Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Agama adalah fitrah “ketentuan mutlak” bagi Manusia tanpa manusia agama bukan
berarti apa-apa, karena Agama memang ditujukan bagi manusia. Agama sangatlah penting
dalam kehidupan manusia. Demikian pentingnya agama dalam kehidupan manusia, sehingga
diakui atau tidak sesungguhnya manusia, sangatlah membutuhkan agama. Dan sangatlah
dibutuhkannya agama oleh manusia, tidak saja di masa primitif dulu sewaktu ilmu
pengetahuan belum berkembang, tetapi juga di zaman modern sekarang sewaktu ilmu dan
teknologi telah sedemikian maju. Dimensi Agama yang telah dikonsepsikan manusia adalah:
adanya kepercayaan kepada Sang Pencipta, Adanya wahyu asli, dogma teologi, yakin tentang
adanya supranatural, adanya proses evolusi.

Agama merupakan suatu hal yang harus di ketahui makna yang terkandung di
dalamnya, dan agama tersebut berpijak kepada suatu kodrat kejiwaan yang berupa keyakinan,
sehingga dengan demikian, kuat atau rapuhnya Agama bergantung kepada sejauhmana
keyakinan itu tertanam dalam jiawa.1 Oleh karena itu, dengan mengetahui makna yang
terkandung di dalam agama, maka orang yang beragama tersebut dapat merasakan
kelembutan dan ketenangan yang dapat kita ambil dari ajaran agama tersebut. Sehingga
dalam mengemukakan definisi dari agama, maka di perlukan suatu pemikiran yang cermat,
sebab perkaran ini bukan perkara yang mudah dan gampang untuk dilakukan.
Orang barat lebih melihat agama sebagai suatu fenomena yang tampak pada para
pemeluk agama itu sendiri, karena sejak dulu mereka telah mengembangkan suatu metode
yang hanya melihat sesuatu itu secara realistis saja atau yang nampak saja dalam kacamata
kehidupan social manusia.
Berbagai pendekatan-pendekatan telah dilakukan oleh para ahli peneliti Agama. Salah
satunya adalah para ahli psikologi misalnya, memandang bahwa agama sebagai suatu realitas,
karena agama yang ada hubungan antara lingkungan yang ada di luar diri manusia dengan
sesuatu yang ada di dalam diri manusia itu sendiri. Salah satu tokoh psikologi, seperti
Sigmund Freud yang memandang bahwa agama berfungsi sebagai ketidak mampuan seorang
manusia dalam menghadapi suatu kekuatan, dimana kekuatan itu adalah kekuatan dari dalam
dirinya dan kekuatan alam yang ada di luar dirinya. Freud juga memandang bahwa agama
sebagai sebuah fantasi atau mimpi-mimpi belaka. Pandangan Freud ini membuat Ia dijuluki
sebagai anti agama (ateis). Karena ia secara gamblang memandang agama bukan sebagai
sesuatu yang harus di anut, tetapi Ia lebih memandang agama sebagai suatu fantasi belaka.
Lain lagi dengan pendekatan yang di utarakan oleh sosiolog. Mereka menganggap bahwa
agama merupakan suatu fenomena sosial yang dapat dilihat dari tingkah laku para pemeluk
agama dan kelembagaan dalam agama. Pakar sosisolog Emile Durkheim, berpendapat bahwa
agama merupakan suatu pengalaman yang didapat dari hal-hal yang sakral yang dipercayai
dan dihormati. Selanjutnya pemikiran ini disebut dengan pemikiran yang mengarah ke greja.
Dalam hal ini, Emile Durkheim hanya memihak agama dari dua sisi saja yaitu pengalaman
dan kepercayaan, oleh karena itu definisi yang dikemukakan oleh Durkheim tidak
mewakili definisi dari agama secara keseluruhan sehingga hal tersebut melahirkan beberapa
pertanyaan yang timpang bagi para pengkaji agama. Dengan demikian, maka dapat
disimpulkan bahwa pencarian suatu definisi dari agama yang dapat mewakili semua agama
merupakan hal yang sulit. Oleh karena itu, upaya untuk menemukan suatu definisi tentang
agama yang mencakup keseluruhan agama merupakan hal yang sulit untuk didapatkan. Maka
pengertian agama dalam pandangan-pandangan ini akan dirujukkan ke pengertian agama
menurut pandangan agama islam, yaitu ketentuan ketuhanan yang di jadikan panutan bagi
pemeluknya dan dapat mengantarkan pemeluknya pada kebahagiaan di dunia maupun di
akhirat.

