Anda di halaman 1dari 66

Operator Manual

Bahasa Indonesia
dengan Neonate
application

0
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI 1
………………………………………………………………………….......... 3
GAMBAR HAMILTON – C2, UNIT DAN ASESORIS…….. 4
………………………....... 7
GAMBAR UNIT HAMILTON – C2..
…………………………………………………….....
GAMBAR LAYAR HAMILTON – C2 ..
…………………………………………………....
1. PERSIAPAN MEMULAI 8
VENTILASI…………………………………………….......... 8
1.1 Kategori Pasien dan Breathing Sirkuit 8
…………………………………………........... 10
1.2 Pemasangan Asesoris untuk Pediatric / Adult ……………….... 12
……………………. 12
. 1.3 Pemasangan Asesoris untuk Infant / Neonate 13
1.4 Cara Memasang Valve Ekspirasi 14
………………………………………………………..... 15
1.5 Cara Memasang Flow Sensor …………………………………………..................
1.6 Pemasangan Nebilizer
……………………………………………………….................
1.7 Menyalakan Unit
……………………………………………………………..................
1.8 Test dan Kalibrasi
……………………………………………………………................
2. VENTILATOR SETTING …………………..... 1
………………………………………..... 8
2.1 Patient Setup............................................................................................ 18
2.2 Memilih Ventilation Mode 19
……………………………………………………………...... 20
2.3 Mengatur Control Setting 25
………………………………………………………….........
2.4 Alarm ………………………………………………………………………………….........
3. MONITORING 3

1
………………………………………………………………………........ 3
3.1 Numeric Patient Data ................................................................................. 33
3.2 Grafik .....................……………………………………………………………………… 34
3.3 Dynamic Lung ...................………………………...………………………………….. 35
3.4 Vent Status............ 37
………………………………………………………………………. 38
3.5 Trend………………………………………………………………………………………… 38
3.6 Loops…………………………………………………………………………………………

2
4. MODUS VENTILASI ……………………………………………………….... 4
………….. 0
4.1 Konsep Biphasic …………………….. 40
…………………………………………………….. 40
4.2 Modus Mandatory 41

…………………………………………………………………………… 42

4.2.1 (S)CMV+ ………………………………………………………………………………………… 42


4.2.2 PCV+. …………………………………………………………………………………………… 43

4.3 Modus Intermittent 43

………………………………………………………………………..... 43
4.3.1 SIMV+…………………………….. ………………………………………………………....... 44
4.3.2 PSIMV+………………………………. ……………………………………………………..... 45
4.4 MODUS SPONT…………………..………………………………………………………..... 45
4.5 NIV (Non Invasive Ventilation) 46
…………………………………………………………….. 47
4.6 NIV – ST (Non Invasive Ventilation – Spontaneous Time) 48
…………………………… 49
4.7 nCPAP - PS
4.8 DuoPAP &
APRV………………………………………………………………………………
4.8.1 DuoPAP (Duo Positive Airway Pressure)……………………………….
………….
4.8.2 APRV (Airway Pressure Release Ventilation)……..
………………………………
4.9 ASV (Adaptive Support Ventilation)
………………………………………………………
5. CLEANING, DISINFEKSI, DAN STERILISASI 5
………………………………………... 2

3
HAMILTON – C2, UNIT dengan ASESORIS

4
5
UNIT HAMILTON – C2

Item Deskripsi
1 Layar Sentuh
2 Lampu Alarm. Lampu akan menyala jika terjadi alarm (merah =
prioritas tinggi, kuning = medium atau rendah)
3 Battery charge indikator. Menyala jika battery sedang dicharge.

4 Tombol power & standby.

Untuk mengaktifkan standby, tekan tombol & segera lepaskan,


kemudian aktifkan stdnaby.

Untuk mematikan ventilator, tekan tombol kemudian tahan sampai


3 detik.
5 Tombol pengunci. Tekan tombol ini, maka layar sentuh akan terkunci
untuk melindungi dari kemungkinan tersentuhnya layar secara tidak
disengaja
6 Tombol 100% O2. memberikan 100% O2 selama 2 menit

7 Tombol manual breath/inspiratory hold.

8 Tombol nebulizer. Tekan tombol ini untuk mengaktifkan nebulizer


selama 30 menit

9 Tombol silence alarm. Tekan tombol ini untuk mematikan bunyi


alarm selama 2 menit.

10 Knob putar & tekan. Memilih & menyetting ventilator & memilih
data. Jika tombol power dinyalakan, tombol ini akan dikelilingi oleh
lampu warna hijau
11 Expiratory valve cover & membrane

6
12 Jalur ekspirasi pasien. Breathing circuit ekspirasi & ekspiratory
vavlve terhubung di sini

13 Jalur inspirasi pasien. Breathing circuit inspirasi & inspiratory filter


terhubung di sini.

14 Koneksi Flow sensor. Hubungkan tubing flow sensor warna biru ke


konektor biru & tubing bening ke konektor silver. Tubing warna
biru harus selalu menghadap ke arah pasien

15 Konektor nebulizer

16 Oxygen cell

7
Item Deskripsi
1 High pressure oxygen (DISS / NIST inlet)

2 Tempat kabel power


3 Kabel power

4 Konektor low pressure oxygen

5 Label serial number

6 Cooling fan vent

7 Konektor RS-232

8 Konektor DC power

9 Ethernet konektor

8
LAYAR

1. Modes yang aktif


2. Parameter control
3. Menu Control & Alarm
4. Indikator power yang sedang digunakan, baterai atau sumber
listrik
5. Grafik
6. Simbol trigger pasien
7. Monitoring parameter utama
8. Pesan alarm
9. Setting Pmax
10. Pressure limitation
11. Indikator informasi alarm

9
1. PERSIAPAN MEMULAI VENTILASI

1.1 Kategori Pasien dan Breathing Sirkuit

Tinggi Badan Berat Diameter tubing Flow sensor


(cm) Badan (mm)
Ideal
(kg)
- 0.2 – 3 10 Infant / neonate
30 – 150 3 - 42 15 Pedatric/Adult
> 130 > 30 22 Pediatric/Adult

1.2 Pemasangan Asesoris untuk Pediatric/Adult

Pasien breathing circuit dengan heater wire

10
Pasien breathing circuit dengan filter HME

11
1.3 Pemasangan Asesoris untuk Infant/Neonate

1.3 Cara Memasang Flow Sensor

Pasien breathing circuit dengan heater wire

12
Susunan breathing circuit dengan heater wire untuk mode nCPAP

13
1.4 Cara Memasang Valve Ekspirasi

1.5 Cara Memasang Flow Sensor

 Pastikan bagian flow sensor yang bertuliskan „PATIENT“ menghadap


ke pasien
 Pastikan tubing flow sensor tidak terlipat (kinking)

14
1.6 Pemasangan Nebulizer

Y-piece
Probe
Hosing

 Nebulizer dipasang di jalur inspirasi


 Dipasang di antara Y-piece & Probe hosing agar tidak mengganggu
proses penghangatan pada humidifier.

15
1.7 Menyalakan Unit

1. Tekan tombol „power switch“ seperti yang terlihat pada gambar.

2. Beberapa saat kemudian akan tampak tampilan seperti di bawah ini

3. Inputlah jenis kelamin & tinggi badan pasien. Maka secara otomatis
Hamilton-C2 akan menghitung IBW (ideal body weight) pasien
tersebut.

