Anda di halaman 1dari 6

ARTIKEL

SIKAP DAN PERILAKU PASIEN

OLEH:
VEBRIANSYAH

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRA ADIGUNA


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
PALEMBANG
2019
SIKAP MASYARAKAT TERHADAP KEBIJAKAN
JAMPERSAL

Mengikuti teori Maslow, bahwa kebutuhan manusia berjenjang


membentuk suatu piramida. Manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan
yang ada di tingkat bawah terlebih dahulu. Demikian juga untuk pemenuhan
kebutuhan dasar kesehatannya. Dari penelitian ini tampak bahwa untuk memenuhi
kebutuhan kesehatan dasar, pasien Jampersal beserta keluarganya lebih banyak
berobat di puskesmas karena akses trasportasinya lebih mudah dan biaya yang
lebih terjangkau. Sedangkan untuk pasien non Jampersal lebih memilih berobat di
dokter karena mereka memliliki fasilitas dari tempat kerja untuk berobat di poli
karyawan yang ditunjuk perusahaan.

Untuk pemeriksaan kehamilan (ANC) sudah dilakukan secara berjenjang


dari pelayanan tingkat pertama dan selanjutnya dirujuk ke tingkat sekunder, sesuai
dengan petunjuk teknis Jampersal. Sehingga untuk pemenuhan kebutuhan
pemeriksaan kehamilan di tingkat pertama untuk semua pasien sudah terpenuhi di
bidan maupun di puskesmas.
Pada saat pasien dinyatakan oleh bidan penolong di tingkat pertama untuk
di rujuk, seringkali timbul masalah dalam keputusan tersebut. Baik keputusan
untuk bersedia tidaknya dirujuk, maupun keputusan ke rumah sakit mana pasien
akan dirujuk. Seperti yang telah dijelaskan pada teori Maslow, bahwa setelah
kebutuhan dasar kesehatannya terpenuhi, untuk jenjang berikutnya adalah
keinginan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman. Untuk pemenuhan
kebutuhan rasa dapat digambarkan bahwa sebagian besar pasien dan keluarganya
merasa yakin dengan kemampuan rumah sakit.

Untuk memenuhi kebutuhan rasa aman dalam pelayanan kesehatan,


keyakinan akan kemampuan rumah sakit dan tidak adanya rasa cemas saja belum
cukup. Untuk dapat mengakses fasilitas kesehatan diperlukan dana. Bila
seseorang dalam kondisi sakit dan tidak memiliki sama sekali dana untuk berobat,
meskipun kemampuan rumah sakit tidak diragukan, tetap tidak akan ada rasa
aman.

Untuk pemenuhan kebutuhan rasa aman dalam memperoleh pelayanan


persalinan, tidak saja diperlukan kemampuan RS yang handal yang mampu
mengurangi rasa cemas saat pasien menjalani persalinan tetapi juga adanya
jaminan dana untuk membiayai persalinan.

Persalinan yang aman sangat diharapkan oleh pasien dan keluarganya.


Tetapi proses persalinan merupakan proses yang tidak bisa ditebak arahnya.
Sehingga setelah pemenuhan rasa aman tercukupi , pada tahap selanjutnya sesuai
dengan teori Maslow dibutuhkan pemenuhan kebutuhan untuk dicintai dan
dimiliki. Dalam penelitian ini hal tersebut diterjemahkan dalam bentuk dukungan
dalam menjalani perawatan persalinan. Dukungan tersebut berupa dukungan dari
keluarga, masyarakat dan juga petugas. Dalam penelitian ini dukungan keluarga
terhadap ibu untuk menggunakan Jampersal dalam proses persalinan jelas dapat
diamati dari berbagai wawancara yang telah diungkapkan diatas. Dukungan
masyarakat nampak dengan tidak adanya pendapat negatif dalam masyarakat
terhadap pasien yang menggunakan Jampersal. Tetapi ternyata dukungan dari
petugas masih dirasakan kurang oleh pasien. Masih didapatkan keluhan petugas
yang kurang ramah dan tidak diijinkannya keluarga untuk mendampingi oleh
petugas kamar bersalin.

Dalam menjalani perawatan di rumah sakit, pasien pada umumnya


memilih fasilitas yang sesuai dengan kemampuan, keinginan dan harapan mereka.
Hal ini sesuai dengan teori Maslow, bahwa jika kebutuhan tingkat tiga relatif
terpenuhi, maka akan timbul kebutuhan akan harga diri (esteem needs). Bila
kebutuhan akan harga diri ini tercapai, maka sebagai manusia akan tampil sebagai
orang yang percaya diri. Sedangkan untuk pasien Jampersal, mereka tidak bisa
memilih fasilitas sesuai dengan keinginan mereka. Dari hasil penelitian
didapatkan bahwa dari delapan pasien, tujuh orang menyatakan tidak bermasalah
dengan fasilitas yang ada, dan mereka menyadari atas keterbatasan yang ada. Dan
juga mereka tidak memperhatikan dengan penilaian orang lain, terhadap fasilitas
tersebut. Yang terpenting menurut mereka adalah cepat mendapat pertolongan
serta ibu dan bayinya selamat. Hanya satu orang yang tidak merasa nyaman
dengan fasilitas yang diberikan, karena dirasakan privasinya kurang karena harus
bercampur dengan orang banyak.