1.2 Rumusan Masalah

a. Kebutuhan Manusia Terhadap Agama


b. Fungsi Agama dalam kehidupan manusia
c. Pentingnya Agama Dalam Kehidupan Manusia

1.3 Maksud dan Tujuan

a. Dapat memahami mengapa manusia butuh terhadap agama


b. Dapat memahami fungsi agama dalam kehidupan manusia
c. Dapat memahami akan pentingnya agama dalam kehidupan manusia
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Makna Agama

2.1.1 Pengertian Agama

Pengertian agama menurut para ahli di bidang Psikologi :

1. Sigmund Freud, Agama berasal dari ketidakmampuan. Menghadapi kekuatan dari alam
di luar diri dan kekuatan dari dalam diri. Manusia belum mampu menggunakan akal untuk
mengatasi kekuatan yang ada di luar dan di dalam diri. Agama dipandang sebagai ilusi atau
imaginasi anak – anak yang penuh fantasi dan mimpi.

2. Carl Gustav Jung, Agama adalah ketundukan pada kekuatan yang lebih tinggi dari pada
kekuatan kita sendiri. Ketidak sadaran yang disebabkan oleh kekuatan di luar diri yang
disebut ketidak sadaran agamis. Agama dipandang sebagai fenomena yang lahir dari
ketidaksadaran.

Pengertian agama menurut para ahli di bidang Sosiologi

1. Emile Durkheim memandang agama sebagai kepercayaan dan pengalaman terhadap


sesuatu yang sakral yang menyatu dalam komunitas moral yang disebut gereja. Pendapat ini
tidak dapat mewakili pengertian agama secara keseluruhan karena esensi dari agama tidak
disentuh sama sekali.

2. Charles Darwin meyakini agama pada dasrnya berevolusi sesuai dengan tingkat budaya
yang dicapai manusia

3. Taylor menyatakan agama berkembang melalui fase dinamisme (kepercayaan kekuatan


oleh alam atau barang tertentu yang dipegan oleh dewa tertentu), fase politeisme (kekuatan
yang terorganisasi dan terstruktur yang dipegan oleh dewa tertentu) dan fase monoteisme
(perkembangan akal dan budaya yang semakin maju yang terpadu pada kekuatan Tuhan
Yang Maha Berkuasa).

4. Aguste Comte melihat manusia tidak suka memikirkan apa yang tidak dapat dicoba tapi
membatasi dan mendasarkan pengetahuan pada apa yang dilihat, diukur, dan dibuktikan.

Agama adalah risalah yang disampaikan Tuhan kepada Utusan sebagai petunjuk bagi
manusia dan hukum sempurna untuk dipergunakan manusia dalam menyelenggarakan tata
cara hidup yang nyata dan mengatur hubungan dengan tanggung jawab kepada Tuhan,
kepada masyarakat serta alam sekitar.

Agama sebagai sumber sistem nilai, petunjuk, pedoman dan pendorong bagi manusia untuk
memecahkan berbagai masalah hidupnya sehingga terbentuk motivasi, tujuan hidup dan
perilaku manusia yang lebih baik.
2.1.1 Pengertian Agama Islam

Islam adalah sebuah agama yang diturunkan Alloh kepada Nabi Muhammad SAW
sebagai nabi dan rosul paling akhir untuk menjadi petunjuk atau pedoman hidup bagi seluruh
manusia sampai akhir zaman. Secara harfiah, Islam memiliki arti damai, tunduk, selamat dan
bersih. Kata islam sendiri terbentuk dari tiga huruf, yaitu S (sin), L (lam) dan M (mim) yang
mempunyai makna dasar “Selamat” (Salama).

