Anda di halaman 1dari 7

Gayatri Spivak: Perempuan

“Seorang subaltern tidak dapat berbicara”

Liya mempunyai dua kakak laki-laki. Dibesarkan di tengah keluarga yang harmonis, Liya sebagai seorang
anak perempuan yang paling muda di dalam hubungan tiga bersaudara adalah anak yang sangat
diperhatikan oleh kedua orang tua dan kedua abangnya. Apa saja yang menjadi kebutuhan tiap hari akan
selalu disediakan oleh anggota keluarganya yang lain. Ketika Liya terlihat lapar, ibunya memberi masakan
yang terenak yang dia inginkan. Ketika Liya membutuhkan baju baru, sang ayah dan kedua saudara lelaki
yang sedang sibuk bekerja akan membelikan pakaian kepada adik perempuan yang satu ini. Akan tetapi,
sedalam-dalamnya Liya sebetulnya menginginkan waktu untuk makan bersama dengan anggota
keluarganya. Meskipun Liya telah diberikan banyak hadiah dan layanan dari ayah, ibu dan kedua
abangnya, Liya belum mendapatkan sesuatu hal yang sangat penting baginya: waktu keluarga. Walau
demikian, Liya tidak berani menyuarakan pendapatnya atau berbicara dengan jujur karena dia adalah
anak perempuan bungsu.

Sampai suatu ketika Liya mulai merasa jenuh dengan dirinya yang kurang diperhatikan. Wajahnya mulai
terlihat muram, dan ketika sang ayah bertanya apa yang sedang terjadi, Liya hanya berbalas: “Tidak apa-
apa”. Namun, kedua kakak lelakinya yang khawatir akan kondisi adiknya mulai bertanya-tanya: “Apakah
kamu sedang lapar? Kamu mau makan apa, Dik Liya?”. “Terserah”, ujarnya. Setiap kali ditanya, Liya
memberikan jawaban seperti itu, demikian sikapnya selama beberapa minggu sampai keluarganya merasa
bingung. Abangnya yang pertama merasa marah mengapa setelah sekian lama memberi perhatian kepada
Liya malah dibalas dengan jawaban yang baginya terkesan tidak jelas. Abangnya kedua menasihati Liya:
“Liya, apa sih yang menjadi masalah kamu. Seharusnya kami bersyukur mempunyai dua abang yang sudah
memerhatikan kamu, tidak perlu kami banyak bicara, dengarkan nasihat kami saja supaya masalah ini
dapat selesai”. Melihat hal seperti itu, ibu Liya menegur dan menjelaskan kepada kedua anak lelaki: “Nak,
sepertinya Liya mempunyai banyak hal yang ingin dia ceritakan dengan jujur, lama waktunya kita terlalu
sibuk dan berbicara menurut pikiran kita sendiri. Sudah waktunya kita mengambil waktu untuk
mendengarkan adikmu”

“Apakah seorang perempuan dapat direkognisi oleh masyarakat?” Itulah pertanyaan yang ingin dijawab
oleh Gayatri Spivak. Cuplikan di atas mencerminkan bagaimana perempuan seringkali mengalami tekanan
sosial di tengah masyarakat, hal ini menempatkan mereka pada suatu posisi yang sulit untuk
mengutarakan kebutuhan mereka secara terbuka. Apabila seorang perempuan mencoba untuk berbicara,
banyak yang akan melihatnya sebagai seseorang yang resisten, agresif, dan digambarkan sebagai
seseorang yang ingin melakukan disensus – atau yang dikenal juga sebagai “pemberontakan”. Sebaliknya,
jika seorang perempuan berdiam diri dan menekan suara mereka, banyak pihak yang akan memandang
perempuan sebagai sosok yang anomi, “tidak jelas”, dan menyebabkan ragam kebingungan dalam
menginterpretasikan “kode-kode perempuan”. Apa yang menyebabkan perempuan menjadi seperti ini?
Apakah wajar jika perempuan hidup di tengah ekosistem patriarkis yang menekan suara perempuan
sehingga mereka mengalami kesulitan untuk mendapatkan rekognisi sosial? Dengan merujuk kembali
kepada konsep “Orang Asing”, Spivak mencoba untuk menjelaskan bagaimana perempuan, khususnya
perempuan yang berasal dari budaya Oriental (Non-Barat), telah mengambil posisi inferior sebagai The
Subaltern.

