Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH

BELAJAR BERBASIS MASALAH (BBM)


PROGRAM GIZI
SKENARIO RAWANNYA OH GENERASI PENERUS

Oleh:
KELOMPOK III

Aniqa Tadzkiya Putri 1710912120001


Risna Ridha Aulia 1710912120017
Angelicha Wiranda Rizky 1710912220005
Rahmida Nurmiyanti 1710912220032
Marcselino Pradayuna M 1710912310030
Desyca Ayu Rahmadani 1710912320012
Laili Rizki Amalia 1710912320028
Nuzulia Bella Destriani 1710912320049
Sela Yulianti 1710912320066

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2018
MAKALAH
BELAJAR BERBASIS MASALAH (BBM)
PROGRAM GIZI
SKENARIO RAWANNYA OH GENERASI PENERUS

Disusun Oleh :
KELOMPOK III

Aniqa Tadzkiya Putri 1710912120001


Risna Ridha Aulia 1710912120017
Angelicha Wiranda Rizky 1710912220005
Rahmida Nurmiyanti 1710912220032
Marcselino Pradayuna M 1710912310030
Desyca Ayu Rahmadani 1710912320012
Laili Rizki Amalia 1710912320028
Nuzulia Bella Destriani 1710912320049
Sela Yulianti 1710912320066

Telah disahkan dan diterima dengan baik oleh :

Banjarbaru, 07 Desember 2018

Koordinator BBM-PG Tutor,


PSKM FK-ULM

Fahrini Yulidasari, SKM., MPH Noor Ahda Fadillah., SKM, M.Kes (Epid)
NIP. 19850285 200812 2 006 NIK. 1990. 2014. 1. 114

ii
DAFTAR ISI

Halaman
COVER ................................................................................................................ i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................iii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Skenario ............................................................................................. 1
B. Analisis Kasus .................................................................................... 1
1. Langkah 1 ..................................................................................... 1
2. Langkah 2 ..................................................................................... 2
3. Langkah 3 ..................................................................................... 2
4. Langkah 4 ..................................................................................... 3
5. Langkah 5 ..................................................................................... 4
BAB II. PEMBAHASAN
A. Tinjauan kasus berdasarkan sasaran belajar yang mengacu pada pustaka
yang relevan dengan kasus ................................................................. 5
B. Analisis Kasus Pada Skenario Lebih Mendalam .............................. 16
C. Rekomendasi dan Solusi................................................................... 23
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................................... 27
B. Saran .................................................................... ............................ 27
DAFTAR PUSTAKA

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
2.1 Proporsi Anemia Ibu Hamil Indonesia Tahun 2018 ......................... 12

iv
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
2.1 Proporsi anemia penduduk umur ≥1 tahun menurut karakteristik,
Indonesia 2013 .................................................................................. 12
2.2 Proporsi anemia penduduk umur ≥1 tahun menurut karakteristik,
Indonesia 2013 .................................................................................. 20

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Skenario
Rawannya oh generasi penerus …
Hasil survey kadar Hb di 3 kabupaten kota di Kalimantan Selatan,
ditemukan bahwa prevalensi anemia pada remaja puteri sebesar 60,3%
(diatas angka nasional). Jika dilihat dari tingkat pendidikan dan sosial
ekonomi ke tiga daerah tersebut tergolong baik. Dinas Kesehatan harus dapat
mengantisipasi dan menanggulangi permasalahan ini.
B. Analisa Kasus
1. Langkah 1. Klarifikasi/Identifikasi Instilah (Clarify term)
a. Identifikasi Istilah
1) Anemia
2) Prevalensi
3) Hemoglobin
4) Tingkat pendidikan
5) Remaja Putri
6) Sosial ekonomi
b. Klarifikasi Istilah
1) Anemia merupakan suatu keadaan dimana terjadi penurunan jumlah sel
darah merah. Anemia adalah kondisi dimana kadar hemoglobin kurang
dari yang diharapkan sesuai dengan usia dan jenis kelamin, dimana
kadar hemoglobin saat kita lahir tinggi (20 gram/dl), tetapi menurun
pada kehidupan tiga bulan pertama sampai angka terendah (10
gram/dl) sebelum meningkat kembali menjadi nilai dewasa normal
(>12 gram/dl) pada wanita dan >14 gram/dl pada pria).

vi
2) Prevalensi adalah bagian dari studi epidemiologi yang membawa
pengertian jumlah orang dalam populasi yang mengalami penyakit,
gangguan atau kondisi tertentu pada suatu tempo waktu dihubungkan
dengan besar populasi dari mana kasus itu berasal.
3) Hemoglobin merupakan kompeks protein yang memberikan warna
merah darah. Protein ini membantu sel-sel darah merah membawa
oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.
4) Tingkat pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan
berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan
dicapai dan kemauan yang dikembangkan.
5) Remaja puteri adalah mereka yang berada pada tahap transisi antara
masa kanak-kanak dan dewasa. Menurut Menteri Kesehatan RI tahun
2010, batas usia remaja adalah antara 10 sampai 19 tahun dan belum
kawin.
6) Status sosial ekonomi adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam
masyarakat status sosial adalah gambaran tentang keadaan sesorang
atau suatu masyarakat yang ditinjau dari segi sosial ekonomi gambaran
itu seperti tingkat pendidikan, pendapatan dan sebagainya. Status
ekonomi kemungkinan besar merupakan pembentuk gaya hidup
keluarga.

2. Langkah 2. Membuat Daftar Masalah (define the problem)


a. Mengapa mengapa anemia lebih banyak terjadi pada remaja puteri?
b. Bagaimana cara mengatasi anemia?
c. Apa saja gejala dari penyakit anemia?
d. Mengapa dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan status sosial ekonomi
yang baik, prevalensi anemia pada remaja puteri masih berada diatas
angka nasional?
e. Apa saja dampak dari anemia?

3. Langkah 3. Menganalisa Masalah (analyze the problem)

2
a. Remaja puteri lebih banyak mengalami anemia dikarenakan zat besi yang
ada di tubuh seorang wanita tidah hanya digunakan untuk pertumbuhan
saja, melainkan juga untuk mengganti darah yang keluar saat menstruasi.
b. Cara mengatasi anemia bisa dengan cara memperbaiki pola makan, dan
mengamati asupan gizi yang diperlukan. Lebih banyak mengonsumsi
suplemen penambah darah, suplemen zat besi, juga melakukan aktivitas
fisik yang cukup.
c. Gejala dari penyakit anemia adalah wajah terlihat pucat, tubuh terasa
lemah, letih, lesu, mudah lelah, jantung berdetak lebih cepat, dan lain-lain.
d. Karena rendahnya kesadaran diri untuk mengonsumsi makanan bergizi
dan menjaga pola makan. Juga kebiasaan remaja yang gemar
mengkonsumsi junk food/fast food.
e. Dampak dari anemia yaitu mengurangi produktivitas seseorang,
menurunkan konsentrasi belajar hingga berpengaruh pada prestasi belajar,
kemudian dapat berdampak pada kehamilan remaja puteri tersebut
dikemudian hari.
4. Langkah 4. Problem Tree