Dari segi bahasa agama Islam memiliki arti atau pengertian sebagai berikut:

1. Islam dari kata ‘Salm‘ yang memiliki arti damai

“DAN APABILA MEREKA MENDEKAT KEPADA PERDAMAIAN, MAKA


DEKATLAH KEPADANYA DAN BERTAWAKALLAH KEPADA ALLOH. SUNGGUH,
IALAH YANG MAHA MENDENGAR LAGI MAHA TAHU.” (QS. AL ANFAL : 61)

Arti ‘salm’ diatas mempunyai arti damai atau perdamaian dan termasuk salah satu arti/makna
dan ciri khas dari Islam, yakni Islam termasuk agama yang selalu membawa umatnya
kedalam perdamaian. Dalam Islam diperbolehkan kaumnya untuk berperang apabila mereka
diperangi terlebih dulu oleh musuh-musuhnya. Hal ini sebagai bukti yang nyata bahwa di
dalam Islam sangat menjunjung tinggi perdamaian.

2. Islam dari kata ‘Aslama’ yang berarti menyerah

Dalam hal ini menandakan bahwa umat Islam termasuk seseorang yang ikhlas menyerahkan
dan menggantungkan jiwa serta raganya hanya kepada Allah SWT. maksud dari penyerahan
jiwa dan raga ini berarti melaksanakan terhadap apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi
segala larangan-Nya. Allah Berfirman :

“DAN SIAPAKAH YANG LEBIH BAIK AGAMANYA DARI PADA ORANG YANG
IKHLAS MENYERAHKAN DIRINYA KEPADA ALLAH, SEDANGKAN DIAPUN
MELAKUKAN KEBAIKAN, DAN IA MENGIKUTI AGAMA IBRAHIM YANG LURUS?
DAN ALLOH MENGAMBIL IBRAHIM MENJADI KESAYANGAN-NYA.” (QS. An
Nisa’ : 125)

“KATAKANLAH: SESUNGGUHNYA SHOLATKU, IBADAHKU, HIDUPKU DAN


MATIKU HANYALAH UNTUK ALLOH, TUHAN SEMESTA ALAM.”(QS. Al An’am :
162)

“MAKA APAKAH AKAN MENCARI AGAMA LAI SELAIN AGAMA ALLOH,


PADAHAL HANYA KEPADA-NYA LAH TEMPAT BERSERAH YANG ADA DI
LANGIT DAN DI BUMI, BAIK DALAM KEADAAN SUKA MAUPUN TERPAKSA
DAN HANYA KEPADA ALLOHLAH MEREKA KEMBALI.” (QS. Ali ‘Imran 3:83)

Maka dari itu hendaklah seorang muslim menyerahkan diri kepada aturan agama Islam dan
juga kehendak Allah SWT, insya’allah dengan demikian hati akan menjadi tenteram, tenang
dan damai.
3. Islam dari kata ‘Saliim‘ (Bersih atau suci)

Allah Berfirman :

“KECUALI ORANG-ORANG YANG MENGHADAP ALLOH DENGAN HATI YANG


BERSIH” (QS. Asy Syu’ara’ : 89)

“(INGATLAH) KETIKA IA DATANG KEPADA TUHANNYA DENGAN HATI YANG


SUCI” (QS. As Saffat: 84)

Ini berarti bahwa agama Islam adalah agama yang bersih dan suci dan mampu
menjadikan bersih dan suci terhadap jiwa bagi pemeluknya, selain itu juga akan
mengantarkan kepada kebahagiaan yang hakiki, baik kebahagiaan di dunia maupun di
akhirat.

