Anda di halaman 1dari 9

HUBUNGAN TINGKAT SPIRITUALITAS DENGAN REGULASI EMOSI

PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS (GGK) YANG MENJALANI


HEMODIALISA (HD) DI RSU NIRMALA PURBALINGGA

The Relationship Between Spirituality Level With Emotional Regulation In Patients


Chronic Renal Failure With Hemodialysis Nirmala Hospital of Purbalingga
Kukuh Dwi Setiaji1, Widyoningsih2,Dewi Prasetyani3
1,2,3 Health Science Institute Al-Irsyad Al-Islamiyyah Cilacap
Jl. Cerme No. 24 Sidanegara Cilacap
Kukuhdwisetiaji@ymail.com

ABSTRAK
Hemodialisa merupakan harapan terakhir bagi pasien gagal ginjal kronis yang
merupakan gangguan fungsi ginjal yang memberikan dampak negatif meliputi
penurunan dari aspek biologis, psikologis, sosio kultural, dan spiritualitas. Tingkat
spiritualitas memberikan peranan penting dalam regulasi emosi pada pasien gagal ginjal
kronis yang menjalani Hemodialisa. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi
tingkat spiritualitas terhadap regulasi emosi pada pasien GGK yang menjalani
hemodialisa di RSU Nirmala Purbalingga pada bulan juni 2019. Penelitian ini
merupakan penelitian deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik
pengumpulan sampel dengan purposive sampling dengan jumlah sampel 48 responden.
Analisa data menggunakan spearman rank. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh
angka koefisien korelasi sebesar 0,389, artinya tingkat kekuatan hubungan antar
variabel tingkat spiritual dengan regulasi emosi dikategorikan moderat dengan jenis
hubungan searah, sedangkan hubungan kedua variabel didapatkan nilai signifikansi
sebesar 0,006 (< 0,05) yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat
spiritual dengan regulasi emosi.

Kata Kunci: Gagal Ginjal Kronis, Hemodialisa, Tingkat Spiritual, Regulasi Emosi

ABSTRACT
Hemodialysis is the last hope for patients with chronic renal insufficiency which
is a disorder of renal function that negatively impacts include a decline of biological,
psychological, socio-cultural, and spirituality aspects. The spirituality provides an
important role in emotional regulation in patients with chronic renal failure who
undergo hemodialysis. The purpose of this research is to identify the spirituality level
on emotional regulation in cronic renal failure patients with hemodialysis at Nirmala
Hospital of Purbalingga in June 2019. This research is a correlative descriptive study
with a cross sectional approach. Sample collection technique with purposive sampling
with sample are 48 respondents. Data analysis using Spearman rank. Based on the
results of the study obtained a correlation coefficient number of 0.389, meaning the
level of relationship strength between the variables of the spiritual level with the
regulation of emotion is categorized moderate to the direct relationship type, while the
relationship of both Obtained a significance value of 0.006 (< 0.05) which means there
is a significant relationship between spiritual levels and emotional regulation.

Key Words: Chronic Renal Failure, Hemodialysis, Spiritual Level, Emos Regulation
PENDAHULUAN Menurut Reivich dan Shatte (2002)
Gagal Ginjal Kronis (GGK) untuk dapat bertahan dalam kondisi
merupakan masalah kesehatan yang seperti itu, para penderita gagal ginjal
signifikan dan terus berkembang di kronik perlu memiliki kemampuan
Amerika Serikat. GGK menempati untuk mengatasi dan beradaptasi
posisi ke-9 dari total 15 penyebab utama terhadap kejadian yang berat atau
kematian yang terjadi di Amerika masalah yang terjadi dalam kehidupan,
Serikat pada tahun 2015 (Murphy., et al, bertahan dalam keadaan tertekan, dan
2017). Pada pasien yang menderita bahkan berhadapan dengan
gagal ginjal kronik kemungkinan akan kesengsaraan atau trauma yang dialami
dihadapkan oleh pilihan terapi salah dalam kehidupannya yang disebut
satunya yaitu terapi hemodialisa. dengan regulasi emosi.
