Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH KEANEKARAGAMAN HAYATI

“POTENSI RUMPUT LAUT DALAM BIDANG FARMASI”

Dosen :

Saiful Bahri,S.Si,M.Si

Disusun oleh :

Monika Agustin Lilian Colina 16330006

Gregorius Yudhistira 16330025

Theodora Yonita Matie 16330090

Lisna Junita Daeli 16330122

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas karunianya kami
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ KEANEKARAGAMAN POTENSI RUMPUT
LAUT YANG DAPAT DIMANFAATKAN DALAM BIDANG FARMASI” tepat pada
waktunya.

Makalah ini merupakan tugas dari matakuliah Keanekaragaman Hayati, secara khusus
tentang rumpt laut yang masih belum diketahui potensinya dalam bidang Farmasi. Dengan
makalah ini, kami menjelaskan beberapa pemanfaatan rumput laut yang dapat dijadikan
sebagai obat untuk mengobati ataupun menyembuhkan penyakit yang ada dimasyarakat.

Makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Peran serta semua pihak masih dibutuhkan
untuk dapat memberikan masukan agar dapat lebih baik dan lebih bermanfaat. Akhir kata, kami
mengucapkan terima kasih kepada Bapak dosen, serta teman-teman yang sudah berkontribusi
dalam menyelesaikan makalah ini.

Penyusun

Jakarta, 30 September 2019

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i

DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii

BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1

1.1. LATAR BELAKANG..................................................................................................... 1

1.2. RUMUSAN MASALAH ................................................................................................ 2

1.3. TUJUAN PENULISAN .................................................................................................. 2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................................. 3

2.1. DASAR PENGERTIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI ........................................ 3

2.2. TINGKATAN KEANEKARAGAMAN HAYATI ........................................................ 4

2.3. FUNGSI DAN MANFAAT KEANEKARAGAMAN HAYATI DI INDONESIA ..... 11

2.4. FAKTOR MENGHILANGNYA KEANEKARAGAMAN HAYATI ......................... 13

2.5. USAHA PELESTARIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI .................................... 14

BAB 3 PEMBAHASAN ......................................................................................................... 17

3.1. DESKRIPSI RUMPUT LAUT ..................................................................................... 17

3.2. AKTIVITAS FARMAKOLOGI DALAM RUMPUT LAUT ...................................... 18

3.3. POTENSI RUMPUT LAUT DALAM BIDANG INDUSTRI ..................................... 19

3.4. KANDUNGAN RUMPUT LAUT YANG TELAH DIMANFAATKAN DALAM


INDUSTRI .................................................................................................................... 20

3.5. PEMANFAATAN RUMPUT LAUT DALAM BIDANG KESEHATAN ................. 22

3.6. RUMPUT LAUT SEBAGAI SUMBER BIOPIGMEN................................................ 25

BAB 4 PENUTUP .................................................................................................................. 28

4.1. KESIMPULAN ............................................................................................................. 28

4.2. SARAN ......................................................................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 29

ii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rumput laut atau lebih dikenal dengan sebutan seaweed merupakan salah satu
sumber daya hayati yang sangat melimpah di perairan Indonesia yaitu sekitar 8,6% dari
total biota di laut (Dahuri, 1998). Luas wilayah yang menjadi habitat rumput laut di
Indonesia mencapai 1,2 juta hektar atau terbesar di dunia (Wawa, 2005). Potensi rumput
laut perlu terus digali, mengingat tingginya keanekaragaman rumput laut di perairan
Indonesia. Van Bosse (melalui ekspedisi Laut Siboga pada tahun 1899-1900) melaporkan
bahwa Indonesia memiliki kurang lebih 555 jenis dari 8.642 spesies rumput laut yang
terdapat di dunia. Dengan kata lain, perairan Indonesia sebagai wilayah tropis memiliki
sumberdaya plasma nutfah rumput laut sebesar 6,42% dari total biodiversitas rumput laut
dunia (Santosa, 2003; Surono, 2004).

Rumput laut dari kelas alga merah (Rhodophyceae) menempati urutan


terbanyak dari jumlah jenis yang tumbuh di perairan laut Indonesia yaitu sekitar 452
jenis, setelah itu alga hijau (Chlorophyceae) sekitar 196 jenis dan alga coklat
(Phaeophyceae) sekitar 134 (Winarno, 1996). Dibalik peran ekologis dan biologisnya
dalam menjaga kestabilan ekosistem laut serta sebagai tempat hidup sekaligus
perlindungan bagi biota lain, golongan makroalga ini memiliki potensi ekonomis yaitu
sebagai bahan baku dalam industri dan kesehatan.

Pemanfaatan rumput laut secara ekonomis sudah dilakukan oleh beberapa negara.
Cina dan Jepang sudah dimulai sejak tahun 1670 sebagai bahan obat-obatan, makanan
tambahan, kosmetika, pakan ternak, dan pupuk organik. Pemanfaatan rumput laut di
Indonesia sampai saat ini terbatas sebagai bahan makanan bagi penduduk yang tinggal di
daerah pesisir dan belum banyak kalangan industri yang mau melirik potensi rumput laut
ini.

Review potensi rumput laut ini bermaksud memberikan informasi mengenai


kajian pemanfaatan sumber daya rumput laut dari aspek industri dan kesehatan, sehingga

1
diharapkan dapat menambah khasanah keanekaragaman makanan fungsional yang
bermanfaat bagi kesehatan dan memantapkan pemanfaatannya di bidang industri di
Indonesia. Optimalisai upaya penggalian potensi sumber daya rumput laut di Indonesia
perlu dipertimbangkan dalam rangka mendukung upaya pemecahan persoalan bangsa ini
khususnya mengahadapi krisis ekonomi global dan meningkatnya kasus gizi buruk di
Indonesia.

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana deskripsi dari rumput laut?

2. Apa saja gizi yang terkandung dalam rumput laut?

3. Apa saja manfaat yang diberikan oleh rumput laut dalam bidang kesehatan?

4. Hasil olahan apa saja yang didapat dari pengolahan rumput laut?

1.3. Tujuan Penulisan

1. Dapat Mengetahui apa yang dimaksud dengan rumput laut, ciri-ciri dan jenis nya.

2. Dapat Mengetahui apa saja gizi yang terkandung dalam rumput laut.

3. Dapat mengetahui apa manfaat yang dapat diberikan oleh rumput laut dalam bidang
kesehatan

4. Dapat mengetahui hasil-hasil olahan apa saja yang didapatkan dari pengolahan
rumput laut.

2
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Dasar Pengertian Keanekaragaman Hayati

1. Menurut UU No. 5 Tahun 1994, “keanekaragamana hayati adalah keanekaragaman


diantara mahluk hidup dari semua sumber termasuk di antaranya daratan, lautan, dan
ekosistem akuatik lain serta kompleks-kompleks ekologi yang merupakan bagian dari
keanekaragamannya, mencakup keanekaragaman dalam spesies, antara spesies
dengan ekosistem.”

2. Menurut Soerjani (1996), “keanekaragaman hayati menyangkut keunikan suatu


spesies dan genetik di mana mahluk hidup tersebut berada.”

3. Mochamad Indrawan (2007), menyatakan “Keanekaragaman genetik merupakan


variasi genetik dalam satu spesies baik di antara populasi-populasi yang terpisah
secara geografik maupun di antara individu-individu dalam satu populasi.”

