Anda di halaman 1dari 62

PEMERINTAH KABUPATEN LAMPUNG UTARA

DINAS PEKERJAAN UMUM


Jalan Soekarno Hatta No. 74 Kotabumi Lampung Utara

LAPORAN AKHIR
KEGIATAN
PERENCANAAN REHABILITASI/PEMELIHARAAN JALAN

PEKERJAAN
PERENCANAAN PEMELIHARAAN PERIODIK JALAN
KABUPATEN II (DAK)

LOKASI
KABUPATEN LAMPUNG UTARA

TAHUN ANGGARAN
2016
Dalam rangka “Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK) ”, maka
Pemerintah yang diwakili Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Utara akan
melaksanakan pekerjaan tersebut.

Sehubungan dengan itu kami dari CV. BUMI KARYA CONSULTANT yang mendapat
undangan untuk mengikuti pelelangan pekerjaan tersebut mencoba menyusun suatu rencana
kerja yang dituangkan dalam suatu laporan akhir.

Laporan Akhir ini diharapkan dapat menjadi pedoman/acuan dalam rangka pelaksanaan
pekerjaan serta laporan akhir ini juga mempresentasikan kemampuan kami sebagai
Konsultan yang bergerak dalam bidang perencanaan .

CV. BUMI KARYA CONSULTANT

i
Kata Pengantar
Daftar Isi

Bab 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ................................................................................................. I - 1


1.2 Uraian Kegiatan ............................................................................................... I - 2
1.3 Maksud dan Tujuan Kegiatan ...................................................................... I - 2
1.4 Ruang Lingkup Kegiatan ............................................................................. I - 3
1.5 Standar Perencanaan ...................................................................................... I - 5
1.6 Tenaga Ahli dan Staff Pendukung ............................................................... I - 5
1.7 Lokasi Pekerjaan .............................................................................................. I - 9

Bab 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH

2.1 Umum ............................................................................................................... II - 1


2.2 Letak Geografis Kabupaten Lampung Utara ........................................................ II –4

Bab 3 HASIL SURVEY

3.1 Survey Pendahuluan .................................................................................... III - 1


3.2 Personil dan Peralatan ................................................................................ III - 1
3.3 Kondisi Areal ..................................................................................................III - 2
3.4 Pendekatan Metodologi ...............................................................................III - 3
3.5 Tenaga Ahli.....................................................................................................III - 3
3.6 Pendekatan Teknis ........................................................................................III - 4

Bab 4 EVALUASI DATA TEKNIS

4.1 Umum .............................................................................................................. IV - 1


4.2 Pelaksanaan Desain...................................................................................... IV - 1
4.3 Hasil Survey Inventarisasi ......................................................................... IV - 2

ii
4.4 Hasil Survey Topografi ............................................................................... IV - 4
4.5 Hasil Survey Lalu lintas.............................................................................. IV - 9
4.6 Hasil Survey Perkerasan Jalan .................................................................IV - 11
4.7 Hasil Survey Hidrologi dan Hidrolik ..................................................... IV - 11
4.8 Hasil Perencanaan Perkerasan Jalan ..................................................... IV - 26
4.9 Hasil Perencanaan Stabilitas Badan Jalan ............................................ IV - 28
4.10 Hasil Perhitungan Kuantitas ................................................................... IV - 28
4.11 Hasil Kerja dan Pelaporan ........................................................................ IV - 29

Bab 5 PENUTUP

5.1 Penutup ............................................................................................................ V - 1

iii
1

1.1 LATAR BELAKANG

Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Utara, dalam melaksanakan Program

Perencanaan teknis peningkatan jalan membagi dalam beberapa tahapan pelaksanaan

pekerjaan, yang dimulai dari tahap penyusunan program, perencanaan teknis, pelaksanaan

fisik, pekerjaan pengawasan dan pemeliharaan hasil pekerjaan. Salah satu kegiatan yang

mendapat perhatian adalah “Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II

(DAK)”.

Kegiatan ini menjadi titik berat utama mengingat perbaikan Jalan tersebut sangat penting.

Dinas Pekerjaan Umum Lampung Timur bersama dengan CV. BUMI KARYA

CONSULTANT membentuk suatu tim khusus untuk melakukan “Perencanaan

Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)”, mengingat perlu sesegera mungkin

untuk ditangani dalam penanganannya.

Secara umum Latar Belakang pekerjaan peningkatan jalan dilandasi upaya untuk mengatasi

dan memperbaiki layanan Transportasi yaitu Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan

Kabupaten II (DAK). Program Kegiatan ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam

menunjang pencapaian sasaran Pembangunan Nasional pada umumnya, dan Kabupaten

Lampung Utara pada khususnya, yang dalam hal ini untuk perencanaan teknis peningkatan

jalan di Kabupaten Lampung Utara yang pelaksanaannya dalam lingkup tugas Dinas
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Utara pada Perencanaan teknis dan peningkatan

jalan.

1.2 URAIAN KEGIATAN

Berdasarkan program yang telah ditetapkan oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten

Lampung Utara Tahun Anggaran 2016 terdapat beberapa titik “Perencanaan

Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK) ” yang termasuk ke dalam program

umum dan program khusus.

Program umum merupakan program Perencanaan, meliputi Survey Langsung yaitu Tim

Langsung turun Kelapangan. Program khusus merupakan rencana penambahan apabila

fasilitas kurang mendukung atau kurang tersedia, di luar program umum tersebut yang

merupakan lanjutan.

Berdasarkan program “Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK) ”

ini yang telah ditetapkan oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Utara Tahun

Anggaran 2016, terdapat beberapa Lokasi yang perlu ditangani pelaksanaan fisiknya untuk

menjaga kesinambungan fungsi pelayanan terhadap kepentingan masyarakat.

Guna mencapai maksud tersebut salah satu kegiatan adalah melakukan perencanaan di

Kabupaten Lampung Utara.

1.3 MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN

1.3.1 Maksud Kegiatan

Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyediakan informasi khususnya Dinas Pekerjaan Umum

Kabupaten Lampung Utara dalam melaksanakan program pembangunan yang terletak pada

daerah-daerah yang perlu penanganan khusus keadaan maupun sifat fisik tanah dan jenis

konstruksi yang tepat yang dapat diaplikasikan di daerah tersebut, agar tidak terjadi

kegagalan pembangunan konstruksi.

Laporan Akhir
BAB 1 2
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

1.3.2 Tujuan Kegiatan

Kegiatan Perencanaan ini tersebar di beberapa wilayah Kabupaten Lampung Utara memuat

tujuan sebagai berikut:

1. Mengingat Kondisi Jalan yang perlu ditingkatkan kualitasnya yaitu untuk mendukung

kenyamanan masyarakat khususnya pengguna jalan.

2. Dapat memberikan pemahaman urutan teknis pelaksanaan pembangunan konstruksi

yang baik dan benar yang mencakup semua aspek-aspek teknis yang diperlukan dalam

penyusunan suatu perencanaan.

3. Melaksanakan Analisa Rancangan pada perencanaan di Kabupaten Lampung Utara.

4. Memberikan Rekomendasi Teknis dan Rancangan Teknis Terinci pada perencanaan.

5. Melaksanakan penelitian tanah secara menyeluruh pada daerah area lokasi perencanaan

Kabupaten Lampung Utara.

6. Penyiapan Dokumen Lelang bagi pelaksanaan fisik dan memberikan fungsi pelayanan

yang maksimal bagi pengguna.

1.4 RUANG LINGKUP KEGIATAN

1.4.1 Jenis Jasa Yang Diperlukan

Jenis Pekerjaan Jasa Konsultansi berupa Perencanaan Teknis yang dituangkan ke dalam

Dokumen Kontrak Jasa Konsultansi tersebut berupa :

a. Jasa Survei :

1. Metode teknis dan alternatif konstruksi yang akan digunakan.

2. Pengumpulan Data Lapangan berupa Pengukuran dan penggambaran, dan lain-lain

3. Penyelidikan Sumber Alam / Sumber Material (pembuatan peta sumber material)

b. Jasa Engineering

1. Desain Teknis Trotoar, yang berupa Rancangan Teknis Terinci.

Laporan Akhir
BAB 1 3
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

2. Survei Kuantitas dan Perhitungan Biaya.

3. Penyiapan Dokumen Tender dan Evaluasi Penawaran.

4. Jenis Konstruksi pada Pembuatan Trotoar tersebut.

Dengan demikian, pengambilan data lapangan perlu dipersiapkan sesuai dengan pekerjaan

yang akan dilaksanakan dan peralatan yang dipergunakan setelah mengetahui dengan jelas

keadaan rencana dan lokasi Jalan, yang lokasinya ditentukan kemudian dari hasil survey

pendahuluan.

1.4.2 Lingkup Pekerjaan Yang Ditangani

Lingkup pekerjaan yang akan dilakukan oleh CV. BUMI KARYA CONSULTANT sesuai

dengan tahapannya adalah sebagai berikut :

a. Tahapan Pengumpulan Data Lapangan :

1. Pekerjaan penyelidikan Rancangan di lapangan.

2. Pekerjaan survey topografi daerah sekitar kegiatan.

4. Inventarisasi Geometrik Jaringan Jalan/Lokasi berikut foto dokumentasi

5. Inventarisasi sumber material di sekitar lokasi proyek.

b. Tahapan Analisa Data Lapangan, Perencanaan dan Penggambaran :

1. Perencanaan dan perhitungan konstruksi yang sesuai dengan kondisi dan data teknis

di lapangan dengan memanfaatkan beberapa alat bantu software.

2. Penelitian lapangan untuk mendapatkan beberapa data pendukung teknis.

3. Menentukan “Unique Section” yang akan dapat dipakai dalam proses disain.

4. Menentukan volume pekerjaan dan perkiraan biaya.

5. Membuat gambar-gambar standar dan terinci dari Sumur Bor.

c. Tahapan Pengadaan Dokumen Lelang :

1. Menyusun ketentuan-ketentuan yang akan diterapkan baik dalam proses

pelelangan maupun dalam proses pelaksanaan.

Laporan Akhir
BAB 1 4
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

2. Ketentuan-ketentuan tersebut dituangkan dalam Dokumen Lelang

3. Mencetak dokumen lelang setiap paket kontrak.

1.5 STANDAR PERENCANAAN

Dalam melaksanakan perencanaan, referensi seperti di bawah ini akan diterapkan dan

dipakai sebagai dasar perhitungan dan perencanaan:

a) Tata cara pelaksanaan survei, No. 017/T/BNKT/1990.

b) Tata cara perencanaan permukaan, SK SNI T-22-1991-03

c) Urban drainage guidelines and technical design standards, tahun 1994 yang dikeluarkan

oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya.

1.6 TENAGA AHLI DAN STAFF PENDUKUNG

Tenaga ahli Konsultan sekurang – kurangnya harus berkualitas sebagai berikut :

a) Pemimpin team konsultan harus tamatan Perguruan Tinggi Teknik Sipil

berpengalaman dalam berbagai disiplin ilmu dan berpengalaman dalam

mengkoordinasikan dan melaporkan pekerjaan orang lain tergantung pada besarnya

dan kerumitan pekerjaan, maka Pemimpin Team diharapkan telah pernah menjadi

Pemimpin Team pada satu atau dua Kegiatan yang serupa

Tenaga Ahli Profesional

a) Tenaga Ahli

Agar dapat melaksanakan pekerjaan ini dengan baik, diperlukan Tim Perencana

(Pelaksana) yang terdiri atas tenaga ahli profesional yang cakap dan berpengalaman

dalam bidang Perencanaan Jalan Raya. Untuk melaksanakan tugasnya, tenaga ahli

profesional tersebut dibantu oleh beberapa tenaga pendukung baik assisten ahli

maupun tenaga pendukung lainnya. Tim Perencana (Pelaksana) dipimpin oleh

Laporan Akhir
BAB 1 5
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

seorang Ketua Tim (Team Leader) yang cakap dan berpengalaman dalam mengelola

dan mengkoordinir pelaksanaan pekerjaan.