Kelelahan Cukup
Menghambat Proses Tinggi
Belajar

Daya Tahan Tubuh Produktivitas Menurun


Menurun

Anemia pada
Remaja Puteri

Kurang Hb Kurang Kesadaran

3
Siklus Haid
Tingkat
Pengetahuan/Pendidikan
5. Langkah 5. Menetapkan Sasaran Belajar (formulate learningRendah
objective)
a. Faktor risiko anemia
b. Teori, Indikator, Gejala, Risiko, dan Dampak Anemia
c. Distribusi frekuensi Anemia
d. Epidemiologi Anemia
e. Program pemerintah mengenai antisipasi dan penanggulangan Anemia
f. System dan cara Promotif&Preventif terkait Anemia
g. Cara mempromosikan mengenai Anemia ke Masyarakat
h. Upaya Puskesmas dan Dinas Kes dalam upaya mencegah Anemia

4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Tinjauan kasus berdasarkan sasaran belajar yang mengacu pada
pustaka yang relevan dengan kasus
1. Faktor Risiko Anemia
Anemia pada akhirnya akan menimbulkan dampak antara lain seperti
menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena penyakit, menurunnya
aktivitas dan prestasi belajar karena kurangnya konsentrasi. Selain itu anemia juga
dapat mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terkena
infeksi. Beberapa faktor-faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya anemia
gizi pada usia remaja adalah sebagai berikut:
1. Menstruasi yang berlebihan pada remaja putri
Menstruasi/haid adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai
dengan perdarahan dan terjadi setiap bulannya kecuali pada saat kehamilan. Haid
biasanya terjadi pada usia 11 tahun dan berlangsung hingga menopause (biasanya
terjadi sekitar usia 45-55 tahun). Pada sebuah penelitian membuktikan bahwa
terdapat hubungan menstruasi yang berlebih dapat memicu anemia. Hal tersebut
ditimbulkan karena adanya gangguan haid yang mana gangguan yang paling
banyak pada remaja putri adalah pendarahan haid yang lebih banyak dari normal
(hipermenoria). Banyaknya darah yang keluar berpengaruh pada kejadian anemia
karena remaja putri tidak mempunyai persediaan zat besi yang cukup dan absorpsi
zat besi yang rendah ke dalam tubuh sehingga tidak dapat menggantikan zat besi
yang hilang selama menstruasi. Semakin pendek siklus menstruasi serta semakin
lamaperiode menstruasi seorang remaja putri, maka kehilangan zat besi yang
dialami akan semakin besar.
2. Citra Diri
Citra tubuh atau citra diri adalah persepsi, pemikiran, danperasaan seseorang
terhadap tubuhnya. Citra tubuh ini dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang

5
yang ditunjukkan dengan perilaku makan. Remaja cenderung tidak puas dengan
dirinya,ketidakpuasan ini bisa muncul karena remaja memiliki konsep tubuh ideal
dalam pikirannya, akan tetapi remaja merasa bahwa tubuhnya sendiri belum
memenuhi kriteria tubuh ideal tersebut. Citra tubuh berhubungan secara tidak
langsung dengan anemia gizi besi, dimana citra tubuh mempengaruhi perilaku
makan. Perilaku makan berkaitan dengan pemilihan makanan.
3. Usia
Remaja putri pada kisaran usia 13-15 tahun memiliki kecenderungan untuk
mengalami anemia 2,73 kali lebih besar dibandingkan remaja putri yang berusia
10-12 tahun. Hal ini karena remaja usia 13-15 tahun kebanyakan sudah
mengalami menstruasi, sehingga kecenderungan anemia lebih besar dibandingkan
usia di bawahnya (kurang lebih 50% belum menstruasi). Remaja terutama yang
telah mengalami menstruasi, dibandingkan dengan yang belum menstruasi, lebih
rentan terhadap anemia. Saat menstruasi terjadi pengeluaran darah dari dalam
tubuh. Hal ini menyebabkan zat besi yang terkandung dalam hemoglobin, salah
satu komponen sel darah merah ikut terbuang melalui darah menstruasi.
4. Kepatuhan meminum tablet tambah darah
Tablet tambah darah diminum 1 tablet per hari ketidakteraturan minum tablet
darah akan menimbulkan dampak peningkatan kadar Hb yang tidak sesuai batas
normal. Keteraturan mengkonsumsi tablet tambah darah diukur dari jumlah tablet
yang dikonsumsi, ketepatan cara mengkonsumsi dan frekuensi konsumsi per hari.
Suplementasi tablet tambah darah merupakan upaya penting dalam mencegah dan
menanggulangi anemia.
5. Status gizi yang kurang
Remaja putri yang berstatus gizi kurus cenderung untuk mengalami anemia
sebesar 8,32 kali lebih besar dibandingkan yang berstatus gizi gemuk. Status gizi
merupakan keadaan tubuh sebagai akibat antara konsumsi, penyerapan dan
penggunaan zat-zat gizi atau keadaan fisiologik akibat dari tersedianya zat gizi
dalam tubuh. Pada dasarnya anemia dipengaruhi secara langsung oleh konsumsi
makanan sehari-hari yang kurang mengandung zat besi selain faktor infeksi
sebagai pemicunya. Secara umum makanan berkaitan erat dengan yang baik,

6
maka status gizi juga normal, sebaliknya bila makanan yang dikonsumsi kurang
nilai gizinya, maka akan menyebabkan kekurangan nilai gizinya dan dapat
menimbulkan anemia. Semakin buruk status gizi seseorang maka semakin rendah
kadar Hb nya. Seperti kurangnya konsumsi dan sayuran, buah-buahan serta lauk
pauk akan meningkatkan terjadinya anemia, meskipun konsumsi nasi atau kacang-
kacangan dalam jumlah yang cukup. Hal tersebut karena kebutuhan zat besi tidak
terpenuhi.
Terkait dengan sarapan pagi, sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang bermakna antara sarapan pagi dengan kejadian anemia
pada remaja putri. Sarapan adalah kegiatan makan dan minum yang dilakukan
antara bangun pagi sampai jam 9 untuk memenuhi sebagian kebutuhan gizi harian
(15-30% kebutuhan gizi) dalam rangka mewujudkan hidup sehat, aktif dan
produktif. Dampak dirasakan remaja apabila sarapan tidak baik maka pada saat
proses belajar menjadi kurang konsentrasi, mudah lelah, mudah mengantuk dan
gangguan fisik lainnya. Remaja putri yang sarapan memiliki performa yang lebih
baik dalam perkembangan kognitif di sekolah dibandingkan mereka yang tidak
sarapan (1,4,5,6).
2. Teori, Indikator, Gejala, Risiko, Dampak dari Anemia
a. Definisi Anemia
Anemia merupakan penyakit permasalahan gizi yang rentan terjadi pada
kelompok remaja. Terutama pada remaja putri, hal tersebut disebabkan seorang
remaja putri mempunyai kebutuhan zat besi yang tinggi untuk pertumbuhan dan
peningkatan kehilangan akibat menstruasi. Diketahui sebanyak 22,7% remaja
putri mengalami anemia gizi besi. Selain itu, pada kondisi remaja yang suka
membatasi konsumsi makanan untuk memperhatikan bentuk tubuh juga akan
mempercepat terjadinya anemia gizi besi dikarenakan asupan makanan kurang
(1).
Keadaan anemia dikalangan remaja baik pada remaja laki-laki atau perempuan
tidak boleh untuk dibiarkan. Umumnya kelompok remaja berada dalam masa
pertumbuhan yang membutuhkan energi, protein dan zat gizi lain yang lebih
banyak dibanding dengan kelompok lain. Sehingga jika hal tersebut tidak