4. Mochamad Indrawan (2007), menyatakan “Keanekaragaman spesies mencakup


seluruh spesies yang ditemukan di bumi, termasuk bakteri dan protista serta spesies
dari kingdom bersel banyak (tumbuhan, jamur, hewan, yang bersel banyak atau
multiseluler). Spesies dapat diartikan sebagai sekelompok individu yang
menunjukkan beberapa karakteristik penting berbeda dari kelompok-kelompok lain
baik secara morfologi, fisiologi atau biokimia.”

5. Mochamad Indrawan (2007), menyatakan “Keanekaragaman ekosistem merupakan


komunitas biologi yang berbeda serta asosiasinya dengan lingkungan fisik
(ekosistem) masing masing.”

6. Keanekaragaman hayati (biodiversitas) adalah keanekaragaman organisme yang


menunjukkan kesuluruhan atau totalitas variasi gen, jenis, dan ekosistem pada daerah.
Keanekaragaman makhluk hidup ini merupakan kekayaan bumi yang meliputi hewan,
tumbuhan, mikroorganisme dan semua gen yang terkandung di dalamnya, serta
ekosistem yang dibangunnya.

3
2.2. Tingkatan Keanekaragaman Hayati

Berdasarkan pengertiannya, keanekaragaman hayati dapat dibedakan


tingkatannya menjadi tiga macam yaitu keanekaragaman tingkat gen (genetik),
keanekaragaman tingkat spesies (jenis), dan keanekaragaman tingkat ekosistem.

A. Keanekaragaman Tingkat Gen

Keanekaragaman gen adalah variasi atau perbedaan gen yang terjadi dalam
suatu jenis atau spesies mahluk hidup. Contohnya, buah durian (Durio ziberhinus)
ada yang berkulit tebal, berkulit tipis, berdaging buah tebal, berdaging buah tipis,
berbiji besar, atau berbiji kecil. Sementara keanekaragaman genetik pada spesies
hewan, misalnya warna rambut pada kucing (Felis silvestris catus) ada yang berwarna
hitam, putih, abu-abu, dan cokelat.

Keanekaragaman sifat genetik pada suatu organisme dikendalikan oleh gen-


gen yang terdapat di dalam kromosom yang di milikinya. Kromosom tersebut
diperoleh dari kedua induknya dari pewarisan sifat. Namun demikian, ekspresi gen
suatu organisme juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat hidupnya.

Peningkatan keanekaraman gen dapat terjadi melalui hibridisasi atau


perkawinan silang antara organisme satu spesies yang berbeda sifat, atau melalui
proses domestikasi atau budidaya hewan atau tumbuhan liar oleh manusia. Dengan
hibridisasi akan diperoleh sifat genetik baru dari organisme-organisme pada satu
spesies. Keanekaragaman gen pada organisme dalam satu spesies disebut varietas
atau ras.

B. Keanekaragaman Tingkat Spesies

Keanekaragaman jenis atau spesies adalah perbedaan yang dapat ditemukan


pada komunitas atau kelompok berbagai spesies yang hidup disuatu tempat.
Contohnya disuatu halaman terdapat pohon mangga, kelapa, jeruk, rambutan, bunga
mawar, melati, cempaka, jahe, kunyit, burung, kumbang, lebah, semut, kupu-kupu,
dan cacing.

4
C. Keanekaragaman Tingkat Ekosistem

Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang


melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga
aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus
materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua
energi yang ada. Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang
bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Semua makhluk hidup
berinteraksi dengan lingkungannya yang berupa faktor biotik dan abiotik. Faktor
biotik meliputi berbagai jenis makhluk hidup lain, sedangkan yang termasuk faktor
abiotik adalah iklim, cahaya, suhu, air, tanah, kelembapan, dan sebagainya. Baik
faktor biotik maupun abiotik sangat bervariasi. Oleh karena itu, ekostem yang
merupakan kesatuan dari biotik dan abiotik pun bervariasi pula.

Didalam ekosistem, komponen biotik harus dapat berinteraksi dengan


komponen biotik lainnya dan juga dengan komponen abiotik agar tetap bertahan
hidup. Jadi, interaksi antar organisme didalam ekosistem ditentukan oleh komponen
biotik dan abiotik yang menyusunnya.Komponen biotik sangat beranekaragam dan
komponen abiotik berbeda kulitas dan kuantitasnya, perbedaan komponen-komponen
penyusun tersebut mengakibatkan perubahan dari interaksi yang ada sehingga
menciptakan ekosistem yang berbeda pula. Jadi jelaslah bahwa keanekaragaman
hayati pada tempat yang berlainan akan menyusun ekosistem yang berbeda.

Di bumi ada bermacam-macam ekosistem, yaitu ekosistem alam dan buatan.


Secara garis besar ekosistem alam dibedakan men-jadi ekosistem darat dan ekosistem
perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air
laut.

1. Ekosistem Darat (Terestrial)

Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan.


Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat yaitu sebagai
berikut.

5
 Bioma Padang Gurun

Gurun dan setengah gurun banyak ditemukan di Amerika Utara,


Afrika Utara, Australia dan Asia Barat. Karakteristik dari bioma ini yaitu
curah hujan sangat rendah, ±25 cm/tahun. Perbedaan suhu siang hari dengan
malam hari sangat tinggi (siang dapat mencapai 45oC, malam dapat turun
sampai 0oC). Vegetasi di daerah gurun di dominasi oleh tanaman kaktus,
sukulen, dan berbagai tanaman xerofit. Hewan yang menghuni daerah gurun
umumnya adalah serangga, hewan pengerat, ular dan kadal. Contoh bioma
gurun adalah Gurun Sahara di Afrika, Gurun Gobi di Asia, Gurun Anzo
Borrega di Amerika.

 Bioma Padang Rumput

Bioma padang rumput terbentang dari daerah tropika sampai ke sub


tropika. Ciri-ciri bioma padang rumput yaitu curah hujan 25 – 50 cm per tahun
dan hujan turun tidak teratur. Vegetasi yang mendominasi adalah rerumputan.
Hewannya adalah bison, zebra, kangguru, singa, harimau, anjing liar, ular,
rodentia, belalang dan burung. Contoh bioma padang rumput antara lain
Amerika Utara, Rusia, Afrika Selatan, Asia dan Indonesia (Sumbawa).

 Bioma Hutan Hujan Tropis

Bioma ini berada di daerah tropik, yaitu di Indonesia, India, Thailand,


Brazil, Kenya, Costa Rica, dan Malaysia. Curah hujan tinggi yaitu 200 – 255
cm per tahun, matahari bersinar sepanjang tahun. Jenis tumbuhan sangat
banyak dan komunitasnya sangat kompleks. Tumbuhan tumbuh dengan subur,
tinggi, serta banyak cabang dengan daun yang lebat sehingga membentuk
tudung atau kanopi. Tumbuhan khas adalah kelompok liana, yaitu tumbuhan
yang merambat, misalnya rotan, dan tumbuhan epifit yaitu tumbuhan yang
menempel pada tumbuhan lain, misalnya anggrek. Binatang yang menghuni
hutan hujan tropik adalah berbagai macam burung, kera, babi hutan, tupai,
macan, gajah, dan rusa dan hewan yang bersifat nokturnal.

6
 Bioma Hutan Gugur

Hutan gugur terdapat di daerah subtropik di Eropa Barat, Korea,


Jepang utara, dan Amerika Timur. Bioma ini memiliki curah hujan 75 – 100
cm per tahun. Mempunyai 4 musim: musim panas, musim dingin, musim
gugur dan musim semi. Keanekaragaman jenis tumbuhan lebih rendah
daripada bioma hutan tropis. Tumbuhan yang ada terutama mapel, oak, beech,
yang selalu menggugurkan daunnya pada musim gugur. Hewan-hewan yang
umum adalah rusa, beruang, dan rubah, racoon, burung pelatuk, dan serangga.