Gayatri Spivak (Lahir 1942) adalah seorang cendekiawan asal India. Pada tahun 1961, dia mengambil studi
dalam bidang Sastra Inggris di Universitas Cornell. Lalu, di tengah keinginannya untuk mengembangkan
diri, Spivak membeli sebuah buku berbahasa Prancis yang ditulis oleh Jacques Derrida yang berjudul
Gramatologi, dan kemudian menerjemahkan buku tersebut ke dalam Bahasa Inggris. Spivak bertemu
dengan Derrida pada tahun 1971. Seiring berjalannya waktu, Spivak menulis sebuah esai yang sangat
terkenal, Can the Subaltern Speak (1983). Karya ini menjadi sebuah pijakan utama dari pemikiran
Feminisme dan Postkolonialisme dalam ilmu sosiologi, dikenal juga sebagai Feminisme Interseksionis.
Spivak menganggap bahwa karyanya dalam mengkritisi pemikiran Barat adalah sebuah kombinasi dari
pendekatan Marxist, Feminis, dan Dekonstruksionis. Sebagai seorang Marxist yang mengkritisi sistem
ideologi Barat, seorang feminis yang mengkritisi feminisme Barat yang kurang sensitif dalam menanggapi
eksistensi perempuan di tengah masyarakat Oriental, dan juga sebagai seorang dekonstruksionis yang
menganut filsafat Derridarian, yang melihat bahwa jati diri seorang perempuan tidak dapat disempitkan
pada suatu kategori sosial tertentu seperti dikonstruksi oleh budaya dominan. Seharusnya, seorang
perempuan Subaltern mendapatkan rekognisi sosial di tengah suatu masyarakat tanpa harus menganut
sistem feminisme Barat.

Asumsi Dasar

● Feminisme adalah kritik terhadap budaya Patriarkisme, dominasi laki-laki dalam kehidupan
bermasyarakat.
● Feminisme Interseksionis adalah kritik terhadap Feminisme Barat yang kurang sensitif terhadap
pengalaman perempuan non-Barat.
● Perempuan non-Barat diposisi sebagai kelompok inferior dalam konteks masyarakat Barat, yaitu
sebagai Subaltern.

Feminisme

Untuk memahami pemikiran Spivak, kita perlu mengambil beberapa langkah ke belakang terlebih dahulu
untuk mengerti konsep Feminisme. Feminisme berkembang secara lebih pesat setelah Pasca Perang
Dunia sebagai bentuk kritik terhadap modernitas dan pola kehidupan masyarakat Eropa Barat yang terlalu
mekanistis. Bila anda perhatikan perkembangan pemikiran sosiologi pada teori sosiologi klasik (Durkheim,
Marx, Weber), perbincangan soal kehidupan bermasyarakat banyak menekankan kehidupan sosial dalam
rana professional. Durkheim membahas soal pembagian tugas di tempat kerja, Marx membahas
kesenjangan sosial, dan Weber berbicara soal otoritas dan karakteristik masyarakat. Pertanyaannya
adalah: “Di manakah posisi dan peran perempuan di dalam perkembangan teori sosiologi?” Berjalannya
modernisme dan perkembangan ekonomi, politik, sains, dan teknologi militer sebetulnya hanya
memperkuat sisi patriarkisme dan maskulinitas yang kemudian berujung dengan Perang Dunia.
Feminisme adalah sebuah gerakan yang mengkritisi Patriarkisme dan supremasi laki-laki yang telah
menyusupi struktur ideologi masyarakat modern, yang secara tidak sadar telah mengesampingkan
eksistensi dan peran perempuan di tengah kehidupan sosial.

