Anda di halaman 1dari 41

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA TRAUMA

MAXILOFACIAL ( TRAUMA WAJAH,MULUT DAN GIGI )

DISUSUN OLEH :
LAILI FATMAWATI
NIM G2A218099

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN LJ


TEMANGGUNG UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
fraktur dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Menurut data yang
dilaporkan oleh trauma centre level 1, bahwa diantara 663 pasien fraktur
tulang wajah, hanya 25.5% berupa fraktur maksila. Di University of
Kentucky Medical Centre, dari 326 pasien wanita dewasa dengan facial
trauma, sebanyak 42.6% trauma terjadi akibat kecelakan kendaraan
bermotor, 21.5% akibat terjatuh, akibat kekerasan 13.8%, penyebab yang
tidak ingin diungkapkan oleh pasien 10,7%, cedera saat berolahraga 7,7%,
akibat kecelakaan lainnya 2,4%,dan luka tembak sebagai percobaan bunuh
diri serta akibat kecelakan kerja masing-masing 0.6%.
Diantara 45 pasien korban kekerasan, 19 orang diantaranya mengalami
trauma wajah akibat intimate partner violence (IPV) atau kekerasan dalam
rumah tangga.
Disamping mekanisme yang disebutkan di atas, osteoporosis ternyata juga
berpengaruh terhadap insiden fraktur maksilofasial termasuk maksila. Hal
tersebut didapatkan dari review retrospektif yang dilakukan pada 59 pasien
fraktur maksilofasial yang berusia 60 tahun ke atas di sebuah trauma
centre antara tahun 1989 dan 2000. Didapat bahwa semakin parah kondisi
osteoporosis, semakin besar kemungkinan jumlah fraktur maksilofasial
yang dialami. Oleh karena itu, benturan yang lebih ringan akibat terjatuh
bias menimbulkan fraktur maksilofasial multipel sebagaimana yang terjadi
pada kecelakaan kendaraan bermotor jika pasien mengalami osteoporosis
yang parah.

B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui penanganan kegawatdaruratan pada pasien dengan
trauma maxillofacial ( trauma pada wajah, mulut dan gigi )
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui definisi fraktur maxilofacialis
b. Mengetahui anatomi fisiologi tulang maxilofacialis
c. Mengetahui klasifikasi fraktur maxilofacialis
d. Mengetahui etiologi fraktur maxilofacialis
e. Mengetahui tanda dan gejala fraktur maxilofacialis
f. Mengetahui patofisiologi fraktur maxilofacialis
g. Mengetahui pemeriksaan penunjang pada fraktur maxilofacialis
h. Mengetahui penatalaksanaan pada fraktur maxilofacialis
i. Mengetahui komplikasi fraktur maxilofacialis
j. Asuhan keperawatan pada pasien
BAB II
KONSEP DASAR

A. Definisi
Fraktur adalah hilang atau putusnya kontinuitas jaringan keras tubuh.
Fraktur maksilofasial adalah fraktur yang terjadi pada tulang-tulang wajah
yaitu tulang frontal, temporal, orbitozigomatikus, nasal, maksila dan
mandibula (Smeltzer, 2010).
Fraktur ialah hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan keras tubuh
(Grace and Borley, 2007). Berdasarkan anatominya wajah atau
maksilofasial dibagi menjadi tiga bagian, ialah sepertiga atas wajah,
sepertiga tengah wajah, dan sepertiga bawah wajah. Bagian yang termasuk
sepertiga atas wajah ialah tulang frontalis, regio supra orbita, rima orbita
dan sinus frontalis. Maksila, zigomatikus, lakrimal, nasal, palatinus, nasal
konka inferior, dan tulang vomer termasuk ke dalam sepertiga tengah
wajah sedangkan mandibula termasuk ke dalam bagian sepertiga bawah
wajah. Fraktur maksilofasial ialah fraktur yang terjadi pada tulang-tulang
pembentuk wajah

B. Anatomi-Fisiologi
Pertumbuhan kranium terjadi sangat cepat pada tahun pertama dan kedua
setelah lahir dan lambat laun akan menurun kecepatannya. Pada anak usia
4-5 tahun, besar kranium sudah mencapai 90% cranium dewasa.
Maksilofasial tergabung dalam tulang wajah yang tersusun secara baik
dalam membentuk wajah manusia (Mansjoer, 2000).
Tulang pembentuk wajah pada manusia bentuknya lebih kecil dari
tengkorak otak. Didalam tulang wajah terdapat rongga-rongga yang
membentuk rongga mulut (cavum oris), dan rongga hidung (cavum nasi)
dan rongga mata (orbita).
Gambar 1. Anatomi Maksilofasial
Tengkorak wajah dibagi atas dua bagian (Mansjoer, 2000), antara lain:
1. Bagian hidung terdiri atas:
Os Lacrimal (tulang mata) letaknya disebelah kiri/kanan pangkal
hidung di sudut mata. Os Nasal (tulang hidung) yang membentuk
batang hidung sebelah atas. Os. Konka nasal (tulang karang hidung),
letaknya di dalam rongga hidung dan bentuknya berlipat-lipat. Septum
nasi (sekat rongga hidung) adalah sambungan dari tulang tapis yang
tegak (Boeis, 2002).
2. Bagian rahang terdiri atas tulang-tulang seperti :
Os Maksilaris (tulang rahang atas), Os Zigomatikum, tulang pipi yang
terdiri dari dua tulang kiri dan kanan. Os Palatum atau tulang langit-
langit, terdiri dari dua buah tulang kiri dan kanan. Os Mandibularis
atau tulang rahang bawah, terdiri dari dua bagian yaitu bagian kiri dan
kanan yang kemudian bersatu di pertengahan dagu. Dibagian depan
dari mandibula terdapat processus coracoid tempat melekatnya otot
(Boeis, 2002).
Secara umum tulang tengkorak atau kraniofasial terbagi menjadi dua
bagian yaitu neurocranium adalah tulang-tulang yang membungkus
otak dan viscerocranium adalah tulang-tulang yang membentuk wajah
atau maksilofasial (James & Leslie, 2010)
3. Neurocranium dibentuk oleh
a. Os frontalis
b. Os parietalis
c. Ostemporalis
d. Os Sphenoidalis
e. Os Oksipitalis
f. Os Etmoidalis
Neurocranium terdiri atas tulang-tulang pipih yang berhubungan satu
dengan yang lain melalui sutura-sutura. Tulang-tulang yang tebal
berhubungan dengan tulang-tulang berdinding tipis. Tulang-tulang
pembentuk wajah atau viscerocranium terdiri atas tulang-tulang yang
berbentuk tonjolan dan lengkungan yang sangat rentan untuk terjadi
fraktur jika mendapatkan suatu trauma. Tulang-tulang tersebut
dihubungkan oleh sutura-sutura yang juga dapat menjadi pola atau
garis fraktur.