 Bioma Taiga

Taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah


tropik, misalnya di Rusia dan Eropa Utara, Kanada, dan Alaska. Ciri-cirinya
adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang
tersusun atas satu spesies seperti konifer (pohon spruce, alder, dan birch),
pinus, dan sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali, Hewannya
antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi
ke selatan pada musim gugur.

 Bioma Tundra

Tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara
dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Daerah ini beriklim kutub,
sehingga selalu tertutup salju. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60
hari. Tumbuhan yang ada terutama adalah lumut Sphagnum dan lumut kerak.
Tumbuhan tahunan hampir tidak ada. Hewan-hewan yang ada adalah beruang
kutub, burung, nyamuk, lalat hitam, serigala kutub, reinder, dan caribou bull
(sebangsa rusa).

 Bioma Karst

Karst berawal dari nama kawasan batu gamping di wilayah Yugoslavia.


Kawasan karst di Indonesia rata-rata mempunyai ciri-ciri yang hampir sama
yaitu, tanahnya kurang subur untuk pertanian, sensitif terhadap erosi, mudah
longsor, bersifat rentan dengan pori-pori aerasi yang rendah, gaya

7
permeabilitas yang lamban dan didominasi oleh pori-pori mikro. Contoh
bioma Karst terdapat di daerah Gunung Kidul.

2. Ekosistem Perairan (Akuatika)

 Ekosistem Air Tawar

Ekosistem air tawar memiliki kadar garam rendah. Air tawar memiliki
kemampuan menyerap panas dari cahaya matahari sehingga perubahan suhu
tidak terlalu besar. Berdasarkan ada tidaknya arus, ekosistem air tawar
dibedakan menjadi ekosistem lentik (air tidak mengalir) misalnya danau,
kolam, rawa, serta ekosistem lotik (air mengalir) misalnyasungai.Tumbuhan
yang menghuni lingkungan perairan tawar meliputi tumbuhan yang berukuran
besar (makrohidrofita) serta tumbuhan yang berukuran kecil, yaitu ganggang.
Tumbuhan biji di ekosistem air tawar misalnya teratai dan eceng gondok.
Sedangkan tumbuhan yang berukuran mikroskopik misalnya ganggang biru,
ganggang hijau, dan diatomae. Hewan yang menghuni air tawar adalah udang-
udangan, ikan, dan serangga.

 Ekosistem Air Laut (Payau)

Bioma air laut luasnya lebih dari dua pertiga permukaan bumi. Bioma
air laut kurang terpengaruh oleh perubahan iklim dan cuaca. Ciri khas air laut
adalah mempunyai kadar garam yang tinggi. Kadar garam rata-rata air laut
adalah 35 ppm (part per million). Di daerah khatulistiwa kadar garamnya
lebih tinggi daripada di daerah yang jauh dari khatulistiwa. Organisme laut
memiliki pola adaptasi terhadap tekanan osmosis sir laut yang tinggi dengan
cara yang berlawanan dengan organisme air tawar.

 Ekosistem Estuari

Estuari (muara) merupakan wilayah perairan tempat pertemuan antara


sungai dan laut atau disebut muara sungai. Muara sungai disebut pantai
lumpur.

Estuari mempunyai ciri berair payau dengan tingkat salinitas di antara


air tawar dan laut. Vegetasi didominasi oleh tumbuhan bakau dan rumput laut.

8
Beberapa organisme laut melakukan perkembangbiakan di wilayah ini seperti
ikan, gang-gang, dan fitoplankton, udang dan moluska yang dapat dimakan.
Estuari banyak terdapat di wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Nutrien dari sungai memperkaya daerah estuari.

 Ekosistem Pantai

Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi
dengan ion CI– mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya
tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25 °C.
Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi, sehingga terdapat batas antara
lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah
yang disebut daerah termoklin. Dinamakan demikian karena yang paling
banyak tumbuh di gundukan pasir adalah tumbuhan Ipomoea pescaprae yang
tahan terhadap hempasan gelombang dan angin. Tumbuhan yang hidup di
ekosistem ini menjalar dan berdaun tebal.

 Ekosistem Sungai

Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai
dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air
dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air
bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang. Komposisi komunitas
hewan juga berbeda antara sungai, anak sungai, dan hilir. Di anak sungai
sering dijumpai ikan air tawar. Di hilir sering dijumpai ikan lele dan gurame.
Beberapa sungai besar dihuni oleh berbagai kura-kura dan ular. Khusus sungai
di daerah tropis, dihuni oleh buaya dan lumba-lumba.

 Ekosistem Terumbu Karang

Di laut tropis, pada daerah neritik, terdapat suatu komunitas khusus


yang terdiri dari karang batu clan organisme-organisme lainnya. Komunitas
ini disebut terumbu karang. Daerah komunitas ini masih dapat ditembus
cahaya matahari sehingga foto-sintesis dapat berlangsung.

9
Terumbu karang didominasi oleh karang (koral) yang merupakan
kelompok Cnidaria yang mensekresikan kalsium karbonat. Rangka dari
kalsium karbonat ini bermacam-macam bentuknya dan menyusun substrat
tempat hidup karang lain dan ganggang. Hewan-hewan yang hidup di karang
memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata,
mikro-organisme, dan ikan hidup di antara karang clan ganggang. Herbivor
seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan
ikan karnivor.

 Ekosistem Laut Dalam

Merupakan zona pelagik laut. Ekosistem ini berda pada kedalaman


76000 m dari permukaan laut. Sehingga tidak ada lagi cahaya matahari, oleh
karena itu produsen utama di ekosistem ini merupakan organisme
kemoautrotof. Biasanya terdapat lele laut dan ikan laut yang dapat
mengeluarkan cahaya (bioluminisensi). Sebagai produsen terdapat bakteri
yang bersimbiosis dengan karang tertentu.

 Ekosistem Lamun

Lamun atau seagrass adalah satu‑satunya kelompok tumbuh-tumbuhan


berbunga yang hidup di lingkungan laut. Tumbuh‑tumbuhan ini hidup di
habitat perairan pantai yang dangkal.

3. Ekosistem Buatan

Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi


kebutuhannya. Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi dari luar, tanaman
atau hewan peliharaan didominasi pengaruh manusia, dan memiliki
keanekaragaman rendah. Contoh ekosistem buatan adalah :

 Bendungan.

 Hutan tanaman produksi seperti jati dan pinus.

 Agroekosistem berupa sawah tadah hujan.

 Sawah

10
 Ekosistem pemukiman seperti kota dan desa.

 Ekosistem ruang angkasa.

2.3. Fungsi dan Manfaat Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Keanekaragaman Hayati Indonesia merupakan anugrah terbesar dati Tuhan Yang Maha
Kuasa. Keanekaragaman hayati memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut.