Ada beberapa pertanyaan yang berkembang di dalam perkembangan feminisme: “Bagaimana dengan
posisi perempuan di tengah perkembangan ilmu sosiologi?”. Pertanyaan pertama mengkritik ilmu sosial
yang kurang memerhatikan peran perempuan dalam kehidupan modern di Eropa Barat. Yang kedua,
“Mengapa situasi sosial menjadi seperti ini?”, pertanyaan ini mencoba untuk mengangkat soal Gender
Justice atau kesetaraan hak perempuan di tengah sistem patriarkis. Ketiga, “Bagaimana kita dapat
membawa perubahan sosial bagi setiap orang?”, di sini feminisme mencoba untuk menyuarakan keadilan
sosial bagi setiap kelompok masyarakat, dimulai dari kelompok perempuan. Terakhir, “Bagaimana dengan
perbedaan dalam kelompok perempuan itu sendiri?”, di sini feminisme melihat bahwa tidak setiap
perempuan itu sama, dan kita perlu memahami konteks sosio-kultural untuk menjawab kebutuhan
perempuan; perempuan di Barat dan non-Barat mempunyai pengalaman dan kesadaran sosial yang cukup
kontras.

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, feminisme berkembang menjadi beberapa aliran:


Feminisme Liberal berargumen bahwa perempuan mempunyai posisi dan hak yang sama dengan laki-laki;
seharusnya ada ruang bagi perempuan untuk bekerja tanpa mengalami diskriminasi karena faktor gender
seperti banyaknya kasus perempuan yang mengalami Putus Hubungan Kerja karena status pernikahan
dan kehamilan. Feminisme Struktural berargumen bahwa perempuan telah mengalami opresi dalam
sistem kapitalisme dan adanya sebuah hambatan (Glass Ceiling) yang mencegah perempuan untuk naik
strata sosial dalam institusi ekonomi. Feminisme Kultural dan Psikoanalitik berargumen bahwa
Patriarkisme telah membatasi peran perempuan di rana domestik oleh karena pengaruh budaya yang
mengatakan bahwa perempuan “sudah seharusnya bekerja di rumah saja”, dan adanya penguatan asumsi
kultural tersebut dari asumasi-asumsi psikologis yang menjelaskan bahwa perempuan secara natural
sudah dilahirkan dengan cara berpikir seperti itu (Nurturing). Terakhir, Feminisme Radikal menjelaskan
bahwa perempuan akan terus mengalami opresi sosial karena institusi keluarga dan sistem heteronomi
(pernikahan laki-laki dan perempuan) yang telah menempatkan pria sebagai kepala keluarga.

Di atas adalah beberapa contoh sub-aliran yang berkembang dalam Feminisme. Bermula dengan sebuah
kritik yang bergerak dalam rana politik (Feminisme Liberal) dan ekonomi (Feminisme Struktural), berlanjut
sampai sebuah kritik yang bekerja dalam rana kehidupan berbudaya (Feminisme Kultural/Psikoanalitik)
dan dalam institusi keluarga/pernikahan (Feminisme Radikal). Akan tetapi, perkembangan aliran-aliran
feminisme tersebut masih belum cukup mewakili situasi sosial setiap perempuan, kata Spivak. Sama
seperti pemikiran Edward Said, dapat dikatakan bahwa bentuk-bentuk feminisme di atas adalah
manifestasi dari permasalahan perempuan di negara-negara Barat (Oksidental), hal tersebut belum tentu
mampu untuk memberikan sebuah gambaran yang tepat tentang kondisi perempuan di dalam konteks
non-Barat (Oriental).

Mungkin saja, di negara Barat kaum perempuan mempunyai sebuah kesadaran sosial untuk mendapatkan
hak ekonomi dan politik, dan tidak mengalami opresi secara kultural. Akan tetapi, apakah betul setiap
perempuan mempunyai kesadaran tersebut? Seandainya kaum perempuan Timur (Oriental) mempunyai
kesadaran itu, apakah masyarakat Barat (yang kurang menghargai budaya non-Barat) akan mengakui dan
memahami pendapat mereka? Seperti itulah situasi sosial dan perkembangan Feminisme di Timur.
Mengingat bagaimana si Liya, seorang adik bungsu perempuan sering menekan suaranya sendiri,
demikian juga perempaun-perempuan di Timur. Meskipun ideologi Feminisme Barat mencoba untuk
“membebaskan” perempuan Oriental dari sistem patriarki, namun pendekatan tersebut masih kurang
sensitif dalam menanggapi konteks kultural masayrakat setempat. Bagaimana kita dapat “membebaskan”
seorang perempuan Oriental dari opresi sistem Patriarkis jikalau kehidupan bermasyarakat setempat
masih bergantung pada kehidupan berbudaya Patriarkis? Melihat kekurangan ini, Gayatri Spivak menulis
karyanya yang terkenal, Can the Subaltern Speak, untuk menjelaskan mengapa Feminisme Interseksionis,
sebuah perpaduan antara Feminisme dan Postkolonialisme, dapat bersumbangsi dalam perkembangan
ilmu sosiologi dan menjelaskan kehidupan perempuan secara lebih rinci dan komprehensif.

