Anda di halaman 1dari 25

KISI-KISI SOAL DAN KARTU SOAL TES SUBYEKTIF

Makalah

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran


yang Dibimbing oleh Dyah Ayu Pramoda Wardhani, M.Pd.

Disusun oleh kelompok 2 semester 3A:


1. Zuhrotul Akhiroh 1886206014
2. Sri karningsih 1886206017
3. M. Ichwanul Kirom 1886206023
4. M. Wahyu Andiyan 1886206026

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM RADEN RAHMAT
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan tugas
makalah tentang “Kisi-Kisi Soal Dan Kartu Soal Tes Subyektif” dengan baik dan
benar.
Pada kesempatan ini, penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua
pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini, semoga Allah SWT
membalas amal kebaikannya.Amin.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan didalamnya.Untuk itu, penulis
mengharap kritik serta saran dari pembaca yang sifatnya membangun supaya makalah
ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi.Demikian, dan apabila
terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-
besarnya.

Malang, 27 November 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................…i


DAFTAR ISI ................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................................3
1.3 Tujuan .....................................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian tes subjektif……………………………………………………………5
2.2 Kelebihan dan kelemahan tes subjektif...................................................................7
2.3 Petunjuk penyusunan tes subyektif………………………………………………..9
2.4 Merencanakan tes uraian………………………………………………………...10
2.5 Penulisan soal bentuk uraian beserta kaidah penulisannya……………………...10
2.6 Klasifikasi tes subjektif…………………………………………………………..12
2.7 Penggunaan tes subjektif………………………………………………………...14
2.8 Pembuatan kisi-kisi………………………………………………………………15
2.9 Sistem penskoran pada tes subjektif……………………………………………..16
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..........................................................................................................20
3.2 Saran .....................................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................22

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semua orang yang mengalami sekolah secara formal, mungkin juga sekolah
informal dan nonformal, tak terhindar dari pengukuran (measurement) dan tes. Suatu
tes adalah alat pengukuran (measurement) yang memberi informasi tentang siswa,
mungkin juga orang lain, akan tetapi dalam dunia pendidikan yang menjadi pokok
perhatian adalah siswa. Terdapat beberapa macam tes dan berdasarkan tes ini para
pendidik memperoleh informasi tentang siswanya yang kemudian menjadi landasan
untuk mengambil keputusan yang dapat menentukan nasib siswa tersebut. Sebetulnya
bukan tes atau pengukuran itu sendiri yang menjadi penentu nasib siswa, akan tetapi
interpretasi dari hasil pengukuran dan alat pengukuran tersebut.Berdasarkan
informasi yang sama, bermacam-macam orang akan memberi interpretasi yang
berlainan. Interpretasi yang bermacam-macam inilah yang harus dihindari karena
akan berbahaya bagi siswa. Sama halnya bila informasi yang diberikan itu salah
karena tes yang dipakai salah atau pengukuran yang diterapkan salah. Dari sini dapat
dilihat betapa pentingnya suatu tes dalam dunia pendidikan. Dengan demikian, kita
tidak dapat mengabaikan pembuatan suatu tes atau cara mengukurnya,
penyelenggaraannya, maupun cara menginterpretasikannya. Hakekat
penyelenggaraan testing sebenarnya adalah usaha menggali informasi yang dapat
digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Dalam kaitannya dengan
tugas seorang pengajar, tes prestasi belajar merupakan salah satu alat pengukuran di
bidang pendidikan yang sangat penting artinya sebagai sumber informasi guna
pengambilan keputusan. Ada tiga tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan, yaitu
peningkatan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Aspek kognitif berhubungan
dengan penguasaan konsep pengetahuan, aspek afektif berkaitan dengan tata nilai dan
sikap ilmiah, sedangkan aspek psikomotorik berhubungan dengan ketrampilan
mengunakan metode ilmiah dalam memecahkan masalah. Aspek kognitif lebih
ditekankan di sekolah-sekolah dengan tidak mengabaikan keadaan aspek yang lain.