4. Pilih ”Start Ventilation”

16
1.8 Test dan Kalibrasi

Jalankan test & kalibrasi melalui menu “System” kemudian pilih “Test &
Calib”

1. “Tightness” artinya mengkalibrasi kerapatan pada breathing set


yang sudah dipasang, apakah ada kebocoran atau tidak.
Cara kalibrasi Tightness Test
- Pilih menu “Tightness”
- Tunggu pesan yang muncul di monitor
 Disconnect Patient, artinya lepaskan balon test.
 Tighten Patient System tutup bagian flex tube yang terbuka
dengan sarung tangan sterill
 Connect patient, pasang kembali flex tube & balon test.
 Perhatikan kotak di sebelah menu “ tightness ”. Jika
tercentang warna hijau berarti tidak ada kebocoran pada
breathing circuit yang terpasang. Apabila yang muncul
tanda silang berwarna merah, cek kembali pemasangan
circuit karena berarti masih terbaca adanya kebocoran.

17
2. Kalibrasi “Flow Sensor” artinya mengkalibrasi apakah flow sensor
masih dapat digunakan atau harus diganti.
Cara Kalibrasi Flow Sensor Pediatric / Adult
- Pilih menu “Flow Sensor”
- Tunggu pesan yang muncul di monitor
 Disconnect Patient lepaskan flextube & balon test
 Turn The Flow Sensor baliklah posisi flow sensor yakni bagian
yang bertuliskan “PATIENT” menghadap ventilator. Pada proses ini
diperlukan konektor yang sudah disediakan dalam setiap
kemasan flow sensor
 Calibration in Progress artinya proses kalibrasi sedang
berlangsung
 Turn The Flow sensor baliklah posisi flow sensor yakni bagian
yang bertuliskan “PATIENT” kembali menghadap ke pasien tanpa
konektor lagi
 Calibration in Progress artinya proses kalibrasi sedang
berlangsung untuk sisi sebaliknya
 Connect patient, pasang kembali flex tube & balon test.
 Perhatikan kotak di sebelah menu :”flow sensor”. Jika

tercentang warna hijau berarti kalibrasi berhasil. Apabila

yang muncul tanda silang berwarna merah, berarti

kalibrasi gagal, ulangi sekali lagi prosedur kalibrasi.

Cara Kalibrasi Flow Sensor Infant/Neonate

- Pilih menu “Flow Sensor”


- Tunggu pesan yang muncul di monitor
 Disconnect Patient lepaskan flextube & test lung
 Calibration in Progress artinya proses kalibrasi sedang
berlangsung
 Connect patient, pasang kembali flex tube & balon test.

18
 Kalibrasi flow sensor untuk infant/neonate tidak perlu
dibalik seperti flow sensor pediatric/adult
 Perhatikan kotak di sebelah menu :”flow sensor”. Jika
tercentang warna hijau berarti kalibrasi berhasil. Apabila
yang muncul tanda silang berwarna merah, berarti
kalibrasi gagal, ulangi sekali lagi prosedur kalibrasi.

3. Kalibrasi O2 cell artinya mengkalibrasi O2 cell yang terpasang


apakah dapat membaca / menyensor konsentrasi oksigen yang
disetting dengan konsentrasi oksigen yang termonitor.
Cara Kalibrasi O2 cell
- Pilih menu ”O2 cell”
- Tunggu 2 menit
 Perhatikan kotak di sebelah menu ”O2 cell”. Jika
tercentang warna hijau berarti kalibrasi berhasil. Apabila
yang muncul tanda silang berwarna merah, berarti
kalibrasi gagal, ulangi sekali lagi prosedur kalibrasi.

19
2. VENTILATOR SETTING

2.1 Patient Setup

Setelah unit dinyalakan akan muncul menu patient setup. Sesuaikan


dengan situasi yang diinginkan. Pastikan bahwa pada ventilator telah
terpasang breathing circuit yang sesuai dengan kategori pasien yang akan
dirawat.
1. Pilih ”Adult” apabila pasiennya adult atau pediatric dan pilih
”Neonatal” jika pasiennya infant/neonate.
2. Jika yang dipilih adalah ”Adult”, masukkan informasi jenis kelamin &
tinggi badan pasien, maka Ideal Body Weigth akan otomatis
terkalkulasi. Sedangkan untuk ”Neonate” masukkan berat badan
yang sesuai dengan pasien.
3. Pilih “Start Ventilation” untuk memulai ventilasi dengan setting baru.
Pilih “Last Patient” untuk mengaktifkan kembali setting terakhir
sebelum unit dimatikan.

20
2.2 Memilih Modus Ventilasi

Modus ventilasi yang sedang digunakan ditampilkan pada pojok kanan


atas layar. Untuk mengubah modus :
1. Buka menu “Mode”
2. Pilih modus yang diinginkan
3. Tekan “confirm”

21
2.3 Mengatur Control Setting
Setting parameter control dengan menekan menu “Controls” yang
meliputi : “Basic”, “More”, & “Apnea”.
1. “Basic”  untuk setting parameter yang berkaitan dengan modus
yang dipilih
2. “More”  terdapat pilihan “Sigh” yang dapat diaktifkan apabila
diperlukan
3. “Apnea”  untuk setting apnea backup (aktif pada semua modus
kecuali : SCMV, PCV, & ASV)

22
Tabel Control Parameter

23
Paramete
Penjelasan Range
r
Backup Fasilitas yang akan otomatis membackup On atau Of
ventilasi pasien jika dalam waktu tertentu
tidak terdeteksi nafas spontan dari pasien.
Tersedia pada semua modus kecuali : SCMV,
PCV, & ASV
ETS  Expiratory Trigger Sensitivity. Prosentase 5 – 70 %
dari peak inspiratory flow dimana
ventilator akan berpindah dari inspirasi
menjadi ekspirasi.
 Menambah setting ETS berarti
memperpendek waktu inspirasi.
Flowtrigger Sensitivitas mesin terhadap nafas spontan Of, 1 – 10 l /
pasien. min
Hamilton-C2 memberikan continous & konstan
base flow dari inspirasi ke ekspirasi outlet
pada saat akhir ekspirasi. Baseflow adalah
bagian yang penting untuk flowtrigger,
sebesar 4 – 20 l/min :
 Untuk flowtrigger ≤ 2 l/min 
baseflow 4 l/min
 Untuk flowtrigger > 2 l/min 
baseflow = 2 x setting flowtrigger
Gender Jenis kelamin pasien. Digunakan untuk Male (Laki-
menentukan tinggi badan pasien & ideal laki), Female
bodyweight-nya. (Perempuan)

I:E Perbandingan waktu inspirasi & ekspirasi. 1:9.0 – 4.0:1


Tersedia untuk modus (S)CMV & PCV

Loudness Mengatur volume alarm 1 – 10

24
% MinVol Persentase menit volume yang diberikan ke 25 – 350 %
pasien, berdasarkan support ventilasi yang
diharapkan. Hamilton - C2 menggunakan
seting %MinVol dan berat badan untuk
mengkalkulasi target menit volume. Pada saat
menseting %MinVol, pihak Hamilton
merekomedasi untuk memulai pada nilai
100% (100 ml/min/kg berat badan untuk
pasien dewasa dan 200 ml/min/kg berat
badan untuk pasien pedatric), setting ulang
jika diperlukan.
Oxygen Konsentrasi oksigen yang diberikan. Tersedia 21 – 100 %
pada semua ventilation modes.