Sang Subaltern

Apa yang dimaksud dengan Subaltern? “Alterity” dapat dimengerti sebagai sesuatu yang “berbeda”. “Sub-
Alterity” dapat dimengerti sebagai sesuatu yang tidak hanya “berbeda” (Alter) tetapi juga berada di
“bawah” (Sub). Derrida adalah seorang filsuf dan ahli linguistik yang menjelaskan bagafimana Alterity atau
kehadiran “Orang Asing” (The Stranger/The Other) adalah figur yang terkesan berbeda dan mengganggu.
Bila kita merujuk kembali kepada tulisan Simmel dan Bauman, kita akan menemukan bahwa terdapat jejak
pemikiran etis dalam menanggapi kehadiran “Orang yang Berbeda” (Alterity) seringkali dikaitkan dengan
permasalahan rasisme masyarakat Eropa Barat terhadap kelompok minoritas ras Yahudi, kelompok
kolonial yang tidak berkulit putih, dan seterusnya.

Di sini, Spivak ingin mendorong pemahaman yang lebih jauh yaitu tidak hanya kehadiran perempuan
Oriental adalah seorang figur yang mengganggu sebagai “Orang yang Berbeda” (Alterity) tetapi juga
sebagai individu yang berbeda dan dihiraukan (Sub-human and also Alter). Kalau kata Bauman, kehadiran
suatu kelompok minoritas akan berakhir dalam dua pilihan: diasimilasi atau dieksklusi. Bagi Spivak,
perempuan Oriental bahkan tidak menjadi entitas yang patut diasimilasi atau dieksklusi di negara Barat,
mereka dihiraukan sebagai entitas yang tidak diakui eksistensinya karena karakteristik non-Barat yang
melekat pada mereka. Ketika kehadiran laki-laki dan perempuan menjadi “protagonis dan antagonis”
dalam kisah berdebatan patriarkisme dan feminisme, perempuan Oriental hanyalah sebuah “landscape”
atau latar yang menunggu untuk diperhatikan tetapi tidak mampu untuk memberi suara secara
independen. Ada kelompok ingroup (protagonis), ada kelompok outgroup (antagonis), dan banyak orang
merasa puas dengan konstruksi oposisi biner: “Kawan atau Lawan”. Banyak yang tidak melihat adanya
The Stranger, Subaltern dan kelompok yang belum pernah didengar di dalam relasi biner tersebut,
sehingga proses dekonstruksi – proses yang membongkar pola itulah yang dibutuhkan untuk
menghadirkan kelompok yang selama ini dihiraikan dari panggung sosial.

Sebagai suatu contoh, mari kita berandai bahwa Liya telah menjadi seorang mahasiswi yang sedang
bersekolah di Prancis, salah satu negara Eropa Barat yang kental dalam menganut nilai sekulerisme. Di
ruang publik, maka Liya sebagai seorang perempuan Muslim wajib untuk melepaskan hijab untuk
mengikuti tuntutan masyarakat Prancis yang mewajibkan setiap orang untuk melepaskan segala atribut
dan simbol keagamaan, dan tidak boleh berdoa di ruang publik (hal ini berlaku juga untuk setiap kelompok
agama). Di hari pertama Liya sedang memasuki ruang kelas, teman-teman di sekitarnya merasa bingung
dan kaget mengapa dia mengenakan sebuah pakaian yang baginya adalah bentuk disensus
(penyimpangan) terhadap budaya Prancis yang sekuler. Liya menjelaskan bahwa itu adalah bentuk ibadah
dan kesopanan yang diajarkan dalam agama Islam. Akan tetapi, ketika Liya mulai membaca kurikulum dan
materi sekolah tentang pengenaan hijab di ruang publik sekolah, dia menemukan bahwa ada sebuah
asumsi ideologis yang tersirat di dalamnya: “Sebagai negara sekuler yang beradab, kita mempunyai
kewajiban untuk membebaskan perempuan Oriental dari opresi yang diajarkan oleh budaya maupun
agamanya”. Menanggapi hal ini, kita perlu memahami juga bahwa yang mengenakan “hijab” bukanlah
perempuan Muslim saja: “Bagaimana dengan laki-laki Sikh, atau penganut agama Yudaisme, atau
perempuan Kristen Ortodoks Timur yang juga mengenakan penutup rambut?” Itulah yang menjadi
permasalahan pemahaman Oksidentalisme (Barat) terhadap perempuan Oriental (Non-Barat).

