Anda di halaman 1dari 27

Tugas Makalah Individu

Mata Kuliah : Manajemen dan Kebijakan Kesehatan


Dosen : Dr. dr. H. Noer Bahry Noor, M.Sc

REVIEW KEBIJAKAN UNDANG-UNDANG


NO. 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN
(PASAL 141, 142, 143, 144, 145, 146, 147)

DISUSUN OLEH:

ANDI NURHALIZAH TENRIYOLA A.P


P1804216018

KONSENTRASI EPIDEMIOLOGI
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS HASANUDDIN
2016
RINGKASAN EKSEKUTIF

A. ISU DAN MASALAH PUBLIK:


Masalah gizi dan pangan selalu terkait antar satu dengan lainnya. Gizi buruk dan
kelebihan gizi atau obesitas menjadi isu yang sering kita jumpai. Di Indonesia pada
tahun 1990, prevalensi gizi lebih pada balita sebesar 14.0%. pada gangguan
kejiwaan. Hasil (Riskesdas). Tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi gangguan
mental emosional yang ditunjukkan gejala depresi 6% untuk usia 15 tahun ke atas
atau sekitar 14 juta orang. Sedangkan Prevalensi gangguan jiwa berat, seperti
schizophrenia adalah 1,7 per 1000 penduduk atau sekitar 400.000 orang.
Berdasarkan jumlah tersebut, ternyata 14,3% di antaranya atau sekira 57.000 orang
pernah dipasung. Angka pemasungan di pedesaan sebesar 18,2%. Angka ini tinggi
jika dibandingkan dengan angka di perkotaan, yaitu sebesar 10,7%.
B. TUJUAN KEBIJAKAN:
Tujuan yang ingin dicapai dari pasal 141, 142, 143 yaitu memberikan gizi yang
berkualitas dan bermutu bagi masyarakat setempat agar upaya untuk perbaikan gizi
masyarakat sejak dalam kandungan hingga sampai pada lanjut usia. Sedangkan
Tujuan yang ingin dicapai dari pasal 144, 145, 146 dan 147 yaitu untuk memberikan
perlindungan kepada masyarakat melalui upaya kesehatan jiwa yang ditujukan
untuk menjamin setiap orang untuk dapat menikmati kehidupan kejiwaan yang
sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang dapat mengganggu
kesehatan jiwa.
C. PENDEKATAN DALAM SETIAP SIKLUS KEBIJAKAN:
Pendekatan yang digunakan dalam analisis adalah pendekatan empiris
dan pendekatan normatif. Pendekatan empiris (fakta) digunakan, karena
memusatkan perhatian pada masalah pokok yaitu masalah gizi kurang, gizi lebih,
bayi BBLR, dan stunting sedangkan kesehatan jiwa, yaitu masih tinggi angka
kejadian ODGJ, sehingga terdapat pertanyaan apakah sesuatu itu ada
(menyangkut fakta). Pendekatan ini menekankan penjelasan sebab akibat dari
kebijakan perbaikan gizi dan kesehatan jiwa. Sedangkan Pendekatan normatif,
memusatkan perhatian pada upaya memecahkan masalah kesehatan dengan

ii
membuat kebijakan yang sesuai dengan situasi dan kondisi saat ini dan masa yang
akan datang.
D. SUBSTANSI POKOK KEBIJAKAN:
Isi substansi kebijakan pada pasal 141, pasal 142, dan pasal 143 tentang gizi yaitu
upaya perbaikan gizi masyarakat yang dilakukan pada seluruh siklus kehidupan
dari dalam kandungan sampai lanjut usia dengan berdasarkan standar angka
kecukupan gizi, yang meliputi peningkatan kesehatan ibu, bayi, balita yang
menjamin continuum of care pencegahan stunting. Sedangkan substansi pada
pasal 144, dan 145 tentang kesehatan jiwa yaitu menjamin upaya kesehatan jiwa
secara preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif, termasuk menjamin kesehatan
jiwa di tempat kerja.
E. MASALAH BARU YANG TIMBUL:
dengan adanya pasal 141, 142, dan 143 maka pemerintah harus bisa memberikan
pelayanan kesehatan yang memadai baik secara kuantitas dan kualitas.
Sedangkan masalah yang timbul secara khusus untuk pasal 144 ayat (2) yaitu
dikalangan masyarakat, pemasungan merupakan upaya rehabilitatif yang dilakukan
oleh keluarga Orang Dengan Gangguan Jiwa, akan tetapi hal tersebut merupakan
tindakan yang melanggar HAM.
F. RESISTENSI TERHADAP KEBIJAKAN:
Salah satu actor yang resistensi terhadap undang-undang no. 36 tahun 2009
tentang kesehatan yaitu gizi dan gangguan kesehatan jiwa. Disini salah satunya
pengusaha merupakan aktor yang menyediakan bahan makanan secara khusus
terkadang dapat bermain dalam proses distribusi dan harga pangan. Sedangkan
untuk kesehatan jiwa yaitu masyarakat atau keluarga orang dengan gangguan jiwa
(ODGJ) karena ada beberapa cara penanganan pasien gangguan jiwa yang
dilakukan secara mandiri oleh keluarga dengan cara memasung karena dianggap
lebih efektif.

iii
G. PREDIKSI KEBERHASILAN:
Prediksi keberhasilan kebijakan dapat ditujukan dari tiga faktor, yaitu kepatuhan,
kelancaran rutinitas, dan memberikan manfaat sesuai dengan yang diharapkan dan
itu menurut saya sudah 80% telah dilakukan.
H. KESIMPULAN:
Upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi
perseorangan dan masyarakat terutama pada ibu hamil dan balita. Sedangkan
Upaya kesehatan jiwa ditujukan untuk menjamin setiap orang dapat menikmati
kehidupan kejiwaan yang sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain
yang dapat mengganggu kesehatan jiwa.
I. REKOMENDASI:
Diperlukan pemahaman dan penjelasan mengenai pasal-pasal yang ada, sehingga
sinkron dan tidak merugikan salah satu pihak di kemudian hari.

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .........................................................................


