Anda di halaman 1dari 57

Penggunaan Ekstrak Jahe Merah (Zingiber officinale var.

rubrum)

Untuk Mengatasi Asma

KELOMPOK D-2

Anggota Kelompok:
1. Urfah Nadhirah (051611133053)
2. Rafiqa Amalia C (051611133057)
3. Hana Aulia Rahmah (051611133061)
4. Ayu Larasati (051611133065)
5. Meidia Savira (051611133069)
6. Elda Yuliana D.L (051611133073)
7. Dyoko Gumilang S (051611133077)
8. Risca Fernanda S (051611133085)
9. Debora poerwantoro (051611133089)
10. Dewa Mugiarto (051611133093)
11. Edlia Fadhilah M (051611133097)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan petunjuk dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan
sebagaimana mestinya. Sholawat dan salam selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW, keluarganya, para sahabat, dan pengikutnya, amin.

Makalah ini dibuat sebagai penyelesaian dari tugas mata kuliah Problem Base Learning
(PBL). Kali ini kami akan membuat rancangan pengembangan produk “phytoceuticals” yang
digunakan untuk konsep tujuan terapi “lifelong and longlife healthy and wellbeing”. Selain itu
tujuan dari penyusunan makalah ini juga untuk menghadapi/mempersiapkan era praktik
apoteker-5G-5.0 (Generasi ke-5 di era Society -5.0). Sehingga besar harapan kami makalah
yang disajikan ini dapat menjadi kontribusi positif bagi perkembangan wawasan pembaca.

Sebelum kami akhiri kata pengantar ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Dr.
Suzana, MS., Apt, selaku dosen pembimbing mata kuliah Problem Base Learning (PBL) karena
telah memberikan kesempatan kepada kami untuk membuat makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, karena
keterbatasan wawasan serta pengetahuan. Oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak
sangat kami harapkan demi kemajuan di masa yang akan datang. Akhir kata, kami ucapkan
semoga makalah yang sederhana ini dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang
membacanya. Amin yaa rabbal ‘alamin.

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ……………………………………………………………….......…1

Daftar Isi ………………………………………………………………………......…2

Bab 1 Pendahuluan ……………………………………………………………….…3


1.1 Latar Belakang ………………………………………………………….......….3
1.2 Rumusan Masalah ………………………………………………………...…...4
1.3 Tujuan …………………………………………………………………..…….4
1.4 Manfaat ………………………………………………………………......……4

Bab 2 Tinjauan Pustaka ……………………………………………………....…...5


2.1 Patofisiologi Penyakit Asma ………………………………………………......5
2.2 Faktor Penyebab Penyakit Asma ………………………………………..……..7
2.3 Tinjauan Tanaman Jahe …………………………………………………....….10

Bab 3 Rancangan Penelitian ……………………………………………………....20


3.1 Sediaan Terpilih ……………………………………………………………....20
3.2 Persyaratan Sediaan ……………………………………………………..……20
3.3 Metode Pembuatan dan Quality Control ………………………………….......20
3.4 Evaluasi Produk Akhir ……………………………………………..……....…42
3.5 Uji Preklinik ………………………………………………….……………….46
3.6 Epigenetic-Epigenomic Asma ………………………..…………………….….47

Bab 4 Pembahasan ……………………………………………………………...….49

Bab 5 Kesimpulan dan Saran ………………………………………………..……52

Daftar Pustaka …………………………………………………………………..…53

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Asma adalah penyakit kronis yang ditandai dengan serangan berulang sesak napas
dan mengi, yang bervariasi dalam tingkat keparahan dan frekuensi dari orang ke orang.
Gejala dapat terjadi beberapa kali dalam sehari atau seminggu pada individu yang
terkena, dan bagi sebagian orang menjadi lebih buruk selama aktivitas fisik atau di malam
hari (WHO, 2003). Menurut perkiraan WHO, 235 juta orang menderita asma. Adapun
Lebih dari 80% kematian asma terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah
ke bawah. Mengacu pada data dari WHO, saat ini ada sekitar 300 juta orang yang
menderita asma di seluruh dunia. Terdapat sekitar 250.000 kematian yang disebabkan
oleh serangan asma setiap tahunnya, dengan jumlah terbanyak di negara dengan ekonomi
rendah-sedang. Prevalensi asma terus mengalami peningkatan terutama di negara-negara
berkembang akibat perubahan gaya hidup dan peningkatan polusi udara. Riset Kesehatan
Dasar tahun 2013, melaporkan prevalensi asma di Indonesia adalah 4,5% dari populasi,
dengan jumlah kumulatif kasus asma sekitar 11.179.032. Asma berpengaruh pada
disabilitas dan kematian dini terutama pada anak usia 10-14 tahun dan orang tua usia 75-
79 tahun. Di luar usia tersebut kematian dini berkurang, namun lebih banyak memberikan
efek disabilitas. Saat ini, asma termasuk dalam 14 besar penyakit yang menyebabkan
disabilitas di seluruh dunia. Untuk itulah kita harus selalu mewaspadai penyakit asma
dengan cara meningkatkan kesadaran setiap orang untuk selalu mengetahui waktu yang
tepat mengatasi penyakit saluran pernapasan.

Obat-obatan herbal alami memiliki sejarah panjang aplikasi dalam pengobatan


gangguan pernapasan seperti asma, dan salah satu tanaman herbal yang memiliki fungsi
ini adalah jahe merah atau Zingiber officinale Roscoe (Zingiberaceae) (Towsend et al.,
2013). Jahe dan senyawa bioaktifnya telah menunjukkan aktivitas bronkodilatasi dan
antihiperaktivitas dalam beberapa penelitian (Mangprayool et al., 2013). Jahe
menginduksi relaksasi yang signifikan dan cepat pada otot polos jalan napas manusia
yang terisolasi. Dalam hasil dari model kelinci percobaan dan trakea manusia, 6-gingerol,
8-gingerol, dan 6-shogaol dapat mengarah pada relaksasi cepat dari otot polos jalan
napas. Nebulisasi 8-gingerol resistensi jalan nafas yang dilemahkan melalui pengurangan

3
Ca2+ di saluran milik tikus (Towsend et al., 2013). Dalam penelitian lain, 6-gingerol, 8-
gingerol, dan 6-shogaol mempromosikan relaksasi yang diinduksi oleh β-agonis pada
otot polos jalan nafas manusia melalui penekanan fosfodiesterase 4D (Towsend et al.,
2014). Selain itu, polisakarida jahe yang diekstraksi dengan air dapat mengurangi waktu
batuk, yang diinduksi melalui asam sitrat pada tikus (Mangprayool et al., 2013). Hasil di
atas menunjukkan bahwa jahe dan konstituen bioaktifnya, termasuk 6-gingerol, 8-
gingerol, 6-shogaol, citral, dan eucalyptol, memiliki efek perlindungan terhadap
gangguan pernapasan, setidaknya memediasi mereka melalui induksi relaksasi di otot
jalan napas halus dan pelemahan resistensi jalan nafas dan peradangan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah jahe merah telah digunakan secara empiris untuk mengatasi asma?
2. Apa keunggulan jahe merah untuk mengatasi asma?
3. Apa bentuk sediaan ekstrak jahe merah yang sesuai untuk pengobatan asma ?
4. Bagaimana proses pembuatan sediaan?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui penggunaan jahe merah untuk mengatasi asma secara empiris
2. Mengetahui keunggulan jahe merah untuk mengatasi asma
3. Mengetahui bentuk sediaan ekstrak jahe merah yang sesuai untuk mengatasi asma
4. Mengetahui proses pembuatan sediaan

1.4 Manfaat
1. Menghasilkan produk herbal sebagai alternative pengobatan asma

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Patofisiologi Penyakit Asma

Asma merupakan penyakit inflamasi kronis dengan proses yang snagat kompleks
dan melibatkan beberapa komponen yaitu hiper responsif dari bronkial, inflamsi, dan
remodelling saluran pernafasan.

a. Penyempitan Saluran Nafas


Penyempitan saluran nafas menjadi penyebab awal timbulnya gejala dan perubahan
fisiologis asma. Beberapa faktor yang menyebabkan penyempitan saluran nafas
diantaranya yaitu kontraksi otot polos saluran nafas, edema pada saluran nafas,
terjadinya penebalan dinding saluran nafas, dan hipersekresi mukus.
Mekanisme dominan terhadap penyempitan saluran nafas yaitu kontraksi otot polos
saluran nafas yang merupakan respon terhadap berbagai mediator bronkokonstriktor
dan neurotransmitter. Edema pada saluran nafas disebabkan oleh adanya proses
inflamasi. Hal ini penting pada eksaserbasi akut. Penebalan saluran nafas disebabkan
oleh terjadinya remodelling atau disebut juga perubahan struktural. Proses inflamasi
kronik pada asma akan menyebabkan kerusakan jaringan yang secara fisiologis akan
diikuti oleh proses penyembuhan (healing process) yang menghasilkan perbaikan
(repair) dan pergantian sel-sel yang rusak atau mati dengan sel-sel yang baru. Proses
penyembuhan tersebut melibatkan perbaikan jaringan yang rusak dengan jenis sel
parenkim yang sama dan pergantian jaringan yang rusak dengan jaringan penyambung
yang menghasilkan jaringan parut. Pada asma kedua proses tersebut berkontribusi
dalam proses penyembuhan dan inflamasi yang kemudian akan menghasilkan
perubahan struktur yang komplek yang dikenal dengan airway remodelling.

5
Gambar di atas menunjukkan patologi dalam bronkus asma dibandingkan bronkus
normal (kanan atas). Setiap bagian menunjukkan bagaimana lumen yang menyempit
yaitu hipertrofi dari bagian bawah, membrane, lender plugging, hipertrofi otot polos
dan penyempitan kontribusi (bagian bawah). Sel-sel inflamasi menyebar,
memproduksi submukosa edema epitel, mengisi lumen saluran nafas dengan selular
dan memperlihatkan otot polos saluran nafas untuk mediator lainnya (kiri atas)
(Dipiro, 2008).

b. Hiperaktifitas Saluran Nafas


Penyempitan saluran respiratorik secara berlebihan merupakan patofisiologis yang
secara klinis paling relevan pada penyakit asma. Mekanisme yang bertanggungjawab
terhadap reaktivitas yang berlebihan atau hiperreaktivitas ini belum diketahui dengan
pasti tetapi mungkin berhubungan dengan perubahan otot polos saluran napas
(hiperplasi dan hipertrofi) yang terjadi secara sekunder yang menyebabkan perubahan
kontraktilitas. Selain itu, inflamasi dinding saluran respiratorik terutama daerah
peribronkial dapat memperberat penyempitan saluran respiratorik selama kontraksi
otot polos.

6
2.2 Factor Penyebab Penyakit Asma (GINA, 2012)
2.2.1 Faktor Host
a. Genetik
Banyak gen terlibat dalam patogenesis asma yang dapat diwariskan. Gen yang terkait
dengan asma difokuskan pada empat bidang utama: produksi antibodi IgE spesifik
alergen (atopi); ekspresi hiperresponsif jalan nafas; generasi mediator inflamasi,
seperti sitokin, kemokin, dan faktor pertumbuhan; serta penentuan rasio antara Th1
dan respon imun Th2. Selain gen yang mempengaruhi asma, ada gen yang terkait
dengan respons terhadap pengobatan asma. Sebagai contoh, variasi gen yang
mengkode beta-adrenoreseptor dikaitkan dengan perbedaan respons subyek terhadap
β2 -agonis. Gen lain memodifikasi respons glukokortikosteroid dan leukotrien.
Penanda genetik ini penting tidak hanya sebagai faktor risiko dalam patogenesis asma
tetapi juga sebagai penentu respon terhadap pengobatan asma.
b. Obesitas
Asma lebih sering terjadi pada orang yang obesitas (Indeks Massa Tubuh> 30 kg /m2)
dan lebih sulit untuk dikontrol. Orang obesitas yang menderita asma memiliki fungsi
paru-paru yang lebih rendah dan komorbiditas lebih banyak dibandingkan dengan
orang dengan berat badan normal yang menderita asma. Penggunaan
glukokortikosteroid sistemik dan gaya hidup yang malas bergerak dapat
meningkatkan obesitas pada pasien asma yang parah.

