Anda di halaman 1dari 12

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

“SIKLUS PERMINTAAN JASA”

Dosen : I Putu Edy Arizona, SE, M.Si

OLEH :

Kelompok 8

Nama Kelompok :

I Made Alit Arya Wibawa 1702622010263 ( 10 )

Kadek Putri Kristiani 1702622010266 ( 13 )

Ni Nyoman Iin Purnama Sari 1702622010284 ( 31 )

Putu Kartinita Apryani 1702622010294 ( 41 )

PRODI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI & BISNIS

UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR

TAHUN 2019
11.1 DISKRIPSI SIKLUS PERMINTAAN
Keputusan konsumen memilih atau membeli jasa sangat tergantung pada
bagaimana penyedia jasa dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh
dalam setiap tahapan proses keputusan konsumen. Proses keputusan konsumen
tidaklah sesederhana yang dibayangkan, tetapi melalui berbagai tahapan yang
dimulai dari pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif,
keputusan pembelian dan keputusan sesudah pembelian.
Perilaku konsumen dapat dipengaruhi oleh faktor budaya. Penyesuaian
terhadap budaya ini menjadi sangat penting karena munculnya peluang pasar di
era globalisasi. Maka, penyedia jasa harus memperhatikan dan mulai melakukan
penyesuaian terhadap perbedaan budaya across border market Aspek perishability
bahwa jasa tidak dapat disimpan, sehingga penyedia jasa tidak dapat menciptakan
inventory untuk jasanya. Pada saat permintaan meningkat sedangkan kapasitas
tidak memadai maka perusahan akan mengalami kerugian. Dan sebaliknya pada
saat permintaan turun maka ada kapasitas yang tidak digunakan. Untuk itu
penyedia jasa dituntut mengelola permintaan dengan baik.
Ada lima pendekatan yang dapat digunakan untuk managing demand
capacity yaitu tidak melakukan apa-apa; mengurangi permintaan; peningkatan
permintaan; sistiem reservasi melalui persediaan permintaan dan antrian formal
melalui persediaan permintaan.
Menyesuaikan kapasitas dan permintaan perusahaan jasa umumnya sulit
dilakukan, karena jasa bersifat tidak tahan lama (perishable). Selain itu variabilitas
dalam kapasitas jasa juga sangat tinggi. Penyebabnya adalah partisipasi pelanggan
dalam penyampaian jasa, padahal setiap pelanggan bersifat unik.
Melalui suatu system jasa, dapat dilakukan penyesuaian antara jumlah permintaan
dan kapasitas yang tersedia dengan menggunakan, baik ukuran-ukuran yang
bersifat aktif maupun pasif. Dengan menggunakan smooth demand, permintaan
yang kurang beraturan (bervariasi secara silikal) dapat diminimalisasi dengan
menggunakan beberapa strategi.

1
Beberapa Strategi Mengelola Permintaan Jasa.
1. Mengelompokkan Permintaan (Partitioning Demand).
Permintaan akan jasa jarang timbul dari hal – hal yang bersifat homogen.
Misalnya dalam jasa penerbangan, terdapat perbedaan antara penumpang
bisnis pada hari – hari kerja dengan penumpang yang mengadakan
perjalanan liburan akhir pekan. Untuk menghindari keadaan yang tidak
pasti, biasanya permintaan dikelompokkan berdasarkan permintaan regular
dengan permintaan yang tidak pasti. Contohnya adalah apa yang dilakukan
oleh University Clinic untuk mengimbangi jumlah pasien dengan dokter
yang tersedia. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Rising dan kawan –
kawan (1973) pada rumah sakit tersebut, ternyata kunjungan pasien paling
banyak adalah pada hari senin, sementara pada hari – hari lain tidak begitu
banyak. Karena jumlah dokter tidak sesuai dengan jumlah pasien, dalam
satu minggu diadakan strategi untuk menyeimbangkan jumlah pasien
dengan jumlah dokter yang tersedia. Caranya, setiap pasien harus membuat
perjanjian sebelumnya, sehingga dapat diketahui berapa jumlah pasien yang
harus ditangani setiap hari untuk mempersiapkan dokter yang diperlukan.
Untuk mencapai keseimbangan, para pasien harus mengadakan janji
sebelumnya dan rumah sakit dapat mengatur jadwal sesuai dengan janji
yang telah dibuat.
Dengan adanya perubahan strategi yang dilakukan rumah sakit ternyata
banyak manfaat yang diperoleh dalam kurun waktu dua bulan. Manfaat –
manfaat tersebut sebagai berikut.
a. Jumlah pasien meningkat 13,4
b. Peningkatan jumlah pasien dapat ditangani, meskipun beberapa dokter
dijadwal ulang.
c. Keseluruhan waktu kerja dokter bertambah 5% karena bertambahnya
jumlah perjanjian.
d. Waktu tunggu pasien rata – rata menjadi hamper sama.
e. Tim sosiolog dari rumah sakit menyimpulkan bahwa semangat kerja
dokter menjadi bertambah.