Gambar 2. Tulang-tulang Kraniofasial (James & Leaslie, 2010)

4. Viscerocranium dibentuk oleh


a. Os Maksilaris
b. Os Palatinum
c. Os. Nasalis
d. Os Lakrimalis
e. Os Zygomatikum
f. Os Konka Nasal Inferio
g. Vomer
h. Os Mandibularis
Tulang-tulang kraniofasila terdiri atas tulang yang memilikiketebalan
berbeda. Tulang dengan struktur yang tebal disebut sebagai ‘buttress’
yang menopang atau menyangga proporsi kraniofasial dalam ukuran
tinggi, lebar dan proyeksi antero-posterior. Buttress pada maksila
meliputi tulang nasomaksilaris pada medial, tulang
zigomatikomaksilaris pada lateral dan tulang pterygomaksilaris pada
posterior. Ketiga buttress ini menghasilkan suatu sistem penyangga
unit-unit fungsi pada oral, nasal, dan orbital (Miloro, 2004)

Gambar 3. Buttress Ventrikal dan Horizontal (Miloro, 2004)

C. Klasifikasi fraktur maksilofacial


Klasifikasi dari fraktur maksilofasial itu sendiri terdiri atas beberapa
fraktur yakni fraktur kompleks nasal, fraktur kompleks zigomatikus -
arkus zigomatikus, fraktur dento-alveolar, fraktur mandibula dan fraktur
maksila yang terdiri atas fraktur le fort I, II, dan III.
1. Fraktur Komplek Nasal
Tulang hidung sendiri kemungkinan dapat mengalami fraktur , tetapi
yang lebih umum adalah bahwa fraktur-fraktur itu meluas dan
melibatkan proses frontal maksila serta bagian bawah dinding medial
orbital. Fraktur daerah hidung biasanya menyangkut septum hidung.
Terkadang tulang rawan septum hampir tertarik ke luar dari alurnya
pada vomer dan plat tegak lurus serta plat kribriform etmoid mungkin
juga terkena fraktur.
Perpindahan tempat fragmen-fragmen tergantung pada arah gaya
fraktur. Gaya yang dikenakan sebelah lateral hidung akan
mengakibatkan tulang hidung dan bagian-bagian yang ada
hubungannya dengan proses frontal maksila berpindah tempat ke satu
sisi.

Gambar 4. Fraktur kompleks nasal terdiri dari sebuah pertemuan beberapa tulang: (1)
tulang frontal, (2) tulang hidung, (3) tulang rahang atas, (4) tulang lakrimal, (5) tulang
ethmoid, dan (6) tulang sphenoid

2. Fraktur Komplek Zigoma


Tulang zigomatik sangat erat hubungannya dengan tulang maksila,
tulang dahi serta tulang temporal, dan karena tulang-tulang tersebut
biasanya terlibat bila tulang zigomatik mengalami fraktur, maka lebih
tepat bila injuri semacam ini disebut “fraktur kompleks zigomatik”.
Tulang zigomatik biasanya mengalami fraktur didaerah zigoma beserta
suturanya, yakni sutura zigomatikofrontal, sutura zigomakotemporal,
dan sutura zigomatikomaksilar. Suatu benturan atau pukulan pada
daerah inferolateral orbita atau pada tonjolan tulang pipi merupakan
etiologi umum. Arkus zigomatik dapat mengalami fraktur tanpa
terjadinya perpindahan tempat dari tulang zigomatik.
Gambar 5. Pandangan frontal dari fraktur zigomatik kompleks (kiri) dan pandangan
submentoverteks dari fraktur zigomatik (kanan)

Meskipun fraktur kompleks zigomatik sering disebut fraktur ”tripod”,


namun fraktur kompleks zigomatik merupakan empat fraktur yang
berlainan. Keempat bagian fraktur ini adalah arkus zigomatik, tepi
orbita, penopang frontozigomatik, dan penopang zigomatiko-rahang
atas. Arkus zigomatikus bisa merupakan fraktur yang terpisah dari
fraktur zigoma kompleks. Fraktur ini terjadi karena depresi atau
takikan pada arkus, yang hanya bisa dilihat dengan menggunakan film
submentoverteks dan secara klinis berupa gangguan kosmetik pada
kasus yang tidak dirawat, atau mendapat perawatan yang kurang baik.
3. Fraktur Dentoalveolar
Injuri dento-alveolar terdiri dari fraktur, subluksasi atau terlepasnya
gigi-gigi (avulsi), dengan atau tanpa adanya hubungan dengan fraktur
yang terjadi di alveolus, dan mungkin terjadi sebagai suatu kesatuan
klinis atau bergabung dengan setiap bentuk fraktur lainnya. Salah satu
fraktur yang umum terjadi bersamaan dengan terjadinya injuri wajah
adalah kerusakan pada mahkota gigi, yang menimbulkan fraktur
dengan atau tanpa terbukanya saluran pulpa.
Gambar 6. A. Infraksi Mahkota, B. Fraktur mahkota terbatas pada enamel dan dentin
(fraktur mahkota sederhana), C. Fraktur mahkota langsung melibatkan pulpa (fraktur
mahkota terkomplikasi), D. Fraktur akar sederhana, E. Fraktur mahkota-akar
terkomplikasi, F. Fraktur akar horizontal

Injuri fasial sering menekan jaringan lunak bibir atas pada gigi
insisor,sehingga menyebabkan laserasi kasar pada bagian dalam bibir
atas dan kadang-kadang terjadi luka setebal bibir. Sering kali injuri
semacam ini menghantam satu gigi atau lebih, sehingga pecahan
mahkota gigi atau bahkan seluruh gigi yang terkena injuri tersebut
tertanam di dalam bibir atas. Pada seorang pasien yang tidak sadarkan
diri pecahan gigi yang terkena fraktur atau gigi yang terlepas sama
sekali mungkin tertelan pada saat terjadi kecelakaan, sehingga
sebaiknya jika terdapat gigi atau pecahan gigi yang hilang setelah
terjadinya injuri fasial agar selalu membuat radiograf dada pasien,
terutama jika terjadi kehilangan kesadaran pada saat terjadinya
kecelakaan. Fraktur pada alveolus dapat terjadi dengan atau tanpa
adanya hubungan dengan injuri pada gigi-gigi. Fraktur tuberositas
maksilar dan fraktur dasar antrum relatif merupakan komplikasi yang
umum terjadi pada ilmu eksodonti.
Gambar 7. Cedera tulang alveolar. A. Fraktur dinding tunggal dari alveolus, B. Fraktur
dari prosesus alveolar