Pada hakikatnya Alloh mensyariatkkan agama Islam untuk membersihkan dan


mensucikan jiwa manusia. Allah berfirman :

“SESUNGGGUHNYA ALLOH TIDAK MENGHENDAKI DARI ADANYA SYARIAT


ISLAM, KARENA ITU HENDAK MENYULITKAN KAMU, TAPI SUNGUH IA
BERKEINGINAN UNTUK MEMBERSIHKKAN KAMU DAN MENYEMPURNAKAN
NI’MAT-NYA BAGIMU AGAR KAMU BERSYUKUR.” (QS. Al Ma’idah : 6)

4. Islam dari kata ‘Salam‘ yang memiliki arti selamat dan sejahtera.

Allah Berfirman :

“SEMOGA KESELAMATAN DILIMPAHKAN KEPADAMU, AKU AKAN MEMINTA


AMPUN BAGIMU KEPADA TUHANKU. SESUNGGUHNYA IA SANGATLAH BAIK
KEPADAKU.” (QS. Maryam : 47)

Hal ini memiliki makna bahwa agama Islam selalu membawa umat manusia kepada
keselamatan dan kesejahteraan. Sedangkan pengertian Islam dalam istilahnya adalah
kepatuhan seorang hamba kepada wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para Rasul dan Nabi,
khususnya Muhammad SAW sebagai pedoman atau landasan hidup dan juga sebagai
hukum/aturan Allah yang dapat membina seluruh manusia ke jalan yang lurus menuju
kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Elemen elemen dalam agama :

1. Komunitas. Setiap tradisi memiliki suatu komunitas keagamaan (Gereja, ummah,


sangha, dan lain lain) yang memiliki beragam cabang yang membawa umat beriman kedalam
suatu konteks global.

2. Ritual yang dapat dipahami dalam tiga aspek: Penyembahan yang terus-menurus,
sakramen, dan upacara upacara. Sakramen biasanya, berkaitan dengan perjalanan kehidupan
yang luar biasa, kelahiran, inisiasi, perkawinan, dan kematian. Upacara upacara sering
merayakan tangal kelahiran atau peristiwa peristiwa besar lainnya dari kehidupan tokoh
tokoh besar seperti Yesus, Musa, Muhammad, Krishna, dan Buddha. Aktivitas penyembahan
sngat beragam dari segi frekuensi, watak, dan signifikansinya, namun seluruh agama
memilikinya.

3. Etika. Seluruh tradisi memiliki keinginan mengkonseptualisasikan dan membimbing ke


arah kehidupan yang baik, dan semua menyepakati persoalan persoalan dasar seperti
keharusan menghindari kebohongan, mencuri, pembunuhan, membawa aib keluarga, dan
mengingkari cinta. Tradisi tradisi monoteistik menyerukan agar mencintai manusia dan
Tuhan, serta tradisi tradisi Timur lebih cenderung menyerukan concern etis kepada alam.

4. Keterlibatan sosial dan politis. Komunitas komunitas keagamaan merasa perlu terlibat
dalam masyarakat yang lebih luas untuk mempengaruhi, mereformasi, atau beradaptasi
dengannya kecuali jika agama dan masyarakat saling terpisah seperti dalam agama agama
primal. Keterlibatan sosial dan politis tergantung pada konteks dan dan pandangan pandangan
dari tradisi terkait. Hal ini cenderung akrab dalam Islam, secara sosial terjadi dalam tradisi
tradisi hindu melalui sistem kasta, secara tajam tertanam dalam banyak sejarah yahudi, dan
dikalangan umat kristen dengan keragamannya mulai dari penolakan terhadap masyarakat
oleh kaum hermit (orang orang Kristen awal yang menarik diri daari masyarakat dan hidup
menyendiri, atau oleh Tolstoy, sampai dengan keterlibatan gereja dan negara secara
mendalam dalam agama Kristen Bizantin.