Pasvlimit Batas maksimum pressure yang akan 7 – 70


diberikan ASV. Minimal 15 cmH2O di atas PEEP cmH2O

Oxygen Konsentrasi oksigen yang diberikan. Tersedia 21 – 100 %


pada semua ventilation modes.

Pasvlimit Batas maksimum pressure yang akan 7 – 70


diberikan ASV. Minimal 15 cmH2O di atas PEEP cmH2O

Pat. height Tinggi badan pasien. Digunakan untuk 30 – 250 cm


menghitung IBW (ideal bodyweight) pasien.
Pcontrol Pressure yang akan diberikan saat inspirasi. 5 – 60
Dihitung di atas PEEP. Tersedia pada modes cmH2O di
PCV atas PEEP /
CPAP
PEEP/CPAP PEEP (Positive end expiratory pressure) dan 0 to 35
CPAP (Continous positive airway pressure), cmH2O
pressure konstan yang diberikan pada akhir
ekspirasi
Pinsp Pressure yang diberikan pada saat inspirasi 5 – 60
(dihitung di atas PEEP/CPAP). Tersedia pada cmH2O di
modus PSIMV & NIV-ST atas

25
PEEP/CPAP

Pramp Pressure ramp. Waktu yang dibutuhkan 50 – 200 ms


pressure inspirasi untuk meningkatkan target
pressure yang telah diseting.
Setting Pramp yang terlalu rendah (terutama
dengan ETT kecil) dapat menyebabkan
overshoot & alarm „pressure limitation“.
Untuk menghindari terjadinya overshoot pada
pediatric, direkomendasikan untuk menyetting
Pramp minimal 75 ms.
CATATAN :
Jika resistance jalan napas tinggi dan pramp
yang diset pendek, dapat dilihat pressure
akan melebihi selama inspirasi dini. Dalam
kasus ini, berikan pramp yang lebih panjang.
Psupport Pressure (diatas PEEP/CPAP) yang diberikan 0 – 60
selama fase inpirasi. cmH2O di
Berlaku untuk semua spontaneous breath : atas
SIMV+, PSIMV+, SPONT, DuoPAP, APRV, NIV PEEP/CPAP

Rate Frekuensi respirasi atau jumlah napas per 1 – 80 bpm


menit. Berlaku untuk modus mandatory
(S)CMV+, PCV+, SIMV+, PSIMV+, DuoPAP, &
NIV – ST
Sigh Nafas panjang yang akan otomatis akan On atau Off
diberikan setelah 50 kali ritme nafas biasa.
Berlaku untuk semua modes kecuali DuoPAP &
APRV
Thigh Durasi level high airway pressure. Berlaku 0.1 – 30
untuk DuoPAP & APRV saja. detik
Ti Durasi fase inspirasi. Berlaku untuk SIMV+ & 0.1 – 3.2
PSIMV+ detik

26
Ti max Waktu inspirasi maksimum. Berlaku untuk NIV 1.0 – 3 detik

Durasi level low airway pressure. Berlaku 0.2 – 30


untuk modus APRV detik

TRC Tube Resistance Compensation, mengurangi  ET tube,


WOB pasien akibat resistance yang Trach
ditimbulkan oleh ETT atau tracheostomy tube. Tube, TRC
Off
 4.0 – 10.0
mm
diameter
tube
 0 – 100 %
kompensa
si

VT Tidal volume yang diberikan saat inspirasi. 50 – 2000 ml


Berlaku untuk (S)CMV+ & SIMV+

27
2.4 Alarm

Untuk keamanan pasien, jangan lupa untuk selalu menentukan batas


alarm.
1. Tekan menu ”ALARM”
2. Pilih parameter alarm yang akan diatur, kemudian atur angkanya.
3. Alarm pada ”Limit 2” hanya aktif jika option ETCO2 diaktifkan.
4. Pilih ”Loudness” untuk mengatur volume alarm
5. Menu ”Bufer” berisi informasi 6 buah alarm yang paling baru.

Paramete
Penjelasan Range
r
Apnea Time Batas waktu maksimal ventilator untuk 15 – 60 detik
membaca nafas spontan pasien. Jika dalam
waktu yang telah disetting tidak terdeteksi
adanya trigger akan muncul alarm ini.
Apnea backup otomatis akan bekerja
membackup ventilasi
ExpMinVol  Low :
(low & high) Batas tinggi dan rendah Exp.MinVol. jika Of, 0.1 – 50
l/min
melewati batas, alarm prioritas tinggi
 High :
akan muncul. 0.1 – 50
l/min
Ftotal (low & Batas minimum dan maksimum frekuensi 0 – 99 bpm
high)
nafas total, termasuk spontan dan

28
mandatori. Jika batas terlampaui, alarm
prioritas medium akan muncul

Oxygen (low Batas minimun & maksimum konsentrasi  Low : 18


& high) – 97 %
oksigen yang termonitor. Jika batas
 High :
terlampaui, muncul alarm prioritas tinggi. 18 –
Hanya aktif jika menggunakan Low 103 %

Pressure Oksigen
Pmax Batas pressure maksimum. Jika batas ini 15 – 70
cmH2O
terlampaui, alarm prioritas tinggi akan
muncul.
Untuk mandatory breaths, inspiratory
pressure dibatasi 10 cmH2O di bawah
Pmax.
Vt (low & Batas minimum & maksimum Tidal Volume Off, 10 – 3000
high) ml
saat ekspirasi. Jika batas terlampaui,
muncul alarm medium.

29
Tabel Panduan Cara Merespon Alarm

Alarm Keterangan Tindakan


Apnea Prioritas tinggi. Tidak ada  Cek pasien
trigger pasien selama 20  Mempertimbangkan
detik pada modus SPONT, untuk pindah ke modus
SIMV+, PSIMV+, NIV, atau mandatory
NIV-ST  Menaikkan rate
mandatory pada SIMV+
atau PSIMV+.
Apnea Prioritas rendah. Apnea back  Apnea backup
ventilation up sedang berjalan. dimulai. Ventilator
memberikan backup
mode. Cek setting
parameter untuk backup
mode apakah sudah
sesuai dengan kebutuhan.
Apnea Prioritas rendah. Backup  Tidak ada yang perlu
ventilation mode berakhir, Hamilton-C2 dilakukan
ended kembali ke mode sebelum
apnea

ASV: Can not Prioritas rendah. Setting dari  Cek pasien


meet target operator yaitu %MinVolnya  Cek setting,
tidak bisa diberika ke pasien, pertimbangkan untuk
kemungkinan dikarenakan mengurangi %MinVol atau
adanya konflik dari menambah Pasvlimit
settingnya  Pertimbangkan untuk
melakukan suction
Battery 1 Prioritas rendah. Baterai 1  Lakukan kalibrasi
calibration perlu dikalibrasi. Anda masih baterai
required dapat menggunakan baterai
tersebut

Battery 2 Prioritas rendah. Baterai 2  Lakukan kalibrasi


calibration perlu dikalibrasi. Anda masih baterai
required dapat menggunakan baterai
tersebut

Battery 1 Prioritas sedang. Baterai 1  Ganti dengan baterai


calibration tidak sempurna baru
failed
Battery 2 Prioritas rendah. Baterai 2  Ganti dengan baterai
calibration tidak sempurna baru
failed
Battery low Prioritas tinggi. Baterai  Sambungkan
backup mempunyai sisa ventilator ke AC power.

