Anda di halaman 1dari 65

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT Laporan Kasus

DAN KEDOKTERAN KOMUNITAS November 2019


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MANAJEMEN PASIEN FARINGITIS SECARA HOLISTIK,


KOMPREHENSIF DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN
KEDOKTERAN KELUARGA DI PUSKESMAS MACCINI SAWAH
MAKASSAR

DISUSUN OLEH
Aisyah Rahmi / 111 2017 2038

DOSEN PEMBIMBING
dr. Hj.Hermiaty Nasruddin, M.Kes

DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN


ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DAN KEDOKTERANKOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2019

1
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda Tangan dibawah ini, menerangkan bahwa mahasiswa berikut :

Nama : Aisyah Rahmi

Stambuk : 111 2017 2038

Telah menyelesaikan studi kasus yang berjudul “ Manajemen Pasien


Faringitis Secara Holistik, Komprehensif Dengan Menggunakan Pendekatan
Kedokteran Keluarga Di Puskesmas Maccini Sawah Makassar” telah
diperiksa dan disetujui dihadapan Tim Laporan Studi Kasus.

Makassar, November 2019

Mengetahui

DPK Puskesmas Maccini Sawah Pembimbing

dr. Fitriani dr.Hj.Hermiaty Nasaruddin,M.Kes

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Faringitis akut adalah infeksi pada faring yang disebabkan oleh virus
atau bakteri, yang ditandai oleh adanya nyeri tenggorokan, faring eksudat
dan hiperemis, demam, pembesaran kelenjar getah bening leher dan malaise.
Faringitis akut dan tonsillitis akut sering ditemukan bersama-sama dan dapat
menyerang semua umur. Penyakit ini ditular melalui kontak dari sekret
hidung dan ludah ( droplet infections) 1
Faringitis dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Banyak
mikroorganisme yang dapat menyebabkan faringitis, antaranya virus (40-
60%) dan bakteri (5-40%) yang paling sering.1
Faringitis akut yang disebabkan oleh bakteri termasuk Group A Beta
Hemolytic Streptococcus (GABHS), Group C Beta Hemolytic Streptococcus,
Neisseria gonorrhoeae, Corynebacterium diphtheria, Arcanobacterium
haemolyticum dan sebagainya. Infeksi Group A Beta Hemolytic
Streptococcus (GABHS) merupakan penyebab faringitis akut pada 5-15%
dewasa dan 20-30% pada anak-anak (5-15 tahun) (Ferri, 2012; Rusmarjono
dan Efiaty Arsyad Soepardi, 2007). 1,2
Faktor resiko lain penyebab faringitis akut yaitu udara yang dingin,
turunnya daya tahan tubuh yang disebabkan infeksi virus influenza,
konsumsi makanan yang kurang gizi, konsumsi alkohol yang berlebihan,
merokok, dan seseorang yang tinggal di lingkungan kita yang menderita
sakit tenggorokan atau demam 3
1.2 Rumusan Masalah
- Apa saja faktor yang mengakibatkan terjadinya Faringitis akut pada
pasien?
- Bagaimanakah tingkat pengetahuan keluarga dalam menyikapi penyakit
Faringitis akut?

2
- Bagaimanakah hasil dari terapi yang telah diberikan kepada penderita
Faringitis akut?
- Bagaimana upaya pencegahan yang dapat dilakukan pada penderita
Faringitis akut?
1.3 Aspek Disiplin Ilmu yang Terkait dengan Pendekatan Diagnosis
Holistik Komprehensif pada Faringitis akut
Untuk pengendalian permasalahan faringitis pada tingkat individu
dan masyarakat secara komprehentif dan holistik yang disesuaikan dengan
Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI), maka mahasiswa program
profesi dokter Universitas Muslim Indonesia melakukan kegiatan
kepanitraan klinik pada bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran
Komunitas dilayanan primer (Puskesmas) dengan tujuan untuk
meningkatkan kompetensi yang dilandasi oleh profesionalitas yang luhur,
mawas diri dan pengembangan diri, serta komunikasi efektif. Selain itu
kompetensi mempunyai landasan berupa pengelolaan informasi, landasan
ilmiah ilmu kedokteran, keterampilan klinis, dan pengelolaan masalah
kesehatan.
Kompetensi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.3.1 Profesionalitas yang luhur (Kompetensi 1) : untuk mengidentifikasi
dan menyelesaikan permasalahan dalam pengendalian dermatitis kontak
alergi secara individual, masyarakat maupun pihak terkait ditinjau dari nilai
agama, etik moral dan peraturan perundangan.
1.3.2 Mawas diri dan pengembangan diri (Kompetensi 2) : Mahasiswa
mampu mengenali dan mengatasi masalah keterbatasan fisis, psikis, sosial
dan budaya sendiri dalam penangan penyakit faringitis akut, melakukan
rujukan bagi kasus faringitis akut, sesuai dengan Standar Kompetensi
Dokter Indonesia yang berlaku serta mengembangkan pengetahuan.
1.3.3 Komunikasi efektif (Kompetensi 3) : Mahasiswa mampu
melakukan komunikasi, pemberian informasi dan edukasi pada individu,
keluarga, masyarakat dan mitra kerja dalam pengendalian Faringitis akut.

3
1.3.4 Pengelolaan Informasi (Kompetensi 4) : Mahasiswa mampu memanfaatkan
teknologi informasi komunikasi dan informasi kesehatan dalam praktik
kedokteran.
1.3.5 Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran (Kompetensi 5) : Mahasiswa mampu
menyelesaikan masalah pengendalian Faringitis akut secara holistik dan
komprehensif baik secara individu, keluarga maupun komunitas berdasarkan
landasan ilmiah yang mutakhir untuk mendapatkan hasil yang optimum.
1.3.6 Keterampilan Klinis (Kompetensi 6) : Mahasiswa mampu melakukan
prosedur klinis yang berkaitan dengan masalah Faringitis akut dengan
menerapkan prinsip keselamatan pasien, keselamatan diri sendiri, dan
keselamatan orang lain.
1.3.7 Pengelolaan Masalah Kesehatan (Kompetensi 7) : Mahasiswa mampu
mengelola masalah kesehatan individu, keluarga maupun masyarakat secara
komprehensif, holistik, koordinatif, kolaboratif, dan berkesinambungan
dalam konteks pelayanan kesehatan primer.
1.4 Tujuan Dan Manfaat Studi Kasus
Prinsip pelayanan dokter keluarga pada pasien ini adalah
menatalaksanakan masalah kesehatan dengan memandang pasien sebagai
individu yang utuh terdiri dari unsur biopsikososial, serta penerapan prinsip
pencegahan penyakit promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Proses
pelayanan dokter keluarga dapat lebih berkualitas bila didasarkan pada hasil
penelitian ilmu kedokteran terkini (evidence based medicine).
1.4.1 Tujuan Umum:
Tujuan dari penulisan laporan Studi Kasus ini adalah untuk dapat
menerapkan penatalaksanaan penderita Faringitis akut dengan pendekatan
kedokteran keluarga secara paripurna (komprehensif) dan holistik, sesuai
dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI), berbasis Evidence
Based Medicine (EBM) pada pasien dengan mengidentifikasi faktor risiko
dan masalah klinis serta prinsip penatalaksanaan penderita Faringitis akut
dengan pendekatan kedokteran keluarga di Puskesmas Maccini Sawah tahun
2019.

4
1.4.2 Tujuan Khusus:
1. Untuk mengetahui penyebab Faringitis akut di puskesmas Maccini
Sawah tahun 2019.
2. Mengidentifikasi permasalahan yang didapatkan dalam keluarga dan
lingkungan social yang berkaitan dengan penyakit Faringitis akut di
puskesmas Maccini Sawah tahun 2019.
3. Untuk mengidentifikasi faktor resiko yang mengakibatkan terjadinya
Faringitis Akut di puskesmas Maccini Sawah tahun 2019.
4. Untuk mengetahui cara penegakan diagnosis klinis dan diagnosis
psikososial pada penyakit Faringitis Akut di puskesmas Maccini
Sawah tahun 2019.
5. Untuk mengetahui upaya penatalaksanaan penyakit Faringitis akut di
puskesmas Maccini Sawah tahun 2019.
6. Untuk mengetahui upaya pencegahan yang dapat dilakukan pada
penyakit Faringitis akut di puskesmas Maccini Sawah tahun 2019.

1.4.3 Manfaat Studi Kasus


1. Bagi Institusi pendidikan.
Dapat dijadikan acuan (referensi) bagi studi kasus lebih lanjut sekaligus
sebagai bahan atau sumber bacaan di perpustakaan.
2. Bagi Penderita (Pasien).
Menambah wawasan akan Faringitis akut yang meliputi proses penyakit
dan penanganan menyeluruh Faringitis akut sehingga dapat memberikan
keyakinan untuk tetap berobat secara teratur.
3. Bagi tenaga kesehatan.
Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pemerintah
daerah dan instansi kesehatan beserta paramedis yang terlibat di dalamnya
mengenai pendekatan diagnosis holistik penderita Faringitis akut.

5
7. Bagi Pembelajar Studi Kasus (Mahasiswa)
Sebagai pengalaman berharga bagi penulis sendiri dalam rangka
memperluas wawasan dan pengetahuan mengenai evidenve based
medicine dan pendekatan diagnosis holistik Faringitis akut serta dalam hal
penulisan studi kasus.
1.5 Indikator Keberhasilan Tindakan
Indikator keberhasilan tindakan setelah dilakukan penatalaksanaan
penderita Faringitis akut dengan pendekatan diagnostik holistik, berbasis
kedokteran keluarga dan evidence based medicine adalah:
a. Kepatuhan pasien datang berobat di layanan primer (puskesmas)
b. Perbaikan gejala dapat dievaluasi setelah pengobatan Faringitis dan
dengan dilakukannya pencegahan terhadap penyakit tersebut.
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Penilaian
keberhasilan tindakan pengobatan didasarkan pada hasil faring dan gejala
yang dikeluhkan. Hal ini disebabkan pengobatan faringitis umumnya
bersifat cepat asal berobat teratur. Selain itu, kepatuhan untuk menghindari
faktor resiko juga merupakan kunci utama keberhasilan pengobatan.