1. Nilai Ekonomi Keragaman Hayati

Nilai ekonomi keanekaragaman hayati merupakan nilai kemanfaatan dari


berbagai sumber hayati yang dapat menghasilkan keuntungan bagi penggunaanya,
yaitu dapat di perjual belikan. Keanekaragaman hayati yang memiliki nilai ekonomi
antara lain sebagai bahan pangan, obat-obatan, kosmetik, sandang, papan, dan
memiliki aspek budaya.

a. Keanekaragaman Hayati sebagai Sumber Pangan

Keanekaragaman hayati di jadikan sebagai makanan pokok yang di


konsumsi oleh manusia misalnya dari tumbuhan yaitu padi, jangung, singkong,
ubi jalar, talas kentang, sorgum dan lain lain sedangkan dari hewan misalnya
daging sapi, daging ayam, ikan laut dan telur.

b. Keanekaragaman Hayati sebagai Bahan Obat-obatan

Keanekaragaman hayati yang berasal dari tumbuhan sebagai sumber obat-


obatan, misalnya : mengkudu untuk menurunkan tekanan darah tinggi, kina untuk
obat malaria, buah merah untuk mengobati kanker, kolesterol tinggi, dan diabetes.
Sedangkan yang berasal dari hewan contohnya madu lebah dimanfaatkan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh, dan bagian daging dan lemak ular dipercaya
dapat mengobati penyakit kulit.

c. Keanekaragaman Hayati sebagai Bahan Kosmetik

Beberapa tumbuhan digunakan untuk kosmetika, antara lain sebagai


berikut misalnya : Bunga mawar, melati, cendana, kenanga, dan kemuning
dimanfaatkan untuk wewangian (parfum). Kemuning, bengkoang, alpukat, dan
beras digunakan sebagai lulur tradisional untuk menghaluskan kulit. Sedangkan

11
urang aring, mangkokan, pandan, minyak kelapa, dan lidah buaya digunakan
untuk pelumas dan penghitam rambut.

d. Keanekaragaman Hayati sebagai Sumber Sandang

Keanekaragaman hayati yang dijadikan sumber sandang, misalnya : rami,


kapas, pisang hutan atau abaca, dan jute, dimanfaatkan seratnya untuk membuat
kain atau bahan pakaian, ulat sutera untuk membuat kain sutera yang memiliki
nilai ekonomi sangat tinggi, kulit sapi dan kambing untuk membuat jaket, bulu
burung untuk membuat aksesoris pakaian.

e. Keanekaragaman Hayati sebagai Sumber Papan

Sebagai bahan papan, keanekaragaman hayati dimanfaatkan untuk


membuat rumah dan sejenisnya misalnya kayu jati, kelapa, nangka, meranti
keruing, rasamala, ulin dan bambu dimanfaatkan kayunya untuk membuat
jendela, pintu, tiang dan atap rumah.

f. Keanekaragaman Hayati sebagai Aspek Budaya

Beberapa upacara ritual keagamaan dan kepercayaan antara lain : Budaya


nyeka (ziarah kubur) pada masyarakat jawa menggunakan bunga mawar,
kenanga, kuntil, dan melati. Umat islam menggunakan heawan ternak seperti sapi,
kambing dan kerbau pada hari qurban. Upacara ngaben di Bali menggunakan 39
jenis tumbuhan yang mengandung minyak atsiri yang berbau harum, antara lain
kenanga, melati, cempaka, pandan, sirih, dan cendana.

2. Nilai Pendidikan Keragaman Hayati

Keanekaragaman hayati dapat menambah pemahaman dan pengetahuan


manusia. Pemanfaatan hewan dan tumbuhan digunakan untuk bahan percobaan untuk
kedokteran dan eksperimen eksperimen tertentu.

3. Nilai Ekologi Keragaman Hayati

Nilai ekologi dari keanekaragaman hayati, antar lain sebagai perlindungan


terhadap kerusakan lahan karena akar tanaman akan melindungi tanah dari kerusakan,
pengikisan, menyerap air hujan sehingga tidak terjadi banjir atau tanah longsor.

12
2.4. Faktor Menghilangnya Keanekaragaman Hayati

Menghilangnya kanekaragaman hayati di suatu wilayah dapat disebabkan oleh


beberapa faktor berikut ini :

1. Hilangnya Habitat

Daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature)


menunjukkan bahwa hilangnya habitat yang diakibatkan manajemen pertanian dan
hutan yang tidak berkelanjutan menjadi penyebab terbesar hilangnya kenaekaragaman
hayati. Bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan semakin bertambah pula
kebutuhan yang harus dipenuhi. Lahan yang tersedia untuk kehidupan tumbuhan dan
hewan semakin sempit karena digunakan untuk tempat tinggal penduduk, dibabat
untuk digunakan sebai lahan pertanian atau dijadikan lahan industri.

2. Pencemaran Tanah, Udara dan Air

Zat pencemar (polutan) adalah produk buangan yang dihasilkan dari aktivitas
manusia. Polutan tersebut dapat mencemari air, tanah, dan udara. Beberapa polutan
berbahaya bagi organisme misalnya, nitrogen dan sulfur oksida yang dihasilkan dari
kendaraan bermotor jika bereaksi dengan air akan membentuk hujan asam yang
merusak ekosistem. Pembuangan chlorofluorocarbon (CFC) yang berlebihan
menyebabkan lapisan ozon di atmosfer berlubang. Akibatnya intensitas sinar
ultraviolet yang masuk ke bumi meningkat dan menyebabkan banyak masalah, antara
lain berkurangnya biomassa fitoplankton di lautan yang menyebabkan terganggunya
keseimbangan rantai makanan organisme.

3. Perubahan Iklim

Salah satu penyebab perubahan iklim adalah pencemaran udara oleh gas
karbon dioksida (CO2) yang menimbulkan efek rumah kaca. Menurut Raven (1995),
“efek rumah kaca meningkatkan suhu udara 1-30C dalam kurn waktu 100 tahun”.
Kenaikan suhu tersebut menyebabkan pencairan es di kutub dan kenaikan permukaan
air laut sekitar 1-2 m yang berakibat terjadinya perubahan struktur dan fungsi
ekosistem lautan.

13
4. Eksploitasi Tanaman dan Hewan

Eksploitasi Hewan dan tumbuhan secara besar-besaran biasanya dilakukan


terhadap komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi, misalnya kayu hutan yang
digunakan untuk bahan bangunan dan ikan tuna sirip kuning yang harganya mahal
dan banyak diminati oleh pencinta makanan laut. Eksploitasi yang berlebihan dapat
menyebabkan kepunahan spesies-spesies tertentu, apalagi bila tidak diimbangi
dengan usaha pengembangbiakannya.

5. Masuknya Spesies Pendatang

Masuknya spesies dari luar ke suatu daerah seringkali mendesak spesies lokal
yang sebenarnya merupakan spesies penting dan langka di daerah tersebut. Beberapa
spesies asing tersebut dapat menjadi spesies invasif yang menguasai ekosistem.
Contohnya ikan pelangi (Melanotaenia ayamaruensis) merupakan spesies endemik
Danau Ayamaru, Papua Barat. Ikan pelangi terancam punah karena dimangssa oleh
ikan mas (Cyprinus carpio) yang dibawa dari jepang dan menjadi spesies invasif di
danau tersebut.

6. Industrilisasi Pertanian dan Hutan

Para petani cenderung menanam tumbuhan dan memelihara hewan yang


bersifat unggul dan menguntungkan, sedangkan tumbuhan dan hewan yang kurang
unggul dan kurang menguntungkan akan disingkirkan. Selain itu, suatu lahan
pertanian atau hutan industri umumnya hanya ditanami satu jeis tanaman
(monokultur) misalnya teh, karet, dan kopi. Hal ini dapat menurunkan
keanekaragaman hayati tingkat spesies.

2.5. Usaha Pelestarian Keanekaragaman Hayati

Menurunnya keanekaragaman hayati menyebabkan semakin sedikit pula manfaat


yang dapat diperoleh manusia. Penurunan keanekaragaman hayati dapat dicegah dengan
melakukan pelestarian (konservasi) keanekaragaman hayati. Konservasi keanekaragaman
hayati memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut :

a. Menjamin kelestarian fungsi ekosistem sebagai penyangga kehidupan;

14
b. Mencegah kepunahan spesies yang disebabkan oleh kerusakan habitat dan
pemanfaatan yang tidak terkendali;

c. Menyediakan sumber plasma nuftah untuk mendukung pengembangan dan budidaya


tanaman pangan, obat-obatan, maupun hewan ternak.

Konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia diatur oleh UU No. 5 tahun


1990 tentang Konservasi Sumber Daya dan UU No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup dengan tiga azas, yaitu tanggung jawab, berkelanjutan, dan
bermanfaat.

Pelestarian sumber daya alam hayati harus dilakukan secara terpadu dan
melibatkan banyak pihak. Beikut ini akan dijelaskan dua jenis pelestarian yaitu
pelestarian secara In Situ dan Pelestarian Eks Situ.

A. Pelestarian secara In Situ

Pelestarian secara in situ artinya pelestarian sumber daya alam hayati yang
dilakukan di habitat asalnya. Contohnya, bunga Rafflesia arnoldii di Bengkulu, badak
jawa di Ujung Kulon, dan komodo di Pulau Komodo. Yang termasuk pelestarian
sumber daya alam hayati secara in situ yaitu :

1. Perlindungan alam ketat, yaitu perlindungan alam yang membiarkan alam


berkembang secara alamiah.

2. Perlindungan alam terbimbing, yaitu perlindungan alam yang dibina oleh para
ahli.

3. Perlindungan geologi, yaitu perlindungan terhadap formasi geologi (tanah).

4. Perlindungan alam zoologi, yaitu perlindungan terhadap hewan langka dan


hampir punah serta perkembangbiakannya.

5. Perlindungan alam botani, yaitu perlindungan terhadap tumbuhan.

6. Taman nasional, digunakan sebagai tempat rekreasi.

7. Perlindungan pemandangan alam berupa danau dan air terjun.

15
8. Perlindungan monumen alam berupa perlindungan terhadap benda benda alam
yang terpencil.

9. Perlindungan suaka margasatwa, yaitu perlindungan hewan dari perburuan.

B. Pelestarian secara Eks Situ

Pelestarian secara eks situ artinya pelestarian sumber daya alam hayati yang
dilakukan di luar habitat asalnya atau dipelihara di tempat lain. Pelestarian secara ek
situ ada beberapa macam, misalnya kebun koleksi, kebun plasma nuftah, dan kebun
raya.

16
BAB 3

PEMBAHASAN

3.1. Deskripsi Rumput Laut

Rumput laut atau gulma laut merupakan salah satu sumber daya hayati yang
terdapat di wilayah pesisir dan laut. Istilah ini rancu secara botani karena dipakai untuk
dua kelompok "tumbuhan" yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia, istilah rumput laut
dipakai untuk menyebut baik gulma laut dan lamun.

Rumput laut atau seaweed merupakan salah satu tumbuhan laut yang tergolong dalam
makroalga benthik yang banyak hidup melekat di dasar perairan. Rumput laut merupakan
ganggang yang hidup di laut dan tergolong dalam divisi thallophyta. Klasifikasi rumput
laut berdasarkan kandungan pigmen terdiri dari 4 kelas, yaitu rumput laut hijau
(Chlorophyta), rumput laut merah (Rhodophyta), rumput laut coklat (Phaeophyta) dan
rumput laut pirang (Chrysophyta) sebagaimana disajikan pada Tabel 1.

17
Rumput laut ini merupakan salah satu kelompok tumbuhan laut yang mempunyai
sifat tidak bisa dibedakan antara bagian akar, batang, dan daun. Seluruh bagian tumbuhan
disebut thallus, sehingga rumput laut tergolong tumbuhan tingkat rendah
(Susanto&Mucktianty, 2002). Bentuk thallus rumput laut bermacam-macam, ada yang
bulat seperti tabung, pipih, gepeng, bulat seperti kantong, rambut, dan lain sebagainya.
Thallus ini ada yang tersusun hanya oleh satu sel (uniseluler) atau banyak sel
(multiseluler). Percabangan thallus ada yang thallus dichotomus (dua-dua terus menerus),
pinate (dua-dua berlawanan sepanjang thallus utama), pectinate (berderet searah pada
satu sisi thallus utama) dan ada juga yang sederhana tidak bercabang. Sifat substansi
thallus juga beraneka ragam ada yang lunak seperti gelatin (gelatinous), keras diliputi
atau mengandung zat kapur (calcareous), lunak bagaikan tulang rawan (cartilagenous),
berserabut (spongeous) dan sebagainya dengan berbagai keanekaragaman warna
(Soegiarto et al, 1978). Morfologi thallus dari beberapa jenis rumput laut dapat dilihat
pada gambar dibawah ini:

Gambar 1. Morfologi beberapa jenis rumput laut yang banyak dimanfaatkan sebagai
bahan makanan (a) Padina australis (Rumput Laut Coklat); (b) Gracilaria verrucosa
(Rumput Laut Merah); (c) Caulerpa (Rumput Laut Hijau).

3.2. Aktivitas Farmakologi dalam Rumput Laut

Banyak penelitian yang membuktikan bahwa rumput laut adalah bahan pangan
berkhasiat, berikut beberapa diantaranya:

1. Antikanker

Penelitian Harvard School of Public Health di Amerika mengungkap, wanita


premenopause di Jepang berpeluang tiga kali lebih kecil terkena kanker payudara

18
dibandingkan wanita Amerika. Hal ini disebabkan pola makan wanita Jepang yang
selalu menambahkan rumput laut di dalam menu mereka.

2. Antioksidan

Klorofil pada gangang laut hijau dapat berfungsi sebagai antioksidan. Zat ini
membantu membersihkan tubuh dari reaksi radikal bebas yang sangat berbahaya bagi
tubuh.

3. Mencegah Kardiovaskular

Para Ilmuwan Jepang mengungkap, ekstrak rumput laut dapat menurunkan


tekanan darah pada penderita hipertensi. Bagi pengidap stroke, mengkonsumsi
rumput laut juga sangat dianjurkan karena dapat menyerap kelebihan garam pada
tubuh.

4. Makanan Diet

Kandungan serat (dietary fiber) pada rumput laut sangat tinggi. Serat ini
bersifat mengenyangkan dan memperlancar proses metabolisme tubuh sehingga
sangat baik dikonsumsi penderita obesitas. Karbohidratnya juga sukar dicerna
sehingga Anda akan merasa kenyang lebih lama tanpa takut kegemukan.

5. Untuk kesehatan kulit

Kandungan protein dalam rumput laut sangat penting untuk membentuk


jaringan kulit. Rumput laut juga dapat membantu mencegah penuaan dini serta
menjaga kesehatan dan kehalusan kulit. Kandungan klorofil dan vitamin C pada
rumput laut berfungsi sebagai antioksidan sehingga dapat membersihkan tubuh dari
reaksi radikal bebas, meningkat sistem kekebalan tubuh sehingga mengurangi gejala
alergi.

3.3. Potensi Rumput Laut Dalam Bidang Industri

Rumput laut memiliki banyak peranan penting bagi manusia. Ilalqisny dan
Widyartini (2000) melaporkan bahwa sejak tahun 2700 SM, rumput laut telah
dimanfaatkan sebagai bahan pangan manusia. Perancis, Normandia, dan Inggris pada
abad 17 mulai merintis pemanfaatan rumput untuk pembuatan gelas (Soegiarto et al.,

19
1978). Namun, pemanfaatan rumput laut secara ekonomis baru dimulai tahun 1670 di
Cina dan Jepang, yaitu sebagai bahan obat-obatan, makanan tambahan, kosmetika, pakan
ternak, dan pupuk organik.