30
tenaga menipis hanya 10
menit saja

Battery 1 Prioritas tinggi. Temperatur  Sambungkan


over temp baterai 1 bertambah tinggi , ventilator ke AC power.
baterai otomatis mati.  Ganti dengan baterai
baru
Battery 2 Prioritas tinggi. Temperatur  Sambungkan
over temp baterai 2 bertambah tinggi , ventilator ke AC power.
baterai otomatis mati.  Ganti dengan baterai
baru
Battery 1 Prioritas tinggi. Temperatur  Jauhkan ventilator
temperature baterai melebihi batas dari sinar matahari
high normal langsung
 Hindarkan ventilator
dari sumber panas
 Ganti dengan baterai
baru

Battery 2 Prioritas tinggi. Temperatur  Jauhkan ventilator


temperature baterai melebihi batas dari sinar matahari
high normal langsung
 Hindarkan ventilator
dari sumber panas
 Ganti dengan baterai
baru

Check Flow Prioritas tinggi. Tubing  Cek flow sensor dan


Sensor sensitifitas dari flow sensor saluran tubingnya.
tidak tersambung. Hamilton -  Gunakan mode PCV+,
C2 akan otomatis berpindah Hamilton - C2 akan
ke modus PCV+. beralih secara otomatis
jika kalibrasi flow sensor
berhasil.

Check Flow Prioritas tinggi. Tubing  Cek kondisi flow


Sensor sensitifitas dari flow sensor sensor
Tubing tidak tersambung. Hamilton -  Lakukan konfirmasi
C2 akan otomatis berpindah pemindahan modus PCV
ke modus PCV+.  Lakukan kalibrasi Flow
sensor
 Gunakan flow sensor
baru

Device Prioritas tinggi. Temperature  Jauhkan ventilator


temperature dalam ventilator melebihi dari sinar matahari
high normal langsung.
 Cek cooling fan filter

31
 Hubungi teknisi
Fondaco

Disconnect Prioritas tinggi. VTE < 1/8 VTI  Cek pasien


on patient yang diberikan ke pasien.  Cek breathing circuit
side atau flow sensor dari
kemungkinan terlepas
 Cek ET tube atau
tracheostomy dari
kemungkinan adanya
kebocoran

Disconnect Prioritas tinggi. VTI yang  Cek pasien


on ventilator terukur pada airway < ½ VTI  Cek breathing circuit
side yang diberikan atau flow sensor dari
kemungkinan terlepas
 Cek ET tube atau
tracheostomy dari
kemungkinan adanya
kebocoran

Disconnectio Prioritas tinggi. Hamilton - C2  Cek apsien


n mendeteksi adanya  Cek breathing set
pemutusan tubing dari test sirkuit
bag atau dari pasien. Atau  Cek gas oksigen dan
dapat juga jika flow sensor air.
tidak dapat digunakan,mesin  Jika flow sensor tidak
akan mendeteksi tidak berfungsi ( alarm flow
adanya pressure yang masuk sensor tidak aktif),
kedalam mesin. pastikan bahwa ada
pressure yang keluar
melalui tubing warna biru.
Exhalation Prioritas tinggi. Akhir dari  Cek pasien
obstructed ekspirasi pressure lebih dari  Cek filter ekspirasi
seting dari PEEP + 5 cmH2O. (membran)
 Cek flow sensor tube
 Panggil teknisi
supplier
Exhalation Prioritas tinggi. Baseflow  Cek breathing circuit
port pada circuit < 5 l/min. Aktif dari kemungkinan
occluded hanya untuk NIV & NIV-ST. terjadinya kebocoran
High Prioritas sedang. Ftotal yang  Cek pasiennya.
frequency diukur mencapai lebih dari  Seting Psupport yang
yang telah disetting pada dapat mencukupi tidal
alarm. volumenya.
High minute Prioritas tinggi. MinVol diukur  Cek pasien untuk
volume lebih dari yang diseting pada hyperventilasi
alarm.  Setting ulang batas

32
alarmnya.
High oxygen Prioritas tinggi. Oxygen  Cek pasien
konsentrasi yang diukur  Cek sumber oxygen
kelebihan 5% dari yang  Cek oxygen cell
disetting. Alarm akan  Kalibrasi oxygen cell
berhenti selama 1 menit
setelah menyeting ulang
oxygennya.
High Prioritas tinggi. Insp. Pressure  Cek pasien
pressure yang diukur lebih dari Pmax.  Cek breathing circuit
Rapahel akan membebaskan dan tubing flow sensor
pressure yang berlebihan jika ada sumbatan.
sampai tercapai pada level
PEEP/CPAP.
High Prioritas rendah. Insp.  Cek seting Pmax atau
pressure Pressure yang diukur pada nonaktifkan sigh
during sigh saat sigh lebih besar dari
Pmax.
High Tidal Prioritas tinggi. Insp.tidal  Cek breathing sirkuit
Volume volume yang diukur dua kali kemungkinan ada
lipat lebih besar dari yang kebocoran. Hal inis ering
diset. (untuk (S)CMV+, muncul setelah adanya
SIMV+ dan ASV). Kejadiannya napas panjang karena
sering, tapi kemudian sesak (contoh
alarmnya hilang dengan bronchoscopy)
sendirinya.
IRV Prioritas rendah. I:E rasio  Cek setting I:E ratio
yang diukur dan diseting  Cek rate seting
dibawah 1:1, mengarah
terus ke rasio sebaliknya.

Loss of Prioritas tinggi. Hamilton-C2  Perbaiki power loss,


external kehilangan koneksi dengan jika tidak bisa siapkan
power sumber listrik. Ventilator unit lain.
akan otomatis bekerja  Cek status baterai.
menggunakan baterai.

Loss of PEEP Prioritas sedang. Paw <  Cek pasien


(PEEP/CPAP – 3 cmH2O)  Cek breathing circuit
dalam waktu 10 detik dari kemungkinan
terjadinya kebocoran
Low Prioritas sedang. Ftotal yang  Cek pasien
frequency terukur < setting batas alarm  Cek breathing circuit
dari kemungkinan
terjadinya kebocoran.
 Pertimbangkan untuk
melakukan suction

Low minute Prioritas tinggi. MinVol yang  Cek pasien untuk

33
volume diukur sama dengan atau ventilasi yang mencukupi.
dibawah setting limit.  Naikkan rate,Vt atau
Psupport.
Low oxygen Prioritas tinggi. Konsntrasi  Cek pasien
oksigen yang diukur 5%  Cek sumber oksigen
dibawah seting. Alarm akan  Cek oxygen cell,
berhenti selama 1 menit kemudian kalibrasi
setelah menyeting ulang  Jika sudah habis, ganti
oxygennya. dengan yang baru.
 Sediakan unit yang
lain jika perlu.
Low tidal Prioritas sedang. VTE yang  Cek pasien
volume terukur < setting batas alarm  Atur setting kembali
setting parameter & batas
alarm
 Cek kemungkinan
terjadinya kebocoran

 Jika sedang
menggunakan mode ASV,
cek kemungkinan ET tube
 Pertimbangkan untuk
melakukan suction
No battery Prioritas tinggi. Tidak ada  Pasang minimal 1 pc
baterai yang digunakan dlam baterai
ventilator. Ventilator hanya
akan bekerja menggunakan
sumber listrik.
O2 cell cal Prioritas rendah. Data  Lakukan kalibrasi O2
needed kalibrasi O2 cell tidak berada cell
dalam range yang
diharapkan, atau O2 cell
perlu dikalibrasi.