5. Kitab suci, termasuk mite atau sejarah suci dalam kitab suci atau tradisi oral yang
denganny masyarakat hidup, dengan mengesampingkan agama agama primal, kebanyakan
tradisi memiliki kitab kitab sebagai suatu canon (peraturan peraturan). Injil Kristen, Al-
Quran, Bibel Yahudi (yang merupakan perjanjian lama kristen), Hindu Veda, dan Pali. Canon
dikalangan Buddha Mahayana dihormati oleh Sutra Mahayana, semua itu adalah contoh dari
kitab suci.

6. Konsep atau Doktrin. Tradisi kristen dengan gagasan ortodoksi doktrinal lebih
menekankan pada konsep dan teologi dibanding lainnya, namun seluruh tradisi memiliki
sejimlah konsep yang sangat penting bagi mereka. Seluruh agama monoteitik
menitikberatkan pada konsep Tuhan namun berbeda mengenai Tuhan itu trinitas atau bukan.

2.2 Urgensi Agama dalam Kehidupan Manusia

2.2.1 Urgensi Agama Secara Universal

Einstein menyatakan bahwa sifat sosial manusia merupakan salah satu faktor pendorong
terwujudnya agama. Harapan akan adanya sesuatu yang dapat memberi petunjuk dan
pengarahan, harapan pecinta dan dicintai, keinginan bersandar pada orang lain dan terlepas
dari putus asa semua itu terbentuk dalam diri sendiri dasar kejiwaan untuk menerima
keimanan Tuhan.
Wiliam James filosof Jerman meyakini hal fisik dan material merupakan sumber
tumbuhnya berbagai keinginan batin, namun banyak pula keinginan yang tumbuh dari alam
balik alam material ini.

Ilmu dan teknologi serta kemajuan peradaban manusia melahirkan jiwa yang kering
dan haus akan rohaniah. Kekecewaan dan kegelishan batin selalu menyertai perkembangan
kesejahteraan manusia. Satu – satunya cara untuk memenuhi perasaan dan keinginan itu
adalah keyakinan agama.

Arti penting suatu agama :

1. Agama Sumber Moral

Tanpa moral kehidupan manusia kacau balau, tidak peduli lagi baik atau buruk atau halal
haram. Pentingnya agama dalam kehidupan disebabkan oleh sangat diperlukanya moral oleh
manusia, padahal moral bersumber dari agama. Agama menjadi sumber moral karena agama
mengajarkan iman kepada Tuhan dan kehidupan akhirat, serta adanya perintah dan larangan.

2. Agama Petunjuk Kebenaran

Manusia adalah makhluk berakal. Keinginan manusia untuk mengetaui segala sesuatu tentang
kebenaran menjadi tanda tanya besar. Kebenaran yang gagal dicari – cari oleh manusia sejak
dulu dengan ilmu filsafat ternyata jawabanya ada dalam agama. Agama adalah petunjuk
kebenaran. Bahkan agama itulah kebenaran, yaitu kebenaran yang mutlak dan universal.
Itulah agama Islam

3. Agama Sumber Informasi Metafisika

Rahasia metafisika juga termasuk hal yang ingin disingkap oleh manusia. Padahal
masalah metafisika adalah masalah gaib seperti hidup setelah mati, Tuhan, surga, neraka atau
hal lain di balik alam nyata ini.

Sesungguhnya persoalan metafisika sudah termasuk wilayah agama atau iman dan
hanya Allah yang mengetahuinya. Dengan agamalah dapat diketahui hal – hal yang berkaitan
dengan alam arwah, alam barzah, alam akhirat, sura dan neraka, Tuhan dan sifat-Nya, dan hal
gaib lainya.

4. Agama Pembimbing Rohani Manusia

Manusia diberi coabaan Tuhan dengan keburukan dan kebaikan. Dan hal itu dimaksudkan
sebagai ujian manusia dalam menghadapi cobaan tersebut yakni cobaan duka karena ditimpa
sesuatu yang buruk atau cobaan suka karena memperoleh sesuatu yang baik.

