Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) kurang dari

normal, Menurut World Health Organization (WHO) dikatakan anemia jika

kadar Hemoglobin < 11 gr/dl pada ibu hamil.2 Anemia merupakan indikator

yang menunjukan keadaan gizi dan kesehatan seseorang dalam keadaan

buruk. Anemia pada ibu hamil sangat terkait dengan mortalitas dan

morbiditas pada ibu dan bayi, termasuk risiko keguguran, lahir mati,

prematuritas dan berat bayi lahir rendah (WHO, 2014).

Menurut WHO (2012), secara global prevalensi anemia pada ibu hamil di

seluruh dunia adalah sebesar 41, 8 %. Prevalensi anemia pada ibu hamil

diperkirakan di Asia sebesar 48,2 %, Afrika 57,1 %, Amerika 24,1 %, dan

Eropa 25,1 %. Untuk Indonesia sendiri angka anemia pada ibu hamil

sebanyak 30% dan lebih tinggi dibandingkan negara lain di Asia Tenggara

seperti Malaysia (27%), Singapura (28%) dan Vietnam (23%) (WHO, 2012

; Salmariantity, 2012). Sedangkan angka ibu hamil dengan anemia di

Indonesia sevara global yaitu sebanyak 48,9% meningkat berdasarkan

hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 yang dirilis di Jakarta yaitu

sebesar 11%. Dengan lebih rinci lagi ibu hamil yang mengalami anemia

paling banyak di usia 15-24 tahun sebesar 84,6% sisanya d usia 25-34

tahun, 35-44 tahun dan usia 45-54 tahun.

1
2

Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada tahun 2018 angka ibu hamil

dengan anemia juga mengalami peningkatan dari tahun 2017 yaitu

sebesar 10, 2% dengan total seluruhnya yaitu sebesar 49,2% (Dinkes

Kab.HST, 2018). Untuk wilayah kerja Puskesmas Limpasu sendiri yang

diperoleh berdasarkan hasil studi data pendahuluan yang calon peneliti

ambil dari data di Puskesmas Limpasu, tahun 2018 jumlah total ibu-ibu

sebanyak 164 orang yang mana 54 orang (32%) diantaranya adalah Ibu

hamil dengan anemia (Lapbul PKM Limpasu, 2018).

Sampai saat ini anemia masih merupakan penyebab tidak langsung

kematian obstetri ibu yang utama (Depkes RI, 2010 dalam Soraya, 2017).

Anemia dalam kehamilan dapat memberi dampak kurang baik bagi ibu,

baik selama masa kehamilan, persalinan maupun selama masa nifas dan

masa selanjutnya. Berbagai penyulit dapat timbul akibat anemia, seperti

Partus lama karena inertia uteri, perdarahan postpartum karena atonia

uteri, syok, infeksi (baik intrapartum maupun postpartum), merupakan

berbagai macam dampak yang dapat ditimbulkan oleh anemia (Hudono

ST, 2010 dalam Soraya, 2017).

Gangguan atau hambatan pada pertumbuhan sel tubuh maupun sel otak

pada janin dapat terjadi akibat keadaan kekurangan besi (Fe) yang dialami

oleh ibu hamil. Pada ibu hamil, keadaan kekurangan besi (Fe) ini dapat

menyebabkan keguguran, bayi lahir sebelum waktunya, bayi berat lahir

rendah (BBLR), perdarahan sebelum serta pada waktu melahirkan, dan

bahkan kematian ibu dan bayi merupakan resiko yang dihadapi oleh ibu
3

hamil yang mengalami anemia berat (Depkes, 2008 & 2009 dalam Soraya,

2017).

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia pada

kehamilan ibu, yaitu usia, ekonomi, sosial budaya, konsumsi tablet Fe,

kepatuhan dalam konsumsi tablet Fe, asupan gizi dan nutrisi, tingkat

pengetahuan, tingkat pendidikan, tingkat kunjungan ANC pada layanan

kesehatan, akses dalam pelayanan ANC, serta masih banyak lainnya

(Kemenkes RI, 2018 dalam Maria, 2018).

