Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

ABORTUS INKOMPLIT

DI SUSUN OLEH :

NAMA : WAFIROH
NIM : 62019040330

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS

TAHUN 2019/2020
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Angka kematian ibu (AKI) menurut Survei Demografi Kesehatan


Indonesia (SDKI, 2012) masih cukup tinggi, yaitu 359 per 100.000
kelahiran. Rata-rata kematian ini jauh melonjak dibanding hasil SDKI
2007 yang mencapai 228 per 100 ribu (Sindonews, 2013). Angka
Kematian Ibu (AKI) di Provinsi Jawa Tengah tahun 2012 sebesar
116,34/100.000 kelahiran hidup, mengalami peningkatan bila
dibandingkan dengan AKI pada tahun 2011 yang sebesar 116,01/100.000
kelahiran hidup (Dinkes, 2012). Penyebab kematian maternal di Indonesia
terkait kehamilan dan persalinan yaitu perdarahan (27%), eklampsia
(23%), infeksi (11%), partus lama (5%), abortus (5%), dan lain-lain (11%)
(Depkes, 2012).

Macam- macam abortus meliputi abortus imminens, abortus insipiens,


abortus inkomplit, abortus komplit, missed abortus, abortus hubitualis,
abortus infeksiosus, abortus septik (Maryunani dan Puspita, 2013).

Abortus Inkomplit adalah perdarahan pada kehamilan muda dimana


sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kanalis
servikalis. Bila terjadi perdarahan yang hebat akibat abortus inkomplit
dianjurkan segera melakukan pengeluaran sisa hasil konsepsi secara
manual agar jaringan yang mengganjal terjadinya kontraksi uterus segera
dikeluarkan. Kontraksi uterus dapat berlangsung baik dan perdarahan
bisa berhenti. Akibat atau komplikasi dari abortus inkomplit jika tidak
segera ditangani akan mengakibatkan perdarahan, infeksi dan syok pada
ibu hamil.

Peran bidan sebagai pemberi pelayanan yang berhubungan dengan ibu


hamil diharapkan mempunyai dasar ilmu pengetahuan dan ketrampilan
yang baik. Pelaksanaan asuhan yang baik dan benar akan memberi
kontribusi keberhasilan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan abortus
inkomplit .
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 18 Oktober
2014 data yang diperoleh dari RSU Assalam Gemolong dari bulan Januari
– September 2014 didapatkan jumlah ibu hamil normal sebanyak 934
orang dan jumlah ibu hamil patologi 198 orang. Ibu hamil yang patologi
meliputi ibu hamil dengan abortus inkomplit 78 orang (39,39%), ibu hamil
dengan abortus imminens 40 orang (20,20%), ibu hamil dengan
hiperemesis gravidarum 38 orang (19,19%), ibu hamil dengan pre
eklamsia berat 15 orang (7,58%), ibu hamil dengan KET 9 orang (4,55%),
ibu hamil dengan anemia 8 orang (4,04%), ibu hamil dengan missed
abortus 6 orang (3,03%) dan ibu hamil dengan abortus insipiens 4 orang
(2,02,%)

Berdasarkan data diatas, angka kejadian abortus inkomplit masih tinggi


dan jika tidak segera ditangani menyebabkan perdarahan, sehingga
penulis tertarik mengambil studi kasus dengan judul “Asuhan
Keperawatan Ny. M dengan Abortus Inklompit di Ruang Kebidanan RSUD
Kayen

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Adapun tujuan yang diinginkan penulis yaitu diperolehnya pengalaman


nyata dalam memberikan Asuhan Keperawatan pada Ny. M dengan Abortus
Inkomplit Hari ke 1 di Ruang Kebidanan RSUD Kayen

2. Tujuan Khusus

Setelah dilakukan Asuhan Keperawatan selama 3x24 jam maka


diharapkan penulis dapat :

1. Melaksanakan pengkajian pada klien dengan

2. Membuat analisa data keperawatan pada klien Abortus


Inkomplit

3. Menentukan diagnosa keperawatan pada klien dengan


Abortus Inkomplit
4. Merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan
Abortus Inkomplit

5. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan


Abortus Inkomplit

6. Mengidentifikasi faktor pendukung, penghambat serta dapat


mencapai solusinya.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada
usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500
gram (Norma dan Dwi,2013).
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi
sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Usia kehamilan kurang dari
20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram (Maryunani A Puspita
2013).
Abortus inkomplit adalah sebagian jaringan hasil konsepsi masih
tertinggal di dalam uterus di mana pada pemeriksaan vagina, kanalis
servikalis, masih terbuka dan teraba jaringan dalam kavum uteri. Batasan
ini juga masih terpancang pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu
atau berat janin kurang dari 500 gram (Prawirohardjo, 2012).
Abortus inkomplit adalah pengeluara hasil konsepsi yang tidak
lengkap atau ekspulsi parsial dari hasil konsepsi. Fetus biasanya sudah
keluar namun terjadi retensi plasenta, sebagian atau seluruhnya didalam
uterus (Nugroho, 2012).

B. Etiologi
Beberapa faktor yang menyebabkan abortus antara lain:
1) Faktor Janin
Faktor janin penyebab keguguran adalah kelainan genetik, dan ini terjadi
pada 50% - 60% kasus keguguran, fakta kelainan yang paling sering
dijumpai pada abortus adalah gangguan pertumbuhan zigot, embrio, janin
atau plasenta.
2) Faktor Ibu
a) Kelainan endokrin (hormonal) misalnya kekurangan tiroid
b) Faktor kekebalan (imunologi) misalnya pada penyakit lupus
c) Infeksi, diduga akibat beberapa virus seperti cacar air, campak
jerman, toksoplasma, herpes, kiamida
d) Kelemahan otot leher rahim
e) Kelainan bentuk rahim
3) Faktor Bapak
Kelainan kromosom dan infeksi sperma diduga dapat
menyebabkan abortus.
4) Faktor Genetik
Sekitar 5% abortus terjadi karena faktor genetik. Paling sering
ditemukannya kromosom trisomi dengan trisomi 16. Penyebab yang
paling sering menimbulkan abortus spontan adalah abnormalitas
kromosom pada janin. Lebih dari 60% abortus spontan yang terjadi pada
trimester pertama menunjukkan beberapa tipe abnormalitasgenetik.
5) Faktor anatomi kogenital dan didapat pernah dilaporkan timbul
pada 10-15% wanita dengan abortus spontan yang rekuren.

C. Manifestasi Klinik
Menurut Pudiastuti (2012), tanda dan gejala abortus inkomplit antara lain:
1) Perdarahan sedang hingga banyak, kadang-kadang keluar
gumpalan darah
2) Uterus sesuai masa kehamilan
3) Kram atau nyeri perut dan terasa mules-mules
4) Setelah terjadi abortus dengan pengeluaran jaringan, perdarahan
berlangsung terus
5) Servik tetap terbuka karena masih ada benda di dalam rahim yang
dianggap corpus allienum, maka uterus akan berusaha mengeluarkannya
dengan mengadakan kontraksi. Tetapi kalau keadaan ini dibiarkan lama,
servik akan menutup kembali.
c. Gejala Klinik
Pada abortus yang terjadi sebelum usia gestasi 10 minggu, janin dan plasenta
biasanya keluar bersama-sama, tetapi setelah umur kehamilan tersebut
sudah lewat, maka plasenta dan janin keluar secara terpisah. Apabila
seluruh atau sebagian plasenta tertahan di uterus, cepat atau lambat akan
terjadi perdarahan yang merupakan tanda utama abortus inkomplit
(Prawirohardjo, 2012).
Sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal di dalam uterus di mana pada
pemeriksaan vagina, kanalis servikalis masih terbuka dan teraba jaringan
dalam kavum uteri atau menonjol pada ostium uteri eksternum. Perdarahan
biasanya masih terjadi jumlahnya pun bisa banyak atau sedikit bergantung
pada jaringan yang tersisa, yang menyebabkan sebagian plasenta site
masih terbuka sehingga perdarahan berjalan terus. Pasien dapat jatuh
dalam keadaan anemia atau syok hemoragik sebelum sisa jaringan konsepsi
dikeluarkan (Prawirohardjo, 2012).
Pengelolaan pasien harus diawali dengan perhatian terhadap keadaan umum
dan mengatasi gangguan hemodinamika yang terjadi untuk kemudian
disiapkan tindakan kuretase. Bila terjadi perdarahan hebat, dianjurkan
segera melakukan pengeluaran sisa hasil konsepsi secara manual agar
jaringan yang mengganjal terjadinya kontraksi uterus segera dikeluarkan
(Prawirohardjo, 2012).

D. Pathofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti nerloisi
jaringan yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing
dalam uterus. Sehingga menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan
benda asing tersebut.
Apabila pada kehamilan kurang dari 8 minggu, nilai khorialis belum
menembus desidua serta mendalam sehingga hasil konsepsi dapat keluar
seluruhnya. Apabila kehamilan 8-14 minggu villi khoriasli sudah menembus
terlalu dalam hingga plasenta tidak dapat dilepaskan sempurna dan
menimbulkan banyak perdarahan dari pada plasenta.
Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu singkat, maka dia
dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah. Pada janin yang telah meninggal dan
tidak dikeluarkan dapat terjadi proses modifikasi janin mengering dan karena
cairan amion menjadi kurang oleh sebab diserap. Ia menjadi agak gepeng.
Dalam tingkat lebih lanjut ia menjadi tipis. Kemungkinan lain pada janin mati yang
tidak lekas dikeluarkan ialah terjadinya maserasi, kulit terkelupas, tengkorak
menjadi lembek, perut membesar karena terasa cairan dan seluruh janin
bewarna kemerah-merahan (Ai Yeyeh, 2012).

Pathway

E. Penatalaksanaan
Menurut Marmi (2011), penanganan abortus inkomplit antara lain :

1) Jika perdarahan tidak terlalu banyak, dan kehamilan kurang dari


16 minggu, evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam
ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks.
Jika perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 400
mg peroral (dapat dilakukan oleh bidan dengan kolaborasi dengan dokter
ahli kandungan).

2) Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia


kehamilan kurang dari 16 minggu, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan
aspirasi vakum manual (AVM) merupakan metode evaluasi yang terpilih.
Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika AVM tidak
tersedia. Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrin 0,2
mg IM (diulangi setelah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400 mg
peroral (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu) yang ini hanya dilakukan
oleh dokter obgyn, bidan disini bertugas menjadi asisten.

3) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu, berikan infus oksitosin 20


unit dalam 500 ml cairan IV (garam fisiologis atau Ringer Laktat) dengan
kecepatan 40 tetes/menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi, Jika
perlu berikan misoprostol 200 mg pervaginam setiap 4 jam sampai terjadi
eksplusi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg), evakuasi sisa hasil konsepsi
yang tertinggal dalam uterus (dapat dilakukan oleh bidan di rumah sakit
dengan instruksi dokter).

4) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.

Menurut Saifuddin (2012), pada kasus abortus inkomplit penatalaksanaan


post curettage adalah :

1) Periksa kembali tanda vital pasien, segera lakukan tindakan


instruksi apabila terjadi komplikasi/kelainan

2) Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan didalam kolom


yang tersedia dalam status pasien. Bila keadaan umum pasien
cukup baik, setelah cairan habis lepas infus

3) Buat instruksi pengobatan lanjutan dan pemantauan kondisi


pasien

4) Beritahu kepada pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah


selesai tetapi pasien masih memerlukan perawatan
5) Bersama petugas yang akan merawat pasien, jelaskan jenis
perawatan yang masih diperlukan, lama perawatan dan laporkan
kepada petugas tersebut bila ada keluhan/gangguan pasca
tindakan

6) Tegaskan pada petugas yang merawat untuk menjalankan


instruksi perawatan dan pengobatan serta laporkan segera bila
pada pemantauan lanjutan ditemukan perubahan-perubahan
seperti yang ditulis dalam catatan pasca tindakan.

F. Pemeriksaan Penunjang

Data penunjang yang diperlukan pada kasus abortus inkomplit adalah


pemeriksaan USG. Pemeriksaan USG hanya dilakukan bila ragu dengan
diagnosis secara klinis (Prawirohardjo, 2012).

G. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Dalam tahap ini data/ fakta yang dikumpulkan adalah data subjektif dan
data objektif dari pasien. Bidan dapat mencatat hasil penemuan data
dalam catatan harian sebelum didokumentasikan

1. Identitas

a. Nama

Untuk dapat mengenal atau memanggil nama ibu dan untuk


mencegah kekeliruan bila ada nama yang sama (Romauli, 2011).

b. Umur

Untuk mengetahui apakah klien dalam kehamilan yang beresiko atau


tidak, usia dibawah 16 tahun dan diatas 35 tahun (Astuti, 2012).

c. Agama
Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau
mengarahkan pasien dalam berdoa (Ambarwati 2010 dan Wulandari,
2011).

d. Suku bangsa

Untuk mengetahui kondisi social budaya ibu yang mempengaruhi


perilaku kesehatan (Romauli, 2011).

e. Pendidikan

Untuk mengetahui tingkat intelektual, tingkat pendidikan


mempengaruhi sikap perilaku kesehatan seseorang (Romauli, 2011).

f. Pekerjaan

Untuk mengetahui taraf hidup dan social ekonomi agar nasehat kita
sesuai (Romauli, 2011).

g. Alamat

Untuk mengetahui ibu tinggal dimana, menjaga kemungkinan bila ada


ibu yang namanya sama (Romauli, 2011).