Selain teori motivasi dari Maslow, Woodhgworth telah menyampaikan


bahwa motivasi mempunyai tiga katekteristik yang akan menetukan motivasi
tersebut akan menimbulkan perilaku atau tidak. Motivasi terbesar yang
mendorong mereka memanfaatkan kebijakan ini adalah kekhawatiran akan
besarnya biaya melahirkan di RS apalagi bila perlu tindakan khusus seperti
operasi. Seperti yang telah disampaikan pada pernyataan yang terdahulu, kuatnya
motivasi ini membuat mereka berpindah memakai Jampersal meskipun
sebelumnya merencanakan persalinan di bidan tidak memakai Jampersal.
Motivasi kedua adalah pemberi arah dalam hal ini pemberi layanan (bidan praktek
swasta ataupun puskesmas) yang memotivasi mereka untuk memanfaatkan
Jampersal saat persalinan di rumah sakit agar biaya yang dikeluarkan tidak besar.
Dari segi persisitensi ternyata empat orang yang telah menggunakan Jampersal
menyatakan akan memanfaatkan program ini lagi bila memerlukan. Seandainya
mereka memiliki dana, dana yang disiapkan tersebut bisa dialihkan untuk
keperluan yang lain. Sedangkan tiga orang lainnya menyatakan kalau terpaksa
saja memakai Jampersal. Mereka menginginkan bila memungkinkan melahirkan
normal di bidan dengan biaya tidak terlalu besar sehingga tidak memerlukan
memakai Jampersal.

Jakarta, Kompas - Belum semua ibu hamil dan bersalin yang tidak mampu
di Jakarta mendapat informasi memadai tentang jaminan persalinan alias
jampersal. Akibatnya, program itu tidak maksimal termanfaatkan. Itu berarti
upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi belum efektif. Jampersal
merupakan pembiayaan pelayanan meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan
persalinan, pelayanan nifas, termasuk pelayanan KB pascapersalinan, dan
pemeriksaan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.

Praktik bidan mandiri yang menjalin kontrak dengan pemerintah juga


dapat melayani. Tuti (31), warga pinggir kali di daerah Kemandoran Pluis, Jakarta
Selatan, mengaku tidak mendapatkan informasi memadai tentang jampersal.
”Pernah lihat iklan di TV, tetapi saya tidak tahu caranya supaya dapat, syaratnya
apa, dan harus ke mana,” kata ibu yang sedang hamil lima bulan anak kelimanya
itu. Dia pernah periksa ke bidan, tetapi tidak mendapat informasi soal jampersal.
Pekan lalu dia terserang flu sehingga berobat ke puskesmas. ”Mumpung di
puskesmas, sekalian periksa kandungan. Di sana ternyata tidak bayar,” kata Tuti
memperlihatkan Buku Kesehatan Ibu dan Anak yang ada cap jampersal. ”Saya
mau melahirkan ke puskesmas saja biar gratis. Kalau di bidan, mesti ada uang Rp
1,5 juta,” ujar perempuan yang bersuami tukang ojek itu. Tuti mengatakan, begitu
tahu ada pemeriksaan gratis kehamilan, dia tertarik memeriksakan kandungan
secara teratur. Apalagi, dia kehilangan anak pertama dan keduanya saat
dilahirkan.

Linda (33), warga Kebon Melati, Jakarta Pusat, menuturkan tidak paham
soal jampersal walau pernah melihat iklannya. Linda baru 22 hari lalu melahirkan
anak ketiga. Sejak awal kehamilan hingga melahirkan, dia berkonsultasi dengan
bidan. Selama itu dia tidak mendapatkan informasi terkait jampersal. Untuk
melahirkan, dia mengeluarkan Rp 1,5 juta. ”Saya malu mau tanya ke bidan soal
jampersal,” ujar Linda yang bersuami sopir.

Begitu pula Ernawati (38) yang baru melahirkan anak ketiga di rumah
sakit. Ia mengatakan tidak pernah mendengar tentang jampersal. Dia
memeriksakan diri ke bidan selama kehamilan. Belakangan, ia mengalami
perdarahan sehingga dirujuk ke puskesmas, lalu dirujuk lagi ke rumah sakit untuk
operasi. Ernawati lalu mengurus surat keterangan tidak mampu sehingga biaya
operasi Rp 20 juta bisa ditekan menjadi Rp 3 juta. Bagi Ernawati yang bersuami
kuli pasar, biaya itu sangat berat. Tidak semua kontrak Ketua I Ikatan Bidan
Indonesia Emi Nurjasmi mengatakan, memang tidak semua bidan menjalin
kontrak dengan pemerintah untuk mengikuti program jampersal. Namun,
kenaikan plafon biaya pelayanan jampersal menjadi Rp 600.000 per ibu tahun ini
mulai meningkatkan minat bidan untuk ikut program jampersal. Koordinator
Divisi Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch Febri Hendri
mengatakan, agar tepat sasaran, sosialisasi program jampersal seharusnya sampai
dan dapat dipahami oleh ibu-ibu hamil. ”Kader posyandu tetap paling efektif
untuk menyosialisasikan,” ujar Febri. Selain itu, seharusnya seluruh bidan juga
terintegrasi dengan program jampersal karena bidan juga mempunyai peran sosial.
(INE)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jampersal Belum


Efektif", https://nasional.kompas.com/read/2012/06/21/02573378/jampersal.belu
m.efektif.