6
BAB II

ANALISIS KEPUSTAKAAN BERDASARKAN KASUS

2.1 Kerangka Teori

Infeksi
P
Invasi kuman
E patogen
Bakteri
N
Virus Inflamasi FARINGITIS
Y
Jamur
E

B Non Infeksi
A
Makanan/minuman
B
Daya tahan tubuh

Lingkungan

Gambar 1. Gambaran Penyebab Faringitis

7
2.2 Pendekatan konsep Mandala

Gaya Hidup

- Pola makan: tidak teratur dan


sering mengkonsumsi makanan
di warung pinggir jalan yang
tidak terjamin kebersihannya
- Kebiasaan mengkomsumsi Lingkungan Psiko-Sosial-
minuman dingin dan gorengan Ekonomi
panas - Kehidupan sosial dengan
lingkungan baik
Perilaku Kesehatan - Kondisi ekonomi pasien
tergolong kalangan
- Tidak mencuci tangan menengah ke atas
sebelum makan - Tingkat pengetahuan
- Berobat hanya jika tentang pencegahan
ada keluhan faringtis akut masih
kurang.
Pasien - Pasien khawatir
penyakitnya akan
- Status Generalis: memburuk
Pelayanan Kesehatan
-
Gizi baik
- Jarak rumah ke - Nyeri menelan,
puskesmas dekat Lingkungan Kerja
batuk flu, demam
- Jaminan kesehatan
yaitu BPJS - Dialami sejak 3 - Lingkungan kerja pasien
hari terakhir. ber AC

Lingkungan Fisik
Faktor Biologi
- Ventilasi dan sinar matahari
kurang
- Invasi kuman patogen - Kamar tidur pasien jarang
(bakteri/virus), dibersihkan sehingga
banyak debu yang
menempel
- Kipas angin jarang
dibersihkan sehingga
Komunitas banyak debu yang
menempel di kipas angin
Pemukiman cukup padat
dan jalanan disekitar
pemukiman belum
teraspal

Gambar 2. Pendekatan Konsep Mandala

8
2.2 Pendekatan Diagnosis Holistik pada Pelayanan Kedokteran Keluarga di
Layanan Primer
Pendekatan secara holistik adalah memandang manusia sebagai
mahluk biopsikososio-kultural-spiritual pada ekosistemnya. Sebagai mahluk
biologis manusia adalah merupakan sistem organ yang terbentuk dari jaringan
serta sel-sel yang kompleks fungsionalnya.
Diagnosis holistik adalah kegiatan untuk mengidentifikasi dan
menentukan dasar dan penyebab penyakit (disease), luka (injury) serta
kegawatan yang diperoleh dari alasan kedatangan, keluhan personal, riwayat
penyakit pasien, pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan penunjang, penilaian
risiko internal/individual dan eksternal dalam kehidupan pasien serta
keluarganya. Sesuai dengan arah yang digariskan dalam Sistem Kesehatan
Nasional 2004, maka dokter keluarga secara bertahap akan diperankan sebagai
pelaku pelayanan pertama (layanan primer).
Tujuan Diagnostik Holistik :
1. Penyembuhan penyakit dengan pengobatan yang tepat
2. Hilangnya keluhan yang dirasakan pasien
3. Pembatasan kecacatan lanjut
4. Penyelesaian pemicu dalam keluarga (masalah sosial dalam kehidupannya)
5. Jangka waktu pengobatan pendek
6. Tercapainya percepatan perbaikan fungsi social
7. Terproteksi dari resiko yang ditemukan
8. Terwujudnya partisipasi keluarga dalam penyelesaian masalah
Diagnosa secara holistik sangat penting dilakukan sebelum melakukan
terapi, tujuannya yakni:
1. Menentukan kedalaman letak penyakit
2. Menentukan kekuatan serangan pathogen penyakit
3. Menentukan kekuatan daya tahan tubuh yang meliputi kekuatan fungsi
organ
4. Menentukan urutan tatacara terapi dan teknik terapi yang akan dipilihnya

9
5. Menentukan interval kunjungan terapi.
Diagnosis Holistik memiliki standar dasar pelaksanaan yaitu :
1. Membentuk hubungan interpersonal antar petugas administrasi (penerimaan,
pencatatan biodata) dengan pasien
2. Membentuk hubungan interpersonal antara paramedis dengan pasien.
Melakukan pemeriksaan saringan (Triage), data diisikan dengan lembaran
penyaring
3. Membentuk hubungan interpersonal anatara dokter dengan pasien
4. Melakukan anamnesis
5. Melakukan pemeriksaan fisik
6. Penentuan derajat keparahan penyakit berdasarkan gejala, komplikasi,
prognosis, dan kemungkinan untuk dilakukan intervensi
7. Menentukan resiko individual diagnosis klinis sangat dipengaruhi faktor
individual termasuk perilaku pasien
8. Menentukan pemicu psikososial dari pekerjaan maupun komunitas
kehidupan pasien
9. Menilai aspek fungsi sosial.
Dasar-dasar dalam pengembangan pelayanan/pendekatan kedokteran
keluarga di layanan primer antara lain :
1. Pelayanan kesehatan menyeluruh (holistik) yang mengutamakan upaya
promosi kesehatan dan pencegahan penyakit
2. Pelayanan kesehatan perorangan yang memandang seseorang sebagai
bagian dari keluarga dan lingkungan komunitasnya
3. Pelayanan yang mempertimbangkan keadaan dan upaya kesehatan secara
terpadu dan paripurna (komprehensif).
4. Pelayanan medis yang bersinambung
5. Pelayanan medis yang terpadu
Pelayanan komprehensif yaitu pelayanan yang memasukkan pemeliharaan
dan peningkatan kesehatan (promotive), pencegahan penyakit dan proteksi khusus
(preventive & spesific protection), pemulihan kesehatan (curative), pencegahan
kecacatan (disability limitation) dan rehabilitasi setelah sakit (rehabilitation)

10
dengan memperhatikan kemampuan sosial serta sesuai dengan mediko legal etika
kedokteran.
Pelayanan medis yang bersinambung merupakan pelayanan yang
disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan bersinambung, yang
melaksanakan pelayanan kedokteran secara efisien, proaktif dan terus menerus
demi kesehatan pasien.
Pelayanan medis yang terpadu artinya pelayanan yang disediakan dokter
keluarga bersifat terpadu, selain merupakan kemitraan antara dokter dengan
pasien pada saat proses penatalaksanaan medis, juga merupakan kemitraan lintas
program dengan berbagai institusi yang menunjang pelayanan kedokteran, baik
dari formal maupun informal.
Prinsip pelayanan Kedokteran Keluarga di Layanan Primer adalah:
a. Comprehensive care and holistic approach
b. Continuous care
c. Prevention first
d. Coordinative and collaborative care
e. Personal care as the integral part of his/her family
f. Family, community, and environment consideration
g. Ethics and law awareness
h. Cost effective care and quality assurance
i. Can be audited and accountable care
Pendekatan menyeluruh (holistic approach), yaitu peduli bahwa pasien
adalah seorang manusia seutuhnya yang terdiri dari fisik, mental, sosial dan
spiritual, serta berkehidupan di tengah lingkungan fisik dan sosialnya.
Untuk melakukan pendekatan diagnosis holistik, maka perlu kita melihat
dari beberapa aspek yaitu:
I. Aspek Personal : Keluhan utama, harapan dan kekhawatiran.
II. Aspek Klinis: Bila diagnosis klinis belum dapat ditegakkan cukup dengan
diagnosis kerja dan diagnosis banding.

11
III. Aspek Internal : Kepribadian seseorang akan mempengaruhi perilaku.
Karakteristik pribadi amat dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, sosial ekonomi, kultur, etnis, dan lingkungan.
IV. Aspek Eksternal : Psikososial dan ekonomi keluarga.
V. Derajat Fungsi Sosial :
- Derajat 1: Tidak ada kesulitan, dimana pasien dapat hidup mandiri
- Derajat 2: Pasien mengalami sedikit kesulitan.
- Derajat 3: Ada beberapa kesulitan, perawatan diri masih bisa
dilakukan, hanya dapat melakukan kerja ringan.
- Derajat 4: Banyak kesulitan. Tak melakukan aktifitas kerja, tergantung
pada keluarga.
- Derajat 5: Tak dapat melakukan kegiatan

2.3 FARINGITIS
2.3.1 DEFINISI
Faringitis akut adalah infeksi pada faring yang disebabkan oleh virus
atau bakteri, yang ditandai oleh adanya nyeri tenggorokan, faring eksudat
dan hiperemis, demam, pembesaran kelenjar getah bening leher dan malaise
(Miriam T. Vincent, 2004). Faringitis akut dan tonsillitis akut sering
ditemukan bersama-sama dan dapat menyerang semua umur. Penyakit ini
ditular melalui kontak dari sekret hidung dan ludah ( droplet infections) 1
Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang disebabkan
oleh virus (40-60%), bakteri (5-40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-
lain.Anak-anak dan orang dewasa umumnya mengalami 3-5 kali infeksi
virus pada saluran pernafasan atas termasuk faringitis setiap tahunnya. 4,5

2.3.2 ETIOLOGI
Faringitis dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Banyak
mikroorganisme yang dapat menyebabkan faringitis, antaranya virus (40-60%)
dan bakteri (5-40%) yang paling sering 1

12
Kebanyakan faringitis akut disebabkan oleh agen virus. Virus yang
menyebabkan faringitis termasuk Influenza virus, Parainfluenza virus,
Coronavirus, Coxsackie viruses A dan B, Cytomegalovirus, Adenovirus dan
Epstein Barr Virus (EBV). Selain itu, infeksi Human Immunodeficiency
virus (HIV) juga dapat menyebabkan terjadinya faringitis 6
Faringitis akut yang disebabkan oleh bakteri termasuk Group A Beta
Hemolytic Streptococcus (GABHS), Group C Beta Hemolytic Streptococcus,
Neisseria gonorrhoeae, Corynebacterium diphtheria, Arcanobacterium
haemolyticum dan sebagainya. Infeksi Group A Beta Hemolytic
Streptococcus (GABHS) merupakan penyebab faringitis akut pada 5-15%
dewasa dan 20-30% pada anak-anak (5-15 tahun) 1
Neisseria gonorrhoeae sebagai penyebab faringitis bakterial gram
negative ditemukan pada pasien aktif secara seksual, terutama yang
melakukan kontak orogenital. Dalam sebuah penelitian pada orang dewasa
yang terinfeksi gonorea, faringitis gonokokal ditemukan 20% pada pria
homoseksual, 10% pada wanita dan 3% pada pria heteroseksual. Sekitar
50% individu yang terinfeksi adalah tanpa gejala, meskipun odinofagia,
demam ringan dan eritema dapat terjadi 4,5,6
Selain itu, Candida dapat tumbuh di mukosa rongga mulut dan faring dan
menyumbang terjadinya faringitis fungal. Faringitis gonorea hanya terdapat
pada pasien yang menlakukan kontak orogenital1
Faktor resiko lain penyebab faringitis akut yaitu udara yang dingin,
turunnya daya tahan tubuh yang disebabkan infeksi virus influenza,
konsumsi makanan yang kurang gizi, konsumsi alkohol yang berlebihan,
merokok, dan seseorang yang tinggal di lingkungan kita yang menderita
sakit tenggorokan atau demam 3

2.3.3 FAKTOR PREDISPOSISI


Sejauh ini belum ada penelitian lengkap mengenai keterlibatan faktor
genetik maupun lingkungan yang berhasil dieksplorasi sebagai faktor
risiko penyakit faringitis akut. Pada penelitian yang bertujuan

13
mengestimasi konstribusi efek faktor genetik dan lingkungan secara relatif
penelitiannya mendapatkan hasil bahwa tidak terdapat bukti adanya
keterlibatan faktor genetik sebagai faktor predisposisi penyakit faringitis
akut. 7
Beberapa Faktor resiko timbulnya Faringitis akut yaitu:4,5
1. Menurunnya daya tahan tubuh.
2. Konsumsi makanan yang dapat mengiritasi faring
3. Iritasi kronik oleh rokok, minum alkohol, makanan, refluks asam
lambung, inhalasi uap yang merangsang mukosa faring.
4. Paparan udara yang dingin.