4. Fraktur Maksila
Klasifikasi fraktur maksilofasial yang keempat adalah fraktur maksila,
yang mana fraktur ini terbagi atas tiga jenis fraktur, yakni ; fraktur Le
Fort I, Le Fort II, Le Fort III. Dari beberapa hasil penelitian
sebelumnya, insidensi dari fraktur maksila ini masing-masing sebesar
9,2% dan 29,85%.
a. Fraktur Le Fort I
Fraktur Le Fort I dapat terjadi sebagai suatu kesatuan tunggal atau
bergabung dengan fraktur-fraktur Le Fort II dan III. Pada Fraktur
Le Fort I, garis frakturnya dalam jenis fraktur transverses rahang
atas melalui lubang piriform di atas alveolar ridge, di atas lantai
sinus maksilaris, dan meluas ke posterior yang melibatkan
pterygoid plate. Fraktur ini memungkinkan maksila dan palatum
durum bergerak secara terpisah dari bagian atas wajah sebagai
sebuah blok yang terpisah tunggal. Fraktur Le Fort I ini sering
disebut sebagai fraktur transmaksilari.
b. Fraktur Le Fort II
Fraktur Le Fort II lebih jarang terjadi, dan mungkin secara klinis
mirip dengan fraktur hidung. Bila fraktur horizontal biasanya
berkaitan dengan tipisnya dinding sinus, fraktur piramidal
melibatkan sutura-sutura. Sutura zigomatimaksilaris dan
nasofrontalis merupakan sutura yang sering terkena. Seperti pada
fraktur Le Fort I, bergeraknya lengkung rahang atas, bias
merupakan suatu keluhan atau ditemukan saat pemeriksaan.
Derajat gerakan sering tidak lebih besar dibanding fraktur Le Fort
I, seperti juga gangguan oklusinya tidak separah pada Le Fort I.
c. Fraktur Le Fort III
Fraktur craniofacial disjunction, merupakan cedera yang parah.
Bagian tengah wajah benar-benar terpisah dari tempat
perlekatannya yakni basis kranii. Fraktur ini biasanya disertai
dengan cedera kranioserebral, yang mana bagian yang terkena
trauma dan besarnya tekanan dari trauma yang bisa mengakibatkan
pemisahan tersebut, cukup kuat untuk mengakibatkan trauma
intrakranial.

Gambar 8. Fraktur Le Fort I, Le Fort II, Le Fort III

5. Fraktur Mandibula
Fraktur mandibula merupakan akibat yang ditimbulkan dari trauma
kecepatan tinggi dan trauma kecepatan rendah. Fraktur mandibula
dapat terjadi akibat kegiatan olahraga, jatuh, kecelakaan sepeda
bermotor, dan trauma interpersonal. Di instalasi gawat darurat yang
terletak di kota-kota besar, setiap harinya fraktur mandibula
merupakan kejadian yang sering terlihat. Pasien kadang-kadang datang
pada pagi hari setelah cedera terjadi, dan menyadari bahwa adanya rasa
sakit dan maloklusi.
Pasien dengan fraktur mandibula sering mengalami sakit sewaktu
mengunyah, dan gejala lainnya termasuk mati rasa dari divisi ketiga
dari saraf trigeminal. Mobilitas segmen mandibula merupakan kunci
penemuan diagnostik fisik dalam menentukan apakah si pasien
mengalami fraktur mandibula atau tidak. Namun, mobilitas ini bisa
bervariasi dengan lokasi fraktur. Fraktur dapat terjadi pada bagian
anterior mandibula (simpisis dan parasimpisis), angulus mandibula,
atau di ramus atau daerah kondilar mandibula.

Gambar 9. Fraktur Mandibula

Kebanyakan fraktur simfisis, badan mandibula dan angulus mandibula


merupakan fraktur terbuka yang akan menggambarkan mobilitas
sewaktu dipalpasi. Namun, fraktur mandibula yang sering terjadi disini
adalah fraktur kondilus yang biasanya tidak terbuka dan hanya dapat
hadir sebagai maloklusi dengan rasa sakit. Dalam beberapa penelitian
sebelumnya, dikatakan bahwa fraktur mandibula merupakan fraktur
terbanyak yang terjadi akibat kecelakaan lalu lintas pada pengendara
sepeda motor, dengan masing-masing persentase sebesar 51% dan
72,8%.

D. Etiologi
Ada banyak faktor etiologi yang menyebabkan fraktur maksilofasial itu dapat
terjadi, seperti kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja , kecelakaan akibat
olah raga, kecelakaan akibat peperangan dan juga sebagai akibat dari
tindakan kekerasan(utamanya kekerasan dalam rumah tangga, khusu bagi ibu
rumahtangga yang mengalami fraktur atau trauma pada bagian tulang
maksilofacial). Tetapi penyebab terbanyak adalah kecelakaan lalu lintas.
Terjadinya kecelakaan lalu lintas ini biasanya sering terjadi pada pengendara
sepeda motor. Kecelakaan lalulintas merupakan penyebab utama terjadinya
trauma maksilofasial. Beberapa literatur bahasa Inggris melaporkan bahwa
terdapat hubungan antara posisi duduk pengemudi atau penggunaan sistem
penahan terhadap keparahan dari cedera maksilofasial yang dialami pasien
kecelakaan lalulintas (Yokoyoma dkk, 2006). Hal ini dikarenakan kurangnya
perhatian tentang keselamatan jiwa mereka pada saat mengendarai sepeda
motor di jalan raya, seperti tidak menggunakan pelindung kepala (helm),
kecepatan dan rendahnya kesadaran tentang etika berlalu lintas.

E. Tanda dan Gejala


Secara umum fraktur memiliki tanda dan gejala berikut:
1. Adanya trauma
2. Nyeri karena pembengkakan
3. Gangguan fungsi tulang yang fraktur atau anggota gerak
4. Deformitas
5. Krepitasi
Mobilitas dan maloklusi merupakan hallmark adanya fraktur maksila.
Namun, kurang dari 10 % fraktor Le Fort dapat terjadi tanpa mobilitas
maksila. Gangguan oklusal biasanya bersifat subtle, ekimosis kelopak mata
bilateral biasanya merupakan satu-satunya temuan fisik. Hal ini dapat terjadi
pada Le Fort II dan III dimana disrupsi periosteum tidak cukup untuk
menimbulkan mobilitas maksila.
1. Pada inspeksi didapatkan epistaksis, ekimosis (periorbital,
konjungtival,dan skleral), edema, dan hematoma subkutan mengarah pada
fraktur segmen maksila ke bawah dan belakang mengakibatkan terjadinya
oklusi prematur pada pergigian posterior.
2. Pada pemeriksaan palpasi bilateral dapat menunjukkan step deformity
pada sutura zygomaticomaxillary, mengindikasikan fraktur pada rima
orbital inferior.
3. Manipulasi digital dengan obilitas maksila dapat ditunjukkan dengan cara
memegang dengan kuat bagian anterior maksila diantara ibu jari dengan
keempat jari lainnya, sedangkan tangan yang satunya menjaga agar
kepala pasien tidak bergerak. Jika maksila digerakkan maka akan
terdengar suara krepitasi jika terjadi fraktur.
4. Cairan serebrospinal dapat mengalami kebocoran dari fossa kranial
tengah atau anterior (pneumochepalus) yang dapat dilihat pada kanal
hidung ataupun telinga. Fraktur pada fossa kranial tengah atau anterior
biasanya terjadi pada cedera yang parah. Hal tersebut dapat dilihat
melalui pemeriksaaan fisik dan radiografi.
5. Jika mandibula utuh, adanya maloklusi gigi menunjukkan dugaan kuat ke
arah fraktur maksila. Informasi tentang kondisi gigi terutama pola oklusal
gigi sebelumnya akan membantu diagnosis dengan tanda maloklusi ini.
Pada Le Fort III pola oklusal gigi masih dipertahankan, namun jika
maksila berotasi dan bergeser secara signifikan ke belakang dan bawah
akan terjadi maloklusi komplit dengan kegagalan gigi-gigi untuk kontak
satu sama lain.