Feminisme Interseksionis

Feminisme adalah studi tentang perempuan. Feminisme Interseksionis adalah “tumpang tindih”,
interseksi, atau pertemuan antara studi perempuan dan Orientalisme. Bila anda membaca ulang
pemikiran Edward Said, anda akan menemukan pola yang serupa. Terdapat sebuah asumsi bahwa
kelompok Oriental (Non-Barat) adalah kelompok yang kurang beradab, tidak maju, dan yang
membutuhkan pertolongan dari kelompok Oksidental (Barat). Spivak memandang bahwa pemikiran
Postkolonialisme sebetulnya sangatlah lekat dalam kehidupan perempuan Oriental dalam paradigma
Feminisme Interseksionis. Masyarakat Barat menganggap bahwa kesetaraan hak adalah milik setiap
wanita namun Spivak mengkritik paradigma Barat yang menganggap dirinya sebagai kelompok
superordinat yang mempunyai posisi untuk “membebaskan perempuan Berhijab” tanpa sungguh-
sungguh memahami konteks dan pengalaman perempuan Oriental. Ide yang sama terus berulang, “Barat
adalah Barat, maka Barat melihat Timur dari kacamata Barat yang lebih superior”, hal itu berlaku dalam
relasi kelompok Oksidental dan Oriental, dan juga dalam kehidupan perempuan Oriental yang Spivak
sebut sebagai Subaltern.

Ketika budaya Barat mencoba untuk membebaskan perempuan Oriental dengan memberikan “nasihat
pembebasan” tanpa sungguh-sungguh mendengarkan suara kelompok Subaltern itu sendiri, itu tidaklah
lain dari pengalaman Liya yang lama diberikan perhatian, hadiah, dan nasihat-nasihat dari kedua kakak
laki-laki, tetapi Liya tidak bisa menceritakan pengalaman hidupnya secara jujur dan terbuka. Liya tidak
dapat memberi bersuara, The Subaltern cannot speak. Ada sebuah rasa takut bahwa kedua kakak lelakinya
akan merasa tersinggung, demikian juga, perempuan Oriental atau Subaltern merasa ada sebuah rasa
takut akan mendapatkan sanksi dan diskriminasi sosial sebab pengalaman mereka yang “berbeda” (Alter)
dan “tersembunyi dan direpresi” (Sub) akan dianggap sebagai sebuah penyimpangan yang harus
diasilimasi atau dieksklusi.

Contoh yang diberikan oleh Spivak adalah ritual Sati dalam kebudayaan India. Ketika seorang suami
meninggal, maka sang istri yang telah menjadi janda akan dianggap baik jika mereka mau melakukan
“pengorbanan diri” untuk meninggal bersama suaminya. Ketika kelompok kolonial Inggris hadir di India
dan melihat fenomena sosial tersebut, dengan sangat cepat mereka membangun sebuah diskursus baru
untuk melawan ritual Sati yang dilakukan oleh kaum perempuan di India. Dengan menyatakan bahwa
tindakan tersebut adalah sesuatu yang “barbar”, terbelakang, dan patut dikoreksi, kelompok kolonial
Inggris secara tidak sadar telah memposisikan diri sebagai kelompok yang superior yang dating untuk
membebaskan perempuan India dari opresi kebudayaan India dalam melakukan upacara Sati. Spivak
menyatakan bahwa dia tidak mendukung ritual tersebut. Akan tetapi, adalah sebuah tindakan yang
kurang tepat bila suatu kelompok memaksakan interpretasinya tanpa sungguh-sungguh memahami ritual
pada suatu kebudayaan. Kelompok Kolonial Inggris terlalu berfokus pada “irrasionalitas” yang terlihat dari
kematian sang istri tetapi belum mengupas “rasionalitas” makna di balik intimasi dalam relasi suami-istri
dalam kebudayaan India. Tanpa sungguh-sungguh memahami narasi melatarbelakangi sebuah fenomena
sosial, sebetulnya budaya Barat telah gagal dalam memberikan kebebasan kepada kaum perempuan
Oriental dan menjadikan mereka sebagai Subaltern yang dieksklusikan dan diabaikan walaupun
pendekatan untuk “membantu” mereka terkesan emansipatoris.