Hemodialisa merupakan suatu bentuk Regulasi emosi adalah kemampuan
terapi yang digunakan untuk individu untuk tetap tenang di bawah
menggantikan fungsi ginjal dengan kondisi yang menekan. Individu yang
bantuan mesin dialisis. Keadaan memiliki regulasi emosi yang rendah,
ketergantungan pada mesin dialisis kurang memiliki kemampuan untuk
seumur hidupnya serta penyesuaian diri mengatur emosi ketika berada dalam
terhadap kondisi sakit bisa situasi yang menekan, sedangkan
mengakibatkan terjadinya perubahan individu yang memiliki regulasi emosi
dalam kehidupan pasien. Perubahan yang tinggi mereka akan mampu dalam
dalam kehidupan, penurunan seksual mengatur emosinya ketika mengalami
serta perubahan gaya hidup, perubahan kesulitan dan berada dalam situasi yang
tingkat aktivitas, nafsu makan, pikiran tidak membuatnya nyaman. Dengan
tentang kematian, yang dapat memiliki regulasi emosi yang baik,
menyebabkan kecemasan dan depresi dapat membantu individu untuk dapat
pada pasien (Kohli, Barta, & Aggrawal, bertahan dalam situasi yang
2011). menegangkan (Reivich dan Shatte,
Terapi hemodialisa akan berjalan 2002).
terus menerus sampai akhir hidup Pengendalian impuls adalah
pasien, bilamana pasien tidak kemampuan individu untuk
melakukan transplantasi ginjal dan hal mengendalikan keinginan, dorongan,
tersebut bisa menjadi sebuah stressor kesukaan, serta tekanan yang muncul
pada pasien GGK yang menjalani dari dalam diri. Individu yang memiliki
hemodialisa. Stressor ini meliputi aspek pengendalian impuls yang rendah
biologis, psikologis, sosio kultural, dan cenderung cepat mengalami perubahan
spiritual. Hal ini juga berdampak pada emosi yang pada akhirnya
fisik yang mengakibatkan mual, mengendalikan pikiran dan perilaku
muntah, nyeri, lemah otot, dan oedema mereka. Mereka tidak dapat
yang menjadi ciri-ciri dari pasien yang mengendalikan tekanan yang sedang
menjalani hemodialisa. Individu yang mereka rasakan sehingga hal tersebut
menjalani terapi hemodialisa jangka mempengaruhi kehidupan mereka
panjang sering merasa khawatir akan sehari-hari. Sedangkan, individu yang
kondisi penyakit yang tidak dapat memiliki pengendalian impuls yang
diramalkan dan gangguan yang terjadi tinggi cenderung dapat mengendalikan
dalam kehidupan akibat penyakit dorongan-dorongan serta tekanan dari
menyebabkan kualitas hidup yang tidak dalam diri mereka. Individu mampu
optimal (Desnauli & Efendi, 2011). untuk mencegah kesalahan pemikiran
sehingga dapat memberikan respon emosi negatif seperti menangis, menarik
yang tepat pada permasalahan yang diri, cemas dan marah, kemudian
dihadapi. Aspek ini sangat berkaitan ditunjang dengan tanda-tanda fisik
dengan regulasi emosi (Reivich dan seperti nafsu makan terganggu,
Shatte, 2002). kesulitan tidur dan tekanan darah
Seseorang yang mengalami meningkat (Masluchah & Sutrisno,
penyakit degeneratif umumnya 2010).