2. Keluhan Utama

Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang


ke fasilitas pelayanan kesehatan dan untuk mengetahui sejak kapan
seorang klien merasakan keluhan tersebut (Romauli, 2011). Keluhan
utama pada ibu hamil dengan abortus inkomplit adalah mengeluarkan
darah sedang hingga banyak, kram atau nyeri perut bawah, dan
ekspulsi sebagian hasil konsepsi.

3. Riwayat Menstruasi

Data yang kita peroleh akan mempunyai gambaran tentang keadaan


dasar dari organ reproduksinya. Beberapa data yang harus kita
peroleh dari riwayat menstruasi antara lain : menarche, siklus, volume
dan keluhan.
4. Riwayat Perkawinan

Untuk mengetahui usia nikah pertama kali, status pernikahan sah


atau tidak, lama pernikahan, ini suami yang ke berapa

5. Riwayat Kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu

Untuk mengetahui berapa kali ibu hamil, apakah pernah abortus,


jumlah anak, cara persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan
nifas yang lalu

6. Riwayat Kehamilan Sekarang

Dikaji untuk mengetahui keadaan kehamilan itu saat ini terutama


mengenai keteraturan ibu dalam memeriksakan kehamilannya,
karena dari pemeriksaan ANC yang rutin dapat diketahui keluhan-
keluhan yang dirasakan (Prawirohardjo, 2012).

7. Riwayat Keluarga Berencana

Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan kontrasepsi


jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama menggunakan
kontrasepsi

8. Riwayat Kesehatan

a. Riwayat kesehatan yang lalu

Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya


riwayat atau penyakit akut, kronis seperti : Jantung, DM, Asma,
Hipertensi

b. Riwayat kesehatan sekarang

Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya


penyakit yang diderita pada saat ini

c. Riwayat kesehatan keluarga


Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan pasien

9. Pola kebiasaan sehari-hari

a. Nutrisi

Menggambarkan tentang pola makan dan minum, frekuensi,


banyaknya, jenis makanan dan makanan pantangan

b. Eliminasi

Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan buang air


besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi dan bau serta
kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna dan jumlah

c. Istirahat

Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam


pasien tidur, kebiasaan sebelum tidur misalnya membaca,
mendengarkan musik, kebiasaan mengkonsumsi obat tidur,
kebiasaan tidur siang, penggunaan waktu luang

d. Aktivitas

Untuk memberikan gambaran tentang seberapa berat aktivitas


yang biasa dilakukan pasien di rumah. Jika kegiatan pasien terlalu
berat sampai dikhawatirkan dapat menimbulkan penyulit masa
hamil, maka kita dapat memberikan peringatan sedini mungkin
kepada pasien untuk membatasi dahulu kegiatannya sampai
pasien sehat dan pulih kembali

e. Seksualitas

Untuk mengetahui keluhan, frekuensi dan kapan terakhir


melakukan hubungan seksual

f. Personal Hygiene
Untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga kebersihan tubuh
terutama pada daerah genetalia

g. Psikososial Budaya

Untuk mengetahui bagaimana prasaan tentang kehamilan ini,


kehamilan ini direncanakan atau tidak, jenis kelahiran yang
diharapkan, dukungan keluarga terhadap kehamilan ini, keluarga
lain yang tinggal serumah, pantangan makanan dan kebiasaan
dalam kehamilan. Pada kasus abortus inkomplit, ibu mengatakan
cemas karena perdarahan banyak hingga sedang dan disertai
nyeri perut bagian bawah (Saifuddin, 2012).

10. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan Umum

Untuk mengetahui respon pasien terhadap lingkungan dan orang


lain. Pada ibu dengan abortus inkomplit keadaan umumnya
lemah.

b. Kesadaran

Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien. Pada


ibu dengan abortus inkomplit kesadarannya composmentis.

c. Tanda Vital

Untuk mengkaji tekanan darah, nadi, pernafasan dan suhu :

1. Tekanan Darah

Untuk mengetahui faktor resiko hipertensi atau hipotensi dengan


nilai satuannya mmHg. Tekanan darah normal, sistolik antara 110
sampai 140 mmHg dan diastolik antara 70 sampai 90 mmHg.
Hipertensi jika tekanan sistolik sama dengan atau >140 mmHg
dan hipotensi jika tekanan diastolik sama dengan atau <70 mmHg
(Astuti, 2012).
2. Suhu

Untuk mengetahui suhu badan pasien, suhu badan normal adalah


36,5 oC sampai 37,2oC. Bila suhu tubuh lebih dari 37,2oC
disebut demam atau febris (Astuti, 2012).

3. Pernafasan

Untuk mengetahui fungsi sistem pernafasan. Normalnya 16-24


x/menit (Romauli, 2011).

4. Nadi dalam keadaan santai denyut nadi sekitar 60-80


x/menit. Denyut nadi 100 x/menit atau lebih mungkin ibu
mengalami tegang, ketakutan, cemas, perdarahan berat,
demam atau gangguan jantung (Romauli, 2011).

11. Pemeriksaan sistemik

a. Kepala

Pemeriksaan kepala meliputi :

1. Rambut

Dikaji untuk mengetahui warna rambut klien, kebersihan rambut dan


rambut mudah rontok atau tidak.

2. Telinga

Dikaji kebersihan dan ada tidak gangguan pendengaran.

3. Mata

Dikaji untuk mengetahui warna konjungtiva dan sklera, kebersihan


mata, ada kelainan atau tidak dan adakah gangguan penglihatan.

4. Hidung

Dikaji untuk mengetahui kebersihan hidung klien, ada benjolan atau


tidak, apakah klien alergi terhadap debu atau tidak.
5. Mulut

Dikaji untuk mengetahui keadaan bibir, lidah dan gigi klien. Mengkaji
warna bibir, integritas jaringan (lembab, kering atau pecah-pecah),
mengkaji lidah klien tentang warna dan kebersihannya serta gigi klien
tentang kebersihan, caries atau gangguan pada mulut (bau mulut).

6. Leher

Dikaji untuk mengetahui apakah ada pembesaran kelenjar limfe,


pembesaran kelenjar tyroid dan bendungan vena atau tumor (Astuti,
2012).

7. Dada

Dikaji untuk menentukan bentuk dada, simetris/ tidak, payudara


(bentuk, simetris/ tidak, hiperpigmentasi areola payudara, teraba
massa, nyeri atau tidak, kolostrum, keadaan puting (menonjol, datar,
atau masuk kedalam), kebersihan, bentuk BH)) serta mengkaji denyut
jantung dan gangguan pernafasan

8. Perut

Dikaji bentuk, ada bekas luka operasi, terdapat linea nigra, strie
livide dan terdapat pembesaran abdomen (Romauli, 2011).

9. Ekstremitas

Dikaji ekstremitas atas dan bawah. Atas dikaji ada atau tidak
gangguan/ kelainan dan bentuk. Bawah dikaji bentuk, oedema dan
varices

12. Pemeriksaan Khusus Obstetri

1. Abdomen

a. Inspeksi

Memeriksa dengan cara melihat atau memandang. Tujuannya untuk


melihat keadaan umum pasien meliputi, rambut, muka, mata, hidung,
telinga, mulut, gigi, leher, dada, abdomen, vagina, anus dan
ekstremitas (Romauli, 2011).

b. Palpasi

Menurut Romauli (2011), palpasi adalah pemeriksaan yang dilakukan


dengan cara meraba, meliputi :

1. Leopold I

Untuk mengetahui tinggi fundus uteri, bagian yang berada


difundus dan adakah kram nyeri bawah perut atau tidak. Pada
kasus abortus inkomplit tinggi fundus uteri sesuai umur kehamilan

2. Leopold II

Untuk mengetahui bagian janin yang berada di kanan/ kiri uterus


ibu.

3. Leopold III

Untuk mengetahui presentasi/ bagian terbawah janin yang ada di


sympisis ibu.

4. Leopold IV

Untuk mengetahui seberapa jauh masuknya bagian terendah janin


kedalam pintu atas panggul.