2.3.4 EPIDEMIOLOGI
2.3.4.1 Epidemiologi Faringitis Berdasarkan Trias Epidemiologi
a. Agent
Kuman penyebab Faringitis umumnya menyebar melalui udara
maupun makanan atau minuman. Penyakit Faringitis dapat disebabkan
oleh infeksi bakteri, virus, jamur dan non infeksi seperti karena
menurunnya daya tahan tubuh, makanan/minuman yang dapat
memgiritasi, dan lingkungan (paparan asap dari polusi udara atau asap
rokok ), . Menurut National Ambulatory Medical Care Survey, infeksi
xxcfsaluran pernafasan atas, termasuk faringitis akut, dijumpa 200
kunjungan ke dokter per 1000 penduduk per tahun di Amerika Serikat.
Di Indonesia pada tahun 2004 dilaporkan bahwa kasus faringitis akut
masuk dalam 10 penyakit terbesar kasus yang dirawat jalan dengan
presentasi jumlah 1,5 % atau sebanyak 214.781 0rang 9
b. Host (pejamu)
Di Indonesia infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) masih merupakan
penyebab tersering morbiditas dan mortalitas pada anak. Pada tahun
1996/1997 cakupan temuan penderita ISPA pada anak berkisar antara
30% - 40%, sedangkan sasaran temuan pada penderita ISPA pada
tahun tersebut adalah 78% - 82% ; sebagai salah satu penyebab adalah

14
rendahnya pengetahuan masyarakat. Di Amerika Serikat absensi
sekolah sekitar 66% diduga disebabkan ISPA.8
Faringitis merupakan penyakit umum pada dewasa dan anak-anak.
National Ambulatory Medical Care Survey dan National Hospital
Ambulatory Medical Care Survey telah mendokumentasikan antara
6,2-9,7 juta kunjungan anak-anak dengan faringitis ke klinik dan
departemen gawat darurat setiap tahun, dan lebih dari 5 juta
kunjungan orang dewasa per tahun Menurut National Ambulatory
Medical Care Survey, infeksi saluran pernafasan atas, termasuk
faringitis akut, dijumpa 200 kunjungan ke dokter per 1000 penduduk
per tahun di Amerika Serikat9
Di Indonesia pada tahun 2004 dilaporkan bahwa kasus faringitis
akut masuk dalam 10 penyakit terbesar kasus yang dirawat jalan
dengan presentasi jumlah 1,5 % atau sebanyak 214.781 0rang
Frekuensi munculnya faringitis lebih sering pada populasi anak-
anak. Kira-kira 15-30% kasus faringitis pada anak-anak usia sekolah
dan 10% kasus faringitis pada orang dewasa terjadi pada musim sejuk
adalah akibat dari infeksi Group A Streptococcus. Faringitis jarang
terjadi pada anak-anak kurang dari 3 tahun .6
c. Environtment
Penyakit Faringitis merupakan penyakit yang dapat terjadi akibat
infeksi dan non infeksi salah satu penyebab non infeksi adalah
lingkungan yang berpolusi ditambah lagi dengan perilaku manusia
yang kurang sehat yang mencemari udara dengan asap rokok.8
Selain itu, Hygienesanitasi buruk dapat berakibat masuknya
bakteri secara berlebihan ke dalam tubuh, sehingga dapat
mengalahkan pertahanan tubuh normal. Adanya keterbatasan dalam
sosial ekonomi akan berpengaruh terhadap kepadatan lingkungan
tempat tinggal, penyediaan sumber air bersih, keadaan hygiene
sanitasi lingkungan yang berhubungan dengan transmisi infeksi
enterik, khususnya di negara berkembang.8

15
2.3.4.2 Epidemiologi Penyakit Faringitis Dapat Juga
Digambarkan Menurut Variabel Epidemiologi

Distribusi menurut orang (person)

a. Distribusi Menurut Umur


Penyakit Faringitis dapat menyerang siapa saja tak terkecuali
pria,wanita, tua , muda, anak-anak, kaya dan miskin. Frekuensi
munculnya faringitis lebih sering pada populasi anak-anak. Kira-
kira 15-30% kasus faringitis pada anak-anak usia sekolah dan 10%
kasus faringitis pada orang dewasa terjadi pada musim sejuk adalah
akibat dari infeksi Group A Streptococcus. Faringitis jarang terjadi
pada anak-anak kurang dari 3 tahun .6
b. Distribusi Menurut Jenis Kelamin
Prevalensi kasus Faringitis Kira-kira 15-30% kasus faringitis pada
anak-anak usia sekolah dan 10% kasus faringitis pada orang
dewasa. Namun prevalensi sedikit lebih meningkat kasus faringitis
pada laki-laki dewasa sebesar 7 % dibandingakan perempuan
dewasa 3%.
c. Distribusi Menurut Etnik
Suku bangsa atau golongan etnik adalah sekelompok manusia
dalam suatu populasi yang memiliki kebiasaan atau sifat biologis
yang sama. Walaupun klasifikasi penyakit berdasarkan suku bangsa
sulit dilakukan baik secara praktis maupun secara konseptual, tetapi
karena terdapat perbedaan yang besar dalam frekuensi dan beratnya
penyakit diantara suku bangsa maka dibuat klasifikasi walaupun
kontroversi. Pada umumnya penyakit yang berhubungan dengan
suku bangsa berkaitan dengan faktor genetik atau faktor
lingkungan, misalnya: (Penyakit sickle cell anemia, Hemofilia dan
Kelainan biokimia seperti glukosa 6 fosfatase).8

16
Distribusi menurut tempat
a. Lingkungan
Penyakit Faringitis merupakan penyakit yang dapat terjadi
akibat infeksi dan non infeksi salah satu penyebab non infeksi
adalah lingkungan yang berpolusi ditambah lagi dengan
perilaku manusia yang kurang sehat yang mencemari udara
dengan asap rokok8.
b. Kondisi Sosial Ekonomi
Penyakit Faringitis dapat menyerang siapa saja tak terkecuali
pria,wanita, tua , muda, anak-anak, kaya dan miskin. Penyakit
Faringitis merupakan penyakit yang tidak terlalu berpengaruh
terhadap sosial ekonomi8
Distribusi Menurut Waktu
Penyakit Faringitis dapat menyerang siapa saja,dimana saja
dan kapan saja tanpa mengenal waktu. Kejadian Faringitis paling
banyak terjadi ketika musim dingin .Apabila kuman telah masuk
ke dalam tubuh maka pada saat itu kuman akan berkembang biak
dan berpotensi untuk terjadinya Faringitis. 8

2.3.5 KLASIFIKASI FARINGITIS


FARINGITIS AKUT4,5,6
a. Faringitis viral
Dapat disebabkan oleh Rinovirus, Adenovirus, Epstein Barr Virus
(EBV), Virus influenza, Coxsachievirus, Cytomegalovirus dan lain-lain.
Gejala dan tanda biasanya terdapat demam disertai rinorea, mual, nyeri
tenggorok, sulit menelan. Pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil
hiperemis. Virus influenza, Coxsachievirus dan Cytomegalovirus tidak
menghasilkan eksudat. Coxsachievirus dapat menimbulkan lesi vesikular di
orofaring dan lesi kulit berupa maculopapular rash. Pada adenovirus juga
menimbulkan gejala konjungtivitis terutama pada anak. Epstein bar virus

17
menyebabkan faringitis yang disertai produksi eksudat pada faring yang
banyak. Terdapat pembesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh terutama
retroservikal dan hepatosplenomegali. Faringitis yang disebabkan HIV-1
menimbulkan keluhan nyeri tenggorok, nyeri menelan, mual dan demam.
Pada pemeriksaan tampak faring hiperemis, terdapat eksudat, limfadenopati
akut di leher dan pasien tampak lemah.
b. Faringitis bakterial
Infeksi Streptococcus ß hemolyticus group A merupakan penyebab
faringitis akut pada orang dewasa (15%) dan pada anak (30%). Gejala dan
tanda biasanya penderita mengeluhkan nyeri kepala yang hebat, muntah,
kadang-kadang disertai demam dengan suhu yang tinggi, jarang disertai
batuk. Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar, faring dan tonsil
hiperemis dan terdapat eksudat dipermukaannya. Beberapa hari kemudian
timbul bercak petechiae pada palatum dan faring. Kelenjar limfa leher
anterior membesar, kenyal dan nyeri apabila ada penekanan. Faringitis
akibat infeksi bakteri Streptococcus ß hemolyticus group A dapat
diperkirakan dengan menggunakan Centor criteria, yaitu : Demam, Anterior
Cervical lymphadenopathy,Eksudat tonsil ,Tidak adanya batuk.
Tiap kriteria ini bila dijumpai di beri skor satu. Bila skor 0−1 maka
pasien tidak mengalami faringitis akibat infeksi Streptococcus ß hemolyticus
group A, bila skor 1−3 maka pasien memiliki kemungkian 40% terinfeksi
Streptococcus ß hemolyticus group A dan bila skor empat pasien memiliki
kemungkinan 50% terinfeksi Streptococcus ß hemolyticus group
c. Faringitis fungal
Candida dapat tumbuh di mukosa rongga mulut dan faring. Gejala dan
tanda biasanya terdapat keluhan nyeri tenggorok dan nyeri menelan. Pada
pemeriksaan tampak plak putih di orofaring dan mukosa faring lainnya
hiperemis. Pembiakan jamur ini dilakukan dalam agar sabouroud dextrosa.
d. Faringitis gonorea
Hanya terdapat pada pasien yang melakukan kontak orogenital.

18
FARINGITIS KRONIK 1,4,5
a. Faringitis kronik hiperplastik
Pada faringitis kronik hiperplastik terjadi perubahan mukosa dinding posterior
faring. Tampak kelenjar limfa di bawah mukosa faring dan lateral hiperplasi.
Pada pemeriksaan tampak mukosa dinding posterior tidak rata, bergranular.
Gejala dan tanda biasanya pasien mengeluh mula-mula tenggorok kering dan
gatal dan akhirnya batuk yang bereak.
b. Faringitis kronik atrofi
Faringitis kronik atrofi sering timbul bersamaan dengan rhinitis atrofi. Pada
rhinitis atrofi, udara pernafasan tidak diatur suhu serta kelembapannya
sehingga menimbulkan rangsangan serta infeksi pada faring. Gejala dan tanda
biasanya pasien mengeluhkan tenggorokan kering dan tebal serta mulut berbau.
Pada pemeriksaan tampak mukosa faring ditutupi oleh lendir yang kental dan
bila diangkat tampak mukosa kering.
Faringitis Spesifik
a. Faringitis tuberkulosis
Merupakan proses sekunder dari tuberkulosis paru. Pada infeksi kuman tahan
asam jenis bovinum dapat timbul tuberkulosis faring primer. Cara infeksi
eksogen yaitu kontak dengan sputum yang mengandung kuman atau inhalasi
kuman melalui udara. Cara infeksi endogen yaitu penyebaran melalui darah
pada tuberkulosis miliaris. Bila infeksi timbul secara hematogen maka tonsil
dapat terkena pada kedua sisi dan lesi sering ditemukan pada dinding posterior
faring, arkus faring anterior, dinding lateral hipofaring, palatum mole dan
palatum durum. Kelenjar regional leher membengkak, saat ini penyebaraan
secara limfogen. Gejala dan tanda biasanya pasien dalam keadaan umum yang
buruk karena anoreksi dan odinofagia. Pasien mengeluh nyeri yang hebat di
tenggorok, nyeri di telinga atau otalgia serta pembesaran kelenjar limfa
servikal.
b. Faringitis luetika

19
Treponema pallidum (Syphilis) dapat menimbulkan infeksi di daerah
faring, seperti juga penyakit lues di organ lain. Gambaran klinik tergantung
stadium penyakitnya. Kelainan stadium primer terdapat pada lidah, palatum
mole, tonsil dan dinding posterior faring berbentuk bercak keputihan. Apabila
infeksi terus berlangsung akan timbul ulkus pada daerah faring seperti ulkus
pada genitalia yaitu tidak nyeri dan didapatkan pula pembesaran kelenjar
mandibula yang tidak nyeri tekan. Kelainan stadium sekunder jarang
ditemukan, namun dapat terjadi eritema pada dinding faring yang menjalar ke
arah laring. Kelainan stadium tersier terdapat pada tonsil dan palatum, jarang
ditemukan pada dinding posterior faring. Pada stadium tersier biasanya
terdapat guma, guma pada dinding posterior faring dapat meluas ke vertebra
servikal dan apabila pecah akan menyebabkan kematian. Guma yang terdapat
di palatum mole, apabila sembuh akan membentuk jaringan parut yang dapat
menimbulkan gangguan fungsi palatum secara permanen. Diagnosis dilakukan
dengan pemeriksaan serologik, terapi penisilin dengan dosis tinggi merupakan
pilihan utama untuk menyembuhkan nya