Pemimpin team konsultan harus tamatan Perguruan Tinggi Teknik Sipil

berpengalaman dalam berbagai disiplin ilmu dan berpengalaman dalam

mengkoordinasikan dan melaporkan pekerjaan orang lain tergantung pada besarnya

dan kerumitan pekerjaan, maka Pemimpin Team diharapkan telah pernah menjadi

Pemimpin Team pada satu atau dua Kegiatan yang serupa

Kualifikasi tenaga ahli yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan ini, sebagai

berikut :.

Kualifikasi tenaga ahli yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan ini, sebagai

berikut :

1. Team Leader

Ketua Team Konsultan adalah harus lulusan Perguruan Tinggi minimal Strata 1 (S1)

Jurusan Teknik Sipil yang berpengalaman dalam beberapa disiplin ilmu yang

berkaitan dengan pekerjaan / kegiatan ini dan memiliki jiwa kepemimpinan

(leadership) dan manajerial, sehingga Pemimpin Team mampu mengkoordinasikan

segala potensi dan sumber daya yang ada secara optimal untuk mencapai tujuan dan

sasaran kegiatan dengan efektif dan efesien.

Pemimpin Team diutamakan yang pernah memiliki pengalaman menjadi Team

Leader pada pekerjaan sejenis ( sama sub Bidang) dengan pekerjaan yang akan

dilelangkan / dilaksanakan minimal 5 (lima) tahun.

Tugas dan tanggung Jawab kepada Team meliputi :

 Melakukan Konsultasi dari Asistensi dengan Direksi serta mempersiapkan /

menyediakan kelengkapan Adminitrasi, Personil, bahan dan peralatan yang

diperlukan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan.

Laporan Akhir
BAB 1 6
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

 Mengkoordinasikan semua kegiatan dan personil yang terlibat dalam pelaksanaan

pekerjaan ini sehingga dapat menghasilkan keluaran (Output) seperti yang

disyaratkan dalam Kontrak

 Mengkompilasi, meneliti dan mengoreksi seluruh hasil kerja yang dilaksanakan, oleh

tenaga ahli dan personil lain pada seluruh tahapan dan proses pelaksanaan pekerjaan.

 Memberikan bimbingan, petunjuk dan perintah pelaksanaan pekerjaan baik

dilapangan maupun di kantor (studio).

 Bertanggung jawab atas keselamatan dan kesejahteraan seluruh anggota team dan

personil lainya yang terkait dengan kegiatan pelaksanaan kegiatan ini.

 Bertanggung jawab atas seluruh hasil pelaksanaan pekerjaan mulai dari data-data

lapangan, hasil perhitungan dan Analisa serta gambar – gambar dan dukomen –

dokumen lainya.

2. Ahli Estimasi Biaya

Ahli Estimasi Biaya bertanggung jawab kepada Team Leader dan berkedudukan di

lokasi dimana tempat bekerja. Ahli Estimasi Biaya bertanggung jawab terutama atas

mutu pekerjaan konstruksi yang mengacu pada ketentuaan Peraturan mengenai

struktur. Ahli Jalan harus seorang Sarjana Teknik Sipil yang memiliki pengalaman di

bidang Konstruksi/Struktur minimum selama. Dia harus memahami benar metode

test laboratorium yang disyahkan dalam dokumen kontrak. Tugas dan tanggung

jawab Ahli Jalan mencakup hal-hal sebagai berikut :

 Mengikuti instruksi teknis dari Team Leader, serta mengusahakan agar Team

Leader dan Pejabat Pembuat Komitmen selalu mendapat informasi yang diperlukan.

 Melakukan Perencanaan dan pemantauan ketat atas pengaturan personil, agar

pelaksanaan pekerjaan selalu di dukung tersedianya tenaga dan peralatan.

Laporan Akhir
BAB 1 7
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

 Melakukan Perencanaan dan pemantauan atas pengaturan dan pengadaan peralatan

dan bahan-bahan lain yang diperlukan.

 Melakukan Perencanaan setiap hari semua kegiatan, serta segera memberikan

laporan kepada Team Leader setiap permasalahan yang timbul sehubungan dengan

kondisi dilokasi pekerjaan yang berhubungan dengan keadaan tanah dan sebagainya.

 Melakukan analisis semua hasil test, termasuk usulan komposisi campuran (Job-Mix

Formula), baik mutu pekerjaan aspal, Soil-Cement dan beton, serta memberikan

rekomendasi dan justifikasi teknis atas persetujuan dan penolakan usulan tersebut.

 Menyerahkan kepada Team Leader himpunan data bulanan pengendalian. Himpunan

data harus mencakup semua data test laboratorium dan lapangan secara jelas dan

tepat.

3. Surveyor

Surveyor harus seorang Teknik Sipil yang berpendidikan minimal Diploma III

mempunyai pengalaman di bidang Perencanaan teknis jalan dan jembatan minimum.

Tugas dan tanggung jawabnya mencakup hal-hal sebagai berikut :

Mengikuti petunjuk-petunjuk dan persyaratan yang telah ditentukan sehubungan

dengan :

 Inpeksi secara teratur kepaket-paket pekerjaan untuk melakukan monitoring kondisi

pekerjaan dan melakukan perbaikan-perbaikan agar pekerjaan dapat di realisasikan

sesuai dengan ketentuan dan persyaratan yang telah ditentukan.

 Pengertian yang benar tentang spesifikasi

 Metode pelaksanaan untuk setiap jenis pekerjaan yang disesuaikan dengan kondisi

lapangan.

 Metode pengukuran volume pekerjaan yang benar sesuai dengan kondisi lapangan.

Laporan Akhir
BAB 1 8
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Melakukan pengecekan secara cermat semua pekerjaan dan ikut serta dalam proses

akhir pekerjaan.

4. Operator CAD

Mempunyai pengalaman minimal dalam pembuatan gambar-gambar teknik sipil

khususnya jalan raya, dapat bekerja dengan cepat dengan tingkat ketelitian yang

tinggi. Mempunyai latar belakang pendidikan minimal Diploma III, juru gambar

bertanggung jawab atas pembuatan gambar-gambar yang dibutuhkan.

5. Administrasi

Membantu dalam hal pengarsipan dan administrasi perkantoran.

1.7 LOKASI PEKERJAAN

Lokasi pekerjaan ini berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Lampung Utara yang

tersebar dibeberapa wilayah jalan yaitu :

1. Peningkatan jalan ruas Jalan Kalibalangan – Cabang Empat

2. Peningkatan jalan ruas Jalan Kalibalangan – Tata Karya

3. Peningkatan jalan ruas Jalan Keramat Teluk - Sriwidodo

Laporan Akhir
BAB 1 9
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

2.1 Umum

Lampung Utara merupakan wilayah administratif di bawah Karesidenan Lampung yang

terbagi atas beberapa kawedanan, kecamatan dan marga. Pemerintahan marga

dihapuskan dengan Peraturan Presiden 3 Desember 1952 Nomor 153/1952 dan

dibentuklah “Negeri” yang menggantikan status marga dengan pemberian hak otonomi

sepenuhnya berkedudukan di bawah kecamatan. Dengan terjadinya pemekaran beberapa

kecamatan, terjadilah suatu negeri di bawah beberapa kecamatan, sehingga dalam tugas

pemerintahan sering terjadi benturan. Status pemerintahan negeri dan kawedanan juga

dihapuskan dengan berlakunya UU RI Nomor 18 Tahun 1965.

Berdasarkan UU RI Nomor 4 (Darurat) Tahun 1965, juncto UU RI Nomor 28 Tahun

1959, tentang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-Kabupaten dalam Lingkungan

Sumatera Selatan, terbentuklah Kabupaten Lampung Utara di bawah Provinsi Sumatera

Selatan. Dengan terbentuknya Provinsi Lampung berdasarkan UU RI Nomor 14

Tahun 1964, maka Kabupaten Lampung Utara masuk sebagai bagian dari Provinsi

Lampung.

Kabupaten Lampung Utara telah mengalami tiga kali pemekaran sehingga wilayah

yang semula seluas 19.368,50 km² kini tinggal 2.765,63 km². Pemekaran wilayah

Laporan Pendahuluan

BAB 2 1

Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

pertama terjadi dengan terbentuknya Kabupaten Lampung Barat berdasarkan UU RI

Nomor 6 Tahun 1991, sehingga Wilayah Lampung Utara berkurang 6 kecamatan yaitu:

Sumber Jaya, Balik Bukit, Belalau, Pesisir Tengah, Pesisir Selatan dan Pesisir Utara.

Pemekaran kedua tejadi dengan terbentuknya Kabupaten Tulang Bawang berdasarkan

UU RI Nomor 2 Tahun 1997. Wilayah Lampung Utara kembali mengalami

pengurangan sebanyak 4 kecamatan yaitu: Menggala, Mesuji, Tulang Bawang Tengah

dan Tulang Bawang Udik. Pemekaran ketiga terjadi dengan terbentuknya Kabupaten

Way Kanan berdasarkan UURI Nomor 12 Tahun 1999. Lampung Utara kembali

berkurang 6 kecamatan yaitu: Blambangan Umpu, Pakuan Ratu, Bahuga, Baradatu,

Banjit dan Kasui. Kabupaten Lampung Utara, saat ini tinggal 8 kecamatan yaitu:

Kotabumi, Abung Selatan, Abung Timur, Abung Barat, Sungkai Selatan, Sungkai

Utara, Tanjung Raja dan Bukit Kemuning.

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2000 jumlah kecamatan dimekarkan

menjadi 16 kecamatan dengan mendefinitifkan 8 kecamatan pembantu yaitu : Kotabumi

Utara, Kotabumi Selatan, Abung Semuli, Abung Surakarta, Abung Tengah, Abung

Tinggi, Bunga Mayang dan Muara Sungkai. Sedangkan hari kelahiran Kabupaten

Lampung Utara Sikep ini, setelah melalui berbagai kajian, disepakati jatuh tanggal 15

Juni 1946 dan ini disahkan dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2002.

Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2006 tanggal 15 Agustus 2006 telah

dimekarkan kembali 7 kecamatan yang baru, yaitu sebagai berikut:

1. Kecamatan Hulu Sungkai ibukota Gedung Maripat

2. Kecamatan Sungkai Tengah ibukota Batu Nangkop

3. Kecamatan Sungkai Barat ibukota Sinar Harapan

4. Kecamatan Sungkai Jaya ibukota Cempaka

Laporan Pendahuluan

BAB 2 2

Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

5. Kecamatan Abung Pekurun ibukota Pekurun

6. Kecamatan Abung Kunang ibukota Aji Kagungan Kepala Kampung Syahrial Kunang

7. Kecamatan Blambangan Pagar ibukota Blambangan

Sehingga saat ini di lampung Utara menjadi 23 kecamatan, yaitu:

1. Kecamatan Abung Barat

2. Kecamatan Abung Kunang

3. Kecamatan Abung Pekurun

4. Kecamatan Abung Selatan

5. Kecamatan Abung Semuli

6. Kecamatan Abung Surakarta

7. Kecamatan Abung Tengah

8. Kecamatan Abung Timur

9. Kecamatan Abung Tinggi

10. Kecamatan Blambangan Pagar

11. Kecamatan Bukit Kemuning

12. Kecamatan Bunga Mayang

13. Kecamatan Hulu Sungai

14. Kecamatan Kotabumi Kota

15. Kecamatan Kotabumi Selatan

16. Kecamatan Kotabumi Utara

17. Kecamatan Muara Sungkai

18. Kecamatan Sungkai Barat

19. Kecamatan Sungkai Jaya

20. Kecamatan Sungkai Selatan

21. Kecamatan Sungkai Tengah

Laporan Pendahuluan

BAB 2 3

Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

22. Kecamatan Sungkai Utara

23. Kecamatan Tanjung Raja

2.2. Letak Geografis Kabupaten Lampung Utara

Kabupaten Lampung Utara merupakan salah satu dari 15 kabupaten/kota yang ada di

Propinsi Lampung. Kabupaten yang beribukota di Kotabumi, berjarak 100 km dari

Bandar Lampung (Ibukota propinsi Lampung). Secara administrasi, Lampung Utara

terbagi dalam 23 wilayah kecamatan dan 247 desa/kelurahan dengan total luas wilayah

2.725,63 km² atau 7,72 persen dari luas Propinsi Lampung. Dengan batas wilayah

sebagai berikut :

1. Sebelah Utara dengan Kabupaten Way Kanan.

2. Sebelah Selatan dengan Kabupaten Lampung Tengah.

3. Sebelah Timur dengan Kabupaten Tulang Bawang Barat.

4. Sebelah Barat dengan Kabupaten Lampung Utara.

Berdasarkan Perda No. 08 Tahun 2006, wilayah Kabupaten Lampung Utara pada tahun

2006 dimekarkan menjadi 23 kecamatan dan 247 desa/ kelurahan. Luas wilayah

Kabupaten Lampung Utara adalah 272.563 Ha.

Wilayah Kabupaten Lampung Utara merupakan daerah agraris dengan mata

pencaharian pokok penduduknya di sektor pertanian.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Peta Wilayah Admnistrasi dibawah ini.

Laporan Pendahuluan

BAB 2 4

Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Laporan Pendahuluan

BAB 2 5
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

2.2.1. Kondisi dan Potensi

1. Geografis (Letak Klimatologi)

Arah Utara – Selatan 4,34o-5,06o Lintang Selatan.

Arah Timur – Barat 104,30o-105,08o Bujur Timur.

2. Topografi

Secara topografi, sebelah barat merupakan daerah perbukitan dengan

ketinggian antara 450-1500 m dari permukaan laut, dan pada bagian timur

merupakan dataran rendah yang tertutup awan vulkanis.

3. Iklim

Iklim tropis dengan musim hujan dan musim kemarau berganti sepanjang

tahun. Temperatur rata-rata 30o C, dengan jumlah hujan 197 mm/bulan dan

hari hujan rata-rata 12 hari/bulan

4. Perekonomian dan Mata Pencaharian

Perekonomian Kabupaten Lampung Utara didominasi oleh sektor pertanian.

Wilayah yang berpenduduk sebanyak 598.892 jiwa ini bermata pencaharian

utama pada sektor pertanian, khususnya pertanian tanaman keras seperti

kopi, lada, kelapa sawit, dan lain-lain.

5. Sosial Budaya

Masyarakat Kabupaten Lampung Utara dikenal sebagai masyarakat yang

terbuka bagi kaum pendatangdan memiliki jiwa gotong royong (”SAKAI

SAMBAYAN”). Lebih dari 97 persen penduduk Kabupaten Lampung Utara

beragama Islam. Selama ini kerukunan hidup antar umat bergama

senantiasa terpelihara secara baik.

Laporan Akhir
BAB 2 6
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

2.2.2. Pemerintahan

Untuk mensukseskan progam pembangunan Pemerintah Daerah Kabupaten

Lampung Utara telah menetapkan motto : ”GERTAK LAMPURA SIKEP”. Gertak

merupakan singkatan dari Gerakan Serentak, yaitu masyarakat bangkit secara

serentak untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Lampura merupakan singkatan

dari Lampung Utara. Sikep dalam bahasa Lampung berarti Cantik/indah. Makna

masing-masing huruf dalam Lampura Sikep adalah : Lingkungan, Aman, Mantap,

Patuh, Utuh, Rapih dan Anggun dengan mengembangkan Sikap, Inisiatif,

Kebersamaan, Efektif/efisien dalam Pembangunan.

Tabel 2.1. Luas Daerah Kabupaten Lampung Utara Menurut Kecamatan Tahun 2014
JUMLAH
NO KECAMATAN LUAS (Ha)
DESA
1 Bukit Kemuning 11.498 8
2 Abung Tinggi 13.306 8
3 Tanjung Raja 33.170 19
4 Abung Barat 6.008 14
5 Abung Tengah 9.193 11
6 Abung Kunang 4.020 7
7 Abung Pekurun 18.347 9
8 Kotabumi 5.911 13
9 Kotabumi Utara 17.519 8
10 Kotabumi Selatan 10.422 14
11 Abung Selatan 14.136 16
12 Abung Semuli 9.688 7
13 Blambangan Pagar 19.139 7
14 Abung Timur 10.447 12
15 Abung Surakarta 11.051 9
16 Sungkai Selatan 8.965 11
17 Muara Sungkai 11.869 11
18 Bunga Mayang 12.576 11

Laporan Akhir
BAB 2 7
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

19 Sungkai Barat 6.896 10


20 Sungkai Jaya 5.220 9
21 Sungkai Utara 12.759 15
22 Hulu Sungkai 9.263 10
23 Sungkai Tengah 11.160 8
JUMLAH 272.563 247
Sumber : BPS Kabupaten Lampung Utara 2015

2.2.3. Perekonomian

Letak Kabupaten Lampung Utara yang relatif jauh dari ibukota provinsi

(Bandarlampung) membuat perekonomian mayoritas penduduknya masih

mengandalkan sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup. Menurut data

dari BPS Kabupaten Lampung Utara, hanya sebagian kecil lahan saja yang

digunakan sebagai areal perumahan. Selebihnya, merupakan lahan pertanian,

perladangan, dan kolam, dengan rincian: padi sawah seluas 31.533 ha menghasilkan

167.350 ton, padi ladang/gogo seluas 10.025 ha menghasilkan 41.555 ton, jagung

seluas 29.619 ha menghasilkan 185.118 ton, ubi kayi seluas 52.048 ha menghasilkan

1.405.218 ton, ubi jalar seluas 624 ha menghasilkan 6.523 ton, kacang kedelai seluas

888 ha menghasikan 1.423 ton, kacang hijau seluas 574 ha menghasilkan 721 ton,

kacang tanah seluas 1.416 ha menghasilkan 2.779 ton, sayur-mayur seluas 4.387 ha

menghasilkan 81.108 ton, buah-buahan seluas 929.637 ha menghasilkan 363.619 ton,

karet seluas 18.044,3 menghasilkan 9.959,1 ton, cengkeh seluas 495,5 ha

menghasilkan 27,8 ton, kopi seluas 17.149 ha menghasilkan 8.781,8 ton, kelapa

seluas 2.692,2 ha menghasilkan 1.852,9 ton, kelapa sawit seluas 8.122,8 ha

menghasilkan 6.027,1 ton, lada seluas 18.473,5 ha menghasilkan 6.343,5 ton, tebu

seluas 5.210,8 ha menghasilkan 24.902,2 ton, kayu manis seluas 41 ha menghasilkan

4,2 ton, dan coklat seluas 5.533 ha menghasilkan buah sejumlah 956,2 ton.

Laporan Akhir
BAB 2 8
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Selain pertanian dan perkebunan, Kabupaten Lampung Utara juga menghasilkan

tambahan dari sektor perikanan. Pada tahun 2013 hasil perikanan Kabupaten

Lampung Utara mencapai 6.423,08 ton yang berasal dari keramba/jaring

apung/cages sebesar 2.649,67 ton, waduk/dam 633,1 ton, rawa 327,4 ton, sungai

1.304 ton, kolam 1.490,14 ton, dan mina padi sebesar 18,17 ton.

2.2.4. Sosial Budaya

Masyarakat asli Lampung (bukan transmigran atau pendatang) terbagi dalam dua

adat besar yaitu Saibatin dan Pepadun. Penduduk yang beradat Saibatin umumnya

tinggal di sepanjang pesisir selatan hingga barat provinsi ini, sedangkan penduduk

beradat Pepadun bermukim di daerah pedalaman sebelah barat Bukit Barisan.

Masyarakat adat Saibatin atau disebut juga Peminggir (karena bermukim di pinggir

pantai) terdiri atas Paksi Pak (Buay Belunguh, Buay Pernong, Buay Nyerupa, Buay

Lapah) dan Komering-Kayuagung. Mereka mendiami sebelas wilayah adat, yaitu:

Kalianda, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang,

Kota Agung, Semaka, Belalau, Liwa, dan Ranau.

Sementara masyarakat pendukung adat Pepadun terdiri dari: (1) Abung Siwo Mego

(Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagi, dan Nyerupa)

yang mendiami tujuh wilayah adat, yaitu Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana,

Labuhan Meringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi; (2) Mego Pak

Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, dan Puyang Tegamoan)

yang mendiami empat wilayah adat, yaitu Menggala, Mesuji, Panaragan, dan

Wiralaga; (3) Pubian Teluk Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak

Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak, dan Hulu atau Suku

Bukujadi) yang mendiami delapan wilayah adat, yaitu Tanjungkarang, Balau,

Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung; (4)

Laporan Akhir
BAB 2 9
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Sungkai-Way Kanan Buay Lima atau lima keturunan Raja Tijang Jungur, terdiri dari

Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, dan Barasakti. Mereka mendiami sembilan

wilayah adat, yaitu Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang,

Belambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui (seandanan.wordpress.com).

Berdasarkan pembagian marga dan wilayah adat tersebut, maka dapat dikatakan

masyarakat Lampung Utara sebagian besar adalah pendukung adat Pepadun. Bahkan

konon, mereka yang mendiami daerah Abung di Lampung Utaralah yang pertama

kali mendirikan adat Pepadun pada zaman Seba Banten sekitar abad ke-17 Masehi

yang kemudian menyebar ke daerah Way Kanan, Tulang Bawang, dan Way Seputih

(Pubian) (seandanan.wordpress.com). Kata Pepadun sendiri ada yang berpendapat

berasal dari kata "padu" yang berarti "berunding". Jadi, Pepadun dapat diartikan

sebagai suatu perundingan atau musyawarah dalam suasana kekeluargaan untuk

mencapai suatu kesatuan yang utuh (uun-halimah.blogspot.com). Selain itu ada pula

yang berpendapat bahwa "pepadun" adalah bangku atau singgasana kayu yang

merupakan simbol status sosial tertentu dalam sebuah marga. Pepadun digunakan

dalam upacara pemberian gelar adat (julok adok) yang disebut Cakak Pepadun

(indonesiakaya.com).