1
Hal ini nampak apabila diteliti apa yang terjadi di sekolah-sekolah. Begitu juga pada
penilaian pengajaran matematika, aspek kognitif sering dipakai sebagai tolak ukur
pecapaian hasil belajar matematika. Hal ini terlihat pada penilaian akhir pengajaran
matematika yang hanya menilai aspek kognitif saja, karena butir tes yang digunakan
hanya mengukur penguasaan pengetahuan materi yang diajarkan. Menurut teori
Bloom, aspek kognitif dibagi menjadi enam tingkatan sesuai dengan urutan
kompleksitas yang makin naik, yaitu: pengetahuan (C1), pemahaman (C2), aplikasi
(C3), analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C6) (Nana Sudjana, 1995 : 23). Tiap-
tiap tingkat kognitif yang lebih tinggi disusun meliputi semua tingkat yang
mendahului. Misalnya seseorang harus memiliki pengetahuan (C1) dan memahami
arti dari pengetahuan tersebut (C2) sebelum dapat membuat aplikasi (C3) yang baik
(Syaifudin azwar, 2001: 15). Tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara
berencana untuk mengungkapkan performansi maksimal yang telah diajarkan. Dalam
kegiatan pendidikan formal di kelas, tes prestasi belajar dapat berupa ulangan-
ulangan harian, tes formatif, tes sumatif bahkan Ebtanas dan ujian-ujian masuk
perguruan tinggi. Seorang tenaga pengajar haruslah mengetahui dasar-dasar
penyusunan tes prestasi belajar yang baik agar dapat memperoleh hasil ukur yang
akurat (valid) dan dapat dipercaya (reliabel). Dia harus pula mengetahui aspek-aspek
penggunaannya di kelas, mengetahui caracara pemberian angka dan yang paling
penting adalah mengetahui cara interpretasi hasil pengukuran tersebut. Dari segi
materinya, tes prestasi yang baik haruslah komprehensif dan berisi item-item yang
relevan. Komprehensif artinya tes itu mencakup keseluruhan isi atau bahan pelajaran
yang telah diidentifikasi sebagai tujuan ukur, secara representatif dan dalam jumlah
item yang sebanding (proporsional) untuk bagian itu. Relevan artinya item-item yang
bakal ditulis benar- benar menanyakan hanya mengenai materi yang telah
diidentifikasi dan segala sesuatu yang berkaitan dan dianggap perlu guna memahami
materi tersebut. Sifat komprehensif dan relevan inilah yang menjadi dasar tegaknya
validitas isi (content validity) tes prestasi. Dalam menyusun soal atau tes seharusnya
meliputi aspek berikut: perencanaan tes, pelaksanaan tes dan manajemen hasil. Untuk
menentukan tipe hasil belajar atau tingkat kemampuan berpikir mana saja yang akan

2
dinilai penyusun tes dapat berpedoman pada tujuan instruksional yang akan dinilai
atau kepada tujuan evaluasi itu sendiri. Sebelum menyusun soal bagi si penyusun tes
perlu membuat kisi-kisi tes, hal ini sangat penting. Kisi-kisi tes dapat memberikan
informasi yang sahih, terandalkan, dan berguna, karena dapat memberikan spesifikasi
mengenai tujuan yang akan diukur, ruang lingkup materi dan soal yang akan
digunakan.
Di samping itu penyusun tes harus memperhatikan kesalahan dalam menyusun
soal karena tinggi rendahnya kesahihan dan keandalan soal dipengaruhi oleh faktor
ada tidaknya kesalahan dalam menyusun soal. Kesalahan soal ini dapat ditinjau dari
butir demi butir soal maupun secara keseluruhan. Kesalahan soal dapat diidentifikasi
pada waktu sebelum dan sesudah digunakan. Identifikasi sebelum digunakan dapat
dilakukan dengan melihat dan meninjau keterkaitan soal dengan tujuan
pembelajarannya, kebenaran konsep keilmuannya, ataupun segi konstruksinya.
Identifikasi sesudah digunakan dapat ditelusuri berdasarkan data hasil pengukuran
yang diperoleh. Selain hal tersebut di atas, suatu tes yang baik harus memenuhi ciri-
ciri tes dan menghubungkannya dengan keterandalan, kesahihan, dan pembobotan.
Tujuan tes mempengaruhi ciri butir tes. Dengan demikian diadakan uji persyaratan
soal tes (bentuk obyektif) yang baik yaitu dengan menguji validitas, reliabilitas, taraf
kesukaran, daya pembeda, dan efektifitas distraktor soal tes.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengertian tes subjektif ?
2. Apa saja kelebihan dan kelemahan tes subjektif ?
3. Bagaimanakah petunjuk penyusunan tes subjektif ?
4. Bagaimanakah klasifikasi tes subjektif ?
5. Kapan penggunaan tes subjektif digunakan ?
6. Bagaimanakan sistem penskoran pada tes subjektif?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian tes subjektif.

3
2. Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan tes subjektif.
3. Untuk mengetahui petunjuk penyusunan tes tes subjektif.
4. Untuk mengetahui klasifikasi tes subjektif.
5. Untuk mengetahui penggunaan tes subjektif digunakan.
6. Untuk mengetahui sistem penskoran pada tes subjektif.

