Anda di halaman 1dari 19

MODUL PERKULIAHAN

REKAYASA
HIDROLOGI
POKOK BAHASAN :
PENDAHULUAN
HIDROLOGI TERAPAN

Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

01
Teknik Sipil Teknik Sipil 11024EL DR. IR. ROSMINA ZUCHRI, MT
Perencanaan

Abstract
.
Memberikan gambaran umum definisi Kompetensi
hidrologi, siklus hidrologi dan faktor- Mampu memahami dan menjelaskan definisi
faktor yang mempengaruhi siklus hidrologi dan mampu menjelaskan mengapa
hidrologi dan pentingnya pengetahuan siklus hidrologi tersebut terjadi serta resiko
yang diakibatkan karena kesalahan dalam
hidrologi yang berkaitan dengan
mengambil keputusan dalam perencanaan
perencanaan bangunan, khususnya perhitungan hidrologi.Dan mampu membuat
bangunan air yang langsung terkait bagan alir (Flowchart) Analisa Hidrologi
dengan bahaya yang akan ditimbulkan. dalam Perencanaan Bangunan Air.
Pembahasan
KULIAH KE 01 (SATU) TANGGAL 07 MARET 2019 HARI KAMIS 19.30 – 22.00 WIB
KAMPUS D KRANGGAN GEDUNG BARU

MODUL I (SATU) PENDAHULUAN HIDROLOGI TERAPAN

DAFTAR ISI

1. PENDAHULUAN

1.1. PENGERTIAN DASAR HIDROLOGI

1.2. SIKLUS HIDROLOGI

1.3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKLUS HIDROLOGI

1.4. KARAKTERISTIK SUNGAI DAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)

1.5. CONTOH BAGAN ALIR (FLOWCHART)

1.6. SOAL-SOAL.

1.7. DAFTAR PUSTAKA

1. PENDAHULUAN

1.1. PENGERTIAN DASAR HIDROLOGI

Menurut Triatmodjo, 2009. Hidrologi atau hydrology berasal dari bahasa yunani, gabungan
antara kata hundor berarti air dan logy berarti penyelidikan (hudor-water, logy-a study of) dan
dalam bahasa latin baru (new latin) disebut hidrologia.

Hidrologi adalah Ilmu yang berkaitan dengan air di bumi, baik mengenai terjadinya,
peredaran dan penyebarannya, sifat-sifatnya, dan hubungan dengan lingkungannya terutama
dengan makhluk hidup.

Penerapan ilmu hidrologi dapat dijumpai dalam beberapa kegiatan seperti :

 Perencanaan dan operasi bangunan air,

2
 Penyediaan air untuk berbagai keperluan (air bersih, irigasi, perikanan, peternakan),
Pembangkit listrik tenaga Air (PLTA),

 Pengendalian banjir,

 Pengendalian erosi dan sedimentasi,

 Transportasi air,

 Drainasi,

 Pengendali polusi,

 Air limbah,

 dsb.

Hidrologi banyak dipelajari oleh para ahli di bidang teknik sipil dan pertanian. Ilmu
tersebut dapat dimanfaatkan untuk beberapa kegiatan meliputi :

1. Memperkirakan besarnya banjir yang ditimbulkan oleh hujan deras, sehingga dapat
direncanakan bangunan-bangunan untuk mengendalikannya seperti pembuatan
tanggul banjir, saluran drainasi, gorong-gorong, jembatan, dsb.

2. Memperkirakan jumlah air yang dibutuhkan oleh suatu jenis tanaman, sehingga dapat
direncanakan bangunan untuk melayani kebutuhan tersebut.

3. Memperkirakan jumlah air yang tersedia di suatu sumber air (mata air), sungai, danau,
dsb) untuk dapat dimanfaatkan guna berbagai keperluan seperti :

 Air baku (air untuk keperluan rumah tangga, perdagangan, industri),

 Irigasi,

 Pembangkit listrik tenaga air (PLTA),

 Perikanan,

 Peternakan, dsb.

3
Ilmu hidrologi lebih banyak didasarkan pada pengetahuan empiris daripada teoritis. Hal ini
karena banyaknya parameter yang berpengaruh pada kondisi hidrologi suatu daerah, seperti :

 Kondisi klimatologi (angin, suhu udara, kelembaban udara, penyinaran matahari),

 Kondisi lahan (daerah aliran sungai, DAS) seperti jenis tanah, tata guna lahan,
kemiringan lahan, dsb.