5. Kontraksi ada atau tidak. Pada kasus abortus inkomplit terasa


kram atau nyeri perut dan terasa mules-mules (Pudiastuti, 2012).

2. Pemeriksaan Panggul

Menurut Astuti (2012), pemeriksaan panggul meliputi:

1. Distantia spinarum

Untuk memeriksa jarak antara spina iliaka anterior superior


kanan dan kiri, ukuran normal 23-26 cm.
2. Distantia kristarum

Untuk memeriksa jarak antara krista iliaka terjauh kanan dan


kiri, ukuran sekitar 26-29 cm.

3. Konjugata eksterna

Untuk memeriksa antara tepi atas simfisis dan prosesus


spinosus lumbal V, ukuran normal 18-20 cm.

4. Lingkar panggul

Untuk memeriksa dari tepi atas simfisis pubis, mengelilingi


kebelakang melalui pertengahan SIAS dan trochanter mayor
kanan, ke ruas lumbal V dan kembali ke simfisis melalui
pertengahan SIAS dan trochanter mayor kiri dan berakhir di
tepi atas simfisis, ukuran normal 80-90 cm.

c. Genital

Dikaji kebersihan, pengeluaran pervaginam, tanda-tanda infeksi


vagina, pemeriksaan dalam. Pada kasus abortus inkomplit
pengeluaran pervaginam berupa perdarahan sedang hingga banyak,
kadang-kadang keluar gumpalan darah, servik tetap terbuka
(Pudiastuti, 2012).

d. Anus

Dikaji ada atau tidaknya haemoroid, kebersihan

2. Diagnosa Keperawatan

a. Resti kekurangan volume cairan b/d perdarahan.

b. Intoleransi aktivitas b/d respon tubuh terhadap aktivitas : peradarahan,


keletihan.

c. Resti infeksi b/d adanya jalan masuk organisme kedalam tubuh.

d. Kecemasan b/d masalah kesehatan : abortus.


3. Rencana Keperawatan

I. Diagnosa I : Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d perdarahan.


Ditandai dengan : Perdarahan pervaginam, hipotensi, nadi meningkat dan
perabaan diperifer halus. Gelisah atau kesadaran menurun.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam


diharapkan kebutuhan cairan terpenuhi.

Kriteria hasil : Perdarahan ( - ), kadar Hb normal.

Intervensi :

1) Kaji dan observasi penyebab kekurangan cairan : perdarahan.

2) Monitor tanda – tanda kekurangan cairan : kesadaran, tekanan darah


dan nadi.

3) Monitor tanda – tanda perdarahan.

4) Ukur intake – output cairan.

5) Pantau kadar Hb

6) Kolaborasi dengan dokter untuk tindakan, terapi dan pemeriksaan.

II. Diagnosa II : Intoleransi aktivitas b/d respon tubuh terhadap aktivitas


perdarahan, keletihan. Ditandai dengan : Perdarahan pervaginam ( + ),
tampak lelah.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24


jam, aktivitas maksimal dapat tercapai kembali.

Kriteria hasil : Memperlihatkan kemajuan aktivitas sampai dengan mandiri,


respon terhadap aktivitas.

Intervensi :

1) Jelaskan batasan – batasan aktivitas klien sesuai kondisi.

2) Kaji respon klien terhadap aktivitas: perdarahan dan keletihan.


3) Tingkatkan aktivitas secara bertahap.

4) Rencanakan waktu istirahat sesuai jadwal sehari – hari.

5) Ajarkan metode penghematan energi : luangkan waktu istirahat selama


aktivitas, istirahat 3 menit setiap 5 menit melakukan aktivitas.

6) Bantu pemenuhan aktivitas yang tidak dapat/tidak boleh dilakukan


klien, jika perlu libatkan keluarga.

III. Diagnosa III : Resti infeksi b/d adanya jalan masuk organisme ke dalam
tubuh.

Ditandai dengan : Hasil konsepsi keluar, terdapat flek – flek darah.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24


jam, tidak terjadi infeksi.

Kriteria hasil : Luka kering dan membaik, tanda – tanda infeksi ( - ).

Intervensi :

1) Kaji faktor resiko terhadap infeksi nasokomial.

2) Kurangi organisme yang masuk ke dalam tubuh : cuci tangan, teknik


aseptic dan antiseptic, personal hygiene dan vulva hygiene.