4
BAB 1I
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tes Subjektif


Tes adalah suatu prosedur sistematis untuk mengukur sample perilaku seseorang.
Pada umumnya tes berupa sekumpulan pertanyaan yang harus dijawab, atau
sekumpulan butir soal atau tugas yang harus dikerjakan oleh orang yang di tes, atau
pertanyaan-pertanyaan yang harus dipilih atau ditanggapi oleh seseorang dengan
tujuan untuk mengukur aspek perilaku tertentu dari orang yang di tes.Dalam konteks
pendidikan, hal yang hendak diukur itu adalah tingkat kemampuan seseorang dalam
menguasai bahan pelajaran atau kompetensi yang telah diajarkan kepadanya.Dalam
konteks ini ada dua istilah yang harus kita pahami dan harus kita bedakan, yaitu
istilah “prestasi belajar” (achievement) dan “hasil belajar” (learning outcome).Hasil
belajar meliputi aspek pembentukan watak seseorang siswa, sedangkan prestasi
belajar lebih menekankan pada aspek kognitif. Dalam pembicaraan ini kita akan lebih
banyak membicarakan istilah “prestasi belajar” yang lebih menekankan kepada aspek
pengetahuan saja (Depdiknas, 2001).
Tes uraian adalah tes (seperangkat soal yang berupa tugas, pertanyaan) yang
menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan dan menyatakan jawabannya
menurut kata-kata (kalimat) sendiri. Jawaban tersebut dapat berbentuk mengingat
kembali, menyusun, mengorganisasikan atau memadukan pengetahuan yang telah
dipelajarinya dalam rangkaian kalimat atau kata-kata yang tersusun secara baik. Oleh
karena itu tes uraian sering juga dikatakan sebagai tes essay. Walaupun sebenarnya
antara tes uraian dan essay memiliki perbedaan, yaitu dalam hal kedalaman dan
keluasan materi yang diukur atau diungkap. Sebenarnya tes uraian lebih tepat
digunakan untuk mengukur prestasi belajar yang lebih kompleks, walaupun tidak
dipungkiri masih banyak para guru yang menggunakan jenis tes ini hanya untuk
mengukur pengetahuan yang bersifat faktual dan dangkal.
Secara ontologis tes subjektif adalah salah satu bentuk tes tertulis, yang
susunannya terdiri atas item-item pertanyaan yang masing-masing mengandung

5
permasalahan dan menuntut jawaban siswa melalui uraian-uraian kata yang
merefleksikan kemampuan berpikir siswa (Sukardi, 2008). Menurut Suherman (1993)
tes subjektif adalah tes yang menuntut siswa untuk dapat menyusun dan memadukan
gagasan-gagasan tentang hal-hal yang telah dipelajari, dengan cara mengekspresikan
atau mengemukakan gagasan tersebut secara tertulis dengan kata-kata sendiri.
Senada dengan itu, menurut Oemar Hamalik (2001) tes subjektif adalah salah
satu bentuk tes yang terdiri dari satu atau beberapa pertanyaan subjektif, yakni
pertanyaan yang menuntut jawaban tertentu oleh siswa secara individu berdasarkan
pendapatnya sendiri. Setiap siswa memiliki kesempatan memberikan jawabannya
sendiri yang berbeda dengan jawaban siswa lainnya.
Tes subjektif juga dapat disebut sebagai tes dengan menggunakan pertanyaan
terbuka, dimana dalam tes tersebut siswa diharuskan menjawab sesuai dengan
pengetahuan yang dimilikinya. Selain itu, menurut Suherman, E (1993) tes subjektif
juga sering disebut sebagai tes uraian karena untuk menjawab soal siswa dituntut
untuk menyusun jawaban secara terurai. Jawaban tidak cukup hanya dengan satu atau
dua kata saja, tetapi memerlukan uraian yang lengkap dan jelas. Selain harus
menguasai materi tes, siswa dituntut untuk bisa mengungkapkannya dalam bahasa
tulisan dengan baik.
Tes subjektif yang biasa dipakai di sekolah mempunyai arti yang luas, yaitu
tidak hanya mengukur kemampuan siswa dalam menyajikan pendapat pribadi,
melainkan juga menuntut kemampuan siswa dalam hal menyelesaikan hitungan,
menganalisis masalah, dan mengekspresikan pendapat. Ciri-ciri tes subjektif, yaitu:
a) Jumlah soal yang disusun tidak terlalu banyak
b) Hasil yang diperoleh kurang mewadahi karena jangkuan bahannya tidak terlalu
luas
c) Banyak dipengaruhi oleh faktor : bahasa yang digunakan oleh testi, kerapatan
tulisan yang dibuat oleh testi, sikap penilai terhadap testi, penyekoran bersifat
relatif, jawaban sangat panjang, dipengaruhi oleh emosi pemeriksa, pertanyaa
yang diajukan luas dan rumit, sedangkan waktu yang tersedia terbatas.

6
Tes Subjektif dibedakan manjadi 3 macam yaitu :
a. Ingatan sederhana
Dengan ciri-cirinya, dapat dijawab dengan singkat, dapat dinilai secara objektif,
dan umumnya menggunakan kata tanya yang berupa kata bagaimana, di mana,
berapa banyak, dan kapan
b. Jawaban pendek (short answer )
Dengan ciri-cirinya meliputi : pertanyaan berisi perintah seperti berikan difinisi,
susunlah, tuliskan (jawaban berupa pernyataan atau kalimat pendek dan dapat
dinilai secara objektif.
c. Bentuk diskusi
Dengan ciri-cirinya : memerlukan jawaban panjang, tidak dapat dinilai secara
objektif, menggunakan kata : jelaskan, gambarkan, bandingkan, terangkan, berikan
alasan.