Banyak nya parameter tersebut mengakibatkan analisis hidrologi sulit diselesaikan secara
analitis.

Disamping itu kondisi hidrologi juga sangat dinamis yang tergantung pada
perubahan/kegiatan yang dilakukan oleh manusia, seperti :

 Perubahan tata guna lahan (pengundulan hutan, penghijauan ,

 Perubahan lahan sawah menjadi daerah pemukiman atau industri,

 Perubahan hutan menjadi sawah atau fungsi lainnya),

 Perubahan penutup permukaan tanah (dari tanah, rumput, atau pepohonan menjadi
permukaan aspal atau beton), dsb.

1.2. SIKLUS HIDROLOGI

Siklus Hidrologi merupakan proses kontinyu dimana air bergerak dari bumi ke atmosfer dan
kemudian kembali ke bumi lagi. Siklus hidrologi disajikan pada gambar 1.1.

Pada Gambar 1.1. Ditunjukkan pula komponen-komponen dari siklus Hidrologi seperti :

 Evaporasi.

 Evapotranspirasi

 Hujan.

 Limpasan

4
 Intersepsi.

 Infiltrasi.

 Perkolasi.

 Aliran Air Tanah.

 Dll.

Air di permukaan tanah dan laut menguap ke uadar. Uap air tersebut bergerak dan naik ke
atmosfer, yang kemudian mengalami kondensasi dan berubah menjadi titik-titik air yang
berbentuk awan. Selanjutnya titik-titik air tersebut jatuh sebagai hujan ke permukaan laut dan
daratan. Hujan yang jatuh sebagian tertahan oleh tumbuh-tumbuhan (Intersepsi) dan
selebihnya sampai ke permukaan tanah. Sebagian air hujan yang sampai ke permukaan tanah
akan meresap ke dalam tanah (infiltrasi) dan sebagian lainnya mengalir di atas permukaan
tanah (aliran permukaan atau surface runoff) mengisi cekungan tanah, danau, dan masuk ke
sungai dan akhirnya mengalir ke laut. Air yang meresap ke dalam tanah sebagian mengalir di
dalam tanah (Perkolasi) mengisi air tanah yang kemudian keluar sebagai mata air atau
mengalir ke sungai. Akhirnya aliran air di sungai akan sampai ke laut. Proses tersebut
berlangsung terus menerus yang disebut dengan Siklus Hidrologi.

5
Sumber : Bambang Triatmodjo, Rekayasa Hidrologi, Halaman 3 Tahun 2008.

Gambar 1.1. Siklus Hidrologi

6
Sumber : Bambang Triatmodjo, Rekayasa Hidrologi, Halaman 4. Tahun 2008.

Gambar 1.2. Skema Siklus Hidrologi

1.3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKLUS HIDROLOGI

Bagaimana siklus hidrologi dapat terjadi?

Siklus hidrologi merupakan proses alamiah, dimana gerakan-gerakan udara (angin) yang
mengandung uap air merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses hidrologi dan
terjadi diantaranya disebabkan oleh :

1. Penyinaran matahari yang tidak selalu tegak lurus pada permukaan bumi dan disertai
berputarnya bumi mengelilingi matahari.

2. Perputaran udara akibat perputaran bumi

3. Perputaran uadara akibat laut perbatasan dengan daratan.

7
4. Pengaruh benua pada perputaran udara dan lain-lain pengaruh setempat.

5. Keadaan setempat.

1.4. KARAKTERISTIK SUNGAI DAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS)

Aliran permukaan pada daerah tangkapan air (daerah aliran sungai, DAS) terjadi dalam
beberapa bentuk yaitu :

1). Aliran limpasan pada permukaan tanah.

Aliran limpasan pada permukaan tanah terjadi selama atau setelah hujan dalam bentuk
lapisan air yang mengalir pada permukaan tanah. Aliran tersebut masuk ke parit/selokan yang
kemudian mengalir ke sungai-sungai kecil dan selanjutnya menjadi aliran di sungai utama.

2). Aliran melalui parit/selokan.

3). Aliran melalui sungai-sungai kecil.

4). Aliran melalui sungai utama.

Karakteristik hidrologis dari daerah tangkapan air (Catchment area) dipengaruhi oleh luas,
bentuk, relief, panjang sungai, dan pola drainasi daerah tangkapan.

