Anda di halaman 1dari 7

PERTEMUAN 1:

PENCATATAN DAN PEMBUKUAN MENURUT KETENTUAN UMUM


PERPAJAKAN

A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pada pertemuan ini diharapkan mahasiswa mampu dan memahami dasar pencatatan dan
pembukuan sesuai dengan Ketentuan Umum Perpajakan (KUP), seperti: pencatatan, pembukuan
dan perbedaan pencatatan dan pembukuan.

B. URAIAN MATERI
1. Pencatatan
Pencatatan diatur dalam Pasal 28 UU nomor 28 tahun 2007 Terdiri atas data yang dikumpulkan
secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/atau ph bruto sbg dasar untuk
menghitung jumlah pajak yang terutang, termasuk ph yang bukan objek pajak dan/atau yang
dikenai pajak yang bersifat final (Bentuk dan tatacara Pencatatan diatur dgn PMK) Peraturan
Menteri Keuangan nomor 197/ PMK 03/2007 tentang bentuk dan tata cara Pencatatan bagi
Wajib Pajak Orang Pribadi , pasal 1 menyatakan :
1). Wajib Pajak orang pribadi yang dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan
tetapi wajib menyelenggarakan pencatatan adalah :
a). Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan diperbolehkan menghitung
penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto; dan
b). Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.
Pencatatan harus diselenggarakan secara teratur dan mencerminkan keadaan yang sebenarnya
dengan menggunakan huruf latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan disusun dalam
bahasa Indonesia. Pencatatan dalam satu tahun diselenggarakan secara kronologis. Catatan dan
dokumen satu tahun yang menjadi dasar pencatatan harus disimpan di tempat tinggal wajib pajak
atau tempat kegiatan usaha pekerjaan bebas dilakukan selama 10 (sepuluh) tahun.
Pasal 14 UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang – Undang Nomor
7 tahun 1993 tentang Pajak Penghasilan diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan
menggunakan norma penghitungan penghasilan neto, yaitu Wajib Pajak Orang Pribadi yang
melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang peredaran bruto-nya dalam 1 tahun kurang
dari 4,8 miliar rupiah, maka Anda tidak wajib menyelenggarakan pembukuan tetapi wajib
melakukan pencatatan.
Wajib Pajak dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan tetap ditentukan suatu
kewajiban untuk menyelenggarakan pencatatan yang tujuannya secara gari besar sama dengan
penyelenggaraan pembukuan. Syarat – syarat Pencatatan :
a). Pencatatan harus diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan mencerminkan
keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya.
b). Pencatatan harus diselenggarakan dengan menggunakan huruf latin, angka arab, satuan mata
uang rupiah dan disusun dalam bahasa Indonesia
c). Pencatatan dalam satu tahun harus diselenggarakan secara kronologis.
d). Pencatatan terdiri atas data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau
penerimaan bruto dan/ atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak
terhutang, termasuk penghasilan bukan objek pajak dan/ atau yang dikenai pajak bersifat final.
e). Bagi Wajib Pajak yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha dan/ atau tempat usaha,
pencatatan harus dapat menggambarkan secara jelas untuk masing – masing jenis usahadan/atau
tempat usaha yang bersangkutan.
f). Selain kewajiban menyelenggarakan pencatatan sebagaimana di maksud pada angka (4),
wajib pajak Orang Pribadi yang melakukan usaha atau pekerjaan bebas juga harus
menyelenggarakan pencatatan atas harta dan kewajiban.
g). Bbuku, catatan,dan dokumen yang menjadi dasar pencatatan serta dokumen lain wajib
disimpan selama 10 tahun di Indonesia, yaitu di tempat kegiatan atau tempat tinggal Wajib Pajak
Orang Pribadi.
2. Pembukuan
Perpajakan di Indonesia juga mengenal adanya Laporan Keuangan pembukuan. Sesuai dengan
Pasal 4 (4) UU KUP nomor 28 tahun 2007 bahwa SPT Tahunan PPh Wajib Pajak yang wajib
menyelenggarakan pembukuan harus dilampiri dengan laporan keuangan berupa neraca dan
laporan rugi laba serta keterangan lain yang diperlukan untuk menghitung besarnya Penghasiian
Kena Pajak.
Pasal 1 angka 29 UU KUP (UU nomor 28 tahum 2007) Pembukuan adalah suatu proses
pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumpulkan data dan informasi keuangan
yang meliputi harta, kewajiban, modal, penghasilan, dan biaya, serta jumlah harga perolehan dan
penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan keuangan berupa neraca
dan laba rugi laba untuk periode Tahun Pajak tersebut.
Ini berarti bahwa setiap WP yang menyelenggarakan Pembukuan wajib menyelenggarakan
Neraca, Laporan Laba Rugi. Dalam Perpajakan dikenal dengan Pencatatan dan Pembukuan
dimana masing – masing mempunyai dasar hukum. Kewajiban menyelenggarakan Pembukuan :
a). Yang wajib menyelenggarakan pembukuan :
1). Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.
2). Wajib Pajak Badan di Indonesia
b). Dikecualikan dari Kewajiban Menyelenggarakan Pembukuan :
1). Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang – undangan perpajakan diperbolehkan menghitung
penghasilan netto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Netto. Sesuai
dengan UU Nomor 36 tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Undang – Undang Nomor 7
tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Wajib Pajak yang boleh menghitung Penghasilan Netto
aadalah yang mempunyai Peredaran Bruto usahadalam satutahun kurang dari Rp
4.800.000.000,00. Wajib Pajak tersebut diwajibkan untuk memberitahukan kepada Direktur
Jendral Pajak dalam jangka waktu 3 bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan.
2). Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.
3. Syarat Menyelenggakan Pembukuan:
a). Pembukuan atau pencatatan tersebut harus diselenggarakan dengan memperhatikan iktikad
baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya (full disclosure).
b). Pembukuan atau pencatatan tersebut harus diselenggarakan di Indonesia dengan
menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang rupiah, dan disusun dalam bahasa
Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan.
c). Pembukuan diselenggarakan dengan prinsip taat asas (consistency) dan dengan stelsel akrual
stesel kas. Sedangkan yang dimaksud dengan stelsel adalah metode pengakuan Penghasilan dan /
atau biaya yang terjadi dalam satu periode Pembukuan yang terdiri dari :
1). Stelsel akrual, adalah suatu metode pengakuan penghasilan dan biaya yang didasarkan pada
waktu dan diperolehnya atau diterimanya penghasilan serta waktu terutangnya suatu biaya tanpa
memperhatikan arus kas masuk dan arus kas keluar. Jadi tidak tergantung kapan penghasilan itu
diperoleh dan kapan biaya itu dibayar secara tunai.
2). Stelsel Kas adalah suatu metode pengakuan penghasilan dan biaya yang didasarkan pada
waktu dan diperolehnya atau diterimanya penghasilan serta waktu terutangnya suatu biaya
dengan memperhatikan arus kas masuk dan arus kas keluar. Jadi tergantung kapan penghasilan
itu diperoleh dan kapan biaya itu dibayar secara tunai
Penghasilan dalam Pemakaian stelsel kas harus memperhatikan hal – hal sebagai berikut :
a). Perhitungan jumlah penjualan dalam satu periode harus meliputi seluruh penjualan,baik
yangtunai maupun yang bukan. Dalam menghitung pokok penjualan harus diperhitungkan
seluruh pembelian dan persediaan.
b). Dalam memperoleh harta yang disusutkan dan hak – hak yang dapat diamortisasi, biaya –
biaya yangdikurangkan dari penghasilan hanya dapat dilakukan melalui penyusutan dan
amortisasi.
c). Pemakaian stelsel kas harus dilakukan secara taat asas (konsisten)
d). Perubahan terhadap metode pembukuan dan/atau tahun buku harus mendapat persetujuan dari
Direktur Jenderal Pajak. Pada dasarnya Wajib Pajak tidak diperbolehkan mengubah tahun
buku/ tahun pajak sesuka hati melanggar konsistensi dan dikahawatirkan terjadi penggeseran
Laba/ Rugi Perusahaan. Wajib Pajak yang akan mengubah metode pembukuan dan/ atau tahun
buku harus mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam hal ini Kepala
Kantor Pelayanan Pajak karena wewenang persetujuan atau penolakantelah dilimpahkan kepada
Kepala Kantor Pelayanan Pajak
e). Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan mengenai harta, kewajiban, modal,
penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian sehingga dapat dihitung besarnya pajak
yang terutang.
f). Pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah dapat
diselenggarakan oleh Wajib pajak setelah mendapat izin Menteri Keuangan.
g). Pencatatan terdiri atas data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau
penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang
terutang, termasuk penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau yang dikenakan pajak yang
bersifat final.
h). Buku, catatan, dan dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen
lain termasuk hasil pengelolaan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau secara
program aplikasi on-line wajib disimpan selama 10 (sepuluh) tahun di Indonesia, yaitu
ditempatkan kegiatan atau tempat tinggal wajib pajak orang pribadi, atau di tempat kedudukan
wajib pajak badan.
4. Perbedaan antara Pencatatan dan Pembukuan
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan adanya perbedaan Pembukuan dan Pencatatan :
a). Pencatatan
1). Perhitungan mengenai jumlah peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto.
2). Tidak perlu menyusunLaporanKeuangan.
3). Penghasilan kena pajak (PhKP) berdasarkan pencatatan adalah menggunakan total peredaran
usaha.
4). Pencatatan tidak mengenal istilah Laba/ Rugi.
b). Pembukuan
1). Perhitungan mengenai harta, kewajiban, modal, pendapatan dan biaya.
2). Perlu menyusun laporan keuangan (neraca dan laba rugi)
3). Penghasilan kena pajak (PhKP) berdasarkan laba yang dihasilkan dari Laporan Keuangan
4). Pembukuan mengenal istilah rugi/laba.