O2 cell Prioritas tinggi. Kalibrasi  Kalibrasi ulang


defective oksigen cell gagal oksigen cell
 Pasang oxygen cell
yang baru atau tidak
memakai oxygen cell.
O2 cell not Prioritas rendah. Type O2 cell Pasang O2 cell khusus
system yang digunakan tidak sesuai untuk Hamilton – C2
compatible dengan Hamilton-C2
Oxygen Prioritas tinggi. Oksigen yang  Cek pasien
supply failed masuk dibawah 200kPa, atau  Cek sumber (central
gas tidak terdeteksi. gas) oksigen
Ventilator akan memberi  Sediakan alternative
napas ke pasien dengan oksigen lain jika central
oksigen 21%. (alarm ini akan bermasalah.

34
reda jika oksigen ventilator di
set pada 21%)
Pressure Prioritas rendah. Setting  Pastikan bahwa
limit has Pmax atau Pasvlimit telah presure limit tidak terlalu
changed diubah. Perubahan setting tinggi sehingga nafas
tersebut otomatis akan pasien menerima
merubah setting yang lain. pressure yang sesuai
Pmax selalu 10 cmH2O lebih dengan kebutuhannya.
tinggi dari Pasvlimit.
Pressure Prioritas sedang sebelum  Cek pasien untuk
limitation diredam alarmnya. Prioritas seting.
rendah setelah diredam  Cek setting dan batas
alarmnya. Insp.pressure alarm
diukur oleh mesin 10 CmH2O
dibawah Pmax. Volume yang
diberikan pada modus
(S)CMV+ dan SIMV+ dibatasi.
Pressure not Prioritas tinggi. Airway  Sediakan ventilator
released pressure telah melebihi limit lain sebagai alternative
Pmax & pressure tidak  Cek expiratory valve
dilepaskan melalui expiratory & breathing circuit dari
valve setelah 5 detik. emungkinan terjadinya
sumbatan
 Hubungi teknisi
Fondaco
Preventive Prioritas rendah. Berdasarkan  Hubungi teknisi
maintenance operating hour yang telah Fondaco
required tercapai, ventilator
memerlukan preventive
maintenance
Replace Prioritas rendah. Air inlet Ganti dengan HEPA filter
HEPA filter HEPA filter menunjukkan ada yang baru
resistance tinggi
Safety Technical Fault. Hardware/  Sediakan ventilator lain
ventilation : software malfungsi. sebagai alternative
xxxxxx Ventilator memasuki safety  Hubungi teknisi Fondaco
mode.
Switched to Prioritas tinggi. Ventilator  Cek pasien
PCV+ berpindah ke mode PCV+  Ganti dengan flow sensor
karena data pasien tidak baru
terbaca oleh flow sensor.
Technical Prioritas rendah, sedang,  Hubungi teknisi Fondaco
event : atau tinggi. Hardware atau
xxxxxx software malfungsi.
Technical Technical fault. Hardware  Hubungi teknisi Fondaco
Fault : atau software mengalami
xxxxxx malfungsi. Ventilator
memasuki ambient state.
Turn the flow Prioritas tinggi. Flow sensor  Balik flow sensornya,

35
sensor terbalik dengan tubing warna biru
mengahdap ke pasien.
USB power Prioritas rendah. Voltase USB  Pastikan USB yang
out of terlalu rendah. digunakan adalah passive
tolerance USB
 Hubungi teknisi
Fondaco
Vent outlet Prioritas tinggi. Temperature  Jauhkan ventilator
temperature pada outlet ventilator dari sinar matahari
high melebihi batas normal. langsung
 Jauhkan dari sumber
panas
 Cek cooling fan filter
 Hubungi teknisi
Fondaco
Volume limit Prioritas sedang. Full target  Cek pasien
reached volume pada mode ASV,  Cek setting parameter
(S)CMV+, atau SIMV+ tidak  Pertimbangkan untuk
dapat diberikan karena menambah Pmax sampai
terjadi konflik pada beberapa batas yang sesuai
setting.  Pertimbangkan untuk
melakukan suction

36
3. MONITORING

Parameter
Monitoring Pressure Limitation :
Pmax (Pmax – 10 cmH2O)
Utama
atau Pasvlimit

Grafik
Airway
Pressure
Indikator
Trigger

Dynamic
Lung

3.1 Numeric Patient Data

Cara melihat data pasien yang berupa angka (numeric patient data) :
1. Buka menu ”Monitoring”
2. Kemudian pilih ”Value”

37
3.2 Grafik

Hamilton – C2 menampilkan waveform pressure/time sebagai display


standar. Tapi dari menu “Graphic”, user dapat memilih grafik kedua yang
diinginkan.
1. Buka menu “Monitoring” kemudian pilih menu “Graphic”
2. Pilih grafik yang diinginkan :
a. Flow  waveform flow/time
b. Volume  waveform volume/time
c. Dynamic Lung
d. Vent Status
e. Grafik ASV
f. PCO2 (hanya ada jika fasilitas ETCO2 diaktifkan)
g. FCO2 (hanya ada jika fasilitas ETCO2 diaktifkan)

38
3.3 Dynamic Lung

Panel Dynamic Lung memvisualisasikan tidal volume, lung compliance,


patient trigger, & resistance secara real time. Gambar paru akan
mengembang & mengempis secara sinkron dengan nafas pasien yang
aktual.
Nilai resistance (Rinsp) & compliance (Cstat) juga ditampilkan. Jika semua
nilai berada pada range normal, akan muncul bingkai berwarna hijau pada
panel dynamic lung.

39
3.3.1 TIDAL VOLUME (Vt)

Dynamic Lung mengembang & mengempis untuk menunjukkan tidal


volume secara real time. Paru – paru akan bergerak secara sinkron dengan
nafas actual pasien berdasarkan pembacaan flow sensor.

3.3.2 COMPLIANCE (Cstat)

Dynamic Lung menggambarkan compliance (Cstat) pasien seperti contoh


di bawah ini :

3.3.3 PATIENT TRIGGER

Apabila ventilator mendeteksi adanya trigger atau nafas spontan pasien,


Dynamic Lung akan menggambarkannya seperti gambar di bawah ini :

Trigger

40
3.3.4 RESISTANCE (Rinsp)

Bronchial Tree pada Dynamic Lung menggambarkan resistance (Rinsp) tiap


nafas.

3.4 Vent Status

Panel Vent Status menggambarkan 6 parameter yang berhubungan


dengan ketergantungan pasien terhadap ventilator. Indicator pada masing
– masing parameter akan bergerak naik atau turun sesuai dengan kondisi
pasien. Jika indicator tersebut berada dalam area biru muda (weaning
zone), menggambarkan bahwa support dari ventilator semakin berkurang
atau pasien sudah berada dalam kondisi weaning.

41
3.5 Trend

User dapat memilih fasilitas TREND untuk menampilkan data trend yang
terjadi pada pasien selama 1, 6, 12, atau 24 jam terakhir.