RINGKASAN EKSEKUTIF ................................................................
DAFTAR ISI .......................................................................................
BAB 1 KAJIAN KEBIJAKAN
A. Masalah Dasar ........................................................................ 1
B. Macam Masalah ..................................................................... 2
C. Nilai ........................................................................................ 3
D. Karakteristik ............................................................................ 4
E. Aktor ....................................................................................... 4
F. Isu Publik ................................................................................ 5
G. Tujuan yang Ingin Dicapai ...................................................... 6
H. Substansi Kebijakan ................................................................ 7
I. Ciri Kebijakan .......................................................................... 8
BAB 2 KONSEKUENSI DAN RESISTENSI
A. Perilaku yang Muncul .............................................................. 11
B. Resistensi ................................................................................ 13
C. Masalah Baru yang Timbul. ..................................................... 15
BAB 3 PREDIKSI KEBERHASILAN
A. Prediksi Trade Off.................................................................... 17
B. Prediksi Keberhasilan .............................................................. 18
BAB 4 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan .............................................................................. 20
B. Rekomendasi........................................................................... 20

v
BAB I
KAJIAN KEBIJAKAN

1.1 Masalah Dasar


Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat,
namun penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan
pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor,
oleh karena itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sector
yang terakait. Masalah gizi dan pangan selalu terkait antar satu dengan lainnya.
Gizi buruk dan kelebihan gizi atau obesitas menjadi isu yang sering kita jumpai. Di
Indonesia pada tahun 1990, prevalensi gizi lebih pada balita sebesar 14.0%.
Adapun sasaran pembangunan kesehatan pada akhir tahun 2014 adalah
meningkatnya derajat kesehatan masyarakat melalui percepatan pencapaian
pembangunan Millenium Development Goals (MDGs) yang antara lain adalah 1)
meningkatnya usia harapan hidup menjadi 72 tahun; 2) menurunnya angka
kematian bayi menjadi 24 per 1000 kelahiran hidup; 3) menurunnya angka
kematian ibu melahirkan menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup; 4) menurunnya
prevalensi gizi kurang dan gizi buruk pada anak balita menjadi lebih kecil dari
15%.
Prevalensi gangguan jiwa berat, seperti schizophrenia adalah 1,7 per 1000
penduduk atau sekitar 400.000 orang. Berdasarkan jumlah tersebut, ternyata
14,3% di antaranya atau sekira 57.000 orang pernah dipasung. Angka
pemasungan di pedesaan sebesar 18,2%. Angka ini tinggi jika dibandingkan
dengan angka di perkotaan, yaitu sebesar 10,7%. Data Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2013 menunjukkan 5-30 persen penduduk Indonesia mnegalami
gangguan kejiwaan, termasuk gangguan kecemasan dan depresi berat. Memang,
data tersebut bias jadi dasar yang menggambarkan persoalan gangguan jiwa
Indonesia. Terjadinya perang, konflik, lilitan krisis ekonomi berkepanjangan
merupakan salah satu pemicu yang memunculkan stress, depresi, dan berbagai
gangguan kesehatan jiwa pada manusia. Masalah kesehatan jiwa di Indonesia
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat penting dan harus

1
mendapat perhatian sungguh-sungguh dari seluruh jajaran lintas sektor
Pemerintah baik di tingkat Pusat maupun Daerah, serta perhatian dari seluruh
masyarakat mengingat beban penyakit atau burden of disease penyakit jiwa di
tanah air masih cukup besar.
Kompleksnya pembahasan yang ada dalam UU No.36 Tahun 2009 dengan
banyaknya permasalahan yang diatur didalamnya, sayangnya UU No.36 Tahun
2009 masih belum jelas membahas mengenai Kesehatan Masyarakat walaupun
telah ada pasal yang membahas tentang tindakan Preventif dan rehabilitasi
namun kebanyakan pasal dalam UU no.36 tahun 2009 mengatur tentang tindakan
kuratif yang jelas akan mengonsumsi banyak biaya dan anggaran.
A. Macam masalah
1) Rendahnya kecukupan pangan dan terbatasnya layanan kesehatan untuk
masyarakat miskin dapat dilihat dari kasus kematian yang diakibatkan oleh
gizi buruk. Pada tahun 2005, jumlah anak usia 0-4 tahun di Indonesia
mencapai 20,87 juta. Hal ini berarti ada sekitar 1,67 juta anak balita yang
menderita gizi buruk.
2) Masalah gizi makro bila terjadi pada wanita usia subur dab ibu hamil bias
menyebabkan (KEK) Kurang Energi Kronis dan BBLR Berat Bayi baru
Lahir dan bila terjadi pada balita akan mengakibatkan marasmus dan
selanjutnya akan terjadi gangguan pada pertumbuhan anak.
3) Kelebihan gizi atau obesitas, timbul karena asupan gizi melebihi
kebutuhan. kelebihan gizi ditandai dengan kelebihan berat badan atau
kegemukan, memperbesar risiko munculnya berbagai penyakit
degeneratif, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung,
stroke, penyakit asam urat dan beberapa jenis kanker.
4) Gangguan jiwa yang dimaksud tidak hanya gangguan jiwa
psikotik/skizofrenia, tetapi kecemasan, depresi dang penggunaan
Naroktika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA) juga menjadi masalah
kesehatan jiwa. burden of disease penyakit jiwa di Tanah Air masih cukup
besar. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013,
menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional yang

2
ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan adalah sebesar
6% untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta orang.
5) Prevalensi gangguan jiwa berat, seperti schizophrenia adalah 1,7 per
1000 penduduk atau sekitar 400.000 orang. Berdasarkan jumlah tersebut,
ternyata 14,3% di antaranya atau sekira 57.000 orang pernah atau sedang
dipasung. Angka pemasungan di pedesaan adalah sebesar 18,2%. Angka
ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka di perkotaan,
yaitu sebesar 10,7%.
B. Nilai
Adapun nilai yang terkandung dalam pasal- pasal berikut adalah :
1) Pasal 141 mengenail nilai tentang peningkatan mutu gizi baik
perseorangan dan masyarakat, perbaikan pola makan agar mendaptkan
gizi seimbang dan pemerintah harus menjaga pula bahan makanan atau
pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat.
2) Pasal 142 mengenai nilai tentang upaya yang dilakukan dalam rangka
perbaikan gizi harus dilakukan sejak ibu hamil sampai usia lanjut,
pemerintah disini harus memperhatikan gizi masyarakat terutama untuk
masyarakat miskin (kurang mampu).
3) Pasal 143 mengenai nilai tentang pemerintah yang harus bertanggung
jawab agar masyarakatnya mengeahui pentingnya gizi dan peningkatan
status gizi bagi seluruh masyarakat.
4) Pasal 144 mengenai nilai tentang kesehatan jiwa yang mengandung
manfaat karena upaya kesehatan jiwa ditujukan untuk menjamin setiap
orang dapat menikmati kehidupan kejiwaan yang sehat, bebas dari
ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang dapat mengganggu
kesehatan jiwa.
5) Pasal 145 mengenai nilai tentang kesehatan jiwa dalam keseimbangan
yang berkaitan dengan upaya Pemerintah, pemerintah daerah dan
masyarakat menjamin upaya kesehatan jiwa secara preventif, promotif,
kuratif, dan rehabilitative.