Sebagai sebuah kesatuan adat, orang Pepadun tentu mengembangkan kebudayaan

tersendiri sebagai pedoman bagi kehidupan bersama. Misalnya, dalam sistem

kekerabatan mereka menganut prinsip patrilineal yang mengikuti garis keturunan

dari kaum laki-laki. Oleh karena itu, dalam sebuah keluarga kedudukan adat tertinggi

berada pada anak laki-laki tertua dari keturunan tertua yang disebut Penyimbang.

Seseorang yang memperoleh gelar dan status sebagai penyimbang akan sangat

dihormati dalam masyarakatnya karena menjadi penentu dalam setiap proses

pengambilan keputusan adat.

Laporan Akhir
BAB 2 10
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Selain kedudukan atau status yang diperoleh secara turun-temurun melalui garis

keturunan, masyarakat pepadun juga mengenal pemberian gelar adat untuk Suttan,

Raja, Pangeran, dan Dalom. Gelar ini dapat diperoleh seorang dari kalangan

kebanyakan sepanjang dia mampu menyelenggarakan upacara pemberian gelar adat

yang disebut sebagai Cakak Pepadun. Dalam upacara ini, anggota masyarakat yang

ingin menaikkan statusnya harus membayar dau (uang) serta memotong sejumlah

kerbau yang apabila ditotal dapat mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah

bergantung dari gelar yang dinginkan. Upacaranya sendiri diselenggarakan di

rumah sesat dan dipimpin oleh seorang penyimbang atau pimpinan adat dengan

posisi yang paling tinggi. (Ali Gufron)

2.2.5. Kependudukan

Pada tahun 2015 populasi di Kabupaten Lampung Utara 602.727 jiwa dengan

kepadatan penduduk sekitar 221,13 jiwa/km².

Tabel 2.2. Jumlah Penduduk Kelompok Umur

penduduk perkelompok umur 2015 
(Jiwa) 
Kelompok 
Umur  Laki‐laki  Perempuan  L+P 
2015  2015  2015 
0‐4  32025 30503  62528 
9‐May 30354 28642  58996 
14‐Oct 29317 27676  56993 
15‐19  27956 26542  54498 
20‐24  26688 24782  51470 
25‐29  24405 22879  47284 
30‐34  22981 22440  45421 
35‐39  22369 22674  45043 
40‐44  20953 21273  42226 
45‐49  19042 19162  38204 
50‐54  16472 16066  32538 
55‐59  12623 12128  24751 

Laporan Akhir
BAB 2 11
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

60‐64  9137 8443  17580 


65‐69  5775 5741  11516 
70‐74  4018 4181  8199 
75+  3968 4877  8845 
Total  308083 298009  606092 

Tabel 2.3. Jumlah Penduduk Lampung Utara Per Kecamatan, 2010-2015

   Kecamatan  2010  2011  2012  2013  2014  2015 


   (1)  (2)  (3)  (4)  (5)  (6)  (7) 

1  Bukit Kemuning  38 786 39 361  39 863 40 410  40 877  41 105


2  Abung Tinggi  15 932 16 027  16 112 16 192  16 261  16 352
3  Tanjung Raja  29 827 30 044  30 295 30 487  30 708  30 879
4  Abung Barat  18 622 18 620  18 607 18 639  18 607  18 711
5  Abung Tengah  15 381 15 664  15 889 16 164  16 428  16 520
6  Abung Kunang  9 520 9 523  9 520 9 515  9 502  9 555
7  Abung Pekurun  10 919 11 001  11 077 11 100  11 164  11 226
8  Kotabumi  52 341 52 326  52 275 52 212  52 160  52 451
9  Kotabumi Utara  30 168 30 478  30 771 31 108  31 371  31 547
10  Kotabumi Selatan  65 442 66 215  66 959 67 683  68 357  68 739
11  Abung Selatan  47 005 47 492  47 951 48 400  48 811  49 084
12  Abung Semuli  23 544 23 765  24 024 24 227  24 462  24 598
13  Blambangan Pagar  17 195 17 246  17 234 17 217  17 189  17 284
14  Abung Timur  33 905 33 981  34 035 34 029  34 050  34 240
15  Abung Surakarta  27 455 27 614  27 706 27 791  27 906  28 062
16  Sungkai Selatan  21 137 21 244  21 388 21 476  21 548  21 668
17  Muara Sungkai  14 023 14 034  14 086 14 085  14 123  14 202
18  Bunga Mayang  31 682 31 949  32 148 32 389  32 554  32 736
19  Sungkai Barat  11 863 12 045  12 169 12 341  12 455  12 525
20  Sungkai Jaya  9 809 9 825  9 886 9 893  9 944  9 999
21  Sungkai Utara  32 266 32 697  33 162 33 570  34 005  34 195
22  Hulu Sungkai  13 842 13 936  14 022 14 105  14 176  14 255
23  Sungkai Tengah  15 309 15 509  15 702 15 891  16 069  16 159
   Lampung Utara  585 973 590 596  594 881 598 924  602 727  606 092
Sumber : Proyeksi Penduduk 2010‐2015 

Laporan Akhir
BAB 2 12
3

3.1 SURVEY PENDAHULUAN

Survey Pendahuluan adalah survey yang harus dilakukan sebelum dilakukan survey detail

lainnya. Maksud dari pekerjaan survey ini adalah untuk menetapkan rencana yang ideal

sesuai dengan ketentuan dan persyaratan yang berlaku agar pekerjaan desain dapat

memenuhi unsur seperti tersebut di atas (keamanan, kenyamanan dan ekonomis). Kegiatan

survey pendahuluan ini merupakan kegiatan pengumpulan data lapangan berdasarkan

pengamatan secara visual, dan juga mencari informasi dari berbagai sumber untuk

mendapatkan gambaran kondisi perencanaan.

3.2 PERSONIL DAN PERALATAN

Personil yang terlibat dalam kegiatan survey pendahuluan ini adalah:

Team Leader : 1 Orang

Ahli Estimasi Biaya : 1 Orang

Surveyor : 1 Orang

Administrasi/Keuangan : 1 Orang

Operator CAD : 1 Orang

Operator Komputer : 1 Orang

Office Boy : 1 Orang

Tenaga Harian : 2 Orang


Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Sedangkan peralatan lapangan yang dipergunakan adalah sebagai berikut:

- Kendaraan Roda Empat : 1 Unit

- Kendaraan Roda Dua : 2 Unit

3.3 KONDISI AREAL

Berdasarkan hasil survey lapangan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa

dilokasi yang akan direncanakan, kami telah melakukan survey dan mencatat kondisi

tersebut sampai dengan saat ini kondisi berfariasi. Dapat dikatakan seluruh pekerjaan

perencanaan ini harus segera dilaksanakan.

Sasaran dari pekerjaan ini adalah :

1. Perencanaan/desain teknis lengkap dengan gambar dan RAB

2. Pembuatan Dokumen Lelang

Pada pekerjaan perencanaan ini sepenuhnya ditanggung oleh pengguna jasa dalam hal ini

adalah Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Utara, yaitu dengan sumber

pendanaan APBD Tahun 2016.

Kegiatan perencanaan ini sangat erat kaitanya dengan lingkup dan lokasi, dengan demikian

lingkup dari kegiatan ini adalah:

a. Perencanaan Teknis

b. Pembuatan Gambar Rencana lengkap dengan detailnya

c. Pembuatan Rencana Anggaran Biaya (RAB)

d. Pembuatan Draf Dokumen Penggandaan (Lelang)

Laporan Akhir
BAB 3 2
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

3.4 PENDEKATAN METODOLOGI

Pada Perencanaan Teknis ini dapat dibagi dalam beberapa tahapan dan proses yaitu :

a. Tahapan Pengumpulan Data

b. Tahapan Analisa data lapangan perencanaan dan penggambaran

c. Tahapan menyiapkan / pembuatan draf dokumen penggandaan (Lelang)

3.5 TENAGA AHLI

Tenaga ahli yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan perencanaan ini adalah:

a. Team Leader

Team Leader Konsultan adalah harus lulusan Perguruan Tinggi minimal Strata 1 (S1)

Jurusan Teknik Sipil yang berpengalaman dalam beberapa disiplin ilmu yang berkaitan

dengan pekerjaan / kegiatan ini dan memiliki jiwa kepemimpinan (leadership) dan manajerial,

sehingga Pemimpin Team mampu mengkoordinasikan segala potensi dan sumber daya yang

ada secara optimal untuk mencapai tujuan dan sasaran kegiatan dengan efektif dan efesien.

b. Ahli Estimasi Biaya

Ahli Estimasi Biaya bertanggung jawab kepada Team Leader dan berkedudukan di lokasi

dimana tempat bekerja. Ahli Estimasi Biaya bertanggung jawab terutama atas mutu

pekerjaan konstruksi yang mengacu pada ketentuaan Peraturan mengenai struktur. Ahli

Jalan harus seorang Sarjana Teknik Sipil yang memiliki pengalaman di bidang

Konstruksi/Struktur minimum selama. Dia harus memahami benar metode test

laboratorium yang disyahkan dalam dokumen kontrak.

c. Surveyor

Surveyor harus seorang Teknik Sipil yang berpendidikan minimal Diploma III mempunyai

pengalaman di bidang Perencanaan teknis jalan dan jembatan minimum.

Laporan Akhir
BAB 3 3
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

d. Administrasi/Keuangan

e. Operator CAD

f. Operator Komputer

g. Office Boy

h. Tenaga Harian

3.6 PENDEKATAN TEKNIS

Program Perencanaan Peningkatan Jalan merupakan salah satu upaya Pemerintah dalam

mendukung pencapaian sasaran pembangunan nasional umumnya dan kabupaten pada

khususnya yang pelaksanaanya dilaksanakan oleh dinas terkait di Kabupaten yang

bersangkutan

Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK) sangat terkait dengan

pemerataan pembangunan beserta hasil-hasilnya melalui Pengembangan Prasarana Jalan

yang bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kondisi jalan sesuai dengan tuntutan

laju pertumbuhan lalu lintas yang diakibatkan oleh perkembangan/pertumbuhan ekonomi.

Untuk itu upaya yang akan dan sedang dilaksanakan perlu suatu Perencanaan yang baik

sehingga proses dalam pelaksanaannya diharapkan kualitas dan kuantitas pekerjaan yang

dikerjakan berhasil guna sesuai harapan yang ada.

Untuk mencapai kerja yang maksimal dan dapat tercapai kondisi kerja yang baik, maka

diperlukan koordinasi yang baik antara konsultan supervisi dengan pihak-pihak yang terkait

dengan pelaksanaan pekerjaan itu, serta hubungan antara konsultan dengan instansi lainnya

yang membantu kegiatan ini. Konsultan harus dapat bekerja sama sepenuhnya dengan

lembaga pemerintah yang lain.

Laporan Akhir
BAB 3 4
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Tugas-tugas yang akan didelegasikan oleh Pemberi Kerja/Pengguna Jasa adalah berupa

tugas-tugas yang berkaitan dengan masalah Perencanaan Peningkatan Jalan, khususnya

yang terkait dengan teknis dan kontrak.

Tujuan utama dari Perencanaan ini untuk Penyiapan Dokumen Kegiatan Perencanaan

Pembangunan Jalan yang dituangkan dalam Dokumen Lelang..

