Anda di halaman 1dari 11

Lembar Kerja Praktikum Analisis Farmasi 2017

LEMBAR KERJA PRAKTIKUM


Konsultasi Konsultasi Konsultasi Konsultasi Nilai
Penilaian Pre-test
ke-1*) ke-2*) ke-3*) ke-4*) Laporan Akhir
 Pemahaman teori Lulus / Gagal Lulus / Gagal Lulus / Gagal Lulus / Gagal
 Kesesuaian skema kerja Lulus / Gagal Lulus / Gagal Lulus / Gagal Lulus / Gagal
 Kesesuaian form data pengamatan Lulus / Gagal Lulus / Gagal Lulus / Gagal Lulus / Gagal
Nilai Pre-test 100 90 80 60
Keterangan : *) lingkari salah satu pilihan yang sesuai
** )lingkari salah satu nilai terakhir waktu konsultasi

VALIDASI METODE ANALISIS TETRASIKLIN DALAM KAPSUL DENGAN


SPEKTROFOTOMETRIULTRA-VIOLET (UV)

KELOMPOK 4
KHOZAINATUN MAGHFIROH I1C015043
MUH. AMIR HAMZAH I1C015045
NOER QONITA I1C015047
LUVITA NADYA N I1C015049
AMATULLAH SYARIFAH I1C015051
NADA SUBUH YATITIS I1C015053
AZIZAH NURUL QANI’AH I1C015055
EMY YULIANA I1C015057
ASISTEN PRAKTIKUM

DOSEN JAGA PRAKTIKUM

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
2017

Page 1 of 11
Lembar Kerja Praktikum Analisis Farmasi 2017

SKEMA KERJA

1. Pembuatan Larutan NaOH

10gr NaOH

 ditimbang dengan seksama


 dilarutkan dalam aquadest sebanyak
500ml

Larutan NaOH
0.25N

2. Pembuatan Seri Konsentrasi Larutan Standar Tetrasiklin

50mg Tetrasiklin Standar

 ditimbang dengan seksama


 dilarutkan dalam 50ml NaOH 0.25N
 ditunggu 10 menit

Larutan Standar 1000 ppm

 dari konsentrasi 1000 ppm diencerkan 2 ml add 10 ml NaOH


0.25N hingga didapatkan konsentrasi 200 ppm
 dari konsentrasi 200 ppm diencerkan 2 ml add 10 ml NaOH 0.25N
hingga didapatkan konsentrasi 40 ppm
 dari konsentrasi 1000 ppm diencerkan 3 ml add 10 ml NaOH
0.25N hingga didapatkan konsentrasi 300 ppm
 dari konsentrasi 300 ppm diencerkan 2 ml add 10 ml NaOH 0.25N
hingga didapatkan konsentrasi 60 ppm
 dari konsentrasi 1000 ppm diencerkan 1 ml add 10 ml NaOH
0.25N hingga didapatkan konsentrasi 100 ppm
 dari konsentrasi 100 ppm diencerkan 3 ml add 10 ml NaOH 0.25N
hingga didapatkan konsentrasi 30 ppm
 dari konsentrasi 100 ppm diencerkan 2 ml add 10 ml NaOH 0.25N
hingga didapatkan konsentrasi 20 ppm
 dari konsentrasi 100 ppm diencerkan 3 ml add 25 ml NaOH 0.25N
hingga didapatkan konsentrasi 12 ppm
 dari konsentrasi 100 ppm diencerkan 2 ml add 25 ml NaOH 0.25N
hingga didapatkan konsentrasi 8 ppm

Page 2 of 11
Lembar Kerja Praktikum Analisis Farmasi 2017

 dari konsentrasi 100 ppm diencerkan 1 ml add 10 ml NaOH


0.25N hingga didapatkan konsentrasi 10 ppm
 dari konsentrasi 10 ppm diencerkan 5 ml add 10 ml NaOH
0.25N hingga didapatkan konsentrasi 5 ppm
 dari konsentrasi 100 ppm diencerkan 1 ml add 10 ml NaOH
0.25N hingga didapatkan konsentrasi 10 ppm
 dari konsentrasi 10 ppm diencerkan 5 ml add 10 ml NaOH
0.25N hinggadidapatkankonsentrasi 5 ppm
Seri konsentrasi larutan standar Tetrasiklin