Umur ibu yang ideal dalam kehamilan yaitu dalam kelompok 20-35 tahun,

dan pada umur tersebut risiko komplikasi dalam kehamilan berkurang

karena memiliki reproduksi yang sehat. Berbeda dengan umur yang terlalu

muda (<20 tahun) dan terlalu tua ( >35tahun) yang memiliki risiko tinggi

kehamilan seperti perdarahan, anemia, keguguran, bayi BBLR dan

premature serta komplikasi lainnya yang berujung pada kematian Ibu dan

bayi (Budiami, 2012; Fuady, 2015 dalam Soraya, 2017).

Pemerintah telah mengupayakan kesehatan ibu hamil yang diwujudkan

dalam pemberian palayanan antenatal sekurang-kurangnya 4 kali selama

masa kehamilan (K4). Pelayanan antenatal diupayakan diantaranya agar

dapat memenuhi standar pemberian tablet tambah darah (tablet Besi)

minimal 90 tablet selama kehamilan, serta pelayanan tes laboratorium

sederhana minimal tes hemoglobin darah (Hb). Namun, analisis cakupan

K4 dengan pemberian tablet besi (Fe) sering menunjukkan adanya


4

kesenjangan yang cukup besar (Kemenkes RI, 2012 dalam Soraya, 2017).

Padahal salah satu kriteria K4 adalah ibu hamil tersebut mendapatkan

tablet besi (Fe) sebanyak 90 tablet yang diindikasikan dengan besarnya

cakupan Besi. Oleh karena itu seharusnya cakupan Besi lebih besar atau

sama dengan cakupan K4. Namun yang terjadi sebaliknya, cakupan ibu

hamil yang mendapat Besi lebih rendah dibandingkan dengan cakupan K4

(Kemenkes RI, 2012 dalam Soraya, 2017).

Studi yang dilakukan oleh Muhilal, dkk memperlihatkan bahwa

suplementasi besi dapat menurunkan prevalensi anemia pada wanita

hamil sekitar 20% sampai 25%10. Sedangkan Werner Schultink, dkk.,

tahun 2015 dalam studi diantara wanita hamil di jakarta yang dilakukan

terhadap program suplementasi besi berpendapat bahwa terdapat

rendahnya kepatuhan para ibu hamil dalam program suplementasi

tersebut sehingga menyebabkan kegagalan dalam menurunkan prevalensi

anemia (Schutink, dkk, 2012 dalam Soraya, 2017).

Selain penyediaan tablet besi (Fe) dan sistem distribusinya, salah satu

faktor yang dianggap paling berpengaruh dalam keberhasilan program

suplementasi besi adalah kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet

besi (Fe). Meskipun didapatkan hasil bahwa cakupan ibu hamil yang

mendapatkan tablet besi (Fe) cukup baik, namun jika tidak dikonsumsi

oleh ibu hamil maka efek yang diharapkan pun tidak akan tercapai

(Kemenkes RI, 2012 dalam Soraya, 2017). Menurut penelitian sebelumnya

yang dilakukan oleh Vongvichit, dkk. di Thailand pada tahun 2003,


5

didapatkan hasil bahwa 65,6% ibu hamil memiliki kepatuhan yang rendah

dalam mengkonsumsi tablet besi (Fe) (Vongvichit P, 2013 dalam Soraya

2017).

Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

terbentuknya perilaku kesehatan (Notoadmojo, 2007 dalam Soraya 2017).

Apabila ibu hamil mengetahui dan memahami akibat anemia dan cara

mencegah anemia maka akan mempunyai perilaku kesehatan yang baik

sehingga diharapakan dapat terhindar dari berbagai akibat atau risiko

terjadinya anemia kehamilan. Perilaku kesehatan yang demikian dapat

berpengaruh terhadap penurunan kejadian anemia pada ibu hamil

(Purbadewi L, dkk, 2013 dalam Soraya, 2017).