Bersyukur dikala suka dan sabar dikala duka harus selalu dimiliki oleh orang beriman.
Dengan begitu orang beriman aka hidup selalu stabil, tidak ada goncangan, tentram, dan
bahagia. Keadaan hidup seluruhnya serba baik.

Inilah empat persoalan yang ditangani oleh semua agama :


1. Semua agama memikirkan tentang egoisme dan hilangnya arti kebaikan bersama dan
solidaritas bersama

2. Gagasan tentang keadilan dan hak asasi manusia

3. Masalah status bagaimana memperlakukan yang miskin dan yang lemah

4. Semua agama percaya hidup tidak hanya mempertahankan kelangsungan hidup tetapi
juga harus berkembang

2.2.1 Urgensi Agama Menurut Islam

1. Islam sebagai wahyu Ilahi

“DAN TIADALAH YANG DIUCAPKANNYA ITU (AL QUR’AN) MENURUT


KEMAUAN HAWA NAFSUNYA. UCAPANNYA ITU TIDAK LAIN HANYALAH
WAHYU YANG DI WAHYUKAN (KEPADANYA).” (QS. An Najm : 3-4)

2. Sebagai pedoman hidup

“AL QUR’AN INI ADALAH PEDOMAN BAGI MANUSIA, PETUNJUK DAN RAHMAT
BAGI KAUM YANG MEYAKINI.” (QS. Al Jasiyah : 20)

3. Hukum yang mengatur manusia

“DAN HENDAKLAH KAMU MEMUTUSKAN PERKARA DI ANTARA MEREKA


MENURUT APA YANG TELAH DITURUNKAN OLEH ALLAH, DAN JANGANLAH
KAMU MENURUTI HAWA NAFSU MEREKA. DAN BERHATI-HATILAH KAMU
TERHADAP MEREKA, SUPAYA MEREKA TIDAK MEMALINGKAN KAMU DARI
SEBAHAGIAN APA YANG TELAH DITURUNKAN ALLAH KEPADAMU. JIKA
MEREKA BERPALING (DARI HUKUM YANG TELAH DITURUNKAN ALLAH),
MAKA KETAHUILAH BAHWA SESUNGGUHNYA ALLAH MENGHENDAKI AKAN
MENIMPAKAN MUSIBAH KEPADA MEREKA DISEBABKAN SEBAHAGIAN DOSA-
DOSA MEREKA. DAN SESUNGGUHNYA KEBANYAKAN MANUSIA ADALAH
ORANG-ORANG YANG FASIK. APAKAH HUKUM JAHILIYAH YANG MEREKA
KEHENDAKI, DAN (HUKUM) SIAPAKAH YANG LEBIH BAIK DARIPADA
(HUKUM) ALLAH BAGI ORANG-ORANG YANG YAKIN?” (QS. Al Maidah : 49-50

4. Membimbing manusia ke jalan yang lurus

“DAN BAHWA APA YANG KAMI PERINTAHKAN INI ADALAH JALAN-KU YANG
LURUS, MAKA IKUTILAH DIA DAN JANGANLAH KAMU MENGIKUTI JALAN-
JALAN (YANG LAIN), KARENA JALAN-JALAN ITU MENCERAI-BERAIKAN KAMU
DARI JALAN-NYA. YANG DEMIKIAN ITU DIPERINTAHKAN ALLAH KEPADAMU
AGAR KAMU BERTAKWA.” (QS. Al An’am : 153)

5. Menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat


“BARANG SIAPA YANG MENJALANKAN AMAL SALEH, BAIK LAKI-LAKI
MAUPUN PEREMPUAN DALAM KEADAAN BERIMAN, MAKA SESUNGGUHNYA
AKAN KAMI BERIKAN KEPADANYA KEHIDUPAN YANG BAIK DAN
SESUNGGUHNYA AKAN KAMI BERI BALASAN KEPADA MEREKA DENGAN
PAHALA YANG LEBIH BAIK DARI APA YANG TELAH MEREKA KERJAKAN.” (QS.
16 : 97)

raya ini berwujud tidak terjadi begitu saja, akan tetapi diciptak oleh Allah dengan sengaja dan
dengan hak. “Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah telah menciptakan
langit dan bumi dengan hak?” (QS. Ibrahim; 19), Manusia dikaruniai akal (sebagai salah satu
kelebihannya), dia juga sebagai khalifah di muka bumi, namun demikian manusia tetap harus
terikat dan tunduk pada hukum Allah. Alam diciptakan oleh Allah dan diperuntukkan bagi
kepentingan manusia.

Mengapa Manusia Beragama?

Pada dasarnya manusia memiliki keterbatasan pengetahuan dalam banyak hal, baik
mengenai sesuatu yang tampak maupun yang gaib, dan juga keterbatasan dalam memprediksi
apa yang akan terjadi pada diri nya dan orang lain, dan sebagainya. Oleh karena keterbatasan
itulah maka manusia perlu memerlukan agama untuk membantu dan memberikan pencerahan
spiritual kepada diri nya. Manusia membutuhkan agama tidak sekedar untuk kebaikan diri
nya di hadapan Tuhan saja, melainkan juga untuk membantu dirinya dalam menghadapi
bermacam-macam problema yang kadang-kadang tidak dapat dipahami nya. Di sinilah
manusia diisyaratkan oleh diri dan alam nya bahwa Zat yang lebih unggul dari diri nya, Yang
Maha Segala-galanya, seperti yang dijelaskan oleh para antropolog bahwa agama merupakan
respons terhadap kebutuhan untuk mengatasi kegagalan yang timbul akibat ketidakmampuan
manusia untuk memahami kejadian-kejadian atau peristiwwa-peristiwa yang rupa-rupa nya
tidak dapat diketahui dengan tepat.9
Selain daripada itu agama juga memberi isyarat kepada manusia dan alam bahwa ada Zat
yang lebih unggul, Zat Yang Maha Segala-galanya, yang disitu manusia perlu bersandar
kepad Dia melalui medium agama. Dengan kata lain perlu bersandar dan berpasrah (tawakal)
kepada Dia melalui agama karena agama menjadi tempat bagi kita untuk mengadu dan
berkomunikasi dengan Tuhan. Kepasrahan kita kepada Tuhan didasarkan pada suatu ajaran
bahwa manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Agama adalah suatu kepercayaan yang mengajarkan dan mengatur peribadatan


manusia kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, hubungan manusia dengan manusia serta
hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Setiap agama memiliki cara yang berbeda dalam
melakukan peribadatan. Namun semua agama mengajarkan satu hal yang sama yaitu
kebaikan.

Manusia memiliki kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi, kebutuhan manusia
terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya. Karena manusia
selalu membutuhkan pegangan hidup dan keseimbangan manusia dilandasi kepercayaan
beragama. Agama sangatlah penting dalam kehidupan manusia karena sebagai sumber moral,
petunjuk kebenaran, sumber informasi tentang masalah metafisika, memberikan bimbingan
rohani di kala suka maupun dikala duka.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi Abu dan Noor Salimi, Dasar-Dasar Pendidikan Agama Islam, Jakarta, Bumi
Aksaara: 1991

Connolly Peter, Aneka Pendekatan Studi Agama, Yogyakarta, LKIS Yogyakarta: 2002

Daniel CM, The Power of Religion, Yogyakarta, Penguin Books: 2001

Luth Thohir dkk, Buku Daras Pendidikan Agama Islam di Universitas Brawijaya, Malang,
Pusat Pembinaan Agama Universitas Brawijaya: 2016

Muchtar Adeng Ghazali, Ilmu Studi Agama, Bandung: Pustaka Setia: 2005

Adlany dkk, Alqur’an dan terjemahan indonesia, Jakarta, Sari Agung: 1995