7
Obesitas dapat mempengaruhi fungsi jalan napas karena berpengaruh pada kerja paru-
paru dan dapat terjadi keadaan pro-inflamasi, selain pengaruh genetik, hormonal atau
neurogenik. Pasien yang obesitas mengalami penurunan volume cadangan ekspirasi,
dimana terjadi perubahan plastisitas otot polos dan fungsi jalan napas.
c. Jenis kelamin
Laki-laki lebih rentang terkena asma pada anak-anak. Sebelum usia 14 tahun,
prevalensi asma anak laki-laki hampir dua kali lebih besar dibandingkan pada anak
perempuan. Ketika anak-anak bertambah usia, perbedaan antara kedua jenis kelamin
menyempit, dan pada usia dewasa prevalensi asma lebih besar pada wanita daripada
pria. Alasan perbedaan terkait jenis kelamin ini belum diketahui secara pasti
penyebabnya. Namun, ukuran paru-paru laki-laki lebih kecil daripada wanita saat lahir
tetapi lebih besar pada usia dewasa.
2.2.2 Faktor Lingkungan
a. Alergen
Alergen-alergen indoor antara lain tungau domestik, hewan berbulu (anjing, kucing,
tikus), alergen kecoak, jamur, mold (kapang), dan yeast (khamir atau ragi). Sedangkan
alergen outdoor seperti serbuk sari, jamur, mold (kapang), dan yeast (khamir atau
ragi). Berdasarkan penelitian kohort menunjukkan bahwa kepekaan terhadap alergen
tungau debu rumah, bulu kucing, bulu anjing, dan Aspergillus mold adalah faktor
risiko terjadinya gejala asma pada anak-anak hingga usia 3 tahun. Namun, hubungan
antara paparan alergen dan sensitisasi pada anak tidak terjadi secara langsung. Hal
tersebut tergantung pada alergen, dosis, waktu pajanan, usia anak, dan genetika.
Beberapa alergen, seperti tungau debu rumah dan kecoak, prevalensi sensitisasi
berkorelasi langsung dengan paparan. Prevalensi asma berkurang pada anak-anak
yang dibesarkan di lingkungan pedesaan, yang mungkin terkait dengan keberadaan
endotoksin di lingkungan tersebut.
b. Infeksi (terutama virus)
Beberapa virus dikaitkan dengan fenotip asma. Respiratory syncytial virus (RSV) dan
virus parainfluenza menghasilkan pola gejala bronkiolitis yang sebanding dengan
gejala asma pada masa kanak-kanak. Berdasarkan “hygiene hypothesis" asma
menunjukkan bahwa paparan infeksi memengaruhi perkembangan sistem kekebalan
anak selama "non alergi", yang mengarah pada pengurangan risiko asma dan penyakit
alergi lainnya. Meskipun hipotesis kebersihan terus diselidiki, mekanisme ini dapat
menjelaskan hubungan antara ukuran keluarga, urutan kelahiran, dan keberadaan di
8
tempat penitipan anak dengan risiko asma. Sebagai contoh, anak-anak muda dengan
saudara yang lebih tua dan mereka yang berada di penitipan anak memiliki risiko
infeksi yang meningkat, tetapi mempunyai perlindungan terhadap penyakit alergi,
termasuk asma. Interaksi antara infeksi atopi dan infeksi virus merupakan hubungan
yang komplek, di mana keadaan atopik mempengaruhi respons jalan nafas yang lebih
rendah terhadap infeksi virus. Kemudian, infeksi virus dapat mempengaruhi
perkembangan sensitisasi alergi, dan interaksi dapat terjadi ketika terpapar alergen
maupun virus secara bersamaan.
c. Sensitisasi kerja
Lebih dari 300 zat telah dikaitkan dengan asma karena pekerjaan, yang didefinisikan
sebagai asma yang disebabkan oleh paparan terhadap agen yang ditemui di lingkungan
kerja. Zat-zat ini termasuk molekul kecil yang sangat reaktif seperti isosianat, iritan
yang dapat menyebabkan perubahan responsif jalan nafas, imunogen yang dikenal
seperti garam platinum, serta produk biologis tanaman dan hewan yang merangsang
produksi IgE.
Asma akibat pekerjaan muncul terutama pada orang dewasa, dan sensitizer kerja
diperkirakan menyebabkan sekitar 1 dari 10 kasus asma di antara orang dewasa usia
kerja.
Asma adalah gangguan pernapasan kerja yang paling umum di negara industri.
Pekerjaan dengan risiko tinggi terjadinya asma akibat pekerjaan meliputi pertanian,
melukis, cleaning work, dan pembuatan plastik. Reaksi alergi yang diperantarai IgE
dan reaksi alergi yang diperantarai sel terlibat. Metode yang paling penting untuk
mencegah asma akibat kerja adalah eliminasi atau pengurangan pajanan terhadap
sensitizer kerja.
d. Asap tembakau
Asma dapat terjadi pada perokok pasif maupun perokok aktif. Merokok dapat
mempengaruhi beberapa hal yaitu mempercepat penurunan fungsi paru-paru,
meningkatkan keparahan asma, serta menurunkan responsivitas pengobatan inhalasi
dan sistemik glukokortikosteroid. Berdasarkan penelitian fungsi paru setelah
kelahiran menunjukkan bahwa ibu yang merokok selama kehamilan memiliki
pengaruh terhadap perkembangan paru. Bayi dari ibu yang merokok 4 kali lebih tinggi
terjadinya penyakit mengi pada tahun pertama kehidupan.

9
e. Polusi Udara Luar Ruang / Dalam Ruang
Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang tercemar dapat menurunkan
fungsi paru-paru. Hubungan kehilangan fungsi ini dengan perkembangan asma masih
belum diketahui dengan pasti. Eksaserbasi asma telah terbukti memiliki keterkaitan
dengan peningkatan polusi udara yang meningkatkan polutan atau alergen spesifik.
Pengaruh serupa telah diamati terhadap polutan dalam ruangan, misalnya, asap rokok
serta asap dari bahan bakar gas dan biomassa, jamur, dan kecoa.
f. Diet
Berdasarkan data penelitian mengungkapkan bahwa bayi yang diberi susu formula
sapi utuh atau protein kedelai memiliki insiden penyakit mengi yang lebih tinggi pada
anak usia dini dibandingkan dengan mereka yang diberi ASI. Beberapa data juga
menunjukkan bahwa karakteristik tertentu dari diet Barat, seperti peningkatan
penggunaan olahan makanan dan penurunan antioksidan (dalam bentuk buah-buahan
dan sayuran), peningkatan asam lemak tak jenuh ganda n-6 (ditemukan dalam
margarin dan minyak sayur), dan penurunan asupan asam lemak tak jenuh ganda n-3
(ditemukan pada ikan berminyak) telah berkontribusi pada peningkatan asma dan
penyakit atopic.

2.3 Tinjauan Tanaman Jahe Merah (Zingiber Officinale var. rubrum)


Jahe (Zingiber officinale Rosc) merupakan salah satu jenis tanaman yang termasuk
kedalam suku Zingiberaceae. Nama “Zingiber” berasal dari bahasa Sansekerta
“Singabera” dan Yunani “Zingiberi” yang berarti tanduk, karena bentuk rimpang jahe
mirip dengan tanduk rusa. Officinale merupakan bahasa latin dari “Officina” yang berarti
digunakan dalam farmasi atau pengobatan (Bermawie dan Purwiyanti, 2013).
2.3.1 Klasifikasi Tanaman Jahe Merah
Tanaman Jahe (Zingiber officinale rosc) dalam dunia tanaman memiliki klasifikasi
sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Species : Zingiber officinale Rosc.
10
Famili Zingiberaceae terdapat disepanjang daerah tropis dan sub tropis terdiri
atas 47 genus dan 1.400 species. Genus Zingiber meliputi 80 species yang salah satu
diantaranya adalah jahe yang merupakan species paling penting dan paling banyak
manfaatnya (Hapsoh, 2008 dalam Putri, 2014). Ada tiga jenis jahe, yaitu :
1) Jahe Putih Besar / Jahe Gajah
Varietas jahe ini banyak ditanam di sekitar masyarakat dan dikenal dengan nama
“Zingiber officinale var officinarum”. Ukuran rimpangnya lebih besar dan gemuk jika
dibandingkan jenis jahe lainnya. Jika diiris rimpang berwarna putih kekuningan. Berat
rimpang berkisar 0,18 – 1,04 kg dengan panjang 15,83 – 32,75 cm, ukuran tinggi 6,02
– 12,24 cm. Ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis
jahe ini bisa dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai
jahe segar maupun jahe olahan (Hapsoh, 2008 dalam Putri, 2014).

Gambar 2.1. Jahe Gajah (Zingiber officinale var officinarum)


2) Jahe Putih/Kuning Kecil/Jahe Emprit
Jahe ini dikenal dengan nama Latin “Zingiber officinale var amarum” memiliki
rimpang dengan bobot berkisar antara 0,5 - 0,7 kg/rumpun. Struktur rimpang kecil-
kecil dan berlapis. Daging rimpang berwarna putih kekuningan. Tinggi rimpangnya
dapat mencapai 11 cm dengan panjang antara 6 - 30 cm dan diameter antara 3,27 -
4,05 cm.
Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu
dipanen setelah berumur tua (Hapsoh, 2008 dalam Putri, 2014).

Gambar 2.2. Jahe emprit (Zingiber officinale var amarum)

11
3) Jahe Merah atau Jahe Sunti
Jahe merah (Zingiber officinale var rubrum) berasal dari Asia Pasifik yang tersebar
dari India sampai China. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai
bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman,
bumbu masak dan obat-obatan tradisional (Setiawan, 2015: 17).
Penyebaran tanaman jahe merah (Zingiber officinale var rubrum) kini sampai di
wilayah tropis dan subtropis, contohnya Indonesia. Jahe merah (Zingiber officinale
var rubrum) disebut juga jahe sunti. Selain itu, banyak nama lain dari jahe dari
berbagai daerah di Indonesia antara lain halia (Aceh), beeuing (Gayo), bahing (Batak
Karo), sipodeh (Minangkabau), jahi (Lampung), jahe (Sunda), jae (Jawa dan Bali),
jhai (Madura), melito (Gorontalo), geraka (Ternate), dan sebagainya (Setiawan, 2015:
17).
Jahe merah/jahe sunti (Zingiber officinale var rubrum) memiliki rimpang dengan
bobot antara 0,5 - 0,7 kg/rumpun. Struktur rimpang jahe merah, kecil berlapis-lapis
dan daging rimpangnya berwarna kuning kemerahan, ukuran lebih kecil dari jahe
kecil. Memiliki serat yang kasar. Rasanya pedas dan aromanya sangat tajam. Diameter
rimpang 4,2 -4,3 cm dan tingginya antara 5,2 - 10,40 cm. Panjang rimpang dapat
mencapai 12,39 cm. sama seperti jahe kecil, jahe merah juga selalu dipanen setelah
tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang lebih tinggi dibandingkan jahe
kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan (Setiawan, 2015: 23).