Refleksi Etis

Pemikiran Gayatri Spivak mencoba untuk menggabungkan pemikiran Feminisme dan Postkolonialisme
menjadi satu, yang dikenal juga sebagai Feminisme Interseksionis. Kehadiran seorang perempuan oriental
sebagai seorang Subaltern telah memberi banyak sumbangsi dalam pemikiran sosiologi. Permasalahan
utama dalam pemikiran sosiologi Barat seringkali terjebak dalam sudut pandang kelompok kulit putih.
Seperti yang sudah dijelaskan oleh Edward Said, paham Oksidentalisme yang kental dalam perkembangan
ilmu sosiologi telah menyebabkan kesulitan untuk memahami kondisi masyarakat di wilayah non-Barat.
Perkembangan teori feminisme jugalah demikian, tidak hanya Patriarkisme menjadi sebuah sistem yang
mengopresi wanita, tetapi feminisme Barat juga menjadi tidak sensitif dan memaksakan makna
“kebebasan dan kesetaraan” kepada kelompok perempuan Oriental. Patriarkisme menjadi “Protagonis”
dan Feminisme menjadi “Antagonis” di negara Barat, namun sang Subaltern hanyalah sebuah “latar” atau
landscape yang tidak dapat berbicara atau menyuarakan pendapat tentang kondisi mereka sebab hanya
“aktor Barat” yang bersuara, “perempuan Oriental” hanya dapat berdiam.

Masalah representasi menjadi sebuah persoalan di tengah masyarakat global. “Perempuan jenis mana
yang perlu diperhatikan? Apakah feminisme hanya berlaku bagi masyarakat Barat yang mendukung
kesetaraan gender? Apakah makna kesetaraan itu sama bagi perempuan Barat dan non-Barat? Apabila
kita memaksakan makna “kesetaraan dan kebebasan” di Barat kepada masyarakat global, bukankah itu
sebuah “penjajahan budaya” terhadap kebutuhan perempuan di non-Barat? Bila kita memikirkan kembali
kisah si Liya yang sedang melanjutkan studi di negara sekuler, kita akan bertemu bahwa permasalahan
utama di balik feminisme dan postkolonialisme adalah adanya supremasi pandangan suatu kelompok
terhadap kelompok yang lain: Oksidentalisme (Barat) mengopresi Orientalisme (Non-Barat), Patriarkisme
mengopresi kelompok perempuan, Feminisme Barat menghiraukan kondisi kultural pada perempuan
Oriental (Subaltern).

Ketika Simone de Beavouir menulis buku, The Second Sex, yang menjelaskan bahwa perempuan telah
mengalami subordinasi sebagai kelompok jenis kelamin yang inferior, kita akan memahami bagaimana
sebagian dari kaum pria menghidupi sebuah narasi sebagai “Protagonis dan Antagonis”, atau sebagai
“gladiator” bagi satu dengan yang lain: mengejar objek-objek yang diidamkan antara mereka: harta,
takhta dan wanita. Sebaliknya, ketika Spivak menulis esai, Can the Subaltern Speak, kita akan melihat
bahwa perempuan Oriental “tersisa” sebagai sebuah latar di balik sebuah panggung yang diwarnai oleh
perdebatan “Patriarkisme dan Feminisme”. Dalam banyak situasi, kita akan bertemu dengan sebuah
situasi yang mana ada individu atau kelompok-kelompok tertentu yang terjepit, tersisa, atau bahkan
terbuang sebagai Subhuman.