3. Penentuan λ Maks

Larutan Standar
Tetrasiklin 10 ppm

 Diukur absorbansinya pada panjang gelombang 200 – 400 nm


 Digunakan blanko NaOH 0.25N

Hasil λ Maks

4. Larutan Standar Tetrasiklin 5 ppm, 8 ppm, 10 ppm, 12 ppm, 20 ppm

Larutan Standar Tetrasiklin 5ppm,


8ppm, 10ppm, 12ppm, 20ppm

 Dibaca serapan dengan spektrofotometer UV pada λ Maks


 Diplotkan absorbansi sebagai y, dan konsentrasi sebagai x
-  Dibuat kurva kalibrasi

Kurva Larutan Standar


Tetrasiklin

Page 3 of 11
Lembar Kerja Praktikum Analisis Farmasi 2017

5. Preparasi Sampel

Soft Capsule Supertetra

 Digunting pada ujung kapsul


 Dikeluarkan seluruh isi kapsul
 Dilarutkan dengan NaOH 0.25N
 Di add hingga 50ml (5000 ppm)
 Dari konsentrasi 5000 ppm diencerkan 5 ml add 25 ml NaOH
0.25N hingga didapatkan konsentrasi 1000 ppm
 Dari konsentrasi 1000 ppm diencerkan 5 ml add 50 ml NaOH
0.25N hinggadidapatkan konsentrasi 100 ppm
 Dari konsentrasi 100 ppm diencerkan 25 ml add 250 ml NaOH
0.25N hingga didapatkan konsentrasi 10 ppm

Larutan Supertetra 10ppm

6. Uji Akurasi

Larutan Supertetra 10ppm

 Diambil sebanyak 5 ml
 Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml

Labu 1 Labu 2 Labu 3 Labu 4

Di tambahkan Ditambahkan NaOH


Di tambahkan Di tambahkan 1 ml
1ml 0.25N sampai tanda
1 ml
Larutan standar 40 batas
Larutan standar Larutan
ppm
30ppm standar ppm
60

Diukur absorbansinya dengan Spektrofotometer UV pada λ Maks

Hasil serapan

Page 4 of 11
Lembar Kerja Praktikum Analisis Farmasi 2017

7. Uji Presisi
Sampel 10ppm

 Diambil 5ml
 Dimasukkan labu ukur 10ml
 Ditambahkan 1ml larutan standar 40ppm
 Di add sampai tanda batas dengan NaOH 0.25N
 Direplikasi 2x
 Diukur absorbansinya dengan Spektrofotometer UV
pada λ Maks

Hasil serapan
8. Uji LOD dan LOQ
- Menggunakan data dari uji akurasi
9. Uji Linearitas
- Menggunakan data dari konsentrasi riil pada uji akurasi

Page 5 of 11
Lembar Kerja Praktikum Analisis Farmasi 2017

DATA PENGAMATAN

1. Penimbangan
Standar tetrasiklin
Massa wadah (mg) 200,8
Massa wadah + bahan (mg) 250,9
Massa wadah + sisa (mg) 202,9
Massa bahan (mg) 48

2. Penentuan kurva kalibrasi standar tetrasiklin


λ maks = 380,5 nm
Gambar profil λ maks
Konsentrasi (ppm) Absorbansi
10 0,193
12 0,214
15 0,210
20 0,405
30 0,591
40 0,786

y= a+ bx = -0,03974+0,02076 x
a= -0,03974
b= 0,02076 Gambar kurva kalibrasi
r= 0,9909

3. Data akurasi
Kons. Kons.
Kons. Tetra Kons. Riil
Standar absorbansi Standar % recovery
total * (x) ***
teoritik (x0) terukur **
0 0,106 7,0202 - - -
3 0,154 9,3323 2,3121 2,88 80, 281%
4 0,172 10,1994 3,1792 3,84 82,792%
6 0,205 11,7890 4,7688 5,76 82,792%
Y= a+bx
𝑦−𝑎
a. *X = 𝑏
0,106 + 0,03974
X0 = 0,02076
= 7,0202

Page 6 of 11
Lembar Kerja Praktikum Analisis Farmasi 2017

0,154+ 0,03974
X3 = = 9,3323
0,02076
0,172+ 0,03974
X4 = 0,02076 = 10,1994
0,205+ 0,03974
X6 = 0,02076 = 11,7890

b. **= X-X0
Konsentrasi Standar terukur = X3-X0 = 9,3323-7,0202 = 2,3121
Konsentrasi Standar terukur = X4-X0 = 10,1994-7,0202 = 3,1792
Konsentrasi Standar terukur = X6-X0 = 11,7890-7,0202 = 4,7688