Gambar 2.3. Jahe merah (Zingiber officinale var rubrum)

12
2.3.2 Kandungan Kimia Jahe
Ukuran rimpang jahe merah termasuk paling kecil jika dibandingkan dengan jenis
jahe lainnya, namun jahe merah memiliki rasa yang sangat pedas dan aroma yang tajam.
Rasa pedas dari jahe secara umum disebabkan kandungan senyawa gingerol yang
mempunyai aroma yang khas. Banyaknya kandungan gingerol ini dipengaruhi oleh

13
umur tanaman dan agroklimat tempat penanaman jahe. Sementara itu, aroma jahe
disebabkan kandungan minyak atsiri yang umumnya berwarna kuning dan sedikit
kental.
Kandungan minyak atsiri rimpang jahe berkisar 0,8%-3,3% dan kandungan
oleoresin sekitar 3%, tergantung dari jenis jahe yang bersangkutan. Secara umum,
komponen senywa kimia yang terkandung dalam jahe terdiri dari minyak menguap
(volatile oil), minyak tidak menguap (nonvolatile oil), dan pati. Minyak atsiri termasuk
jenis minyak menguap dan merupakan suatu komponen yang memberi bau yang khas.
Kandungan minyak tidak menguap disebut oleoresin, yakni suatu komponen yang
memberikan rasa pahit dan pedas. Rimpang jahe merah selain mengandung senyawa-
senyawa kimia tersebut juga mengandung gingerol, 1,8-cineole, 10-
dehydrogingerdione, 6-gingerdione, arginine, a-linolenic acid, aspartic, b-sitosterol
caprylic acid, capsaicin, chlorogenis acid, farnesal, farnesene, farnesol, dan unsur pati
seperti tepung kanji, serta serat-serat resin dalam jumlah sedikit.
Berdasarkan beberapa penelitian, dalam minyak atsiri jahe terdapat unsur-unsur n-
nonylaldehyde, d-camphene, d-b phellandrene, methyl heptone, cineol, d-lineol,
geraniol, linalool, acetates dan caprylate, citral, chavicol, dan zingiberene. Bahan-bahan
tersebut merupakan sumber bahan baku terpenting dalam industri farmasi atau obat-
obatan.
Kandungan minyak atsiri jahe merah sekitar 2,58-2,72% dihitung berdasarkan
berat kering. Kandungan minyak atsiri jenis jahe yang lain jauh berada di bawahnya.
Pada jahe gajah berkisar 0,82-1,68% dan pada jahe emprit berkisar 1,5-3,3%. Minyak
atsiri umumnya berwarna kuning, sedikit kental, dan merupakan senyawa yang
memberikan aroma yang khas pada jahe.
Besarnya kandungan minyak atsiri dipengaruhi oleh umur tanaman. Artinya,
semakin tua umur jahe tersebut, semakin tinggi kandungan minyak atsirinya. Namun,
selama dan sesudah pembungaan, persentase kandungan minyak atsiri tersebut
berkurang, sehingga tidak dianjurkan melakukan pemanenan pada waktu tersebut.
Dengan demikian, selain umur tanaman, kandungan minyak atsiri jahe merah juga
dipengaruhi oleh umur panen.
Kandungan oleoresin setiap jenis jahe berbeda-beda. Oleoresin jahe bisa mencapai
sekitar 3%, tergantung jenis jahe yang bersangkutan. Jahe merah memiliki rasa pedas
yang tinggi karena disebabkan kandungan oleoresin nya yang tinggi, sedangkan jahe

14
gajah rasa pedasnya kurang karena kandungan oleoresinnya sedikit. (Herlina, R., dkk.,
2002)
Komponen kimia jahe lainnya dapat dilihat pada Tabel 2.1

Jahe mengandung komponen minyak menguap (volatile oil), minyak tak menguap
(non volatile oil) dan pati. Minyak menguap biasa disebut minyak atsiri. Minyak atsiri
umumnya berwarna kuning, sedikit kental, dan merupakan senyawa yang memberikan
aroma yang khas pada jahe (Soepardie, 2001 dalam Yuwono, 2015). Sedangkan minyak
tak menguap disebut oleoresin merupakan komponen pemberi rasa pedas dan pahit
(Setiawan, 2015: 20).
Kandungan minyak atsiri dan oleoresin pada rimpang jahe merah cukup tinggi
sehingga jahe merah memiliki peranan penting dalam dunia pengobatan, baik
pengobatan tradisional maupun untuk skala industri dengan memanfaatkan kemajuan
tekhnologi (Evans, 2002 dalam Hernani & Winarti, 2013). Rasa dominan pedas pada
jahe disebabkan senyawa keton bernama zingeron. Senyawa lain yang turut
menyebabkan rasa pedas pada jahe adalah golongan fenilalkil keton atau yang biasa
disebut gingerol dan [6]-gingerol. Keduanya merupakan komponen yang paling aktif
dalam jahe.

6-Gingerol 6-Gingerdiol
Gambar 2.4. Senyawa Identitas Jahe Merah
15
2.3.3 Manfaat Jahe Merah Dalam Bidang Kesehatan
Bagian terpenting dari tanaman jahe yang dimanfaatkan untuk berbagai macam
tujuan adalah akar tongkat atau lebih dikenal dengan nama rimpang. Sesuai dengan
namanya, rimpang jahe merah berwarna merah sampai jingga muda. Rimpang jahe
merah mempunyai serat yang kasar. Ukuran besar dan kecil rimpang dipengaruhi oleh
keadaan lingkungan tumbuh, misalnya kesuburan tanah, teknik budi daya yang
dilakukan, dan karakteristik gen pembawa sifat. Jahe merah memiliki ukuran rimpang
yang paling kecil jika dibandingkan dengan ukuran rimpang jahe lainnya.
Produk hasil olahan rimpang jahe dapat berupa jahe segar, jahe kering, dan bubuk
jahe. Di samping itu, sebagai obat tradisional, jahe secara turun temurun telah banyak
dipakai untuk menyembuhkan berbagai penyakit, misalnya kurang nafsu makan, kepala
pusing, rematik, masuk angin, gatal-gatal, mual, dan muntah. (Herlina, R., dkk., 2002).
Berdasarkan sejumlah penelitian, jahe memiliki manfaat antara lain untuk
merangsang pelepasan hormon adrenalin dan memperlebar pembuluh darah sehingga
darah mengalir lebih cepat dan lancar. Hal tersebut mengakibatkan tekanan darah
menjadi turun. Komponen yang paling utama adalah gingerol yang bersifat
antikoagulan, yaitu mencegah penggumpalan darah. Gingerol diperkirakan juga
membantu menurunkan kadar kolesterol. Jahe dapat menghambat serotonin sebagai
senyawa kimia pembawa pesan yang menyebabkan perut berkontraksi dan
menimbulkan rasa mual (Sahelian 2007 dalam Amalia 2004).
Ekstrak jahe merah jika diminum dalam dosis rendah 0,2 – 2 mg/kg menunjukkan
efek analgesik dan anti-inflamasi sangat efektif, karena adanya sinergisitas senyawa
dalam ekstrak jahe merah. Bahkan ketika diberikan kepada 8 volunter ternyata sangat
efektif dalam mencegah mabuk laut termasuk didalamnya vertigo yang berhubungan
dengan mabuk laut (Grontved dkk, dalam Hernani & Winarti, 2013).
Menurut Megawati (2007), Dr.Francesca Borelli dan kawan-kawan dari University
of Naples Frederico mengulas beberapa literatur medis untuk mempelajari jahe, mereka
menemukan enam penelitian yang menguji jahe pada wanita hamil. Dikemukakan, jahe
berfungsi lebih baik dibandingkan plasebo atau vitamin B6 dan dianggap aman untuk
wanita hamil. Jahe, dalam beberapa penelitian, dapat mengatasi mual, muntah, bahkan
hiperemesis gravidarum. Mengonsumsi jahe dapat merangsang pengeluaran air liur dan
memperlancar cairan pencernaan (Rahingtyas, 2008).
Ekstrak Jahe merah mengandung 3 - 7 % golongan senyawa fenol seperti flovanoid
dan alkaloid. Flovanoid bekerja sama seperti alopurinol sebagai penghambat enzim
16
xantin oksidase sehingga pembentukan asam urat akan terhambat (Hayati, 2004 dalam
Hernani dan Winarti, 2013). Alkaloid dalam ekstrak jahe merah mampu menghambat
sintesis dan pelepasan leukotrin sehingga mengurangi rasa nyeri. Jahe mengandung dua
enzim pencernaan yang penting dalam membantu tubuh untuk mencerna dan menyerap
makanan. Pertama, lipase yang berfungsi memecah lemak dan kedua adalah protease
yang berfungsi memecah protein. Jahe juga sekurangnya mengandung 19 komponen
bioaktif yang berguna bagi tubuh. Senyawa kimia pada jahe di antaranya adalah minyak
atsiri yang terdiri dari senyawa-senyawa : seskuiterpen, zingiberen, bisabolena,
zingeron, oleoresin, kamfena, limonen, borneol, sineol, sitral, zingiberal, felandren.
Disamping itu terdapat juga shogaol, gingerol, pati, damar, asam-asam organik seperti
asam malat dan asam oksalat, vitamin : A, B dan C, senyawa-senyawa flavonoid dan
polifenol (Setiawan, 2015: 26).
Senyawa zingerone, yang memberikan karakter sangat tajam dari rimpang jahe,
sangat efektif terhadap Escheria coli penyebab diare, terutama pada anakanak karena
jahe merah memiliki kandungan gingerone dan gingerol yang tinggi yang berperan
dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escheria coli dan Bacillus Subtilis. Sebagai
salah satu tanaman obat, jahe memiliki efek farmakologis seperti yang terlihat pada
tabel di bawah ini :

17
Manfaat-manfaat jahe menurut Setiawan (2015) adalah sebagai berikut :
1. Peluruh dahak atau obat batuk, peluruh keringat, peluruh haid, pencegah mual,
dan penambah nafsu makan.
2. Antiseptik, circulatory stimulant, diaphoretic, peripheral vasolidator.
3. Menghangatkan badan.
4. Minyak atsirinya mempunyai efek antiseptik, antioksidan dan mempunyai aktivitas
terhadap bakteri dan jamur.
5. Secara tradisional digunakan untuk obat sakit kepala, gangguan saluran pencernaan,
stimulansia, diuretik, rematik, menghilangkan rasa sakit, mabuk perjalanan, dan
sebagai obat luar untuk mengobati gatal-gatal akibat gigitan serangga, keseleo,
bengkak, serta memar.
6. Jahe mengandung bahan antioksidan di antaranya senyawa flavonoid dan polifenol,
asam oksalat dan vitamin C. Antioksidan ini dapat mebantu menetralkan efek
merusak yang diakibatkan oleh radikal bebas dalam tubuh.
7. Melindungi system pencernaan dengan menurunkan keasaman lambung dan
menghambat terjadinya iritasi pada saluran pencernaan, hal ini karena jahe
mengandung senyawa aseton dan methanol.

Gambar 2.5. Jenis-jenis Rimpang Jahe

18
2.3.4 Mekanisme kerja tanaman jahe merah untuk mengatasi asma
Jahe merah telah digunakan sejak ratusan tahun yang lalu sebagai obat herbal. Manfaat
jahe merah pada Konferensi Internasional American Thoracic Sociaty 2013 di
Philadelphia dinyatakan dapat membantu penderita asma bernapas lebih mudah. Pada
studi tersebut, peneliti menyelidiki apakah jahe merah bisa meningkatkan efek beta-
agonis. Obat asma yang beredar sekarang ada yang termasuk golongan beta-agonis
yang bekerja dengan merelaksasi otot polos jaringan di saluran napas. Menurut
Elizabeth Townsend, komponen jahe merah dapat bekerja secara sinergis dengan beta-
agonis untuk merelaksasi otot di saluran napas(ASM). Pada penelitian tersebut, peneliti
mengambil sampel ASM untuk neurotransmiter asetilkolin. Kemudian, tim
menggabungkan isoproterenol dan beta agonis dengan tiga ekstrak jahe terpisah, yaitu
6-gingerol, 8-gingerol, dan 6-shogaol. Hasil yang didapat adalah respon relaksasi
meningkat ketika isoproterenol digabungkan dengan ekstrak jahe dibandingkan
isoproterenol yang digunakan secara tunggal. 6-Shogaol menunjukkan efek paling
efektif. Selain itu, peneliti juga melihat mekanisme efek aditif dengan berfokus pada
enzim paru-paru yang disebut phospodiesterase4D (PDE4D). Dengan metode
polarisasi neon, ditemukan bahwa ketiga senyawa tersebut mampu menghambat
PDE4D (Kartini, 2017).