Pada tahun 2005 dilaporkan bahwa konsumsi rumput laut bagi masyarakat Cina,
Jepang, dan Korea mencapai 2 milyar US $. Setiap hari sekitar 168 spesies alga telah
dikomersilkan, di Jepang, Cina, Taiwan, dan Korea, diantaranya porphyra (nori),
laminaria (kombu), undaria (wakame). Porphyra atau nori merupakan rumput laut yang
adalah yang paling populer di Jepang (Steinman, 2006). Contoh makanan yang terbuat
dari rumput laut terkenal di Jepang adalah Kombu. Kombu terbuat dari rumput laut jenis
Laminaria sp yang termasuk golongan kelp (Anonim, 2006). Salah satu contoh kelp di
Indonesia adalah Sargassum sp. Di berbagai belahan dunia, Sargassum sp merupakan
jenis rumput laut di perairan tropis yang terkenal sebagai alginofit (penghasil alginat).
Filipina, India dan Vietnam merupakan negara-negara yang mulai memanfaatkan rumput
laut jenis ini.

Menurut Atmadja et al., (1996) pada awal 1980 perkembangan permintaan


rumput laut di dunia meningkat seiring dengan peningkatan pemakaian rumput laut untuk
berbagai keperluan antara lain di bidang industri, makanan, tekstil, kertas, cat, kosmetika,
dan farmasi (obat-obatan). Di Indonesia, pemanfaatan rumput laut untuk industri dimulai
untuk industri agar-agar (Gelidium dan Gracilaria) kemudian untuk industri kerajinan
(Eucheuma) serta untuk industri alginat (Sargassum).

3.4. Kandungan Rumput Laut yang Telah Dimanfaatkan Dalam Industri

1. Agar

Agar merupakan produk utama yang dihasilkan dari rumput laut terutama dari
kelas Rhodopycea, seperti Gracilaria, Sargassum dan Gellidium. Agar memiliki
kemampuan membentuk lapisan gel atau film, sehingga banyak dimanfaatkan sebagai
bahan pengemulsi (emulsifier), penstabil (stabilizer), pembentuk gel, pensuspensi,
pelapis, dan inhibitor.

Pemanfaatan agar dalam bidang industri antra lain: industri makanan dan
minuman, farmasi, kosmetik, pakan ternak, keramik, cat, tekstil, kertas, fotografi.

20
Dalam industri makanan, agar banyak dimanfaatkan pada industri es krim, keju,
permen, jelly, dan susu coklat, serta pengalengan ikan dan daging, Agar juga banyak
digunakan dalam bidang bioteknologi sebagai media pertumbuhan mikroba, jamur,
yeast, dan mikroalga, serta rekombinasi DNA dan elektroforesis. Contoh produk agar
dari Gracilaria disajikan pada gambar berikut :

Gambar 2: Produk agar Gracilaria skala industri; (a). Agar strips; (b). Agar Stick- Shape;
(c). Berbagai macam produk manisan dan minuman agar; (d), Agar untuk media dalam
bidang mikrobiologi

2. Pikokoloid

Pikokoloid merupakan golongan polisakarida yang dihasilkan melalui


ekstraksi rumput laut. Pikokoloid mampu membentuk gel sehingga banyak
dimanfaatkan sebagai bahan pengental (emulsifyer) dan stabilisator atau penstabil
makanan (Raven et al., 1986). Selain itu, pikokoloid juga dapatdigunakan dalam
industri farmasi dan kosmetika. Pikoloid banyak dihasilkan rumput laut dari spesies
alga merah. Pemanfaatan pikokoloid berkembang sejak tahun 1990-an dalam industri
makanan, obat-obatan, dan industri-industri lainnya (Anonim, 1992). Pikokoloid
dimanfaatkan dalam industri susu, roti, kue, es krim, permen, bumbu salad, selai, bir,
pengalengan ikan, juga industri farmasi seperti suspensi, salep, dan tablet (Winarno,
1996). Pikokoloid juga digunakan sebagai penstabil susu kocok dan mencegah
terbentuknya kristal es pada es krim (Burns, 1974). Pada beberapa cairan obat,
pikokoloid digunakan untuk meningkatkan viskositas dan menjaga suspensi padatan
dan bahan penstabil pasta (Chapman & Chapman, 1980).

21
3. Karagenan

Karagenan Bahan mentah yang terpenting untuk produksi karagenan adalah


carrageenate dan derivatnya (turunan) seperti Chondrus crispus danberbagai macam
species Gigartina, khususnya Gigartina stellata dan juga Eucheuma serta species
Hypnea. Selain itu sumber bahan mentah lainnya adalah Chondrococcus
hornemannii, Halymenia venusta, Laurencia papillosa, Sarconema filiforme, dan
Endocladia, Gelidium tertentu, Gymnogongrus, Rhodoglossum, Rissoella, Yatabella
species dan Rumput laut Merah lainnya. Karagenan sering kali digunakan dalam
industri farmasi sebagai pengemulsi (sebagai contoh dalam emulsi minyak hati),
sebagai larutan granulasi dan pengikat (sebagai contoh tablet, elexier, sirup, dll).
Disebutkan bahwa depolimerisasi yang tinggi dari jota-karagenan digunakan sebagai
obat dalam terapi gastrik yang bernanah, yang mungkin tidak mempunyai efek
fisiologis sampingan. Karagenan digunakan juga dalam industri kosmetika sebagai
stabiliser, suspensi, dan pelarut. Produk kosmetik yang sering menggunakan adalah
salep, kream, lotion, pasta gigi, tonic rambut, stabilizer sabun, minyak pelindung
sinar matahari, dan lainnya. Karagenan juga digunakan dalam industri kulit, kertas,
tekstil, dan sebagainya.

3.5. Pemanfaatan Rumput Laut Dalam Bidang Kesehatan

Kandungan nutrisi dalam rumput laut merupakan dasar pemanfaatan rumput laut
di bidang kesehatan. Nutrisi yang terkandung dalam rumput laut antara lain:

1. Polisakarida dan Serat

Rumput laut mengandung sejumlah besar polisakarida. Polisakarida tersebut


antara lain alginat dari rumput laut coklat, karagenan dan agar dari rumput laut merah
dan beberapa polisakarida minor lainnya yang ditemukan pada rumput laut hijau
(Anggadiredja et al, 2002). Kebanyakan dari polisakarida tersebut bila bertemu
dengan bakteri di dalam usus manusia, tidak akan dicerna oleh manusia, sehingga
dapat berfungsi sebagai serat.

Kandungan serat rumput laut dapat mencapai 30-40% berat kering dengan
persentase lebih besar pada serat larut air. Kandungan serat larut air rumput laut jauh

22
lebih tinggi dibanding dengan tumbuhan daratan yang hanya mencapai sekitar 15%
berat kering (Burtin, 2003). Kandungan polisakarida yang terdapat di dalam rumput
laut berperan dalam menurunkan kadar lipid di dalam darah dan tingkat kolesterol
serta memperlancar sistem pencernaan makanan. Komponen polisakarida dan serat
juga mengatur asupan gula di dalam tubuh, sehingga mampu mengendalikan tubuh
dari penyakit diabetes. Beberapa polisakarida rumput laut seperti fukoidan juga
menunjukkan beberapa aktivitas biologis lain antitrombotik, antikoagulan, antikanker,
antiproliferatif (antipembelahan sel secara tak terkendali), antivirus, dan
antiinflamatori (antiperadangan) (Burtin, 2003; Shiratori et al, 2005).