merasakan ketakutan terhadap nyeri Spiritulitas dapat meningkatkan
fisik, ketidaktahuan, kematian, dan kesehatan mental terhadap suatu
ancaman terhadap integritas. Pasien diagnosis penyakit kronis. Kekuatan
mungkin mempunyai ketidakpastian spiritual seseorang yang rendah dapat
tentang makna kematian sehingga menimbulkan permasalahan psikososial
mereka menjadi rentan terhadap distress di bidang kesehatan. Nagai-Jaconsen &
spiritual. Terdapat juga pasien yang Burkhart (dalam Fanada, 2012)
mempunyai keyakinan spiritual tentang mengatakan bahwa pemenuhan
ketenangan yang membuat mereka kebutuhan spiritual merupakan bentuk
mampu untuk menghadapi kematian pelaksanaan pelayanan keperawatan
tanpa rasa takut (Potter and Perry, bagi penderita penyakit degeneratif.
2005). Spiritualitas merupakan sumber daya
Kebutuhan spiritual merupakan penting untuk bertahan menjalankan
kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh penyakit.
setiap manusia terutama yang memiliki Penelitian dengan judul Tingkat
masalah kesehatan. Apabila seseorang Spiritualitas Pada Pasien Gagal Ginjal
dalam keadaan sakit, maka hubungan Kronik Dengan Hemodialisis di Unit
dengan Tuhan semakin dekat, Hemodialisis RS PKU Muhammadiyah
mengingat seseorang dalam kondisi Yogyakarta yang dilakukan oleh Arni
sakit menjadi lemah dalam segala hal, Yuliyanti (2010), bertujuan untuk
tidak ada yang mampu mengetahui tingkat spiritualitas pada
membangkitkannya dari kesembuhan, pasien gagal ginjal kronik di RS PKU
kecuali sang pencipta (Hamid, 2009). Muhammadiyah Yogyakarta dengan
Kebutuhan spiritual yang tidak jumlah responden sebanyak 35 orang.
terpenuhi akan menyebabkan individu Didapatkan hasil bahwa tingkat
mengalami ke tingkat yang lebih serius spiritualitas pada pasien gagal ginjal
yaitu distress spiritual, yang merupakan kronik dengan hemodialisis di unit
suatu keadaan ketika individu atau hemodialisis RS PKU Muhammadiyah
kelompok mengalami resiko mengalami Yogyakarta secara umum didapatkan
gangguan dalam kepercayaan atau hasil baik 14,3 %, cukup 77,1%, kurang
sistem nilai yang memberikannya 8,6%. Penelitian tentang tingkat
kekuatan, harapan dan arti kehidupan, kecemasan pada pasien penyakit ginjal
yang ditandai dengan pasien meminta kronik (PGK) yang menjalani
pertolongan spiritual, mengungkapkan hemodialisis di BLU RSUP Prof. Dr. R.
adanya keraguan dalam sistem D. Kandou Manado yang dilakukan
kepercayaan, adanya keraguan yang oleh Jangkup (2015), hasil penelitian
berlebihan dalam mengartikan hidup, memperlihatkan 40 responden. Pasien
mengungkapkan perhatian yang lebih GGK yang menjalani hemodialisis
pada kematian dan sesudah hidup, kurang dari 6 bulan memiliki tingkat
adanya keputusan, menolak kegiatan kecemasan yang berat dibandingkan
ritual dan terdapat tanda munculnya
dengan pasien GGK yang menjalani Scale (DSES) yang terdiri dari 16 item
hemodialisis lebih dari 6 bulan. disusun oleh Underwood, LG untuk
Hasil studi pendahuluan dengan meneliti pengalaman spiritual seseorang
penderita gagal ginjal didapatkan hasil 3 dalam kehidupan sehari-hari. DSES
penderita gagal ginjal mengatakan terdiri dari 16 item pertanyaan yang
sering berdo’a, sering membaca buku- bersifat positif (favorable).