19
BAB III
RANCANGAN PRODUK

3.1 Sediaan Terpilih


Sediaan yang pilih sebagai produk akhir adalah sediaan cair berupa emulsi. Hal tersebut
kami pilih karena sediaan cair memiliki onset of action yang leih cepat sehingga obat
dapat bekerja lebih cepat dibanding sediaan padat yang perlu adanya integrasi terlebih
dahulu, Sediaan cair juga dianggap lebih praktis, mudah dibawa kemana, sehingga dari
segi akseptabilitas lebih disenangi konsumen. Emulsi dipilih karena bahan aktif yang
kami buat berupa ekstrak kental yang tidak mengandung pelarut sehingga tidak larut
pada air dan memerlukan emugator untuk menunjang stabilitasnya.
3.2 Persyaratan Sediaan
Bentuk sediaan Cair- Emulsi

Tipe emulsi O/W

Kadar bahan aktif 1 % per sachet

pH 6 ± 0,5

Warna Hitam

Bau Aromatik khas jahe

Rasa Agak pedas khas jahe

Volume terkecil 15 mL per sachet

Viskositas 100-150 cPs

Ukuran droplet 1 – 100 µm

3.3 Metode Pembuatan dan Quality Control


3.3.1 Bahan baku
Bahan baku yang dipilih yaitu bahan baku segar. Bahan baku segar ini didapat di
daerah Ciampea, Bogor. Bekerja sama dengan para petani jahe merah mulai
penanaman sampai panen. Pemilihan bahan baku segar dikarenakan ingin menjamin

20
kualitas bahan baku jahe merah supaya kandungan gingerol yang ada dalam jahe tidak
berubah banyak menjadi shogaol yang merupakan senyawa marker instabilitas. Dalam
perdagangan pengiriman jahe dalam bentuk segar mempunyai kelemahan antara lain
volume yang besar dan akan mudah rusak. Pengeringan akan mengurangi pengaruh
negative tersebut. Pada proses pengeringan terjadi penurunan aktivitas air dalam
bahan sehingga mikroorganisme penyebab kerusakan bahan tidak dapat hidup. Selain
menjamin kualitas, bahan baku segar lebih murah dibandingkan bahan baku kering.

Syarat tumbuh bahan baku


Lingkungan tumbuh tanaman jahe mempengaruhi produktivitas dan mutu
rimpang/umbi, karena pembentukan rimpang ditentukan terutama oleh kandungan air,
oksigen tanah dan intensitas cahaya. Tipe iklim (curah hujan), tinggi tempat dan jenis
tanah merupakan faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih daerah/lahan
yang cocok untuk menanam jahe. Pembentukan rimpang akan terhambat pada tanah
dengan kadar liat tinggi dan drainase (pengairan) kurang baik, demikian juga pada
intensitas cahaya rendah dan curah hujan rendah. Peranan air dalam perkembangan
umbi/rimpang sangat besar, sehingga apabila kekurangan air akan sangat menghambat
perkembangan umbi. Tanaman jahe akan tumbuh dengan baik pada daerah yang
tingkat curah hujannya antara 2500-4000 mm/tahun dengan 7-9 bulan basah, dan pH
tanah 6,8-7,4. Pada lahan dengan pH rendah bisa juga untuk menanam jahe, namun
perlu diberikan kapur pertanian (kaptan) 1-3 ton/ha atau dolomit 0,5-2 ton/ha.
Tanaman jahe dapat dibudidayakan pada daerah yang memiliki ketinggian 0-1500 m
dpl (di atas permukaan laut), namun ketinggian optimum (terbaik) 300-900 m dpl. Di
dataran rendah (< 300 m dpl), tanaman peka terhadap serangan penyakit, terutama
layu bakteri. Sedang di dataran tinggi diatas 1.000 m dpl pertumbuhan rimpang akan
terhambat/kurang terbentuk. Informasi lengkap tentang kriteria iklim dan tanah suatu
wilayah/daerah yang cocok untuk budidaya jahe bisa dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.
Jenis tanah Latosol, Andosol, Assosiasi
Regosol - Andosol
Tipe iklim A, B, C (Schmidt dan Ferguson)
Jumlah curah hujan 2.500- 4.000 mm/tahun
Ketinggian tempat 300- 900 m dpl
Jumlah bulan basah/tahun 7-9 bulan

21
Suhu udara 2-30oC
Tingkat naungan 0 – 30%
Tekstur Lempung, lempung liat berpasir
Drainase Baik

Teknologi budidaya
a. Bahan tanam
Jahe merah mempunyai rimpang kecil berlapis-lapis, aroma sangat tajam, berwarna
jingga muda sampai merah dengan diameter 4-4,5 cm, tinggi dan panjang rimpang
5-11 cm dan 12-13 cm. Warna daun hijau muda, batang hijau kemerahan dengan
kadar minyak atsiri 2,8-3,9%. Jenis tanaman jahe yang hendak dibudidayakan
sebaiknya dipilih dari varietas unggul yang mempunyai potensi produksi tinggi.

b. Pembibitan
Jahe diperbanyak dengan menggunakan stek rimpang. Benih yang akan digunakan
harus jelas asal usulnya, sehat dan tidak tercampur dengan varietas lain. Rimpang
yang telah terinfeksi penyakit tidak dapat digunakan sebagai benih karena akan
menjadi sumber penularan penyakit di lapangan. Rimpang yang akan digunakan
untuk benih harus sudah tua minimal berumur 10 bulan. Ciri-ciri rimpang yang
sudah tua antara lain: (1) kandungan serat tinggi dan kasar, (2) kulit licin dan keras
tidak mudah mengelupas, dan (3) warna kulit mengkilat. Rimpang yang dipilih
untuk dijadikan benih, sebaiknya mempunyai 2-3 bakal mata tunas yang baik
dengan bobot sekitar 20-40 gr. Bagian rimpang yang terbaik dijadikan benih adalah
rimpang pada ruas kedua dan ketiga. Kebutuhan benih jahe merah untuk lahan
seluas 1 ha sekitar 1-1,5 ton. Sebelum ditanam benih terlebih dahulu ditunaskan
dengan cara menyemaikan, yaitu menghamparkan rimpang di atas jerami/alang-
alang tipis, di tempat yang teduh atau di dalam gudang penyimpanan dan tidak
ditumpuk. Selama penyemaian, dilakukan penyiraman setiap hari sesuai
kebutuhan, hal ini dilakukan untuk menjaga kelembaban rimpang. Benih/rimpang
yang sudah bertunas dengan tinggi mencapai 1-2 cm, siap ditanam di lapangan.
Rimpang yang sudah bertunas kemudian diseleksi dan dipotong menurut ukuran.
Untuk mencegah infeksi bakteri pada waktu pemotongan, dilakukan perendaman
di dalam larutan antibiotik dengan dosis anjuran, kemudian dikering-anginkan.

22
c. Persiapan Lahan
Sebelum benih ditanam dilakukan pengolahan tanah. Tujuan pengolahan tanah
adalah untuk menciptakan tanah menjadi gembur, subur, berhumus, berdrainase
baik dan beraerasi baik, serta membersihkan dari gulma. Pengolahan tanah
dilakukan dengan cara menggarpu dan mencangkul tanah sedalam 30 cm,
dibersihkan dari ranting-ranting dan sisa-sisa tanaman yang sukar lapuk. Untuk
tanah dengan lapisan olah tipis, pengolahan tanahnya harus hati-hati disesuaikan
dengan lapisan tanah tersebut dan jangan dicangkul atau digaru terlalu dalam
sehingga tercampur antara lapisan olah dengan lapisan tanah bawah, hal ini dapat
mengakibatkan tanaman tumbuh kurang subur. Setelah tanah diolah dan
digemburkan, dibuat bedengan searah lereng (untuk tanah yang miring), sistem
guludan atau dengan sistim parit. Lebar bedengan berkisar antara 60-120 cm, tinggi
bedengan 25-30 cm dan panjang bedengan menyesuaikan dengan kondisi lahan
dengan jarak antar bedengan 30 cm. Setelah dibuat bedengan atau guludan
kemudian dibuat lubang tanam sedalam 5-7 cm.

d. Penanaman
Benih jahe ditanam sedalam 5-7 cm dengan tunas menghadap ke atas, jangan
terbalik, karena dapat menghambat pertumbuhan. Jarak tanam yang digunakan
untuk jahe putih besar yang dipanen tua adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm,
apabila dipanen muda jarak tanam yang dianjurkan adalah 40 cm x 30 cm.
Sedangkan jahe putih kecil dan jahe merah jarak tanam digunakan 60 cm x 40 cm.
Setelah jahe ditanam perlu ditutup dengan mulsa (jerami, alang-alang) untuk
melindungi tunas yang baru tumbuh/muncul ke permukaan tanah yang belum
mampu menahan teriknya matahari. Selain itu pemberian mulsa mampu
memperbaiki kondisi tanah terutama di bagian permukaan, dan juga mengurangi
erosi karena mulsa mampu menahan aliran air.

23
e. Pemupukan
Pemberian pupuk dimaksudkan agar unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman
tersedia cukup. Oleh karenanya, pemupukan mutlak diperlukan terutama pada
lahan yang kurang subur. Pemupukan memegang peranan penting untuk
meningkatkan hasil rimpang, yaitu pupuk organik untuk memperbaiki tekstur tanah
dan aerasi tanah, dan pupuk anorganik terutama N, P, dan K.
f. Pemanenan
Panen dilakukan dengan cara membongkar seluruh tanaman menggunakan cangkul
atau garpu. Agar rimpang hasil panen tidak lecet dan tidak terpotong perlu kehati-
hatian waktu panen karena akan mengurangi mutu jahe. Rimpang dibersihkan dari
kotoran dan tanah yang menempel. Tanah yang menempel apabila dibiarkan akan
mengering dan sulit dibersihkan. Selanjutnya, jahe tersebut diangkut ke tempat
pencucian untuk disemprot dengan air. Pada saat pencucian jahe tidak boleh
digosok agar tidak lecet, kemudian dilakukan penyortiran sesuai tujuan.

3.3.2 Simplisia
Proses Penyiapan Simplisia
Pengelolaan pasca panen tanaman obat merupakan suatu perlakuan yang
diberikan kepada hasil panen tanaman obat hingga produk siap dikonsumsi atau
menjadi simplisia sebagai bahan baku obat tradisional atau obat alam. Simplisia
adalah bahan alamiah yang dipakai sebagai obat yang belum mengalami pengolahan
apapun juga atau yang beru mengalami proses setengah jadi, seperti pengeringan.
Simplisia dapat berupa simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia pelikan atau
mineral. Simplisia yang dibuat dengan cara pengeringan harus dilakukan dengan
cepat, tetapi pada suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan yang dilakukan terlalu
lama akan mengakibatkan simplisia yang diperoleh kurang baik mutunya. Disamping
itu, pengeringan dengan suhu yang terlalu tinggi akan mengakibatkan perubahan
kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Cara pembuatan simplisia antara lain:
a. Sortasi basah
Sortasi basah bertujuan untuk memisahkan kotoran atau bahan asing serta
bagian tanaman lain yang tidak diinginkan dari bahan simplisia. Kotoran tersebut
dapat berupa tanah, kerikil, rumput/gulma, tanaman lain yang mirip, bahan yang
telah rusak atau busuk, serta bagian tanaman lain yang memang harus dipisahkan
24
dan dibuang. Pemisahan bahan simplisia dari kotoran ini bertujuan untuk menjaga
kemurnian dan mengurangi kontaminasi awal yang dapat mengganggu proses
selanjutnya, mengurangi cemaran mikroba, serta memperoleh simplisia dengan
jenis dan ukuran seragam. Oleh karena itu, dalam tahapan ini juga dilakukan
pemilihan bahan berdasarkan ukuran panjang, lebar, besar kecil, dan lain-lain.
b. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan kotoran lain yang melekat
pada bahan simplisia. Proses ini dilakukan dengan menggunakan air bersih (standar
air minum), air dari sumber mata air, air sumur, atau air PDAM. Pencucian
dilakukan secara cermat terutama untuk bahan simplisia yang berada di dalam
tanah atau dekat dengan permukaan tanah, misalnya rimpang, umbi, akar, dan
batang yang merambat, serta daun yang melekat/dekat dengan permukaan tanah.
Pencucian sebaiknya dilakukan dengan menggunakan air mengalir agar kotoran
yang terlepas tidak menempel kembali.
c. Penirisan
Setelah bahan dicuci bersih, dilakukan penirisan pada rak-rak yang telah diatur
sedemikian rupa untuk mencegah pembusukan atau bertambahnya kandungan air.
Prose penirisan bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan kandungan air di
permukaan bahan dan dilakukan sesegera mungkin setelah pencucian. Selama
penirisan, bahan dibolak-balik untuk mempercepat penguapan dan dilakukan di
tempat teduh dengan aliran udara cukup agar terhindar dari fermentasi dan
pembusukan. Setelah air yang menempel di permukaan bahan menetes atau
menguap, bahan simplisia dikeringkan dengan cara yang sesuai.
d. Perajangan
Beberapa jenis bahan baku atau simplisia seringkali harus diubah menjadi
bentuk lain, misalnya irisan, potongan, dan serutan untuk memudahkan kegiatan
pengeringan, penggilingan, pengemasan, penyimpanan dan pengolahan
selanjutnya. Selain itu, proses ini bertujuan untuk memperbaiki penampilan fisik
dan memenuhi standar kualitas (terutama keseragaman ukuran) serta meningkatkan
kepraktisan dan ketahanan dalam penyimpanan. Pengubahan bentuk harus
dilakukan secara tepat dan hati-hati agar tidak menurunkan kualitas simplisia yang
diperoleh. Semakin tipis ukuran hasil rajangan atau serutan, maka akan semakin
cepat proses penguapan air sehingga waktu pengeringannya menjadi lebih cepat.
Namun ukuran hasil rajangan yang terlalu tipis dapat menyebabkan berkurangnya
25
atau hilangnya senyawa aktif yang mudah menguap, sehingga mempengaruhi
komposisi, bau, dan rasa yang diinginkan. Oleh karena itu, untuk bahan simplisia
berupa rimpang seperti jahe, temulawak, kunyit dan sejenisnya harus dihindari
perajangan yang terlalu tipis agar dapat mencegah berkurangnya minyak atsiri.
Selain itu, perajangan yang terlalu tipis juga menyebabkan simplisia mudah rusak
saat dilakukan pengeringan dan pengemasan. Ukuran ketebalan simplisia harus
seragam tergantung pada bagian tumbuhan yang diiris. Ketebalan irisan simplisia
rimpang, umbi, dan akar ± 3 mm.
e. Pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air agar bahan simplisia tidak
rusak dandapat disimpan dalam jangka waktu yang lama, menghentikan reaksi
enzimatis, dan mencegah pertumbuhan kapang, jamur, dan jasad renik lain. Dengan
matinya sel bagian tanaman, maka proses metabolisme (seperti sintesis dan
transformasi) terhenti, sehingga senyawa aktif yang terbentuk tidak diubah secara
enzimatik. Suhu pengeringan tergantung pada bahan simplisia dan cara
pengeringan. Bahan simplisia umumnya dapat dikeringkan pada suhu ≤ 60 °C.
bahan simplisia yang mengandung senyawa aktif mudah menguap dan tidak tahan
panas (termolabil) sebaiknya dikeringkan pada suhu rendah, yaitu antara 30-40 °C
selama waktu tertentu. Pengeringan tanaman jahe merah dengan metode diangin-
anginkan karena pada jahe merah mengandung senyawa gingerol yang apabila
dipanaskan pada suhu >60o C akan berubah menjadi senyawa shogaol. Pada
pengeringan tidak menggunakan oven karena keterbatasan alat pada petani. Petani
yang bekerja sama dengan perusahaan umumnya tidak memiliki oven pribadi
berukuran besar, sehingga untuk menyiasati proses pengeringan dengan
menggunakan metode diangin-anginkan.
f. Sortasi kering
Sortasi kering bertujuan untuk memisahkan bahan-bahan asing dan simplisia
yang belum kering benar. Kegiatan ini dilakukan untuk menjamin bahwa simplisia
benar-benar bebas dari bahan asing. Kegiatan ini dilakukan secara manual.
Simplisia yang telah bersih dari bahan asing terkadang untuk tujuan tertentu
(misalnya untuk memenuhi standar mutu tertentu) masih diperlukan grading atau
pemisahan menurut ukuran, sehingga diperoleh simplisia dengan ukuran seragam.