2.3.6 PATOGENESIS
Pada faringitis yang disebabkan infeksi, bakteri ataupun virus dapat secara
langsung menginvasi mukosa faring dan akan menyebabkan respon inflamasi
lokal. Kuman akan menginfiltrasi lapisan epitel, lalu akan mengikis epitel
sehingga jaringan limfoid superfisial bereaksi dan akan terjadi pembendungan
radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat
hiperemis, kemudian edema dan sekresi yang meningkat. Pada awalnya
eksudat bersifat serosa tapi menjadi menebal dan kemudian cenderung menjadi
kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan keadaan hiperemis,
pembuluh darah dinding faring akan melebar. Bentuk sumbatan yang berwarna
kuning, putih atau abu-abu akan didapatkan di dalam folikel atau jaringan
limfoid. Tampak bahwa folikel limfoid dan bercak-bercak pada dinding faring
posterior atau yang terletak lebih ke lateral akan menjadi meradang dan

20
membengkak. Virus-virus seperti Rhinovirus dan Coronavirus dapat
menyebabkan iritasi sekunder pada mukosa faring akibat sekresi nasal 10
Infeksi streptococcal memiliki karakteristik khusus yaitu invasi lokal dan
pelepasan extracelullar toxins dan protease yang dapat menyebabkan
kerusakan jaringan yang hebat karena fragmen M protein dari Streptococcus
ß hemolyticus group A memiliki struktur yang sama dengan sarkolema pada
miokard dan dihubungkan dengan demam reumatik dan kerusakan katub
jantung. Selain itu juga dapat menyebabkan glomerulonefritis akut karena
fungsi glomerulus terganggu akibat terbentuknya kompleks antigen-
antibodi10

2.3.7 MANIFESTASI KLINIS 4,5


Manifestasi klinik sangat bervariasi. Gejala-gejala yang timbul
pada faringitis akut bergantung pada mikroorganismenya.
Keluhan
1. Nyeri tenggorokan, terutama saat menelan
2. Demam
3. Sekret dari hidung
4. Dapat disertai atau tanpa batuk
5. Nyeri kepala
6. Mual
5. Muntah
6. Rasa lemah pada seluruh tubuh
7. Nafsu makan berkurang
Gejala khas berdasarkan jenisnya, yaitu:
1. Faringitis viral (umumnya oleh Rhinovirus): diawali dengan gejala
rhinitis dan beberapa hari kemudian timbul faringitis. Gejala lain demam
disertai rinorea dan mual.
2. Faringitis bakterial: nyeri kepala hebat, muntah, kadang demam dengan
suhu yang tinggi, jarang disertai batuk, dan seringkali terdapat pembesaran
KGB leher.

21
3. Faringitis fungal:terutama nyeri tenggorok dan nyeri menelan.
4. Faringitis kronik hiperplastik: mula-mula tenggorok kering, gatal dan
akhirnya batuk yang berdahak.
5. Faringitis kronik atrofi: umumnya tenggorokan kering dan tebal serta
mulut berbau.
6. Faringitis tuberkulosis: nyeri hebat pada faring dan tidak berespon
dengan pengobatan bakterial non spesifik.
7. Bila dicurigai faringitis gonorea atau faringitis luetika, ditanyakan
riwayat hubungan seksual, terutama seks oral.

2.3.8 PEMERIKSAAN FISIK dan PENUNJANG 4,5


Pemeriksaan Fisik
1. Faringitis viral, pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis,
eksudat (virus influenza, coxsachievirus, cytomegalovirus tidak menghasilkan
eksudat). Pada coxsachievirus dapat timbul lesi vesikular di orofaring dan lesi
kulit berupa maculopapular rash.
2. Faringitis bakterial, pada pemeriksaan tampak tonsil membesar, faring dan
tonsil hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari
kemudian timbul bercak petechiaepada palatum dan faring. Kadang ditemukan
kelenjar limfa leher anterior membesar, kenyal dan nyeri pada penekanan.
3. Faringitis fungal, pada pemeriksaan tampak plak putih di orofaring dan
pangkal lidah, sedangkan mukosa faring lainnya hiperemis.
4. Faringitis kronik hiperplastik, pada pemeriksaan tampak kelenjar limfa di
bawah mukosa faring dan hiperplasia lateral band. Pada pemeriksaan tampak
mukosa dinding posterior tidak rata dan bergranular (cobble stone).
5. Faringitis kronik atrofi, pada pemeriksaan tampak mukosa faring ditutupi
oleh lendir yang kental dan bila diangkat tampak mukosa kering.
6. Faringitis tuberkulosis, pada pemeriksaan tampak granuloma perkejuan
pada mukosa faring dan laring.
7. Faringitis luetika tergantung stadium penyakit:
a. Stadium primer

22
Pada lidah palatum mole, tonsil, dan dinding posterior faring berbentuk
bercak keputihan. Bila infeksi berlanjut timbul ulkus pada daerah faring
seperti ulkus pada genitalia yaitu tidak nyeri. Juga didapatkan pembesaran
kelenjar mandibula
b. Stadium sekunder
Stadium ini jarang ditemukan. Pada dinding faring terdapat eritema
yang menjalar ke arah laring.
c. Stadium tersier
Terdapat guma. Predileksi pada tonsil dan palatum.
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan darah lengkap.
2. Pemeriksaan mikroskopik dengan pewarnaan Gram.
3. Pada dugaan adanya infeksi jamur, dapat dilakukan dengan pemeriksaan
mikroskopik swab mukosa faring dengan pewarnaan KOH.
4. Kultur apusan tenggorok

2.3.9 DIAGNOSIS FARINGITIS 1,4,5


Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang bila diperlukan.
Klasifikasi faringitis
1. Faringitis Akut
a. Faringitis Viral
Dapat disebabkan oleh rinovirus, adenovirus, Epstein Barr Virus (EBV),
virus influenza, coxsachievirus, cytomegalovirus, dan lain-lain. Pada
adenovirus juga menimbulkan gejala konjungtivitis terutama pada anak.
b. Faringitis Bakterial
Infeksi grup A stereptokokus beta hemolitikus merupakan penyebab
faringitis akut pada orang dewasa (15%) dan pada anak (30%).
Faringitis akibat infeksi bakteri streptokokkus group A dapat diperkirakan
dengan menggunakan Centor criteria, yaitu :

23
• Demam
• Anterior Cervical lymphadenopathy
• Eksudat tonsil
• Tidak ada batuk
Tiap kriteria ini bila dijumpai di beri skor 1. Bila skor 0-1 maka pasien
tidak mengalami faringitis akibat infeksi streptokokkus group A, bila skor 1-
3 maka pasien memiliki kemungkian 40% terinfeksi streptokokkus group A
dan bila skor 4 pasien memiliki kemungkinan 50% terinfeksi streptokokkus
group A.
c. Faringitis Fungal
Candida dapat tumbuh di mukosa rongga mulut dan faring
d. Faringitis Gonorea
Hanya terdapat pada pasien yang melakukan kontak orogenital
2. Faringitis Kronik
a. Faringitis Kronik Hiperplastik
Pada faringitis kronik hiperplastik terjadi perubahan mukosa dinding
posterior faring.
b. Faringitis Kronik Atrofi
Faringitis kronik atrofi sering timbul bersamaan dengan rhinitis atrofi. Pada
rhinitis atrofi, udara pernafasan tidak diatur suhu serta kelembapannya
sehingga menimbulkan rangsangan serta infeksi pada faring.
3. Faringitis Spesifik
a. Faringitis Tuberkulosis
Merupakan proses sekunder dari tuberkulosis paru.
b. Faringitis Luetika
Treponema palidum dapat menimbulkan infeksi di daerah faring, seperti
juga penyakit lues di organ lain. Gambaran klinik tergantung stadium
penyakitnya

2.3.10 PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan

24
1. Istirahat cukup
2. Minum air putih yang cukup
3. Berkumur dengan air yang hangat dan berkumur dengan obat kumur
antiseptik untuk menjaga kebersihan mulut. Pada faringitis fungal diberikan
Nistatin 100.000-400.000 IU, 2 x/hari. Untuk faringitis kronik hiperplastik
terapi lokal dengan melakukan kaustik faring dengan memakai zat kimia
larutan Nitras Argentin 25%
4. Untuk infeksi virus, dapat diberikan anti virus Isoprinosine dengan dosis
60-100 mg/kgBB dibagi dalam 4-6 x/hari pada orang dewasa dan pada anak
<5 tahun diberikan 50 mg/kgBB dibagi dalam 4-6 x/hari
5. Untuk faringitis akibat bakteri terutama bila diduga penyebabnya
Streptococcus group A, diberikan antibiotik Amoksisilin 50
mg/kgBB dosis dibagi 3 x/hari selama 10 hari dan pada dewasa 3x500 mg
selama 6-10 hari atau Eritromisin 4x500 mg/hari.
6. Pada faringitis gonorea, dapat diberikan Sefalosporin generasi ke- 3, seperti
Seftriakson 2 gr IV/IM single dose.
7. Pada faringitis kronik hiperplastik, penyakit hidung dan sinus paranasal
harus diobati. Pada faringitis kronik atrofi pengobatan ditujukan pada rhinitis
atrofi. Sedangkan, pada faringitis kronik hiperplastik dilakukan kaustik 1 x/hari
selama 3-5 hari.
8. Jika diperlukan dapat diberikan obat batuk antitusif atau ekspektoran.
9. Analgetik-antipiretik
10. Selain antibiotik, Kortikosteroid juga diberikan untuk menekan reaksi
inflamasi sehingga mempercepat perbaikan klinis. Steroid yang diberikan dapat
berupa Deksametason 3 x 0,5 mg pada dewasa selama 3 hari dan pada anak-
anak 0,01 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 x/hari selama 3 hari.

Konseling dan Edukasi


Memberitahu pasien dan keluarga untuk:
1. Menjaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makan bergizi dan olahraga
teratur.

25
2. Berhenti merokok bagi anggota keluarga yang merokok.
3. Menghindari makan makanan yang dapat mengiritasi tenggorok.
4. Selalu menjaga higiene mulut dan tangan

2.3.11 KOMPLIKASI DAN KRITERIA RUJUKAN 1,4,5


Komplikasi
Tonsilitis, Abses peritonsilar, Abses retrofaringeal, Gangguan fungsi tuba
Eustachius, Otitis media akut, Sinusitis, Laringitis, Epiglotitis, Meningitis,
Glomerulonefritis akut, Demam rematik akut, Septikemia.
Kriteria Rujukan
1. Faringitis luetika
2. Bila terjadi komplikasi
2.3.12 DIAGNOSIS BANDING
1. Tonsillitis difteri
Disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae.Tidak semua
orang yang terinfeksi oleh kuman ini akan sakit. Keadaan ini tergantung
pada titer antitoksin dalam darah. Titer antitoksin sebesar 0,03 sat/cc
drah dapat dianggap cukup memberikan dasar imunitas. Tonsillitis
difteri sering ditemukan pada anak berusia kurang dari 10 tahun dan
frekuensi tertinggi pada usia -5 tahun. Gejala klinik terbagi dalam 3
golongan yaitu: umum, local, dan gejala akibat eksotoksin. Gejala
umum sama seperti gejala infeksi lainnya yaitu kenaikan suhu tubuh
biasanya subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi
lambat serta keluhan nyeri menelan. Gejala local yang tampak berupa
tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin
meluas dan bersatu membentuk membrane semu (pseudomembran)
yang melekat erat pada dasarnya sehingga bila diangkat akan mudah
berdarah. Jika infeksinya berjalan terus, kelenjar limfa leher akan
membengkak sedemikian besarnya sehingga leher menyerupai leher
sapi (bull neck). Gejala akibat eksotoksin akan menimbulkan kerusakan
jaringan tubuh yaitu pada jantung dapat terjadi miokarditis sampai

26
decompensatio cordis, pada saraf kranial dapat menyebabkan
kelumpuhan otot palatum dan otot-otot pernapasan dan pada ginjal
menimbulkan albuminuria.1