3.6 Loops

C2 dapat menampilkan kurva dynamic loop dengan kombinasi sebagai


berikut :
 Pressure / Volume
 Pressure / Flow
 Flow / Volume
 Volume / PCO2 (hanya ada jika ETCO2 diaktifkan)
 Volume / FCO2 (hanya ada jika ETCO2 diaktifkan)

42
43
1. Tombol “reference loop”. Tekan tombol ini untuk menyimpan loop yang
terdisplay saat ini.
2. Pmax
3. Pressure limitation
4. Kurva loop yg sekarang
5. Kurva loop yg sebelumnya

44
4. Modus Ventilasi

4.1 Konsep Biphasic

Dikenal juga dengan nama BIPAP/ double CPAP. Prinsipnya adalah


pencapaian target tidal volume tertentu umumnya setelah diset, dengan
pressure yang relatif kecil.
Perbedaan utama dengan pressure cycle mode adalah tidal volume
tertentu, misalnya 500 ml, dapat dicapai dengan pressure yang lebih
rendah < 15 cmH2O, dibandingkan dengan pressure cycle mode yang
membutuhkan > 15 cmH2O. Hal ini dimungkinkan karena automatic
inspiratory flow serta time insp. yang lebih panjang.
Kondisi diatas memungkinkan pasien bernapas secara spontan (free
breathing). Untuk mengetes system Bipap dapat dipergunakan teknik
sebagai berikut :
1. Ti diperpanjang 1.5-2 :1
2. Aktifkan Volume hingga 500 ml
3. Set limit pressure pada alarm 20 cmH2O
4. Amati airway pressure, selalu kurang dari 20 cmH2O
Untuk lebih jelasnya lihat perbedaan grafik dibawah ini :

Gambar 3.
Gambar 1. Gambar 2. Modus PCV pada pasien Aktif
Modus PCV pada pasien pasif Modus PCV pada pasien Aktif dengan konsep Biphasic

4.2 Modus Mandatory

45
Saat pasien mulai mentrigger, Ftotal akan bertambah, sementara
insp.time dan tidal volume (S-CMV+) atau Insp.pressure (PCV+) tetap
konstan, minVol naik berdasarkan setting dan kondisi pasien..
Modus mandatory memperbolehkan pasien untuk bernapas bebas.
Meskipun selama fase pemberian pernapasan, flow yang terjadi tidak
terkontrol.
4.2.1 (S)CMV+ (SYNCHRONIZED CONTROLLED MANDATORY
VENTILATION)
 Modus ini dapat mengkontrol tidal volume & rate
pasien
 Setiap satu kali napas, adaptive kontrol
membandingkan seting dari user (Vtnya) dengan rata-rata total
dari inspirasi dan ekspirasi dari tidal volume (Vt dan VTE)
 Jika nantinya insp.pressure yang dihasilkan kurang
dari napas sebelumnya, maka akan diberi dorongan untuk napas
berikutnya untuk dapat mencapai target volume.
 Pemberian insp.pressure bertahap yaitu 1 – 2
cmH2O setiap kali bernapas.
 Adaptive control dapat memberikan pressure
antara PEEP + 5 cmH2O dan Pmax – 10cmH2O, sampai kategori
pemberian maksimum yaitu 50 cmH2O dibawah PEEP.
 Parameter yang disetting :

Keterangan :

46
 VT : tergantung berat badan umumnya
adalah 10 ml x berat badan. Vt merupakan gas yang
diberikan ke pasien dalam satu menit.
 Rate : jumlah napas dalam satu menit
 Trigger : dapat disebut juga dengan
sensitivity, untuk mendeteksi napas pasien. Untuk pasien
yang tidak boleh bernapas trigger dapat di Of.
 PEEP : Positive End Expiratory Pressure,
diaktifkan untuk pasien dengan gangguan difusi paru,
seperti qedema paru, ARDS,Atelektasis.
 I:E ratio : untuk mengatur time cycle
 FiO2 : Oksigen konsentrasi yang diberikan ke
pasien.

4.2.2 PCV+ ( PRESSURE CONTROLLED VENTILATION )


 Pressure dikontrol (dapat disetting), volume
bergerak bebas.
 Prinsipnya pressure dimasukkan dengan pressure
tertentu
 Pasien tidur dan pola napas mengikuti mesin
 Parameter yang disetting :

Keterangan :
 Pcontrol : mengatur jumlah pressure yang
akan diberikan.
 Rate : Banyaknya napas dalam satu menit
 Trigger : dapat disebut juga dengan
sensitivity, untuk mendeteksi napas pasien. Untuk pasien
yang tidak boleh bernapas trigger dapat di Of.

47
 PEEP : Positive End Expiratory Pressure,
diaktifkan untuk pasien dengan gangguan difusi paru,
seperti qedema paru, ARDS,Atelektasis.
 I:E ratio : untuk mengatur time cycle
 FiO2 : Oksigen konsentrasi yang diberikan ke
pasien.

4.3 Modus Intermittent


Modus SIMV+ dan PSIMV+ pada Hamilton - C2 memberikan napas dengan
kombinasi antara pemberian napas dari mesin (Tmand) dan dikombinasi
dengan napas pasien itu sendiri (Tspont).
Selama Tmand, ventilator menunggu trigger dari pasien untuk napas. Jika
pasien memberikan trigger, ventilator langsung memberikan bantuan
napas (Psupport). Tapi jika pasien tidak mentrigger napas, maka ventilator
akan memberikan napas mesin kembali.
4.3.1 SIMV+ (SYNCHRONIZED INTERMITTENT MANDATORY
VENTILATION)
Pada modus SIMV+, masih menggunakan mandatory breath seperti
pada modus (S)CMV+. Ini dapat dijadikan alternatif dalam napas
spontan. Modus SIMV+ menjamin volume.
Karena karakteristik dari modus SIMV+, modus ini dipilih untuk kedua
alternatif yaitu untuk support dan weaning.

4.3.2 PSIMV + (PRESSURE SYNCHRONIZED INTERMITTENT


MANDATORY VENTILATION)
Pada modus PSIMV+, mandatory yang digunakan adalah PCV+. Hal ini
dapat menjadi alternatif dengan napas spontan.
Modus PSIMV+ tidak menjamin pemberian tidal volume yang cukup
setiap saat. Pada saat menggunakan modus ini, hati-hati pada
perubahan tidal volume pasien, dapat dilihat dari kondisi pasien
dimonitor.

4.4 Modus SPONT (Spontaneuous)


48
Pada modus SPONT, napas spontan pasien dengan support dari mesin
diberikan. Pada modus ini, fungsi Hamilton - C2 sebagai permintaan
sistem flow saat mensupport pasien dalam bernapas spontan agar tidal
volume terpenuhi. Apnea backup pada modus ini dapat diaktifkan.
Setting Psupport membatasi pressure yang terjadi. Pasien menentukan
waktu pernapasannya. Napas spontan pasien dapat ditrigger oleh
pasiennya sendiri atau dari mesin.