2.2 Kelebihan dan Kelemahan Tes Subjektif


A. Kelebihan Tes Subjektif
Kelebihan tes subjektif, yaitu:
1) Mudah disiapkan dan disusun
2) Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-
untungan
3) Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun
dalam bentuk kalimat yang bagus
4) Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan pendapat dengan
gaya bahasa dan caranya sendiri
5) Dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami sesuatu masalah yang
diteskan.
6) Tes uraian dapat digunakan dengan baik untuk mengukur hasil belajar
yang kompleks.
7) Tes bentuk uraian terutama menekankan kepada pengukuran kemampuan
dan keterampilan mengintegrasikan berbagai buah pikiran dan sumber

7
informasi ke dalam suatu pola berpikir tertentu, yang disertai dengan
keterampilan pemecahan masalah. Integrasi buah pikiran itu
membutuhkan dukungan kemampuan untuk mengekspresikannya.
8) Bentuk tes uraian lebih meningkatkan motivasi peserta tes untuk belajar
dibandingkan bentuk tes dan yang lain.
9) Memudahkan guru untuk menyusun butir soal. Kemudahan ini dapat
disebabkan karena jumlah butir soal tidak perlu terlalu banyak dan guru
tidak selalu harus memasok jawaban atau kemungkinan jawaban yang
benar.
10) Tes uraian sangat menekankan kemampuan menulis. Karena akan sangat
mendorong mahasiswa dan dosen untuk belajar dan mengajar menyatakan
pikiran secara tertulis.

B. Kelemahan Tes Uraian


Kelemahan tes uraian, yaitu:
1) Reliabilitas rendah, artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak
konsisten bila tes yang sama atau tes yang parallel diuji ulang beberapa
kali.
2) Untuk menyelesaikan tes uraian dengan baik guru dan murid harus
menyediakan waktu cukup banyak.
3) Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai dengan bualan.
4) Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling
utama membedakan prestasi belajar antar murid.
5) Kadar validitas dan realibilitas rendah karena sukar diketahui segi-segi
mana dari pengetahuan siswa yang betul-betul telah dikuasai
6) Kurang representatif dalam hal mewakili seluruh scope ahan pelajaran
yang akan dites karena soalnya hanya beberapa saja (terbatas)
7) Cara memeriksanya banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektif
8) Pemeriksaanya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual
lebih banyak dari penilai.

8
9) Waktu untuk koreksinya lama dan tidak bisa diwakilkan kepada oran lain

2.3 Petunjuk Penyusunan Tes Subyektif


Adapun petunjuk penyusunan tes subjektif adalah sebagai berikut:
a. Hendaknya soal-soal tes dapat meliputi ide-ide pokok dari bahan yang
diteskan
b. Hendaknya soal tidak mengambil kalimat-kalimat yang disalin langsung dari
buku atau catatan
c. Pada waktu menyusun, soal-soal itu sudah dilengkapi dengan kunci jawaban
serta pedoman penilaian
d. Hendaknya diusahakan agar pertanyaanya bervariasi antara “jelaskan”,
“mengapa”, “bagaimana”, “seberapa jauh”, agar dapat diketahui lebih jauh
penguasaan siswa terhadap bahan
e. Hendaknya ditegaskan model jawaban apa yang dikehendaki oleh penyusun
tes. untuk ini pertanyaan tidak boleh umum, tapi harus spesifik.

 Contoh:
Coba jelaskan tentang ulang tahun hari kemerdekaan RI !
Pertanyaan ini kurang spesifik, sebaiknya ditambah penjelasan sehingga
menjadi:
Coba jelaskan tentang peringatan hari ulang tahun kemerdekaan RI yang
diadakan dikantor kabupaten tanggal 17 Agustus 1998 yang lalu, ceritakan
mengenai:
a. Pengaturan tempat
b. Pejabat dan undangan
c. Acara peringatan
d. Atraksi yang disuguhkan
e. Hidangan yang diberikan

9
2.4 Merencanakan Tes Uraian
Seperti pada tes lain, untuk mendapatkan soal tes uraian yang baik, perlu
direncanakan secara matang. Paling tidak si penyusun soal harus memahami atau
mengingat kembali prinsip-prinsip penilaian, dan mengingat kembali prosedur
pengembangan tes secara umum. Secara umum perencanaan itu mencakup:
a. Merumuskan tujuan tes, untuk apa tes itu dilakukan.
b. Mengkaji/menganalisis: GBPP, pokok bahasan/topik/tema/konsep, buku sumber,
rencana pembelajaran/satuan pelajaran, dan materi-materi pelajaran mana yang
cocok untuk dibuat dengan soal uraian.
c. Membuat kisi-kisi.
d. Penulisan soal disertai pembuatan kunci jawaban dan pedoman penskoran.
e. Penelaahan kembali rumusan soal (oleh sendiri atau orang lain).