3
6) Pasal 146 mengenai nilai tentang kesehatan jiwa dimana setiap
masyarakat wajib mengetahui informasi dan edukasi tentang kesehatan
jiwa sehingga pemerintah harus lebih gencar dalam menyebarkan
informasi.
7) Pasal 147 mengenai nilai tentang upaya penyembuhan kesehatan jiwa
yang merupakan tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah,
proses penyembuhan untuk penderita gangguan kejiwaan harus dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang memang ahlinya.

C. Karakteristik
Karakterisik yang ada pada Pasal 141, Pasal 142, Pasal 143, Pasal
144, Pasal 145, 146, 147 yakni:
1) Pasal 141, pasal 142, dan Pasal 143 : Ketentuan mengenai upaya
peningkatan mutu gizi masyarakat dan perbaikan gizi masyarakat.
2) Pasal 144, Pasal 145, pasal 146 dan 147: ketentuan mengenai upaya
memberikan informasi kepada seluruh masyrakat melalui pendekatan
promotif, preventif, kuratif, rehabilitative pasien gangguan jiwa dan
masalah psikososial.
D. Actor
Ada beberapa aktor yang terlibat dan berkepentingan dengan pasal-
pasal ini, antara lain:
a. Aparatur yang dipilih (elected official) yaitu berupa eksekutif dan legislatif
yang merumuskan dan melaksanakan kebijakan kesehatan meliputi
pemerintah.
b. Aparatur pemerintah yang berkaitan dengan kesehatan yaitu pemerintah
daerah, pemerintah pusat.
c. Kelompok-kelompok kepentingan (interest group), seperti LSM
d. Organisasi-organisasi penelitian (research organization), berupa
e. Universitas, kelompok ahli atau konsultan kebijakan
f. Tenaga kesehatan baik paramedis maupun nonparamedis.
g. Organisasi-organisasi kesehatan dari tenaga kesehatan apapun.

4
h. Media massa (mass media), sebagai jaringan hubungan yang krusial
diantara Negara dan masyarakat sebagai media sosialisasi dan
komunikasi melaporkan permasalahan kesehatan yang dikombinasikan
antara peran reporter dengan analis aktif sebagai advokasi solusi
masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat.

E. Isu public
Indonesia menghadapi tantangan dalam permasalahan gizi. Data
Global Nutrition Report (2014) menyebutkan bahwa indonesia termasuk
negara yang memiliki masalah gizi yang kompleks. Masalah gizi yaitu : beban
gizi buruk dan gizi lebih harus dilihat sebagai tantangan pembangunan.
Tantangan ini tidak hanya dihadapi oleh negara rentan, namun juga negara
berkembang dan bahkan maju. Negara kita tengah menghadapi perubahan
besar-besaran dalam populasi dunia. Pada tahun 2050 penduduk dunia
diestimasi akan mencapai 8-11 milyar, yang akan menyebabkan kebutuhan
pangan yang jauh meningkat, padahal perubahan iklim telah memberikan
dampak pengurangan jumlah hasil panen. Ini akan menjadi sebuah tantangan
besar untuk ketahanan pangan, nutrisi, dan kesehatan, terutama untuk
kelompok rentan. Meski pertumbuhan ekonomi terus terjadi, kasus seperti
stunting masih menjadi permasalahan besar untuk sebagian besar negara di
dunia. Gizi kurang masih menjadi permasalahan besar kesehatan masyarakat
di abad ke-21 ini. Data WHO mencatat bahwa terdapat 162 juta balita
penderita stunting di seluruh dunia, dimana 56% berasal dari Asia. Indonesia
bahkan termasuk dalam lima besar negara dengan prevalensi stunting
tertinggi di Asia-Afrika. Kekurangan gizi sangat mempengaruhi perkembangan
otak manusia karena begitu sel otak terganggu karena kekurangan gizi, maka
potensi sumber daya manusia itu akan selamanya mengalami kekurangan.
Maka dari itu, salah satu tantangan untuk Negara kita ini yang merupakan
permasalahan dalam bidang kesehatan yang sering kita temui dalam konteks
pangan atau gizi misalnya, antara lain : ketidaksediaan pangan, terbatasnya

5
kecukupan dan mutu pangan, terjadi penurunan nilai gizi pada suatu
makanan, busung lapar, masalah gizi ganda, dan sebagainya.
Sedangkan Isu public yang berhubungan dengan kesehatan jiwa: Data
WHO (2016) menunjukkan, terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60
juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena
demensia. kita sangat prihatin saat mendengar berbagai stigmatisasi dan
diskriminasi yang masih sering dialami oleh anggota masyarakat yang dinilai
berbeda dengan masyarakat pada umumnya, termasuk orang dengan
gangguan jiwa (ODGJ), antara lain dikeluarkan dari sekolah, diberhentikan
dari pekerjaan, diceraikan oleh pasangan, hingga ditelantarkan oleh keluarga,
bahkan dipasung, serta dirampas harta bendanya.
Untuk itu, kita perlu mengajak seluruh jajaran kesehatan untuk segera
dapat melaksanakan Empat Seruan Nasional Stop Stigma dan Diskriminasi
terhadap ODGJ, yaitu: 1) Tidak melakukan stigmatisasi dan diskriminasi
kepada siapapun juga dalam pelayanan kesehatan; 2) Tidak melakukan
penolakan atau menunjukkan keengganan untuk memberikan pelayanan
kesehatan kepada ODGJ; 3) Senantiasa memberikan akses masyarakat pada
pelayanan kesehatan, baik akses pemeriksaan, pengobatan, rehabilitasi
maupun reintegrasi ke masyarakat pasca perawatan di rumah sakit jiwa atau
di panti sosial; serta 4) Melakukan berbagai upaya promotif dan preventif
untuk mencegah terjadinya masalah kejiwaan, mencegah timbulnya dan/atau
kambuhnya gangguan jiwa, meminimalisasi faktor risiko masalah kesehatan
jiwa, serta mencegah timbulnya dampak psikososial.

1.2 TUJUAN YANG INGIN DICAPAI


A. Tujuan yang ingin dicapai dari pasal 141, 142 dan 143 dalam Undang-Undang
nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yaitu memberikan perlindungan
kepada masyarakat melalui upaya perbaikan gizi masyarakat sejak dalam
kandungan sampai dengan lanjut usia. pemerintah bertanggung jawab atas
pemenuhan dan kecukupan gizi dan peningkatan pengetahuan dan kesadaran
masyarakat akan pentingnya gizi.