2
2. Menawarkan intensif harga (offering price incentive).
Banyak contoh dimana dilakukan kebijaksanaan perbedaan harga (price
discrimination) yang tujuannya agar terdapat keseimbangan antara jumlah
kapasitas dengan permintaan.
 Perbedaan biaya telepon tengah malam terutama untuk jarak jauh.
 Harga pertunjukan siang (matinee show) yang lebih murah.
 Sewa hotel yang lebih murah pada saat – saat sepi, misalnya hari
senin sampai dengan hari kamis.
 Harga yang lebih tinggi pada saat sibuk.
Perbedaan harga sering dilakukan perusahaan untuk menjaga agar
tidak terlalu banyak kapasitas menganggur (idle capacity) sehingga
pendapatan dapat ditingkatkan, disampingi itu, perusahaan tidak
ingin membebankan kerugian perusahaan akibat kapasitas lebih
tersebut kepada konsumen. Pada perusahaan tertentu, diskriminasi
harga ini tidak diberlakukan untuk semua konsumen.
3. Melakukan promosi pada waktu permintaan sepi (promoting off-peak
demand). Usaha-usaha promosi yang dilakukan perusahaan untuk dapat
mengisi kapasitas kosong ini bertujuan untuk mencari konsumen lain.
Misalnya, suatu hotel membujuk konsumen bisnis agar tidak menggunakan
hotel pada hari – hari sibuk, seperti akhir pekan.
Department store sering menggunakan tema promosi tertentu untuk menarik
konsumen agar bergegas belanja sebelum datang musim Lebaran, Natal atau
Tahun baru, seperti: “shop early and avoid Lebaran rush”.
4. Mengembangkan atau menawarkan jasa pelengkap lainnya (developing
complementary services). Bioskop juga menawarkan jasa – jasa lain, seperti
kios yang menjual makanan kecil dan keperluan penting lainnya, yang
disediakan bagi penonton selama menunggu mulainya pertunjukan. Sebuah
restoran juga menyediakan bar yang tidak hanya berfungsi pada waktu
restoran sangat sibuk, tetapi juga pada saat restoran sepi. Di Negara maju,
banyak toko serba ada yang menyediakan pompa bensin dan makanan cepat
saji di tempat yang sama. Metode-metode ini sering dilakukan untuk

3
memanfaatkan peluang-peluang untuk menawarkan jasa yang saling
melengkapi, meskipun bukan merupakan bisnis intinya.
5. Penggunaan system pesanan dan penanganan masalah kelebihan pesanan
(using and handling the overbooking problems). Dengan adanya system
pemesanan terlebih dahulu, maka permintaan yang penuh pada satu saat
dapat digeser pada waktu-waktu sepi. Bisa juga dilakukan cara untuk
menangani permintaan yang melebihi kapasitas dengan menawarkan
tempat-tempat lain bagi konsumen yang tidak mendapat tempat. System
pemesanan tempat seperti di atas bermanfaat juga bagi konsumen untuk
menghindari ketidakpastian mendapatkan tempat atau risiko harus
menunggu tersedianya tempat. Kelemahan dari system pemesanan ini
adalah jika si pemesan tidak jadi berangkat, maka beberapa tempat menjadi
tidak terpakai. Untuk mengatasi hal ini, beberapa perusahaan jasa
menentukan persyaratan, yaitu bila beberapa hari sebelum berangkat tidak
ada konfirmasi, maka keberangkatan dibatalkan dan uang muka tidak
dikembalikan.
Beberapa strategi penawaran dapat dilakukan untuk menghadapi permintaan yang
sangat tidak menentu ini, yaitu seperti berikut.
 Menggunakan jadwal shift kerja harian (daily work shift scheduling).
 Menggunakan jadwal kerja mingguan (weekly work shift scheduling)