buku keagamaan di rumah serta ikhlas Kuesioner regulasi emosi yang
dengan penyakit yang dideritanya dan 2 dibuat oleh peneliti sebelumnya yaitu
penderita gagal ginjal mengatakan Ikhwanisifa (2008) yang bertujuan
merasa bosan harus cuci darah terus menilai regulasi emosi responden, yang
menerus, merasa tidak ada gunanya lagi terdiri dari 27 pertanyaan valid yang
untuk hidup dan tinggal menunggu sebelumnya terdapat 38 pertanyaan
waktu saja, berperilaku tertutup, tidak sebelum uji validitas, pertanyaan terdiri
tertarik untuk berkomunikasi terbuka dari 12 pertanyaan favorable dan 15
dengan orang lain maupun dengan pernyataan unfavorable.
perawat. Untuk mengetahui hubungan antara
Berdasarkan fenomena tersebut, tingkat spiritualitas dengan regulasi
penelitian mengenai hubungan tingkat emosi pada pasien gagal ginjal kronik
spiritualitas dengan regulasi emosi pada menggunakan uji analisis Spearman
pasien Gagal Ginjal Kronis (GGK) yang Rank.
menjalani Hemodialisa (HD) di RSU
Nirmala Purbalingga sangat penting HASIL PENELITIAN
dilakukan sebagai langkah untuk Penelitian ini melibatkan 48
meningkatkan peran perawat dan pasien yang menderita gagal ginjal
keluarga dalam perawatan pasien gagal kronis dan sedang menjalani
ginjal kronik khususnya pada tingkat hemodialisa di RSU Nirmala
spiritualitas pasien. Purbalingga tahun 2019. Hasil
penelitian sebagai berikut :
METODE PENELITIAN
Rancangan penelitian yang 1. Karakteristik Pasien Gagal Ginjal
digunakan adalah cross sectional. Kronis di RSU Nirmala
Dalam mengambil data hanya
responden yang memenuhi kriteria Tabel 4.1. Distribusi Karakteristik
inkulsi yang dapat dijadikan responden Pasien Gagal Ginjal Kronis (n = 48)
dan peneliti menggunakan purposive Karakteristik Pasien f %
sampling dalam mengambil sampel, 1. Usia
pengambilan data dilakukan saat  ≤ 45 Tahun 15 31,2
responden sedang di hemodialisis.  > 45 Tahun 33 68,8
Pada penelitian jumlah responden 2. Jenis Kelamin
yang sudah dilakukan penelitian yaitu  Laki-Laki 25 52,1
sebanyak 48 responden. Penelitian ini  Perempuan 23 47,9
dilakukan di Ruang Hemodialisa RSU 3. Lama HD
Nirmala Purbalingga dan proses  ≤ 12 Bulan 24 50
 > 12 Bulan 24 50
penelitian dimulai pada bulan Maret 4. Frekuensi HD
2019.  1 kali/minggu 15 31,2
Instrumen dalam penelitian ini  2 kali/minggu 33 68,8
adalah menggunakan kuesioner tingkat (Sumber : Data Primer, 2019).
spiritualitas Daily Spiritual Experience
adalah berserah diri pada Sang
Berdasarakan tabel 4.1, diketahui Pencipta.
bahwa sebagian besar 33 (68,8%) Menurut Hamid (2000),
pasien dalam penelitian ini berusia >45 dalam kondisi sakit akan
tahun. Pada jenis kelamin dapat meningkatkan keinginan dan
diketahui bahwa sebagian besar 25 keyakinan spiritualitasitas dari
(52,1%) pasien dalam penelitian ini seseorang untuk melakukan
berjenis kelamin laki-laki. Berdasarakan sembahyang dan berdoa.
lama HD, dapat diketahui bahwa pasien Partisipan juga mengungkapkan
yang telah menjalani Hemodialisa (HD) bahwa sakit yang dialami
selama ≤ 12 bulan dan >12 bulan adalah mendorong mereka untuk lebih
sama besar yaitu 24 pasien dengan dekat dengan Tuhan dan lebih
persentase sebesar 50%. Pada frekuensi banyak beribadah.