1.4.1. Tingkatan Sungai.

Jaringan sungai dan anak-anak sungainya mempunyai bentuk seperti percabangan pohon.
Parit-parit bergabung membentuk alur yang lebih besar, yang selanjutnya beberapa alur
bergabung membentuk anak sungai, dan kemudian beberapa anak sungai tersebut memebtnuk
sungai utama.

Jaringan sungai dapat diklasifikasikan secara sistimatik menurut tingkatan alur sungai
berdasarkan posisinya adalam jaringan.

Tingkatan sungai ditetapkan berdasar ukuran alur dan posisinya ; tingkatan terendah untuk
alur terkecil yang merupkan sungai-sungai paling ujung dan tingkat yang lebih tinggi untuk
alur yang lebih besar yang berada di daerah bagian hilir.

Jaringan Sungai dan tingkatannya disajikan pada Gambar 1.3.

8
Gambar 1.3. Jaringan Sungai dan tingkatannya

1.4.2. Daerah Aliran Sungai.

Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah daerah yang dibatasi oleh punggung-punggung
gunung/ pegunungan di mana air hujan yang jatuh di daerah tersebut akan mengalir menuju
sungai utama pada suatu titik/stasiun yang ditinjau. DAS ditentukan dengan menggunakan
peta topografi yang dilengapi dengan garis-garis kontur. Garis-garis kontor dipelajari untuk

9
menentukan arah dari limpasan permukaan. Limpasan berasal dari titik-titik terttinggi dan
bergerak menuju titik-titik yang lebih rendah dalam arah tegak lurus dengan garis-garis
kontur. Daerah yang dibatasi oleh garis yang menghubungkan titik-titik tertinggi tersebut
adalah Daerah Aliran Sungai (DAS).

Luas DAS diperkirakan dengan mengukur daerah itu pada peta topografi. Luas DAS sangat
berpengaruh terhadap debit sungai. Pada umumnya semakin besar DAS semakin besar julah
limpasan permukaan sehingga besar pula aliran permukaan atau debit sungai.

1.4.3. Panjang Sungai.

Panjang sungai diukur pada peta. Dalam memperkirakan panjang suatu segmen sungai
disarankan untuk mengukurnya beberapa kali dan kemudian dihitung panjang reratanya.

Panjang sungai adalah panjang yang diukur sepanjang sungai, dari stasiun yang ditinjau
atau muara sungai sampai ujung hulunya. Sungai utama adalah sungai terbesar pada daerah
tangkapan dan yang membawa aliran menuju muara sungai. Daerah Aliran Sungai Disajikan
pada Gambar 1.4. dan Panjang sungai pada Gambar 1.5.

10
11
Gambar 1.4. Daerah Aliran Sungai (DAS)

12
Gambar 1.5. Panjang Sungai

1.4.4. Kemiringan Sungai.

Kemiringan sungai atau profil kemiringan sungai adalah kurva yang menunjukkan
hubungan antara elevasi dasar sungai dan jarak yang diukur sepanjang sungai mulai dari
ujung hulu sampai muara disebut. Profil memanjang sungai atau kemiringan sungai.

Kemiringan sungai utama dapat digunakan untuk memperkirakan kemiringan DAS.

Untuk menghitung kemiringan sungai, sungai dibagi menjadi beberapa pias, dan kemiringan
dihitung untuk setiap pias. Pada umumnya bentuk kemiirngan sungai dari hulu sampai hilir
seperti disajikan pada Gambar 1.6.

13
e
l
e
v
a
s
i

Hulu Jarak Hilir

Sumber : Bambang Triatmodjo, Rekayasa Hidrologi, Halaman 10. Tahun 2008.

Gambar 1.6. Profil Memanjang Sungai

Biasanya skala vertikal dibuat lebih kecil dari skala horizontal, sehingga bentuk kemiringan
lebih jelas.

14
Profil memanjang biasanya mempunyai bentuk cekung ke atas. Kemiringan sungai di daerah
hulu lebih tajam dibandingkan dengan bagian sungai di hilir.

Air bergerak ke hilir karena pngaruh gaya gravitasi, sehingga semakin besar kemiringan
semakin besar pula kecepatan aliran, dan sebaliknya waktu aliran menjadi semakin pendek.
Selain itu juga terdapat hubugan langsung antara volume limpasan permukaan dan
kemiringan DAS. Kemiringan yang lebih tajam menyebabkan kecepatan limpasan permukaan
lebih besar yang mengakibatkan kurang waktu untuk terjadinya infiltrasi, sehingga aliran
permukaan terjadi lebih banyak.