Sasaran Utama dari Kegiatan Perencanaan Peningkatan Jalan ini adalah selain mengadakan

perencanaan jalan sesuai dengan standar, juga menyiapkan Dokumen Lelang pada Kegiatan

Perencanaan Pembangunan Kabupaten Lampung Utara.

Pembuatan Rencana Teknis jalan lengkap serta dokumen lelang tersebut dapat dibagi

dalam beberapa tahap yaitu :

 Tahap pengumpulan data lapangan (Survey Pendahuluan)

 Tahap analisa data lapangan, perencanaan dan pengambaran

 Tahap penyusunan/pembuatan dokumen lelang

Laporan Akhir
BAB 3 5
4

4.1 UMUM

Dari hasil survey yang dilakukan di lapangan dan koordinasi dengan pihak yang terkait

serta berpedoman dari Term Of Reference (TOR), maka konsultan perencanaan telah

menyusun program perencanaan untuk pelaksanaan pekerjaan ini.

4.2 PELAKSANAAN DESAIN

Dalam pelaksanaan pekerjaan perencanaan ini, konsultan sebelum melaksanakan survey

pada lokasi yang telah ditentukan oleh memberi tugas terlebih dahulu melakukan

pengumpulan data-data sekunder yang berhubungan dengan ruas jalan yang akan ditinjau.

 Tujuan

Persiapan desain ini bertujuan :

a. Mempersiapkan dan mengumpulkan data-data awal

b. Menetapkan desain sementara dari data awal untuk dipakai sebagai panduan survey

pendahuluan.

c. Menetapkan ruas yang akan disurvey.


Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

 Kegiatan Pekerjaan ini meliputi :

a. mengumpulkan data kelas, fungsi dan status jalan dan jembatan yang akan

didesain. Menurut pedoman Peraturan Pemerintah No 43 Tahun 1993, tentang

Prasarana dan Lalu Lintas Jalan, pasal 10 dan pasal 11.

b. Mempersiapkan peta-peta dasar berupa

1. Citra satelit dan photo udara

2. Peta Topografi skala 1 : 250.000 s/d 25.000

3. Peta Geologi skala 1 : 250.000 s.d 25.000

4. Peta Tata Guna Tanah

c. Melakukan koordinasi dan konfirmasi dengan instansi terkait baik di pusat

maupun di daerah termasuk juga mengumpulkan informasi harga satuan / upah

untuk disekitar lokasi proyek terutama pada proyek yang sedang berjalan.

d. Mengumpulkan dan mempelajari laporan-laporan yang berkaitan dengan wilayah

yang dipengaruhi atau mempengaruhi jalan / jembatan yang akan direncanakan.

Setelah semua kegiatan persiapan yang berhubungan dengan pekerjaan ini telah

dilaksanakan, maka konsultan melakukan survei inventarisasi yang berkenaan dengan

lingkup pekerjaan ini.

4.3 HASIL SURVEY INVENTARISASI

Survei inventarisasi adalah survei mengenai keadaan lokasi yang ditinjau. Dalam hal ini

adalah Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK). Sarana dan prasarana

ruas jalan yang merupakan lingkup dari kegiatan Dinas Pekerjaan Umum

Laporan Akhir
BAB 4 2
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Survei inventarisasi pada pekerjaan ini menyangkut tentang keadaan ruas 3 Kabupaten

Lampung Utara.

 Inventarisasi Jalan

Pelaksanaan survei inventarisasi jalan adalah sebagai berikut :

1. Tim survei mencatat kondisi rata-rata perkerasan setiap 200 meter dengan

menggunakan kendaraan. Untuk kondisi kerusakan ruas jalan yang terlalu rapat,

maka interval pencatatan dapat mengikuti kondisi yang ada di lapangan.

2. Tim survei mencatat segala macam kondisi dari pada daerah manfaat jalan (DAMAJA)

maupun daerah milik jalan (DAMIJA), yang mencakup :

a. Bangunan pelengkap jalan dan sarana prasarana jalan yaitu saluran drainase jalan,

bahu jalan, gorong-gorong, guardrail, rambu dan lampu lalu lintas.

b. Penempatan bangunan utilitas, berupa peralatan telekomunikasi, peralatan listrik,

jalur pemipaan baik pemipaan gas ataupun pemipaan air minum.

c. Bangunan konstruksi pendukung ruas jalan, berupa dinding penahan tanah,

bronjong dan lain sebagainya.

d. Bangunan yang bersifat komersil, antara lain pemasangan iklan sepanjang ruas

jalan yang masih masuk dalam daerah milik jalan.

e. Kondisi sepanjang ruas jalan yang menyangkut dalam keadaan alam, seperti

tebing, jurang, dan sumber mata air permukaan.

Pada pelaporan hasil inventarisasi jalan akan di sertakan foto dan form hasil dari

inventarisai.

Laporan Akhir
BAB 4 3
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

4.4 HASIL SURVEY TOPOGRAFI

Pengukuran Topografi adalah sebagai proses pengumpulan data permukaan bumi yang

selanjutnya data hasil ukuran dipresentasikan dalam bentuk peta perencanaan dengan

menggunakan skala tertentu. Pengukuran Topografi ini hanya dilakukan pada lokasi-lokasi

tertentu, misalnya daerah relokasi, daerah yang memerlukan pernyempurnaan/perbaikan

geometrik atau jalan baru yang memerlukan perencanaan detail.

Lokasi yang memerlukan pengukuran Topografi hanya dapat diketahui dari hasil Survey

Pendahuluan dan atau hasil diskusi detail dengan Pemberi Tugas.

Pekerjaan pengukuran topografi dilakukan sepanjang rencana as jalan (mengikuti koridor

rintisan) dengan mengadakan pengukuran-pengukuran tambahan pada daerah persilangan

dengan sungai dan jalan lain sehingga memungkinkan diperoleh as jalan sesuai dengan

standard yang ditentukan.

Sebelum melakukan pengukuran, diadakan pemeriksaan alat yang baik yang sesuai dengan

ketelitian alat dan dibuatkan daftar hasil pemeriksaan alat tersebut.

Awal pengukuran dilakukan pada tempat yang mudah dikenal dan aman, dibuat titik tetap

(BM) yang diambil dari titik triangulasi yang ada. Awal dan akhir proyek hendaknya

diikatkan pada titik-titik tetap (BM)

Pekerjaan pengukuran topografi untuk perencanaan jalan terdiri dari 2 (dua) bagian

pekerjaan :

1. Pekerjaan perintisan untuk pengukuran.

2. Pekerjaan pengukuran yang terdiri dari :

 Pemasangan Patok-Patok

1. Patok-patok pengukuran dapat berupa :

Laporan Akhir
BAB 4 4
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

a. Patok BM dibuat dari beton bertulang dengan ukuran 10 x 10 x 60 cm dipasang

ditempat yang bebas dari gangguan lalu lintas atau lainnya selama pelaksanaan.

b. Paku yang dipasang pada beton atau cara lainnya, pada bangunan bangunan tetap.

2. Pengukuran meliputi :

a. Titik-titik kontrol horizontal, berupa patok-patok kayu yang dipasang setiap interval

100 m pada rencana as jalan.

Ukuran patok kayu adalah 5x7x60 cm dan dapat ditancapkan ketanah sedalam 50

cm.

Pada pengukuran polygon, maka pengukuran titik kontrol horizontal dilaksanakan

dengan menggunakan theodolit dengan ketelitian bacaan 1 detik dan ketelitian

orde ketiga, sedangkan pengukuran titik kontrol vertikal dilaksanakan dengan

menggunakan waterpass dengan ketelitian 1,5 – 2,5 mm/km, pengukuran dua arah.

Pengukuran titik kontrol dilakukan dalam bentuk polygon.

Sisi polygon atau jarak antara titik polygon maksimal 100 m diukur dengan pegas

ukur (meteran), atau alat ukur jarak elektronis.

Patok-patok untuk titik-titik polygon adalah patok kayu, sedang patok-patok untuk

titik ikat adalah patok dari beton.

Sudut-sudut polygon diukur dengan alat ukur theodolit dengan ketelitian dalam

second (yang mudah dan umum dipakai adalah theodolit jenis T2 Wild, TH2 Zeiss

atau yang setingkat).

Ketelitian untuk polygonnya adalah sebagai berikut :

- Kesalahan sudut yang diperbolehkan adalah 10" kali akar jumlah titik

Polygon.

- Kesalahan azimuth pengontrol tidak boleh lebih dari 5".

Laporan Akhir
BAB 4 5
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Pengamatan matahari diiakukan pada titik awal proyek, dan pada setiap jarak 5 km

(kurang lebih 60 titik polygon) serta pada titik akhir pengukuran. Setiap

pengamatan matahari dilakukan dalam empat seri rangkap (8 biasa dan 8 luar

biasa) dengan interval waktu yang sama.

b. Titik-titik kontrol horizontal

Jenis alat yang dipergunakan untuk pengukuran ketinggian adalah Waterpass

Orde II.

Untuk pengukuran ketinggian dilakukan dengan double stand dilakukan 2 kali

berdiri alat, dengan perbedaan pembacaan maximum 1 mm.

Batas ketelitian tidak boleh lebih besar dari 10" akar D mm. Dimana D adalah

panjang pengukuran (km) dalam 1 (satu) hari.

Rambu ukur yang dipakai harus dalam keadaan baik dalam arti pembagian skala

jelas dan sama.

Setiap kali pengukuran dilakukan pembacaan rangkap 3 (tiga) benang dalam satuan

mm.

Benang atas (BA), benang Timur (BT) dan benang bawah (BB), kontrol pembacaan

2BT=BA+BB.

c. Pengukuran lebar righ of way (ROW) dengan menyebutkan tata guna tanah serta

data lainnya seperti : pemukiman, sawah dan lain-lain.

 Pengukuran situasi

Pengukuran situasi dilakukan dengan sistem tachymetri.

• Ketelitian alat yang dipakai adalah 10" (sejenis dengan theodolit TO).

• Pengukuran situasi daerah sepanjang rencana jalan harus mencakup semua

Laporan Akhir
BAB 4 6
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

keterangan-keterangan yang ada di daerah sepanjang rencana jalan tersebut.

Untuk pengambilan data detail situasi medan, tergantung dari perubahan situasi tanah

yang ada dilapangan.

Untuk tempat-tempat jembatan atau perpotongan dengan jalan lain, pengukuran

diperluas (lihat pengukuran khusus).

Tempat-tempat sumber material jalan yang terdapat disekitar jalur jalan perlu diberi

tanda diatas peta dan di-foto (jenis dan lokasi material).

 Pengukuran penampang memanjang dan melintang

Pengukuran penampang memanjang dan melintang dimaksudkan untuk menentukan

volume penggalian dan penimbunan.

a. Pengukuran Penampang Memanjang

Pengukuran penampang memanjang dilakukan sepanjang sumbu rencana jalan. Alat

yang digunakan adalah T2 atau alat ukur lain yang mempunyai ketelitian yang sama.

Peralatan yang dipakai utnuk pengukuran penampang sama dengan yang dipakai

untuk pengukuran titik kontrol vertikal.

b. Pengukuran Penampang Melintang

Pengukuran penampang melintang pada daerah yang datar dan landai dibuat setiap

50 m dan pada daerah-daerah tikungan/pegunungan setiap 25 m.

Pada daerah yang menikung, dari as jalan kearah luar 25 m dan arah kedalam 75 m.

Lebar pengukuran penampang melintang 75 m ke kiri dan kanan as jalan.