Gambar 3. Tonsila Difteri


2. Angina Plaut Vincent (stomatitis ulseromembranosa)
Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema.
Gejala pada penyakit ini berupa demam sampai 30ºC, nyeri kepala,
badan lemah, rasa nyeri dimulut, hipersalivasi, gigi dan gusi mudah
berdarah. Pada pemeriksaan tampak mukosa dan faring hiperemis,
membran putih keabuan diatas tonsil, uvula, dinding faring, gusi serta
prosesus alveolaris, mulut berbau (foetor ex ore) dan kelenjar
submandibular membesar.1

Gambar 4. Angina Plaut Vincent

2.3.13 PROGNOSIS
Prognosis untuk faringitis akut sangat baik pada sebagian besar
kasus. Biasanya faringitis akut sembuh dalam waktu 10 hari, namun harus
berhati-hati dengan komplikasi yang berpotensi terjadi. 6

27
BAB III
METODOLOGI DAN LOKASI STUDI KASUS

3.1 Metodologi
Studi kasus ini menggunakan desain studi Kohort untuk mempelajari
hubungan antara faktor risiko dan efek (penyakit atau masalah kesehatan), dengan
memilih kelompok studi berdasarkan perbedaan faktor risiko. Kemudian melihat
berapa banyak subjek dalam masing-masing kelompok yang mengalami efek
penyakit atau masalah kesehatan untuk melakukan penerapan pelayanan dokter
layanan primer secara paripurna dan holistik.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode
wawancara dan observasi dengan pasien dan keluarganya dengan cara melakukan
home visit untuk mengaetahui secara holistik keadaan penderita.
3.2 LOKASI DAN WAKTU STUDI KASUS
3.2.1 Waktu studi kasus
Studi kasus dilakukan pertama kali dilakukan saat penderita datang
berobat di Puskesmas Maccini Sawah pada tanggal 13 November 2019.
Selanjutnya dilakukan home visit untuk mengetahui secara holistik keadaan dari
penderita.

3.2.2 Lokasi Studi Kasus


Studi kasus bertempat di Puskesmas Maccini Sawah Kota Makassar,
Provinsi Sulawesi Selatan
3.2.3 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
3.2.3.1 Letak Geografis
Puskesmas Maccini Sawah berada dalam wilayah Kecamatan Makassar,
dengan wilayah kerja meliputi dua kelurahan yaitu Kelurahan Maccini Induk,
Maccini Parang dan Kelurahan Maccini Gusung. Luas wilayah kerja yaitu 65 Ha,
dengan wilayah kerja Puskesmas Maccini Sawah berbatasan dengan:
a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Bontoala
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Bara-baraya utara dan Bara-
baraya timur

28
c. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Panakukang
d. Sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Barana

Gambar 11. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Maccini Sawah

3.2.3.2 Keadaan Demografi Lokasi Studi Kasus


Wilayah kerja Puskesmas Maccini Sawah meliputi kelurahan yaitu Kelurahan
Maccini Induk, Maccini Parang dan Kelurahan Maccini Gusung.

Jumlah Penduduk RT
No. Kelurahan Total
Laki-Laki Perempuan (KK)
1 Maccini Induk 3295 Jiwa 3797 Jiwa 7092 Jiwa 1367
2. Maccini Parang 3897 Jiwa 4017 Jiwa 7914 Jiwa 1681
3. Maccini Gusung 3965 Jiwa 4169 Jiwa 8134 Jiwa 1553
Total 11.157 Jiwa 11.983 Jiwa 23.140Jiwa 4601
Tabel 1. Distribusi Penduduk Menurut Kelurahan di Wilayah Kerja
Puskesmas Maccini Sawah Tahun 2016

3.2.3.1 Pertumbuhan Penduduk/Jumlah Penduduk


Dalam upaya menekan laju pertumbuhan penduduk dilaksanakan melalui
tingkat kelahiran dan penurunan angka kematian (bayi, anak balita dan ibu) di
dapatkan tiap tahunnya terjadi peningkatan 1,45% jumlah penduduk tiap tahunnya
di daerah cakupan puskesmas tersebut, dimana pertumbuhan yang tinggi akan
menambah beban pembangunan.

29
3.2.3.3 Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk sangat mempengaruhi tingkat kesejahteraan anak
serta masalah sosial ekonomi. Hal ini terjadi karena faktor gizi yang berhubungan
dengan lingkungan, perumahan dan sanitasi yang kotor menyebabkan berbagai
macam penyakit yang muncul.
Di samping itu, kepadatan penduduk sebagai lambang perkembangan
suatu daerah. Berdasarkan data yang diperoleh dari puskesmas Maccini Sawah,
kepadatan penduduk adalah 356 jiwa per Ha, jumlah kepala keluarga (KK) tahun
2016 di wilayah kerja Puskesmas Maccini Sawah adalah 4601 KK.
3.2.3.4 Struktur Penduduk Menurut Usia Dan Jenis Kelamin
Berdasakan komponen umur dan jenis kelamin maka karakteristik
penduduk dari suatu negara dapat debedakan menjadi 3 macam yaitu:

1. Ekspansif, jika sebagian besar penduduk berada dalam kelompok umur


termuda.
2. Konstruktif, jika penduduk berada dalam kelompok termuda hampir sama
besarnya
3. Stasioner, jika banyaknya penduduk sama dalam tiap kelompok umur tertentu

30
Kelompok Umur Jumlah Penduduk
No.
(Tahun) Laki-Laki Perempuan Total
1. 0-4 725 910 1635
2. 5-9 768 903 1671
3. 10-14 600 1077 1677
4. 15-19 885 1010 1895
5. 20-24 1071 1450 2521
6. 25-29 1065 1252 2317
7. 30-34 978 843 1821
8. 35-39 696 860 1556
9. 40-44 747 866 1613
10. 45-49 969 710 1679
11. 50-54 335 685 1020
12. 55-59 412 529 941
13. 60-64 234 276 510
14. 65-69 180 250 430
15. 70-74 110 198 308
16. +75 82 164 246
Jumlah 11.157 11.983 23.140
Tabel 2. Distribusi Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis
Kelamin di Wilayah Kerja Puskesmas Maccini Sawah Tahun 2016

3.2.3.5 Perkawinan dan Fertilitas


Rata-rata kawin pertama dari tahun ketahun datanya belum ditemukan
pada wilayah kerja puskesmas, namun berdasarkan profil kesehatan tahun 1997
propinsi Sulawesi Selatan dari tahun ke tahun mengalami kenaikan dari umur 19,4
Tahun.

3.2.3.6 Tingkat Pendidikan Penduduk


Pendidikan salah satu upaya membentuk manusia terampil dan produktif
sehingga pada gilirannya dapat mempercepat peningkatan kesejahteraan
masyarakat.

31
No Tingkat Pendidikan Jumlah

1 TK 505 Jiwa
2 SD 758 Jiwa
3 SMP 1465 Jiwa
4 SMU/SMK 4821 Jiwa
5 DI-DIII 1644 Jiwa
6 SI-SII 1358 Jiwa
Tabel 3. Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Wilayah
Kerja Puskesmas Maccini Sawah Tahun 2016

3.2.3.7 Kegiatan Ekonomi


Mata pencaharian penduduk di wilayah kerja Puskesmas Maccini Sawah
dapat dilihat pada tabel berikut:

Kelurahan
No Mata Pencaharian Maccini Maccini Maccini
Induk Parang Gusung
1 PNS 233 147 132
2 Pengrajin Industri 39 26 12
3 Pedagang Keliling 301 110 26
4 Montir 4 2 2
5 Dokter Swasta 2 1 1
6 Bidan Swasta 8 20 12
7 Pembantu RT 102 24 31
8 TNI 21 35 54
9 POLRI 124 54 21
10 Pengusaha Kecil
502 607 124
dan Menengah
11 Pensiunan
124 43 64
PNS,Polri,TNI

32
12 Pengacara 2 3 2
13 Notaris 2 2 3
14 Jasa Pengobatan -
1 2
Alternatif
15 Dosen Swasta 20 12 13
16 Arsitektur 4 6 -
17 Karyawan 142
340 529
Perusahaan Swasta
18 Karyawan 23
Perusahaan 12 34
Pemerintah
19 Lain-Lain 1981 1984 1156

Tabel 4. Distribusi Penduduk Menurut Pekerjaan di Wilayah Kerja


Puskesmas Maccini Sawah tahun 2016
3.2.3.8 Agama
Dari 14.420 jiwa penduduk dalam wilayah kerja Puskesmas Maccini
Sawah, 11.558 jiwa beragama Islam, 2.189 jiwa beragama Krsiten, 508 jiwa
beragama Katolik, 67 jiwa beragama Hindu dan 98 jiwa beragama Budha.
No Agama Jumlah
1 Islam 11.758 Jiwa
2 Kristen 2.289 Jiwa
3 Katolik 588 Jiwa
4 Hindu 84 Jiwa
5 Budha 118 Jiwa

Tabel 5. Distribusi Penduduk Menurut Agama di Wilayah Kerja


Puskesmas Maccini Sawah Tahun 2016

33
3.3.3 Sarana Kesehatan
3.3.3.1 Data Dasar Puskesmas
Pusat Kesehatan Masyarakat atau yang selanjutnya disebut
PUSKESMAS adalah fasilitas pelayananan kesehatan yang menyelenggarakan
upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan tingkat pertama
dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkat
pertama esensial dan pengembangan, dan upaya kesehatan perseorangan tingkat
pertama berupa rawat jalan, pelayanan gawat darurat, one day care,dan home care
berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan.
3.3.3.2 Sarana Pelayanan Kesehatan
1. Gedung Puskesmas
Terdiri dari 1 (satu) gedung untuk pelayanan pasien rawat jalan.
2. Kendaraan
Satu unit kendaraan beroda empat yang sampai saat ini masih dalam keadaan
baik dan terpakai, yakni Mobil Home Care (Dottoro’ta). Ruangan Medis
terdiri dari Ruang Poli Umum, Laboratorium, Ruang Poli Gigi,
Apotek,/Kamar Obat, Dapue Umum, Gudang, WC, Ruang Kepegawaian,
Ruang KIA dan Imunisasi, Ruang KB & IMS, Ruang Kepala Puskesmas,
Ruang Keuangan, Ruang P2M dan Kesling.