7
tertangani dengan baik akan berlanjut hingga dewasa dan akan berdampak pada
timbulnya beberapa masalah seperti kematian ibu, melahirkan bayi secara
prematur, dan bayi yang dilahirkan mengalami gizi kurang. Selain itu, anemia gizi
besi juga dapat menyebabkan tinggi badan lebih pendek, cepat lelah, konsentrasi
belajar menurun, aktivitas fisik terganggu sehingga prestasi belajar rendah dan
dapat menurunkan produktivitas belajar (1).
Anemia juga dapat mempengaruhi pada usia reproduktif pada masa yang akan
datang. Remaja perempuan pada dasarnya berbeda dengan wanita usia reproduksi
yang lebih tua, termasuk dalam kebutuhan gizi, durasi menstruasi. Pada wanita
tua reproduksi tahun menstruasi ditemukan menjadi faktorresiko untuk anemia
selain itu pendapatan keluarga, keterpaparan dengan rokok juga dapat menjadi
faktor pada wanita tua. Akan tetapi faktor tersebut tidak satupun yang dapat
mempengaruhi pada wanita usia 12 – 21 tahun. Kemudian terdapat adanya faktor
kebutuhan pangan dengan kejadian anemia diantara anak – anak 12 – 15 tahun
dari kedua jenis kelamin (2).
Anemia didefinisikan sebagai suatu keadaan tubuh yang mana kadar
hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah daripada nilai standar atau dibawah
nilai normal berdasarkan umur dan jenis kelamin serta dapat menimbulkan fungsi
dalam tubuh terganggu. Hemoglobin (Hb) itu sendiri ialah merupakan suatu zat
didalam sel darah merah, dimana struktur bangunan hemoglobin adalah zat besi.
Hemoglobin (Hb), yang merupakan pekerja utama dalam mendukung fungsi darah
sebagai pelaku transportasi oksigen dan karbondioksida ke atau dari jaringan.
Ketika seseorang merasa seperti letih, lemah, lesu, lelah dan lunglai hal tersebut
dapat dijadikan sebagai gejala dari anemia. Gejala tersebut timbul dikarenakan
kekurangan zat besi sehingga pembentukan sel-sel darah merah dan fungsi lain
dalam tubuh terganggu (1,3).
Kadar Hb dalam tubuh merupakan nilai ambang batas tertentu untuk dapat
dikatakan anemia pada remaja. Kadar Hb merupakan parameter yang paling
mudah digunakan dalam menentukan status anemia pada skala luas. Dalam
definisi anemia telah ditetapkan batas hemoglobin yang dianggap sudah terjadi
anemia. Batasan yang umum digunakan adalah kriteria WHO pada tahun 2001.

8
Dinyatakan sebagai anemia bila terdapat nilai dengan kriteria sebagai berikut (10,
4):
1. Anak umur 5 – 11 tahun : Hb < 11,5 gr/dl
2. Anak umur 11 – 14 tahun : Hb < 12 gr/dl
3. Remaja > 15 tahun perempuan : Hb < 12 gr/dl
4. Remaja > 15 tahun laki-laki : Hb < 13 gr/dl
b. Indikator Anemia
Pemeriksaan kadar serum ferritin terbukti sebagai indikator paling dini, yaitu
menurun pada keadaan cadangan besi tubuh menurun (11).
c. Gejala Anemia
Gejala umum anemia adalah gejala yang timbul pada semua jenis anemia pada
kadar hemoglobin yang sudah menurun sedemikian rupa dibawah titik tertentu.
Gejala ini timbul ketika kondisi tubuh kekurangan oksigen sehingga mekanisme
tubuh manusia memacu untuk mengurangi kadar Hb. Gejala-gejala tersebut ialah
(3):
1. Kelopak mata pucat
Hal yang paling mudah untuk mendeteksi anemia dengan melihat mata yaitu
ketika anda meregangkan kelopak mata dan memperhatikan bagian bawah mata.
Bagian dalam kelopak mata tersebut akan berwarna pucat.
2. Mudah lelah
Merasa lelah sepanjang waktu selama satu bulan atau lebih dapat diketahui
kalau jumlah sel darah merah rendah. Pasokan energi tubuh sangat tergantung
pada oksidasi dan sel darah merah. Semakin rendah sel darah merah maka tingkat
oksidasi dalam tubuh ikut berkurang.
3. Mual
Penderita anemia akan lebih sensitif untuk mengalami gejala pagi atau mual
segera setelah mereka bangun dari tempat tidur.
4. Sakit kepala
Orang yang mengalami anemia sering mengeluh sakit kepala secara terus-
menerus. Kekurangan darah merah membuat otak kekurangan darah, hal tersebut
dapat menimbulkan sakit kepala.

9
5. Ujung jari pucat
Pada dasarnya daerah ujung jari akan berwarna kemerahan akan tetapi jika
seseorang mengalami anemia maka ujung jari tersebut akan berwarna putih atau
pucat.
6. Sesak napas
Jumlah darah yangrendah akanmenurunkan tingkat oksigen dalam tubuh.
Hal ini dapat membuat penderita anemia sering merasa sesak napas atau sering
terengah-engah saat melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan.
7. Denyut jantung tidak teratur
Palpitasi adalah istilah untuk denyut jantung yang teratur, terlalu kuat atau
memiliki kecepatan yang abnormal. Ketika tubuh mengalami kekurangan oksigen,
denyut jantung akan meningkat. Hal ini menyebabkan jantung berdebar tidak
teratur dan cepat.
8. Wajah pucat
Penderita anemia akan terlihat pucat, kulit pada penderita pun akan menjadi
putih kekuningan.
9. Rambut rontok
Ketika kulit kepala tidak mendapatkan makanan yang cukup dari tubuh.
Penderita akan mengalami penipisan rambut dengan cepat.
10. Menurunnya kekebalan tubuh
Ketika tubuh memiliki energi yang sangat lemah, kekebalan atau kemampuan
tubuh untuk melawan penyakit ikut menurun sehingga penderita anemia akan
mudah jatuh sakit.
d. Dampak Anemia
Dampak anemia pada remaja sangat merugikan karena membuat lesu,
lemah, kurang semangat belajar, rentan terhadap penyakit, yang dapat
menurunkan prestasi belajar.Pada remaja yang anemia, kemampuan penyerapan
oksigen berkurang karena kurangnya jumlah sel darah merah yang salah satu
fungsinya dalam tubuh adalah mengikat oksigen. Hal ini akan mempengaruhi
kekuatan didalam tubuh kita sehingga kemampuan aktivitas fisik yang bersifat
ketahanan tubuh berkurang (7).