6
B. Tujuan yang ingin dicapai dari pasal 144, 145, 146 dan 147 dalam Undang-
Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yaitu untuk memberikan
perlindungan kepada masyarakat melalui upaya kesehatan jiwa yang ditujukan
untuk menjamin setiap orang untuk dapat menikmati kehidupan kejiwaan yang
sehat, bebas dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang dapat
mengganggu kesehatan jiwa. Masyarakat juga harus mengetahui informasi
tentang gangguan kesehatan jiwa itu bagaimana dan seperti apa upaya yang
bisa dilakukan dan mengandung hak masyarakat untuk mendapatkan
informasi dan edukasi yang benar mengenai kesehatan jiwa serta kewajiban
pemerintah dan pemerintah daerah menyediakan layanan informasi dan
edukasi tentang kesehatan jiwa. Pasal ini bertujuan untuk menghindari
pelanggaran hak asasi seseorang yang dianggap mengalami gangguan
kesehatan jiwa. Pada pasal 148 disini juga Mengatur tentang tanggung jawab
Pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat terhadap penyumbuhan
orang dengan gangguan kesehatan Jiwa yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang berwenang dan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan
khusus yang memenuhi syarat dan yang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Pasal ini bertujuan untuk menjamin upaya pengobatan
seseorang dengan gangguan mental.
1.3 SUBSTANSI KEBIJAKAN
Isi substansi kebijakan pada pasal 141, pasal 142, dan pasal 143 tentang
gizi yaitu adanya tanggung jawab pemerintah dalam hal pemenuhan kecukupan
gizi masyarakat baik itu dengan peningkatan mutu gizi perseorangan atau
masyarakat. Pemantapan rancangan arah kebijakan pembangunan kesehatan
2012 dan realisasinya yang telah ditetapkan dengan rancangan meliputi
peningkatan kesehatan ibu, bayi, balita yang menjamin continuum of care.
Perbaikan status gizi masyarakat pada pencegahan stunting.
Sedangkan isi substansi pada pasal 144, 145, 146 dan 147 tentang hak
yang harus dimiliki seseorang dengan gangguan mental dan kewajiban
Pemerintah dan pemerintah daerah untuk menjamin informasi dan pengobatan
yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berwenang dan di tempat pelayanan

7
kesehatan. Pemerintah harus menjamin upaya kesehatan jiwa secara preventif,
promotif, kuratif, dan rehabilitatif, termasuk menjamin upaya kesehatan jiwa di
tempat kerja, Memberikan layanan edukasi dan informasi tentang kesehatan jiwa.

1.4 CIRI KEBIJAKAN


A. Kriteria Kebijakan
Sebagaimana ciri, sifat, dan kriteria kebijakan yang dikemukan
oleh Anderson & Brady (1983), pasal 141, 142, 143, 144, 145, 146 dan 147
dalam UU No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan memiliki ciri dan karakter
sebagai berikut:
1) Pasal-pasal ini merupakan kebijakan yang berfungsi untuk mengatur dan
pelaksanaan di masyarakat dan memiliki tujuan yang ingin dicapai.
2) Tidak berdiri sendiri atau terpisahkan dari kebijakan lain, tetapi berkaitan
dengan berbagai kebijakan masyarakat, berorientasi pada pelaksanaan,
interpretasi, dan penegak hukum. Sehingga seharusnya terdapat aturan
turunan dari pasal-pasal ini atau ada peraturan perundang-undangan
lainnya yang menjadi bahan rujukan sebagai pedoman pelaksanaannya di
lapangan, khususnya untuk ketentuan mengenai pengujian dan/atau
kalibrasi peralatan medis, standar yang berkaitan dengan keamanan,
mutu, dan manfaat.
3) Kebijakan pada pasal 141, 142, dan 144 berbentuk positif (pengarahan
untuk melaksanakan atau menganjurkan).

B. Tipe Pendekatan
Pendekatan yang digunakan untuk menganalisis pasal 141, 142, 143,
144 dan 145 UUD No 36 Tahun 2009 ini adalah pendekatan empiris
dan pendekatan normatif. Pendekatan empiris (fakta) digunakan, karena
memusatkan perhatian pada masalah pokok yaitu masalah gizi kurang, gizi
lebih, bayi BBLR, dan stunting sedangkan kesehatan jiwa, yaitu masih tinggi
angka kejadian ODGJ, sehingga terdapat pertanyaan apakah sesuatu itu ada
(menyangkut fakta). Pendekatan ini menekankan penjelasan sebab akibat dari

8
kebijakan perbaikan gizi dan kesehatan jiwa. Sedangkan Pendekatan
normatif, memusatkan perhatian pada upaya memecahkan masalah
kesehatan dengan membuat kebijakan yang sesuai dengan situasi dan kondisi
saat ini dan masa yang akan datang.
Pendekatan lain yang dipakai dalam undang-undang ini adalah Model
sistem yang memandang kebijakan publik dalam hal kesehatan sebagai suatu
output dari sistem politik yaitu melalui proses interaksi antara suatu sistem
politik dengan tekanan lingkungannya. Dalam hal ini, tekanan sebagai input
(tuntutan terselenggaranya upaya kesehatan yang mudah dijangkau, bermutu,
berkesinambungan dan nondiskriminatif dan dukungan dari berbagai elemen
masyarakat yang menginginkan pemerintah dapat meningkatkan derajat
kesehatan setinggi-tingginya), lingkungan sebagai external factor/proses, dan
kebijakan kesehatan sebagai output. Namun pendekatan sistem hanya
memusatkan perhatian pada tindakan yang dilakukan pemerintah dan tidak
memperhatikan apa yang tidak pernah dilakukan pemerintah, hanya focus
terhadap implementasi undang-undang.