F. Patofisiologi
Patah tulang akan menyebabkan kerusakan di korteks, pembuluh darah,
sumsum tulang dan jaringan lunak sehingga menyebabkan perdarahan,
kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan
hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periostium dengan
jaringan tulang yang mengalami fraktur. Terjadinya respon inflamasi akibat
sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma
dan leukosit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses
penyembuhan untuk memperbaiki cidera, tahap ini menunjukkan tahap awal
penyembuhan tulang. Hematom yang terbentuk bisa menyebabkan
peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang
pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh
darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematom menyebabkan
dilatasi kapiler diotot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian
menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein
plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya
edema, sehingga mengakibatkan pembuluh darah menyempit dan terjadi
penurunan perfusi jaringan.

G. Pemeriksaan Penunjang
Pada pasien dengan trauma wajah, pemeriksaan radiografis diperlukan untuk
memperjelas suatu diagnosa klinis serta untuk mengetahui letak fraktur.
Pemeriksaan radiografis juga dapat memperlihatkan fraktur dari sudut dan
perspektif yang berbeda. Pemeriksaan radiografis pada mandibula biasanya
memerlukan foto radiografis panoramic view, open-mouth Towne’s view,
postero-anterior view, lateral oblique view. Biasanya bila foto-foto diatas
kurang memberikan informasi yang cukup, dapat juga digunakan foto oklusal
dan periapikal.
Computed Tomography (CT) scan dapat juga memberi informasi bila terjadi
trauma yang dapat menyebabkan tidak memungkinkannya dilakukan teknik
foto radiografis biasa. Banyak pasien dengan trauma wajah sering menerima
atau mendapatkan CT-scan untuk menilai gangguan neurologi, selain itu CT-
scan dapat juga digunakan sebagai tambahan penilaian radiografi.
Pemeriksaan radiografis untuk fraktur sepertiga tengah wajah dapat
menggunakan Water’s view, lateral skull view, posteroanterior skull view, dan
submental vertex view.
Gambar 10. Beberapa proyeksi radiografi untuk menilai fraktur mandibula.
A. Proyeksi posterior-anterior menunjukkan fraktur pada daerah angle mandibula
(panah).
B. Proyeksi oblik lateral menunjukkan fraktur pada daerah angle mandibula (panah).
C. Proyeksi Towne menunjukkan adanya pergeseran fraktur kondilar (panah).
D. Foto panoramik menunjukkan fraktur yang bergeser pada cébela kiri badan
mandibula dan fraktur subkondilar cébela kanan (panah) (Hupp dkk, 2008).
Gambar 11. Gambaran CT-Scan (Hupp dkk, 2008).
A. Gambaran tomografi menunjukkan kerusakan dasar orbita (panah).
B. CT scan menunjukkan kerusakan dari dinding medial dan dasar orbita
kanan

Dengan kemajuan tehnologi saat ini, dengan dikembangkannya CT Scan tiga


dimensi akan memberikan peran yang lebih baik dalam menentukan keadaan fraktur
dalam hal ada atau tidaknya displacement tulang (Tawfilis, 2006).

Gambar 12.Radiografi digital imaging 3D (Tawfilis, 2006)


H. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Gawat Darurat
Survey awal digunakan untuk melihat kondisi sistemik pasien dan
prioritas perawatan pasien berdasarkan luka, tanda-tanda vital, dan
mekanisme terjadinya luka. Advance Trauma Life Support (ATLS)
yang dianjurkan oleh American College of Surgeon ialah perawatan
trauma ABCDE.
A. Airway maintenance with cervical spine control/ protection
1. Menghilangkan fragmen-fragmen gigi dan tulang yang fraktur.
2. Memudahkan intubasi endotrakeal dengan mereposisi segmen
fraktur wajah untuk membuka jalan nafas oral dan
nasofaringeal.
3. Stabilisasi sementara posisi rahang bawah ke arah posterior
dengan fraktur kedua kondilus dan simfisis yang menyebabkan
obstruksi jalan nafas atas.
B. Breathing and adequate ventilation
Stabilisasi sementara posisi fraktur rahang bawah ke arah posterior
dengan fraktur kedua kondilus dan simfisis yang menyebabkan
obstruksi jalan nafas pada pasien yang sadar.
C. Circulation with control of hemorrhage
1. Kontrol perdarahan dari hidung atau luka intraoral untuk
meningkatkan jalan nafas dan mengontrol perdarahan.
2. Menekan dan mengikat perdarahan pembuluh wajah dan
perdarahan di kepala.
3. Menempatkan pembalut untuk mengontrol perdarahan dari
laserasi wajah yang meluas dan perdarahan kepala.
D. Disability: neurologic examination
1. Status neurologis ditentukan oleh tingkat kesadaran, ukuran
pupil, dan reaksi.
2. Trauma periorbital dapat menyebabkan luka pada okular secara
langsung maupun tidak langsung yang dapat dilihat dari ukuran
pupil, kontur, dan respon yang dapat mengaburkan
pemeriksaan neurologis pada pasien dengan sistem saraf pusat
yang utuh.
3. Menentukan perubahan pupil pada pasien dengan perubahan
sensoris (alkohol atau obat) yang tidak berhubungan dengan
trauma intrakranial.
E. Exposure/ enviromental control
1. Menghilangkan gigi tiruan, tindikan wajah dan lidah.
2. Menghilangkan lensa kontak.
Selanjutnya pemeriksaan GCS perlu dilakukan. Pada
umumnya, Glasgow Coma Scale (GCS) digunakan untuk
memeriksa kesadaran yang dilakukan untuk mengetahui ada
tidaknya gangguan neurologis pada saat pertama kali terjadi trauma
maksilofasial. Ada tiga variabel yang digunakan pada skala ini,
yaitu respon membuka mata, respon verbal, dan respon motorik.
2. Perawatan Definitif
Perawatan definitif fraktur panfasial dilakukan setelah keadaan umum
pasien lebih baik, terkontrol dan telah melewati masa krisis melalui
perawatan gawat darurat. Tujuan dari perawatan fraktur panfasial
adalah merehabilitasi jaringan yang terkena, mengurangi rasa sakit,
penyembuhan tulang, serta perbaikan oklusi gigi. Sebelum
merencanakan perawatan terlebih dahulu perhatikan (Fonseca, 2005):
a. Lokasi dan luasnya fraktur
b. Struktur yang terluka atau terlibat di sepanjang fraktur
c. Jumlah kehilangan jaringan lunak, meliputi kulit, mukosa dan saraf
d. Luas kehilangan tulang
e. Keadaan trauma dentoalveolar
Perawatan jenis trauma yang kompleks ini merupakan rangkuman dari
seluruh perbaikan dari semua fraktur fasial dan kranial yang
individual. Dibutuhkan perencanaan yang baik untuk meminimalkan
operasi ulang dan lamanya perawatan di rumah sakit. Koreksi definitif
pada pasien dengan trauma kraniofasial yang kompleks secara ideal
dilakukan dalam 5-7 hari. Beberapa penulis menganjurkan untuk
fiksasi primer pada 12-48 jam paska trauma. Namun dalam jangka
waktu tersebut seringkali tidak cukup untuk memperoleh pemeriksaan
radiologis, dan pengelolaan gigi geligi yang adekuat terutama pada
pasien dalam keadaan koma dan tidak kooperatif.
Pada periode tersebut jaringan lunak berada dalam keadaan
pembengkakan sehingga pengelolaan operatif pada saat itu akan
menyebabkan proyeksi wajah dan kesimetrisan wajah sulit dicapai.
Selain itu adanya rhinorrhoea serebrospinal atau aerocele intrakranial
merupakan alasan lain keterlambatan perawatan (Miloro, 2004). Seringkali
pasien tersebut membutuhkan waktu lebih dari tiga minggu untuk
pengelolaan life-saving yang ekstensi terhadap trauma ekstrakranial. Pada
banyak kasus keterlambatan koreksi seringkali menyebabkan telah
terjadinya union pada tulang dan kontraktur jaringan lunak sehingga
diperlukan diseksi jaringan lunak yang ekstensif untuk mendapatkan
pemaparan tulang yang baik dalam rangka reduksi dan fiksasi fraktur
tulang. Selain itu diperlukan osteotomi pada garis fraktur akibat telah
terjadinya penyatuan tulang (Tawfilis, 2006)
Kunci utama dalam penatalaksanaan fraktur panfasial adalah untuk
mendapatkan fiksasi dan stabilisasi yang cukup stabil pada daerah-daerah
yang tidak stabil. Rekonstruksi harus meliputi arah 3 dimensi yaitu
vertikal, horisontal dan transversal. Terdapat dua prinsip umum untuk
penatalaksanaan fraktur panfasial yaitu dengan tehnik bottom to top (dari
bawah ke atas) atau top to bottom (dari atas ke bawah) (Miloro, 2004).
Apabila kranium frontalis masih intak atau terdapat fraktur pada fossa
kranial anterior atau fronto-orbital bar tanpa adanya kehilangan tulang
atau dimana struktur-struktur tulang tersebut di atas telah
terekonstruksi dengan kuat, regio midfasial dapat direkonstruksi dalam
arah atas ke bawah. Namun bila terdapat diskontinuitas pada lengkung
mandibula, hilangnya tulang pada tulang kranial dan diskontinuitas pada
dasar fosa kranial anterior atau hilangnya titik referensi, pendekatan
dilakukan dalam arah bawah ke atas. Hal ini dilakukan agar rekonstruksi
pada mandibula dapat menghasilkan hubungan yang intak dalam
mereposisi maksila. Selain itu bila basis kranial frontalis diperbaiki
dan dilekatkan terhadap tengah wajah dapat menaikkan resiko
kerusakan atau perubahan letak terhadap fosa kranialis anterior yang
telah diperbaiki (Miloro, 2004).
Pada tehnik bottom to top, rekonstruksi dimulai dari mandibula. Bila
lengkung mandibula terganggu harus diperbaiki terlebih dahulu. Fraktur
pada kondilus baik unilateral maupun bilateral memerlukan reduksi segera
dan fiksasi internal untuk mempertahankan ketinggian fasial. Setelah
mandibula terkoreksi dengan baik, maksila yang mengalami disimpaksi
dapat dikoreksi dengan menyesuaikan oklusi pada rahang bawah dan
dilakukan fiksasi intermaksilaris. Perbaikan dapat dilanjutkan dalam
arah atas ke bawah dan bertemu dengan segmen maksilomandibula yang
telah terfiksasi. Bila terdapat fraktur sagital pada maksila dilakukan
reduksi dan fiksasi untuk mendapatkan kembali lengkung maksila
sehingga koreksi terhadap lebar wajah tengah dapat tercapai. Fiksasi
dapat dilakukan dengan menempatkan miniplate secara transversal pada
maksila. Kerugian pada tehnik bottom to up adalah untuk rekonstruksi
dilakukan dimulai dari jarak yang cukup jauh dari elemen simetris yang
stabil yaitu basis kranial. Ketidakakuratan dalam mereduksi dan
mereposisi fraktur kondilus akan menyebabkan asimetri wajah (Miloro,
2004).
Pada tehnik top to bottom, rekonstruksi pertama-tama pada bagian luar
rangka fasial (outer facial frame) pada fraktur panfasial yaitu meliputi
lengkung zygomatik, kompleks malar dan tulang frontalis. Kemudian
rekonstruksi dilakukan pada bagian dalam rangka fasial (inner facial
frame) atau pada kompleks naso-orbitho-ethmoidal, sutura
zygomatikofrontalis dan orbital rim. Setelah itu dilakukan rekonstruksi
pada maksila pada Le Fort I dengan menggunakan plat pada buttress.
Kemudian reposisi pada fraktur mandibula dan diakhiri dengan fiksasi
intermaksilaris (Miloro, 2004)

Gambar 13. Teknik Bottom Up (Miloro, 2004)


Gambar 14. Teknik top to bottom (Miloro, 2004)