10
Dampak dari penyakit anemia yang nantinya akan berpengaruh pada
aktivitas sehari-hari, yaitu (8):
1. Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar.
2. Mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak mencapai optimal.
3. Menurunkan kemampuan fisik.
4. Mengakibatkan muka pucat.
5. Berkurangnya daya pikir dan konsentrasi
6. Berkurangnya semangat belajar dan bekerja
7. Menurunnya kebugaran tubuh
8. Menurunnya produktivitas kerja
9. Daya tahan tubuh menurun sehingga mudah terserang penyakit
10. Dapat mengakibatkan kelahiran bayi prematur (bayi lahir dengan berat
badan rendah)
Dampak dari anemia mungkin tidak dapat langsung terlihat, tetapi dapat
berlangsung lama dan mempengaruhi kehidupan remaja selanjutnya.Pada siklus
hidup manusia, remaja putri (10-19 tahun) merupakan salah satu kelompok yang
rawan terhadap anemia.Remaja putri ternyata lebih tinggi anemia mengalami di
banding remaja putra. Selain itu, secara khusus anemia yang dialami remaja putri
akan berdampak lebih serius, mengingat mereka adalah para calon ibu yang akan
hamil dan melahirkan seorang bayi (9).
Akibat dari jangka panjang penderita anemia gizi besi pada remaja putri
yang nantinya akan hamil, maka remaja putri tersebut tidak mampu memenuhi
zat-zat gizi pada dirinya dan pada janinnya sehingga dapat meningkatkan
terjadinya resiko kematian ibu, kematian bayi, bayi lahir prematur, risiko
melahirkan bayi dengan BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah). Pada laki-laki dia
tidak bisa beraktifitas yang terlalu berat, contohnya seperti kuli bangunan itu akan
berkibat dia bisa pingsan (7).
Melihat dampak yang terjadi dikalangan remaja putri dan putra akibat kejadian
anemia sangat merugikan pada masa yang akan datang, maka pencegahan maupun
penanggulangan masalah anemia perlu ditingkatkan.Pastikan kebutuhan zat besi
remaja terpenuhi pada saat ini untuk mencapai pertumbuhan yang optimal (7).

11
3. Distribusi Frekuensi Anemia

Gambar 2.1 Proporsi Anemia Ibu Hamil Indonesia Tahun 2018


Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 Proporsi
anemia pada ibu hamil sebanyak 48,9% . Proporsi anemia pada ibu hamil lebih
banyak pada tahun 2018 dari tahun 2013 sebanyak 37,1%. Pada kelompok umur
15-24 tahun sebanyak 84,6% mengalami anemia. Pda kelompok umur 25-34
tahun ssebanyak 33,7% mengalami anemia. Pada kelompok umur 35-44 sebanyak
33,6% mengalami anemia. Kemudian, pada kelompok umur 45-54 tahun
sebanyak 24%. Menurut Riskesdas 2013, secara nasional, proporsi anemia
penduduk ≥1 tahun adalah 21,7 persen, pada balita 12-59 bulan adalah 28,1
persen, dan ibu hamil sebesar 37,1 persen (12).
Tabel 2.1 Proporsi anemia penduduk umur ≥1 tahun menurut karakteristik,
Indonesia 2013

Proporsi anemia Anemia (%)


penduduk umur ≥1
tahun menurut
karakteristik,
Indonesia 2013

12
Karakteristik
Kelompok umur
12-59 bulan 28,1
5-14 tahun 26,4
15-24 tahun 18,4
25-34 tahun 16,9
35-44 tahun 18,3
45-54 tahun 20,1
55-64 tahun 25,0
65-74 tahun 34,2
>75 tahun 46,0
Jenis kelamin
Laki-laki 18,4
Perempuan 23,9
Tempat tinggal
Perkotaan 20,6
Perdesaan 22,8
Indonesia 21,7

Tabel 2.1 menunjukkan proporsi penduduk umur ≥1 tahun dengan


keadaan anemia mencapai 21,7 persen secara nasional. Berdasarkan
pengelompokan umur, didapatkan bahwa anemia pada balita cukup tinggi, yaitu
28,1 persen dan cenderung menurun pada kelompok umur anak sekolah, remaja
sampai dewasa muda (34 tahun), tetapi cenderung meningkat kembali pada
kelompok umur yang lebih tinggi. Berdasarkan jenis kelamin didapatkan bahwa
proporsi anemia pada perempuan lebih tinggi dibandingkan pada laki-laki. Jika
dibandingkan berdasarkan tempat tinggal didapatkan bahwa anemia di perdesaan
lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan (13).
4. Epidemilogi Anemia
Berikut epidemiologi anemia (14) :

13
A. Host
Beberapa faktor penyebab lain anemia adalah genetik yaitu beberapa
penyakit kelainan darah yang dibawa sejak lahir antara lain Hemoglobinopati,
Thalasemia, abnormal enzim Glikolitik, dan Fanconi anemia. Kemudian nututrisi
dimana keadaan anemia yang disebabkan oleh defisiensi besi, defisiensi asam
folat, desifiensi vitamin B12, alkoholis, dan kekurangan nutrisi/malnutrisi.

B. Agent
Penyakit infeksi seperti hepatitis, Cytomegalovirus, Parvovirus, Clostridia,
sepsis gram negatif, malaria, dan Toksoplasmosis.

C. Environment
Lokasi geografis yang buruk; yaitu lokasi yang menimbulkan kesulitan
dari segi pendidikan dan ekonomi, seperti daerah terpencil, dan daerah endemis
dengan penyakit yang memperberat anemia, seperti daerah endemis malaria.

5. Program Pemerintah Mengenai Antisipasi Dan Penanggulangan Anemia


Program pemerintah mengenai antisipasi dan penanggulangan anemia adalah
sebagai berikut (6, 15):
a. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 88 Tahun 2014
Untuk melindungi wanita usia subur dan ibu hamil dari kekurangan gizi dan
mencegah terjadinya anemia gizi besi maka perlu mengonsumsi tablet tambah
darah. Tablet tambah darah merupakan tablet yang diberikan kepada wanita usia
subur dan ibu hamil. Bagi wanita usia subur diberikan sebanyak 1 (satu) kali
seminggu dan 1 (satu) kali sehari selama haid dan untuk ibu hamil diberikan
setiap hari selama masa kehamilannya atau minimal 90 (sembilan puluh) tablet.
Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mendukung gerakan
1000 HPK, khususnya dalam menanggulangi masalah anemia pada remaja adalah
melalui pemberian suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) berupa zat besi (60
mg FeSO4 ) dan asam folat (0.25 mg). Pemberian suplementasi ini dilakukan di

14
beberapa tatanan yaitu fasyankes, institusi pendidikan, tempat kerja dan
KUA/tempat ibadah lainnya.
b. Program Gerakan Pekerja Wanita Sehat dan Produktif (GPWSP)
Program pencegahan dan penanggulangan anemia gizi ini untuk mencapai
sasaran Wanita Usia Subur (WUS) terutama pada pekerja wanita melalui Gerakan
Pekerja Wanita Sehat dan Produktif (GPWSP) yang dimulai pada tahun 1990-an,
dengan suplementasi “TTD Mandiri” cakupannya masih terbatas. Gerakan
tersebut hingga saat ini masih berlanjut dengan nama Gerakan Pekerja Perempuan
Sehat dan Produktif(GP2SP). Sejak tahun 1996, pengembangan pencegahan dan
penanggulangan anemia pada rematri dan calon pengantin dilakukan secara
mandiri di beberapa daerah untuk meningkatkan status kesehatan dan gizi pra
hamil sebagai persiapan untuk seorang ibu, agar ibu hamil tidak anemia dan
melahirkan bayi yang sehat.
Dalam rangka Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang tertuang
pada Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013, upaya kesehatan dan gizi
diprioritaskan pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan anak. Upaya Percepatan Perbaikan Gizi
dilakukan melalui intervensi spesifik dan sensitif yang antara lain terintegrasi
dengan program penanggulangan anemia kepada kelompok sasaran rematri dan
WUS.
c. Program Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Gizi Besi (PPAGB)
Program pemerintah Indonesia yang fokus terhadap penanggulangan anemia
remaja putri yakni dengan sasaran anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan
Sekolah Menengah Atas (SMA) melalui pemberian suplementasi kapsul zat besi.
Berikut mekanisme pemberian suplementasi kapsul zat besi.
6. Sistem dan cara promotif & preventif terkait anemia
Pelaksanaan dalam mencegah anemia menggunakan aspek preventif atau
pencegahan. Pencegahan anemia bisa melalui upaya lainnya misalnya preventif
tingkat primer, sekunder ataupun tersier. Intervensi pelaksanaan anemia bisa
dilakukan juga melalui pemberdayaan masyarakat (empowerment) seperti Peer
group sharing (16).