Hemodialisa (HD), dapat diketahui Spiritualitas merupakan
bahwa sebagian besar 33 pasien dengan hubungan yang memiliki dua
persentase sebesar 68,8% menjalani dimensi, yaitu antara individu
perawatan terapi hemodialisa sebanyak dengan Tuhan dan individu
2 kali dalam satu minggu dengan diri sendiri, orang lain,
dan lingkungan (Hamid, 2009).
2. Analisis Univariat Spiritualitas diyakini sebagai
a. Tingkat Spiritual Pada Pasien sumber harapan dan kekuatan
Gagal Ginjal Kronis di RSU serta merupakan kebutuhan dasar
Nirmala Purbalingga bagi setiap individu pada semua
rentang usia. Spiritualitas
Tabel 4.2.Distribusi Pasien memberi kekuatan yang
Berdasarkan Tingkat Spiritualitas menyatukan antar individu,
pada Pasien Gagal Ginjal Kronik memberi makna pada kehidupan,
di RSU Nirmala (n = 48) nilai-nilai kehidupan, dan
Tingkat Spiritual f % mempererat ikatan antar individu.
Tingkat Spiritual Sedang 10 20,8
Tingkat Spiritual Tinggi 38 79,2 b. Kedekatan Dengan Tuhan Pada
Total 48 100 Pasien Gagal Ginjal Kronis di
(Sumber : Data Primer, 2019). RSU Nirmala Purbalingga
Berdasarakan Tabel 4.2 di Tabel 4.3.Distribusi Pasien
Berdasarakan data di atas, dapat Berdasarkan Kedekatan Dengan
diketahui bahwa sebagian besar Tuhan Pada Pasien Gagal Ginjal
38 (79,2%) responden memiliki Kronik di RSU Nirmala
tingkat spiritual yang tinggi dan Purbalingga (n = 48)
responden yang tingkat spiritual Kedekatan
yang sedang sebanyak 10 (20,8%) f %
Dengan Tuhan
responden. Menurut peneliti hasil Tidak Sama Sekali 1 2,1
diatas dikarenakan pasien gagal Agak Dekat 1 2,1
Dekat 19 39,6
ginjal kronis sudah pasrah dengan
Sangat Dekat 27 56,2
keadaanya dan mengerti bahwa Total 48 100
hidupnya tergantung dengan alat (Sumber : Data Primer, 2019).
hemodialisa untuk
memperpanjang hidupnya Berdasarakan data di atas,
sehingga hal yang dilakukan dapat diketahui bahwa sebagian
besar 27 (56,2%) responden yang memiliki regulasi emosi yang
merasakan sangat dekat dengan sedang dan responden dengan
Tuhannya, 19 (39,6%) responden regulasi emosi pada kategori baik
merasa dekat dengan Tuhannya. sebanyak 23 (47,9%) responden.
Responden yang tidak merasa Menurut peneliti
dekat dan agak dekat dengan perbandingan jumlah responden
Tuhannya sebanyak 1 (2,1%). dengan regulasi emosi sedang
Dossey (2005) menyatakan sedikit lebih banyak dibandingkan
bahwa hubungan manusia dengan dengan regulasi emosi yang baik
sang Pencipta merupakan elemen dikarenakan masih terdapat
pertama dalam spiritualitas. Lebih responden yang masih sedikit
mendekatkan diri kepada Tuhan belum menerima kondisinya
merupakan strategi koping yang sehingga kadang terjadi
paling sering digunakan oleh perubahan suasana hati. Hal ini
pasien untuk mengatasi stres sejalan dengan pernyataan
karena penyakit yang dideritanya. Lichodziejewska (dalam Asti,
Ketika penyakit menyerang Hamid dan Putri, 2014) bahwa
seseorang kekuatan spiritual dapat penderita gagal ginjal kronis
membantunya ke arah mengalami penderitaan, emosi
penyembuhan atau pada negatif, kecemasan dan gangguan
perkembangan kebutuhan dan mood.