Siapakah pribadi atau kelompok yang sedang “tersisa” di tengah kehidupan anda? Mungkin saja dalam
kehidupan sosial, kita akan bertemu dengan “kawan dan lawan” tetapi lupa bahwa “ada orang subaltern
di luar sana” yang tidak pernah diperhatikan dalam lingkaran sosial. Mungkin masih lebih baik kita
bertemu dengan individu yang cukup “mengganggu” kehidupan kita (Alterity), tetapi adalah sesuatu yang
jauh kurang etis jika kita tidak pernah memerhatikan orang-orang yang dianggap tidak pernah eksis
(Subalterity). Kalau eksis pun, seringkali kelompok yang berkuasa ingin memaksakan interpretasi dan
pemahamannya kepada kelompok yang lebih inferior. Perjuangan bagi kaum perempuan Barat untuk
mendapatkan kesetaraan adalah sesuatu yang memang lebih mudah karena mereka mempunyai akses
dan ruang yang lebih luas untuk melakukan negosiasi. Akan tetapi, perjuangan bagi kaum perempuan
Oriental jauh lebih sulit, untuk mendapatkan rekognisi di negara-bangsanya sendiri sudah sulit, dan lebih
sulit lagi untuk menyuarakan pendapat akan kondisi mereka di budaya Barat yang sudah menyiapkan
materi dan diskursus “Superioritas Barat” yang kemudian juga mengopresi kelompok perempuan Oriental
sebagai kaum Subaltern.

Apakah seorang Subaltern dapat berbicara di ruang publik? Demikianlah yang menjadi persoalan etis dan
sosiologis bagi setiap orang, tidak hanya bagi kaum perempuan saja. Bagi Spivak, seorang Subaltern tidak
mampu untuk memberi pendapat di tengah ruang publik sebab budaya Barat yang kental dengan paham
Feminisme Oksidental. Gerakan untuk kepentingan perempuan kulit putih memanglah tidak bermasalah.
Akan tetapi, tanpa sungguh-sungguh memberi telinga dan kepekaan untuk mendukung keseteraan
kelompok yang mengalami opresi sosial, itu hanyalah sebuah gerakan untuk kepentingan sendiri
(Ingroup), dan belum tentu menjadi sebuah gerakan emansipatoris untuk kelompok yang berbeda
(Alterity) atau untuk kelompok yang “paling lemah” (Subaltern). Opresi terhadap wanita tidak berhenti
pada mereka, sikap opresif terhadap kelompok yang lemah tetap akan terjadi.

Masih banyak sekali bentuk-bentuk Subaltern atau kelompok yang belum terjangkau yang membutuhkan
perhatian dalam penelitian dan perkembangan ilmu sosiologi. Merekalah yang menjadi cermin bagaimana
sikap kita terhadap manusia: “Apakah kita sudah menjunjung nilai kesetaraan (Equality)?” Atau lebih
tepatnya, “Apakah kita sudah menginginkan hubungan relasional (Reciprocity)?” Dorongan untuk
membangun kesetaraan berfokus pada diri (Self), dorongan untuk membangun hubungan relasional
berfokus pada orang lain (The Other). Tidaklah cukup bagi kita untuk membangun kesetaraan bagi
lingkungan sendiri tetapi untuk membangun hubungan relasional antara kelompok Ingroup, kelompok
Outgroup, dan juga kepada kelompok Subaltern. Jika kita tidak bisa memilih jenis kelamin dan lokasi
kultural pada hari kelahiran, maka bukanlah sebuah langkah yang etis ketika kita hanya memilih untuk
memerhatikan suatu kelompok tertentu tanpa memerhatikan yang lain. Banyak dari antara mereka yang
kurang diperhatikan, dan ditengah panggung sosial yang begitu luas, kelompok yang “paling lemah” inilah
perlu diceritakan untuk didengar di tengah masyarakat.

Pertanyaan

1. Apa yang dimaksud dengan “Feminisme Interseksionis” dan “Subaltern” menurut Spivak?
2. Bagaimana anda menjelaskan kehadiran “Subaltern” di tengah masyarakat Anda?
3. Bagaimana seharusnya kita memahami seorang “Subaltern”, apa yang menjadi tantangan dan
kesulitan dalam memahami posisi sosial mereka?