15
7. Cara mempromosikan mengenai anemia ke masyarakat
Cara mempromosikan atau pendekatan yang strategis diperlukan untuk dapat
meningkatkan pengetahuan gizi tentang anemia pada remaja agar tercapai hasil
yang maksimal secara efektif dan efisien. Maka diperlukan metode yang tepat
dalam penyampainnya. Selain metode, faktor pendukung untuk mencapai hasil
yang maksimal ialah dengan adanya media atau alat bantu pendidikan, bisa
dilakukan kegiatan ceramah merupakan salah satu cara paling mudah untuk
penyampaian pesan dan bisa menggunakan alat bantuan maupun tidak. Target
sasaran adalah remaja puteri dimana untuk usia 12 tahun keatas media yang cocok
ialah buku cerita remaja. Selain itu, media buku cerita sebagai media visual lebih
ekonomis dan lebih terjangkau. Selain itu ada juga dengan cara penyuluhan oleh
bidang kesehatan atau dari pemerintah dinas kesehatan itu sendiri terhadap
mencegahnya kejadian anemia dilingkungan remaja puteri khususnya yang
merupakan calon ibu (17).

8. Upaya puskesmas dan dinas kesehatan


Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah juga untuk mendukung
khususnya dalam menanggulangi masalah amnesia pada remaja dengan memberi
suplemen zat besi penambah darah (6).
Serta kegiatan yang telah dilakukan oleh dinas kesehatan/puskesmas adalah
memberikan suplemen fe melalui pembagian tablet tambah darah (TTD) dan serta
melakukan penyuluhan kesetiap masyarakat terutama remaja puteri yang lebih
dominan terkena kasus anemia. Serta petugas kesehatan sekolah juga memberikan
pentingnya pendidikan gizi bagi remaja puteri agar dapat menambah pengetahuan
dan mengubah pola makan sehingga asupan gizi menjadi lebih baik (18).
Dan upaya pembangunan kesehatan gizi masyarakat merupakan bagian dari
program pembangunan nasional dan merupakan salah satu startegi yang akan
dilaksanakan oleh pemerintah (18).

B. Analisis Kasus pada Skenario lebih mendalam

16
Pada kalimat “Hasil survey kadar Hb di 3 kabupaten kota di Kalimantan
Selatan, ditemukan bahwa prevalensi anemia pada remaja puteri sebesar 60,3%
(diatas angka nasional)”. Dari kalimat pembuka skenario diatas dapat diketahui
bahwa daerah pada 3 kabupaten kota di Kalimantan Selatan merupakan daerah
yang prevalensi anemia pada remaja puterinya diatas angka nasional. Anemia
adalah kekurangan eritrosit yang tampak pada kekurangan hemoglobin dan
hematokri. Anemia adalah suatu keadaan dimana menurunnya hemoglobin (Hb),
hematokrit, dan jumlah sel darah merah di bawah nilai normal. Kreamer (2007),
menyatakan bahwa penyebab anemia adalah akibat faktor gizi dan non gizi.
Faktor gizi terkait dengan defisiensi protein, vitamin, dan mineral, sedangkan
faktor non gizi terkait penyakit infeksi. Protein berperan dalam proses
pembentukan hemoglobin, ketika tubuh kekurangan protein dalam jangka waktu
lama pembentukan sel darah merah dapat terganggu dan ini yang menyebabkan
timbul gejala anemia, sedangkan vitamin yang terkait dengan defisiensi zat besi
adalah vitamin C yang dapat membantu mempercepat penyerapan besi di dalam
tubuh serta berperan dalam memindahkan besi ke dalam darah, mobilisasi
simpanan besi terutama hemosiderin (5, 19).
Adapun Faktor risiko anemia yaitu (20):
A. Pola Makan
Remaja dengan pola makan tidak baik memiliki risiko 1,2 kali untuk
menderita anemia dibanding remaja yang memiliki pola makan baik. Penyebab
rendahnya kadar hemoglobin dalam darah salah satunya adalah asupan yang tidak
mencukupi kebutuhan gizi remaja. Asupan zat gizi sehari-hari sangat dipengaruhi
oleh kebiasaan makan. Anemia terdeteksi pada anak perempuan pedesaan
mungkin karena pola makan yang buruk dan menorrhagia. Pola makan
memberikan gambaran mengenai frekuensi, macam dan model bahan makanan
yang dikonsumsi tiap hari. Pola makan yang dianjurkan adalah makanan gizi
seimbang bagi remaja yang terdiri atas sumber zat tenaga misalnya roti, tepung-
tepungan, sumber zat pembangun misalnya ikan, telur, ayam, daging, susu,
kacang-kacangan, tahu, tempe, dan sumber zat pengatur seperti sayur-
sayuran,buah-buahan. Masa remaja terdapat peningkatan asupan makan siap saji

17
yang cenderung tinggi lemak, energi, natrium dan rendah asam folat, serat dan
vitamin A. Jenis bahan makanan yang seimbang apabila dikonsumsi setiap hari
akan memenuhi kebutuhan gizi tubuh remaja. Diet yang seimbang menghasilkan
kecukupan asupan nutrien sehingga kejadian defisiensi nutrien spesifik berkurang.

B. Asupan zat gizi


Kesehatan tubuh melalui manfaat zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya.
Kualitas susunan makanan yang baik dan jumlah makanan yang seharusnya
dimakan akan mempengaruhi kesehatan tubuh yang optimal. Energi merupakan
sumber pembentukkan eritrosit, sedangkan hemoglobin adalah bagian dari
eritrosit sehingga apabila asupan energi kurang akan menyebabkan penurunan
pembentukkan eritrosit dan mengakibatkan kadar Hb menurun. Sumber protein
hewani merupakan sumber zat besi heme. Heme lebih mudah penyerapannya
dibandingkan dengan non heme. Rendahnya asupan energi dapat memperburuk
kejadian anemia. Sebaliknya banyak asupan serat berkontribusi terhadap anemia
pada remaja. Serat terdapat dalam sayuran dan sereal memiliki kandungan asam
fitat tinggi sebagai inhibitor besi dalam diet, kemudian mempengaruhi kadar
hemoglobin.

C. Aktivitas Remaja
Remaja memiliki banyak kegiatan, seperti sekolah dari pagi hingga siang,
diteruskan dengan kegiatan ekstra kurikuler sampai sore, belum lagi kalau ada les
atau kegiatan tambahan. Semua kegiatan ini membuat mereka tidak sempat
makan, apalagi memikirkan komposisi dan kandungan gizi dari makanan yang
masuk ke tubuh, akibatnya remaja sering merasa kecapaian, lemas dan tidak
bertenaga. Namun kondisi cepat lelah bisa juga disebabkan anemia atau
kekurangan darah.

D. Menstruasi
Remaja dengan perdarahan menstruasi berat berisiko yang besar untuk
anemia. Menstruasi berat pada remaja tidak hanya memiliki efek negatif pada

18
kualitas hidup terkait kesehatan dan kehadiran sekolah tetapi juga implikasi
kesehatan seperti anemia defisiensi besi.