𝑚𝑔 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟
c. ***= 50
x
konsentrasi standar teoritik
48
X3 = 50
x 3 = 2,88
48
X4 = 50
x 4 = 3,84
48
X6 = 50
x 6 = 5,76

𝑘𝑜𝑛𝑠.𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
d. % recovery = 𝑘𝑜𝑛𝑠.𝑟𝑖𝑖𝑙
x 100%
2,3121
% recovery X3 = 2,88
x 100% = 80, 281%
3,1792
% recovery X4 = 3,84
x 100% = 82,792%
4,7688
% recovery X6 = 5,76
x 100% = 82,792%

4. Data presisi
5 ml sampel 10 ppm + 1 ml standar 40 ppm + pelarut
Kons. Kons.
Kons. Tetra Kons. Riil
Standar absorbansi Standar % Recovery
total * (x) ***
teoritik (x0) terukur **
0 0,106 7,020 - - -
4 0,154 9,332 2,312 3,84 60,208%
4 0,172 10,199 3,179 3,84 82,786%
4 0,152 9, 236 2, 216 3,84 57,708%

Y= a+bx
𝑦−𝑎 X= dari nilai % Recovery
a. *X = 𝑏
0,106+ 0,03974 Sd= 13,814 %
X0 = 0,02076
= 7,020
𝑆𝐷
Cv= x 100%
0,154 + 0,03974 𝑋
X4 (replikasi 1) = 0,02076
= 9,332

Page 7 of 11
Lembar Kerja Praktikum Analisis Farmasi 2017

0,172 + 0,03974
X4 (replikasi 2) = 0,02076
= 10,199
0,152 + 0,03974
X4 (replikasi 3) = 0,02076
= 9, 236

b. **= X-X0
X4 (replikasi 1) = 9,332 - 7,020 = 2,312
X4 (replikasi 2) = 10,199 - 7,020 = 3,179
X4 (replikasi 3) = 9, 236 - 7,020 = 2, 216

𝑚𝑔 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟
c. ***= x konsentrasi standar teoritik
50
48
X4 = 50
x 4 = 3,84

𝑘𝑜𝑛𝑠.𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
d. % recovery = 𝑘𝑜𝑛𝑠.𝑟𝑖𝑖𝑙
x 100%
2,312
% recovery X4 (replikasi 1) =
3,84
x 100% = 60,208%
3,179
% recovery X4 (replikasi 2) = 3,84
x 100% = 82,786%
2,216
% recovery X4 (replikasi 3) = 3,84
x 100% = 57,708%

e. SD = 13,814 %
𝑆𝐷 3,814 %
%RSD = 𝑥̅
x 100% = 66,901 % x 100% = 5,701%

Keterangan: 𝑥̅ = % recovery rata − rata


𝑆𝐷
f. Cv = x 100%
𝑋

13,814 %
Cv X4 (replikasi 1) =60,208% x 100% = 22,943%

13,814 %
Cv X4 (replikasi 2) =82,786% x 100% = 16,686%

13,814 %
Cv X4 (replikasi 3) = 57,708% x 100% = 23,937%

Cv rata-rata = 21,188 %

5. LOD dan LOQ


Kons. Standar Kons. Standar
Kons. Standar riil 4=2-3
teoritik terukur
(1) (2) (3) (4)

3 9,3323 2,88 6,4553

Page 8 of 11
Lembar Kerja Praktikum Analisis Farmasi 2017

4 10,1994 3,84 6,3594


6 11,7890 5,76 6,029

3,3 𝑥 𝑆𝐷 3,3 𝑥 0,223


a. LOD = = = 35, 447 b = diperoleh dari kurva
𝑏 0,02076
10 𝑥 𝑆𝐷 10 𝑥 0,223
baku standar sendiri
b. LOQ = = = 107,41
𝑏 0,02076

c. X3 = 80, 281% ; X4 = 82,792% ; X6 = 82,792%


d. SD= 0,223
𝑆𝐷
e. Cv= 𝑋
x 100%
0,223 0,223
Cv X3 = 80,281% x 100% = 0,278 ; Cv X4 = 82,792%
x 100% = 0,269
0,223
Cv X6 = 82,792% x 100% = 0,269 ; Cv rata-rata = 0,272

6. Linearitas
Kons. teoritik Kons. riil absorbansi Kurva linearitas

0 0 0,106
3 2,88 0,154
4 3,84 0,172
6 5,76 0,205
Y= a+bx
R2= 0,999671794

1000 ppm 3 ml add 10ml 2ml add 10 ml


2 ml add 10 ml
300 60 ppm
200
2ml add 10
ml 3 ml add 10 ml
100 ppm
40ppm 1ml add 10
ml 30ppm
10ppm 2 ml add 25ml
2ml add 10 ml
5ml add 10 8ppm
ml 20 ppm