2. Mineral

Kandungan mineral rumput laut tidak tertandingi oleh sayuran yang berasal
dari darat. Fraksi mineral dari beberapa rumput laut mencapai lebih dari 36% berat
kering. Dua mineral utama yang terkandung pada sebagian besar rumput laut adalah
iodin dan kalsium (Fitton, 2005). Laminaria sp., rumput laut jenis coklat merupakan
sumber utama iodin karena kandungannya mampu mencapai 1500 sampai 8000 ppm
berat kering. Rumput laut juga merupakan sumber kalsium yang sangat penting.
Kandungan kalsium dalam rumput laut dapat mencapai 7% dari berat kering dan 25-
34% dari rumput laut yang mengandung kapur (Ramazanov, 2006). Kandungan
mineral seperti yang telah disebutkan di atas memberikan efek yang sangat baik bagi
kesehatan. Iodin misalnya, secara tradisional telah digunakan untuk mengobati
penyakit gondok. Iodin mampu mengendalikan hormon tiroid, yaitu hormon yang
berperan dalam pembentukan gondok. Mereka yang telah membiasakan diri
mengkonsumsi rumput laut terbukti terhindar dari penyakit gondok karena kandungan
iodin yang tinggi di dalam rumput laut. Kandungan mineral lain yang juga tak kalah
penting adalah kalsium. Konsumsi rumput laut sangat berguna bagi ibu yang sedang
hamil, para remaja, dan orang lanjut usia yang kemungkinan dapat terkena risiko
kekurangan (defisiensi) kalsium (Fitton, 2005).

3. Protein

Kandungan protein rumput laut coklat secara umum lebih kecil dibanding
rumput laut hijau dan merah. Pada rumput laut jenis coklat, protein yang terkandung

23
di dalamnya berkisar 5-15% dari berat kering, sedangkan pada rumput laut hijau dan
merah berkisar 10-30% dari berat kering. Beberapa rumput laut merah, seperti
Palmaria palmate (dulse) dan Porphyra tenera (nori), kandungan protein mampu
mencapai 35-47% dari berat kering (Mohd Hani Norziah et al, 2000). Kadar ini lebih
besar bila dibandingkan dengan kandungan protein yang ada di sayuran yang kaya
protein seperti kacang kedelai yang mempunyai kandungan protein sekitar 35% berat
kering (Almatsier, 2005).

4. Lipid dan asam lemak

Lipid dan asam lemak merupakan nutrisi rumput laut dalam jumlah yang
kecil. Kandungan lipid hanya berkisar 1-5% dari berat kering dan komposisi asam
lemak omega 3 dan omega 6 (Burtin, 2003). Asam lemak omega 3 dan 6 berperan
penting dalam mencegah berbagai penyakit seperti penyempitan pembuluh darah,
penyakit tulang, dan diabetes (Almatsier, 2005). Asam alfa linoleat (omega 3) banyak
terkandung dalam rumput laut hijau, sedangkan rumput laut merah dan coklat banyak
mengandung asam lemak dengan 20 atom karbon seperti asam eikosapentanoat dan
asam arakidonat (Burtin, 2005). Kedua asam lemak tersebut berperan dalam
mencegah inflamatori (peradangan) dan penyempitan pembuluh darah. Hasil
penelitian membuktikan bahwa ekstrak lipid beberapa rumput laut memiliki aktivitas
antioksidan dan efek sinergisme terhadap tokoferol (senyawa antioksidan yang sudah
banyak digunakan) (Anggadiredja et al., 1997; Shanab, 2007).

5. Vitamin

Rumput laut dapat dijadikan salah satu sumber Vitamin B, yaitu vitamin B12
yang secara khusus bermanfaat untuk pengobatan atau penundaan efek penuaan
(antiaging), Chronic Fatique Syndrome (CFS), dan anemia (Almatsier, 2005). Selain
vitamin B, rumput laut juga menyediakan sumber vitamin C yang sangat bermanfaat
untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh, meningkatkan aktivitas penyerapan usus
terhadap zat besi, pengendalian pembentukan jaringan dan matriks tulang, dan juga
berperan sebagai antioksidan dalam penangkapan radikal bebas dan regenerasi
vitamin E (Soo-Jin Heo et al, 2005). Kadar vitamin C dapat mencapai 500-3000
mg/kg berat kering dari rumput laut hijau dan coklat, 100-800 mg/kg pada rumput

24
laut merah. Vitamin E yang berperan sebagai antioksidan juga terkandung dalam
rumput laut. Vitamin E mampu menghambat oksidasi Low Density Lipoprotein
(LDL) atau kolesterol buruk yang dapat memicu penyakit jantung koroner
(Ramazanov, 2005). Ketersediaan vitamin E di dalam rumput laut coklat lebih tinggi
dibanding rumput laut hijau dan merah. Hal ini dikarenakan rumput laut coklat
mengandung α, β, dan γ-tokoferol, sedangkan rumput laut hijau dan merah hanya
mengandung α- tokoferol (Fitton, 2005). Di antara rumput laut coklat, kadar paling
tinggi yang telah diteliti adalah pada Fucuceae, Ascophyllum dan Fucus sp yang
mengandung sekitar 200-600 mg tokoferol/kg berat kering (Ramazanov, 2006).

6. Polifenol

Polifenol rumput laut dikenal sebagai florotanin, memiliki sifat yang khas
dibandingkan dengan polifenol yang ada dalam tumbuhan darat. Polifenol dari
tumbuhan darat berasal dari asam galat, sedangkan polifenolrumput laut berasal dari
floroglusinol (1,3,5-trihydroxybenzine). Kandungan tertinggi florotanin ditemukan
dalam rumput laut coklat, yaitu mencapai 5- 15% dari berat keringnya (Fitton, 2005).
Polifenol dalam rumput laut memiliki aktivitas antioksidan, sehingga mampu
mencegah berbagai penyakit degeneratif maupun penyakit karena tekanan oksidatif,
di antaranya kanker, penuaan, dan penyempitan pembuluh darah. Aktivitas
antioksidan polifenol dari ekstrak rumput laut tersebut telah banyak dibuktikan
melalui uji in vitro sehingga tentunya kemampuan antioksidannya sudah tidak
diragukan lagi (Soo-Jin Heo et al, 2005; Shanab, 2007). Selain itu, polifenol
jugaterbukti memiliki aktivitas antibakteri, sehingga dapat dijadikan alternatif bahan
antibiotik. Salah satunya terbukti bahwa rumput laut mampu melawan bakteri
Helicobacter pylori, penyebab penyakit kulit (John dan Ashok, 1986; Fitton, 2005).

3.6. Rumput Laut Sebagai Sumber Biopigmen

Pigmen memiliki berbagai macam bioaktifitas yang menguntungkan bagi


manusia. Pigmen karotenoid dan klorofil telah disadari sebagai senyawa bahan alam yang
dikenal sebagai pigmen kehidupan. Pigmen tersebut banyak dimanfaatkan pada berbagai
bidang, di antaranya pada industri makanan dan minuman, obat-obatan, sensitizer sel
surya, dan bioinsektisida (Rahayu dan Limantara, 2005; Limantara, 2007).

25
a. Klorofil

Klorofil merupakan pigmen pembawa warna hijau. Struktur dasar klorofil


adalah porpirin, dimana atom nitrogen pada keempat cincin pirol dalam makrosiklik
membentuk ikatan kovalen dengan ion Mg2+ yang merupakan pusat dari molekul
klorofil (Gross 1991; Scheer 2006).