E. Pengetahuan
Pengetahuan seseorang akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam
pemilihan makanan dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap keadaan gizi
individu yang bersangkutan termasuk status anemia. Rendahnya pengetahuan
remaja tentang anemia mengakibatkan kurangnya konsumsi makanan sumber
protein hewani. Rendahnya kadar hemoglobin pada remaja putri disebabkan
beberapa faktor antara lain adanya zat penghambat absorbsi, kebutuhan zat besi
meningkat karena pertumbuhan fisik, dan kehilangan darah disebabkan
perdarahan kronis, penyakit parasit dan infeksi.
Adapun Gejala Anemia (19).
Umum:
1. Sistem kardiovaskuler: lesu, cepat lelh, palpitasi, sesak napas sat beraktivitas,
gagal jantung.
2. Sistem saraf: sakit kepala, pusing, telinga mendengung, mata berkunang-
kunang, kelemahan otot, iritbilits, lesu.
3. Sistem urogenital: gangguan haid
4. Epitel: warna pucat pada kulit dan mukosa, rambut tipis dan halus.
Khusus:
1. Anemia defisinensi zat besi: disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis angularis.
2. Anemia defisiensi asam folat: lidah merah
3. Anemia hemolitik: ikterus dan hepatosplenomegali
4. Anemia aplastik: perdarahn kulit atau mukosa dan tanda-tanda infeksi.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 Proporsi
anemia pada ibu hamil sebanyak 48,9% . Proporsi anemia pada ibu hamil lebih
banyak pada tahun 2018 dari tahun 2013 sebanyak 37,1%. Pada kelompok umur
15-24 tahun sebanyak 84,6% mengalami anemia. Pda kelompok umur 25-34
tahun ssebanyak 33,7% mengalami anemia. Pada kelompok umur 35-44 sebanyak
33,6% mengalami anemia. Kemudian, pada kelompok umur 45-54 tahun

19
sebanyak 24%. Menurut Riskesdas 2013, secara nasional, proporsi anemia
penduduk ≥1 tahun adalah 21,7 persen, pada balita 12-59 bulan adalah 28,1
persen, dan ibu hamil sebesar 37,1 persen (12).

Tabel 2.2 Proporsi anemia penduduk umur ≥1 tahun menurut karakteristik,


Indonesia 2013

Proporsi anemia Anemia (%)


penduduk umur ≥1
tahun menurut
karakteristik,
Indonesia 2013
Karakteristik
Kelompok umur
12-59 bulan 28,1
5-14 tahun 26,4
15-24 tahun 18,4
25-34 tahun 16,9
35-44 tahun 18,3
45-54 tahun 20,1
55-64 tahun 25,0
65-74 tahun 34,2
>75 tahun 46,0
Jenis kelamin
Laki-laki 18,4
Perempuan 23,9
Tempat tinggal
Perkotaan 20,6
Perdesaan 22,8
Indonesia 21,7

20
Tabel 2.2 menunjukkan proporsi penduduk umur ≥1 tahun dengan
keadaan anemia mencapai 21,7 persen secara nasional. Berdasarkan
pengelompokan umur, didapatkan bahwa anemia pada balita cukup tinggi, yaitu
28,1 persen dan cenderung menurun pada kelompok umur anak sekolah, remaja
sampai dewasa muda (34 tahun), tetapi cenderung meningkat kembali pada
kelompok umur yang lebih tinggi. Berdasarkan jenis kelamin didapatkan bahwa
proporsi anemia pada perempuan lebih tinggi dibandingkan pada laki-laki. Jika
dibandingkan berdasarkan tempat tinggal didapatkan bahwa anemia di perdesaan
lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan (13).

Pada kalimat ‘Jika dilihat dari tingkat pendidikan dan sosial ekonomi ke tiga
daerah tersebut tergolong baik’. Pada kalimat tersebut menggambarkan bahwa
tingkat pendidikan dan sosial ekonomi ke tiga daerah tersebut tergolong baik,
tetapi pada kenyataannya ke tiga daerah kabupaten kota tersebut menurut hasil
survey bahwa prevalensi dari enemia pada remaja putri diatas angka nasional
yaitu sebesar 60,3 %. Hal itu menujukkan ada faktor-fakor lain yang
mempengaruhi prevalensi anemia pada remaja putri dari ke tiga daerah tersebut,
meskipun tingkat pendidikan dan sosial ekonomi mempengaruhi status anemia
seseorang sehubungan dengan pemilihan makanan yang akan dikonsumsi oleh
seseorang. Selain itu tingkat pendidikan memilikii hubungan dengan anemia,
karena apabila tingkat pendidikan rendah maka kurang memahami mengenai
anemia dengan faktor lain, kurangmya akses mengenai nformasi anemia, kurang
dapat memilih bahan makanan yang bergizi khususnya mengenai bahan makanan
yang mengandung zat besi, dan kurang bisa menggunakan pelayanan yang
tersedia dalam menanggulangi anemia akibat kurang adanya pengetahuan (21) .
Menurut kami ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi prevalensi anemia
pada ke tiga kabupaten tersebut sehingga menyebabkan angka prevlensi di atas
angka nasional , antara lain (22) :
1. Menstuasi, Saat menstruasi terjadi pengeluaran darah dari dalam tubuh. Hal ini
menyebabkan zat besi yang terkandung dalam hemoglobin, salah satu

21
komponen sel darah merah, juga ikut terbuang. Semakin lama menstruasi
berlangsung, maka semakin banyak pengeluaran dari tubuh. Hal tersebut
mengakibatkan pengeluaran besi meningkat dan keseimbangan zat besi dalam
tubuh terganggu.
2. Riwayat penyakit, contohnya seperti Malaria karena hemolisis dan beberapa
infeksi parasit seperti cacing, trichuriasis, amoebiasis, dan schistosomiasis
menyebabkan kehilangan darah secara langsung dan kehilangan darah tersebut
mengakibatkan defisiensi besi. Adanya infeksi cacing tambang menyebabkan
pendarahan pada dinding usus, meskipun sedikit tetapi terjadi terus menerus
sehingga dapat mengakibatkan hilangnya darah atau zat besi.
3. Aktivitas fisik, pada usia remaja pola aktivitas remaja didefinisikan sebagai
kegiatan yang biasa dilakukan oleh remaja sehari-hari sehingga akan
membentuk pola. Aktivitas remaja dapat dilihat dari bagaimana cara remaja
mengalokasikan waktunya selama 24 jam dalam kehidupan sehari-hari untuk
melakukan suatu jenis kegiatan secara rutin dan berulang-ulang aktivitas fisik
selama 24 jamdibagi menjadi lima yaitu aktivitas tidur, aktivitas berat (olah
raga seperti jogging, sepak bola, atletik, dan sebagainya), aktivitas sedang
(belajar, naik tangga, mencuci, mengepel, menyetrika, menyapu, dan
sebagainya), aktivitas ringan (kegiatan sambil berdiri), dan aktivitas rileks
(duduk, berbaring, dan sebagainya). Hal itulah yang dapat mempengaruhi
angka kejadian anemia pada remaja putri.
4. Perilaku hidup sehat, cuci tangan sebelum makan merupakan salah satu faktor
determinan vstatus anemia. Sebagaimana diketahui bahwa cuci tangan sebelum
makan merupakan salah satu perilaku hidup sehat. Melalui membiasakan
mencuci tangan sebelum makan diharapkan kuman-kuman tersebut tidak turut
masuk ke dalam mulut, selanjutnya akan menyebabkan kecacingan sebab
cacing di perut sebagai pemicu terjadinya anemia. Pada saat usia remaja
seringkali tidak memperhatikan hal-hal kecil seperti mencuci tangan padahal
hal tersebut sangat penting dalam mencegah penyakit yang akan masuk ke
dalam tubuh kita.