Cangkok tulang biasanya dilakukan untuk merekonstruksi dinding


orbital dan hidung. Selain itu cangkok tulang dilakukan untuk koreksi
sekunder bila dibutuhkan untuk menambah kontur pada regio tertentu
dan memperbaiki kesimetrisan wajah. (Miloro, 2004).
Gambar 15. Bone graft pada dinding sinus maksila anterior (Miloro, 2004)
Berbagai macam insisi dilakukan untuk mendapatkan pemaparan tulang
yang mengalami fraktur dan merekonstruksinya antara lain dengan
insisi koronal, insisi pada kelopak mata bagian bawah, periorbital, sulkus
gingivobukal, preaurikular, retromandibular atau submandibular. Insisi
koronal akan dapat memberikan pemaparan yang lebih luas pada tulang
kranium dan rangka kraniofasial bagian atas. Selain itu insisi ini dapat
memberikan akses yang optimal untuk dapat mereduksi dan memfiksasi
fragmen tulang. (Miloro, 2004)

I. Komplikasi
Komplikasi awal fraktur maksila dapat berupa pendarahan ekstensif serta
gangguan pada jalan nafas akibat pergeseran fragmen fraktur, edema, dan
pembengkakan soft tissue. Infeksi pada luka maksilari lebih jarang
dibandingkan pada luka fraktur mandibula. Padahal luka terkontaminasi
saat tejadi cedera oleh segmen gigi dan sinus yang juga mengalami fraktur.
Infeksi akibat fraktur yang melewati sinus biasanya tidak akan terjadi
kecuali terdapat obstruksi sebelumnya. Pada Le Fort II dan III, daerah
kribiform dapat pula mengalami fraktur, sehingga terjadi rhinorrhea cairan
serebrospinal. Selain itu, kebutaan juga dapat terjadi akibat pendarahan
dalam selubung dural nervus optikus. Komplikasi akhir dapat berupa
kegagalan penyatuan tulang yang mengalami fraktur, penyatuan yang
salah, obstruksi sistem lakrimal, anestesia/hipoestesia infraorbita,
devitalisasi gigi, ketidakseimbangan otot ekstraokuler, diplopia, dan
enoftalmus. Kenampakan wajah juga dapat berubah (memanjang, retrusi).
1. Komplikasi Awal
a. Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan
masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka,
tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan
seperti pin dan plat.
b. Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang
rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan
diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia.
c. Syok
Syok terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya
permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya
oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.
2. Komplikasi dalam Waktu Lama
a. Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini
disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang.
b. Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan
memproduksi sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-
9 bulan. Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang
berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau
pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang
kurang.
c. Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan
meningkatnya tingkat kekuatan dan perubahan bentuk
(deformitas). Malunion dilakukan dengan pembedahan dan
reimobilisasi yang baik.
J. Clinical Pathway

Gangguan perfusi
Gangguan integritas kulit
jaringan perifer
Pembengkakan (tumor) Penekanan
dan kemerahan (rubor) pembuluh darah

Nyeri Akut edema

Pengeluaran mediator kimia Protein plasma hilang


Hipertermi (histamin)

Pengeluaran bradikinin dan


Peningkatan suhu
berikatan dengan nociceptor
tubuh
Ketidakseimbangan
Resiko infeksi Reaksi inflamasi nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Ada port de entry Pengumpulan darah
(hematoma) Resiko syok
Laserasi kulit
Kehilangan
Pembuluh darah
volume cairan
deformitas terputus (perdarahan)

Fraktur Maxillofasial
Pergesaran tulang (kerusakan fragmen Pasien tidak Intake tidak
tulang dan cedera bisa makan adekuat
jaringan lunak)

Trauma langsung Trauma tidak langsung

Faktor patologis
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Keluhan Utama
Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien untuk meminta
pertolongan kesehatan tergantung dari seberapa jauh dampak trauma
pada daerah wajah akibat kecelakaan.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Adanya riwayat trauma yang mengenai kepala akibat dari kecelakaan
lalu lintas atau jatuh dari ketinggian, atau bahkan trauma langsung ke
wajah. Lima pertanyaan yang harus diketahui untuk mengetahui
riwayat penyakit pasien penderita fraktur maksilofasial ialah:
a. Bagaimana kejadiannya?
b. Kapan kejadiannya?
c. Spesifikasi luka, termasuk tipe objek yang terkena, arah terkena,
dan alat yang kemungkinan dapat menyebabkannya?
d. Apakah pasien mengalami hilangnya kesadaran?
e. Gejala apa yang sekarang diperlihatkan oleh pasien, termasuk
nyeri, sensasi, perubahan penglihatan, dan maloklusi?
Jejas pada sepertiga wajah bagian atas dan kepala biasanya
menimbulkan keluhan sakit kepala, kaku di daerah nasal, hilangnya
kesadaran, dan mati rasa di daerah kening. Jejas pada sepertiga tengah
wajah menimbulkan keluhan perubahan ketajaman penglihatan,
diplopia, perubahan oklusi, trismus, mati rasa di daerah paranasal dan
infraorbital, dan obstruksi jalan nafas. Jejas pada sepertiga bawah
wajah menimbulkan keluhan perubahan oklusi, nyeri pada rahang,
kaku di daerah telinga, dan trismus.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya pembedahan
terdahulu yang pernah dialami klien, penggunaan obat-obatan
antikoagulan, dan konsumsi alkohol berlebih. Kaji kemungkinan klien
terhadap adanya alergi dan riwayat imunisasi terdahulu

4. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan klinis pada struktur wajah terpenuhi setelah seluruh
pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan jantung dan paru, fungsi
neurologis, dan area lain yang berpotensi terkena trauma, termasuk
dada, abdomen, dan area pelvis. Evaluasi pada wajah dan kranium
secara hati-hati untuk melihat adanya trauma seperti laserasi, abrasi,
kontusio, edema atau hematoma. Ekimosis di periorbital, terutama
dengan adanya perdarahan subkonjungtiva, merupakan sebagai indikas
dari adanya fraktur zigomatikus kompleks dan fraktur rima orbita.

Gambar 16. Hematoma pada Orbita Sinistra Pasien Fraktur Maksilofasial

Gambar 17 Ekimosis di Periorbital (Hupp et al., 2008)

Pemeriksaan neurologis pada wajah dievaluasi secara hati-hati dengan


memeriksa penglihatan, pergerakan ekstraokular, dan reaksi pupil
terhadap cahaya. Pemeriksaan mandibula dengan cara palpasi
ekstraoral semua area inferior dan lateral mandibula serta sendi
temporomandibular. Pemeriksaan oklusi untuk melihat adanya laserasi
pada area gingiva dan kelainan pada bidang oklusi. Untuk menilai
mobilisasi maksila, stabilisasi kepala pasien diperlukan dengan
menahan kening pasien menggunakan salah satu tangan. Kemudian ibu
jari dan telunjuk menarik maksila secara hati-hati untuk melihat
mobilisasi maksila.