Khusus untuk perpotongan dengan sungai dilakukan ketentuan khusus (lihat

pengukuran khusus).

Peralatan yang dipergunakan utnuk pengukuran penampang melintang sama dengan

yang dipakai pengukuran situasi.

Laporan Akhir
BAB 4 7
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

 Pengukuran-pengukuran khusus, seperti perpotongan pada trase jembatan, dengan

sungai atau dengan jalan

Pengukuran sekitar perpotongan dengan sungai Daerah sekitar sungai diukur :

• 200 m dikiri kanan sungai sepanjang jalan.

• 100 m dikiri kanan dari as jalan/pada daerah sungai.

• Penggambaran untuk jembatan dengan skala 1 : 500 dengan interval kontur 1 m.

Pengukuran disekitar perpotongan jalan

 Daerah yang diukur yaitu daerah persilangan jalan yang diukur 100 m dikiri

kanan jalan.

 Pengukuran titik kontrol horisontal berupa polygon tertutup atau polygon

terbuka yang terikat sempurna.

 Pengukuran titik kontrol vertikal dengan alat Waterpass.

 Pengukuran penampang memanjang dibuat pada sumbu jalan.

 Pengukuran melintang dibuat untuk setiap jarak 10 meter dengan profil 50 m

kekiri kanan jalan.

 Pengukuran situasi sama dengan pengukuran jalan utama, dengan pengambilan

data yang lengkap terutama bangunan-bangunan yang permanen yang ada

dilapangan.

 Perhitungan dan penggambaran peta topografi berdasarkan atas koordinat titik-

titik kontrol diatas

 Perhitungan koordinat polygon utama didasarkan pada titik-titik ikat yang

dipergunakan.

Laporan Akhir
BAB 4 8
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

 Penggambaran titik-titik polygon didasarkan pada hasil perhitungan koordinat.

Penggambaran titik-titik polygon tersebut tidak diperkenankan secara grafis.

 Gambar ukur yang berupa gambar situasi, digambar pada kertas milimeter dengan

skala 1 : 500 dan interval kontur 1 m.

 Ketinggian titik detail, dicantumkan dalam gambar ukur, begitu pula semua

keteranganketerangan yang penting.

 Titik ikat atau titik mati serta titik-titik baru, dimasukkan dalam gambar dengan

diberi tanda khusus. Ketinggian titik tersebut perlu juga dicantumkan.

4.5 HASIL SURVEY LALU LINTAS

Melakukan Survei lalu lintas pada ruas jalan yang dimaksud, survei ini bertujuan untuk

mengetahui kondisi lalu lintas, kecepatan kendaraan rata-rata, menginventarisasi jalan yang

ada, serta menginventarisasi jumlah setiap jenis kendaraan yang melewati ruas jalan tertentu

dalan satuan waktu, sehingga dapat dihitung lalu lintas harian rata-rata sebagai dasar

perencanaan jalan dan jembatan.

Survei lalu lintas mencatat jumlah kendaraan yang melewati titik pos kontrol yang telah di

pilih dengan tujuan dapat memberikan informasi yang diperlukan terhadap kriteria arus lalu

lintas yang melewati ruas jalan tersebut.

Titik-titik pos kontrol terbagi menjadi tiga menurut jenis arus lalu lintas yang melewatinya.

Antara lain adalah :

1. Pos kontrol yang menempati arus lalu lintas dengan jumlah yang tinggi. Dengan

mempunyai estimasi nilai LHR > 10.000 kendaraan.

Periode perhitungan untuk pos ini adalah 40 jam non stop.

2. Pos kontrol yang menempati arus lalu lintas dengan jumlah yang sedang. Dengan

mempunyai estimasi nilai 5.000 < LHR < 10.000 kendaraan.

Laporan Akhir
BAB 4 9
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Periode perhitungan untuk pos ini adalah 40 jam non stop.

3. Pos kontrol yang menempati arus lalu lintas dengan jumlah yang rendah. Dengan

mempunyai estimasi nilai LHR < 5.000 kendaraan.

Periode perhitungan untuk pos ini adalah 16 jam non stop.

Setiap titik pos kontrol terdiri dari minimal 2 orang yang bertugas. Dengan pembagian-

pembagian tugas yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan, yang mempunyai tujuan

supaya titik kontrol tersebut dapat mencatat dan mengcover semua jumlah kendaraan yang

melewati pos tersebut dengan kesalahan seminimal mungkin.

Jenis pengelompokan kendaraan untuk survei tersebut adalah sebagai berikut:

a. Gol. 1 Jenis: Sepeda motor, sekuter, sepeda kumbang dan sepeda roda 3

b. Gol. 2 Jenis: Sedan, jeep, dan station wagon.

c. Gol. 3 Jenis: Opelet, pick-up opelet, suburban, combi, minibus

d. Gol. 4 Jenis: Pick-up, micro truk, mobil hantaran atau pick-up box

e. Gol. 5a Bus Kecil

f. Gol. 5b Bus Besar

g. Gol. 6 Truk 2 sumbu

h. Gol. 7a Truk 3 sumbu

i. Gol. 7b Truk Gandengan

j. Gol. 7c Truk semi trailer

k. Gol. 8 Kendaraan tidak bermotor, sepeda, becak, andong/dokar, gerobak sapi

Pengambilan data arus lalu lintas harian rata-rata mengacu pada pedoman yang tertuang di

buku Manual Kapasitas Jalan Indonesia.

Laporan Akhir
BAB 4 10
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

4.6 HASIL SURVEY PERKERASAN JALAN

Konsultan melakukan survei perkerasan jalan, survei perkerasan jalan bertujuan untuk

mengetahui nilai struktural yang sudah ada. Baik untuk perkerasan yang masih ada atau

tinggal bangunan pondasi yang tinggal tersedia.

Disamping survei perkerasan jalan, konsultan melakukan survei geologi dan geoteknik,

dengan tujuan mendapatkan pemetaan penyebaran tanah/batuan dasar termasuk kisaran

tebal tanah pelapukan,

dapat memberikan informasi mengenai stabilitas tanah, dan menentukan karakteristik dan

jenis tanah untuk keperluan badan jalan dan struktur, serta mengidentifikasikan lokasi

sumber bahan termasuk perkiraan kuantitasnya.

Survei perkerasan jalan terdiri dari pengambilan lendutan terhadap perkerasan aspal yang

masih ada, pemeriksaan terhadap daya dukung tanah, dan survei terhadap kondisi

permukaan perkerasan pada ruas jalan yang di tinjau.

 Pemeriksaan Lendutan Balik (Bengkelman Beam)

 Pemeriksaan Daya Dukung Tanah

 DCP Test :

 Pemeriksaan permukaan jalan dengan NAASRA

 Survei Geologi dan Geoteknik

 Pengujian Permeabilitas

4.7 HASIL SURVEY HIDROLOGI DAN HIDROLIK

Survey hidrologi bertujuan untuk mencari data yang diperlukan dalam analisa hidrologi dan

selanjutnya dapat dipakai dalam perencanaan drainase, sedangkan perencanaan drainase

sangat diperlukan untuk

Laporan Akhir
BAB 4 11
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

penentuan jenis dan dimensi dari bangunan-bangunan drainase, disamping untuk penentuan

potongan jalan itu sendiri.

Lingkup pekerjaan Survey Hidrologi ini pada umumnya meliputi :

a. Menganalisa pola aliran pada daerah rencana trase jalan untuk mendapatkan trase jalan

yang paling aman dilihat dari pengaruh pola aliran tersebut.

b. Mengambil data curah hujan dan banjir tahunan dari sumber sumber yang bersangkutan

dan menentukan hujan rencana yang selanjutnya dapat dipakai untuk menentukan banjir

rencana dengan metode-metode yang diperlukan.

c. Dari data lapangan dan hasil perhitungan tersebut diatas selanjutnya

menentukan :

- Jenis dan dimensi bangunan drainase yang diperlukan seperti jenis saluran samping

dan dimensinya.

- Jenis dan dimensi gorong-gorong

- Jenis jembatan yang diperlukan

d. Membuat laporan lengkap mengenai perihal tersebut diatas yang meliputi perhitungan-

perhitungan, grafik-grafik, tabel-tabel, gambar-gambar sketch dan saran-saran yang

diperlukan.

 Perencanaan Drainase

Ukuran dimensi bangunan air diperhitungkan cukup untuk mengalirkan sejumlah

volume air tertentu dalam suatu waktu yang lamanya tertentu pula (disebut debit

alairan air dengan satuan m3/detik)

Pada perencanaan bagunan air (saluran drainase), misalnya ialah :

 Berapakah besarnya debit air yang harus disalurkan melalui bangunannya.

 Bentuk dan dimensi struktur /konstruksi bangunannya.

Laporan Akhir
BAB 4 12
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Air hujan (air) yang jatuh disuatu daerah harus dapat segera dibuang. Untuk

keperluan itu harus dibuatkan saluran-saluran

guna menampung air hujan yang mengalir dipermukaan tanah dan mengalirkannya

kedalam saluran pembuangan. Saluran pembuangan ini mengalirkan air tadi lebih

lanjut ke sungai atau tempat pembuangan air lainnya. Rencana drainase dibagi

menjadi dua system yang terpisah, yaitu system drainase untuk hujan permulaan dan

system drainase pokok.

Sistem drainase hujan permulaan ialah bagian dari system drainase keseluruhan yang

melayani aliran maksimum dari hujan permulaan. Didalam system ini termasuk parit

, saluran tepi jalan, gorong-gorong dan bangunan yang direncanakan untuk melayani

aliran hujan awal. Besarnya hujan rencana dapat direncanakan dengan masa ulang 2

atau 5 tahun, tergantung pada pemanfaatan tanah yang berbatasan.

Sistem drainase pokok mencakup sungai dan saluran alami, saluran pembuangan

buatan penampung banjir. Sistem drainase pokok harus mempunyai kapasitas cukup

untuk melayani banjir – banjir sungai dan saluran dengan daerah aliran lebih dari

100 hektar, dengan masa ulang 20 tahun. Disamping itu juga harus diusahakan untuk

membatasi kerusakan harta benda dan korban jiwa sebanyak-banyaknya yang

disebabkan oleh banjir 100 tahunan.

Besarnya banjir dihitung dengan metode Rasional jika daerah alirannya tidak

melebihi kira-kira 80 Ha. Untuk daerah aliran yang lebih besar dapat digunakan

Metode Rasional yang diubah

Laporan Akhir
BAB 4 13
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

 Perkiraan Run-Off

Karena syarat drainase yang baik adalah amat penting untuk pemeliharaan jalan dan

keselamatan lalu lintas, maka ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan sebagai

berikut :

 Drainase air permukaan termasuk air hujan, kemiringan tanggul dan

permukaan-permukaan lainnya dalam batas ROW.

 Drainase tepi jalan termasuk air hujan pada tepi jalan dan areal terletak yang

dihuni diluar batas ROW, yang mempunyai pengaruh terhadap jalan.

 Saluarn terbuka dan saluran pembuangan yang melintang jalan.