2.5 Penulisan Soal Bentuk Uraian Beserta Kaidah Penulisannya


Dalam menulis soal bentuk uraian, penulis soal harus mempunyai gambaran
tentang ruang lingkup materi yang ditanyakan dan lingkup jawaban yang diharapkan,
kedalaman dan panjang jawaban, atau rincian jawaban yang mungkin diberikan oleh
siswa. Dengan adanya batasan ruang lingkup, kemungkinan terjadinya ketidakjelasan
soal dapat dihindari, serta dapat mempermudah pembuatan kriteria atau pedoman
penyekoran. Karena itu kaidah umum yang terpenting dalam menulis soal bentuk
uraian adalah, segera tulis kunci jawaban atau pokok-pokok jawaban yang mungkin
diberikan oleh siswa beserta kriteria atau rentang skor yang mungkin diberikan,
begitu selesai menulis soal. Kaidah khusus penulisan soal bentuk uraian adalah
sebagai berikut:
a. Materi
1. Soal harus sesuai dengan indikator pada kisi-kisi. Artinya soal harus
menyatakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan
indikator.
2. Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan (ruang lingkup) harus jelas.
3. Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran.

10
4. Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang, jenis sekolah dan tingkat
kelas.
b. Konstruksi
1. Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata tanya atau
perintah yang menuntut jawaban terurai; seperti : mengapa, uraikan, jelaskan,
hubungkan, tafsirkan, buktikan, hitunglah, dsb. Jangan menggunakan kata
tanyayang tidak menuntut jawaban uraian, misalnya: siapa, dimana, kapan.
Demikian juga kalimat tanya yang menuntut jawaban “ya” atau “tidak”, jangan
digunakan.
2. Buatlah petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal.
3. Buatlah pedoman penyekoran segera setelah soal selesai ditulis dengan cara
menguraikan komponen yang akan dinilai atau kriteria penskorannya, besarnya
skor bagi setiap komponen, serta rentang skor yang dapat diperoleh untuk soal
yang bersangkutan.
4. Hal-hal lain yang menyertai soal (grafik, tabel, gambar, peta, atau yang
sejenisnya) harus jelas dan terbaca, sehingga tidak menimbulkan penafsiran
yang berbeda.
c. Bahasa
1. Rumusan kalimat soal harus komunikatif, yaitu menggunakan bahasa yang
sederhana, dan menggunakan kata-kata yang sudah dikenal siswa, serta baik
dari segi kaidah bahasa Indonesia.
2. Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3. Rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran
yang berbeda (salah pengertian).
4. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika soal peserta berasal
dari berbagai daerah.
5. Rumusan soal tidak menggunakan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan
testee.
Untuk memastikan apakah soal itu sesuai dengan aturan atau tidak, gunakan kartu
telaah berikut untuk menelaah setiap soal.

11
2.6 Klasifikasi Tes Subjektif
Dilihat dari luas-sempitnya (scope) materi/masalah yang ditanyakan, soal tes
bentuk subjektif atau uraian memiliki dua bentuk, yaitu essay atau uraian
terbatas (restricted response items) dan essay atau uraian bebas (extended respons
items). Beberapa tahun ke belakang, Depdikbud menyebut kedua jenis soal ini dengan
istilah tes uraian objektif dan tes uraian non-objektif.
Walaupun sebenarnya jika dilihat lebih dalam, kedua jenis tes terakhir ini (uraian
objektif dan uraian non-objektif) merupakan bagian dari tes subjektif terbatas, karena
pengelompokkan tes uraian menjadi uraian objektif dan uraian non-objektif hanya
didasarkan kepada pendekatan pemberian skor saja.
Perbedaan antara soal bentuk uraian objektif dengan uraian non-objektif terletak
pada kepastian pemberian skor. Pada soal bentuk uraian objektif, kunci jawaban dan

12
pedoman penskorannya lebih pasti (diuraikan secara jelas hal/ komponen yang di skor
dan berapa skor untuk masing-masing komponen tersebut.
Sedangkan pada soal uraian non-objektif pedoman penskoran dinyatakan dalam
rentangan (0 – 4 atau 0 – 10), sehingga pemberian skor (penentuan kualitas jawaban)
sedikit banyak akan dipengaruhi oleh unsur subjektif si pemberi skor. Untuk
mengurangi subjektifitas ini, dapat dilakukan dengan cara membuat pedoman
penskoran secara rinci dan jelas, sehingga pemberian skor dapat relatif sama. Adapun
penjelasan tentang klasifikasi tes subjektif, yaitu:
a. Uraian bebas
Dalam uraian bebas jawaban siswa tidak dibatasi, bergantung pada pandangan
siswa itu sendiri, hal disebabkan oleh isi pertanyaan uraian bebas sifatnya umum.
Contoh pertanyaan bentuk uraian bebas adalah sebagai berikut:
1. Coba kalian jelaskan sebab-sebab terjadinya pertumbuhan penduduk yang
cepat?
2. Mengapa pertumbuhan penduduk berpengaruh terhadap kualitas hidup
manusia?
b. Uraian terbatas
Dalam uraian terbatas bentuk tesnya telah diarahkan kepada hal-hal tertentu atau
ada pembatasan tertentu. Pembatasan ini bisa dari segi ruang lingkupnya, sudut
pandang menjawabnya dan indikator-indikatornya. Adapun contoh pertanyaan
uraian terbatas ini adalah:
1. Coba kalian jelaskan tiga faktor pertumbuhan penduduk!
2. Bagaimana hubungan pertumbuhan penduduk dengan kualitas hidup manusia
dalam hal ekonomi, pendidikan, dan kesehatan?
c. Uraian terstruktur
Soal terstruktur dipandang sebagai bentuk antara soal-soal objektif dan essay. Soal
terstruktur merupakan serangkaian soal jawaban singkat sekalipun bersifat terbuka
dan bebas menjawabnya. Soal berstruktur berisikan unsur-unsur pengantar soal,
seperangkat data, dan serangkaian data, dan serangkaian subsoal, keuntungan soal
berbentuk berstruktur ialah satu soal bisa terdiri dari atas beberapa subsoal atau