Keterangan :
 Psupport : untuk membantu memberi
pressure pada napas spontan.
 ETS : Expiratory Trigger Sensitivity,
mengatur waktu dihentikannya inspiratory flow, standard
normal adalah 25% dari inspiratory flow. Untuk pasien
COPD sebaiknya ETS diset pada 40%.
 Trigger : dapat disebut juga dengan
sensitivity, untuk mendeteksi napas pasien. Untuk pasien
yang tidak boleh bernapas trigger dapat di Of.
 PEEP/CPAP : Positive End Expiratory Pressure,
diaktifkan untuk pasien dengan gangguan difusi paru,
seperti oedema paru, ARDS,Atelektasis.
 FiO2 : Oksigen konsentrasi yang diberikan ke
pasien.

4.5 NIV (Non Invasive Ventilation)


Non Invasive Ventilation adalah modus ventilasi yang meminimalkan
kebutuhan intubasi atau membantu mempercepat ekstubasi. NIV

49
menggunakan face masks yang tersedia 3 size, & digunakan untuk pasien
yang dapat bernafas spontan tanpa bantuan rate dari ventilator.
Berdasarkan pada ventilasi pressure support , modus ini memventilasi
napas spontan pasien meskipun pada saat bersamaan muncul adanya
kebocoran. Tetapi hal ini dapat diatasi karena NIV pada Hamilton - C2
dapat mengkompensasi kebocoran dan memberikan informasi seberapa
besar kebocoran yang terjadi.

4.6 NIV - ST (Non Invasive Ventilation – Spontaneous


Time)
Sedangkan NIV – ST digunakan untuk pasien yang sudah mempunyai
nafas spontan tapi masih memerlukan bantuan rate dari ventilator.

Rate dari
ventilator

50
4.7 nCPAP-PS (optional)

NOTE :
 Hanya untuk infant
 Khusus pada mode nCPAP-PS, posisi flow sensor berada di
ekspirasi. Untuk lebih jelas, lihat bagian pemasangan
breathing sirkuit
___________________________________________________________________________

Modus nCPAP-PS (nasal Continous Positive Airway Pressure – Pressure


Spport) didesain untuk memberikan CPAP dan intermittend positive
pressure support dengan menggunakan interface berupa nasal mask atau
nasal prong. Pinsp dapat disetting mulai dari angka 0 jika yang diperlukan
untuk pasien hanya PEEP & FiO2 saja.

51
4.8 DuoPAP and APRV

Modus Volume dan Pressure mana yang lebih efektif ?


Dalam 2 dekade terakhir, modus volume dianggap lebih efektif karena
operator dapat mengatur Tidal Volume dan RR untuk menaikkan /
menurunkan PaCo2, dan peep serta FiO2 untuk menaikkan/menurunkan
PaO2.
Kelemahan Modus Volume adalah resiko Braotrauma dan juga sulit dipakai
untuk pasien pediatric dan infant.
Modus pressure dalam dekade terakhir lebih diperhatikan, karena selain
dapat dipakai pasien pediatric dan infant, juga dapat dipakai pada pasien
dengan compliance rendah seperti ARDS, Pneumothorax, dan TBC.
Kelemahan dari modus pressure pasien sulit untuk bernapas spontan
karena inspiratory pressure, dan bila terjadi fighting dan menyebabkan
terjadinya pneumothorax.

Perbandingan Modus Volume dan Modus Pessure :


Volume Ventilation Pressure Ventilation
 Tidal Volume konstan  Tidal vomule bervariasi
 Inspiratory pressure  Inspiratory pressure konstan
bervariasi.  Inspiratory flow bervariasi.
 Inspiratory flow konstan  Kelemahan : resiko
 Kelemahan: resiko hypoventilasi
barotrauma  Bila terjadi fighting
memngkinkan terjadi
pneumothorax.

4.8.1 DuoPAP (Duo Positive Airway Pressure)

52
 Modus pressure yang dimodifikasi, sehingga bila pasien bernapas
spontan, inspiratory pressure otomatis berkurang, sehingga
Ppeak selalu tetap.
 Modus memungkinkan untuk pasien bernapas spontan ( free
breathing)

Valve Aktif

 Ventilator yang memiliki DuoPAP dilengkapi dengan valve aktif.


 Saat pasien bernapas spontan, valve membuka,inspiratory
pressure turun,sehingga Ppeak tetap (P support).
 Saat pasien tidak bernapas, valve menutup, inspiratory pressure
tetap (P control).

Gambaran dari DuoPAP ventilation

53
Spontaneous Breaths
Synchronized Transitions
PHIGH

P PLOW/PEEP/CPAP

Clock Transition

4.8.2 APRV (Airway Pressure – Release Ventilation)


 Merupakan pengembangan dari DuoPAP.
 DuoPAP = APRV, sama-sama menggunakan aktif valve, memiliki
kemampuan adaptive pressure, sehingga pasien dapat bernapas
spontan setiap saat.
 Tetapi pada APRV, I:E ratiobersifat adaptasi, sehingga cocok untuk
pasien ARDS.
 Gambaran dari APRV

*Spontaneous Breath †Synchronized Transition


*† * * *† * * *† PHIGH
P
PLOW

54
Keunggulan DuoPAP dan APRV
 Prinsipnya dalah modus Pressure
 Modus pressure yang dimodifikasi, dengan menggunakan valve
aktif, yang memungkinkan pasien bernapas spontan.
 Dengan cara diatas resiko fighting yang dapat mengakibatkan
pneumothorax dapat dihindari.
 Pemakaian sedatif dapat dikurangi.

4.9 ASV ( Adaptive Support Ventilation)

Adaptive Support Ventilation adalah modus ventilasi baru, berupa


modus closed-loop control yang dapat berubah secara otomatis dari
PCV/CMV sampai SPONT, berdasarkan kondisi pasien yang terjadi.
Prinsip dari operasi tersebut di setting berdasarkan control pressure
SIMV dengan level pressure dan frequensi SIMV secara otomatis
berubah berdasarkan perhitungan mekanik paru pada setiap
napasnya. ASV menyediakan suatu modus yang aman dan efektif
ventilation pada pasien dengan lung normal, restrictive atau
obtructive disease. Untuk kasus cardiac surgery ekstubasi lebih
cepat dengan menggunakan modus ASV dari pada modus control.
Arah dari Ventilasi Otomatis
Modus ASV yang unik menjamin bahwa pasien menerima setting
menit ventilasi, walaupun pasien bernapas secara spontan atau
diventilasi secara mekanik. Asv secara otomatis merubah setting
kepada kebutuhan dari pasien tersebut, pada kemungkinan pressure
yang paling rendah. ASV menggunakan aturan Lung-protective
Strategy dan didesain untuk mengurangi pengaruh dari alarms yang
timbul.
User-friendly Control Panel
Modus conventional mengharuskan untuk mensetting banyak
control, tetapi hal itu juga ada beberapa panduan cara untuk
melakukannya. Pada ASV hanya menset control yang tepat
(penting), yaitu :
55
a. %MinVol, untuk mengkontrol pH/PaCO2 dan WOB
b. Peep/CPAP, untuk mengkontrol volume paru, dan mekanik
paru.
c. FiO2, untuk mengkontrol PaO2

Conventional
CMV
SIMV Vt Rate Pins @ PEEP
p
PCV
Tp Psup Te FiO2
PSV Ti

Alveolar Ventilation Oxy.