Perkiraan run – off untuk setiap lembah sungai terdekat didasrkan dengan rumus

berikut :

Q = a.f.I.A

3,6

Dimana :

Q = Debit (m3/detik)

a = Faktor penghitung

f = koefisien run-off

A = Luas permukaan (Km2)

I = Intensitas curah hujan

Dalam memperhatikan koefisien run-off, kerangka geologi dan tanah harus

diperlihatkan untuk setiap areal yang lain. Nilai tersebut ditentukan berdasarkan

Tabel dibawah ini :

Laporan Akhir
BAB 4 14
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

TABEL

KOEFISIEN RUN-OFF

JENIS AREAL DRAINASE KOEFISIEN RUN-OFF

Kemiringan permukaan dan tepi jalan 0,9


Daerah perdagangan 0,8
Daerah industri dan pemukiman 0,5
Sawah beririgasi 0,5
Daerah pedesaan dan militer 0,3
Bukit dan lereng landai 0,3
Daerah terbuka (hutan dan areal pemakaman) 0,2

 Gorong-Gorong Dan Saluran Terbuka

Kapasitas gorong-gorong dan saluran terbuka dihitung dengan menggunakan rumus

Manning.

Q = V. A

V = R2/3. S ½

R = A

Dimana :

Q = Debit (m3/detik)

V = Kecepatan aliran (m/detik)

A = Luas penampang basah (m3)

n = Koefisien kekasaran manning

R = Radius hidrolik (m)

S = Gradien rata-rata

P = Keliling basah (m)

Laporan Akhir
BAB 4 15
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

 Lama Waktu Konsentrasi

Lama waktu konsentrasi tc untuk saluran drainase terdiri dari :

 Waktu yang diperlukan air untuk mengalir melalui permukaan tanah ke saluran

terdekat (Tc)

 Waktu untuk mengalir kedalam salurannya ketempat yang diukur (td) Tc = to +

td

 Intensitas Curah Hujan

Analisa curah hujan dibuat hanya untuk kuraun waktu curah hjan maksimum.

Intensitas hujan I ialah laju rata-rata dari hujan yang lamanya sama dengan waktu

lama waktu konsentrasi tc dengan masa ulang tertentu.

 Koefisien Pengaliran

Koefisien pengaliran C ini sukar ditentukan secara tepat dan memerlukan

pertimbangan teknis dalam pemilihannya. Pemilihan koefisien ini harus

mempertimbangkan kemungkinan akan adanya pembangunan dan pengembangan

daerahnya dikemudian hari . Besarnya koefisien pengaliran dapat diambil seperti pada

tabel berikut :

 Koefisien Penampungan

Efek penampungan dari palung saluran terhadap puncak banjir semakin besar kalau

daerah alirannya semakin luas.

Efek penampungan terhadap banjir maksimum diperhitungkan dengan menggunakan

penampungan Cs.

Laporan Akhir
BAB 4 16
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

 Koefisien Kekasaran

Tabel

KOEFISIEN KEKASARAN MANNING (n)

DINDING KONDISI n
SALURAN

Kayu Papan – papan rata dipasang rapi 0,010


Papan – papan rata, kurang rapi/tua 0,012
Papan –papan kasar, dipasang rapi 0,012
Papan-papan kasar, kurang rapi/tua 0,014

Metal Halus 0,010


Dikeling 0,015
Sedikit kurang rata 0,020

Pasangan Batu Plesteran semen halus 0,010


Plesteran semen dan pasir 0,012
Beton dilapisi baja 0,012
Beton dilapisi kayu 0,013
Batu bata yang kosongan yang baik, kasar 0,015
Pasangan batu, keadaan jelek 0,020

Batu Kosong Halus, dipasang rata 0,013


Batu pecah, batu belah dipasang dengan 0,017
semen 0,020
Kerikil halus, padat

Tabel

KOEFISIEN KEKASARAN STRICKLER (K)

DINDING SALURAN K

Saluran lama dengan dinding-dinding sangat kasar >36


Saluran lama dengan dinding-dinding kasar 38
Salauran drainase yang akan diberi tanggul dan saluran tersier 40
Saluran drainase batu tampa tanggul 43,5
Saluran primer dan sekunder dengan debit kurang dari 7,5 m3/det 45,0 –

Laporan Akhir
BAB 4 17
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Saluran terpelihara dengan baik dengan debit lebih besar daripada 10 47,5
m3/det 50
Saluran dengan pasangan batu kosong 50
Saluran pasangan batu belah yang baik dan beton tidak dihaluskan 60
Saluran dengan dinding halus, dinding kayu 90

 Tahapan Perencanaan Dan Formulasi

 Analisa Hidrologi

1. Hitung koefisien pengaliran ( C )

2. Dari data pengukuran , hitung : Beda tinggi (H), panjang daerah pengaliran

(L), kemiringan rata-rata dasar pengaliran (s)

S=

0,9 L

3. Lama waktu konsentrasi (tc) :

Untuk daerah aliran kecil dengan pola drainase sederhana, lama waktu

konsentrasi bias sama dengan lama waktu pengaliran dari tempat terjauh.

Inilah hasil salah satu sebab rumus rasional hanya dapat digunakan untuk

daerah-daerah aliran kecil (kebanyakan untuk perencanaan system drainase

daerah perkotaan, kurang dari 80 ha).

L 0,77

tc = 0,0195. menit L dalam meter

√s

Laporan Akhir
BAB 4 18
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

4. Intensitas curah hujan (I)

Digunakan rumus Mononobe :

R24 24 2/3

I = mm / jam

24 t

Dimana :

R24 = Curah hujan maksimum setempat dalam mm

T = Lama waktu konsentrasi dalam jam

5. Hitung luas daerah aliran (A)

6. Hitung debit rencana ( Q ) :

Q = 0,278 . C . I . A m3/det

Dimana :

C = koefisien pengaliran

I = Intensitas hujan dalam mm/jam

A = luas daerah aliran dalam km2

ANALISA HIDROLIKA / DIMENSI SALURAN :

1. Tentukan / pilih bentuk penampang basah dari alternative sebagai berikut :

 Segi empat

 Trapesium

Laporan Akhir
BAB 4 19
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

 Bangunan Pelengkap Sistem Drainase

Bangunan yang dimaksud adalah bangunan yang ikut mengatur , mengontrol system

aliran air hujan yang ada dalam perjalanan menuju outfall agar aman dan melewati

daerah-daerah curam atau melintasi jalan raya. Bagunan-bagunan tersebut berupa

gorong-gorong (culvert), street inlet, bagunan pertemuan saluran, bagunan terjunan,

jembatan, sypon, dan lain-lain.

Jalan masuk air hujan ke saluran drainase atau yang biasa disebut dengan street inlet

biasanya terletak dipinggir jalan raya / daerah perumahan yang system drainasenya

berada dibawah tanah atau tertutup dan terhalang oleh trotoar.

Desain dan peletakan street inlet diusahakan sedemikian rupa sehingga air hujan

dapat mudah terkumpul dan disalulurkan melalui gutter. Disamping itu peletakan

street inlet diusahakan agar tidak merintanggi lalu lintas pejalan kaki atau

kendaraan dijalan raya tersebut.

Daya tampung street inlet khususnya curb inlet akan bertambah dengan adanya

pengurangan kemiringan jalur jalan dan bertambahnya kemiringan punggung jalan.

Gutter inlet lebih

efisien dari curb inlet namun mempunyai kemungkinan lebih besar terhadap

penyumbatan inlet.

Rumus kapasitas gutter dari persamaan Manning (oleh Lazzard) adalah :

Qo = 0,56 x S12 x d 8/3

Laporan Akhir
BAB 4 20
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Dimana :

Qo = Total flow in gutter

Z = Kemiringan punggung jalan

n = Koefisien Manning

S = Kemiringan longitudinal dari gutter

d = Kedalaman aliran di gutter

Dengan asumsi lebar atas saluran sama dengan keliling bawahnya.

Bagunan pertemuan saluran ( Box Drainase )

Bagunan pertemuan saluran ini diperlukan pada pertemuan dua tau lebih saluran atu

lebih saluran dan berbentuk box untuk memudahkan pengaturan arah aliran setelah

pertemuan serta merupakan tempat peralihan karakteristik hidrolis dari saluran

sebelum dan sesudah pertemuan tersebut.

Karakteristik menyangkut masalah ukuran profil, kapasitas atau kemiringan saluran.

Saluran setelah pertemuan harus menampung jumlah komulatif dari debit semua

saluran yang mengumpul dipertemuan tersebut.

Dimensi saluran dari bagunan peredaman energi (energy dissipation) terhadap

aliran-aliran dari hulunya. Dimensi hidrolis disesuaikan dengan analisa terjunan.

Terjunan :

Untuk menggurangi kemiringan saluran dan kecepatan yang terlalu besar yang

dapat mengakibatkan penggerusan bahan saluran maka dipergunakan terjunan.

Laporan Akhir
BAB 4 21
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Terjunan ini dapat pula diterapkan pada pertemuan saluran (titik simpul ) elevasi

dasar saluran yang berbeda tingginya, untuk mengurangi energi yang jatuh (sebagai

energi disipator).

Lokasi atau terjunan dapat diperkirakan dengan mempertimbangkan kemiringan

saluran , sebagai dasar dapat dilihat pada Tabel berikut :

Tabel

JARAK PEMATAH ARUS SESUAI KEMIRINGAN LAHAN

I (%) 6% 7% 8% 9% 10 %

L (m) 16 10 8 7 6

Terjunan Tegak

Perencanaan geometeri terjunan tegak dinyatakan dalam persamaan berikut :

Q3

Dn =

g.h3

Dimana :

Dn = Koefisien terjunan

Q = Debit saluran per meter lebar saluran ( m3/det/m )

g = Kecepatan gravitasi ( 9,8 m/det2 )

h = Tinggi terjunan ( m)

Fungsi dari perencanaan geometeri terjunan tegak didefinisikan menurut persamaan-

persamaan dibawah ini :

Laporan Akhir
BAB 4 22
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Ld/h = 4,30 Dn0,27 Lp / h = Dn

d I / h = 0,54 Dn d2 / h = 1,66 Dn

Dimana :

Ld = Panjang saluran

Lp = Tinggi air dibawah terjunan

d1&d2 = Tinggi Air

Terjunan Miring :

Perencanaan geometri didasarkan kepada perhitungan ruang olakan dengan prinsip-

prinsip “Hydraulic Jump”

 Upaya Pengelolaan Lingkungan

Konsultan mengidentifikasi komponen kegiatan yang berpotensi menimbulkan

dampak terhadap lingkungan, sejauh mana besar dari kegiatan peningkatan jalan

tersebut kepada lingkungan yang terjadi.

Pada pengendalian lingkungan, konsultan mengacu pada pedoman SNI 19-14001-

2005.

Standar ini menetapkan persyaratan sistem manajemen lingkungan untuk

memungkinkan

organisasi mengembangkan dan menerapkan kebijakan dan tujuan yang

memperhitungkan persyaratan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain

yang diikuti organisasi dan informasi mengenai aspek lingkungan penting.

Laporan Akhir
BAB 4 23
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Standar ini berlaku untuk aspek lingkungan yang diidentifikasi oleh konsultan

sebagai aspek yang dapat dikendalikan dan aspek yang dapat dipengaruhi. Standar ini

tidak menetapkan kriteria kinerja lingkungan tertentu.