5 ppm 3 ml add 25 ml

12 ppm

Page 9 of 11
Lembar Kerja Praktikum Analisis Farmasi 2017

PEMBAHASAN

Praktikum ini dilakukan validasi metode analisis tetrasiklin dalam kapsul dengan
Spektrofotometri ultra-violet (UV). Tujuannya untuk memvalidasi metode tersebut, mengetahui
recoverynya itu dari standar tetrasiklin yang sengaja ditambahkan ke dalam supertetra, tetrasiklin
yang ada di supertetra diambil matriksnya sehingga metode ini valid tidak jika diterapkan
tertasiklin dalam matriks tersebut. Sampel yang digunakan adalah soft capsule supertetra yang
digunakan sebagai matriks analisis standar tetrasiklin, karena praktikum ini bertujuan untuk
membuktikan bahwa karakteristik kinerja metode analisis telah memenuhi persyaratan yang telah
ditetapkan sebelumnya. Metode validasi yang digunakan bersumber dari Farmakope Indonesia
Edisi IV (1995). Parameter validasi yang diuji meliputi akurasi, presisi, LOD, LOQ, dan
linearitas. Data akurasi metode ditunjukkan dengan nilai % Recovery. Uji akurasi dilakukan
terhadap larutan dengan konsentrasi teoritik 0,3,4 dan 6 ppm dengan nilai % Recovery masing-
masing adalah 80,281%; 82,792%; dan 82,792%. Menurut AOAC (2016), analit dengan
konsentrasi antara 1-10 ppm memiliki nilai rata-rata % Recovery sebesar 80-100%, dengan
demikian hasil yang diperoleh dari praktikum sesuai dengan literatur dan kinerja metode analisis
telah memnuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Sedangkan data presisi dinyatakan dengan
RSD dan Cv rata-rata. Uji presisi dilakukan terhadap larutan dengan konsentrasi teoritik 4 ppm,
dan analisis dilakukan dengan replikasi sebanyak 3 kali. RSD yang didapatkan sebesar 5,701%
dan nilai Cv rata-rata = 21,188 %. Menurut AOAC (2016), analit dengan konsentrasi antara 1-10
ppm memiliki nilai RSD sebesar 9,15% dengan demikian hasil yang diperoleh dari praktikum
memenuhi persyaratan yang tertera dalam AOAC yang menunjukkan bahwa metode analisis
memiliki presisi yang baik. Limit of Detection menggambarkan konsentrasi analit terkecil dalam
sampel yang masih dapat diukur. Nilai tersebut ditentukan melalui ratio Signal to Noise (S/N)
dengan cara mengukur analit pada konsentrasi yang telah diketahui terhadap blanko (Swartz,
1997). Limit of Quantification menggambarkan konsentrasi terendah analit dalam sampel yang
dapat dianalisis dengan presisi dan akurasi di bawah kondisi percobaan tertentu. Nilai tersebut
ditentukan dengan membandingkan Signal to Noise yaitu sebesar 10:1 (Swartz, 1997).
Berdasarkan persamaan kurva baku maka diperoleh nilai LOD dan LOQ pada metode analisa
yang dipergunakan sebesar 35,447 μg/mL dan 107,41 μg/mL. Linearitas metode ditentukan
dengan melihat nilai R2 (koefisien relasi) dari data akurasi. Lineraitas yang diperoleh sebesar
0,9997. Linearitas suatu metode dikatakan baik apabila jika rentang tidak terlalu lebar dan r ≥
0,999 sehingga nilai linearitas yang diperoleh dari praktikum adalah sesuai. Hal tersebut
menunjukkan adanya hubungan secara langsung atau proposional antara respons detektor dengan
perubahan konsentrasi analit.

Page 10 of 11
Lembar Kerja Praktikum Analisis Farmasi 2017

Kesimpulan

Berdasarkan parameter uji validasi yang telah diuji maka metode yang digunakan untuk
menganalisis standar tetrasiklin dalam matriks sampel (soft capsule supertetra) dapat dikatakan
memenuhi yang telah ditetapkan

Daftar Pustaka

AOAC. 2016. Guidelines for Standard Method Performance Requirements, Appendix F

Depkes RI. 1995. Farmakope Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.Jakarta

Swartz,M.E. and Krull,I.S.1997. Analytical Method Development and Validation. Marcell

Dekker. USA

Page 11 of 11