26
g. Penggilingan
Simplisia yang sudah disortasi kering kemudian digrinder dan diayak dengan
menggunakan blender kermudian digiling dengan ayakan mesh 30, lalu disimpan
dalam wadah tertutup rapat. Jahe yang telah kering kemudian di buat bubuk dengan
cara digiling dengan blender dan diayak dengan mesh 60.

Persyaratan Simplisia (Bahan Baku)

Semua paparan yang tertera dalam persyaratan simplisia pada Materia Medika
Indonesia merupakan syarat baku bagi simplisia yang bersangkutan. Suatu simplisia
tidak dapat dikatakan bermutu apabila tidak memenuhi syarat baku yang tertera pada
MMI. Standardisasi dilakukan sebagai upaya peningkatan mutu dan keamanan produk
yang diharapkan dapat lebih meningkatkan kepercayaan terhadap manfaat obat yang
berasal dari bahan alam. Simplisia nabati harus bebas dari serangga, fragmen hewan
atau kotoran hewan, tidak boleh menyimpang bau dan warnanya, tidak boleh
mengandung lendir dan cendawan atau menunjukkan tanda-tanda pengotoran lain,
tidak boleh mengandung bahan lain yang beracun dan berbahaya. Parameter kontrol
kualitas untuk simplisia yang akan diuji menurut MMI dan FHI yaitu :

No. Parameter Spesifikasi Prosedur Alasan


1. Organoleptik Bau aromatik, rasa Melalui Pemeriksaan
(Identitas) pedas pengamatan menggunakan alat
dengan indera untuk
menggunakan mengidentifikasi
alat indera. bahan sebagai
pengenal awal
bahwa bahan baku
yang dipesan
merupakan
simplisia jahe
sesuai dengan
spesifikasi.

27
2. Makroskopik Jahe merah Melalui Pemeriksaan
(identitas) rimpangnya pengamatan menggunakan alat
berwarna merah dan visual. indera untuk
lebih kecil daripada mengidentifikasi
jahe putih kecil, bahan sebagai
bagian ujung pengenal awal
bercabang; cabang bahwa bahan baku
pendek, pipih, yang dipesan
bentuk bulat telur merupakan
terbalik, pada setiap simplisia jahe
ujung cabang sesuai spesifikasi
terdapat parut
melekuk ke dalam.
dalam bentuk
potongan, panjang 5
cm sampai 15 cm,
umumnya 3 cm
sampai 4 cm, tebal 1
cm sampai 6,5 cm,
umumnya 1 cm
sampai 1,5 cm.
Bagian luar
berwarna coklat
kekuningan, beralur
memanjang,
kadang-kadang ada
serat yang bebas.
Bekas patahan
pendek dan berserat
menonjol.

3. Mikroskopik Fragmen pengenal Pengamatan Uraian


(Identitas) adalah serabut, butir fragmen- mikroskopik

28
amilum,berkas fragmen khas mencakup
pengangkut, dan menggunakan pengamatan
parenkim dengan sel mikroskop terhadap
sekresi. penampang
melintang
simplisia atau
bagian simplisia
dan terhadap
fragmen pengenal
serbuk simplisia.
4. Senyawa Gingerol Seperti tertera Pengujian
identitas pada pustaka menggunakan
“Optimasi KCKT dilakukan
Ekstrak Jahe” untuk pemastian
(Santi et al.) kadar gingerolpada
simplisia karena
gingerol
merupakan
senyawa marker
aktif yang
memiliki aktivitas
sebagai
antihipertensi.
5. Kadar air Tidak lebih dari Sesuai dengan Untuk memberikan
(kandungan) 10% Parameter batasan minimal
Standar atau rentang
Umum tentang besarnya
Ekstrak kandungan air di
Tumbuhan dalam bahan.
Obat halaman Kandungan air
14 yang melebihi
batas yang
disarankan akan

29
menyebabkan
simplisia lebih
lembab dan mudah
busuk karena
tercemar oleh
mikroorganisme.
Kandungan air
yang sesuai dengan
persyaratan akan
memperlama masa
penyimpanan dari
simplisia.
6. Susut Tidak lebih dari Sesuai dengan Untuk memberikan
pengeringan 10% Parameter batasan maksimal
(kandungan) Standar senyawa yang
Umum hilang pada proses
Ekstrak pengeringan.
Tumbuhan
Obat.
7. Kadar abu Tidak lebih dari 5% Sesuai dengan Untuk memberikan
(kandungan) Materia gambaran
Medika kandungan bahan
Indonesia Jilid anorganik/mineral
II halaman 150 internal atau
eksternal.
8. Kadar abu Tidak lebih dari 2% Sesuai dengan Untuk memberikan
yang tidak Materia gambaran
larut asam Medika kandungan bahan
(kandungan) Indonesia Jilid anorganik
II halaman 151 mengandung
silikat yang berasal
dari tanah atau
pasir.

30
9. Kadar sari Tidak kurang dari Sesuai dengan Untuk mengetahui
yang larut 15,6% Materia jumlah senyawa
dalam air Medika kandungan yang
(kandungan) Indonesia Jilid larut dalam air.
II halaman 156
10. Kadar sari Tidak kurang dari Sesuai dengan Untuk mengetahui
yang larut 4,3% Materia jumlah senyawa
dalam etanol Medika kandungan yang
(kandungan) Indonesia Jilid larut dalam etanol.
II halaman 156

31
Sumber : Farmakope Herbal
Indonesia hal 29

3.3.3 Ekstrak
Pemilihan pelarut
Komponen senyawa kimia yang terkandung pada jahe terdiri dari minyak
menguap, minyak tidak menguap dan pati. Minyak atsiri termasuk minyak menguap
dan merupakan komponen yang memberi bau khas, sedangkan oleoresin, yang terdiri
dari gingerol, zingiberen, shogaol, termasuk minyak tidak menguap yang memberi
rasa pahit dan pedas. Gingerol merupakan bahan alam yang terkandung didalam
oleoresin jahe yang dibutuhkan dalam modifikasi pati. Gingerol tidak tahan terhadap
suhu tinggi karena pada suhu tinggi gingerol akan berubah menjadi shogaol. Gingerol
dapat terdekomposisi menjadi shogaol pada suhu 60°C sehingga ekstraksi jahe merah
dilakukan dengan cara dingin yaitu maserasi. Menurut penelitian yang dilakukan
Rahmadani (2009) , pembuatan ekstrak menggunakan pelarut metanol dan etanol
dengan konsentrasi 96%, 70%, dan 30%. Ekstrak kental yang diperoleh berwarna
coklat kehitaman, beraroma khas jahe dan masih tercium aroma pelarut.
Tabel hasil bobot ekstrak dan rendemen ekstrak
Ekstrak Bobot Ekstrak Rendemen
(g) Ekstrak (%)
Etanol 30% 7,3130 15,43
Etanol 70% 5,0820 10,72
Etanol 96% 9,6218 20,44
Metanol 4,7438 10,06

32
Berdasarkan data diatas maka rendemen ekstrak yang terbesar didapat pada
konsentrasi 96% dengan hasil bobot ekstrak sebesar 9,6218 g dan hasil rendemen
ekstrak sebesar 20,44% (Santi et al.,)
Kemudian diilakukan penetapan kadar gingerol pada instrumen HPLC. Profil
HPLC sampel waktu retensi sama dengan profil HPLC pada standar yang
menunjukkan empat puncak yang berasal dari serapan senyawa golongan gingerol.
Keempat puncak tersebut terdiri dari senyawa 6-gingerol, 8-gingerol, 6-shogaol, dan
10-gingerol. Senyawa utama dalam jahe merah segar adalah serangkaian homolog
fenolik keton dikenal sebagai gingerol. Senyawa gingerol terbanyak adalah 6-gingerol
sedangkan 8-gingerol dan 10-gingerol terjadi pada jumlah yang sedikit (lee et al.,
2007).
Menurut penelitian Lee (2007) , senyawa 6-gingerol muncul pada menit ke 10,3,
senyawa 8-gingerol muncul pada menit ke 20,4, senyawa 6-shogaol muncul pada
menit ke 20,6, dan 10-gingerol muncul pada menit ke 30,1. Hasil tersebut
menunjukkan waktu retensi tidak jauh berbeda dengan standar yang didapat. Gambar
Kromatogram dapat di lihat dibawah ini.

Gambar 6. Kromatogram standar gingerol yang diperoleh dengan mengunakan alat


HPLC UFLC Shimadsu (λ = 280 nm, a.6-gingerol di 12,880 menit, b.8-gingerol di
24,270 menit, c.6-shogaol di 25,801 menit, dan d.10-gingerol di 31,410 menit).

33
Hasil kadar senyawa gingerol dan shogaol ekstrak jahe merah konsentrasi
pelarut etanol, 30%, 70%, 96%. (Santi et al.,)

Kode Sampel Senyawa ppm Kadar (mg/g)

JE-30 M 6-gingerol 11,83 1,68

8-gingerol 0,79 0,12

6-shogaol 0,63 0,09

10-gingerol 0,50 0,07

JE-70 M 6-gingerol 54,63 5,85

8-gingerol 11,18 1,19

6-shogaol 4,32 0,46

10-gingerol 12,46 1,33

JE-96 M 6-gingerol 174,51 35,36

8-gingerol 39,65 8,03

6-shogaol 15,15 3,07

10-gingerol 56,13 11,37

Berdasarkan data diatas maka kadar 6-gingerol paling tinggi didapatkan dengan
pelarut etanol 96% sebanyak 174,51 ppm.