Kepatuhan mengkonsumsi tablet besi merupakan salah satu contoh

perilaku kesehatan yang dilakukan ibu hamil. Penelitian yang dilakukan

sebelumnya oleh Vongvichit, dkk. di Thailand, mengungkapkan bahwa

salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan ibu hamil dalam

mengkonsumsi tablet besi (Fe) adalah pengetahuan ibu hamil tentang

anemia (Vongvichit P, 2013 dalam Soraya, 2017). Dari hasil penelitian

yang telah dilakukan sebelumnya oleh Fuady & Bangun pada tahun 2017

di daerah Sumatera Utara, menunjukkan bahwa ibu hamil yang memiliki

tingkat pengetahuan tentang anemia yang baik adalah sebesar 56,6%,

terdapat 25,3% ibu hamil yang memiliki pengetahuan yang cukup, dan

18,1% ibu hamil memiliki tingkat pengetahuan yang rendah (Soraya, 2017).
6

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Budiarmi, 2012 di Semarang,

didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara

pengetahuan dengan kepatuhan mengkonsumsi tablet besi (Fe). Fuady &

Bangun dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa terdapat hubungan

yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia

dengan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet besi (Fe)

(Fuady M, dkk, 2015 dalam Soraya, 2017).

Pelayanan yang diberikan kepada ibu hamil oleh petugas kesehatan dalam

menjaga kehamilannya, bertujuan untuk dapat mengidentifikasi dan

mengetahui masalah yang timbul selama kehamilan, sehingga kesehatan

ibu dan bayi dalam kandungan dapat dijaga agar sehat sampai persalinan.

Pelayanan Ante Natal Care (ANC) dapat dipantau dengan kunjungan ibu

hamil dalam memeriksakan kehamilannya. Untuk itu pentingnya ibu hamil

untuk melakukan pemeriksaan ANC (Baldy, 2006; Manuaba, 2007 dalam

Soraya, 2017)

Pantangan pada makanan tertentu, selama masa kehamilan masih banyak

ditemukan pada ibu hamil di daerah perdesaan yang jauh dari jangkauan

layanan kesehatan dan kuatnya mitos di daerah yang mereka anggap

dalam masyarakat masih harus dilaksanakan, hal ini pun juga sangat

berpengaruh pada kondisi ibu hamil dikarenakan tidak terdeteksinya saat

kehamilan. Tahayul dan larangan sangat didasarkan pada kebudayaan

dan daerah yang berbeda-beda , misalnya pada ibu hamil masih ada yang

percaya untuk tidak mengkonsumsi ikan, padahal ikan merupakan sumber


7

protien yang dibutuhkan ibu dan janin dalam kandungan selama proses

kehamilan. Sehingga sangat mungkin sekali masih banyaknya pantangan

makanan lain yang berpengaruh pada terjadinya anemia pada kehamilan

ibu ( Dewoto, 2017 dalam Soraya, 2017)

Dari beberapa uraian diatas sehinga peneliti sangat tertarik dan ingin

melakukan penelitian tentang “Faktor-faktor yang berhubungan dengan

kejadian Anemia pada Ibu hamil di wilayah Kecamatan Limpasu.

1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian diatas, maka peneliti ingin meneliti tentang “Faktor-faktor yang

Berhubungan kejadian Anemia pada Ibu hamil di wilayah Kecamatan

Limpasu.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Dalam penelitian ini mempunyai tujuan umumnya yaitu untuk mengetahui

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian Anemia pada Ibu hamil di

wilayah Kecamatan Limpasu.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dalam penelitian ini yaitu

a. Mengidentifikasi hubungan faktor usia/umur yang berhubungan dengan

kejadian Anemia pada Ibu hamil di wilayah Kecamatan Limpasu.

b. Mengidentifikasi hubungan faktor tingkat pendidikan yang berhubungan

dengan kejadian Anemia pada Ibu hamil di wilayah Kecamatan Limpasu.


8

c. Mengidentifikasi hubungan faktor pengetahuan yang berhubungan

dengan kejadian Anemia pada Ibu hamil di wilayah Kecamatan Limpasu.

d. Mengidentifikasi hubungan faktor sosial budaya yang berhubungan

dengan kejadian Anemia pada Ibu hamil di wilayah Kecamatan Limpasu.

e. Mengidentifikasi hubungan faktor asupan nutrisi yang berhubungan

dengan kejadian Anemia pada Ibu hamil di wilayah Kecamatan Limpasu.

f. Mengidentifikasi hubungan tingkat kepatuhan ibu hamil dalam

mengkonsumsi tablet Fe yang berhubungan dengan kejadian Anemia

pada Ibu hamil di wilayah Kecamatan Limpasu.