perhatian spiritual. Kekuatan Regulasi emosi adalah
spiritualitas seseorang dapat proses dalam mengatur emosi dan
menjadi faktor penting dalam cara bagaimana mengalaminya dan
menghadapi perubahan yang mengungkapkannya (Thompson
diakibatkan oleh penyakit kronis. & Gross, 2006). Gross (2014),
Selain itu, komponen spiritualitas mengungkapkan ada lima bentuk
juga terdiri dari hubungan proses regulasi emosi yaitu
manusia dengan alam, hubungan pemilihan situasi, perubahan
dengan dirinya sendiri dan situasi, pengerahan perhatian,
hubungan dengan orang lain. perubahan kognitif dan perubahan
respons. Sedangkan menurut
c. Regulasi Emosi Pada Pasien Gottman dan Katz (dalam
Gagal Ginjal Kronis di RSU Anggreiny, 2014) regulasi emosi
Nirmala Purbalingga merujuk pada kemampuan untuk
menghalangi perilaku tidak tepat
Tabel 4.4 Distribusi Pasien Gagal akibat kuatnya intensitas emosi
Ginjal Kronis Berdasarkan positif atau negatif yang
Regulasi Emosi di RSU Nirmala dirasakan, dapat menenangkan
Purbalingga diri dari pengaruh psikologis yang
Regulasi Emosi f % timbul akibat intensitas yang kuat
Sedang 25 52,1 dari emosi, dapat memusatkan
Baik 23 47,9
perhatian kembali dan
Total 48 100
(Sumber : Data Primer, 2019). mengorganisir diri sendiri untuk
mengatur perilaku yang tepat
Berdasarakan data di atas, untuk mencapai suatu tujuan.
dapat diketahui bahwa sebagian .
besar 25 (52,1%) responden
3. Analisis Bivariat Pasien penderita penyakit
Analisis bivariat dilakukan Gagal Ginjal Kronis (GGK)
untuk mengetahui ada atau tidaknya seringkali mempengaruhi seluruh
hubungan tingkat spiritualitas dengan dirinya, termasuk pikiran, perasaan,
regulasi emosi, analisis bivariat emosi, dan pusat kepribadiannya.
menggunakan uji Spearman Rank Dalam ilmu psikoneuroimunologi
dengan hasil sebagai berikut : yaitu ilmu yang meneliti hubungan
antara jiwa, saraf, dan sistem
Tabel 4.5. Hubungan Tingkat kekebalan, diketahui bahwa respon
Spiritualitas dengan Regulasi Emosi emosi seseorang terhadap penyakit
Pasien Gagal Ginjal Kronis di RSU yang dideritanya berupa
Nirmala Purbalingga kegembiraan atau kesedihan,
Regulasi Emosi kedamaian atau ketakutan, sukacita
Tingkat Sedang Baik atau kemarahan, tekanan perasaan
Spiritual N % N % bersalah, atau perasaan malu dapat
Sedang 9 18,8 1 2,1
Tinggi 16 33.3 22 45,8 mempengaruhi hati, pembuluh-
Rho = 0,389 p-value = 0,006 pembuluh darah, sistem pencernaan
(Sumber : Data Primer, 2019). dan organ-organ lainnya (Kinasih,
2012).