34
Profil Kromatogram

Gambar 2 :
Kromatogram sampel ekstrak jahe merah pada pelarut etanol 30% dengan
metode maserasi

Gambar 3 :
Kromatogram sampel ekstrak jahe merah pada pelarut etanol 70% dengan
metode maserasi

Gambar 4 :
Kromatogram sampel ekstrak jahe merah pada pelarut etanol 96% dengan
metode maserasi

Pada profil kromatogram di atas dapat dilihat bahwa dengan pelarut etanol 96%,
peak yang dihasilkan lebih bersih dan puncak-puncak pengganggu yang lain tidak
terlihat terlalu menonjol. Dengan alasan pertimbangan %rendemen, kadar gingerol

35
yang dihasilkan, dan profil kromatogram, maka pelarut yang dipilih untuk ekstraksi
adalah etanol 96% dengan perbandingan bahan baku : pelarut adalah 1 : 10. (Santi, et
al.,)

Metode Ekstraksi

Gingerol dapat terdekomposisi menjadi shogaol pada suhu 60°C sehingga


ekstraksi jahe merah dilakukan dengan cara dingin yaitu maserasi (Chrubarsi et al.,)
dengan sifat tersebut salah satu metode ekstraksi yang cocok untuk digunakan adalah
maserasi. Dalam proses maserasi yang normal, ekstraksi tidak berjalan sempurna,
karena transfer massa akan berhenti ketika kesetimbangan tercapai. Masalah ini dapat
diatasi dengan menggunakan metode “Multi Stage Extraction”

Peralatan yang diperlukan untuk metode ini adalah bejana yang berisi bahan
baku, circulating pump, spray distributors dan beberapa tangki sebagai penerima
larutan ekstrak. Ekstraktor dan tanki dihubungkan dengan pipa dan keran seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2. sehingga setiap tangki dapat dihubungkan ke ekstraktor
untuk dialiri dengan solvent.

36
Gambar 5 : “Multi Stage Extraction”

Setiap batch bahan baku diproses beberapa kali dengan pelarut terpilih

Keuntungan :
Bahan baku diekstraksi sebanyak jumlah receiver (pada Gambar 5 ada tiga
receiver). Jika diinginkan lebih banyak tahap ekstraksi maka dapat menambahkan
jumlah receiver. Bahan baku sebelum akhirnya dikeluarkan, dialiri dengan pelarut
yang segar untuk memberikan proses ekstraksi maksimum.
Prosedur :
100 kg serbuk jahe dimasukkan ke dalam ekstraktor tertutup kemudian
direndam dengan etanol 96% sebanyak 1000L (perbandingan 1g : 10ml) selama 24
jam agar ekstraksi maksimal dilakukan pengadukan beberapa kali. Kemudian aliri
larutan ekstrak ke receiver 1.
Masukkan pelarut yang baru ke dalam ekstraktor lalu aliri larutan ekstrak ke
receiver 2. Selanjutnya, Masukkan pelarut yang baru ke dalam ekstraktor lalu aliri
larutan ekstrak ke receiver 3. Keluarkan 100kg jahe dari ekstraktor dan isi kembali
dengan bahan baku yang baru.
Aliri larutan ekstrak dari receiver 1 ke ekstraktor kemudian keluarkan lalu
dipekatkan dengan rotavapor untuk menghilangkan pelarut. Aliri larutan ekstrak dari
receiver 2 ke ekstraktor dan aduk kemudian aliri ke receiver-1. Aliri larutan ekstrak
dari receiver-3 ke ekstraktor dan aduk kemudian aliri ke receiver-2.
Isi kembali ekstraktor dengan bahan baku, tambahkan pelarut baru ke ekstraktor
rendam dan aduk sesekali kemudian aliri larutan ekstrak dari ekstraktor ke receiver 3.
Keluarkan bahan baku dari ekstraktor dan isi kembali. Ulangi siklus.

37
Pemekatan dengan Rotavapor

Gambar 6 : “Rotavapor di Industri”


Setelah proses ekstraksi, dilakukan pemekatan ekstrak dengan cara
menghilangkan pelarut menggunakan Rotavapor. Komponen utama dalam rotary
evaporator adalah vacuum system, yang terdiri dari vacuum pump dan controller, labu
evaporasi yang berputar dapat dipanaskan dalam pemanas fluid bath dan condenser
dengan labu penampung kondensat. Alat ini berguna dalam memisahkan solvent tanpa
pemanasan berlebih. Dengan labu evaporasi yang berputar, cairan akan keluar dari
labu dengan gerakan sentrifugal. Hal tersebut akan menciptakan area permukaan dari
cairan menjadi luas dan oleh karena itu dapat bergerak cepat dan kemudian
terevaporasi. Rotary evaporator sangat efektif untuk memisahkan sebagian besar
pelarut organik selama proses ekstraksi. Rotary evaporator biasa digunakan dalam
skala besar (20 L dan 50 L) dengan pilot plant dalam perusahaan farmasi yang besar.
Rotavapor di-set pada suhu (50)˚C pada tekanan yang rendah. Sampai diperoleh
ekstrak kental.

Bentuk Akhir Ekstrak


Bentuk akhir ekstrak adalah ekstrak kental dengan sisa pelarut (10 – 20)%.
Alasan dipilih ekstrak kental dikarenakan sesuai dengan bentuk sediaan akhir yaitu
berupa emulsi serta untuk mengurangi kandungan etanol yang meruapakan pelarut
ekstraksi agar sesuai batas yang ditentukan.

Persyaratan Ekstrak

Ekstrak terstandar berarti konsistensi kandungan senyawa aktif dari setiap batch
yang diproduksi dapat dipertahankan. Berdasarkan trilogi mutu-aman-manfaat, maka
ekstrak harus memenuhi persyaratannya, yaitu parameter standar umum dan

38
spesifikasinya dalam buku monografi. Parameter kontrol kualitas untuk simplisia
yang akan diuji menurut MMI dan FHI yaitu :

No. Parameter Spesifikasi Prosedur Alasan


1. Organoleptik Ekstrak kental, Melalui Pemeriksaan
(identitas) berwarna pengamatan menggunakan alat
kuning dengan indera untuk
kecoklatan, menggunakan alat identifikasi dan
berbau khas, indera. langkah awal
dan rasa pedas. terhadap
(sesuai dengan penetapankualitas
FHI Jilid I dari suatu produk.
halaman 31).
2. Senyawa Gingerol Seperti tertera Pengujian
identitas pada pustaka menggunakan
“Optimasi Ekstrak KCKT dilakukan
Jahe” (Santi et al.) untuk pemastian
kadar gingerolpada
simplisia karena
gingerol merupakan
senyawa marker
aktif yang memiliki
aktivitas sebagai
antihipertensi.
5. Kadar air < 10% Sesuai dengan Untuk memberikan
Parameter Standar batasan minimal
Umum Ekstrak atau rentang tentang
Tumbuhan Obat besarnya kandungan
halaman 14 air di dalam bahan.
Kandungan air yang
melebihi batas yang
disarankan akan
menyebabkan
ekstrak lebih lembab

39
dan dapat membuat
kapsul cangkang
keras menjadi lunak.
5. Kadar abu total Tidak lebih Sesuai dengan Untuk memberikan
(kandungan) dari 1% Materia Medika gambaran
Indonesia Jilid II kandungan bahan
halaman 150 anorganik/mineral
internal atau
eksternal.
6. Kadar abu Tidak lebih Sesuai dengan Untuk memberikan
yang tidak dari 0,04% Materia Medika gambaran
larut asam Indonesia Jilid II kandungan bahan
(kandungan) halaman 151 anorganik
mengandung silikat
yang berasal dari
tanah atau pasir.
7. Sisa pelarut Tidak lebih Sesuai Parameter Untuk memberikan
(kontaminan) dari 1% Standar Umum jaminan bahwa
Ekstrak selama proses tidak
Tumbuhan Obat meninggalkan sisa
halaman 17 pelarut yang
memang seharusnya
tidak boleh ada.
Sedangkan untuk
ekstrak cair
menunjukkan
jumlah pelarut
(alkohol) sesuai
dengan yang
ditetapkan.

40
Dosis dan formula

NAMA FUNGSI RENTANG KONSTRASI JUMLAH JUMLAH


TIAP TIAP
SACHET BATCH
Ekstrak jahe Bahan 1% 1% 150 mg 150 gram
merah aktif
Propilen Pengawet 15-30% 30% 4,5 g 4,5 kg
glikol
Tween 80 Emulgator 1-15 % 10% 1,5 g 1,5 kg
Sakarosa Pemanis 67% 6% 900 mg 900 gram
Aquadest Pelarut Ad 15 ml Ad 15 ml Ad 15 ml Ad 15 L

Berdasarkan penelitian Elizabeth Townsend dkk pada tahun 2013 mengenai


efek dari Jahe terhadap relaksasi otot polos bronkus dan regulasi kalsium
menyebutkan bahwa dengan konsentrasi 50 mg/ml dan 100 mg/ml serbuk jahe dapat
merelaksasi oto polos bronkus kurang lebih 25%. Sehingga digunakan 100 mg/ml
serbuk jahe sebagai kekuatan obat dalam sediaan kami. Serbuk jahe 200 gram
diesktraksi menggunakan pelarut etanol 96% dapat diperoleh ekstrak sebanyak 16,34
gram ekstrak kental (setelah melalui tahapan penguapan di rotary evaporator).
Sehingga 100 mg serbuk jahe akan menghasilkan ekstrak kental sebanyak 8,2 mg.
Dikarenakan sediaan yang kami pilih adalah emulsi dengan volume 15 ml per sachet,
maka ekstrak kental yang digunakan dalam 1 sachet adalah 123 mg/15 ml.

41
3.3.4 Produk Akhir
Cara pembuatan :

Ekstrak Jahe Propilen Glikol Tween 80 Aquadest


Merah 150 gram 4,5 kg 1,5 kg 4L

Aduk ad Aduk ad larut


homogen

Aduk ad Sakarosa
homogen 900 gram

Aduk ad larut

Tambahkan
aquadest ad
15 L

3.4 Evaluasi Produk Akhir


1. Uji organoleptis
Pengamatan organoleptis dilakukan dengan diamatinya perubahan bentuk, warna,
dan bau.

2. Uji pH
Uji pH dapat dilakukan menggunakan alat pH meter pada kondisi suhu ruang.
Pertama-tama elektroda dikalibrasi dengan dapar standar pH 4 dan pH 7. Elektroda
lalu dicelupkan ke dalam sediaan hingga nilai pH muncul di layar. Hasil pH dicatat
(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995)

42
3. Distribusi ukuran partikel
Distribusi ukuran partikel (globul) pada emulsi digunakan alat mikroskop yang
dilengkapi dengan micrometer okuler dan obyektif.
Pertama-tama mengkalibrasi skala okuler untuk menentukan harga skala okuler.
Lalu meneteskan larutan emulsi uji diatas obyek glass, ditutup dengan cover glass.
Micrometer obyektif pada mikroskop diganti dengan obyek glass yang berisi larutan
uji. Kemudian mulai pengukuran diameter partikel (sebanyak > 300 partikel).

(Farmasi Fisik.Dasar-dasar Kimia Fisik Dalam Ilmu Farmasetik.Edisi Ketiga.Buku


2.Alped Martin.halaman 1035)

4. Uji tipe emulsi


Penentuan Tipe Emulsi dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dye solubility
test, drop dilution test, conductivity test.
Pada Dye solubility test, emulsi diletakan diatas obyek glass dan ditetesi degan zat
warna larut air (Metilen Blue) atau zat warna larut minyak (Sudan III), lalu amati
dibawah mikroskop. Bila dengan Metilen Blue medium pendispersi (luar droplet)
biru maka emulsi tipe o/w. Namun bila dengan Sudan III medium pendispersi
menjadi kuning, tipe emulsi w/o.
Untuk Drop dilution test dilakukan dengan menambahkan air kedalam sampel. Bila
sampel terencerkan dan tidak memisah, tipe emulsi o/w. Bila sampel memisah tipe
emulsi w/o.
Pada Conductivity test menggunakan alat Emulsion type reciter dengan prosedur
awal memasukkan elektrode yang telah dihubungkan dengan lampu kedalam emulsi.
Bila nyala lampu terang menunjukan tipe emulsi o/w. Bila nyala lampu redup atau
padam menunjukan tipe emulsi w/o.