34
3.3.3.3 Struktur Organisasi

Gambar 12. Struktur Organisasi Puskesmas Maccini Sawah

Struktur Organisasi Puskesmas Maccini Sawah berdasarkan Peraturan


Walikota Makassar, No. 44 Tahun 2012 terdiri atas:
a. Kepala Puskesmas
b. Kepala Tata Usaha
c. Unit Pelayanan Teknis Fungsional Puskesmas
i. Unit Kesehatan Masyarakat
ii. Unit Kesehatan Perorangan
d. Unit Jaringan Pelayanan Puskesmas
- Unit Puskesmas Pembantu ( Pustu )
- Unit Puskesmas Keliling ( Puskel )
- Unit Bidan Komunitas
3.3.3.4 Tenaga Kesehatan
Jumlah tenaga kesehatan yang terdapat di Puskesmas Maccini
Sawah tahun 2019 sebanyak 24 orang dengan berbagai spesifikasi, yang terdiri
dari:
No. Tenaga Kesehatan Jumlah
1. Dokter Umum 1
2. Dokter Gigi 1
3. Perawat 5
4. Bidan 5
5. Sanitarian 2
6. Nutrisionis 1
7. Pranata Laboratorium 1
8. Asisten Apoteker 1

35
9. Apoteker 1
10. Perawat Gigi 2
11. Rekam Medik 1
12. Sarjana Kesehatan Masyarakat 5
13. Epidemiologi 1
14. Promkes 1
15. AKK 1

Tabel 6. Tenaga Kesehatan Puskesmas Maccini Sawah Tahun 2016


3.3.3.5 Visi Dan Misi Puskesmas
 Visi Puskesmas Maccini Sawah
Terwujudnya pelayanan kesehatan yang merata dan terjangkaudi
wilayah kerja puskesmas Maccini Sawah.
 Misi Puskesmas Maccini Sawah
 Menjalankan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)
 Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan
masyarakat
 Meningkatkan persan serta masyarakat mencapai desa sehat siaga
3.3.3.6 Upaya Kesehatan
Puskesmas Maccini Sawah sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah
(UPTD) Dinas Kesehatan Kota Makassar yang bertanggung jawab terhadap
pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas berperan
menyelenggarakan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar memperoleh derajat kesehatan
yang optimal.
Dengan demikian Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak
pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan keluarga dan
masyarakat serta pusat pelayanan kesehatan strata pertama.
Upaya kesehatan di Puskesmas Maccini Sawah terbagi atas 2(dua)
upaya Kesehatan Yaitu :

1. Upaya Kesehatan Wajib


a. Upaya Promosi Kesehatan ( Promkes )

36
b. Upaya Kesehatan Lingkungan ( Kesling )
c. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak ( KIA ) dan Keluarga Berencana (KB)
d. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat.
e. Upaya Pencegahan Penyakit Menular ( P2M )
f. Upaya Pengobatan
2. Upaya Kesehatan Pengembangan
a. Upaya Perkesmas
b. Upaya Kesehatan Jiwa
c. Upaya Kesehatan Indra
d. Upaya Kesehatan Kerja
e. Upaya Pokja HIV/IMS
f. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
3.3.3.7 10 Penyakit Utama Di Puskesmas
Sepuluh penyakit umum terbanyak yang tercatat di Puskesmas
Maccini Sawah di bulan Desember tahun 2018 adalah:
1. ISPA : 361 Kasus
2. Dyspepsia : 220 Kasus
3. Rheumatisme : 138 Kasus
4. Faringitis : 124 Kasus
5. Hipertensi : 120 Kasus
6. Dermatitis dan eksim : 105 Kasus
7. Diare : 55 Kasus
8. Diabetes Mellitus : 55 Kasus
9. Demam Tifoid : 22 Kasus
10. TB Paru : 15 Kasus

37
3.2.1.8 Alur Pelayanan

Pasien

Loket

Kamar Periksa Rujuk Pasien


- Poli umum
- Poli gigi
- Poli KIA/KB
Laboratorium

Ruang
Tindakan

Apotik
mkk
Pasien
nnn
Gambar 7. Alur pelayanan puskesmas Maccini Sawah Makassar

38
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL STUDI KASUS


4.1.1 ANAMNESIS DAN DIAGNOSIS KLINIS
A. Identitas Pasien
Nama : Nn.H
Umur : 25 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Bangsa/suku : Bugis
Agama : Islam
Pekerjaan : Guru
Status Perkawinan : -
Alamat : Jl. Kemauan 4 No.7
Tanggal Pemeriksaan : 13 November 2019
B. Riwayat Penyakit
- Keluhan Utama
Nyeri menelan
- Anamnesis Terpimpin
Seorang perempuan usia 25 tahun datang ke puskesmas dengan
keluhan nyeri menelan sejak 3 hari yang lalu. Demam sejak tadi malam.
Batuk ada lendir ada berwarna bening flu ada.
- Riwayat Penyakit Dahulu
Sekitar 2 bulan yang lalu sebelumnya pasien pernah berobat ke
Puskesmas Maccini Sawah dengan keluhan yang sama akibat sering batuk
dulu. Keluhan membaik setelah diberikan pengobatan oleh dokter.
- Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita keluhan yang sama
- Riwayat Atopi
Pasien tidak mempunyai riwayat asthma pada dirinya maupun
keluarganya.

39
- Riwayat Alergi
Pasien tidak ada riwayat alergi terhadap substansi atau obat-obatan tertentu
pada pasien.
- Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah seorang anak pertama dari 3 bersaudara, keluarganya tinggal
di Bone. Ayahnya seorang pegawai negeri sipil dan ibunya Ibu Rumah
Tangga ke 2 adiknya masih sekolah. Pasien tinggal dirumah kontrakan
bersama 2 orang temannya, pasien sehari-hari bekerja sebagai guru di
salah satu yayasan swasta. Rata-rata pendapatan Rp. 2.500.000.-/bulan.
Pasien termasuk keluarga sosial ekonomi menengah ke atas.
Riwayat Kabiasaan
- Diakui oleh pasien Nn.H bahwa ia memiliki pola makan yang tidak
teratur 2-3 kali sehari, sering makan di warung pinggir jalan yang tidak
terjamin kebersihannya, selain itu ia juga suka mengkomsumsi soda dan
goreng-gorengan yang di belinya di jalan.
- Karena kesibukannya Nn.H jarang membersikan rumah
kontrakannya, biasanya ia hanya membersihkan seminggu sekali pada
hari libur.

Riwayat Pengobatan
Pasien belum pernah berobat dengan keluhan yang sama di Puskesmas

C. Pemeriksaan Fisis
- Keadaan Umum
Pasien tampak sakit ringan, gizi baik, kesadaran compos mentis
- Vital Sign
1. Tekanan Darah : 110/70
2. Nadi : 82 x/menit
3. Pernapasan : 20 x/menit
4. Suhu : 37,8 oC

40
- Status Generalis
1. Kepala : Biasa
Ekspresi : Simetris muka : Simetris ki=ka
Rambut : Hitam, sulit dicabut
Mata : Eksoptalmus atau enoptalmus: (-)
Tekanan bola mata : Tidak dilakukan pemeriksaan
Kelopak mata : Dalam batas normal
Konjungtiva : Anemis (-)
Kornea : Jernih
Sklera : Ikterus (-)
Pupil : Isokor 2,5 mm
2. Telinga
Tophi : (-)
Pendengaran : Dalam batas normal
Nyeri tekan di prosesus mastoideus : (-)
3. Hidung
Perdarahan : (-)
Sekret : (-)
4. Mulut
Bibir : Kering (-)
Gigi geligi : Karies (-)
Gusi : Perdarahan (-)
Faring : hiperemis (+)
Tonsil : T1-T1
5. Leher
Kelenjar getah bening : MT (-), NT (-)
Kelenjar gondok : MT (-), NT (-)
DVS : R-2 cmH2O
Kaku kuduk : (-)
Tumor : (-)

41
6. Dada
Inspeksi : Simetris ki=ka
Bentuk : Normochest
Pembuluh darah : Bruit (-)
Buah dada : Tidak ada kelainan
Sela iga : Tidak ada pelebaran
7. Thorax
Palpasi : Fremitus Raba : Ki=Ka
Nyeri tekan : (-)
Perkusi : Paru kiri : Sonor
Paru kanan : Sonor
Batas paru hepar : ICS VI Dextra Anterior
Batas paru belakang kanan : V Th IX Dextra Posterior
Batas paru belakang kiri : V Th X Sinistra Posterior
Auskultasi : Bunyi pernapasan : vesikuler
Bunyi tambahan : Rh -/- Wh-/-
8. Punggung
Inpeksi : skoliosis (-), kifosis (-)
Palpasi : MT (-), NT (-)
Nyeri ketok : (-)
Auskultasi : Rh -/- Wh -/-
9. Cor
Inspeksi : Ictus kordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Pekak,batas jantung kesan normal
Auskultasi : BJ I/II murni regular
Bunyi tambahan : Bising (-)
10. Abdomen
Inspeksi : Datar, ikut gerak napas
Palpasi : MT (-), NT (-)daerah epigastrium
Hati : Tidak teraba

42
Limpa : Tidak teraba
Ginjal : Ballotement (-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
Follow Up pasien setelah lima hari pengobatan

D. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan
E. Diagnosis Kerja
Faringitis
F. PENATALAKSANAAN DAN EDUKASI
- Penatalaksanaan
o Paracetamol 500 mg 3 dd 1
o Ambroxol 30 mg 2 dd 1
o Ctm 1 dd 1
- Edukasi
o Menghindari faktor pencetus terjadinya Faringitis
o Mengkomsumsi makanan yang bergizi
o Hindari makanan dan minum minuman yang mengiritasi
tenggorokan (panas, berminyak, dingin)
o Memperbaiki higienitas pribadi dan keluarga

G. DIAGNOSA HOLISTIK

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis yang telah dilakukan maka pasien
ini didiagnosis menderita Faringitis. Diagnosa holistik (multiaksial) :

1. Aspek Personal
Seorang perempuan usia 25 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri
menelan sejak 3 hari yang lalu. Demam sejak malam hari sebelum ke
puskesmas. Batuk ada, lendir ada berwarna putih, flu ada.

43
Kekhawatiran, takut penyakitnya memburuk. Harapan: dapat sembuh dan
anggota keluarga yang lain tidak menderita penyakit yang sama dengannya.
2. Aspek Klinik
Faringitis Akut
3. Aspek Faktor Resiko Internal
Kurangnya pengetahuan tentang faringitis
Kurangnya upaya menghindari penyebab faringitis
4. Aspek Faktor Resiko Eksternal
Anggota keluarga dan teman serumah kurang mengawasi pasien untuk
menghindari penyebab penyakit faringitis
5. Aspek Psikososial Keluarga
Di dalam keluarga terdapat faktor-faktor yang dapat menghambat dan
mendukung kesembuhan pasien. Di antara faktor-faktor yang dapat
menghambat kesembuhan pasien yaitu, kurangnya pengawasan keluarga
terhadap pasien sehingga tidak ada upaya pencegahan faktor pencetus
penyebab faringitis pasien. Sedangkan faktor yang dapat mendukung
kesembuhan pasien yaitu adanya dukungan dan motivasi dari semua anggota
keluarga baik secara moral dan materi.
6. Aspek Fungsional
Secara aspek fungsional, pasien tidak ada kesulitan dan masih mampu dalam
hal fisik dan mental untuk melakukan aktifitas di dalam maupun di luar
rumah.

7.1.2 PENDEKATAN HOLISTIK


- Profil Keluarga
Pasien Nn. H tinggal bersama 2 orang temannya , Nn E 24 tahun
berprofesi sebagia guru dan Nn I 23 tahun mahasiswa. Ayah Nn.H tinggal
di Bone bekerja sebagai salah satu pegawai negeri sipil bersama ibu Ny. S
bekerja sebagai ibu rumah Tangga dan 2 orang adiknya, An.W laki-laki
anak ke 2 berusia 18 tahun pelajar SMA , dan An.M perempuan anak ke 3
berusia 14 tahun. Semua sudah dapat mengurus diri sendiri .

44
Karakteristik Demografi Keluarga
a. Identitas Kepala keluarga : Tn T
b. Identitas Pasangan : Ny.R
c. Alamat : Jl. Sungai Musi, Kecamatan Tanete
Riattang
d. Bentuk Keluarga : Commuter Family

Tabel 7. Anggota Keluarga yang Tinggal Serumah

Kedudukan
No Nama dalam Gender Umur Pendidikan Pekerjaan
keluarga

1. Nn E Teman P 24 S1 Guru

2. Nn. R Teman P 23 S1 Mahasiswa

- Penilaian Status Sosial dan Kesejahteraan Hidup


Sehari-hari pasien adalah guru di salah yayasan sawasta, sudah sejak 2 bulan
bekerja sebagai seorang guru, ayahnya bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS)
dan perekonomian keluarga pasien termasuk kalangan menegah ke atas, pasien
tinggal di rumah kontrakan bersama dua orang temannya. Pasien ini tinggal di
rumah yang kondisinya baik, tetap tertata rapi serta terawat. Rumah terdiri dari 1
ruang tamu, 3 kamar tidur, 1 dapur, dan 1 kamar mandi dan garasi

45
Tabel 8. Lingkungan Tempat Tinggal
Status kepemilikan rumah : Pribadi
Daerah perumahan : padat

Karakteristik Rumah dan Lingkungan Kesimpulan

Luas rumah : 6X7,5m2 Keluarga pasien nn.H status


Jumlah penghuni dalam satu rumah : 3 kepemilikian rumah kontrakan.
orang tinggal dalam rumah yang
kurang sehat dengan
Luas halaman rumah : -
lingkungan rumah yang tidak
Tidak Bertingkat beraturan. Dengan penerangan
listrik 450 watt. Air PAM
Lantai rumah dari : tegel
umum sebagai sarana air
Dinding rumah dari : semen bersih keluarga.