22
Dan pada kalimat selanjutnya ‘Dinas Kesehatan harus dapat mengantisipasi
dan menanggulangi permasalahan ini’. Dalam kalimat tersebut menyatakan bahwa
Dinas Kesehatan kabupaten kota setempat harus segera melakukan
penanggulangan mengenai kejadian anemia pada remaja putri mengingat
prevalensi pada ke tiga daerah tersebut sudah diatas angka nasional. Hal yang
dapat dilakukan oleh pemerintah kabupaten kota setempat adalah dengan
bekerjasama dengan puskesmas ataupun dengan dinas kesehatan bagaimana cara
menanggulagi kejadian anemia pada remaja putri di tiga kabupaten kota tersebut.
Program yang dilakukan dinas kesehatan adalah dengan cara penyuluhan dan
edukasi kepada anak-anak remaja di sekolah dan adanya kantin sehat di sekolah
dalam mencegah terjadinya anemia pada remaja putri. Selain penyuluhan,
edukasi, dan kantin sehat, dinas kesehatan juga mempunyai program
penaggulangan anemia pada remaja putri dengan pemberian tablet tambah darah
(TTD) selama 4 bulan dan berlangsung dalam beberapa tahapan, diantaranya
pemeriksaan kabar himoglobin (Hb) dan recall pola makan pada remaja putri di
sekolah-sekolah sebelum dan setelah pemberian tablet tambah darah, pemberian
tablet darah kepada remaja putri, dan kegiatan konseling gizi, serta pemantauan
kepatuhan remaja putri dalam meminum tablet tambah darah (6).

C. Rekomendasi dan Solusi


Menurut WHO tahun 2011, anemia adalah suatu kondisi tubuh dimana kadar
hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari normal. Anemia merupakan suatu
gejala yang harus dicari penyebabnya dan penanggulangannya dilakukan sesuai
dengan penyebabnya. Anemia merupakan masalah gizi yang paling umum di
seluruh dunia, terutama disebabkan karena defisiensi besi. Kekurangan zat besi
tidak terbatas pada remaja status sosial ekonomi pedesaan yang rendah tetapi
menunjukkan peningkatan prevalensi di masyarakat yang makmur dan
berkembang. Remaja putri merupakan salah satu kelompok yang rawan menderita
anemia gizi besi karena mempunyai kebutuhan zat besi yang tinggi untuk
pertumbuhan dan peningkatan kehilangan akibat menstruasi (17,20).

23
Dari pihak pemerintah sendiri telah memberikan berbagai macam cara untuk
menganggulangi anemia dengan cara bekerja sama dengan sektor terkait dan
membuat berbagai kebijakan. Tidak hanya padi pihak pemerintah, dari pihak
terdekat sendiripun perlu mencegah dan menanggulangi adanya anemia terutama
remaja itu sendiri.
1. Suplementasi zat besi
Pada keadaan dimana zat besi dari makanan tidak mencukupi
kebutuhanterhadap zat besi, perlu didapat dari suplementasi zat besi. Pemberian
suplementasi zat besi secara rutin selama jangka waktu tertentu bertujuan untuk
meningkatkan kadar hemoglobin secara cepat, dan perlu dilanjutkan untuk
meningkatkan simpanan zat besi di dalam tubuh (23).
Untuk meningkatkan penyerapan zat besi sebaiknya TTD dikonsumsi bersama
dengan buah-buahan sumber vitamin C (jeruk, pepaya, mangga, jambu biji dan
lain-lain) dan sumber protein hewani, seperti hati, ikan, unggas dan daging (23).
Upaya pemerintah dalam menanggulangi masalah anemia gizi tidak selalu
berjalan dengan baik dan efektif. Penelitian Kheirouri menyebutkan bahwa selain
ketersediaan tablet besi dan efek samping yang ditumbulkan oleh tablet, terdapat
faktor lainnya yang dapat meme-ngaruhi keefektifan program suplementasi besi
yaitu dipengaruhi kualitas TTD, cara sosialisasi kepada remaja putri, peran
orangtua, kerjasama stakeholder, serta pelatihan educator (6).
Indikator keberhasilan (outcome) dari program pelaksanaan pemberian TTD
yaitu menurunnya prevalensi anemia pada kelompok sasaran. Indikator yang
dapat digunakan untuk menilai keberhasilan suatu program yakni peningkatan
kadar Hb dan perubahan status anemia (23).
2. Meningkatkan asupan makanan sumber zat besi
Meningkatkan asupan makanan sumber zat besi dengan pola makan bergizi
seimbang, yang terdiri dari aneka ragam makanan, terutama sumber pangan
hewani yang kaya zat besi (besi heme) dalam jumlah yang cukup sesuai dengan
AKG. Selain itu juga perlu meningkatkan sumber pangan nabati yang kaya zat
besi (besi non-heme), walaupun penyerapannya lebih rendah dibanding dengan
hewani. Makanan yang kaya sumber zat besi dari hewani contohnya hati, ikan,

24
daging dan unggas, sedangkan dari nabati yaitu sayuran berwarna hijau tua dan
kacang-kacangan. Untuk meningkatkan penyerapan zat besi dari sumber nabati
perlu mengonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C, seperti jeruk,
jambu. Penyerapan zat besi dapat dihambat oleh zat lain, seperti tanin, fosfor,
serat, kalsium, dan fitat (23).
3. Fortifikasi bahan makanan
Fortifikasi bahan makanan yaitu menambahkan satu atau lebih zat gizi
kedalam pangan untuk meningkatkan nilai gizi pada pangan tersebut. Penambahan
zat gizi dilakukan pada industri pangan, untuk itu disarankan membaca label
kemasan untuk mengetahui apakah bahan makanan tersebut sudah difortifikasi
dengan zat besi. Makanan yang sudah difortifikasi di Indonesia antara lain tepung
terigu, beras, minyak goreng, mentega, dan beberapa snack. Zat besi dan vitamin
mineral lain juga dapat ditambahkan dalam makanan yang disajikan di rumah
tangga dengan bubuk tabur gizi atau dikenal juga dengan Multiple Micronutrient
Powder (23).
Rekomendasi global berdasarkan WHO tahun 2011 menganjurkan untuk
daerah dengan prevalensi anemia ≥ 40%, pemberian TTD pada rematri dan WUS
terdiri dari 30-60 mg elemental iron dan diberikan setiap hari selama 3 bulan
berturut-turut dalam 1 tahun (WHO, 2016). Sedangkan untuk daerah yang
prevalensi anemianya ≥ 20%, suplementasi terdiri dari 60 mg elemental iron dan
2800 mcg asam folat dan diberikan 1 kali seminggu selama 3 bulan on (diberikan)
dan 3 bulan off (tidak diberikan) (23).
Saran untuk program yakni program pemberian TTD selanjutnya bisa
dilakukan dengan cara minum TTD bersama pada hari yang sudah ditentukan agar
mengurangi alasan siswa untuk lupa mengonsumsi serta selalu meletakkan kartu
kepatuhan di rak kelas di sekolah. Selain itu juga, sosialisasi konsumsi TTD bisa
dilakukan pada orangtua siswa agar siswa mendapat dukungan dan orangtua
memahami pentingnya mengonsumsi TTD serta menyediakan makanan yang kaya
akan zat besi khususnya lauk hewani yang masih jarang dikonsumsi oleh subjek
(daging sapi, daging ayam, hati dan ikan). Saran untuk sasaran program yakni
fokus sasaran program pada remaja putri yang mengalami anemia lebih