5. Uji viskositas
Uji viskositas untuk sediaan emulsi menggunakan alat viskosimeter Brookfield.
Sediaan disimpan dalam wadah, lalu spindle diturunkan ke dalam sediaan hingga
batas yang ditentukan, kecepatan diatur mulai dari 5, 10, 20, 50, 100 rpm, lalu
dilanjutkan dari kecepatan sebaliknya 100, 50, 20, 10, dan 5 rpm. Dari masing-
masing pengukuran dibaca skala nya ketika jarum merah yang bergerak telah stabil.
Nilai viskositas ini untuk menghitung tekanan geser (dyne/cm2). Tekanan geser dan
kecepatan geser dittuangkan dalam pola reologi. Untuk mengukur viskositas fluida

43
dalam Viskometer Brookfield, bahan harus diam dalam wadah sementara itu poros
bergerak sambil direndam dalam fluida (Atkins,1994).

6. Uji Mikrobiologi
Uji mikrobiologi dilakukan untuk mengetahui angka cemaran mikroba yang
mungkin mengkontaminasi sediaan selama penyimpanan. Uji ini dilakukan dengan
menentukan Angka Lempeng Total (ALT) yaitu penentuan jumlah koloni dari
pertumbuhan bakteri mesofil aerob setelah sampel diinkubasikan dalam media
pembenihan yang cocok selama 24-48 jam pada suhu 35±1ºC. Pengujian dilakukan
pada hari ke-1 dan ke-56. Cara pengujiannya adalah sebagai berikut:
a) Penyiapan alat-alat dan bahan yang telah disterilkan.
b) Homogenisasi sampel, yaitu dengan memipet 1 mL sampel yang dimasukkan
ke dalam wadah lain, yang telah berisi 9 mL larutan pengencer sehingga
diperoleh pengenceran 1:10. Sampel hasil pengenceran ini kemudian digunakan
untuk pengenceran lain apabila diperlukan.
c) Sampel hasil pengenceran dipipet sebanyak 1 mL dan dimasukkan ke dalam
cawan petri steril. Dilakukan sebanyak dua kali (duplo).
d) Sebanyak 12-15 mL nutrient agar yang telah dicairkan dituang ke dalam
masing-masing cawan kemudian cawan digoyangkan perlahan-lahan sampai
sampel tercampur rata dengan nutrient agar, lalu dibiarkan sampai menjadi
padat.
e) Blanko dibuat dengan mencampur air pengencer dengan nutrient agar untuk
masing-masing sampel yang diperiksa.
f) Cawan berisi sampel dimasukkan ke dalam inkubator dalam posisi terbalik dan
diinkubasikan selama 24-48 jam pada suhu 35±1ºC.
g) Pertumbuhan koloni dicatat pada setiap cawan yang mengandung 25-250 koloni
setelah 48 jam.
h) Angka lempeng total dihitung dalam 1 gram atau 1 mL sampel dengan
mengalikan jumlah rata-rata koloni pada cawan dengan faktor pengenceran
yang sesuai
(SNI 19-2897-1992; Anonim, 1979)

44
7. Penetapan Kadar
 Penentuan Kadar Larutan Standar 6-gingerol, 8-gingerol, 6-shogaol dan 10-gingerol
Disiapkan campuran larutan standar berisi 6-gingerol 1000 ppm, 8-gingerol 500
ppm, 6 shogaol 1000 ppm, dan 10-gingerol 1000 ppm. Dengan cara menimbang
standar 6-gingerol 10 mg, 8-gingerol 5 mg, 6-shogaol 10 mg, dan 10-gingerol 10
mg, dimasukkan kedalam labu ukur 10 mL lalu ditera dengan metanol. Dipipet 5 mL
diencerkan pada labu 100, ditera dengan metanol sampai batas. Disonikator selama
30 menit, setelah itu didiamkan selama 15 menit, disonikator kembali selama 30
menit, kemudian disaring menggunakan kertas saring whatman 0,45 μm, lalu
diinjeksikan kedalam alat HPLC.
 Preparasi Larutan Sampel
Sebanyak 100 mg ekstrak ditambahkan dengan 80 mL metanol, disonikator selama
30 menit, setelah itu didiamkan selama 15 menit, disonikator kembali selama 30
menit, kemudian disaring, dimasukkan ke dalam labu 100 ml lalu ditara dengan
metanol, larutan disaring menggunakan kertas saring Whatman 0.45 μm, lalu
diinjeksikan ke dalam alat HPLC dengan kolom (Shimpack ODS VO C18 150 ×4.6
mm) dengan sistem gradien dengan suhu kolom 40°C. Digunakan detektor UV
dengan panjang gelombang 280 nm dan laju alir gerak 1mL/menit.Fase gerak untuk
penentuan 6-gingerol, 8-gingerol, 10-gingerol, dan 6-shogaol dapat dilihat pada
Tabel 2.

Tabel 2. Komposisi fasa gerak untuk penentuan 6-gingerol, 8-gingerol,10 gingerol,


dan 6-shogaol (Lee et al, 2007).

Waktu Asetonitril Air


(menit) (%) (%)

0 40 60

10 40 60

40 90 10

40,5 100 0

45
45 100 0

45,5 40 60

50 40 60

Rumus perhitungan kadar gingerol adalah sebagai berikut :

Luas area sampel


Konsentrasi gingerol = x konsentrasi standar
Luas area standar

𝑢𝑔
𝑝𝑝𝑚 ( )𝑥 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑎𝑤𝑎𝑙 (𝑚𝑙)𝑥 𝑓𝑝 𝑥 10−8
𝑚𝑙
𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘−(𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑖𝑟 𝑥 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘)
Kadar (mg/g) = 𝑟𝑒𝑛𝑑𝑒𝑚𝑒𝑛 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘

 Alat HPLC UFLC Shimadzu


Alat yang digunakan adalah HPLC UFLC Shimadsu series, yang dioperasikan pada
suhu ruang. Data diproses dengan LC solution software. Kondisi untuk preparativ
HPLC adalah fase diam kolom Shimpack ODS VO C18 150 ×4.6 mm dan fase gerak
pelarut asetonitril dan air, dengan volume injeksi sampel 20 μL mengikuti sistem
gradien dengan suhu kolom 40°C. Digunakan detektor UV dengan panjang
gelombang 280 nm dan laju alir gerak 1mL/menit. (Rahmadani, Santi., Siti Sa’diyah,
dan Sri Wardatun. 2018. Optimasi Ekstraksi Jahe Merah Dengan Metode Maserasi.
Jurnal Mahasiswa Online 1(1): 1-10)

3.5 Uji pre-klinik


Uji Non-klinik adalah studi biomedik yang tidak dilakukan pada subjek manusia
yang meliputi pengujian in vivo dan in vitro, yang dilakukan sebelum uji klinik dan dapat
dilanjutkan selama pengembangan klinik (uji toksisitas potensial) (BPOM, 2015).
Pedoman Uji Toksisitas Nonklinik secara in vivo digunakan sebagai acuan dalam
pelaksanaan kegiatan uji keamanan pengembangan obat baru, obat tradisional, kosmetik,
suplemen kesehatan, dan pangan (BPOM, 2014)
Berdasarkan uji preklinik yang dilakukan pada hewan coba mencit dengan asma
alergi, pengobatan dengan ekstrak etanol (500mg / kg) dan ekstrak air (720mg / kg) dari
rimpang (rhizome) Zingiber officinale, dan metilprednisolon (5mg / kg) dapat
mengurangi peradangan akibat alergi saluran napas (asma). Pemberian ekstrak dilakukan
selama 7 hari melalui intraperitoneal 1 kali sehari. Setelah 24 jam dari waktu terakhir

46
pemberian, dilakukan pemeriksaan menggunakan RT-PCR diikuti oleh elektroforesis gel
dan ELISA yang digunakan untuk mengevaluasi level ekspresi mRNA dan level protein
dari marker tipe Th2. Histopatologi jaringan paru diketahui menggunakan pewarnaan
H&E dan PAS.
Didapatkan hasil bahwa ekstrak etanol dan air dari Zingiber officinale dapat
menyebabkan penurunan yang signifikan hiperplasia sel piala, infiltrasi sel-sel inflamasi
di saluran napas, dan edema dengan kongesti vascular. Pengurangan sangat signifikan
terjadi pada jumlah total dan diferensial dari eosinofil dan neutrofil dalam BALF. Kedua
ekstrak secara signifikan menghambat respon imun yang dimediasi Th2, yang terbukti
dengan penurunan tingkat ekspresi mRNA IL-4 dan IL-5. Kadar protein IL-4 dan IL-5 di
BALF. Kadar IgE total pada serum juga secara signifikan ditekan oleh kedua ekstrak.
(Khan, Shahzad, Raza Asim, Imran, & Shabbir, 2015)

UJI EFEKTIFITAS
Pemberian ekstrak jahe merah dengan dosis 175mg/kg bb/hari tergolong efektif
dalam menghambat proliferasi sel alveolus paru-paru tikus yang terpapar allethrin,
sehingga alveolus tidak mengalami penyempitan (Arobi, 2010).

UJI TOKSISITAS
Uji toksisitas dengan menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test)
dari ekstrak jahe merah (Zingiber officinale var amarum.) diperoleh bahwa fraksi n-
heksan memiliki toksisitas dengan nilai LC50 sebesar 63,8130 ppm, sedangkan fraksi
etil asetat memiliki toksisitas yang rendah dengan nilai LC50 sebesar 3821,89 ppm
(kaban et al., 2016)

3.6 Epigenetic – epigenomic Asma


Peningkatan laju penderita asma belakangan ini disebabkan oleh perubahan faktor
epigenetik (terwariskan selain adanya hubungan dengan urutan DNA) dan lingkungan
hidup yang berubah. Perubahan sistem imun pada alergi sebagai penyebab asma ini
diawali dengan datangnya FOXP3+ Tregs pada antarmuka materno-fetal karena tertarik
dengan human chorionic gonadotrophin (HCG). FOXP3+ mengakibatkan hipometilasi
DNA (akibat proses demetilasi) yang berkaitan dengan efisiensi 19 kapasitas represi dari
Treg. Sistem imun selular ibu akan beradaptasi ke fase Th2 untuk menurunkan respon
imun sel dari Th1 IFN-γterhadap antigen janin. Tbet akan mengalami metilasi pada
47
promoter gen IFNγ yang akan menurunkan aktivitas transkripsi dan produksi IFN-γ.
Sebaliknya, pada garis keturunan sel TH2, akan terjadi demetilisasi promoter gen IL-4
yang diregulasi GATA-3 serta remodeling kromatin melalui proses modifikasi histon
dalam locus sitokin Th2 (IL4/IL5/IL13/RAD50). Modifikasi ini dilakukan oleh enzim
histon asetiltranferase (HATs) dengan penambahan gugus asetil yang menyebabkan
struktur lebih terbuka dan terjadi peningkatan transkripsi gen.