g. Mengidentifikasi hubungan tingkat kunjungan Ante Natal Care (ANC)

selama kehamilan yang berhubungan dengan kejadian Anemia pada Ibu

hamil di wilayah Kecamatan Limpasu.

h. Mengidentifikasi hubungan faktor paritas yang berhubungan dengan

kejadian Anemia pada Ibu hamil di wilayah Kecamatan Limpasu.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi klien atau responden

Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat serta masukan

kepada klien/responden terutama yang menderita anemia agar dapat dengan

segera untuk menanangani anemia nya dan bagi ibu hamil atau yang ingin

hamil bisa menambah pengetahuan dan informasi terkait beberapa faktor

yang bisa menyebabkan anemia dimasa kehamilan. Agar tidak terjadi

kompilkasi lainnya selama kehamilan.

1.4.2 Bagi Profesi


9

Penelitian ini dilaksanakan dapat memberikan masukan yang bersifat

membangun dan positif dalam usaha pengembangan profesi keperawatan

melalui informasi yang baru tentang hubungan faktor-faktor yang

berhubungan dengan kejadian Anemia pada Ibu hamil. Sehingga dapat

menggali lebih dalam cara untuk mencegah dan mengatasi anemia selama

kehamilan.

1.4.3 Bagi Pendidikan

Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa menambah wawasan tentang

keterkaitan berbagai cara penanganan anemia berdasarkan faktor-faktor

yang berhubungan dengan kejadian Anemia pada Ibu hamil yang dilakukan

secara benar, teratur, rutin dan berkelanjutan.

1.4.4 Bagi Institusi

Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa memberikan gambaran atau

informasi tentang tentang intervensi keperawatan dalam hal terapi perbaikan

keadaan ibu hamil yang berisiko tinggi anemia agar bisa ditangani dengan

dini dan dilakukan pencegahan secara dini. Dan diharapkan memberikan

manfaat dalam bidang kesehatan tentunya dalam program Puskesmas

dengan upaya preventif, promotif dan rehabilitatif pada pasien ibu hamil

dengan anemia. Atau ibu yang akan hamil agar tidak terjadi anemia pada

kehamilan nantinya.

1.5 Keaslian Penelitian

1.5.1 Penelitian yang dilakukan oleh Cintia Ery Deprika tahun 2017 dengan judul

“Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil

di Puskesmas Mantrijeron Yogyakarta”. Persamaan dengan penelitian ini


10

adalah variable dependen kejadian anemia pada ibu hamil. Penelitian ini

menggunakan desain penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan waktu

retrospeksif, sampel diambil dengan sinple random sampling,42 responden.

Analisa chi square dan alat yang digunakan yaitu data sekunder. Variable

independennya hanya 5 yaitu faktor usia, tingkat pendidikan, status gizi dan

jarak kehamilan, paritas. Tempat di Yogyakarta.

1.5.2 Penelitian oleh Putri Dewi Anggraini tahun 2018 dengan judul “Faktor-Faktor

yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di Wilayah

Kerja Puskesmas Tanjung Pinang”. Persamaan dengan penelitian ini adalah

variable dependen kejadian anemia pada ibu hamil. Perbedaan dengan

penelitian ini adalah Variabel independennya hanya 4 yaitu paritas, jarak

kehamilan, dan konsumsi table Fe. Responden 40 orang. Metode

penelitiannya menggunakan Deskriptif analiktik dengan cross sectional

design.

1.5.3 Penelitian oleh Ika Sumiyarsi, dkk tahun 2018 dengan judul “Faktor-Faktor

yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia Pada Hemoglobin Ibu Hamil”.

Persamaan dengan penelitian ini adalah variable dependen kejadian anemia

pada ibu hamil. Perbedaanya pada Variabel independennya adalah 2 yaitu

usia dan paritas. Dengan responden hanya 34 orang. Metode penelitiannya

yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif,

1.5.4 Penelitian oleh Aryu Candra tahun 2018 dengan judul “Faktor-Faktor yang

mempengaruhi Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil”. Persamaan dengan

penelitian ini adalah variable dependen kejadian anemia pada ibu hamil.
11

Perbedaanya yaitu pada Variabel independennya adalah Suplementasi Fe,

pengetahuan, kepatuhan, cara minum, penyakit. Metode cross-sectional

metode consecutive sampling, responden nya hanya 42 orang ibu hamil

trimester III.