C. Pasal Yang Bermasalah


Pada hakikatnya, undang-undang kesehatan nomor 36 tahun 2009
memiliki tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan di Indonesia, namun,
pada bab VIII tentang gizi ada terdapat pasal yang bermasalah yaitu :
 pada pasal 142 ayat 1 yang dimana pasal tersebut berbunyi upaya
perbaikan gizi dilakukan pada seluruh siklus kehidupan sejak dalam
kandungan sampai dengan lanjut usia dengan prioritas kepada
kelompok rawan: a. bayi dan balita; b. remaja perempuan; dan c. ibu
hamil dan menyusui. Dalam pasal tersebut dikatakan bahwa perbaikan
gizi dilakukan pada seluruh siklus kehidupan termasuk lanjut usia,
tetapi kelompok lansia tidak termasuk dalam kelompok rawan padahal
masalah gizi tidak hanya terjadi pada balita dan ibu hamil, tetapi
ternyata sering kali menimpa lanjut usia. Karena lansia memerlukan
nutrisi yang baik, bahan bergizi seperti protein, mineral, kalsium, dan

9
vitamin harus tersedia dalam jumlah yang cukup, kebutuhan gizi lansia
hampir sama dengan kebutuhan gizi dari generasi yang lebih muda.
Gizi yang paling penting dibutuhkan dalam waktu singkat oleh makhluk
hidup adalah air, tanpa asupan cairan yang adekuat semua perawatan
nutrisi akan sia-sia. Dalam kondisi normal, lansia membutuhkan asupan
cairan sekitar 1.500 ml setiap hari maka dari itu perlu adanya aturan
yang mengatur gizi untuk kelompok lansia.
Sedangkan dalam undang-undang kesehatan nomor 36 tahun 2009
tentang kesehatan jiwa, masih terdapat pasal yang redaksinya masih kurang
lengkap yaitu terdapat pada :
 pasal 145 yang berbunyi Pemerintah, pemerintah daerah dan
masyarakat menjamin upaya kesehatan jiwa secara preventif, promotif,
kuratif, dan rehabilitatif, termasuk menjamin upaya kesehatan jiwa di
tempat kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 144 ayat (3). Yang
menurut saya seharusnya pasal tersebut tidak hanya sekedar
melakukan upaya untuk menjamin kesehatan seseorang agar tidak
terganggu kesehatan jiwanya saat bekerja. Akan tetapi perlu juga
dilakukan pemberdayaan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) pasca
kesehatan jiwanya terganggu agar dapat kembali diterima ditempat
kerjanya. Hal ini bertujuan agar ODGJ dapat hidup mandiri, produktif,
dan percaya diri di tengah masyarakat, bebas dari stigma, diskriminasi
atau rasa takut, malu serta ragu-ragu. Upaya ini sangat diperlukan,
karena ketika ODGJ kembali ke masyarakat dan dia merasa sulit untuk
beradaptasi bisa jadi ODGJ tersebut kembali terganngu kesehatan
jiwanya.

10
BAB II
KONSEKUENSI DAN RESISTENSI

2.1 PERILAKU YANG MUNCUL


Berdasarkan pasal 141, 142, dan 143 undang-undang nomor 36 tahun 2009,
perilaku positif yang dapat muncul akibat adanya aturan tentang gizi yaitu:
a. Dengan adanya pasal 141 tentang gizi, maka diharapkan upaya perbaikan gizi
dimasyarakat dapat mencapai status gizi baik dan menurunkan risiko
timbulnya penyakit gangguan metabolik dan degenerative yang dilakukan
melalui tindakan yang bersifat pencegahan, peningkatan dan penyembuhan.
b. Dengan adanya pasal 142 tentang gizi, maka dengan pemberian pelayanan
kesehatan dan gizi yang lebih baik pada ibu hamil sehingga terhindar dari
kemungkinan melahirkan dengan bayi berat badan lahir rendah dan stunting.
c. Diharapkan dapat menjadikan gizi sebagai basis paradigma bagi pencerdasan
bangsa dan basis peningkatan produktivitas.
d. Memberikan kesempatan yang lebih luas kepada daerah untuk menyusun
kebijakan gizi sesuai dengan masalah dan keadaan daerah masing-masing.
e. Mempersiapkan, memelihara, dan mempertahankan agar setiap orang
mempunyai status gizi baik, dapat hidup sehat dan produktif melalui program
peningkatan pendidikan gizi, penanggulangan Kurang Energi Protein, Anemia
Gizi Besi, Gangguan Akibat Kekurangan yodium (GAKY), kurang Vitamin A,
Keadaan zat gizi lebih, peningkatan surveillans gizi, dan pemberdayaan usaha
perbaikan gizi keluarga/masyarakat.
Sedangkan untuk perilaku negatif yang biasa muncul adalah adanya
berbagai bentuk resistensi dari pihak-pihak yang merasa tidak dilibatkan dalam
proses pembuatan undang-undang ini atau pihak-pihak yang merasa dirugikan
dengan diberlakukannya undang-undang tersebut. Perilaku sadar gizi juga masih
sulit tercapai dengan masih tingginya kasus gizi buruk karena kemampuan daya
beli keluarga yang kesulitan untuk mengakses pangan yang mungkin dikarenakan
harga bahan pangan saat ini cenderung mengalami kenaikan harga apalagi jika
dilihat dari financial suatu keluarga khususnya keluarga miskin. Maka, pemerintah

11
harus mulai memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya gizi bagi
anak-anak.
Eksklusif menyusui anak-anak mereka pada enam bulan pertama. Ada
banyak hambatan untuk menyusui di Indonesia, termasuk anggota keluarga dan
dokter yang tidak mendukung. Beberapa ibu juga takut menyusui akan
menyakitkan dan tidak praktis, tapi salah satu kendala terbesar adalah
kesalahpahaman dari istilah 'eksklusif'.
Berdasarkan pasal 144, 145, 146 dan 147. undang-undang nomor 36 tahun
2009 , perilaku positif yang dapat muncul dengan adanya aturan tentang
kesehatan jiwa yaitu:
a. Terjaminnya kesehatan jiwa setiap orang agar dapat mencapai kualitas hidup
yang baik, serta memberikan pelayanan kesehatan secara terintegrasi,
komprehensif, dan berkesinambungan melalui upaya promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif.
b. Memberikan perlindungan terhadap sumber daya manusia yang terlibat dalam
penanganan ODGJ, dan memberikan kejelasan mengenai wewenang dan
tugas dari setiap pihak yang meyelenggarakan.
c. Pemerintah menjamin adanya penanganan baik dalam segi pengobatan dan
HAM untuk orang dengan gangguan mental.
Sedangkan perilaku negative.
d. Angka kejadian pemasungan terhadap ODGJ dapat menurun karena
pemasungan terhadap orang yang diduga mengidap gangguan kejiwaan
merupakan tindakan yang bertentangan dengan HAM. Tindakan pemasungan
merupakan gejala yang umum ditemukan di negara berkembang, termasuk di
Indonesia. Ketiadaan aturan hukum, rendahnya tingkat pendidikan,
keterbatasan pemahaman terhadap gejala gangguan kejiwaan, serta
keterbatasan ekonomi merupakan faktor yang mendeterminasi munculnya
kejadian pasung.