C. LATIHAN SOAL/TUGAS
1. Apa yang dimaksud dengan pencatatan sesuai dengan pasal 28 Undan-undang Nomor 28
tahun 2007?
2. Sebutkab syarat-syarat pencatatan sesuai dengan pasal 28 Undang-undang nomor 28 tahun
2007?
3. Jelaskan pembukuan sesuai dengan Pasal 28 Undang-undang nomor 28 tahun 2007?
4. Jelaskan perbedaan antara pencatatan dan pembukuan?

D.DAFTAR PUSTAKA
1. UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang – Undang Nomor 7
tahun 1993 tentang Pajak Penghasilan
2. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2007 tentang Perubahan ketiga atas
undang- undang nomor 6 tahun 1983 tentangKetentuan Umum dan tata cara Perpajakan
3. Peraturan Menteri Keuangan nomor 197/ PMK 03/2007 tentang bentuk dan tata cara
Pencatatan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi
4. Purwono Hery.2010. Dasar – dasar Perpajakan dan Akuntansi Pajak. Jakarta: Penerbit
Erlangga

E.GLOSARIUM
1. Transaksi : Sebuah Peristiwa dimana dapat diukur dengan satuan moneter dimana dapat
mempengaruhi posisi keuangan. Peristiwa ini dapat terjadi akibat dengan ekstern dan intern.
2. Bukti : Dokumentasi tertulis yang telah disahkan untuk menjadi kelengkapansebuah
transaksi baik transaksi intern atau ekstern.
3. Jurnal : Input data dari sebuah dokumen yang berisikan kaidah akuntansi (debet, kredit
dan nominal).
4. Posting : Suatu Proses Pemindahan dari Jurnal ke Buku Besar.
5. Buku Besar : Pencatatan masing – masing akun dalam Keuangan berdasarkan urutan
tanggal (contoh akun : Kas, Bank, Piutang, dll)
6. Neraca Saldo : Kumpulan dari saldo – saldo yang ada dari setiap akun di buku besar.
7. Adjustment : Jurnal yang dilakukan akhir periode dilakukan untuk mencatat kondisi yang
sebenarnya sehingga pendapatan dan biaya dapat dikethui sebelum Laporan Keuangan di
buat.
8. Laporan Keuangan : Ikhtisar atau informasi keuangan yang menggambarkan posisi
keuangan, hasil usaha, arus kas, serta perubahan eku itas suatu organisasi dalam suatu posisi
waktu tertentu.
9. Neraca : Laporan yang menggambarkan posisi keuangan suatu perusahaan dimana
didalamnya terdapat asset, kewajiban dan modal yang dimiliki oleh Perusahaan.
10. Laporan Laba Rugi : Laporan hasil Usaha yang menggambarkan Pendapatan dikurangkan
dengan biaya, dimana menunjukan hasil usaha Perusahaan dalam periode waktu tertentu.
11. Laporan Arus Kas : Laporan yang menunjukan saldo kas akhir Perusahaan yang dirinci dari
aktivitas operasi, aktivitas investasi dan akitivitas pendanaan.
12. Laporan Perubahan Modal : Laporanyang menunjukan posisi terakhir dari suatu
permodalan dalam Perusahaan.
13. Stake Holder : Pemegang kepentingan..