3) Kurangi kerentanan terhadap infeksi: motivasi dan pertahankan


masukan kalori dan protein, minimalkan lamanya tinggal di Rumah sakit.

4) Pantau tanda – tanda infeksi : demam, bau, secret vagina.

5) Ajarkan klien untuk meningkatkan kebersihan diri.

6) Berikan penyuluhan untuk menghindari hubungan suami istri 40 hari


post abortus.

7) Kolaborasi dengan dokter untuk terapi pencegahan infeksi.

IV. Diagnosa IV : Kecemasan b/d masalah kesehatan : abortus.


Ditandai dengan : hasil konsepsi keluar, pasien tampak cemas, pasien
menanyakan apakah dapat hamil lagi, menanyakan keadaannya
selanjutnya.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24


jam, diharapkan kecemasan berkurang.

Kriteria hasil : Pasien menampilkan pola koping yang positif : tenang,


komunikatif dan kooperatif.

Intervensi :

1) Kaji tingkat dan penyebab kecemasan.

2) Orientasikan pada lingkungan dengan penjelasan sederhana.

3) Bicara perlahan dan tenang menggunakan kalimat pendek dan


sederhana.

4) Beri informasi yang cukup mengenai perawatan dan pengobatan yang


akan dilakukan dan direncanakan.

5) Beri dorongan untuk mengekspresikan perasaan.

6) Beri pendampingan, libatkan keluarga, jika perlu libatkan tim


pendampingan orang sakit.

7) Ajarkan teknik relaksasi : bernapas lambat, meditasi, membaca,


ngobrol.

8) Perlihatkan rasa empati : tenang, menyentuh, membiarkan menangis.

9) Singkirkan stimulasi yang berlebihan misalnya : menjaga ketenangan


lingkungan, batasi kontak dengan orang lain/keluarga yang juga mengalami
kecemasan.

H. Daftar Pustaka
Ai Yeyeh, Rukiyah dkk. Asuhan Kebidanan I ( Kehamilan ). Cetakan Pertama.
Jakarta: Trans Info Media; 2012.

Ambarwati, E,R,Diah, W. 2010. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Nuha


Medika.

Arikunto, S. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:


Rineka Cipta.

Astuti, H, P. 2012. Asuhan Kebidanan Ibu I Kehamilan. Yogyakarta: Rohima


Press. Estiwidani, D, dkk. 2009. Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya.
Hidayat, A, A. Wildan, M. 2009. Dokumentasi Kebidanan. Jakarta: Salemba
Medika.

Norma D, N, dan M. Dwi S. 2013. Asuhan Kebidanan Patologi. Yogyakarta: Nuha


Medika

Nugroho, M, dan Joseph HK. 2012. Catatan Kuliah Ginekologi & Obstetri
(Obsgyn). Yogyakarta: Nuha Medika

Kepmenkes, RI. 2012. Permenkes Indonesia tentang Penyelenggaraan


Praktik Bidan. http://www.scribd.com.doc/185296177/PERMENKES-1464-
MENKES-PER-X-2010 TENTANG-IZIN-DAN-PENYELENGGARAAN-
PRAKTIK-BIDAN. Diakses tanggal 19 November 2014.

Marmi. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas “Peurpurium Care”.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Maryunani, A. Puspita, E. 2013. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan


Neonatal. Jakarta: TIM.

Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Prawirohardjo, Sarwono. 2012. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka,


Pudiastuti, R. D. 2012. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Normal dan Patologi.
Yogjakarta. Nuha Medika.

Puspitasari. 2013. Pemrograman Web Database dengan PHP & MySQL.


Jakarta: Skripta.

Rismalinda, P, H. 2014. Dokumentasi Kebidanan. Jakarta: In Media. Riwidikdo,


H. 2013. Statistik Kesehatan. Yogyakarta: Rohima Press.

Romauli, S. 2011. Konsep Dasar Asuhan Kehamilan. Yogyakarta: Nuha Medika.

Saifuddin, A. B. 2012. Buku Panduan Praktis Pelayanan Krsehatan Maternal dan


Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Sari, R, N. 2012. Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, 2012. (online). Angka Kematian


Ibu. Available : http://nasional.sindonews.com/read/787480/15/data-sdki- 2012-
angka-kematian-ibu-melonjak. Diakses tanggal 17 Oktober 2014.

Wulandari,S.R, Sri, H.2011. Asuhan kebidanan Ibu Masa Nifas. Yogyakarta:


Gosyen Publishing.