1.5. CONTOH BAGAN ALIR (FLOW CHART) ANALISA HIDROLOGI


PADA PERENCANAAN BANGUNAN AIR TERHADAP
PENANGGULANGAN BANJIR , PERENCANAAN WADUK, EMBUNG DAN
BENDUNGAN.

15
STUDI PUSTAKA
Dasar Hukum.
BANJIR Peraturan-peraturan.

Rujukan-Rujukan.
Literatur .

PENGUMPULAN DATA SEKUNDER PENGUMPULAN DATA PRIMER

HUJAN WILAYAH IKLIM TANAH

CURAH HUJAN PENGOLAHAN DATA


HARIAN MAKSIMUM

PENGUJIAN DAN PENYARINGAN


DATA HUJAN Uji Kualitas Data
HUJAN WILAYAH (Metode
Aljabar; Thiessen ;Isohyet) Uji Jaringan Stasiun

ANALISIS Uji Kelayakan Data


FREKUENSI
Distrubsi Normal
UJI KECOCOKAN DISTRIBUSI
(Chi-Square; Smirnov
Kolmogorove)(Simpangan Baku) Distibusi Log Pearson Type III
3. Distibusi Pearson Type
III

ANALISIS DATA Distribusi Gumbel

DEBIT BANJIR

METODE EMPIRIS :
RASIONAL
METODE KOMPUTER : WEDUWEN.
MELCHIOR
HIDROGRAF NAKAYASU
Gambar 1.7. Bagan Alir
(Flow Chart) Analisa
DESIGN DAN REKOMENDASI Hidrologi dan Hidrolika

16
1.6. LATIHAN, JELASKAN BESERTA GAMBARNYA. TENTANG

1. PENGERTIAN DASAR HIDROLOGI

2. MENGAPA TERJADI PERGERAKAN UDARA DAN APA PENYEBABNYA.

3. SIKLUS HIDROLOGI, MENGAPA TERJADI SIKLUS HIDROLOGI.

4. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKLUS HIDROLOGI

5. KARAKTERISTIK SUNGAI DAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS).

6. JELASKAN ARTI DARI : PRESIPITASI; EVAPORASI; TRANSPIRASI;


EVAPOTRANSPIRASI; AIR RETENSI; PERKOLASI; AIR KAPILER; AIR ARTESIS;
AIR PERMUKAAN; AIR TANAH; ANGIN DARAT; ANGIN LAUT.

7. BUAT BAGAN ALIR (FLOWCHART) DALAM PERENCANAAN BANJIR ATAU


PERENCANAAN EMBUNG; WADUK ATAU BENDUNGAN.

SELESAI

17
1.7. DAFTAR PUSTAKA

1. Bambang Triatmodjo. Hidrologi Terapan. Beta Ofset. 2008.


2. Ir. Hadi Susilo, MM. Modul Rekayasa Hidrologi. Fakultas Teknik Sipil, Universitas Mercu
Buana.
3. Dr. Ir. Rosmina Zuchri, MT. Modul Rekayasa Hidrologi. Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan. Universitas Mercu Buana.
4. Linsley Kohler Paulhus. Applied Hydrology. Tata McGraw-Hill Publishing Company
Limited. 1975.
5. Sri Harto Br. Analisis Hidrologi. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 1993.
6. E.M. Wilson. Hidrologi Teknik. Penerbit ITB Bandung.1993.
7. Dr. Ir. Robert J. Kodoatie, M.Eng. dan Ir. Sugiyanto, M.Eng. Banjir; Beberapa Penyebab
dan Metode Pengendaliannya dalam Perspektif Lingkungan. Pustaka Pelajar.Yogyakarta.
2002.
8. Dr. Ir. Suripin, M.Eng. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Andi. Yogyakarta.
2004.
9. Kriteria Perencanaan (KP) 01-07. Standart Perencanaan Irigasi. Direktorat Jenderal
Pengairan. Departemen Pekerjaan Umum. 1986.
10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor. 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air.
PT. Mediatama Saptakarya. 2204.
11. www.google.com Materi Kuliah Rekayasa Hidrologi.

18
19