12
Sedangkan perilaku negatif yang biasanya muncul yaitu
a. Semakin mudahnya pelayanan pasien gangguan jiwa harus dirawat di RSJ
untuk menjalani perawatan intensif, agar pasien mendapatkan perhatian yang
cukup dari para perawat dan tenaga kesehatan lain. Namun, karena
pertimbangan beberapa hal, banyak keluarga yang enggan memasukkan
penderita ke RSJ karena di sisi lain mereka begitu memperhitungkan reputasi
keluarga di mata masyarakat.
b. Adanya kecenderungan keluarga/masyarakat untuk menjadikan Rumah Sakit
Jiwa (RSJ) sebagai tempat pembuangan bagi orang dengan gangguan jiwa.
Hal ini jelas keliru, terapi bagi penderita gangguan jiwa bukan hanya sekadar
pemberian obat dan rehabilitasi medik, namun perlu peran serta keluarga
guna resosialisasi dan pencegahan untuk kambuh kembali. Stigmatisasi dan
diskriminasi ini berdampak pada munculnya berbagai masalah sosial, ekonomi
dan keamanan di masyarakat.
c. peraturan ini masih sebatas wacana yang implementasi dilapangan sangat
berbeda, buktinya masih banyak penderita gangguan mental yang hidup
disamping jalan dan disepelekan hidupnya oleh pemerintah, keluarga dan
masyarakat.

2.2 RESISTENSI
Salah satu actor yang resistensi terhadap undang-undang no. 36 tahun
2009 tentang kesehatan pada bab VIII tentang gizi yaitu pelaku pengusaha.
Karena pelaku pengusaha merupakan aktor yang menyediakan bahan makanan
secara khusus terkadang dapat “BERMAIN” dalam proses distribusi dan harga
pangan. Permainan pelaku usaha ini dapat pula mengganggu akses pangan
dalam masyarakat sehingga kemampuan daya beli suatu keluarga dapat
terpengaruh. Hubungan antara produsen dan konsumen memang berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan tersebut, merupakan rangkaian pembuatan dan perbuatan
hukum tidak mempunyai akibat hukum dan yang mempunyai akibat hukum baik
terhadap semua pihak maupun hanya kepada pihak-pihak tertentu saja.

13
Hal tersebut secara sistematis dimanfaatkan oleh Pelaku usaha dalam
suatu sistem distribusi atau pemasaran produk barang guna mencapai suatu
tingkat produktifitas dan efektifitas tertentu dalam rangka mencapai sasaran
usaha. Sampai pada tahapan hubungan penyaluran atau distribusi tersebut
menghasilkan suatu hubungan yang sifatnya massal, karena sifatnya massal
tersebut maka peran negara sangat dibutuhkan dalam rangka melindungi
kepentingan konsumen pada umumnya. Untuk itu diatur perlindungan konsumen
berdasarkan Undang-Undang antara lain mutu barang, cara Pelaku usaha
produksi, syarat kesehatan, syarat pengemasan, syarat lingkungan dan lain
sebagainya.
Sedangkan Salah satu actor yang resistensi terhadap undang-undang no.
36 tahun 2009 tentang kesehatan pada bab IX tentang kesehatan jiwa yaitu
masyarakat atau keluarga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) karena ada
beberapa cara penanganan pasien gangguan jiwa yang dilakukan secara mandiri
oleh keluarga dengan cara yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan prosedur
kesehatan, seperti mengurung penderita gangguan jiwa dan memperlakukan
pasien dengan tidak manusiawi bahkan ada keluarga dengan sengaja membuang
anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa karena dianggap aib. Demikian
juga ketika keluarga mengetahui salah satu anggotanya mulai menampakkan
gejala gangguan jiwa, maka oleh sebagian kalangan ia dianggap kemasukan roh
halus. Untuk kasus semacam ini, masyarakat memilih membawanya ke dukun,
bukan ke dokter jiwa.
Kebijakan ini menimbulkan pro dan kontra dalam implementasinya di
lapangan. Pihak yang pro menilai bahwa dengan diterapkannya kebijakan ini
dapat menjamin kesehatan setiap manusia demi terwujudnya kualitas hidup
manusia yang utuh pihak yang kontra adalah petugas kesehatan, dokter psikiater,
dan keluarga. Pihak yang kontra menganggap bahwa gangguan jiwa disebabkan
oleh pengaruh intervensi dari sihir yang dianggap sebagai penyebab potensial dan
sumber penyembuhan psikosis serta peran dukun sebagai penyembuh.

14
2.3 MASALAH BARU YANG TIMBUL
Masalah baru yang mungkin dapat timbul dengan adanya pasal 141, 142,
dan 143 tentang gizi adalah pemerintah harus bisa memberikan pelayanan
kesehatan yang memadai baik secara kuantitas dan kualitas. Dimana masih
banyak daerah di Indonesia khususnya di daerah terpencil masih kekurangan
tenaga gizi, jangankan dokter dengan spesialis gizi, bahkan untuk tenaga sarjana
ahli gizi pun masih terasa sulit untuk terdistribusi di daerah terpencil. Sehingga hal
ini sangat berpengaruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan
khususnya pelayanan gizi masyarakat.
Masalah tingginya kasus Gizi Buruk, bayi BBLR dan stunting di Indonesia
adalah faktor kemiskinan yang meningkat, pendidikan rendah, ketersediaan pangan
yang kurang, kesempatan bekerja yang tak pasti serta pelayanan kesehatan yang
kurang memadai sehingga Pemerintah dalam waktu bersamaan juga harus bisa
menjamin ketersediaan pangan. Masalah pangan di Indonesia tidak hanya
mengenai pasokan produk pangan dalam jumlah dan gizi yang cukup tetapi juga
aman. Dalam hal ini, keamanan pangan merupakan prasyarat bagi pangan
bermutu dan bergizi baik. Berbica masalah kesehatan yang berhubungan dengan
gizi bukanlah tanggung jawab dinas kesehatan semata, melainkan tanggung jawab
seluruh elemen secara khusus untuk badan ketahanan pangan dan meneteri
ekonomi.
Sedangkan masalah baru yang timbul dengan adanya Pasal 144, 145, 146
dan 147 secara khusus untuk pasal 144 ayat (2) berbunyi Upaya kesehatan jiwa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas preventif, promotif, kuratif,
rehabilitatif pasien gangguan jiwa dan masalah psikososial. Dikalangan
masyarakat, pemasungan merupakan upaya rehabilitatif yang dilakukan oleh
keluarga Orang Dengan Gangguan Jiwa, akan tetapi hal tersebut merupakan
tindakan yang melanggar HAM. Sehingga Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)
saat ini sudah memiliki payung hukum yang jelas dengan adanya Undang-Undang
no. 36 tahun 2009 bab IX tentang kesehatan jiwa. Namun terdapat kerancuan
dalam UU tersebut terutama masalah pemberian sanksi pidana terhadap pelaku
pemasungan yang mayoritas pelakunya adalah keluarganya sendiri. Pelanggaran