Gambar 18 Pemeriksaan Mobilisasi Maksila (Hupp et al., 2008)

Pemeriksaan regio atas dan tengah wajah dipalpasi untuk melihat


adanya kerusakan di daerah sekitar kening, rima orbita, area nasal atau
zigoma. Penekanan dilakukan pada area tersebut secara hati-hati untuk
mengetahui kontur tulang yang mungkin sulit diprediksi ketika adanya
edema di area tersebut. Untuk melihat adanya fraktur zigomatikus
kompleks, jari telunjuk dimasukan ke vestibula maksila kemudian
palpasi dan tekan kearah superior lateral.

5. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan fragmen tulang
b. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan
penekanan pembuluh darah akibat edema
c. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake inadekuat
d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan
e. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
f. Risiko syok berhuungan dengan perdarahan aktif
g. Risiko infeksi berhubungan dengan adanya luka terbuka
6. Perencanaan Keperawatan
No. Masalah Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan Rasional
Nyeri akut berhubungan dengan NOC: NIC:
kerusakan fragmen tulang Pain Level Pain Management Pain Management
Pain Control 1. Kaji secara menyeluruh 1. Untuk mengetahui gambaran
tentang nyeri (PQRST) rasa nyeri yang dialami oleh
Setelah dilakukan tindakan pasien
keperawatan selama 2 x 24 jam 2. Observasi isyarat-isyarat 2. Menggali kualitas nyeri
pasien dapat: nonverbal dari yang dirasakan oleh pasien
a. Nyeri dada berkurang ketidaknyamanan dan memvalidasi gambaran
misalnya dari skala 3 ke 2, nyeri yang dirasakan oleh
atau dari 2 ke 1 pasien
b. ekpresi wajah rileks, tenang, 3. Gunakan komunikasi 3. Membina hubungan saling
tak tegang, tidak gelisah terapeutik agar klien dapat percaya dengan pasien agar
c. Frekuensi nadi 60-100 mengekspresikan nyeri pasien dapat leluasa
x/menit mengungkapkan
d. TD 120/ 80 mmHg keluhannya.
e. Melakukan manajemen nyeri 4. Tentukan dampak dari 4. Mengkaji kebutuhan lain
non-farmakologis ekspresi nyeri terhadap yang belum terpenuhi akibat
f. Menggunakan analgetik kualitas hidup nyeri.
g. Melaporkan gejala-gejala 5. Kontrol faktor-faktor 5. Meminimalkan
kepada tim kesehatan lingkungan yang dapat ketidaknyamanan klien atas
h. Nyeri terkontrol mempengaruhi respon klien lingkungan yang kurang
terhadap ketidaknyamanan. mendukung perbaikan
6. Ajarkan teknik manajemen kebutuhan kenyamanannya.
nyeri non-farmakologis: 6. Mengurangi rasa nyeri tanpa
distraksi-relaksasi penggunaan obat.
7. Berikan analgetik sesuai 7. Mengurangi rasa nyeri jika
anjuran tim medis teknin non-farmakologis
kurang efektif.
Ketidakefektifan perfusi NOC: 1. Monitor frekuensi dan 1. pasien dengan tetanus
jaringan perifer berhubungan Perfusi Jaringan Perifer irama jantung mempunyai suara jantung
dengan penekanan pembuluh 2. Observasi perubahan tambahan apabila ada
darah akibat edema Setelah dilakukan tindakan status mental komplikasi
keperawatan selama 3x24 jam 3. Observasi warna dan 2. pasien dengan tetanus dapat
pasien menunjukkan perfusi suhu kulit atau hipoksia dengan penurunan
jaringan membaik kreiteria membran mukosa kesadaran
hasil: 4. Ukur haluaran urin dan 3. pasien dengan tetanus
a. Daerah perifer hangat catat berat jenisnya rentan mengalami
b. Tidak ada tanda-tanda penurunan perfusi jaringan
5. Kolaborasi : Berikan
sianosis 4. pasien dengan tetanus yang
cairan IV l sesuai
c. gambaran EKG tak berakibat pada gagal
indikasi
menunjukan perluasan infark jantung berisiko mengalami
6. Pantau Pemeriksaan
d. RR 16-24 x/ menit kelebihan volume cairan
diagnostik atau dan
e. tak terdapat clubbing finger dalam tubuhnya
laboratorium mis EKG,
f. kapiler refill 3-5 detik 5. pasien dengan tetanus
elektrolit, GDA ( Pa O2,
g. nadi 60-100x / menit terjadi ketidak
Pa CO2 dan saturasi O2).
h. TD 100-140 mmHg keseimbangan cairan
Dan Pemberian oksigen
6. pasien dengan tetanus
7. Ajarkan ROM mengalami perubahan
hemodinamik dan hasil
EKG yang abnormal
7. ROM dapat memperlancar
peredaran darah perifer
Ketidakseimbangan nutrisi: NOC: Nutritional status NIC:
kurang dari kebutuhan tubuh Setelah dilakukan tindakan Nutrition monitoring
berhubungan dengan intake keperawatan 1x24 jam nutrisi 1. Monitor berat badan 1. Memantau perkembangan
inadekuat (00002/hal. 177) pasien dapat terpenuhi pasien berat badan pasien
2. Monitor tipe dan jumlah 2. Aktivitas dapat membuat
Indikator: aktivitas yang biasa metabolisme meningkat
1. Mampu mengidentifikasi dilakukan 3. Memantau hidrasi
kebutuhan nutrisi 3. Monitor kulit kering dan 4. Lingkungan dapat
Tidak terdapat tanda-tanda perubahan pigmentasi mempengaruhi motivasi
malnutrisi 4. Monitor lingkungan untuk makan
selama makan 5. Monitor hidrasi
5. Monitor turgor kulit 6. Untuk memonitor masukan
6. Monitor kalori intake dan kalori pada klien
intake nutrisi

Nutrition Management
1. Kaji adanya alergi 1. Mencegah terjadinya alergi
makanan makanan
2. Berikan informasi tentang 2. Meningkatkan pengetahuan
kebutuhan nutrisi klien terkait pentingnya
3. Ajarkan pasien bagaimana pemenuhan nutrisi
membuat catatan makanan 3. Untuk memandirikan klien
harian dan membentuk pola hidup
4. Kolaborasi dengan ahli sehat pada klien
gizi untuk menentukan 4. Untuk pemenuhan gii klien
jumlah kalori dan nutrisi secara tepat
yang dibutuhkan pasien
Hipertermi berhubungan dengan NOC: Perawatan Demam (3740)
proses infeksi Thermoregulasi (0800) a. Pantau suhu dan tanda vital a. Untuk mengetahui kondisi
Hidrasi (0602) yang lainnya klien secara berkala
b. Monitoring warna kulit dan b.Mengetahui sejauh mana
Setelah dilakukan tindakan suhu tingkat peningkatan suhu dan
keperawatan 2 x 24 jam, suhu gambaran secara fisiologis
tubuh klien dapat kembali pengaruh dari peningkatan
normal dengan kriteria hasil: suhu terhadap kondisi klien
a. Klien melaporkan c. Mengkaji kebutuhan cairan
kenyamanan suhu c. Monitoring intake-output dan kehilangan cairan klien
b. Penurunan suhu ke batas cairan akibat adanya peningkatan
normal suhu
c. Perubahan denyut nadi ke d.Membantu memenuhi
batas normal d. Dorong klien untuk kebutuhan cairan tubuh yang
d. Status kesadaran meningkat peningkatan konsumsi hilang akibat peningkatan
e. Turgor kulit dalam batas cairan evaporasi
normal e. Meminimalkan risiko
f. Membran mukosa lembab e. Pantau kondisi pasien terjadinya kejang demam
untuk menghindari berulang
komplikasi dari demam f. Menurunkan suhu tubuh klien
f. Kolaborasi dengan tim hingga ke batas normal.
medis terkait pemberian
obat antipiretik