Berdasarkan kriteria, maka Kesembuhan fisik pada lanjut
hasil analisis menunjukan bahwa usia berkaitan dengan pemulihan
besarnya korelasi antara tingkat pribadi lanjut usia. Kesembuhan
spiritual dengan regulasi emosi berarti hilangnya penyakit dari tubuh
sebesar 0,389. Artinya hubungan lanjut usia sedangkan pemulihan
antara tingkat spiritual dengan berarti mengembalikan pribadi lanjut
regulasi emosi mempunyai hubungan usia ke dalam keadaan sehat. Dalam
yang moderate. Dimana hubungan menangani penyakit kronis yang
antar variabel bersifat signifikan, kemungkinan untuk sembuh sangat
karena angka probabilitas (sig) kecil, dokter dan perawat perlu
sebesar 0,006 yang dimana angka bekerja sama dengan petugas rohani
tersebut lebih kecil dari 0,05. (0,006 untuk menolong pasien lanjut usia
< 0,05), hasil tersebut diketahui merasa tidak begitu sakit. yaitu
bahwa terdapat hubungan yang dengan jalan memulihkan pikitan,
siginifikan antara tingkat spiritual perasaan, emosi, dan hubungannya
dengan regulasi emosi pada pasien dengan orang lain. Dengan terjadinya
GGK yang menjalani Hemodialisa. pemulihan pribadi maka penyakit
Menurut Yulianti (2010), yang tak tersembuhkan itu dapat
menyatakan bahwa spiritualitas berkurang bahkan akan timbul
berperan penting dalam berfikir dan motivasi kesembuhan yang membuat
bertingkah laku seseorang yang pasien lanjut usia lebih optimis
menjalani hemodialisa. Sehingga dalam menghadapi penyakitnya
dapat disimpulkan bahwa pasien (Kinasih, 2012).
yang memiliki tingkat spiritual yang Beek (2007), mengatakan
tinggi akan memiliki regulasi emosi bahwa spiritual mempunyai
yang baik dalam mengontrol cara spektrum yang menyeluruh atau
berpikir dan bertingkah laku selama holistik, bermuara pada pengetahuan
menjalani terapi hemodialisa pasien ketika sedang menghadapi
masalah. Peran ini merupakan hal
yang tidak boleh diabaikan guna sakit tersebut (Sudiharto, 2007).
mengatasi permasalahan seputar Dukungan ini memperlihatkan
kejiwaan para penderita penyakit kepedulian dan kasih sayang bagi
kronis. Walton (2007), menyatakan pasien sehingga sangat berarti
dalam penelitiannya bahwa baginya dalam melakukan koping
spiritualitas juga tidak terlepas dari yang adaptif dalam menghadapi
keterhubungan dan dukungan dari penyakitnya dan menjalani
keluarga. Keluarga juga merupakan hemodialisa. Faktor-faktor yang
sumber utama harapan bagi pasien meningkatkan harapan pada pasien
yang menjalani perawatan terapi yang menjalani hemodialisis adalah
hemodialisis (HD), baik dari orang pasien dapat melakukan aktivitas
tua, suami, maupun keluarga besar bersama-sama dengan keluarga dan
(Weil, 2000). teman-teman dan perasaan
Pasien yang menjalani dibutuhkan atau perasaan berguna
hemodialisis juga membutuhkan untuk orang lain (Weil, 2000).
dukungan dari lingkungan sosialnya
dalam menjalani kehidupan sehari- PENUTUP
hari. Sejalan dengan penelitian Berdasarkan dari di dapat beberapa
Novalia (2011) yang mengatakan kesimpulan yaitu pada tingkat spiritual
strategi koping lainnya selain mayoritas responden memiliki tingkat
spiritualitas yang membantu pasien spiritual yang tinggi sebanyak 38
untuk melakukan koping adaptif responden (79,2%) dibandingkan dengan
adalah dukungan sosial. Dukungan responden yang tingkat spiritual yang
sosial merupakan sumber daya sedang.
eksternal utama dalam menghadapi Pada regulasi emosi mayoritas
masalah dan merupakan salah satu responden memiliki regulasi emosi yang
faktor yang menentukan kemampuan sedang 25 responden (52,1%)
seseorang untuk beradaptasi terhadap dibandingkan dengan responden dengan
masalah yang dihadapinya (Potter & regulasi emosi pada kategori baik
Perry, 2005). sebanyak 23 (47,9%) responden.