15
terhadap aturan yang telah dibuat oleh pemerintah mengandung sanksi yang
berlaku pada setiap warga Negara yang melanggarnya.
Terdapat beberapa pihak setuju dengan aturan bahwa pelaku pemasungan
itu diberikan sanksi pidana seperti yang diatur dalam UU KUHP yang menjelaskan
bahwa pemasungan dapat diartikan sebagai suatu perampasan kemerdekaan
seseorang. Disatu sisi selanjutnya, pemasungan adalah cara tradisional dalam
mengatasi ODGJ yang keberadaannya sudah mengancam lingkungan sekitarnya.
Hal ini tentunya menimbulkan persepsi yang berbeda di masyarakat bahwa ODGJ
itu harus di pasung.
Masalah yang timbul dimasyarakat : a) masih berkembangnya stigma
tentang gangguan jiwa, sebagai akibat dari kurangnya informasi dan edukasi yang
benar mengenai kesehatan jiwa itu sendiri; b) adanya kasus pelanggaran HAM
pada penderita gangguan jiwa terjadinya pemasungan; c) pelayanan kesehatan
yang diberikan belum memadai, dimana suatu penelitian menunjukkan bahwa
pasien dengan gangguan jiwa berat yang dirawat di fasilitas pelayanan antara
(intermediate care facility) mengeluh tidak mendapatkan prosedur diagnosis dan
upaya pengobatan yang memadai.

16
BAB III
PREDIKSI TRADE-OFF DAN PREDIKSI KEBERHASILAN

3.1 PREDIKSI “TRADE OFF”


Sudah menjadi kerancuan sejak dulu, bahwa apapun produk peraturan
yang berkenaaan dengan kesehatan, semestinya mengacu atau berpedoman
pada Sistem Kesehatan Nasional. Tapi sebagaimana diketahui, bahwa secara
hierarki peraturan perundang-undangan, Sistem Kesehatan Nasional (SKN) kita
malah berada pada tataran kebijakan setingkat Menteri, jauh di bawah Undang-
Undang yang seharusnya ditetapkan oleh DPR. Tidak seperti di Indonesia, di
negara-negara yang telah maju bidang kesehatannya, seperti di Amerika Serikat
dan di Singapura, semua produk kebijakan di bidang kesehatan mengacu pada
satu sistem, yakni sistem yang sudah disepakati secara nasional, sehingga produk
kebijakan yang dibuat menjadi terintegrasi dan sistematis.
Kerancuan ini bisa jadi akan menjadi masalah yang menjadikan
pengimplementasian undang-undang ini sebagai produk kebijakan kesehatan
yang gagal dan tidak sesuai dengan harapan sebelumnya. Menurut teori,
implementasi kebijakan dapat gagal karena masih ada ketidaktetapan atau
ketidaktegasan intern maupun ekstern atas kebijakan itu sendiri, sehingga
menunjukan adanya kekurangan yang menyangkut sumber daya pembantu.
Kerancuan dan ketidaktegasan sanksi yang diberikan, sebagaimana telah
dijelaskan sebelumnya, menyebabkan pasal 141 ini memiliki kemungkinan untuk
gagal dalam pengimplementasiannya karena lebih menekankan pada faktor
perilaku masyarakat dan tingkat ekonomi dalam suatu keluarga. Akan tetapi
system Negara kita yang menganut system desentralisasi diharapkan dapat
sedikit mengurangi kerancuan tersebut. Yang dimana turunan undang-undang
kesehatan tersebut dapat dilanjutkan sesuai dengan kebutuhan peraturan yang
berlaku yakni dalam bentuk peraturan gubernur atau peraturan pemerintah kota
yang berhubungan dengan masalah gizi dan kesehatan jiwa.
Selain itu, sosialisasi dan informasi tentang kebijakan yang kurang optimal
dilakukan, menyebabkan masih banyak pihak yang tidak mengetahui hal ini,

17
sehingga berdampak pada kurangnya dukungan dan resistensi yang bisa saja
muncul di kemudian hari.

3.2 PREDIKSI KEBERHASILAN


Ripley dan Franklin dalam bukunya yang berjudul Birokrasi dan
Implementasi Kebijakan (Policy Implementation and Bureaucracy) menyatakan
bahwa keberhasilan implementasi kebijakan atau program dapat ditujukan dari
tiga faktor, yaitu kepatuhan, kelancaran rutinitas, dan memberikan manfaat sesuai
dengan yang diharapkan.
Perspektif kepatuhan (compliance) mengukur implementasi dari kepatuhan
strect level bereau crats. Pasal 141 dan 142 Undang-Undang Dasar No 36 Tahun
2009 memiliki potensi keberhasilan jika ada kepatuhan terhadap Undang-Undang
ini sendiri. Kepatuhan ini dapat dilihat dengan pemenuhan persyaratan perilaku
sadar gizi, aktivitas fisik, dan konsumsi makanan dengan gizi seimbang ada
seluruh siklus kehidupan sejak dalam kandungan sampai dengan lanjut usia
berdasarkan standard angka kecukupan gizi yang sesuai dengan yang ditetapkan
pada pasal tersebut. Pasal. Sedangkan pasal 144 tentang upaya kesehatan jiwa
kepatuhan ini dapat dilihat dengan terlaksananya segala upaya baik preventif,
promotif, kuratif, rehabilitatif pasien gangguan jiwa dan masalah psikososial.
Keberhasilan implementasi diukur dari kelancaran rutinitas dan tiadanya
persoalan. Kelancaran peristiwa dan tiadanya persolan, sejauh ini pasal Undang-
Undang RS ini sudah berjalan lancar selama kurang lebih 6 tahun mengenai
percepatan perbaikan gizi masyarakat prioritas pada seribu hari pertama
kehidupan dan meningkatkan komitmen pemangku kepentingan untuk
memberikan perlindungan dan pemenuhan gizi masyarakat serta memperkuat
implementasi konsep program gizi yang bersifat langsung dan tidak langsung.
Sedangkan untuk kesehatan jiwa. Secara khusus untuk pasal 144 dan pasal 145
adalah upaya preventif dan promotif masih drasakan kurang implementasinya
dimasyarakat. Hanya upaya kuratif dan rehabilitative yang saat ini lagi
dikembangkan di rumah sakit tingkat provinsi ataupun kabupaten.