Pengaturan Suhu (3900)


a. Monitoring suhu setiap 2 a. Mengobservasi keadaan
jam umum klien agar tidak
terjadi kejang demam
berulang
b. Monitoring tanda vital b. Memantau perubahan tanda
lainnya: TD, nadi, RR vital lainnya bersamaan
dengan meningkatnya suhu
c. Tingkatkan intake cairan tubuh klien
dan nutrisi yang adekuat c. Membantu memenuhi
kebutuhan cairan yang
d. Ajarkan kepada klien dan hilang akibat peningkatan
keluarga tentang evaporasi
bagaimana mengatasi d. Membantu klien dan
demam di rumah keluarga untuk dapat
melakukan tindakan
pencegahan terjadinya
kejang demam berulang dan
membantu klien dan
keluarga untuk melakukan
e. Kolaborasi pemberian pertolongan pertama pada
antipiretik saat klien mengalmai
peningkatan suhu tubuh
e. Menurunkan suhu tubuh
klien hingga ke batas normal
menggunakan obat.
Risiko infeksi berhubungan NOC: NIC:
dengan adanya luka terbuka Status Nutrisi: Asupan nutrisi Perlindungan Infeksi Perlindungan Infeksi
1. Monitor adanya tanda- 1. Adanya salah satu dari
Setelah dilakukan tindakan tanda infeksi (REEDA) REEDA mengindikasikan
keperawatan selama 3 x 24 jam 2. Pertahankan teknik asepsis bahwasanya luka tersebut
risiko infeksi tidak menjadi pada pasien yang berisiko mengalami infeksi
actual dengan kriteria hasil: 3. Periksa kondisi luka 2. Meminimalkan peningkatan
a. Tidak ada tanda-tanda infeksi 4. Berikan perawatan luka kejadian infeksi nosocomial
(REEDA) 5. Anjurkan klien untuk 3. Mengkaji kondisi luka secara
b. Keluarga mampu meningkatkan konsumsi menyeluruh
menyebutkan dna protein 4. Membantu luka untuk
menerapkan pemenuhan 6. Kolaborasi dengan tim gizi bergranulasi
kebutuhan nutrisi yang baik terkait pemberian diit 5. Konsumsi protein yang
bagi luka TKTP tinggi dapat mempercepat
c. Granulasi pada daerah luka proses penyembuhan luka
6. Konsumsi tinggi protein
membantu mempercepat
proses granulasi
Risiko syok berhubungan Blood Loss Severity (0413) Manajemen Cairan (4120)
dengan perdarahan aktif Fluid Balance (0601) a. Monitoring intake-output d. Mengkaji kebutuhan
Hidration (0602) cairan cairan dan kehilangan cairan
Setelah dilakukan tindakan klien akibat adanya
keperawatan 1 x 24 jam, peningkatan suhu
kebutuhan cairan klien dapat b. Monitoring status hidrasi e. Mengkaji sejauh mana
kembali seimbang dengan klien tingkatan dehidrasi yang
kriteria hasil: dialami oleh klien
a. Penurunan perdarahan c. Monitoring perubahan f. Memantau perubahan tanda
(041307) tanda-tanda vital pada klien vital lainnya bersamaan
b. Tekanan darah dalam batas dengan meningkatnya suhu
normal (060101) d. Pertahankan intake cairan tubuh klien
c. Nadi kembali dalam batas per oral yang adekuat g.Mempertahankan pemenuhan
normal (060122) kebutuhan cairan yang hilang
d. Turgor kulit membaik e. Dorong keluarga untuk akibat peningkatan evaporasi
(060116) membantu klien dalam h.Melibatkan keluarga untuk
e. Mukosa kulit kembali lembab pemenuhan kebutuhan dapat mendukung klien dalam
(060117) cairan dan nutrisi yang pemenuhan kebutuhan cairan
f. Mempertahankan intake adekuat yang hilang akibat evaporasi
cairan yang adekuat (060215) berlebih

Pengurangan Perdarahan Pengurangan Perdarahan


a. Monitor perubahan tanda a. Memantau perubahan tanda
vital vital lainnya bersamaan
b. Lakukan pembebatan atau dengan meningkatnya suhu
penekanan pada pembuluh tubuh klien
darah b. Mengurangi perdarahan yang
c. Kolaborasi pemberian terjadi secara aktif untuk
transfusi sementara waktu
c. Mengganti jumlah darah
yang hilang akibat
perdarahan aktif
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek G.M., Butcher H.K., Dochterman J.M., Wagner C. 2013. Nursing


Interventions Classifications (NIC). 6th edition. Mosby: Elsevier Inc.

Gleadle, J. 2007. At a Glance: Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta:


Penerbit Erlangga.

Herdman, T. H. 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-2017.


Jakarta: EGC.

Hiatt James L.& Gartner Leslie P. 2010. Textbook of Head and Neck Anatomy, 4th
Edition. USA: Lippincott Williams & Wilkins.

Hupp JR, Ellis E, Tucker MR. 2008. Contemporary Oral and Maxillofacial
Surgery. Ed. Ke-5. St. Louis: Mosby Elsevier.

Capernito, Lynda Juall. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC.

Arif, Mansjoer, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Jakarta. Medica
Aesculpalus, FKUI.

Moorhead S., Johnson M., Maas M.L., Swanson E. 2013. Nursing Outcomes
Classifications (NOC): Measurement of Health Outcomes. 5th edition.
Mosby: Elsevier Inc.

Price & Wilson. 2012. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.


Jakarta: EGC

Smeltzer, S. Bare, B. Hinkle, J. & Cheever, K. 2010. Brunner & Suddarth’s


Textbook of Medical Surgical Nursing. 11th edition. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.

Waugh, A., Grant A. 2014. Ross and Wilson Anatomy & Physiology in Health and
Illness. 12th edition. Churchill Livingstone: Elseiver (China) Ltd.