Pengelolaan permintaan harus diprogram sedemikian rupa agar permintaan dan


kapasitas dapat seimbang sehingga tercipta situasi kerja yang kondusif dan stabil.
Pada setiap waktu dapat terjadi salah satu situasi dan kondisi seperti dibawah ini:
1. Permintaan berlebihan. Dalam kondisi ini, tingkat permintaan jauh
melampaui kapasitas maksimum yang tersedia. Sebagai akibatnya ada
sebagian pelanggan yang tidak dapat dilayani dan perusahaan kehilangan
para pelanggan tersebut.
2. Permintaan melampaui kapasitas optimum. Dalam kondisi ini, tidak ada
satupun pelanggan yang ditolak atau tidak dilayani. Akan tetapi
kondisinya sangat ramai/penuh sesak, sehingga hampir semua pelanggan

4
kemungkinan besar mempersepsikan adanya penurunan kualitas jasa yang
diberikan perusahaan.
3. Permintaan dan penawaran seimbang pada tingkat kapasitas optimum.
Staf dan fasilitas perusahaan sibuk tanpa harus memiliki beban kerja yang
berlebihan, dan para pelanggan menerima jasa berkualitas tanpa ada
penundaan.
4. Kapasitas berlebihan. Permintaan berada di bawah tingkat kapasitas
optimum, sehingga ada sebagian sumber daya yang terbuang percuma (ada
kapasitas menganggur).
Pada keempat kondisi di atas, kapasitas maksimum yang tersedia dibedakan
dengan kapasitas optimum. Apabila permintaan melampaui kapasitas maksimum,
maka sebagian pelanggan potensial tidak terlayani dan perusahaan kemungkinan
akan kehilangan mereka selamanya. Sedangkan jika permintaan berada di antara
kapasitas optimum dan maksimum, maka ada risiko bahwa semua pelanggan yang
dilayani pada saat itu akan menerima pelayanan yang kurang baik, sehingga
mereka tidak puas.
Implikasi Variasi/Permintaan Terhadap Kapasitas :
 Permintaan melebihi kapasitas (peluang bisnis hilang).
 Permintaan melampaui kapasitas optimum (kualitas jasa menurun).
 Kapasitas berlebih (pemborosan sumber daya)

11.2 KEGIATAN POKOK PERMINTAAN


Managing Demand (Pengelolaan permintaan) yang baik akan berdampak positif
tidak hanya bagi kinerja manusia yang bekerja pada lembaga ini tetapi juga dapat
memberikan manfaat pada masyarakat dan bangsa ini, tetapi apabila hal itu tidak
dimanage dengan baik maka akan berdampak pada kapasitas dan ketidakstabilan
dalam kinerja karyawannya dan hasil yang diberikannya. Kapasitas yang berlebih
tetapi permintaan yang sedikit akan berakibat para karyawan kebanyakan hanya
berdiam dan kurang inovatif dalam berkarya tetapi apabila permintaan dan
kapasitas dapat diseimbangkan maka situasi dan kinerja lembaga ini akan berjalan
dengan baik.

5
Rekomendasi untuk mengelola permintaan pemasaran dapat dilakukan
diantaranya:
1. Melakukan peninjauan/review terhadap kebijakan pelepasan informasi yang
berlaku. Apakah kebijakan tersebut telah mengatur pula pengelolaan
permintaan informasi untuk keperluan pemasaran ?
2. Tentukan aturan kepemilikan untuk pelepasan informasi bagi keperluan
pemasaran. Pastikan juga siapa yang bertanggung jawab terhadap proses ini.
3. Kembangkan kebijakan yang mengatur akses terhadap informasi publik untuk
tujuan pemasaran.
4. Berikan berbagai alternatif pada masyarakat untuk dapat mengakses
informasi yang dimiliki seperti; perpustakaan yang lengkap (tidak hanya buku
tetapi audio dan video) koran, radio, majalah, internet dan lain-lain. Dan
lakukan distribusi yang mengena dan menyeluruh sehingga informasi dapat
diterima secara merata.
5. Ikuti perkembangan mengenai isue-isue ekonomi serta hukum dan peraturan
(termasuk perda yang berkaitan dengan ekonomi) diharapkan dapat proaktif
memberikan masukan pada perusahaan sehingga dirasakan manfaatnya dan
timbul keinginan untuk melakukan permintaan pada lembaga ini karena
diakui keberadaannya baik secara formal maupun non formal.
Kebanyakan perusahaan jasa mempunyai rentang kapasitas yang secara
relativ terbatas, sementara mereka menghadapi fluktuasi permintaan yang
tajam. Untuk menghadapi kenyataan ini perusahaan harus mempunyai
kebijakan atau strategi untuk mencegah menganggurnya fasilitas ketika
permintaan rendah dan perusahaan perlu menetapkan strategi bagaimana cara
untuk memperlakukan konsumen ketika permintaan yang ada melebihi
kapasitas permintaan.