Jamban keluarga : ada

Tempat bermain : -

Penerangan listrik : 450 watt

Ketersediaan air bersih : ada (PAM)

Tempat pembuangan sampah : ada

- Kepemilikan barang – barang berharga


Keluraga Nn.H memiliki beberapa barang elektronik di rumahnya antara
lain yaitu, satu buah televisi yang terletak di ruang tamu, kulkas yang
terletak di dapur serta perlengkapan masak lainnya dan satu kamar tidur.
- Penilaian Perilaku Kesehatan Keluarga
o Jenis tempat berobat : Puskesmas
o Asuransi / JaminanKesehatan : BPJS kelas 1

46
- Sarana Pelayanan Kesehatan (Puskesmas)
Tabel 9. Pelayanan Kesehatan
Faktor Keterangan Kesimpulan
Cara mencapai pusat Keluarga biasanya Letak Pkm Maccini Sawah
pelayanan kesehatan menaiki motor tidak terlalu jauh dari tempat
menuju ke tinggal pasien, sehingga
puskesmas. untuk mencapai puskesmas
Tarif pelayanan kesehatan Menurut keluarga keluarga pasien dapat pergi
biaya pelayanan dengan mengendarai motor.
kesehatan cukup Untuk biaya pengobatan
murah. diakui oleh terjangkau dan
Kualitas pelayanan Menurut keluarga pelayanan Puskesmas pun
kesehatan kualitas pelayanan dirasakan keluarga pasien
kesehatan yang memuaskan pasien.
didapat cukup
memuaskan.

- Pola Konsumsi Makanan Keluarga


- Kebiasaan makan : Nn.H memiliki kebiasaan makan antara 2-3 kali
dalam sehari, namun sering makan di warung.
- Penerapan pola gizi seimbang : Nn.H selalu menerapkan pola makan
dengan gizi yang seimbang.yakni makan dengan lauk pauk seperti nasi,
ikan dan sayuran yang dibeli di warung.

- Pola Dukungan Keluarga


 Faktor pendukung terselesaikannya masalah dalam keluarga
Di antara yang merupakan faktor pendukung dalam penyelesaian
masalah keluarga seperti ada komunikasi yang baik dalam keluarga.
Selain adanya hubungan yang harmonis. Keluarga juga sangat terbuka
untuk setiap masalah kesehatan yang dihadapi.

47
 Faktor penghambat terselesaikannya masalah dalam keluarga
Faktor tidak tinggal serumah lagi dan hanya berkomunikasi lewat
telpon.
- Analisa Kedokteran Keluarga (Family Assesment Tools)
 Fungsi Fisiologis (APGAR)
Fungsi fisiologis adalah suatu penentu sehat tidaknya suatu
keluarga yang dikembangkan oleh Rosan, Guyman dan Leyton,
dengan menilai 5 Fungsi pokok keluarga, antara lain:
1. Adaptasi: Tingkat kepuasan anggota keluarga dalam menerima
bantuan yang dibutuhkan
2. Partnership: Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap
komunikasi dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan
masalah
3. Growth: Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebebasan
karena dukungan dan dorongan yang diberikan keluarga dalam
mematangkan pertumbuhan dan kedewasaan semua anggota
keluarga
4. Affection: Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kasih
sayang serta interaksi emosional yang berlangsung
5. Resolve: Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebersamaan
dalam membagi waktu, kekayaan dan ruang atas keluarga
- Penilaian
o Hampir Selalu = skor 2
o Kadang-kadang = skor 1
o Hampir tidak pernah = 0
- Total Skor
8-10 = Fungsi keluarga sehat
4-7 = Fungsi keluarga kurang sehat
0-3 = Fungsi keluarga sakit

48
Tabel 10. Penilaian Fungsi Fisiologis (APGAR) Keluarga Penderita
Faringitis akut
Penilaian

Hampir Kadang Hampir Tidak


No Pertanyaan
selalu Kadang Pernah

(2) (1) (0)

1. Adaptasi

Saya puas dengan keluarga saya karena


masing – masing anggota keluarga sudah √
menjalankan kewajiban sesuai dengan
seharusnya

2. Partnership (Kemitraan)

Saya puas dengan keluarga saya karena √


dapat membantu memberikan solusi
terhadap permasalahan yang saya hadapi

3. Growth (Pertumbuhan)

Saya puas dengan kebebasan yang


diberikan keluarga saya untuk √
mengembangkan kemampuan yang saya
miliki

4. Affection (Kasih Sayang)

Saya puas dengan kehangatan/ kasih √


sayang yang diberikan keluarga saya

5. Resolve (Kebersamaan)

Saya puas dengan waktu yang disediakan √


keluarga untuk menjalin kebersamaan

Total Skor 10

49
Fungsi Keluarga Sehat.
- Fungsi Patologis (SCREEM)
Aspek sumber daya patologi
1. Sosial: Pasien dapat hidup bermasyarakat dengan baik.
2. Cultural: Pasien dan keluarganya mengadakan acara pernikahan,
aqiqah, dan khitanan sesuai adat istiadat daerah setempat.
3. Religious: Keluarga pasien rajin melakukan ibadah sebagai umat Islam,
seperti: sholat lima waktu, tadarrus, puasa pada bulan Ramadhan
Ekonomi: Keluarga pasien merasa kebutuhan ekonomi tercukupi.
4. Education: Tingkat pendidikan tertinggi di keluarga pasien yaitu S1
5. Medication: Pasien dan keluarga menggunakan sarana pelayanan
kesehatan dari Puskesmas
- Genogram (Fungsi Genogram)
Dalam keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit Faringitis akut
namun memungkinkan penyakit Faringitis akut yang diderita pasien juga
diderita anggota keluarganya.
- Bentuk keluarga
Bentuk keluarga ini adalah commuter family dimana nn.H bekerja di
Makassar. Tn T dan Ny R sebagai kedua orang tua pasien bekerja diluar
kota. Namun pada hari libur atau akhir pekan keluarga berkumpul kembali
dalam satu rumah bersama dengan 2 adik pasien.
- Tahapan siklus keluarga
Tn. T dan Ny.R pasangan suami istri yang dikaruniai 3 orang anak, Nn.H
anak pertama, W laki-laki anak ke 2, M dan anak ke 3.
- Genogram

Gambar 10. Genogram Penderita Faringitis

50
Keterangan :
: Keluarga Nn. H
: Laki-laki normal
: Wanita normal
: Anak Faringitis

- Family map

Gambar 11 : Family map penderita Faringitis

Keterangan

: ayah
: ibu

: anak pertama perempuan ( pasien faringitis)

: anak ke 2 laki-laki
: anak ke 3 perempuan

: hubungan harmonis antara saudara


: hubungan harmonis pernikahan
: hubungan harmonis orangtua dan anak

51
4.2 PEMBAHASAN
Diagnosis pada pasien ini adalah Faringitis Akut yang didapatkan berdasarkan
anamnesis secara holistik yaitu, aspek personal, aspek klinik, aspek risiko internal,
dan aspek risiko eksternal serta pemeriksaan penunjang dengan melakukan
pendekatan menyeluruh dan pendekatan diagnostik holistik.
4.2.1 Analisis Kasus
Pendekatan kedokteran keluarga pada pasien Faringitis Akut
Tabel 11.Skoring Kemampuan Pasien dan Keluarga dalam
Penyelesaian Masalah dalam keluarga.

No Masalah Skor Upaya Resume Hasil Skor


Awal Penyelesaian Akhir Perbaikan Akhir
1. Faktor biologis - Edukasi untuk - Terselenggara
- Invasi kuman 2 selalu mencuci penyuluhan 4
patogen tangan sebelum - Keluhan
makan berkurang
- Edukasi
mengenai
penyakit dan
pencegahannya
melalui
penyuluhan

2. - Faktor psiko - Nasehat untuk


sosio ekonomi terus - Pasien paham
- mempertahankan tentang
- Kehidupan 3 hubungan sosial pentingnya 4
sosial dengan yang baik hubungan baik
lingkungan baik dengan dengan
Dan Kondisi lingkungan lingkungan
ekonomi pasien sekitar sekitar dan
tergolong - Edukasi tentang berusaha untuk
kalangan 3 penyakit terus menjaga
menengah ke Faringitis dan hubungan baik.
atas terapi serta - Pasien paham
- Tingkat pencegahanya tentang penyakit
pengetahuan 2 - Nasehat untuk faringitis dan 4
tentang bertawakkal mau melakukan
pencegahan kepada Allah, pencegahannya
faringtis akut dan yakinkan (terselenggaranya
masih kurang. bahwa semua penyuluhan )
- Pasien khawatir akan baik-baik - Memiliki rasa
saja Tawakkal kepada 4
penyakitnya
akan memburuk Allah.

52
NO Masalah Skor Upaya Resume Hasil Skor
Awal Penyelesaian Awal Perbaikan Akhir
3. Faktor Perilaku - Edukasi tentang - Pasien mengerti
Kesehatan 2 pentingnya dan mulai
- Tidak mencuci mencuci tangan mengaplikasikan 5
tangan sebelum sebelum makan dengan baik
makan 2 dan pentingnya mencuci tangan
- Berobat hanya perilaku hiduo sebelum makan
4
jika ada keluhan bersih dan sehat - Pasien paham
berat untuk mencegah dan mengerti
berbagai untuk segera
penyakit infeksi berobat ke
- Edukasi tentang puskesmas
pentingnya terdekat jika ada
segera keluhan
melakukan waluapun masih
pengobatan ke ringan
fasilitas terdekat
jika sudah timbul
keluhan alaupun
masih ringan.
4. Faktor lingkungan - Memperbaiki - Pintu rumah
Rumah ventilasi dan belum dibuka dan
- Ventilasi dan 2 penerangan rumah masih 2
sinar matahari dengan kurangventilasi,
kurang membuka pintu - Kamar tidur
rumah pada belum
- Kamar tidur
2 siang hari dan dibersihkan
pasien jarang 2
- Membersihkan setiap hari
dibersihkan
kamar tidur - Kipas angin
sehingga
setiap hari belum
banyak debu 2
sebelum dibersihkan
yang menempel
2 berangkat kerja
- Kipas angin
- Membersihkan
jarang
kipas angin
dibersihkan
minimal 2
sehingga
minggu sekali
banyak debu
yang menempel
di kipas angin

5 Faktor lingkungan 2 - Menaikkan - Belum 2


kerja suhu AC di menaikkan suhu
- Lingkungan ruangan kerja AC di ruangan
kerja pasien ber kerja ketika
AC (18oC/ 8 bekerja
jam sehari)

53
No Masalah Skor Upaya Resume Hasil Skor
Awal Penyelesaiaan Akhir Perbaikan Akhir
Faktor komunitas 2 - Memakai - Menggunakan 5
6 - Pemukiman masker ketika masker ketika
cukup padat dan berada di berada di luar
jalanan disekitar lingkungan rumah
pemukiman sekitar rumah
belum teraspal

7 Faktor Gaya hidup 2 - Edukasi - Pasien 5


- Pola makan: pemilihan mengatur pola
tidak teratur dan makanan yang makan dan
sering bersih dan memilih
mengkonsumsi sehat serta makanan yang
makanan di
Mengatur pola bersih dan
warung pinggir
jalan yang tidak makan tertutup.
terjamin - Mengkomsums - Pasien masih
kebersihannya i makanan yang mengkomsusmi 2
- Kebiasaan tidak terlalu minuman yang
mengkomsumsi dingin, bersoda dingin dan
minuman dingin 2 dan makanan makanan yang
dan gorengan yang panas. panas

Total Skor 28 45
Rata-Rata Skor 2,15
3,46

Klasifikasi skor kemampuan menyelesaikan masalah


Skor 1 : Tidak dilakukan, keluarga menolak, tidak ada partisipasi.
Skor 2 : Keluarga mau melakukan tapi tidak mampu, tidak ada sumber
(hanya keinginan), penyelesaian masalah dilakukan
sepenuhnyaoleh provider.
Skor 3 : Keluarga mau melakukan namun perlu penggalian sumber yang
belum dimanfaatkan, penyelesaian masalah dilakukan
sebagianbesar oleh provider.
Skor 4 : Keluarga mau melakukan namun tak sepenuhnya, masih tergantung
pada upaya provider.
Skor 5 : Dapat dilakukan sepenuhnya oleh keluarga

54
Dengan hasil yang didapatkan pada tabel di atas berarti bahwa pasien dan
keluarga pasien dapat menyelesaikan masalah kesehatan secara mandiri.