18
Implementasi yang berhasil tentunya mengarah kepada kinerja yang
memuaskan semua pihak terutama kelompok penerima manfaat yang diharapkan.
Sejauh ini, kebijakan ini telah memberi kepuasan terhadap beberapa pihak
(seperti tenaga kesehatan), namun tetap memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Karena, selain dapat berhasil jika ada kepatuhan, adanya penyebaran informasi
yang merata serta adanya dukungan dari semua pihak juga dapat memberikan
kontribusi bagi keberhasilan pengimplementasian. Oleh karena itu, perencanaan,
implementasi dan evaluasi suatu kebijakan harus melibatkan semua pihak dan
bertujuan mengutamakan kepentingan bersama (orang banyak dan semua pihak),
bukan kepentingan sekelompok “elite” tertentu.
Keberhasilan upaya kesehatan jiwa ditentukan oleh seluruh stakeholders
yang terlibat dalam kebijakan ini yaitu pemerintah pusat dan pemerintah daerah,
tanpa mengabaikan peran serta dari tenaga psikiatri (dokter spesialis penyakit
jiwa, pekerja sosial, psikolog dan petugas rehabilitasi) dan masyarakat (tokoh
agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, organisasi profesi,
serta dunia usaha dan swasta) untuk dapat melaksanakan tugas dan fungsinya
sebagaimana yang diamanatkan dalam undang-undang ini.

19
BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1 KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari analisis kebijakan undang-undang ini yaitu
A. Bab VIII mengatur tentang gizi. Undang-Undang Kesehatan mencoba
menjawab tantangan, mengatur strategi dan mengatur program lanjutan untuk
mengatasi masalah gizi buruk dan gizi kurang. Hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) menunjukkan bahwa 19 provinsi mempunyai prevalensi gizi buruk
dan gizi kurang diatas prevalensi nasional 18,4 %. Maka dalam pasal 141-143
mengatur tentang : upaya perbaikan gizi sejak dalam kandungan sampai
dengan lanjut usia yang diprioritaskan pada kelompok rawan; mengatur pula
tentang tanggung jawab pemerintah atas pemenuhan dan kecukupan gizi pada
keluarga miskin serta serta tanggung jawab pemerintah terhadap peningkatan
pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi.
B. Bab IX pasal 144 – 147 mengatur tentang Upaya kesehatan jiwa yang
menjamin setiap orang untuk dapat menikmati kehidupan kejiwaan yang sehat,
bebas dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain. serta mengatur upaya
pemerintah untuk menciptakan kondisi kesehatan jiwa setinggi-tingginya dan
menjamin ketersediaannya, aksebilitas, mutu dan pemerataan upaya kesehatan
jiwa bagi seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan.

4.2 REKOMENDASI
Berdasarkan prediksi masalah dan kondisi “trade off” yang akan timbul
dan prediksi keberhasilan pada pasal 141, 142, 143, 144, 145, 146 dan 147
dalam UU No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, maka rekomendasi yang dapat
diberikan antara lain:
A. Alangkah lebih baiknya jika pemerintah juga mengeluarkan kebijakan
kebijakan yang pro dengan tindakan kuratif bukan hanya tindakan preventif,
karena tidakan preventif akan lebih menghabiskan banyak anggaran dan tidak
akan pernah menyelesaikan masalah kesehatan di Indonesia, satu satunya

20
jalan yaitu dengan mengubah pola paradigma masyarakat untuk mencegah
sakit daripada mengobati.
B. Upaya perbaikan gizi dan upaya kesehatan jiwa sebaiknya disosialisasikan
secara kontinyu kepada masyarakat, sebagai media dan sumber informasi
dan edukasi bagi masyarakat agar kasus masalah gizi dan kasus
pemasungan dapat dihindari.
C. Sebagai mahasiswa atau bagi institusi pendidikan yang berfokus pada
pendidikan tentang kesehatan, sebaiknya turut serta membantu
mensosialisasikan kebijakan ini kepada masyarakat ketika melakukan
pembelajaran di lapangan. Hal ini akan membantu timbulnya pengetahuan,
pemahaman dan pola pikir yang baru pada masyarakat tentang sistem
kesehatan di Indonesia, khususnya tentang gizi masyarakat dan kesehatan
jiwa.

21
19
DAFTAR PUSTAKA

Abiyayat. 2011. Kebijakan Dalam Pelayanan Kesehatan Jiwa Di Indonesia.Diakses di


http://abiyayat.blogspot.co.id, tanggal 28 November 2015.

Agung. 2012. Kriteria-Kriteria Dalam Menuntun Evaluasi Kebijakan. Diakses di


http://teori-ilmupemerintahan.blogspot.co.id, tanggal 28 November 2015.

Andalusia, Devi. 2015. Trade-Off Analysis Dalam Analisis Kebijakan Publik. Diakses di
http://www.kompasiana.com, tanggal 28 November 2015.

Anonim . 2011. Hak dan Kewajiban Pasien , (http:// edikusmiadi.com)

Anonim . 2012. Kajian Undang – Undang Kesehatan No. 36 (http://


sinartyayuningsi.blogspot.com) diakses tanggal 17 November 2015

Anonim. 2015. Kesehatan Jiwa. Diakses di http://faperta.ugm.ac.idd, tanggal 28


November 2015. diakses tanggal 17 September 2015

Depkes. 2014. Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Http://www.depkes.go.id. Diakses tanggal


10 Oktober 2014.

Dunn, William N. 1999. Analisis Kebijakan. Diterjemahkan Drs. Samodra Wibawa, MA


dkk. Edisi ke 2. Jakarta.

Idaiani, Sri. 2010. Kesehatan Jiwa Di Indonesia Dari Deinstitusionalisasi Sampai


Desentralisasi. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 4, No. 5, April
2010, hal: 203-209.

Kemenkes RI. 2014. Stop Stigma Dan Diskriminasi Terhadap Orang Dengan Gangguan
Jiwa (ODGJ). Diakses di http://www.depkes.go.id, tanggal 28 November
2015.

Sampih, Azi. 2013. Penyebab Terjadinya Gangguan Jiwa.


http://azisampih.blogspot.co.id diakses tanggal 17 Desember 2013

Strategi Nasional Sistem Kesehatan Jiwa, Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2015.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

Widya. 2011. Masalah Gizi. http://pelangiwidhya.blogspoy.co.id. Diakses pada tanggal


30 september 2011