11.3 BASIS DATA SIKLUS PERMINTAAN

6
11.4 KASUS 1
Pertunjukan (musik, drama, teater, film) atau stadion, semakin banyak yang menonton
(bahkan bila kapasitas terisi penuh), maka para penonton akan semakin puas dan
gembira. Di lain pihak ada pula situasi di mana pelanggan akan merasakan pelayanan
yang lebih baik jika perusahaan tidak beroperasi pada kapasitas penuhnya. Sebagai
contoh, kualitas jasa fotokopi bisa menurun apabila semua mesin fotokopi terpakai dan
jadwalnya sangat padat. Akibatnya sebagian pelanggan terpaksa harus menunggu
gilirannya.
Ada dua pendekatan pokok untuk mengatasi masalah fluktuasi permintaan, yaitu
menyesuaikan tingkat kapasitas untuk memenuhi variasi permintaan dan mengelola
tingkat permintaan.

Agar permasalahan permintaan dan kapasitas dapat seimbang, ada dua solusi dasar bagi
permintaan yang fluktuatif. Pertama adalah menyesuaikantingkat kapasitas untuk
memenuhi berbagai jenis permintaan. Pendekatan ini yang membutuhkan kerjasama
antara pengelola/pimpinan dan sumber daya manusia, menuntut pemahaman tentang apa
yang menjadi kapasitas produktif dan bagaimana meningkatkan atau menurunkannya
secara bertahap. Pendekatan kedua adalah mengelola tingkat permintaan, dengan
menggunakan strategi pemasaran untuk meratakan puncaknya dan mengisi lembahnya
untuk menghasilkan aliran permintaan jasa ynag lebih konsisten. Beberapa lembaga
menggunakan pendekatan ini. (lovelock:316).

Sedangkan persoalan peningkatan fokus pelanggan/permintaan dapat juga menerapkan


pendekatan relationship marketing, menyatukan kualitas, layanan pelanggan dan
pemasaran. Harus mengenali kebutuhan-kebutuhan public, Kualitas harus ditentukan
dari perspektif pelanggan, Konsep kualitas harus mempengaruhi unsur-unsur proses.

7
Yield Management.

Karena sifat jasa penerbangan yang sangat perishable (artinya, kursi di pesawat tidak
bisa disimpan), maka peruasahaan berusaha mengurangi kerugian dengan menawarkan
system diskon pada waktu – waktu sepi, meskipun pada waktu yang bersamaan mereka
menetapkan harga penuh untuk penumpang bisnis/first class. Yield management
memungkinkan perusahaan untuk mengalokasikan seluruh kapasitas yang ada dengan
cara menyesuaikannya dengan permintaan dari beberapa segmen pasar yang berbeda.
Yield management sangat cocok dilakukan pada perusahaan-perusahaan jasa dengan
karakteristik sebagai berikut.
 Mempunyai kapasitas yang relatif tetap (relatively fixed capacity)
 Ability to segment market
 Perishable inventory
 Product sold in advance
 Fluctuating demand

Aplikasi Yield Management.

Penerapan strategi Yield Management pada perusahaan hotel dan perusahaan-


perusahaan penerbangan pada contoh berikut ini akan memberi gambaran yang lebih
jelas mengenai konsep ini.
a. Penerapan Holiday Inn Reservation Optimization (HIRO).
Industri perhotelan, sama halnya dengan industry penerbangan, adalah industry
yang membutuhkan investasi yang sangat besar, terutama untuk pembangunan
dan pemeliharaan. Holiday Inn mengalami situasi tradisional yang sama dan
berusaha menggunakan manajemen kapasitas untuk meningkatkan penghasilan.
Untuk mencapai tujuannya, perusahaan Holiday Inn mengusahakan agar yang
akan diperoleh melampaui kapasitas penuh (maximum occupancy) dan ini harus
sejalan dengan usahanya untuk meningkatkan kepuasaan konsumen dengan
suatu model yang disebut HIRO (Holiday Inn Reservation Optimization).
Holiday Inn dapat mencapai keuntungan yang luar biasa dengan menggunakan
system yield management.