Dalam bidang kesehatan, memiliki potensi bioaktifitas sebagai antiksidan,


meningkatkan immunitas, menstabilkan tekanan darah, pengganti sel-sel yang rusak,
memperbaiki fungsi hati, menyembuhkan luka, merangsang fibroblas, menghilangkan
bau badan, sensitizer dalam terapi kanker fotodinamika (PDT).

b. Karotenoid

Karotenoid merupakan pigmen asesori yang berfungsi menangkap energi


cahaya pada panjang gelombang yang tidak dapat ditangkap klorofil untuk ditransfer
ke klorofil, kemudian digunakan dalam proses fotosintesis. Rumput laut coklat sangat
potensial mengandung karotenoid khususnya fucoxanthin, β-karoten, violaxanthin
(Haugan dan Liaaen, 1994). Sedangkan karotenoid utama yang terdapat di dalam
rumput laut merah adalah β-karoten, α-karoten, zeaxanthin, dan lutein (Brornland,
1976). Karotenoid yang terdapat dalam rumput laut hijau mirip dengan karotenoid
yang terdapat pada tumbuhan daratan, yaitu β-karoten, lutein, violaxanthin,
antheraxanthin, zeaxanthin, dan neoxanthin (Fitton, 2005).

Potensi bioaktifitas beberapa jenis pigmen karotenoid dalam bidang kesehatan


adalah α-ß-γ- karoten (prekursor vitamin A, meningkatkan sistem kekebalan tubuh,
antioksidan penurunan risiko penyakit penyempitan pembuluh darah, kanker, dan
penyakit yang berhubungan dengan tekanan oksidatif) , Astaxanthin dan zeaxanthin
(bahan pewarna alami) , Fucoxanthin (Obat dan suplemen, Antioksidan, antiobesitas
(pelangsing), antidiabetes, menyehatkan jantung, menghambat pertumbuhan sel
kanker usus, kanker prostat, dan menyebabkan kematian sel leukimia HL-60, anti
inflammatori).

26
c. Fikobiliprotein

Fikobiliprotein merupakan bagian dari fikobilisom yang berperan sebagai


antenna untuk menangkap cahaya dalam proses fotosintesis, yang khusus terdapat
pada rumput laut merah (Rhodophyceae).

Potensi bioaktifitas beberapa jenis pigmen yaitu Fikoeritrin (untuk mencegah


penyakit kanker dan penyakit HIV serta sebagai bahan pewarna alami), Fikosianin
(Prekursor hemoglobin, meningkatkan kekebalan tubuh, antikanker, antioksidan, anti
radang, anti inflamantori, anti obesitas, neuroprotektor dan sebagai pewarna alami)

27
BAB 4

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Keanekaragaman hayati (biodiversitas) adalah keanekaragaman organisme yang


menunjukkan kesuluruhan atau totalitas variasi gen, jenis, dan ekosistem pada daerah.
Seperti yang telah diketahui bersama bahwa rumput laut merupakan sumber daya yang
berpotensi untuk dimanfaatkan di berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek kesehatan
dan industri. Tentunya setelah mengetahui manfaat rumput laut dalam aspek industri dan
kesehatan, masyarakat akan semakin terbuka pikirannya untuk mengembangkan potensi
rumput laut ini. Akan sangat disayangkan, Indonesia yang memiliki kekayaan laut yang
melimpah dan bermanfaat bagi kesehatan namun masyarakatnya hidup tidak sehat dan
miskin karena tidak mengetahui pemanfaatan sumber kekayaan itu.

4.2. Saran

Dilihat dari banyaknya khasiat rumput laut dibidang kesehatan, sangat disarankan
untuk mengembangkan rumput laut salah satunya melakukan budidaya sehingga dapat
digunakan sebagai sampel dalam penelitian.

28
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2005. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT. GramediaPustaka Utama, Jakarta.

Anggadiredja, J. T., A. Zatnika, H. Purwoto dan S. Istini. 2006. Rumput Laut. Cetakan I. Jakarta:
Penerbit Swadaya Anonim. 1992.

Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Rumput Laut. Penebar Swadaya. Jakarta. 99 Hlm.
Anonim, 2006.

Atmadja, W.S., Kadi, A., Sulistijo&Rachmaniar. 1996. Pengenalan jenis jenis rumput laut
Indonesia. PUSLITBANG Oseanologi. LIPI, Jakarta. Hlm.56-152.

Brornland, Terje. 1976. Carotenoid in Red Algae. Phytochemistry 15: 291296. Britton, G.,
Liaaen-Jensen, S., and Pfander, H. 1995.

Plant Kingdom. Macmillan Publishing Co, Inc. New York. 540 p. Burtin, Patricia. 2003.
Nutritional Value of Seaweeds. Electron. J. Environ. Agric. Food Chem. 2(4): 498-503.
Chapman, V, J dan Chapman, D, J. 1980.

Seaweeds and Their Uses. Third Edition. Chapman and Hall. 333 pp. Dahuri, Rokhmin. 1998.

Coastal Zone Management in Indonesia: Issues and Approaches. Journal of Coastal


Development 1, No. 2. 97-112.

Dahuri, Rokhmin. 2005. Potensi Ekonomi Kelautan. Republika. 13 Desember 2005. Fitton,
Helen. 2005.

Marine Algae and Health: A Review of The Scientific and Historical Literature. Fitton, Helen.
2005. Marine Algae and Health : A Review of The Scientific and Historical Literature. Gross, J.
1991.

Pigments in vegetables. Chlorophylls and carotenoids. An avi Book. Van Nostrand Reinhold.
New York. Hegazi, M.M., Ruzafa, A.P., Almela, L., & Candela, M.E. 1998.

29
Ilalqisny, I dan Widyartini. 2000. Makroalga. Fakultas Biologi Universitas Jendral Soedirman.
Purwokerto. 153 Hlm

Kimball, J.W. 1992. BiologiJilid 3, Edisikelima. Terjemahan Soetarmi T. dan Nawangsari S.


Erlangga. Jakarta.

Pangestuti, R dan L. Kusmita. 2007. Sejuta Manfaat Warna yang Tak Tergali Dari RumputLaut.
Makalah disampaikan dalam Seminar Pigmen RumputLaut di Jurusan Ilmu Kelautan FPIK
UniversitasDiponegoro, Semarang (4 Agustus 2007).

Ramazanov, Z., 2006. New wave of health from the sea. Nutraceuticals World 2(6): 38-39.

Raven, P, H. R, F, Evert dan S, E, Eichorn. 1986. Biology of Plants. Fourth Edition. Worth
Publishers, Inc. New York. 775 p. Romay et al. 2003.

C-Phycocyanin: A Biliprotein with Antioxidant, Anti-Inflammmatoy and Neuro protective


Effects. Current Protein and Peptide Science 4, 207-16. Bentham Science Publishers Ltd, Cuba.
Santosa, G.W. 2003.

Budidaya Rumput Laut. Program Community College Industri Kelautan dan Perikanan.
Universitas Diponegoro. Semarang.

Anonim. (2009). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Henny Riandari. (2014). Biologi untuk Kelas X SMA dan MA. Solo : Global.

Irnaningtyas. (2013). Biologi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta : Erlangga.

Mochamad Indrawan. (2007). Biologi Konservasi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Nunung Nurhayati, Mukhlis, & Agus Jaya. (2014). Biologi untuk SMA/MA Kelas X. (cetakan ke-
1). Bandung : Yrama Widya.

Supardi. (1994). Lingkungan Hidup dan Kelestariannya. Bandung : Alumni.

30