PEEP
VA
ASV
FiO2

Strategi dari Lung-Protective


ASV didesain untuk menjaga tetap paling rendah minute volume dari
yang diset dari user, disamping mencegah tachypnea, AutoPEEP,
dan kompensasi dead space ventilation (Garis kotak pada modus
ASV pada layar grafik ASV). Ini dapat terjadi tanpa melakukan
setting ulang pada plateau pressure. ASV menyediakan ventilasi
penuh pada apnea atau pada kondisi pasien yang buruk, kemudian
otomatis kembali ke kontrol sampai pasien bernapas spontan.

56
2'000

1'50
0
ml
in
1'00
Vt b
0

50
a c
0
d
0
0 1 2 3 4
0 0
Frequency in0 breaths per 0
minute

57
Dengan Strategy Perlindungan paru-paru dapat menghindarkan
pasien dari adanya :
a. Apnea
b. Volu/Barotrauma
c. AutoPEEP
d. Tachypnea
Menyesuaikan 3 Langkah untuk Closed-loop control
ASV bekerja secara otomatis secara berulang dan terus menerus,
menjalankan 3 lankah berikut ini, yaitu :
 Menaksir napas pasien pad setiap napasnya.
 Menghitung napas yang paling optimal berdasarkan pada WOB
pasien yang paling minimum dengan menggunakan metode
Otis Equation.
 Mendekati target secara otomatis mengatur rate dan
inspiratory pressure.

58
42

5. CLEANING, DISINFEKSI, DAN STERILISASI

PERINGATAN :
 Untuk meminimalkan resiko terkontaminasi dari bakteri atau
kerusakan secara fisik, tangani bacteria filter yang ada dengan hati-
hati.
 Untuk mencegah pasien terkontaminasi, sterilkan dengan teknik
yang direkomendasi oleh pabrik.
PERHATIAN :
 Jangan mere-use accessories yang disposable atau single patient
use. Semuanya harus dibuang setelah digunakan.
 Jangan mencoba untuk mensterilkan internal ventilator (ventilator
bagian dalam). Jangan mencoba untuk mensterilisasi seluruh
ventilator dengan gas ETO (Ethylene Oxide).
 Menggunakan lebih dari satu teknik sterilisasi dapat menyebabkan
kerusakan pada alat.
CATATAN :
 Bagian dibawah ini menyediakan petunjuk secara umum untuk cara
membersihkan dan bagian yang terkontaminasi oleh aktifitas pasien.
Table 1 memberikan informasi kepada user metode spesifik yang
dilakukan untuk mensterilkan alat-alat dari Hamilton - C2. Untuk
bagian alat yang tidak disupllay dari Hamilton Medical, ikuti petunjuk
dari pabriknya. Jangan mencoba untuk membuat prosedur cleaning,
kecuali telah dispesifikasikan oleh Hamilton.
 Setelah bagian cleaning dan diinfeksi, akan ditunjukan untuk tes dan
kalibrasi yang dijelaskan pada sesi berikutnya.

59
Metode Decontaminasi untuk asesories Hamilton - C2

CARA
PART MENDEKONTAMINAS KETERANGAN
I
Breathing  Steam autoclave Gulung tubing dengan baik jangan
Tubes (Silicone suhu 131C - 134C dibengkokkan pada saat disteril.
Rubber) selama 3 menit Lubang tubing tidak ada embun

atau suhu 121 C sebelum dibungkus untuk di

selama 6 – 15 autocalve. Hindari membersihkan

menit tubing dengan minyak, minyak

 Atau disinfeksi pelumas untuk silicone, organics

secara kimiawi solvent (seperti benzene, ether,

 Atau sterilisasi ETO ketone, dan khlor hydrokarbon), zat


asam, cairan pekat, dan phenol.
Mask (silicone  Steam autoclave Hindari memberi minyak, zat pelarut,
rubber) suhu 131C - 134C organic solvent, zat asam, cairan
selama 3 menit pekat pada mask.
atau suhu 121 C Kempeskan bantalan dari mask

selama 6 – 15 sebelum di steam autoclave supaya


menit bantalan mask tidak meletus.

 Atau disinfeksi
secara kimiawi
 Atau sterilisasi ETO

Flow sensor Disinfeksi kimiawi atau Jangan menggunakan sikat yang


sterilisasi ETO keras atau tajam karena dapat
menyebabkan rusaknya membran
flow sensor. Jangan autoclave

Inspiratory Hanya Steam  Periksa alat jika ada yang


Filter (Bacteria autoclave suhu 131C retak atau rusak, ganti jika
Filter), - 134C selama 3 diperlukan.
Reusable, menit  Ganti jika telah 20 kali

60
Autoclavable atau diautoclave.
suhu 121C selama  Jangan di disinfeksi
6 – 15 menit. kimiawi atau di ETO.

61
Expiratory  Disinfeksi secara Cek membran jika ada kerusakan,
Valve kimiawi ganti jika perlu.
membrane  Atau sterilisasi ETO Jangan autoclave
Nebulizer jar, Disinfeksi kimiawi Untuk kepentingan pasien, sebaiknya
single patient tidak digunakan untuk lebih dari 1
use pasien.
Jangan autoclave
 Expiratory  Steam autoclave Periksa alat jika ada retak atau yang
valve cover suhu 131C - 134C rusak, ganti jika diperlukan.
(polysulfone) selama 3 menit
 Y-piece atau suhu 121 C
 Water trap selama 6 – 15
 Adapters menit
 Connectors  Atau disinfeksi
(polysulfone) secara kimiawi
 Temperature  Atau sterilisasi ETO
probe
housing
(polysulfone
dan silicone
rubber)

PETUNJUK UMUM CARA MEMBERSIHKAN


1. Lepas semua bagian yang akan dibersihkan, breathing set harus
dilepas semua satu persatu.
2. Cuci bagian-bagian tersebut dengan air hangat dan beri sabun yang
lembut.
3. Bilas seluruhnya sampai bersih dengan air hangat.
4. Semprot dengan udara kering

5. Cek seluruh bagian-bagian yang telah dibersihkan, ganti jika ada


yang rusak.
6. Disinfeksi atau sterilkan.

62
7. Pasang kembali bagian-bagian tersebut setelah steril, kemudian
jalankan ventilator untuk melakukan kalibrasi yang tersedia.

PETUNJUK UMUM CARA DISINFEKSI SECARA KIMIA


1. Bersihkan sesuai dengan petunjuk umum cara membersihkan.
2. Cek seluruh bagian-bagian yang telah dibersihkan tersebut.
3. Disinfeksi dengan alkohol 70 % selama 1 – 3 jam. Kimia lain yang
diperbolehkan untuk digunakan :Schulke & Mayr Lysetol ® AF dan
Gigasept® FF, dan Henkel-Ecolab Incidur® dan sekusept® PLUS. Larutan
seperti ini telah diuji coba berdasarkan petunjuk umum dari
manufaktur.
4. Rendam semua asesoris dalam aquadest selama 1 – 3 jam.

PETUNJUK UMUM CARA STERILISASI DENGAN AUTOCLAVE


1. Bersihkan sesuai dengan petunjuk umum cara cleaning diatas.
2. Cek seluruh bagian-bagian yang telah dibersihkan tersebut.
3. Pasang kembali bagian-bagian tersebut
4. Autoclave sesuai petunjuk yang dianjurkan.

63
6. ASESORIS

BREATHING SIRKUIT

HUMIDIFICATION KIT

FLOW SENSOR

64
OXYGEN CELL

HEPA FILTER

65