8
HIRO menggunakan cara yang sama seperti yang dijalankan American Airline
dengan model SABRE (semi-automated business research environment), yaitu
menggunakan catatan penjualan masa lalu sebagai pedoman untuk menganalisis
berapa kamar yang dibutuhkan dan yang dipesan untuk masing-masing hotel.
Dengan menggunakan yield management, dianalisis berapa kebutuhan optimal
dengan mempertimbangkan banyak faktor. System HIRO ini memperhitungkan
dengan cermat tingkat kapasitas penuh dengan menyaring permohonan diskon
untuk konsumen-konsumen tertentu. HIRO menggunakan cara overbooking
untuk mengantisipasi adanya pembatalan pesanan dan dengan memanfaatkan
system yield management di bidang jasa, Holiday Inn berhasil membantu
manajer hotel dalam menyeimbangkan antara kemampuan untuk menetapkan
harga penuh (tanpa diskon) dengan tetap mempertahankan kepuasaan dan
loyalitas konsumen.
b. Aplikasi yield management di American Airlines dengan menerapkan model
SABRE (semi-automated business research environment)
Pada laporan tahunan 1987, American Airlines secara luas mendeskripsikan
fungsi dari yield management sebagai “selling the right seats to the right
customs at the right prices”. Pernyataan ini sebetulnya hanya merupakan
sebagian dari kelebihan yield management, karena yang terpenting adalah
motivasi yang mendasar di balik strategi ini.
Pada dasarnya, system yield management pada American Airlines mempunyai
tiga fungsi yaitu sebagai berikut.
 Overbooking
 Discount allocation
 Traffic management
System yield management yang diterapkan pada perusahaan penerbangan besar
disebut DINAMO (Dynamic Inventory and Maintenance Optimizer), yang
secara penuh diterapkan pada tahun 1988. DINAMO merupakan langkah
terakhir dalam proses pengembangan dalam rangka merespons perubahan
industry penerbangan dan memanfaatkan penemuan – penemuan baru di bidang
teknologi computer.

9
Beberapa perubahan yang menyebabkan penggunaan system yield management
semakin dibutuhkan oleh perusahaan penerbangan adalah sebagai berikut.
 Penerapan system pemesanan melalui computer (SABRE) pada tahun
1966, yang memungkinkan pengontrolan jumlah persediaan tiket.
 Diperkenalkan supersaver discount fares pada tahun 1977.
 Deregulasi di bidang jadwal dan penentuan harga pada tahun 1979.
c. Peramalan Permintaan (Forecasting Demand) dan Beberapa Metode Peramalan
Ramaln permintaan adalah ramalan apasaja yang akan terjadi dengan penjualan
produk yang ada di dalam perusahaan. Penentuan peramalan permintaan
dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
 Tetapkan penggunaan ramalan
 Pilih persoalan untuk diramal
 Tetapkan rentang waktu ramalan
 Pilih model-model peramalan
 Kumpulkan data
 Buatlah ramalan
 Sahkan dan laksanakan hasilnya
Peramalan permintaan banyak manfaatnya bagi setiap perusahaan, karena
memberikan masukan dan informasi yang berharga bagi proses perencanaan dan
pengambilan keputusan. Peramalan permintaan menunjukkan perkiraan yang
akan terjadi pada suatu keadaan tertentu, sedangkan perencanaan menggunakan
peramalan untuk membantu pengambil keputusan dalam mempengaruhi hasil
yang akan terjadi melalui berbagai strategi.
Beberapa teknik peramalan memungkinkan kita untuk mengubah bermacam –
macam informasi dari database ke dalam bentuk strategi yang dapat dijadikan
alat bersaing yang menguntungkan. Teknik yang sering digunakan meliputi tiga
metode dasar yaitu: Model Subjektif (Subjective Models), Model Kausal (Causal
Models), dan Model Runtut Waktu (Time Series Models).

10
DAFTAR PUSTAKA

http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail&ID=444
http://www.smakristencilacap.com/arti-pemasaran-dan-manajemen-pemasaran/strategi-
mengelola-penawaran-dan-permintaan-jasa/
http://ajengocpoenya.wordpress.com/2010/06/11/mengelola-bisnis-jasa-jasa-
pendukung-produk/
http://budayanusantara.blogspot.com/2007/10/bab-i.html
brigitalahutung.wordpress.com/2012/10/15/mengelola-kapasitas-dan-permintaan-jasa/

11