25
diutamakan. Kepatuhan mengonsumsi TTD sangat rendah dari program TTD pada
remaja putri, motivasi dan dukungan baik dari orangtua dan guru sangat penting
dilakukan. Edukasi dan pelatihan terhadap guru oleh petugas kesehatan terkait
pentingnya program TTD dan penatalaksanaan program TTD sangat penting
dilakukan. Saran untuk penelitian selanjutnya yakni dapat diberikan perbandingan
kontrol terhadap study effectivenes program PPAGB (6).

26
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Remaja puteri adalah mereka yang berada pada tahap transisi antara masa
kanak-kanak dan dewasa (10 -19 tahun). Remaja puteri lebih banyak mengalami
anemia dikarenakan zat besi yang ada di tubuh seorang wanita tidah hanya
digunakan untuk pertumbuhan saja, melainkan juga untuk mengganti darah yang
keluar saat menstruasi. Anemia dapat disebabkan Karena rendahnya kesadaran
diri untuk mengonsumsi makanan bergizi dan menjaga pola makan. Juga
kebiasaan remaja yang gemar mengkonsumsi junk food/fast food.
Anemia adalah kondisi dimana kadar hemoglobin kurang dari yang diharapkan
sesuai dengan usia dan jenis kelamin, dimana kadar hemoglobin saat kita lahir
tinggi (20 gram/dl), tetapi menurun pada kehidupan tiga bulan pertama sampai
angka terendah (10 gram/dl) sebelum meningkat kembali menjadi nilai dewasa
normal (>12 gram/dl) pada wanita dan >14 gram/dl pada pria). Dampak dari
anemia yaitu mengurangi produktivitas seseorang, menurunkan konsentrasi
belajar hingga berpengaruh pada prestasi belajar, kemudian dapat berdampak pada
kehamilan remaja puteri tersebut dikemudian hari.
B. Saran
Pada saat ini fokus dari penanganan Anemia lebih banyak terdapat pada
wanita/ibu hamil dibandingkan dengan penanganan Anemia pada remaja putri,
diharapkan untuk kedepannya pemerintah lebih memperhatikan kejadian anemia
yang terjadi pada remaja putri. Untuk terjalannya suatu kebijakan penanganan
anemia dengan baik pemerintah sebaiknya memperhatikan keefektifan program
suplementasi besi yaitu yang dipengaruhi kualitas TTD, cara sosialisasi kepada
remaja putri, peran orangtua, kerjasama stakeholder, serta pelatihan educator.
Dalam hal ini Peran Kader harus kembali digerakkan agar dapat mencegah dan
menanggulangi Anemia. Kegiatan pemberian TTD yang dilakukan harus lebih
efektif, terencana dan dapat mencakup sasaran secara menyeluruh.

27
DAFTAR PUSTAKA
1. Sari HP, Endo D, Dian A. Anemia gizi besi pada remaja putri di wilayah
Kabupaten Banyumas. Jurnal Kesmas Indonesia 2016; 8 (1) : 16-31.
2. Sekhar DL, dkk. Differences in risk factors for anemia between adlescent and
adult women. Journal Of Women’s Health 2016; 25(5) : 505–513.
3. Handayani W, Andi SH. Asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan
sistem hematologi. Jakarta; Salemba Medika: 2012.
4. Jaelani M, Betty YS, Emy Y. Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian
anemia pada remaja putri. Jurnal Kesehatan 2017; 8(3): 358 – 368.
5. Purwandari A, Freike L, Feybe P. Faktor-faktor yang berhubungan dengan
kejadian anemia. Jurnal Ilmiah Bidan 2016; 4(1): 62 – 68.
6. Permatasari T, Dodik B, Siti M. Efektivitas program suplementasi zat besi
pada remaja putri di kota Bogor. Jurnal MKMI 2018; 14(1) : 1 – 8.
7. Masthalina H, Yuli L, Yuliana PD. Pola konsumsi (faktor inhibilitor dan
enhancer Fe) terhadap status anemia remaja putri. Jurnal Kesehatan
Masyarakat. 2015;11(1):80-86
8. Permaesih D, Susilowati H. Faktor-faktor yang mempengaruhi anemia pada
remaja. Jurnal Litbang Kemkes 2005;33(4):162-171.
9. Wibowo CDT, Harsoyo N, Afiana R. Hubungan antara status gizi dengan
anemia pada remaja putri di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah 3
Semarang. Jurnal Kedokteran Muhammadiyah 2013;1(2):1-4.
10. Hasyim NA, dkk. Pengetahuan risiko, perilaku pencegahan anemia dan kadar
hemoglobin pada remaja putri. PROFESI (Profesional Islam) 2018; 15(2): 28-
33.
11. Citrakesumasari. Anemia gizi masalah dan pencegahannya. Yogyakarta.
KALIKA; 2012.
12. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset kesehatan dasar. 2018;
Jakarta: Kemenkes RI.
13. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset kesehatan dasar. 2013;
Jakarta: Kemenkes RI.
14. Rooslyn IPT. Strategi dalam penanggulangan pencegahan anemia pada
kehamilan. Jurnal Ilmiah Widya 2016; 3(3): 1-9.
15. Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. Pedoman pencegahan dan
penanggulangan anemia pada remaja putri dan wanita usia subur. 2016;
Jakarta: Kemenkes RI.
16. Sofia D, Supratiknyo . Peningkatan perilaku penatalaksanaan anemia remaja
puteri melalui Peer Group sharing. Jurnal Kebidanan 2018; 5(2): 113-118.
17. Aulia YG, dkk L. Gambaran status anemia pada remaja puteri di wilayah
pegunungan dan pesisir pantai. Jurnal kesehatan masyarakat 2017; 5(1): 193-
2000.
18. Fikawati S, Syafiq A, Nurjuaida S. pengaruh suplementasinzat besi satu dan
dua kali perminggu terhadap kadar hemoglobin pada siswi yang menderita
anemia. 2015: 24(4): 167-175.
19. Baradero, Mary et al. Klien Gangguaan Kardiovaskular: Seri Asuhan
Keperawatan. 2008; Jakarta: EGC.
20. Suryani D, dkk. Analisis pola makan dan anemia gizi besi pada remaja putri
Kota Bengkulu. Jurnal kesehatan masyarakat andalas; 2015: 10(1): 11-18.
21. Sari SE dkk, anemia dan akibat fisik yang ringan mempengaruhi faktor risiko
dismenore pada remja putri. Jurnal kesehatan masyarakat. 2018 ; 6(5) : 437-
445.
22. Oehadian A. Pendekatan klinis dan diagnosis anemia. Jurnal continuing
mmedical education. 2012 ; 39 (6) : 407-412.
23. Direktorat Gizi Masyarakat. Pedoman pencegahan dan penanggulangan
anemia pada remaja putri dan wanita usia subur (wus). Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2016.