Standar ini berlaku untuk organisasi apapun yang bermaksud untuk:

a) Menetapkan, menerapkan, memelihara dan meningkatkan sistem manajemen

lingkungan;

b) Memastikan kesesuaian organisasi dengan kebijakan lingkungannya;

c) menunjukkan kesesuaian dengan standar ini melalui:

1) melakukan penetapan sendiri (self-determination) dan swa-deklarasi

(selfdeclaration); atau

2) memperoleh konfirmasi kesesuaian dari pihak-pihak yang berkepentingan

terhadap organisasi tersebut, seperti pelanggan; atau

3) memperoleh konfirmasi terhadap swa-deklarasi dari pihak eksternal; atau

4) memperoleh sertifikasi / registrasi untuk sistem manajemen lingkungannya

dari organisasi lain

DAERAH MANFAAT JALAN (DAMAJA)

Daerah manfaat jalan meliputi : badan jalan, saluran tepi jalan , dan ambang

pengamannya. Badan jalan meliputi jalur lalu lintas dengan atau tanpa jalur pemisah

dan bahu jalan.

DAERAH MILIK JALAN (DAMIJA)

Daerah milik jalan merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh lebar dan

tinggi tertentu yang dikuasai oleh Pembina jalan dengan suatu hak tertentu.

Biasanya pada setiap 1 km dipasang patik DMJ warna kuning.

Laporan Akhir
BAB 4 24
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

DAERAH PENGAWASAN JALAN (DAWASJA)

Daerah pengawsan jalan adalah sejalur tanah tertentu yang terletak di luar daerah

milik jalan, yang penggunaanya diawasi oleh Pembina Jalan, dengan maksud agar

tidak mengganggu pandangan pengemudi dan konstruksi bangunan jalan, dalam hal

tidak cukup luasnya daerah milik jalan.

KECEPATAN RENCANA

Kecepatan rencana adalah suatu kecepatan yang ditetapkan untuk didesain dan

korelasi segi-segi fisik dari suatu jalan raya yang mempengaruhi operasi kendaraan.

Kecepatan ini adalah kecepatan maxsimum aman yang dapat dipertahankan pada

tempat tertentu dijalan raya itu apabila kondisinya begitu menyenangkan sehingga

kendaraan hanya diatur oleh aspek disain jalan raya.

Sebagai acuan lain, AASHTO (American of state highway and Transportation office)

menyarankan agar kecepatan rencana ditetapkan pada tingkat terbesar yang masih

mungkin memenuhi tuntutan pengemudi pada saat ini maupun diwaktu mendatang

selama umur rencana jalan. Menurut AASHTO, pertamakali harus diadakan

klasifikasi jalan. Jalan dikelompokan sebagai jalan jadar, perbukitan dan

pengunungan.

Kecepatan rencana 80 Km/jam dilihat dari sifat kendaraan pemakai jalan, dan kondisi

jalan merupakan kecepatan tertinggi untuk jalan tanpa pengawasan jalan masuk.

Kecepatan rencana 20 Km/jam merupakan kecepatan terendah yang masih mungkin

untuk dipergunakan.

Laporan Akhir
BAB 4 25
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Perubahan kecepatan rencana yang dipilih sepanjang jalan tidak boleh terlalu besar

dan tidak dalam jarak yang terlalu pendek. Perbedaan sebesar 10 Km/jam dapat

dipertimbangkan karena akan menghasilkan beda geometric yang cukup berarti.

4.8 HASIL PERENCANAAN PERKERASAN JALAN

 Analisa Data Cbr

Nilai CBR rencana ditentukan dengan formula :

CBR (DESAIN) = CBR (RATA-RATA) – 1 STANDAR DEVIASI

Dalam pemakaian formula tersebut, perlu diperhatikan batasan – batasan yang

berlaku dalam teori statistik.

 Analisa Data Lalu Lintas

Untuk menghitung besarnya beban gander kumulatif (Equivalent Standar Axle =

ESA) selama umur rencana dan menghitung besarnya ADT pada perTimuran umur

rencana

 Penentuan Unique Section

Yaitu suatu seksi/segment jalan yang mempunyai karakteristik seragam dalam

beberapa variable desain seperti :

 Lebar perkersaan yang ada/rencana

 Lendutan balik rencana

 Nilai CBR rencana

 Nilai beban lalu lintas

 Perubahan Camber

Laporan Akhir
BAB 4 26
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

 Penentuan Type Bahan Perkerasan

Type pekerasan jalan yang diizinkan dalam pekerjaan ini adalah type-type yang

sekarang dipakai di Ditjen. Pengembangan Prasarana Wilayah.

 Disain Tebal Perkersan

Desain tebal perkerasan tambahan menurut metode yang telah ditetapkan oleh

Ditjen. Pengembangan Prasarana Wilayah, diantaranya yaitu :

 Pengumpulan data rutin, Bipran (CDO)

 Optimising of Overlay design in Indonesia, Corne, 1989.

 Bahan-bahan overlay design course, bipran – CDO, April 1987.

 Aspal emulsi, Bipran, Edisi februari 1991

 Peraturan perencanaan geometric jalan raya No 13/1970

 RDS-94 atau RDS-95

 Dan lain-lain.

Untuk kondisi perencanaan tebal pekerasan pelebaran jalan, peningkatan jalan dan

new construction, metode umum digunakan anatara lain Road Design System (RDS)

dan Metode Analisa Komponen Pekerjaan Umum. Metode RDS khusus

dipergunakan untuk Simplified Design sedangan metode Analisa komponen

umumnya dipergunakan untuk Full Design.

Dibawah ini disajikan kedua metode tersebut untuk perencanan tebal perkerasan,

baik dengan menggunakan Metode RDS maupun Metode Analisa Komponen.

 Metode Road Design System (RDS)

Program Road Design System (RDS 1994) terdiri dari 4 bagian yaitu:

 RDS ESA : Untuk menganalisa lalu lintas

Laporan Akhir
BAB 4 27
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

 RDS SORT : Untuk menentukan segmen jalan yang

representative (mewakili)

 RDS 70/80/90: Untuk merencanakan tebal perkerasan

 RDS BID : Untuk menentukan jadwal pekerjaan.

4.9 HASIL PERENCANAAN STABILITAS BADAN JALAN

Maksud dari penyelidikan tanah dan material adalah meneliti stabilitas rencana badan

jalan, dan material yang digunakan, dengan tujuan memberikan informasi / gambaran

secara menyeluruh mengenai :

- Tingkat stabilitas rencana badan jalan.

- Situasi dan kondisi tanah dasar pada rencana trase jalan, sebagai dasar dalam

perencanaan struktur badan jalan.

- Analisa jenis, volume dan lokasi material yang bisa dimanfaatkan dalam konstruksi

jalan/jembatan.

4.10 HASIL PERHITUNGAN KUANTITAS

Setelah melakukan serangkaian kegiatan survei dan investigasi serta pengujian, sampai

menghasilkan perencanaan yang sesuai dengan kriteria dan spesifikasi teknis yang

diisyaratkan. Konsultan wajib memberikan laporan tentang estimasi biaya yang dibutuhkan

untuk pelaksanaan pembangunan fisik dari perencanaan ruas jalan yang telah dibuat.

Spesifikasi yang harus diikuti meliputi spesifikasi untuk penentuan mata pembayaran per

item pekerjaan. Perhitungan kuantitas pekerjaan dilakukan secara keseluruhan, mencakup

lokasi dan semua jenis mata

Laporan Akhir
BAB 4 28
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

pembayaran. Disamping memperhitungkan kuantitas dari pelaksanaan pekerjaan fisik,

konsultan memperhitungkan harga satuan dasar untuk upah, bahan, dan peralatan yang

akan digunakan di lokasi pekerjaan, yang mengacu pada Panduan Analisa Harga Satuan No.

028/T/BM/1995 yang diterbitkan Direktorat Jendral Pekerjaan Umum.

4.11 HASIL KERJA DAN PELAPORAN

Pada pekerjaan “Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)”,

pelaporan yang akan konsultan berikan kepada pemberi tugas, terdiri dari :

o Laporan Pendahuluan berisi :

 Rencana kerja penyedia jasa secara menyeluruh

 Mobilisasi tenaga ahli dan tenaga pendukung lainya

 Jadwal Kegiatan Penyedia

 Gambaran Umum wilayah pekerjaan

 Keluaran yang akan dihasilkan.

Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sejak SPMK

diterbitkan. Aspek logistik dan Keuangan, ditambah kesimpulan umumnya

mungkin mempengaruhi lingkup pekerjaan.

o Laporan Akhir (Final Report)

Konsultan diwajibkan menyiapkan dan menyerahkan Laporan Ahkir (Final)

yang masing – masing dibuat 5 (lima) buku laporan 1 (satu) asli 4 (empat)

copy, dalam format kertas A.4 yaitu berupa :

1. Laporan Final Estimate Engineering ( Final Engineering Report)

Laporan Akhir
BAB 4 29
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

 Perhitungan perkiraan penggunaa lahan

 Luasan rencana Volume jalan dan jembatan

 Analisa lalu – lintas

 Photo – photo

 Rekomendasi

2. Dokumen Gambar

Gambar dan peta – peta yang akan ditampilkan dibuat sebagai master

dalam format kertas A.4.dan Kertas A.3 (untuk gambar dan peta)

pelaksanaan dan hasil analisa pekerjaan.

3. Laporan ini berisi hasil keseluruhan pekerjaan yang telah dicapai dari

semua aktifitas pekerjaan yang disyaratkan dalam KAK. Laporan ahkir

disampaikan selambat – lambatnya 5 (lima) hari sebelum pekerjaan

berakhir dan laporan akhir diterbitkan setelah sebelumnya

dipresentasikan, dibuat dalam 5 (lima) rangkap (hardcopy dan

sofcopy/FlashDisk).

Fasilitas Pendukung

Fasilitas pendukung yang disediakan oleh pengguna jasa dalam hal ini adalah pemberi tugas

yaitu Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Utara terdiri dari : Fasilitas kantor dan

peralatan di lapangan.

Adapun fasilitas kantor yang disediakan antara lain :

a. Biaya komunikasi

b. Biaya sewa komputer beserta alat cetak

c. Biaya Alat Tulis Kantor

Laporan Akhir
BAB 4 30
Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten II (DAK)

Dan fasilitas peralatan pendukung untuk melaksanakan survei sebagai berikut:

a. Alat Ukur (TO, T1, Waterpass, Theodolit)

b. Alat DCP

c. Alat uji Benkelman Beam

d. Perlengkapan survei topografi

e. Peralatan bor pit

f. Pengujian sampel tanah

g. Peralatan pelengkap survei (pita ukur, patok kayu, dll)

h. GPS

i. Dokumentasi

j. Alat Transportasi

Laporan Akhir
BAB 4 31
5

Demikianlah Laporan Akhir dari “P


Perencanaan Pemeliharaan Periodik Jalan Kabupaten
II (DAK) ” Tahun Anggaran 2016, yang dibuat untuk melengkapi kerja sama antara Dinas
Pekerjaan Umum Kabupaten Lampung Utara bersama dengan CV. BUMI KARYA
CONSULTANT. Laporan Akhir ini disusun sebagai kerangka acuan dan panduan dalam
melakukan pelaksanaan pekerjaan.

Dengan ini, kami berharap semoga apa yang telah diberikan CV. BUMI KARYA
CONSULTANT memiliki nilai tambah dalam kegiatan selanjutnya terutama untuk lebih
meningkatkan mobilitas orang dan barang antara Dinas serta membantu meningkatkan rasa
kenyamanan dan keamanan masyarakat khususnya dan kesejahteraan bangsa umumnya.

BAB 5 1