah
3
Trombosit 55 x 10 / uL 250 x 103 / uL

Nilai Normal 150 – 450 x 103 / uL 150 – 450 x 103 / uL

Dari tabel diatas setelah dilakukan pemecahan masalah maka

didapatkan hasil trombosit yang sesuai dengan klinis pasien.

5Q framework for managing Quality hendaknya diterapkan pada

setiap laboratorium, mengutamakan kepuasan pasien dan menjunjung tinggi

kejujuran dan keakuratan pemeriksaan merupakan pedoman yang harus

selalu diterapkan dalam setiap kegiatan yang dilakukan dalam laboratorium.

Kualitas suatu laboratorium dapat diketahui dari seberapa jauhkah

laboratorium tersebut menerapakan konsep 5Q framework for managing

Quality .
8

DAFTAR PUSTAKA

Santoso, witono dkk. 2008. Pedoman Praktik Laboratorium Kesehatan yang Benar

(Good Laboratory Practice). Jakarta. Departemen Kesehatan RI.

Siregar, Maria Tuntun dkk. 2018. Kendali Mutu. Jakarta. Departemen Kesehatan RI.