Dukungan sosial membuat Dari hasil uji analisis bivariate
seseorang merasa bahwa dirinya menggunakan spearman rank didapatkan
diperhatikan, dicintai, dihargai dan hasil bahwa besarnya korelasi antara
akan meningkatkan kepribadian tingkat spiritual dengan regulasi emosi
mandiri dari individu tersebut. sebesar 0,389 (moderate), dan hubungan
Dukungan sosial bisa didapat dari variabel bersifat signifikan, karena angka
keluarga, lingkungan dan tim probabilitas (sig) sebesar 0,006 yang
kesehatan. Dukungan dari orang lain dimana angka tersebut lebih kecil dari
di luar keluarga juga memberikan 0,05. (0,006 < 0,05).
pengaruh positif pada pasien.
Responden penelitian ini sebagian DAFTAR PUSTAKA
besar suku batak dengan hubungan Arni, Yuliyanti. 2010. Tingkat
kekerabatan sangat tinggi. Apabila Spiritualitas Pada Pasien Gagal
ada orang yang mengalami Ginjal Kronik Dengan
kemalangan atau sakit maka kerabat Hemodialisis di Unit
akan datang silih berganti untuk Hemodialisis RS PKU
memberi penghiburan kepada orang Muhammadiyah Yogyakarta.
yang mengalami kemalangan atau Thesis : FKIK UMY.
Http://Repository.Umy.Ac.Id/ hemodialysis. India Jurnal
Handle/123456789/719. Nephorology, (21), 177-181, di
akses tanggal 21 Mei 2019 dari :
Desnauli, E., Nursalam., & Efendi, F. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/p
2011. Indikator kualitas hidup mc/articles/PMC3161435/.
pasien gagal ginjal kronis yang
menjalani hemodialisa Masluchah, L., Sutrisno, J. 2010.
berdasarkan strategi koping. Pengaruh bimbingan doa dan
Jurnal Ners Vol. 6, No. 2, 187- dzikir terhadap kecemasan
191, di akses tanggal 20 Mei pasien pra-operasi. Jurnal
2019 dari : https://e- Penelitian Psikologi Vol. 01, No.
journal.unair.ac.id/JNERS/articl 01, hal. 11-22, di akses pada
e/view/3990. tanggal 21 Mei 2019 dari :
https://docplayer.info/42563271-
Fanada, Mery. 2012. Perawat Dalam Pengaruh-bimbingan-do-a-dan-
Penerapan Therapi Psikoreligius dzikir-terhadap-kecemasan-
Untuk Menurunkan Tingkat pasien-pre-operasi.html.
Stress Pada Pasien Halusinasi
Pendengaran Di Rawat Inap Murphy, S, et al. 2017. Death: Final
Bangau Rumah Sakit Ernaldi Data for 2015. National Vital
Bahar Palembang. Badan Diklat Statistics Reports, 66(6), 1–75.
Provinsi Sumatera Selatan, https://stacks.cdc.gov/view/cdc
diakses tanggal 24 Agustus 2019
dari: Potter, P. A & Perry, A.G. 2005. Buku
Ajar Fundamental Keperawatan:
https ://docplayer.info/84273- Konsep, Proses, dan Praktik
Oleh-mery-fanada-spd-skm-m- Edisi 4 Volume 2. Jakarta :
keswidyaiswa ra-muda-badan- EGC.
diklat-provinsi-sumatera-
selatan.html Reivich, K. And Shatte, A. 2002. The
Resilience Factor . New York :
Hamid, A. 2009. Bunga Rampai Asuhan Random House, Inc.
Keperawatan Jiwa. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jangkup, J.Y.K. 2015. Tingkat
Kecemasan Pada Pasien
Penyakit Gagal Ginjal Kronik
Yang Menjalani Hemodialisa di
BLU RSUP Prof. Dr. R. D
Kandou Manado. Skripsi.
Fakultas Kedokteran Universitas
Sam Ratulangi Manado, diakses
tanggal 24 Agustus 2019 dari:
http://repo.unsrat.ac.id/867/.
Kohli, S, Batra P, Anggrwal. 2011.
Anxienty and coping strategi
among end-stage renal disease
patients undergoing maintence