4.2.2 Diagnosa Holistik, Tanggal Intervensi, dan Penatalaksanaan


Selanjutnya
Pertemuan ke 1 : 13 November 2019
Pertemuan ke 2 : 14 November 2019
Saat kedatangan yang pertama dilakukan beberapa hal yaitu :
1. Memperkenalkan diri dengan pasien.
2. Menjalin hubungan yang baik dengan pasien.
3. Menjelaskan maksud kedatangan dan meminta persetujuan pasien
4. Menganamnesa pasien, mulai dari identitas sampai riwayat psiko-sosio-
ekonomi dan melakukan pemeriksaan fisik.
5. Memastikan pasien telah mengerti tujuan prosedur pemeriksaan.
6. Meminta persetujuan pemeriksaan kepada pihak pasien.
7. Membuat diagnostik holistik pada pasien.
8. Mengevaluasi pemberian penatalaksanaan farmakologis

4.2.2.1 Anamnesis Holistik


4.2.2.1.1 Aspek Personal
Seorang perempuan usia 25 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan
nyeri menelan sejak 3 hari yang lalu. Demam sejak malam hari sebelum ke
puskesmas. Batuk ada, lendir ada berwarna putih, flu ada.
Kekhawatiran, takut penyakitnya memburuk. Harapan: dapat sembuh dan
anggota keluarga yang lain tidak menderita penyakit yang sama
dengannya.
4.2.2.1.2 Aspek Klinik
o Nyeri menelan
o Batuk
o Flu
o Demam

55
Pemeriksaan fisis: faring hiperemis (+) , tonsil T1-T1

4.2.2.1.3 Aspek Faktor Risiko Internal


o Kurangnya pengetahuan tentang faringitis
o Kurangnya upaya menghindari penyebab faringitis
4.2.2.1.4 Aspek Faktor Risiko Eksternal
Anggota keluarga dan teman serumah kurang mengawasi pasien untuk
menghindari penyebab penyakit faringitis
4.2.2.1.5 Aspek Psikososial Keluarga
Di dalam keluarga terdapat faktor-faktor yang dapat menghambat dan
mendukung kesembuhan pasien. Di antara faktor-faktor yang dapat
menghambat kesembuhan pasien yaitu, kurangnya pengawasan keluarga
terhadap pasien sehingga tidak ada upaya pencegahan faktor pencetus
penyebab faringitis pasien. Sedangkan faktor yang dapat mendukung
kesembuhan pasien yaitu adanya dukungan dan motivasi dari semua
anggota keluarga baik secara moral dan materi.
4.2.2.1.6 Aspek Fungsional
Secara aspek fungsional, pasien tidak ada kesulitan dan masih mampu
dalam hal fisik dan mental untuk melakukan aktifitas di dalam maupun di
luar rumah.
4.2.2.1.7 Derajat Fungsional
Nn.H masih dapat beraktifitas dengan baik tanpa bantuan siapapun (derajat 1
minimal).
4.2.2.1.8 Rencana Penatalaksanaan (Plan Of Action)
Pertemuan ke-1: Puskesmas Maccini Sawah, 28 November 2019 pukul
10.00 WITA.
Pertemuan ke-2: Rumah pasien, tanggal 14 November 2019 Pukul 09.00
WITA.

56
Tabel 12. Rencana Pelaksanaan (plan Of Action)
Aspek Kegiatan Sasara Waktu Hasil yang Biaya Ket.
n diharapkan
Aspek Menginformasika Pasien Saat Pasien dapat Tidak Tidak
personal n kepada nn.H pasien bersabar ada menolak
bersabar dengan ke PKM dengan
penyakit yang dan saat penyakit dan
diderita home memiliki
visit ke semangat
rumah untuk berobat
pasien
Aspek Menganjurkan Pasien Saat Penyakit Tidak Tidak
klinik pasien untuk pasien sembuh ada menolak
meminum obat ke PKM
sesuai yang dan saat
ditentukan dokter home
visit ke
rumah
pasien
Aspek Menganjurkan Pasien Saat Untuk Tidak Tidak
risiko pasien untuk pasien menjaga agar ada menolak
internal menghindari ke PKM penyakit yang
makanan dan dan saat diderita pasien
minuman yang home tidak kambuh
mengiritasi visit ke lagi
tenggorokan rumah
seperti air es, pasien
panas,bersoda
Aspek Memberitahu- Teman saat Untuk Tidak Tidak
risiko kan teman dan home menjaga agar ada menolak
external serumah pasien nenekny visit ke penyakit yang
untuk senantiasa a rumah diderita pasien
mengingat- kan pasien tidak kambuh
pasien untuk lagi
mengurangi
makanan dan
minuman yang
mengiritasi
tenggorokan.

57
Aspek Kegiatan Sasaran Waktu Hasil yang Biaya Ket.
diharapkan

Aspek Mengajarkan Seluruh Saat Mengurangi Tidak Tidak


psiko- kepada teman Keluarg home faktor faktor ada menolak
sosial pasien untuk a visit ke yang dapat
keluarga selalu rumah memperberat
memberikan pasien keadaan klinis
motivasi demi pasien.
kesembuhan Menjaga
pasien keluarga tetap
sehat.
Aspek Menganjurkan Pasien Saat Untuk Tidak
fungsional pasien untuk home menjaga agar ada
menghindari visit ke penyakit yang Tidak
makanan dan rumah diderita pasien menolak
minuman yang pasien tidak kambuh
mengiritasi
tenggorokan (es,
minuman panas
atau bersoda)

4.2.2.2 Pemeriksaan Fisik


Faring hiperemis
4.2.2.3 Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan
4.2.2.4 Diagnosis Holistik
- Diagnose Klinis : Faringitis Akut
- Diagnose Psikososial : Kurangnya pengawasan keluarga terhadap

pasien sehingga tidak ada upaya pencegahan faktor pencetus penyebab

Faringitis serta kurangnya kesadaran diri pasien untuk menerapkan

58
perilaku hidup bersih dan sehat, kekahawatiran pasien akan bertambah

buruknya penyakit yang dialami.

- Penatalaksanaan

Penatalaksanaan secara kedokteran keluarga pada pasien ini meliputi

pencegahan primer, pencegahan sekunder ( terapi untuk pasien dan

keluarga pasien )

4.2.2.5 Pencegahan primer

Pencegahan primer diperlukan agar orang sehat tidak terinfeksi penyakit

Faringitis antara lain :

 Menghindari faktor pencetus

 Menghindari makanan atau minuman yang dapat mengiritasi

teggorokan.

 Mengkomsumsi makanan yang bergizi

 Menjaga hyegenitas diri dan keluarga

4.2.2.6 pencegahan sekunder

 Pengobatan farmakologi berupa:

- Paracetamol 500 mg 3 dd 1

- Ambroxol 30 mg 2 dd 1

- Ctm 1dd1

59
60
 Pengobatan non farmakologis
- Mengidentifikasi dan mengeliminasi penyebab Faringitis
- Menjaga asupan makanan yang bergizi
- Memperbaiki higienitas pribadi dan keluarga
- Menghindari makanan atau minuman yang dapat mengiritasi
teggorokan.

4.2.2.7 Terapi untuk keluarga


Terapi untuk keluarga hanya berupa terapi non farmakologi terutama yang
berkaitan dengan emosi, psikis dan proses pengobatan pasien. Dimana
anggota keluarga diberikan pemahaman agar bisa memberikan dukungan dan
motivasi kepada pasien untuk berobat secara teratur dan membantu
memantau terapi pasien serta pentingnya menjaga hygiene baik dari keluarga
maupun pasien.

61
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
- Diagnose Klinis :Faringitis Akut
- Diagnose Psikososial :Kurangnya pengawasan keluarga terhadap
pasien sehingga tidak ada upaya pencegahan faktor pencetus penyebab
Faringitis serta kurangnya kesadaran diri pasien untuk menerapkan
perilaku hidup bersih dan sehat, kekahawatiran pasien akan bertambah
buruknya penyakit yang dialami.

5.2. SARAN
Dari beberapa masalah yang dapat ditemukan pada Nn.H berupa penyakit
Faringitis akut, Gaya hidup yang kurang baik maka disarankan untuk :
- Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menyebabkan Faringitis .
- Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit
Faringitis.
- Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang perilaku hidup bersih dan
sehat. Hasil yang diharapkan keluarga dapat memahami sehingga dapat
mengupayakan pencegahan untuk penyakit tersebut.
- Memberi edukasi pada pasien tentang penatalaksanaan penyakit Faringitis
- Menganjurkan pasien meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan
memperhatikan dan memperbaiki makanan.
- Menjelaskan kepada pasie agar selalu rajin kontrol kesehatan dan rutin
meminum obat.
- Menganjurkan kepada pasien untuk kontrol kembali ke puskesmas jika
keluhan belum berkurang/bertambah berat setelah intervensi pengobatan.

62
LAMPIRAN DOKUMENTASI

Ruang Tamu

Kamar mandi

Dapur

63
DAFTAR PUSTAKA
1. Rusmarjono, Kartoesoediro S. Faringitis,Tonsilitis,dan Hipertrofi Adenoid
In: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher
ed Keenam. FKUI Jakarta: 2007. p212-25.
2. Medical Disbility Advisor. Faringitis,Tonsillitis and Adenoiditis. [online].
2011 .[cited, 2019 Nov 16). Available from URL:
http://www.mdguidelines.com/tonsillitis-and-adenoiditis/
3. jill gore 2013
4. Adam, G.L. Boies, L.R. Higler. Boies.Buku Ajar Penyakit THT. Ed. ke-6.
Jakarta: EGC. 1997.(Adam dan Boies, 1997)
5. Lee, K. Essential Otolaryngology, Head and Neck Surgery. Ed. Ke-8.
McGraw-Hill. 2003.(Lee, 2003)
6. John PC, William CS. Tonsillitis and Adenoid Infection.
[online].2019.[cited, 2019 Nov 16). Available from: URL:
http://www.medicinenet.com
7. .Ellen Kvestad, Kari Jorunn Kværner, Espen Røysamb, et all. Heritability
of Reccurent Tonsilofaringitis. [online].2008[cited, 2019 Nov 16).
Available from: URL: http://www. Archotolaryngelheadnecksurg.com
8. Amalia, Nina. Karakteristik Penderita Tonsilitis Kronis D RSUP H. Adam
Malik Medan Tahun 2009. 2011.pdf
9. Alan L Bisno,MD . Acute Pharyngitis N Engl J Med 2001; 344: 205-211
Available from URL : http;/www.nejm.org
10. Adam, George L., 1997 penyakit-penyakit Nasopharing dan Orofaring
dalam Adam,G.L.,Boies,LR., Highler,PA.,editor , Boies Buku Ajar
Penaykit THT. Jakarta : EGC.halaman 337

64