13
pertanyaan, setiap pertanyaan yang diajukan mengacu kepada suatu data tertentu
sehingga lebih jelas dan terarah, soasl-soal berkaitan satu sama lain dan bisa
diurutkan berdasarkan tingkat kesulitannya, data yang diajukan dalam soal
berstruktur bisa berupa angka, label, grafik, gambar, bagan, kasus, bacaan tertentu,
diagram, model dan lain-lainnya.

2.7 Penggunaan Tes Subjektif


Tes subjektif umumnya digunakan untuk hal-hal berikut :
1) Membandingakan dua hal atau lebih. Misalnya : jelaskan perbedaan antara
makna homonim dengan makna polisemi
2) Merumuskan suatu pendapat. Misalnya : bagaimanakah pendapat Anda
tentang konsep kata majemuk dalam bahasa Indonesia? Jelaskan.
3) Menunjukkan hubungan sebab-akibat. Misalnya : mengapa dalam bahasa
Indonesia perlu dilakukan pembakuan kosa kata? Jelaskan
4) Menjelaskan makna ungkapan. Misalnya : apakah yang dimaksud dengan
ungkapan “berdarah dingin”
5) Membuat rangkuman atau ringkasan. Misalnya : ringkaslah teks bacaan di
atas menjadi satu halaman !
6) Melakukan analisis. Misalnya : uraikan unsur-unsur yang membentuk kata
mempertanggung jawabkan!
7) Menilai suatu pendapat atau peristiwa. Misalnya : bahasa bukan hanya
merupakan alat berpikir, tetapi juga merupakan bagian dari proses berpikir.
Bagaimanakah penilaian Anda terhadap pernyataan ini ? jelaskan.
8) Merumuskan persoalan. Misalnya : Persoalan kebahasaan apa saja yang saat
ini banyak muncul di kalangan para pejabat ? jelaskan.
9) Menarik kesimpulan. Misalnya : Dari teks bacaan di atas, Kesimpulan apa
yang dapat anda ambil ? jelaskan!

Tes bentuk uraian digunakan apabila:


1) kelompok yang akan dites kecil, dan tes tidak akan dilakukan berulang-ulang.

14
2) Tester (guru) ingin menggunakan sebagai cara untuk mengetahui kemampuan
siswa dalam bentuk tertulis.
3) Guru ingin mengetahui lebih banyak tentang sikap-sikap siswa daripada hasil
yang telah dicapai.
4) Memiliki waktu yang cukup untuk menyusun tes.

2.8 Pembuatan Kisi-Kisi


Kisi-kisi adalah format yang berupa matriks yang memuat informasi tentang
suatu soal dan dijadikan pedoman untuk menulis soal atau merakit soal menjadi
seperangkat tes. Dengan demikian jelas bahwa fungsi kisi-kisi di sini adalah sebagai
pedoman dalam penulisan dan perakitan tes. Kisi-kisi yang baik harus memenuhi
persyaratan:
a. Mewakili isi kurikulum yang akan diujikan
b. Komponen-komponennya rinci, jelas, dan mudah dipahami
c. Soal-soal yang direncanakan dimungkinkan dapat dibuat sesuai dengan indikator
yang direncanakan dalam kisi-kisi itu.
Berikut ini adalah contoh model/format kisi-kisi dengan berbagai komponennya.
Jenis Sekolah/Jenjang :
Mata Pelajaran :
Program/Jurusan :
Kelas/Semester :
Kurikulum Acuan :
Alokasi Waktu :
Jumlah Soal :