48
BAB IV

PEMBAHASAN

Jahe merah/jahe sunti (Zingiber officinale var rubrum) memiliki kandungan minyak atsiri
dan oleoresin pada rimpang jahe merah cukup tinggi sehingga jahe merah memiliki peranan
penting dalam dunia pengobatan, baik pengobatan tradisional maupun untuk skala industri
dengan memanfaatkan kemajuan tekhnologi (Evans, 2002 dalam Hernani & Winarti, 2013).
Rasa dominan pedas pada jahe disebabkan senyawa keton bernama zingeron. Senyawa lain
yang turut menyebabkan rasa pedas pada jahe adalah golongan fenilalkil keton atau yang
biasa disebut gingerol dan [6]-gingerol. Keduanya merupakan komponen yang paling aktif
dalam jahe. Jahe merah sudah digunakan untuk mengurangi rasa mual, gastritis maupun ulkus
gaster, nyeri perut diare, batuk, dan rematik di Cina. Selain itu di India, jahe merah digunakan
untuk mengurangi mual, mengobati asma, batuk, dan mengurangi rasa nyeri yang hebat dan
mendadak, mengatasi jantung berdebar-debar, mengatasi gangguan pencernaan, dan rematik.
Kebanyakan orang Eropa juga mengonsumsi teh jahe untuk mengatasi gangguan pencernaan
(Kathi, 1999). Manfaat jahe merah pada Konferensi Internasional American Thoracic Sociaty
2013 di Philadelphia dinyatakan dapat membantu penderita asma bernapas lebih mudah. Pada
studi tersebut, peneliti menyelidiki apakah jahe merah bisa meningkatkan efek beta-agonis.
Obat asma yang beredar sekarang ada yang termasuk golongan beta-agonis yang bekerja
dengan merelaksasi otot polos jaringan di saluran napas. Menurut Elizabeth Townsend,
komponen jahe merah dapat bekerja secara sinergis dengan beta-agonis untuk merelaksasi
otot di saluran napas(ASM). Pada penelitian tersebut, peneliti mengambil sampel ASM untuk
neurotransmiter asetilkolin. Kemudian, tim menggabungkan isoproterenol dan beta agonis
dengan tiga ekstrak jahe terpisah, yaitu 6-gingerol, 8-gingerol, dan 6-shogaol. Hasil yang
didapat adalah respon relaksasi meningkat ketika isoproterenol digabungkan dengan ekstrak
jahe dibandingkan isoproterenol yang digunakan secara tunggal. 6-Shogaol menunjukkan
efek paling efektif. Sehingga dari berbagai literatur diatas kami memutuskan untuk
menggunakan jahe merah sebagai bahan baku kami untuk mengatasi asma.

Produk yang akan kami buat tergolong dalam obat tradisional berlogo OHT (Obat Herbal
Terstandar). Pemilihan golongan OHT pada produk kami karena selain telah teruji secara
empiris kami juga telah mengetahui serangkaian uji aktivitas dan toksisitasnya yang
dilakukan pada mencit (uji praklinis). Hal tersebut juga untuk lebih meyakinkan para
konsumen bahwa produk kami benar terbukti walaupun hanya pada tahap praklinis. Dari

49
serangkaian uji tersebut maka kami dapat memberikan klaim terhadap produk bahwa jahe
merah memang digunakan dan ditujukan untuk pasien asma. Sediaan yang pilih sebagai
produk akhir adalah sediaan cair berupa emulsi. Hal tersebut kami pilih karena sediaan cair
memiliki onset of action yang leih cepat sehingga obat dapat bekerja lebih cepat dibanding
sediaan padat yang perlu adanya integrasi terlebih dahulu, Sediaan cair juga dianggap lebih
praktis, mudah dibawa kemana, sehingga dari segi akseptabilitas lebih disenangi konsumen.
Emulsi dipilih karena bahan aktif yang kami buat berupa ekstrak kental yang tidak
mengandung pelarut sehingga tidak larut pada air dan memerlukan emulgator untuk
menunjang stabilitasnya. Emulsi yang kami buat adalah emulsi tipe o/w (minyak dalam air).
Bahan tambahan yang digunakan adalah tween 80, propilen glikol dan sakarosa. Tween 80
sebagai emulgator unutk membantu mencapur ketegangan antara air dan ekstrak (sebagian
besar berupa minyak). Propilen glikol kami pilih karena dapat berfungsi menjadi beberapa
agen sekaligus yaitu pengawet dan pembasah. Selain itu viskositas dari propilen glikol dapat
membantu menignkatkan viskositas sediaan. Lalu, sakarosa kami pilih sebagai bahan
pemanis dari obat kami.

Hal pertama yang kami lakukan untuk membuat produk adalah memilih bahan baku
berupa bahan baku segar. Pemilihan bahan baku segar sebagai bahan baku awal karena kami
ingin menjamin kualitas (kandungan yang berkhasiat) jahe merah dari awal hingga akhir
menjadi produk. Sehingga kami bekerjasama dengan petani jahe merah yang berada di daerah
Bogor untuk menanamkan jahe merah Industri kami. Berbagai persyaratan control kualitas
telah kami cantumkan dan disukusikan kemudian petani tersebut harus mengeringkan jahe
merah sesuai dengan persyaratan yang telah dicantumkan pula. Setelah itu dilakukan
pengemasan simplisia jahe merah untuk dikirim menuju pabrik kami. Setelah itu dilanjutkan
dengan proses ekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% (perbandingan bahan baku dan
pelarut 1:10) dengan metode Multi Stage Extraction atau remaserasi. Pemilihan pelarut
tersebut karena menghasilkan rendemen yang paling banyak dan sekaligus memiliki
kandungan 6-gingerol banyak (dengen sedikit penganggu). Setelah proses ektraksi maka
dilakukan pemekatan atau penghilangan pelarut tersebut. Hal tersbut dilakukan untuk
memenuhi persyaratan BPOM bahwa produk ekstrak tidak boleh mengandung pelarut etanol
lebih dari 10% serta untuk memudahkan proses berikutnya. Hasil ekstrak yang dipilih adalah
ekstrak kental. Selanjutnya dilakukan pembuatan produk seperti yang telah dicantumkan
dalam metode pembuatan produk akhir beserta IPC dan evaluasinya. Setelah itu kami
melakukan pengemasan kedalam sachet 15 mL. pemilihan bentuk sachet aadalah agar mudah

50
dibawa kemana-mana dan praktis untuk diminum. Dalam setiap sachet mengandung ekstrak
sebanyak 150 mg sebagai bahan aktif. Kemudian setiap sachet akan dikemas dalam box-box.

Produk yang kami buat diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien yang
menderita asma dengan berbagai mekanisme kerja dari jahe merah untuk mengatasi asma
tersebut. Selain itu, diharapkan pula dapat memperbaiki genetic yang berubah akibat
perubahan lingkungan, system imun, maupun alergi sehingga dapat menurunkan prevalensi
penderita asma di Indonesia.

51
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Produk “phytoceuticals” yang kami rancang untuk dikembangkan merupakan produk


Obat Herbal Terstandar (OHT) dengan bahan aktif ekstrak jahe merah dan bentuk sediaan
cair-emulsi untuk meredakan asma. Bahan baku yang kami gunakan adalah bahan baku segar
yang kemudian dikeringkan hingga berbentuk simplisia. Simplisia tersebut akan diekstrak
menggunakan etanol 96% dan dikpekatkankan hingga menghasilkan ekstrak kental. Ekstrak
kental lah (tidak mengandung pelarut etanol lebih dari 10%) yang akan diproses untuk
menjadi sediaan emulsi. Dosis ekstrak yang digunakan adalah sebanyak 150 mg dengan
kemasan akhir yang digunakan adalah sachet volume 15 mL.

Saran: melakukan simulasi atau uji coba skala lab untuk rancangan diatas dikarenakan
kami belum pernah mencobanya. Selain itu, berbagai optimasi formula perlu dilakukan.

52
DAFTAR PUSTAKA

Amalia, R. 2004. Kajian Aktivitas Antioksidan dan Antikanker pada Minuman Susu Jahe
(Zingiber officinale Amarum). Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Anonim. 2007. Morning Sickness? Banyak Cara Mengatasinya!.


http://www.cyberwoman.cbn.net. [diakses 22 Agustus 2019].

Arobi, I. 2010. Pengaruh Ekstrak Jahe Merah (Zingiber officinale Rosc) Terhadap Perubahan
Pelebaran Alveolus Paru-Paru Tikus (Rattus norvegicus) Yang terpapar Allethrin.
Skripsi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Malang

Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2014. Peraturan Kepala BPOM RI Nomor: 12 tahun
2014 Tentang persyaratan mutu obat tradisional. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

BPOM. 2014. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia
Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Pedoman Uji Toksisitas Nonklinik Secara In Vivo. Jakarta:
BPOM

BPOM. 2015. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia
Nomor 16 Tahun 2015 Tentang Tata Laksana dan Penilaian Obat Pengembangan Baru.
Jakarta: BPOM

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan


Makanan. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI

Depkes RI. (1978). Materia Medika Indonesia. Jilid II. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Hal. 113-121.

Depkes RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia Edisi I. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Direktorat Jenderal Layanan Kesehatan, Asma Penting Diwaspadai (Never Too Early, Never
Too Late), Mei 2018, Web 28 Agustus 2019 http://yankes.kemkes.go.id/read-asma-
penting-diwaspadai-never-too-early-never-too-late-4209.html

GINA (Global Initiative for Astma). 2012. Global Strategy for Asthma Management and
Prevention. Global Initiative For Asthma.

Handayani, Susiasih dan Wibowo, R.A. 2014. Kue Kering Terfavorite. PT Kawan Pustaka.
Jakarta.

53
Herlina, R., dkk. 2002. Khasiat dan Manfaat Jahe Merah Si Rimpang Ajaib. Jakarta: PT.
Agro Media Pustaka

Hernani Dan Winarti, C. 2013. Kandungan Bahan Aktif Jahe dan Pemanfaatannya dalam
Bidang Kesehatan. Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Pascapanen Pertanian.
Bogor.

Kaban, A. N., Daniel, Shaleh C. 2016. Uji Fitokimia, Uji Toksisitas dan Aktivitas
Antioksidan Fraksi n-heksan dan Etil Asetat Terhadap Ekstrak Jahe Merah. (Zingiber
officinale var. Amarum). Jurnal Kimia Mulawarman Vol.14 (1) : 24-28.

Kartini. Puri. 2017. Potensi Ekstrak Jahe Merah Sebagai Terapi Alami Kejadian Asma Pada
Atlet. Madiun: Universitas PGRI Madiun

Khan, A. M., Shahzad, M., Raza Asim, M. B., Imran, M., & Shabbir, A. (2015). Zingiber
officinale ameliorates allergic asthma via suppression of Th2-mediated immune
response. Pharmaceutical Biology, 53(3), 359–367.

Muchlas, dkk. 2008. Teknologi Budidaya Jahe. Bandar Lampung: Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian

Mangprayool, T.; Kupittayanant, S.; Chudapongse, N. Participation of citral in the


bronchodilatory effect of ginger oil and possible mechanism of action. Fitoterapia 2013,
89, 68–73.

Putri, D.A. 2014. Pengaruh Metode Ekstraksi dan Konsentrasi Terhadap Aktivitas Jahe
Merah (Zingiber Officinale Var Rubrum) Sebagai Antibakteri Escherichia Coli. Skripsi.
Universitas Bengkulu. Bengkulu.

Rahmadani, Santi., Sa’diah, Siti., Wardatun, Sri. 2009. OPTIMASI EKSTRAKSI JAHE
MERAH (Zingiber officinale Roscoe) DENGAN METODE MASERASI. Program Studi
Farmasi FMIPA UNPAK., Pusat Studi Biofarmaka LPPM.IPB, 2 Departemen Anatomi
Fisiologi dan Farmakologi, FKH IPB

Rahingtyas, D.K. 2008. Pemanfaatan Jahe (Zingiber Officinale) Sebagai Tablet Isap untuk
Ibu Hamil dengan Gejala Mual dan Muntah. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Setiawan, Budi. 2015. Peluang Usaha Budidaya Jahe. Pustaka Baru Press. Yogyakarta.

54
Sya’ban, M.F. 2013. Jahe, Kandungan dan Manfaatmya. Makalah Kimia. Universitas Negeri
Yogyakarta. Yogyakarta.

Townsend, E.A.; Siviski, M.E.; Zhang, Y.; Xu, C.; Hoonjan, B.; Emala, C.W. Effects of
ginger and its constituents on airway smooth muscle relaxation and calcium regulation.
Am. J. Resp. Cell Mol. 2013, 48, 157–163.

Townsend, E.A.; Zhang, Y.; Xu, C.; Wakita, R.; Emala, C.W. Active components of ginger
potentiate beta-agonist-induced relaxation of airway smooth muscle by modulating
cytoskeletal regulatory proteins. Am. J. Resp. Cell Mol. 2014, 50, 115–124.

World Health Organisation, Chronic Respiratory Disease, 2003, Web 28 Agustus 2019
https://www.who.int/respiratory/asthma/en/

Yuwono, Sudarminto. S. Kandungan Kimia Jahe.


http://darsatop.lecture.ub.ac.id/2015/04/kandungan-kimia-jahe/. [diakses 22 Agustus
2019]

55
ii