15
2.9 Sistem Penskoran Pada Tes Subjektif
A. Memeriksa Atau Memberi Skor Tes Uraian
Tes uraian sering disebut sebagai tes subjektif. Artinya dalam memberikan skor
terhadap setiap siswa unsur subjektif pemeriksa diduga kuat turut memberikan
warna. Untuk meningkatkan objektifitas hasil pemeriksaan jawaban ada beberapa
strategi/saran yang diberikan sebagai berikut :
a. Siapkan garis-garis besar jawaban yang dikehendaki sebelum pengoreksian
dilakukan.
b. Sembunyikan identitas siswa, jangan melihat identitas siswa sebelum dan selama
memeriksa. Bila memungkinkan identitas diganti dengan sandi/kode tertentu.
c. Tetapkan hal-hal yang akan mengganggu subjetifitas pemberian skor. Misalnya:
apakah bentuk huruf/tulisan, bentuk kertas, ejaan, struktur kalimat, kerapihan,
dll. akan diperhitungkan dalam pemberian skor, atau diabaikan saja.
d. Tetapkan/gunakan metoda penskoran tertentu. Ada dua metoda penskoran
terhadap butir-butir soal bentuk essai. Yang pertama adalah point method, dan
kedua adalah rating method. Pada point method setiap jawaban dibandingkan
dengan jawaban ideal yang telah diotetapkan dalam kunci jawaban dan skor yang
diberikan kepada setiap jawaban akan tergantung pada derajat kepadanannya
dengan kunci jawaban. Sedangkan dalam rating method, Setiap jawaban siswa
ditetapkan dalam salah satu kelompok yang sudah dipilah-pilah berdasarkan
mutunya selagi jawaban tersebut di baca. Kelompok-kelompok tersebut
menyatakan mutu dan menentukan berapa skor yang dapat diberikan kepada
setiap jawaban. Misalnya sebuah soal akan diberi skor maksimum 8, maka bagi
soal tersebut dapat dibuat 9 kelompok jawaban dari 8 sampai 0. Untuk essai
terbatas cukup digunakan point method, karena setiap jawaban sudah dibatasi
dengan kriteria tertentu, tetapi untuk essai atau uraian bebas lebih tepat
digunakan rating method.
e. Skorlah semua jawaban untuk satu soal- satu soal untuk semua siswa, sebelum
pindah ke nomor soal lain (whole method). Yang sering membuat skor berubah-
ubah (jawaban yang sama diberi skor berbeda) adalah karena berubah-ubahnya

16
standar penskoran dari satu soal ke soal lain. Hal ini terjadi karena pemberian
skor dilakukan terhadap satu-satu siswa, mulai nomor satu sampai nomor akhir
(sparated method). Misalnya, sebuah ulangan terdiri dari 5 soal uraian dengan
jumlah siswa 25 orang. Maka periksalah jawaban nomor 1 untuk testi nomor 1
sampai testi nomor 25, baru setelah selesai nomor 1 dilanjutkan pada soal nomor
2 mulai dari siswa pertama sampai nomor 25. Begitu seterusnya sampai semua
soal selesai.
f. Susunlah pedoman penyekoran segera setelah soal selesai dirumuskan.
g. Dalam hal ujian yang menentukan nasib seseorang (misalnya, SPMB atau UAN)
lakukan penskoran oleh lebih dari satu orang .

B. Pedoman Penyekoran
Memberikan skor tes subjektif dapat dikatakan mudah dan juga dapat dikatakan
sukar. Dikatakan mudah, karena setiap guru pasti merasa bisa menilai jawaban yang
diberikan oleh para siswanya termasuk penggunaan jawaban yang berasal dari tes
subjektif. Karena dalam pemberian skor pada tes ini tidak ada eksplanasi penilaian
secara pasti diberikan. Sebaliknya, sebagian guru juga merasakan sukar dalam
memberikan skor pada tes jenis ini, karena banyak faktor yang sealu muncul yang
sedikit banyak dapat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan pada penilaian
siswa. Faktor-faktor tersebut diantaranya subjektifitas, pertimbangan dan pengaruh
interaksi antara guru dengan para siswa selama dalam proses belajar mengajar
berlangsung. Untuk mengatasi adanya tiga faktor di atas, berikut ini beberapa
petunjuk yang dapat digunakan sebagai acuan para guru. Dalam pemberian skor tes
subjektif, seorang guru sebaiknya:
1. Menyusun jawaban kunci untuk setiap pertanyaan yang mengandung materi
penting yang dapat digunakan sebagai acuan dasar ketika melakukan penilaian
2. Menentukan nilai dari setiap pertanyaan berdasarkan bobot permasalahan,
kompleksitas jawaban, dan watu yang diperlukan untuk menyelesaikan
jawaban

17
3. Memutuskan berapa poin pengurangan skor penilaian apabila siswa melakukan
kesalahan kecil, misalnya kesalahan ejaan, tanda baca, dan penggunaan kata
4. Mengevaluasi satu pertanyaan pada semua lembar jawaban, sebelum pindah ke
pertanyaan lain
5. Guna mencek kesamaan kualitas jawaban, kelompokkan lembar jawaban siswa
ke dalam 3-5 tumpukan dengan memerhatikan ranking dari yang tertinggi
sampai terendah dan menempatkan lembar jawaban siswa ke dalam tumpukan
yang ada atas dasar nilai yang dicapai
6. Usahakan dalam proses penilaian jawaban soal tidak melihat nama siswa
penjawabnya
7. Disarankan untuk sering beristirahat untuk mencegah kelelahan dan kejenuhan
yang dapat mengakibatkan pemberian skor berubah secara signifikan.
Dalam penyekoran soal bentuk uraian non-objektif, skor dijabarkan dalam
rentang.Besarnya rentang skor ditetapkan oleh kompleksitas jawaban.Oleh karena
itu mungkin berentang dari 0 – 4, 0 – 8, 0 – 10, dan lain-lain. Skor minimum harus
0, karena jika tidak yang tidak menjawab pun akan mendapat skor minimum
tersebut. Sedangkan skor maksimum ditentukan oleh penyusun soal dan keadaan
jawaban yang dituntut oleh soal itu. Langkah penskorannya adalah:
a. Tuliskan garis-garis besar jawaban sebagai kriteria jawaban untuk dijadikan
pegangan dalam pemberian skor.
b. Tetapkan rentang skor untuk setiap kriteria jawaban.
c. Pemberian skor pada setiap jawaban tergantung pada kualitas jawaban yang
diberikan oleh siswa.
d. Jumlahkan skor-skor yang diperoleh dari setiap kriteria jawaban sebagai skor
siswa. Jumlah skor-skor tertinggi dari setiap kriteria jawaban disebut skor
maksimum dari suatu soal.
e. Periksalah satu soal-satu soal untuk semua siswa sebelum pindah ke soal lain,
untuk menghindari pemberian skor berbeda terhadap jawaban yang sama.
f. Bila tiap butir soal telah selesai diskor, hitunglah jumlah skor perolehan siswa
untuk setiap soal. Kemudian hitung nilai tiap soal dengan rumus:

18
Skor perolehan siswa
Nilai Tiap soal : ------------------------------------------- x bobot soal
Skor maksimum tiap butir soal

g. Jumlahkan semua nilai yang diperoleh dari semua soal. Jumlah ini disebut nilai
akhir dari suatu perangkat tes yang disajikan.
Butir Soal : Jelaskan alasan apa saja yang membuat kita perlu bangga sebagai
bangsa Indonesia !
Kriteria Jawaban: Jawaban boleh bermacam-macam, namun pada pokoknya
jawaban dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Dibawah ini adalah contoh kartu soal kisi-kisi tes subjektif:

19
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
a. Tes Subjektif merupakan sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan
jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Ciri-ciri
pertanyaannya didahului dengan kata-kata seperti: uraikan, jelaskan, mengapa,
bagaimana, dan sebagainya. Soal-soal jenis tes ini biasanya jumlahnya tidak
banyak, hanya sekitar 5-10 buah soal. Soal-soal bentuk ini menuntut
kemampuan siswa untuk dapat mengorganisir, menginterpretasi,
menghubungkan pengertian yang telah dimiliki. Dengan singkat dapat
dikatakan bahwa tes ini menuntut siswa untuk dapat mengingat-ingat dan
mengingat kembali, dan terutama harus mempunyai daya kreativitas yang
tinggi.
b. Tes jenis ini mempunyai beberapa kelebihan dan juga kelemahan, namun
demikian tetap harus diperhatikan beberapa hal yang perlu dilakukan oleh
seorang guru sebelum membuat soal-soal tes ini untuk menghindari
munculnya beberapa faktor yang akan memengaruhi dalam pengambilan
keputusan pada penilaian siswa.
c. Dalam menulis soal bentuk uraian, penulis soal harus mempunyai gambaran
tentang ruang lingkup materi yang ditanyakan dan lingkup jawaban yang
diharapkan, kedalaman dan panjang jawaban, atau rincian jawaban yang
mungkin diberikan oleh siswa. Dengan adanya batasan ruang lingkup,
kemungkinan terjadinya ketidakjelasan soal dapat dihindari, serta dapat
mempermudah pembuatan kriteria atau pedoman penyekoran.
d. Dilihat dari luas-sempitnya (scope) materi/masalah yang ditanyakan, soal tes
bentuk subjektif atau uraian memiliki dua bentuk, yaitu essay atau uraian
terbatas (restricted response items) dan essay atau uraian bebas (extended
respons items).
e. Tes bentuk uraian digunakan apabila:

20
 kelompok yang akan dites kecil, dan tes tidak akan dilakukan
berulang-ulang.
 Tester (guru) ingin menggunakan sebagai cara untuk mengetahui
kemampuan siswa dalam bentuk tertulis.
 Guru ingin mengetahui lebih banyak tentang sikap-sikap siswa dari
;pada hasil yang telah dicapai.
 Memiliki waktu yang cukup untuk menyusun tes.
f. Memberikan skor tes subjektif dapat dikatakan mudah dan juga dapat
dikatakan sukar. Dikatakan mudah, karena setiap guru pasti merasa bisa
menilai jawaban yang diberikan oleh para siswanya termasuk penggunaan
jawaban yang berasal dari tes subjektif.

3.2 Saran
Dari pembahasan kisi-kisi soal dan kartu soal tes subyektifdiatas, telah
dijabarkan dari pengertiannya. Mungkin dari pembuatan makalah ini kami memiliki
banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna, kedepanya diharapkan penulis
makalah akan lebih fokus dan teliti dalam menjelaskan tentang makalah diatas
dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunya dan dapat dipertanggung
jawabkan.

21
DAFTAR PUSTAKA

Suharsimi Arikunto, Prof. Dr., Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Bumi Aksara


2012)
Sukardi, Prof., MS, Ph.D., Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya, Jakarta,
(Bumi Aksara 2011)

22